Anda di halaman 1dari 6

Saat Hilangnya Kekuatan Hukum Keputusan TUN yang

Disengketakan
Dalam perkara gugatan PNS/ASN terhadap pemerintah dimana telah
diputuskan oleh Pengadilan PTUN dimenangkan PNS/ASN dan telah
mempunyai kekuatan hukum. Namun pada suatu alinea dikatakan
bahwa apabila setelah 60 hari, maka keputusan tersebut tidak
mempunyai kekuatan hukum lagi. Saya sempat bertanya dalam hati,
kalau sudah lewat 60 hari tidak mempunyai kekuatan eksekusi lagi,
lah untuk apa kita berpekara? Atas dasar persoalan tersebut, mohon
dapat pencerahan apakah ada tindakan lanjutan bagi PNS/ASN untuk
mengadakan gugutan kembali ke PTUN? Pasal apakah yang dapat
menguatkan langkah PNS/ASN tersebut?
Jawaban :
Intisari:

Yang dinyatakan tidak berlaku lagi dalam jangka waktu 60 hari


apabila tidak dilaksanakan adalah Surat Keputusan Tata Usaha Negara
(“TUN”) yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat TUN yang
berwenang, bukan putusan Pengadilan TUN-nya.

Dengan kata lain, putusan Pengadilan TUN tetap memiliki kekuatan


eksekusi, bahkan tanpa harus dilaksanakan secara sukarela oleh
Tergugat (badan atau pejabat TUN). Apabila sudah lewat 60 hari
Tergugat tidak mencabut surat keputusan sebagaimana perintah
putusan Pengadilan TUN, maka Surat Keputusan TUN yang
dikeluarkan oleh pejabat TUN tersebut otomatis tidak berlaku lagi.
Keputusan TUN yang disengketakan itu tidak mempunyai kekuatan
hukum lagi.

Andapun tidak perlu mengajukan gugatan lagi sebab sudah jelas ada
konsekuensi apabila Tergugat tidak melaksanakan isi putusan
Pengadilan TUN secara sukarela. Bahkan Tergugat bisa juga
mendapatkan sanksi-sanksi lain akibat tidak melaksanakan putusan
Pengadilan TUN.
Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.

Ulasan:

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

Sebelum menjawab pertanyaan Anda, kami akan jelaskan lebih


dahulu bahwa Pengadilan Tata Usaha Negara (“TUN”) adalah
lembaga peradilan yang memeriksa dan mengadili Sengketa TUN.

Sengketa Tata Usaha Negara


Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang
Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara (“UU 51/2009”) menyatakan:

Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam


bidang tata usaha negara antara orang atau badan hukum perdata
dengan badan atau pejabat tata usaha negara, baik di pusat maupun di
daerah, sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha negara,
termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Sementara Keputusan TUN adalah suatu penetapan tertulis yang


dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara yang berisi
tindakan hukum TUN yang berdasarkan peraturan
perundangundangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual,
dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan
hukum perdata.[1]

Surat Keputusan TUN bersifat konkret maksudnya adalah objek yang


diputuskan dalam Keputusan Tata Usaha Negara itu tidak abstrak,
tetapi berwujud, tertentu atau dapat ditentukan, umpamanya
keputusan mengenai rumah si A, izin usaha bagi si B, pemberhentian
si A sebagai pegawai negeri. Bersifat individual artinya Keputusan
Tata Usaha Negara itu tidak ditujukan untuk umum, tetapi tertentu
baik alamat maupun hal yang dituju. Kalau yang dituju itu lebih dari
seorang, tiap-tiap nama orang yang terkena keputusan itu disebutkan.
Umpamanya, keputusan tentang pembuatan atau pelebaran jalan
dengan lampiran yang menyebutkan nama-nama orang yang terkena
keputusan tersebut. Kemudian bersifat final artinya sudah definitif
dan karenanya dapat menimbulkan akibat hukum. Keputusan yang
masih memerlukan persetu-juan instansi atasan atau instansi lain
belum bersifat final karenanya belum dapat menimbulkan suatu hak
atau kewajiban pada pihak yang bersangkutan. Umpamanya,
keputusan pengangkatan seorang pegawai negeri memerlu-kan
persetujuan dari Badan Adminitrasi Kepegawaian Negara.[2]

Surat keputusan TUN contohnya, surat izin mendirikan bangunan


yang dikeluarkan oleh pejabat TUN yang berwenang, surat keputusan
pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan sebagainya. Yang
pada intinya keputusan tersebut harus bersifat konkret, individual, dan
final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan
hukum perdata.

Sehingga dapat dipahami bahwa dalam konteks perkara pada


Pengadilan TUN, yang menjadi objeknya adalah suatu Keputusan
TUN yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat TUN. Sehingga
dalam perkara TUN, Badan atau Pejabat TUN akan selalu menjadi
pihak Tergugat, sementara orang atau badan hukum perdata akan
selalu menjadi Penggugat.[3]

Pelaksanaan Putusan Pengadilan TUN


Bila gugatan dikabulkan, maka dalam putusan Pengadilan tersebut
dapat ditetapkan kewajiban yang harus dilakukan oleh Badan atau
Pejabat TUN yang mengeluarkan Keputusan TUN yaitu:[4]
a. pencabutan Keputusan TUN yang bersangkutan; atau
b. pencabutan Keputusan TUN yang bersangkutan dan menerbitkan
Keputusan TUN yang baru; atau
c. penerbitan Keputusan TUN dalam hal gugatan didasarkan pada
Pasal 3 UU PTUN.[5]
Kemudian terkait pelaksanaan putusan Pengadilan TUN yang
dikabulkan dan telah berkekuatan hukum tetap, maka Pasal 116 UU
51/2009 menyatakan:

(1) Salinan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan


hukum tetap, dikirimkan kepada para pihak dengan surat tercatat oleh
panitera pengadilan setempat atas perintah ketua pengadilan yang
mengadilinya dalam tingkat pertama selambatlambatnya dalam waktu
14 (empat belas) hari kerja.
(2) Apabila setelah 60 (enam puluh) hari kerja putusan pengadilan
yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diterima tergugat tidak melaksanakan kewajibannya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf a, keputusan
tata usaha negara yang disengketakan itu tidak mempunyai kekuatan
hukum lagi.
(3) Dalam hal tergugat ditetapkan harus melaksanakan kewajiban
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf b dan huruf c,
dan kemudian setelah 90 (sembilan puluh) hari kerja ternyata
kewajiban tersebut tidak dilaksanakan, maka penggugat mengajukan
permohonan kepada ketua pengadilan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), agar pengadilan memerintahkan tergugat melaksanakan
putusan pengadilan tersebut.
(4) Dalam hal tergugat tidak bersedia melaksanakan putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, terhadap
pejabat yang bersangkutan dikenakan upaya paksa berupa
pembayaran sejumlah uang paksa dan/atau sanksi administratif.
(5) Pejabat yang tidak melaksanakan putusan pengadilan sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) diumumkan pada media massa cetak setempat
oleh panitera sejak tidak terpenuhinya ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3).
(6) Di samping diumumkan pada media massa cetak setempat
sebagaimana dimaksud pada ayat (5), ketua pengadilan harus
mengajukan hal ini kepada Presiden sebagai pemegang kekuasaan
pemerintah tertinggi untuk memerintahkan pejabat tersebut
melaksanakan putusan pengadilan, dan kepada lembaga perwakilan
rakyat untuk menjalankan fungsi pengawasan.
(7) Ketentuan mengenai besaran uang paksa, jenis sanksi
administratif, dan tata cara pelaksanaan pembayaran uang paksa
dan/atau sanksi administratif diatur dengan peraturan perundang-
undangan.

Menjawab pertanyaan Anda, maka bisa kami jelaskan bahwa yang


dinyatakan tidak berlaku lagi dalam jangka waktu 60 hari apabila
tidak dilaksanakan adalah Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh
badan atau pejabat TUN yang berwenang, bukan putusan Pengadilan
Tata Usaha Negara-nya, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 116
ayat (2) UU 51/2009 di atas.

Dengan kata lain, berdasarkan Pasal 116 ayat (2) UU 51/2009


tersebut, putusan Pengadilan TUN tetap memiliki kekuatan eksekusi,
bahkan tanpa harus dilaksanakan secara sukarela oleh Tergugat
(badan atau pejabat TUN). Apabila sudah lewat 60 hari Tergugat tidak
mencabut surat keputusan yang dikeluarkannya sebagaimana perintah
putusan pengadilan, maka Keputusan TUN yang dikeluarkan oleh
badan atau pejabat TUN tersebut otomatis tidak berlaku lagi.

Jika Tergugat Tidak Melaksanakan Isi Putusan Pengadilan TUN


Sehingga berdasarkan aturan di atas, Andapun tidak perlu mengajukan
gugatan lagi sebab sudah jelas ada konsekuensi apabila Tergugat tidak
melaksanakan isi putusan Pengadilan TUN secara sukarela. Bahkan
Tergugat bisa juga mendapatkan sanksi-sanksi lain akibat tidak
melaksanakan putusan Pengadilan TUN yaitu:
1. Pejabat TUN yang bersangkutan dikenakan upaya paksa berupa
pembayaran sejumlah uang paksa dan/atau sanksi administratif;[6]
2. Pejabat TUN apabila tetap tidak melaksanakan putusan Pengadilan
TUN tersebut mendapatkan sanksi sosial yakni dimuat dalam media
massa cetak setempat oleh panitera;[7]
3. Pejabat TUN bila juga tetap tidak melaksanakan putusan
Pengadilan TUN, maka Presiden sebagai pemegang kekuasaan
tertinggi akan memerintahkan Pejabat TUN tersebut untuk
melaksanakan putusan Pengadilan TUN dan kepada lembaga
perwakilan rakyat untuk menjalankan fungsi pengawasan.[8]
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan: Pertama,
yang menjadi tidak berlaku setelah lewat 60 hari adalah Surat
Keputusan TUN yang menjadi objek sengketa bukan putusan
pengadilannya. Kedua, tidak perlu untuk mengajukan gugatan TUN
lagi.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Dasar hukum:
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Pengadilan Tata Usaha
Negara sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9
Tahun 2004 tentang Perubahan Pertama atas Undang-Undang Nomor
5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan terakhir kali
diubah dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang
Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara;

[1] Pasal 1 angka 9 UU PTUN


[2] Penjelasan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Pengadilan Tata Usaha Negara (“UU PTUN”)
[3] Pasal 1 angka 12 UU 51/2009
[4] Pasal 97 ayat (8) dan (9) UU PTUN
[5] Apabila Badan atau Pejabat TUN tidak mengeluarkan keputusan,
sedangkan hal itu menjadi kewajibannya,maka hal tersebut disamakan
dengan Keputusan TUN
[6] Pasal 116 ayat (4) UU 51/2009
[7] Pasal 116 ayat (5) UU 51/2009
[8] Pasal 116 ayat (6) UU 51/2009

Anda mungkin juga menyukai