Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Malingering atau berpura-pura sakit adalah suatu perilaku yang disengaja untuk
tujuan eksternal disadari. Hal ini tidak dianggap sebagai bentuk penyakit mental
atau psikopatologi, meskipun dapat terjadi dalam konteks penyakit mental
lainnya. Malingering dapat dinyatakan dalam beberapa bentuk, dari berpura-pura
sakit yang murni di mana individu memalsukan semua gejala atau sebagian di
mana individu memiliki gejala tetapi melebih-lebihkan dampak yang dialami
mereka melakukan fungsi sehari-hari. Bentuk lain dari malingering adalah
simulasi di mana orang tersebut meniru gejala cacat tertentu atau kepura-puraan
ketika pasien menyangkal adanya masalah di mana akan tampak seperti gejala
dalam kasus penyalahgunaan narkoba. Bentuk lain dari berpura-pura sakit adalah
tuduhan palsu di mana individu memiliki gejala yang valid tetapi tidak jujur
sebagai sumber masalah, misalnya untuk sebuah kecelakaan mobil ketika
penyebab sebenarnya secara nyata adalah cedera yang terjadi di rumah.1,2
Malingering tidak dianggap sebagai penyakit mental. Dalam Diagnostik
dan Statistik Gangguan Mental Manual, Edisi Keempat, Teks Revisi (DSM-IV-
TR), berpura-pura sakit menerima kode V sebagai salah satu kondisi lain yang
mungkin menjadi fokus perhatian klinis. The DSM-IV-TR menjelaskan berpura-
pura sakit sebagai berikut: Fitur penting dari kepura-puraan adalah produksi
disengaja dari gejala fisik dan psikologis yang palsu atau terlalu dibesar-besarkan,
yang termotivasi oleh insentif eksternal seperti menghindari tugas militer,
menghindari pekerjaan, memperoleh kompensasi finansial, menghindari tindakan
kriminal, atau mendapatkan obat-obatan.1,2,3
Karena berpura-pura sakit untuk tujuan kompensasi merupakan perilaku
kriminal, penulisan rekam medis dan diagnosis harus cermat. Jika ragu, dengan
asumsi bahwa pasien tidak berpura-pura sakit adalah tindakan yang lebih baik.
Total biaya penipuan asuransi kesehatan di Amerika Serikat (termasuk klaim yang
tidak jujur oleh pasien dan petugas medis) adalah lebih dari US$ 59 milyar pada

1
tahun 1995, yang berarti biaya rata-rata US$ 1.050 dalam premi untuk setiap
keluarga di Amerika.1,2

1.2 Tujuan
Tujuan dari karya tulis ini adalah untuk memberi informasi mengenai
malingering, tanda dan gejalanya, diagnosa serta penatalaksanaan yang tepat
untuk mengatasinya.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Malingering tidak dianggap sebagai penyakit mental. Dalam Diagnostik dan
Statistik Gangguan Mental Manual, Edisi Keempat, Teks Revisi (DSM-IV-TR),
berpura-pura sakit menerima kode V sebagai salah satu kondisi lain yang mungkin
menjadi fokus perhatian klinis. The DSM-IV-TR menjelaskan berpura-pura sakit
sebagai berikut: Fitur penting dari malingering adalah produksi disengaja dari
gejala fisik dan psikologis yang palsu atau terlalu dibesar-besarkan, yang
termotivasi oleh insentif eksternal seperti menghindari tugas militer, menghindari
pekerjaan, memperoleh kompensasi finansial, menghindari tindakan kriminal,
atau mendapatkan obat-obatan.1,2,3
DSM-IV-TR menyatakan bahwa malingering harus dicurigai apabila ada
kombinasi sebagai berikut:1
1. Konteks medicolegal (contohnya, individu yang dirujuk oleh
pengacara/kejaksaan kepada dokter untuk pemeriksaan)
2. Ada perbedaan antara keluhan atau kecacatan yang dilaporkan oleh
individu dengan temuan objektif
3. Kurang kooperatif selama evaluasi diagnostik dan memenuhi regimen
pengobatan yang telah diresepkan
4. Adanya gangguan kepribadian antisosial

2.2. Epidemiologi
Insidensi, prevalensi, dan fitur distribusi yang aktual terkait dengan malingering
yang ada saat ini masih kurang tepat. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa
malingering status bukan merupakan diagnosis psikiatri dengan studi saat ini
memeriksa validitas dan reliabilitasnya dalam konteks populasi klinis yang
ditetapkan. Spekulasi menunjukkan bahwa pada nilai dasar dapat bervariasi dari
7,5 sampai 33 persen. Dalam praktek klinis biasa, beberapa telah menetapkan
prevalensi 1 persen; dalam populasi militer, kejadian 5 persen; dan perkara

3
hukum, situasi kriminal, mencapai 20 persen. Sebuah studi pada tahun 2002 dari
131 dokter dari American Board of Clinical Neuropsychology memberikan rincian
nilai dasar untuk konteks yang berbeda dari malingering sebagai berikut: 29
persen untuk cedera pribadi, 30 persen untuk disabilitas atau kompensasi pekerja,
19 persen dalam kasus-kasus kriminal, dan 8 persen dalam kasus medis atau
psikiatri.1,2,4

2.3. Etiologi
Faktor-faktor etiologi yang berkontribusi terhadap spektrum dari presentasi
malingering sangatlah luas dan terkait dengan pertanyaan yang jauh lebih besar
tentang struktur dan motivasi dalam sifat manusia. Masalah perkembangan
kognitif, perbaikan kognitif, instropeksi, wawasan, akurat analisis diri, mekanisme
pertahanan ego, adaptasi dan kelangsungan hidup, perkembangan moral,
keterbukaan diri, kejujuran, dan kapasitas yang disengaja untuk berbohong
semuanya memainkan penilaian dari mekanisme yang berkontribusi kepada
malingering. Label malingering, apalagi, bisa ditafsirkan untuk membawa
penilaian merendahkan, dan bersikap profesional dan implikasi legal yang
signifikan kepada dokter jika ditantang. Jadi, rajin, pelit, dan pendekatan yang
berpikiran tajam kepada motivasi pasien dan pertimbangan kebenaran secara hati-
hati dari presentasi klinis adalah bahan penting menuju kesimpulan yang adil dan
wajar.1,2,4

2.4. Diagnosis dan Fitur Klinis1,2,4,5


Menghindari Tanggung Jawab Kriminal, Percobaan dan Hukuman
Individu dapat berpura-pura tidak kompeten untuk menghadiri persidangan,
mereka mungkin mengaku berpura-pura gila saat melakukan perbuatan kejahatan,
gejala berpura-pura sakit untuk menerima hukuman yang lebih ringan, atau
mencoba untuk bertindak seperti kelumpuhan apabila akan dieksekusi.

Menghindari Wajib Militer atau Tugas Berbahaya


Individu dapat berpura-pura sakit untuk menghindari wajib militer dalam
angkatan bersenjata, dan apabila sudah menjalani wajib militer, mereka dapat

4
berpura-pura sakit khususnya untuk menghindari tugas-tugas yang berat dan
berbahaya.

Keuntungan Finansial
Individu dapat berpura-pura sakit untuk mendapatkan keuntungan finansial dalam
bentuk asuransi akibat kecacatan yang tidak diinginkan, uang pensiun,
kompensasi pekerja atau gugatan ganti rugi atas cedera psikologi.

Menghindari Pekerjaan, Tanggung Jawab Sosial, dan Konsekuensi Sosial


Individu dapat berpura-pura sakit untuk melarikan diri dari kejuruan atau keadaan
sosial yang tidak menyenangkan atau untuk menghindari konsekuensi sosial dan
proses pengadilan dari kejanggalan sosial.

Fasilitas Transfer dari Penjara ke Rumah Sakit


Orang yang dipenjara dapat berpura-pura sakit dengan tujuan mendapatkan izin
transfer ke rumah sakit jiwa yang dimana mereka berharap dapat melarikan diri
atau menghabiskan waktu dengan lebih mudah. Namun, konteks penjara juga
dapat menimbulkan keadaan berpura-pura sakit; prospek dari jumlah yang tidak
dapat ditentukan sehari-hari di bangsal kesehatan jiwa mungkin akan meminta
narapidana dengan gejala psikiatri yang benar melakukan setiap usaha untuk
menyembunyikan mereka.

Masuk ke Rumah Sakit


Saat ini di era deinstitutionalization dan tunawisma, individu dapat berpura-pura
sakit dengan tujuan untuk masuk ke rumah sakit jiwa. Beberapa institusi tersebut
dilihat dapat memberikan ruangan dan makanan gratis, tempat berlindung yang
aman dari polisi, atau tempat berlindung dari rival anggota geng atau kroni obat-
obatan yang tidak pernah puas yang telah jalan kehidupan lebih tidak tertahankan
dan berbahaya dari yang biasanya.

Mencari Obat
Individu dapat berpura-pura sakit dengan tujuan untuk mendapatkan obat-obatan
kesukaan, apakah untuk penggunaan secara pribadi atau, dalam tata cara penjara,
sebagai mata uang untuk menukar dengan rokok atau kesukaan narapidana.

Perwalian Anak

5
Memperkecil kesulitan atau berpura-pura baik dengan tujuan mendapat perwalian
anak dapat terjadi ketika salah satu pihak menuduh pihak lain berlaku tidak seperti
orang tua oleh karena kondisi psikologis. Pihak yang dituduh dapat merasa
terpaksa untuk memperkecil gejala atau menggambarkan dirinya dalam
pandangan positif untuk mengurangi kesempatan dianggap tidak pantas dan
kehilangan perwalian.

2.5. Gejala Klinis1,4,5


a. Gejala fisik
Nyeri
Pseudoseizures
Presentasi neurokognitif

b. Gejala psikologis
Posttraumatic Stress Disorder
Depresi
Amnesia
Psikosis
Kecacatan intelektual
Borderline Intellectual Functioning
Sindrom Ganser
ADHD
2.6. Pemeriksaan Khusus1,2,4,5
Penemuan kasus malingering juga dapat didukung dengan memperoleh informasi
dari sumber tambahan, termasuk data dari wawancara dengan orang-orang yang
mengenal pasien, rekam medis, dan tes psikologi. Tidak ada pemeriksaan fisik
yang objektif untuk membuktikan adanya malingering. Meskipun psikiater
mempunyai peranan klinis penting pada keseluruhan penilaian, usaha tambahan
dari tim medis, psikologi (contohnya tes neuropsikologi), dan ahli hukum sangat
dibutuhkan untuk menyediakan bukti tambahan dan menyelenggarakan konsensus
untuk mendukung temuan psikiatri.
Tes psikologi melibatkan penggunaan instrumen psikometri standard oleh
psikologis yang terlatih dan berpengalaman. Perlu diketahui bahwa tidak ada satu
tes gold standard yang dianggap pasti. Penggunaan pengukuran tes yang multipel
dan data tambahan lainnya membantu dalam menyediakan bukti mendukung yang
konvergen terhadap penemuan malingering.
The Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2 (MMPI-2) adalah
salah satu instrumen yang paling sering digunakan untuk mendeteksi malingering

6
sebagai penyakit mental. Skala F mendeteksi gejala yang melebih-lebihkan atau
gangguan psikologis yang buruk. Skala K baik dalam mendeteksi berpura-pura
baik, atau meminimalkan apa yang responden pandang sebagai gejala negatif.
Skala F-K mengindikasikan kecenderungan untuk melebih-lebihkan gejala. Skala
F-psikopatologi mendeteksi gejala yang jarang tampak, dan skala D dan FBS
mengekspos stereotip keliru dari penyakit.
The Wechsler Intelligence Scales juga digunakan untuk menentukan
kekuatan dan kelemahan area fungsi intelektual dari bicara dan perspektif kinerja.
Abnormalitas kasar pada level intelektual seperti bentuk retardasi mental dan
perbedaan mencolok di area subtes dapat dideteksi.
The Structured Inventory of Reported Symptomps (SIRS), instrumen yang
sangat populer, digunakan untuk memeriksa gangguan mental berpura-pura dan
gejala yang benar-benar langka. Dua dimensi pokok pada tes ini adalah Spurious
Presentationi, yang mana digunakan untuk mengakses gejala kumpulan yang
tidak akan menjadi nyata dalam keadaan apapun, dan Plausible Presentation,
yang digunakan untuk mengakses beberapa gejala yang pasien asli akan setujui.
The Test of Memory Malingering (TOMM) adalah tes malingering yang
terbaru dan mutakhir. Tes ini menjadi sangat populer dan banyak digunakan. Tes
ini mengakses keluhan memori berlebihan dan kepura-puraan penurunan kognitif,
dan mendeteksi bentuk halus dari malingering.

2.7. Diagnosis Banding1,2,4,5,6


Malingering dapat timbul bersamaan dengan gangguan mental sebenarnya, seperti
gangguan depresi, gangguan cemas, gangguan bipolar, dan gangguan kepribadian.
Penilaian yang seksama diperlukan untuk membedakan gangguan mental yang
asli dan gangguan kepribadian dari malingering. Lebih dari satu diagnosis dan
kondisi dapat timbul secara bersamaan.
Malingering dapat didiagnosa banding dengan gangguan buatan/
Munchausen’s syndrome, gangguan somatisasi, gangguan konversi,
hipokondriasis dan gangguan disosiatif. Gangguan mental yang paling kontras
mirip dengan malingering adalah gangguan buatan dan gangguan somatisasi.

Malingering Factitious Somatoform


Presentation Psychological/ Psychological/ Physical symptoms

7
physical symptoms physical signs and
symptoms
Deliberate Yes Yes No
feigning
Inferred Conscious desire for Unconscious need Unconsciously
motivation tangible gain to assume sick role determined
Tabel 1. Beda malingering, gangguan buatan dan gangguan somatoform

Malingering berbeda dari gangguan buatan karena gejala berpura-pura


yang disengaja dari malingering merupakan sekunder dari motivasi yang disadari
mengenai insentif eksternal yang dikenal dan bukan dimotivasi oleh kebutuhan
yang tidak disadari untuk berperan sakit. Individu yang berpura-pura sakit
mencari insentif eksternal yang nyata, biasanya material, bukan kepuasan abstrak
yang dimotivasi oleh kebutuhan tidak disadari. Pasien dengan gangguan buatan,
tidak seperti malingerer, lebih sering membahayakan dirinya sendiri.
Malingering berbeda dari gangguan somatoform karena kepura-puraan
yang disengaja dari gejala fisik dan psikologis beara di bawah kontrol kesadaran.
Pada gangguan somatoform, hanya gejala fisik yang tampak, mereka tidak sengaja
berpura-pura dan tidak berada di bawah kontrol kesadaran.

2.8. Prognosis
Malingering ketika muncul perlu dinilai keseluruhan konteks biopsikososial
kehidupan individu tersebut. Adanya gangguan mental, riwayat, respon terhadap
psikoterapi dan obat-obatan harus diperhatikan. Adanya kondisi medis akut atau
kronik, masalah bedah, dan efeknya terhadap fungsi keseluruhan pasien harus
dipertimbangkan. Karena individu yang berpura-pura sakit biasanya tidak
mengikuti rekomendasi pengobatan, status mereka tetap tidak terpengaruh.
Malingering tetap bertahan sampai individu yang berpura-pura sakit mendapatkan
apa yang mereka inginkan dan gejalanya akan mereda setelah
mendapatkannya.1,2,4

2.9. Penatalaksanaan

8
Sejak malingering ditetapkan sebagai suatu kondisi yang menjadi fokus perhatian
klinis, tidak ada pencegahan rutin atau standard yang dirancang atau
direkomendasikan. Berbagai pendekatan manajemen yang sesuai memiliki
klarifikasi sebagai tujuan utama termasuk di antaranya:1,2,4
1. Gambaran diagnostik yang jelas dari berbagai gangguan medis atau
psikiatik, jika ada, selain malingering
2. Pertimbangan isu-isu hukum dan etika, khususnya mereka yang tercatat
pada rekam medis, karena malingering tidak mungkin terbukti secara
meyakinkan
3. Jika psikiater adalah yang mengobati, pendekatan yang tidak mengancam
netralitas yang bersangkutan dan menghindari konfrontasi atau tuduhan
bohong apapun.
4. Jika psikiater adalah sebagai konsultan, rekomendasi yang disarankan dan
strategi manajemen dapat diberikan langsung kepada pihak yang merujuk
untuk penatalaksanaan.

9
BAB III
KESIMPULAN

Fitur penting dari malingering adalah produksi disengaja dari gejala fisik dan
psikologis yang palsu atau terlalu dibesar-besarkan, yang termotivasi oleh insentif
eksternal seperti menghindari tugas militer, menghindari pekerjaan, memperoleh
kompensasi finansial, menghindari tindakan kriminal, atau mendapatkan obat-
obatan. Malingering harus dicurigai apabila ada kombinasi seperti konteks
medicolegal, ada perbedaan antara keluhan atau kecacatan yang dilaporkan oleh
individu dengan temuan objektif, kurang kooperatif selama evaluasi diagnostik
dan memenuhi regimen pengobatan yang telah diresepkan, adanya gangguan
kepribadian antisosial.
Orang yang berpura-pura sakit biasanya menghindari tanggung jawab
kriminal, percobaan dan hukuman, menghindari wajib militer atau tugas
berbahaya, keuntungan finansial, menghindari pekerjaan, tanggung jawab sosial,
dan konsekuensi sosial, fasilitas transfer dari penjara ke rumah sakit, masuk ke
rumah sakit, mencari obat, perwalian anak. Gejala fisik yang sering dikeluhkan
adalah nyeri, pseudoseizures, presentasi neurokognitif. Sedangkan gejala
psikologis yang sering dikeluhkan adalah posttraumatic stress disorder, depresi,
amnesia, psikosis, kecacatan intelektual, borderline intellectual functioning,
sindrom ganser, ADHD.

10
. Tidak ada pemeriksaan fisik yang objektif untuk membuktikan adanya
malingering. Pemeriksaan khusus seperti tes psikologi melibatkan penggunaan
instrumen psikometri standard oleh psikologis yang terlatih dan berpengalaman.
Perlu diketahui bahwa tidak ada satu tes pun yang dianggap sebagai gold
standard. Tes psikologi tersebut dapat berupa The Minnesota Multiphasic
Personality Inventory-2 (MMPI-2), The Wechsler Intelligence Scales, The
Structured Inventory of Reported Symptomps (SIRS), The Test of Memory
Malingering (TOMM).
Malingering dapat didiagnosa banding dengan gangguan buatan/
Munchausen’s syndrome, gangguan somatisasi, gangguan konversi,
hipokondriasis dan gangguan disosiatif. Gangguan mental yang paling kontras
mirip dengan malingering adalah gangguan buatan dan gangguan somatisasi.
Malingering tetap bertahan sampai individu yang berpura-pura sakit
mendapatkan apa yang mereka inginkan dan gejalanya akan mereda setelah
mendapatkannya. Tidak ada pencegahan rutin atau standard yang dirancang atau
direkomendasikan untuk malingering. Jika psikiater adalah yang mengobati,
pendekatan yang tidak mengancam netralitas yang bersangkutan dan menghindari
konfrontasi atau tuduhan bohong apapun. Jika psikiater adalah sebagai konsultan,
rekomendasi yang disarankan dan strategi manajemen dapat diberikan langsung
kepada pihak yang merujuk untuk penatalaksanaan.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Sadock, Benjamin J., Sadock, V. A., Ruiz, P. Kaplan & Sadock’s,


Comprehensive Textbook Of Psychiatry, Vol. II, Edisi ke-9. Philadelphia:
Lipponcott Williams & Wilkins, 2009, 2479-90.
2. Bienenfeld, David. Malingering. Psychosomatic, Psychiatry. Wright State
University. Diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/293206-
overview [Diakses 27 Agustus 2010]

3. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental


Disorders Text Revised (DSM-IV-TR), Edisi ke-4. Washington, DC: American
Psychiatric Association, 2000. Diunduh dari:
http://www.brown.edu/Courses/BI_278/Other/Clerkship/Didactics/Readings/Mali
ngering.pdf [Diakses 27 Agustus 2010]

4. Ebert, Michael H., Loosen, P. T., Nurcombe, B. Current, Diagnosis and


Treatment in Psychiatry, Malingering. McGraw-Hill International
Editions, 2000, 383-4.
5. Reid, W. H. Malingering. Journal of Psychiatric Practice, 2000, 226-8.
Diunduh dari: http://www.reidpsychiatry.com/columns/Reid07-00.pdf
[Diakses 27 Agustus 2010]
6. Maramis, A. A., Maramis, W. F. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Edisi ke-2.
Surabaya: Airlangga University Press, 2009, 314-5.

12