Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diare adalah salah satu penyakit yang banyak terjadi di Indonesia. Diare dapat
menyerang pada semua kelompok usia. Tidak jarang penyakit ini menyebabkan kematian
pada si penderita. Hal ini dikarenakan oleh ketidakmampan si penderita menoleransi
kehilangan elektrolit dan cairan dari tubuhnya.
Diare didefinisikan sebagai buang air besar lembek atau cair bahkan dapat berupa air
saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari) (Depkes
RI Ditjen PPM dan PLP, 2002).
Diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di
indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar diantara 150-430 / seribu penduduk
setahunnya. Dengan upaya yang sekarang telah dilaksanakan, angka kesakitan di RS dapat
ditekan menjadi < dari 3 %.
Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya diare, seperti
masyarakat harus menyadari bahwa kesehatan itu lebih dari segalanya. Berdasarkan hal di
atas penulis menyusun makalah dengan judul “ Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
Diare ” .

1
BAB II

Tinjauan Teori

2.1 Pengertian Diare

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari
biasanya (normal 100-200 cc/jam tinja). Dengan tinja berbentuk cair /setengan padat, dapat
disertai frekuensi yang meningkat.

Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena
frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair.
(Suriadi,Rita Yuliani, 2001).

Diare didefinisikan sebagai buang air besar lembek atau cair bahkan dapat berupa air
saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari) (Depkes
RI Ditjen PPM dan PLP, 2002).

2.2 Etiologi
Menurut Ngastiyah (2005) penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor:
A. Faktor Infeksi
1) Infeksi enterial
Infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab diare pada
anak. Meliputi infeksi enteral sebagai berikut:
 Infeksi virus : Enterovirus (virus ECHO, Coxsackie, Poliomyelitis),
Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus dan lain-lain.
 Infeksi bakteri: vibrio, Ecoli, salmonella, shigella.
 Infeksi parasit: Cacing (ascaris, trichuris, oxyuris,
strongyloides), protozoa (entamoeba hystolytica, giardia lambilia,
trichomonas hominis), jamur (candida albicanas)
2) Infeksi parenteral
Infeksi di luar alat pencernaan makanan seperti: otitis media akut,
tonsilitis/tonsilofaringitis, bronchopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.
Keadaan terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.

2
A. Faktor Malabsorbsi
 Malabsorbsi karbohidrat
Disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, sukrosa),
monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa).
Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering intoleransi
laktosa.
 Malabsorbsi lemak
 Malabsorbsi protein
B. Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
C. Faktor psikologis
Rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang
lebih besar).
2.3 Patofisiologi
Menurut Ngastiyah (2005), mekanisme dasar yang menyebabkan diare adalah sebagai
berikut:
a. Gangguan Osmotik
Akibat makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan
osmotik dalam rongga usus meningkat, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit
ke dalam rongga usus. Isi usus yang berlebihan akan merangsang untuk
mengeluarkannya.
b. Gangguan Sekresi
Akibat rangsangan tertentu (toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan
sekresi air dan elektrolit pada rongga usus dan terjadi diare karena peningkatan isi
usus.
c. Gangguan Motilitas
Hiperperistaltik akan menyebabkan kesempatan penyerapan makanan berkurang
sehingga timbul diare, penurunan peristaltik menimbulkan bakteri tumbuh berlebihan
sehingga dapat menimbulkan diare.

3
WOC

Mikro Organisme

Membentuk Toksin Radang Usus

Mengganggu absorbsi usus

Menimbulkan sekresi berlebihan air elektrolit

Kurang pengetahuan Jumlah M


Berlebihan
DIARE A

Sanitasi kurang K
Muntah keracunan
A
basi
N
Perilaku tak higienis Defisit Volume Cairan
Intoleransi : A
psikis laktosa,prot
N
ein, lemak
PK : Syok
Hospitalisasi syok
Cemas orang tua

Takut
Suplai cairan/darah Resusitasi cairan
Hipertermi

O2 berkurang
Resiko kelebihan volume
cairan

Paru jantung ginjal otak jaringan

Hiperventilasi Penurunan ARF Hipoksia Gg.Perfusi


cardiac output jaringan

Pola nafas tidak


efektif

4
Gagal jantung Gagal ginjal Kesadaran Brain Death

Menurun

Gagal Nafas Intoleransi aktifitas

2.1.4
Manifestasi Klinis Diare

Sebagai manifestasi klinis dari diare (Hassan dan Alatas, 1997) adalah sebagai berikut:
a. Mula-mula pasien gelisah
b. Suhu tubuh biasanya meningkat
c. Nafsu makan berkurang atau tidak ada.
d. Feses cair biasa disertai lendir atau darah, warna tinja mungkin berubah hijau karena
bercampur dengan empedu.
e. Anus mungkin lecet karena tinja makin asam akibat asam laktat dari laktosa yang tidak
diabsorbsi usus dan sering defikasi.
f. Muntah disebabkan lambung yang turut meradang atau gangguan keseimbangan asam
basa dan elektrolit.
g. Bila kehilangan banyak cairan muncul dehidrasi (berat badan turun, turgor kulit kurang,
mata dan ubun-ubun besar cekung, selaput lendir bibir dan mulut kering).

2.1.5 Pemeriksaan Diagnostik

Menurut Hassan dan Alatas (1998) pemeriksaan laboratorium pada diare adalah:
a. Feses
 Makroskopis dan Mikroskopis
 pH dan kadar gula pada tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest, bila diduga
terdapat intoleransi gula.
 Biakan dan uji resisten.
5
b. Pemeriksaan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan pH dan
cadangan alkalin atau dengan analisa gas darah.
c. Ureum kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
d. Elektrolit terutama natrium, kalium dan fosfor dalam serium.
e. Pemeriksaan Intubasi deudenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau parasit.

2.1.6 Komplikasi

Menurut Ngastiyah (2005) komplikasi dari daire ada :


1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik)
2. Renjatan hipovolemik.
3. Hipokalemia(dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia, perubahan
elektrokardiogram)
4. Hipoglikemia.
5. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim lactase.
6. Kejang, terjadi pada dehidrasi hipertonik.
7. Malnutrisi energi protein, (akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik).

2.1.7 Klasifikasi Diare

Gastroenteritis (diare) dapat di klasifikasi berdasarkan beberapa faktor :

1) Berdasarkan lama waktu :


a. Akut : berlangsung < 5 hari
b. Persisten : berlangsung 15-30 hari
c. Kronik : berlangsung > 30 hari
2) Berdasarkan mekanisme patofisiologik
a. Osmotik, peningkatan osmolaritas intraluminer
b. Sekretorik, peningkatan sekresi cairan dan elektrolit

6
3) Berdasarkan derajatnya
a. Diare tanpa dehidrasi
b. Diare dengan dehidrasi ringan/sedang
c. Diare dengan dehidrasi berat
4) Berdasarkan penyebab infeksi atau tidak
a. Infektif
b. Non infeksif

5) Berdasarkan penyebab organik atau tidak


a. Organik adalah bila ditemukan penyebab anatomik, bakteriologik, hormonal, atau
toksikologik.
b. Fungsional merupakan bila tidak ditemukan penyebab organik.

2.1.8 Klasifikasi dehidrasi

Dehidrasi dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa parameter, yaitu :

1. Berdasarkan jumlah cairan tubuh yang hilang dan keadaan klinis pasien, dehidrasi dapat
diklasifikasikan kedalam 3 kelompok yaitu :
a. Dehidrasi ringan (hilang cairan 2-5 % bb)
Gambaran kliniks : turgor kulit sudah mulai berkurang,suara serak, belum jatuh
dalam persyok.
b. Dehidrasi sedang (hilang cairan 5-8 %bb)
Gambaran klinis : turgor buruk, suara serak, pasien jatuh dalam presyok atau
syok,nadi cepat, napas cepat dan dalam.
c. Dehidrasi berat (hilang cairan 8-10% bb)
Gambaran klinis : kelanjutan dari tanda dehidrasi sedang, kesadaran menurun,
otot-otot kaku., dan sianosis.
2. Berdasarkan bj (berat jenis) plasma
a. Dehidrasi ringan, (bj plasma 1,032 -1,040)

7
b. Dehidrasi sedang (bj plasma 1,028 -1,032)
c. Dehidrasi berat (bj plasma 1,025 -1,028)

2.1.9 Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan

Medis
1. Pemberian cairan, jenis, cara dan jumlah pemberian cairan
2. Diet : pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan
penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan :
 Memberikan asi.
 Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral, dan
makanan yang bersih.
3. Obat-obatan: berikan antibiotic, anti sekresi, dan anti spasmolitik

Keperawatan

Penyakit diare walaupun semua tidak menular (misal diare karena faktor malabsorbsi), tetapi
perlu perawatan di kamar yang terpisah dengan perlengkapan cuci tangan untuk mencegah
infeksi (selalu tersedia disinfektan dan air bersih) serta tempat pakaian kotor sendiri. Ini
bertujuan untuk mempercepat penyembuhan.

2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian

1) Identitas pasien
Terdiri dari : Nama,Umur, Alamat, Jenis Kelamin, Agama, Status, Pendidikan Terakhir,
Pekerjaan.
Identitas Penanggung Jawab
2) Terdiri dari : Nama, Umur, Alamat, Jenis Kelamin, Pekerjaan, Hubungan dengan pasien.
3) Pola Fungsi

8
a. Aktivitas/istirahat:
Gejala:
 Kelelelahan, kelemahan atau malaise umum
 Insomnia, tidak tidur semalaman karena diare
 Gelisah dan ansietas
b. Sirkulasi:
Tanda:
 Takikardia (reapon terhadap dehidrasi, demam, proses inflamasi dan nyeri)
 Hipotensi
 Kulit/membran mukosa : turgor jelek, kering, lidah pecah-pecah
c. Integritas ego:
Gejala:
 Ansietas, ketakutan,, emosi kesal, perasaan tak berdaya
Tanda:
 Respon menolak, perhatian menyempit, depresi
d. Eliminasi:
Gejala:
 Tekstur feses cair, berlendir, disertai darah, bau anyir/busuk.
 Tenesmus, nyeri/kram abdomen

Tanda:
 Bising usus menurun atau meningkat
 Oliguria/anuria
e. Makanan dan cairan:
Gejala:
Haus
 Anoreksia
 Mual/muntah
 Penurunan berat badan
 Intoleransi diet/sensitif terhadap buah segar, sayur, produk susu, makanan berlemak

9
Tanda:
 Penurunan lemak sub kutan/massa otot
 Kelemahan tonus otot, turgor kulit buruk
 Membran mukosa pucat, luka, inflamasi rongga mulut
f. Hygiene:
Tanda:
 Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri
 Badan berbau
g. Nyeri dan Kenyamanan:
Gejala:
 Nyeri/nyeri tekan kuadran kanan bawah, mungkin hilang dengan defekasi
Tanda:
 Nyeri tekan abdomen, distensi.
h. Keamanan:
Tanda:
 Peningkatan suhu pada infeksi akut,
 Penurunan tingkat kesadaran, gelisah
 Lesi kulit sekitar anus
i. Seksualitas
Gejala:
 Kemampuan menurun, libido menurun
j. Interaksi sosial
Tanda:
 Penurunan aktivitas sosial
 Penyuluhan/pembelajaran:
Gejala:
 Riwayat anggota keluarga dengan diare
 Proses penularan infeksi fekal-oral
 Personal higyene
 Rehidrasi

10
B. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta
intake terbatas (mual)
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan
peningkatan peristaltik usus
3. Resko gangguan Integritas Kulit perianal berhubungan dengan peningkatan freuensi BAB
(Diare)
4. Gangguan pola tidur b/d kecemasan

C. Intervensi

DIAGNOSA NOC NIC RASIONAL


(NANDA)

11
1. Kurang Tujuan : Intervensi: 1.Hipotensi,
volume cairan takikardia, demam
 Keseimbangan cairan Mandiri
b.d seringnya dapat menunjukkan
dapat dipertahankan
buang air besar 1. Observasi tanda-tanda respons terhadap
dalam batas normal
dan encer. vital dan/atau efek
 Mempertahankanvolu
kehilangan cairan
me cairan adekuat.
 Devisit cairan dan 2.Populasi feses yang
elektrolit teratasi cepat melalui usus
mengurangi absorbsi
kriteria hasil:
air volume sirkulasi
 Membran mukosa yang rendah
lembab 2. Observasi tanda-tanda menyebabkan

 Turgor kulit baik dehidrasi kekeringan membran

 Masukan dan keluaran mukosa dan rasa haus.

seimbang Urine yang pekat telah


meningkatkan berat
jenis.

1.Menentukan
kebutuhan
penggantian dan
keefektifan terapi.

Berikan obat sesuai


indikasi : Anti diare
Kolaborasi
2. Mempertahankan
1. Pemeriksaan istirahat usus akan
laboratorium sesuai memerlukan
program; elektrolit, Ht, pH, penggantian cairan

12
serum albumin untuk memperbaiki
kehilangan/anemia.

3.Menurunkan
2. Pemberian cairan dan
kehilangan cairan dari
elektrolit sesuai protokol
usus.
(dengan oralit dan cairan
parenteral) Anti Mimetik,
misal :
Trimetobenzamida
(tigan), hidoksin
(vistar)

1. Memberikan
informasi tentang
3. Pemberian obat sesuai kebutuhan nutrisi
indikasi
2. Memberikan
Antidiare informasi tentang
kebutuhan nutrisi.
Antibiotik
3. Memenuhi
kebutuhan nutrisi

Kolaborasi:

1. Mengistirahatkan
kerja gastrountestinal
Tujuan:
dan
Intervensi:
2. Perubahan a. Gangguan pemenuhan mengatasi/mencegah
nutrisi, kurang nutrisi teratasi 1. Kaji pola nutrisi kekurangan nutrisi
dari kebutuhan

13
tubuh b.d b. Berat badan dalam batas 2. Timbang berat badan lebih lanjut
menurunnya normal klien
2. Antikolinergik
intake dan 3. Berikan diet dalam porsi
Kriteria Hasil: diberikan 15-30 menit
menurunnya kecil tapi sering.
sebelum makan
absorpsi Diet habis 1 porsi yang
Kolaborasi: memberikan
makanan dan disediakan
1.Pemberian nutrisi penghilangan kram
cairan
Tidak ada mual, muntah parenteral sesuai indikasi dan diare,
menurunkan motilitas
Berat badan meningkat / 2.Berikan obat sesuai
gaster.
sesuai umur indikasi

1. Mengetahui
seberapa jauh
kerusakannya

2. Kebersihan
lingkungan dan
tempat tidur dapat
mengurangi terjadinya
iritasi dan infeksi

3.Suhu yang lembab


mempercepat
terjadinya iritasi

4.Pengaturan posisi
dapat membantu
Tujuan:
meningkatkan rasa
3. Resiko Gangguan integritas kulit Intervensi: nyaman
gangguan teratasi
1. Kaji kerusakan
integritas kulit
Kriteria Hasil: kulit/iritasi setiap buang air
perianal

14
berhubungan Integritas kulit besar
dengan penin kembali normal
2. Diskusikan dan jelaskan
gkatan
Tidak ada iritasi pentingnya menjaga tempat
frekwensi
tidur
BAB (diare)
3.Demontrasikan serta
libatkan keluarga dalam
merawat perianal (bila
basah dan mengganti
pakaian bawah serta
alasnya)

4. Atur posisi atau duduk


dengan selang 2-3 jam
Tujuan :
Intervensi :
4.Gangguan Gangguan pola tidur pasien
pola tidur b/d teratasi 1. Kaji kebutuhan ps dapat
kecemasan istirahat
kriteria hasil:
2. Ciptakan suasana yang
Ps mengatakan tidak cemas
nyaman saat tidur
Ps mengatakan tidur nyenyak
3. Anjurkan ps untuk cuci
Ps tampak tenang
tangan dan kaki dengan air
hangat
4. Anjurkan ps untuk berdoa
sebelum tidur.

D. Evaluasi
1. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.
2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh.

15
3. Integritas kulit kembali normal.
4. Pola tidur,kualitas dalam batas normal

16
BAB III
TINJAUAN KASUS

Contoh Kasus
Ny. S berusia 65 tahun yang tidak bekerja,belakangan ini di dalam kamarnya banyak lalat dan
setelah makan siang, Ny.S tiba-tiba mengeluh badannya lemas dan BAB lebih dari 5x dalam
sehari dengan konsistensi encer, Ny.S tidak memberitahukan kepada keluarganya atas
kondisinya sekarang. Ny.S dulu pernah terserang diare tapi hanya 2 hari dan setelah diberi obat
langsung sembuh.

1. Pengkajian
 Nama pasien : Ny.S
 Umur : 65 tahun
 Jenis kelamin : Perempuan
 Agama : Hindu
 Suku bansa : Jawa/ Indonesia
 Alamat : Sawalan
 Tgl masuk : 3 Februari 2006
 Tgl Pengkajian : 4 Februari 2006
 Pekerjaan : Tidak Bekerja
 Keluhan utama : Pada saat pengkajian ps mengeluh / mengatakan badannya
lemas dan diare

 Riwayat kesehatan sekarang: Ps mengatakan diare tanggal 3 Februari 2006 setelah makan
siang. Ps mengatakan makan sesuai menu seperti biasa. Ps mengatakan belakangan ini di
kamarnya banyak terdapat lalat. Ps BAB lebih dari 5 kali dengan konsistensi encer. Ps tidak

17
mengatakan kondisinya kepada keluarganya, akhirnya sore tanggal 3 Februari 2006 Ps diberikan
perawatan khusus

 Riwayat kesehatan dahulu : Ps mengatakan dulu pernah diare tapi hanya 2 hari setelah
minum obat anti diare Ps langsung sembuh. Ps pernah masuk rumah sakit karena kecelakaan.

 Riwayat kesehatan : Didalam keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit
menular.

2. Pola Kebiasaan

a. Pola Nutrisi
 Sebelum sakit ps mengatakan biasa makan 3x sehari dengan menu pagi bubur, satu gelas kopi
dan kue. Siang dan malam nasi, lauk, sayur dan kadang buah, makan habis satu porsi tiap makan.
Minum 6-7 gelas/ hari
 Saat sakit pasien mengatakan selalu lapar tapi nafsu makan berkurang. Ps hanya makan
setengah porsi dari biasanya, minum 6-7 gelas/ hari.

b. Pola Tidur/ Istirahat


 Sebelum sakit pasien mengatakan biasa tidur dari pukul 22.00 sampai 05.00. ps terbiasa tidur
siang selama 2 jam
 Saat sakit ps mengatakan tidur sering terjaga karena merasa kurang nyaman dengan
keadaannya. Ps mengatakan mulai dapat tidur pukul 20.00 sampai04.00 ps sering terbangun
dimalam hari.

c. Pola Aktifitas
 Sebelum sakit dan saat sakit pasien mengatakan aktifitasnya tidak begitu terganggu. Ps masih
bisa memenuhi kebutuhannya secara mandiri seperti mandi, makan, hanya pada saat sakit ps
mengatakan kebanyakan istirahat.

d. Pola Eliminasi

18
 Sebelum sakit ps mengatakan biasa BAB satu kali sehari dengan konsistensi feses lembek,
warna kuning. BAK 4-5 kali sehari dengan warna kuning, bau pesing
 Saat sakit pasien mengatakan diare dengan konsistensi encer, bau, warna kakuningan. Lendir
tidak ada, darah tidak ada Ps mengatakan BAB kurang lebih sudah 5 kali sehari. BAK tidak
mengalami perubahan 4-5 kali sehari.

e. Pola Koping
 sebelum sakit ps mengatakan tidak pernah menceritakan masalahnya dengan orang lain, ps
berusaha mengatasi sendiri tanpa bantuan orang lain
 saat sakit ps menatakan selalu menceritakan masalahnya dengan orang lain (keluarga). Dalam
mengatasi masalahnya ps meminta bantuan keluarga

f. Pola kognitif
Ingatan pasien menurun. Bila ditanya sesuatu pasien berusaha keras mengingatnya kembali

g. Konsep diri
Sebelum sakit ps selalu tampak ceria, dapat memenuhi kebutuhannya dengan mandiri seperti
mandi, makan, pasien banyak bicara (cerewet) tapi pada saat sakit pasien lebih banyak diam,
mengurung diri di kamar. Ps mengetakan tidak percaya diri, merasa tidak berguna dengan
kondisi seperti ini.

h. Pola reproduksi
Pasien mengatakan empat orang anak, dua perempuan dan dua laki-laki. Ps mengatakan tidak
menstruasi lagi (menopause) ps sudah memiliki 5 orang cucu.

i. Hubungan dengan masyrakat


Hubungan ps dengan masyarakat baik.

j. Pola kepercayaan (spiritual)

19
Pasien beragama Hindu dan bisa biasa sembahyang setiap hari pada pagi hari. Saat sakit pasien
hanya berdoa di tempat tidur

3. Pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum
 Kesadaran : Compos mentis
 TB/ BB : 160 Cm / 59 Kg

b. Vital Sign
 Tekanan darah : 130/80 mmHg
 Nadi : 72x/mnt
 Pernafasan : 20 x/ mnt
 Suhu : 36.7 0C
4. Pemeriksaan Penunjang : Tidak ada

5. Analisa Data

Data subyektif :
- Pasien mengatakan diare lebih dari 5 kali, konsistensi feses encer
- Ps mengatakan lemas nafsu makan kurang
- Ps mengatakan makan habis setengah porsi
- Ps mengatakan sering terbangun di malam hari

Data obyektif :
- Ps tampak pucat
- Mukosa bibir kering
- Ps tampak lemas
- Perut tampak cekung
- Ps tampak gelisah
- Muka pucat

20
Kesimpulan :
Kekurangan volume cairan
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Gangguan pola tidur

6. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pohon masalah

1. Diare b/d malabsorbsi kekurangan Volume cairan b/d Diare (BAB encer) d/d ps
mengatakan diare lebih dari 5 kali, konsistensi feses encer. Ps tampak pucat, mukosa bibir
kering. Karena volume cairan b/d kehilangan volume cairan secara aktif.
2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dair kebutuhan tubuh b/d pola makan terganggu d/d ps
mengatakan makanan habis setengah porsi, nafsu maka berkurang, ps tampak lemas, perut
cekung. Keseimbangan nutrisi : dari kebutuhan b/d ketidakmampuan mengabsorbsi makanan.
3. Gangguan pola tidur b/d nyeri d/d ps mengatakan cemas dengan keadaannya. Ps
mengatakan sering terbangun di malam hari. Ps tampak gelisah dan muka pucat. Gangguna pola
tidur b/d mual.

7. INTERVENSI

TUJUAN :
Dx : Diare
- Setelah diberikan askep selama 2x24 jam diharapkan keseimbangan volume cairan terpenuhi
dengan kriteria hasil :
 Ps mengatakan diare berkurang dengan kosistensi feses lembek
 Ps tidak pucat lagi
 Mukosa bibir lembab

21
Dx : Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dair kebutuhan tubuh
- Setelah diberi askep selama 2x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan
tubuh dengan kriteria hasil :
 Ps tidak lemas
 Ps mengatakan nafsu makan meningkat
 Makan habis satu porsi

Dx : Gangguan pola tidur


- Setelah diberi askep selama 2x24 jam diharapkan tidur/istirahat teratur (tidak terganggu)
dengan kriteria hasil:
 Ps mengatakan tidak cemas
 Ps mengatakan tidur nyenyak
 Ps tampak tenang

TINDAKAN :
 Observasi dan catat frekuensi, karakteristik, dan jumlah
 Kaji status hidrasi intake dan output
 Monitor tanda vital dan observasi keadaan umum
 Pemberian obat anti diare
 Kaji intake dan output makanan
 Beri makanan yang mengandung nilai gizi tinggi
 Beri makanan yang disukai, makan lunak dan rendah serat
 Kaji kebutuhan ps dapat istirahat
 Ciptakan suasana yang nyaman saat tidur
 Anjurkan ps untuk cuci tangan dan kaki dengan air hangat
 Anjurkan ps untuk berdoa sebelum tidur.

RASIONAL :

22
 Dapat diketahui berat ringannya diare dan status dehidrasi
 Dapat diketahui keseimbangan cairan
 Hipotensi, takikardi, demam dapat menunjukkan respon/efek kehilangan cairan
 Dapat menunjukkan kehilangan cairan
 Diketahui intake dan output makanan
 Kebutuhan nutrisi sesuai kebutuhan
 Dengan makan yang disukai ps dapat lebih banyak makan an makan rendah serat untuk
menurunkan peristaltic usus
 Diketahui waktu istirahat terpenuhi
 Dengan suasana nyaman ps dapat tidur nyenyak
 Dapat membuat ps merasa segar dan nyaman
 Dengan berdoa dapat merasa lebih tenang

8. IMPLEMENTASI

TINDAKAN :

Mengobservasi dan mengkaji frekuensi BAB, jumlah dan karakteristik


Mengukut tanda vital
Mengkaji intake dan output makanan
Mengajurkan untuk makan makanan yang bergizi tinggi dan disukai ps.
Mengkaji kebutuhan ps dapat istirahat
Pemberian obat anti diare diaform
Mengukur tanda vital
Menganjurkan untuk makan makanan yang rendah serat dan gizi
Menciptakan suasana yang nyaman saat ps tidur (istirahat)
Mengkaji status hidrasi intake dan output
Mengajurkan ps untuk cuci tangan dan kaki dengan air hangat
Mengajurkan ps untuk berdoa sebelum tidur
Mengkaji status hidrasi intake dan output

23
Mengukur tanda vital
Mengkaji intake dan output makanan
Mengkaji kebutuhan ps dapat istirahat

9. EVALUASI
Dx : Diare
S : Ps mengatakan tidak diare lagi
konsistensi lembek
O : Ps tidak pucat, mukos bibir
lembab
A : Masalah teratasi
P:-

Dx : Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dair kebutuhan tubuh


S : Ps mengatakan nafsu makan
meningkat, makan habis satu
porsi
O : Ps tidak lemas lagi, perut buncit
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan kondisi

Dx : Gangguan pola tidur


S : Ps mengatakan dapat tidur
dengan nyenyak, tidak pernah
rasa khawatir dengan
keadaannnya
O : Ps tampak tenang
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan kondisi

24
BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Diare didefinisikan sebagai buang air besar lembek atau cair bahkan dapat berupa
air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari) (Depkes RI
Ditjen PPM dan PLP, 2002).

3.2 Saran
Adapun saran dari penulis yakni, pembaca dapat memahami dan mengerti tentang asuhan
keperawatan pada klien dengan gangguan eliminasi (Diare) dan dapat bermanfaaat dan berguna
bagi pembaca dan masyarakat umumnya

25
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M. E. , Moore House, M. F. , Geister, A. C. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan


Edisi 3. Alih Bahasa I
Made Kariasa, S.Kp, Buku Kedokteran. Jakarta: EGC
Hasan, R. 1997. Ilmu Kesehatan Anak, Jilid I. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. akarta
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3 Jilid 2. Jakarta: Aesculapius.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.

Made Sumarwati, S.Kp,MN & Nike Budhi Subekti.2012.Diagnosis Keperawatan : Definisi dan

Klasifikasi 2012-2014.Alih Bahasa.Jakarta : EGC.

Wilikinson J. M. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria
Hasil NOC. Jakarta : EGC

Swanson, Elizabeth. dkk. 2008. Nursing Outcome Classification (NOC). Fourth Edition.
Missouri: Mosby Elsevier.

26