Anda di halaman 1dari 18

ANALISIS POKOK UJI (TK KESUKARAN, DAYA PEMBEDA,

PENGECOH, KETERBACAAN)

Disusun oleh:
1. Trinarti Senolangi
2. Yanti Haryanti

Program stuti pendidikan biologi


Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan
Universitas muhammadiyah makassar
2017
DAFTAR ISI

Analisis Pokok Uji (tk kesukaran, daya pembeda, pengecoh, keterbacaan)

A. Analisis Tingkat Kesukaran (TK)

B. Analisis Daya Pembeda

C. Analisis Pengecoh

D. Keterbacaan

E. Manfaat Kegiatan Menganalisis Butir Soal


Analisis pokok uji (tk kesukaran, daya pembeda, pengecoh, keterbacaan)
Analisis pokok uji merupakan suatu teknik untuk menganalisis soal tes.
Istilah yang diberikan pada pekerjaan yang mencakup :
1. Menentukan tingkat kesukaran soal (difficulty level of an item).
2. Menentukan daya pembeda (discriminating power).
3. Menentukan pengecoh mana pada pokok-pokok uji pilihan berganda yang
kurang berfungsi (distractor).
Tujuan analisis pokok uji yaitu:
1. Upaya memperbaiki atau meningkatkan kualitas tes yang dipakai di masa
datang.
2. Mengidentifikasi soal-soal yang baik, kurang baik dan soal yang jelek
(petunjuk untuk melakukan perbaikan).
3. Jawaban soal itu merupakan informasi diagnostik untuk meneliti pelajaran
di kelas dan kegagalan belajarnya serta selanjutnya membimbing ke arah
cara belajar yang lebih baik.
Dengan melakukan analisis soal tes setidaknya kita dapat mengetahui empat hal
penting,yaitu:

1. Bagaimana taraf kesukaran setiap butir tes?

2. Apakah setiap soal memiliki daya pembeda baik?


3. Apakah semua alternative jawaban dapat berfungsi secara baik?
Ada dua jenis analisis butir soal yang dapat pendidik laksanakan, yaitu :
1. Analisis Butir Soal Secara Kualitatif
Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan
berdasarkan kaidah penulisan soal (tes tertulis, perbuatan, dan sikap).
Penelaahan ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan atau diujikan.
Aspek yang diperhatikan dalam penelaahan secara kualitatif mencakup
aspek materi, konstruksi, bahasa atau budaya, dan kunci jawaban.
Ada beberapa teknik yang digunakan untuk menganalisis butir soal
secara kualitatif, yaitu teknik moderator dan teknik panel. Teknik
moderator merupakan teknik berdiskusi yang didalamnya terdapat satu
orang sebagai penengah. Berdasarkan teknik ini, setiap butir soal
didiskusikan secara bersama-sama dengan beberapa ahli.

Sedangkan teknik panel adalah teknik menelaah butir soal


berdasarkan kaidah penulisan butir soal. Kaidah itu diantaranya adalah
materi, kontruksi, bahasa atau budaya, kebenaran kunci jawaban. Caranya
beberapa penelaah diberikan beberapa butir soal yang akan ditelaah,
format penelaahan, dan pedoman penelaahan.

Dalam menganalisis butir soal secara kualitatif penggunaan format


penelaahan soal akan membantu dan mempermudah prosedur
pelaksanaannya. Format penelaahan soal digunakan sebagai dasar untuk
menganalisis setiap butir soal.

2. Analisis Butir Soal Secara Kuantitatif

Penelaahan soal secara kuantitatif adalah penelaahan butir soal


didasarkan pada bukti empirik. Salah satu tujuan utama pengujian butir-
butir soal secara emperik adalah untuk mengetahui sejauh mana masing-
masing butir soal membedakan antara mereka yang tinggi kemampuannya
dalam hal yang didefinisikan oleh kriteria dari mereka yang rendah
kemampuannya.

Data empirik ini diperoleh dari soal yang telah diujikan. Ada dua
pendekatan dalam analisis secara kuantitatif yaitu pendekatan secara klasik
dan modern.

Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal
melalui informasi dari jawaban peserta tes guna meningkatkan mutu butir
soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. Pada teori
tes klasik, analisis item tes dilakukan dengan memperhitungkan
kedudukan item dalam suatu kelas atau kelompok. Karakteristik atau
kualitas item sangat tergantung pada kelompok dimana diujicobakan
sehingga kualitas item terikat pada sampel responden atau peserta tes yang
memberikan respons (sample bounded).
Ada beberapa kelebihan analisis butir soal secara klasik adalah
murah, sederhana, familiar, dapat dilaksanakan sehari-hari dengan cepat
menggunakan komputer dan dapat menggunakan beberapa data dari
peserta tes.

Analisis butir soal secara modern adalah penelaahan butir soal


dengan menggunakan teori respon butir atau item response theory. Teori
ini merupakan suatu teori yang menggunakan fungsi matematika untuk
menghubungkan antara peluang menjawab benar suatu butir dengan
kemampuan siswa.

Teori ini muncul karena adanya beberapa keterbatasan pada


analisis secara klasik, yaitu:

a. Tingkat kemampuan dalam teori klasik adalah true score. Artinya,


jika suatu tes sulit maka tingkat kemampuan peserta tes akan
rendah.sebaiknya, jika suatu tes mudah maka tingkat kemampuan
peserta tes tinggi.
b. Tingkat kesukaran butir soal didefinisikan sebagai proporsi peserta tes
yang menjawab benar. Mudah atau sulitnya butir soal tergantung pada
kemampuan peserta tes.
c. Daya pembeda, reliabilitas, dan validitas tes tergantung pada kondisi
peserta tes.

A. Tingkat Kesukaran (TK)


Tingkat kesukaran soal dalah peluang untuk menjawab benar suatu
soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam
bentuk indeks. Indeks tingkat kesukaran ini pada umumnya dinyatakan dalam
bentuk proporsi yang besarnya berkisar 0,00 - 1,00. Semakin besar indeks
tingkat kesukaran yang diperoleh dari hasil hitungan, berarti semakin mudah
soal itu. Suatu soal memiliki TK= 0,00 artinya bahwa tidak ada siswa yang
menjawab benar dan bila memiliki TK= 1,00 artinya bahwa siswa menjawab
benar. Perhitungan indeks tingkat kesukaran ini dilakukan untuk setiap nomor
soal. Pada prinsipnya, skor rata-rata yang diperoleh peserta didik pada butir
soal yang bersangkutan dinamakan tingkat kesukaran butir soal itu.
Fungsi tingkat kesukaran butir soal biasanya dikaitkan dengan tujuan
tes. Misalnya untuk keperluan ujian semester digunakan butir soal yang
memiliki tingkat kesukaran sedang, untuk keperluan seleksi digunakan butir
soal yang memiliki tingkat kesukaran tinggi/sukar, dan untuk keperluan
diagnostik biasanya digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran
rendah/mudah.
Untuk menghitung taraf kesukaran soal dari suatu tes dipergunakan
rumus sebagai berikut:

TK = U + L

Keterangan:

U = Jumlah siswa yang termasuk kelompok pandai (upper group) yang


menjawab benar untuk tiap soal.

L = Jumlah siswa yang termasuk kurang (lower group) yang menjawab


benar untuk tiap soal.

T = Jumlah siswa dari kelompok pandai dan kelompok kurang (jumlah


upper group dan lower group)

Misalkan suatu tes yang terdiri atas N soal yang diberikan kepada 40 siswa.
Dari hasil tes tersebut, tiap-tiap soal dianalisis taraf kesukarannya. mula-mula
hasil tes itu kita susun kedalam peringkat, kemudian kita ambil 25% (10
lembar jawaban siswa kelompok pandai), dan 10 lembar jawaban siswa dari
kelompok yang kurang pandai. Kemudian kita tabulasikan. Misalkan dari
tabulasi soal kita peroleh hasil sebagai berikut: yang menjawab benar dari
kelompok pandai ada 9 siswa, dan yang menjawab benar dari kelompok
kurang pandai ada 4 siswa.

Dengan menggunakan rumus diatas, maka taraf kesukaran atau TK dari soal
adalah:
TK = U + L = 9 + 4 = 0,65 atau 65%

T 20

Jadi dapat disimpilkan bahwa nilai dari TK atau tingkat kesukarannya adalah
65%.

Sedangkan dalam bukunya Drs. H. Daryanto, rumus untuk mencari taraf


kesukaran atau indeks kesukaran adalah:

P= B

JS

Keterangan:

P = indeks kesukaran.

B = banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan benar.

JS = jumlah seluruh siswa peserta tes.

Contoh:

Jumlah siswa peserta tes dalam suatu kelas ada 40 siswa. Dari 40 siswa
tersebut terdapat 12 siswa yang mampu mengerjakan soal no. 1 dengan benar.
Maka berapa indeks kesukarannya?

Jawab:

P = B
JS
= 12
40
= 0,30
Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas menggambarkan
tingkat kesukaran soal itu. Klasifikasi tingkat kesukaran soal dapat
dicontohkan seperti berikut ini.
0,00 - 0,30 soal tergolong sukar
0,31 - 0,70 soal tergolong sedang
0,71 - 1,00 soal tergolong mudah
Tingkat kesukaran butir soal dapat mempengaruhi bentuk distribusi total skor
tes. Untuk tes yang sangat sukar (TK= < 0,25) distribusinya berbentuk positif
skewed, sedangkan tes yang mudah dengan TK= >0,80) distribusinya
berbentuk negatif skewed.
Tingkat kesukaran butir soal memiliki 2 kegunaan, yaitu kegunaan bagi guru
dan kegunaan bagi pengujian dan pengajaran. Kegunaannya bagi guru adalah:
(1) Sebagai pengenalan konsep terhadap pembelajaran ulang dan memberi
masukan kepada siswa tentang hasil belajar mereka
(2) Memperoleh informasi tentang penekanan kurikulum atau mencurigai
terhadap butir soal yang biasa.
Adapun kegunaannya bagi pengujian dan pengajaran adalah:
(a) Pengenalan konsep yang diperlukan untuk diajarkan ulang
(b) Tanda-tanda terhadap kelebihan dan kelemahan pada kurikulum sekolah
(c) Memberi masukan kepada siswa
(d) Tanda-tanda kemungkinan adanya butir soal yang biasa
(e) Merakit tes yang memiliki ketepatan data soal.
Di samping kedua kegunaan di atas, dalam konstruksi tes, tingkat kesukaran
butir soal sangat penting karena tingkat kesukaran butir dapat: (1)
mempengaruhi karakteristik distribusi skor (mempengaruhi bentuk dan
penyebaran skor tes atau jumlah soal dan korelasi antarsoal), (2) berhubungan
dengan reliabilitas. Menurut koefisien alfa clan KR-20, semakin tinggi
korelasi antar soal, semakin tinggi reliabilitas.
Tingkat kesukaran butir soal juga dapat digunakan untuk memprediksi alat
ukur itu sendiri(soal) dan kemampuan peserta didik dalam memahami materi
yang diajarkan guru. Misalnya satu butir soal termasuk kategori mudah, maka
prediksi terhadap informasi ini adalah seperti berikut.
1) Pengecoh butir soal itu tidak berfungsi.
2) Sebagian besar siswa menjawab benar butir soal itu; artinya bahwa
sebagian besar siswa telah memahami materi yang ditanyakan.
Bila suatu butir soal termasuk kategori sukar, maka prediksi terhadap
informasi ini adalah seperti berikut.
1) Butir soal itu "mungkin" salah kunci jawaban.
2) Butir soal itu mempunyai 2 atau lebih jawaban yang benar.
3) Materi yang ditanyakan belum diajarkan atau belum tuntas
pembelajarannya, sehingga kompetensi minimum yang harus dikuasai
siswa belum tercapai.
4) Materi yang diukur tidak cocok ditanyakan dengan menggunakan bentuk
soal yang diberikan (misalnya meringkas cerita atau mengarang
ditanyakan dalam bentuk pilihan ganda).
5) Pernyataan atau kalimat soal terlalu kompleks dan panjang.
B. Daya Pembeda Soal
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu butir soal dapat
membedakan antara warga belajar/siswa yang telah menguasai materi yang
ditanyakan dan warga belajar/siswa yang tidak/kurang/belum menguasai
materi yang ditanyakan. Manfaat daya pembeda butir soal adalah seperti
berikut ini.
1) Untuk meningkatkan mutu setiap butir soal melalui data empiriknya.
Berdasarkan indeks daya pembeda, setiap butir soal dapat diketahui
apakah butir soal itu baik, direvisi, atau ditolak.
2) Untuk mengetahui seberapa jauh setiap butir soal dapat
mendeteksi/membedakan kemampuan siswa, yaitu siswa yang telah
memahami atau belum memahami materi yang diajarkan guru. Apabila
suatu butir soal tidak dapat membedakan kedua kemampuan siswa itu,
maka butir soal itu dapat dicurigai "kemungkinannya" seperti berikut ini:
• Kunci jawaban butir soal itu tidak tepat.
• Butir soal itu memiliki 2 atau lebih kunci jawaban yang benar
• Kompetensi yang diukur tidak jelas
• Pengecoh tidak berfungsi
• Materi yang ditanyakan terlalu sulit, schingga banyak siswa yang
menebak
• Sebagian besar siswa yang memahami materi yang ditanyakan
berpikir ada yang salah informasi dalam butir soalnya
Indeks daya pembeda setiap butir soal biasanya juga dinyatakan dalam bentuk
proporsi. Semakin tinggi indeks daya pembeda soal berarti semakin mampu
soal yang bersangkutan membedakan warga belajar/siswa yang telah
memahami materi dengan warga belajar/peserta didik yang belum memahami
materi. Indeks daya pembeda berkisar antara -1,00 sampai dengan +1,00.
Semakin tinggi daya pembeda suatu soal, maka semakin kuat/baik soal itu.
Jika daya pembeda negatif (<0) berarti lebih banyak kelompok bawah (warga
belajar/peserta didik yang tidak memahami materi) menjawab benar soal
dibanding dengan kelompok atas (warga belajar/peserta didik yang
memahami materi yang diajarkan guru).
Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks
diskriminasi. Daya pembeda suatu soal tes dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:

DP = U – L

½T

Keterangan:

DP = Indeks DP atau daya pembeda yang dicari.

U = Jumlah siswa yang termasuk dalam kelompok pandai yang


mampu menjawab benar untuk tiap soal.

L = Jumlah siswa yang termasuk kurang yang menjawab benar untuk tiap
soal.

T = Jumlah siswa keseluruhan.

Contoh:

Dari hasil tes lomba olimpiade IPS, jumlah siswa yang dites adalah 40 siswa,
sedangkan tes tersebut terdiri dari 20 soal. Setelah hasil tes tersebut diperiksa,
kemudian disusun kedalam peringkat untuk menentukan 25% siswa yang
termasuk kelompok pandai (upper group) dan 25% siswa yang termasuk
kelompok kurang (lower group).

Kemudian hasil tes tersebut ditabulasikan dengan menggunakan format


tabulasi jawaban tes, kemudian hasil tabulasi dari kedua kelompok tersebut
dimasukkan kedalam format analisis soal tes, sehingga kita dapat menghitung
tingkat kesukaran dan daya pembeda tiap soal yang kita analisis.

Misalkan dari tabulasi soal no. 1 kita peroleh hasil sebagai berikut: yang
menjawab benar dari kelompok pandai ada 10 siswa, dan yang menjawab
benar dari kelompok kurang ada 9 siswa. Maka daya pembedanya adalah:

DP = U – L

½T

= 10 – 9

½ x (20)

= 1

10

= 0,10

Jadi dapat disimpulkan bahwa indeks pembedanya adalah 0,10.

Dalam bukunya Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, dijelaskan mengenai


klasifikasi daya pembeda, yaitu:

D = 0,00 – 0,20 = jelek (poor).

D = 0,20 – 0,40 = cukup (satisfactory).

D = 0,40 – 0,70 = baik (good).

D = 0,70 – 1,00 = baik sekali (excellent).

C. Analisis pengecoh (Efektifitas Distraktor )


Instrumen evaluasi yang berbentuk tes dan objektif, selain harus
memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan terdahulu, harus mempunyai
distraktor yang efektif. Yang disebut dengan distraktor atau pengecoh adalah
opsi-opsi yang bukan merupakan kunci jawaban (jawaban benar).
Butir soal yang baik pengecohnya akan dipilih secara merata oleh
peserta didik yang menjawab salah. Sebaliknya, butir soal yang kurang baik,
pengecohnya akan dipilih secara tidak merata. Pengecoh dianggap baik bila
jumlah peserta didik yang memilih pengecoh itu sama atau mendekati jumlah
ideal.

Ciri-ciri pengecoh yang baik


1. Ada yang memilih, khususnya dari kelompok bawah
2. Dipilih lebih banyak oleh kelompok rendah daripada kelompok tinggi
3. Jumlah pemilih kelompok tinggi pada pengecoh itu tidak menyamai jumlah
kelompok tinggi yang memilih kunci jawaban
4. Paling sedikit dipilih oleh 5% pengikut tes

Teknik analisis fungsi distraktor


Pada saat membicarakan tentang tes objektif bentuk multiple choice
item telah dikemukakan bahwa pada tes obyektif bentuk multiple choice item
tersebut untuk setiap butir item yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar telah
dilengkapi dengan beberapa kemungkinan jawaban atau yang sering dikenal
dengan istilah option atau alternatif.
Option atau alternatif itu jumlahnya berkisar antara tiga sampai dengan
lima buah, dan dari kemungkinan-kemungkinan jawab yang terpasang pada
setiap butir item itu, salah satu diantaranya adalah merupakan jawaban betul
(=kunci jawaban); sedangkan sisanya adalah merupakan jawaban salah.
Jawaban-jawaban salah itulah yang biasa dikenal dengan istilah distractor
(distraktor = pengecoh).
Tujuan memasang distraktor pada setiap butir item adalah agar diantara
sekian banyak peserta tes, ada yang memilihnya karena mereka menganggap
itulah jawaban yang benar. Tentu saja, makin banyak testee yang terkecoh,
maka kita dapat menyatakan bahwa distraktor itu makin dapat menjalankan
fungsinya dengan sebaik-baiknya.
Menganalisis fungsi distraktor sering dikenal dengan istilah lain, yaitu:
menganalisis pola penyebaran jawaban item. Adpaun yang dimaksud dengan
pola penyebaran jawaban item ialah suatu pola yang dapat menggambarkan
bagaimana testee menentukan pilihan jawabnya terhadap kemungkinan-
kemungkinan jawab yang telah dipasangkan pada setiap butir item.
Suatu kemungkinan dapat terjadi, yaitu bahwa dari keseluruhan
alternatif yang dipasang pada butir item tertentu, sama sekali tidak dipilih
oleh testee. Dengan kata lain, testee menyatakan “blangko”. Pertanyaan
blangko ini sering dikenal dengan istilah oniet dan biasa diberi lambang
dengan huruf O. Distraktor makin dapat menjalankan fungsinya dengan baik
apabila distraktor tersebut memiliki daya tarik sedemikian rupa sehingga
peserta tes merasa bimbang dan ragu sehingga mereka memilih distraktor itu
sebagai jawaban benar.
Suatu distraktor dinyatakan telah dapat menjalankan fungsinya sebagai
pengecoh apabila dipilih oleh paling kurang 5% dari seluruh pesrta tes.
Sebagai tindak lanjut dari hasil penganalisisan terhadap fungsi distraktor
tersebut maka distraktor yang belum dapat menjalankan fungsinya sebagai
pengecoh sebaiknya diperbaiki atau diganti dengan distraktor lain.
Berikut ini diberikan contoh cara menganalisis fungsi distraktor.
Misalkan suatu hasil tes belajar diikuti oleh 30 orang peserta tes, bentuk
soalnya adalah multiple choice item dimana setiap butir item dilengkapi
dengan 5 alternatif jawaban (option). Tes hasil belajar tersebut terdiri dari 50
butir soal.
Untuk menganalisis fungsi distraktor butir soal no. 1,2,3 dan 4
misalnya, maka dilihat pola penyebaran jawaban dari butir item no. 1,2,3 dan
4 ternyata diperoleh pola penyebaran jawaban sebagai berikut.
Tabel pola penyebaran jawaban empat butir tes
Nomor Alternatif jawaban (option)
butir kelompok Keterangan
A B C D E Omit
item
Atas 20 2 1 2 0 0
Kunci
1 Bawah 10 6 5 2 2 0
jawaban A
jumlah (30) 8 6 4 2 0
Atas 2 4 13 5 1 1
Kunci
2 Bawah 3 6 12 2 0 1
jawaban C
jumlah 5 10 (25) 7 1 2
Atas 2 4 0 18 1 1
Kunci
3 Bawah 1 5 0 16 2 0
jawaban D
jumlah 3 9 0 (34) 3 1
Atas 2 18 1 2 1 0
Kunci
4 Bawah 0 22 2 2 0 0
jawaban B
jumlah 2 (40) 3 4 1 0

Dengan adanya pola penyebaran jawaban seperti pada tabel di atas,


maka dapat diketahui berapa persen peserta tes yang terkecoh memilih
distraktor yang diberikan yaitu:
a. Untuk item tes no.1, kunci jawabannya adalah A dan distraktornya adalah
B,C,D,E.
 Distraktor B dipilih oleh 8 orang berarti : 8/50 x 100% = 16%.
Dengan demikian distraktor B telah menjalankan fungsinya sebagai
pengecoh dengan baik, karena dipilih oleh lebih 5% peserta tes.
 Distraktor C dipilih oleh 6 orang berarti : 6/50 x 100% = 12%.
Dengan demikian distraktor C juga telah menjalankan fungsinya
sebagai pengecoh dengan baik, karena dipilih oleh lebih 5% peserta
tes.
 Distraktor D dipilih oleh 4 orang berarti : 4/50 x 100% = 8%. Dengan
demikian distraktor C juga telah menjalankan fungsinya sebagai
pengecoh dengan baik, karena dipilih oleh lebih 5% peserta tes.
Distraktor E dipilih oleh 2 orang berarti : 2/50 x 100% = 4%. Dengan
demikian distraktor E belum dapat menjalankan fungsinya sebagai
pengecoh, karena hanya dipilih oleh 4% peserta tes (kurang dari 5%).
b. Untuk item tes no.2, kunci jawabannya adalah C dan distraktornya adalah
A,B,D,E.
 Distraktor A dipilih oleh 5 orang berarti : 5/50 x 100% = 10%.
Dengan demikian distraktor B telah menjalankan fungsinya sebagai
pengecoh dengan baik, karena dipilih oleh lebih 5% peserta tes.
 Distraktor B dipilih oleh 10 orang berarti : 10/50 x 100% = 20%.
Dengan demikian distraktor B juga telah menjalankan fungsinya
sebagai pengecoh dengan baik, karena dipilih oleh lebih 5% peserta
tes.
 Distraktor D dipilih oleh 7 orang berarti : 7/50 x 100% = 14%.
Dengan demikian distraktor B juga telah menjalankan fungsinya
sebagai pengecoh dengan baik, karena dipilih oleh lebih 5% peserta
tes.
 Distraktor E dipilih oleh 2 orang berarti : 2/50 x 100% = 2%. Dengan
demikian distraktor E belum dapat menjalankan fungsinya sebagai
pengecoh, karena hanya dipilih oleh 2% peserta tes (kurang dari 5%).
Dari keempat pengecoh/distraktor pada butir item no.2, tiga diantaranya
dapat menjalankan fungsinya dengan baik, sementara distraktor E tidak
berfungsi sebagai pengecoh.
D. Keterbacaan
Keterbacaan merupakan alih bahasa dari “Readability” yang merupakan
turunan dari “Readable”,artinya dapat dibaca atau terbaca. Keterbacaan
adalah hal atau ihwal terbaca-tidaknya suatu bahan bacaan tertentu oleh
pembacanya. Keterbacaan mempersoalkan tingkat kesulitan atau tigkat
kemudahan suatu bahan bacaan tertentu bagi peringkat pembaca tertentu.
Keterbacaan merupakan ukuran tentang sesuai-tidaknya suatu bacaan bagi
pembaca tertentu dilihat dari segi tingkat kesulitan atau kemudahan
wacananya. Untuk memperkirakan tingkat keterbacaan bahan
bacaan, banyak dipergunakan orang berbagai formula keterbacaan. Tingkat
keterbacaan biasanya dinyatakan dalam bentuk peringkat kelas. Setelah
melakukan pengukuran keterbacaan sebuah wacana, orang akan dapat
mengetahui kecocokan materi bacaan tersebut untuk peringkat kelas tertentu.
Uraian di atas dapat simpulkan bahwa tingkat keterebacaan dapat
diartikan sebagai tingkat kesulitan atau kemudahan wacana. Faktor yang
paling utama mempengaruhi keterbacaan ada dua hal, yakni panjang
pendeknya kalimat dan tingkat kesulitan kata yang ditandai oleh jumlah huruf
dan silabi yang membentuknya. Pada umumnya, semakin panjang kalimat
dan semakin panjang kata maka bahan bacaan tersebut semakin sukar.
Sebaliknya, jika kalimat dan kata-katanya pendek- pendek, maka wacana
dimaksud tergolong wacana yang mudah. Sedangkan untuk Tingkat kesulitan
kata, semakin sulit bacaan tersebut dimengerti, maka tingkat keterbacaan
wacana tersebut rendah. Sebaliknya, semakin mudah bacaan tersebut
dimengerti, maka tingkat keterbacaan wacana tersebut tinggi.
Pertimbangan panjang-pendek kata dan tingkat kesulitan kata dalam
pemakaian formula keterbacaan, semata-mata hanya didasarkan pada
pertimbangan struktur permukaan teks. Struktur yang secara visual dapat
dilihat. Sedangkan konsep yang terkandung dalam bacaan sebagai struktur
dalam dari bacaan tersebut tampaknya tidak diperhatikan Seperti halnya
kriteria kesulitan kalimat, kriteria kesulitan kata juga didasarkan atas wujud
(struktur) yang tampak. Jika sebuah kalimat secara visual tampak lebih
panjang, artinya kalimat tersebut tergolong sukar, sebaliknya, jika sebuah
kalimat atau kata secara visual tampak pendek, maka kalimat tersebut
tergolong mudah.
E. Manfaat Kegiatan Menganalisis Butir Soal
Berdasarkan pendapat yang diungkapkan oleh Anastasia dan Urbina
(1997) dalam Suprananto (2012), analisis butir soal memiliki banyak manfaat,
diantaranya yakni:
1. Membantu pengguna tes dalam mengevaluasi kualitas tes yang
digunakan,
2. Relevan bagi penyusunan tes informal seperti tes yang disiapkan guru
untuk siswa dikelas,
3. Mendukung penulisan butir soal yang efektif,
4. Secara materi dapat memperbaiki tes di kelas,
5. Meningkatkan validitas soal dan reliabilitas.
Linn dan Gronlund (1995) dalam Suprananto (2012: 163),
menambahkan bahwa pelaksanaan kegiatan analisis butir soal, biasanya
didesain untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Apakah fungsi soal sudah tepat?
2. Apakah soal telah memiliki tingkat kesukaran yang tepat?
3. Apakah soal bebas dari hal-hal yang tidak relevan?
4. Apakah pilihan jawabannya efektif?
Selain itu, data hasil analisis butir soal juga sangat bermanfaat sebagai
dasar untuk:
1. Diskusi tentang efisien hasil tes,
2. Kerja remedial
3. Peningkatan secara umum pembelajaran di kelas,
4. Peningkatan keterampilan pada kontruksi tes.
Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa analisis butir soal
memberikan manfaat:
1. Menentukan soal-soal yang cacat atau tidak berfungsi dengan baik,
2. Meningkatkan butir soal melalui tiga komponen analisis yaitu, tingkat
kesukaran, daya pembeda dan pengecoh soal,
3. Merevisi soal yang tidak relevan degan materi yang diajarkan, ditandai
dengan banyaknya anak yang tidak dapat menjawab butir soal tertentu.
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Suharsimi. 2010. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Bumi


Aksara.

Ngalim Purwanto. 2008. Prinsip – Prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran.


Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sudijono Anas. 2006. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sukardi. 2009. Evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Sukiman, 2008.Pengembangan sistem Evaluasi PAI. Yogyakarta: UIN Sunan


Kalijaga Yogyakarta.