Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA

UJI KUALITATIF KARBOHIDRAT, PROTEIN, DAN LIPID

Dosen Pengampu:

Fitria Susilowati, S.Si, M.Si

Disusun Oleh:

Desta Astarina Saputri Toasa

35.2014.71.1.0955

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR

2017
BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar belakang
Istilah biokimia telah dikemukakan oleh karl neuberg, seorang ahli
kimia jerman pada tahun 1903, namun sekitar satu setengah abad
sebelumnya, yaitu pada pertengahan Abad XVII karl Wilhelm Scheele
seorang ahli kimia swedia telah melakukan penelitian mengenai susunan
kimia jaringan pada tumbuhan dan hewan.
Dengan adanya biokimia yang semakin berkembang dari zaman-
zaman, akhirnya para tenaga medis dapat melakukan penelitian
laboratorium tentang masalah-masalah yang banyak ditemukan saat ini,
yang diantaranya penelitian masalah gizi menghasilkan penemuan tentang
vitamin yang dapat mencegah seseorang terkena penyakit tertentu.
Dengan majunya pengetahuan tentang struktur dan sifat protein,
telah diketahui bahwa enzim yang merupakan biokatalis bagi reaksi yang
terjadi dalam tubuh adalah suatu protein. Selain itu perkembangan atau
kemajuan metode analisis kromatografi, penemuan antara metabolism
karbohidrat, lemak, dan protein merupakan salah satu bentuk akan
perkembangan biokimia saat ini.
Beberapa materi Praktikum yang telah diuji praktekan mulai dari uji
kualitatif karbohidrat dan protein, dan pengujian lipid dalam rangka
melengkapi materi kuliah biokimia di semester 3 ini. Yang pada umunya
bertujuan menambah ilmu dan pengetahuan mengenai penelitian-penelitian
yang sangat penting bagi kita sebagai calon-calon tenaga medis. Dan
semoga kita dapat mengamalkan semua ilmu yang kita miliki agar
bermanfaat bagi semua pihak dan mendapat berkah dari Allah SWT. Amin.
II. Tujuan
1. Mampu melakukan uji kualitatif karbohidrat pada suatu sampel
2. Mampu membedakan jenis karbohidrat berdasarkan uji khasnya
3. Mampu melakukan berbagai uji kualitatif protein
4. Mampu mengenal reaksi-reaksi umum asam amino penyusun protein
5. Mengetahui jenis pelarut terhadap sifat kelarutan lemak
6. Mengetahui tingkat ketidakjenuhan berbagai jenis lemak
BAB II

DASAR TEORI

Karbohidrat adalah biomolekul yang paling berlimpah di bumi.


Suatu komponen yang tersusun atas polihidroksi aldehid atau polihidroksi
keton dengan rumus empiris CnH2On. Glukosa merupakan merupakan
salah satu contoh dari karbohidrat yang tersususn atas gugus aldehid,
sedangkan fruktosa merupakan contoh karbohidrat yang tersusun atas gugus
keton. Secara umum karbohidrat dikelompokkan berdasarkan jumlah
monomernya, yaitu monosakarida, disakarida, oligosakarida dan
polisakarida.

Monosakarida merupakan golongan karbohidrat yang tidak dapat


dihidrolisis menjadi karbohidrat yang lebih sederhana, dapat
diklasifikasikan sebagai triosa, tetrosa, pentose, hektosa, atau heptosa.
Disakarida adalah produk kondensasi dari dua unit monosakarida,
contohnya adalah maltosa, sukrosa, dan laktosa. Oligosakarida adalah
polimer yang tersusun atas 2-10 unit monosakrida yang dihubungkan oleh
ikatan glikosidik, contohnya adalah maltotriosa. Polisakarida merupakan
polimer yang tersusun lebih dari 10 nit monosakarida. Polisakarida banyak
ditemukan pada bahan pangan pokok dan memberikan sifat tekstural pada
bahan pangan.

Karbohidrat memberi kontribiusi pada stuktur sel hewan dan


mikroorganisme, terutama tanaman. Disamping menyediakan energi
biokimia sebagai penopang proses kehidupan serta perkembangbiakannya.
Pada dasarnya energi yang terkandung dalam karbohidrat berasal dari energi
matahari. Karbohidrat (glukosa) dibentuk dari karbondioksida dan air
dengan bantuan sinar matahari dan klorofil dalam daun. Kemudian glukosa
yang terbentuk dibentuk dalam amilum. Proses di atas disebut proses
fotosintesis.

Karbohidrat sangat beranekaragam sifatnya. Misalnya, sukrosa


(gula pasir) dan kapas, keduanya adalah karbohidrat. Salah satu perbedaan.
utama antara pelbagai tipe karbohidrat ialah ukuran molekulnya.
Monosakarida (sering disebut gula sederhana) adalah satuan karbohidrat
Yang tersederhana; mereka takdapat dihidrolisis menjadi molekul
karbohidrat yang lebih kecil. Sukrosa adalah suatu disakarida yang dapat
dihidrolisis menjadi satu satuan. glukosa. dan satu satuan. fruktosa.
Monosakarida dan disakarida larut dalam air dan umumnya terasa manis.

Protein berasal dari kata yunani “proteios” yang berarti tempat


pertama. Beberapa protein berperan untuk mempercepat reaksi kimia,
sementara yang lainnya berperan untuk mendukung struktur, transportasi
sel, komunikasi sel, pergerakan sel, dan pertahanan dari substansi asing
(Campbell dan Reece, 2015).

Protein merupakan makromolekul terbanyak yang dapat ditemui


dalam sel hidup, yang merupakan komponen penting dan utama untuk sel
hewan dan sel manusia. Protein dapat diisolasi dari seluruh sel ke bagian
sel. Dalam hal ini, protein mempunyai peranan penting dalam biologi yang
sangat penting, sebagai zat pembenfuk, transport, katalisataor reaksi kimia,
hormon, racun, dan yang lainnya. Protein ini mempunyai empat fungsi
utamanya yaitu untuk memperbaiki jaringan yang rusak untuk pertumbuhan
jaringan baru, sebagai enzim, dan sebagai hormone . (Mandle, 2012).

Protein adalah polimer yang terdiri dari asam amino, dimana setiap
resude asama amino berikatan satu dengan yang lainnya melalui ikatan
kovalen. Protein dapat dipecah (di hidrolisis) menjadi asam amino
penyusunnya dengan beberapa cara. Ada 20 macam penyusun protein, asam
amino tersebut meamiliki gugus karboksil dan gugus amnio yang berikatan
pada atom yang sama. Asama amino dapt dibedakan menjadi 5 kelas
berdasarkan sifat dari gugus R yang dimilikinya. Kelas pertama yaitu
nonpolar, gugus R alifatik, contohnya alanin, valin, leusin, isoleusin, glisin,
metionin, dan prolin. Kelas kedua adalah gugus R 7ormone7 seperti
fenilanin, tirosin, dan triptofan. Kelas ketiga adalah polar, gugus R tidak
bermuatan, contohnya adalah serin, treonin, sistein, asparagin, dan
glutamine. Kelas keempat adalah asam amino yang memiliki gugus R
bermuatan positif, contohnya adalah lisin, arginin, dan histidin . kelas
kelima adalah asam amino yang memiliki gugus R negative, contohnya
aspartat dan glutamate (Nelson and Cox, 2004).

Lipid adalah salah satu kelompok senyawa yang terdapat pada


tumbuhan, heawan atau manusia dan sangat berguna bagi kehidupan
manusia. Lipid adalah senyawa organik yang tidak larut dalam air tapi dapat
diekstraksi dengan pelarut non polar seperti khloroform, eter, benzena,
alcohol, aseton, dan karbondisulfid. Beberapa fungsi lipid (lemak) yaitu
sebagai alat angkut vitamin larut lemak, menghemat protein, memberi rasa
kenyang, sebagai pelumas, memelihara suhu tubuh, dan sebagai pelindung
organ tubuh. Dimana fospolipid berfungsi untuk membentuk membrane sel.
Dan kolestrol berfungsi sebagai komponen esensial membrane structural
semua sel yang merupakan komponen utama sel otak dan saraf (Almatsier,
2004).

Senyawa yang termasuk lipid dibagi dalam beberapa golongan yaitu


lipid sederhana, lipid majemuk dan lipid turunan. Lipid sederhana yaitu
ester asam lemak dengan berbagai alkohol, contohnya lemak atau gliserida
dan lilin (waxes). Lipid gabungan/ majemuk yaitu ester asam lemak yang
mempunyai gugus tambahan, contohnya fosfolipid dan serebrosida.
Derivate lipid (lipid turunan) yaitu senyawa yang dihasilkan dari proses
hidrolisis lipid, contohnya asam lemak, gliserol, dan sterol.

Klasifikasi lipid menurut fungsi biologiknya dalam tubuh terbagi


menjadi dua, yaitu: 1) lemak simpanan yang terutama terdiri atas trigliserida
yang disimpan dalam depot-depot jaringan tumbuhan dan hewan. 2) lemak
strutural yang terutama terdiri atas fosfolipida dan kolestrol (Almaitser,
2004). Lipid merupakan salah satu kelompok senyawa organik yang
terdapat dalam tumbuhan, hewan dan manusia dan sangat berfungsi bagi
manusia. Beberapa fungsi lipid yaitu sebagai alat angkut vitamin larut
lemak, mengehmat protein, memberi rasa kenyang, sebagai pelumas,
memelihara suhu tubuh, dan pelindung organ tubuh. Fosfolipida berfungsi
untuk membentuk membran sel.(Almatsier, 2004).
BAB III

METODOLOGI

I. Alat dan bahan

Alat:

 Tabung reaksi 6 buah


 Gelas ukur 5 ml 2 buah
 Gelas beker 150 ml 3 buah
 Gelas ukur100 ml 1 buah
 Spatula 1 buah
 Pipet tetes 1 buah
 Bunsen 1 buah

Bahan:

 Aquades
 Larutan amilum
 Larutan glukosa
 Larutan sukrosa
 Larutan nasi
 Larutan etanol 1 ml
 Reagen molisch 10 tetes
 Reagen benedict 25 tetes
 Reagen selliwanof 25 ml
 Larutan iodium 15 tetes
 Larutan HCl
 1 butir telur
 Reagen nihidrin
 Reagen biuret A &B
 Minyak kelapa / biasa
 Minyak jelantah
II. Prosedur kerja
1. Uji kualitatif karbohidrat

1) Uji Molisch

Glukosa, sukrosa, amilum,


nasi, aquades

Masukkan 1 ml sampel (glukosa, sukrosa, amilum, nasi)


kedalam tabung reaksi yang berbeda

Masukkan 1 ml aquades kedalama tabung reaksi lainnya


sebagai kontrol

Tambahkan 2 tetes reagen molisch

Tambahkan 3 ml larutan HCl melalui dinding tabung


secara perlahan

Amati perubahan warna yang terjadi

Nasi = putih keruh, Amilum =


terdapat cincin ungu, Sukrosa =
partikel ungu, Glukosa = putih
berpartikel, Aquades = putih
beningbening.
2) Uji selliwanof

Glukosa, sukrosa,
amilum, nasi, aquades

Masukkan 2-3 tetes sampel (glukosa, sukrosa,


amilum, nasi dan aquades) sebagai control kedalam
tabung reaksi yang berbeda-beda

Tambahkan 5 ml larutan resorsinol (reagen


selliwanof)

Tempatkan tabung-tabung reaksi dalam air


mendidih dengan posisi sejajar

Amati dan catat perubahan setiap tabung setelah 1-


4 menit

Sukrosa melakukan
perubahan yang paling baik
karena berwarna merah bata
3) Uji benedict

Glukosa, sukrosa,
amilum, nasi, aquades

Masukkan 1 ml sampel (glukosa, sukrosa, amilum,


nasi) kedalam tabung reaksi yang berbeda

Masukkan 1 ml aquades kedalam tabung reaksi


lainnya sebagai kontrol

Tambahkan 5 tetes reagen benedict ke dalam


masing-masing tabung reaksi

Panaskan larutan, dan amati perubahan yang


terjadi

Sukrosa = endapan merah bata,


nasi = sedikit endapan kuning,
glukosa = endapan merah bata,
aquades = tidak terdapat
endapan, amilum = sedikit
endapan kuning
4) Reaksi iodium

Glukosa, sukrosa,
amilum, nasi, aquades

1 ml dari masing-masing sampel (glukosa, sukrosa,


amilum, nasi) dimasukkan kedalam tabung reaksi
yang berbeda

Tambahkan 2-3 tetes larutan iodium/lugol

Panaskan tabung reaksi dalam hingga mendidih

Dinginkan kembali tabung reaksi dalam air dingin

Amati dan catat perubahan yang terjadi

Glukosa = berwarna ungu muda,


sukrosa = bening kekuningan,
amilum = biru tua, nasi = putih,
aquades = kuning.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengamatan
1. Uji kualitatif karbohidrat
1) Uji molisch
No Sampel karbohidrat Hasil Cincin ungu
1. Glukosa Berwarna putih berpartikel _
2. Sukrosa Terbentuk partikel ungu +
3. Amilum Terbentuk cincin ungu +
4. Nasi Berwarna putih keruh _
5. Aquades Berwarna putih bening _

2) Uji benedict
No Sampel karbohidrat Hasil Endapan merah bata

1. Glukosa Endapan merah bata +


2. Sukrosa Sedikit endapan merah bata +

3. Amilum Sedikit endapan kuning -

4. Nasi Sedikit endapan kuning -


5. Aquades Tidak terdapat endapan -

3) Uji iodium

No Sampel karbohidrat Hasil Biru tua


1. Glukosa Ungu muda +
2. Sukrosa Putih -
3. Amilum Biru tua +
4. Nasi Kuning -
5. Aquades Bening kekunian -
4) Uji selliwanof

No Sampel karbohidrat Hasil Merah tua

1. Glukosa Jingga gelap -


2. Sukrosa Merah tua +

3. Amilum Peach tua -

4. Nasi Peach muda -


5. Aquades Tidak ada perubahan -

No Sampel karbohidrat Menit 1 Menit 2 Menit 3 Menit 4


1. Glukosa - Peach muda Peach tua Jingga gelap
2. Sukrosa - Merah Merah gelap Merah bata tua
3. Amilum - - - Peach muda
4. Nasi - - Peach muda Peach muda
5. Aquades - - - -

2. Uji kualitatif protein


1). Uji nihidrin
No Bahan uji Hasil

1. Telur Berwarna ungu tua

2. Nasi Berwarna ungu kebiruan

2). Uji biuret

No Bahan uji Hasil

1. Telur Coklat keabu-abuan

2. Nasi Coklat dengan endapan coklat tua


3). Pengendapan dengan etanol
No Bahan uji Hasil 1 Hasil 2

1. Nasi Sedikit endapan putih Sedikit endapan putih


2. Putih telur Endapan putih kekuningan Endapan putih melayang

3. Pengujian lipid

1). Uji kelarutan

No Pelarut Minyak biasa Minyak jelatah

1. Aquades Tidak larut Tidak larut


2. Klroform Homogen/ larut Homogen/ larut

3. Etanol Tidak larut /endapan di atas Tidak larut/ endapan

2). Uji ketidak jenuhan

No Sampel Hasil 1 (iodium) Hasil 2 (kloroform)

1. Minyak biasa Tidak jenuh Jenuh


2. Minyak jelata Jenuh Tidak jenuh

B. Pembahasan

Pada praktikum kali ini para praktikan melakukan percobaan mengenai uji
kualitatif karbohidrat, protein dan lipid. Uji ini dilakukan untuk mengetahui
adanya kandungan karbohidrat, protein dan lipid yang terdapat dalam sampel
dengan melakukan uji dengan larutan yang disediakan. Pengujian kualitatif
karbohidrat, protein dan lipid terhadap dilakukan secara berurutan.

Hal pertama yang dilakukan adalah uji kualitatif karbohidrat dengan uji
molish, benedict, selliwanof, dan iodium. Pada percobaan uji molish, sampel
yang digunakan adalah glukosa, sukrosa, amilum, nasi, dan akuades. Semua
sampel dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berbeda-beda sebanyak 1 ml
kemudian diteteskan 2 tetes reagen molish dan 3 ml larutan HCl melalui dinding
tebung secara perlahan.

Hasil yang didapat adalah perubahan warna pada sampel yang berbeda-
beda. Dimana berdasarkan hasil yang didapat menunjukkan bahwa semua
sampel yang diuji mengandung karbohidrat yang mana seharusnya semua
sampel berbentuk cincin berwarna ungu kecuali akuades untuk menunjukkan
bahwa sampel yang diujikan mengandung karbohidrat (glukosa, sukrosa,
amilum, nasi) hal ini terjadi karena adanya kesalahan dari awal pada sampel.
Seharusnya semua sampel dipanaskan terlebih dahul sebelum diujikan.

Uji molish pada larutan karbohidrat yang ditetesi larutan molish dan
selanjutnya dihidrolisis dengan HCl pekat ini menjadikan pemutusan ikatan
glikosidik dari rantai karbohidrat polisakarida dan menjadi disakarida dan
monosakarida. Larutan yang bereaksi positif akan memberikan cincin berwarna
ungu ketika direaksikan dengan molish dan larutan HCl pekat. Cincin ungu
pada glukosa terdapat lebih banyak karena merupakan monsakarida. Sedangkan
amilum adalah polisakarida dan sukrosa adalah disakarida.

Hal kedua adalah uji karbohidrat dengan larutan benedic pada 5 sampel
(glukosa, sukrosa, amilum, nasi, dan akuades) uji ini bertujuan untuk
mengidentifikasi gula pereduksi dengan menguji larutan karbohidrat 1 ml setiap
sampel ditabung reaksi dan ditambahkan 5 tetes reagen benedict pada masing-
masing tabung reaksi yang kemudian dipanaskan. Hasil yang didapat yaitu
sukrosa dan glukosa terdapat endapan merah bata. Hal ini menunjukkan adanya
kecepatan mereduksi dari sukrosa dan glukosa yang karena mempunyai
moralitas yang tingg, sedangkan amilum, nasi dan akuades hanya terdapat
sedikit endapan kuning.

Ketiga adalah uji karbohidrat dengan larutan iodium pada sampel. Uji ini
bertujuan untuk mengetahui adanya gugus keton dalam sampel. Karbohidrat
yang mengandung gugus keton jika direaksikan dengan selliwanof akan
menunjukkan warna merah sebagai reaksi positifnya. Adanya warna merah ini
merupakan hasilkondensasi dariresorsinol yang sebelumnya didahului dengan
pembentukkan hidroksi metil furfural. Uji selliwanof digunakan untuk
membedakan antara karbohidrat yang mengandung aldehid dan keton.

Uji selliwanof dilakukan dengan memasukkan 5 ml larutan/ reagen


selliwanof kedalam 5 tabung rekasi yang berisi 2-3 tetes sampel (glukosa,
sukrosa, amilum, nasi, dan akuades). Kemudian dipanaskan dengan bunsen.
Hasil yang didapat yaitu glukosa dan sukrosa cepat bereaksi karena keduanya
merupakan jenis karbohidrat yang memiliki gugus keton (ketosa). Ketosa bila
didehidrasi oleh pereaksi selliwanof memberikan turunan furfural selanjutnya
berkondensasi dengan resoroinol memberikan warna merah (kuning +)
komplek. Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa glukosa dan
sukrosa adalah karbohidrat yang mengandung gugus fungsi keton yang bisa
cpat bereaksi dengan dengan selliwanof. Sedangkan amilum dan nasi bereaksi
dimenit 3 dan 4 hal begitu pula dengan akuades yang tidak yang tidak bereaksi
karena sampel-sampel ini menunjukkan tidak adanya kandungan gugus fungsi
keton.

Keempat adalah uji iodium yang prinsipnya dilakukan untuk mendeteksi


adanya polisakarida pada sampel. Prosedur kerjanya dengan cara memasukkan
1 ml sampel (glukosa, sukrosa, amilum, nasi, dan akuades) kedalam tabung
reaksi yang berbeda. Dan tambahkan 2-3 tetes larutan iodium kemudian
panaskan hingga mendidih diatas bunsen dan terakhir dinginkan kembali tabung
reaksi dalam air dingin. Hasilnya yaitu amilum berwarna biru tua hal ini
menunjukkan adanya reaksi positif uji iodium pada sampel. Glukosa menjadi
warna ungu muda, hal ini menunjukkan adanya reaksi positif uji iodium pada
sampel. Amilum, sukrosa, dan akuades menghasilkan warna putih dan kuning/
bening hal ini menunjukkan reaksi negatif uji iod pada sampel.

Uji kualitatif protein dilakukan dengan uji nihidrin, uji biure A dan B, serta
pengendapan dengan etanol. Sampel yang digunakan adalah larutan nasi dan
putih telur. Berikut penjelasannya:

a. Uji nihidrin
Uji nihidrin dipakai untuk menetapkan kualitatif asam amino. Hal
yang dilakukan adalah memasukkan larutan asam amino (nasi dan putih
telur) kedalam tabung reaksi sebanyak 1 ml dan tambahkan 1 ml nihidrin.
Kemudian panaskan diatas bunsenselama tiga menit. Hasilnya putih telur
berwarna ungu tua sedang nasi berwarna ungu kebiruan. Hal ini
menunjukkan adanya protein atau asam amino karena terbentukya warna
ungu pada bahan uji/ sampel. Uji nihidrin ini bertujuan untuk menguji ada
atau tidaknya protein dalam suatu senyawa dengan penambahan reagen
nihidrin yang akan membentuk senyawa komplek berwarna ungu.
b. Uji biuret A dan B
Tujuan dari uji ini untuk menguji kualitatif protein berdasarkan
reaksi warna. Prinsip uji biuret adalah ikatan peptida dapat membentuk
senyawa komplek atau sederhananya uji biuret dilakukan untukmengetahui
adanya ikatan peptida dalam protein. Pengujiannya yaitu dengan
memasukkan 1 ml sampel (nasi, kuning telur) ketabung reaksi yang berbeda
dan tambahkan 5 tetes reagen biuret A dan reagen biuret B, kemudian
panaskan selama 2 menit. Hasilnya adalah sampel putih telur membentuk
coklat muda ke abu-abuan dan nasi berwarna coklat dengan endapan coklat
tua. Hal ini menunjukkan tidak adanya ikatan peptida pada bahan uji karena
menurut sastromidjojo (2009), dalam uji biuret larutan protein dibuat
dengan menambahkan NaOH dan reagen biuret sehingga membentuk warna
ungu karena positif memiliki ikatan peptida. Sedangkan hasil yang didapat
dari ini yaitu tidak adanya warna ungu. Hal ini disebabkan oleh karena
larutan yang dipakai seharusnya NaOH namun nyatanya reagen biuret A
dan B sebagai ganti dari NaOH.
c. Pengendapan dengan etanol
Uji ini dilakukan untuk mengendapkan protein dengan penambahan
etanol. Penambahan etanol kedalam larutan protein akan menyebabkan
berkurangnya larutan protein dalam rangka mengendapkan protein dengan
etanol hal yang dilakukan pertama kali yaitu memasukkan 1 ml sampel
(nasi, putih telur) kedalam tabung reaksi yang berbeda dan ditambahkan 1
spatula kristal Nacl serta 1 ml etanol 96% kemudian tabung reaksi berisi
sampel dan larutan diamati. Hasil pertama yang terjadi pada sampel nasi
adalah yaitu sedikit endapan putih. Sedangkan pada putih telur terbentuk
endapan putih melayang kekuningan. Kemudian sebagian larutan dan
endapannya dipindahkan ketabung reaksi lain dan ditambahkan 10 tetes
aquades diambil dan dikocok. Hasil kedua pada nasi yaitu terbentuknya
sedikit endapan putih dan pada telur terdapat endapan putih melayang.
Pengujian lipid dilakukan dengan cara uji kelarutan dan uji ketidak
jenuhan. Sampel yang digunakan yaitu minyak biasa, minyak jelatah,
akuades, etanol, dan kloroform. Pengujian lipid dilakukan dengan uji
kelarutan terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan uji ketidak jenuhan.
a. Uji kelarutan
Tujuan dari uji kelrutan adalah untuk mengetahui adanya kelarutan
pada sampel yang digunakan juga larut atau tidaknya sampel didalam
pelarut yang disediakan. Cara kerjanya yaitu pertama, masukkan 2 ml
akuades, 2 ml etanol, dan 2 ml kloroform kedalam 3 tabung reaksi yang
berbeda kemudian teteskan minyak biasa sebanyak 10 tetes. Hasilnya
minyak biasa pada akuades tidak larut, sedang pada klorofor minyak biasa
menjadi larut (homogen), dan pada etanol minyak biasa tidak homogen dan
terdapat endapan dibawah.
Kemudian percobaan kedua, cara kerjanya diulang lagi yaitu
masukkan 2 ml akuades, 2 ml etanol, dan 2 ml kloroform yang kemudian
ditambahkan minyak jelatah sebanyak 10 tetes. Dan hasilnya yaitu minyak
jelatah pada akuades tidak larut namun mengendap dipermukaan, pada
kloroform hasilnya homogen, sedangkan pada etanol minyak jelatah tidak
homogen dan terdapat endapan dibawah.
b. Uji ketidak jenuhan
Uji ketidakjenuhan digunakan untuk mengetahui asam lemak yang
diuji akan termasuk asam lemak jenuh atau tidak jenuh dengan
menggunakan pereaksi iodium. Iodium digunakan sebagai indikator
perubahan. Pelaksanaannya yaitu dengan cara memasukkan 1 ml minyak
biasa dan jelatah kedalam tabung reaksi yang berbeda. Kemudian
ditambahkan 3 tetes larutan iodium dan diamati. Hasilnya minyak biasa
menjadi larut dengan adanya iodium yang berarti sifat tidak jenuh. Sedang
minyak jelatah tidak larut dengan adanya iodium yang berarti sifatnya
jenuh.
Setelah itu dilanjutkan dengan menambahkan 1 ml kloroform ke
hasil larutan yang telah diuji dengan iodium hingga menimbulkan
perubahan lain yaitu minyak biasa menjadi jenuh, dan jelatah jadi tidak
jenuh.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Uji kualitatif karbohidrat pada sampel (glukosa, sukrosa, amilum, nasi, dan
akuades) dilakukan dengan uji molish, benedict, selliwanof, dan reaksi iodium
secara berturut-turut. Pada uji molish, amilum memeiliki perubahan warna
paling baik karena membentuk cincin ungu. Amilum merupakan polisakarida.
Pada uji benedic, glukosa mengalami perubahan warna paling baik yang
membentuk endapan merah bata sedangkan pada uji selliwanof sukrosa
mengalami perubahan paling baik yang sudah bereaksi dimenit ke 2 dan
akhirnya berwarna merah tua. Kemudian pada uji iodium hasil paling baik pada
amilum karena berwarna biru tua sedangkan lainnya berwarna ungu dan bening
kuning.

Uji kualitatif protein pada sampel (nasi, putih telur) dilakukan dengan uji
nihidrin, biuret A dan B, serta pengendapan dengan etanol 96%. Pada uji
nihidrin memberikan perubahan pada nasi yang berwarna ungu tua dan nasi
berwarna ungu kebiruan. Selanjutnya pada uji biuret hasil yang didapat yaitu
perubahan pada nasi yang berwarna coklat muda keabu-abuan, dan putih telur
yang berwarna ungu coklat dengan endapan coklat tua. Terakhir pengendapan
dengan etanol 96% hasil pertama yang didapat yaitu nasi membentuk sedikit
endapan putih. Putih telur membentuk endapan putih melayang kekuningan.
Hasil kedua yaitu nasi membentuk sedikit endapan putih dan telur membentuk
endapan putih melayang.

Pengujian lipid pada sampel (minyak biasa, minyak jelatah) dan pelarut
(akuades, etanol, dan kloroform) dilakukan dengan uji kelarutan dan uji
ketidakjenuhan. Hasil dari uji kelarutan yaitu minyak biasa pada akuades tidak
larut, pada kloroform menjadi larut, dan pada etanol menjadi tidak larut terdapat
endapan dibawah. Sedangkan minyak jelatah pada akuades menjadi tidak larut
dan terdapat endapan dipermukaan, lalu pada kloroform menjadi larut
(homogen), sedangkan pada etanol tidak larut dan terdapat endapan dibawah.
DAFTAR PUSTAKA

Almatrier. S. 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta; Gramedia pustaka utama.

Anggorodi, H, R. 1995. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Jakarta ; PT Gramedia


pustaka utama.

Bintang M. 2010. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta ; penerbit Erlangga.

Budha, k. 1981. Kelapa dan Hasil Pengolahannya. Fakultas Teknologi dan


Pertanian, Denpasar ; Universitas Udayana.

Garjito, M. 1980. Minyak; Sumber, Penanganan, Pengelolahan, dan Pemurnian.


Yogyakarta ; Fakultas Teknologi Pertanian UGM.

Hala, Yusmina dan Hartono. 2011. Penentuan Biokimia Umum. Makssar;


Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Harper, et al. 19979. Biokimia Harper. Jakarta; EGC

Hermanto, S. 2012. Petunjuk Praktikum Biokimia 1. Jakarta; UIN syahid

Murray, et al. 2003. Biokimia Harper Edisi 25 (Ahli bahasa Andry. Hartono).
Jakarta ; Penerbit EGC..

Nelson DI, cox MM. 2004. Lehninger’s Principles Of Biochemistry. 4 th ed. U.


S. A; W.H.Freeman.