Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Darah adalah cairan yang terdapat pada hewan tingkat tinggi yang berfungsi
sebagai alat transportasi zat seperti oksigen, bahan hasil metabolisme tubuh, pertahanan
tubuh, dari serangan kuman, dll. Beda halnya dengan tumbuhan, manusia dan hewan
level tinggi lain punya sistem transportasi dengan darah(Saputra, Lyndor,2013)
Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya
perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membrane sel darah merah. Dua
jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus
(Factor Rh). Di dunia ini sebenarnya di kenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO
dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfuse darah dari golongan yang tidak
kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfuse imunologis yang berakibat anemia
hemolisis, gagal ginjal, syok dan kematian (Elly,2001).
Golongan darah merupakan ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya
perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membrane sel darah merah.
Golongan darah ditentukan oleh jumlah zat (antigen) yang terkandung di dalam sel darah
merah (Elly, 2001)
Berdasarkan penjelasan diatas maka akan dilakukan praktikum pemeriksaan
crossmatch satu donor.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui apakah sel darah merah donor bisa hidup dalam tubuh pasien.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Dasar Teori
Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari
satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah adalah suatu pemberian
darah lengkap atau komponen darah seperti plasma, sel darah merah, trombosit melalui
jalur IV. Menurut Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1980, definisi transfusi darah
adalah tindakan medis memberikan darah kepada seorang penderita yang darahnya telah
tersedia dalam botol kantong plastik. Usaha transfusi darah adalah segala tindakan yang
dilakukan dengan tujuan untuk memungkinkan penggunaan darah bagi keperluan
pengobatan dan pemulihan kesehatan yang mencakup masalah-masalah pengadaan,
pengelolaan, dan penyimpaian darah kepada orang sakit. Darah yang digunakan adalah
darah manusia atau bagian-bagiannya yang diambil dan diolah secara khusus untuk
pengobatan dan pemulihan kesehatan. Penyumbang darah adalah semua orang yang
memberikan darah untuk maksud transfusi darah (Contreas, Marcelo,1995)
Transfusi darah umumnya berhubungan dengan kehilangan darah dalam jumlah
besar yang disebabkan oleh trauma, operasi, syok, dan tidak berfungsinya organ
pembentuk sel darah merah. Pemberian transfusi darah secara aman merupakan salah satu
peran perawat yang sangat penting. Pada situasi darurat, perawat perlu mendapatkan
spesimen darah secara cepat dan aman bagi klien. Klien yang mendapatkan transfusi
darah harus dimonitor secara ketat agar tidak terjadi efek samping yang merugikan.
Menurut penelitian dilaporkan bahwa reaksi transfusi darah yang tidak diharapkan
ditemukan pada 6,6% responden, dimana 55% berupa demam, 14% menggigil, 20%
reaksi alergi terutama urtikaria, 6% hepatitis serum positif, 4% reaksi hemolitik dan 1%
overload sirkulasi (Contreas, Marcelo,1995)
Dalam pemberian darah harus diperhatikan kondisi pasien, kemudian kecocokan
darah melalui nama pasien, label darah, golongan darah, dan periksa warna (terjadi
gumpalan atau tidak), homogenitas (bercampur atau tidak).
Adapun tujuan dilakukannya transfusi darah adalah sebagai berikut :
a. Untuk meningkatkan volume sirkulasi darah setelah pembedahan, trauma, atau
perdarahan.
b. Untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan untuk mempertahankan kadar
hemoglobin pada klien yang menderita anemia berat.
c. Untuk memberikan komponen seluler yang terpilih sebagai terapi pengganti
(misalnya faktor-faktor pembekuan plasma untuk membantu mengontrol
perdarahan pada klien penderita hemofilia). (Gandasoebrata, 2009).
B. Pengertian crossmatch
adalah reaksi silang in vitro antara darah pasien dengan donornya yang akan di
transfusikan. Pemeriksaan ini dilakukan sebelum pelaksanaan transfusi darah. Uji
crossmatch ini penting bukan hanyapada transfusi tetapi juga ibu hamil yang
kemungkinan terkena penyakit hemolitik pada bayi baru lahir. Tujuannya adalah :
1. Untuk melihat apakah darah dari pendonor cocok dengan penerima (resipien).
2. Untuk mengonfirmasi golongan darah.
3. Untuk mencari tahu apakah darah donor akan ditransfusikan itu nantinya akan
dilawan oleh serum pasien dalam tubuhnya, atau adakah plasma donor yang turut
ditransfusikan akan melawan sel pasien didalam tubuhnya hingga akan
memperberat anemia, disamping kemungkinan adanya reaksi hemolytic transfusi
yang biasanya membahayakan pasien.
Maka dapat disimpulkan tujuan crossmatch sendiri yaitu mencegah reaksi hemolitik
darah bila darah didonorkan dan supaya darah yang ditransfusikan itu benar-benar
ada manfaatnya bagi kesembuhan pasien. (Gandasoebrata, 2009)
Crossmatch mempunyai 3 fungsi yaitu :
1. Konfirmasi jenis ABO dan Rh (kurang dari 5 menit)
2. Mendeteksi antibodi pada golongan darah lain.
3. Mendeteksi antibodi dengan titer rendah atau tidak terjadi terjadi aglutinasi mudah,
yang dua terakhir memerlukan sedikitnya 45 menit. (Gandasoebrata,2009)
BAB III

METODOLOGI

A. Pra Analitik
1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tabung serologi, waterbath,
centrifuge, object glass, mikroskop, pipet pasteur.
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah serum/ plasma, bovine albumin,
saline, coombs serum.
3. Probandus
Nama : yulia
Umur : 20 th
Jenis kelamin : wanita
B. Analitik
1. Prosedur
Phase I : Phase suhu kamar dalam medium saline
a. Diambil 3 buah tabung serologi.
- Tabung I (mayor) : 2 tetes serum + 1 tetes sel donor suspensi 2%-5%
- Tabung II (minor) : 2 tetes plasma donor + 1 tetes sel pasien suspensi 2-
5%.
- Tabung III (kontrol) : 2 tetes serum pasien + 1 tetes sel suspensi 2-5%.
b. Dikocok-kocok isi tabung hingga homogen, diputar 3000rpm 15 menit.
c. Dibaca adanya aglutinasi dan hemolisis. Bila tidak terjadi lanjutkan ke phase
II.
Phase II :Phase inkubasi 37 C dalam medium bovine albumin
a. Ditambahkan ke dalamsetiap tabung 2 tetes bovine albumin.
b. Dikocok isi tabung dan inkubasi 37 C selama 15 menit.
c. Diputar 3000 rpm 15detik,dibaca reaksi terhadap hemolisis dan aglutinasi.
d. Bila tidak terjadi hemolisis dan aglutinasi di lanjutkan ke phase III
Phase III : Phase anti globulin test (AHG)
a. Cuci sel darah merah dalam tabung 3x dengan saline.
b. Ditambahkan ke dalam setiap tabung 2 tetes coombs serum.
c. Dikocok isi tabung dan putar 3000 rpm 15 detik. Dibaca hasil reaksi.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Golda pasien :O
Golda donor : A
Phase I : terjadi hemolisis, terjadi aglutinasi tetapi tidak terlalu kelihatan harus dilihat di
mikroskop.
B. Pembahasan
Pada praktikum ini didapatkan hasil terjadinya hemolisis dan aglutinasi pada phase
I. Ini berarti darah dari donor dan resipien tidak cocok dan darah dari pendonor tidak
dapat ditransfusikan ke resipien.
Syarat donor dan transfusi darah adalah sebagai berikut : tidak menyebabkan
kerusakan (Kematian pada diri donor), memberikan manfaat pada akseptor, donor atau
transfusi tidak boleh dilakukan bila menyebabkan kematian pada diri donor (darah
diambil terlalu banyak), meskipun memberikan manfaat kepada resipien, donor darah
dapat mencegah bahaya yang sudah pasti (mencegah kerusakan/kematian resipien),
bahaya yang timbul akibat donor darah atau transfusi dapat diperkirakan, perbedaan
kerugian yang terjadi dan manfaat yang diperoleh jelas dll.
Dalam transfusi darah jika golongan darah donor dan resipien tidak cocok maka
sistem kekebalan tubuh penerima akan menyerang darah donor. Akibatnya sel darah
merah dari darah yang disumbangkan akan menggumpal (aglutinasi). Gumpalan darah ini
dapat menyumbat pembuluh darah ke bagian lain tubuh sehingga bisa berakibat fatal
pasien.
Ada dua kelompok reaksi hemolitik akibat transfusi yaitu reaksi hemolitik yang
disebabkan oleh proses imun dan nonimun. Reaksi hemolitik yang disebabkan proses
imun terdiri dari AHTR dan DHTR, sedangkan reaksi hemolitik lain yang bukan
merupakan reaksi transfusi dikenal sebagai reaksi pseudo-hemolitik. Pemberian transfusi
pada anemia hemolitik masih menjadi perdebatan di kalangan ahli. Pada AHTR transfusi
harus dihentikan segera, sedangkan pada DHTR transfusi dapat dihentikan atau diganti
dengan pengganti darah yang lain. Pada reaksi pseudohemolitik ini harus dibedakan
dengan reaksi hemolitik akibat transfusi. Pada saat terjadi reaksi transfusi, juga harus
dipikirkan apakah gejala dan tanda klinis yang timbul berhubungan dengan proses
hemolitik atau nonhemolitik.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Jadi dari praktikum crossmatch satu donor didapatkan hasil golongan darah pasien
O dan golongan darah donor A,dan terjadi aglutinasi dan hemolisis sehingga donor tidak
dapat melakukan transfusi darah.

B. Saran
1. Dalam pelaksanaan praktikum harus lebih berhati-hati dan teliti dalam melihat hasil.
2. Disiplin dan hati-hati saat praktikum dilaboratorium.
DAFTAR PUSTAKA

Contreas, Marcelo. 1995. Petunjuk Penting Transfusi Darah. Jakarta: EGC.


Elly,2001. Nutrisi dalam Keperawatan. CV Sagung Seto. Jakarta.
Saputra, Lyndor. 2013. Pengantar Kebutuhan Dasar Kemanusiaan. Jakarta: Binarupa Aksara
Publisher.
Subrata, Ganda, 2009. Penuntun Laboratorium Klinis. Jakarta. PT Dian Rakyat.
LAMPIRAN