Anda di halaman 1dari 3

Hak Tanggungan atas Apartemen

Dalam UU tentang Rumah Susun dimungkinkan atas tanah di mana


apartemen nantinya dibangun dibebani Hak Tanggungan (HT) untuk
menjamin kredit konstruksi apartemen di mana pelunasan kredit
tersebut adalah dari hasil penjualan unit apartemen. Bila atas sertifikat
induk (status SHGB) dibebani HT, apakah HT tersebut tetap berlaku
dan mengikat meskipun atas sertifikat SHGB yang diikat tersebut
sudah berubah menjadi Sertifikat Hak Milik Atas Satuan Rumah
Susun (Strata title)? Mohon konfirmasi. Terima kasih.
Jawaban :
Untuk pembangunan rumah susun dibuka kemungkinan untuk
memperoleh kredit pembangunan dengan menggunakan -- selain
tanah yang sudah dipunyai -- bangunan gedung yang masih akan
dibangunnya dengan kredit yang diperolehnya sebagai jaminan (pasal
12 UU No. 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun).
Pelunasan hutang yang dijamin dengan Hak Tanggungan (HT)
tersebut dapat dilakukan dengan cara angsuran sesuai dengan tahap
penjualan satuan rumah susun, yang besarnya sebanding dengan nilai
satuan yang terjual. Dengan begitu, pada saat Sertifikat Hak Milik
atas Satuan Rumah Susun (SHMSRS) akan diterbitkan maka terlebih
dahulu dilakukan pelunasan atas hutang sebesar nilai rumah susun
tersebut (roya partial). Oleh karena itu, SHMSRS tersebut dapat
dibebankan HT yang baru (lihat ketentuan (pasal 16 UU No. 16 Tahun
1985 jo. pasal 2 UU No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan).

Sehubungan dengan pertanyaan Anda, maka HT tersebut tetap berlaku


dan mengikat (membebani) hanya terhadap sisa obyek HT untuk
menjamin sisa utang yang belum dilunasi. Sedangkan, SHMSRS yang
dikeluarkan sudah dibebaskan dari HT yang semula membebaninya.

Demikian sejauh yang kami ketahui. Semoga bermanfaat.

Dasar Hukum:
1. Undang-Undang No. 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun
Pasal 12
(1) Rumah susun berikut tanah tempat bangunan itu berdiri serta
benda lainnya yang merupakan atau kesatuan dengan tanah tersebut
dapat dijadikan jaminan hutang dengan :
a. dibebani hipotik, jika tanahnya tanah hak milik atau hak guna
bangunan;
b. dibebani fidusia, jika tanahnya tanah hak pakai atas tanah
Negara.
(2) Hipotik atau fidusia dapat juga dibebankan atas tanah
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) beserta rumah susun yang akan
dibangun sebagai jaminan pelunasan kredit yang dimaksudkan untuk
membiayai pelaksanaan pembangunan rumah susun yang telah
direncanakan di atas tanah yang bersangkutan dan yang pemberian
kreditnya dilakukan secara bertahap sesuai dengan pelaksanaan
pembangunan rumah susun tersebut.

Pasal 16
(1) Dalam pemberian hipotik atau fidusia sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 dan Pasal 13 dapat diperjanjikan bahwa pelunasan
hutang yang dijamin dengan hipotik atau fidusia itu dapat dilakukan
dengan cara angsuran sesuai dengan tahap penjualan satuan rumah
susun, yang besarnya sebanding dengan nilai satuan yang terjual.
(2) Dalam hal dilakukan pelunasan dengan cara sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), maka satuan rumah susun yang harganya
telah dilunasi tersebut bebas dari hipotik atau fidusia yang semula
membebaninya.

2. Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan


Pasal 2
(1) Hak Tanggungan mempunyai sifat tidak dapat dibagi-bagi, kecuali
jika diperjanjikan dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(2) Apabila Hak Tanggungan dibebankan pada beberapa hak atas
tanah, dapat diperjanjikan dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan
yang bersangkutan, bahwa pelunasan utang yang dijamin dapat
dilakukan dengan cara angsuran yang besarnya sama dengan nilai
masing-masing hak atas tanah yang merupakan bagian dari obyek
Hak Tanggungan, yang akan dibebaskan dari Hak Tanggungan
tersebut, sehingga kemudian Hak Tanggungan itu hanya membebani
sisa obyek Hak Tanggungan untuk menjamin sisa utang yang belum
dilunasi.

Anda mungkin juga menyukai