Anda di halaman 1dari 74

PENYELESAIAN KASUS PEMBAKARAN HUTAN LINDUNG

BUKIT SULIGI OLEH MASYARAKAT PERAMBAH


DI WILAYAH ROKAN HULU

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh

Gelar Sarjana Lengkap Pada Fakultas Hukum

Universitas Islam Riau Pekanbaru

ERSITAS ISLAM RIA


UNIV U

P EK ANBA RU

Oleh :

MELAN SILVA
NPM : 041010330

PROGRAM STUDI : ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2009
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan

karunia-Nya yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan

penulisan skripsi ini dengan judul : “ Penyelesaian Kasus Pembakaran Hutan

Lindung Bukit Suligi Oleh Masyarakat Perambah Di Wilayah Rokan Hulu. “ .

Skripsi ini ditulis dalam rangka untuk melengkapi persyaratan guna memperoleh

gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Islam Riau.

Penelitian ini mempelajari tentang bagaimana proses hukum terhadap perbuatan

tersangka yang dinyatakan sebagai suatu tindakan pidana yang mengandung sanksi

pidana, terhadap tersangka proses hukum tersebut meliputi penangkapan dan

penahanan tersangka oleh Polres Kabupaten Rokan Hulu, pelimpahan perkara

tersebut kepada Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu dan penjatuhan sanksi

terhadap tersangka pembakaran hutan dan lahan tersebu, adapun dalam penegakan

hukum kasus pembakaran hutan dan lahan dikawasan hutan lindung Bukit Suligi

memiliki beberapa faktor penghambat yaitu pelaku adalah masyarakat setempat atau

penduduk, kurang tegasnya aparat dalam memberikan sanksi terhadap pelaku dan

rendahnya penegakan hukum secara nyata dan cepat.

Terwujudnya penulisan skripsi ini tidak lain karena bantuan yang penulis peroleh dari berbagai pihak

baik yang bersifat materi ataupun dorongan semangat, maka pada kesempatan ini penulis

menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak - pihak yang tersebut dibawah ini :

2
1. Bapak Rektor Universitas Islam Riau yang telah memberikan kesempatan

kepada penulis untuk menimba ilmu di Universitas Islam Riau;

2. Bapak Zulherman Idris, SH., MH, sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas

Islam Riau yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba

ilmu di Universitas Islam Riau ;

3. Bapak, Zul Akrial, S.H., M.Hum., sebagai pembimbing I penulis, yang telah

meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dalam penetapan judul dan

bimbingan Skripsi penulis;

4. Bapak, Yuheldi, S.H., sebagai pembimbing II penulis, yang telah meluangkan

waktunya untuk memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis;

5. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Riau yang telah

memberikan pengetahuan dan pendidikan kepada penulis selama menimba ilmu

di Fakultas Hukum Universitas Islam Riau;

6. Bapak dan Ibu Karyawan/ti Fakultas Hukum Universitas Islam Riau yang telah

memberikan layanan administrasi;

7. Bapak Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu, yang telah

memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian dan

memberikan data dalam penulisan Skripsi ini;

8. Bapak Kapolres Kabupaten Rokan Hulu, yang telah memberikan data dalam

penulisan Skripsi ini;

9. Bapak Kepala Polhut Kabupaten Rokan Hulu, yang telah memberikan data

dalam penulisan Skripsi ini;

3
10. Bapak-Bapak yang menjadi responden penulis yang telah meluangkan

waktunya untuk memberikan data kepada penulis;

11. Selanjutnya ucapan terima kasih penulis yang tak terhingga kepada pihak-pihak

yang telah ikut memberikan bantuannya, baik secara langsung maupun tidak

langsung kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Penulisan Skripsi ini berdasarkan kepada kemampuan penulis yang masih

sangat terbatas dalam memahami masalah hukum yang ada, karena hal tersebut

penulis menyadari adanya kekeliruan yang penulis lakukan tanpa sengaja. Oleh

sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bertujuan untuk

membangun kesempurnaan di kemudian harinya.

Akhir kata penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu terwujudnya penulisan Skripsi ini, semoga kita mendapatkan

hidayah-Nya, Amin.

Pekanbaru, 14 Januari 2010

PEN U L I S

MELAN SILVA

4
DAFTAR ISI

JUDUL ………………………………………………………………. i

PERNYATAAN BAHWA SKRIPSI HASIL KARYA SENDIRI .……………. ii

BERITA ACARA BIMBINGAN SKRIPSI ………… ………….…………….

iii

TANDA PERSETUJUAN SKRIPSI ………………………………………… v

SK PENUNJUKAN PEMBIMBING I …………….………………………….. vi

SK PENUNJUKAN PEMBIMBING II ………….………….……………….. .

vii

BERITA ACARA PERUBAHAN JUDUL ……………………………………… viii

SK PENETAPAN DOSEN PENGUJI UJIAN SKRIPSI ………………………… ix

BERITA ACARA MEJA HIJAU ………………………………………………. x

PERSEMBAHAN ……………………………………………………………….. xi

ABSTRAK ……………………………………………………………………. xii

KATA PENGANTAR ……….………………………………………………. xiii

DAFTAR ISI ………………… ……………………………………………….. xvi

5
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah …………………….…………… 1

B. Masalah Pokok ………………………………….……….. 8

C. Tinjauan Pustaka ………………………………………… 9

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian …………………..…...….. 14

E. Metode Penelitian ………………………….……………. 15

BAB II TINJAUAN UMUM

A. Tinjauan Umum Tentang Pembakaran Hutan Dan Lahan … 19

B. Keadaan Umum Kabupaten Rokan Hulu ……………… 26

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Proses Penyelesaian Kasus Pembakaran Hutan Lindung

Bukit Suligi Oleh Masyarakat Perambah Di Wilayah

Kabupaten Rokan Hulu ………………………………… 34

B. Faktor Penghambat Penegakan Hukum Dalam Menang-

gulangi Terjadinya Kejahatan Pembakaran Hutan Lindung

Bukit Suligi Di Wilayah Kabupaten Rokan Hulu ……… 48

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan …………………………………………… 59

B.
Saran ………………………………………………… 60

DAFTAR KEPUSTAKAAN ……..…………………………………… 61

6
LAMPIRAN ……………..………………………………………… 63

DAFTAR TABEL

Tabel halaman

Luas Daerah Kabupaten Rokan Hulu Per Kecamatan …………….. 28


Jumlah Persebaran Penduduk Per Kecamatan ……………………. 29
Perkembangan Pendidikan Di Kabupaten Rokan Hulu …………… 30
Luas Hutan Dan Jenisnya Per Kecamatan ……………………….. 31
Keadaan Kawasan Hutan Lindung Bukit Suligi Kab Rokan Hulu ... 32

III.1 Tentang Penangkapan Oleh Petugas Dinas Kehutanan …………… 41

III.2 Tentang Pelaku Pembakaran Hutan Lindung Bukit Suligi ………… 42

III.3 Tentang Mengetahui Kepemilikan Lahan Yang Terbakar ………… 43

III.4 Tentang Penahan Pelaku Pembakaran Hutan Lindung Bukit Suligi.. 44

III.5 Tentang Batas Kawasan Hutan Lindung Bukit Suligi ……………. 51

7
DAFTAR SINGKATAN / AKRONIM

= Hutan Dataran Rendah

T = Hutan Dataran Rendah Tebangan

TR = Hutan Rawa Air Tawar

T = Hutan Rawa Air Tebangan

= Hutan Rawa Gambut

= Hutan Tanaman Industri

UPT = Unit Pelaksanaan Teknis

HPH = Hak Pengusaan Hutan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.

8
Hutan mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam

menunjang kehidupan manusia, hutan dapat dijadikan sebagai sumber kehidupan bagi

masyarakat yang menggantungkan mata pencariannya pada hasil hutan seperti kayu,

rotan, madu dan lain sebagainya, selain itu hutan juga merupakan tempat tinggal bagi

kelangsungan hidup hewan dan tumbuhan yang ada dalam suatu kawasan, sehingga

pemerintah sangat melindungi kelestarian dari sebuah kawasan hutan yang banyak

memberikan manfaat bagi kehidupan.

Kebakaran hutan yang hampir setiap tahun terjadi merupakan salah satu

ancaman terhadap kelestarian hutan di Indonesia, kebakaran hutan yang besar

berakibat sangat merugikan bagi Negara dan masyarakat, ratusan ribu pohon dan

tumbuhan hutan lainnya yang bernilai ekonomis musna, kelestarian hidup dari hewan

sebagai penghuni hutan juga ikut terkena dampak dari tindakan pembakaran hutan,

ekosistim penunjang kehidupan manusia rusak, mata air mengiring dan selain itu efek

dari tindakan pembakaran hutan yang sangat meresahkan adalah polusi udara yang

dapat merugikan kesehatan masyarakat yang berada jahu dari lokasi pembakaran

hutan, bahkan melalui media massa sering terdengar tanggapan negatif dari Negara

tetangga yang merasa dirugikan akibat tindakan tersebut.

Pemerintah Indonesia telah menyatakan dalam berbagai Peraturan Perundang-

Undangan bahwa pelaksanaan pembangunan nasional, penggunaan sumber daya alam

harus dimanfaatkan secara rasional, sehingga pemanfaatan sumber daya alam tersebut

9
harus diusahakan untuk tidak merusak tata lingkungan hidup dan dilaksanakan secara

bijaksana dengan memperhitungkan kebutuhan genarasi yang akan datang.1

Peristiwa kebakaran hutan sudah menjadi isu nasional yang banyak

menimbulkan ketertarikan berbagai kalangan untuk memperbincangkannya dan

menilai segi posistif dan negatifnya tindakan tersebut serta mencari pihak-pihak yang

dipersalahkan, tetapi hal ini tidak mengurangi tingkat tindak kebakaran hutan di

Indonesia, khususnya Provinsi Riau yang menjadi urutan kedua setelah Kalimantan.

Pada umumnya kebakaran hutan terjadi pada musim kemarau dan disebabkan

oleh tindakan manusia yang kurang bertanggung jawab terhadap kelestarian alam,

pemerintah melalui Peraturan Perundang-Undangan menegaskan bahwa tindakan

pembakaran hutan dapat dilakukan sepanjang hal tersebut di nilai positif dan

bertujuan kearah yang lebih baik serta mendapatkan kewenangan yang sah dari

pejabat yang berwenang, dan sebaliknya diberikan suatu kewajiban kepada pelaku

tindakan pembakaran hutan untuk ikut serta dalam usaha pemadaman apabila terjadi

kebakaran hutan, selain itu pemerintah juga berperan aktif untuk mengawasi tindakan

pembakaran hutan tersebut.

Pemerintah memberikan kewenangan melakukan tindakan pembakaran hutan

sepanjang hal tersebut bertujuan untuk :

1. Pembakaran hutan untuk pembuatan padang rumput makanan ternak;

2. Pembakaran hutan yang dilakukan untuk kepentingan persiapan lokasi

penanaman pohon dikawasan hutan.2


1
Penjelasan Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan

10
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan dalam penjelasanan

Pasal 50 ayat 3 huruf d menyatakan bahwa pada prinsipnya kebakaran hutan tersebut

dilarang, tetapi pembakaran hutan secara terbatas diperkenankan hanya untuk tujuan

khusus dengan kondisi yang tidak dapat dielakan seperti pembasmian hama dan

penyakit, dan tindakan tersebut harus mendapat izin dari pejabat yang berwenang.3

Tindakan pembakaran hutan pada umumnya disebabkan oleh ulah manusia

yang ingin mendapatkan keuntungan yang lebih besar dalam mengambil hasil hutan

dengan prinsip efisiensi dan laba,sehingga kurang memperhatikan kelestarian dan

kelangsungan hutan dimasa yang akan datang.

Adapun menurunnya kwalitas hutan Indonesia disebabkan oleh beberapa hal

yaitu :

1. Adanya peladangan berpindah-pindah oleh masyarakat;

2. Penebangan hutan secara besar-besar oleh pemegang hak pengelolahan hutan;

3. Pembukaan hutan untuk ladang pertanian.4

Dalam mengantisipasi terjadinya kerusakan hutan yang lebih luas maka

pemerintah beserta direktorat terkait harus turun tangan dalam mengawasi

penggunaan izin pengelolahan hutan, sehingga hutan Indonesia yang telah rusak

dapat dikembalikan lagi fungsinya sebagai :

2
Alam Setia Zein, Hukum Lingkungan, Konservasi Hutan Dan Segi-Segi Pidana, Rineka Cipta,
Jakarta, 1997, hlm 50
3
Penjelasan Pasal 50 ayat 3 huruf d, Undang-Undang 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
4
Penyuluhan Pengendalian Kebakaran Hutan, Pusat Diklat Kehutanan, Bogor,2002, hlm 4

11
1. Hutan lindung yang memiliki fungsi untuk kelestarian tatanan dan kesuburan

tanah;

2. Hutan produksi yang berfungsi sebagai penghasil hasil hutan ;

3. Hutan suaka atau cagar alam yang berfungsi untuk melestarikan kekayaan flora

dan fauna.

Tindakan membakar dalam kawasan hutan jika tidak mendapatkan izin dari

pejabat kehutanan, merupakan tindakan melawan hukum serta bertentangan dengan

Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku, sehingga sanksi pidana penjara

maupun denda dapa diberlakukan terhadap para pelaku pembakaran hutan.

Adapun bentuk-bentuk dari tindakan pelaku pembakaran hutan yang dapat

diidentifikasi adalah sebagai berikut :

1. Tindakan membakar hutan dengan sengaja yang dilakukan oleh orang tertentu,

tanpa ada kewenangan atau izin untuk berada dalam kawasan hutan;

2. Tindakan membakar hutan dengan tidak sengaja dilakukan orang akibat

memasuki kawasan hutan tanpa izin yang berwenang;

3. Tindakan membakar hutan dengan sengaja yang dilakukan badan hukum atau

orang yang diizinkan pihak yang berwenang untuk bekerja atau berada dalam

kawasan hutan;

4. Tindakan membakar hutan dengan tidak sengaja dilakukan orang atau badan

hukum yang diizinkan melakukan kegiatan usaha di dalam kawasan hutan.5

5
Alam Setia Zein, op.,cit., hlm 49

12
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan menyatakan secara

tegas dalam Pasal 50 ayat 3 huruf d yaitu “ setiap orang dilarang untuk melakukan

tindakan pembakaran hutan “.6

Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa Negara menyatakan secara tegas

tindakan pembakaran hutan adalah suatu tindakan yang dilarang karena dapat

menimbulkan kerusakan kelestarian alam sehingga pelanggaran terhadap ketentuan

ini mengandung sanksi hukum, sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 78 ayat 3

Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan.

Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Pasal 78 ayat 3

menyatakan bahwa “ barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana

yang dimaksudkan dalam Pasal 50 ayat 3 huruf d, diancam dengan pidana penjara

paling lama lima belas tahun dan denda paling banyak lima milyar rupiah”.7

Dalam kurun waktu tahun 2003 sampai dengan tahun 2006, luas areal hutan dan

lahan yang terbakar diwilayah Provinsi Riau mencapai kurang lebih 53.752 ha

dengan konsentrasi titik api terdapat di Kabupaten Rokan Hulu, Rokan Hilir, Kampar

Bengkalis, Pelalawan dan Siak

Kawasan hutan lindung Bukit Suligi merupakan salah satu contoh kawasan

hutan lindung yang terbakar akibat kelalaian manusia, berdasarkan data dari Dinas

Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu, hutan lindung Bukit Suligi memiliki luas lebih

6
Undang-Undang No 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan, Pasal 50 ayat 3 huruf d
7
Undang-Undang No 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan, Pasal 78 ayat 3

13
kurang tiga puluh ribu hektar ( ± 30.000 ha ) yang tercakup didalamnya hutan

pendidikan yang baru diadakan reboisasi.8

Pada akhir tahun 2006 lahan hutan lindung Bukit Suligi diambil alih oleh

masyarakat dengan cara pembakaran guna pembukaan perkebunan, kawasan hutan

yang terbakar tidak hanya mencakup lahan yang sudah direncanakan, tetapi juga

membakar hutan pendidikan yang baru dilakukan reboisasi, kurangnya pengawasan

penyebaran titik api atau hot spot juga dipengaruhi oleh minimnya prasarana.9

Adapun data kerugian yang ditimbulkan oleh tindakan kurang bertanggung

jawab ini adalah :

1. Blok I dengan jenis tanaman yang terbakar meliputi karet dan mahoni ;

2. Blok II dengan jenis tanaman karet, mahoni dan tanaman reboisasi .

Berdasarkan dari penyeledikan pihak Polres Kabapaten Rokan Hulu tindakan

pembakaran hutan ini dilakukan pada siang hari, oleh sekelompok masyarakat secara

bersama-sama dan dari hasil penyelidikan ditetapkan lima orang sebagai tersangka

tindakan pembakaran hutan lindung Bukit Suligi.

Kebakaran hutan lindung Bukit Suligi terjadi karena kurangnya pengawasan

pemerintah dalam mengawasi tindakan masyarakat yang ingin membuka lahan dan

memperlihatkan lemahnya penegakan hukum sehingga masyarakat tidak takut untuk

melakukan tindakan pembakaran hutan baik yang dilakukan dengan sengaja maupun

yang disebabkan oleh kelalaian.

8
Laporan hasil pengukuran kebakaran hutan Suliki, tahun 2006, hlm 3
9
Ibid.,hlm 1

14
Untuk mengantisipasi keadaan tersebut sehingga tidak terulang kembali maka

penegakan hukum harus dipertegas, Pemerintah melalui Undang-Undang No. 41

Tahun 1999 Tentang Kehutanan telah menetapkan bahwa pembakaran hutan adalah

suatu perbuatan pidana yang mengandung sanksi hukum, berdasarkan hal tersebut

penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang penyelesaian kasus pembakaran

hutan yang dilakukan oleh masyarakat perambah dikawasan hutan lindung Bukit

Suligi di wilayah Rokan Hulu dan faktor penghambat penegakan hukum dalam

menanggulangi terjadinya perbuatan pidana pembakaran hutan lindung Bukit Suligi

di wilayah Rokan Hulu.

Berdasarkan dari latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dan menjelaskan secara terperinci dalam bentuk karya ilmiah yang

berjudul: Penyelesaian Kasus Pembakaran Hutan Lindung Bukit Suligi Oleh

Masyarakat Perambah Di Wilayah Rokan Hulu.

Untuk memberikan arahan dan tidak menimbulkan salah pengertian yang

berbeda dalam penelitian ini maupun dalam pembahasannya secara lebih lanjut maka

penulis merasa perlu untuk memberikan penegasan dari pengertian judul diatas :

Penyelesaian adalah suatu hal atau perbuatan yang memutuskan atau

membereskan suatu perkara maupun memecahakan persoalan.10

Kasus adalah perkara atau keadaan khusus yang mengkondisikan seseorang

dalam sesuatu hal yang berhubungan dengan seseorang lainnya, dalam hal ini

merupakan kasus pembakaran kawasan hutan lindung Bukit Suligi.11


10
Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1982, hlm 897

15
Pembakaran hutan lindung adalah cara atau perbuatan yang menyebabkan

terjadinya proses penyebaran api diluar kendali, terhadap kawasan hutan yang bersifat

khusus.

Bukit Suligi adalah kawasan hutan lindung yang menjadi lokasi penelitian

penulis, berada di wilayah Kabupaten Rokan Hulu yang merupakan daerah yang

sedang melakukan pembangunan, guna meningkatkan taraf hidup masyarakatnya.

Perambah adalah perbuatan menebangi, membabat, membakar tumbuhan dan

pepohonan yang bertujuan untuk membuka hutan, jalan dan lain sebagainya, dalam

hal ini merupakan sekelompok masyarakat yang mendiami atau yang disebut juga

penduduk disekitar wilayah hutan lindung Bukit Suligi.12

B. Masalah Pokok

Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut diatas dan untuk tidak

mengaburkan penelitian yang dilakukan maka penulis berusaha membatasi apa yang

menjadi masalah pokok dari penelitian ini, masalah pokok tersebut adalah :

1. Bagaimana proses penyelesaian kasus pembakaran hutan lindung Bukit Suligi

oleh masyarakat perambah di wilayah Rokan Hulu ?

2. Apa faktor penghambat penegakan hukum dalam menanggulangi terjadinya

kejahatan pembakaran hutan lindung Bukit Suligi di wilayah Rokan Hulu ?

11
Ibid., hlm 449
12
Ibid., hlm 794

16
C. Tinjauan Pustaka

Dalam pengelolahan dan pelestarian kawasan hutan lindung bukan masalah

yang mudah dilakukan oleh pemerintah, hal ini karena berkaitan dengan kepentingan

masyarakat dan tuntutan pembangunan nasional yang semakin menyebar keberbagai

daerah di seluruh Indonesia, sehingga dampak negatif yang dapat dirasakan adalah

semakin rusaknya kelestarian alam yang ada, tetapi hal ini dapat ditanggulangi

sepanjang masyarakat dapat melakukan tindakan bertanggung jawab terhadap setiap

kegiataan yang melibatkan kelestarian alam, seperti halnya setiap masyarakat

memiliki kesadaran untuk menggunakan sistem tebang pilih, reboisasi terhadap

kawasan hutan yang telah dimanfaatkan.

Hutan adalah suatu lapangan atau areal yang luas yang didalamnya terdapat dan

berkembang berbagai jenis flora dan fauna yang secara keseluruhannya merupakan

persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya, dan ditetapkan oleh

pemerintah sebagai hutan.13

Unsur kelalaian oleh petani tradisional dalam mempersiapkan lahan merupakan

salah satu penyebab timbulnya kebakaran hutan yang sering ditemui dalam kasus-

lasus kebakaran hutan yang ada di Indonesia, hal ini dikarenakan petani kurang

memperhatikan keadaan cuaca, tidak mengkoordinasikan tindakan kepada aparat

pengawas kehutanan, serta meninggalkan ladang dalam keadaan api yang masih

menyala.

13
Alam Setia Zain, Op.,Cit., hlm 1

17
Adapun pembagian hutan berdasarkan fungsinya dengan kriteria dan
pertimbangan tertentu, ditetapkan sebagai berikut :
1. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang dari segi fisiknya perlu dibina dan
dipertahankan guna kepentingan mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi
serta memelihara keawetan dan kesuburan tanah ;
2. Hutan produksi adalah kawasan hutan yang dipertahankan agar diperoleh hasil
hutan bagi kepentingan konsumsi masyarakat, industri dan ekspor;
3. Hutan suaka alam adalah kawasan hutan yang dari segi fisiknya dipertahankan
untuk keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta bagi kepentingan
pengawetan plasma nutfah, ilmu pengetahuan;
4. Hutan wisata adalah kawasan hutan yang dari segi fisiknya dipertahankan untuk
kepentingan wisata dan berburu.14

Kawasan hutan lindung merupakan kawasan khusus yang difungsikan untuk

menjaga kelestarian alam dan habitatnya sehingga kawasan ini sangat dilindungi oleh

Negara, didalam kawasan hutan lindung kehidupan hewan dan tumbuhan langka

adalah aset bagi Negara dan disegi lain kawasan hutan lindung adalah kawasan hutan

yang mengatur tata air dalam tanah sehingga dapat mengurangi terjadinya erosi.

Hasil hutan khususnya kayu, dewasa ini merupakan komoditas strategis yang

sangat dibutuhkan tidak terbatas untuk kebutuhan lokal tetapi juga kebutuhan ekspor,

sehingga menjadi suatu komoditi yang memiliki nilai jual yang tinggi, karena itu

untuk memperolehnya tidak jarang pelaku usaha baik perorangan, kelompok maupun

badan hukum melakukuan pelanggaran dan kejahatan terhadap sumber daya alam.

Pemerintah melalui peraturan perundang-undangan mengisyaratkan kepada

pemerintah daerah untuk memiliki suatu kewenangan dan tanggung jawab dalam

melindung sumber daya alam dari kerusakan yang ditimbulkan oleh ulah manusia

baik secara perorangan maupun kelompok, melalui instansi-instansi kehutanan


14
Ibid., hlm 4

18
didaerah Tingkat I yang memegang perananan penting dalam melindungi kelestarian

alam diharapkan dapat mengurangi terjadinya tingkat pelanggaran dan kejahatan

terhadap sumber daya alam.

Adapun aparatur pemerintahan daerah yang bertanggung jawab atas tugas


perlindungan hutan meliputi :
1. Kantor Wilayah Departeman Kehutanan Provinsi Tingkat I;
2. Dinas Kehutanan Provinsi Tingkat I;
3. Unit-unit Perum Perhutani;
4. Unit-unit pelaksana teknis ( UPT ) Departeman Kehutanan.15

Untuk mencegah terjadinya tindakan pembakaran hutan maka pemerintah

berusaha memberikan penyuluhan terhadap peladang yang berpindah-pindah,

masyarakat yang bermungkin disekitar hutan dan kontraktor atau pihak pengusaha

yang mempersiapkan lahan kebun atau hutan untuk industri.

Pencegahan kebakaran hutan secara umum diartikan sebagai suatu usaha atau
tindakan yang dilakukan untuk mencegah atau mengurangi terjadinya kebakaran
hutan dengan melakukan upaya diantaranya yaitu :
1. Pemantauan kondisi hutan yang rawan terjadi kebakaran hutan;
2. Melakukan penjagaan dan pengawasan kawasan hutan;
3. Mempersiapkan tenaga dan peralatan pemadaman kebakaran hutan;
4. Mendeteksi secara dini kebakaran hutan;
5. Membuat tempat-tempat penampungan air;
6. Membuat sekat baker;
7. Memasang rambu-rambu peringatan bahaya kebakaran hutan;
8. Menerapkan teknologi penyiapan lahan tanpa bakar.16
Pembakaran hutan adalah bentuk dari pelanggaran yang dilakukan terhadap

penggunaan sumberdaya alam yang dapat menjadi perbuatan pidana sepanjang hal

tersebut tidak mendapatkan izin dari pihak yang berwenang dan menimbulkan

kerugian terhadap kawasan hutan lainnya.

15
Alam Setia Zein, Op.,Cit., hal 56
16
Haris Surono, Pencegahan Kebakaran Hutan, Pusat Pembinaan dan Penyuluhan Kehutanan dan
Perkebunan, Jakarta, 2000, hlm 3

19
Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolahan Lingkungan Hidup

menjelaskan bahwa tindakan pembakaran hutan adalah suatu tindakan yang dapat

merugikan lingkungan hidup karena mengakibatkan terjadinya penurunan mutu

lingkungan hidup, kondisi tanah dan udara disekitar kawasan hutan yang terbakar

sehingga pemerintah selaku penyelenggara Negara memberikan sanksi terhadap

pelaku tindakan pembakaran hutan.

Adapun terhadap pelaku tindakan pembakaran hutan dan lahan dapat

disangkakan melanggar Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan,

melanggar Pasal 78 jo 188 Undang-Undang Hukum Pidana, dan Undang-Undang No.

23 Tahun 1997 Tentang Pengelolahan Lingkungan Hidup17

Pembakaran hutan adalah salah satu tindakan perusakan hutan yang dapat

digolongkan sebagai tindak pidana karena merupakan suatu bentuk perbuatan yang

dilakukan oleh manusia atau badan yang bertentangan dengan aturan didalam hukum

Perundang-Undangan yang berlaku.

Tindakan membakar dalam kawasan hutan jika tidak mendapat izin merupakan

tindakan melawan hukum, sanksi pidana penjara dan denda dapat dikenakan kepada

pelaku pembakaran hutan baik karena suatu kesengajaan maupun terjadi karena

kelalaian pelaku, adapun kepada pelaku disangkakan melanggar ketentuan Pasal 188

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP ).

17
Antung Deddy, Tanggung Jawab Para Pihak Dalam Kaitannya Dengan Kebakaran Hutan Dan
lahan, Bapedal, Pekanbaru, 2001, hal 4

20
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP ) Pasal 187 menyatakan “
barang siapa dengan sengaja membakar, menjadikan letusan, mengakibatkan
terjadinya banjir, dihukum :
1. Dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun, jika perbuatan itu dapat
mendatangkan bahaya umum bagi barang ;
2. Dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun, jika perbuatan itu dapat
mendatangkan bahaya maut bagi orang lain;
3. Dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama
dua puluh tahun , jika perbuatan itu dapat mendatangkan bahaya maut bagi
orang lain dan ada orang yang mati akibat perbuatan itu”.18

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP ) Pasal 188 lebih lanjut


menjelaskan “ barang siapa menyebabkan karena kesalahannya terjadi kebakaran,
peletusan, banjir, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun atau
hukuman kurungan selama-lamanya satu tahun atau hukuman denda sebanyak-
banyaknya Rp. 4.500, jika terjadi bahaya umum untuk barang, jika terjadi bahaya
maut kepada orang lain, atau jika hal itu berakibat matinya seseorang”.19

Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolahan Lingkungan Hidup

memberikan pengertian bahwa perusakan lingkungan hidup merupakan tindakan

yang menimbulkan perubahan baik langsung maupun tidak langsung terhadap fisik

lingkungan atau hayati tersebut sehingga tidak dapat berfungsi dalam menunjangan

pembangunan yang berkelanjutan dan salah satu bentuk perusakan lingkungan adalah

pembakaran hutan, ketentuan dalam Perundang-Undangan ini dapat dikenakan pada

setiap pelaku tindakan pembakaran hutan tanpa izin dari pihak yang berwenang,

sebagaiman yang telah ditetapkan dalam Pasal 41 Undang-Undang No. 23 Tahun

1997 Tentang Pengelolahan Lingkungan Hidup.

Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolahan Lingkungan Hidup

Pasal 41 ayat 1 menyatakan bahwa “ orang atau korporasi secara melawan hukum dan

18
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP ), Pasal 187
19
R. Soesilo, KUHP Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, Politeia, Bogor, 1986,
hlm 155

21
sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran atau perusakan

lingkungan hidup diancam pidana paling lama penjara sepuluh tahun dan denda

sebanyak lima ratus juta rupiah’.

Peranan dan tanggung jawab untuk menjaga kelestarian sumber daya alam tidak
hanya diberikan terhadap aparatur Negara tetapi juga dibebankan kepada masyarakat
sekitar kawasan hutan tersebut, hal ini sebagaimana yang ditegaskan dalam Peraturan
Pemerintah No. 28 Tahun 1985 Tentang Perlindungan Hutan, Pasal 10 ayat 2
menyatakan bahwa “ masyarakat disekitar hutan memiliki kewajiban dan tanggung
jawab ikut serta dalam usaha pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan“.20

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penulis untuk melakukan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui penyelesaian kasus pembakaran hutan lindung Bukit Suligi

oleh masyarakat perambah di wilayah Rokan Hulu ;

2. Untuk mengetahui faktor penghambat penegakan hukum dalam menanggulangi

terjadinya kejahatan pembakaran hutan lindung Bukit Suligi di wilayah Rokan

Hulu .

Adapun yang menjadi manfaat dalam penulisan penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Penelitian ini bermanfaat untuk memperluas pengetahuan penulis tentang aspek

hukum yang terkait dengan tindak kejahatan khususnya dalam hal pembakaran

hutan lindung ;

2. Penelitian ini dapat digunakan untuk memberikan masukan dan sumbangan

pemikiran bagi civitas akademika khususnya fakultas hukum Universitas Islam


20
Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1985 Tentang Perlindungan Hutan, Pasal 10 ayat 2.

22
Riau yang berminat untuk mengkaji lebih dalam lagi tentang tindak kejahatan

pembakaran hutan ;

3. Untuk memberi masukan bagi pihak - pihak yang terkait.

E. Metode Penelitian

Untuk lebih mempermudah penelitian penulis menggunakan metode penelitian

sebagai berikut :

1. Jenis dan sifat penelitian

Dilihat dari jenisnya penelitian ini tergolongan pada penelitian Observational

Research dengan cara survei langsung kelapangan untuk mendapatkan data primer

yang penulis dapat melalui wawancara dan kuesioner , sedangkan sifat penelitian ini

adalah bersifat deskriptif yaitu menggambarkan tentang penyelesaian kasus

pembakaran hutan lindung Bukit Suligi oleh masyarakat perambah di wilayah Rokan

Hulu serta faktor penghambat penegakan hukum dalam menanggulangi terjadinya

kejahatan pembakaran hutan lindung Bukit Suligi di wilayah Rokan Hulu.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di wilayah hukum Kabupaten Rokan Hulu dengan

alasan dan pertimbangan penulis, bahwa sebagai daerah yang sedang berkembang di

Kabupaten Rokan Hulu banyak terjadinya pembakaran hutan dengan tujuan ekonomi

tanpa mempertimbangkan keadaan alam dan kelestarian alam yang ada, selain hal

tersebut penulis juga bersal dari daerah Rokan Hulu sehingga mempermudah penulis

dalam memperoleh data yang diperlukan untuk penelitian.

23
3. Data dan sumber data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini penulis kelompokan dalam dua

kelompok yaitu :

1. Data Primer adalah data yang penulis peroleh langsung melalui wawancara dan

kuesioner berupa data tentang penyelesaian kasus pembakaran hutan lindung

Bukit Suligi oleh masyarakat perambah di wilayah Rokan Hulu dan faktor

penghambat penegakan hukum dalam menanggulangi terjadinya kejahatan

pembakaran hutan lindung Bukit Suligi di wilayah Rokan Hulu..

2. Data Sekunder, yaitu data yang berasal dari peraturan Perundang-Undangan

yang meliputi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP ), Undang-

Undang No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan, Undang-Undang No. 23

Tahun 1997 Tentang Pengelolahan Lingkungan Hidup, Peraturan Pemerintah

No. 1 tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 41 Tahun 1999

, Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2001 Tentang Pengendalian Kerusakan

Lingkungan Hidup Yang Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan Dan Lahan,

Peraturan Pemerintah No. 45 tahun 2004 Tentang Perlindungan Kehutanan.

4. Populasi dan Responden

Yang menjadi populasi dan responden dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu;

2. Kepala Polres Kabupaten Rokan Hulu ;

24
3. Masyarakat perambah pelaku pembakaran kawasan hutan lindung Bukit Suligi

sebanyak 5 orang.

Mengingat jumlah populasi dan responden berjumlah 7 orang maka penulis

menggunakan metode sensus dalam penelitian ini, dimana keseluruhan populasi yang

ada dijadikan sebagai responden.

5. Alat pengumpul data

Adapun dalam memperoleh data-data yang dipergunakan dalam penelitian ini

penulis menggunakan alat pengumpul data berupa :

1. Kuesioner ialah suatu daftar pertanyaan yang dibuat dan disusun secara

sistematis kemudian diserahkan kepada responden yang terdiri dari masyarakat

perambah pelaku pembakaran kawasan hutan lindung Bukit Suligi sebanyak 5

orang, yang hasilnya diolah untuk data dalam penelitian ini.

2. Wawancara ialah tanya jawab langsung antara penulis dengan responden yang

terdiri dari Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu, Kepala Polres

Kabupaten Rokan Hulu dan anggota Polisi Hutan yang ikut serta dalam

penangkapan pelaku pembakaran hutan dikawasan hutan lindung Bukit Suligi,

guna melengkapi kekurangan data yang ada pada kuesioner yang penulis

sebarkan.

6. Analisis data

Data yang penulis kumpulkan melalui kuesioner penulis sajikan dalam bentuk

tabel (kuantitatif) sedangkan untuk data yang penulis peroleh dari wawancara yang

penulis lakukan, penulis uraikan dalam bentuk uraian kalimat tentang penyelesaian

25
kasus pembakaran hutan lindung Bukit Suligi, dalam penelitian yang penulis lakukan

tersangka kasus pembakaran hutan lindung dikawasan Bukit Suligi ditahan guna

mempertanggung jawabkan perbuatannya, setelah melalui proses hukum maka

dijatuhi sanksi administrasi terhadap pelaku tindakan pembakaran hutan lindung

Bukit Suligi tersebut, adapun faktor penghambat penegakan hukum dalam

menanggulangi terjadinya kejahatan pembakaran hutan lindung Bukit Suligi di

wilayah Rokan Hulu meliputi pelaku pembakaran hutan adalah masyarakat setempat,

kurang tegasnya aparat dalam memberikan sanksi hukum terhadap pelaku serta

rendahnya penegakan hukum secara nyata dan cepat.

Setelah diperbandingkan antara teori yang ada dengan prakteknya maka akan

terlihat persesuaian ataupun pertentangan antara keduanya, selanjutnya penulis

menarik suatu kesimpulan dengan berpedoman kepada cara induktif, dimana penulis

melihat dari hal-hal yang bersifat umum tentang hukum kehutanan di Indonesia dan

khususnya mengenai tindakan pembakaran hutan.

BAB II

TINJAUAN UMUM

26
A. Tinjauan Umum Tentang Pembakaran Hutan Dan Lahan

Kebakaran hutan yang hampir setiap tahun terjadi merupakan salah satu

ancaman terhadap kelestarian hutan di Indonesia, disamping telah mengakibatkan

berbagai kerusakan yang merugikan makhluk hidup yang menggantungkan hidupnya

pada hasil hutan tersebut, peristiwa kebakaran hutan pada umumnya terjadi pada

musim kemarau akibat perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab atas

kelestarian alam.

Pembangunan pada hakekatnya adalah suatu upaya sadar yang dilakukan oleh

masyarakat untuk meningkatkan kwalitas hidup, pembangunan sering dijadikan

alasan pembenar suatu tindakan yang dapat merusak lingkungan, kawasan hutan

ditebang habis dengan alasan untuk pembangunan daerah tersebut tanpa adanya

pertimbangan melalui kebijakan pembangunan dibidang kehutanan.

Pembangunan kehutanan sebagai bagian yang integral dari pembangunan

nasional secara keseluruhan memiliki posisi yang strategis terutama dalam kerangka

pembangunan jangka panjang yang berkaitan langsung dengan aspek pembangunan

yang pada dasarnya menyangkut upaya pengoptimalkan pendayagunan fungsi ganda

yang tertumpu pada kawasan hutan.

Fungsi hutan pada dasarnya modal alam yang dimiliki dan harus

ditransformasikan menjadi modal riil bangsa Indonesia untuk berbagai tujuan yang

antara lainnya yaitu :

27
1. Melestarikan lingkungan hidup untuk kepentingan lokal, daerah , nasional dan
global;
2. Meningkatkan nilai tambah pendapatan nasional, daerah dan pendapatan
masyarakat;
3. Mendorong ekspor non migas dan gas bumi untuk menghimpun devisa Negara
bagi penumpukan modal pembangunan;
4. Menyediakan lapangan pekerjaan untuk menyerap tenaga kerja, terutama
golongan menengah dan golongan bawah dalam upaya turut memberantas
pengangguran dan pengentasan kemiskinan;
5. Mendorong pembangunan di sektor non kehutanan melalui pendayagunaan
sumber daya alam secara rasional dan berkelanjutan.21

Penyalahgunaan fungsi hutan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu

menyebabkan kelestarian terhadap kawasan hutan menjadi terancam, sehingga

pemerintah menetapkan berbagai aturan hukum yang memberikan sanksi hukum

terhadap pelaku pengrusakan kawasan hutan, saat ini maraknya tindakan illegal

logging semakin memprihatinkan kondisi kawasan hutan di Indonesia, hal ini tidak

terlepas dari peranan pelaku usaha dibidang kehutanan.

Korporasi merupakan sabjek hukum selain manusia yang memiliki wujud

sebagai suatu organisasi dengan tujuan tertentu yang bergerak dalam bidang ekonomi,

kejahatan korporasi merupakan suatu tindakan kejahatan yang bersifat organisatoris

yaitu suatu kejahatan yang terjadi dalam konteks hubungan yag kompleks dalam

bingkai struktur.

Dalam banyak hal, korporasi memang menampakan diri sebagai yang

menguntungkan bagi Negara, seperti pembanyaran pajak, penghasil devisa bagi

21
http://zulakrial.blogspot.com

28
Negara dan lain sebagainya, disisi lain perlu diingat bahwa korporasi juga dapat

melakukan kejahatan yang dapat merugikan Negara.

Undang-Undang No. 41 Tahu 1999 Pasal 50 ayat 1 dinyatakan bahwa korporasi

dapat berkedudukan sebagai pelaku tindak pidana dibidang kehutanan, termasuk

dalam tindakan illegal logging yaitu sebagai pihak yang menerima atau membeli

kayu-kayu yang tidak dilengkapi dngan dokumen yang sah.

Titik api atau hot spots yang menyebabkan kebakaran hutan seringkali berasal

dari areal yang dipersiapkan untuk pembukaan lahan atau ladang yang kurang

mendapatkan pengawasan dari pelaku pembukaan lahan sehingga api menyebar

keareal yang tidak termasuk dalam rencana pembukaan lahan tersebut, hal ini dapat

merugikan Negara dan masyarakat sekitar.

Penyebab kebakaran hutan oleh manusia dapat dirinci sebagai berikut :

1. Konversi alam yaitu kebakaran yang disebabkan oleh api yang berasal dari
kegiatan penyiapan lahan untuk pertanian, industri, pembangunan dan lain
sebagainya;
2. Pembakaran vegetasi yaitu kebakara yang disebabkan oleh api yang tidak
terkendali yag dapat terjadi akibat pembukaan areal HTI atau penyiapan lahan
oleh masyarakat;
3. Aktivitas pemamfaatan sumber daya alam yaitu kebakaran yang disebabkan
oleh pembakaran semak belukar guna pembersihan lahan;
4. Pembuatan kanal-kanal dilahan gambut sebagai sarana transportasi kayu.

Untuk mengurangi terjadinya tindakan kebakaran hutan maka diperlukan

beberapa usaha yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan, adapun

langkah-langkah pencegahan kebakaran hutan meliputi pemantauan lokasi rawan

29
kebakaran hutan, melakukan pencegaan terhadap kawasan yang rawan kebakaran

hutan, mempersiapkan peralatan pemadam kebakaran hutan dan lain-lain.22

Dalam mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan peranan tenaga pemadam

kebakaran hutan dan kelengkapan peralatan pemadam kebakaran menentukan

keberhasilan dalam memperkecil kerugian yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan

tersebut, sehingga pengawasan dan kinerja yang baik dari Dinas Kehutanan sangat

diperlukan, selain itu sesuai dengan ketentuan yang berlaku setiap pemegang hak

penguasahaan hutan juga diwajibkan memiliki satuan pengamanan kebakaran hutan.

Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan, Pasal


24 ayat 1 menegaskan bahwa “ dalam rangka pemadaman kebakaran sebagaimana
sebagaimana yang dinyatakan Pasal 20 ayat 1 huruf b, maka setiap pemegang hak
penguasaan hutan wajib melakukan rangkaian tindakan pemadaman kebakaran hutan
dengan cara :
a. Melakukan deteksi terjadinya kebakaran hutan;
b. Mendayagunakan seluruh sumber daya yang ada;
c. Membuat sekat bakar dalam rangka melokalisir api;
d. Memobolisasi masyarakat untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan. 23

Dinas Kehutanan sebagai instansi pemerintah yang memiliki kewenangan untuk

melindungi kelestarian hutan juga memiliki peran aktif dalam mengatasi terjadi

kebakaran hutan, adapun langkah yang harus dilakukan adalah mendeteksi secara dini

kebakaran hutan melalui menara pengawas kebakaran hutan maupun melalui satelit

NOAA dan satelit Himawari.

22
Salim ,H.S, Dasar-Dasar Hukum Kehutanan, Sinar Grafika, Jakarta, 2006, hlm 5
23
Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan, Pasal 24 ayat 1

30
Satelit NOAA adalah satelit yang dapat menangkap tanda awal kebakaran hutan

berupa titik-titik api atau Hot Spots yang sering dipakai untuk memantau daerah-

daerah diwilayah Sumatra dan Kalimantan sebagai daerah rawan kebakaran hutan.24

Satelit Himawari adalah satelit yang dapat menangkap tanda-tanda kebakaran

hutan berdasarkan asap yang ditimbulkan dari kebakaran hutan tersebut.25

Kebakaran hutan pada umumnya disebabkan oleh perbuatan dari pihak-pihak

yang kurang bertanggung jawab dalam melakukan pengelolahan terhadap hasil hutan,

berdasarkan hal tersebut maka secara tegas melalui Undang-Undang No. 41 tahun

1999 tentang Kehutanan Pasal 50 ayat 3 huruf d menyatakan “ setiap orang dilarang

membakar hutan “.26

Kebakaran hutan dan lahan dapat disebabkan oleh faktor alam dan faktor

manusia yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja atau karena kelalaian,

yang merupakan tindak pidana dan mengandung sanksi hukum pidana baik kurung

atau pidana maupun denda, hal ini sebagaimana yang ditegaskan dalam Undang-

Undang No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 78 ayat 3 dan ayat 4.

Ancaman pidana yang dapat dijatuhi terhadap pelaku pembakaran hutan karena

sengaja adalah sesuai dengan ketentuan Pasal 78 ayat 3 Undang-Undang No. 41

24
Haris Surono, Pencegahan Kebakaran Hutan, Pusat Pembinaan dan Penyuluhan Kehutanan dan
Perkebunan, Jakarta, 2000, hlm 8
25
Ibid., halm 9
26
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Pasal 50 ayat 3 huruf d

31
Tahun 1999 tentang kehutanan yaitu pidana penjara paling lama lima belas tahun dan

denda paling banyak lima Milyar rupiah .27

Ancaman pidana karena lalai telah melakukan perbuatan yang dilarang dalam

Pasal 50 ayat 3 huruf d Undang-Undang No 41 Tahun 1999 tentang kehutanan

diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak satu

setengan milyar rupiah.28

Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan selain memberikan

sanksi pidana terhadap pelaku yang dinyatakan melanggar ketentuan Pasal 50

Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan tersebut, juga memberikan

sanksi ganti rugi dan administrasi terhadap pelaku pelanggaran, hal tersebut

sebagaimana yang dinyatakan dalam Pasal 80 ayat 1 dan 2.

Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 80 ayat 1

menyatakan bahwa “ setiap perbuatan melanggar hukum yang diatur dalam Undang-

Undang ini, dengan tidak mengurangi sanksi pidana sebagaimana yang diatur dalam

Pasal 78 , mewajibkan kepada pelaku pelanggaran tersebut untuk membayar ganti

rugi sesuai dengan tingkat kerusakan yang ditimbulkan “.29

Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 80 ayat 2

menyatakan bahwa “ setiap pemegang izin pemanfaatan kawasan hutan,pemanfaatan

jasa lingkungan, izin pemungutan hasil hutan yang diatur dalam Undang-Undang ini,

27
A.A. Hutabarat, Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya, Samudra Intan Rejeki,
Bogor, 2003, hlm 39
28
Ibid., hlm 40
29
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 80 ayat 1

32
apabila melanggar ketentuan diluar ketentuan pidana sebagaimana yang diatur dalam

Pasal 78 dikenakan sanksi administrasi.30

Dalam penegakan hukum terhadap pelaku tindakan pembakaran hutan dan

lahan selain Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dapat juga

diterapkan ketentuan dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang

Pengelolahan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2004

tentang Perlindungan Hutan.

Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolahan Lingkungan Hidup

didalamnya terdapat tiga macam sanksi hukum bagi pelaku pembakaran hutan yang

dapat menimbulkan pencemaran atau perusakan lingkungan hidup yaitu administratif,

sanksi perdata dan sanksi pidana.

1. Sanksi Administratif

Dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolahan Lingkungan

Hidup terdapat tiga jenis sanksi administratif yaitu :

a. Paksaan Pemerintah yaitu berupa tindakan atau perbuatan nyata yang berupa :

- Tindakan untuk mencegah pelanggaran;

- Tindakan untuk mengakhiri pelanggaran;

- Tindakan menanggulangi akibat yang ditimbulkan;

- Tindakan penyelamatan;

- Tindakan pemulihan.

30
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 80 ayat 2

33
b. Uang paksa merupakan tindakan penyelamatan penanggulangan yang

digantikan dengan pembayaran sejumlah uang.

c. Pencabutan izin usaha atau kegiatan, sanksi administrasi tersebut merupakan

sanksi adminstrasi tertinggi yang dapat dikenakan terhadap pelaku perusakan

hutan.

2. Sanksi Perdata

Dalam penerapan sanksi perdata tidak mempersoalkan orang atau pelaku

tindakan perusakan lingkungan hidup tersebut tetapi lebih menekankan kepada

akibat dari tindakan perusakan lingkungan tersebut yang salah satunya adalah

tindakan pembakaran hutan.

3. Sanksi Pidana

Sanksi pidana diberikan kepada pelaku yang mengakibatkan perusakan dan

pencemaran lingkungan hidup yang mana perbuatan tersebut dinyatakan sebagai

perbuatan yang melanggar hukum.

B. Keadaan Umum Kabupaten Rokan Hulu.

Kabupaten Rokan Hulu dengan Ibu kota Pasirpengaraian diresmikan pada

tanggal 5 Desember 1999, daerah yang terletak dalam wilayah Provinsi Riau dan

terbentuk sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Kampar, yang dibentuk

berdasarkan Undang-Undang No. 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten

Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir Kabupaten Siak,

34
Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singgidan Kota Batam,

pada mulanya terbentuk dengan tujuh kecamatan yaitu :

1. Kecamatan Rokan IV Koto;

2. Kecamatan Tandun;

3. Kecamatan Rambah Samo;

4. Kecamatan Rambah;

5. Kecamatan Tambusai;

6. Kecamatan Kepenuhan;

7. Kecamatan Kunto Darussalam.

Pada tahun 2003 Kecamatan di Kabupaten Rokan Hulu bertambah menjadi dua

belas Kecamatan yaitu :

1. Kecamatan Rambah Hilir;

2. Kecamatan Bangun Purba;

3. Kecamatan Tambusai Utara;

4. KecamatanTandun;

5. Kecamatan Kabun.

Secara geografis Kabupaten Rokan Hulu terletak diantara 100° – 101°52´ Bujur

Timur dan 0° - 1°30´ Lintang Utara dan berbatasan dengan :

- Sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Sumatra Utara dan Kabupaten Rokan

HIlir

- Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan XII koto Kampar dan Kecamatan

Bangkinang Barat Kabupaten Kampar

35
- Sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Sumatra Barat

- Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar.

Kabupaten Rokan Hulu memiliki luas ± 7.449,85 Km² atau 7,88 % dari luas

wilayah Provinsi Riau dengan Kecamatan terluas yaitu wilayah Kecamatan Kunto

Darussalam dengan luas 1,432.87 Km² atau 19,23 % dari Luas Keseluruhan

Kabupaten Rokan Hulu, berikut penulis sajikan tabel luas wilayah Kabupaten Rokan

Hulu menurut Kecamatannya.

Tabel II.1
Luas Daerah Kabupaten Rokan Hulu Per Kecamatan
No Kecamatan Luas Wilayah (Km² ) Persentase ( %)
1. Rokan IV Koto 1,151.52 15.46
2. Tandun * - -
3. Kabun * - -
4. Ujung Batu * - -
5. Rambah Samo 249.90 3.35
6. Rambah 396.65 5.32
7. Rambah Hilir 291.15 3.91
8. Bangun Purba 219.59 2.95
9. Tambusai 1,127.50 15.13
10. Tambusai Utara 631.75 8.48
11. Kepenuhan 816.80 10.96
12. Kunto Darussalam 1,432.87 19.23
Jumlah 6,317.73 100.00
Sumber data : Badan Pertanahan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008
Ket : * data tidak tersedia dan kekurangan data dari total luas wilayah adalah
1,132.12 Km²

36
Berdasarkan data registrasi penduduk tercatat jumlah penduduk Kabupaten

Rokan Hulu sebanyak ±346.749 jiwa yang terdiri dari ± 180.506 jiwa laki-laki dan ±

166.243 jiwa perempuan yang tersebar di dua belas Kecamatan yang ada dengan

jumlah penduduk terbanyak didaerah Kecamatan Rambah, Rambah Samo dan

Rambah Hilir karena daerah tersebut merupakan pusat pemerintahan dan

perekonomian Kabupaten Rokan Hulu, berikut penulis sajikan tabel penyebaran

penduduk di Kabupaten Rokan Hulu.

Tabel II.2
Jumlah Persebaran Penduduk Per Kecamatan
No Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah
1. Rokan IV Koto 13.722 12.772 26.544
2. Tandun 11.150 10.227 21.377
3. Kabun 8.185 7.774 15.959
4. Ujung Batu 15.036 14.933 29.696
5. Rambah Samo 11.526 10.446 21.972
6. Rambah 15.345 14.767 30.122
7. Rambah Hilir 14.544 13.477 28.021
8. Bangun Purba 6.623 6.432 13.055
9. Tambusai 20.680 18.183 38.818
10. Tambusai Utara 23.846 20.135 43.981
11. Kepenuhan 24.909 14.080 28.989
12. Kunto Darussalam 24.890 23.062 47.952
Jumlah 180.506 166.243 346.749
Sumber data : BPS Kabupaten Rokan Hulu, Tahun 2008

37
Pendidikan memiliki peranan penting dalam memajukan suatu daerah, kwalitas

sumberdaya manusia tergantung pada kwalitas pendidikannya sehingga guna

meningkatkan kwalitas pendidikan dibutuhkan sarana pendidikan dan penyedian

tenaga pengajar yang baik dan memadai, kondisi pendidikan di Kabupaten Rokan

Hulu masih mengalami permasalahan terutama terbatasnya anggaran daerah untuk

menyediakan prasarana sekolah dan tenaga pengajar sehingga masih adanya anak

usia sekolah yang masih belum sekolah, berikut penulis sajikan tabel perkembangan

pendidikan di Kabupaten Rokan Hulu .

Tabel II.3
Perkembangan Pendidikan Di Kabupaten Rokan Hulu
No Tingkat Pendidikan Jumlah Sekolah Jumlah Murid Jumlah Guru
1. TK 86 3.068 Siswa 249 Guru
2. SD 303 57.289 Siswa 2.996 Guru
3. SLTP 53 11.937 Siswa 865 Guru
4. SMU 18 4.899 Siswa 388 Guru
5. SMK 5 1.204 Siswa 85 Guru
Sumber data : Dinas Pendidikan Kabupaten Rokan Hulu, Tahun 2008

Penggunaan tanah di Kabupaten Rokan Hulu Meliputi untuk bangunan dan

halaman sekitarnya, tegal atau kebun, padang rumput, kolam, hutan, perkebunan ,

sawah dan lahan yang tidak diusahakan, dari 744.945 Ha areal Kabupaten Rokan

Hulu 31, 53 % dipergunakan untuk perkebunan yang dikelolah oleh masyarakat

setempat maupun perusahaan perkebunanan dengan komoditi utama adalah karet,

kelapa sawit dan kopi.

38
Pola pengembangan perkebunan di Kabupaten Rokan Hulu dilakukan melalui

pola swadaya, pola unit pelayanan pengembangan dan pola PIR untuk perkebunan

rakyat sedangkan untuk perkebunan besar dilaksanakan dengan pola PPB-HGU oleh

perusahaan perkebunan baik BUMN maupun swasta dengan komoditi hasil

perkebunan yang dikembangkan oleh perusahaan perkebunan besar ini sebagian besar

adalah kelapa sawit, sedangkan luas hutan di wilayah Kabupaten Rokan Hulu dirinci

menurut fungsinya seluas 214.415,99 Ha, berikut penulis sajikan luas hutan menurut

Kecamatan dan jenis hutan tersebut.

Tabel II.4
Luas Hutan Dan Jenisnya Per Kecamatan
No Kecamatan HDR HDRT HRATR HRAT HRG HTI
1. Rokan IV Koto 34,184.86 23,877.42 - - - -
2. Tandun 12,076.31 7,252.52 - - - -
3. Kabun - - - - - -
4. Ujung Batu - - - - - -
5. Rambah Samo 2,567.81 6,705.47 - - - 710.01
6. Rambah 8,367.71 800.99 - - - 3,824.54
7. Rambah Hilir - - - - - -
8. Bangun Purba - - - - - 2,785.70
9. Tambusai - 8,638.76 - - - -
10. Tambusai Utara - 11,982.95 - 6,500.02 - -
11. Kepenuhan - 1,171.17 7,834.30 6,546.94 2,593.59 -
12. Kunto Darussalam - 426.92 7,283.59 7,840.50 6,528.21 -
Jumlah 57,196.69 60,856.20 15,117.89 20,887.46 9,121.80 -
Sumber data : Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu, Tahun 2008

Salah satu kawasan hutan yang menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Rokan

Hulu khususnya Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu adalah kawasan hutan

39
pendidikan yang terletak dalam kawasan hutan lindung Bukit Suligi, hutan yang

secara administrasi terletak di Kabupaten Rokan Hulu dengan luas 2.183 Ha dengan

memiliki bentuk lahan berupa dataran dan perbukitan dengan tingkat kelerengan

sebesar 72 % dan kawasan landai dengan kecuraman 15-25 %.

Kondisi umum dari tanah didominasi oleh Podsolik atau tanah merah

kekuningan, batuan metamorfik dan batuan sediment, dilihat dari segi iklim kawasan

tersebut beriklim dengan tipe Adan curah hujan sebesar 2.498 mm, penggunaan lahan

sebagian besar untuk pemungkiman penduduk seluas 54 % dari areal tersebut

sedangkan sisanya hutan skunder dengan jenis tanaman meranti, keruing, medang dan

pulai, berikut penulis sajikan tabel keadaan hutan lindung Bukit Suligi Kabupaten

Rokan Hulu.

Tabel II.5
Keadaan Kawasan Hutan Lindung Bukit Suligi Kabupaten Rokan Hulu
No Kegunaan Areal Persentase
1. Pemungkiman 54 %
2. Hutan Skunder 31 %
3. Kebun Sawit Tua 3%
4. Kebun Karet 5%
5. Semak Belukar 7%
Jumlah 100 %
Sumber data : Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu, Tahun 2008

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar wilayah hutan

lindung Bukit Suligi dikuasai oleh masyarakat sebagai penduduk yang sebagian besar

40
mengantungkan hidupnya dengan mengelolah lahan kering dan kebun sawit yang ada,

sehingga aktifitas perambahan hutan semakin meningkat dari tahun ketahun, selain

itu kurangnya pengawasan dari aparat menyebabkan kondisi hutan lindung Bukit

Suligi semakin memprihatinkan karena penduduk memandang kawasan tersebut

sebagai lahan kosong yang tidak ada pemiliknya, pemangkunya ataupun pengelolah.

Kebijakan mengenai pengendalian terhadap kebakaran hutan dan lahan telah

banyak tersedia tetapi dapat dilihat bahwa peraturan tersebut kurang memadai dan

bersifat sektoral, karena peraturan tersebut pada umumnya dikeluarkan oleh Dinas

Kehutanan yang memiliki kekuatan hukum yang relative lemah sehingga peranan

masyarakat sangat penting dalam menanggulangi terjadinya kebakaran hutan dan

lahan yang lebih luas.

41
BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAAN

A. Proses Penyelesaian Kasus Pembakaran Hutan Lindung Bukit Suligi Oleh

Masyarakat Perambah Di Wilayah Kabupaten Rokan Hulu.

Kebakaran hutan yang hampir setiap tahun terjadi di Indonesia merupakan salah

satu ancaman terhadap kelestarian alam di Indonesia, disamping telah mengakibatkan

berbagai kerusakan yang dapat merugikan kebakaran hutan juga mengakibatkan

berkurangnya luas hutan secara drastis di Indonesia, padahal diketahui salah satu

pendapatan defisa Negara adalah kekayaan hasil hutan di Indonesia seperti rotan,

karet, jati dan lain sebagainya.

Penyebab utama meningkatnya kebakaran hutan di Indonesia akhir-akhir ini

adalah karena perbuatan manusia yang kurang bertanggung jawab dalam mengelolah

sumberdaya alam tersebut seperti memanfaatkan api untuk pembersihan lahan

pertanian, perkebunan dan padang pengembalaan tanpa memperhatikan keadaan atau

faktor cuaca yang mempengaruhi tingginya tingkat penyebaran titik api.

Api sebagai unsur yang sering dipergunakan untuk pembukaan lahan sudah

dipakai oleh masyarakat zaman dahulu, maka api dijadikan sarana utama untuk

mempermudah pekerjaan dalam pembukaan hutan, meningkatkan kwalitas lahan,

mengusir satwa liar dan lain sebagainya.31

31
Soeriaatmadja, Dampak Kebakaran Hutan Serta Daya Tanggap Pengelolaan Lingkungan Hidup ,
Gajah Mada Universiti Press, Yogyakarta, 1997, hlm 37

42
Perladangan berpindah-pindah merupakan upaya pertanian tradisional, yang

dalam pembukaan lahan sering digunakan metode pembakaran hutan karena dinilai

sebagai pekerjaan yang capat, praktis dan ekonomis, hasil penelitian para ahli

berdasarkan analisis terhadap arang dari tanah diketahui bahwa penyebab utama

kebakaran hutan adalah manusia yang berawal dari berbagai kegiatan diantaranya :

1. Sistim perladangan tradisional dari penduduk setempat yang berpindah-pindah;

2. Pembukaan hutan oleh pemegang hak pengusahan hutan;

3. Penyebab struktural yaitu kombinasi antara kemiskinan, kebijakan

pembangunan dan tata pemerintahan.32

Unsur kelalaian petani tradisional dalam mempersiapkan lahan untuk pertanian

dengan cara membakar adalah salah satu penyebab terjadinya kebakaran hutan

dikawasan hutan lindung Bukit Suligi yang semulanya dipersiapkan untuk hutan

pendidikan, hal tersebut terjadi akibat kurang terkendalinya penyebaran api oleh

pelaku pembakaran hutan dan tidak adanya pengawasan dari aparat maupun petugas

terkait seperti polisi hutan terhadap tindakan tersebut.

Setiap orang atau badan hukum dalam hal ini perusahaan pemegang hak

penguasaan hutan, industri perkayuan, perkebunan, tidak diperkenankan melakukan

pembakar hutan kecuali dilakukan berdasarkan kewenangan yang diberikan dengan

32
Bambang Pramulardi, Hukum Kehutanan Dan Pembangunan Bidang Kehutanan, Raja Grafindo,
Jakarta, 1996, hlm 51

43
tujuan yang ditentukan seperti untuk persiapan penanaman hutan kembali dan berada

dalam pengawasan pihak yang terkait.33

Adapun kronologis kejadian pembakaran hutan dikawasan Bukit Suligi

Kabupaten Rokan Hulu tersebut adalah dimana pelaku atau tersangka merupakan

masyarakat sekitar yang semulanya berniat untuk membuka lahan pertanian baru

yang nantinya akan ditanami kelapa sawit dan karet, pembukaan lahan tersebut

dilakukan dengan cara pembakaran dengan tujuan untuk mengefisienkan waktu dan

memudahkan petani untuk membersihkan lahan tersebut, guna menghindari

terjadinya kebakaran lahan yang lebih luas dari yang direncanakan pelaku atau

tersangka membawah serta empat orang kerabatnya untuk ikut serta dalam

mengawasi penyebaran api tersebut.

Faktor cuaca yang tidak mendukung untuk kegiatan pembakaran hutan tersebut

menyebabkan penyebaran titik api yang tidak terkendali sehingga membakar kawasan

hutan lindung Bukit Suligi yang semulanya direncanakan sebagai hutan pendidikan

dan baru saja dilakukan penanaman kembali atau reboisasi, akibat tindakan pelaku

tersebut pemerintahan Kabupaten Rokan Hulu khususnya mengalami kerugian

dengan terbakarnya tanaman karet dan mahoni yang baru saja ditanam seluas ± 2 Ha

dikawasan hutan lindung Bukit Suliki Kabupaten Rokan Hulu.

Penulis melalui wawancara dengan Bapak Idram sebagai pihak yang mewakili

Polres Kabupaten Rokan Hulu pada tanggal 6 Juli 2009 mengajukan pertanyaan “

33
Departemen Kehutanan RI, Pemanfaatan Hutan Secara Lestari, Biro Humas Dephut, Jakarta, 1990,
hlm 53

44
Apakah benar telah terjadi penangkapan terhadap para pelaku pembakaran hutan

lindung Bukit Suligi pada tahun 2006 ?, adapun jawaban beliau hal tersebut benar,

Polres Kabupaten Rokan Hulu pada saat kejadian tersebut mendampingi Kasi

Pengamanan Hutan Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu, yang juga didampingi

oleh anggota polisi kehutanan guna memantau keadaan hutan lindung Bukit Suligi,

dalam pemantauan lokasi tersebut didapati lima orang pelaku pembakaran hutan yang

merupakan masyarakat sekitar kawasan hutan yang sedang berusaha memadamkan

api guna menghindari terjadinya penyebaran titik api yang lebih luas dari areal lahan

yang direncanakan.34

Penangkapan pelaku pembakaran hutan lindung bukit Suligi disertai dengan

penyitaan terhadap barang bukti yang berkaitan dengan tindak pidana pembakaran

hutan lindung Bukit Suligi berupa :

1. Dua buah obor yang terbuat dari bambu dan berisi minyak tanah dan memiliki

sumbu dari serabut kelapa yang dipergunakan untuk membakar lahan;

2. Satu buah jirigen kecil yang berisi minyak tanah berukuran dua liter berwarna

putih;

3. Satu buah mancis gas yang berwarna hijau dan dipergunakan untuk membakar

obor.

Adapun para pelaku pembakaran hutan tersebut mengaku bernama :

1. Slamat alias Slamet Bin Abdullha;

2. Suar Tua Bin Suar;


34
Hasil wawancara dengan Kepala Polres Kabupaten Rokan Hulu pada tanggal 6 Juli 2009

45
3. Adi Bin Yoyon;

4. Khairul Anwar Alias Irul Bin Umar;

5. Hairunas Alias Runas Bin Abdullah.

Penangkapan pelaku pembakaran hutan lindung Bukit Suligi tersebut dilengkapi

dengan barang bukti kejahatannya sehingga diperlukan penyidikan lebih lanjut oleh

Polres Kabupaten Rokan Hulu guna pelaksanaan proses hukum selanjutnya karena

perbuatan pembakaran hutan merupakan suatu tindakan yang mengandung unsur

pidana maka kasus tersebut dilimpahkan kepolres Kabupaten Rokan Hulu.

Untuk melengkapi hasil penelitian tersebut melalui wawancara dengan Bapak

Idram sebagai pihak yang mewakili Polres Kabupaten Rokan Hulu pada tanggal 6

Juli 2009 mengajukan pertanyaan “ Apakah tindakan hukum yang dilakukan oleh

Polres Kabupaten Rokan Hulu terhadap para pelaku tindakan pembakaran hutan “?,

adapun jawaban beliau pembakaran hutan dan lahan adalah suatu perbuatan yang

dapat dikategorikan sebagai perbuatan pidana, hal tersebut berdasarkan Pasal 78 ayat

3 Undang-Undang 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.35

Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 78 ayat 3

menyatakan bahwa “ barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 50 ayat 3 huruf d diancam dengan pidana penjara paling lama

lima belas tahun dan denda lima milyar rupiah”.36

35
Hasil wawancara dengan Kepala Polres Kabupaten Rokan Hulu pada tanggal 6 Juli 2009
36
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan , Pasal 78 ayat 3

46
Berdasarkan peraturan Perundang-Undangan tersebut maka pelaku tindak

pembakaran hutan ditangkap untuk dimintai keterangannya sehubungan dengan

perbuatan pidana yang disangkakan, penangkapan dilakukan oleh Polres Kabupaten

Rokan Hulu bersama dengan polisi kehutanan yang pada saat kejadian melihat

perbuatan pelaku pembakaran hutan dikawasan hutan lindung Bukit Suligi Kabupaten

Rokan Hulu.

Polisi kehutanan adalah pejabat yang kepadanya karena sifat pekerjaan

diberikan kewenangan kepolisian untuk mengadakan patroli dalam kawasan hutan,

menerima laporan telah terjadinya tindak pidana yang menyangkut hutan, dan dalam

hal tertanggkap tangannya pelaku wajib menangkap untuk diserahkan kepada pihak

yang berwenang.37

Untuk melengkapi hasil penelitian penulis lebih lanjut mewawancarai pihak

Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu yang diwakili oleh Bapak Khodirin pada

tanggal 8 Juli 2009 dengan pertanyaan “ Apakah benar polisi kehutanan melakukan

penangkapan terhadap para pelaku pembakaran hutan dikawasan hutan lindung Bukit

Suligi ?”, adapun jawaban beliau hal tersebut dibenarkan karena pada tanggal 2

Agustus 2006 pegawai Dinas Kehutan Kabupaten Rokan hulu yang didampingi oleh

anggota polisi kehutanan dan Polres Kabupaten Rokan Hulu sedang turun kelokasi

kejadian untuk memeriksa kerusakan hutan lindung Bukit Suligi dan melihat adanya

gumpalan asap disekitar wilayah hutan lindung Bukit Suligi.38

37
A.A Hutabarat., Op.,Cit., hlm 44
38
Hasil wawancara dengan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu pada tanggal 8 Juli 2009

47
Pihak Dinas Kehutanan tersebut menelusuri sumber asap dan menemukan

masyarakat yang sedang melakukan pembakaran lahan dikawasan hutan lindung

Bukit Suligi, guna mempertanggung jawabkan perbuataannya para tersangka

ditangkap oleh Polres dan petugas polisi kehutanan Kabupaten Rokan Hulu yang

pada saat itu ikut dalam peninjauan kerusakan hutan lindung Bukit Suligi, dan

selanjutnya dilakukan penyidikan.

Penyidikan terhadap pelaku tindakan pengrusakan hutan dapat dilakukan oleh

penyidik polri, pejabat pegawai negeri sipil kehutanan yang memiliki tugas dan

tanggung jawab pembinaan konservasi sumberdaya alam yang diberi wewenang

khusus sebagai penyidik.39

Penulis melalui wawancara dengan pihak Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan

Hulu yang diwakili oleh Bapak Khodirin pada tanggal 8 Juli 2009 lebih lanjut

mengajukan pertanyaan “ Apakah para pelaku melakukan perlawanan pada saat

dilakukan penangkapan ?”, adapun jawaban beliau pada saat penangkapan pelaku

tidak melakukan perlawanan tetapi mencoba untuk menjelaskan bahwa perbuatan

tersebut merupakan salah satu kegiatan perambahan hutan oleh masyarakat yang

bertujuan untuk pertanian guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.40

Penulis melalui koesioner yang disebarkan kepada responden yang terdiri dari

pelaku pembakaran hutan lindung Bukit Suligi mengajukan pertanyaan “ Apakah

Bapak ditangkap oleh Polres dan polisi kehutanan Kabupaten Rokan Hulu pada saat

39
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Pasal 77
40
Hasil wawancara dengan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu pada tanggal 8 Juli 2009

48
terjadinya kebakaran dikawasan hutan lindung Bukit Suligi Kabupaten Rokan Hulu

?”, adapun jawaban beliau adalah :

Tabel III.1
Tentang Penangkapan Oleh Polres dan Polisi Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu
No. Tanggapan Responden Jumlah Persentase
1 Ya 5 orang 100 %
2 Tidak - -
Jumlah 5 orang 100 %
Sumber data : hasil penelitian dilapangan pada tanggal 13 Juli 200941

Tabel diatas menunjukan bahwa responden penulis yang terdiri dari pelaku

pembakaran kawasan hutan lindung Bukit Suligi ditangkap oleh Polres dan Polisi

Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu pada saat terjadinya kebakaran lahan tersebut

dengan tuduhan melanggar ketentuan Undang-Undang No. 41 tahun 1999 tentang

Kehutanan Pasal 50 ayat 3 huruf d, selanjutnya diserahi kepada Polres Kabupaten

Rokan Hulu guna dilakukan pemeriksaan pelaku beserta barang bukti, dalam

pemeriksaan tersebut maka diketahui bahwa empat orang dari pelaku hanya berstatus

sebagai saksi.

Penangkapan terhadap pelaku tindakan pembakaran hutan dan lahan yang

terjadi dalam kasus pembakaran hutan lindung Bukit Suligi merupakan salah satu

upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan

Hulu, sehingga hal tersebut dapat memberikan rasa jera terhadap masyarakat disekitar

kawasan hutan lindung Bukit Suligi.

41
Hasil Koesiner pada tanggal 13 Juli 2009

49
Penulis melalui koesioner yang disebarkan kepada responden lebih lanjut

mengajukan pertanyaan “ Apakah Bapak merupakan pelaku pembakaran hutan

lindung Bukit Suligi di Kabupaten Rokan Hulu ?”, adapun jawaban beliau adalah :

Tabel III.2
Tentang Pelaku Pembakaran Hutan Lindung Bukit Suligi
No. Tanggapan Responden Jumlah Persentase

1 Ya 1 orang 20 %

2 Tidak 4 orang 80

Jumlah 5 orang 100 %

Sumber data : hasil penelitian dilapangan pada tanggal 13 Juli 200942

Berdasarkan berita acara pemeriksaan terhadap pelaku pembakaran dan saksi

dinyatakan bahwa empat orang dari pelaku hanya bertugas sebagai pengawas agar api

tidak menjalar kelahan lainnya, sedangkan pelaku pembakaran lahan tersebut adalah

saudara Kairul Anwar yang bermaksud membakar lahan yang diakui sebagai

miliknya karena telah dikelolah sebelumnya dengan meminta bantuan kepada empat

orang pelaku lainnya untuk mengawasi api agar tidak menjalar kelahan lain.

Penulis melalui koesioner yang disebarkan kepada responden yang terdiri dari

pelaku pembakaran hutan lindung Bukit Suligi mengajukan pertanyaan “ Apakah

Bapak mengetahui bahwa lahan tersebut masih dikuasai oleh Dinas Kehutanan

Kabupaten Rokan Hulu ?”, adapun jawaban beliau adalah :

42
Hasil Koesiner pada tanggal 13 Juli 2009

50
Tabel III.3
Tentang Mengetahui Kepemilikan Lahan Yang Terbakar
No. Tanggapan Responden Jumlah Persentase
1 Ya - -
2 Tidak 5 orang 100 %
Jumlah 5 orang 100 %
Sumber data : hasil penelitian dilapangan pada tanggal 13 Juli 200943

Tabel diatas menunjukan bahwa responden penulis yang disebarkan koesioner

tidak mengetahui bahwa lahan yang terbakar merupakan lahan yang dikuasai oleh

Dinas Kehutanan karena berada dalam kawasan hutan lindung Bukit Suligi

Kabupaten Rokan Hulu tetapi yang diketahui lahan tersebut milik saudara Kairul

Anwar karena beliau yang mengusai dan mengelolah lahan tersebut selama ini.

Untuk melengkapi data dalam penelitian ini penulis mengajukan pertanyaan

melalui wawancara dengan pihak Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu yang

diwakili oleh Bapak Khodirin pada tanggal 8 Juli 2009 penulis mengajukan

pertanyaan “ Apakah lahan yang terbakar tersebut milik Dinas Kehutanan Kabupaten

Rokan Hulu ?”,adapun jawaban beliau lahan tersebut saat ini masih berstatus Hutan

Negara dan tidak boleh dimiliki dan dikuasai atau membakar lahan untuk daerah

pertanian ataupun diperjual belikan.44

Penulis melalui koesioner yang disebarkan kepada responden yang terdiri dari

pelaku pembakaran hutan lindung Bukit Suligi mengajukan pertanyaan “ Apakah

43
Hasil Koesiner pada tanggal 13 Juli 2009
44
Hasil wawancara dengan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu pada tanggal 8 Juli 2009

51
Bapak ditahan di Polres Kabupaten Rokan Hulu sehubungan dengan tindak pidana

yang disangkakan tersebut ?”, adapun jawaban beliau adalah :

Tabel III.4
Tentang Penahanan Pelaku Pembakaran Hutan Lindung Bukit Suligi
No. Tanggapan Responden Jumlah Persentase
1 Ya 1 orang 20 %
2 Tidak 4 orang 80
Jumlah 5 orang 100 %
Sumber data : hasil penelitian dilapangan pada tanggal 13 Juli 200945

Berdasarkan berita acara pemeriksaan tersebut, maka saudara Kairul Anwar

dinyatakan sebagai tersangka pelaku pembakaran kawasan hutan lindung Bukit Suliki

Kabupaten Rokan Hulu dan selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap saudara

Kairul Anwar yang diduga keras melakukan perkara tindak pidana pembakaran lahan

yang mengakibatkan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup sebagaimana yang

dimaksud dalam Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 50

huruf d dengan ketentuan pidana Pasal 78 ayat 3 dan ayat 4.

Berdasarkan bukti permulaan yang cukup diduga sebagai tersangka, telah

melakukan tindakan pidana pembakaran lahan yang mengakibatkan pengrusakan

lingkungan hidup maka dilakukan penahanan terhadap tersangka guna

mempertanggung jawabkan perbuatannya didepan hukum dan tersangka ditempatkan

dirumah tahanan Polres Kabuapaten Rokan Hulu selama dua puluh hari terhitung dari

45
Hasil Koesiner pada tanggal 13 Juli 2009

52
02 agustus 2006 sampai dengan 21 agustus 2006 dan empat orang pelaku lainnya

hanya berstatus sebagai saksi dalam pembakaran hutan lindung Bukit Suligi.

Berhubung tindak pidana tersebut berada dalam kawasan hutan dan areal

reboisasi Dinas Kehutan Kabupaten Rokan Hulu, maka untuk mempermudah

penanganan kasus tersebut dan berdasarkan surat dari Dinas Kehutan Kabupaten

Rokan Hulu, kasus pembakaran hutan dan lahan ini dilimpahkan oleh Polres

Kabupaten Rokan Hulu kepada Dinas Kehutanan untuk penyidikan lebih lanjut.

Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 77 ayat 2 huruf b

menyatakan bahwa “ pejabat penyidik pegawai negeri sipil yang memiliki tanggung

jawab dan lingkup tugasnya meliputi pengurusan hutan berwenang untuk melakukan

pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana yang menyangkut

hutan, kawasan hutan dan hasil hutan.46

Penulis melalui wawancara dengan Bapak Idram sebagai pihak yang mewakili

Polres Kabupaten Rokan Hulu pada tanggal 6 Juli 2009 mengajukan pertanyaan “

Apakah benar kasus tersebut dilimpahkan kepada Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan

Hulu ?”, adapun jawaban beliau hal tersebut benar pelimpahan perkara tersebut

berdasarkan surat dari Dinas kehutanan Kabupaten Rokan Hulu yang meminta

perkara ini ditangani oleh Dinas Kehutanan guna mempermudah penyidikan dan

penyelesaian kasus pembakaran hutan lindung Bukit Suligi tersebut.47

46
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Pasal 77 ayat 2 huruf b
47
Hasil wawancara dengan Kepala Polres Kabupaten Rokan Hulu pada tanggal 6 Juli 2009

53
Untuk melengkapi data dalam penelitian ini maka melalui wawancara dengan

pihak Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu yang diwakili oleh Bapak Khodirin

pada tanggal 8 Juli 2009 penulis mengajukan pertanyaan “ Apakah alasan Dinas

Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu untuk menangani perkara pidana yang

disangkakan terhadap pelaku pembakaran hutan lindung Bukit Suligi ?”, adapun

jawaban beliau perbuatan pidana tersebut berada diareal hutan lindung Bukit Suligi

yang menjadi daerah kewenangan Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu untuk

menindaklanjuti perbuatan tersangka, sehingga Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan

Hulu meminta pelimpahan perkara dari Polres kepada Dinas Kehutanan Kabupaten

Rokan Hulu.48

Dengan adanya pelimpahan perkara tersebut maka kasus ini ditangani oleh

Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu, dan menjadi kewenangan Dinas Kehutanan

untuk menyelesaikan perkara tersebut maka masa penahanan tersangka di Polres

berakhir dan tersangka dikeluarkan dari rumah tahanan Polres Kabupaten Rokan

Hulu.

Berdasarkan surat permohonan yang diajukan tersangka kepada Dinas

Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu sehubungan dengan permohonan tersangka untuk

tidak ditahan dalam rumah tahanan dan bersedia menuruti ketentuan hukum yang

berlaku dalam penyelesaian kasus tersebut, maka tersangka pembakaran hutan dan

lahan dikawasan hutan lindung Bukit Suligi Kabupaten Rokan tidak lagi berada

dalam rumah tahanan.


48
Hasil wawancara dengan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu pada tanggal 8 Juli 2009

54
Kasus pembakaran lahan dikawasan hutan lindung Bukit Suligi yang dilakukan

oleh saudara Khairul Anwar merupakan kasus pembakaran lahan yang dilakukan oleh

masyarakat setempat dengan tujuan pembukaan lahan untuk menunjang

perekonomian, sehingga berdasarkan alasan tersebut maka diminta kepada Dinas

Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu untuk dapat menyelesaikan kasus tersebut, dan

memberikan jaminan kepada pemerintah bahwa tindakan tersebut tidak terulang

kembali.

Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu, berdasarkan permohonan yang

diajukan oleh saudara Khairul Anwar menyerahkan perkara tersebut kepada penyidik

Pegawai Negeri Sipil Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu, dengan adanya

permohonan saudara Khairul Anwar tersebut Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan

Hulu memberikan surat peringatan dan denda sebagai wujud pertanggung jawaban

dari saudara Kairul Anwar terhadap perbuatannya yang merusak kawasan hutan

lindung Bukit Suligi.

Penulis telah menguraikan bagaimana proses penyelesaian kasus pembakaran

hutan lindung Bukit Suligi oleh masyarakat perambah di wilayah Rokan Hulu,

dimana berdasarkan surve yang penulis lakukan kasus tersebut dilakukan oleh

masyarakat setempat yang pada awalnya berniat membuka lahan untuk pertanian

yang akan ditanami karet dan kelapa sawit, tetapi kebakaran lahan tersebut meluas

dari areal yang direncanakan dan membakar kawasan hutan lindung Bukit Suligi,

untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya maka pelaku harus melalui proses

hukum sebagaimana yang telah ditetapkan.

55
B. Faktor Penghambat Penegakan Hukum Dalam Menanggulangi Terjadinya

Kejahatan Pembakaran Hutan Lindung Bukit Suligi Di Wilayah Rokan

Hulu.

Setiap usaha yang dilakukan tidaklah selalu mendatangkan sesuatu hasil yang

memuaskan, tetapi dalam suatu usaha tersebut seringkali timbul masalah yang

menjadi penghambat berhasilnya suatu usaha dalam mencapai tujuan yang

diinginkan, hal tersebut juga terjadi dalam usaha pemerintah untuk menanggulangi

terjadinya kejahatan pembakaran hutan di Indonesia, walaupun di Indonesia terdapat

berbagai aturan hukum yang melarang tindakan tersebut tetapi pelaksanaan dari

aturan tersebut tidak berjalan dengan baik.

Adapun upaya yang dilakukan pemerintah dalam mencegah terjadinya tindakan

kebakaran hutan dan lahan meliputi :

1. Memantapkan instansi terkait dengan membentuk sub direktorat kebakaran


hutan dan lembaga non struktural lainnya;
2. Melengkapi perangkat dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran
hutan;
3. Memberikan pelatihan terhadap aparat dan masyarakat sekitar kawasan hutan
tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan;
4. Mensyaratkan pembukaan lahan tanpa bakar terhadap pemberian izin terhadap
pelepasan kawasan hutan bagi pembangunan non kehutanan. 49

Pemerintah dalam menanggulangi terjadinya kejahatan pembakaran hutan

seringkali terkendala dalam penegakan hukum terhadap para pelaku kejahatan

pembakaran hutan karena pelaku cendrung berbuat mengatas namakan tanah adat

49
Soemarsono., Op.,Cit., hlm 38

56
atau persekutuan yang telah diakuinya turun temurun sehingga sulit menjerat pelaku

tersebut dengan aturan hukum yang berlaku.

Adapun faktor penghambat dalam penegakan hukum untuk menanggulangi

terjadinya kejahatan pembakaran hutan khususnya hutan lindung dikawasan Bukit

Suligi adalah kurangnya sosialisasi pemerintah mengenai fungsi hutan lindung Bukit

Suligi kepada masyarakat sekitar.

Kawasan hutan lindung Bukit Suligi Kabupaten Rokan Hulu memiliki luas

2.183 Ha dengan pembagian 31 % merupakan hutan pendidikan yang ditanami antara

lain karet dan mahoni sedangkan 69 % berbentuk perkebunan yang dimiliki oleh

pemegang hak pengelolahan hutan maupun masyarakat, semak belukar dan

pemungkiman, karena pertumbuhan penduduk yang semakin pesat kawasan hutan

lindung Bukit Suligi banyak didatangi masyarakat perambah dan mendirikan

pemukiman baru.

Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu telah mengupayakan untuk

memulihkan kondisi hutan dengan merehabilitasi keadaan hutan kepada keadaan

semula yaitu mengembalikan areal non hutan menjadi hutan dengan cara reboisasi

sehingga fungsi hutan lindung Bukit Suligi sebagai hutan pendidikan dapat

difungsikan kembali.

Berdasarkan hal tersebut diatas melalui wawancara dengan pihak Dinas

Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu yang diwakili oleh Bapak Khodirin pada tanggal

8 Juli 2009 penulis mengajukan pertanyaan “ Apakah faktor yang mendominasi

kerusakan hutan lindung Bukit Suligi ?, adapun jawaban beliau rendanya kesadaran

57
masyarakat terhadap pelestarian kawasan hutan lindung Bukit Suligi sehingga banyak

masyarakat yang melakukan perambahan maupun pembakaran kawasan hutan untuk

dijadikan lahan pertanian dan pemukiman.50

Rendahnya kesadaran masyarakat tentang fungsi dari hutan lindung

memperlihatkan bahwa masyarakat kurang berperanserta dalam menjaga kelestarian

hutan, hal ini menunjukan bahwa masyarakat tidak menggunakan haknya, adapun

masyarakat berhak untuk :

1. Memanfaatkan hutan dan hasil hutan sesuai dengan peraturan Perundang-


Undangan yang berlaku;
2. Mengetahui rencana peruntukan hutan dan hasil hutan serta informasi tentang
kawasan hutan;
3. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan hutan baik
langsung maupun tidak langsung.51

Kurangnya pengawasan aparat terhadap kelestarian hutan lindung Bukit Suligi

juga dapat menjadi faktor penyebab terjadinya perusakan hutan tersebut oleh

mayarakat, ada beberapa faktor yang menjadi penghambat dalam penegakan hukum

untuk menanggulangi terjadinya kejahatan pembakaran hutan lindung Bukit Suligi di

wilayah Rokan Hulu yaitu :

1. Pelakunya adalah masyarakat yang mendiami wilayah sekitar kawasan hutan

lindung Bukit Suliki

Masyarakat merupakan suatu organisasi yang memiliki kekuatan yang kuat

untuk menguasai suatu wilayah sehingga sulit untuk dipaksa meninggalkan daerah

yang telah dikuasainya, berdasarkan dari data Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan

50
Hasil wawancara dengan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu pada tanggal 8 Juli 2009
51
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan , Pasal 68

58
Hulu , 16,67 % masyarakat perambah kawasan hutan lindung Bukit Suligi menolak

untuk mengembalikan lahan tersebut, 45,24% masyarakat perambah bersedia

mengembalikan lahan dengan ganti rugi, sedangkan sisanya 38,09% masyarakat

perambah yang menyadari dan bersedia mengembalikan lahan, besarnya jumlah

masyarakat yang telah mengakui bahwa lahan tersebut miliknya maka sulit bagi

hukum untuk menjerat pelaku pembakaran hutan dikawasan hutan lindung Bukit

Suligi karena pelaku merasa bahwa lahan yang dibakar merupakan lahan yang telah

dimiliki dan dikuasainya, seperti halnya yang terjadi terhadap saudara Kairul Anwar

yang mengakui bahwa lahan yang dibakar adalah miliknya dan tidak termasuk

kawasan hutan lindung Bukit Suligi.

Penulis melalui koesioner yang disebarkan kepada responden yang terdiri dari

pelaku pembakaran hutan lindung Bukit Suligi mengajukan pertanyaan “ Apakah

Bapak mengetahui batas wilayah yang termasuk kawasan hutan lindung Bukit Suligi

?”, adapun jawaban beliau adalah :

Tabel III.5
Tentang Batas Kawasan Hutan Lindung Bukit Suligi
No. Tanggapan Responden Jumlah Persentase
1 Ya - -
2 Tidak 5 orang 100 %
Jumlah 5 orang 100 %
52
Sumber data : hasil penelitian dilapangan pada tanggal 13 Juli 2009

52
Hasil Koesiner pada tanggal 13 Juli 2009

59
Tabel diatas menunjukan bahwa responden penulis tidak mengetahui batas

wilayah yang termasuk kawasan hutan Lindung Bukit Suligi karena tidak adanya

tanda batas yang menyatakan lahan tersebut dalam kawasan hutan lindung Bukit

Suligi dan telah menjadi kebiasaan masyarakat setempat untuk mengelolah lahan

kosong menjadi pemukiman maupun lahan pertanian.

Upaya pembinaan keamanan dalam menanggulangi terjadinya tindakan

pembakaran hutan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah ataupun dari

instansi terkait tetapi peran serta dan kesadaran dari masyarakat sebagai pihak yang

lebih dekat dengan kawasan hutan sangat penting dalam menjaga kelestarian hutan

khususnya dikawasan hutan yang dikategorikan sebagai hutan lindung, sehingga hal

tersebut dapat meminimalisir terjadinya tindakan pembakaran hutan, hal ini

sebagaimana yang ditegaskan oleh Kepala Dinas Kehutan Kabupaten Rokan Hulu

yang menjelasakan bahwa kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kebakaran

hutan terlihat dari kegiatan penyimpangan yang dilakukan masyarakat dalam

membuka lahan atau ladang dengan cara membakar.

Kegiatan membakar kawasan yang akan dijadikan ladang atau perkebunan pada

dasarnya dilakukan karena pertimbangan ekonomi, pembukaan lahan dengan cara

membakar lebih praktis dan murah dari pada pembukaan lahan dengan menebang.

2. Kurang tegasnya aparat dalam memberikan sanksi terhadap pelaku pembakaran

kawasan hutan lindung Bukit Suligi .

Tindakan hukum bagi pelaku peyebab kebakaran hutan yang menganut sanksi

pidana dan denda, akan memperlemah kekuatan hukum untuk membuat jera pelaku

60
pembakaran hutan karena bagi pelaku yang memiliki kekayaan tentunya hukuman

denda yang dijatuhi terasa meringankan dan tidak menimbulkan efek jera, selain itu

pelaksanaan otonomi daerah dapat meningkatkan terjadinya penyalagunaan

kekuasaan karena pemerintah daerah lebih memprioritaskan pendapatan asli daerah

sehingga denda yang diberikan oleh pelaku dapat dipergunakn untuk pembangunan

maupun rehabilitasi terhadap lahan hutan yang terbakar.

Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu merupakan instansi pemerintah yang

memiliki kewenangan untuk menindak setiap pelaku yang merusak kawasan hutan,

termasuk terhadap masyarakat yang melakukan pembakaran untuk membuka lahan

baru, berdasarkan wawancara dengan pihak Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu

yang diwakili oleh Bapak Khodirin pada tanggal 8 Juli 2009 penulis mengajukan

pertanyaan “ Apakah pelaku pembakaran hutan dikawasan hutan lindung Bukit Suligi

pernah mendapatkan sanksi hukum ?”, adapun jawaban beliau terhadap pelaku

pembakaran hutan yang tertangkap akan diproses sesuai aturan hukum yang berlaku

tetapi kendala yang dihadapi adalah aparat sulitnya menangkap pelaku pembakaran

hutan karena tindakan tersebut sering tidak diketahui terjadinya sehingga sulit untuk

mencari pelaku pembakaran kawasan hutan tersebut.53

Masyarakat pada umumnya kurang berperan aktif dalam membantu aparat

untuk menegakan hukum, masyarakat cendrung menutupi tindakan pelaku karena

adanya ikatan rasa kebersamaan terhadap pelaku tindakan pembakaran hutan, hal ini

menjadi salah satu faktor penghambat bagi aparat dalam memberikan sanksi hukum
53
Hasil wawancara dengan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu pada tanggal 8 Juli 2009

61
terhadap pelaku tindakan pembakaran hutan, pelaku pembakaran hutan seringkali

tidak dapat dijerat dengan sanksi pidana yang dapat menimbulkan rasa jera sehingga

perbuatan tersebut tidak terjadi kembali.

Kegiatan pembakaran untuk pembukaan lahan dapat dilakukan sepanjang

mendapat izin dari aparat dan mendapatkan pengawasan dari unit pemadam

kebakaran hutan yang telah dilengkapi dengan sarana dan prasara pemadaman

kebakaran hutan.

Apabila petugas mengetahui pelaku pengrusakan hutan tersebut, maka kendala

yang dihadapi adalah tidak dapatnya menghukum suatu perbuatan masyarakat yang

mengatas namakan kepentingan orang banyak terhadap tindakan yang dilakukan

karena pada umumnya pembakaran hutan yang terjadi bertujuan untuk membuka

lahan baru yang berhubungan dengan kepentingan perekonomian masyarakat.

Penulis melalui wawancara dengan pihak Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan

Hulu yang diwakili oleh Bapak Khodirin pada tanggal 8 Juli 2009 mengajukan

pertanyaan “ Apakah Bapak menghadapi kendala dalam penegakan sanksi hukum

terhadap pelaku pembakaran hutan ?”, adapun jawaban beliau kendala yang dihadapi

adalah tidak mudahnya melakukan penangkapan terhadap warga setempat karena

masyarakat memiliki kesatuan yang kuat untuk saling melindungi kepentingan

anggota masyarakat lainnya, sehingga pelaku biasanya hanya diberikan peringatan

bahwa perbuatan tersebut dilarang dan ada sanksi hukumnya.54

54
Hasil wawancara dengan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu pada tanggal 8 Juli 2009

62
Kegagalan pemerintah dalam menanggulangi terjadinya kebakaran hutan salah

satunya disebabkan oleh manajemen hutan di Indonesia yang kurang baik sehingga

larangan pembukaan lahan dengan syarat tanpa bakar masih saja dilanggar,serta

penegakan hukuman denda dan kurungan tidak pernah ditimpakan kepada pelaku

pembakaran hutan dan lahan.55

Upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan yang selama ini belum

efektif dan tidak memberikan hasil yang optimal tidak semata-mata menjadi tanggung

jawab pemerintah tetapi kesadaran dari masyarakat diwilayah sekitar hutan

merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pemerintah menanggulangi terjadinya

kebakaran hutan karena peran serta masyarakat yang aktif dalam menjaga kawasan

hutan tentunya akan mempermudah pemerintah menyelesaikan persoalan kebakaran

hutan.

3. Rendahnya penegakan hukum secara nyata dan cepat

Pada prinsipnya penegakan hukum dalam kasus kebakaran hutan dan lahan

tidaklah menjadi kewenangan dan tanggung jawab sepihak dari Dinas Kehutanan

tetapi juga harus didukung oleh aparat penegak hukum lainnya seperti kepolisian

dalam penyelidikan dan badan peradilan dalam memutuskan suatu perkara tindak

pidana pembakaran hutan.

Pelaku tindakan pembakaran hutan seringkali tidak mendapatkan sanksi hukum

yang lebih berat sesuai dengan ketentuan Undang-Undang dan tidak adanya peradilan

yang cepat terhadap pelaku tindakan pembakaran hutan tersebut, sehingga sanksi
55
Antung Deddy., Op.,Cit., hlm 7

63
hukum yang telah ditentukan dalam Undang-Undang tidak menimbulkan rasa jera

terhadap pelaku tindakan pembakaran hutan, selain itu tidak tersosialisasinya

peraturan Perundang-Undangan tersebut kepada masyarakat menjadi alasan bagi

pelaku untuk tidak mengetahui adanya ketentuan dan larangan sebagaimana yang

diatur dalam peraturan Perundang-Undangan tersebut.

Pemerintah melalui peraturan Perundang-Undangan menegaskan bahwa setiap

kerusakan yang terjadi terhadap hutan yang disebabkan oleh perbuatan manusia

maupun keadaan alam harus diperbaiki guna menjaga kelestarian alam, hal tersebut

sebagaimana yang ditegaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2001 tentang

Pengendalian Kerusakan Atau Pencemaran Lingkungan Hidup Yang Berkaitan

Dengan Kebakaran Hutan Dan Lahan.

Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kerusakan Atau

Pencemaran Lingkungan Hidup Yang Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan Dan

Lahan, Pasal 1 ayat 4 dinyatakan bahwa “ pengendalian kerusakan atau pencemaran

lingkungan hidup adalah upaya pencegahan, penanggulangan serta pemulihan

kerusakan lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan.56

Adapun strategi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu dalam

menanggulangi terjadi kebakaran hutan dan lahan meliputi :

1. Melakukan pengawasan yang lebih ketat, menegakan hukum secara nyata dan
tepat serta menjatuhkan sanksi terhadap pelaku pembakaran hutan;
2. Memperbanyak petugas pengawas yang meliputi polisi hutan dan petugas
pengamanan lapangan;

56
Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kerusakan Atau Pencemaran
Lingkungan Hidup Yang Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan Dan Lahan, Pasal 1 ayat 4

64
3. Membuat kanal-kanal guna mencegah kebakaran hutan yang lebih luas;
4. Mensosialisasi metode kebakaran hutan terkendali kepada masyarakat yang
ingin melakukan perambahan hutan ;
5. Menyebarkan pamflet, brosur ataupun palang mengenai bahaya kebakaran
hutan serta kerugian yang ditimbulkan;
6. Membuat posko penanggulangan kebakaran hutan diwilayah penduduk sekitar
lokasi rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, serta lain sebagainya.57

Penerapan larangan pembakaran hutan dan lahan harus dilaksanakan secara

tegas oleh pemerintah karena tanpa penerapan yang tegas aturan hukum yang dibuat

tidak akan menghasilkan rasa jera kepada pelaku yang telah terbukti melanggar

peraturan, penegakan hukum harus diberlakukan terhadap semua pihak .

Data dari Dirjen perlindungan dan konvervasi alam menunjukan bahwa

kebakaran yang terjadi di wilayah Indonesia banyak dilakukan oleh pengusaha

pemegang hak pengusahan hutan ( HPH ), yang melakukan usahanya dengan cara

tebang habis, pemerintah juga harus memberikan sanksi hukum yang tegas terhadap

pemegang HPH yang melakukan cara tebang habis dengan pembakaran tersebut,

sehingga masyarakat dapat melihat adanya rasa keadilan pemerintah dalam

penegakan hukum tersebut, karena berdasarkan penelitian faktor terjadinya kebakaran

hutan adalah pembukaan kawasan hutan oleh pemegang HPH dan peladangan

berpindah-pindah yang dilakukan oleh masyarakat sekitar kawasan hutan.

Penulis telah menguraikan faktor penghambat penegakan hukum dalam

menanggulangi terjadinya kejahatan pembakaran hutan lindung Bukit Suligi, dimana

faktor penghambat tersebut meliputi, pelaku adalah masyarakat setempat sehingga

57
Embiyarman, Strategi Manajemen Kebakaran Hutan Dan Lahan , Diklat Dinas Kehutanan
Kabupaten Rokan Hulu, 2005

65
pemerintah kesulitan dalam menegakan hukum karena masyarakat mengakui bahwa

lahan tersebut dalam penguasaannya, kurang tegasnya aparat dalam memberikan

sanksi terhadap pelaku pengrusakan kawasan hutan serta rendahnya penegakan

hukum secara nyata dan cepat.

66
BAB IV

PENUTUP

Setelah penulis menguraikan hasil penelitian yang penulis lakukan dalam bab hasil

penelitian dan pembahasan, maka akhirnya dapat ditarik suatu kesimpulan dan

selanjutnya penulis tanggapi dengan memberikan saran-saran , adapun kesimpulan

dan saran-saran tersebut adalah sebagai berikut :

A. Kesimpulan

1. Adapun proses penyelesaian kasus pembakaran hutan lindung Bukit Suligi oleh

masyarakat perambah, meliputi, penangkapan pelaku pembakaran kawasan

hutan lindung Bukit Suligi, penyerahan pelaku kepada kepolisian , penyidikan,

penahanan tersangka pembakaran hutan, karena kasus tersebut berada dalam

tanggung jawab dan kewenangan Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu

maka untuk penyidikan lebih lanjut kasus tersebut dilimpahkan kembali kepada

Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu dan tersangka dikeluarkan dari rumah

tahanan Polres Kabupaten Rokan Hulu sebelum jangka waktu penahanannya

berakhir, selanjutnya penyidikan dilakukan oleh Dinas Kehutanan Kabupaten

Rokan Hulu, dengan adanya pengakuan dan pernyataan bersalah dari pelaku

serta perbuatan pelaku bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau

menunjang perekonomian keluarga maka Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan

Hulu memberikan surat peringatan dan denda terhadap perbuatan pelaku.

67
2. Adapun faktor penghambat penegakan hukum dalam menanggulangi terjadinya

kejahatan pembakaran hutan lindung Bukit Suligi di wilayah Rokan Hulu yaitu

pelaku adalah masyarakat setempat sehingga sulit untuk menjatuhkan sanksi

terhadap perbuatan tersebut karena masyarakat memiliki kekuatan untuk

mengusai suatu lahan yang telah diakuinya selama turun temurun, kurang

tegasnya aparat dalam memberikan sanksi terhadap pelaku pembakaran

kawasan hutan lindung Bukit Suligi, serta rendahnya penegakan hukum secara

nyata dan cepat.

B. Saran

1. Kepada Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu dan masyarakat penulis

memberikan saran untuk dapat menegakan hukum dengan tegas dan seadil-

adilnya terhadap setiap pelaku pengrusakan hutan karena perbuatan tersebut

dapat merugikan generasi yang akan datang, selain itu penulis juga

menyarankan Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu agar dapat

mensosialisasikan bahaya kebakaran hutan dan lahan kepada masyarakat dan

setiap masyarakat yang akan melakukan tindakan pembakaran lahan untuk

dapat meminta izin dari aparat terkait guna mendapatkan pengawasan sehingga

tidak memperluas penyebaran titik api.

2. Kepada petugas Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu disarankan untuk

dapat berbuat sesuai dengan aturan hukum yang berlaku dan menindak secara

tegas setiap tindakan pengrusakan hutan yang dilakukan oleh masyarakat.

68
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Buku-buku

A.A. Hutabarat, Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya, Samudra
Intan Rejeki, Bogor, 2003;

Alam Setia Zein, Hukum Lingkungan, Konservasi Hutan Dan Segi-Segi Pidana,
Rineka Cipta, Jakarta, 1996 ;

Antung Deddy, Tanggung Jawab Para Pihak Dalam Kaitannya Dengan Kebakaran
Hutan Dan lahan, Bapedal, Pekanbaru, 2001;

Bambang Pramulardi, Hukum Kehutanan Dan Pembangunan Bidang Kehutanan,


Raja Grafindo, Jakarta, 1996;

Embiyarman, Strategi Manajemen Kebakaran Hutan Dan Lahan , Diklat Dinas


Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu, 2005 ;

F. Gunarwan Suratmo, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, Gaja Mada


University Press, Yogyakarta, 2004;

Haris Surono, Pencegahan Kebakaran Hutan, Pusat Pembinaan dan Penyuluhan


Kehutanan dan Perkebunan, Jakarta, 2000;

-----------------, Pengendalian Kebakaran Hutan, Pusat Pembinaan dan Penyuluhan


Kehutanan dan Perkebunan, Jakarta, 1999;

Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 2000;

R. Soesilo, KUHP Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal,


Politeia, Bogor, 1986 ;

Salim H.S, Dasar-Dasar Hukum Kehutanan, Sinar Grafika, Jakarta, 2002;

Soeriaatmadja, Dampak Kebakaran Hutan Serta Daya Tanggap Pengelolaan


Lingkungan Hidup , Gajah Mada Universiti Press, Yogyakarta, 1997

Dokumentasi

69
Manual Dasar-Dasar Pengendalian Kebakaran Hutan, Pusat Diklat Kehutanan, Bogor,
2000;

Pencegahan Kebakaran Hutan Bagi Lembaga Swadaya Masyarakat, Pusat Diklat


Kehutanan, Bogor, 2002;

Penyuluhan Pengendalian Kebakaran Hutan, Pusat Diklat Kehutanan, Bogor, 2002;

Kamus

Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1982;

Peraturan Perundang-Undangan

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP );

Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan;

Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolahan Lingkungan Hidup ;

Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1985 Tentang Perlindungan Hutan;

Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2001 Tentang Pengendalian Kerusakan Atau


Pencemaran Lingkungan Hidup Yang Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan Dan
Lahan;

Peraturan Pemerintah No. 45 tahun 2004 Tentang Perlindungan Kehutanan.

70
LAMPIRAN I

KOESIONER

A. JUDUL PENELITIAN

PENYELESAIAN KASUS PEMBAKARAN HUTAN LINDUNG BUKIT

SULIGI OLEH MASYARAKAT PERAMBAH DI WILAYAH ROKAN

HULU.

B. PELAKSANA PENELITIAN

NAMA : MELAN SILVA

NPM : 041010330

FAKULTAS : HUKUM

C. PETUNJUK PENGISIAN

1. Daftar pertanyaan ini disebarkan adalah untuk kepentingan penulis guna

penyusunan skripsi di fakultas Hukum Universitas Islam Riau;

2. Mohon bantuan bapak / ibu untuk menjawab pertanyaan yang ada dibawah ini

untuk kepentingan karya ilmiah yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan

politik;

3. Kejujuran Bapak / ibu dalam mengisi kuesioner ini sangat membantu

keberhasilan dalam penelitian ini.

71
D. DAFTAR PERTANYAAN

1. Apakah Bapak ditangkap oleh Polres dan polisi kehutanan saat terjadinya

kebakaran dikawasan hutan lindung Bukit Suligi Kabupaten Rokan Hulu ?

a.Ya b. Tidak

2. Apakah Bapak merupakan pelaku pembakaran hutan lindung Bukit Suligi di

Kabupaten Rokan Hulu ?

a.Ya b. Tidak

3. Apakah Bapak mengetahui bahwa lahan tersebut masih dikuasai oleh Dinas

Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu ?

a.Ya b. Tidak

4. Apakah Bapak ditahan di Polres Kabupaten Rokan Hulu sehubungan dengan

tindak pidana yang disangkakan tersebut ?

a.Ya b. Tidak

5. Apakah Bapak mengetahui batas wilayah yang termasuk kawasan hutan lindung

Bukit Suligi ?

a. Ya b. Tidak

72
LAMPIRAN II

DAFTAR WAWANCARA

Daftar wawancara dengan Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu.

1. Apakah benar polisi kehutanan melakukan penangkapan terhadap para pelaku

pembakaran hutan dikawasan hutan lindung Bukit Suligi ?

2. Apakah para pelaku melakukan perlawanan pada saat dilakukan penangkapan ?

3. Apakah lahan yang terbakar tersebut milik Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan

Hulu ?

4. Apakah alasan Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hulu untuk menangani

perkara pidana yang disangkakan terhadap pelaku pembakaran hutan lindung

Bukit Suligi ?

5. Apakah faktor yang mendominasi kerusakan hutan lindung Bukit Suligi ?

6. Apakah pelaku pembakaran hutan dikawasan hutan lindung Bukit Suligi

pernah mendapatkan sanksi hukum ?

7. Apakah Bapak menghadapi kendala dalam penegakan sanksi hukum terhadap

pelaku pembakaran hutan ?

73
LAMPIRAN III

DAFTAR WAWANCARA

Daftar wawancara dengan Kapolres Kabupaten Rokan Hulu.

1. Apakah benar telah terjadi penangkapan terhadap para pelaku pembakaran

hutan lindung Bukit Suligi pada tahun 2006 ?

2. Apakah tindakan hukum yang dilakukan oleh Polres Kabupaten Rokan Hulu

terhadap para pelaku tindakan pembakaran hutan ?

3. Apakah benar kasus tersebut dilimpahkan kepada Dinas Kehutanan Kabupaten

Rokan Hulu ?

74