Anda di halaman 1dari 20

KEPANITERAAN KLINIK

ILMU KEDOKTERAN JIWA

NASKAH LONG CASE


Skizofrenia Paranoid (F20.0)

Nurfarhati
H1A012043

PEMBIMBING
dr. Emmy Amalia, Sp. KJ

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


MADYA BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
RUMAH SAKIT JIWA MUTIARA SUKMA NTB
2017
STATUS PSIKIATRI

I. Identitas Pasien
Nama pasien : Tn. Ahmad
Umur : 47 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku : Bima
Pendidikan Terakhir : SD
Pekerjaan : Buruh
Status : Menikah
Alamat : Monta, Bima
Tanggal MRS : 20 Desember 2017
Tanggal Pemeriksaan : 02 januari 2018

Pasien dibawa oleh keluarganya ke IGD RSJ Mutiara Sukma pada


tanggal 20 Desember 2017. Ini merupakan pertama kalinya pasien dibawa
ke RSJ Mutiara Sukma.

II. Identitas Keluarga Pasien


Nama keluarga : Tn. Tamrin
Umur : 45 tahun
Status : Menikah
Pekerjaan : PNS
Jenis Kelamin : Laki-laki
Hubungan : sepupu
Alamat : Monta, Bima

III. Riwayat Psikiatri


Data diperoleh dari:

1
 Autoanamnesis dengan pasien pada hari tanggal 02 januari 2018 pukul
10.00 WITA di Ruang Wijaya Kusuma RSJ Mutiara Sukma.
 Alloanamnesis dilakukan dengan sepupu dan ibu pasien pada hari
tanggal 02 januari 2018 pukul 14.00 WITA melalui telepon

A. Keluhan Utama
Mengamuk

B. Riwayat Gangguan Sekarang

Autoanamnesis
Pasien mengaku di bawa ke Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma oleh
sepupunya yang bernama pak Tamrin. Pasien mengatakan dirinya
dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma karena mengamuk, pasien
mengatakan akan mengamuk jika ada yang memanggil dirinya gila.
Menurut pasien jika mengamuk pasien hanya melempar piring dan
barang-barang yang ada di rumah. Pasien tidak mengetahui sejak kapan
pasien sering mengamuk-ngamuk
Pasien juga mengaku mendengar bisikan. Bisikan-bisikan tersebut
memberitahukan akan ada perang dunia ketiga, bisikan tersebut
menyuruh pasien ikut berperang dan menyebabkan pasien berjalan
mengikuti bisikan-bisikan tersebut. Jika pasien tidak menuruti bisikan
tersebut makan pasien akan dibunuh. Pasien mengaku hanya dirinya
sendiri yang mendengar suara-suara tersebut. Pasien mengaku sudah
sekitar 1 tahun mendengar bisikan-bisikan itu.
Selain itu juga pasien sering melihat bayangan hitam seperti orang
hutan yang besar, berbulu tebal dan berwarna hitam jelek. Pasien juga
mengaku melihat bayangan hitam tersebut sejak 1 tahun yang lalu,
pasien juga mengatakan bahwa bayangan hitam tersebut masuk kedalam
tubuh pasien dan terkadang menyuruh pasien untuk melempar barang-
barang yang ada dirumah. Pasien mengatakan takut kepada bayangan
tersebuf jika tidak menuruti perintahnya. Bayangan tersebut hanya akan

2
datang ketika maghrib saat pasien ingin shlat dan malam hari ketika
pasien ingin tidur maka dari itu menyebabkan pasien sulit tidur pada
malam hari. Pasien mengaku hanya dirinya yang melihat bayangan
tersebut.
Pasien juga menceritakan bahwa dulu dirinya memiliki banyak
pekerjaan, seperti supir angkot antar kota, petani, pekerja bangunan.
Yang membuat pasien kesal adalah pasien pernah tidak digaji selama
lebih dari 1 tahun oleh bosnya, padahal pasien mengatakan bahwa
dirinya sangat capek sekali. Saat itu pasien bekerja sebagai buruh petani
bawang merah.
Pasien mengaku bahwa pasien sering dipasung oleh keluarga
pasien, sebanyak 7 kali. Pasien diikat dengan menggunakan balok kayu
yang diletakan dikedua kaki pasien, terakhir dipasung selama 5 hari
sebelum masuk rumah sakit. Penyebab dipasung karena pasien
mengamuk karena banyak yang mengatakan bahwa dirinya gila.

Alloanamnesis
Dari hasil anamnesis dengan keluarga didapatkan informasi bahwa
pasien mulai perbedaan perilaku semenjak hampir 1 tahun yang lalu
Pasien dibawa ke IGD RSJ Mutiara Sukma oleh keluarga dengan
keluhan mengamuk dirumah. Pasien marah-marah dan melempar
barang-barang tanpa alasan yang jelas sejak 3 minggu sebelum masuk
rumah sakit. Pasien jadi lebih sering marah-marah dan suka membanting
barang-barang perabotan rumah serta berkata kasar pada keluarga dan
warga sekitar rumah sehingga membuat warga menjadi resah dan takut.
Keluhan ini yang dirasakan paling berat oleh keluarga.
Selain itu pasien dikeluhkan oleh keluarganya sering berbicara
yang ngelantur. Pasien terlihat sering berbicara sendiri dan sering
membicarakan mengenai perang dunia ketiga, dunia ini aka hancur dan
sebagainya. Keluhan bicara pasien yang melantur sudah terlihat
semenjak tahun 2016 akhir. Namun, satu bulan terakhir kondisi pasien

3
terlihat semakin parah. Pasien lebih sering berbicara sendiri, sering
marah-marah, mudah tersinggung, membentak keluarga pasien, serta
sering adu mulut dengan tetangga. Kondisi tersebut mengakibatkan tidak
ada yang berani mendekati pasien. Prilaku pasien ini sangat mengganggu
tetangga dan meresahkan warga sekitar. Riwaya mencelakai diri sendiri
maupun keluarga disangkal, riwayat membawa senjata tajam atau
mengancam membunuh, disangkal.
Karena membuat warga menjadi resah, pasien sempat ditangkap
dan dipasung oleh warga sekitar. Pasien sudah dipasung sebanyak 7 kali.
Alasan pasien di pasung karena menurut sepupu pasien adalah agar
pasien tidak mengamuk dan menghancurkan barang-barang yang ada
dirumah. Terakhir dipasung selama 5 hari kemudia pasien dibawa ke RSJ
Mutiara Sukma.
Keluarga mengaku bahwa pencetus awal pasien mengalami
gangguan ini karena masalah pekerjaan, masalah ekonomi dan masalah
keluarga. Saat ini pasien hanya bekerja sebagai buruh di penggilingan
padi dan penghasilan pasien terkadang tidak menentu. Istri dan anak
pasien meninggalkan rumah dan tidak tinggal bersama dengan pasien
disebabkan oleh karena istri pasien sedang sakit. Istri dan anak pasien
saat ini tinggal bersama orang tua istri.
Selama pasien kambuh pasien hanya dibawa ke RSUD Bima
diberikan obat suntik kemudia pasien tidur. Selain itu pasien juga sempat
dibawa ke dukun namun tidak ada perubahan. Ketika pasien tidak kambuh,
pasien bertingkah seperti orang normal pada umumnya dan sering
bercanda dengan teman-temannya.Pasien juga masih dapat melakukan
aktifitas sehari-hari dengan baik dan masih dapat bekerja.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya


- Pertama kali dibawa ke RSJ Mutiara Sukma

4
- Keluhan sudah dirasakan semenjak 1 tahun terakhir, namun keluhan
dalam 3 minggu terakhir merupakan keluhan paling berat
dibandingkan sebelumnya.
- Pasien riwayat pasung 5 hari yang lalu sebelum masuk Rumah sakit
jiwa, pasien dipasung sudah 5 hari karena mengganggu warga
sekitar. Pasien dipasung menggunakan kayu dan mengaku sudah 7
kali dipasung.
- Riwayat merokok (+), konsumsi alkohol atau pengguanaan NAPZA
disangkal
- Riwayat kejang disangkal.
- Riwayat trauma disangkal
- Riwayat penyakit pada pasien seperti hipertensi, diabetes melitus,
asma, penyakit jantung dan penyakit ginjal disangkal.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Riwayat prenatal
Pasien merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Ibu pasien
melahirkan pasien secara normal dengan bantuan dukun beranak.. Ibu
pasien tidak rutin memeriksakan kehamilannya.. Saat itu pasien lahir
dengan berat badan normal, sehat, tidak ada trauma, tidak ada
kelainan bawaan atau kelainan fisik.

2. Masa kanak-kanak awal (<3 tahun)


Saat usia 1-3 tahun, pasien beraktivitas seperti anak-anak pada
umumnya. Pasien tinggal dengan kedua orang tua dan saudaranya.
Masa ini dilalui dengan baik oleh pasien. Pertumbuhan dan
perkembangan pasien normal sesuai anak seusianya. Pasien
bertingkah laku baik sesuai anak seusianya, cukup berinteraksi dan
komunikasi dengan keluarga. Pasien senang bermain dan tidak
pernah mengalami penyakit berat.

3. Masa kanak-kanak pertengahan (3-11 tahun)

5
Pasien sekolah hanya sampai kelas 1 SMP karena tidak ada biaya,
Pasien senang bermain dengan anak-anak seumurnya di lingkungan
rumahnya.

4. Masa kanak-kanak akhir dan remaja (11-19 tahun)


Pasien putus sekolah pada usia ini. Pasien hanya membantu
orangtuanya. Pasien dapat berinteraksi dengan baik dengan
lingkungan sekitar.

5. Masa dewasa

Riwayat pendidikan
Pasien sudah putus sekolah sejak kelas 1 SMP dan tidak melanjutkan
sekolah lagi karena tidak memiliki biaya

Riwayat pekerjaan
Pasien pernah bekerja tukang penggilingan beras dan kadang di
proyek bangunan, namun semenjak gangguan jiwanya muncul,
pasien berhenti bekerja.

Riwayat pernikahan
Pasien sudah menikah dan memiliki satu orang anak yang berumur 7
tahun.

Riwayat kemiliteran dan pelanggaran hukum


Pasien tidak pernah mengkuti bentuk kemiliteran apapun dan belum
pernah melakukan tindakan yang melanggar hukum sampai dipenjara
selama ini.

E. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Tidak ada
keluarga yang mengalami keluhan serupa seperti pasien.

6
Genogram keluarga pasien:

Keterangan :

= Laki – Laki = Anggota keluarga laki-laki yang meninggal

= Perempuan

F. Riwayat Pengobatan
Keluarga mengatakan bahwa saat pasien mengamuk pasien hanya
beberapa kali dibawa ke dukun saja namun tidak ada perbubahan, pasien
pernah dibawa sekali ke rumah sakit di bima dan semat diberikan obat
dan suntikan namun pasien dan keluarga lupa obat yang dulu pernah
diberikan. Ini adalah pertama kali pasien dibawa ke RSJ mutiara sukma
dan dirawat inap.

G. Situasi Kehidupan Sekarang


o Pasien dulunya tinggal bertiga bersama anak dan istri di rumah yang
beralas semen. Rumah pasien berukuran sekitar 4 x 6 cm dan terdiri
dari 4 ruangan, yaitu 2 kamar tidur, 1 dapur, dan 1 ruang keluarga/

7
ruang tamu. Kamar mandi pasien berada di luar rumah pasien di
bagian depan rumah.
o Semenjak 1 tahun yang lalu pasien hanya tinggal seorang diri
dirumah, anak dan istri pasien meninggalkan pasien dan pergi ke
rumah orang tua istri pasien karena istri pasien sakit.
o Tempat tinggal pasien berada di daerah perkampungan padat
penduduk
o Pasien saat sebelum sakit bekerja sebagai tukang proyek dan juga
bekerja di tempat penggilingan padi dengan penghasilan tidak tentu
dan seadanya, sekitar kurang dari 50000 per hari. Pasien merupakan
tulang punggung keluarga.
o Pasien dan keluarga mengaku istri pasien sering sakit-sakit namun
belum pernah membawa istri pasien untuk berobat karena terhalang
oleh biaya.
o Kehidupan pasien juga sehari-hari dibantu oleh sepupu pasien.
o Dalam sehari-sehari saat pasien tidak kambuh, pasien beraktivitas
seperti biasa. Pasien juga sering berinteraksi sosial dengan warga
sekitar. Namun, menurut keluarga, tidak jarang beberapa warga
mengejek pasien akibat gangguan jiwa yang diderita pasien.
o Saudara kandung pasien tinggal di rumah yang cukup jauh dari
rumah pasien.
o Saat ini pasien hidup dengan kekurangan. Hanya sepupu pasien yang
membantu ibu pasien, memberikan uang, dan memberikan beras
untuk makan.

H. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya


Pasien merasa dirinya tidak sakit dan tidak gila.

I. Persepsi dan Harapan Keluarga


Keluarga sangat mengharapkan pasien agar segera sembuh dan tidak
kambuh lagi. Sepupu pasien menyadari bahwa pasien memiliki
gangguan jiwa dan dengan antusias membantu pasien untuk pengobatan.
Walaupun terkadang terdapat rasa takut pada pasien, terutama saat

8
pasien kambuh, namun keluarga tetap mendukung pasien agar bisa
segera sembuh.

PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


Pemeriksaan status mental dilakukan pada tanggal 02 januari 201
di ruangan Wijaya Kusuma Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma

A. Deskripsi Umum
1) Penampilan
Pasien Laki-laki penampilan tampak sesuai usia, cukup rapi dan
terawat.
2) Kesadaran
Jernih (Compos Mentis)
3) Psikomotor
Normoaktif
4) Sikap terhadap Pemeriksa
Koperatif
5) Pembicaraan
Spontan, volume suara dan artikulasi cukup jelas.
B. Alam perasaan dan emosi
 Mood : Eutimia
 Afek : Luas
 Keserasian : Serasi
C. Gangguan Persepsi
Halusinasi auditorik (+)
Halusinasi visual (+)
D. Pikiran
 Bentuk pikir : Non Realistik
 Arus pikir : Koheren
 Isi pikir : Waham dikendalikan (jin yang memasuki tubuh
pasien dan menyuruh pasien mengamuk)

E. Fungsi Intelektual
a. Taraf pendidikan pengetahuan dan kecerdasan

9
Pasien dulu mengaku sempat sekolah sampai kelas 1 SMP.
Tingkat pengetahuan dan kecerdasan pasien kesannya sesuai
dengan taraf pendidikan.
b. Orientasi :
 Waktu  kesan baik. Pasien mengetahui waktu saat
dilakukan wawancara adalah sore hari
 Tempat  kesan baik. Pasien mengetahui bahwa saat ini
dirinya berada di RSJ Mutiara Sukma
 Orang  kesan baik. Pasien mengenali keluarga yang
mengantarnya ke RSJ
c. Daya Ingat :
 Jangka panjang  kesan buruk. Pasien tidak mampu
mengingat tahun lahir.
 Jangka sedang  baik. Pasien mengingat keluarga yang
mengantar ke RSJ.
 Jangka pendek  kesan baik. Pasien dapat mengingat menu
sarapan yang dikonsumsi.
 Jangka segera kesan baik. Pasien dapat mengulangkalimat
yang disebutkan oleh pemeriksa.

d. Konsentrasi dan Perhatian


Kesan baik. Pasien tampak memusatkan perhatian pada pemeriksa
saat wawancara.
e. Kemampuan Berhitung
Kesan Baik. Pasien dapat menjawab pengurangan, penjumlahan,
dan perkalian angka sederhana.
f. Kemampuan Membaca dan Menulis
Cukup baik, pasien mampu membaca dan menulis kalimat
sederhana.
g. Kemampuan Visuospasial
Terganggu, pasien tidak dapat meggambar jam yang
menunjukkan pukul 1.50
h. Pikiran Abstrak

10
Kesan baik, pasien dapat memberikan persamaan antara sepedah
dan pesawat atau apel dan jeruk
i. Pengetahuan Umum
Kesan baik, pasien mengetahui nama Presiden saat ini.

F. Pengendalian Impuls
Selama wawancara, pasien dapat mengendalikan diri dengan baik.
G. Daya Nilai dan Tilikan
 Daya Nilai Sosial : Baik
 Uji Daya Nilai : Baik
 Tilikan : derajat 1

H. Taraf Dapat Dipercaya


Secara umum, informasi lain yang disampaikan oleh pasien cukup
dapat dipercaya.

IV. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan status mental dilakukan pada tanggal 02 januari 2018
di ruangan wijaya kusuma Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma
Status Internus
a. Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran/GCS : E4V5M6
Tanda vital
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi radialis : 88x/mnt
Pernapasan : 20 x/mnt
Suhu axila : 36,6˚C (suhu aksila)

b. Pemeriksaan Kepala dan Leher


Pucat : (-)
Sianosis : (-)
Konjungtiva anemis : (-)/(-)

11
Ikterus : (-) /(-)
Leher : pembesaran kelenjar getah bening
(-)
c. Pemeriksaan Thorax
Inspeksi : pergerakan dada simetris (+/+), retraksi (-
/-)
Palpasi : gerakan dinding dada simetris
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : Cor: S1S2 tunggal reguler
Pulmo: vesikuler +/+
d. Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : jejas (-), distensi (-)
Auskultasi : bising usus normal
Perkusi : timpani di seluruh lapang abdomen
Palpasi : nyeri tekan abdomen (-)
e. Ekstremitas
Superior : hangat
Inferior : hangat

Status Neurologis
□ Pupil: bentuk bulat, isokor (+/+), refleks cahaya (+/+).
□ Gejala rangsangan selaput otak: tidak ditemukan.
□ Gejala peningkatan tekanan intrakranial: tidak didapatkan.
□ Motorik: Normal.
□ Tonus: Normal.
□ Koordinasi: Baik.
□ Turgor: Normal.
□ Refleks: Tidak dievaluasi.
□ Tanda efek ekstrapiramidal
o Tremor tangan : negatif
o Akatisia : negatif
o Bradikinesia : negatif
o Cara berjalan : normal
o Keseimbangan : baik
o Rigiditas : negatif

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Dilaporkan seorang pasien laki-laki usia 47 tahun, agama Islam, suku
Mbojo, pendidikan SMP, tidak bekerja, dibawa ke IGD RSJ Mutiara Sukma pada

12
tanggal 18 November 2017 dengan keluhan mengamuk. Pasien melempar barang-
barang yang ada dirumah. Menurut keluarga, keluhan pasien tersebut dirasakan
sejak 3 minggu sebelum pasien dibawa ke IGD dan keluhan terlihat semakin
parah. Sebelumnya pasien memang sudah sering kambuh terutama 2 tahun
terakhir, namun keluarga hanya memawa pasien berobat ke dukun dan kadang
kerumah sakit di bima untuk mendapatkan obat suntikan. Apabila pasien kambuh
lagi pasien juga sering dipasung di rumahnya. Keluarga mengatakan pasien sering
mendengar bisikan dan sering berbicara sendiri serta mengaku ada bayangan
hitam yang dilihatnya
Pada pemeriksaan fisik umum dan neurologis tidak ditemukan kelainan
bermakna, masih dalam batas normal. Pada pemeriksaan status mental didapatkan
penampilan cukup rapi dan sesuai usia. Perilaku pasien normoaktif dan sikap
terhadap pemeriksa koperatif. Bicara pasien spontan, volume suara dan artikulasi
cukup jelas. Mood pasien eutimia dengan afek luas, serasi. Pada proses pikir
ditemukan koheren dan isi pikir didapatkan Waham dikendalikan. Ditemukan
gangguan persepsi yakni halusinasi auditorik dan visual. Orientasi terkesan cukup
baik dan daya ingat segera buruk, daya ingat menengah dan jangka panjang baik.
Atensi terkesan cukup baik. Kemampuan berpikir abstrak baik. Uji daya nilai
baik, serta tilikan derajat 1.

VI. FORMULASI DIAGNOSTIK


Berdasarkan anamnesis riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan fisik
serta status mental, pada pasien ini ditemukan adanya pola perilaku, pikiran, dan
perasaan yang secara klinis bermakna dan menimbulkan suatu penderitaan
(distress) dan hendaya (disability) dalam fungsi pekerjaan dan sosial. Dengan
demikian berdasarkan PPDGJ III dapat disimpulkan bahwa pasien ini mengalami
suatu gangguan jiwa.
Berdasarkan anamnesis riwayat penyakit medis, pasien tidak pernah
mengalami trauma kepala atau penyakit lainnya yang secara fisiologis dapat
menimbulkan disfungsi otak sebelum menunjukkan gejala gangguan jiwa. Oleh
karenanya, gangguan mental organik dapat disingkirkan (F00-F09).

13
Pada anamnesis tidak didapatkan adanya riwayat penggunaan zat
psikoaktif. sehingga diagnosis untuk Aksis I Gangguan mental dan perilaku akibat
penggunaan zat Psikoaktif (F10) dapat disingkirkan
Pada autoanamnesis didapatkan gejala berupa adanya gangguan persepsi
yang berupa halusinasi auditori dan visual. Halusinasi adalah persepsi palsu yang
tidak disertai dengan stimulus eksternal yang nyata. Halusinasi auditori yang
umum didengarkan adalah suara (satu atau beberapa orang) dapat juga tentang
pasien atau peristiwa-peristiwa sekitar pasien. gejala ini menyebabkan pasien
mengalami disabilitas dalam kesehariannya maka keadaan tersebut telah
memenuhi kriteria skizofrenia (F20). Halusinasi yang didapatkan pada pasien
adalah jenis halusinasi auditorik yang memberi perintah untuk melakukan sesuatu.
Oleh karena gejala-gejala tersebut menonjol, berdasarkan PPDGJ III pada aksis I
dapat didiagnosis Skizofrenia Paranoid (F.20).1,2
Untuk aksis II, tidak ditemukan adanya gangguan kepribadian pada
pasien. Pada Aksis III Belum ada diagnosis, diagnosis masih belum dapat
ditentukan oleh karena untuk saat ini dari pemeriksaan fisik secara umum dan
pemeriksaan fisik neurologis masih dalam batas normal.
Pada aksis IV terdapat masalah berkaitan dengan psikososial
(pekerjaan) dan ekonomi yaitu pasien tidak digaji selama bertahun-tahun.
Masalah “primary support group” yaitu pasien ditinggal sendiri oleh istri dan
anaknya. Untuk aksis V, ditemukan GAF scale 1 tahun terakhir adalah 70-61,
yaitu beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara
umum masih baik. GAF saat ini adalah 60-51, yaitu gejala sedang, disabilitas
sedang.1
VII. EVALUASI MULTI AKSIAL
 Aksis I : F20.0 Skizofrenia Paranoid
 Aksis II : Tidak ada diagnosis
 Aksis III : Belum ada diagnosis
 Aksis IV : Masalah Pekerjaan
Masalah ekonomi
Masalah “primary support group”
 Aksis V : GAF Scale saat diperiksa 60-51
GAF scale 1 tahun terakhir 70-61

14
VIII. DAFTAR MASALAH
A. Organobiologik : Ketidakseimbangan neurotransmiter
B. Psikologi :
 Halusinasi Auditorik
 Halusinasi Visual
 Waham dikendalikan
C. Lingkungan dan Sosioekonomi :
 Pasien beberapa kali diejek oleh warga sekitar.
 Perekonomian keluarga pasien terganggu
 Anak dan istri meninggalkan pasien tinggal sendiri dirumah

IX. RENCANA PENATALAKSANAAN


A. Psikofarmaka :
 Risperidon 2x2mg
 CPZ 1x25mg

B. Psikoterapi dan Psikoedukasi :


 Psikoterapi Suportif
Pasien diberikanpsikoterapi suportif dengan cara mendukung
pasien dan menyemangati pasien. Pasein juga diberikan edukasi
mengenai penyakitnya, gejala, penyebab, pengobatan, bagaimana
dampak bila tidak kontrol atau tidak minum obat dan bagaimana jika
keluhan kembali muncul. Pasien juga diberitahu untuk melawan
halusinasi yang muncul.
 Psikoedukasi
a. Edukasi terhadap pasien :
- Memberi informasi dan edukasi pada pasien mengenai
gangguan yang diderita, mulai gejala, dampak, faktor resiko,
tingkat kekambuhan, dan tata cara dan manfaat pengobatan
agar pasien tetap taat meminum obat, dan segera berobat bila
mulai timbul gejala serupa.
- Memberikan penjelasan kepada pasien bahwa suara-suara dan
bayangan tersebut tidak nyata, dan mendorong pasien untuk
belajar mengabaikan suara maupun bayangan yang timbul.

15
- Memberi edukasi mengenai keuntungan pengobatan sehingga
pasien termotivasi untuk minum obat secara teratur.
- Menjelasakan kepada pasien bahwa obat yang diberikan bisa
memberikan efek samping bagi pasien namun dapat diatasi.
b. Edukasi kepada keluarga :
- Memberikan penjelasan tentang penyakit pasien (penyebab,
gejala, hubungan antara gejala dengan perilaku, perjalanan
penyakit, serta prognosis). Pada akhirnya diharapkan keluarga
bisa menerima dan memahami keadaan pasien serta
mendukung proses penyembuhannya dan mencegah
kekambuhan.
- Menjelaskan bahwa sakit yang diderita oleh pasien merupakan
penyakit yang membutuhkan dukungan dan peran aktif
keluarga dalam membantu proses penyambuhan penyakit.
- Memberikan penjelasan mengenai terapi yang diberikan pada
pasien (kegunaan obat terhadap gejala pasien serta efek
samping yang mungkin muncul pada pengobatan). Selain itu
juga ditekankan pentingnya pasien kontrol dan minum obat
secara teratur.

X. PROGNOSIS
Hal yang meringankan prognosis :
o Faktor pencetus jelas
o Pasien memiliki jaminan kesehatan
o Keluargamau mendukung pengobatan pasien
o Pasien mau minum obat
Hal yang memperburuk prognosis :
o Stressor masih ada
o Tilikan derajat 1

Prognosis Pasien :
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad malam
Ad sanationam : dubia ad malam

16
XI. PEMBAHASAN KASUS DAN CLINICAL REASONING
Diagnosis skozifrenia ditegakkan pada pasien ini karena didapatkan gejala
utama berupa halusinasi auditorik yang menonjol. Pada pasien juga didapatkan
gejala melempar barang-barang, berbicara sendiri dan sulit tidur. Kondisi tersebut
menyebabkan pasien mengalami hendaya fungsi secara global. Gejala-gejala ini
juga telah berlangsung lebih dari 1 bulan. Diagnosis Skizofrenia Paranoid dapat
tegak karena adanya halusinasi yang khas pada pasien yaitu bersifat menyuruh
pasien melakukan sesuatu.1,2
Pada pasien ditemukan gejala psikotik yang lebih mengarah kepada gejala
positif yaitu halusinasi. Obat antipsikotik memiliki 2 golongan yaitu golongan
tipikal dan atipikal. Golongan tipikal disebut juga sebagai Dopamin Antagonis
(DA) karena hanya memblok reseptor dopamin, sedangkan golongan atipikal
disebut juga sebagai Antagonis Dopamin Serotonin karena memblok reseptor
dopamin dan serotonin.1,3
Risperidone merupakan obat golongan atipikal yang bekerja meningkatkan
reseptor dopamin pada jalur mesokortikal dan memblok reseptor dopamin pada
jalur mesolimbik sehingga gejala yang dialami pasien dapat berkurang. Obat
antipsikotik atipikal juga memiliki efek samping ekstrapiramidal yang lebih
minimal.2,3 Pada pasien diberikan dosis awal 2 x 2 mg dan diberikan selama
kurang lebih 8-12 minggu hingga memasuki tahap stabilisasi, kemudian dapat di
tappering off hingga mencapai dosis maintenance.
Terapi lain yang dapat diberikan adalah psikoterapi suportif dan
psikoedukasi. Psikoterapi suportif bertujuan agar pasien merasa aman, diterima
dan dilindungi. Psikoedukasi terutama pada keluarga penting dilakukan agar
keluarga mengetahui tentang penyebab, gejala, pentingnya pengobatan, dan
pentingnya dukungan keluarga bagi pasien.1,3

XII. REFLEKSI KASUS


Dari masalah-masalah pada pasien, hal yang menarik sehingga saya
mengangkat kasus ini karena adanya gejala psikotik pasien yang menonjol

17
sehingga dapat mudah didiagnosis. Gejala yang menonjol tersebut adalah adanya
halusinasi auditorik. Pada kasus ini juga terdapat riwayat pasien dipasung
sehingga saya tertarik untuk mengetahui kenapa pasien sampai dipasung. Kasus
ini membuat saya dapat mengenali gejala pasien dengan skizofrenia. Sehingga
nantinya dapat memberikan tatalaksana awal pada pasien dengan kondisi tersebut.

KurvaPerjalanan Penyakit Pasien

DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim, R. Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari PPDGJ-


III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. 2013.
2. Sadock, B dan Sadock, V. Buku Ajar Psikiatri Klinis. Ed 2. EGC: Jakarta.
2004
3. Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa Indonesia. Konsensus
Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia. Jakarta : PDSKJI. 2011

18
19