Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

PRINSIP STRATIGRAFI

DI SUSUN OLEH :
NAMA: DANIEL MARULITUAH SINAGA
NIM: 1501103

JURUSAN S1 TEKNIK PERMINYAKAN REGULER B


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MINYAK DAN GAS
BALIKPAPAN
2017

[1]
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat
menyelesaikan penyusunan Makalah GEOLOGI REGIONAL CEKUNGAN SUMATERA UTARA .
Makalah ini disusun dan diajukan sebagai tugas yang dalam menyelesaikan Prisip Stratigrafi.

Dengan tersusunnya Makalah ini, penyusun mengucapkan terima kasih kepada :


1. Bapak M. NUR MUKMIN selaku Dosen pada mata kuliah Prisip Stratigrafi
2. Orang tua dan keluarga yang selalu memberikan semangat dan perhatian.
3. Rekan-rekan serta semua pihak yang telah membantu sehingga Makalah ini dapat terselesaikan.

Penyusun menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan Makalah ini, sehingga
penyusun mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca demi untuk
kesempurnaan di dalam berbagai aspek dari makalah ini.

Akhirnya penyusun berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin

Balikpapan, 28 April 2017

Penyusun

[2]
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................................... 1


KATA PENGANTAR ....................................................................................................... 2
DAFTAR ISI ...................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 4
BAB II GEOLOGI REGIONAL CEKUNGAN SUMATERA UTARA ............................. 6

BAB III KESIMPULAN.......................................................................................................25

[3]
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejarah geologi Indonesia yang kompleks telah menghasilkan lebih dari enam puluh cekungan
sedimen. Cekungan-cekungan ini berdasarkan persebaran daerahnya dibagi menjadi 2 kelompok,
yaitu bagian barat dan bagian timur. Bagian barat Indonesia memiliki sekitar 22 cekungan yang telah
berproduksi, sedangkan bagian timur Indonesia memiliki lebih banyak cekungan, yaitu sekitar 38
cekungan sedimen yang masih berada pada tahap eksplorasi.
Sebagian besar cekungan produktif yang ada di Indonesia berada di bagian barat. Sedangkan,
pada Indonesia bagian timur, sebenarnya memiliki prospek hidrokarbon yang sangat besar,
berdasarkan data stratigrafi pada masa mesozoikum dan Paleozoikum. Namun proses produksi daerah
tersebut masih terkendala oleh besarnya beban biaya, kurangya infrastruktur, serta area yang
didominasi oleh perairan laut dalam (Awang H. Satyana, 2005).
Cekungan-cekungan di Indonesia wilayah barat yang terletak pada bagian Back-arc Basin
Lempeng Sunda (Eurasia), meliputi cekungan Sumatera Utara, cekungan Sumatera Tengah, cekungan
Sumatera Selatan, cekungan Sunda-Asri, Cekungan Utara Jawa, Cekungan Jawa Timur, Cekungan
Barito, Cekungan Kutai, Cekungan Tarakan, Cekungan Natuna Barat, dan Cekungan Natuna Timur.
Cekungan-cekungan sedimen pada wilayah Barat ini terbentuk pada akhir kala Eosen dimana
pada kala tersebut terjadi proses pelebaran cekungan yang diisi oleh material sedimen lakustrin dan
fluvial. Proses transgresi yang terjadi pada pertengahan kala oligosen sampai pertengahan kala
miosen, yang terisi oleh material-material fluvial, kemudian tertimbun sedimen delta dan karbonat
pada kala oligosen akhir sampai miosen awal. Selanjutnya terbentuk lapisan perangkap pada
pertengahan kala miosen, di mana pada saat itu berlangsung proses transgresi secara maksimum. di
akhir kala miosen sampai dengan pliosen, akhirnya mulai terbentuk struktur-struktur kompresi, akibat
adanya desakan gaya tektonik dari lempeng Indo-Australia terhadap lempeng sunda (Eurasia).

[4]
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan yang akan dibahas ialah:
1. Bagamanakah Geologi Regional Cekungan Sumatera Utara?
2. Bagaimanakah Stratigrafi Cekungan Sumatera Utara?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah:
1. Untuk mengetahui mengenai Geologi Regional Cekungan Sumatera Utara.
2. Untuk mengetahui mengenai Stratigrafi Cekungan Sumatera Utara.
3. Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Geologi Indonesia.

[5]
BAB II
PEMBAHASAN

A. Geologi Regional Sumatra

Pulau Sumatra merupakan pulau keenam terbesar di dunia. Secara ekspresi fisiografi,
pulau ini memiliki orientasi berarah baratlaut-tenggara (Gambar 2.1). Luas area dari pulau ini
±435.000 km2, dengan panjang terhitung 1650 km dari Banda Aceh di bagian utara hingga
Tanjungkarang di bagian selatan. Lebar yang terhitung sekitar 100-200 km di bagian utara dan
sekitar 350 km di bagian selatan. Pegunungan Barisan yang berada sepanjang bagian barat
membagi pantai barat dan timur Pulau Sumatra. Lereng yang berarah Samudera Hindia pada
umumnya curam sehingga menyebabkan sabuk bagian barat biasanya berupa pegunungan
dengan pengecualian 2 embayment pada Sumatra Utara yang memiliki lebar 20 km. Sabuk
bagian timur pada pulau ini ditutupi oleh formasi Tersier dan dataran rendah aluvial (Darman
dan Sidi, 2000).
Pulau Sumatra merupakan bagian Sundaland yang terletak di bagian baratdaya. Oleh
karena itu, teori tentang pembentukan Sumatra tidak terlepas dengan sejarah pembentukan
Sundaland itu sendiri (Darman dan Sidi, 2000).

Lokasi penelitian

Gambar 2.1 Pulau Sumatra

[6]
Terdapat beberapa teori tentang sejarah pembentukan Pulau Sumatra, yaitu:

1. Pulau Sumatra sebagai model jalur subduksi yang berkembang semakin muda ke baratdaya-
selatan dan ke arah utara (Katili, 1978).

2. Pulau Sumatra sejak awal merupakan bagian dari benua asia (Kuliah Geologi Indonesia, 2009).

3. Pulau Sumatra sebagai produk amalgamasi unsur-unsur dari Benua Asia dan Gondwana
(Pulunggono dan Cameron 1984, Barber 1985 dalam Darman dan Sidi, 2000).

Dari ketiga teori di atas, yang paling banyak diterima ialah teori ketiga yaitu Pulau Sumatra
merupakan produk amalgamasi unsur Asia dan Gondwana. Hal ini dapat terlihat pada gambar
2.2.

Unsur Gondwana Unsur Asia

Jalur Suture

Gambar 2.2. Produk amalgamasi antara unsur Gondwana dan unsur Asia
pada Pulau Sumatra.

(sumber: Kuliah Geologi Indonesia, 2009)

[10]
Pada masa sekarang salah satu proses aktif yang masih berlangsung pada Pulau Sumatra
ialah proses subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Subduksi ini
memiliki kecepatan antara 6 hingga 7 cm per tahun dan berarah N20ºE. Beberapa tatanan
tektonik terbentuk akibat proses subduksi ini, yakni (Darman dan Sidi, 2000) (Gambar 2.3):

 Palung Sunda.

 Busur luar Mentawai.

 Cekungan depan busur Sumatra.

 Jalur magmatik Bukit Barisan.

 Cekungan belakang busur.

L. Andaman Lokasi penelitian


Lokasi
Penelitian

Gambar 2.3 Tektonik Regional Sumatra

[11]
Berdasarkan 5 tatanan tektonik yang disebutkan sebelumnya, wilayah tatanan tektonik
yang memiliki potensi sebagai reservoir yang baik ialah cekungan belakang busur. Pada
Pulau Sumatra terdapat 3 cekungan belakangan busur, yakni Cekungan Sumatra Utara,
Cekungan Sumatra Tengah , dan Cekungan Sumatra Selatan (Gambar 2.3). Lapangan
Delima merupakan lapangan migas yang terletak pada Cekungan Sumatra Utara.

B. Geologi Regional Cekungan Sumatera Utara

.
Daerah ini merupakan bagian dari Back-arc Basin lempeng Sunda yang meliputi suatu jalur
sempit yang terbentang dari Medan sapai ke Banda Aceh. Di sebelah barat jalur ini jelas dibatasi
oleh singkapan-singkapan pra-Tersier. Dapat dikatakan bahwa yang dikenal sebagai lempung hitam
(black clay) dan batupasir bermika (micaceous sandstone), mungkin merupakan pengendapan non-
marin. Transgresi baru dimulai dengan batupasir Peunulin atau batupasir Belumai, yang tertindih
oleh Formasi Telaga. Formasi regresi diwakili oleh Formasi Keutapang dan Formasi Seureula yang
merupakan lapisan resevoir utama. Daerah cekungan ini juga terdiri dari cekungan yang
dikendalikan oleh patahan batuan dasar. Semua cekungan tersebut adalah pendalaman Paseh
(Paseh deep). Di sini jugalah letak dearah terangkat blok Arun, yang dibatasi oleh patahan yang
menjurus ke utara-selatan.
Cekungan Paseh membuka ke arah utara ke lepas pantai, ke sebelah selatan tempat depresi
Tamiang dan depresi Medan. Di antara kedua depresi tersebut terdapat daerah tinggi, dan di sana
Formasi Peunulin/Telaga/Belumai langsung menutupi batuan dasar. Minyak ditemui pada formasi
ini (Diski, Batumandi), lebih ke selatan lagi terdapat depresi Siantara dan kemudian daerah
cekungan dibatasi oleh lengkung Asahan dari cekungan Sumatera Tengah. Struktur daerah
cekungan Sumatera Utara diwakili oleh berbagai lipatan yang relatif ketat yang membujut barat
laut-tenggara yang diikuti oleh sesar naik. Di sini diketahui bagian barat relatif naik terhadap
bagian timur. Perlipatan terjadi di Plio-Plistosen. Semua unsur struktur yang lebih tua direfleksikan
pada paleotopografi batuan dasar, seperti misalnya di blik Arun yang menjurus ke utara-selatan.
Cekungan sumatera Utara secara tektonik terdiri dari berbagai elemen yang berupa
tinggian, cekungan maupun peralihannya, dimana cekungan ini terjadi setelah berlangsungnya
gerakan tektonik pada zaman Mesozoikum atau sebelum mulai berlangsungnya pengendapan
sedimen tersier dalam cekungan sumatera utara. Tektonik yang terjadi pada akhir Tersier
menghasilkan bentuk cekungan bulat memanjang dan berarah barat laut – tenggara. Proses
[12]
sedimentasi yang terjadi selama Tersier secara umum dimulai dengan trangressi, kemudian disusul
dengan regresi dan diikuti gerakan tektonik pada akhir Tersier. Pola struktur cekungan sumatera
utara terlihat adanya perlipatan-perlipatan dan pergeseran-pergeseran yang berarah lebih kurang
lebih barat laut – tenggara Sedimentasi dimulai dengan sub cekungan yang terisolasi berarah utara
pada bagian bertopografi rendah dan palung yang tersesarkan. Pengendapan Tersier Bawah
ditandai dengan adanya ketidak selarasan antara sedimen dengan batuan dasar yang berumur Pra-
tersier, merupakan hasil trangressi, membentuk endapan berbutir kasar – halus, batu lempung
hitam, napal, batulempung gampingan dan serpih.
Transgressi mencapai puncaknya pada Miosen Bawah, kemudian berhenti dan lingkungan
berubah menjadi tenang ditandai dengan adanya endapan napal yang kaya akan fosil foraminifora
planktonik dari formasi Peutu. Di bagian timur cekungan ini diendapkan formasi Belumai yang
berkembang menjadi 2 facies yaitu klastik dan karbonat. Kondisi tenang terus berlangsung sampai
Miosen tengah dengan pengendapan serpih dari formasi Baong. Setelah pengendapan laut
mencapai maksimum, kemudian terjadi proses regresi yang mengendapkan sedimen klastik
(formasi Keutapang, Seurula dan Julu Rayeuk) secara selaras diendapkan diatas Formasi Baong,
kemudian secara tidak selaras diatasnya diendapkan Tufa Toba Alluvial.

C. Stratigrafi Cekungan Sumatera Utara


Proses tektonik cekungan tersebut telah membuat stratigrafi regional cekungan Sumatera
Utara dengan urutan dari tua ke muda adalah sebagai berikut :
C.1. Formasi Parapat
Formasi Parapat dengan komposisi batupasir berbutir kasar dan konglomerat di bagian
bawah, serta sisipan serpih yang diendapkan secara tidak selaras. Secara regional, bagian bawah
Formasi Parapat diendapkan dalam lingkungan laut dangkal dengan dijumpai fosil Nummulites di
Aceh. Formasi ini diperkirakan berumur Oligosen.
C.2. Formasi Bampo

Formasi Bampo dengan komposisi utama adalah serpih hitam dan tidak berlapis, dan
umumnya berasosiasi dengan pirit dan gamping. Lapisan tipis batugamping, ataupun batulempung
berkarbonatan dan mikaan sering pula dijumpai. Formasi ini miskin akan fosil, sesuai dengan
lingkungan pengendapannya yang tertutup atau dalam kondisi reduksi (euxinic). Berdasarkan
beberapa kumpulan fosil bentonik dan planktonik yang ditemukan, diperkirakan formasi ini
berumur Oligosen atas sampai Miosen bawah. Ketebalan formasi amat berbeda dan berkisar antara
100 – 2400 meter.

[13]
C.3. Formasi Belumai

Pada sisi timur cekungan berkembang Formasi Belumai yang identik dengan formasi Peutu
yang hanya berkembang dicekungan bagian barat dan tengah. Terdiri dari batupasir glaukonit
berselang – seling dengan serpih dan batugamping. Didaerah Formasi Arun bagian atas
berkembang lapisan batupasir kalkarenit dan kalsilutit dengan selingan serpih. Formasi Belumai
terdapat secara selaras diatas Formasi Bampo dan juga selaras dengan Formasi Baong, ketebalan
diperkirakan antara 200 – 700 meter. Lingkungan pengendapan Formasi ini adalah laut dangkal
sampai neritik yang berumur Miosen awal.

C.4. Formasi Baong

Formasi Baong terdiri atas batulempung abu-abu kehijauan, napalan, lanauan, pasiran.
Umumnya kaya fosil Orbulina sp, dan diselingi suatu lapisan tipis pasir halus serpihan. Didaerah
Langkat Aru beberapa selingan batupasir glaukonitan serta batugampingan yang terdapat pada
bagian tengah. Formasi ini dinamakan Besitang River Sand dan Sembilan sand, yang keduanya
merupakan reservoir yang produktif dengan berumur Miosen Tengah hingga Atas.

C.5. Formasi Keutapang

Formasi Keutapang tersusun selang-seling antara serpih, batulempung, beberapa sisipan


batugampingan dan batupasir berlapis tebal terdiri atas kuarsa pyrite, sedikit mika, dan karbonan
terdapat pada bagian atas dijumpai hidrokarbon. Ketebalan formasi ini berkisar antara 404 – 1534
meter. Formasi Keutapang merupakan awal siklus regresi dari sedimen dalam cekungan sumatera
utara yang terendapkan dalam lingkungan delta sampai laut dalam sampai Miosen akhir.

C.6. Formasi Seurula

Formasi ini agak susah dipisahkan dari Formasi Keutapang dibawahnya. Formasi Seurula
merupakan kelanjutan facies regresi, dengan lithologinya terdiri dari batupasir, serpih dan dominan
batulempung. Dibandingkan dengan Formasi Keutapang, Formasi Seurula berbutir lebih kasar
banyak ditemukan pecahan cangkang moluska dan kandungan fornifera plangtonik lebih banyak.
Ketebalan Formasi ini diperkirakan antara 397 – 720 meter. Formasi ini diendapkan dalam
lingkungan bersifat laut selama awal Pliosen.

C.7. Formasi Julu Rayeu

Formasi Julu Rayeu merupakan formasi teratas dari siklus endapan laut dicekungan
sumatera utara. Dengan lithologinya terdiri atas batupasir halus sampai kasar, batulempung dengan
[14]
mengandung mika, dan pecahan cangkang moluska. Ketebalannya mencapai 1400 meter,
lingkungan pengendapan laut dangkal pada akhir Pliosen sampai Plistosen.

C.8. Vulkanik Toba

Vulkanik Toba merupakan tufa hasil kegiatan vukanisme toba yang berlangsung pada Plio-
Plistosen. Lithologinya berupa tufa dan endapan-endapan kontinen seperti kerakal, pasir dan
lempung. Tufa toba diendapkan tidak selaras diatas formasi Julu Rayeu. Ketebalan lapisan ini
diperkirakan antara 150 – 200 meter berumur Plistosen.

C.9. Alluvial

Satuan alluvial ini terdiri dari endapan sungai ( pasir, kerikil, batugamping dan
batulempung ) dan endapan pantai yaitu, pasir sampai lumpur. Ketebalan satuan alluvial
diperkirakan mencapai 20 meter.

D. Tektonostratigrafi Cekungan Sumatra Utara

Penelitian tentang stratigrafi pada Cekungan Sumatra Utara sudah dilaksanakan


sejak tahun 1880an, yaitu semenjak ditemukannya minyak di Telaga Tiga (1883) dan
Telaga Said (1885). Pada saat ini sudah banyak perkembangan tentang pembagian
stratigrafi pada Cekungan Sumatra Utara (gambar 2.7). Terminologi stratigrafi pada
Cekungan Sumatra Utara yang dipakai saat ini dapat dilihat pada gambar 2.7

[15]
Barber, Crow, and

Gambar 2.7 Perkembangan terminologi stratigrafi pada Cekungan


Sumatra Utara

(Barber, Crow, dan Milsom, 2005)

Untuk mengaitkan pertistiwa tektonik dan pengendapan yang terjadi saat Tersier, maka
dibentuklah suatu tektonostratigrafi oleh para ahli sehingga dapat menggambarkan siklus
pengendapan yang lebih lengkap.

Tektonostratigrafi (gambar 2.8) pada Cekungan Sumatra Utara dibagi menjadi 4 fase,
yaitu (Darman dan Sidi, 2000):

 Fase Pre rift (Eosen).

 Fase Early syn-rift (Eosen Akhir-Oligosen).

 Fase Late syn-rift (Oligosen Akhir-Miosen Tengah).

 Fase Syn-orogenic (Miosen Tengah-Resen).

[16]
Syn-orogenic

Late Syn-rift

Gambar 2.8 Tektonostratigrafi Cekungan Sumatra Utara. 19


(Darman dan Sidi, 2000 modifikasi Barber, Crow, dan Milsom, 2005)

[17]
D.1. Fase Pre rift (Eosen)

Sedimen Tersier yang paling awal terendapkan pada Pulau Sumatra merupakan sedimen
endapan laut dangkal pada batas kontinen (Shallow water continental margint sedimen). Hal ini
sesuai dengan konfigurasi cekungan pada saat Eosen yang dapat dilihat pada gambar 2.9.

Gambar 2.9 Konfigurasi Cekungan Sumatra Utara saat Eosen (satyana, 2008)

Sedimen laut dangkal ini terendapkan di atas basement Sundaland berumur pra-Tersier yang
tererosi. Sedimen ini membentuk Formasi Tampur di Cekungan Sumatra Utara (gambar 2.6).
Berdasarkan penelitian Van Bemmelen tahun 1949, ditemukan singkapan batugamping di aliran
Sungai Tampur dan di dalamnya terdapat Laminasi alga, koral dan sisa-sisa coaly plants. Hal ini
membuktikan bahwa batugamping ini terendapkan pada lingkungan sub-litoral hingga laut
terbuka. Umur dari Formasi Tampur ini diperkirakan berumur Eosen hingga Oligosen Akhir
berdasarkan posisi stratigrafi dan korelasi regional (Bennet dkk. 1981c dalam Barber, Crow, dan
Milsom, 2005).

[20]
D.2.Fase Early syn-rift (Eosen Akhir-Oligosen).

Fase early syn-rift yang terjadi pada Cekungan Sumatra Utara diawali dengan adanya
tumbukan yang terjadi antara Benua India dengan Lempeng Eurasia pada Eosen Akhir.
Tumbukan ini menghasilkan aktifasi 2 sesar utama, yakni Sesar Sumatra dan Sesar Malaka yang
merupakan sesar mendatar dextral. Aktifitas dari kedua sesar inilah yang membentuk horst-
graben pada Cekungan Sumatra Utara (Gambar 2.10). Pada saat ini juga terjadi transgresi
regional (Darman dan Sidi, 2000).

Gambar 2.10. Struktur horst-graben yang merupakan produk konvergensi Benua India dengan Lempeng Euarasia

(Davies, 1984 dalam Satyana, 2008)

Horst graben ini merupakan pull-apart basin dengan arah orientasi utara-selatan. Struktur
horst graben ini mengubah bentukan morfologi dan sedimentasi pada Pulau Sumatra. Bentuk
awal Pulau Sumatra yang berupa dataran (peneplain) berubah menjadi pegunungan dengan
dalaman-dalaman yang terisolasi. Proses sedimentasi dikontrol oleh sesar dan didominasi oleh
proses fluviatil dan lacustrain yang sumber sedimennya berasal dari tinggian setempat. Hal ini
dapat dianalogikan dengan proses sedimentasi yang terjadi pada rift valley di bagian Afrika
Timur saat ini. Pada Cekungan Sumatra Utara, formasi yang terendapkan pada tahapan ini ialah
[21]
Formasi Bruksah dan Bampo (Gambar 2.6) (Cameron dkk. 1980 dalam Barber, Crow, dan

[22]
Milsom 2005). Pada beberapa tatanan stratigrafi yang ada, Formasi Bruksah disamakan dengan
Formasi Parapat (gambar 2.7).

D.3. Fase Late syn-rift (Oligosen Akhir-Miosen Tengah).

Pada saat Oligosen Akhir, tektonik regime pada Cekungan Sumatra Utara mulai berubah.
Subsiden regional akibat fase sagging terjadi pada saat itu. Pada saat yang bersamaan, sistem
busur Sumatra mulai terbentuk sehingga mulailah dikenal dengan terminologi cekungan
depan busur, cekungan belakang busur, dan busur magmatik. Busur magmatik yang terbentuk
ialah Bukit Barisan yang memiliki orientasi baratlaut-tenggara. Kehadiran Bukit Barisan ini
sangat penting karena Bukit Barisan merupakan sumber suplai sedimen penting untuk
cekungan depan busur dan cekungan belakang busur pada saat itu. Cekungan Sumatra Utara
terletak dekat dengan Bukit Barisan sehingga suplai sedimen pada cekungan ini berasal dari
Bukit Barisan dengan sistem pengendapan berupa sistem alluvial. Subsiden terus terjadi
sehingga lingkungan pengendapan mulai berubah menjadi laut terbuka, diawali dengan
ditemukannya beberapa pengendapan delta dan terumbu secara lokal. Formasi yang
terendapkan pada Cekungan Sumatra Utara pada fase ini ialah Formasi Peutu dan Formasi
Belumai. Formasi Peutu merupakan formasi yang terendapkan pada fase awal transgresi
dengan lingkungan berupa fluviatil. Formasi Belumai merupakan formasi yang terendapkan
pada fase akhir transgresi sehingga lingkungan pengendapan formasi ini ialah delta bergradasi
menjadi laut litoral dan paparan.

D.4. Fase Maksimum Transgresi (Miosen Tengah).

Fase maksimum transgresi yang terjadi pada Miosen Tengah sebenarnya bukan salah satu
dari pembagian tektonostratigrafi, tetapi biasanya fase ini dijadikan indikasi oleh beberapa
peneliti sebagai suatu fase terjadinya pengendapan maksimum dari marine shale dan
minimum influx klastik. Pada saat ini Bukit Barisan hampir seluruhnya mengalami
penenggalaman. Formasi yang terendapkan pada fase ini ialah Formasi Baong (gambar 2.6).
[23]
Formasi Baong merupakan formasi yang sangat baik sebagai seal untuk lapisan reservoir
dibagian bawahnya karena formasi ini memiliki shale yang cukup tebal.

D.5. Fase Syn-orogenic (Miosen Tengah-Resen).

Pada saat Miosen tengah, sagging yang terjadi pada Cekungan Sumatra Utara mulai
melambat. Bukit Barisan pada fase ini uplift dan muncul kembali sehingga menjadi sumber
sedimen penting pada Cekungan Sumatra Utara. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Morton dkk., 1994, yang melakukan studi provenance pada Formasi
Keutapang (Miosen Akhir) dan menyimpulkan bahwa sedimen pada Formasi Keutapang
berasal dari arah barat atau baratlaut (Bukit Barisan terletak barat laut dari Cekungan
Sumatra Utara).

Pada Miosen Akhir hingga Plio-Pleistosen, proses tektonik kompresi mulai


mendominasi pada Cekungan Sumatra Utara. Proses kompresi ini disebabkan oleh adanya
aktifitas Sesar Sumatra dan pemekaran Laut Andaman (Asikin, 2009). Proses-proses
kompresi ini dibantu dengan proses subduksi yang terjadi pada Palung Sunda sehingga
membuat Bukit Barisan mencapai puncaknya saat Plio-Pleistosen. Formasi yang
terendapkan pada Cekungan Sumatra Utara saat fase regresi ini ialah Formasi Keutapang,
Formasi Seureula, dan Formasi Julurayeu. Formasi Keutapang merupakan formasi yang
menandakan awal pengendapan deltaic pada Cekungan Sumatra Utara (Darman dan Sidi,
2000).

24
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Cekungan sumatera Utara secara tektonik terdiri dari berbagai elemen yang berupa
tinggian, cekungan maupun peralihannya, dimana cekungan ini terjadi setelah
berlangsungnya gerakan tektonik pada zaman Mesozoikum atau sebelum mulai
berlangsungnya pengendapan sedimen tersier dalam cekungan sumatera utara. Tektonik yang
terjadi pada akhir Tersier menghasilkan bentuk cekungan bulat memanjang dan berarah barat
laut – tenggara. Proses sedimentasi yang terjadi selama Tersier secara umum dimulai dengan
trangressi, kemudian disusul dengan regresi dan diikuti gerakan tektonik pada akhir Tersier.
Pola struktur cekungan sumatera utara terlihat adanya perlipatan-perlipatan dan pergeseran-
pergeseran yang berarah lebih kurang lebih barat laut – tenggara Sedimentasi dimulai dengan
sub cekungan yang terisolasi berarah utara pada bagian bertopografi rendah dan palung yang
tersesarkan.

Proses tektonik cekungan tersebut telah membuat stratigrafi regional cekungan


Sumatera Utara dengan urutan dari tua ke muda adalah sebagai berikut :
1. Formasi Parapat
2. Formasi Bampo
3. Formasi Belumai
4. Formasi Baong
5. Formasi Keutapang
6. Formasi Seurula
7. Formasi Julu Rayeu
8. Vulkanik Toba

9. Alluvial

25