Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang

Donor darah adalah proses pengambilan darah dari seseorang secara


sukarela untuk disimpan di bank darah untuk kemudian dipakai pada transfusi
darah (PMI,2011).
Transfusi darah merupakan bagian pelayanan kesehatan utama dalam
sistem perawatan kesehatan dan individu yang menyumbangkan darah mereka,
memberikan kontribusi yang unik bagi kesehatan yang menyelamatkan jutaan
nyawa dan kelangsungan hidup orang lain setiap tahun, memungkinkan intervensi
medis dan bedah yang semakin merumitkan dan secara dramatis meningkatkan
harapan hidup dan kualitas hidup pasien dengan berbagai kondisi akut dan kronis
(WHO, 2010).
Transfusi darah adalah sebuah prosedur terapetik, namun transfusi darah
yang terkontaminasi dapat mentransmisikan penyakit infeksi dan dapat
membahayakan kehidupan daripada menyelamatkan kehidupan. Pelayanan
transfusi darah yang aman merupakan landasan dari efektifnya sistem pelayanan
kesehatan dengan kualitas tinggi (Manzoor, 2009).
Palang Merah Indonesia (PMI) sebagai bank darah di Indonesia telah
melakukan uji saring atas 4 parameter penyakit yang sudah diatur dalam Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia No. 7 Tahun 2011 yaitu Sifilis, Hepatitis B,
Hepatitis C, dan HIV/AIDS sehingga peran PMI sangat penting dalam
mengurangi risiko penularan penyakit infeksi melalui transfusi darah.
Transfusi darah berhubungan dengan kondisi medis seperti kehilangan
darah dalam jumlah besar disebabkan perdarahan pasca melahirkan, trauma,
operasi, demam berdarah, kelainan darah dll. Pemberian transfusi darah
mempunyai resiko penularan penyakit infeksi menular lewat transfusi darah
terutama HIV/AIDS, Hepatitis C, Hepatitis B, Sifilis, Malaria, Demam Berdarah
Dengue serta resiko transfusi lain yang dapat mengancam nyawa.
Darah yang mengandung virus dari makhluk hidup yang positif penyakit-
penyakit diatas dapat menularkan pada makhluk hidup lain melalui sentuhan
antara darah dengan darah, hubungan seksual, transfusi darah, obat intravena atau
jarum suntik, vertikal darah ibu ke janin yaitu melalui infeksi perinatal, intrauterin
dan air susu ibu. Darah memiliki peranan penting bagi tubuh manusia, selain
fungsinya dalam pengangkutan oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh
tubuh fungsi lainnya yaitu menjadi vektor penularan penyakit infeksi.
Ada banyak indikasi kenapa seseorang menerima transfusi darah, antara
lain untuk pengganti darah yang hilang waktu operasi, terjadinya perdarahan
masif, ataupun karena penyakit tertentu yang memerlukan 2 transfusi darah.
Namun, transfusi darah merupakan faktor risiko untuk beberapa penyakit infeksi
melalui darah antara lain HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, dan Sifilis serta penyakit
infeksi lainnya (Kemenkes RI,2003).
WHO telah mengembangkan strategi untuk untuk transfusi darah yang
aman dan meminimalkan risiko transfusi. Strategi tersebut terdiri dari pelayanan
transfusi darah yang terkoordinasi secara nasional, pengumpulan darah hanya dari
donor sukarela dari populasi risiko rendah, pelaksanaan skrinning terhadap semua
arah donor dari penyebab infeksi. Pelayanan laboratorium yang baik di semua
aspek, termasuk golongan darah, uji kompatibilitas, persiapan komponen,
penyimpanan dan transportasi darah atau komponen darah, mengurangi transfusi
darah yang tidak perlu dengan penentuan indikasi transfusi darah yang tidak perlu
dan komponen darah yang tepat serta indikasi cara alternatif transfusi.
Mengingat besarnya pengaruh infeksi virus yang bisa menyebabkan
penyakit-penyakit di atas terhadap progresifitasnya serta kebutuhan darah
transfusi yang terpaksa dipenuhi sendiri oleh rumah sakit, terkadang tanpa
pemeriksaan uji saring infeksi menular lewat transfusi darah dan tidak sesuai
dengan standar maka diperlukan pengetahuan lebih lanjut agar tidak terjadi
praktik transfusi darah langsung atau penggunaan darah transfusi tanpa skrining.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Transfusi darah


Transfusi darah adalah proses mentransfer darah atau darah berbasis
produk dari satu orang ke dalam sistem peredaran darah orang lain. Transfusi
darah dapat menyelamatkan jiwa dalam beberapa situasi, seperti kehilangan
darah besar karena trauma, atau dapat digunakan untuk menggantikan darah
yang hilang selama operasi.
Transfusi darah juga dapat digunakan untuk mengobati anemia berat
atau trombositopenia yang disebabkan oleh penyakit darah. Orang yang
menderita hemofilia atau penyakit sel sabit mungkin memerlukan transfusi
darah sering. Awal transfusi darah secara keseluruhan digunakan, tapi praktek
medis modern umumnya hanya menggunakan komponen darah.
Memindahkan sejumlah cairan (dalam jumlah yang cukup besar) ke
dalam pembuluh darah balik
Tranfusi darah : memindahkan cairan (darah) dari seorang donor
kepada seorang akseptor (resipien)

2. Macam-Macam Transfusi darah


a. Transfusi sel darah merah
Istilah “transfusi darah” seringkali diartikan secara luas oleh
dokter jika yang dimaksudkan mereka adalah transfusi sel darah
merah. Keluhan terhadap kelemahan linguistik ini adalah bahwa
darah seringkali ditransfusikan tanpa perhatian yang cukup pada
kebutuhan spesifik penderita atau terhadap kemungkinan efek
membahayakan dari transfusi.
b. Transfusi trombosit dan granulosit
Transfusi trombosit dan granulosit diperlukan bagi penderita
trombositopenia yang mengancam jiwa, dan neutropenia yang di
sebabkan karena gagal sumsum tulang.
Transfusi darah dapat dikelompokkan menjadi dua jenis utama
tergantung pada sumber mereka:
1. 'Transfusi homolog, atau transfusi darah yang disimpan
menggunakan orang lain. Ini sering disebut ''Allogeneic
bukan homolog.
2. ''Autologus transfusi”, atau transfusi menggunakan darah
pasien sendiri disimpan.

3. Cara Transfusi darah


Donor unit darah harus disimpan dalam lemari es untuk mencegah
pertumbuhan bakteri dan memperlambat metabolisme sel. Transfusi harus
dimulai dalam 30 menit setelah unit telah diambil keluar dari penyimpanan
dikendalikan.

Gbr. Kantong darah


Darah hanya dapat diberikan secara intravena. Karena itu
membutuhkan insersi kanula sekaliber cocok.
Sebelum darah diberikan, rincian pribadi pasien dicocokkan dengan
darah untuk ditransfusikan, untuk meminimalkan risiko reaksi transfusi.
Kesalahan administrasi merupakan sumber signifikan dari reaksi transfusi
dan upaya telah dilakukan untuk membangun redundansi ke dalam proses
pencocokan yang terjadi di samping tempat tidur.
Sebuah unit (hingga 500 ml) biasanya diberikan selama 4 jam.
Pada pasien dengan risiko gagal jantung kongestif, banyak dokter
mengelola diuretik untuk mencegah overload cairan, suatu kondisi yang
disebut Transfusi Overload Peredaran Darah Terkait atau taco.
Acetaminophen dan / atau antihistamin seperti diphenhydramine kadang-
kadang diberikan sebelum transfusi untuk mencegah jenis lain reaksi
transfusi.
Darah ini paling sering disumbangkan sebagai seluruh darah
dengan memasukkan kateter ke dalam vena dan mengumpulkan dalam
kantong plastik (dicampur dengan antikoagulan) melalui gravitasi. Darah
yang dikumpulkan ini kemudian dipisahkan menjadi komponen-komponen
untuk membuat penggunaan terbaik dari itu. Selain dari sel darah merah,
plasma, dan trombosit, produk darah yang dihasilkan komponen juga
termasuk protein albumin, faktor pembekuan konsentrat, kriopresipitat,
berkonsentrasi fibrinogen, dan imunoglobulin (antibodi). Sel darah merah,
plasma dan trombosit juga dapat disumbangkan individu melalui proses
yang lebih kompleks yang disebut apheresis.
Di negara maju, sumbangan biasanya anonim kepada penerima,
namun produk dalam bank darah selalu individual dapat dilacak melalui
siklus seluruh donasi, pengujian, pemisahan menjadi komponen-
komponen, penyimpanan, dan administrasi kepada penerima. Hal ini
memungkinkan pengelolaan dan penyelidikan atas penularan penyakit
transfusi diduga terkait atau reaksi transfusi. Di negara berkembang donor
kadang-kadang khusus direkrut oleh atau untuk penerima, biasanya
anggota keluarga, dan pemberian segera sebelum transfusi.

4. Risiko Transfusi Darah


Risiko transfusi darah sebagai akibat langsung transfusimerupakan bagian
situasi klinis yang kompleks. Jika suatu operasi dinyatakan potensial
menyelamatkan nyawa hanya bila didukung dengan transfusi darah, maka
keuntungan dilakukannya transfusi jauh lebih tinggi daripada risikonya.
Sebaliknya, transfusi yang dilakukan pasca bedah pada pasien yang stabil hanya
memberikan sedikit keuntungan klinis atau sama sekali tidak
menguntungkan.Dalam hal ini, risiko akibat transfusi yang didapat mungkin tidak
sesuai dengan keuntungannya. Risiko transfuse darah ini dapat dibedakan atas
reaksi cepat, reaksi lambat, penularan penyakit infeksi dan risiko transfuse masif.

1. Reaksi Akut
Reaksi akut adalah reaksi yang terjadi selama transfuse atau dalam 24 jam
setelah transfusi. Reaksi akut dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu ringan,
sedang-berat dan reaksi yang membahayakan nyawa. Reaksi ringan ditandai
dengan timbulnya pruritus, urtikaria dan rash. Reaksi ringan ini disebabkan oleh
hipersensitivitas ringan. Reaksi sedang-berat ditandai dengan adanya gejala
gelisah, lemah, pruritus, palpitasi, dispnea ringan dan nyeri kepala. Pada
pemeriksaan fisis dapat ditemukan adanya warna kemerahan di kulit, urtikaria,
demam, takikardia, kaku otot. Reaksi sedang-berat biasanya disebabkan oleh
hipersensitivitas sedang-berat, demam akibat reaksi transfusi non-hemolitik
(antibodi terhadap leukosit, protein, trombosit), kontaminasi pirogen dan/ atau
bakteri. Pada reaksi yang membahayakan nyawa ditemukan gejala gelisah, nyeri
dada, nyeri di sekitar tempat masuknya infus, napas pendek, nyeri punggung,
nyeri kepala, dan dispnea. Terdapat pula tanda-tanda kaku otot, demam, lemah,
hipotensi (turun ≥20% tekanan darah sistolik), takikardia (naik ≥20%),
hemoglobinuria dan perdarahan yang tidak jelas. Reaksi ini disebabkan oleh
hemolisis intravascular akut, kontaminasi bakteri, syok septik, kelebihan cairan,
anafilaksis dan gagal paru akut akibat transfusi.
Penyebab terbanyak adalah inkompatibilitas ABO. Hal ini biasanya terjadi
akibat kesalahan dalam permintaan darah, pengambilan contoh darah dari pasien
ke tabung yang belum diberikan label, kesalahan pemberian label pada tabung dan
ketidaktelitian memeriksa identitas pasien sebelum transfusi. Selain itu penyebab
lainnya adalah adanya antibodi dalam plasma pasien melawan antigen golongan
darah lain (selain golongan darah ABO) dari darah yang ditransfusikan, seperti
sistem Idd, Kell atau Duffy.
Jika pasien sadar, gejala dan tanda biasanya timbul dalam beberapa menit
awal transfusi, kadang-kadang timbul jika telah diberikan kurang dari 10 ml. Jika
pasien tidak sadar atau dalam anestesia, hipotensi atau perdarahan yang tidak
terkontrol mungkin merupakan satu-satunya tanda inkompatibilitas transfusi.
Pengawasan pasien dilakukan sejak awal transfusi dari setiap unit darah. Cedera
paru akut akibat transfusi (Transfusion-associated acute lung injury = TRALI)
Cedera paru akut disebabkan oleh plasma donor yang mengandung antibodi yang
melawan leukosit pasien. Kegagalan fungsi paru biasanya timbul dalam 1-4 jam
sejak awal transfuse.

2. Reaksi Lambat
Reaksi hemolitik lambat timbul 5-10 hari setelah transfuse dengan gejala
dan tanda demam, anemia, ikterik dan hemoglobinuria. Reaksi hemolitik lambat
yang berat dan mengancam nyawa disertai syok, gagal ginjal dan DIC jarang
terjadi. Pencegahan dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium antibodi sel
darah merah dalam plasma pasien dan pemilihan sel darah kompatibel
denganantibodi tersebut. Purpura pasca transfusi merupakan komplikasi yang
jarang tetapi potensial membahayakan pada transfusi sel darah merah atau
trombosit. Hal ini disebabkan adanya antibodi langsung yang melawan antigen
spesifik trombosit pada resipien. Lebih banyak terjadi pada wanita.
Gejala dan tanda yang timbul adalah perdarahan dan adanya
trombositopenia berat akut 5-10 hari setelah transfusi yang biasanya terjadi bila
hitung trombosit <100.000/uL. Penatalaksanaan penting terutama bila hitung
trombosit ≤50.000/uL dan perdarahan yang tidak terlihat dengan hitung trombosit
20.000/uL

3. Penularan Infeksi
Risiko penularan penyakit infeksi melalui transfuse darah bergantung pada
berbagai hal, antara lain prevalensi penyakit di masyarakat, keefektifan skrining
yang digunakan, status imun resipien dan jumlah donor tiap unit darah.Saat ini
dipergunakan model matematis untuk menghitung risiko transfusi darah, antara
lain untuk penularan HIV, virus hepatitis C, hepatitis B dan virus human T-cell
lymphotropic (HTLV). Model ini berdasarkan fakta bahwa penularan penyakit
terutama timbul pada saat window period (periode segera setelah infeksi dimana
darah donor sudah infeksius tetapi hasil skrining masih negative.
Selain itu penularan juga dapat terjadi dari factor lingkungan seperti
kontaminasi di antaranya:
1. Kontaminasi bakteri
Kontaminasi bakteri mempengaruhi 0,4% konsentrat sel darah merah dan
1-2% konsentrat trombosit.1 Kon- taminasi bakteri pada darah donor dapat timbul
sebagai hasil paparan terhadap bakteri kulit pada saat pengambilan darah,
kontaminasi alat dan manipulasi darah oleh staf bank darah atau staf rumah sakit
pada saat pelaksanaan
transfusi atau bakteremia pada donor saat pengambilan darah yang tidak
diketahui. Jumlah kontaminasi bakteri meningkat seiring denganlamanya
penyimpanan sel darah merah atau plasma sebelum transfusi. Penyimpanan pada
suhu kamar meningkatkan pertumbuhan hampir semua bakteri. Beberapa
organisme, Oleh karena itu risiko meningkat sesuai dengan lamanyapenyimpanan.

2. Kontaminasi parasit
Kontaminasi parasit dapat timbul hanya jika donor menderita parasitemia
pada pengumpulan darah. Kriteria seleksi donor berdasarkan riwayat bepergian
terakhir,tempat tinggal terdahulu, dan daerah endemik, sangat mengurangi
kemungkinan pengumpulan darah dari orang yang mungkin menularkan malaria,
penyakit Chagas atau leismaniasis.