Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PERANAN PERS DALAM MASYARAKAT 

DEMOKRASI
PERANAN PERS DALAM MASYARAKAT
DEMOKRASI

DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………………………………………………………....i

Daftar Isi……………………………………………………………………………………………………………………………………………..ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………………………………………………………………......…1

1.2 Perumusan masalah……….………………………………………………………........................................................................2

1.3 Tujuan Masalah……………………………………………………………………………………......................................................2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pers..………………………………………………………………………………………………….………………………..3

2.2 Fungsi dan Peranan Pers ……………………………………………………………………………………………………………...3

2.3 Pers Yang Bebas dan Bertanggng jawab………………………………………………………………………………………4

2.4 Penyalahgunaan Kebebasan Pers dan Dampak- dampaknya……………………………………………………….5


2.5 Kode Etik Jurnaistik……………………………………………………………………………………………………………………….5

2.6 Teori ………………………………………………………………………………………………………………………………

2.7 PERKEMBANGAN PERS DI DUNIA …………………………………………………………………

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………………………………………………………………..7

3.2 Saran…………………………………………………………………………………………………………………………………………….7

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peranan pers dalam masyarakat demokrasi, Pers adalah salah satu sarana bagi warga negara
untuk mengeluarkan pikiran dan pendapat serta memiliki peranan penting dalam negara demokrasi. Pers
yang bebas dan bertanggung jawab memegang peranan penting dalam masyarakat demokratis dan
merupakan salah satu unsur bagi negara dan pemerintahan yang demokratis..Pada berbagai aspek
kehidupan di negara ini, sejatinya masyarakat memiliki hak untuk ikut serta dalam menentukan langkah
kebijakan suatu Negara. pers merupakan pilar demokrasi keempat setelah eksekutif, legislatif dan
yudikatif. Peranannya perlu dijunjung kebebasan pers dalam menyampaikan informasi publik secara jujur
dan berimbang. Pers yang tidak sekedar mendukung kepentingan pemilik modal dan melanggengkan
kekuasaan politik tanpa mempertimbangkan kepentingan masyarakat yang lebih besar.
Istilah yang tepat digunakan adalah simulakrum demokrasi, yaitu kondisi yang seolah-olah
demokrasi padahal sebagai citra ia telah mengalami deviasi, distorsi, dan bahkan terputus dari realitas
yang sesungguhnya. Distorsi ini biasanya terjadi melalui citraan-citraan sistematis oleh media massa.
Demokrasi bukan lagi realitas yang sebenarnya, ia adalah kuasa dari pemilik informasi dan penguasa
opini publik.
Proses demokratisasi disebuah negara tidak hanya mengandalkan parlemen, tapi juga ada media
massa, yang mana merupakan sarana komunikasi baik pemerintah dengan rakyat, maupun rakyat
dengan rakyat. Keberadaan media massa ini, baik dalam kategori cetak maupun elektronik memiliki
cakupan yang bermacam-macam, baik dalam hal isu maupun daya jangkau sirkulasi ataupun siaran.
Akses informasi melalui media massa ini sejalan dengan asas demokrasi, dimana adanya tranformasi
secara menyeluruh dan terbuka yang mutlak bagi negara yang menganut paham demokrasi, sehingga
ada persebaran informasi yang merata. Namun, pada pelaksanaannya, banyak faktor yang menghambat
proses komunikasi ini, terutama disebabkan oleh keterbatasan media massa dalam menjangkau lokasi-
lokasi pedalaman.
Keberadaan radio komunitas adalah salah satu jawaban dari pencarian solusi akan permasalahan
penyebaran akses dan sarana komunikasi yang menjadi perkerjaan media massa umum. Pada
perkembangannya radio komunitas telah banyak membuktikan peran pentingnya di tengah persoalan
pelik akan akses informasi dan komunikasi juga dalam peran sebagai kontrol sosial dan menjalankan
empat fungsi pers lainnya.

1
1.2 Perumusan Masalah
Dalam makalah ini penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Pengertian pers
2. Fungsi dan peranan pers
3. Pers yang bebas dan bertanggungjawab
4. Penyalahgunaan kebebasan pers dan dampak-dampaknya.
5. kode etik jurnalistik

1.3 Tujuan Masalah


Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Melengkapi salah satu tugas individu mata pelajaranpkn (Peranan pers dalam masyarakat demokrasi)
2. Untuk mengetahui peranan pers dalam masyarakat demokrasi.
3. Untuk mengetahui fungsi pers dalam masyarakat demokrasi.
4. Upaya untuk mengenalkan pemahaman tentang peranan pers dalam masyarakat demokrasi.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pers
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pers adalah alat cetak untuk mencetak buku/surat kabar,
alat untuk menjepit, surat kabar/majalah berisi berita dan orang yang bekerja di bidang persurat kabaran.
Pengertian menurut UU No 11 tahun 1966 tentang ketentuan-ketentuan pokok pers.
Menyatakan bahwa pers adalah lembaga kemasyarakatan alat revolusi yang mempunyai karya sebagai
salah satu media komunikasi massa yang bersifat umum.

2.2 Fungsi dan Peranan Pers


Beda fungsi dan peranan :
Fungsi lebih mengacu pada kegunaan suatu hal dalam hal ini adalah kegunaan atau manfaat dari pers itu
sendiri.Peranan lebih merujuk kepada bagian atau lakon yang dimainkan pers dalam masyarakat, dimana
pers memainkan peran tertentu dalam seluruh proses pembentukan budaya manusia.
Fungsi :
1. Sebagai media komunikasi
2. Memberikan informasi kepada masyarakat dalam bentuk berita
3. Sebagai media pendidikan
4. Pemberitaan mengandung nilai dan norma tertentu dalam masyarakat yang baik
5. Sebagai media hiburan
6. Lebih bersifat sebagai sarana hiburan
7. Sebagai lembaga ekonomi
8. Mendatangkan keuntungan financial
Peranan :
1. Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui
2. Menegakkan nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hokum, dan HAM, serta
menghormati kebhinekaan
3. Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar.
4. Melakukan pengawasa, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan
umum.
5. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
3
2.3 Pers Yang Bebas Dan Bertanggucng jawab
Kebebasan pers memiliki hubungan yang erat dengan fungsi pers dalam masyarakat demokratis.
Pers adalah salah satu kekuatan demokrasi terutama kekuatan untuk mengontrol dan mengendalikan
jalannya pemerintahan. Dalam masyarakat demokratis pers berfungsi menyediakan informasi dan
alternative serta evaluasi yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam partisipasinya dalam proses
penyelenggaraan Negara.
Kedaulatan rakyat tidak bias berjalan atau berfungsi dengan baik jika pers tidak memberikan
informasi dan alternative pemecahan masalah yang dibutuhkan.
Meskipun demikian, pers tidak bias mempergunakan kebebasannya untuk bertindak seenaknya saja.
Bagaimanapun juga, kebebassan manussia tidak bersifat mutlak. Kebebasan bersifat terbatas karena
berhadapan dengan kebebasan yang dimiliki orang lain. Juga dalam kebebasan perspers tidak bias
seenaknya memberitakan informasi tertentu, wajib menghormati hak pribadi orang lain.
Ada 3 kewajiban pers yang harus diperhatikan :
1. Menjunjung tinggi kebenaran
2. Wajib menghormati privacy orang atau subyek tertentu
3. Wajib menjunjung tinggi prinsip bahwa apa yang diwartakan atau diberitakan dapat
dipertanggungjawabkan.
Menurut UU No. 40 thn 1999 tanggungjawab pers meliputi :
1. Pers memainkan peran penting dalam masyarakat modern sebagai media informasi
2. Pers wajib memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa
kesusilaan masyarakat
3. Pers wajib menghormati asas praduga tak bersalah
4. Pers dilarang memuat iklan yang merendahkan martabat suatu agama dan/ atau melanggar kerukunan
hidup antar umat beragama
5. Pers dilarang memuat iklan minuman keras, narkotika, psikotropika dan zat aditif lainnya

4
2.4 Penyalahgunaan Kebebasan Pers Dan Dampak-Dampaknya
Menurut UU No.40 thn 1999 pers Indonesia memiliki kebebasan yang luas sesuai tuntutan pada
era reformasi. Beberapa dampak yang mungkin sebagai ekses dari kebebasan pers misalnya :
1. Berita bohong
2. Berita yang melanggar norma susila dan norma agama
3. Berita kriminalits dan kekerasan fisik
4. Berita, tulisan, atau gambar yang membahayakan keselamatan dan keamanan Negara dan persatuan
bangsa.
Untuk memecahkan masalah ini maka Komisi penyiaran Indonesia (KPI) menetapkan beberapa
ketentuan yang harus diperhatikan dalam memberitakan peristiwa kejahatan (kriminalits) terutamna bag
media elektronik yaitu :
1. Menyiarkan atau menayangkan gambar pelaku kejahatan melanggar etika dan hokum
2. Penayangan gambar-gambar mengerikan merugikan konsumen
3. Penayangan gambar korban kejahatan harus dengan izin korban.

2.5 Kode Etik Jurnalistik


Kode Etik Jurnalistik adalah himpunan etika profesi kewartawanan. Wartawan selain dibatasi
oleh ketentuan hukum, seperti Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, juga harus berpegang
kepada kode etik jurnalistik. Tujuannya adalah agar wartawan bertanggung jawab dalam menjalankan
profesinya, yaitu mencari dan menyajikan informasi.
Kode Etik Jurnalistik menempati posisi yang sangat vital bagi wartawan. Bahkan dibandingkan
dengan perundang-undangan lainnya yang memiliki sanksi fisik sekalipun, Kode Etik Jurnalistik memiliki
kedudukan yang sangat istimewa bagi wartawan. Kode Etik setidak-tidaknya memiliki lima fungsi, yaitu:
a. Melindungi keberadaan seseorang profesional dalam berkiprah di bidangnya;
b. Melindungi masyarakat dari malpraktek oleh praktisi yang kurang profesional;
c. Mendorong persaingan sehat antarpraktisi;
d. Mencegah kecurangan antar rekan profesi;
e. Mencegah manipulasi informasi oleh narasumber
5

Kode Etik Jurnalistik yang lahir pada 14 Maret 2006, oleh gabungan organisasi pers dan ditetapkan
sebagai Kode Etik Jurnalistik baru yang berlaku secara nasional melalui keputusan Dewan Pers No 03/
SK-DP/ III/2006 tanggal 24 Maret 2006, misalnya, sedikitnya mengandung empat asas, yaitu:
1. Asas Demokratis
Demokratis berarti berita harus disiarkan secara berimbang dan independen, selain itu, Pers
wajibmelayani hak jawab dan hak koreksi, dan pers harus mengutamakan kepentingan publik.Asas
demokratis ini juga tercermin dari pasal 11 yang mengharuskan, Wartawan Indoensia melayani hak
jawab dan hak koreksi secara proposional. Sebab, dengan adanya hak jawab dan hak koreksi ini, pers
tidak boleh menzalimi pihak manapun.Semua pihak yang terlibat harus diberikan kesempatan untuk
menyatakan pandangan dan pendapatnya, tentu secara proposional.
2. Asas Profesionalitas
Secara sederhana, pengertian asas ini adalah wartawan Indonesia harus menguasai profesinya, baik
dari segi teknis maupun filosofinya. Misalnya Pers harus membuat, menyiarkan, dan menghasilkan berita
yang akurat dan faktual. Dengan demikian, wartawan Indonesia terampil secara teknis, bersikap sesuai
norma yang berlaku, dan paham terhadap nilai-nilai filosofi profesinya.
Hal lain yang ditekankan kepada wartwan dan pers dalam asas ini adalah harus menunjukkan
identitas kepada narasumber, dilarang melakukan plagiat, tidak mencampurkan fakta dan opini, menguji
informasi yang didapat, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang , dan off the record,
serta pers harus segera mencabut, meralat dan memperbaiki berita yang tidak akurat dengan
permohonan maaf.
3. Asas Moralitas
Sebagai sebuah lembaga, media massa atau pers dapat memberikan dampak sosial yang
sangat luas terhadap tata nilai, kehidupan, dan penghidupan masyarakat luas yang mengandalkan
kepercayaan. Kode Etik Jurnalistik menyadari pentingnya sebuah moral dalam menjalankan kegiatan
profesi wartawan. Untuk itu, wartawan yang tidak dilandasi oleh moralitas tinggi, secara langsung sudah
melanggar asas Kode Etik Jurnalistik. Hal-hal yang berkaitan dengan asas moralitas antara lain wartawan
tidak menerima suap, wartawan tidak menyalahgunakan profesi, tidak merendahkan orang miskin dan
orang cacat (Jiwa maupun fisik), tidak menulis dan menyiarkan berita berdasarkan diskriminasi SARA
dan gender, tidak menyebut identitas korban kesusilaan, tidak menyebut identitas korban dan pelaku
kejahatan anak-anak, dan segera meminta maaf terhadap pembuatan dan penyiaran berita yang tidak
akurat atau keliru.
4. Asas Supremasi Hukum
Dalam hal ini, wartawan bukanlah profesi yang kebal dari hukum yang berlaku. Untuk itu, wartawan
dituntut untuk patuh dan tunduk kepada hukum yang berlaku. Dalam memberitakan sesuatu wartawan
juga diwajibkan menghormati asas praduga tak bersalah.

2.6 TEORI PERS

Teori Pers
a. Teori Pers Otoritarian
Teori pers otoritarian muncul pada masa iklim otoritarian, yaitu akhir renaisans atau
segera setelah ditemukannya mesin cetak. Dalam masyarakat seperti itu, kebenaran dianggap
bukanlah hasil dari massa rakyat, melainkan dari sekelompok kecil orang bijak yang
berkedudukan membimbing dan rnengarahkan pengikut-pengikut mereka. Jadi, kebenaran
dianggap hama diletakkan dekat dengan pusat kekuasaan.
b. Teori Pers Libertarian
Dalam teori libertarian, pers bukan instrumen pemerintah, melainkan sebuah alat untuk
menyajikan bukti dan argumen-argumen yang akan menjadi landasan bagi banyak orang untuk
mengawasi pemerintahan dan menentukan sikap terhadap kebijaksanaannya.
c. Teori Pers Tanggung Jawab Sosial
Teori ini diberlakukan sedemikian rupa oleh sebagian pers.Teori tanggung jawab sosial
mempunyai asumsi utama bahwa kebebasan mengandung suatu tanggung jawab yang sepadan.
Pers harus bertanggung jawab kepada masyarakat dalam menjalankan fungsi-fungsi penting
komunikasi massa dengan masyarakat modern.
d. Teori Pers Soviet Komunis
Dalam teori pers Soviet, kekuasaan itu bersifat sosial, berada pada orang-orang, sembunyi
di lembaga-lembaga sosial, dan dipancarkan dalam tindakan-tindakan masyarakat. Kekuasaan itu
mencapai puncaknya jika digabungkan dengan sumber daya alam, kemudahan produksi dan
distribusi, serta saat kekuasaan itu diorganisasi dan diarahkan
G. Kode Etik Jurnalistik
Kode artinya tanda (sign) yang secara luas diartikan sebagai bangun simbolis. Kode etik
berupa nilai-nilai dasar yang disepakati secara universal yang menjadi cita-cita setiap manusia.
Kode etik yang berkaitan dengan dunia pers adalah Kode Etik Jurnalistik.
Kode Etik Jurnalistik adalah suatu kode etik profesi yang harus dipatuhi oleh wartawan
Indonesia. Tujuan terpenting suatu Kode Etik Jurnalistik adalah melindungi hak masyarakat
memperoleh informasi objektif di media massa dan memayungi kinerja wartawan dari segala
macam risiko kekerasan.
Wartawan Indonesia menetapkan kode etik jurnalistik sebagai berikut:
a. Pasal 1
Wartawan Indonesia bersikap independen menghasilkan berita yang akurat, berimbang
dan tidak beretikan buruk
b. Pasal 2
Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang professional dalam melaksanakan tugas
jurnalistik.
c. Pasal 3
Wartawan Indonesia selalu menguji Informasi memberitakan secara berimbang tidak
mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi serta menerapkan asas praduga tak bersalah
d. Pasal 4
Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis dan cabul.
e. Pasal 5
Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila
dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
f. Pasal 6
Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.
g. Pasal 7
Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak
bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi
latar belakang dan off the record sesuai kesepakatan.

Perkembangan Pers di Dunia


Pers pertama kali dikenalkan pada masa pemerintahan Cayus Julius Cesar (100-
44 SM) di Romawi. Pada saat itu dipampang papan putih di lapangan terbuka
yang bertuliskan "Forum Romanum" yang berisi pengumuman resmi.
Pada Forum Romanum tersebut terdapat dua hal yang disampaikan yaitu

1. Acta Senatus, yang berisi laporan-laporan singkat mengenai sidang-sidang


senat dan keputusannya
2. Acta Diurna Populi, yang berisi keputusan-keputusan rapat warga dan
berita lainnya. Acta Diurna Populi inilah yang menjadi propaganda pemerintah
Romawi
Sedangkan surat kabar yang pertama adalah " King Pau" yang terbit di Cina pada
tahun 911. Penerbitan surat kabar milik pemerintah tersebut memiliki suatu
peraturan khusus dari Kaisar Quang Soo dan berisi keputusan rapat
permusyawaratan dan berita-berita dari istana.

Kemudia pada abad 16 diikuti negara lainnya seperti Jerma, Belanda, dan Inggris
yang mencetak majalah dan surat kabar dalam berbagai bentuk.
Perkembangan Pers di Indonesia

 Pers Jaman Penjajahan Belanda dan Jepang


1. Pemerintah penjajah Beland memandang perlu membuat Undang-Undang
khusus untuk membendung pengaruh pers Indonesia, karena menjadi momok
yang harus diperangi.
2. Bataviasche Novelles en Politique Raisonemnetan terbit 7 Agustus 1774
adalah korang yang terbit di Indonesia
3. Masa pendudukan Jepang, pers Indonesia benyak yang berjuang tidak
hanya dengan tulisan, melainkan juga mlalui orang keagamaan, pendidikan,
politik, dll
4. Baik masa kolonial Belanda maupun Jepang, menggambarkan bahwa
kehidupan pers masa itu sangat tertekan.
 Pers Pasa Masa Pergerakan
1. Dengan berdirinya Budi Utomo (20 Mei 1908) surat kabar yang dikeluarkan
lebih banyak berfungsi sebagai alat perjuangan.
2. Pers menjadi "terompet" dari organisasi pergerakan semacam parlemen
orang Indonesia yang terjajah
3. Pers menyuarakan kepedihan, penderitaan, dan sekaligus menjadi
pendoromh untuk memperbaiki nasib dan kedudukan bangsa Saat itu, pers
mendapat banyak tekanan dari pemerintah HindianBelanda, dengan cara
memberantas dan menutup usaha penerbitan pers pergerakan.
4. Pada masa pergerakan, berdirilah Kantor Berita Nasional Antara pada
tanggal 13 Desember 1937
 Pers Pada Masa Penjajahan Jepang
Pers semata-mata menjadi alat pemerintah Jepang dan bersifat Pro Jepang.
Pers banyak mengalami penderitaan dan pengekangan kebebasan yang lebih
daripada jaman Belanda.
Namun, ada beberapa keuntungan bagi insan pers Indonesia yang bekerja pada
penerbitan Jepang, antara lain:
1. Pengalaman yang diperoleh para karyawan bertambah
2. Penggunaan Bahasa Indonesia dalam pemberitaan makin sering dan luas
3. Adanya pengajaran untuk rakyat agar berpikir kritis terhadap yang
disajikan oleh sumber-sumber resmi Jepang
 Pers Pada Masa Revolusi Fisik
Terjadi saat Indonesia berusaha mempertahankan kemerdekaannya. Pada masa
ini pers dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Pers Republik, penerbit dan pewarta darinorang Indonesia. Berisi
'semangat mempertahankan kemerdekaan dan menantang penduduk Sekutu.
Contoh: harian Merdeka, harian Sumber, Harian Nasional, dll
 Pers NICA, penerbit dan pewarta berasal dari tentara kependudukan NICA.
Berisi mempengaruhi rakyat agar mau kembali lagi dengan sekutu. Contoh: Warta
Indonesia, Realita Rakyat, Mustika, dll
Tahun 1948 pemerintah membantu dan menyubsidi kertas Koran serta memberi
pinjaman uang. Awalnya semua berjalan lancar, namun makin lama pers
menyerangpemerintah dengan berbagai kritik dalam rangka menjalankan fungsi
public watch dog. Lalu pemerintah melakukan aksi yang menimbulkan konflik
permanen, sehingga pers wajib tunduk pada pemerintah.
Banyak hal penting terjadi untuk dunia pers di Indonesia, diantaranya adalah
lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Serikat Perusahaan Surat
Kabar (SPSK).
 Pers Pada Era Demokrasi Liberal (1949-1959)
1. Terjadi dua pergantian konstitusi yaitu konstitusi Republik Indonesia
Serikat (KRIS 1949) dan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS 1950). Kedua
konstitusi tersebut menjadi pedoman dlam pelaksanaan Pers.
2. Dalam KRIS 1949 dan UUDS 1950 terdapat pasal yang berbunyi "Setiap
orang berhak atas kebebasan dan mempunyai dan mengeluarkan pendapat." hal
ini membuktikan bahwa pemerintah menjamin kebebasan berpendapat.
3. Awalnya pembatasan terhadap kebebasan pers adalag keluhan wartawan
Indonesia terhadap pers Belanda dan Cina, akhirnya pemerintah membendel
beberapa surat kabar, lalu disahkan UU yang mengharuskan penerbit Belanda
membayar tiga kali lipat untuk kertas koran.
 Pers Pada Masa Orde Lama atau Terpimpin (1956-1966)
1. Keluarnya Dekret Presiden 5 Juli 1959 mengembalikan UUD 1945 sebagai
konstitusi NKRI. Sejalan dengan Dmokrasi terpimpin, pers nasionalnmenganut
konsep otoriter.
2. Tanggal 12 Oktober 1960 diterbitkan pedoman resmi untuk penerbit surat
kabar. Pada masa ini muncul pers TV untuk menyiarkan Asian Games IV. Namun,
setelah acara ini berakhir TVRI tidak dapat melaniutkan siaran karena belum ada
persediaan film dan belum tersedia studio. Lalu dibangunlah studio operasional,
sehingga TVRI bisa tayang satu jam dalam sehari. Makin lama TVRI makin
berkembang diikuti oleh stasiun TV swasta yang terus bermunfulan hingga kini.
 Pers Pada Era Demokrasi Pancasila dan Orde Baru
1. Diawal pemerintahan Orde Baru, lahir istilah Pers Pancasila.
2. Pada masa 'bulan madu' antara pers dan pemerintah, dipermanis dengan
keluarnya UU Nomor 11 Tahun 1966 tentang Pokok-pokok Pers, yang menjamin
tidak ada sensor dan pembredelan.
3. Sejak terjadinya "Peristiwa Malari" tahun 1974, kebebasan pers mengalami
set back yang berakibatbeberapa surat kabar dilarang terbit.
4. Penguasa lebih menggiatkan larangan-larangan melalui telephone supaya
pers tidak menyiarkan berita.
5. Pada saat itu, pers tidak pernah melakukan kontrol sosial secara kritis,
tegas, dan berani.
6. Diberlakukan UU Nomor 21 Tahun 1982 yang mengharuskan adanya SIUPP
sebagainpengganti SIP
 Pres pada masa reformasi
1. Pasal 9 ayat (2) UU No. 40 Tahun 1999 yakni meniadakan keharusan
mengajukan SIUPP untuk menerbitkan pres .
2. Pasal 4 ayat (2) UU No 40 tahun 1999 yakni menghilangkan
ketentuan sensor dan pemberedelan pres , serta pelarangan
penyiaran
3. Pasal 4 ayat (2) juncto pasal 18 ayat (1) UUNo . 40 tahun 1999 yakni
melindungi praktisi pres dengan mengancam hukuman pidana dua
tahun penjara atau denda Rp500.000.000,00 bagi yang menghambat
kemerdekaan pers.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kebebasan pers yang sedang kita nikmati sekarang memunculkan hal-hal yang sebelumnya tidak
diperkirakan. Suara-suara dari pihak pemerintah misalnya, telah menanggapinya dengan bahasanya
yana khas; kebebasana pers di ndoesia telah kebablasan! Sementara dari pihak asyarakat, muncul pula
reaksi yang lebih konkert bersifat fisik.
Barangakali, kebebasana pers di Indonesia telah mengahsilkan berbagai ekses. Dan hal itu makin
menggejala tampaknya arena iklim ebebasan tersebut tidak dengan sigap diiringi dengan kelengakapan
hukumnya. Bahwa kebebasan pers akan memunculkan kebabasan, itu sebenarnya merupakan sebuah
konsekuensi yan wajar. Yang kemudan harus diantisipasi adalah bagaimana agar kebablasan tersbeut
tidak kemudian diterima sebagai kewajaran.
3.2 Saran
Para pekerja pers dalam bekerja wajib memenuhi aspek-aspek profesionalitas. Standar
profesionalitas dalam jurnalistik.
1. Tidak memutar balikan fakta, tidak memfitnah.
2. Berimbang, adil dan jujur.
3. Mengetahui perbedaan kehidupan pribadi dan kepentingan umum.
4. Mengetahui kredibilitas narasumber.
5. Sopan dan terhormat dalam mencari berita.
6. Tidak melakukan tindak yang bersifat plagiat.
7. Meneliti semua bahan berita terlebih dahulu.
8. Memiliki tanggung jawab moral yang besar (mencabut berita yang salah)
9. Bagi pembaca makala ini kami mohon maaf jika ada kesalahan dari segi apapun, kami mohon keritik
dan saran, untuk memotifasi kami untuk kedepannya lebih baik

DAFTAR PUSTAKA

Kusumaningrat, Hikmat dan Purnama Kusumaningrat, Jurnalistik – Teori dan Praktik, cet.
IV, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.
Internet:

http://id.wikipedia.org/wiki/kebebasan_pers
Thursday, October 05, 2011, 6:23:14 PM
[1] Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat, Jurnalistik – teori dan
praktik, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009), hlm 17
[2] Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat, Jurnalistik – teori dan
praktik, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009), hlm 17

[3] F Sibert, T. Peter Son, dan Wilbur Schramm, Four Theories of the Press Four, Urbana,
III. 1956
[4] William L. Rivers Wilbur Schramm dan Cilifford G. Christian S, Responsibility in mass
communication, Third edition, Harper dan Roww, publication, New York, 1980
[5] William L. Rivers Wilbur Schramm dan Cilifford G. Christian S, Responsibility in mass
communication, Third edition, Harper dan Roww, publication, New York, 1980

[6] Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat, Jurnalistik – teori dan


praktik, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009), hlm 20
[7] John C. Merril, Journalism Ethics – Philosophical Foundations for News Media, St.
Martin’s Press, New York, 1997
[8] Uraian S. Tasrif, “Idealisme Seorang Wartawan”, dalam Visi Wartawan ’45, Penerbitan
Yayasan Media Sejahtera, 1992, tersebut
[9] Ibid, S. Tasrif.
[10] Demokrasi parlementer didasarkan pada Undang-undang Dasar Sementara 1950