Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Judul Tugas Khusus

Uji Homogenitas pada Sampel Batubara dengan Metode Uji F

1.2 Latar Belakang

Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan
sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-
sisa tumbuhan melalui proses pembatubaraan.

Batubara adalah salah satu sumber energi yang penting bagi dunia. Batubara telah
memainkan banyak peran selama berabad-abad, tidak hanya membangkitkan listrik
namun juga merupakan bahan bakar utama bagi kegiatan-kegiatan industri.

Pengujian homogenitas dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa


sekumpulan data dalam serangkaian analisis memang berasal dari populasi yang tidak
jauh berbeda keragamannya. Salah satu cara untuk menguji homogenitas dengan
menggunakan uji F. Sebagai kriteria pengujian, jika nilai F hasil analisa lebih kecil
dari nilai F tabel maka dapat dikatakan bahwa sampel yang digunakan adalah
homogen.

1.3 Tujuan
Tugas khusus ini bertujuan untuk menguji homogenitas dari suatu sampel
batubara.
1.4 Ruang Lingkup
1. Sampel yang diuji adalah sampel batubara dari suatu stock pile tambang.
2. Analisa yang dilakukan adalah analisa proximate, calorivic value dan total
sulphur.
3. Uji homogenitas yang dilakukan menggunakan metode uji F.

1.5 Rumusan Masalah


Rumusan masalah adalah untuk mengetahui homogenitas dari sampel batubara.

1
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Batubara

2.1.1 Pengertian Batubara

Beberapa ahli telah mencoba memberikan definisi batubara yaitu:


a. Menurut Spackman (1958) Batubara adalah suatu benda padat karbonan
berkomposisi maseral tertentu.
b. Menurut The lnternational Hand Book of Coal Petrography (1963) Batubara adalah
batuan sedimen yang mudah terbakar, terbentuk dari sisa-sisa tanaman dalam variasi
tingkat pengawetan, diikat oleh proses kompaksi dan terkubur dalam cekungan-
cekungan pada kedalaman yang bervariasi, dari dangkal sampai dalam
c. Menurut Thiessen (1974) Batubara adalah suatu benda padat yang kompleks, terdiri
dari bermacam-macam unsur kimia atau merupakan benda padat organik yang
sangat rumit.
d. Menurut Achmad Prijono, dkk. (1992) Batubara adalah bahan bakar hydro-karbon
padat yang terbentuk dari tumbuh-tumbuhan dalam lingkungan bebas oksigen dan
terkena pengaruh temperatur serta tekanan yang berlangsung sangat lama.

Dari beberapa sumber diatas, dapat dirangkum suatu definisi yaitu: Batubara
adalah berupa sedimen organik bahan bakar hidrokarbon padat yang terbentuk dari
tumbuh-tumbuhan yang telah mengalami pembusukan secara biokimia, kimia dan fisika
dalam kondisi bebas oksigen yang berlangsung pada tekanan serta temperatur tertentu
pada kurun waktu yang sangat lama.

Batubara adalah bahan bakar fosil. Batubara dapat terbakar, terbentuk dari
endapan, batuan organik yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.
Batubara terbentuk dari tumbuhan yang telah terkonsolidasi antara strata batuan lainnya
dan diubah oleh kombinasi pengaruh tekanan dan panas selama jutaan tahun sehingga
membentuk lapisan batubara.

Sebagai sumber daya dari alam batubara bisa dimanfaatkan dengan baik oleh
manusia, diantaranya adalah :

1. Pemasok bahan bakar yang potensial dan dapat dihandalkan untuk rumah tangga
dan industri kecil

2
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

2. Sumber daya energi yang mampu menyuplai dalam jangka panjang / PLTU.
3. Pengganti BBM/Kayu Bakar Dalam Industri Kecil dan Rumah Tangga
4. Merupakan tempat penyerapan tenaga kerja yang cukup berarti baik di pabrik
briketnya, distributor, industri tungku, dan mesin briket dsbnya.
5. Merupakan bahan bakar yang harganya terjangkau bagi masyarakat pada daerah-
daerah terpencil.
6. Memberikan sumber pendapatan kepada penyuplai bahan baku briket seperti
batubara, tanah liat, kapur, serbuk biomas, dsbnya.
7. Sebagai wadah pengalihan teknologi dan keterampilan bagi tenaga kerja Indonesia
baik langsung maupun tidak langsung.
8. Menghasilkan briket batubara yang sangat dibutuhkan bagi masyarakat
berpenghasilan rendah dan UKM dalam kebutuhan energinya yang akan terus
meningkat setiap tahunnya.

Komposisi batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan tumbuhan,


keduanya mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C, H, O, N, S, P. Hal ini dapat
dipahami, karena batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang telah mengalami
coalification. Pada dasarnya pembentukkan batubara sama dengan cara manusia
membuat arang dari kayu, perbedaannya, arang kayu dapat dibuat sebagai hasil rekayasa
dan inovasi manusia, selama jangka waktu yang pendek, sedang batubara terbentuk oleh
proses alam, selama jangka waktu ratusan hingga ribuan tahun. Karena batubara
terbentuk oleh proses alam, maka banyak parameter yang berpengaruh pada
pembentukan batubara. Makin tinggi intensitas parameter yang berpengaruh makin tinggi
mutu batubara yang terbentuk.

2.1.2 Pembentukan Batubara

Ada dua teori yang menjelaskan terbentuknya batubara, yaitu teori insitu dan
teori drift. Teori insitu menjelaskan, tempat dimana batubara terbentuk sama dengan
tempat terjadinya coalification dan sama pula dengan tempat dmana tumbuhan tersebut
berkembang. Teori drift menjelaskan, bahwa endapan batubara yang terdapat pada
cekungan sedimen berasal dari tempat lain. Bahan pembentuk batubara mengalami proses
transportasi, sortasi dan terakumulasi pada suatu cekungan sedimen. Perbedaan kualitas
batubara dapat diketahui melalui stratigrafi lapisan. Hal ini mudah dimengerti karena
selama terjadi proses transportasi yang berkaitan dengan kekuatan air, air yang besar akan
menghanyutkan pohon yang besar, sedangkan saat arus air mengecil akan

3
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

menghanyutkan bagian pohon yang lebih kecil (ranting dan daun). Penyebaran batubara
dengan teori drift memungkinkan, tergantung dari luasnya cekungan sendimentasi.

Dalam proses pembentukkan selulosa sebagai senyawa organik yang merupakan


senyawa pembentuk batubara, semakin banyak unsur C pada batubara, maka semakin
baik kualitasnya, sebaliknya semakin banyak unsur H, maka semakin rendah kualitasnya,
dan senyawa kimia yang terbentuk adalah gas metan, semakin besar kandungan gas
metan, maka semakin baik kualitasnya.

Secara lebih rinci, proses pembentukan batubara dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pembusukan, bagian - bagian tumbuhan yang lunak akan diuraikan oleh bakteri
anaerob.
2. Pengendapan, tumbuhan yang telah mengalami proses pembusukan selanjutnya
akan mengalami pengendapan, biasanya di lingkungan yang berair. Akumulasi dari
endapan ini dengan endapan - endapan sebelumnya akhirnya akan membentuk
lapisan gambut.
3. Dekomposisi, lapisan gambut akan mengalami perubahan melalui proses biokimia
dan mengakibatkan keluarnya air dan sebagian hilangnya sebagian unsur karbon
dalam bentuk karbon dioksida, karbon monoksida, dan metana. Secara relatif,
unsur karbon akan bertambah dengan adanya pelepasan unsur atau senyawa
tersebut.
4. Geotektonik, lapisan gambut akan mengalami kompaksi akibat adanya gaya
tektonik dan kemudian akan mengalami perlipatan dan patahan. Batubara low
grade dapat berubah menjadi batubara high grade apabila gaya tektonik yang terjadi
adalah gaya tektonik aktif, karena gaya tektonik aktif dapat menyebabkan
terjadinya intrusi atau keluarnya magma. Selain itu, lingkungan pembentukan
batubara yang berair juga dapat berubah menjadi area darat dengan adanya gaya
tektonik setting tertentu.
5. Erosi, merupakan proses pengikisan pada permukaan batubara yang telah
mengalami proses geotektonik. Permukaan yang telah terkelupas akibat erosi inilah
yang hingga saat ini dieksploitasi manusia.

2.1.3 Impurities dalam Batubara


Batubara yang diperoleh dari hasil penambangan mengandung bahan pengotor
(impurities). Hal ini bisa terjadi ketika proses coalification ataupun pada proses
penambangan yang dalam hal ini menggunakan alat-alat berat yang selalu bergelimang
dengan tanah. Ada dua Jenis pengotor yaitu:

4
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

1. Inherent imputities
Merupakan pengotor bawaan yang terdapat dalam batubara. Batubara yang sudah
dibakar memberikan sisa abu. Pengotor bawaan ini terjadi bersama-sama pada proses
pembentukan batubara. Pengotor tersebut dapat berupa:
 gybsum (CaSO42H2O)
 anhidrit (CaSO4)
 pirit (FeS2)
 silica (SiO2)
Pengotor ini tidak mungkin dihilangkan sama sekali, tetapi dapat dikurangi
dengan melakukan pembersihan.
2. Eksternal imputities
Merupakan pengotor yang berasal dari uar, timbul pada saat proses penambangan
antara lain terbawanya tanah yang berasal dari lapisan penutup.
Sebagai bahan baku pembangkit energi yang dimanfaatkan industri, mutu batubara
mempunyai peranan sangat penting dalam memilih peralatan yang akan dipergunakan
dan pemeliharaan alat. Dalam menentukan kualitas batubara perlu diperhatikan
beberapa hal antara lain:
 Heating Value (HV) /Nilai kalori
Banyaknya jumlah kalori yang dihasilkan oleh batubara tiap satuan
berat dinyatakan dalam kkal/kg. semakin tingi HV, makin lambat jalannya
batubara yang diumpankan sebagai bahan bakar setiap jamnya, sehingga
kecepatan umpan batubara perlu diperhatikan. Hal ini perlu diperhatikan agar
panas yang ditimbulkan tidak melebihi panas yang diperlukan dalam proses
industri.
 Moisture Content (kandungan lengas).
Lengas batubara ditentukan oleh jumlah kandungan air yang terdapat
dalam batubara. Kandungan air dalam batubara dapat berbentuk air internal (air
senyawa/unsur), yaitu air yang terikat secara kimiawi. Jenis air ini sulit
dihilangkan tetapi dapat dikurangi dengan cara memperkecil ukuran butir
batubara. Jenis air yang kedua adalah air eksternal, yaitu air yang menempel
pada permukaan butir batubara. Batubara mempunyai sifat hidrofobik yaitu
ketika batubara dikeringkan, maka batubara tersebut sulit menyerap air,
sehingga tidak akan menambah jumlah air internal.

5
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

 Ash content (kandungan abu)


Komposisi batubara bersifat heterogen, terdiri dari unsur organik dan
senyawa anorgani, yang merupakan hasil rombakan batuan yang ada di
sekitarnya, bercampur selama proses transportasi, sedimentasi dan proses
pembatubaraan. Abu hasil dari pembakaran batubara ini, yang dikenal sebagai
ash content. Abu ini merupakan kumpulan dari bahan-bahan pembentuk
batubara yang tidak dapat terbaka atau yang dioksidasi oleh oksigen.
 Sulfur Content (Kandungan Sulfur)
Belerang yang terdapat dalam batubara dibedakan menjadi 2 yaitu
dalam bentuk senyawa organik dan anorganik. Beleranga dalam bentuk
anorganik dapat dijumpai dalam bentuk pirit (FeS2), markasit (FeS2), atau
dalam bentuk sulfat. Mineral pirit dan makasit sangat umum terbentuk pada
kondisi sedimentasi rawa (reduktif). Belerang organik terbentuk selama
terjadinya proses coalification. Adanya kandungan sulfur, baik dalam bentuk
organik maupun anorganik di atmosfer dipicu oleh keberadaan air hujan,
mengakibatkan terbentuk air asam. Air asam ini dapat merusak bangunan,
tumbuhan dan biota lainnya.

Batubara adalah suatu batuan sedimen tersusun atas unsur karbon, hidrogen,
oksigen, nitrogen, dan sulfur. Dalam proses pembentukannya, batubara diselipi batuan
yang mengandung mineral. Bersama dengan moisture, mineral ini merupakan pengotor
batubara sehingga dalam pemanfaatannya, kandungan kedua materi ini sangat
berpengaruh. Dari ketiga jenis pemanfaatan batubara, yaitu sebagai pembuat kokas,
bahan bakar, dan batubara konversi, pengotor ini harus diperhitungkan karena semakin
tinggi kandungan pengotor, maka semakin rendah kandungan karbon, sehingga semakin
rendah pula nilai panas batubara tersebut.

Batubara indonesia berada pada perbatasan antara batubara subbitumen dan


batubara bitumen, tetapi hampir 59% adalah lignit. Menurut hasil eksplorasi pada tahun
1999 akhir, sumber daya batubara indonesia jumlahnya sekitar 38,8 miliar ton, dan
sampai tahun 2003 sekitar 57,85 miliar ton.

6
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

2.1.4 Kekurangan dan Kelebihan Penggunaan Batubara

Kemajuan pesat teknologi industri khususnya sejak akhir tahun 1950-an


membuat konsumsi energi meningkat sangat pesat. Hal ini membuat pemakaian bahan
bakar fosil (minyak bumi, gas alam dan batubara) secara besar-besaran tidak
terhindarkan. Bahan bakar fosil yang mudah di eksplorasi dan dapat diperoleh dalam
jumlah besar adalah batubara dengan biaya yang tidak terlalu tinggi menjadi sumber
energi utama dunia selama berpuluh-puluh tahun.Tetapi pemakain bahan bakar batubara
secara besar-besaran juga membawa dampak yang sangat serius terhadap lingkungan
terutama isu global warming dan hujan asam.

Batubara memiliki keunggulan dibandingkan bahan bakar fosil lainnya, yaitu:


1. Jumlah batubara yang economically exploitable lebih banyak.
2. Distribusi batubara di seluruh dunia lebih merata.

Batubara juga memiliki kelemahan, antara lain:


1. Karena komposisi coal adalah CHONS + Ash, coal identik dengan bahan
bakar yang kotor dan tidak ramah lingkungan.
2. Dibanding bahan bakar fosil lainnya, jumlah kandugan C per mol dari
batubara jauh lebih besar.

Hal ini menyebabkan pengeluaran CO2 dari batubara juga jauh lebih banyak.
Demikian juga dengan kandungan sulfur (S) dn nitrogen (N) nya yang bila keluar ke
udara bebas bisa menjadi H2SO4 dan HNO3 yang merupakan penyebab hujan asam.

2.1.5 Faktor-Faktor Dalam Pembentukan Batubara


Faktor-faktor dalam pembentukan batubara sangat berpengaruh terhadap bentuk
maupun kualitas dari lapisan batubara. Beberapa faktor yang berpengaruh dalam
pembentukan batubara adalah :
a) Material Dasar
Flora atau tumbuhan yang tumbuh beberapa juta tahun yang lalu, yang
kemudian terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisiografi dengan iklim clan
topografi tertentu. Jenis dari flora sendiri amat sangat berpengaruh terhadap tipe
dari batubara yang terbentuk.

7
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

b) Proses Dekomposisi
Proses transformasi biokimia dari material dasar pembentuk batubara menjadi
batubara. Dalam proses ini, sisa tumbuhan yang terendapkan akan mengalami
perubahan baik secara fisika maupun kimia.

c) Umur geologi
Skala waktu (dalam jutaan tahun) yang menyatakan berapa lama material
dasar yang diendapkan mengalami transformasi. Untuk material yang diendapkan
dalam skala waktu geologi yang panjang, maka proses dekomposisi yang terjadi
adalah fase lanjut clan menghasilkan batubara dengan kandungan karbon yang
tinggi.

d) Posisi geotektonik
Dapat mempengaruhi proses pembentukan suatu lapisan batubara dari :
1. Tekanan yang dihasilkan oleh proses geotektonik dan menekan lapisan
batubara yang terbentuk.
2. Struktur dari lapisan batubara tersebut, yakni bentuk cekungan stabil,
lipatan atau patahan.
3. Intrusi magma, yang akan mempengaruhi dan merubah grade dari lapisan
batubara yang dihasilkan.

e) Lingkungan Pengendapan
Lingkungan pada saat proses sedimentasi dari material dasar menjadi material
sedimen. Lingkungan pengendapan ini sendiri dapat ditinjau dari beberapa aspek
sebagai berikut:
1. Struktur cekungan batubara, yakni posisi di mana material dasar
diendapkan. Strukturnya cekungan batubara ini sangat berpengaruh pada
kondisi dan posisi geotektonik.
2. Topografi dan morfologi, yakni bentuk dan kenampakan dari tempat
cekungan pengendapan material dasar. Topografi dan morfologi cekungan
pada saat pengendapan sangat penting karena menentukan penyebaran
rawa-rawa di mana batubara terbentuk. Topografi dan morfologi dapat
dipengaruhi oleh proses geotektonik.
3. Iklim, yang merupakan faktor yang sangat penting dalam proses
pembentukan batubara karena dapat mengontrol pertumbuhan flora atau

8
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

tumbuhan sebelum proses pengendapan. Iklim biasanya dipengaruhi oleh


kondisi topografi setempat.

2.1.6 Kelas dan Jenis Batubara


Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas
dan waktu. Batubara umumnya dibagi dalam lima kelas : antrasit, bituminous, sub-
bituminous, lignit dan gambut.
1) Antrasit (C94OH3O3)
Kelas batubara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik,
mengandung antara 86% - 98% unsur karbon dengan kadar air kurang dari 8%.
Nilai kalori lebih dari 7300 kal/gram.
2) Bituminous (C80OH5O15)
Mengandung 68 - 86% unsur karbon dan berkadar air 8-10% dari beratnya.
Nilai kalori antara 6300-7300 kal/gram.
3) Sub-bituminous (C75OH5O20)
Mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi
sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus. Nilai kalori
3000-6300 kal/gram.
4) Lignit (C70OH5O25 ) atau batubara coklat (brown coal)
Batubara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya.
5) Gambut (C60H6O34)
Berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling
rendah.

2.1.7 Komposisi Batubara


Batu bara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah
batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah
sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya
terdiri dari karbon, hydrogen dan oksigen.Batu bara juga adalah batuan organik yang
memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai
bentuk.Analisis unsur memberikan rumus formula empiris seperti C137H97O9NS untuk
bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit.

9
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Reaksi pembentukan batubara dapat diperlihatkan sebagai berikut :

5(C6H10O5) → C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO

Cellulosa lignit gas metana air

Pembentukan batu bara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi


pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta tahun
yang lalu (jtl), adalah masa pembentukan batu bara yang paling produktif dimana hampir
seluruh deposit batu bara (black coal) yang ekonomis di belahan bumi bagian utara
terbentuk.

Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl, juga terbentuk endapan-endapan batu
bara yang ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung
terus hingga ke Zaman Tersier (70 - 13 jtl) di berbagai belahan bumi lain.

Coal gasification adalah sebuah proses untuk mengubah batu bara padat menjadi
gas batu bara yang mudah terbakar (combustible gases), setelah proses pemurnian gas-
gas ini karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), hydrogen (H), metan (CH4),
dan nitrogen (N2) – dapat digunakan sebagai bahan bakar. hanya menggunakan udara
dan uap air sebagai reacting-gas kemudian menghasilkan water gas atau coal gas,
gasifikasi secara nyata mempunyai tingkat emisi udara, kotoran padat dan limbah
terendah.

Tetapi, batu bara bukanlah bahan bakar yang sempurna. Terikat di dalamnya
adalah sulfur dan nitrogen, bila batu bara ini terbakar kotoran-kotoran ini akan dilepaskan
ke udara, bila mengapung di udara zat kimia ini dapat menggabung dengan uap air
(seperti contoh kabut) dan tetesan yang jatuh ke tanah seburuk bentuk asam sulfurik dan
nitrit, disebut sebagai hujan asam. Disini juga ada noda mineral kecil, termasuk kotoran
yang umum tercampur dengan batu bara, partikel kecil ini tidak terbakar dan membuat
debu yang tertinggal di coal combustor, beberapa partikel kecil ini juga tertangkap di
putaran combustion gases bersama dengan uap air, dari asap yang keluar dari cerobong
beberapa partikel kecil ini adalah sangat kecil setara dengan rambut manusia

10
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

2.1.8 Materi pembentuk batu bara

Hampir seluruh pembentuk batu bara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis


tumbuhan pembentuk batu bara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai
berikut:

a. Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat
sedikit endapan batu bara dari perioda ini.
b. Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga.
Sedikit endapan batu bara dari perioda ini.
c. Pteridofita, umur Devon Atas hingga Karbon Atas. Materi utama pembentuk batu
bara berumur Karbon di Eropa dan Amerika utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan
biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.
d. Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah.
Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung
kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan
glossopteris adalah penyusun utama batu bara Permian seperti di Australia, India
dan Afrika. Universitas Sumatera Utara
e. Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah
yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding
gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.
(Wahyudiono,2003)

2.1.9 Sifat-sifat Kimia dan Fisika Batubara

Sifat kimia dari batubara dapat digambarkan dari unsur yang terkandung di dalam
batubara, antara lain sebagai berikut:

a. Karbon
Jumlah karbon yang terdapat dalam batubara bertambah sesuai dengan
peningkatan derajat batubaranya, kenaikan derajatnya dari 60% hingga 100%.
Persentase akan lebih kecil daripada lignit dan menjadi besar pada antrasit dan hampir
100% dalam grafit. Unsur karbon dalam batubara sangat penting peranannya sebagai
sumber panas. Karbon dalam batubara tidak berada dalam unsurnya tetapi dalam
bentuk senyawa. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah karbon yang besar yang
dipisahkan dalam bentuk zat terbang.

11
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

b. Hidrogen
Hidrogen yang terdapat dalam batubara berangsur-angsur habis akibat evolusi
metan. Kandungan hidrogen dalam liginit berkisar antara 5%, 6% dan 4.5% dalam
batubara berbitumin sekitar 3% hingga 3,5% dalam antrasit.

c. Oksigen
Oksigen yang terdapat dalam batubara merupakan oksigen yang tidak reaktif.
Sebagaimana dengan hidrogen kandungan oksigen akan berkurang selama evolusi
atau pembentukan air dan karbondioksida. Kandungan oksigen dalam lignit sekitar
20% atau lebih. Sedangkan dalam batubara berbitumin sekitar 4% hingga 10% dan
sekitar 1,5% hingga 2% dalam batubara antrasit.

d. Nitrogen
Nitrogen yang terdapat dalam batubara berupa senyawa organik yang terbentuk
sepenuhnya dari protein bahan tanaman asalnya dan jumlahnya sekitar 0,55% hingga
3%. Batubara berbitumin biasanya mengandung lebih banyak nitrogen daripada lignit
dan antrasit.

e. Sulfur
Sulfur dalam batubara biasanya dalam jumlah yang sangat kecil dan
kemungkinan berasal dari pembentuk dan diperkaya oleh bakteri sulfur. Sulfur dalam
batubara biasanya kurang dari 4%, tetapi dalam beberapa hal sulfurnya bisa
mempunyai konsentrasi yang tinggi. Sulfur terdapat dalam tiga bentuk, yaitu :
 Sulfur Piritik (Piritic Sulfur), Sulfur Piritik biasanya berjumlah sekitar 20%
hingga 80% dari total sulfur yang terdapat dalam makrodeposit (lensa, urat,
kekar, dan bola) dan mikrodeposit (partikel halus yang menyebar).
 Sulfur Organik, Sulfur Organik biasanya berjumlah sekitar 20% hingga 80%
dari total sulfur, biasanya berasosiasi dengan konsentrasi sulfat selama
pertumbuhan endapan.
 Sulfat Sulfur, Sulfat terutama berupa kalsium dan besi, jumlahnya relatif kecil
dari seluruh jumlah sulfurnya.
Kandungan sulfur dalam batubara terbagi dalam pyritic sulfur, sulfate sulfur
dan organic sulfur. Namun secara umum, penilaian kandungan sulfur dalam batubara
dinyatakan dalam Total Sulfur (TS). Kandungan sulfur berpengaruh terhadap tingkat
korosi sisi dingin yang terjadi pada elemen pemanas udara, terutama apabila suhu

12
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

kerja lebih rendah dari pada titik embun sulfur, disamping berpengaruh terhadap
efektivitas penangkapan abu pada peralatan electrostatic precipitator.

Sifat fisika dari batubara tergantung pada susunan kimia yang membentuknya. Sifat
- sifat dari batubara saling berkaitan. Sifat - sifat fisika tersebut meliputi:
a. Berat jenis
Berat jenis batubara berkisar 1.25 g/cm3, pertambahanya sesuai dengan
peningkatan derajat batubara. Tetapi berat jenis batubara dari batubara jenis lignite
(1,5 gcm3) sampai batubara jenis bitumine (1,25 g/cm3) kemudian naik pada butubara
jenis antrasit (1,59 g/cm3).

b. Kekerasan
Kekerasan batubara tergantung pada struktur batubara, keras atau lemahnya
batubara juga tergantung pada komposisi dan jenis batubara.

c. Warna
Warna batubara bervariasi dari coklat dari pada lignite menjadi hitam logam pada
antrasit. Hampir seluruh batubara jenis bitumine merupakan perselingan antara
batubara terang dan kusam.

d. Goresan
Goresan batubara berkisar antara terang sampai coklat tua. Lignite mempunyai
goresan hitam keabu-abuan dan batubara jenis bitumine mempunyai warna goresan
hitam.

e. Serpihan
Serpihan batubara memperlihatkan bentuk dari potongan batubara dari sifat
memecahnya. Hal ini memperlihatkan sifat dan mutu dari suatu batubara.

2.1.10 Sifat Umum Batubara


Batubara termasuk salah satu bahan bakar untuk pembangkit energi selain gas
bumi dan minyak bumi. Batubara merupakan bahan padat yang heterogen dan terdapat
dialam, dengan peringkat yang bervariasi, yaitu lignit, sub-bituminus, bituminous dan
antrasit.

13
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Sifat umum batubara sesuai peringkat menurut Mc. Milan Morgan dan Murray

1. Sifat batubara jenis antrasit, dengan ciri-ciri:

a. Berwarna hitam mengkilat dan kompak


b. Kandungan air sangat rendah
c. Kandungan sulfur sangat rendah
d. Kandungan abu (Ash) sangat rendah
e. Nilai kalori sangat tinggi, dengan kandungan kadar karbon sangat tinggi
lebih dari 90%.

2. Sifat batubara jenis sub-bituminus dan bituminous dengan ciri-ciri:

a. Warna hitam mengkilat dan tidak kompak atau kurang kompak


b. Kadar zat terbang (volatile matter) 30%-40% dan mudah teroksidasi
c. Kandungan sulfur rendah
d. Kandungan air rendah
e. Kandungan abu rendah
f. Nilai kalori tinggi
g. Mudah terbakar dengan nyala api kuning
h. Berat jenis relatif dingin

3. Sifat batubara jenis lignit (brown coal), dengan ciri-ciri:

a. Warna hitam kecoklatan sangat rapuh atau sangat rendah


b. Nilai karbon rendah serta kandungan karbonya sedikit
c. Kandungan air tinggi
d. Kandungan abu banyak
e. Kandungan sulfur banyak
f. Volatil matter tinggi

4. Sifat batubara jenis peat (gambut) merupakan peringkat rendah dengan ciri-
ciri:

a. Kandungan air tinggi walaupun sudah dilakukan pengeringan


b. Nilai kalorinya rendah
c. Kandungan zat terbang (Volatil matter) tinggi
d. Mempunyai kadar karbon yang sangat rendah
e. Nyalanya berasap

14
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

2.1.11 Kualitas Batubara

Kualitas batubara ditentukan dengan analisis batubara di laboraturium,


diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Analisa Proksimat

Yaitu analisa yang digunakan untuk memberikan data mengenai batubara,


antara lain pengukuran:

 Kandungan moisture

Kandungan Air mempengaruhi pembakaran dan kapasitas


penangananbatubara. Makin tinggi kandungan air makin mahal biaya
penanganannya.Kandungan air ini didefinisikan sebagai Kandungan udara
kering dan dapat dijelaskan sebagai kandungan air yang hilang dari
pengeringan parsial batubara untuk membawanya mendekati kesetimbangan
dengan kandungan air di ruang laboratorium

Air yang terkandung dalam batubara menyebabkan penurunan mutu


batubara karena:
 Menurunkan nilai kalor dan memerlukan sejumlah kalor untuk
penguapan.
 Menurunkan titik nyala.
 Memperlambat proses pembakaran, dan menambah volume gas
buang.
Keadaan tersebut menyebabkan :
 Pengurangan efisiensi ketel uap ataupun efisiensi motor bakar.
 Penambahan biaya perawatan ketel.
 Menambah biaya transportasi, merusak saluran bahan bakar cair
(fuel line) dan ruang bakar.

 Kandungan abu (Ash)

Abu adalah bahan yang tidak dapat terbakar bila batubara dibakar
seluruhnya.Abu adalah bahan tidak murni. Kandungan abu tinggi akan
menambah biaya penanganan serta mengurangi kapasitas pembakaran
batubara dan menambah perawatan dan pembuangan. Analisa abu dilakukan
dengan menimbang sample 1 gdengan ketelitian sampai 1 mg dalam wadah

15
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

yang telah dikeringkan dan dibersihkan,Kemudian sample dipanaskan.


Prosesnya sampai selesai 3 jam. Kemudian sample didinginkan pada suhu
ruang pada desikator dan ditimbang. % Abu = 100 x massa abu / massa sample.

 Zat terbang (volatil matter)

Zat terbang menyatakan kuantitas bahan baker gas yang terdapat


danmengakibatkan mekanisme pembakaran. Untuk batubara dengan
kandungan zatterbang rendah akan menyala jelek dan membutuhkan waktu
baker yang lebih lama yang akan mempengaruhi volume tungku, zat terbang
ini juga mempengaruhipengaturan permukaan pemanas yang dibutuhkan. Zat
terbang adalah bagian daribatubara yang terbang dalam bentuk gas bilamana
batubara ditutup dengan wadah silica (crucible) dipanaskan sampai suhu 900º
C selama 7 menit dalam tungku.Crusible yang digunakan untuk analisa
sebelumnya harus dikeringkan dan dibersihkan. Kemudian sample di
pindahkan dari tungku dan dikeringkan dan didinginkan dalam suatu desikator.

 Karbon tetap (fixed carbon).

Karbon tetap adalah residu yang dapat dibakar dan tertinggal setelah
zat terbang dihilangkan. Presentase karbon tetap dihitung dengan mengurangi
persenkandungan air, abu dan zat terbang dari angka 100.

2. Analisa Ultimate
Yaitu analisa yang dilakukan untuk mengetahui komponen pembentuk
batubara, terutama untuk parameter atau unsur :
 Carbon (C)
 Hidrogen (H)
 Sulfur (S)
 Nitrogen (N)
 serta kandungan Oksigen (O) dari batubara terebut.

Analisa Karbon, Hidrogen dan Nitrogen

Unsur – unsur ini bagian dari analisa ultimate dan dipakai dalam perhitungan
pembakaran. Karbon dan Hidrogen dapat ditetapkan dalam batubaradengan
memanfaatkan metode pembakaran suhu tinggi. Pada metode ini sample batubara
dioksidasikan pada suhu 1350ºC. Oksida – oksida klorida dan sulfur dibersihkan

16
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

dengan perak. Hasil air karbondioksida yang dihasilkan oleh oksidadiserap oleh
ascarite dan magnesium perchloride dan secara gravietris ditetapkan.

Nitogen dapat ditetapkan dengan metode Kjeldahl. Prosedur ini


melibatkanpercernaan sample oleh pendidihan dengan menggunakan asam sulfat
pekat, denganhadirnya katalis selenium. Zat – zat organik dihancurkan dan Nitrogen
dihancurkan menjadi ammonium sulfat. Amoniak kemudian dilepas oleh
penambahan sodiumhidroksida yang berlebihan dan uap disulingkan kedalam larutan
asam boric, dan dititrasi dengan asam sulfat.

Sulfur dalam batubara ditentukan oleh daerah terbentuknya. Kandungan


Sulfur yang tinggi dalam batubara menyebabkan korosi dalam bunker,
cerobong.Dapat menyebabkan oksidasi dalam penyimpanan, dapat menyebabkan:

 Pembakaran spontan
 Pergerakan (slaging)
 Dan dapat menyebabkan polusi udara.

Analisa lainnya :

 Analisa Nilai Kalor

Membeli batubara sama juga membeli satuan energi kalor. Nilai kalor
adalahpanas yang dihasilkan oleh pembakaran sample dalam linngkungan yang
terkendali.Nilai kalor dapat dihitung dengan bomb calorimeter dimana sample
ditutup dandiberi tekanan oksigen antara 20 – 30 atm.bomb dikelilingi air dan
sample dibakar.Suhu diukur dan kenaikan suhu sebanding dengan kandungan
panas. Data yang didapat dihitung sebagai kalor.

 Suhu Leleh Abu atau Ash fusion temperature (AFT)


Ash fusion temperature (AFT) adalah analisis yang dapat
menggambarkan sifat pelelehan abu batubara yang diukur dengan mengamati
perubahan bentuk contoh abu yang telah dicetak berupa kerucut, selama
pemanasan bertahap. Analisis biasanya dilakukan dengan dua kondisi
pemanasan, yaitu kondisi oksidasi dan kondisi agak reduksi. Pada kondisi
reduksi, pemanasan dilakukan dalam tabung pembakaran yang dialiri oleh
campuran 50% gas hidrogen dan 50% gas karbondioksida, sedangkan pada
kondisi oksidasi pemanasan dilakukan dalam tabung pembakaran yang dialiri
oleh 100% gas karbondioksida. Pengamatan sifat pelelehan ini umumnya

17
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

dilakukan pada suhu 900oC sampai dengan 1600oC. Pengamatan dicatat dan
dilaporkan pada saat contoh abu meleleh dan berubah menyerupai profil standar
yang telah tersedia.
AFT merupakan data yang sangat berguna untuk mengafaluasi hal – hal
yang berhubungan dengan Slagging dan penumpukan abu. Apabila temperatur
gas yang mengandung abu lebih rendah dari ash softening temperature maka abu
akan mengendap sebagai debu dan muda untuk dibuang dan apabila temperatur
gas lebih tinggi dari ash softening temperature maka akan terjadi pembentukan
kerak.

 Analisa Kandungan Abu

Abu yang terjadi pada pembakaran batubara akan membentuk oksida


– oksida, SiO2, Fe2O3, TiO2, CaO, MgO. Analisa kandungan abu dilakukan
denganmengabukan abu, kemudian dilarutkan dalam HCl. Hasil tersebut
kemudian dianalisadengan AAS (Atomic Absorbsion Spectofotometri). Bisa
juga dengan caraGrafimetri.

 Hardgrove Grindability Index

HGI merupakan salah satu sifat fisik dari batubara yang menyatakan
kemudahan batubara untuk di pulverise sampai ukuran 200 mesh atau 75
micron.
Cara pengujian HGI ialah dengan menggunakan mesin Wallace Hardgrove
.Sampel batubara yang sudah digerus pada ukuran partikel tertentu akan
dimasukan kedalam mesin Wallace Hardgrove. Selanjutnya digerus dengan
menggunakan bola baja pada putaran(revolusi)tertentu.

HGI mengunakan Acuan Standar sesuai ISO 5074 : 1994 dan ASTM
D409-08. ISO merupakan International Standard, yaitu standar yang diproduksi
oleh BSI Group yang didirikan di bawah Royal Charte dan yang secara resmi
ditunjuk sebagai Badan Standar Nasional (NSB) untuk negara Inggris dan
merupakan standar konsensus formal. Salah satu tujuan BSI, yaitu mengatur
standar mutu barang dan jasa, mempersiapkan dan mempromosikan adopsi
umum Inggris Standar, dan mengubah standar tersebut sebagai pengalaman dan
kondisi yang membutuhkan. Sedangkan ASTM merupakan American Standard
for Testing American, yaitu suatu Standarisasi Internasional yang dapat

18
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

meningkatkan kualitas produk pengujian karena ASTM telah memberikan


metode pengujian, spesifikasi, panduan dan praktek-praktek yang mendukung
industri.

Metode ini digunakan untuk menentukan nilai Grindability Index (HGI)


batubara dengan menggunakan mesin Wallace Hardgrove atau menguji
kekerasan batubara. Sampel batubara yang telah dipreparasi dengan distribusi
ukuran khusus, dipaparkan pada kondisi tertentu. Grindability Index dihitung
dari hasil analisa ayakan terhadap hasil pemaparan yang kemudian
dibandingkan dengan data kalibrasi dari satu set sampel acuan yang telah
disertifikasi.

Kualitas batubara diperlukan untuk menentukan apakah batubara tersebut


menguntungkan untuk ditambang selain dilihat dari besarnya cadangan batubara di
daerah penelitian.

Semakin tinggi kualitas batubara, maka kadar karbon akan meningkat,


sedangkan hidrogen dan oksigen akan berkurang. Batubara bermutu rendah, seperti
lignite dan sub-bituminous, memiliki tingkat kelembaban (moisture) yang tinggi dan
kadar karbon yang rendah, sehingga energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu
batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya akan semakin
hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan berkurang sedangkan kadar
karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan energinya juga semakin besar.

2.1.12 Klasifikasi Batubara

Ada 3 macam Klasifikasi yang dikenal untuk dapat memperoleh beda variasi
kelas/mutu dari batubara yaitu:

1. Klasifikasi Menurut ASTM

Klasifikasi ini dikembangkan di Amerika oleh Bureau of Mines yang


akhirnya dikenal dengan Klasifikasi menurut ASTM (America Society for
Testing and Material). Klasifikasi ini berdasarkan rank dari batubara itu atau
berdasarkan derajat metamorphism nya atau perubahan selama proses coalifikasi

19
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

(mulai dari lignit hingga antrasit). Untuk menentukan rank batubara diperlukan
data:

 fixed carbon (dmmf)


 volatile matter (dmmf)
 dan nilai kalor dalam Btu/lb dengan basis mmmf (moist, mmf)

2. Klasifikasi Menurut Natioal Coal Board (NCB)

Klasifikasi ini dikembangkan di Eropa pada tahun 1946 oleh suatu


organisasi Fuel Research dari departemen of Scientific and Industrial Research
di Inggris. Klasifikasi ini berdasarkan rank dari batubara, dengan menggunakan
parameter:

 volatile matter (dry, mineral matter free)


 cooking power yang ditentukan oleh pengujian Gray King.

3. Klasifikasi Menurut International

Klasifikasi ini dikembangkan oleh Economic Commision for Europe


pada tahun 1956 Klasifikasi ini dibagi atas dua bagian yaitu:

a. Hard Coal

Di definisikan untuk batubara dengan gross calorific value lebih


besar dari 10.260 Btu/lb atau 5.700 Kcal/kg (moist ash free).
International System dari hard coal dibagi atas 10 kelas menurut
kandungan VM (daf). Kelas 0 sampai 5 mempunyai kandungan VM
lebih kecil dari 33% dan kelas 6 sampai 9 dibedakan atas nilai kalornya
(mmaf) dengan kandungan VM lebih dari 33%. Masing-masing kelas
dibagi atas 4 group (0-3) menurut sifat cracking nya dintentukan dari
“Free Swelling Index” dan “Roga Index”. Masing group ini dibagi lagi
atas sub group berdasarkan tipe dari coke yang diperoleh pengujian Gray
King dan Audibert-Arnu dilatometer test. Jadi, pada International
klasifikasi ini akan terdapat 3 angka, angka pertama menunjukkan kelas,
angka kedua menunjukkan group dan angka ketiga menunjukkan sub-
group.

20
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

b. Brown Coal

International klasifikasi dari Brown coal dan lignit dibagi atas


parameternya yaitu total moisture dan low temperature Tar Yield (daf).

2.1.14 Preparasi Batubara

Preparasi merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam mempersiapkan contoh


untuk dianalisis, yang metodenya disesuaikan dengan keadaan contoh dan kepentingan.
Preparasi sampel batubara adalah suatu proses baku, yaitu untuk mempersiapkan sampel
batubara dengan cara pengurangan massa dan ukuran dari gross sampel sampai pada
massa dan ukuran ynag cocok untuk dianalisa di dalam laoratorium. Proses preparasi
sampel sangatlah berpengaruh pada sampling. Sampling secara umum dapat didefinisikan
sebagai suatu proses pengambilan sebagian kecil contoh dari suatu material sehinga
karakteristik contoh material tersebut mewakili keseluruhan material.

Pada dasarnya batubara hasil sampling tidak dapat langsung di analisa, batubara
hasil sampling perlu pengkondisian agar batubara dapat di analisa. pengkondisian
tersebut dinamakam preparasi batubara.

Dalam preparasi batubara terkandung beberapa tahapan inti, yaitu pengurangan


ukuran, pengurangan jumlah, pembagian dan penurunan kadar air. Yang pada intinya
tujuan preparasi batubara adalah pengurangan massa dan ukuran dari contoh batubara
sampai pada massa dan ukuran yang cocok untuk analisa di Laboratorium.

2.3 Homogenitas

Uji homogenitas adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui sama tidaknya
suatu serangkaian analisis berasal dari populasi yang tidak jauh berbeda
keragamannya. Pengujian ini juga dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang
telah di analisis bersifat homogen atau tidak. Dengan demikian, data yang homogen
dapat digunakan untuk proses analisis data pada tahap selanjutnya. Ada 2 metode
dalam pengujian homogenitas yaitu ;

1. Uji homogenitas dengan Barlet


Uji barlet biasanya digunakan untuk menguji homogenitas lebih dari 2
kelompok data. Dengan menghitung statistic chi-kuadrat, sebagai berikut ;

21
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Dengan harga satuan B diperoleh dari;

Dengan s (varians) diperoleh dari;

2. Uji homogenitas dengan Fisher (Uji –F)


Uji F biasanya digunakan untuk menguji homogenitas sebaran dua
kelompok data, dengan cara menentukan varians terbesar dibanding varians
terkecil. Uji homogenitas dengan uji –F dapat dihitung dengan cara sebagai
berikut ;
𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟
𝐹=
𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙

22
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

BAB III

PELAKSANAAN TUGAS KHUSUS

3.1 Langkah Pengerjaan

1. Mempersiapkan sampel
2. Preparasi sampel
 Size analisis (pembagian ukuran dari +50, +40, +31.5, +20, +10, +4.75)
 Pengecilan ukuran sampel
 Pencampuran dan pembagian (Rotary Sample Divider)
 Pengeringan udara
3. Analisa sampel di laboratorium
 Analisa proksimate (inherent moisture, ash content, volatile matter)
 Analisa total sulphur
 Analisa calorivic value
4. Menghitung homogenitas dari data hasil analisa

23
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Data Hasil Perhitungan

Ash VM
IM adb db adb db
No
(air dry basis) (dry basis) (air dry basis) (dry basis)
a b a b A b a b a b
1 11.88 11.68 4.28 4.34 4.86 4.91 40.19 40.11 45.61 45.41
2 11.94 11.8 4.3 4.17 4.88 4.73 39.81 40.09 45.21 45.45
3 11.92 11.78 4.22 4.14 4.79 4.69 40.21 40.05 45.65 45.40
4 11.68 11.82 4.25 4.11 4.81 4.66 40.37 40.09 45.71 45.46
5 11.81 11.67 4.24 4.18 4.81 4.73 40.26 40.16 45.65 45.47
6 11.75 11.64 4.17 4.19 4.73 4.74 40.04 40.30 45.37 45.61
7 11.77 11.67 4.28 4.21 4.85 4.77 39.82 40.09 45.13 45.39
8 11.52 11.64 4.12 4.18 4.66 4.73 40.52 40.23 45.80 45.53
9 11.63 11.52 4.23 4.2 4.79 4.75 39.75 40.05 44.98 45.26
10 11.45 11.56 4.16 4.11 4.70 4.65 40.20 40.36 45.40 45.64

CV TS
adb db adb db
No
(air dry basis) (dry basis) (air dry basis) (dry basis)
a b a B a b a b
1 6134.89 6139.05 6961.97 6950.92 0.46 0.46 0.52 0.52
2 6128.88 6093.99 6959.89 6909.29 0.45 0.46 0.46 0.52
3 6095.23 6091.44 6920.11 6904.83 0.45 0.47 0.51 0.53
4 6106.05 6102.28 6913.55 6920.25 0.46 0.45 0.52 0.51
5 6122.11 6105.96 6941.95 6912.67 0.45 0.46 0.51 0.52
6 6119.67 6104.35 6934.47 6908.50 0.45 0.46 0.51 0.52
7 6092.69 6106.73 6905.46 6913.54 0.45 0.45 0.51 0.51
8 6078.12 6089.66 6869.48 6891.87 0.46 0.47 0.52 0.53
9 6108.59 6096.14 6912.52 6889.85 0.44 0.46 0.50 0.52
10 6109.27 6143.18 6899.23 6946.16 0.56 0.49 0.63 0.55

24
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

4.1.2 Data Uji Homogenitas

A. Ash Content

No a b (a+b) (a+b)- X [(a+b)-X]2 (a-b) (a-b)-X [(a-b)-X)2


1 4.86 4.91 9.77 0.2460 0.06052 -0.0500 -0.1020 0.0104
2 4.88 4.73 9.61 0.0860 0.00740 0.1500 0.0980 0.0096
3 4.79 4.69 9.48 -0.0440 0.00194 0.1000 0.0480 0.0023
4 4.81 4.66 9.47 -0.0540 0.00292 0.1500 0.0980 0.0096
5 4.81 4.73 9.54 0.0160 0.00026 0.0800 0.0280 0.0008
6 4.73 4.74 9.47 -0.0540 0.00292 -0.0100 -0.0620 0.0038
7 4.85 4.77 9.62 0.0960 0.00922 0.0800 0.0280 0.0008
8 4.66 4.73 9.39 -0.1340 0.01796 -0.0700 -0.1220 0.0149
9 4.79 4.75 9.54 0.0160 0.00026 0.0400 -0.0120 0.0001
10 4.70 4.65 9.35 -0.1740 0.03028 0.0500 -0.0020 0.0000
N 10.00 95.24 0.13364 0.5200 0.0524
X 9.52 0.0520

A. Volatile Matter

No a B (a+b) (a+b)- X [(a+b)-X]2 (a-b) (a-b)-X [(a-b)-X)2


1 45.61 45.41 91.02 0.1070 0.01145 0.2000 0.2110 0.0445
2 45.21 45.45 90.66 -0.2530 0.06401 -0.2400 -0.2290 0.0524
3 45.65 45.40 91.05 0.1370 0.01877 0.2500 0.2610 0.0681
4 45.71 45.46 91.17 0.2570 0.06605 0.2500 0.2610 0.0681
5 45.65 45.47 91.12 0.2070 0.04285 0.1800 0.1910 0.0365
6 45.37 45.61 90.98 0.0670 0.00449 -0.2400 -0.2290 0.0524
7 45.13 45.39 90.52 -0.3930 0.15445 -0.2600 -0.2490 0.0620
8 45.80 45.53 91.33 0.4170 0.17389 0.2700 0.2810 0.0790
9 44.98 45.26 90.24 -0.6730 0.45293 -0.2800 -0.2690 0.0724
10 45.40 45.64 91.04 0.1270 0.01613 -0.2400 -0.2290 0.0524
n 10.00 909.13 1.00501 -0.1100 0.5879
X 90.91 -0.0110

25
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

C. Calorivic Value

No a b (a+b) (a+b)- X [(a+b)-X]2 (a-b) (a-b)-X [(a-b)-X)2


1 6961.97 6950.92 13912.89 76.2390 5812.3851 11.0500 3.9750 15.8006
2 6959.89 6909.29 13869.18 32.5290 1058.1358 50.6000 43.5250 1894.4256
3 6920.11 6904.83 13824.94 -11.7110 137.1475 15.2800 8.2050 67.3220
4 6913.55 6920.25 13833.80 -2.8510 8.1282 -6.7000 -13.7750 189.7506
5 6941.95 6912.67 13854.62 17.9690 322.8850 29.2800 22.2050 493.0620
6 6934.47 6908.50 13842.97 6.3190 39.9298 25.9700 18.8950 357.0210
7 6905.46 6913.54 13819.00 -17.6510 311.5578 -8.0800 -15.1550 229.6740
8 6869.48 6891.87 13761.35 -75.3010 5670.2406 -22.3900 -29.4650 868.1862
9 6912.52 6889.85 13802.37 -34.2810 1175.1870 22.6700 15.5950 243.2040
10 6899.23 6946.16 13845.39 8.7390 76.3701 -46.9300 -54.0050 2916.5400
n 10.00 138366.5 14611.9669 70.7500 7274.9863
X 13836.65 7.0750

D. Total Sulphur

No a b (a+b) (a+b)- X [(a+b)-X]2 (a-b) (a-b)-X [(a-b)-X)2


1 0.52 0.52 1.04 -0.0070 0.00005 0.0000 -0.0010 0.0000
2 0.51 0.52 1.03 -0.0170 0.00029 -0.0100 -0.0110 0.0001
3 0.51 0.53 1.04 -0.0070 0.00005 -0.0200 -0.0210 0.0004
4 0.52 0.51 1.03 -0.0170 0.00029 0.0100 0.0090 0.0001
5 0.51 0.52 1.03 -0.0170 0.00029 -0.0100 -0.0110 0.0001
6 0.51 0.52 1.03 -0.0170 0.00029 -0.0100 -0.0110 0.0001
7 0.51 0.51 1.02 -0.0270 0.00073 0.0000 -0.0010 0.0000
8 0.52 0.53 1.05 0.0030 0.00001 -0.0100 -0.0110 0.0001
9 0.50 0.52 1.02 -0.0270 0.00073 -0.0200 -0.0210 0.0004
10 0.63 0.55 1.18 0.1330 0.01769 0.0800 0.0790 0.0062
n 10.00 10.47 0.02041 0.0100 0.0077
X 1.05 0.0010

4.1.3 Hasil Uji Homogenitas dengan Metode Uji F

ASH VM CV TS
MSB 0.007424 0.055834 811.7759 0.001134
MSW 0.002618 0.029395 363.7493 0.000385
F 2.84 1.9 2.23 2.95

26
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

4.2 Pembahasan

Tujuan dari tugas khusus ini adalah untuk mengetahui homogenitas dari sampel
batubara dengan metode uji F. Sebelum sampel dianalisa dalam laboratorium, sampel
terlebih dahulu dipreparasi diruang preparasi untuk mengecilkan ukuran dan mengurangi
kadar air bebas pada sampel batubara. Sampel yang telah dipreparasi dibawa menuju
laboratorium untuk dianalisa lebih lanjut.

Dalam hal ini uji homogenitas berdasarkan parameter proksimate (inherent


moisture, ash content, dan volatile matter), total sulphur, dan calorivic value. Metode
yang digunakan pada uji homogenitas ini adalah metode uji F, dimana apabila nilai F
hasil hitungan lebih kecil dari nilai F tabel maka dapat di katakan sampel bersifat
homogen.

Nilai F dari data hasil analisa ash content, volatile matter, calorivic value dan total
sulphur adalah 2.84, 1.9, 2.23 dan 2.95, dimana nilai F ini didapat dari perhitungan data
dry basis. Hasil perhitungan nilai F ternyata lebih kecil dibandingkan nilai F tabel sebesar
3.02, oleh karena itu sampel yang digunakan bersifat homogen.

Berdasarkan uji homogenitas yang pernah dilakukan dengan menggunakan


sampel yang sama tetapi dianalisa pada masing-masing ukuran partikel yaitu +50, +40,
+31.5, +20, +10 dan +4.75. Hasil perhitungan di dapat nilai F lebih besar dari nilai F
table, maka dapat dikatakan sampel tidak homogen. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran
pertikel mempengaruhi homogenitas sampel.

27
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa laboratorium dan perhitungan uji F dapat disimpulkan


bahwa sampel yang digunakan bersifat homogen.

6.2 Saran

28
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

DAFTAR PUSTAKA

Bukin Daulay, Dr.,MSc., Geologi dan Eksplorasi Batubara, Puslitbang Teknologi


Mineral dan Batubara, Bandung, 2001.

Chairul Nas, Estimasi Cadangan Mineral, Pusat Pengembangan Tenaga Pertambangan,


Bandung, 1994.

Dwi, Agus, 2013 “ Proses Pencucian Batubara” diakses dari


https://www.academia.edu/5448002/Proses_Pencucian_batubara pada 03
Agustus 2017.

Edi Riadi, Metode Statistika: Parametrik & Non-Parametrik. Tangerang: Pustaka


Mandiri, 2014

Ehsani, Mohammad Reza., 2006. “Desulfurization of Tabas Coal Using


Chemicalreagents”. Journal of Chemical Engineering Department, Isfahan
University of Technology, Isfahan, I.R. Iran

Komite Akreditasi Nasional. Pedoman Statistik dan Profisiensi. 2005.

Matthews. F.L, Rawlings. F.D.,1994.”Composite Materials: Engineering and


Science”,Edisi 1, London: Chapman & Hall.

Mery, M,2014 ‘’Laporan Hasil Penelitian Tugas Akhir Desulfurisasi ‘’ diakses dari
https://www.academia.edu/6924127/Laporan_Hasil_PenelitianTugas_Akhir_D
ESULFURISASI_BATUBARA_SECARA_KIMIA_DENGAN_SOLVENT_L
EACHING_METHOD_MENGGUNAKAN_H2O2_DALAM_LARUTAN_H2
SO4 pada 03 Agustus 2017

Putu Sutrisna, “Uji Homogenitas Statistika Lanjut” dalam


http://putusutrisna.blogspot.com/2011/04/uji-homogenitas-statistik-
lanjut.html pada 03 Agustus 2017.

Samit Mukherjee,et al 2001. “Demineralization andDesulfurization of Subbituminous


Coal with Hydrogen Peroxide”, Jorhat785006 (ASSAM), India. Energy & Fuels
2001, 15, 1418 – 1424

29
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Siti, Ismi, 2013 ‘’Biodesulfurisasi Batubara Bukit Asam Menggunakan T. Ferrooxidans’’


diakses dari http://www.scribd.com/doc/245188034/Makalah-Desulfurisasi-Kel-
3#scribd pada 29 Desember 2016.

Sudarsono,Arif S,Pengantar Preparasi dan Pencucian Batubara,ITB,Bandung.2005

Situmorang, Susilo, 2012 ‘’ Pencucian ialah Usaha yang Dilakukan untuk memperbaiki
kualitas batubara “ diakses dari
https://www.academia.edu/8339593/Pencucian_ialah_usaha_yang_dilkakukan_
untuk_memperbaiki_kualitas_batubara_2.

Sukandarrumidi, Batubara dan Gambut, Gadjah Mada Univ. Press, 1995.

Yusgiantoro, P, 2006. Peran Strategis Gasifikasi Batubara Untuk Memperkuat Ketahanan


Energi Nasional, Paparan Seminar Gasifikasi Batubara Peringkat Rendah,
Jakarta, Mei 2006.

30
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

LAMPIRAN

Perhitungan

 Dry Basis
100
Dry basis = ((100−𝐼𝑀 𝑎𝑑𝑏))x Result (adb)

Dry basis ash content


100
 Dry basis 1a = ((100−𝐼𝑀 𝑎𝑑𝑏))x Result (adb)

100
= ((100−11.88))x 4.28

= 4.86
100
 Dry basis 1b = ((100−𝐼𝑀 𝑎𝑑𝑏))x Result (adb)

100
= ((100−11.68))x 4.34

= 4.91

 Mean Square Between (MSB)


Σ [(𝑎+𝑏)−𝑋]2
MSB = 2 (𝑛−1)

Σ [(𝑎+𝑏)−𝑋]2
MSB ash content = 2 (𝑛−1)

[0.13364]
= 2 (10−1)

= 0.007424

31
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

 Mean Square Within (MSW)


Σ [(𝑎−𝑏)−𝑋]2
MSW = 2𝑛

Σ [(𝑎−𝑏)−𝑋]2
MSW ash content = 2𝑛
[0.0524]
= 2 (10)

= 0.002618

 Uji F
𝑀𝑆𝐵
F = 𝑀𝑆𝑊

𝑀𝑆𝐵
F ash content = 𝑀𝑆𝑊

0.007424
= 0.002618

= 2.835922

32
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Tabel F

33