Anda di halaman 1dari 16

Kenny Marinda, S.Kep (Bp.

1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

A. Landasan Teoritis Penyakit

1. Defenisi Kanker Rekti

Karsinoma Rekti merupakan salah satu dari keganasan pada kolon dan
rektum yang khusus menyerang bagian Recti yang terjadi akibat gangguan
proliferasi sel epitel yang tidak terkendali. Karsinoma rekti adalah suatu
keadaan dimana terjadi pertumbuhan jaringan abnormal pada daerah
rectum. Jenis terbanyak adalah adenokarsinoma (65%), banyak ditemui
pada usia 40 tahun keatas dengan insidens puncaknya pada usia 60 tahun
(Price A. Sylvia, 1995)

2. Etiologi Kanker Rekti

Penyebab pasti belum diketahu namun telah dikenali beberapa faktor


predisposisi yang penting yang berhubungan dengan carsinoma recti.

a. Diet

Makanan yang banyak mengandung serat misalnya sayur-sayuran


akan menyebabkan waktu transitbolus di intestin akan berkurang,
sehingga kontak zat yang potensial karsinogen pada mukosa lebih
singkat. Selain itu makan makanan yang berlemak dan protein hewani
yang tinggi dapat memicu terjadinya Ca. Rekti

b. Kelainan di colon

1) Adenoma di kolon, t.u bentuk villi dapat mengalami


degenerasi maligna menjadi adenokarsinoma.
2) Familial poliposis merupakan kondisi premaligna dimana + 7
% polipasis akan mengalami degenerasi maligna.
3) Kolitis ulserativa, mempunyai resiko besar yang terjadi Ca.
Rekti
Kenny Marinda, S.Kep (Bp. 1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

c. Herediter

Hasil penelitian menunjukkan anak – anak yang berasal dari orang


tua yang menderita Ca.kolateral mempunyai frekuensi 3,5 x lebih besar
daripada anak yang mempunyai ortu yang sehat.

3. Patofisiologi

Penyebab kanker pada saluran cerna bagian bawah tidak diketahui


secara pasti. Polip dan ulserasi colitis kronis dapat berubah menjadi ganas
tetapi dianggap bukan sebagai penyebab langsung. Asam empedu dapat
berperan sebagai karsinogen yang mungkin berada di kolon. Hipotesa
penyebab yang lain adalah meningkatnya penggunaan lemak yang bisa
menyebabkan kanker kolorektal.

Tumor-tumor pada Recti dan kolon asendens merupakan lesi yang


pada umumnya berkembang dari polip yang meluas ke lumen, kemudian
menembus dinding kolon dan jaringan sekitarnya. Penyebaran tumor
terjadi secara limfogenik, hematogenik atau anak sebar. Hati, peritonium
dan organ lain mungkin dapat terkena.

Menurut P. Deyle perkembangan karsinoma kolorektal dibagi atas 3


fase. Fase pertama ialah fase karsinogen yang bersifat rangsangan, proses
ini berjalan lama sampai puluhan tahun. Fase kedua adalah fase
pertumbuhan tumor tetapi belum menimbulkan keluhan (asimtomatis)
yang berlangsung bertahun-tahun juga. Kemudian fase ketiga dengan
timbulnya keluhan dan gejala yang nyata. Karena keluhan dan gejala
tersebut berlangsung perlahan-lahan dan tidak sering, penderita umumnya
merasa terbiasa dan menganggap enteng saja sehingga penderita biasanya
datang berobat dalam stadium lanjut.

4. Manifestasi Klinis
Kenny Marinda, S.Kep (Bp. 1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

a. Perdarahan sejak perianal

- BAB berdarah segar

b. BAB berdarah lender

- Karena darah yang dikeluarkan oleh kanker tesebut telah


bercampur dengan tinja

c. Obstruksi saluran pencernaan

- Perut kembung makin lama makin tegang

- Tidak dapat BAB dan tidak ada flatus

- Ukuran feses kecil seperti feses kambing

- Tenesmus rasa tidak puas setelah BAB

d. Lain-lain

- Anoreksia

- Nyeri perut ditempat kanker

- BAB tidak teratur

- Tenesmus, rasa tidak puas setelah BAB dan rasa yeri pada saat BAB

5. Klasifikasi
Dukes dalam infiltrasi prognosis hidup setelah 5 tahun
a. A Terbatas pada dinding usus 97%
b. B Menembus lapisan muskularis mukosa 80%
c. C Metastosis ke kelenjar limfe
d. C1 Beberapa kelenjar limfe (1-4 bh) 65%
e. C2 Metastasis ke kelenjar limfe > 5 bh 35%
f. D Metastasis ke organ lain ; hati 35%
Kenny Marinda, S.Kep (Bp. 1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

Dikenal pada klasifikasi menurut

a. Stadium 1, yaitu tumor hanya terbatas di calon dan belum menembus


dinding kolon dan belum metastasi.

b. Stadium 2, yaitu tumor telah mengadakan penetrasi dinding kolon tapi


belum ada metastasis.

c. Stadium 3, yaitu tumor telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah


bening regional.

d. Stadium 4, yaitu tumor telah mengadakan metastasis ke organ lain;


hati.

6. Komplikasi

Karsinoma kolon dapat bermetastase dengan jalan

- Langsung perkontinuitatum dinding usus dan organ disekitarnya

- Hematogen

- Linefogen

Metastasis sering terjadi ke kelenjar getah bening dan organ lain, misal ke
hati, paru dan otak

Komplikasi lainnya;

a. Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus pertial/lengkap

b. Pertumbuhan dan ulserasi dapat menyerang pembuluh darah sekitar


kolon yang menyebabkan hemoragi

c. Perforasi dapat terjadi yang menyebabkan pembentukan abses

d. Peritonitis /sepsis yang dapat menimbulkan syok.


Kenny Marinda, S.Kep (Bp. 1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

7. Pemeriksaan Penunjang

a. Endoskopi

 Untuk mengetahui adanya tumor/kanker di kolon/rectum

 Untuk menentukan sumber pendapatan

 Untuk mengetahui letak obstruksi

b. Radiologi

 Foto dada: Untuk melihat ada tidaknya metastasis kanker paru

 Untuk persiapan pembedahan

 Foto colon (Banum enema)

 Dapat terlihat suatu filling deffect pada suatu tempat/suatu


striktura

 Dapat menentukan lokasi tempat kelainan

c. USG

 Untuk mengetahui apakah ada metastasis kanker ke kelenjar


getah bening di abdomen dan hati

 Gambaran metastasis kanker dihati akan tampak massa multi


nodular dengan gema berdensitas tinggi homogeny

d. Endosonggrafi
Kenny Marinda, S.Kep (Bp. 1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

Pada karsinoma akan tampak massa yang hypoechoic tidak


teratur mengenai lapisan dinding kolon.

e. Histopatologi

Gambaran histopatologi pada karsinoma recti C adenokarsinoma


dan perlu ditentukan differensiasi sel

f. Laboratorium

 Hb: menurun pada perdarahan

 Tumor marker (LEA) > 5 mg/ml

 Pemeriksaan tinja secara bakteriologis ; terdapat sigela dan


amoeba.

8. Web Of Caution (WOC)

B. Landasan Teoritis Asuhan Keperawatan


Kenny Marinda, S.Kep (Bp. 1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

1. Pengkajian

a. Data Klinis

Nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, pekerjaan, pendidikan, No.MR

b. Riwayat Kesehatan /alasan masuk

- Klien masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri pada anus yang
menjalar ke abdomen bagian bawah

- BAB disertai darah

- Nyeri kram abdomen

- Perubahan pola defekasi : melena (feses hitam)

- Konstipasi, diare, penipisan feses, tidak puas setelah BAB, anoreksia,


mual muntah, penurunan BB, keletihan

- Memiliki kebiasaan diit tinggi lemak, protein dan daging srerta rendah
serat

c. Pola fungsional gordon

1. Pola persepsi dan manajemen kesehatan

Terjadi perubahan persepsi dan penanganan kesehatan karena


kurang pengetahuan tentang dampak sehingga menimbulkan persepsi
negatif terhadap diri, stres, perubahan perilaku, mudah tersinggung.

2. Pola Nutrisi dan metabolic

Biasanya terjadi penurunan nafsu makan (anoreksia) sehingga


BB menurun, penurunan lemak subkutan, penurunan masa atot,
konjungtiva anemis, HB rendah.
Kenny Marinda, S.Kep (Bp. 1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

3. Pola eliminasi

Biasanya terjadi perubahan kebiasaan defekasi, dimana


konstipasi dan diare bergantian, feses berdarah / berwarna hitam,
penipisan pada feses.

4. Pola latihan dan aktifitas

Biasanya klien mengalami keletihan, nyeri pada abdomen


sehingga tidak dapat melaksanakan aktifitas sehari-hari.

5. Pola kognitif dan persepsi

Biasanya tidak terjadi perubahan.

6. Pola istirahat dan tidur

Biasanya klien mengalami cemas, nyeri dan kram abdomen.

7. Pola konsep diri – persepsi diri

Biasanya ada perubahan pada fungsi dan struktur tubuh akan


menyebabkan gangguan pada gambaran diri : rasa terisolasi, harga
diri rendah, mekanisme koping destruktif, perasaan tidak berdaya,
kurang percaya diri dan putus asa disertai emosi labil dan kesulitan
untuk mengungkapkan.

8. Pola peran dan hubungan

Biasanya tidak dapat menjalankan peran dalam keluarga dan


dalam masyarakat, membutuhkan dukungan

9. Pola seksualitas dan reproduksi

Mengalami gangguan dalam hubungan seksualitas

10. Pola pertahanan diri


Kenny Marinda, S.Kep (Bp. 1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

Lama rawatan, perjalanan penyakit yang kronis, perasaan tidak


berdaya dapat menyebabkan perasaan marah, cemas, takut, tidak
sabara, mudah tersinggung.

11. Pola keyakinan dan nilai

Mengkaji pola ibadah dan keyakinan selama sakit

2. Perumusn Diagnosa (NANDA), Penentuan Kriteria Hasil (NOC),


Perumusan Intervensi Keperawatan (NIC)

No NANDA NOC NIC

1 Nyeri Akut b/d agen Setelah dilakukan askep Manajemen nyeri :


injuri fisik tingkat
 Kaji nyeri secara
kenyamanan klien
komprehensif termasuk
meningkat, nyeri
lokasi, karakteristik,
terkontrol dengan tanda:
durasi, frekuensi,
 klien melaporkan kualitas dan faktor
nyeri berkurang, presipitasi.
skala nyeri 2-3  Observasi reaksi
 Ekspresi wajah nonverbal dari ketidak
tenang & dapat nyamanan.
istirahat, tidur.  Gunakan teknik
 v/s dbn (TD 120/80 komunikasi terapeutik
mmHg, N: 60-100 untuk mengetahui
x/mnt, RR: 16- pengalaman nyeri klien
20x/mnt). sebelumnya.
 Berikan lingkungan
yang tenang
 Ajarkan teknik non
Kenny Marinda, S.Kep (Bp. 1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

farmakologis
(relaksasi, distraksi dll)
untuk mengetasi nyeri.
 Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri.
 Evaluasi tindakan
pengurang
nyeri/kontrol nyeri.
 Monitor penerimaan
klien tentang
manajemen nyeri

Administrasi analgetik :

 Cek program
pemberian analogetik;
jenis, dosis, dan
frekuensi.
 Cek riwayat alergi.
 Monitor V/S
 Berikan analgetik tepat
waktu terutama saat
nyeri muncul.
 Evaluasi efektifitas
analgetik, tanda dan
gejala efek samping.

2 Risiko infeksi b/d Setelah dilakukan askep Kontrol infeksi :


adanya luka operasi, tidak terdapat faktor
 Bersihkan lingkungan
imunitas tubuh risiko infeksi dengan
setelah dipakai pasien
Kenny Marinda, S.Kep (Bp. 1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

menurun, prosedur tanda: lain.


invasive  Batasi pengunjung bila
 bebas dari gejala
perlu dan anjurkan u/
infeksi,
istirahat yang cukup
 angka lekosit normal
 Anjurkan keluarga
(4-11.000)
untuk cuci tangan
 V/S dbn
sebelum dan setelah
kontak dengan klien.
 Gunakan sabun anti
microba untuk mencuci
tangan.
 Lakukan cuci tangan
sebelum dan sesudah
tindakan keperawatan.
 Gunakan baju dan
sarung tangan sebagai
alat pelindung.
 Pertahankan
lingkungan yang
aseptik selama
pemasangan alat.
 Lakukan perawatan
luka dan dresing
infus,DC setiap hari.
 Tingkatkan intake
nutrisi. Dan cairan
yang adekuat
 berikan antibiotik
sesuai program.
Kenny Marinda, S.Kep (Bp. 1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

Proteksi terhadap infeksi

 Monitor tanda dan


gejala infeksi sistemik
dan lokal.
 Monitor hitung
granulosit dan WBC.
 Monitor kerentanan
terhadap infeksi.
 Pertahankan teknik
aseptik setiap tindakan.
 Inspeksi kulit dan
mebran mukosa
terhadap kemerahan,
panas, drainase.
 Inspeksi keadaan luka
dan sekitarnya
 Monitor perubahan
tingkat energi.
 Dorong klien untuk
meningkatkan mobilitas
dan latihan.
 Instruksikan klien untuk
minum antibiotik sesuai
program.
 Ajarkan keluarga/klien
tentang tanda dan gejala
infeksi.dan melaporkan
kecurigaan infeksi.
Kenny Marinda, S.Kep (Bp. 1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

3 Kurang pengetahuan Setelah dilakukan askep Teaching : Dissease


tentang penyakit, pengetahuan klien Process
perawatan,pengobata meningkat dengan tanda:
 Kaji tingkat
nnya b/d kurang
 Klien/keluarga pengetahuan klien dan
paparan terhadap
mampu menjelaskan keluarga tentang proses
informasi,
kembali apa yang penyakit
keterbatasan kognitif
dijelaskan  Jelaskan tentang
 Klien /klg patofisiologi penyakit,
kooperative saat tanda dan gejala serta
dilakukan tindakan penyebabnya
 Sediakan informasi
tentang kondisi klien
 Berikan informasi
tentang perkembangan
klien
 Diskusikan perubahan
gaya hidup yang
mungkin diperlukan
untuk mencegah
komplikasi di masa
yang akan datang dan
atau kontrol proses
penyakit
 Diskusikan tentang
pilihan tentang terapi
atau pengobatan
 Jelaskan alasan
dilaksanakannya
tindakan atau terapi
Kenny Marinda, S.Kep (Bp. 1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

 Gambarkan komplikasi
yang mungkin terjadi
 Anjurkan klien untuk
melaporkan tanda dan
gejala yang muncul
pada petugas kesehatan

4 Defisit self care b/d Setelah dilakukan asuhan Bantuan perawatan diri
kelemahan, nyeri, keperawatan klien
 Monitor kemampuan
penyakitnya mampu Perawatan diri
pasien terhadap
dengan tanda:
perawatan diri
 Pasien dapat  Monitor kebutuhan
melakukan aktivitas akan personal hygiene,
sehari-hari (makan, berpakaian, toileting
berpakaian, dan makan
kebersihan, toileting,  Beri bantuan sampai
ambulasi) klien mempunyai
 Kebersihan diri kemapuan untuk
pasien terpenuhi merawat diri
 Bantu klien dalam
memenuhi kebutuhan
sehari-hari.
 Anjurkan klien untuk
melakukan aktivitas
sehari-hari sesuai
kemampuannya
 Pertahankan aktivitas
perawatan diri secara
Kenny Marinda, S.Kep (Bp. 1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

rutin
 Evaluasi kemampuan
klien dalam memenuhi
kebutuhan sehari-hari.
 Berikan reinforcement
positip atas usaha yang
dilakukan dalam
melakukan perawatan
sehari hari.

5 Resiko Perdarahan Setelah dilakukan askep· Bleeding Precaution


b/d menembus perawat akan menangani
 Pantau tanda dan
dinding colon atau mengurangi
gejala perdarahan post
komplikasi dari pada
operasi
perdarahan dan klien
 Monitor V/S
mengalami peningkatan
 Pantau laborat Hb,
Hb/> 10 gr %
HMT. AT
 kolaborasi untuk
tranfusi bila terjadi
perdarahan (hb < 10
gr%)
 Kolaborasi dengan
dokter untuk terapinya
 Pantau daerah yang
dilakukan operasi
Kenny Marinda, S.Kep (Bp. 1541313032)
Keperawatan Medikal Bedah II. Program Studi Profesi Ners
Fakultas Keperawatan . Universitas Andalas. Padang. 2015

REFERENSI

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa:
Waluyo Agung., Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa, EGC,
Jakarta.

Jhonson, Marion., Meridean Maas. 2012. Nursing Outcomes Classification


(NOC). St. Louis: Mosby.

McCloskey, Joanne C., Bullechek, Gloria M. 2012. Nursing Interventions


Classification (NIC). St. Loui: Mosby.

NANDA. 2010. Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2005-2006.


Philadelphia: NANDA International.

Price & Wilson. 1995. Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4.


Jakarta: EGC.

Soeparman & Waspadji. 1990. Ilmu Penyakit Dalam, Jld.II, BP FKUI, Jakarta.

Engram, B. 1995. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, ed. 3.Jakarta:


EGC.

Wim De Jong. 1999. Buku Ajar Ilmu Bedah, Jakarta: EGC.