Anda di halaman 1dari 9

Keperawatan Bencana Terhadap Pengidap Penyakit Kronis

Bencana dapat meningkatkan resiko kambuhnya penyakit yang diderita oleh

pasien dan memburuknya kondisi penyakit akibat kekurangan gizi dan air bersih,

terkena paparan suhu ekstrim dan agen infeksi.Menurut Japanese Red Cross Society

dan PMI (2009) penanganan kebutuhan berdasarkan kebutuhan pada

kelompokpenyakit kronis adalah :

A. KarakteristikdariPengidapPenyakitKronis

Penyakit jangka panjang ini terjadi akibat kurangnya aktivitas fisik, kurang

gizi, merokok, dan konsumsi alcohol berlebihan. Penyakit kronis mengakibatkan

ketrbatasan dan ketidakmampuan indivisdu menjalankan aktivitas sehari-hari dan

perkiraan WHO sekitar 63% kematian di dunia adalah penyebab dari penyakit

kronis.

B. Dampak yang ditimbulkan oleh bencana kepada pengidap penyakit kronis

1) Penyakit kronis mengakibatkan penurunan fisik yan berlangsung dalam jangka

panjang, sekaligus menurunkan daya tahan terhadap keadaan kritis, sehingga

mudah dirugikan secara fisik karena bencana.

2) Kemungkinan besar penyekit itu kambuh atau menjadi lebih parah ketika

hidup dipengungsian atau ketika memulai kehidupan sehari-hari lagi.

3) Bagi yang memiliki resiko penyakit kronis, perubahan kehidupan yang

disebabkan oleh bencana akan menjadi pemicu meningkatnya kemungkinan

munculnya penyakit kronis sebagai penyakit dari kebiasaan/gaya hidup

C. Ciri Khas dari Pengidap Penyakit Kronis

1) Perubahan struktur kehidupan dan penyakit kronis


Istilah “kronis ” memiliki arti “berlangsung lama”, maka penyakit

kronis diartikan sebagai “penyakit yang gejalanya tidak keras namun

prosesnya lama, sulit diobati, dan membutuhkan pengobatan dalam waktu

yang sangat panjang walaupun bersifat bisa disembuhkan.

Dikarenakan pola kehidupan berubah, maka meningkat presentase

orang-orang yang beresiko terkena penyakit kronis disetiap lapisan generasi.

Selain itu semakin tua usia seseorang, maka semakin tinggi presentase

pengidap penyakit kronis, dan kebanyakan memiliki gejala komplikasi dari

beberapa penyakit. Oleh karena itu, orang lansia tidak hanya tinggi persentase

pengidap penyakit kronis, tetapi kebanyakan terjangkit beberapa penyakit

sekaligus.

Perubahan struktur seperti ini sudah meluas diseluruh dunia, maka

semakin penting penanganan terhadap penyakit kronis sebagai masalah

kesehatan. Dimanapun lokasi bencananya, perawat perlu bertugas dan

mengingat keberadaan orang yang mengidap penyakit kronis di semua lapisan

generasi dan kemungkinan besar mereka terkena beberapa penyakit termasuk

komplikasi.

2) Pengobatan dan perawatan untuk penyakit kronis

Kebanyakan metode pengobatan penyakit kronis dikaitkan dengan

kehidupan sehari-hari, maka bisa dikatakan bahwa kehidupan itu sendiri

merupakan proses pengobatan. Yang paling sering adalah meminum obat-

obatan. Namun diperlukan pengobatan yang lain seperti pengobatan melalui

makanan (seperti diabetes: membatasi kalori, tekanan darah tinggi: membatasi

konsumsi garam, penyakit ginjal: membatasi kensumsi protein), pengobatan


melalui oleh raga (untuk obesitas/ kegemukan dan diabetes), pengobatan

melalui istirahat (untuk penyakit ginjal, lever, dan jantung).

Diharapkan orang yang bersangkutan melakukan melaksanakan

metode pengobatan didalam kehidupan dan mengontrolnya, dan dilaksanakan

secara terus-menerus. Namun demikian, kebiasaan hidup seperti makan dan

kegiatan dipengaruhikuat oleh latar belakang budaya. Peranan utama dari

spesialis medis adalah membantu agar orang yang bersangkutan dan

keluarganya melaksanakan metode pengobatan didalam kehidupan sehingga

mereka bisa melaksanakan manajemen diri sendiri secara subjektif, dan

berusaha untuk melakukannya secara rutin.

D. Keperawatan kepada pengidap penyakit kronis pada saat bencana

1) Tingkat prioritas saat bencana

CiriKhas Kelompok yang


tergolong
(1) Kelompokrentandala Dibutuhkanbantuanuntukm Lanjutusia,
mhalpergerakan/berti enggerakkantubuh penyandangcacatfis
ndakpadasaatbencana ik,
pasiensakit/luka,
bayi, anak-anak,
pasienpenyakitkron
is
(2) Kolompokrentandala Dibutuhkanbantuanuntukm Penyandangcacatfi
mhaladaptasipadasaat emahamikondisidanmenga sik/mental, bayi,
bencana mbilkeputusan. anak-
Dibutuhkanbantuanuntukbe anak,penggunakurs
radaptasipadakondisi yang irodadanalatpernap
ada asanbuatan,
pasienpenyakitkron
is
(3) Kelompokrentandala Dibutuhkanbantuanuntukm Penyandangcacatpe
mhalinformasipadasaa endapatkaninformasidanpet ndengaran,
tbencana ukaraninformasi penglihatan, turis
(wisatawan), orang
asing (tidak
,mengertibahasares
mi)

2) Sifat rentan dari pengidap penyakit kronis saat bencana

1) Kelompok rentan dalam hal pergerakan/bertindak saat bencana

Diantara pengidap penyakit kronis banyak yang terganggu

pergerakan tubuh karena kesulitas napas ketika bergerak, kelesuan fisik,

gizi buruk, dan rasa lemas yang berat, ada juga yang mengalami

penurunan sifat kekebalan terhadap pergerakan tubuh. Pada saat bencana,

perlu mengungsi untuk menyelamatkan nyawa atau pindah ketempat

pengungsian untuk sementara atau dalam jangka panjang, maka pada saat

itu mereka membutukan bantuan pada pergerakan fisik.

2) Kelompok rentan dalam hal adaptasi pada saat bencana

Tidak sedikit orang yang berpenyakit kronis dalam jangka panjang

sudah memiliki komplikasi, kebanyakan orang seperti ini

mempertahankan keadaan penyakit yang terkotrol dengan

mengkombinasikan metode pengobatan melalui makanan, olah raga, dan

konsumsi obat. Namun demikian jika tidak obat dan makanan yang sesuai

dengan pengobatansetelah terjadi bencana, maka tidak akan bisa

melakukan metode pengobatan seperti sediakala, sehingga keseimbangan

yang diusahakan terkontrol mudah buyar, dan kondisi mudah terganggu.

Kerugian dari bencana dan kehidupan di pengungsian yang terlalu

lama akan meningkatkan kemungkinan untuk memperparah penyakit

kronis secara akut, juga dapat menimbulkan kegelisahan, maka semakin

besar beban mental, sehingga efek dari dari kondisi itu muncul sebagai

kondisi penyakit kronik yang memburuk. Orang yang mengidap penyakit


kronis berada pada kondisi kemampuan adaptasi pada keadaan kritisnya

mengalami penurunan, maka mudah terkena dampak fisik daru bencana.

E. Keperawatan pada saat bencana pada pengidap penyakit kronis

1) Dukungan perawatan pada fase akut (sampai sekitar 1 bulan setelah bencana)

Yang terpenting pada fase ini adalah berkeliling diantara orang untuk

menemukan masalah kesehatan mereka dengan cepat dan mencegah penyakit

mereka memburuk. Perawat harus memeriksa dengan seksama sambil

mengingat terdapat kemungkinan mereka terjangkit beberapa penyakit

termasuk komplikasi pada setiap kelompok usia, karena perubahan lingkungan

hidup dipengungsian bisa memperparah penyakit kronis melalui tekanan

psikologis dan infeksi.

Penanganan yang harus dilakukan segera adalah terhadap pasien

dengan gangguan pernapasan yang tidak bisa membawa keluar tabung

oksigen, dan terhadap pasien denga terapi dialysis. Selain itu, pasien dapat

jatuh pada situasi penyakit yang memb uruk karena peningkatan stress mental

yang disertai kegelisahan, susah tidur, atau karena makan yang tidak

mencukupi.

Penting juga perawat memberikan dukungan pada pasien untuk

memastikan apakah mereka diperiksa dokter dan minum obat dengan teratur.

Karena banyak obat-obatan komersial akan didistribusikan ketempat

pengungsian, maka muncullah resiko bagi pasien yang mengonsumsi obat

tersebut tanpa memperhatikan kecocokan kombiansi antara obat tersebut dan

obat yang diberikan dirumah sakit.

a) Dukungan perawatan bagi pasien diabetes


(1) Mengkonfirmasi apakah pasien bersangkutan harus minum obat untuk

menurunkan kandungan gula darah (contoh:insulin) atau tidak, dan

identifikasikan obat apa yang dimiliki pasien tersebut.

(2) Mengkonfirmasikan apakah pasien memiliki penyakit luka fisik atau

infeksi, dan jika ada, perlu pengematan dan perawatan pada gejala

infeksi (untuk mencegah komplikasi kedua dari penyakit diabetes)

(3) Memahami situasi menejemen diri melalui kartu penyakit diabetes

(4) Memberikan intruksi tertentu mengenai konsumsi obat, makanan yang

tepat, dan memberikan pedoman mengenai manajemen makanan

(5) Mengatur olah raga dan relaksasi yang tepat.

b) Dukungan perawatan bagi pasien gangguan pernapasan kronis

(1) Konfirmasikan volume oksigen yang tepat dan mendukung untuk

pemakaian tabung oksigen untuk berjalan yang dimilikinya dengan

aman

(2) Menghindari narcosis CO2 dengan menaikkan konsentrasi oksigen

karena takut terjadi peningkatan dysphemia

(3) Mengatur pemasokan tabung oksigen dan transportasi jika pasien

tersebut tidak bisa membawa sendiri

(4) Membantu untuk manajemen obat dan olah raga yang tepat

(5) Mencocokan lingkungan yang tepat (contoh: suhu udara panas/ dingin,

dan debu)

2) Dukungan perawatan pada fase kronis sampai fase restorasi (jangka

menengah-panjang: sejak 1 bulan sampai 2 atau 3 tahun kemudian)

Pada fase bencana ini, pedoman dalam kehidupan, perawatan

lingkungan, pencegahan wabah penyakit, dan penanganan pada gejala stress


kronis dibutuhkan bagi pasien penyakit kronis untuk mencegah manajemen

diri yang tidak teratur, penyakit infeksi, kehidupan yang tidak teratur, penyakit

infeksi, kehidupan yang tidak teratur, dan kematian yang tidak diketahui orang

lain. Pada fase ini yang terpenting adalah mengunjungi tempat pengungsian

dan pemukiman sementara untuk melaksanakan perawatan kesehatan sebagai

patrol, dan mengatur kerjasama antara tim medis dan kelompok pendukung.

Penting juga membentuk komunitas oada korban dan membantu

aktivitas independen mereka seperti penyelenggaraan acara. Dengan ini, bisa

mencegah kematian tanpa diketahui orang lain. Pelaku yang melaksanakan

manajemen penyakit kronis bukan staf medis, tapi pasien itu sendiri dengan

keluarganya.

a) Dukungan perawatan bagi pasien diabetes

(1) Mendukung manajemen diri seperti makanan dan olah raga

(2) Deteksi dini dan pencegahan komplikasi sekunder dari infeksi, serta

system peredaran yang disebabkan oleh penyakit diabetes

(3) Dukungan psikologis untuk mengurangi stress (termasuk keluarganya)

b) Dukungan perawatan bagi pasien gangguan pernapasan kronis

(1) Penyesuaian pada lingkungan dan dukungan untuk manajemen diri

(2) Dukungan psokologis

(3) Kerjasama dengan pemasok mengenai peralatan oxygen walker

(4) Mencegah narcosis CO2

F. Perawatan pada pengidap penyakit kronis saat bencana

1) Fase persiapan

a) Membina hubungan dengan lembaga yang menangani tentang lansia

b) Membuat pemetaan tempat tinggal lansia


c) Membuat rencana emergensi untuk lansia seperti jalur evakuasi khusus

dan transpotasi yang dibutuhkan

d) Menyediakan informasi dalam bentuk format yang sesuai untuk lamsia

e) Mengembngkan sistem dukukangan home service.

2) Perawatan pada fase akut

Dimulai dari terjadinya bencana sampai 1 bukan setekah bencana.

Prioritas yang diberikan meliputi pengkajian riwayat kesehatan dan

pengobatan, intervensi langsung sesuai masalah, dukungan psikologis,

memfasilitsi klien mendapatkan penanganan medis yang sesuai.

3) Perawatan pada fase kronis/ restorasi

Dimulai sejak 1 bulan hingga 2 atau 3 tahun setelah bencana. Tindakan

perawatan adalah perawatan lingkungan, pencegahan penyakit, penanganan

stress, dan meningkatkan kemampuan self care pasien.


DAFTAR PUSTAKA

Adelman, D.S, and Legg, T.J. (2008). Disaster Nursing: A Handbook for Practice. New
York: Jones & Bartlett Learning

Veenema, T.G. (2013). Disaster Nursing and Emergency Preparedness For Chemical,
Biological, and Radiological Terrorism and Other Hazards 3 ed. New York:
Springer Publishing Company, LLC