Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Salah satu langkah dalam pencapaian target MDG’s (Goal ke-4) adalah menurunkan

kematian anak menjadi 2/3 bagian dari tahun 1990 sampai pada 2015. Berdasarkan Survei

Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), Studi Mortalitas dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun ke

tahun diketahui bahwa diare masih menjadi penyebab utama kematian balita di Indonesia.

Penyebab utama kematian akibat diare adalah tata laksana yang tidak tepat baik di rumah

maupun di sarana kesehatan. Untuk menurunkan kematian karena diare perlu tata laksana

yang cepat dan tepat (Depkes, 2011).

Menurut data kementerian kesehatan, angka kematian bayi akibat diare pada tahun

2014 paling tinggi dimiliki oleh provinsi jawa barat. Jawa barat menempati posisi kedua

untuk penemuan kasus diare pada balita tahun 2014 (Riskesda, 2014).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) pada

tahun 2007, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka kejadian diare

adalah perilaku cuci tangan pakai sabun. Karena perilaku tersebut dapat menurunkan hampir

separuh kasus diare. Namun saat ini hanya sekitar 17% anak usia sekolah yang mencuci

tangan pakai sabun dengan benar, padahal anak usia tersebut rentan terhadap penyakit seperti

diare (Depkes, 2009). Hal ini mengindikasikan bahwa perilaku cuci tangan pakai sabun yang

merupakan suatu upaya yang mudah, sederhana, murah, dan berdampak besar bagi

pencegahan penyakit menular seperti diare ternyata belum menjadi kebiasaan pada anak usia

sekolah padahal anak diusia tersebut rentan terhadap penyakit tersebut.

Sabun cuci tangan berantiseptik merupakan salah satu alternatif guna mengurangi

kejadian diare pada balita dan anak. Salah satu zat aktif yang umum digunakan adalah
triclosan. Triclosan (Tcl) adalah suatu agen antimikroba yang mempunyai spektrum aksi yang

luas (dapat membunuh bakteri, jamur (mold) dan microorganisme lainnya). Tcl membunuh

bakteri dengan cara menghambat enzim yang berfungsi dalam biosintesis lemak (Ngo, 2005).

Namun apa jadinya jika ternyata penggunaan sabun berantiseptik ini justru mengandung zat

yang dapat menyebabkan bakteri pathogen ternyata resisten terhadap antiseptik tersebut.

Banyak pihak telah meragukan keamanan penggunaan sabun antiseptik. Menurut penelitian

FDA (Food & Drugs Administration, BPOM Amerika), triclosan merupakan salah satu dari

penyebab terciptanya bakteri yang resisten. Oleh karena itu diperlukan antiseptik alami yang

bisa membunuh bakteri namun tidak menyebabkan resisten.

Kecombrang merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung antibakteri.

Umumnya masyarakat menggunakan kecombrang sebagai bahan masakan, bahkan untuk

mengobati luka. Kandungan yang terdapat dalam Kecombrang adalah senyawa fenolik,

flavonoid, minyak atsiri, saponin, terpena, asam organik tanaman, asam lemak, ester asam

lemak tertentu. Penggunaan minyak atsiri pada kecombrang dapat dimanfaatkan sebagai

antiseptik alami (Soetjipto dkk, 2009).

Beberapa golongan fenol seperti flavonoid, tanin dan senyawa fenol lainnya berfungsi

sebagai alat pertahanan bagi tumbuhan untuk melawan mikroorganisme patogen (Hayet, et

al.,2008). Berdasarkan penelitian bunga kecombrang bermanfaat sebagai antimikroba, hal ini

dapat diketahui dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh (Naufalin, 2005). Hasil

penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak bunga kecombrang dengan etil asetat dan

metanol mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan kapang pada makanan terutama

bakteri patogen penyebab penyakit. Hal ini dikuatkan dengan penelitian bunga kecombrang

yang telah dilakukan oleh (Setiyani, 2010) yang menunjukkan bahwa bunga kecombrang

dengan konsentrasi 50% memiliki aktivitas antibakteri terhadap Bacillus cereus maupun

Eschericia coli.
Selain itu bunga kecombrang memiliki kandungan saponin, yang dapat dimanfaatkan

sebagai sabun. Sehingga secara alami kecombrang dapat menghasilkan sabun yang tentunya

ramah lingkungan karena busanya terbentuk secara alami. (Tampubolon, dalam naufalin

2005).

Berdasarkan hal diatas, penulis tertarik untuk menguji efektifitas konsentrasi larutan

sabun cair bunga kecombrang dalam menghambat pertumbuhan bakteri di tangan.

1.2.Rumusan Masalah

1.2.1. Apakah ada pengaruh larutan bunga kecombrang sebagai sabun cair dalam

menurunkan total bakteri di tangan

1.2.2. Apakah konsentrasi larutan bunga kecombrang sebagai sabun cair efektif dalam

menurunkan total bakteri di tangan

1.3.Tujuan penelitian

1.3.1 Tujuan umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi

larutan kecombrang sebagai sabun cair dalam menurunkan total bakteri pada

tangan

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Untuk mengetahui pengaruh total bakteri di tangan

1.3.2.2 Untuk mengetahui konsentrasi larutan bunga kecombrang sebagai sabun cair

yang efektif dalam menurunkan total bakteri di tangan

1.4.Manfaat penelitian

1.4.1. Manfaat untuk peneliti

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi bagi peneliti

untuk terus mengembangkan hasil penelitian

1.4.2. Manfaat untuk instansi


Hasil penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan ide dan pemikiran

terhadap pengembangan ilmu dan teknologi selanjutnya.

1.4.3. Manfaat untuk masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu solusi untuk menyelesaikan

permasalahan diare pada anak dan balita yang berkembang saat ini.

1.5.Ruang Lingkup

Ruang Lingkup keilmuan penelitian ini merupakan ilmu kesehatan lingkungan bab

penyakit berbasis lingkungan. Sasaran penelitian ini berupa masyarakat terutama anak

usia dibawah 12 tahun. Waktu penelitian dilakukan dari bulan januari 2017 sampai

dengan bulan februari 2017. Metode yang digunakan adalah perhitungan koloni bakteri

dalam media agar yang sebelumnya media agar telah ditempeli tangan yang sudah dicuci

dengan menggunakan sabun cair bunga kecombrang.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Escherichia coli

Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang pendek yang

memiliki panjang sekitar 2 µm, diameter 0,7 µm, lebar 0,4-0,7µm dan bersifat anaerob

fakultatif. E. coli membentuk koloni yang bundar, cembung, dan halus dengan tepi

yang nyata (Smith-Keary dalam kusuma, 2010)

E. coli adalah anggota flora normal usus. E. coli berperan penting dalam sintesis

vitamin K, konversi pigmen-pigmen empedu, asam-asam empedu danpenyerapan zat-

zat makanan. E. coli termasuk ke dalam bakteri heterotrof yang memperoleh makanan

berupa zat oganik dari lingkungannya karena tidak dapat menyusun sendiri zat organik

yang dibutuhkannya. Zat organik diperoleh dari sisa organisme lain. Bakteri ini

menguraikan zat organik dalam makanan menjadi zat anorganik, yaitu CO2, H2O,

energi, dan mineral. Di dalam lingkungan, bakteri pembusuk ini berfungsi sebagai

pengurai dan penyedia nutrisi bagi tumbuhan (Ganiswarna, dalam kusuma 2010).

2.2.Etlingera eliator, sp (Kecombrang)

Tumbuhan kecombrang (Etlingera eliator) merupakan tumbuhan yang

tersebar cukup luas di Indonesia. Penggunaan Etlingera eliator sebagai bahan obat

sangat banyak ragamnya. Tumbuhan ini digunakan sebagai bahan pangan dan juga

dapat digunakan untuk pengobatan (Antoro, dalam ningtyas 2010).

Kecombrang termasuk dalam divisi spermatophyta, subdivisi angiospermae,

kelas monocotyledone, bangsa zingiberales, suku 5 zingiberaceae, marga Nicolaia,

dan jenis Nicolaia speciosa Horan. Setiap daerah mempunyai nama khusus untuk
kecombrang, misalnya Kala (Gayo), Puwar kijung (Minangkabau), Kecombrang

(Jawa Tengah), Honje (Sunda), Atimengo (Gorontalo), Katimbang (Makasar),

Salahawa (Seram), Petikala (Ternate dan Tidore). Kecombrang secara umum juga

disebut sebagai Kantan di wilayah Malaya (Sudarsono, dalam ningtyas 2010).

Tanaman kecombrang merupakan tanaman tahunan yang berbentuk semak

dengan tinggi 1-3 m. Tanaman ini mempunyai batang semu, tegak, berpelepah,

membentuk rimpang, dan berwarna hijau. Daunnya tunggal, lanset, ujung dan pangkal

runcing tetapi rata, panjang daun sekitar 20-30 cm dan lebar 5-15 cm, pertulangan

daun menyirip, dan berwarna hijau. Bunga kecombrang merupakan bunga majemuk

yang berbentuk bongkol dengan panjang tangkai 40-80 cm. Panjang benang sari ± 7,5

cm dan berwarna kuning. Putiknya kecil dan putih. Mahkota bunganya bertaju,

berbulu jarang dan warnanya merah jambu. Biji kecombrang berbentuk kotak atau

bulat telur dengan warna putih atau merah jambu. Buahnya kecil dan berwarna coklat.

Akarnya berbentuk serabut dan berwarna kuning gelap (Syamsuhidayat, dalam

ningtyas ,2010).

2.3.Manfaat bunga kecombrang

Kecombrang dapat dimanfaatkan sebagai sabun dengan dua cara:

mengosokkan langsung batang pohon honje ke tubuh dan wajah atau dengan

mememarkan pelepah batang daun honje hingga keluar busa yang harum yang dapat

langsung digunakan sebagai sabun. Tumbuhan ini juga dapat digunakan sebagai obat

untuk penyakit yang berhubungan dengan kulit, termasuk campak. Bunga pokok ini

yang berwarna merah muda banyak digunakan sebagai gubahan hiasan manakala

tunas bunga ini dijadikan bahan memasak dalam masakan Melayu seperti laksa.

Tumbuhan ini mengandungi banyak bahan antioksidan yang amat baik untuk

kesehatan (Infotek, 2009).


Berdasarkan penelitian, kecombrang bermanfaat sebagai antimikroba.

Antimikroba adalah bahan yang bisa mencegah pertumbuhan bakteri, kapang dan

khamir pada makanan. Hal ini telah menunjukkan bahwa ekstrak bunga kecombang

dari etil asetat dan etanol yang telah mampu menghambat 7 pertumbuhan jenis bakteri

yaitu Stapyllocaccus aures, L.monocytogenes, Bacillus cereus, S. Typhimurium, E

Coli, A Hydrophila dan P aeruginosa. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas

antibakteri bunga kecombrang antara lain pH, NaCl (garam), dan pemanasan. Pada

pH asam aktivitas anti bakteri bunga kecombrang lebih ampuh dibanding pH basa (8-

9). Penambahan NaCl dalam jumlah tertentu akan meningkatkan aktivitas

antibakterinya. Meskipun dipanaskan pada suhu 100ºC sampai 30 menit, antibakteri

pada kecombrang masih aktif. Bunga kecombrang mungkin dapat digunakan sebagi

pengawet alami untuk makanan tetapi masih memerlukan penelitian yang lebih lanjut

(Naufalin, 2005).

2.4.Sabun Cuci Tangan

Sabun merupakan bahan yang dapat mengemulsi air/minyak. Membersihkan

badan atau kulit merupakan cara paling mudah untuk menjaga kebersihan kulit.

Penggunaan sabun cukup efektif untuk mengangkat kotoran yang menempel pada

permukaan kulit, mulai dari kotoran yang larut dalam air atau larut dalam lemak

(Fadilah, 2008). Sabun memiliki bahan aktif antibakteri sebagai bahan untuk

menghambat sampai menghentikan pertumbuhan bakteri. Bahan aktif yang umum

digunakan dalam sabun yaitu triclosan dan irgasan (Yoan, dalam reza 2003).

2.5.Saponin

Saponin tersebar luas di kerajaan tanaman dan sekitar 70% dari semua

tanaman menghasilkan saponin. Gymnospermae diduga tidak mengandung saponin.

Saponin yang bersifat larut dalam air disimpan dalam vakuola. Saat tanaman diserang
oleh mikroba, saponin diubah menjadi glikosida spirostanol atau monodesmosides

triterpen yang menunjukkan aktivitas membran untuk melindungi tanaman, sehingga

saponin memiliki fungsi sebagai antibakteri (Erik and Michael, 2004).

Saponin merupakan senyawa aktif yang menimbulkan busa jika dikocok

dalam air (Robinson, 1995). Pembentukan busa yang mantap sewaktu mengekstraksi

tumbuhan atau memekatkan ekstrak tumbuhan merupakan bukti adanaya saponin.

Saponin dapat meningkatkan permeabilitas sel bakteri sehingga dapat mengubah

struktur dan fungsi membran, menyebabkan denaturasi protein sehingga membran sel

akan rusak.

2.6.Flavonoid

Flavonoid merupakan senyawa yang mengandung C15 terdiri atas dua inti

fenolat yang dihubungkan dengan tiga satuan karbon. Senyawa ini dapat diekstraksi

dengan etanol 70% dan tetap ada dalam lapisan air setelah ekstrak ini dikocok

dengan eter minyak bumi. Flavonoid berupa senyawa fenol, oleh karena itu warnanya

berubah apabila ditambah basa atau amoniak (Harborne, 1987). Flavonoid pada

tumbuhan berfungsi dalam pengaturan fotosintesis, antimikroba dan antivirus, dan

kerja terhadap serangga (Robinson, 1995).

2.7.Antibakteri

Antibakteri adalah senyawa yang digunakan untuk mengendalikan

pertumbuhan bakteri yang bersifat merugikan. Pengendalian pertumbuhan

mikroorganisme bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit dan infeksi,

membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi, dan mencegah pembusukan

serta perusakan bahan oleh mikroorganisme (Sulistyo, 1971). Antimikrobia meliputi

golongan antibakteri, antimikotik, dan antiviral (Ganiswara, 1995). Mekanisme

penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri oleh senyawa antibakteri dapat berupa


perusakan dinding sel dengan cara menghambat pembentukannya atau mengubahnya

setelah selesai terbentuk, perubahan permeabilitas membran sitoplasma sehingga

menyebabkan keluarnya bahan makanan dari dalam sel, perubahan molekul protein

dan asam nukleat, penghambatan kerja enzim, dan penghambatan sintesis asam

nukleat dan protein.

2.8.Ekstraksi

Ekstraksi adalah proses penarikan zat aktif yang dapat larut sehingga terpisah

dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut yang sesuai. Pemilihan pelarut dan

metode ekstraksi yang tepat dapat ditentukan sesuai dengan komposisi kandungan

contoh. Ekstraksi dipengaruhi oleh tingkat kehalusan contoh, ekstraksi tidak akan

sempurna jika contoh dicelupkan dalam pelarut dalam bentuk contoh yang masih utuh

(Anggra, 2011).

Menurut Departemen Kesehatan, pada ekstraksi, tahap pemisahan dan

pemurnian dimaksudkan untuk memisahkan senyawa yang tidak dikehendaki

semaksimal mungkin, tanpa berpengaruh pada senyawa kandungan yang dikehendaki,

sehingga diperoleh ekstrak yang lebih murni. Sedangkan tahap pemekatan dan

penguapan (vaporasi dan evaporasi) merupakan peningkatan jumlah partikel atau

senyawa terlarut dengan cara menguapkan pelarut tanpa sampai menjadi kondisi

kering, ekstrak hanya menjadi pekat atau kental.

Hasil dari proses ekstraksi disebut ekstrak. Ekstrak adalah sediaan kental yang

diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia

hewani dengan menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir

semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian

rupa hingga memenuhi syarat yang telah ditetapkan.


Pembuatan Ekstrak, ada beberapa tahapan dalam proses pembuatan ekstrak

menurut Depkes RI yaitu sebagai berikut :

a. Pembuatan serbuk simplisia

Semakin halus serbuk simplisia proses ekstraksi maka akan semakin efektif dan

efisien.

b. Pemilihan cairan pelarut

Faktor utama untuk pertimbangan pada pemilihan cairan pelarut adalah selektivitas,

kemudahan proses dan bekerja dengan cairan tersebut, ekonomis, ramah lingkungan

dan keamanan.

c. Pemisahan dan pemurnian

Tujuan dari pemisahan dan pemurnian adalah menghilangkan atau memisahkan

senyawa yang tidak dikehendaki semaksimal mungkin tanpa berpengaruh pada

senyawa kandungan yang dikehendaki, sehingga diperoleh ekstrak yang lebih murni.

Berdasarkan temperatur yang digunakan, metode ekstraksi dengan

menggunakan pelarut dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu:

- Cara Dingin

a. Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia menggunakan pelarut dengan

beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada suhu ruangan (kamar). Secara

teknologi termasuk ekstraksi dengan metode pencapaian konsentrasi pada

keseimbangan. Maserasi kinetik berarti dilakukan pengadukan terus-menerus.

Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah

dilakukan penyaringan maserat pertama, dan seterusnya.

b. Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang selalu baru

sampai sempurna yang umumnya dilakukan pada suhu ruangan.

- Cara Panas

a. Reflux

Reflux adalah ekstraksi dengan pelarut pada titik didihnya, selama waktu

tertentu, dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya

pendingin balik. Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu pertama

3-5 kali sehingga dapat termasuk proses ekstraksi sempurna.

b. Soxhlet

Soxhlet adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang selalu baru,

umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi terus

menerus dengan jumlah pelarut yang relatif konstan dengan adanya pendingin

terbalik.

c. Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan terus menerus) pada suhu

yang lebih tinggi dari suhu kamar. Umumnya kelarutan zat aktif meningkat jika

suhu dinaikan.

d. Infus

Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air dengan suhu penangas air (bejana infus

tercelup dalam penangas air mendidih, suhu terukur 96-98oC) selama waktu

tertentu (15-20 menit)

e. Dekok

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama (lebih dari 20 menit) dan suhu

sampai pada titik didih air.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

3.1.1. Desain Penelitian

Desain penelitian berupa penelitian Kuantitatif analitik, eksperimen,

dengan melakukan pra-eksperimen (satu variable), desain pretes-postes satu

kelompok (One Group Pretes Postes Design) (uji klinik). Penelitan eksperimen

ini membuat konsentrasi larutan bunga kecombrang menjadi sabun cair yalung

dapat menghambat aktivitas dan pertumbuhan bakteri ditangan, dengan begitu

dapat menurunkan jumlah total bakteri ditangan. Pada penelitian dilakukan

penelitian pra-eksperimen dan eksperimen, hal ini dikarenakan tidak ada literatur

maupun penelitian sebelumnya yang menggunakan sabun bunga kecombrang

untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Pra-eksperimen dilakukan untuk

mengetahui berapa konsentrasi larutan sabun bunga kecombrang yang dapat

mempengaruhi pertumbuhan bakteri di tangan. Eksperimen dilakukan untuk

mengetahui berapa konsentrasi larutan sabun bunga kecombrang yang efektif

dalam menghambat pertumbuhan bakteri di tangan.

Penelitian ini dilakukan untuk melihat Efek antibakteri dari konsentrasi

larutan sabun bunga kecombrang, dalam menurunkan angka total kuman pada

tangan yang akan dilakukan dengan cara penanaman pada medium agar padat

untuk menentukan konsentrasi 50%, 60%, dan 70% larutan sabun

kecombrang.

Subjek penelitian ini adalah telapak tangan yang telah dicuci dengan

sabun bunga kecombrang dengan konsentrasi 50%, 60%, dan 70%, sabun

dikontakan dengan tangan selama kurang lebih 20 detik untuk mendapatkan


hasil yang maksimal. Sampel dibuat agar mencuci tangan dengan sabun bunga

kecombrang selama 20 detik dengan teknik mencuci tangan yang diterapkan

WHO. Setelah tangan dicuci dengan sabun kecombrang, tangan ditempelkan

pada media pertumbuhan bakteri yaitu agar nutrisi. Media agar nutrisi

kemudian diinkubasikan selama 2x24 jam dan dihitung jumlah total bakteri

yang tumbuh didalam media agar.

3.1.2. Kerangka Teori

Kontaminasi Larutan bunga


Escherichia coli
pada tangan kecombrang

Pencucian Larutan sabun


tangan bunga
kecombrang

Penurunan angka total


kuman di tangan

3.1.3. Kerangka Konsep

Konsentrasi larutan
sabun cair bunga Angka total kuman
kecombrang pada tangan
3.1.5. Definisi Operasional

Definisi Hasil
Variabel Cara ukur Alat Ukur Skala ukur
Operasional pengukuran

Konsentrasi Variasi Pengukuran Gelas ukur Interval mg/L

larutan sabun konsenttrasi skala lab

cair larutan sabun

kecombrang cair bunga

kecombrang

50%, 60%, dan

70%

Total bakteri Selisih Menghitung Coloni Ratio Jika terjadi

di tangan penurunan selisih counter penurunan

angka total angka total sebelum dan

bakteri sebelum kuman sesudah

dan sesudah artinya

perlakuan efektif

mencuci tangan

dengan sabun

kecombrang

3.1.6. Pengendalian variabel pengganggu

- Meminimalisir variabel pengganggu dalam penurunan total bakteri

diantaranya adalah waktu pengujian yang bersamaan.

- Meminimalisir variabel pengganggu dalam penurunan total bakteri

diantaranya adalah dengan melakukan sterilisasi alat dan bahan


- Meminimalisir variabel pengganggu dengan menjaga pH larutan bunga

kecombrang agar tetap stabil yaitu pada pH asam. Pada pH asam aktivitas

antibakteri bunga kecombrang lebih ampuh dibandingkan pH basa

sehingga diperlukan tambahan asam dalam jumlah tertentu untuk

meningkatkan aktivitas antibakterinya.

- Bunga kecombrang memiliki lemak yang cukup tinggi, lemak tersebut

akan menyebabkan sulitnya minyak atsiri merusak sel bakteri, oleh karena

itu diperlukan proses pengurangan lemak melalui proses ekstraksi.

3.1.7. Hipotesis

Ada pengaruh konsentrasi larutan bunga kecombrang sebagai sabun cair

dalam menurunkan angka total bakteri di tangan.

3.2. Rancangan Sampel

3.2.1. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah telapak tangan dengan sampel telapak tangan

yang mengandung bakteri.

3.2.2. Besar Sampel

Sampel dibuat 4 perlakuan (ditambah kontrol) dengan 3 kali pengulangan.

3.2.3. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dengn menggunakan simple random sampling

yaitu, mengambil sampel telapak tangan secara sederhana dengan mengundi

anggota populasi.

3.3. Rancangan Pengumpulan Data

3.3.1. Jenis Data

Numerik

3.3.2. Alat Pengumpul Data


Tabel pengukuran

3.3.3. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data berupa tabel pengukuran yang berisi

perbandingan jumlah koloni bakteri di media agar yang berasal dari proses

pencucian dengan sabun kecombrang, dengan jumlah koloni bakteri di

media agar yang berasal dari proses pencucian dengan sabun antiseptik

biasa. Teknik pengumpulan data diawali dengan mengumpulkan orang

untuk mencuci tangan dengan sabun kecombrang selanjutnya tangan

ditempelkan pada media agar dan media agar diinkubasikan selama 2 x 24

jam yang selanjutnya total bakteri dihitung dengan menggunakan koloni

counter.

3.3.4. Tenaga pengumpul data

Peneliti dan rekan-rekan yang dijadikan sebagai sampel

3.4. Rancangan Pelaksanaan penelitian

3.4.1 Tempat dan waktu penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan januari 2017 sampai dengan bulan februari

2017, di Laboraturium Mikrobiologi Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik

Kesehatan Bandung.

3.4.2 Langkah-langkah penelitian

3.4.2.1.Persiapan alat dan bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah, bunga kecombrang,

agar PCA , kertas saring whatman no 1, metanol, Sodium Lauryl Sulphate,

Cocoamide diethanolamide, gelatin, Poly ethylene glicol, Propilene glicol,

Na4EDTA, aquades dan alumunium foil.


Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah tabung reaksi, beaker

glass, oven, autoclaf, neraca analitik, batang pengaduk, rotary evaporator,

gelas ukur,pH meter dan cawan petridis.

3.4.2.2.Persiapan pengambilan data

3.4.2.2.1. Sterilisasi alat

Semua alat yang akan digunakan disterilkan dalam suhu 1210C

selama 15 menit dengan tekanan 1 atm

3.4.2.2.2. Persiapan ekstraksi

Sampel bunga kecombrang dicuci bersih lalu ditimbang sebanyak 500

gram, selanjutnya mahkota bunga dilepaskan dari tangkainya lalu

dilakukan penjemuran selama 4 jam dalam satu minggu. Setelah benar-

benar kering, sampel ditimbang kembali dan diblender kering sampai

halus.

3.4.2.2.3. Ekstraksi bunga kecombrang

Dilakukan ekstraksi dengan menggunakam metode maerasi.

Metode maerasi ini merupakan metode ekstraksi yang paling

sedethana. Sebanyak 150 gram sampel dimasukan kedalam beaker

glass berukuran 2500mL ditambahkan 1:7 larutan penyari (metanol)

setelah itu disimpan dalam suhu kamar selama 3 x 24 jam sambil

sesekali diaduk. Setelah 3 x 24 jam sampel disaring dengan

menggunakan kertas saring whatman no 1 ditampung dalam wadah

kosong dan hasilnya diuapkan dengan rotary evaporator dengan suhu

500C kecepatan 90rpm. Hasil ekstraksi ini kemudian dibuat sabun cair.
3.4.2.2.4. Pembuatan sabun bunga kecombrang

Sabun cuci tangan cair dibuat dengan formula 18.5 g Sodium

Lauryl Sulphate, 15 g Cocoamide diethanolamide, 2.5 g gelatin, 2.5 g

Poly ethylene glicol, 1 g Propilene glicol, 0.1 g Na4EDTA dan 60.40 g

air (Pawaka, 2002). Formula sabun ini merupakan formula untuk

membuat 100 gram sabun sabun cuci tangan cair. Lalu tambahkan

bahan aktif antibakteri yaitu ekstrak bunga kecombrang.

3.4.2.2.5. Pembuatan Media PCA

Larutan Media Plate Count Agar (PCA) dibuat dengan

ditimbang 23,5 gram serbuk media kemudian dilarutkan dengan 1000

ml air. Larutan media agar disimpan di wadah tertutup untuk

selanjutnya disterilisasi.

3.4.2.2.6. Preparasi uji bakteri

Sampel berupa telapak tangan dicuci dengan menggunakan

sabun cair bunga kecombrang, selama 20 detik dengan tahapan yang

sesuai dengan anjuran WHO. Kemudian tangan ditempelkan pada

media agar, buat dalam 4 perlakuan yaitu konsentrasi 50%, 60%, dan

70% serta kontrol. Untuk kontrol, sampel tangan dicuci dengan

menggunakan sabun tangan biasa.

3.4.3 Rencana pengolahan dan analisis data

a. Pengolahan data

 Editing
Mengedit semua data pengukuran penurunan total bakteri di

tangan. Melengkapi semua data pengukuran, merevisi

kejelasan tulisan.

 Coding

Membuat kode data hasil pengukuran penurunan total

bakteri di tangan dari hasil uji laboraturium.

 Entry data

Memasukan semua data yang belum terlengkapi guna

menambah ke validitas an data.

 Cleaning

Mengecek semua data pengukuran penurunan total bakteri

di tangan, dan memperbaiki apabila ada data yang kosong.


SUMBER PUSTAKA

Depkes R.I., (2009). Pedoman Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS).cetakan

Kedua.Jakarta: Bakti Husada

Depkes R.I., (2015). Pusat Data dan Informasi (profil kesehatan indonesia) tahun 2014.

http://www.depkes.go.id. Diakses 18 September 2015

Depkes R.I., (2011). Buletin Jendela Pusat data dan Informasi situasi diare di Indonesia.

http://www.depkes.go.id _ diakses 18 September 2015

Eny, Anggra, 2011. Metode Ekstraksi. Universitas Indonesia.

Food and Drugs Administration. www.tempo.co/read/news. _ diakses 5 November 2015

Hayet, Edziri, Mastouri Maha, Ammar Samia, Matieu Mata. 2008. Antimicrobial,

Antioxidant, and Antiviral activities of Retama roetam(Forssk.) Webb Flowers

Frowing in Tunisia. World j Micrcobiol Biotechnol. 24: 2933-2940.

Hudaya, Adeng. (2010). Uji Antioksidan dan Antibakteri Ekstrak Air Bunga Kecombrang

(Etlingera elatior) Sebagai Pangan Fungsional Terhadap Staphylococcus aureus dan

Escerichia coli). Skripsi. Jakarta: Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah. http://repository.uinjkt.ac.id/ _diakses tanggal 17

September 2015

Kusuma, sri agung fitri.(2010). Escherichia coli. Makalah. Fakultas Farmasi Universitas

Padjajaran. Bandung :tidak diterbitkan.

Kristiyana, Reza. (2013). Optimasi Penambahan Ekstrak Etanol Daun Kemangi Sebagai

Pengganti Triclosan Dalam Menghambat Staphylococcus Aureus Dan Eschericia Coli

Pada Produk Sabun Cuci Tangan Cair. Skripsi. Bogor : Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam, Universitas Pakuan. http://perpustakaan.fmipa.unpak.ac.id _

diakses tanggal 22 November 2015

Mercola. 2005. The FDA finally reviews the safety of antibacterial soaps.
http://www.mercola.com/2005/nov/I _diakses tanggal 16 September 2015

Naufalin, R. (2005). Kajian Sifat Antimikroba Ekstrak Bunga Kecombrang (Nicolaia

speciosa Horan) terdapat Berbagai Mikroba Patogen dan Merusak Pangan. Disertasi.

Bogor: Pascasarjana IPB. http://www.researchgate.net/ _diakses tanggal 22 November

2015

Ngo. K. 2005. Antibacterial soap: Unnecessary and harmful.

www.products4causes.com/pdf/Triclosan _diakses tanggal 18 September 2015

Ningtyas, Rina. (2010). Uji Antioksidan dan Antibakteri Ekstrak Air Daun Kecombrang

(Etlingera elatior (Jack) R.M. Smith) sebagai Pengawet Alami Terhadap Escherichia

coli dan Staphylococcus aureus. Skripsi. Jakarta: Fakultas Sains dan Teknologi,

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. http://repository.uinjkt.ac.id/ _ diakses

tanggal 22 November 2015

Soetjipto, Hartati., Susanti Pudji Astuti, Otniel Kristanto. Identifikasi senyawa antibakteri

minyak atsiri bunga kecombrang (Nicolaila Speciosa Horan).Jurnal Prosiding

Seminar Nasional Sains dan Pendidikan Sains IV, 3: 640-655. 2009.

http://repository.uksw.edu _diakses tanggal 16 September 2015.

Tampubolon, O.T., S. Suhatsyah, dan S. Sastrapradja. 1983. Penelitian Pendahuluan Kimia

Kecombrang (Nicolaia speciosa Horan). Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan

Obat III. Fakultas Farmasi, UGM, Yogyakarta.


LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 : TABEL PENGUKURAN PENURUNAN BAKTERI

Penurunan total bakteri


No Perlakuan
Pengulangan 1 Pengulangan 2 Pengulangan 3

1 Konsentrasi 50%

2 Konsentrasi 60%

3 Konsentrasi 70%

4 Kontrol

LAMPIRAN 2 : TABEL PENGUKURAN pH

Penurunan pH
No Perlakuan
Pre test Post test

1 Konsentrasi 50%

2 Konsentrasi 60%

3 Konsentrasi 70%

4 Kontrol

Anda mungkin juga menyukai