Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

Penelitian tentang Corporate Governance ini menggunakan grand theory

teori keagenan (agency theory) yang didukung pula dengan beberapa

supporting theory. Teori keagenan ini digunakan untuk menjelaskan tentang

mekanisme Corporate Governance yang berpengaruh terhadap penghindaran

pajak (tax avoidance) yang dilakukan perusahaan. Teori-teori tersebut akan

dipaparkan sebagai berikut:

1. Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan (agency theory) dianggap sesuai dengan penelitian ini

karena sebuah perusahaan memiliki sebuah penerapan teori agensi antara

pemegang saham dan manajer di dalam perusahaan. Pemegang saham

mendelegasikan wewenang kepada manager untuk mengelola perusahaan

dan memberikan return yang baik sesuai dengan keinginan pemegang

saham. Teori keagenan merupakan hal dasar yang digunakan dalam

memahami corporate governance.

Teori keagenan dipandang lebih luas karena mencerminkan kenyataan

yang ada. Pemikiran mengenai corporate governance didasarkan pada teori

agen dimana pengelolaan perusahaan harus diawasi dan dikendalikan untuk

memastikan bahwa pengelolaan dilakukan dengan penuh kepatuhan

terhadap peraturan dan ketentuan yang berlaku (Wolfensohn dalam Hanum

dan Zulaikha, 2013).

12
13

Teori agensi merupakan konsep yang menjelaskan hubungan

kontraktual antara prinsipal dan agen. Pihak prinsipal adalah pihak yang

memberikan mandat kepada pihak lain, yaitu agen untuk melakukan semua

kegiatan atas nama principal dalam kapasitasnya sebagai pengambil

keputusan (Jensen dan Meckling, 1976 dalam Wiguna dan Yadnyana,

2015). Hubungan keagenan muncul apabila prinsipal membuat kontrak kerja

dengan pihak lain (agen). Dalam teori agensi pada kasus underpricing,

underwriter adalah pihak yang berperan sebagai agen dan emiten adalah

pihak yang berperan sebagai prinsipal.

Menurut Nasirwan (2012) teori agensi juga dapat menjelaskan pada

tatanan praktik bisnis yang lebih luas yaitu terhadap perusahaan-perusahaan

yang akan dan sudah melakukan IPO. Banyak pihak yang terkait dengan

perusahaan yang melakukan IPO. Pertama, pemilik perusahaan, para

pemegang saham, dan para calon investor sebagai prinsipal. Kedua, pihak

menajemen perusahaan sebagai agen. Ketiga, auditor independen, penjamin

emisi, komisaris independen, dan komite audit sebagai sebagai pihak

penengah untuk mengurangi terjadinya asimetri informasi antara prinsipal

dan agen.

Menurut Sasongko (2014), untuk mengurangi risiko diambil alihnya

hak kontrol penuh atas perusahaan, pemegang saham pengendali membeli

saham yang dijual saat proses IPO. Harga penawaran saham perdana yang

murah, akan membuka kesempatan pemegang saham pengendali untuk

mempertahankan kontrol efektif atas perusahaan dengan menambah


14

kepemilikan jumlah saham perusahaan tersebut. Hal ini untuk

mengantisipasi adanya pergeseran hak kontrol atas perusahaan dari

pemegang saham pengendali oleh investor baru yang potensial, sehingga

pemegang saham pengendali cenderung menerima penetapan harga saham

perdana dengan harga yang murah (underpricing).

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, agency problem yang sering

terjadi di Indonesia adalah fenomena agency problem yang akan terjadi di

perusahaan dengan kepemilikan terkonsentrasi, ketika perusahaan tersebut

memiliki pemegang saham mayoritas dan beberapa pemegang saham lain

yang kepemilikannya minoritas. Hal ini menyebabkan pemegang saham

mayoritas memiliki kendali absolut sehingga dapat melakukan tindakan

yang menguntungkan pemegang saham mayoritas. Kendali absolut yang

dimiliki oleh pemegang saham mayoritas digunakan untuk memutuskan

harga saham perdana perusahaan.

Teori agensi memunculkan konflik kepentingan antara pemegang

saham dan manajer. Para manajer dalam perusahaan terkadang

menyembunyikan informasi yang sebenarnya dari para pemegang saham

untuk melindungi kepentingannya sendiri sehingga mengganggu

kepentingan pemegang saham yang seharusnya mendapatkan informasi

yang sebenarnya. Permasalahan yang terjadi antara manajemen dan pemilik

modal mengakibatkan munculnya biaya (Meilinda, 2013).


15

Konflik kepentingan yang memunculkan biaya didefinisikan sebagai

biaya keagenan oleh (Jensen dan Meckling dalam Addiyah, 2014) menjadi

tiga jenis biaya, yaitu:

a. Biaya monitoring, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk mengawasi segala

aktivitas yang dilakukan oleh agen. Biaya-biaya yang terkait dengan

monitoring menjadi tanggung jawab dari principal.

b. Biaya bonding, yaitu biaya yang dikeluarkan sebagai jaminan bahwa

agen tidak akan melakukan perbuatan yang merugikan. Biaya-biaya yang

termasuk sebagai biaya bonding menjadi tanggung jawab dari agen.

c. Biaya residual loss, yaitu biaya yang diukur dari nilai uang yang

ekuivalen dengan pengurangan kemakmuran yang dialami principal

akibat terjadinya perbedaan kepentingan.

2. Corporate Governance

a. Definisi Corporate Governance

Menurut Sukrisno dan Ardana (2013) Corporate Governance dapat

didefinisikan sebagai berikut:

Corporate Governance adalah tata kelola yang baik sebagai suatu


sistem yang mengatur hubungan peran dewan komisaris, peran
direksi, pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Tata
kelola perushaan yang baik juga disebut sebagai suatu proses yang
transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapiannya dan
penilaian kinerjanya.

Menurut Fahmi (2013) Corporate Governance adalah:

“Seperangkat aturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham,

manajer, kreditur, pemerintah, karyawan, dan pihak-pihak yang


16

berkepentingan lainnya baik internal maupun eksternal lainnya yang

berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka.”

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Corporate

Governance adalah suatu sistem dan seperangkat peraturan yang

mengatur hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris dan

dewan direksi agar kinerja perusahaan dijalankan dengan efektif, efisien,

transparan dan akuntabel demi tercapainya tujuan organisasi dan

menghindari kecurangan-kecurangan dalam manajemen perusahaan,

selain itu juga dapat menghasilkan laporan keuangan yang akuntabel

yang berguna bagi para penggunanya untuk mengambil keputusan.

b. Mekanisme Pengukuran Corporate Governance

Berikut ini beberapa mekanisme pelaksanaan Corporate

Governance yang dapat digunakan perusahaan-perusahaan dalam

menerapkan tata kelola perusahaan yang baik.

1) Kepemilikan Institusional

Menurut Widarjo (2010) kepemilikan institusional dapat

didefinisikan sebagai berikut: “Kepemilikan institusional merupakan

kondisi dimana institusi memiliki saham dalam suatu perusahaan.

Institusi tersebut dapat berupa institusi pemerintah, institusi swasta,

domestik maupun asing.”

Menurut Nabela (2012) kepemilikan institusional adalah:

“Proporsi saham yang dimiliki pada akhir tahun yang diukur dengan
17

presentase.” Widiastuti, Midiastuty, dan Suranta (2013)

mendefinisikan kepemilikan institusional sebagai berikut:

Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham oleh


lembaga eksternal. Investor institusional sering kali menjadi
pemilik mayoritas dalam kepemilikan saham, karena para
investor institusional memiliki sumber daya yang lebih besar
daripada pemegang saham lainnya sehingga dianggap mampu
melaksanakan mekanisme pengawasan yang baik. Dari berbagai
pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kepemilikan
institusional adalah suatu kepemilikan di mana institusi yang
memiliki saham-saham di perusahaan lainnya.

Kepemilikan institusional, merupakan kepemilikan saham

perusahaan yang mayoritas dimiliki oleh institusi atau lembaga

(perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi, asset management,

dan kepemilikan institusi lain) (Alviyani, 2016).

Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa

kepemilikan institusional umumnya bertindak sebagai pihak yang

memonitor perusahaan. Kepemilikan institusional yang besar (lebih

dari 5%) mengindikasikan kemampuannya untuk memonitor

manajemen. Semakin besar kepemilikan institusi maka akan semakin

besar kekuatan suara dan dorongan institusi tersebut untuk mengawasi

pihak manajemen.

2) Kepemilikan Manajerial

Menurut Imanta dan Satwiko (2011), Kepemilikan Manajerial

adalah: “Kepemilikan saham perusahaan oleh pihak manajer atau

dengan kata lain manajer juga sekaligus sebagai pemegang saham.”

Menurut Jensen dan Meckling (dalam Herawaty, 2008) menemukan


18

bahwa: “Kepemilikan manajerial berhasil menjadi mekanisme untuk

mengurangi masalah keagenan dari manajer dengan menyelaraskan

kepentingan-kepentingan manajer dengan pemegang saham.”

Menurut Wahidahwati (dalam Rustendi dan Jimmi, 2008)

Kepemilikan Manajerial adalah: “Kepemilikan manajerial merupakan

pemegang saham dari pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam

pengambilan keputusan perusahaan (Direktur dan Komisaris).

Kepemilikan manajerial diukur dari jumlah prosentase saham yang

dimiliki manajer.”

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa

kepemilikan manajerial merupakan pemilik aham perusahaan yang

berasal dari manajemen yang ikut serta dalam pengambilan keputusan

pada suatu perusahaan yang bersangkutan.

3) Komisaris Independen

Komisaris Independen menurut Sukrisno dan Ardana (2013)

adalah sebagai berikut:

Komisaris dan direktur independen adalah seseorang yang


ditunjuk untuk mewakili pemegang saham independen
(pemegang saham minoritas) dan pihak yang ditunjuk tidak
dalam kapasitas mewakili pihak mana pun dan semata-mata
ditunjuk berdasarkan latar belakang pengetahuan, pengalaman
dan keahlian profesional yang dimilikinya untuk sepenuhnya
menjalankan tugas demi kepentingan perusahaan.

Widjaja (2009), menyatakan komisaris independen adalah

sebagai berikut: “Komisaris independen adalah anggota dewan

komisaris yang diangkat berdasarkan keputusan RUPS dari pihak


19

yang tidak terafiliasi dengan pemegang saham utama, anggota direksi

dan/atau anggota dewan komisaris lainnya.”

Menurut KNKG (2006), komisaris independen sebagai berikut:

Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang


tidak berafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris
lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari
hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat
mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau
bertindak semata-mata demi kepentingan perusahaan.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan

bahwa komisaris independen merupakan anggota dewan komisaris

yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya

dan pemegang saham pengendali. Selain itu, komisaris independen

harus memahami undang-undang dan peraturan tentang pasar modal

serta diusulkan oleh pemegang saham yang bukan merupakan

pemegang saham pengendali dalam Rapat Umum Pemegang Saham.

4) Komite Audit

Peraturan Nomor IX. 1.5 dalam lampiran Keputusan BAPEPAM

Nomor Kep-29/PM/2004 mengemukakan bahwa: “Komite Audit

adalah komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris dalam rangka

membantu melaksanakan tugas dan fungsinya.” Menurut Effendi

(2009), komite audit merupakan:

Suatu komite yang bekerja secara professional dan independen


yang dibentuk oleh dewan komisaris, dengan demikian tugasnya
adalah membantu dan memperkuat fungsi dewan komisaris
(atau dewan pengawas) dalam menjalankan fungsi pengawasan
(oversight) atas proses pelaporan keuangan, manajemen risiko,
pelaksanaan audit dan implementasi dari corporate governance
di perusahaan-perusahaan.
20

Sesuai dengan keputusan Bursa Efek Indonesia melalui Kep.

Direksi BEJ No.Kep-315/BEJ/06/2000, menyatakan bahwa komite

audit adalah: “Komite yang dibentuk oleh dewan komisaris

perusahaan, yang anggotanya diangkat dan diberhentikan oleh dewan

komisaris yang bertugas membantu melakukan pemeriksaan atau

penelitian yang dianggap perlu terhadap pelaksanaan fungsi direksi

dalam pengelolaan perusahaan.”

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa komite

audit merupakan komite yang dibentuk oleh dewan komisaris dengan

tujuan untuk membantu Komisaris Independen dalam menjalankan

tugas dan tanggung jawab pengawasan.

5) Reputasi Auditor

Menurut Kanagaretnam, dkk. (2010) auditor dengan reputasi

tinggi memiliki dorongan untuk menyediakan kualitas audit yang

tinggi secara terus-menerus untuk mencegah hal-hal yang

membahayakan yang merusak reputasi mereka. Mayhew (2010)

menyatakan: “Reputasi auditor dalam pengauditan adalah sebagai

mekanisme endogen yang menghasilkan upaya audit yang maksimal

dan sejalan dengan kualitas audit yang tinggi.”

Menurut Rudyawan dan Badera (2007), reputasi auditor adalah:

Auditor memiliki reputasi besar dan nama dapat memberikan


kualitas audit yang lebih baik, termasuk masalah kelangsungan
diungkapkan dengan mempertahankan reputasi mereka.
Sementara klien biasanya merasakan auditor yang berasal dari
lima besar atau berafiliasi dengan perusahaan akuntan
21

internasional yang karakteristiknya asosiasi dengan kualitas,


seperti pelatihan, pengakuan internasiona serta peer review.

Menurut Purba (2006), reputasi auditor adalah:

Penghakiman terhadap akuntan publik sering dilakukan, baik


oleh masyarakat maupun pemerintah dengan melihat kondisi
bangkrut tidaknya perusahaan yag diaudit. Hal itu berarti bahwa
saat ini nasib akuntan publik sepertinyadipertaruhkan pada jatuh
bangun bisnis perusahaan kliennya. Ini menunjukkan bahwa
reputasi auditor dipertaruhkan saat memberikan opini audit.

Menurut Perdana (2014) reputasi auditor dapat diukur dengan

mengklasifikasikan atas audit yang dilakukan oleh KAP The Big Four

dan audit yang dilakukan oleh KAP Non-Big Four. Jika perusahaan

diaudit oleh KAP The Big Four maka mendapat nilai 1 dan 0

sebaliknya.

Pada penelitian ini, mekanisme Corporate Governance yang diteliti

dan diduga memiliki hubungan dengan praktik tax avoidance pada

perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Indeks LQ 45 periode 2012-

2016 adalah kepemilikan institusional, dewan komisaris independen, dan

komite audit.

3. Tax Avoidance

a. Definisi Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)

Pengertian penghindaran pajak menurut Mortenson (dalam Kurnia,

2010), adalah sebagai berikut:

Penghindaran pajak adalah berkenaan dengan pengaturan suatu


peristiwa sedemikkian rupa untuk meminimkan atau
menghilangkan beban pajak dengan memperhatikan ada atau
tidaknya akibat-akibat pajak yang ditimbulkannya. Penghindaran
pajak tidak merupakan pelanggaran atas perundang-undangan
22

perpajakan secara etik tidak dianggap salah dalam rangka usaha


wajib pajak dalam rangka mengurangi, menghindari, meminimkan
atau meringankan beban pajak dengan cara yang dimungkinkan
oleh undang-undang pajak.

Penghindaran pajak ialah usaha pengurang pajak dengan

memanfaatkan pengecualian dan potongan yang diperkenankan

(Budiman, 2012). Sedangkan menurut Pohan (2013) tax avoidance

merupakan: “Upaya penghindaran pajak yang dilakukan secara legal

dana man bagi wajib pajak karena tidak bertentangan dengan ketentuan

perpajakan, dimana metode dan teknik yang digunakan cenderung

memanfaatkan kelemahan-kelemahan (grey area) yang terdapat dalam

undang-undang dan peraturan perpajakan itu sendiri, untuk memperkecil

jumlah pajak yang terutang.”

Dari penjelasan mengenai tax avoidance di atas, dapat disimpulkan

bahwa tax avoidance merupakan upaya penghindaran pajak yang

memberikan efek terhadap kewajiban pajak yang dilakukan dengan cara

masih tetap dalam bingkai ketentuan perpajakan.

Penelitian Hoque, dkk. (2011) mengungkapkan beberapa cara

perusahaan melakukan penghindaran pajak, yaitu sebagai berikut:

1) Menampakkan laba dari aktivitas operasional sebagai laba dari modal

sehingga mengurangi laba bersih dan utang pajak perusahaan tersebut.

2) Mengakui pembelanjaan modal sebagai pembelajaan operasional dan

membebankan yang sama terhadap laba bersih sehingga mengurangi

utang pajak perusahaan.


23

3) Membebankan biaya personal sebagai biaya bisnis sehingga

mengurangi laba bersih.

4) Membebankan depresiasi produksi yang berlebihan di bawah nilai

penutupan peralatan sehingga mengurangi laba kena pajak.

5) Mencatat pembuangan yang berlebihan dari bahan baku dalam

industri manufaktur sehingga mengurangi laba kena pajak.

Selain itu, penghindaran pajak dapat dilakukan dengan berbagai

cara menurut Merks (2007) sebagai berikut:

1) Memindahkan subjek pajak dan/atau objek pajak ke negara-negara

yang memberikan perlakuan pajak khusus atau keringanan pajak (tax

haven country) atas suatu jenis penghasilan (substantive tax planning).

2) Usaha penghindaran pajak dengan mempertahankan substansi

ekonomi dari transaksi melalui pemilihan formal yang memberikan

beban pajak yang paling rendah (formal tax planning).

3) Ketentuan anti avoidance atas transaksi transfer pricing, thin

capitalization, treaty shopping, dan controlled foreign corporation

(Specific Anti Avoidance Rule), serta transaksi yang tidak mempunyai

substansi bisnis (General Anti Avoidance Rule).

b. Pengukuran Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)

Saat ini sudah banyak cara dalam pengukuran tax avoidance.

Setidaknya terdapat dua belas cara yang dapat digunakan dalam

mengukur tax avoidance yang umumnya digunakan. Dalam beberapa

penelitian tax avoidance dapat dihitung melalui tiga cara, yaitu Effective
24

Tax Rate (ETR), Book-Tax Difference (BTG), dan Cash Effective Tax

Rate (CETR).

1) Effective Tax Rate (ETR)

ETR digunakan karena dianggap dapat merefleksikan perbedaan

tetap antara perhitungan laba buku dengan laba fiskal (Frank, dkk..

2009). ETR dihitung dengan rumus:

Beban Pajak Penghasila n


ETR = Pendapatan Sebelum Pajak

2) Book-Tax Difference (BTG)

Book-tax difference (BTG) merupakan selisih antara laba

sebelum pajak (laba akutansi) dengan penghasilan kena pajak (laba

fiskal) (Bovi, 2005). BTG dihitung dengan rumus:

 Beban Pajak Kini 


Laba Kena Pajak =  
 25% 

BTG = EBT – Laba kena pajak

3) Cash Effective Tax Rate (CETR)

Sedangkan, CETR (Cash Effective Tax Rate) perusahaan yaitu

kas yang dikeluarkan untuk biaya pajak dibagi dengan laba sebelum

pajak (Dyreng, dkk. 2010). Rumus untuk menghitung CETR menurut

Dyreng, dkk. (2010) adalah sebagai berikut:

Pembayaran Pajak
CETR = Laba Sebelum Pajak
25

CETR digunakan karena diharapkan dapat mengidentifikasi

keagresifan perencanaan pajak suatu perusahaan (Chen, dkk. 2010).

Pembayaran pajak (Cash tax paid) adalah jumlah kas pajak yang

dibayarkan perusahaan berdasarkan laporan keuangan arus kas

perusahaan. Penelitian ini menggunakan CETR (Cash Effective Tax Rate)

untuk mengetahui apakah perusahaan melakukan tindakan penghindaran

pajak (tax avoidance) atau tidak. Semakin besar CETR ini

mengindikasikan semakin rendah tingkat penghindaran pajak perusahaan

(Budiman dan Setiyono, 2012). Pengukuran tax avoidance menggunakan

Cash ETR menurut Simarmata (2014), baik digunakan untuk

menggambarkan kegiatan penghindaran pajak oleh perusahaan karena

Cash ETR tidak terpengaruh dengan adanya perubahan estimasi seperti

penyisihan penilaian atau perlindungan pajak.

4. Thin Capitalization

a. Pengertian Thin Capitalization

Thin capitalization merupakan praktik membiayai cabang atau

anak perusahaan lebih besar dengan utang berbunga daripada dengan

modal saham (Gunadi, 2001). Rohatgi (2002) menyatakan bahwa thin

capitalization merupakan modal terselubung melalui pinjaman yang

melampaui batas kewajaran. Pinjaman dalam konteks thin capitalization

ini merupakan pinjaman berupa uang atau modal dari pemegang saham

atau pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa dengan pihak

peminjam.
26

Pada dasarnya thin capitalization adalah pembentukan struktur

modal perusahaan dengan kombinasi kepemilikanutang banyak dan

modal yang minim/kecil (Taylor dan Richardson, 2012). Perusahaan

dapat mengurangkan beban bunga sehingga penghasilan kena pajak akan

lebih kecil. Pengurangan seperti ini menyebabkan efek makro berupa

berkurangnya potensi pendapatan negara dari pajak.Untuk perusahaan

multinasional, thin capitalization dilakukan dengan memberikan

pinjaman perusahaan cabang dibandingkan dengan harus memberikan

modal tambahan, apalagi jika perusahaan cabang berada dalam

lingkungan yang memiliki tingkat pajak tinggi. Sehingga, dalam rangka

perpajakan,beberapa negara mengatur thin capitalization.

b. Pengukuran Thin Capitalization

Di Indonesia upaya menangkal praktik thin capitalization diatur

dalam KMK 1002/KMK 04/1984 yaitu dengan menggunakan

perbandingan antara hutang dan modal sendiri (debt equity ratio). Dalam

keputusan tersebut Pemerintah mengeluarkan angka perbandingan antara

utang dan modal sebesar 3:1. Dengan pertimbangan bahwa penentuan

besarnya perbandingan antara utang dan modal sendiri oleh pemerintah

dianggap dapat menghambat perkembangan dunia usaha, maka Menteri

Keuangan menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan nomor

254/KMK.01/1985, tanggal 8 Maret 1985 tentang Penundaan

Pelaksanaan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia nomor


27

1002/KMK.04/1984 tentang Penentuan Perbandingan Antara Hutang dan

Modal Sendiri untuk Keperluan Pengenaan Pajak Penghasilan.

Ketentuan thin capitalization dalam standar akuntansi digunakan

untuk menentukan apa yang merupakan aset, kewajiban dan ekuitas.

Ketentuan thin capitalization menguraikan proses dimana suatu entitas

dapat menghitung jumlah maksimum utang berbunga (MAD) yang dapat

menimbulkan pemotongan bunga dalam satu tahun fiskal. Sebuah entitas

thin capitalization adalah entitas dengan tingkat utang di struktur modal

perusahaan yang melebihi 75% dari total utang ditambah ekuitas. Metrik

ini dikenal sebagai “safe harbor limit”. Menghitung posisi thin

capitalization perusahaan dengan memanfaatkan safe harbor test, dimana

melibatkan perhitungan safe harbor debt amount (SHDA). Pernyataan

tersebut menggunakan metode yang dijelaskan dalam Section 820-95 (for

outward investing general entities) digunakan untuk luar investasi pada

entitas umum dari ITAA 97 yang dikeluarkan oleh Australian Taxation

Office (ATO): 2004b.

Model ini juga digunakan oleh Taylor dan Richardson (2012) pada

penelitiannya saat menghitung thin capitalization. Langkah-langkah

untuk masing-masing variabel yang digunakan untuk menghitung SHDA

adalah:

SHDA = (rata-rata total aset– non-IBL) x 75%


28

Dimana non-IBL (Interest-Bearing Liabilities) adalah kewajiban non-

interest perusahaan, suatu liability yang tidak ada kaitannya dengan

bunga (interest).

Ukuran MAD dihitung sebagai berikut:

Rata - rata Utang


MAD ratio =
SHDA Perusahaan

Rasio MAD (maximum amount debt) dihitung sesuai dengan persamaan

(2) merupakan ukuran thin capitalization (THINCAP). Sebuah

perusahaan dengan rasio MAD lebih dari persamaan (2) dianggap

berpotensi non-compliant dengan ketentuan thin capitalization karena

tingkat utang rata-rata melebihi SHDA nya.

B. Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian terdahulu tentang pengaruh corporate governance

dan thin capitalization terhadap tax avoidance perusahaan adalah sebagai

berikut.

Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu


Peneliti/Tahun/ Teknik
No. Variabel Penelitian Hasil Penelitian
Judul Analisis Data
1. Fadhilah, a. Variabel independent: a. Jenis a. Proporsi
Rahmi. (2014). 1) Kepemilikan penelitian: kepemilikan
Pengaruh Good institusional penelitian institusional tidak
Corporate 2) Struktur Dewan kausatif berpengaruh
Governance Komisaris b. Populasi: terhadap tax
Terhadap Tax 3) Komite Audit perusahaan avoidance
Avoidance 4) Kualitas Audit manufaktur b. Proporsi Dewan
(Studi Empiris b. Variabel dependen: yang terdaftar Komisaris
Pada Perusahaan Tax Avoidance di BEI 2009- Independen tidak
Manufaktur 2011 berpengaruh
Yang Terdaftar terhadap tax
Di BEI 2009- avoidance
29

Peneliti/Tahun/ Teknik
No. Variabel Penelitian Hasil Penelitian
Judul Analisis Data
2011) c. Teknik c. Komite audit
pengumpulan berpengaruh
data: signifikan terhadap
dokumentasi tax avoidance
d. Teknik d. Kualitas audit
analisis data: berpengaruh
uji asumsi, negatif dan
regresi linear signifikan terhadap
berganda, uji tax avoidance
kelayakan
model (Uji R2,
uji F, uji
hipotesis)
2. Dewi, Ni a. Variabel independent: a. Jenis a. Risiko perusahaan,
Nyoma 1) Risiko perusahaan penelitian: kualitas audit, dan
Kristiana dan 2) Ukuran perusahaan penelitian komite audit
Jati, I Ketut. 3) Multinational kuantitatif berpengaruh
(2014). company b. Populasi: terhadap tax
Pengaruh 4) Kepemilikan perusahaan avoidance
Karakter institusional manufaktur b. Ukuran
Eksekutif, 5) Proporsi dewan yang terdaftar perusahaan,
Karakteristik komisaris di BEI 2009- multinational
Perusahaan, dan independen 2012 yang company,
Dimensi Tata 6) Kualitas audit dipilih dengan kepemilikan
Kelola 7) Komite audit teknik institusional, dan
Perusahaan yang b. Variabel dependen: purposive proporsi dewan
Baik Pada Tax Tax Avoidance sampling komisaris tidak
Avoidance di c. Teknik berpengaruh
Bursa Efek pengumpulan terhadap tax
Indonesia data: avoidance
dokumentasi
d. Teknik
analisis data:
uji asumsi,
regresi linear
berganda, uji
kelayakan
model (Uji R2,
uji F, uji
hipotesis)
30

Peneliti/Tahun/ Teknik
No. Variabel Penelitian Hasil Penelitian
Judul Analisis Data
3. Khomsatun, Siti a. Variabel independent: a. Jenis a. Perusahaan ISSI
dan Martani, 1) Thin capitalization penelitian: mampu
Dwi. (2015). 2) Assets mix penelitian memperlemah
Pengaruh Thin b. Variabel dependen: kuantitatif pengaruh positif
Capitalization penghindaran pajak b. Populasi: thin capitalization
dan Assets Mix perusahaan terhadap
perusahaan Indeks Saham penghindaran
Indeks Saham Syariah pajak.
Syariah Indonesia b. Demikian juga
Indonesia (ISSI) (ISSI) periode untuk pengaruh
Terhadap 2011-2013 asset mix terhadap
Penghindaran c. Teknik penghindaran
Pajak pengumpulan pajak, perusahaan
data: ISSI juga terbukti
dokumentasi memperlemah
d. Teknik hubungan tersebut.
analisis data: c. Perilaku
uji asumsi, perusahaan ISSI
regresi linear lebih hati-hati
berganda, uji dalam perencanaan
kelayakan pajak, atau
model (Uji R2, mungkin tidak
uji F, uji menggunakan
hipotesis) manfaat dari debt
dan asset mix.
4. Marfirah, Dina a. Variabel independent: a. Jenis a. kepemilikan
dan Syam, Fazli 1) Kepemilikan penelitian: institusional,
BZ. (2016). institusional penelitian dewan komisaris
Pengaruh 2) Dewan komisaris kuantitatif, independen,
Corporate 3) Kualitas audit deskriptif kualitas audit, dan
Governance 4) Komite audit b. Populasi: komite audit
Dan Leverage 5) Leverage perusahaan berpengaruh positif
Terhadap Tax b. Variabel dependen: manufaktur terhadap tax
Avoidance Tax Avoidance yang terdaftar avoidance
Pada Perusahaan di Bursa Efek b. Leverage
Manufaktur Indonesia berpengaruh
Yang Terdaftar (BEI) tahun negatifterhadap tax
Di Bursa Efek 2011- avoidance
Indonesia 2015yang
(BEI) Tahun dipilih dengan
2011-2015 teknik
purposive
sampling
c. Teknik
pengumpulan
data:
dokumentasi
31

Peneliti/Tahun/ Teknik
No. Variabel Penelitian Hasil Penelitian
Judul Analisis Data
d. Teknik
analisis data:
uji asumsi,
regresi linear
berganda, uji
kelayakan
model (Uji R2,
uji F, uji
hipotesis)
5. Wibawa, a. Variabel independent: a. Jenis a. persentase dewan
Agung, Wilopo, 1) Dewan komisaris penelitian: komisaris
dan Abdillah, independen penelitian independen dan
Yusuf. (2016). 2) Komite audit kuantitatif komite audit
Pengaruh Good 3) Kualitas audit b. Populasi: perusahaan
Corporate eksternal perusahaan berpengaruh
Governance b. Variabel dependen: terdaftar di signifikan terhadap
Terhadap penghindaran pajak Indeks Bursa penghindaran pajak
Penghindaran SRI Kehati b. Kualitas auditor
Pajak tahun 2010- eksternal tidak
(Studi pada 2014 berpengaruh
Perusahaan signifikan terhadap
Terdaftar di c. Teknik penghindaran pajak
Indeks Bursa pengumpulan
SRI Kehati data:
Tahun 2010- dokumentasi
2014) d. Teknik
analisis data:
uji asumsi,
regresi linear
berganda, uji
kelayakan
model (Uji R2,
uji F, uji
hipotesis)

C. Kerangka Berpikir

Corporate governance merupakan tata kelola perusahaan yang

diciptakan untuk mewakili para pemegang saham sesuai dengan teori agensi

yang digunakan dalam penelitian ini. Corporate governance diproksikan

menjadi tiga variabel, yaitu: kepemilikan institusional, dewan komisaris

independen, dan komite audit.


32

Perusahaan yang memiliki kepemilikan institutional yang tinggi akan

semakin agresif dalam meminimalisir pelaporan perpajakannya. Pemilik

institusional memainkan peran penting dalam memantau, mendisiplinkan dan

mempengaruhi manajer sehingga kepemilikan institusional dapat memaksa

manajer untuk menghindari perilaku mementingkan diri sendiri tetapi pemilik

institusional juga bisa mempengaruhi manajer untuk dapat memaksimalkan

kesejahteraan pemegang saham institusional.

Presentasi dewan komisaris independen di dalam suatu perusahaan

adalah salah satu dari bentuk mekanisme peningkatan corporate governance.

Apabila presentase dewan komisaris independen di atas 30% maka ini adalah

salah satu indikator bahwa pelaksanaan corporate governance telah berjalan

dengan baik sehingga mampu mengontrol dan mengendalikan keinginan

pihak manajemen perusahaan untuk melakukan penghematan pajak,

menurunkan biaya agensi sehingga membuat praktik tax avoidance menurun.

Komisaris independen pada suatu perusahaan diharapkan dapat meningkatkan

integritas laporan keuangan. Dengan meningkatnya integritas laporan

keuangan akan berdampak pada meningkatnya laba yang diharapkan

perusahaan. Hal tersebut membuat dewan komisaris berusaha meminimalisir

biaya-biaya yang ada terutama pajak.

Komite audit digunakan karena bertugas membantu dewan komisaris

untuk memastikan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai

dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Komite audit bertugas

melakukan kontrol dan pengawasan terhadap proses penyusunan laporan


33

keuangan perusahaan sehingga meminimalisir terjadinya kecurangan yang

terjadi dalam suatu perusahaan seperti tindakan penghindaran pajak.

Pada dasarnya thin capitalization adalah pembentukan struktur modal

perusahaan dengan kombinasi kepemilikanutang banyak dan modal yang

minim/kecil. Perusahaan dapat mengurangkan beban bunga sehingga

penghasilan kena pajak akan lebih kecil. Pengurangan seperti ini

menyebabkan efek makro berupa berkurangnya potensi pendapatan negara

dari pajak. Untuk perusahaan multinasional, thin capitalization dilakukan

dengan memberikan pinjaman perusahaan cabang dibandingkan dengan harus

memberikan modal tambahan, apalagi jika perusahaan cabang berada dalam

lingkungan yang memiliki tingkat pajak tinggi. Sehingga, dalam rangka

perpajakan, beberapa negara mengatur thin capitalization. Beberapa negara

membatasi struktur modal dengan cara pembatasan utang berbunga, atau

disebut sebagai thinly capitalization. Perusahaan dengan struktur utang besar

cenderung melakukan penghindaran pajak.

Berdasarkan beberapa acuan teori yang digunakan dalam penelitian ini,

dapat disusun kerangka pemikiran sebagai berikut:


34

Kepemilikan Institusional
(X1)
H1

Dewan Komisaris Independen


(X2) H2
Tax Avoidance pada Perusahaan yang
Terdaftar di Indeks LQ 45 Periode
H3 2012-2016
Komite Audit (Y)
(X3)
H4

Thin Capitalization
(X4)

H5

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Penelitian

D. Hipotesis Penelitian

1. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Tax Avoidance pada

Perusahaan yang Terdaftar di Indeks LQ 45

Berkaitan dengan penerapan corporate governance, penelitian yang

dilakukan Fadhillah (2014) kepemilikan institusional yang merupakan

proksi dari mekanisme corporate governance, pemilik institusional ikut

serta dalam pengawasan dan pengelolaan perusahaan namun demikian bisa

saja pemilik intitusional mempercayakan pengawasan dan pengelola

perusahaan kepada dewan komisaris karena itu merupakan tugas mereka

sehingga ada atau tidaknya kepemilikan institusional tetap saja tax

avoidance terjadi. Hasil penelitian yang dilakukan Marfirah dan Syam

(2016) juga menemukan bahwa salah satu proksi pengukuran corporate


35

governance yang berpengaruh positif terhadap tax avoidance adalah

kepemilikan institusional.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, dalam penelitian ini dapat

dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H1 : Diduga kepemilikan institusional berpengaruh terhadap tax avoidance

pada perusahaan yang terdaftar di Indeks LQ 45 periode 2012-2016.

2. Pengaruh Dewan Komisaris Independen terhadap Tax Avoidance pada

Perusahaan yang Terdaftar di Indeks LQ 45

Dewi dan Jati (2014) menyebutkan terdapat pengaruh signifikan

antara corporate governance yang diproksikan proporsi dewan komisaris

terhadap tax avoidance, ini berarti keberadaan dewan komisaris independen

efektif dalam usaha mencegah tindakan penghindaran pajak. Keberadaan

komite audit yang fungsinya untuk meningkatkan integritas yang

kredibilitas pelaporan keuangan agar dapat berjalan dengan baik. Jika

semakin sedikit komite audit yang dimiliki oleh perusahaan, maka

pengendalian kebijakan keuangan yang dilakukan oleh komite audit sangat

minim sehingga akan meningkatkan tindakan manajemen dalam melakukan

pajak agresif.

Hasil penelitian yang dilakukan Marfirah dan Syam (2016) diketahui

bahwa proksi pengukuran corporate governance yang berpengaruh positif

terhadap tax avoidance salah satunya adalah dewan komisaris independen,

kualitas audit. Hal ini juga didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan
36

Wibawa, Wilopo, dan Abdillah (2016) bahwa persentase dewan komisaris

independen berpengaruh signifikan terhadap penghindaran pajak.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, dalam penelitian ini dapat

dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H2 : Diduga dewan komisaris independen berpengaruh terhadap tax

avoidance pada perusahaan yang terdaftar di Indeks LQ 45 periode

2012-2016.

3. Pengaruh Komite Audit terhadap Tax Avoidance pada Perusahaan

yang Terdaftar di Indeks LQ 45

Menurut penelitian yang dilakukan Marfirah dan Syam (2016)

diketahui bahwa salah satu proksi pengukuran corporate governance yang

berpengaruh positif terhadap tax avoidance adalah komite audit. Hal ini juga

didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan Wibawa, Wilopo, dan

Abdillah (2016) bahwa komite audit perusahaan berpengaruh signifikan

terhadap penghindaran pajak.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, dalam penelitian ini dapat

dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H3 : Diduga komite audit berpengaruh terhadap tax avoidance pada

perusahaan yang terdaftar di Indeks LQ 45 periode 2012-2016.


37

4. Pengaruh Thin Capitalization terhadap Tax Avoidance pada Perusahaan

yang Terdaftar di Indeks LQ 45

Penghindaran pajak (tax avoidance) juga memiliki salah satu

konsekuensi, yaitu pemanfaatan tax shield (insentif pajak) melalui beban

bunga yang dapat menjadi deductible income tax. Modigliani dan Miller

(dalam Khomsatun dan Martani, 2015) mengemukakan bahwa perusahaan

dapat meningkatkan struktur utangnya untuk memanfaatkan insentif pajak.

Jika di dunia ini tidak ada pajak, biaya keagenan, biaya kebangkrutan,

asimetri informasi, maka keputusan struktur modal utang-ekuitas tidak akan

mempengaruhi nilai perusahaan. Auerbach dan Graham (dalam Dyreng,

dkk., 2010) dengan menggunakan metode survey membuktikan bahwa

strategi struktur modal digunakan untuk merespon insentif pajak.

Kerugian besar dalam penerimaan pajak karena pengurangan pajak

atas tingkat utang yang tinggi telah mendorong banyak negara maju untuk

mengadopsi thin capitalization rules untuk melindungi dasar pengenaan

pajak dalam negeri mereka (Dahlby, 2008). Thin capitalization itu sendiri

adalah praktik membiayai cabang atau anak perusahaan lebih besar dengan

utang berbunga daripada dengan modal saham (Gunadi, 2001). Thin

capitalization ini merupakan pinjaman berupa uang atau modal dari

pemegang saham atau pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa

dengan pihak peminjam. Hasil penelitian yang dilakukan Khomsatun dan

Martani (2015) menunjukkan bahwa perusahaan mampu memperlemah

pengaruh positif thin capitalization terhadap penghindaran pajak.


38

Berdasarkan teori dan hasil penelitian terdahulu, dalam penelitian ini

dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H4 : Diduga thin capitalization berpengaruh terhadap tax avoidance pada

perusahaan yang terdaftar di Indeks LQ 45 periode 2012-2016.

5. Pengaruh Kepemilikan Institusional, Dewan Komisaris Independen,

Komite Audit, dan Thin Capitalization Secara Simultan terhadap Tax

Avoidance pada Perusahaan yang Terdaftar di Indeks LQ 45

Persoalan tax avoidance merupakan persoalan yang rumit dan unik

karena di satu sisi tax avoidance tidak melanggar hukum (legal), tetapi di

sisi yang lain tax avoidance tidak diinginkan oleh pemerintah. Tindakan

penghindaran pajak akan mengurangi kas negara atau mempengaruhi

penerimaan negara. Penghindaran pajak dilakukan dengan menggunakan

strategi, seperti memanfaatkan pengecualian dan potongan yang

diperkenankan dalam ketentuan, maupun memanfaatkan hal-hal yang belum

diatur dalam peraturan perpajakan yang berlaku. Penghindaran pajak (tax

avoidance) terjadi apabila perusahaan berusaha mengurangi beban pajaknya

dengan cara legal dan tidak bertentangan dengan undang-undang perpajakan

yang berlaku (Reza, 2012).

Hasil penelitian yang dilakukan Marfirah dan Syam (2016)

menunjukkan bahwa kepemilikan institusional, dewan komisaris

independen, dan komite audit secara simultan berpengaruh terhadap tax

avoidance. Khomsatun dan Martani (2015) menemukan bahwa thin


39

capitalization berpengaruh terhadap penghindaran pajak. Demikian juga

untuk pengaruh asset mix terhadap penghindaran pajak.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, hipotesis yang diuji dalam

penelitian ini adalah:

H5 : Diduga kepemilikan institusional, dewan komisaris independen,

komite audit, dan thin capitalization berpengaruh simultan terhadap

tax avoidance pada perusahaan yang terdaftar di Indeks LQ 45 periode

2012-2016.