Anda di halaman 1dari 3

ANALISIS JURNAL

Jurnal yang berjudul Assessment and management of constipation in older


people oleh Sue Woodward tahun 2012 adalah sebuah penelitian yang dilakukan
untuk mengkaji dan mengetahui manajemen dalam mengatasi konstipasi pada
lansia. Peneliti melakukan uji terhadap penyebab dan tanda gejala penyakit ini dan
peran perawat yang dapat dilakukan untuk memberikan promosi terkait kebiasaan
memelihara usus sehat. Penelitian dilakukan pada populasi lansia yang diketahui
sering memiliki masalah pada pencernaan. Menurut Bosshard et al tahun 2004
menyatakan bahwa 15-50% lansia teridentifikasi menderita konstipasi. Pada
dasarnya penyakit ini bersifat subyektif dan adanya persepsi yang berbeda-beda
pada individu yang mengalami penyakit ini. Populasi lansia mengalami penyakit
degeneratif yang bermacam-macam akibat penuaan yang terjadi. Adanya
penurunan kinerja fisiologis tubuh pada lansia menyebabkan berbagai penyakit
mudah terjadi pada kelompok lansia. Tanda gejala konstipasi yang terjadi
memiliki efek negatif yang sangat signifikan apabila diikuti oleh kecemasan dan
depresi yang terjadi pada lansia itu sendiri. Koch dan Hudson (2000)
mendemostrasikan adanya lansia yang terisolasi dan mengalami ansietas
menyatakan bahwa memilih terapi laksatif untuk menangani konstipasi yang
diderita setiap harinya. Ini terlihat tidak berbahaya tetapi sangat serius untuk
mendapat perhatian. Konstipasi dapat di terapi berdasarkan tanda gejala yang
muncul dan pemeriksaan pada penyebabnya itu sendiri sehingga tidak
mengandalkan laksatif yang sifatnya pengobatan jangka pendek. Penelitian ini
dilakukan untuk mengkaji secara detail dan merumuskan manajemen yangtepat
pada lansia dalam mengatasi konstipasi yang diderita. (PROBLEM)
Intervensi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melakukan
pengkajian terhadap faktor-faktor yang dapat meningkatkan angka kejadian
konstipasi pada lansia serta terapi yang dapat memanajemen penanganan
konstipasi tersebut. Pengkajian menurut Norton 2004 dilakukan berdasarkan tanda
gejala pada pencernaan meliputi frekuensi BAB, mukus, proses mengejan,
perasaan tidak puas saat defekasi, adanya perdarahan atau tidak saat defekasi,
lamanya proses defekasi khususnya tidak membukanya jalan feses, adanya
tindakan darurat pembuangan feses yang dilakukan di perut seperti misal
Kolostomi dan pengkajian yang lainnya. Pengkajian yang selanjutnya dilakukan
setelah pengkajian riwayat adalah pemeriksaan fisik khususnya pada sistem
pencernaan. Peneliti memfokuskan pada bagian tubuh mana saja yang merupakan
prioritas pada kasus konstipasi seperti misal pemeriksaan Anorectal yang
abnormal yaitu adanya Hemoroid dan sebagainya. Uji yang dilakukan dapat
mengkaji jumlah sumbatan yang ada pada rectum dan memeriksa keadaan sfingter
anus. Perawat harus melakukan inspeksi pada kondisi perianal dan kulit
disekitarnya untuk memastikan adanya lesi yang muncul. (INTERVENSI)
Manajemen yang dikemukakan pada penelitian ini yang pertama yaitu
adanya modifikasi gaya hidup. Pola makan pada lansia adalah hal pertama yang
menjadi fokus perawat untuk memastikan bahwa serat yang trkandung di
dalamnya cukup Kemudian posisi lansia saat melakukan defekasi juga menjadi
fokus perawat. Latihan ringan juga dapat menjadi gaya hidup yang baik apabila
lansia ingin menyehatkan pencernaannya. Manajemen kedua yaitu pengurangan
pengobatan pada kasus konstipasi. Berbagai jenis laksatif yang beredar dengan
berbagai jenis memiliki efek masing-masing. Intervensi lainnya yang dijalaskan
dalam penelitian ini adalah umpan balik biologis yang dilakukan untuk mengkaji
strategi perubahan perilaku. Umpan balik biologis yang difokuskan pada usus ini
dapat menjadi terapi untuk kostipasi idiopatik kronik dimana pasien berfikir untuk
defekasi yang efektif dengan menjepit pada dinding otot perut dan relaksasi
efektif pada otot pelvis. Intervensi terbaru lainnya adalah irigasi transanal untuk
memastikan keadaan rectum, sigmoid dan kolon desenden dalam keadaan kosong
sehingga dapat mencegah konstipasi dan defekasinya akan lancar.
(INTERVENSI)
Penelitian lain yang dilakukan terkait dengan konstipasi adalah penelitian
oleh Laurentius Aswin Pramono dkk melalui artikelnya yang berjudul Paradigm
on Chronic Constipation: Pathophysiology, Diagnostic, and Recent Therapy.
Pada penelitian ini dilakukan penelitian terkait paradigma konstipasi yang
meliputi patofisiologi, pemeriksaan diagnostic dan terapi terbaru. Mekanisme
patofisiologis saat ini menunjukkan pergeseran paradigma dari idiopatik atau
fungsional menuju neuropatologi kolon yang belum bersesuaian dengan modalitas
diagnostik dan terapi yang tersedia. Studi menggunakan biopsi usus untuk
membantu membuktikan adanya mekanisme patologis ini belum dilakukan pada
manusia. Oleh karena itu masih banyak penelitian terkait topik ini perlu dilakukan
untuk membangun landasan dasar patofisiologi yang kokoh akan adanya
etiopatologi neuron enterik. Untuk kedepannya, penelitian translasional
dibutuhkan untuk meningkatkan modalitas diagnostik dan terapeutik berdasarkan
patofisiologi ini. Terapi yang dikemukakan pada penelitian ini hampir sama
dengan penelitian sebelumnya. Pada penelitian ini juga dijelaskan adanya terapi
farmakologis dan non farmakologis. Terapi non farmakologis dapat berupa
perubahan gaya hidup, penkes tentang peningkatan serat, peningkatan aktivitas
fisik, dan rutin defekasi. Terapi farmakologis yang dibahas juga mengenai
macam-macam laksatif. Salah satu perbedaannya pada terapi farmakologis terbaru
yang di kemukakan pada penelitian ini adalah pengobatan Neurothropin 3 yang
dapat menstimulus pertumbuhan dan fungsi sistem saraf pencernaan.
(COMPARISON)
Hasil dan kesimpulan yang didapat dari kedua Jurnal ini adalah bahwa
kasus konstipasi merupakan kasus yang perlu dilakukan pengkajian secara
mendetail. Pengkajian yang dilakukan akan mendapatkan hasil riwayat apa yang
diderita oleh klien dan apa saja gaya hidup yang dijalani. Pengkajian akan
menjadi dasar bagi perawat dan peneliti dalam melakukan suatu penyusunan
manajemen penanganan konstipasi dengan berbagai terapi yang tersedia. Terapi
farmakologis dan non farmakologis yang tersedia merupakan pilihan bagi
penderita dan peran perawat sebagai konselor dibutuhkan supaya mencegah
terjadinya kekronisan pada penyakit konstippasi ini. (OUTCOME)