Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kesadaran masyarakat terhadap hak-hak mereka dalam pelayanan
kesehatan dan tindakan yang manusiawi semakin meningkat, sehingga
diharapkan adanya pemberi pelayanan kesehatan dapat memberi pelayanan
yang aman, efektif dan ramah terhadap mereka. Jika harapan ini tidak
terpenuhi, maka masyarakat akan menempuh jalur hukum untuk
membelahak-haknya.
Kebijakan yang ada dalam institusi menetapkan prosedur yang tepat untuk
mendapatkan persetujuan klien terhadap tindakan pengobatan yang
dilaksanakan. Institusi telah membentuk berbagai komite etik untuk meninjau
praktik profesional dan memberi pedoman bila hak-hak klien terancam.
Perhatian lebih juga diberikan pada advokasi klien sehingga pemberi
pelayanan kesehatan semakin bersungguh-sungguh untuk tetap memberikan
informasi kepada klien dan keluarganya bertanggung jawab terhadap tindakan
yang dilakukan
Selain dari pada itu penyelenggaraan praktik keperawatan didasarkan
pada kewenangan yang diberikan karena keahlian yang dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan kesehatan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan
dan tuntutan globalisasi. Terjadinya pergeseran paradigma dalam pemberian
pelayanan kesehatan dari model medikal yang menitikberatkan pelayanan
pada diagnosis penyakit dan pengobatan ke paradgima sehat yang lebih
holistic yang melihat penyakit dan gejala sebagai informasi dan bukan
sebagai focus pelayanan (Cohen, 1996), maka perawat berada pada posisi
kunci dalam reformasi kesehatan ini. Hal ini ditopang oleh kenyataan bahwa
40%-75% pelayanan di rumah sakit merupakan pelayanan keperawatan
(Gillies, 1994), Swansburg dan Swansburg, 1999) dan hampir semua
pelayanan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit baik di rumah sakit
maupun di tatanan pelayanan kesehatan lain dilakukan oleh perawat. Hasil
penelitian Direktorat Keperawatan dan PPNI tentang kegiatan perawat di
Puskesmas, ternyata lebih dari 75% dari seluruh kegiatan pelayanan adalah

1
kegiatan pelayanan keperawatan (Depkes, 2005) dan 60% tenaga kesehatan
adalah perawat yang bekerja pada berbagai sarana/tatanan pelayanan
kesehatan dengan pelayanan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, merupakan
kontak pertama dengan sistem klien.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa Pengertian dari Issue Legal?
2. Bagaimana Issue legal dalam keperawatan?
3. Bagaimana Perlindungan dalam keperawatan?
4. Bagaimana Contoh dan pembahasan Kasus Issue legal dalam
keperawatan?

1.4 Tujuan
1. Mengetahui Pengertian dari Issue Legal dalam praktik keperawatan
2. Mengetahui Issue legal dalam praktik keperawatan
3. Mengetahui Perlindungan dalam prakik keperawatan
4. Mengetahui Contoh dan pembahasan Kasus Issue legal dalam keperawatan

2
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Isu Legal


Isu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat di perkirakan terjadi
atau tidak terjadi di masa mendatang, yang menyangkut ekonomi, moneter,
social, politik, hukum, pembangunan nasional, bencana alam, hari kiamat,
hari kematian ataupun tentang krisis.
Legal adalah sesuatu yang di anggap sah oleh hukum dan undang-
undang (Kamus Besar Bahasa Indonesia).Aspek legal yang sering pula
disebut dasar hukum praktik keperawatan mengacu pada hukum nasional
yang berlaku di suatu negara. Hukum bermaksud melindungi hak publik,
misalnya undang-undang keperawatan bermaksud melindungi hak publik dan
kemudian melindungi hak perawatan.
Praktik keperawatan adalah Tindakan mandiri perawat professional
melalui kerja sama bersifat kolaboratif dengan pasien/klien dan tenaga
kesehatan lainnya dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup
wewenang dan tanggung jawabnya.
Dengan demikian seseorang perawat profesional yang dalam
memberikan praktik asuhan keperawatan sudah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan/ hukum, maka dapat diartikan bahwa praktik asuhan
keperawatan tersebut legal.
Jadi, Issue legal dalam praktik keperawatan adalah suatu peristiwa atau
kejadian yang dapat di perkirakan terjadi atau tidak terjadi di masa mendatang
dan Sah, sesuai dengan Undang-Undang/Hukum mengenai tindakan mandiri
perawat profesional melalui kerjasama dengan klien baik individu, keluarga
atau komunitas dan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya dalam
memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan lingkup wewenang dan
tanggung jawabnya, baik tanggung jawab medis/kesehatan maupun tanggung
jawab hukum.
Perawat perlu tahu tentang hukum yang mengatur prakteknya untuk:
1. Memberikan kepastian bahwa keputusan & tindakan perawat yang
dilakukan konsisten dengan prinsip-prinsip hukum
2. Melindungi perawat dari liabilitas

3
2.1.1. Peran Keperawatan Dalam Praktik Legal
Perawat bekerja di berbagai tempat di luar lingkungan perawatan
yang melembaga termasuk dalam lingkungan komunitas adalah tempat
kerja okupasional atau industri di mana perawat memberikan perawatan
primer preventif dan terus menerus bagi pekerja, kesehatan publik atau
komunitas, dimana pelayanan preventif seperti imunisasi dan perawatan
anak yang baik diberikan di sekolah, rumah dan klinik dan perawatan
kesehatan rumah, yang memberikan pelayanan lanjutan setelah
hospitalisasi. Klien juga dapat dirawat dalam fasilitas perawatan jangka
panjang.
Penting bahwa perawat, terutama mereka yang dipekerjakan
dalam lingkungan kesehatan komunitas, memahami hukum kesehatan
publik. Legislatur Negara membuat undang-undang dibawah kode
kesehatan, yang menjelaskan laporan hukum untuk penyakit menular,
imunisasi sekolah, dan hukum yang diharapkan untuk meningkatkan
kesehatan dan mengurangi resiko kesehatan di komunitas. The center
for disease control and prevention (CDC) the occupational health and
safety act (DHSA) juga memberikan pedoman pada tingkat nasional
untuk lingkungan komunitas dan bekerja dengan aman dan sehat.
Kegunaan dari hukum kesehatan publik adalah perlindungan kesehatan
publik, advokasi untuk hak manusia, mengatur pelayanan kesehatan dan
keuangan pelayanan kesehatan dan untuk memastikan tanggung jawab
professional untuk pelayanan yang diberikan.Perawat kesehatan
komunitas memiliki tanggung jawab legal untuk menjalankan hukum
yang diberikan untuk melindungi kesehatan public. Hukum ini dapat
mencakup pelaporan kecurigaan adanya penyalahgunaan dan
pengabaian, laporan penyakit menular, memastikan bahwa imunisasi
yang diperlukan telah diterima oleh klien komunitas dan laporan
masalah yang berhubungan dengan kesehatan lain diberikan untuk
melindungi kesehatan public.

4
2.2. Issue Legal Dalam Keperawatan
Telenursing akan berkaitan dengan isu aspek legal, peraturan etik dan
kerahasiaan pasien sama seperti telehealth secara keseluruhan. Di banyak
negara, dan di beberapa negara bagian di Amerika Serikat khususnya
praktek telenursing dilarang (perawat yang online sebagai koordinator harus
memiliki lisensi di setiap resindesi negara bagian dan pasien yang menerima
telecare harus bersifat lokal) guna menghindari malpraktek perawat
antarnegara bagian. Isu legal aspek seperti akontabilitas dan malprakatek,
dan sebagainya dalam kaitan telenursing masih dalam perdebatan dan sulit
pemecahannya.
Dalam memberikan asuhan keperawatan secara jarak jauh maka
diperlukan kebijakan umum kesehatan (terintegrasi) yang mengatur praktek,
SOP/standar operasi prosedur, etik dan profesionalisme, keamanan,
kerahasiaan pasien dan jaminan informasi yang diberikan.Kegiatan
telenursing mesti terintegrasi dengan strategi dan kebijakan pengembangan
praktek keperawatan, penyediaan pelayanan asuhan keperawatan, dan
sistem pendidikan dan pelatihan keperawatan yang menggunakan model
informasi kesehatan/berbasis internet.
Dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada
alternatif yang memuaskan atau suatu situasi dimana alternatif yang
memuaskan dan tidak memuaskan sebanding. Dalam dilema etik tidak ada
yang benar atau salah. Untuk membuat keputusan yang etis seseorang harus
tergantung pada pemikiran yang rasional dan bukan emosional (Thomson &
Thomson, 1985). Kerangka pemecahan dilema etik pada dasarnya
menggunakan kerangka proses keperawatan/ pemecahan masalah secara
scientific.
Eutanasia berasal dari bahasa Yunani, eu (mudah, bahagia, baik) dan
thanatos (meninggal dunia) sehingga diartikan meninggal dunia dengan baik
atau bahagia. Menurut Oxfort English Dictionary eutanasia berarti tindakan
untuk mempermudah mati dengan tenang dan mudah.
Dilihat dari aspek bioetis, eutanasia terdiri atas eutanasia volunter,
involunter, aktif dan pasif. Pada kasus eutanasia volunter klien secara suka

5
rela dan bebas memilih untuk meninggal dunia. Pada eutanasia involunter,
tindakan yang menyebabkan kematian dilakukan bukan atas dasar
persetujuan dari klien dan sering kali melanggar keinginan klien. Eutanasia
aktif merupakan suatu tindakan yang disengaja yang menyebabkan klien
meninggal misalnya pemberian injeksi obat letal. Eutanasia pasif dilakukan
dengan menghentikan pengobatan atau perawatan suportif yang
mempertahankan hidup (misalnya antibiotika, nutrisi, cairan, respirator yang
tidak diperlukan lagi oleh klien. Eutanasia pasif sering disebut sebagai
eutanasia negatif dapat dikerjakan sesuai dengan keputusan IDI.
Di Indonesia tindakan eutanasia tidak dibenarkan menurut undang-
undang, tujuan dari eutanasia aktif adalah mempermudah kematian klien.
Sedangkan eutanasia pasif bertujuan untuk mengurangi rasa sakit dan
penderitaan klien namun membiarkannya dapat berdampak pada kondisi
klien yang lebih berat bahkan memiliki konsekuensi untuk mempercepat
kematian. Batas kedua hal tersebut kabur bahkan sering kali merupakan hal
yang membingungkan bagi pengambil keputusan tindakan keperawatan
(Priharjo, 1995).Eutanasia aktif merupakan tindakan yang melanggar hukum
dan dinyatakan dalam KUHP pasal 338, 339, 345 dan 359.
Perawat memiliki komitmen menyeluruh tentang perlunya
mempertahankan privasi dan kerahasiaan pasien sesuai kode etik
keperawatan. Beberapa hal terkait dengan isu ini, yang secara fundamental
mesti dilakukan dalam penerapan tehnologi dalam bidang kesehatan dalam
merawat pasien adalah:
1. Jaminan kerahasiaan dan jaminan pelayanan dari informasi
kesehatan yang diberikan harus tetap terjaga
2. Pasien yang mendapatkan intervensi melalui telehealth harus
diinformasikan potensial resiko (seperti keterbatasan jaminan
kerahasiaan informasi, melalui internet atau telepon) dan
keuntungannya
3. Diseminasi data pasien seperti identifikasi pasien (suara, gambar)
dapat dikontrol dengan membuat informed consent (pernyataan
persetujuan) lewat email

6
4. Individu yang menyalahgunakan kerahasiaan, keamanan dan
peraturan dan penyalah gunaan informasi dapat dikenakan
hukuman/legal aspek
2.2.1. Isu Legal Dalam Keperawatan Berkaitan Dengan Hak Klien
Kesadaran masyarakat terhadap hak-hak mereka dalam pelayanan
kesehatan dan tindakan yang manusiawi semakin meningkat, sehingga
diharapkan adanya pemberi pelayanan kesehatan dapat memberi
pelayanan yang aman, efektif dan ramah terhadap mereka. Jika harapan
ini tidak terpenuhi, maka masyarakat akan menempuh jalur hukum
untuk membela hak-haknya.
Klien mempunyai hak legal yang diakui secara hukun untuk
mendapatkan pelayanan yang aman dan kompeten.Perhatian terhadap
legal dan etik yang dimunculkan oleh konsumen telah mengubah sistem
pelayanan kesehatan.Kebijakan yang ada dalam institusi menetapkan
prosedur yang tepat untuk mendapatkan persetujuan klien terhadap
tindakan pengobatan yang dilaksanakan.Institusi telah membentuk
berbagai komite etik untuk meninjau praktik profesional dan memberi
pedoman bila hak-hak klien terancam.Perhatian lebih juga diberikan
pada advokasi klien sehingga pemberi pelayanan kesehatan semakin
bersungguh-sungguh untuk tetap memberikan informasi kepada klien
dan keluarganya bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan.
2.2.2. Tipe Tindakan Legal
Terdapat dua macam tindakan legal: tindakan sipil/pribadi, dan
tindakan kriminal.
a. Tindakan sipil berkaitan dengan isu antara individu-individu.
Contohnya: seorang pria dapat mengajukan tuntutan terhadap
seseorang yang diyakininya telah menipunya.
b. Tindakan kriminal berkaitan dengan perselisihan antara individu
dan masyarakat secara keseluruhan. Contohnya: jika seorang
pria menembak seseorang, masyarakat akan membawanya ke
persidangan.

7
2.2.3. Masalah Legal Dalam Keperawatan
Hukum dikeluarkan oleh badan pemerintah dan harus dipatuhi oleh
warga negara. Setiap orang yang tidak mematuhi hukun akan terikat
secara hukum untuk menanggung denda atau hukuman penjara.
Beberapa situasi yang perlu dihindari seorang perawat :
1. Pelanggaran adalah perlakuan seseorang yang dapat merugikan
orang lain berupa harta atau milik lainnya secara di sengaja atau
tidak disengaja. Jika ada tuntutan hukum, biasanya diselesaikan
secara perdata dengan mengganti kerugia tersebut.
Contoh : menghilangkan barang titipan klien atau merugikan nama
baik klien.
2. Kejahatan adalah suatu perlakuan merugikan publik. Karena terlalu
parah, kejahatan yang dianggap tindakan perdata (tort) dapat
digolongkan sebagai tindakan kriminal (tindakan pidana). Tindak
kriminal atau pidana ini dapat dijatuhi hukuman denda atau penjara,
atau kedua-duanya.
Contoh :
a. Kecerobohan luar biasa yang menunjukkan bahwa pelaku
tidak mengindahkan sama sekali nyawa orang lain (korban).
Kejahatan ini dapat dikenakan tindak perdata maupun pidana.
b. Kealpaan mematuhi undang-undang kesehatan yang
mengakibatkan tewasnya orang lain atau
mengonsi/mengedarkan obat-obatan terlarang. Kejahatan ini
dapat dianggap sebagai tindakan kriminal (lepas dari
kenyataan disengaja atau tidak).
3. Kecerobohan dan praktik sesat. Kecorobohan adalah suatu
perbuatan yang tidak akan dilakukan oleh seseorang yang bersikap
hati-hati dalam situasi yang sama. Dengan kata lain, perbuatan yang
dilakukan di luar koridor standar keperawatan yang telah ditetapkan
dan dapat menimbulkan kerugian. Apabila hal tersebut terjadi dan
ada penuntutan, hakim/juri biasanya menggunakan saksi ahli (orang
yang ahli di bidang tersebut).

8
Contoh:
a. Sembarangan menguras barang pribadi klien (pakaian, uang,
kacamata, dll) sehingga rusak atau hilang.
b. Tidak menjawab tanda panggilan klien yang di rawat
sehingga klien mencoba mengatasinya sendiri dan terjadi
cedera.
c. Tidak melakukan tindakan perlindungan pada klien yang
mengakibatkan klien cedera, misalnya tidak mengambilkan
air panas dari dekat klien yang mengakibatkan air tersebut
tumpah kena klien dan klien mengalami luka bakar.
d. Gagal melaksanakan perintah perawatan, gagal memberi obat
secara tepat atau melaporkan tanda dan gejala yang tidak
sesuai dengan kenyataan, tidak menyelidiki perintah yang
meragukan sebelumnya sehingga dengan kelalaian/kegagalan
tersebut menimbulkan cedera.

Selanjutnya, secara profesional dikatakan bahwa kecerobohan


sama dengan pelaksanaan praktik buruk, praktik sesat, atau
malpraktik.

4. Pelanggaran penghinaan, yaitu suatu perkataan atau tulisan yang


tidak benar mengenai seseorang sehingga orang tersebut merasa
terhina dan dicemooh. Jika pernyataan tersebut dalam bentuk lisan,
disebut slander dan jika berbentuk tulisan, disebut libel.
Contoh :
a. Pernyataan palsu
b. Menuduh orang secara keliru
c. Memberi keterangan palsu kepada klien.

Orang yang di dakwa dengan tuduhan slander atau libel tidak dapat
diancam hukuman jika ia dapat membuktikan kebenaran
pernyataan (lisan/tulisan). Tuduhan ini dapat dibela dengan
komunikasi yang didasarkan pada anggapan bahwa petugas
profesional tidak dapat memberi pelayanan yang baik tanpa

9
pembeberan fakta secara lengkap mengenai masalah yang di
hadapinya.Jadi, informasi berprivilese merupakan informasi rahasia
antarpetugas profesional dengan kliennya, misalnya antara
perawat/dokter dengan kliennya, antara pngacara dengan kliennya,
antara kiai dengan pemeluk agamanya.

5. Penahanan yang keliru adalah penahanan klien tanpa alasan yang


tepat atau pencegahan gerak seseorang tanpa persetjuannya,
misalnya menahan klien pulang dari rumah sakit guna mendapat
perawatan tambahan tanpa persetujuan klien yang bersangkutan,
kecuali jika klien tersebut mengalami gangguan jiwa atau penyakit
menular yang apabila di pulangkan dari rumah sakit akan
membahayakan masyarakat. Untuk itu, rumah sakit mempunyai
formulir khusus yang ditandatangani klien/keluarga, yang
menyatakan bahwa rumah sakit yang bersanguktan tidak
bertanggung jawab apabila klien cedera karena meninggalkan
rumah sakit tersebut.
6. Pelanggaran privasi, yaitu tindakan mengekspos/memamerkan/
menyampaikan seseorang (klien) kepada publik, baik orangnya
langsung, gambar ataupun rekaman, tanpa persetujuan orang/klien
yang bersangkutan, kecuali ekspos klien tersebut memang
diperlukan menurut prosuder perawatannya.
Contoh:
a. Menyebar gosip atau memberi informasi klien kepada orang
yang tidak berhak memperoleh informasi itu.
b. Memberi perawatan tanpa memerhatikan kerahasiaan klien,
yaitu klien dilihat atau didengar orang lain sehingga klien
merasa malu.
7. Ancaman dan pemukulan. Ancaman (assault) adalah suatu
percobaan atau ancaman, melakukan kontak badan dengan orang
lain tanpa persetujuannya. Pemukulan (batter) adalah ancaman
yang dilaksanakan. Setiap orang diberi kebebasan dari kontak

10
badan dari orang lain, keculi jika ia telah menyatakan
perseujuannya.
Contoh: jika klien dioperasi tanpa persetujuan yang bersangkutan
atau keluarganya, dokter atau rumah sakit tersebut dapat dituntut
secara hukum.
8. Penipuan adalah pemberian gambaran salah secara sengaja yang
dapat mengakibatkan atau telah mengakibatkan kerugian atau
cedera pada seseorang atau hartanya..
Contoh : memberi data yang keliru guna mendapat lisensi
keperawatan.
2.3. Perlindungan Legal Keperawatan
Untuk menjalankan praktiknya secara hukum perawat harus dilindungi dari
tuntutan malpraktik dan kelalaian pada keadaan darurat.Contoh :
a. UU di AS yang bernama Good Samaritan Acts yang memberikan
perlindungan tenaga kesehatan dalam memberikan pertolongan pada
keadaan darurat.
b. Di kanada terdapat UU lalu lintas yang memperbolehkan setiap orang
untuk menolong korban pada setiap situasi kecealakaan yang
bernama Traffic Acrt.
c. Di Indonesia UU kesehatan No.23 tahun 1992.
Undang-undang praktik keperawatan sudah lama menjadi bahan
diskusi para perawat.PPNI pada kongres Nasional ke duanya di
Surabaya tahun 1980 mulai merekomendasikan perlunya bahan-bahan
perundang-undangan untuk perlindungan hukum bagi tenaga
keperawatan.Tidak adanya Undang-Undang perlindungan bagi
perawat menyebabkan perawat secara penuh belum dapat bertanggung
jawab terhadap pelayanan yang mereka lakukan. Tumpang tindih
antara tugas dokter dan perawat masih sering tejadi dan beberapa
perawat lulus pendidikan tinggi merasa prustasi karena tidak adanya
kejelasan tentang peran, fungsi dan kewenangannya. Hal ini juga
menyebabkan semua perawat dianggap sama pengetahuan dan

11
ketrampilannya, tanpa memperhatikan latar belakang ilmiah yang
mereka miliki.
2.3.2. Undang-Undang yang Berkaitan dengan Praktik Keperawatan
1. UU No. 9 tahun 1960, tentang pokok-pokok kesehatan
Bab II (tugas Pemerintah), pasal 10 antara lain menyebutkan
bahwa pemerintah mengatur kedudukan hukum, wewenang dan
kesanggupan hukum.
2. UU No. 6 tahun 1963 tentang tenaga kesehatan
UU ini merupakan penjabaran dari UU No. 9 tahun 1960.UU ini
membedakan tenaga kesehatan sarjana dan bukan sarjana.Tenaga
sarjana meliputi dokter, doter gigi dan apoteker.Tenaga perawat
termasuk dalam tenaga bukan sarjana atau tenaga kesehatan
dengan pendidikan rendah, termasuk bidan dan asisten farmasi
dimana dalam menjalankan tugas dibawah pengawasan dokter,
dokter gigi dan apoteker.Pada keadaan tertentu kepada tenaga
pendidik rendah dapat diberikaqn kewenangan terbats untuk
menjalankan pekerjaannya tanpa pengawasan langsung.
UU ini boleh dikatakan sudah using karena hanya
mengklaripikasikan tenaga kesehatan secara dikotomis (tenaga
sarjana dan bukan sarjana).UU ini juga tidak mengatur landasan
hukum bagi tenaga kesehatan dalam menjalankan
pekerjaannya.Dalam UU ini juga belum tercantum berbagai jenis
tenaga sarjana keperawatan seperti sekarang ini dan perawat
ditempatkan pada posisi yang secara hukum tidak mempunyai
tanggung jawab mandiri karena harus tergantung pada tenaga
kesehatan lainnya.
3. UU kesehatan No. 14 tahun 1964, tentang wajib kerja paramedis
Pada pasal 2,ayat (3) dijelasakan bahwa tenaga kesehatan sarjana
muda, menengah dan rendah wqajib menjalankan wajib kerja
pada pemerintah selama 3 tahun.Dalam pasal 3 dihelaskan bahwa
selama bekerja pada pemerintah, tenaga kesehatan yang dimaksut
pada pasal 2 memiliki kedudukan sebagain pegawai negeri

12
sehingga peraturan-peraturan pegawai negeri juga diberlakukan
terhadapnya.UU ini untuk saat ini sudah tidak sesuai dengan
kemampuan pemerintah dalam mengangkat pegawai negeri.
Penatalaksanaan wajib kerja juga tidak jelas dalam UU tersebut
sebagai contoh bagai mana sisitem rekruitmen calon pesrta wajib
kerja, apa sangsinya bila seseorang tidak menjalankaqn wajib
kerja dll. Yang perlu diperhatikan dalam UU ini,lagi posisi
perawat dinyatakan sebagai tenaga kerja pembantu bagi tenaga
kesehatan akademis termasuk dokter, sehingga dari aspek
propesionalisasian, perawat rasanya masih jauh dari kewenangan
tanggung jawab terhadap pelayanannya sendiri.
4. SK Menkes No. 262/per/VII/1979 tahun 1979
Membedakan para medis menjadi dua golongan yaitu paramedic
keperawatan (termasuk bidan) dan paramedic non
keperawata.Dari aspek hukum, sartu hal yang perlu dicatat disini
bahwa tenaga bidan tidak lagi terpisah tetapi juga termasuk
kategori tenaga keperawatan.
5. Permenkes. No. 363/ Menkes/ per/XX/1980 tahun 1980
Pemerintah membuat suatu pernyataan yang jelas perbedaan
antara tenaga keperawatan dan bidan.Bidan seperti halnya dokter,
diizinkan mengadakan praktik swasta, sedangkan tenaga
keperawatan secara resmi tidak diizinkan.Dokter dapat membuka
praktik swasta untuk mengobati orang sakit dan bidan dapat
menolong persalinan dan pelayanan KB.Peraturan ini boleh
dikatakan kurang relevan atau adil bagi propesi keperawatan. Kita
ketahuai Negara lain perawat diizinkan membuka praktik swasta.
Dalam bidang kuratif banyak perawat harus menggantikan atau
mengisi kekujrangan tenaga dokter untuk mengobati penyakit
terutam dipuskesmas- puskesmas tetapi secara hukum hal tersebut
tidak dilindungi terutama bagi perawat yang memperpanjang
pelayanan dirumah.Bila memang secara resmi tidak diakui, maka

13
seharusnya perawat dibebaskan dari pelayanan kuratif atau
pengobatan untuk benar-benar melakuan nursing care.
6. SK Mentri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No.
94/Menpan/ 1986,tanggal 4 Nopember 1989, tentang jabatan
fungsional tenaga keperawatan dan system kredit poin.
Dalam system ini dijelaskan bahwa tenaga keperawatan dapat
naik jabatannya atau naik pangkatnya setiap 2 tahun bila
memenuhi angka kredit tertentu. Dalam SK ini, tenaga
keperawatan yang dimaksud adalah : penyenang kesehatan, yang
sudah mencapai golongan II/a, Pengatur Rawat/ Perawat
Kesehatan/Bidan, Sarjana Muda/D III Keperawatan dan Sarjana/S
I Keperawatan. System ini menguntungkan perawat karena dapat
naik pangkatnya dan tidak tergantung kepada pangkat/ golongan
atasannya
7. UU kesehatan No. 23 tahun 1992
Merupakan UU yang banyak member kesempatan bagi
perkembangan termasuk praktik keperawatan professional karena
dalam UU ini dinyatakan tentang standar praktik, hak-hak pasien,
kewenangan, maupun perlindungan hukum bagi profesi kesehatan
termasuk keperawatan.
Beberapa pernyataan UU kes. No. 23 Th. 1992 yang dapat
dipakai sebagai acuan pembuatan UU praktik keperawatan
adalah:
a. Pasal 32 ayat 4
Pelaksanaan pengobatan dan atau perawatan berdasarkan ilmu
kedokteran dan ilmu keperawatan, hanya dapat dilaksanakan
oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan untuk itu.
b. Pasal 53 ayat I
Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum
dalam melaksanakan tugas sesui dengan profesinya.

14
c. Pasal 53 ayat 2
Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban
untuk mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien.
2.4 Pembahasan Kasus Isu Legal Keperawatan Berkaitan dengan
Pemenuhan Hak Pasien
1. Kasus
Tn. G adalah pasien pria yang berusia 68 tahun masuk ruang bedah RS di
Malang dengan riwayat nyeri abdomen. Perkembangan 1 bulan terakhir
ditemukan adanya riwayat muntah, mual dan darah dalam fesesnya
selama 48 jam terakhir. Tuan G adalah pensiunan manager yang tinggal
bersama isteri. Sementara 3 orang anaknya telah hidup sendiri-sendiri. Ia
mengatakan bahwa ia tetap menyibukkan diri dalam waktu pensiunan
dengan bermain golf, menghadiri acara-acara keagamaan dan
“memikirkan hal-hal di sekitar rumahnya”.
Pemeriksaan USG abdomen menunjukkan adanya massa kolon dan
kemungkinan perforasi. Ia dijadwal untuk operasi pembedahan eksplorasi
segera. Sebelum operasi ia tampak gelisah dan mengatakan pada perawat
bahwa ia takut. Selain itu juga ia mengatakan “saya harap mereka tidak
menemukan apapun yang buruk, meskipun selalu ada kemungkinan baik
yang mungkin ditemukan. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan.
Saudara laki-laki saya meninggal di RS dua tahun lalu dan itu sangat
mengerikan. Saya tidak mau meninggal dengan cara yang seperti dia,
dengan mesin-mesin dan selang-selang yang terpasang pada dirinya. Dan
isteri saya, saya tidak ingin ia menjadi sendiri, tetapi saya enggan untuk
menceritakan hal ini padanya dan membuatnya gelisah dan marah. Saya
hanya berdoa bahwa segalanya akan berjalan baik. Untungnya saya selalu
mempunyai keyakinan”.
Pembedahan menunjukkan karsinoma yang sudah jauh dengan metastase.
Pembedahan yang dilakukankan merupakan tindakan paliatif untuk
membuang sumbatan dengan membuat kolostomi transfersal, namun
terdapat resiko yang tinggi untuk terjadinya sepsis akibat perforasi.
Akhirnya Tn. G kembali ke unit dari ruang pemulihan dengan pesanan

15
cairan intravena, antibiotik dan narkotik disertai pesanan jangan
diresusitasi (DNR). Perawat menanyakan pesanan DNR tetapi mendapat
jawaban “Tidak ada lagi yang dapat kami lakukan bagi dirinya”.
2. Pembahasan Kasus
Dari ilustrasi kasus di atas, terdapat aspek legal keperawatan, yang bisa
diindentifikasi dengan:
1. Mengidentifikasi dan mengembangkan data dasar
Mengidentifikasi dan mengembangkan data dasar yang terkait dengan
kasus meliputi orang yang terlibat yaitu pasien (Tn.G), secara tidak
langsung keluarga (isteri Tn. G), perawat, dan dokter. Tindakan yang
menjadi dilema etik adalah antara keinginan untuk tetap hidup dari pasien
(Tn. G) dengan tidak dilakukannya resusitasi sesuai dengan pesanan
(dokter) pada saat operasi.
2. Mengidentifikasi munculnya konflik
Dari hasil pemeriksaan USG abdomen menunjukkan adanya massa kolon
dan kemungkinan perforasi. Konflik yang terjadi pertama adalah pasien
(Tn.G) takut akan kematian yang bisa menimpanya pada saat pembedahan
dan berharap tidak ada hal buruk yang terjadi. Kedua pesanan untuk
perawat agar tidak melakukan resusitasi (DNR), dengan alasan tidak ada
lagi yang bisa dilakukan bagi pasien (Tn.G).
3. Menentukan tindakan alternative yang direncanakan
a. Mengupayakan segala hal demi keselamatan pasien sesuai dengan
keinginan dan harapan pasien dengan tetap melakukan resusitasi
karena salah satu kewajiban perawat ialah wajib menghormati hak
pasien serta sebagai advokat. Konsekuensi: hak pasien terpenuhi bila
pasien dapat bertahan hidup, namun hak pasien tidak terpenuhi jika
tindakan resusitasi sia-sia.
b. Tidak melakukan resusitasi sesuai yang dipesankan. Karena jika
dilakukan resusitasipun juga tetap akan menimbulkan kematian pada
pasien. Namun konsekuensinya adalah tidak menghormati hak pasien
serta tidak sesuai dengan prinsip etik keperawatan yaitu Avoiding
Killing (melindungi dan mempertahankan kehidupan pasien dengan

16
berbagai cara), selain itu dokter juga merupakan staf rumah sakit
yang tidak berhak memutuskan kematian pasien.
4. Menentukan Siapa Pengambil Keputusan yang Tepat
Pada kasus Tn.G, yang dapat membuat keputusan adalah manajemen
Rumah Sakit dan pasien.
5. Menjelaskan Kewajiban Perawat
Kewajiban perawat disini adalah tetap menerapkan asuhan keperawatan
sebagai berikut: memenuhi kebutuhan dasar pasien sesuai harkat dan
mertabatnya sebagai manusia, mengupayakan support. Kewajiban yang
lain adalah melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan
untuk menyelamatkan jiwa. Perawat tetap mengkomunikasikan kondisi
klien dengan tim kesehatan yang terlibat dalam perawatan Tn.G
6. Mengambil Keputusan yang Tepat
Sesuai dengan prinsip etik keperawatan Avioding Killing (melindungi
dan mempertahankan kehidupan pasien dengan berbagai cara) serta
Autonomy (hak untuk memilih) maka perawat perlu
memepertimbangkan pendekatan yang paling tepat dan menguntungkan
untuk klien. Namun sebelum keputusan tersebut diambil perlu
diupayakan alternative tindakan yaitu merawat pasien dengan
kewenangan dan kewajiban perawat. Jika alternative ini tidak efektif
maka melaksanakan keputusan yang telah diputuskan oleh pihak
manajemen Rumah Sakit bersama pasien adalah Informed Consent.

Analisis Aspek terhadap Undang-Undang yang berlaku:

1. (DNR) / Do Not Resusitasion pada kasus ini merupakan tindakan


Eutanasia. Di Indonesia tindakan euthanasia ini tidak dibenarkan dalam
Undang-Undang. Ini dinyatakan dalam:
a. KUHP pasal 338 yakni: "Barang siapa yang sengaja menghilangkan
jiwa orang lain, karena pembunuhan biasa, dihukum dengan hukuman
penjara selama-lamanya 15 tahun"
b. KUHP pasal 339 yakni: “Pembunuhan yang diikuti, disertai atau
didahului oleh suatu tindakan pidana, yang dilakukan dengan maksud

17
untuk mempersiapkan atau memepermudah pelaksanaannya, …..
diancam pidana penjara selama waktu tertentu paling lama dua puluh
tahun”
c. KUHP pasal 345 yakni: “Barang siapa dengan sengaja membujuk
orang lain untuk bunuh diri, menolongnya dalam perbuatan itu atau
memeberi sarana kepadanya untuk itu diancam pidana penjara paling
lama empat tahun kalau orang itu jadi bunuh diri”
d. KUHP pasal 359 yakni: “Barang siapa karena kesalahannya
(kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana
penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu
tahun”
2. Kewajiban Perawat antara lain menghormati hak pasien, serta melakukan
pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan untuk menyelamatkan
jiwa. Hak dan kewajiban pasien dicantumkan dalam Undang-Undang
Republik Indonesia tentang kesehatan No 23 tahun 1992.
HAK DAN KEWAJIBAN
Pasal 4
Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat
kesehatan yang optimal.
Pasal 5
Setiap orang berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan perseorangan, keluarga, dan
lingkungannya.
3. Informed Consent adalah keputusan yang sangat efektif untuk pasien
memilih, dan memutuskan hak pasien yang harus dipenuhi tenaga
kesehatan sebagai standart operational prosedur. Sesuai dengan Pasal 23
ayat 1 dalam Undang-Undang Kesehatan No.36 tahun 2009 yang
berbunyi: “Tenaga kesehatan berwenang untuk menyelenggarakan
pelayanan kesehatan” bahwa perawat harus memenuhi ketentuan kode
etik, standart profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standart
pelayanan dan standart operasional procedure.

18
BAB 3

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Isu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat di perkirakan terjadi atau
tidak terjadi di masa mendatang. Legal adalah sesuatu yang di anggap sah oleh
hukum dan undang-undang (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Jadi, Issue legal
dalam praktik keperawatan adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat di
perkirakan terjadi atau tidak terjadi di masa mendatang dan Sah, sesuai dengan
Undang-Undang/Hukum mengenai tindakan mandiri perawat profesional.
Masalah legal dalam praktik keperawatan yang perlu dihindari perawat meliputi,
pelanggaran, kejahatan, kecerobohan dan praktik sesat, pelanggaran penghinaan,
penahanan, pelanggaran privasi, ancaman dan pemukulan, dan penipuan. Di
Indonesia legal praktik keperawatan dilindungi oleh UU kesehatan No.23 tahun
1992.

3.2. Saran
1. Perlunya kehatian-hatian seseorang tentunya keperawatan dalam
melakukan suatu tindakan agar tidak terjadi sesuatu yang dapat
menyababkan kejadian yang fatal akibatnya.
2. Adanya berbagai pendekatan yang bersifat persuasif, konsultatif dan
partisipatif semua pihak (Stake Holder) yang terkait dalam
penyelenggaran Praktik Keperawatan berorientasi kepada pelayanan yang
bermutu.
3. Setelah mengatahui perkembangan UU yang mengatur tentang praktek
keperawatan, sebagai calon perawat atau mahasiswa keperawatan harus
meningkatkan mutu belajar agar memiliki kemampuan berpikir rasional
dalam menyalankan tugas sebagai perawat profesional.

19
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Mengetahui Legislasi Praktik


Keperawatan. http://bkulpenprofil.blogspot.com/2013/10/mengetahu
i-legislasi-praktik-keperawatan.html. Diakses tanggal 16 September
2014.
Chin D. 2014. Issue Legal Dalam Praktik Keperawatan. (online), (http://daek-
chin.blogspot.co.id/2014/10/isue-legal-dalam-praktik-
keperawatan.html, diakses tanggal 16 November 2017 pukul 09.31
WIB).
Dewi,Virgiyati Tungga.2013. Tanggung Jawab dan Tanggung
Gugat.http://virgiyatitd.blogspot.com/2013/04/tanggung-jawab-dan-
tanggung-gugat.html. Diakses tanggal 16 September 2014.
Dicky.2013. Pola Hubungan Kerja Perawat dalam Praktik
Profesional.http://putrakietha.blogspot.com/2013/11/pola-hubungan-
kerja-perawat-dalam.html#ixzz3DUpWd8di.Diakses tanggal 16
September 2014.
Didit,Ditya.2011. Praktik Keperawatan
.http://dityanurse.blogspot.com/2011/04/praktik-keperawatan.html.
Diakses tanggal 16 September 2014.
Kozier, Barbara, dkk. 2010. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC.
Krista.2011. Praktek Keperawatan Profesional. http://ns-
krista.blogspot.com/2011/11/praktek-keperawatan-profesional.html.
Diakses tanggal 16 September 2014.
Lukman.2011. PrinsipMoraldanLegalisasi.http://lukmangoresanpenakehidup
an.blogspot.com/2011/05/prinsip-moral-dan-legalisasi.html. Diakses
tanggal 16 September 2014.
Nukienut.2011. TanggungJawabPerawat. http://nutnyildnyild.blogspot.com/2
011/05/tanggung-jawab-perawat.html. Diakses tanggal 16 September
2014.
Tinjauan Umum Tentang Kejahatan Nyawa Orang dan Pembuktian.
http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/3hukumpdf/207712036/bab2.pdf

20
Suhaemi, M.E. (2004).Etika Keperawatan: aplikasi pada praktik. Jakarta:
EGC
Potter, Patricia A.,dan Anne G. Perry. 2009. Fundamental Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.
Prasetyo,Agus.2013. Aspek Hukum dalam Praktek
Keperawatan.http://akpermalahayatimedan.blogspot.com/2013/05/as
pek-hukum-dalam-praktek-keperawatan.html. Diakses tanggal 16
September 2014.
Rizka,Aditya.2012.Aspek Legal Praktik dalam
Keperawatan.http://theadityarizka.blogspot.com/2012/11/aspek-
legal-praktik-dalam-keperawatan.html. Diakses tanggal 16
September 2014.
Shabrina,Azzahra.2012.Isu Legal Dalam Praktik
Keperawatan.http://shabrinaazz.blogspot.com/2012/12/isu-legal-
dalam-praktik-keperawatan.html. Diakses tanggal 16 September
2014.
Undang-Undang No 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan Pasal 4
Undang-Undang No 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan Pasal 5
Undang-Undang No 23 tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 23, ayat 1

21

Anda mungkin juga menyukai