Anda di halaman 1dari 11

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang


Ikan merupakan sumberdaya yang mudah rusak (perishable) sehingga perlu
dilakukan pengolahan yang bertujuan meningkatkan daya simpan serta nilai ekonomi.
Proses pengolahan ikan tentu saja akan meninggalkan limbah padat berupa sisik, jeroan
dan kepala ikan serta limbah cair berupa air sebagai media untuk mencuci bahan baku,
peralatan dan perebusan bahan. Air yang telah terpakai pada akhirnya akan dibuang dan
dialirkan ke badan sungai.
Beberapa pengolah tradisional pada umumnya belum melakukan penanganan limah
sebelum dibuang ke badan air termasuk sungai dan persawahan. Menurut Oktavia, dkk
(2012) pengolah tradisional rajungan umumnya tidak melakukan penanganan limbah yang
dihasilkan sebelum membuang hasil perebusan daging rajungan, sehingga terjadi
pencemaran air dan menimbulkan bau khas rajungan yang tercium di area pengolahan
rajungan.
Dampak yang ditimbulkan karena pembuangan limbah termasuk limbah cair ke
lingkungan sangat penting sehingga setiap industri pengolahan yang berskala besar
maupun kecil harus mampu mengelola dan mengolah limbah. Oleh karena itu, teknologi
pengolahan dan pemanfaatan limbah harus dikaji dan senantiasa dikembangkan agar
limbah yang terbuang bersifat ramah lingkungan.
Sebelum dibuang, air sisa pengolahan dan pencucian harus dikelola sesuai baku
mutu agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Demikian juga dengan air limbah
industri perikanan yang akan dimanfaatkan untuk bidang agrokomplek (pertanian,
perikanan, dan peternakan) juga akan melewati proses penanganan.
Limbah cair umumnya mengandung padatan tersuspensi yg berasal dari sisa-sisa
daging serutan, darah dan lendir sebagai sumber protein (N). Selain itu , limbah cair juga
mengandung protein dan mineral tinggi (N & P. Ca) sehingga sangat layak dimanfaatkan
sebagai sumber hara untuk tanaman/tumbuhan pada lahan pertanian terpadu. Kandungan
limbah yang bermanfaat tersebut akan terbuang sia-sia jika tidak dimanfaatkan secara
maksimal sehingga perlu dilakukan pemanfaatan limbah terutama pada bidang
agrokomplek (pertanian, perikana, dan peternakan).

I.2 Tujuan
a. Mengetahui pemanfaatan limbah cair industri perikanan di bidang agrokompleks
(pertanian, perikanan, dan peternakan) di Indonesia dan mancanegara.
b. Mengetahui teknologi pemanfaatan limbah cair industri perikanan di bidang
agrokompleks (pertanian, perikanan, dan peternakan) di Indonesia dan
mancanegara.

I.3 Output
a. Mahasiswa dapat mengetahui pemanfaatan limbah cair industri perikanan pada
bidang agrokomplek di Indonesia dan mancanegara
b. Mahasiswa dapat mengetahui teknologi pemanfaatan limbah cair indutri perikanan
di Indonesia dan mancanegara

I.4 Outcome
Mahasiswa dapat menerapkan teknologi dan pemanfaatan limbah cair industri
perikanan di bidang agrokompleks

II. TINJAUAN PUSTAKA

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi domestik
(rumah tangga) maupun industri, yang lebih dikenal sebagai sampah, dan kehadirannya
tidak dikehendaki lingkungan karena dapat merugikan bagi kehidupan sekitar. Limbah
perikanan merupakan hasil buangan yang diperoleh dari kegiatan perikanan. Ada berbagai
macam limbah perikanan, salah satunya adalah limbah cair. Menurut Fitria (2008), Limbah
cair (liquid waste) dapat didefinisikan sebagai suatu limbah hasil kegiatan yang secara
fisik berbentuk cair, kandungannya didominasi oleh air beserta bahan-bahan kontaminan
lainnya atau didominasi oleh bahan cair lain (bukan air), seperti: minyak, oli bekas, residu
senyawa-senyawa kimia dan sebagainya. Menurut Ginting (2007), limbah cair dijumpai
pada industri yang menggunakan air dalam proses produksinya, mulai dari pra pengelolaan
bahan baku, seperti pencucian, sebagai bahan penolong, sampai pada produksi akhir
menghasilkan limbah cair. Limbah cair perikanan diperoleh dari air sisa proses produksi
seperti sisa pencucian ikan, sisa perebusan, darah, lendir, maupun air sisa budidaya.
Menurut River et al., (1998) jumlah debit air limbah pada efluen umumnya berasal dari
proses pengolahan dan pencucian. Setiap operasi pengolahan ikan akan menghasilkan
cairan dari pemotongan, pencucian, dan pengolahan produk. Cairan ini mengandung darah
dan potongan-potongan kecil ikan dan kulit, isi perut, kondensat dari operasi pemasakan,
dan air pendinginan dari kondensor.

Gambar 1 . Proses Perebusan Ikan, Contoh Sumber Limbah Cair dari


Industri Perikanan
Gambar 1 . Proses Pencucian Ikan, Contoh Sumber Limbah Cair dari
Industri Perikanan

Limbah cair perikanan mengandung bermacam-macam bahan organik, seperti


protein dan lemak. Bagian terbesar kontribusi beban organik pada limbah perikanan berasal
dari industri pengalengan dengan beban COD 37,56 kg/m3, disusul oleh industri
pengolahan fillet ikan salmon yang menghasilkan beban limbah 1,46 kg COD/m3.
Kemudian industri krustasea dengan beban COD yang kecil. Perbandingan beban organik
yang disumbangkan oleh industri pengalengan, pemfiletan salmon dan krustasea adalah
74,3%, 21,6% dan 4,1%. Beban pencemaran limbah industri perikanan dapat dilihat pada
table di bawah ini:
Tingginya jumlah BOD dan COD ini akan menurunkan kadar oksigen di perairan.
Selain itu, menurut Oktavia et al. (2012), lemak yang terbuang di perairan dapat menutupi
permukaan badan air sehingga mengganggu proses transfer oksigen ke air. Hal ini sangat
berpengaruh pada biota-biota air yang hidup di perairan tersebut. Biota-biota air tersebut
akan mengalami kematian akibat kekurangan oksigen.

Hal-hal tersebut dapat dihindari dengan cara melakukan pengolahan terlebih


dahulu terhadap limbah cair industri perikanan sebelum limbah tersebut dilepaskan ke
lingkungan sekitar. Selain melakukan penanganan, limbah cair juga dapat dimanfaatkan
mengingat kandungan nutrient yang tinggi pada limbah tersebut. Menurut Dasyanto
(1995). Pengolahan air limbah dapat digolongkan menjadi tiga yaitu pengolahan secara
fisika, kimia, biologi, yang akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Pengolahan Fisik
Pengolahan ini terutama ditujukan untuk air limbah yang tidak larut (bersifat
tersuspensi), atau dengan kata lain buangan cair yang mengandung padatan, sehingga
menggunakan metode ini untuk pimisahan. Pada umumnya sebelum dilakukan
pengolahan lanjutan terhadap air buangan diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi
berukuran besar dan mudah mengendap atau bahan-bahan yang mengapung mudah
disisihkan terlebih dahulu. Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-
bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses
berikutnya (Tjokrokusumo, 1995)

b. Pengolahan Kimia
Pengolahan secara kimia adalah proses pengolahan yang menggunakan bahan
kimia untuk mengurangi konsentrasi zat pencemar dalam air limbah. Proses ini
menggunakan reaksi kimia untuk mengubah air limbah yang berbahaya menjadi
kurang berbahaya. Proses yang termasuk dalam pengolahan secara kimia adalah
netralisasi, presipitasi, khlorinasi, koagulasi dan flokulasi. Pengolahan air buangan
secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak
mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa phospor dan zat organik
beracun, dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Pengolahan
secara kimia dapat memperoleh efisiensi yang tinggi akan tetapi biaya menjadi mahal
karena memerlukan bahan kimia (Tjokrokusumo, 1995).

c. Pengolahan Biologi
Pengolahan air limbah secara biologis, antara lain bertujuan untuk
menghilangkan bahan organik, anorganik, amoniak, dan posfat dengan bantuan
mikroorganisme. Penggunaan saringan atau filter telah dikenal luas guna menangani air
untuk keperluan industri dan rumah tangga, cara ini juga dapat diterapkan untuk
pengolahan air limbah yaitu dengan memakai berbagai jenis media filter seperti pasir
dan antrasit. Pada penggunaan sistem saringan anaerobik, media filter ditempatkan
dalam suatu bak atau tangki dan air limbah yang akan disaring dilalukan dari arah
bawah ke atas (Laksmi dan Rahayu, 1993).
Ada 5 tahap yang di perlukan dalam pengolahan air limbah. yaitu:
a. Pengolahan Awal (Pretreatment) : Tahap ini melibatkan proses fisik yang bertujuan
untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam limbah. Beberapa proses
pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah 3.
b. Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment): pengolahan tahap pertama memiliki
tujuan yang sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang
berlangsung. Proses yang terjadi ialah neutralization, chemical addition and
coagulation, flotation, sedimentation, dan filtration.
c. Pengolahan Tahap Kedua (Secondary Treatment): tahap kedua dirancang untuk
menghilangkan zat terlarut dari limbah yg tak dapat dihilangkan dgn proses fisik.
Peralatan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah activated sludge,
anaerobic lagoon, tricking filter, aerated lagoon, stabilization basin, rotating
biological contactor, serta anaerobic contactor and filter.
d. Pengolahan Tahap Ketiga (Tertiary Treatment): Proses-proses yang terlibat dalam
pengolahan air limbah tahap ketiga ialah coagulation and sedimentation, filtration,
carbon adsorption, ion exchange, membrane separation, serta thickening gravity or
flotation. pada proses ini dilakukan pemisahan secara kimia untuk lebih memurnikan
air yang belum sepenuhnya bersih.
e. Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment): Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat
tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah kembali melalui proses digestion or
wet combustion, pressure filtration, vacuum filtration, centrifugation, lagooning or
drying bed, incineration, atau landfill.
III. PEMBAHASAN

III.1Pemanfaatan Air Rebusan Ikan Menjadi Petis


Petis merupakan produk mirip kecap, tetapi umumnya lebih kental. Petis dibuat dari
pemekatan air rebusan ikan dalam pembuatan pindang atau pembuatan ebi. Petis
merupakan bahan makanan yang umumnya digunakan sebagai perangsang makanan
(bumbu masak) yang sedap, bergizi, dan mempunyai nilai yang lebih tinggi (Anonim,
2012). Biasanya petis dikonsumsi sebagai bumbu sambal pada rujak buah / sayur, sebagai
teman makan tahu atau juga untuk bumbu tambahan pada nasi goreng.
Gambarsalah
Pembuatan petis merupakan . Contoh
satu Petis
cara dari
yangAir Sisa
bisa Rebusanuntuk memanfaatkan
dilakukan
Ikan
limbah produk-produk hasil laut baik itu limbah ikan, udang maupun kupang.
Pembuatannya sebenarnya sangatlah sederhana karena memang tidak membutuhkan alat
dan keahlian khusus. Hanya saja perlu ketelatenan dalam pembuatannya, karena jika
memproduksi dalam kapasitas banyak membutuhkan waktu yang cukup lama.
Bahan yang diperlukan dalam pembuatan petis dari air sisa rebusan yaitu air sisa
rebusan hasil pemindangan ikan atau ebi, gula merah, dan garam. Alat yang digunakan
untuk pembuatan petis pun sangat sederhana dan mudah untuk diperoleh, yaitu wajan, alat
pengaduk, panci, kompor, dan kemasan untuk petis. Cara pembuatan petis dapat dilihat
pada bagan di bawah ini:

Air hasil rebusan ikan direbus hingga


mengental

Ditambahkan garam dan gula merah


secukupnya sambil diaduk

Adonan yang sudah siap dituang ke


dalam baskom

Ditunggu hingga dingin

Petis ke dalam kemasan. Apabila hendak


dipasarkan, pilik kemasan yang menarik
(Iswati, 2010)
III.2Pemanfaatan Limbah Cair Perikanan Sebagai Pupuk Organik
Pupuk organik adalah sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang
berasal dari tanaman atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau
cair yang digunakan menyuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi
tanah (Simanungkalit dkk.,2006). Pupuk organik cair selain dapat memperbaiki sifat fisik,
kimia, dan biologi tanah, juga membantu meningkatkan produksi tanaman, meningkatkan
kualitas produk tanaman, mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan sebagai alternatif
pengganti pupuk kandang (Anonim,2014).
1. Pupuk organik dengan bantuan EM4

Limbah cair yang berasal industri perikanan dapat dimanfaatkan menjadi pupuk
organik. Menurut Dwicaksono et al. (2014) limbah cair industri perikanan tidak dapat
dimanfaatkan langsung sebagai pupuk cair karena kandungan bahan organiknya berupa lemak
dan protein tidak dapat diserap langsung oleh tanaman. Perlu adanya penguraian kandungan
organik dalam limbah cair tersebut dengan tujuan memecah senyawa komplek menjadi
senyawa-senyawa organik yang lebih sederhana sehingga tanaman lebih mudah menyerap
nutrisi yang terkandung dalam pupuk cair organik tersebut. Lebih jauh Dwicakksono et al
(2014) mnyatakan bahwa pembuatan pupuk organik dapat ditambahkan aktivator berupa EM4
(effective microorganisms).
Produk EM4 Pertanian merupakan produk bakteri fermentasi bahan organik tanah yang
dapat menyuburkan tanah dan menyehatkan tanah. EM4 terbuat dari hasil seleksi alami
mikroorganisme fermentasi dan sintetik di dalam tanah yang di kemas dalam medium cair (EM4
Indonesia, 2013). EM terdiri dari kultur campuran dari beberapa mikroorganisme yang
menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Menurut (Higa et al,. 1995 dalam
Dwicaksono,2014 Effective microorganisms (EM) mengandung spesies terpilih dari
mikroorganisme utamanya yang bersifat fermentasi, yaitu bakteri asam laktat (Lactobacillus
sp.), Jamur fermentasi (Saccharomyces sp), bakteri fotosintetik (Rhodopseudomonas sp.), dan
Actinomycetes. Effective microorganisms (EM4) digunakan sebagai bioaktivator enzim untuk
perombakan material organik pada proses fermentasi dalam pembuatan pupuk organik cair.

2. Pembuatan pupuk nitrogen dengan lumpur aktif


a. Air limbah mula-mula dilewatkan pada saringan kasar (screen) untuk
memisahkan sampah berukuran besar, kemudian dipompa menuju bak
pengendap/penampung awal untuk mengendapkan padatan tersuspensi
(suspended solid) sekitar 30-40 %. Padatan tersuspensi yang terendapkan akan
dibuang ke bak pengering lumpur. Bak pengendap/penampung ini yang juga
dilengkapi alat pengatur debit aliran.
b. Air limpahan dari bak pengendap awal dialirkan ke bak aerasi. Di dalam bak
aerasi ini air limbah dihembus udara (O2) dengan sebuah blower sehingga
mikroorganisme yang ada akan menguraikan polutan organik yang ada dalam
air limbah, berkembangbiak, hingga terbentuk biomassa aktif berwarna
kelabu/coklat kehitaman yang disebut lumpur aktif. Didalam bak aerasi ini
unjuk kerja lumpur aktif dilaksanakan.
c. Dari bak aerasi, air beserta kelebihan lumpur aktif dialirkan ke bak pengendap
akhir. Di dalam bak ini sebagian lumpur aktif diendapkan dan dipompa kembali
ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur. Sementara sebagian
lumpur lagi akan alirkan menuju bak pengering lumpur setelah dilakukan
disinfeksi terlebih dahulu untuk kedibuang/dibakar. Pembuangan lumpur ini
bertujuan untuk menjaga kestabilan jumlah lumpur aktif.
d. Air limpahan dari bak pengendap akhir dialirkan ke bak khlorinasi. Di dalam
bak kontaktor khlor ini air limbah dikontakkan dengan senyawa khlor (berupa
cairan/tablet) untuk membunuh mikroorganisme patogen. Air olahan, yakni air
yang keluar setelah proses khlorinasi dapat langsung dibuang ke sungai atau
saluran umum/mengalami proses pengolahan selanjutnya.
Limbah cair perikanan pada pemupukan skala kecil dapat langsung digunakan sebagai pupuk
sedangkan limbah cair perikanan yang digunakan untuk pemupukan skala besar sebaiknya
menggunakan limbah cair yang sudah diolah dengan lumpur aktif karena pemupukan dengan
limbah yang segar atau tidak diolah akan menimbulkan bau busuk apalagi dalam skala besar
akibat tejadinya penguraian bahan organik yang terdapat dalam limbah cair. Pemupukan dengan
limbah yang diolah dengan lumpur aktif tidak menimbulkan bau karena proses penguraian
bahan organik tejadi di dalam reaktor. Selain itu, unsur hara yang terdapat dalam limbah cair
yang diolah dengan lumpur aktif terdapat dalam bentuk senyawa yang langsung bisa diserap
tanaman (Irma, 2008).
Limbah cair perikanan yang diolah menjadi pupuk dapat menyuplai nitrogen untuk
tanaman bayam sesuai dengan penelitian Irma (2008). Bayam dapat memanfaatkan sebagian
besar kandungan hara yang terdapat pada limbah segar yang diketahui mengandung unsur hara
yang cukup tinggi terutama unsur nitrogen.