Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

PERANCANGAN ALAT PROSES


“ALAT KRISTALISASI (Crystallizer)”

DOSEN: Prof. Dr. Zuhrina Masyithah, S.T., MSc.

Disusun Oleh:
KELOMPOK V
No NAMA MAHASISWA NIM
1 RIZKY AMALIA 140405010
2 ANDRY H. SIANTURI 140405033
3 ISKANDAR ZULKARNAIN 140405066
4 SAID HANIEF 140405070
5 IMMANUEL P. R. H 140405071
6 YUNAL M. PANE 140405094
7 REGY A. PUTRA GINTING 140405096
8 NOVITA WAHYUNI 140405098
9 MHD DEDI ANGGREAWAN 150405060

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Tugas Mata Kuliah Perancangan Alat
Proses mengenai Alat Kristalisasi (Crystallizer) dengan baik dan tepat pada
waktunya.
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk pemenuhan tugas
Mata Kuliah Perancangan Alat Proses dan untuk melengkapi persyaratan yang telah
ada pada pelaksanaan perkuliahan.
Penulisan makalah ini didasarkan pada hasil studi literatur yang telah dilakukan
yang ada baik dari buku maupun sumber lainnya.
Dengan ini, penulis juga menyampaikan terima kasih kepada :
1. Orang tua yang telah memberikan dukungan baik materil maupun spiritual.
2. Dosen Pembimbing mata kuliah Perancangan Alat Proses, Ibu Prof. Dr.
Zuhrina Masyithah, S.T., MSc.
3. Rekan-rekan mahasiswa seangkatan yang ikut dalam proses penyusunan
hingga terselesaikannya makalah ini.
Demikian makalah ini dibuat oleh penulis. Namun demikian penulis menyadari
bahwa makalah ini belum sempurna dan masih terdapat kesalahan. Oleh karena itu
penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca khususnya dosen
pembimbing untuk peningkatan mutu makalah selanjutnya di masa yang akan
datang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Akhirnya, penulis
mengucapkan terima kasih.
Medan, 05 Januari 2018

Kelompok V

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................................ ii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................................. iii
DAFTAR TABEL ....................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah .......................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................... 2
1.4 Manfaat Penulisan ............................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 3
2.1 Pengertian Crystallizer ...................................................................... 3
2.2 Jenis-Jenis Crystallizer ..................................................................... 3
2.2.1 Jenis-Jenis Crystallizer dengan Circulating Magma .......... 3
2.2.2 Jenis Crystallizer Tanpa Circulating Magma ..................... 9
2.3 Proses Kristalisasi ........................................................................... 12
2.4 Skema Alat Kristalisasi ................................................................... 13
BAB III CONTOH SOAL ....................................................................................... 16
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 18
4.1 Kesimpulan ...................................................................................... 18
4.2 Saran ................................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 19

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Forced Circulating Liquid Evaporator Crystallizer ................................ 4


Gambar 2.2 Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer ........................... 7
Gambar 2.3 OSLO Evaporative Crystallizer ............................................................... 8
Gambar 2.4 OSLO Surface Cooled Crystallizer .......................................................... 8
Gambar 2.5 Jacketed Pipe Scraped Crystallizer.......................................................... 9
Gambar 2.6 Batch Stirred Tank With Internal Cooling Coil ..................................... 10
Gambar 2.7 Direct Contact Refrigeration Crystallizer.............................................. 11
Gambar 2.8 Twinned Crystallizer .............................................................................. 11
Gambar 2.9 Oslo Crystalization Open System ........................................................... 14
Gambar 3.1 Distribusi Massa Diferensial Kristal ...................................................... 17

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam waktu yang sangat lama, ilmuwan mulai mengerti tentang hubungan
antara elemen dasar dari material dan sifat-sifat dari material tersebut. Sehingga
banyak sekali perkembangan yang terjadi dalam bidang yang mengkaji tentang
material. Banyak sekali material baru bermunculan dengan berbagai jenis cara untuk
membuatnya. Contoh dari jenis material yang sangat gencar dikembangkan adalah
material semikonduktor ataupun superkonduktor yang mempunyai keunggulan
dibandingkan material pada umumnya. Namun, sebelum jauh melangkah dalam
membahas hal tersebut, banyak sekali yang harus diketahui mengenai hal – hal dasar
yang menjadi bagian dalam membentuk suatu material. Salah satunya adalah
mengenai proses kristalisasi pada suatu material. Proses kristalisasi memegang
peranan penting dalam terbentuknya suatu material. Karena proses kristalisasi
merupakan salah satu proses dasar dalam terbentuknya suatu material [1].
Kristalisasi (crystallization) merupakan peristiwa pembentukan kristal - kristal
padat dalam suatu fase homogen. Baik itu dalam pembuatan partikel padat di dalam
uap seperti dalam hal pembuatan salju atau pembuatan partikel partikel padat di
dalam lelehan cair sebagai mana dalam pembuatan kristal tunggal yang besar
maupun kristalisasi dari larutan cair misalnya pembuatan garam. Peristiwa
kristalisasi ditandai dengan terbentuknya kristal padat [1].
Oleh karena itu, untuk mempelajari lebih lanjut mengenai apa proses
kristalisasi, bagaimana terjadinya proses kristalisasi, bagian-bagian apa saja yang
terdapat dalam proses kristalisasi dan bagaimana sudut pandang kristalisasi yang
dapat menjadi penting dalam dunia industri saat ini. Sebagai seorang Ahli Teknik
Kimia, maka dalam hal ini dibuatlah sebuah resume mengenai proses kristalisasi
yang terjadi pada suatu material secara umum.

1
1.2 Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah dari pembuatan makalah perancangan alat proses
mengenai alat kristalisasi (crystallizer) ini yaitu:
1. Bagaimana terjadinya suatu proses kristalisasi?
2. Bagaimana cara mendesain alat proses yang akan digunakan dalam industri
berdasarkan proses kristalisasi?
3. Bagaimana pertimbangan bahan konstruksi yang digunakan dalam proses
perancangan alat kristalisasi (crystallizer)?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari pembuatan makalah perancangan alat proses mengenai alat
kristalisasi (crystallizer) ini yaitu:
1. Untuk mengetahui terjadinya suatu proses kristalisasi di dalam perindustrian
yang menerapkannya.
2. Untuk mengetahui cara mendesain alat proses yang akan digunakan dalam
industri yang menggunakan kristalisasi dalam prosesnya.
3. Untuk mengetahui pertimbangan bahan konstruksi yang digunakan dalam
proses perancangan alat kristalisasi (crystallizer).

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat penulisan dari pembuatan makalah perancangan alat proses
mengenai alat kristalisasi (crystallizer) ini yaitu:
1. Mahasiswa mengetahui dan dapat memahami suatu proses terjadinya
kristalisasi pada suatu zat.
2. Mahasiswa mengetahui cara mendesain alat proses yang akan digunakan dalam
industri yang menggunakan kristalisasi sebagai prosesnya.
3. Mahasiswa mengetahui pertimbangan bahan konstruksi yang akan digunakan
dalam proses perancangan alat kristalisasi (crystallizer) sesuai material yang
akan dijadikan kristal.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Crystallizer


Alat-alat kristalisasi disebut juga Crystallizer atau Kristallisator. Alat-alat yang
digunakan dalam proses kristalisasi terutama dalam skala industri (dalam proses
kristalisasi) sangat beragam. Hal ini disebabkan oleh sifat-sifat bahan dan kondisi
pertumbuhan kristal yang sangat bervariasi. Disamping itu juga karena kristalisasi
dilaksanakan untuk tujuan yang berbeda-beda (pemisahan bahan, pemurnian bahan,
pemberian bentuk) [2].
Kristalisasi adalah peristiwa pembentukan suatu kristal dari solute dalam
larutan toleransinya. Kristalisasi dapat terjadi sebagai pembentukan partikel-partikel
padat dalam uap seperti pada pembentukan salju sebagai pembekuan lelehan cair.
Sebagaimana dalam pembentukan kristal dari larutan cair atau pembentukan kristal
tunggal yang besar. Kristalisasi dapat dilakukan dengan pendinginan, penguapan,
dan penambahan solvent bahan kimia. Kristalisasi merupakan proses yang dipelajari
dalam bidang ilmu alam dan juga mempunyai penerapan yang penting. Karena sifat
dari berbagai macam bentuk padat dan material bergantung terhadap struktur kristal
mereka masing-masing, ukuran kristal dan tekstur timbal balik mereka [2].
Secara umum, kristalisasi dapat diartikan pula sebagai permulaan dari kristal
dari larutan yang sangat jenuh. Kuantitas dari energi kinetik dari kristalisasi dan
penggunaan untuk tujuan pembentukannya dipelajari dalam bidang Teknik Kimia.
Metode untuk memperoleh kinetik kristalisasi dan metode untuk pengaplikasiannya
dari kinetik kristalisasi telah dikembangkan untuk berbagai macam proses dalam
dunia industri. Tipe mekanisme dari kristalisasi adalah menyusun nukleasi dan
pertumbuhan kristal yang besar dengan penyusunan reguler dari sebuah larutan mono
molekuler yang didifusikan ke dalam permukaan kristal [3].

2.2 Jenis-Jenis Crystallizer


2.2.1 Jenis Crystallizer dengan Circulating Magma
Adapun jenis crystallizer dengan circulating magma adalah sebagai berikut:
1. Forced Circulating Liquid Evaporator Crystallizer

3
Kristalisator jenis ini mengkombinasikan antara pendingin dan evaporasi untuk
mencapai kondisi supersaturasi (larutan lewat jenuh).

Gambar 2.1 Forced Circulating Liquid Evaporator Crystallizer [1]


Pada Gambar 2.1 diatas terlihat bahwa umpan berupa larutan induk terlebih
dahulu dilewatkan melalui sebuah Heat Exchanger untuk dipanaskan. Heat
Exchanger tersebut berada di dalam evaporator. Di dalam evaporator terjadi
flash evaporation yaitu terjadi pengurangan jumlah atau kandungan pelarut dan
terjadi peningkatan konsentrasi zat terlarut. Dimana saat itu juga, keadaan zat
terlarut yang sudah lewat jenuh atau supersaturasi. Larutan yang sudah berada
pada keadaan lewat jenuh tersebut dialirkan menuju badan crystallizer untuk
diperoleh padatan berupa kristal. Dimana pada badan crystallizer terdapat
mekanisme kristalisasi yaitu nukleasi dan pertumbuhan kristal. Produk kristal
dapat diambil sebagai hasil pada bagian bawah crystallizer, namun tidak semua
proses berjalan sempurna atau dengan kata lain tidak semua cairan induk
berubah menjadi padatan kristal. Karena itu ada proses pengembalian kembali
hasil pipa sirkulasi (circulating pipe) atau proses recycle hasil kristalisasi.

4
Terlihat bahwa umpan dan campuran umpan dengan hasil yang masih belum
padatan, dialirkan dengan paksa atau forced circulation, serta adanya Heat
Exchanger dapat membuat kenaikan titik didih yang sempurna. Kenaikan titik
didih pada Heat Exchanger pada Evaporator untuk dapat membuat larutan
menjadi lewat jenuh berkisar antara 3 – 10oF untuk sekali lewat. Bila kenaikan
titik didih yang diharapkan untuk mendapatkan kristal yang baik tidak sesuai,
maka dapat digunakan beberapa evaporator untuk menaikkan titik didih,
dimana konsentrasi zat terlarut akan meningkatkan juga. Karena mengalir
secara paksa menggunakan pompa, maka kecepatan aliran cukup tinggi,
sehingga akan mengakibatkan ketinggian permukaan larutan pada crystallizer
tidak tetap atau naik turun. Umumnya, crystallizer jenis ini dibangun dengan
diameter 2 feet atau pada skala industri sekitar 4 feet atau lebih [1].

2. Draft Tube Baffle (DTB) Crystallizer


Draft Tube Baffle (DTB) crystallizer atau plat buang atau tabung hisap
kristalisasi merupakan salah satu dari beberapa jenis alat kristalisator yang
didasarkan pada pemisahan debu atau uap dari bahan melalui fase lewat jenuh
yang ditingkatkan sehingga diperoleh kristal-kristal yang besar. Alat ini
dilengkapi dengan tabung junjut fungsi sekat untuk mengendalikan sirkulasi
magma dan dilengkapi pula oleh alat penggerak (agitator) [4]. Proses kerja
Draft Tube Baffle (DTB) crystallizer dapat dibedakan menjadi dua bagian,
yaitu:
1) Proses Kristalisasi
Bahan sampel dan cairan induk dimasukkan ke dalam tangki DTB
crystallizer melalui sebuah pipa Superheated Solution From Heater and
Recirculation Pump, komponen ini akan mendorong bahan naik ke atas
dalam Draft Tube (tabung hisap). Di dalam tabung hisap bahan akan
tercampur dan mengalami sirkulasi dengan bantuan Agitator (pemutar
atau pengaduk) yang berada di dalam tangki bagian bawah. Kedua bahan
ini akan membentuk magma melalui fase lewat jenuh yang ditingkatkan.
Magma yang terbentuk akan mengalami perubahan densitas sehingga uap
yang terkandung di dalamnya akan terlepas ke permukaan magma

5
menuju ke Vapor Separation (pemisahan uap). Lalu mengalami proses
nukleasi (pembentukan inti kristal), kristal yang terbentuk akan
mengendap ke dasar larutan dan sebagian akan naik ke permukaan.
Kristal yang mengendap akan mengalami pemisahan antara kristal halus
dengan kristal kasar pada settling zone (zona penyelesaian), dimana
sebagian kristal akan dikeluarkan dari dasar tangki dan selebihnya
dijadikan umpan bersama cairan induk untuk melakukan proses sirkulasi
guna melarutkan partikel-partikel halus yang masih mengendap.
2) Proses Klarifikasi
Terjadi pemisahan pada bentuk kristal. Kristal yang sesuai dengan
keinginan akan diambil dan kristal yang belum sesuai (ukuran besar atau
kasar) akan dikembalikan ke zona kristalisasi untuk proses lebih lanjut.
Produk yang diperoleh dengan menggunakan Draft Tube Baffle (DTB)
crystallizer adalah:
a. Natrium Karbonat (Sodium Carbonate)
b. Sodium Sulfat (Sodium Sulfate)
c. Natrium Nitrat (Sodium Nitrate)
d. Tembaga Sulfat (Copper Sulfate)
e. Sodium Sulfit (Sodium Sulfite)
f. Kalsium Klorida (Calcium Chloride)
g. Amonium Sulfat (Ammonium Sulfate)
h. Kalium Klorida (Potassium Chloride)
Keuntungan dari penggunaan Draft Tube Baffle (DTB) crystallizer antara
lain sebagai berikut:
a. Mampu memproduksi kristal-kristal dalam bentuk tunggal.
b. Siklus operasionalnya lebih panjang.
c. Biaya operasi lebih rendah.
d. Kebutuhan ruang minimum.
e. Instrumen dapat dikendalikan dengan mudah.
f. Kesederhanaan operasi, memulai dan penyelesaian.

6
3. Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer
Crystallizer jenis ini menggunakan prinsip sirkulasi cairan atau larutan
iknduk, dimana umpan maupun hasil kristalisasi akan masuk ke dalam Shell
and Tube Heat Exchangers untuk didinginkan.

Gambar 2.2 Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer [1]


Pada Gambar 2.2 di atas, umpan dan recycle kristalisasi bersama-sama masuk
ke dalam medium pendingin. Namun kelemahannya adalah panjang untuk
pertukaran panas pada Heat Exchanger dan kecepatan umpan serta recycle
kristalisasi sangat diperhitungkan, sebab jika terjadi kesalahan penurunan suhu
untuk dapat melakukan kristalisasi pada proses pendinginan tidak berlangsung
secara optimal. Oleh karena itu, pompa untuk sirkulasi sangat dikontrol dengan
baik. Adanya pompa menyebabkan cairan induk akan mengalir secara turbulen.
Bila kristal sudah terbentuk pada cairan induk yang sudah lewat jenuh, maka
kristal akan turun karena adanya gaya gravitasi dan perbedaan massa jenis.
Kristal dari crystallizer jenis ini berukuran besar antara 30 hingga100 mesh [1].

4. OSLO Evaporative Crystallizer


Crystallizer ini dirancang berdasarkan adanya perbedaan suspensi yang mulai
terbentuk pada chamber of suspension. Dimana terdapat Heat Exchanger
eksternal yang bertujuan untuk membuat keadaan lewat jenuh pada suhu
supersaturasinya [1].

7
Gambar 2.3 OSLO Evaporative Crystallizer [1]

5. OSLO Surface Cooled Crystallizer


Tidak jauh berbeda dengan OSLO Evaporative Crystallizer, hanya saja cairan
induk didinginkan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam crystallizer [1].

Gambar 2.4 OSLO Surface Cooled Crystallizer [1]

6. Crystal Vacum Crystallizer


Prinsip kerjanya adalah umpan dicampur dengan cairan yang direcycle
dipompa ke ruang penguap untuk diuapkan secara adiabatik sehingga terjadi
larutan lewat jenuh. Larutan tersebut mengalir melalui pipa ke tangki
kristalisasi sehingga terbentuk kristal di dalam tangki kristalisasi, kemudian
kristal dikeluarkan melalui dischargennya dan cairannya direcycle. Dengan alat

8
ini ukuran kristal yang diinginkan dapat diatur dengan mengatur kecepatan
pompa sirkulasi. Kalau sirkulasinya lambar, maka kristal yang kecil-kecil pun
akan larut mengendap [1].

7. Circulating Magma Vacuum Crystallizer


Pada tipe kristaliser ini, baik kristal ataupun larutan di sirkulasi diluar badan
kristal. Setelah dipanaskan larutan akan dialirkan ke badan kristaliser. Kondisi
vakum menjadi penyebab menguapnya pelarut, sehingga menjadi lewat jenuh
dan dihasilkan kristal [1].

2.2.2 Jenis Crystallizer Tanpa Circulating Magma


Adapun jenis crystallizer tanpa circulating magma adalah sebagai berikut:
1. Jacketed Pipe Scraped Crystallizer
Alat ini umumnya dibuat dengan pipa 6 - 12 inch sebagai diameter dan
panjangnya sekitar 20 - 40 ft, yang disusun seri dalam sambungan dengan 3
buah atau lebih. Piringan yang berlekuk di dalam alat tersebut dinamakan
dengan Scraper Blades.

Gambar 2.5 Jacketed Pipe Scraped Crystallizer [1]


Prinsip kerjanya ialah plug flow, dimana cairan induk masuk dari bagian atas
samping kanan, lama kelamaan akan membentuk kristal di dalam pipa tersebut
dan kristal akan mengendap dibawah dan menempel di dinding pipa, yang
nantinya scaper blades akan mengambil kristal - kristal tersebut. Ukuran kristal
yang dihasilkan akan seragam, umumnya besar – besar [1].

2. Batch Stirred Tank With Internal Cooling Coil


Jenis Crystallizer ini termasuk dalam jenis yang batch atau tidak ada aliran
yang keluar setiap waktunya. Jenis ini dapat digunakan untuk proses

9
continuous dengan dilengkapi pengaduk dan apabila menggunakan pengaduk,
pembentukan kristal terutama pada secondary nucleation akan lebih besar bila
dibandingkan dengan tanpa pengaduk [1].

Gambar 2.6 Batch Stirred Tank With Internal Cooling Coil [1]

3. Direct Contact Refrigeration Crystallizer


Prinsip kerja dari crystallizer jenis ini ialah dengan adanya pendingin dari
refrigerant yang digunakan, dimana umpan berupa cairan induk yang
dimasukkan ke badan crystallizer dengan suhu yang lebih tinggi dengan suhu
yang refrigerant (suhu cair refrigerant minus). Karena titik didih refrigerant
sangat kecil atau jauh dibawah suhu cairan induk, maka ada perpindahan panas
dari cairan induk menuju refrigerant, dimana akan mengakibatkan kenaikan
suhu pada refrigerant dan menguap untuk mendinginkan cairan induk, sampai
cairan induk berada pada keadaan lewat jenuh.
Contoh dari cristallyzer ini adalah pada proses pembuatan kristal Calcium
Chloride dengan refrigerant freon atau propane dan pembuatan kristal p-
xylene dengan refrigerant propane.

10
Gambar 2.7 Direct Contact Refrigeration Crystallizer [1]

4. Twinned Crystallizer
Jenis crystallizer ini sebenarnya berbentuk tangki yang di dalamnya terdapat
dua pengaduk yang dipisahkan oleh sekat atau baffle. Pada tiap pengaduk
terdapat medium pemanas dimana yang salah satunya bekerja pada suhu
saturasi, sedangkan satunya bekerja pada suhu supersaturasi atau lewat jenuh.
Namun bila suhu operasi pada cristallizer ini sama pada kedua medium
pemanas, umumnya akan didapatkan keseragaman ukuran. Tetapi waktu yang
diperlukan akan lebih lama, walaupun terdapat dua pengaduk dalam satu tangki
tersebut [1].

Gambar 2.8 Twinned Crystallizer [1]


Sesuai dengan namanya bahwa seolah-olah terdapat dua macam jenis
crystallizer yang beroperasi pada suhu yang berbeda namun dalam satu tangki

11
crystallizer. Terlihat bahwa umpan masuk dari sebelah kanan atas, karena
adanya pergerakan pengaduk, cairan induk bersikulasi dan juga disebabkan
karena adanya sekat antara kedua pengaduk tersebut. Semakin cepat gerakan
pengaduk dan semakin tinggi perbedaan suhu yang ditukarkan, maka semakin
cepat dan baik kristal yang didapatkan. Produk berupa kristal dapat diambil
pada bagian bawah crystallizer, karena kristal akan jatuh atau mengendap di
bawah karena adanya gaya gravitasi dan perbedaan massa jenis [1].

5. APV-Kestner Long Tube Vertical Evaporative Crystallizer


Umumnya crystallizer jenis ini digunakan untuk mendapatkan butiran-butiran
atau kristal yang cukup kecil, biasanya kurang dari 0,5 mm. Prinsip kerjanya
hampir sama dengan crystallizer yang lain, yaitu umpan masuk dengan pompa,
lalu melewati sebuah evaporator yang di dalamnya terdapat Heat Exchanger.
Pada saat cairan induk berada pada keadaan supersaturasi atau lewat jenuh,
maka akan terbentuk kristal-kristal halus. Kristal-kristal tersebut ditampung
pada salt box, cairan induk yang belum lewat jenuh dikeluarkan, sedangkan
yang berupa kristal dikeluarkan produk. Contohnya pada pembuatan kristal
NaCl (garam), Na2SO4, dan Citric Acid [1].

2.3 Proses Kristalisasi


Kristalisasi dapat memisahkan suatu campuran tertentu dari larutan multi
komponen sehingga didapat produk dalam bentuk kristal. Kristalisasi juga dapat
dipakai sebagai salah satu cara pemurnian karena lebih ekonomis. Operasi kristalisasi
terbagi menjadi:
a. Membuat larutan supersaturasi (lewat jenuh).
b. Pembuatan inti kristal.
c. Pertumbuhan kristal.
Dalam proses kristalisasi, terdiri atas dua buah kejadian besar, yaitu nukleasi
(nucleation) dan pertumbuhan kristal (crystal growth). Kristal dibuat pada saat nuklei
dibentuk dan kemudian ditumbuhkan. Proses kinetika dari nukleasi dan pertumbuhan
kristal membutuhkan keadaan yang sangat jenuh, yang secara umum dapat diperoleh
dengan mengubah suhu, menghilangkan pelarut, atau dengan menambahkan agen

12
penenggelam (drowning-out agent) atau pendamping reaksi. Sistem kemudian
menempatkan diri untuk mendapatkan termodinamik melalui nukleasi dan
pertumbuhan dari nuklei. Jika suatu larutan mengandung partikel padatan dari luar
daripada kristal dari tipenya sendiri, maka nuklei dapat terbentuk hanya dengan
nukleasi homogen (homogeneus nucleation). Apabila terdapat keberadaan partikel
dari luar, nukleasi difasilitasi dan proses dikenal sebagai nukleasi heterogen
(heterogeneous nucleation). Kedua jenis nukleasi mengambil tempat dalam
kehadiran kristal dari larutan itu sendiri dan secara kolektif dikenal sebagai nukleasi
primer (primary nucleation). Ini didapatkan ketika keadaan spesifik yang sangat
jenuh, dikenal sebagai super saturasi metastabil yang didapatkan dalam sistem. Akan
tetapi, semi komersil dan kristalizer dalam industri, telah diamati bahwa terdapat
nuklei bahkan pada saat super saturasi rendah ketika larutan dari kristalnya sendiri
ada [1].

2.4 Skema Alat Kristalisasi


Skema peralatan kristalisasi yang akan dibahas adalah oslo type crystallizer
Oslo Jenis crystallizer juga disebut diklasifikasikan-suspensi crystallizer adalah
desain tertua dikembangkan untuk produksi besar, kristal kasar.
Kriteria desain dasar ada dua:
- Desupersaturation dari larutan induk melalui kontak dengan kristal terbesar
hadir di ruang kristalisasi.
- Menjaga sebagian besar kristal dalam suspensi tanpa kontak dengan perangkat
pengadukan, sehingga memungkinkan produksi kristal besar distribusi ukuran
yang sempit.

13
Gambar 2.9 Oslo Crystalization Open System
Pengklasifikasian kristalisasi ruang adalah bagian bawah unit. Bagian atas
adalah area pemisahan cairan-uap jenuh di mana dikembangkan oleh penghilangan
pelarut (air untuk sebagian besar aplikasi). Cairan sedikit jenuh mengalir turun
melalui pipa tengah dan jenuh yang lega dengan kontak dengan fluidized bed kristal.
Desupersaturation terjadi secara progresif sebagai larutan induk beredar bergerak ke
atas melalui tidur pengklasifikasian sebelum dikumpulkan di bagian atas ruangan.
Kemudian daun melalui pipa beredar dan setelah penambahan pakan segar, melewati
penukar panas di mana panas make-up disediakan. Hal ini kemudian didaur ulang ke
bagian atas.
Perlu diingat bahwa biaya operasi unit jenis crystallizer Oslo jauh lebih rendah
daripada dengan jenis lain . Ini Oslo Jenis crystallizer (diklasifikasikan - crystallizer
suspensi) memungkinkan siklus panjang produksi antara periode cuci. Selain operasi
proses biasa, Oslo Jenis crystallizer juga menemukan sejumlah aplikasi yang
menarik, misalnya untuk reaksi kristalisasi dan pemisahan kristal jika beberapa
spesies kimia yang terlibat. Untuk itu, jenis peralatan kristalisasi ini layak untuk
dikembangkan.
Adapun prinsip kerja alat kristalisasi tipe oslo adalah:

14
Awalnya dirancang sebagai mengklasifikasikan crystallizers, unit Oslo sering
dioperasikan dalam modus campuran suspensi untuk meningkatkan produktivitas,
meskipun hal ini mengurangi ukuran kristal produk. Dengan modus
pengklasifikasian operasi, larutan umpan pekat panas dimasukkan ke kapal pada titik
tepat di atas inlet ke pipa sirkulasi. Larutan jenuh dari daerah atas crystallizer,
bersama dengan sejumlah kecil bahan baku, disirkulasikan melalui tabung penukar
panas dan didinginkan oleh sirkulasi paksa air atau air garam. Dengan cara ini,
larutan menjadi jenuh, meskipun harus diperhatikan untuk menghindari nukleasi
spontan. Kristal produk magma dihapus dari daerah yang lebih rendah dari kapal.
Keuntungan alat kristalisasi jenis oslo adalah :
- Biaya operasi jauh lebih rendah dibandingkan dengan jenis lain dari
crystallizer perawatan yang rendah.
- Memungkinkan siklus produksi yang panjang antara periode cuci.

15
BAB III
STUDI KASUS DAN CONTOH SOAL

Kristal asam sitrat monohidrat dalam sebuah MSMPR (mixed suspension mixed
product removal) pada 30C dengan ukuran kristal dominan LD = 0,833 mm (20
mesh). Density kristal 1.54 g/mL, volume shape factor  = 1 dan kelarutannya 39,0
wt %. Rasio supersaturasi yang digunakan C/C0 = 1,05. Kecepatan pertumbuhan
kristal, G = 4  10-8 m/s.
Jika kecepatan produksi kristal = 15 kg/jam, hitung kecepatan nukleasi dan gambar
distribusi massa diferensial dari kristal yang dihasilkan.
Penyelesaian :
G  dL dt  4 108 m s  0.144 mm jam
Hubungan antara ukuran dominan dengan besaran lain:
LD  0,833  3G
0,833
  1,93 jam
30.144
Untuk kecepatan produksi 15 kg/jam:
M ' 15
Kecepatan nukleasi dihitung dengan persamaan dibawah ini:
1,5 M '
B0 
 c L3pr


1,515
11,50,833 103 3
= 2,595  1010nuklei/m3 jam
Distribusi massa diferensial dinyatakan dalam persamaan:
dm x 3 e  x

dx 6

Dengan:

L L
x   3,60 L
G 0,1441,93
Maka diperoleh :
dm 3,60 L  e 3, 60 L
3

dx 6
16
Maka gambar distribusi massa diferensial dari kristal yang dihasilkan.

0.25

0.20

0.15
dm / dx

0.10

0.05

0.00
0 1 2 3 4
L (mm)
Gambar 3.1 Distribusi Massa Diferensial Kristal

17
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah:
1. Kristalisasi merupakan salah satu satuan proses yang sering digunakan dalam
industri kimia, seperti pemekatan susu menjadi berwujud powder dan
sebagainya.
2. Alat-alat yang digunakan dalam proses kristalisasi disebut dengan Crystallizer
dimana alat ini sering ditemukan di berbagai industri pabrik di dunia.
3. Terdapat beberapa jenis dari Crystallizer yang dikelompokkan berdasarkan ada
tidaknya sirkulasi magma yang berupa larutan pekat di dalam alat crystallizer.
4. Proses kristalisasi pada umumnya merupakan suatu proses evaporasi dimana
hal ini terjadi pada kondisi larutan yang supersaturated sehingga terjadi
perubahan fasa dari fasa cair ke fasa padatan.

4.2 Saran
Adapun saran yang diberikan dari makalah ini adalah:
1. Sebaiknya agar lebih memahami mengenai kristalisasi beserta alatnya, maka
diperlukan langkah-langkah cara mendesain crystallizer dengan ketentuan
sesuai dengan umpan yang akan dikristalkan.
2. Diharapkan mahasiswa untuk mencari penerapan mengenai proses kristalisasi
di dalam kehidupan sehari-hari untuk lebih meningkatkan pemahaman sebagai
seorang Ahli Teknik Kimia di bidang perancangan alat kristalisasi.

18
DAFTAR PUSTAKA

[1] Cyntia, Rizky Fajar, Ornastya Pratiwi Wulandari, Ahmad Aldi Wijanarko.
2015. Crystallizer. Universitas Muhammadiyah: Surakarta.
[2] Coelfen, H dan Antonietti, M. 2008. Mesocrystals and Nonclassical
Crystallization. United Kingdom (UK): John Wiley and Sons Ltd.
[3] McKetta, John J. 2003. Unit Operation Handbook Volume 1 Mass Transfer.
New York: Marcel Dekker.
[4] Surdiansyah, Eko Aji dan Radityo Pungky P. 2012. Evaporator dan
Kristalisator. Universitas Negeri Malang: Malang

19