Anda di halaman 1dari 37

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penuaan adalah suatu proses akumulasi dari kerusakan sel somatik yang diawali oleh adanya disfungsi
sel hingga terjadi disfungsi organ dan pada akhirnya akan meningkatkan risiko kematian bagi seseorang.
Apabila dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, proses penuaan merupakan suatu perubahan
progresif pada organisme yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel serta
menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu.

Pada hakikatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap
kehidupannya, yaiyu : masa kanak-kanak, masa remaja, dan masa tua. Tiga tahap ini berbeda, baik
secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran baik fisik
maupun psikis.

Corak perkembangan proses penuaan bersifat lambat namun dinamis dan bersifat individual baik secara
fisiologis maupun patologis, karena banyak dipengaruhi oleh riwayat maupun pengalaman hidup di
masa lalu yang terkait dengan faktor biologis, psikologis, spiritual, fungsional, lingkungan fisik dan sosial.
Perubahan struktur dan penurunan fungsi sistem tubuh tersebut diyakini memberikan dampak yang
signifikan terhadap gangguan homeostasis sehingga lanjut usia mudah menderita penyakit yang terkait
dengan usia misalnya: stroke, Parkinson, dan osteoporosis dan berakhir pada kematian. Penuaan
patologis dapat menyebabkan disabilitas pada lanjut usia sebagai akibat dari trauma, penyakit kronis,
atau perubahan degeneratif yang timbul karena stres yang dialami oleh individu. Stres tersebut dapat
mempercepat penuaan dalam waktu tertentu, selanjutnya dapat terjadi akselerasi proses degenerasi
pada lanjut usia apabila menimbulkan penyakit fisik.

Oleh karena itu diperlukannya pelaksanaan program terapi yang diperlukan suatu instrument atau
parameter yang bisa digunakan untuk mengevaluasi kondisi lansia, sehingga mudah untuk menentukan
program terapi selanjutnya. Tetapi tentunya parameter tersebut harus disesuaikan dengan kondisi
lingkungan dimana lansia itu berada, karena hal ini sangat individual sekali, dan apabila dipaksakan
justru tidak akan memperoleh hasil yang diharapkan. Dalam keadaan ini maka upaya pencegahan
berupa latihan-latihan atau terapi yang sesuai harus dilakukan secara rutin dan berkesinambungan.
1.2. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan terapi medis ?

2. Apa yang dimaksud dengan terapi komplementer ?

3. Terapi medic dan komplementer apa yang lazim digunakan pada lansia ?

1.3. Tujuan

1. Mengetahui tentang terapi medis

2. Mengetahui tentang terapi komplementer

3. Mengetahui terapi medic dan komplementer yang lazim digunakan pada lansia
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Terapi medis

Rehabilitasi merupakan semua tindakan yang bertujuan untuk mengurangi dampak disability serta
handicap agar individu lansia dapat berintegrasi dalam masyarakat.

Rehabilitasi adalah aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam pelayanan kesehatan lansia.( British G.
Society ).

Terapi medic adalah proses pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan
fungsional dan fisikologik dan kalau perlu mengembangkan mekanisme kompensasinya agar individu
dapat mandiri.

Terapi medik adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk memulihkan atau
mengoptimalkan kemampuan seseorang setelah mengalami gangguan kesehatan yang berakibat pada
penurunan kemampuan fisik.

Reintegrasi adalah rentetan usaha untuk kembali pada kemampuan fungsional yang pernah dimiliki.
Reintegrasi terhadap kehidupan normal adalah hal yang samgat di dambakan oleh seorang pasien.
Harapan inilah yang mewakili kualitas hidup yang diinginkan . upaya reintegrasi diartikan sebagai
reorganisasi kondisi fisik, psikis, dan social serta spiritual menuju kesatuan yang harmonis sehingga
adaptasi terhadap kehidupan dapat diperoleh, setelah mengalami sakit atau trauma.

Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa inti upaya mempertahankan dan meningkatkan
kualitas hidup seseorang yang menderita sakit adalah yang melaksanakan upaya berdasarkan konsep
rehabilitasi. Konsep rehabilitasi menyatu dan berkesinambungan dengan proses penyembuhan penyakit,
termasuk berbagai reaksi dan efek samping terapi, khususnya pada penyakit geriatric.

Tujuan Rehabilitasi Medik pada Usia Lanjut:

1. Memberikan pelayanan rehabilitasi medik yang komprehensif.

2. Berperan dalam mempertahankan dan atau meningkatkan kualitas hidup pasien ( kesehatan,
vitalitas, fisik, dan fungsi).

3. Mencegah atau mengurangi keterbatasan (impairment ), hambatan (disability) dan kecacatan


(handicap ).
2.2 Terapi komplementer

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Terapi adalah usaha untuk memulihkan kesehatan orang
yang sedang sakit; pengobatan penyakit; perawatan penyakit. Komplementer adalah bersifat
melengkapi, bersifat menyempurnakan.

Menurut WHO (World Health Organization), Pengobatan komplementer adalah pengobatan non-
konvensional yang bukan berasal dari negara yang bersangkutan, sehingga untuk Indonesia jamu
misalnya, bukan termasuk pengobatan komplementer tetapi merupakan pengobatan tradisional.
Pengobatan tradisional yang dimaksud adalah pengobatan yang sudah dari zaman dahulu digunakan
dan diturunkan secara turun – temurun pada suatu negara. Tetapi di Philipina misalnya, jamu Indonesia
bisa dikategorikan sebagai pengobatan komplementer.

Terapi Komplementer adalah cara Penanggulangan Penyakit yang dilakukan sebagai pendukung kepada
pengobatan medis konvensional atau sebagai pengobatan pilihan lain diluar pengobatan medis yang
Konvensional.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan definisi pengobatan Komplementer tradisional-alternatif


adalah pengobatan non konvensional yang di tunjukan untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, meliputi upaya promotiv, preventive, kuratif, dan rehabilitatif yang diperoleh melalui
pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan, dan evektivitas yang tinggi berandaskan ilmu
pengetahuan biomedik tapi belum diterima dalam kedokteran konvensional. Dalam
penyelenggaraannya harus sinergis dan terintregrasi dengan pelayanan pengobatan konvensional
dengan tenaga pelaksanaanya dokter,dokter gigi, dan tenaga kesehatan lainnya yang memiliki
pendidikan dalam bidang pengobatan komplementer tradisional-alternatif. Jenis pengobatan
komplementer tradisional-alternatif yang daoat diselenggarakan secara sinergis dan terintergrasi harus
di tetapkan oleh menteri kesehatan setelah memalui pengkajian.

Terapi komplementer banyak menggunakan pada efektifitas dari beberapa terapi (Snyder dan
lindquist, 1998). Florence nightingale menggambarkan penggunaan terapi komplementer, seperti musik,
didalam perawatan holistik klien (nigthingale, 1860/1969).

Surver di afrika mengemukakan bahwa 42% reponden menggunakan 1 atau lebih terapi
komplementer (eisenberg dkk, 1998). Penggunaan terapi komplementer meningkatkan hampir 10%
berdasarkan hasil survei tahun 90 (eisenberg dkk, 1993). Terapi komplementer lebih populer di Eropa
daripada di Amerika Serikat (peletier, 2000). Di jerman penggunaan herbal merupakan bagian dari
keperawatan kesehatan. Hasil penelitian tentang obat herbal menunnjukkan bahwa 70 – 90 % dari
terapi kesehatan diseluruh dunia menggunakan terapi komplementer secara rutin sebagai bagian
perawatan kesehatan ( kraitzer dan jansen, 2000).

2.2.1 Pengertian Terapi komplementer


Istilah terapi modalitas dalam ilmu keperawatan lebih dikenal dengan terapi komplementer,
terapi alternativ, terapi holistis, terapi nonbiomedis, pengobatan integratif atau perawatan kesehatan,
perawatan nanalopati, dan perawatan nontradisional. Terapi modalitas merupakan metode pemberian
terapi yang menggunakan kemampuan fisik atau elektrik. Terapi modalitas bertujuan untuk membantu
proses penyembuhan dan mengurangi keluhan yang dialami klien ( lundy dan jenes , 2009). Terapi
komplementer adalah istilah untuk terapi yang bukan bagian dari tepi medis kofensional.

Terapi komplementer atau terapi modalitas di akui sebagai upaya kesehatan nasional oleh
nasional center for complementary/ alternative medicine (NCCAM) di amerika. Penggunaan istilah
komplementer disebabkan karena pemakaian bersama terapi lain, bukan sebagai pengganti dan
pengobatan biomedis. Terapi komplementer juga digunakan dalam praktik keperawatan profesional
sebagai terapi alternativ di beberapi klinik keperawatan, misalnya latihan relaksasi oto progesif pada
penanganan klien dengan epilepsi yang menyertai penggunaan obat antiepilepsi. Study menunjukkan
bahwa penggunaan relaksasi otot progesif dapat meningkatkan kontrol kejang ( whaitma dkk., 1990).
Namun demikian, tera[i komplkementer dapat digunakan mandiri atau tidak berhubungan dengan
terapi biomedis karena di posisikan sebagai upaya promosi kesehatan, misalnya klien dpijat secara rutin
untuk mencegah munculnya stres.

Terapi komplementer merupakan terapi holistis atau terapi nonbiomedis. Hasil penelitian tentang
psikoneuroimunologi mengungkapkan bahwa proses interaktif pada manusia dengantubuh, pikiran, dan
interaksi sosial mempengaruhi kesejahteraan seseorang. NCCAM. Menetapkan bahwa terapi
komplementer secara garis besar di dasarkan sebagai kategori terapi pikiran penghubung tubuh (mind –
body terapies) sementara terapi biomedis lebih banyak mempengaruhi seluruh tubuh dan berfokus
pada dampak terapi terhadap pengibatan atau penanganan masalah fisik. Sebagai contoh, pada terapi
biomedis, evaluasi efek obat antihipertensi hanya ditentukan melalui tekanan darah dan tidak
memperhatikan bagaimana obat mempengaruhi alam rohani dan psikologis.

NCCAM mendefinisikan terapi komplementer adalah suatu penyembuhan yang mencakup sistem
kesehatan, modalis, praktik dan teori serta keyakinana dari masyarakat atau budaya dalam periode
secara tertentu . CAM mencakup semua praktik serta ide – ide yang dimaknai sebagai upaya mencegah
atau mengobati penyakit atau mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan .

2.2.2 Klasifikasi Terapi komplementer

Terdapat lebih dari 1800 terapi komplementer yang diidentifikasi berdasarkan sistem perawatan ,
terapi yang cukup dikenal luas dan digunakan, variasi dari terapi, praktik budaya asli yang tidak dikenal,
dan mekanisme ang mendasari tindakan terapi yang tidak diketahui.

Kategori terapi konmpkementer menurut NCCAM adalah sebagai berikut :

1. Terapi pikiran, tubuh ( mind – body terapies)

2. Terapi berbasis biologi ( biologokalli based terapies)


3. Terapi manipulatife dan berbasis tubuh(manipulatife and body based terapies)

4. Terapi energi yang termasuk dalam kategori energi hayati bioelektro magnetik( energi and biofild
terapies)

Menurut NCCAM terapi komplementer menjadi pengobatan untuk kondisi tertentu dan
merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan ternasuk profesi perawat.

Basis filosofi yang mendasari penggunaan terapi komplementer berbeda dengan modal biomedis
konfensional. Biomedis berusaha menghilangkan dan memperbaiki etiologi atau masalah yang
mendasari serta menekankan pada pengobatan trauma maupun situasi darurat lainya (weil, 1995).
Sementara itu tujuan terapi komplementer dalam sistem keperawatan adalah untuk mencapai
keselarasan dan keseimbangan dalam diri seseorang. Zollman dan vickers (1999)menyatakan tujuan dari
intervensi terapeutik adalah untuk mengembalikan keseimbangan dan memfasilitasi respon tubuh
daripada menyembuhkan proses penyakit atau penghentian gejala. Oleh karena itu, perawat
memberikan perawatan yang mencakup modifikasi gaya hidup, perubahan diet, olah raga, pengobatan
khusus, konseling, latihan, bimbingan, pada pernafasan, relaksasi, serta resep herbal. Konsep ini
menenkan pentingnya sistem perawatan yang menerapkan pendekatan kepedulian holistik terhadap
perawatan klien yang akan meningkatkan pelayanan kesehatan.

2.2.3 Penggunaan terapi komplementer

Foktor yang mempengaruhi perkembangan atau penggunaan terapi komplementer (Astin,


1998:kaptchuk dan eisenberg 1998 : jobs,1998 : mitzdorf dkk,1999) antara lain:

1. Adanya kenyakinan bahwa terapi biomedis tidak menyentuh seluruh dominan yang dimiliki individu.

2. Adanya efek biomedis yang dianggap lebih buruk daripada efek terapi yang diharapkan;

3. Konsumen menginginkan penyedia layanan kesehatan yang pesuli (carig).

4. Konsumen menginginkan pengakuan dan perlakuan secarautuh atau holistis.

5. Konsumen menginginkan keterlibatandalam pengambilan keputusan dalam menangani


masalahkesehatan yang di hadapi.

6. Faktor lain yang telah meningkatkan penggunaan terapi komplementer adalah peningkatan
pengeseran budaya yang menggunakan pelayanan kesehatan selain sistem biomedis.

Terapi komplementer sangat penting dalam klien dengan kondisi kesahatan fonis yang meliputi
spiritual, sosial, psikologi, dan masalah fisik (haines, McKibbon dan Kanani, 1996).

Terapi komplementer keperawatan Nightingale menyerahkan penggunaan terapi komplementer dalam


perawatan klien. Fundamental of nursing menjelaskan beberapa penggunaan prinsip terapi
komplementer seperti pijat (massage), panas dan dingin, dan gizi. Pada akhir 1950 – an, proses
keperawatan diperkenalkan dengan menggunakan 5 langkah pendekatan pemecahan masalah untuk
keperawatan yaitu pengakajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, intervensi, dan evaluasi.
Keterampilan pengakajian sangat penting karena berkaitan dengan langkah selanjutnya, yaitu intervensi.
Perpedaan dalam menyusun intervensi dipengaruhi oleh pengelompokan yangmeliputi tundakan
dependen (dependent), kolaborasi (interdependent), mandiri (independent).

Perawat memiliki otonomi yang luas dalam memberikan intervensi, terutama tindakan mandiri,
sebagai tindakan profesi yang ditunjang pendidikan tinggi. Kondisi ini memberikan kesempatan kepada
perawat untuk dapat memberikan praktik keperawatan komplementer. Menurut Sydner, Bulechek, dan
McCloskey (1985), beberapa intervensi keperawatan mandiri yang termasuk terapi komplementer
antara lain musik, imagery, relaksasi otot progesif, jurnaling, reminis chance, dan pijat. Indetifikasi dan
klasifikasi intervensi keperawatan oleh internasional council of nurses poject (ICNP) dan national
intervention clssification project (NIC) telah memperluas ruang lingkup intervensi yang mencangkup
seluruh kegiatan keperawatan (ICNP, 1997; McCloskey, dan bulechek. 1996). Dengan demikian
berdasarkan konsep keperawatan, istilah intervensi tidak membedakan terapi komplementer dengan
tindakan keperawatan lainnya sperti pemantauan status perawatan klien atau koordinasi. Perawat harus
menggunakan terapi komplementer yang lebih banyak untuk membantu klien mencapai hasil ksehatan
yang lebih optimal.

Tabel 1.1 klasifiskasi berdasarkan National Center for Complementary/Alternative Medicine

Jenis Contoh

Terapi pikiran - tubuh Yoga, tah chi, internal qi – gong, meditasi , imagery,hipnosis,
biofedback, dukungan kelompok, terapi seni , terapi musik, terapi
( mind – body) . dansa , journaling , humor, psikoterapi tubuh, dan pengakuan
Pendekatan prilaku nonlocality, soul retrieval, penyembuhan spiritual, holistik nursing,
psikologi, sosial, dan plasebo sweat lodges.
spiritual untuk kesehatan .

Terapi sistem pengobatan Pengobatan tradisional cina (akupuntur, formula herbal, diet,
alternatif ( alternatif exterlan dan internal qi-gong, tai chi, pijatan dan manipulasi,
medical sistem ). acupotomy), sistem adat tradisional seperti pengobatan asli
pengobatan nonmedis penduduk amerika, pengobatan ayuverda, unani-tibbi,
yang melibatkan teori dan pengobatan kampo, pengobatan tradisional afrika, pengobatan
praktik dari sistem yang tradisional aborigin, curanderismo, sistem pengobatan barat yang
komplet. tidak konvensional (hemeopati, radiestasia,, cayce-based systems,
radionics). Naturopati.

Terapi berbasis biologi Herbal, diet khusus (pritkin, omishatki, tinggi serat, makrobiotik),
(biological based pengobatan orthomolecular (gizi), intervensi
therapies). farmakologi/biologis/ instrumental (kartilago ozon, cone therapy,
sengatan lebahelektrodiasnostik, iridologi
Terapi yang bersifat alami.

Praktik, intervensi, dan


produknya berbasis
biologis

Terapi manipulatif dan Pengobatan kiropraktik pijatan dan gerakan tubuh atau body work
berbasis tubuh (kranial-sakrum astheopatic manipulative treatment. Pijatan
(manipulative and body swedia, refleksologi metode pilates, polaritas, gerak tubuh trager,
sistems) teknik alexander, teknik feldenkrais. Pijatan chinese tui Na,
akupresur, ralfing), serta terapi fisika nonkonvensional seperti
Sistem yang berdasarkan hidroterapi, distermi, terapi, cahaya dan warna, colonic,
pada kegiatan manipulasi
pernafasan ;ubang hidung secara bergantian
dan atau gerakan anggota
(alternatenostrilbreathing).
tubuh.

Terapi energi (energy Sentuhan terpeutik, sentuhan penyembuhan, penyembuhan


therapies) natural, shen, reiki, huna, qi-gong external dan magnet

Sistem pengobatan yang


menggunakan medan
energi halus di dalam dan
sekitar tubuh
Program Rehabilitasi

Untuk memulai program rehabilitasi pada penderita lansia,sebagai tenaga professional harus
mengetahui kondisi lansia saat itu,baik penyakit yang menyertai maupun kemampuan fungsional yang
mampu dilakukan.salah satunya di kemukakan oleh Katz, DKK yang telah menetapkan Fungsional
Assessment Instrument untuk menggolongkan kemandian merawat diri pada lansia dengan berbagai
macam penyakit, misal fraktur collum femoris, infark cerebri, arthritis, paraplegia, keganasan, dll.
adapun aktivitas yang dinilai adalah Bathing, Dressing, Toileting, Transfering, Continence dan Feeding.

1. Program Fisioterapi

Dalam penanganan terapi latihan untuk lansia dimulai dari aktivitas fisik yang paling ringan kemudian
bertahap hingga maksimal yang bisa dicapai oleh individu tersebut, misalnya :

a. Aktivitas di tepat tidur

- Positioning, alih baring, latihan pasif & aktif lingkup gerak sendi

b. Mobilisasi

- Latihan bangun sendiri, duduk, transfer dari tempat tidur ke kursi, berdiri, jalan

- Melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari : mandi, makan, berpakaian, dll

2. Program Okupasi terapi

Latihan ditujukan untuk mendukung aktivitas kehidupan sehari-hari, dengan memberikan latihan dalam
bentuk aktivitas, permainan, atau langsung pada aktiviats yang diinginkan. Misalnya latihan jongkok-
berdiri di WC yang dipunyai adalah harus jongkok, namun bila tidak memungkinkan maka dibuat
modifikasi.

3. Program Ortotik-prostetik

Bila diperlukan alat bantu dalam mendukung aktivitas pada lansia maka seorang ortotis-prostetis akan
membuat alat penopang, atau alat pengganti bagian tubuh yang memerlukan sesuai dengan kondisi
penderita. Dan untuk lansia hal ini perlu pertimbangan lebih khusus, misalnya pembuatan alat
diusahakan dari bahan yang ringan, model alat yang lebih sederhana sehingga mudah dipakai, dll.

4. Program Terapi Wicara

Program ini kadang-kadang tidak selalu ditujukan untuk latihan wicara saja, tetapi perlu diperlukan
untuk memberi latihan pada penderita dengan gangguan fungsi menelan apabila ditemukan adanya
kelemahan pada otot-otot sekitar tenggorokan. Hal ini sering terjadi pada penderita stroke, dimana
terjadi kelumpuhan saraf vagus, saraf lidah, dll

5. Program Sosial-Medik

Petugas sosial-medik memerlukan data pribadi maupun keluarga yang tinggal bersama lansia, melihat
bagaimana struktur/kondisi di rumahnya yang berkaitan dengan aktivitas yang dibutuhkan penderita,
tingkat sosial-ekonomi. Hal ini sangat penting sebagai masukan untuk mendukung program lain yang
ahrus dilaksanakan, misalnya seorang lansia yang tinggal dirumahnya banyak trap/anak tangga,
bagaimana bisa dibuat landai atau pindah kamar yang datar dan biasa dekat dengan kamar mandi, dll

6. Program Psikologi

Dalam menghadapi lansia sering kali harus memperhatikan keadaan emosionalnya, yang mempunyai
ciri-ciri yang khas pada lansia, misalnya apakah seorang yang tipe agresif, atau konstruktif, dll. Juga
untuk memberikan motivasi agar lansia mau melakukan latihan, mau berkomunikasi, sosialisasi dan
sebgainya. Hal ini diperlukan pula dalam pelaksanaan program lain sehingga hasilnya bisa lebih baik.
BAB 3

PEMBAHASAN

3.1. Gangguan sistem muskuloskeletal dan integumen : osteoporosis

3.1.1 Pengertian

Osteoporosis adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang total. Terdapat perubahan
pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resorpsi tulang lebih besar dari kecepatan
pembentukan tulang, pengakibatkan penurunan masa tulang total. Tulang secara progresif menjadi
porus, rapuh dan mudah patah; tulang menjadi mudah fraktur dengan stres yang tidak akan
menimbulkan pengaruh pada tulang normal (Brunner&Suddarth, 2000).

Osteoporosis adalah gangguan metabolisme tulang sehingga masa tulang berkurang. Resorpsi terjadi
lebih cepat dari pada formasi tulang, sehingga tulang menjadi tipis (Pusdiknakes, 1995). Jadi
osteoporosis adalah kelainan atau gangguan yang terjadi karena penurunan masa tulang total.

3.1.2 Etiologi

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usia lanjut:

a. Determinan Massa Tulang

1) Faktor genetik

Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan tulang. Beberapa orang
mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain kecil. Sebagai contoh, orang kulit hitam pada
umumnya mempunyai struktur tulang lebih kuat/berat dari pacia bangsa Kaukasia. Jacii seseorang yang
mempunyai tulang kuat (terutama kulit Hitam Amerika), relatif imun terhadap fraktur karena
osteoporosis

2) Faktor mekanis

Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor genetk. Bertambahnya beban
akan menambah massa tulang dan berkurangnya beban akan mengakibatkan berkurangnya massa
tulang. Dengan perkataan lain dapat disebutkan bahwa ada hubungan langsung dan nyata antara massa
otot dan massa tulang. Kedua hal tersebut menunjukkan respons terhadap kerja mekanik Beban
mekanik yang berat akan mengakibatkan massa otot besar dan juga massa tulang yang besar. Sebagai
contoh adalah pemain tenis atau pengayuh becak, akan dijumpai adanya hipertrofi baik pada otot
maupun tulangnya terutama pada lengan atau tungkainya; sebaliknya atrofi baik pada otot maupun
tulangnya akan dijumpai pada pasien yang harus istrahat di tempat tidur dalam waktu yang lama,
poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa. Walaupun demikian belum diketahui dengan pasti
berapa besar beban mekanis yang diperlukan dan berapa lama untuk meningkatkan massa tulang di
sampihg faktor genetik

3) Faktor makanan dan hormon

Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup (protein dan mineral),
pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai dengan pengaruh genetik yang bersangkutan.
Pemberian makanan yang berlebih (misainya kalsium) di atas kebutuhan maksimal selama masa
pertumbuhan, disangsikan dapat menghasilkan massa tulang yang melebihi kemampuan pertumbuhan
tulang yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan genetiknya.

b. Determinan Penurunan Massa Tulang

1) Faktor genetik

Faktor genetik berpengaruh terhadap risiko terjadinya fraktur. Pada seseorang dengan tulang yang kecil
akan lebih mudah mendapat risiko fraktur dari pada seseorang dengan tulang yang besar. Sampai saat
ini tidak ada ukuran universal yang dapat dipakai sebagai ukuran tulang normal. Setiap individu
mempunyai ketentuan normal sesuai dengan sitat genetiknya serta beban mekanis den besar badannya.
Apabila individu dengan tulang yang besar, kemudian terjadi proses penurunan massa tulang
(osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya usia, maka individu tersebut relatif masih mempunyai
tulang tobih banyak dari pada individu yang mempunyai tulang kecil pada usia yang sama

2) Faktor mekanis

Di lain pihak, faktor mekanis mungkin merupakan faktor yang terpenting dalarn proses penurunan
massa tulang schubungan dengan lanjutnya usia. Walaupun demikian telah terbukti bahwa ada interaksi
panting antara faktor mekanis dengan faktor nutrisi hormonal. Pada umumnya aktivitas fisis akan
menurun dengan bertambahnya usia; dan karena massa tulang merupakan fungsi beban mekanis,
massa tulang tersebut pasti akan menurun dengan bertambahnya usia.

3) Kalsium

Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses penurunan massa tulang
sehubungan dengan bertambahnya Lisia, terutama pada wanita post menopause. Kalsium, merupakan
nutrisi yang sangat penting. Wanita-wanita pada masa peri menopause, dengan masukan kalsiumnya
rendah dan absorbsinya tidak bak, akan mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif,
sedang mereka yang masukan kalsiumnya baik dan absorbsinya juga baik, menunjukkan keseimbangan
kalsium positif. Dari keadaan ini jelas, bahwa pada wanita masa menopause ada hubungan yang erat
antara masukan kalsium dengan keseimbangan kalsium dalam tubuhnya. Pada wanita dalam masa
menopause keseimbangan kalsiumnya akan terganggu akibat masukan serta absorbsinya kurang serta
eksresi melalui urin yang bertambah. Hasil akhir kekurangan/kehilangan estrogen pada masa
menopause adalah pergeseran keseimbangan kalsium yang negatif, sejumiah 25 mg kalsium sehari.

4) Protein

Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi penurunan massa tulang. Makanan
yang kaya protein akan mengakibatkan ekskresi asam amino yang mengandung sulfat melalui urin, hal
ini akan meningkatkan ekskresi kalsium.

5) Pada umumnya protein tidak dimakan secara tersendiri, tetapi bersama makanan lain. Apabila
makanan tersebut mengandung fosfor, maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi kalsium melalui
urin. Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah pengeluaran kalsium melalui tinja. Hasil akhir dari
makanan yang mengandung protein berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi
keseimbangan kalsium yang negatif

6) Estrogen.

Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan terjadinya gangguan


keseimbangan kalsium. Hal ini disebabkan oleh karena menurunnya eflsiensi absorbsi kalsium dari
makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di ginjal.

7) Rokok dan kopi

Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan mengakibatkan penurunan massa
tulang, lebih-lebih bila disertai masukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh merokok terhadap
penurunan massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi kalsium
melalui urin maupun tinja.

8) Alkohol

Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang sering ditemukan. Individu dengan alkoholisme
mempunyai kecenderungan masukan kalsium rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yang
meningkat. Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti .

3.1.3 Manifestasi Klinik

Gejala yang paling sering dan paling mencemaskan pada osteoporosis adalah :

- Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata.

- Nyeri timbul mendadak

- Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang

- Nyeri berkurang pada saat istirahat di tempat tidur


- Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan dan akan bertambah oleh karena melakukan aktivitas

- Deformitas vertebra thorakalis

- Penurunan tinggi badan

3.1.4 Penatalaksanaan Medis

Adapun penatalaksanaan pada klien dengan osteoporososis meliputi :

a. Pengobatan

· Meningkatkan pembentukan tulang, obat-obatan yg dapat meningkatkan pembentukan tulan


adalah Na-fluorida dan steroid anabolik

· Menghambat resobsi tulang, obat-obatan yang dapat mengahambat resorbsi tulang adalah
kalsium, kalsitonin, estrogen dan difosfonat

b. Pencegahan

Pencegahan sebaiknya dilakukan pada usia pertumbuhan/dewasa muda, hal ini bertujuan:

1) Mencapai massa tulang dewasa Proses konsolidasi) yang optimal

2) Mengatur makanan dan life style yg menjadi seseorang tetap bugar seperti:

· Diet mengandung tinggi kalsium (1000 mg/hari)

· Latihan teratur setiap hari

· Hindari:

- Makanan tinggi protein

- Minuman beralkohol

- Merokok

- Minum kopi

Teknik terapi komplementer

a. Mencegah Osteoporosis

Osteoporosis adalah suatu sindroma penurunan densitas tulang (matrix dan mineral berkurang), terapi
rasio matrik dan mineral tetap normal. Osteoporosis terjadi karena ketidakseimbangan antara resorpsi
tulang dan pembentukan tulang. Densitas mineral tulang berkurang sehingga tulang menjadi keropos
dan mudah patah walaupun dengan trauma minimal.

Contoh latihan yang harus dihindari :

1. Sit Up

2. Menyentuh jari kaki pada posisi berdiri

3. Duduk dengan punggung membungkuk

4. Mengangkat beban dengan ayunan punggung

b. Menjaga Kebugaran Jasmani

Kebugaran jasmani adalah suatu aspek fisik dari kebugaran menyeluruh. Kebugaran jasmani pada lansia
adalah kebugaran yang berhubungan dengan kesehatan yaitu kebugaran jantung-paru dan peredaran
darah serta kekuatan otot dan kelenturan sendi.

c. Mengangkat dan Mengangkut

Melihat berbagai perubahan karena penuaan, cara mengangkat dang mengakut yang efektif, efisien,
dan aman merupakan kebutuhan bagi lansia. Untuk menunjang prinsip kinetic dalam mengangkat dan
mengangkut dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:

1) Pegangan harus tepat, kerja statis local dihindari

2) Pegangan/tangan berada sedekat mungkin dengan tubuh

3) Punggung harus lurus

4) Dagu (kepala) diusahakan segera ke posisi tegak

5) Kaki diusahakan sedemikian rupa sehingga keseimbangannya kuat

6) Menfaatkan berat badan sebagai gaya tarik/dorong

7) Beban berada sedekat mungkin dengan garis vertical yang melalui pusat gravitasi tubuh.

d. Perlindungan sendi
Usaha perlindungan sendi dapat dilakukan dengan menghindari pemakaian sendi secara berlebihan,
menghindari trauma, mengurangi pembebanan, berusaha menggunakan sendi yang lebih kuat atau
lebih besar, dan istirahat sejenak disela-sela aktivitas.

e. Konservasi Energi

Konservasi energy adalah suatu cara melakukan aktivitas dengan energy yang relative minimal, namun
dapat memperoleh hasil aktivitas yang baik. Teknik konservasi energy dapat dicapai apabila dalam setiap
aktivitas memperhatikan hal-hal berikut :

1) Rencanakan aktivitas yang akan dilakukan sehingga tidak ada gerakan kejut yang akan meningkatkan
strees fisik atau emosional.

2) Atur lingkungan aktivitas sedemikian rupa sehingga pada waktu melaksanakan aktivitas, energy dapat
digunakan secra efisien

3) Jika mungkin, aktivitas dilakukan dalam posisi duduk

4) Jangan menjinjing atau mengangkat barang jika dapat didorong atau digeser.

5) Gunakan alat aktivitas yang relatife ringan

6) Lakukan aktivitas dengan cara yang sama karena akan membuat lebih efisien.

7) Dalam setiap aktivitas, harus sering diselingi istirahat. Salah satu pedoman adalah sepuluh menit
istirahat untuk setiap satu jam bekerja.

8) Bagi aktivitas menjadi beberapa bagian kemudian kerjakan pada waktu yang berbeda.

f. Peningkatan Kekuatan Otot

Peningkatan kekuatan otot pada lansia lebih ditujukan agar mampu melakukan gerak fungsional tanpa
adanya hambatan. Dalam latihan ini, jenis latihan yang dianjurkan adalah latihan isotonic, dengan
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

1) Tentukan kemampuan otot maksimal

2) Latihan pada 60%-80% kemampuan otot maksimal

3) Ukur ulang setiap minggu

4) 3X seri latihan, tiap seri 8-10 ulangan

5) Istirahat 1-2 menit diantara seri


6) Lakukan 3X seminggu, min selama 8 minggu

3.2. Gangguan persepsi-sensori : demensia

3.2.1. Pengertian

Dalam Durand dan Barlow (2006) demensia adalah onset-gradual fungsi otak yang melibatkan
kehilangan ingatan, ketidakmampuan mengenali berbagai objek atau wajah, dan kesulitan dalam
merencanakan dan penalaran abstrak. Keadaan ini berhubungan dengan frustasi dan kehilangan
semangat. Menurut WHO dalam Clinical Deskriptions and Diagnostic Guidelines for Mental and
Behavioural Disorders dan International Classification of Diseases (10th Revision) (ICD-10) (2008)
demensia memiliki ciri-ciri yang harus ada diantaranya:

1. Kemunduran kemampuan intelektual terutama memori yang sampai menganggu aktivitas-aktivitas


keseharian sehingga menjadikan penderita sulit bahkan tidak mungkin untuk hidup secara mandiri.

2. Mengalami kemunduran dalam berfikir, merencanakan dan mengorganisasikan hal-hal dari hari ke
hari.

3. Awalnya, mengalami kesulitan menyebutkan nama-nama benda, orientasi waktu, tempat.

4. Kemunduran pengontrolan emosi, motivasi, perubahan dalam perilaku sosial yang tampak dalam
kelabilan emosi, ketidak mampuan melakukan ritual keseharian, apatis (tidak peduli) terhadap perilaku
sosial seperti makan, berpakaian dan interaksi dengan orang lain.

Ada bermacam-macam jenis demensia, menurut Durland dan Barlow (2006) ada lima golongan
demensia berdasarkan etiologinya yang telah didefinisikan yaitu : (1) demensia tipe Alzheimer, (2)
demensia vaskular, (3) demensia larena kondisi medis umum, (4) demensia menetap yang diinduksi oleh
substansi tertentu, dan (5) demensia karena etiologi ganda/multiple, (6) demensia yang tak
tergolongkan.

Demensia Alzheimer adalah demensia yang paling banyak terjadi dan dicirikan oleh kemunduran
intelektual yang progresif. Faktor risiko utama adalah usia yang lanjut, keturunan dan trauma kepala.

Demensia vaskuler (multi infrak) adalah demensia kedua yang banyak terjdai setelah demensia
Alzheimer. Demensia vaskuler seringkali dicirikan oleh adanya tanda dan gejala tertentu seperti
kemunduran yang bertahap (step-wise), riwayat sroke atau hipertensi, bukti adanya aterosklerosis,
gejala neurologis fokal, dan emosi stabil.

3.2.2. Etiologi
1. Penyebab secara biologis

a. Adanya penumpukan protein yang lengket yang disebut anyloid plauques yang berakumulasi di
otak pada penderita demensia. Plak amiloid juga ditemukan pada lansia yang tidak memiliki gejala-gejala
demensia, tetapi juga dalam jumlah yang jauh lebih sedikit (Bourgeois dkk dalam Durand dan Barlow,
2006)

b. Di dalam otak ditemukan jaringan abnormal (disebut plak senilis dan serabut saraf yang semrawut)
dan protein abnormal, yang bisa terlihat pada otopsi. Demensia sosok Lewy sangat menyerupai penyakit
Alzheimer, tetapi memiliki perbedaan dalam perubahan mikroskopik yang terjadi di dalam otak.

c. Penyebab yang lain dari demensia adalah serangan stroke yang berturut-turut.Stroke tunggal
ukurannya kecil dan menyebabkan kelemahan yang ringan atau kelemahan yang timbul secara perlahan.
Stroke kecil ini secara bertahap menyebabkan kerusakan jaringan otak, daerah otak yang mengalami
kerusakan akibat tersumbatnya aliran darah disebut infark. Demensia yang berasal dari stroke kecil
disebut demensia multi-infark. Sebagian besar penderitanya memiliki tekanan darah tinggi atau kencing
manis, yang keduanya menyebabkan kerusakan pembuluh darah di otak.

d. Demensia juga bisa terjadi setelah seseorang mengalami cedera otak atau cardiac arrest. Penyebab
lain dari demensia adalah penyakit parkinson, penyakit pick, AIDS, penyakit paru, ginjal, gangguan darah,
gangguan nurtrisi, keracunan metabolism, diabetes.

e. Penyebab biologis demensia tidak diketahui penyebabnya hanya saja masalah kerusakan cortex
(jaringan otak). Penelitian otopsi mengungkapkan bahwa lebih dari setengah penderita yang meninggal
karena demensia senile mengalami penyakit Alzheimer jenis ini. Pada kebanyakan penderita, besar kasar
otak pada saat otopsi jauh lebih rendah yang ventrikel dan sulkus jauh lebih besar dibandingkan yang
normal yang seukuran usia tersebut. Demielinasi dan peningkatan kandungan air pada jaringan otak
ditemukan berdekatan dengan ventrikel lateral dan dalam beberapa daerah lain di bagian dalam
hemifsfer serebrum pad penderita manula.

f. Faktor genetik yang berhubungan dengan apoprotein E4 (Apo E4), alela (4) kromosom 19 pada
penderita Alzheimer familial/sporadic. Mutasi 21,1, 14 awal penyakit. Penyebab lainnya yaitu
neorotransmiter lain yang berkurang (defisit) yaitu non adrenergic presinaptik, serotonin, somatostatin,
corticotrophin, releasing faktor, glutamate, dll.

2. Penyebab secara psikologis

Penderita yang mengalami depresi memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami demensia. Hal ini
diperkuat dari hasil penelitian oleh Epidemiological Pathways Follow-Up Study yang dilakukan selama
lima tahun pasien yang sudah di diagnosis menderita demensia dikeluarkan dari penelitian ini.

Selama periode lima tahun 36 dari 445, atau 7.9 persen dari pasien diabetes dengan depresi berat
didiagnosis dengan demensia. Di antara 3.382 pasien dengan diabetes saja, 163 atau 4,8 persen
mengembangkan gejala demensia. Para peneliti menemukan hasil bahwa depresi berat dengan diabetes
mengalami peningkatan 2.7 kali lipat untuk mengalami demensia, dibanding dengan pasien diabetes
tanpa mengalami depresi berat.

Depresi meningkatkan risiko demensia, karena kelainan biologis afektif ini berhubungan dengan
penyakit, termasuk tingginya kadar hormon stres kortisol, atau masalah sistem saraf otonom yang dapat
mempengaruhi jantung, pembekuan darah. Selain itu faktor-faktor lain yang meningkatkan risiko
demensia karena perilaku umum dalam kondisi seperti merokok, makan berlebihan, kurang olahraga,
dan kesulitan dalam mengikuti rejimen pengobatan dan perawatan.

3. Penyebab secara sosial

Gaya hidup seseorang mungkin melibatkan kontak dengan faktor-faktor yang dapat menyebabkan
demensia, misalnya penyalahan substansi yang dapat mengakibatkan demensia. Gaya hidup seperti diet,
olahraga, dan stres mempengaruhi penyakit kardiovaskuler dan dapat membantu menentukan siapa
saja yang akan mengalami demensia vaskuler. Gaya hidup yang sehat seperti diet, olahraga dan kontrol
terhadap makanan dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya stroke dan tekanan darah tinggi yang
menyebabkan demensia vaskuler. Sedangkan gaya hidup yang tidak sehat seperti stres, tidak
mengontrol makanan, jarang berolahraga dapat meningkatkan risiko terkena stroke dan tekanan darah
tinggi yang menyebabkan demensia vaskuler.

Faktor-faktor kultural juga dapat memengaruhi seseorang mengalami demensia. Sebagai contoh,
hipertensi dan stroke menonjol di kalangan orang-orang Afrika-Amerika dan orang-orang Asia-Amerika
tertentu (Cruickshank dan Beevers dalam Durand dan Barlow, 2006), yang menjelaskan mengapa
demensia vaskular lebih sering dialami oleh kelompok ini. Hal ini terjadi akibat gaya hidup yang kurang
sehat seperti dikalangan orang-orang Afrika-Amerika yang sering mengkonsumsi alkohol dan makanan-
makanan cepat saji dan berpengawet yang meningkatkan risiko terkena hieprtensi dan stroke yang
menyebabkan demensia varskuler ( de la Monte, et all dalam Durand dan Barlow, 2006).

3.2.3. Manifestasi Klinis

Gejala-gejala klinis demensia menurut Yatim (2003) meliputi:

a. Hilang atau menurunnya daya ingat serta penurunan intelektual.

b. Kadang-kadang gejala ini begitu ringan hingga luput dari perhatian pemeriksa bahkan dokter ahli
yang berpengalaman sekalipun.

c. Penderita kurang perhatian terhadap sesuatu yang merupakan kejadian sehari-hari dan tidak
mampu berfikir jernih atas kejadian yang di hadapi sehari-hari, kurang inisiatif, serta mudah tersinggung.

d. Kurang perhatian dalam berfikir.


e. Emosi yang mudah berubah-ubah terlihat dari mudahnya gembira, tertawa terbahak-bahak lalu
tiba-tiba sedih berurai air mata hanya karena sedikit pengaruh lain.

f. Muncul refleks sebagai tanda regresi (kemunduran kualitas fungsi seperti: refleks mengisap,
rrefleks memegang, dan refleks glabella).

g. Banyak perubahan perilaku diakibatkan oleh penyakit syaraf, maka terlihat dalam bentuk lain yang
dikaburkan oleh gejala penyakit syaraf.

Pada gejala klinis usia lanjut telihat dari penurunan perkembangan pemahaman yang terlihat sebagai
berikut:

1. Penurunan daya ingat.

2. Salah satu gangguan pengamatan:

a. Aphasia (kurang lancar berbahasa).

b. Apraxia (tidak ada kemauan).

c. Agnosia (kurang mampu merasakan rangsangan bau, penciuman dan rasa).

3. Penurunan pengamatan timbul secara bertahap dan terus menurus dari waktu ke waktu sehingga
menggangu kerja dan hubungan masyarakat.

3.2.4. Penatalaksanaan Medis

Hasil dari consensus epidemiologi di atas menyatakan bahwa prosentase untuk prevalensi orang yang
mengalami demensia semakin meningkat setiap tahunnya, sehingga perlu diupayakan tindakan-tindakan
promotif, preventif maupun kuratif. Baik bagi mereka tanpa masalah maupun yang sudah bermasalah
sesuai dengan yang sudah dibahas di atas.

Penanganan yang bisa dilakukan:

a. Farmakologis (dengan obat): hal ini perlu pemeriksaan dan pertimbangan secara individual.

b. Non-Farmakologis (tanpa obat): hal ini bisa dilakukan oleh semua warga senior tanpa ada
pertimbangan baik sebagai upaya promotif, prefentif maupun kuratif.

Penanganan secara farmakologis yang dilakukan (Yatim, 2003) diantaranya:

a. Mengobati penyakit-penyakit yang memperberat kejadian demensia.

b. Mengobati gejala-geja gangguan jiwa yang mungkin menyertai demensia.


c. Mengatasi masalah penyimpangan perilaku dengan obat-obat penenang (tranzquillizer dan
hypnotic) serta memberikan obat-obatan anti kejang bila perlu.

d. Intervensi lain yaitu dengan antipsykotics, Anxiiolitycs, Selegiline, Antimanic drugs,


Acetlcholinesterase inhibit ( Gaskel, 2007)

Konsep penanganan Non-farmakologis bisa menggunakan rekreasi terapeutik.

Konsep ini bermanfaat untuk meningkatkan dan mempertahankan kebutuhan psikososial warga senior
serta bertujuan meningkatkan dan mempertahankan kepercayaan diri, motivasi, mobilitas tantangan,
interaksi sosial dan kebugaran mental.

Aktivitas-aktivitas yang memiliki dampak terapeutik (Kusumoputro & Sidiarto, 2006) diantaranya:

a. Reminisensi

b. Orientasi realitas

c. Stimulasi kognitif

d. Stimulasi sensorik

e. Stimulasi fisik (berupa gerak dan latihan otak, GLO)

Pelaksanaan program dilakukan dengan jumlah peserta yang tidak terlampau banyak, dipimpin seorang
koordinator yang memahami konsep ini. Peserta harus dalam kelompok kebersamaan.

Aktivitas reminisensi dilakukan dengan berbincang-bincang mengenai masalah yang lampau, mengingat
kembali masa lampaunya dengan memori episodik (materi tentang waktu dan tempat kejadian). Dengan
mengaktifkan memori episodik yang naratif, imajinatif dan emosional akan meningkatkan daya ingat
kembali. Bersamaan dengan aktivitas tersebut juga dilakukan aktivitas orientasi nyata dengan
mengingatkan lokasi, waktu dan perang orang-orang di masa lampau.

Sebagai aktivitas rekreasi terapeutik ini juga dilakukan stimulasi kognitif disebut juga memory training,
memory retraining atau cognitive rehabilitation. Aktivitas ini perlu ditambah dengan aktivitas fisik
seperti senam ataupun menurut selera masing-masing. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kerja
jantung dan paru untuk mengalirkan darah yang penuh oksigen ke bagian-bagian tubuh terutama otak
selain itu juga memiliki tujuan renovasi sel tubuh. Berbagai hal yang disebutkan tadi juga
menguntungkan bagi kondisi klinis prademensia seperti mild cognitive impairment, MCI dan vascular
cognitive impairment, VCI serta kondisi klinis demensia vaskuler dan Alzeimer.

Dalam jurnal yang meniliti melalui efek dari terapi musik terhadap lansia penderita demensia (Wall, &
Duffy, 2010 ). Dalam jurnal tersebut dijelaskan melalui kebiasaan mendengarkan music walaupun
secara singkat akan sangat bermanfaat untuk melatih ingatan para lansia penderitanya. Tingkat
kegelisahannya pun akan menurun, termasuk perilaku agresif verbal maupun non-verbalnya.
Terapi lain dengan pendekatan psikososial adalah :

1. Care giver : mengoptimalkan kemampuan yang masih ada

2. Mengurangi perilaku sulit

3. Menjaga keselamatannya

4. Memperbaiki kualitas hidup

5. Mengurangi stres terhadap care giver

6. Memberi kepuasaan kepada care giver

Terapi life review

Life review terapi adalah suatu fenomena yang luas sebagai gambaran pengalaman kejadian, dimana
didalamnya seseorang akan melihat secar cepat tentang totalitas riwayat kehidupan.

Teori terapi life review

Terapi tersebut akan membawa seseorang untuk bisa menjadi lebih akrab pada realita kehidupan.
Terapi ini membantu seseorang untuk mengaktifkan ingatkan jangka panjang dimana akan terjadi
mekanisme recall tentang kejadian pada kehidupan masa lalu hingga sekarang. Dengan ini lansia akan
lebih mengenal siapa dirinya dan dapat mempertimbangkan kualitas hidup menjadi lebih baik
dibandingkan sebelumnya.

Manfaat live review terapi

1. Menurunkan depresi

2. Meningkatkan kepercayaan diri

3. Meningkatkan kemampuan individu untuk beraktivitas sehari-hari

4. Meningkatkan kepuasan hidup

Indikasi live review terapi

Menurut Jones (2008), live review terapi merupakan penanganan yang direkomendasikan untuk lansia
yang mengalami defisit kognitif dengan :
1. Depresi

2. Penyakit demensia alzheimer

3. Perawatan saat menjelang ajal

4. Perawatan terminal dan paliatif

Kontraindikasi live review terapi

1. Bahwa live review terapi dapat lebih menimbulkan efek menyakiti dibandingkan efek membantu
pada lansia yang memiliki peristiwa-peristiwa hidup negatif. Beberapa lansia mungkin akan menolak
melakukan live review terapi, bukan karena mereka tidak mau, melainkan karena akan menjadi depresi
ketika lansia melakukannya karena perasaan kehilangan yang mereka alami (Colins, 2006)

2. Lansia dengan gangguan memory jangka panjang dimana akan menjadi kesulitan untuk melakukan
mengingat kejadian masa lalu.

Teknik live review terapi

Teknik ini dilakukan dengan cara melibatkan orang yang dicintai karena akan mempermudah proses
komunikasi. .Perawat berusaha mengkomunikasikan riwayat masa lalu melalui buku memory yang
dijelaskan sebagai berikut :

1. Menggunakan album foto dengan ukuran halaman yang besar sebagai media untuk meletakkan
semua gambar atau dokumen dalam berbagai ukuran. Jika lansia mengalami gangguan penglihatan,
maka sebisa mungkin gunakan ukuran gambar yang lebih besar agar terlihat lebih jelas.

a. Mengumpulkan album foto dari berbagai kehidupan masa lalu lansia mulai dari kecil, dewasa
hingga menua

b. Lansia mampu menyebutkan satu persatu situasi foto yang ditampilkan

c. Lansia menjelaskan situasi yang ada pada foto, seperti siapa saja yang ada didalam foto, dimana
tempatnya, kapan terjadinya, serta apa yang dilakukan atau situasi yang terjadi pada saat mengambil
foto tersebut.

2. Menjelaskan tentang nama bagian-bagian dari tingkatan kehidupan yang pernah dijalani seperti :

a. Keluarga inti (informasi kelahiran, kehidupan, dan kematian mengenai ayah, ibu, kakek, nenek)

b. Tahun awal (kelahiran dari anak yang paling mudah)

c. Riwayat pekerjaan (tugas anak, riwayat pekrjaan dan pensiun)


d. Bersikap ramah dan perkawinan

e. Riwayat pasangan

f. Pernikahan anak

g. Keluarga dan teman

h. Rekreasi, hobi, ketertarikan , dan liburan

i. Memperingati hari keagamaan

3. Membuat narasi pada masing-masing kehidupan yang pernah dijalan lansia. Saat membuat narasi
dapat didampingi oleh yang disayangi agar lebih mudah dikomunikasikan

3.3. Gangguan konsep diri : depresi

3.3.1. Pengertian

Ada beberapa definisi depresi menurut para ahli, mari kita simak :

- Menurut Rice PL (1992), depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang
mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya
mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan.

- Menurut Kusumanto (1981) depresi adalah suatu perasaan kesedihan yang psikopatologis, yang
disertai perasaan sedih, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju kepada
meningkatnya keadaan mudah lelah yang sangat nyata sesudah bekerja sedikit saja, dan berkurangnya
aktivitas. Depresi dapat merupakan suatu gejala, atau kumpulan gejala (sindroma).

- Menurut Kartono (2002) depresi adalah kemuraman hati (kepedihan, kesenduan, keburaman
perasaan) yang patologis sifatnya. Biasanya timbul oleh; rasa inferior, sakit hati yang dalam, penyalahan
diri sendiri dan trauma psikis. Jika depresi itu psikotis sifatnya, maka ia disebut melankholi.

- Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa depresi adalah gangguan
mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan
dan berperilaku) seseorang, muncul perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan¸yang disertai
perasaan sedih, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju kepada
meningkatnya keadaan mudah lelah yang sangat nyata dan berkurangnya aktivitas.

3.3.2. Etiologi
Beberapa ahli juga memberikan penjelasan mengenai penyebab depresi. Menurut Kaplan dalam Tarigan
(2003) Faktor-faktor yang dihubungkan dengan penyebab dapat dibagi atas: faktor biologi, faktor
genetik dan faktor psiko sosial. Dimana ketiga faktor tersebut juga dapat saling mempengaruhi satu
dengan yang lainnya

1. Faktor Biologi

Dalam penelitian biopsikologi, norepinefrin dan serotonin merupakan dua neurotransmitter yang paling
berperan dalam patofisiologi gangguan mood. Beberapa peneliti juga menemukan bahwa gangguan
mood melibatkan patologik dan sistem limbiks serta ganglia basalis dan hypothalamus.

2. Faktor Genetik

Data genetik menyatakan bahwa faktor yang signifikan dalam perkembangan gangguan mood adalah
genetik. Pada penelitian anak kembar terhadap gangguan depresi berat, pada anak kembar monozigot
adalah 50 %, sedangkan dizigot 10 – 25 %.

3. Faktor Psikososial

Mungkin faktor inilah yang banyak diteliti oleh ahli psikologi. Faktor psikososial yang memyebabkan
terjadinya depresi antara lain;

a. Peristiwa kehidupan dan stress lingkungan : suatu pengamatan klinik menyatakan bahwa peristiwa
atau kejadian dalam kehidupan yang penuh ketegangan sering mendahului episode gangguan mood.

b. Faktor kepribadian Premorbid : Tidak ada satu kepribadian atau bentuk kepribadian yang khusus
sebagai predisposisi terhadap depresi. Semua orang dengan ciri kepribadian manapun dapat mengalami
depresi, walaupun tipetipe kepribadian seperti oral dependen, obsesi kompulsif, histerik mempunyai
risiko yang besar mengalami depresi dibandingkan dengan lainnya.

c. Faktor Psikoanalitik dan Psikodinamik : Freud menyatakan suatu hubungan antara kehilangan
objek dan melankoli. Ia menyatakan bahwa kemarahan pasien depresi diarahkan kepada diri sendiri
karena mengidentifikasikan terhadap objek yang hilang. Freud percaya bahwa introjeksi merupakan
suatu cara ego untuk melepaskan diri terhadap objek yang hilang. depresi sebagai suatu efek yang dapat
melakukan sesuatu terhadap agresi yang diarahkan kedalam dirinya. Apabila pasien depresi menyadari
bahwa mereka tidak hidup sesuai dengan yang dicita-citakannya, akan mengakibatkan mereka putus
asa.

d. Ketidakberdayaan yang dipelajari: Didalam percobaan, dimana binatang secara berulang-ulang


dihadapkan dengan kejutan listrik yang tidak dapat dihindarinya, binatang tersebut akhirnya menyerah
dan tidak mencoba sama sekali untuk menghindari kejutan selanjutnya. Mereka belajar bahwa mereka
tidak berdaya.

e. Teori Kognitif: Beck menunjukkan perhatian gangguan kognitif pada depresi Asikal H.S. dalam
Tarigan (2003) Dia mengidentifikasikan 3 pola kognitif utama pada depresi yang disebut sebagai triad
kognitif, yaitu : a) Pandangan negatif terhadap masa depan, b) Pandangan negatif terhadap diri sendiri,
individu menganggap dirinya tak mampu, bodoh, pemalas, tidak berharga, c) Pandangan negatif
terhadap pengalaman hidup. Meyer berpendapat bahwa depresi adalah reaksi seseorang terhadap
pengalaman hidup.

f. Penyebab depresi adalah faktor biologi, faktor genetik dan faktor psiko sosial. Dimana ketiga faktor
tersebut juga dapat saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.

3.3.3. Manifestasi Klinis

Individu yang terkena depresi pada umumnya menunjukkan gejala psikis, gejala fisik & sosial yang khas.
Beberapa orang memperlihatkan gejala yang minim, beberapa orang lainnya lebih banyak. Tinggi
rendahnya gejala bervariasi pada individu dan juga bervariasi dari waktu ke waktu. Berikut ini beberapa
gejala dari depresi :

- Terus menerus merasa sedih, cemas, atau suasana hati yang kosong

- Perasaan putus asa dan pesimis.

- Perasaan bersalah, tidak berdaya dan tidak berharga.

- Kehilangan minat atau kesenangan dalam hobi dan kegiatan yang pernah dinikmati.

- Penurunan energi dan mudah kelelahan.

- Kesuultan berkonsentrasi, mengingat, atau membuat keputusan.

- Insomnia, pagi hari terbangun, atau tidur berlebihan.

- Nafsu makan berkurang bahkan sangat berlebihan. Penurunan berat badan bahkan penambahan
berat badan secara drastis.

- Selalu berpikir kematian atau bunuh diri, percobaan bunuh diri

- Gelisah dan mudah tersinggung

- Terus menerus mengalami gejala fisik yang tidak respon terhadap pengobatan, seperti sakit
kepala, gangguan pencernaan, dan sakit kronis

Pada umumnya gejala depresi antara lain murung, sedih berkepanjangan, sensitif, mudah marah dan
tersinggung, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya konsentrasi dan menurunnya daya tahan.

3.3.4. Penatalaksanaan Medis


a. Terapi Medis

- Obat Anti Depresan golongan serotonin Selektif Reuptake Inhibitor (SSRI) dan Serotonin
Norephinephrine Reuptake Inhibitor (SNRI)

- Benzodiazepine (obat penenang)

- Alphrazolam, Lorazepam, (anti cemas)

b. Terapi Komplementer

Terapi rekreasi

Pengertian

Terapi rekreasi adalah kegiatan penyegaran kembali tubuh dan pikiran dan kegiatan yang
menggembirakan hati seperti hiburan atau piknik. Rekreasi dapat meningkatkan daya kreasi manusia
dalam mencapai kesinambungan antara bekerja dan beristirahat.

Terapi rekreasi pada lansia adalah aktivitas yang dilakukan pada waktu senggang bertujuan untuk
membentuk serta meningkatkan kembali kesegaran fisik, mental, pikiran dan daya rekreasi (individual
maupun kelompok) yang hilang akibat aktivitas rutin sehari – hari dengan cara mencari kesenangan,
hiburan, dan kesibukan yang berbeda. Rekreasi dapat memberikan kepuasan serta kegembiraan yang
ditujukan bagi kepuasan lahir dan batin lansia.

Teori terapi rekreasi

Terapi rekreasi yang diberikan kepada lansia akan memengaruhi kondisi fisik dan psikis lansia. Secara
fisik terapi rekreasi mampu membantu lansia dalam mengembalikan atau memperbaiki kondisi fisik
yang sudah lama jarang digerakkan akibat hospitalisasi yang lama.

Secara psikis terapi rekreasi akan mempengaruhi psikis lansia seperti membantu menyegarkan otak dan
pikiran, membuat perasaan menjadi tenang, senang, serta nyaman. Dan demikian, lansia tidak akan
merasa cemas, stress maupun depresi.

Tujuan terapi rekreasi

1. Menciptakan dan membina hubungan manusia.

2. Mempertahankan nilai – nilai budaya.

3. Menimbulkan kesenangan dan kepuasan karena dapat memenuhi rasa ingin tahu.

4. Memulihkan kesehatan jasmani dan rohani.


Indikasi terapi rekreasi

1. Lansia yang baru keluar dari rumah sakit setelah perawatan selama lebih dari 2 minggu.

2. Lansia yang sedang mengalami cemas, stress, maupun depresi.

3. Lansia yang mempunyai penyakit kronis.

Kontraindikasi terapi rekreasi

1. Lansia yang kondisinya harus tirah baring total msalnya sroke atau pasca operasi tumor otak.

2. Lansia yang mengalami demensia, ganguan jiwa, dan ketergantungan total.

Teknik terapi rekreasi

Persiapan

Persiapan alat:

1. Tidak membutuhkna alat khusus untuk jenis rekreasi yang tujuannya jalan – jalan.

2. Untuk rekreasi yang bersifat olahraga dibutuhkan alat olahraga yang akan dilakukan, misalnya
peralatan golf jika olahraga yang dilakukan adalah golf.

3. Untuk rekreasi yang bersifat permainan, perlu dipersiapkan alat permainan seperti permainan
catur.

4. Bagi lansia yang aktivitas setiap harinya membutuhkan kacamata, tongkat, kursi roda, maupun alat
bantu jalan yang lain, keluarga perlu mempersiapkan.

Persiapan lingkungan:

1. Tidak ada persiapan khusus untuk lingkungan, hanya tergantung dari tingkat rekreasi mana yang
akan dikunjungi.

2. Hindari lokasi yang akan menimbulkan resiko cidera bagi lansia seperti tangga,gunung atau tempat
yang tinggi-jangan meninggalkan lansia sendirian di tepi tangga,kolam renang atau laut.

3. Hindari tempat yang terlalu ramai karena akan membuat pusing lansia.

4. Hindari tempat yang panas,ajak ke tempat yang suasananya sejuk. Terutama pada lansia yang
memiliki ganguuan pernafasan.

Persiapan klien:
1. Pastikan klien dalam kondisi yang sehat

2. Jangan mengajak lansia pergi rekreasi dengan paksaan sebab dapat mempengaruhi fungsi dari
rekreasi dan lansia tidak akan menikmati piknik.

3. Pastikan alat yang biasa di gunakan lansia selalu dibawa.

Prosedur

1. Memilih jenis rekreasi yang di inginkan lansia.

2. Memilih tujuan rekreasi yang akan dikunjungi.

3. Mempersiapakan kebutuhan yang akan diperlukan lansia.

4. Jangan lupa melihat kondisi lansia sebelum, selama perjalanan, saat di tempat tujuan, dan setelah
rekreasi.

Kriteria evaluasi

1. Tanyakan apakah lansia merasa senang dan puas dengan rekreasi yang dilakukan.

2. Pastikan bahwa lansia tidak merasa cemas, stress, maupun depresi setelah perjalan rekreasi
tersebut.

3. Pantau kondisi lansia seperti kondisi fisik seperti lemah.

4. Pastikan lansia tidak lupa untuk menkonsumsi obat – obatan apabila sedang sakit.

5. Evaluasi apakah tempat rekreasi yang dikinjungi tadi bisa dijadikan tempat berkunjung rutin atau
justru tidak cocok dikunjungi lagi.

3.4. Gangguan sistem pencernaan : gastritis

3.4.1 Pengertian

Gastritis atau lebih dikenal sebagai magh berasal dari bahasa yunani yaitu gastro, yang berarti
perut/lambung dan itis yang berarti inflamasi/peradangan. Gastritis bukan merupakan penyakit tunggal,
tetapi terbentuk dari beberapa kondisi yang kesemuanya itu mengakibatkan peradangan pada lambung.
Biasanya, peradangan tersebut merupakan akibat dari infeksi oleh bakteri yang sama dengan bakteri
yang dapat mengakibatkan borok di lambung yaitu Helicobacter pylori. Tetapi factor – factor lain seperti
trauma fisik dan pemakaian secara terus menerus beberapa obat penghilang sakit dapat juga
menyebabkan gastritis. Secara sederhana definisi gastritis adalah proses inflamasi pada mukosa dan
submukosa lambung. Gastritis merupakan gangguan kesehatan yang paling sering dijumpai di klinik,
karena diagnosisnya sering hanya berdasarkan gejala klinis bukan pemeriksaan histopatologi.

Definisi Gastritis menurut para ahli adalah :

- Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronik, difus atau
lokal. Sylvia A. Price (1995)

- Gastritis adalah suatu iritasi atau infeksi yang menjadikan dinding merah, bengkak, berdarah dan
berparut. Dr. Robert B. Cooper (1996).

- Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung. Arif Mansjoer (1999).

- Gastritis adalah inflamasi dari lambung terutama pada mukosa gaster. Sujono Hadi (1999).

- Gastritis adalah peradangan lokal atau penyebaran pada mukosa lambung dan berkembang
dipenuhi bakteri. Charlene J (2001).

Klasifikasi Gastritis

Gastritis menurut jenisnya terbagi menjadi 2, yaitu (David Ovedorf 2002) :

1. Gastritis akut

Disebabkan oleh mencerna asam atau alkali kuat yang dapat menyebabkan mukosa menjadi gangren
atau perforasi. Gastritis akut dibagi menjadi dua garis besar yaitu :

Gastritis Eksogen akut ( biasanya disebabkan oleh faktor-faktor dari luar, seperti bahan kimiamisal : lisol,
alkohol, merokok, kafein lada, steroid , mekanis iritasi bakterial, obat analgetik, anti inflamasi terutama
aspirin (aspirin yang dosis rendah sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung) ).

Gastritis Endogen akut (adalah gastritis yang disebabkan oleh kelainan badan ).

2. Gastritis Kronik

Inflamasi lambung yang lama dapat disebabkan oleh ulkus benigna atau maligna dari lambung, atau oleh
bakteri Helicobacter pylory (H. Pylory). Gastritis kronik dikelompokkan lagi dalam 2 tipe yaitu tipe A dan
tipe B. Dikatakan gastritis kronik tipe A jika mampu menghasilkan imun sendiri. Tipe ini dikaitkan dengan
atropi dari kelenjar lambung dan penurunan mukosa. Penurunan pada sekresi gastrik mempengaruhi
produksi antibodi. Anemia pernisiosa berkembang pada proses ini. Gastritis kronik tipe B lebih lazim.
Tipe ini dikaitkan dengan infeksi helicobacter pylori yang menimbulkan ulkus pada dinding lambung.

3.4.2 Etiologi
1. Infeksi kuman Helicobacter pylori (bakteri yang tumbuh di dalam sel penghasil lendir di lapisan
lambung).

Tidak ada bakteri lainnya yang dalam keadaan normal tumbuh di dalam lambung yang bersifat asam,
tetapi jika lambung tidak menghasilkan asam, berbagai bakteri bisa tumbuh di lambung. Bakteri ini bisa
menyebabkan gastritis menetap atau gastritis sementara.

2. Penggunaan antibiotik

Penggunaan antibiotik untuk infeksi paru dicurigai mempengaruhi penularan kuman di komunitas
karena antibiotika tersebut mampu mengeradikasi infeksi Helicobacter pylori walaupun presentase
keberhasilannya rendah.

3. Gangguan fungsi sistem imun

Sistem imun yang dimiliki oleh seseorang akan dapat menjadi pemacu reaksi imunologis terhadap infeksi
virus atau jamur. Terdapat beberapa jenis virus yang dapat menginfeksi mukosa lambung misalnya
enteric rotavirus dan calici virus. Autoimmune atrophic gastritis terjadi ketika sistem kekebalan tubuh
menyerang sel-sel sehat yang berada dalam dinding lambung. Hal ini mengakibatkan peradangan dan
secara bertahap menipiskan dinding lambung, menghancurkan kelenjar-kelenjar penghasil asam
lambung dan menganggu produksi faktor intrinsic (yaitu sebuah zat yang membantu tubuh
mengabsorbsi vitamin B-12). Kekurangan B-12, akhirnya, dapat mengakibatkan pernicious anemia,
sebuah konsisi serius yang jika tidak dirawat dapat mempengaruhi seluruh sistem dalam tubuh.
Autoimmune atrophic gastritis terjadi terutama pada orang tua.

4. Penggunaan Obat analgesik anti inflamasi nonsteroid

Obat analgesik anti inflamasi nonsteroid (AINS) seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen dapat
menyebabkan peradangan pada lambung dengan cara mengurangi prostaglandin yang bertugas
melindungi dinding lambung. Jika pemakaian obat - obat tersebut hanya sesekali maka kemungkinan
terjadinya masalah lambung akan kecil. Tapi jika pemakaiannya dilakukan secara terus menerus atau
pemakaian yang berlebihan dapat mengakibatkan gastritis.

5. Penggunaan alkohol secara berlebihan

Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding lambung dan membuat dinding lambung
lebih rentan terhadap asam lambung walaupun pada kondisi normal.

6. Penggunaan kokain

Kokain dapat merusak lambung dan menyebabkan pendarahan dan gastritis.

7. Stress fisik

Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar atau infeksi berat dapat menyebabkan
gastritis dan juga borok serta pendarahan pada lambung.
8. Radiasi and kemoterapi

Perawatan terhadap kanker seperti kemoterapi dan radiasi dapat mengakibatkan peradangan pada
dinding lambung yang selanjutnya dapat berkembang menjadi gastritis dan peptic ulcer. Ketika tubuh
terkena sejumlah kecil radiasi, kerusakan yang terjadi biasanya sementara, tapi dalam dosis besar akan
mengakibatkan kerusakan tersebut menjadi permanen dan dapat mengikis dinding lambung serta
merusak kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung.

3.4.3 Manifestasi Klinis

a. Dapat terjadi ulserasi superfisial dan mengarah pada hemoragi

b. Beberapa pasien menunjukan asimptomatik

c. Dapat terjadi kolik dan diare jika makan yang mengiritasi tidak dimuntahkan tetapi malah mencapi
usus

d. Perdarahan saluran cerna berupa hematemesis dan melena.

e. Pasien biasa nya pulih kembali sekitar sehari, meskipu nafsu makan mungkin hilang selama 2-3
hari

f. Nyeri disekitar ulu hati

g. Mual

h. Muntah

i. Kembung

j. Anorexia

3.4.4 Penatalaksanaan Medis

Obat yang dipergunakan untuk gastritis adalah Obat yang mengandung bahan-bahan yang efektif
menetralkan asam dilambung dan tidak diserap ke dalam tubuh sehingga cukup aman digunakan (sesuai
anjuran pakai tentunya). Semakin banyak kadar antasida di dalam obat maag maka semakin banyak
asam yang dapat dinetralkan sehingga lebih efektif mengatasi gejala sakit gastritis dengan baik.

Pengobatan gastritis tergantung pada penyebabnya. Gastritis akut akibat konsumsi alkohol dan kopi
berlebihan, obat-obat NSAID dan kebiasaan merokok dapat sembuh dengan menghentikan konsumsi
bahan tersebut. Gastritis kronis akibat infeksi bakteri H. pylori dapat diobati dengan terapi eradikasi H.
pylori. Terapi eradikasi ini terdiri dari pemberian 2 macam antibiotik dan 1 macam penghambat produksi
asam lambung, yaitu PPI (proton pump inhibitor).
Untuk mengurangi gejala iritasi dinding lambung oleh asam lambung, penderita gastritis lazim diberi
obat yang menetralkan atau mengurangi asam lambung, misalnya (Mayo Clinic,2007) :

1. Antasid : Obat bebas yang dapat berbentuk cairan atau tablet dan merupakan obat yang umum
dipakai untuk mengatasi gastritis ringan. Antasida menetralkan asam lambung sehingga cepat
mengobati gejala antara lain promag, mylanta, dll.

2. Penghambat asam (acid blocker) : Jika antasid tidak cukup untuk mengobati gejala, dokter biasanya
meresepkan obat penghambat asam antara lain simetidin, ranitidin, atau famotidin.

3. Proton pump inhibitor (penghambat pompa proton) : Obat ini bekerja mengurangi asam lambung
dengan cara menghambat pompa kecil dalam sel penghasil asam. Jenis obat yang tergolong dalam
kelompok ini adalah omeprazole, lanzoprazole, esomeparazol, rabeprazole, dll. Untuk mengatasi infeksi
bakteri H. pylori, biasanya digunakan obat dari golongan penghambat pompa proton, dikombinasikan
dengan antibiotika.

Terapi relaksasi nafas dalam

Menurut brunner & suddart (2002), relaksasi nafas adalah pernafasan abdomen dengan frekuensi
lambat atau perlahan, berirama dan nyaman yang dilakukan dengan memejamkan mata.

Teori terapi relaksasi nafas dalam

Teknik relaksasi meliputi berbagai metode untuk perlambatan bawah tubuh dan pikiran. Meditasi,
relaksasi otot progresif, latihan pernafasan, petunjuk gambar merupakan teknik relaksasi yang sering
digunakan dalam pengaturan klinis klien untuk membantu reaksi stres dan mengatur kesejahteraan
secara keseluruhan.

Distraksi atau pengalihan perhatian akan menstimulasi kontrol desenden, yaitu suatu sistem serabut
yang barasal dari dalam otak bagian bawah dan bagian tengah dan berakhir pada serabut interneural
inhibitor dalam kornudorsalis dari medulla spinalis, yang mengakibatkan berkurangnya stimulasi nyeri
yang ditransmisikan ke otak (smeltzher, 2002)

Manfaat terapi relaksasi nafas dalam

1. Lansia mendapatkan perasaan yang nyaman dan tenang

2. Mengurangi nyeri

3. Lansia tidak mengalami stress

4. Melemaskan otot untuk menurunkan ketegangan dan kejenuhan yang biasanya menyertai nyeri
5. Mengurangi kecemasan yang memburuk persepsi nyeri

6. Relaksasi nafas dalam mempunyai efek distraksi atau pengalihan perhatian.

Indikasi terapi relaksasi nafas dalam

1. Lansia yang mengalami nyeri akut tingkat ringan sampai dengan sedang akibat penyakit yang
kooperatif

2. Lansia dengan nyeri kronis ( nyeri punggung)

3. Nyeri pasca operasi

4. Lansia yang mengalami stress

Kontraindikasi terapi relaksasi nafas dalam

Terapi relaksasi nafas dalam tidak diberikan pada klien yang mengalami sesak nafas

Teknik Terapi relaksasi nafas dalam

Menurut earnest (1989), teknik terapi relaksasi nafas dalam dijabarkan sebagai berikut :

1. Klien menarik nafas dalam dan mengisi paru dengan udara, dalam tiga hitungan (hirup, dua, tiga)

2. Udara dihembuskan perlahan-lahan sambil membiarkan tubuh menjadi relaks dan nyaman.
Lakukan pengitungan bersama klien (hembuskan, dua, tiga)

3. Klien bernafas beberapa kali dengan irama normal

4. Ulangi kegiatan menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Biarkan hanya kaki dan telapak kaki
yang relaks. Perawat meminta klien mengonsentrasikan pikiran pada kakinya yang terasa ringan dan
hangat.

5. Klien mengulangi lang ringan dan hangat.

6. Klien mengulangi langkah keempat dan mengonsentrasikan pikiran pada lengan, perut, punggung
dan kelompok otot yang lain.

7. Setelah seluruh tubuh klien merasa relaks, anjurkan untuk bernafas secara perlahan-lahan. Bila
nyeri bertambah hebat, klien dapat bernafas secara dangkah keempat dan mengonsentrasikan pikiran
pada lengan, perut, punggung dan kelompok otot yang lain.
8. Setelah seluruh tubuh klien merasa relaks, anjurkan untuk bernafas secara perlahan-lahan. Bila
nyeri bertambah hebat, klien dapat bernafas secara dangkal dan cepat.

Kriteria evaluasi

1. Catat skala nyeri yang dirasakan klien sesudah tindakan

2. Catat ekspresi klien sesudah tindakan

3. Catat tanda-tanda vital klien.


BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Terapi medis adalah meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup pasien. Optimalisasi terapi medis harus
aman, efektif, pemilihan terapi secara bijak dan pelayanan kesehatan secara akurat serta adanya
kesepakatan antara pasien dan pemberi pelayanan berdasarkan informasi terkini.

Terapi komplementer merupakan terapi holistis atau terapi nonbiomedis. Hasil penelitian tentang
psikoneuroimunologi mengungkapkan bahwa proses interaktif pada manusia dengantubuh, pikiran, dan
interaksi sosial mempengaruhi kesejahteraan seseorang. NCCAM. Menetapkan bahwa terapi
komplementer secara garis besar di dasarkan sebagai kategori terapi pikiran penghubung tubuh (mind –
body terapies) sementara terapi biomedis lebih banyak mempengaruhi seluruh tubuh dan berfokus
pada dampak terapi terhadap pengibatan.

4.2 Saran

Dengan adanya makalah yang kami buat ini tentang terapi medik dan terapi komlementer diharapkan
pembaca atau teman-teman sejawat dapat memperoleh manfaat dari makalah yang kami buat. Jika ada
pengembangan yang bermanfaat mohon untuk dilayangkan pada penulis makalah ini karena masukan
dari pembaca atau bapak/ ibu dosen sangat mendukung demi kesempurnaan makalah yang kami buat.
DAFTAR PUSTAKA

Kusumanto, R., Iskandar, Y., 1981. Depresi, Suatu problema Diagnosa dan Terapi pada praktek umum.
Jakarta: Yayasan Dharma Graha

Kartono, Kartini. 2002. Patologi Sosial 3, Gangguan-gangguan Kejiwaan. Jakarta: Rajawali Pers.

Martono, Hadi dan Kris Pranarka. 2010. Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia
Lanjut).Edisi IV. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Mubarak, Wahid Iqbal. 2009. Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep dan Aplikasi.J akarta : Salemba
Medika

Maryam, R.Siti. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta : Salemba Medika

Maslim, Rusdi. 2001. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta: Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.

Pudjiastuti, Sri Surini dan Budi Utomo. 2003. Fisioterapi Pada Lansia. Jakarta : EGC

Setyoadi, Kushariyadi. 2011. Terapi Modalitas keperawatan pada klien psikogeriatik. Jakarta : Salemba
medika

Stockslager, Jaime L. 2007. Buku Saku Asuhan Keparawatan Geriatrik. Edisi II. Jakarta : EGC

Tarigan, C., Julita 2003. Perbedaan Depresi Pada Pasien Dispepsia Fungsional dan Dispepsia Organik.
Diakses dalam http://www.usu.go.id.

Watson, Roger. 2003. Perawatan Pada Lansia. Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai