Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul Akhlak. Dalam kesempatan
ini Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu
dalam penyusunan karya tulis ini salah satunya Ibu Rini Elvry S.Ag Selaku dosen
pembimbing Mata Kuliah Aqidah dan Akhlak.

Dengan menyadari keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang saya miliki , maka
tentunya Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan segala
kerendaan hati, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat saya harapkan, sehingga
dapat membantu saya di masa yang akan datang. Semoga apa yang saya sampaikan dalam
makalah ini dapat berguna bagi penyusun, rekan-rekan mahasiswa maupun siapa saja yang
membutuhkan.

Pontianak, September 2011

Penulis
1. Pengertian Akhlak
Akhlak Menurut bahasa artinya budi pekerti, tabiat atau watak.. Sedangkan
menurut istilah adalah segala sifat yang tertanam dalam hati yang menimbulkan
kegiatan-kegiatan dengan ringan dan juga tanpa memerlukan pemikiran sebagai
pertimbangan.
Moral Berasal dari bahasa latin yaitu Mores, yang artinya adat kebiasaan
didalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) dikatakan bahwa moral adalah
penentuan baik buruknya terhadap perbuatan dan kelakuan. Sedangkan menurut
istilah suatu istilah untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak,
pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau
buruk.
Etika sama artinya dengan moral tetapi dalam pemikiran sehari-hari ada
sedikit perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai
sedangkan etika dipakai untuk pengkajian siastem nilai yang ada.

Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh
suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak
merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti
perangai, tingkah laku, atau tabiat.

Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad
Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang
yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih
dahulu.

Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut
harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan
baik, atau hanya sewaktu-waktu saja. Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul
dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak
pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga
terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apabila perbuatan tersebut dilakukan
dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.
2. Pengertian Moral

Moral, etika dan akhlak memiliki pengertian yang sangat berbeda. Moral
berasal dari bahasa latinyaitu mos, yang berarti adat istiadat yang menjadi dasar untuk
mengukur apakah perbuatan seseorang baik atau buruk Dapat dikatakan baik buruk
suatu perbuatan secara moral, bersifat lokal. Sedangkan akhlak adalah tingkah laku
baik, buruk, salah benar, penilaian ini dipandang dari sudut hukum yang ada di dalam
ajaran agama. Perbedaan dengan etika, yakni Etika adalah ilmu yang membahas
tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas. Etika
terdiri dari tiga pendekatan, yaitu etika deskriptif, etika normatif, dan metaetika.
Kaidah etika yang biasa dimunculkan dalam etika deskriptif adalah adat kebiasaan,
anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan
atau tidak diperbolehkan. Sedangkan kaidah yang sering muncul dalam etika normatif,
yaitu hati nurani, kebebasan dan tanggung jawab, nilai dan norma, serta hak dan
kewajiban. Selanjutnya yang termasuk kaidah dalam metaetika adalah ucapan-ucapan
yang dikatakan pada bidang moralitas. Dari penjelasan tersebut dapat diambil
kesimpulan bahwa etika adalah ilmu, moral adalah ajaran, dan akhlak adalah tingkah
laku manusia.

Adapun arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu
jamak dari kata mos yang berarti adapt kebiasaan. Di dalam kamus umum bahasa
Indonesia dikatan bahwa moral adalah pennetuan baik buruk terhadap perbuatan dan
kelakuan. Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan
untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan
yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk.

Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah


istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktifitas manusia dengan
nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah.
Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan satu dengan lainnya, kita dapat
mengetakan bahwa antara etika dan moral memiki objek yang sama, yaitu sama-sama
membahas tentang perbuatan manusia selanjutnya ditentukan posisinya apakah baik
atau buruk.
Namun demikian dalam beberapa hal antara etika dan moral memiliki
perbedaan. Pertama, kalau dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai
perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio,
sedangkan moral tolak ukurnya yang digunakan adalah norma-norma yang tumbuh
dan berkembang dan berlangsung di masyarakat. Dengan demikian etika lebih bersifat
pemikiran filosofis dan berada dalam konsep-konsep, sedangkan etika berada dalam
dataran realitas dan muncul dalam tingkah laku yang berkembang di masyarakat.
Dengan demikian tolak ukur yang digunakan dalam moral untuk mengukur tingkah
laku manusia adalah adat istiadat, kebiasaan dan lainnya yang berlaku di masyarakat.
Etika dan moral sama artinya tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit
perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai,
sedangkan etika dipakai untuk pengkajian system nilai yang ada.
Kesadaran moral erta pula hubungannya dengan hati nurani yang dalam bahasa asing
disebut conscience, conscientia, gewissen, geweten, dan bahasa arab disebut dengan
qalb, fu'ad. Dalam kesadaran moral mencakup tiga hal. Pertama, perasaan wajib atau
keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral. Kedua, kesadaran moral dapat
juga berwujud rasional dan objektif, yaitu suatu perbuatan yang secara umumk dapat
diterima oleh masyarakat, sebagai hal yang objektif dan dapat diberlakukan secara
universal, artinya dapat disetujui berlaku pada setiap waktu dan tempat bagi setiap
orang yang berada dalam situasi yang sejenis. Ketiga, kesadaran moral dapat pula
muncul dalam bentuk kebebasan.
Berdasarkan pada uraian diatas, dapat sampai pada suatu kesimpulan, bahwa
moral lebih mengacu kepada suatu nilai atau system hidup yang dilaksanakan atau
diberlakukan oleh masyarakat. Nilai atau sitem hidup tersebut diyakini oleh
masyarakat sebagai yang akan memberikan harapan munculnya kebahagiaan dan
ketentraman. Nilai-nilai tersebut ada yang berkaitan dengan perasaan wajib, rasional,
berlaku umum dan kebebasan. Jika nilai-nilai tersebut telah mendarah daging dalam
diri seseorang, maka akan membentuk kesadaran moralnya sendiri. Orang yang
demikian akan dengan mudah dapat melakukan suatu perbuatan tanpa harus ada
dorongan atau paksaan dari luar.
Adapun arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu
jamak dari kata mos yang berarti adapt kebiasaan. Di dalam kamus umum bahasa
Indonesia dikatan bahwa moral adalah pennetuan baik buruk terhadap perbuatan dan
kelakuan.
Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang
secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk.
Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah yang
digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktifitas manusia dengan nilai
(ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah.
Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan satu dengan lainnya, kita dapat
mengetakan bahwa antara etika dan moral memiki objek yang sama, yaitu sama-sama
membahas tentang perbuatan manusia selanjutnya ditentukan posisinya apakah baik
atau buruk.
Namun demikian dalam beberapa hal antara etika dan moral memiliki
perbedaan. Pertama, kalau dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai
perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio,
sedangkan moral tolak ukurnya yang digunakan adalah norma-norma yang tumbuh
dan berkembang dan berlangsung di masyarakat. Dengan demikian etika lebih bersifat
pemikiran filosofis dan berada dalam konsep-konsep, sedangkan etika berada dalam
dataran realitas dan muncul dalam tingkah laku yang berkembang di masyarakat.

Dengan demikian tolak ukur yang digunakan dalam moral untuk mengukur
tingkah laku manusia adalah adat istiadat, kebiasaan dan lainnya yang berlaku di
masyarakat.

Etika dan moral sama artinya tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit
perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai,
sedangkan etika dipakai untuk pengkajian system nilai yang ada.

Kesadaran moral erta pula hubungannya dengan hati nurani yang dalam
bahasa asing disebut conscience, conscientia, gewissen, geweten, dan bahasa arab
disebut dengan qalb, fu'ad. Dalam kesadaran moral mencakup tiga hal. Pertama,
perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral. Kedua,
kesadaran moral dapat juga berwujud rasional dan objektif, yaitu suatu perbuatan
yang secara umumk dapat diterima oleh masyarakat, sebagai hal yang objektif dan
dapat diberlakukan secara universal, artinya dapat disetujui berlaku pada setiap waktu
dan tempat bagi setiap orang yang berada dalam situasi yang sejenis. Ketiga,
kesadaran moral dapat pula muncul dalam bentuk kebebasan.
Berdasarkan pada uraian diatas, dapat sampai pada suatu kesimpulan, bahwa
moral lebih mengacu kepada suatu nilai atau system hidup yang dilaksanakan atau
diberlakukan oleh masyarakat. Nilai atau sitem hidup tersebut diyakini oleh
masyarakat sebagai yang akan memberikan harapan munculnya kebahagiaan dan
ketentraman. Nilai-nilai tersebut ada yang berkaitan dengan perasaan wajib, rasional,
berlaku umum dan kebebasan. Jika nilai-nilai tersebut telah mendarah daging dalam
diri seseorang, maka akan membentuk kesadaran moralnya sendiri. Orang yang
demikian akan dengan mudah dapat melakukan suatu perbuatan tanpa harus ada
dorongan atau paksaan dari luar.

3. Pengertian Etika

Dari segi etimologi (ilmu asal usul kata), etika berasal dari bahasa Yunani,
ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Dalam kamus umum bahasa Indonesia,
etika diartikan ilmu pengetahuan tentang azaz-azaz akhlak (moral). Dari pengertian
kebahsaan ini terlihat bahwa etika berhubungan dengan upaya menentukan tingkah
laku manusia.
Adapun arti etika dari segi istilah, telah dikemukakan para ahli dengan
ungkapan yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandangnya. Menurut ahmad amin
mengartikan etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan
apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju
oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan
apa yang seharusnya diperbuat. Berikutnya, dalam encyclopedia Britanica, etika
dinyatakan sebagai filsafat moral, yaitu studi yang sitematik mengenai sifat dasar dari
konsep-konsep nilai baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya.
Dari definisi etika tersebut diatas, dapat segera diketahui bahwa etika
berhubungan dengan empat hal sebagai berikut. Pertama, dilihat dari segi objek
pembahasannya, etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan oleh manusia.
Kedua dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat.
Sebagai hasil pemikiran, maka etika tidak bersifat mutlak, absolute dan tidak pula
universal. Ia terbatas, dapat berubah, memiliki kekurangan, kelebihan dan sebagainya.
Selain itu, etika juga memanfaatkan berbagai ilmu yang memebahas perilaku manusia
seperti ilmu antropologi, psikologi, sosiologi, ilmu politik, ilmu ekonomi dan
sebagainya. Ketiga, dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai,
penentu dan penetap terhadap sesuatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia, yaitu
apakah perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina dan
sebagainya. Dengan demikian etika lebih berperan sebagai konseptor terhadap
sejumlah perilaku yang dilaksanakan oleh manusia. Etika lebih mengacu kepada
pengkajian sistem nilai-nilai yang ada. Keempat, dilihat dari segi sifatnya, etika
bersifat relative yakni dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan zaman.
Dengan cirri-cirinya yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan
manusia untuk dikatan baik atau buruk. Berbagai pemikiran yang dikemukakan para
filosof barat mengenai perbuatan baik atau buruk dapat dikelompokkan kepada
pemikiran etika, karena berasal dari hasil berfikir. Dengan demikian etika sifatnya
humanistis dan antroposentris yakni bersifat pada pemikiran manusia dan diarahkan
pada manusia. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang
dihasulkan oleh akal manusia.

Karakteristik Akhlak dalam ajaran Islam

Secara sederhana akhlak Islami dapat diartikan sebagai akhlak yang


berdasarkan ajaran Islam atau akhlak yang bersifat Islami. Kata Islam yang berada di
belakang kata akhlak dalam hal menempati posisi sebagai sifat.

Dengan demikian akhlak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan


mudah, disengaja, mendarah-daging dan sebenarnya yang didasarkan pada ajaran
Islam. Dilihat dari segi sifatnya yang universal, maka akhlak Islami juga bersifat
universal. Namun dalam rangka menjabarkan akhlak islami yang universal ini
diperlukan bantuan pemikiran akal manusia dan kesempatan social yang terkandung
dalam ajaran etika dan moral.

Dengan kata lain akhlak Islami adalah akhlak yang disamping mengakui
adanya nilai-nilai universal sebagai dasar bentuk akhlak, juga mengakui nilai-nilai
bersifat local dan temporal sebagai penjabaran atas nilai-nilai yang universal itu.
Namun demikian, perlu dipertegas disini, bahwa akhlak dalam ajaran agama tidak
dapat disamakan dengan etika atau moral, walaupun etika dan moral itu diperlukan
dalam rangka menjabarkan akhlak yang berdasarkan agama (akhlak Islami). Hal yang
demikian disebabkan karena etika terbatas pada sopan santun antara sesame manusia
saja, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah. Jadi ketika etika digunakan
untuk menjabarkan akhlak Islami, itu tidak berarti akhlak Islami dapat dijabarkan
sepenuhnya oleh etika atau moral.

Ruang lingkup akhlak Islami adalah sama dengan ruang lingkup ajaran Islam
itu sendiri, khususnya yang berkaitan dengan pola hubungan. Akhlak diniah
(agama/Islam) mencakup berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, hingga
kepada sesame makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda
yang tak bernyawa).

Macam-macam Akhlak

Akhlak berasal dari kata “akhlaq” yang merupakan jama’ dari “khulqu” dari bahasa
Arab yang artinya perangai, budi, tabiat dan adab. Akhlak itu terbagi dua yaitu
1. Akhlak yang Mulia atau Akhlak yang Terpuji (Al-Akhlakul Mahmudah)
Akhlak yang mulia yaitu akhlak yang diridai oleh Allah SWT , akhlak yang baik itu
dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan mematuhi
segala perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti ajaran-ajaran dari
sunnah Rasulullah, mencegah diri kita untuk mendekati yang ma’ruf dan menjauhi yang
munkar, seperti firman Allah dalam surat Al-Imran 110 yang artinya “Kamu adalah umat
yang terbaik untuk manusia, menuju kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar
dan beriman kepada Allah”

2. Akhlak yang Buruk atau Akhlak yang Tercela (Al-Ahklakul Mazmumah).


Akhlak yang buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hati,
ujub, dengki, sombong, nifaq (munafik), hasud, suudzaan (berprasangka buruk), dan
penyakit-penyakit hati yang lainnya, akhlak yang buruk dapat mengakibatkan
berbagai macam kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang di sekitarnya
maupun kerusakan lingkungan sekitarnya sebagai contohnya yakni kegagalan dalam
membentuk masyarakat yang berakhlak mulia samalah seperti mengakibatkan
kehancuran pada bumi ini, sebagai mana firman Allah Subhanahu Wataala dalam
Surat Ar-Ruum ayat 41 yang berarti: "Telah timbul pelbagai kerusakan dan bencana
alam di darat dan di laut dengan sebab apa yang telah dilakukan oleb tangan
manusia. (Timbulnya yang demikian) karena Allah hendak merusakan mereka
sebagai dari balasan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan, supaya
mereka kembali (insaf dan bertaubat)".

Ayat-ayat Al-quran

Ayat2 alqur’an tentang akhlak kepada sesama manusia

- Al Ahqaaf : 15
- ‫ص ْينَا‬ ِ ْ ‫سانًا بِ َوا ِل َد ْي َِه‬
َ ‫اْل ْن‬
َّ ‫سانََ َو َو‬ َ ْ‫ضعَتْهَ ك ْرهًا أ ُّمهَ َح َملَتْهَ إِح‬
َ ‫صالهَ َو َح ْملهَ ك ْرهًا َو َو‬ َ ‫َوبَلَ ََغ أَشدَّهَ بَلَ ََغ إِذَا َحتَّى‬
َ ِ‫ش ْه ًرا ث َ ََلثونََ َوف‬
ََ‫سنَ َةً أ َ ْربَعِين‬ َِ ‫ن أ َ ْو ِز ْعنِي َر‬
ََ ‫ب قَا‬
َ ‫ل‬ َْ َ ‫ي أ َ ْنعَ ْمتََ الَّتِي نِ ْع َمت َكََ أ َ ْشك ََر أ‬
ََّ َ‫عل‬
َ ‫علَى‬
َ ‫ي َو‬ َْ َ ‫ل ََوأ‬
ََّ ‫ن َوا ِل َد‬ ََ ‫صا ِل ًحا أ َ ْع َم‬
َ َ‫ضاه‬ ْ َ ‫فِي لِي َوأ‬
َ ‫صلِحَْ ت َْر‬
‫ْالم ْسلِمِ ينََ مِ نََ َوإِنِي إِلَيْكََ تبْتَ إِنِي ذ ِريَّتِي‬
Artinya: “Dan Kami telah perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada ibu-bapaknya.
Ibunya telah mengandungnya dengan kepayahan dan melahirkannya dengan kepayahan
(pula). Dia mengandungnya sampai masa menyapihnya tiga puluh bulan, sehingga apabila
anak itu mencapai dewasa dan mencapai usia empat puluh tahun, dia berkata, “Ya Tuhanku,
berilah aku petunjuk supaya aku mensyukuri nikmatMu yang Engkau anugerahkan kepadaku
dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat mengerjakan amal saleh yang Engkau
meridhainya, dan berilah kebaikan kepadaku (juga) pada keturunanku. Sesungguhnya aku
taubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri
(muslim)”.
Uraian: Ayat ini menyuruh kita untuk berbuat baik kepada orang tua, karena suatu hari nanti
kita pun akan menjadi orang tua yang mana akan memiliki keturunan, maka hendaknya kita
bertaubat dan mensyukuri atas apa yang dianugerahkan Allah SWT pada kita dan selalu
mengerjakan amal sholeh seperti yang telah di perintahkan Allah SWT. Serta tak lupa juga
kita berdoa kepada-Nya, agar kita dan keturunan-keturunan kita selalu diberi kebaikan oleh
Allah.

BEBERAPA CONTOH AKHLAK RASULULLAH S.A.W

Amanah

Tidak diragukan lagi, contoh terbesar adalah memikul Risalah yang


dipercayakan Allah kepadanya untuk didakwahkan. Allah menyuruhnya untuk
melaksanakan tugas itu. Dan Rasulullah memang meyampaikan Risalah
tersebut kepada manusia dengan metode terbaik. Namun baginda juga
harusmenanggung risiko besar sebagai konsekuensi menempuh jalan itu.
Kalau Rasulullah saw mendapat harta rampasan perang, baginda akan
menyuruh Bilal memanggil para tentera sebanyak tiga kali. Bilal akan segera
melakukannya.

Kemudian mereka berkumpul dengam membawa pampasan perang untuk


dibahagi sama rata. Setelah itu, datinglah seorang tentera yang hanya
membawa sehelai tali dari rambut. Ia berkata:”Ya Rasulullah, inilah yang saya
dapatkan dari harta pampasan perang.”

“Apakah kamu mendengar panggilan Bilal sebanyak tiga kali? Tanya


Rasulullah saw. ‘Ya”jawabnya. “Apa yang menghalangimu dating kepadaku
bersama barang itu?’ Tanya Rasulullah saw. Lelaki itu mengemukakan
alasannya. “Saya tidak menerima alasanmu, hingga kamu bersaksi
dihadapanku kelakdi hari kiamat” kata Rasulullah saw. (Musnad Ahmad,jilid
11,hlm,201)

Sifat Pemaaf/Kemampuan Membalas Rasulullah SAW

Tidak lekas marah, pemaaf (walaupun dicaci, ditohmah, dimaki dll)

• Adil dalam pembahagian harta rampasan

• Tidak memarahi orang yang cuba membunuhnya malah menasihati pula.


Cubaan pembunuhan ini berlaku dalam pelbagai cara, antaranya tikam-curi
semasa perang, menghempap batu semasa baginda berjalan dan diberikan
racun dalam daging kambing oleh perempuan Yahudi. (Baginda melarang
sahabatnya membunuh perempuan berkenaan) Pernah disihir oleh lelaki
Yahudi dan atas bantuan Jibril a.s. , sihir berjaya dipulihkan dari sumur
Zarwan. Tidak pernah baginda mengungkit kembali perkara berkenaan
walaupun di hadapan Yahudi berkenaan.
• Pernah baginda dihunuskan pedang dan ditanya "Siapakah yang mencegah
engkau dariku?" dan baginda menjawab "Allah". Maka jatuhlah pedang
tersebut dan baginda mengambilnya dan bersabda "Siapakah yang mencegah
engkau dariku?" Lelaki itu menjawab "Adalah engkau hendaknya sebaik-baik
orang yang mengambil kebajikan" Baginda menjawab "Aku bersaksi bahawa
tiada Tuhan Melainkan Allah dan aku adalah Rasulullah" Lelaki itu menjawab
"Tidak, hanya aku tidak akan memerangimu. Aku tidak akan bersamamu dan
aku tidak akan bersama kaum yang memerangimu"
Lantas Baginda melepaskan lelaki berkenaan dan mendekati sahabat-
sahabatnya dan bersabda : "Aku datang kepada kamu dari orang yang terbaik
antara manusia"

Kemurahan Hati Rasulullah S.A.W

Sayyidina Ali r.a. berkata : "Adalah Nabi SAW manusia yang bermurah
tangan, manusia yang berlapang dada, manusia yang sangat benar
pembicaraan, manusia yang sangat menepati janji, manusia yang teramat
lemah-lembut kelakuan dan manusia yang sangat memuliakan kekeluargaan.
Barangsiapa melihat Nabi SAW dengan tiba-tiba, nescaya takut kepadanya.
Dan barangsiapa bercampur-baur dengan Nabi SAW dengan mengenalnya,
nescaya mencintainya. Orang yang menyifatkan Nabi SAW berkata : "Tidak
pernah aku melihat sebelumnnya dan sesudahnya orang seperti Nabi SAW"

Seorang lelaki telah meminta sesuatu dari baginda dan diberikan seekor
kambing dan lelaki itu kemudiannya mengajak semua rakan-rakan dari
kaumnya memeluk Islam. Baginda tidak pernah berkata "tidak" apabila
diminta sesuatu. Baginda tidak takut kepada kemiskinan.
Baginda diberikan 90,000 dirham dan dibahagi-bahagikannya sehingga habis.
Pernah baginda diminta sesuatu dan baginda tiada apa-apa tetapi demi
memenuhi kehendak si peminta, Baginda SAW menyuruhnya membeli secara
berhutang atas nama baginda dan baginda berjanji untuk melunaskannya.
Keberanian Rasulullah S.A.W

Sayyidina Ali r.a. berkata "Sesungguhnya engkau melihat aku pada hari
Perang Badar. Kami berlindung dengan Nabi SAW dan baginda yang paling
terdekat kepada musuh dari kami. Dan baginda pada hari itu di antara manusia
yang sangat perkasa" ‘Imran bin Husain berkata : "Tiada Rasulullah SAW
menemui suatu kumpulan tentera, melainkan beliaulah orang yang pertama
memukulnya"

Para sahabat berkata bahawa Nabi SAW sangat kuat pukulannya. Tatkala
baginda dikepung oleh kamu musyrik, baginda turun dari kudanya lantas
berkata "Aku ini Nabi, tidak dusta. Aku ini Putera Abdul Mutalib"

Kerendahan diri Rasulullah SAW

Baginda SAW tidak pernah menghampakan jemputan sesiapa jua samada


orang sakit, menghantar jenazah atau makan bersama-sama dengan
hamba/sahaya. Baginda berpakaian ringkas. Baginda membenci perbuatan
orang berdiri hormat apabila baginda lalu.
Baginda suka memberikan salam kepada anak-anak kecil/muda. Seorang
lelaki yang gementar melihat wajah baginda terus ditenteramkan oleh baginda
dengan bersabda "Permudahkan (urusan) mu, aku bukannya raja. Aku hanya
putera, seorang perempuan Quraisy, yang memakan daging kering"

Baginda sentiasa duduk bersama-sama dengan sahabatnya dan tidak pernah


membeza-bezakan sesiapapun di antara sahabatnya walaupun baru
dikenalinya. Baginda SAW begitu gemar berbual-bual mengenai pelbagai
sabjek dari perkara-perkara bersabit akhirat hinggalah dunia. Kadangkala
baginda hanya tersenyum apabila para sahabatnya membaca syair atau
bergurau tetapi segera melarang jika berlaku perkara-perkara haram.

Adab makan baginda juga jelas menunjukkan rasa kerendahan dirinya. Tidak
suka bersandar walaupun pernah disuruh Sayyidina Ali r.a. dan tidak pernah
bermeja ketika makan – makan cara hamba/sahaya.