Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penuaan
Gerontologi, studi ilmiah tentang efek tentang penuaan dan penyakit yang
berhubungan dengan penuaan pada manusia, meliputi efek biologis, fisiologis,
psikososial, dan espek rohani dari penuaan (Stanley 2006). Menua (aging) adalah
suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi
normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan
memperbaiki kerusakan yang diderita (Santoso 2009).

Penuaan adalah suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan secara


perlahan-lahan untuk memperbaiki atau mengganti diri dan mempertahankan
struktur, serta fungsi normalnya. Akibatnya tubuh tidak dapat bertahan terhadap
kerusakan atau memperbaiki kerusakan tersebut (Cunnningham, 2003).
Banyak faktor yang dapat menyebabkan penuaan, salah satu faktor
eksternal yang dapat menyebabkan penuaan karena pola hidup yang tidak sehat
yaitu merokok. Merokok sudah menjadi kebiasaan masyarakat di seluruh dunia
yang susah dihilangkan. Asap rokok mengandung banyak zat yang mengandung
radikal bebas yang dapat menimbulkan stres oksidatif yang akan merusak sel-sel
tubuh. Apabila faktor-faktor penyebab penuaan dapat dihindari, proses penuaan
tentu dapat dicegah, diperlambat bahkn mungkin dihambat dan kualitas hidup
dapat dipertahankan (Pangkahila,2007).
Proses penuaan dapat berlangsung melalui tiga tahap sebagai berikut
(Pangkahila, 2007):
1. Tahap subklinik (usia 25-35 tahun). Pada tahap ini, sebagian besar hormon
di dalam tubuh mulai menurun, yaitu hormon testosteron, growth hormon
dan hormon estrogen. Pembentukan radikal bebas dapat merusak sel dan
DNA mulai mempengaruhi tubuh. Kerusakan ini biasanya tidak tampak
dari luar, karena itu pada usia ini dianggap usia muda dan normal.
2. Tahap transisi (usia 35-45 tahun): Pada tahap ini kadar hormon menurun
sampai 25%. Massa otot berkurang sebanyak satu kilogram tiap tahunnya.
Pada tahap ini orang mulai merasa tidak muda lagi dan tampak lebih tua.
Kerusakan oleh radikal bebas mulai merusak ekspresi genetik yang dapat
mengakibatkan penyakit seperti kanker, radang sendi, berkurangnya
memori, penyakit jantung koroner dan diabetes.
3. Tahap klinik (usia 45 tahun ke atas): Pada tahap ini penurunan kadar
hormon terus berlanjut yang meliputi DHEA, melatonin, growth hormon,
testosteron, estrogen dan juga hormon tiroid. Terjadi penurunan bahkan
hilangnya kemampuan penyerapan bahan makanan, vitamin dan mineral.
Penyakit kronis menjadi lebih nyata, sistem organ tubuh mulai mengalami
kegagalan.

2.2 Teori Penuaan

2.2.1 Teori biologis proses penuaan


a. Teori radikal bebas
Teori radikal bebas pertama kali diperkenalkan oleh Denham Harman pada
tahun 1956, yang menyatakan bahwa proses menua adalah proses yang normal,
merupakan akibat kerusakan jaringan oleh radikal bebas (Setiati et al., 2009).
Radikal bebas adalah senyawa kimia yang berisi elektron tidak
berpasangan. Karena elektronnya tidak berpasangan, secara kimiawi radikal bebas
akan mencari pasangan elektron lain dengan bereaksi dengan substansi lain
terutama protein dan lemak tidak jenuh. Sebagai contoh, karena membran sel
mengandung sejumlah lemak, ia dapat bereaksi dengan radikal bebas sehingga
membran sel mengalami perubahan. Akibat perubahan pada struktur membran
tersebut membran sel menjadi lebih permeabel terhadap beberapa substansi dan
memungkinkan substansi tersebut melewati membran secara bebas. Struktur
didalam sel seperti mitokondria dan lisosom juga diselimuti oleh membran yang
mengandung lemak, sehingga mudah diganggu oleh radikal bebas (Setiati et al.,
2009). Sebenarnya tubuh diberi kekuatan untuk melawan radikal bebas berupa
antioksidan yang diproduksi oleh tubuh sendiri, namun antioksidan tersebut tidak
dapat melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas tersebut (Setiati et al.,
2009).
b. Teori imunologis
Penurunan atau perubahan dalam keefektifan sistem imun berperan dalam
penuaan. Tubuh kehilangan kemampuan untuk membedakan proteinnya sendiri
dengan protein asing sehingga sistem imun menyerang dan menghancurkan
jaringannya sendiri pada kecepatan yang meningkat secara bertahap. Disfungsi
sistem imun ini menjadi faktor dalam perkembangan penyakit kronis seperti
kanker, diabetes, dan penyakit kardiovaskular, serta infeksi (Potter dan Perry,
2006).
c. Teori DNA repair
Teori ini dikemukakan oleh Hart dan Setlow. Mereka menunjukkan bahwa
adanya perbedaan pola laju perbaikan (repair) kerusakan DNA yang diinduksi
oleh sinar ultraviolet (UV) pada berbagai fibroblas yang dikultur. Fibroblas pada
spesies yang mempunyai umur maksimum terpanjang menunjukkan laju DNA
repair terbesar dan korelasi ini dapat ditunjukkan pada berbagai mamalia dan
primata (Setiati et al., 2009).
d. Teori genetika
Teori sebab akibat menjelaskan bahwa penuaan terutama di pengaruhi oleh
pembentukan gen dan dampak lingkungan pada pembentukan kode genetik.
Menurut teori genetika adalah suatu proses yang secara tidak sadar diwariskan
yang berjalan dari waktu ke waktu mengubah sel atau struktur jaringan. Dengan
kata lain, perubahan rentang hidup dan panjang usia ditentukan sebelumnya
(Stanley dan Beare, 2006).
e. Teori wear-and-tear
Teori wear-and- tear (dipakai dan rusak) mengusulkan bahwa akumulasi
sampah metabolik atau zat nutrisi dapat merusak sintensis DNA, sehingga
mendorong malfungsi organ tubuh. Pendukung teori ini percaya bahwa tubuh
akan mengalami kerusakan berdasarkan suatu jadwal. Sebagai contoh adalah
radikal bebas, radikal bebas dengan cepat dihancurkan oleh sistem enzim
pelindung pada kondisi normal (Stanley dan Beare, 2006).
2.2.2 Teori Psikologi

Teori ini lebih luas cakupannya dari teori yang lain karena dipengaruhi oleh
biologi dan sosiologi sehingga tidak bisa dipisahkan dari kedua aspek tersebut
(Lueckenotte, 2000). Perubahan psikologis yag terjadi dapat dihubungkan pula
dengan keakuratan mental dan keadaan fungsional yang efektif. Adanya penurunan
dari intelektalitas yang meliputi persepsi, kemampuan kognitif, memori dn belajar
pada lanjut usia menyebabkna mereka sulit untuk dipahami dan berinteraksi. Dengan
adanya penurunan fungsi sistem sensorik, maka akan terjadi pula penurunan
kemampuan untuk menerima, memproses, dan merespon stimulus sehingga terkadang
akan muncul aksi/reaksi yang berbeda dari stimulus yang ada (Maryam et al., 2008).

2.2.3 Teori Sosial

Ada beberapa teori sosial yang berkaitan dengan proses penuaan, yaitu
teori interaksi sosial, teori penarikan diri dan teori perkembangan.
a. Teori interaksi sosial
Teori ini mencoba menjelaskan mengapa lanjut usia bertindak pada suatu
sistem tertentu, yaitu atas dasar hal-hal yang dihargai masyarakat. Kemampuan
lanjut usia untuk terus menjalin interaksi sosial merupakan kunci untuk
mempertahankan status sosialnya atas dasar kemampuannya untuk melakukan
tukar menukar. Pada lanjut usia, kekuasaan dan prestisenya berkurang, sehigga
menyebabkan interaksi sosial mereka juga berkurang, yang tersisa hanyalah harga
diri dan kemampuan mereka untuk mengikuti perintah (Maryam et al.,2008).
Pokok-pokok teori interaksi sosial adalah sebagai berikut :
1) Masyarakat terdiri atas aktor-aktor sosial yang erupaya mencapai tujuannya
masing-masing

b) Dalam upaya tersebut terjadi interaksi sosial yang memerlukan biaya dan waktu

c) Untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai, seorang aktor harus mengeluarkan
biaya
d) Aktor senantiasa berusaha mencari keuntungan dan mencegah terjadinya
kerugian

e) Hanya interaksi ekonomis saja yang dipertahankan olehnya.

b. Teori penarikan diri


1) Cumming dan Henry (1961) dalam Potter & Perry (2005) menyatakan
bahwa orang yang menua menarik diri dari peran yang biasanya dan
terikat pada aktifitas yang berfokus pada diri sendiri. Menurunnya derajat
kesehatan mengakibatkan seorang lansia menarik diri secara perlahan-
lahan dari pergaulan sekitarnya.
Kemiskinan yang diderita lanjut usia dan menurunnya derajat kesehatan
mengakibatkan seorang lanjut usia secara perlahan-lahan menarik diri dari
pergaulan di sekitarnya. Menurut teori ini lanjut usia dinyatakan
mengalami proses penuaan yang berhasil apabila ia menarik diri dari
kegiatan terdahulu dan dapat memusatakn diri pada persoalan pribadi serta
mempersiapkan diri dalam menghadapi kematiannya (Maryam et
al.,2008).
c. Teori perkembangan
Pokok-pokok dalam teori perkembangan ini adalah :
1) Masa tua merupakan saat lanjut usia merumuskan seluruh masa
kehidupannya.
2) Masa tua merupakan masa penyesusaian diri terhadap kenyataan sosial
yang baru, yaitu pensiun dan atau menduda / menjanda.
3) Lanjut usia harus menyesuaikan diri sebagai akibatnya perannya yang
berakhir didalam keluraga, kehilangan identitas, dan hubungan
sosialnya akibat pensiun, serta ditinggal mati oleh pasangannya atau
teman-temannya.

2.2.4 Teori psikososial proses penuaan


a. Teori disengagment
Teori disengagment (teori pemutusan hubungan), menggambarkan proses
penarikan diri oleh lansia dari peran masyarakat dan tanggung jawabnya. Proses
penarikan diri ini dapat diprediksi, sistematis, tidak dapat dihindari, dan penting
untuk fungsi yang tepat dari masyarakat yang sedang tumbuh. Lansia dikatakan
bahagia apabila kontak sosial berkurang dan tanggung jawab telah diambil oleh
generasi lebih muda (Stanley dan Beare, 2006).
b. Teori aktivitas
Teori ini menegaskan bahwa kelanjutan aktivitas dewasa tengah penting
untuk keberhasilan penuaan. Orang tua yang aktif secara sosial lebih cendrung
menyesuaikan diri terhadap penuaan dengan baik (Potter dan Perry, 2006).

DAFTAR PUSTAKA
Cunningham, J.D. 2003. Human Body. Random Hausem: New York.
Lueckenotte, A.G. 2000. Gerontologic Nursing. (2nd ed.). Missouri : Mosby.
Maryam, R. Siti, Mia Fatma Ekasari, Rosidawati, Ahmad Jubaedi, Irwan Batubara.
2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika
Pangkahila, W. 2007. Anti Aging Medicine: Memperlambat Penuaan,
Meningkatkan Kualitas Hidup. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.
Potter, P.A. dan Perry, A.G. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,
Proses dan Praktik. Alih bahasa : Renata Komalasari. Ed-4. Jakarta:
EGC.
Santoso, H. 2009. Memahami Krisis Lanjut Usia. Jakarta: PT.Gunung Mulia
Setiati, S, A.W Sudoyo, B. Setiyohadi ,I. Alwi, M. Simadibrata. 2009. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid II edisi V. Jakarta: Interna Publishing.
Stanley, M dan Beare, P.G. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta:
EGC.