Anda di halaman 1dari 25

ASUHA KEPERAWATAN DENGAN GLOMERULUS NEFROTIS AKUT

Oleh :

Nira Santi (13620867)

Rizka Novia Rahmawati (13620879)

Zaki Naufal Faliq (13620896)

PRODI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS KADIRI

2016
BAB I

LANDASAN TEORI
1. Defenisi

Glomerulo Nefritis adalah gangguan pada ginjal yang ditandai dengan peradangan pada kapiler glomerulus yang fungsinya sebagai filtrasi
cairan tubuh dan sisa-sisa pembuangan. (Suriadi, dkk, 2001)

Glomerulo Nefritis adalah sindrom yang ditandai oleh peradangan dari glomerulus diikuti pembentukan beberapa antigen. (Engran,
Barbara, 1999)

Glomerulo Nefritis Akut (GNA) adalah suatu reaksi imunologis ginjal terhadap bakteri / virus tertentu. (Ngastiyah, 2005)

Glomerulo Nefritis Akut (GNA) adalah istilah yang secara luas digunakan yang mengacu pada sekelompok penyakit ginjal dimana
inflamasi terjadi di glomerulus. (Brunner & Suddarth, 2001)

Glomerulo Nefritis Akut (GNA) adalah bentuk nefritis yang paling sering pada masa kanak-kanak dimana yang menjadi penyebab spesifik
adalah infeksi streptokokus. (Sacharin, Rosa M, 1999)

2. Etiologi
Penyakit ini ditemukan pada semua usia, tetapi sering terjadi pada usia awal sekolah dan jarang pada anak yang lebih muda dari 2

tahun, lebih banyak pria dari pada wanita (2 : 1). Timbulnya GNA didahului oleh infeksi ekstra renal, terutama di traktus respiratorius

bagian atas dan kulit oleh kuman streptokokkus beta hemolitikus gol A. Faktor lain yang dapat menyebabkan adalah faktor iklim,

keadaan gizi, keadaan umum dan faktor alergi.

3. Patofisiologis

Sebenarnya bukan sterptokokus yang menyebabkan kerusakan pada ginjal. Diduga terdapat suatu antibodi yang ditujukan

terhadap suatu antigen khsus yang merupakan unsur membran plasma sterptokokal spesifik. Terbentuk kompleks antigen-antibodi
didalam darah dan bersirkulasi kedalam glomerulus tempat kompleks tersebut secara mekanis terperangkap dalam membran

basalis.selanjutnya komplomen akan terfiksasi mengakibatkan lesi dan peradangan yang menarik leukosit polimorfonuklear (PMN)

dan trombosit menuju tempat lesi, yang kemudian terbentuk jaringan parut dan kehilangan permukaan penyaring.

Fagositosis dan pelepasan enzim lisosom juga merusak endothel dan membran basalis glomerulus (IGBM). Sebagai respon

terhadap lesi yang terjadi, timbu proliferasi sel-sel endotel yang diikuti sel-sel mesangium dan selanjutnya sel-sel epitel. Semakin

meningkatnya kebocoran kapiler gromelurus menyebabkan protein dan sel darah merah dapat keluar ke dalam urine yang sedang

dibentuk oleh ginjal, mengakibatkan proteinuria dan hematuria. Agaknya kompleks komplomen antigen-antibodi inilah yang terlihat

sebagai nodul-nodul subepitel pada mikroskop elektron dan sebagai bentuk granular dan berbungkah-bungkah pada mikroskop

imunofluoresensi, pada pemeriksaan cahaya glomerulus tampak membengkak dan hiperseluler disertai invasi PMN.

4. Manifestasi Klinis

a. Sakit kepala

b. Malaise

c. Edema

d. Proteinuria

e. Hematuria

f. Oliguria

g. Anoreksia
h. Kadang-kadang demam

i. Mual

j. Muntah

k. Nyeri panggul

l. Hipertensi

5. Komplikasi

a. Gagal ginjal akut & kronik

b. Hipertensi ensefalopati yang merupakan gejala serebrum karena hipertensi. Terdapat gejala berupa gangguan penglihatan, pusing,

muntah dan kejang-kejang. Ini disebabkan spasme pembuluh darah lokal dengan anoksia dan edema otak.

c. Gagal jantung kongestif

d. Edema pulmoner

e. Gangguan sirkulasi berupa dispne, ortopne, terdapatnya ronki basah, pembesaran jantung dan meningginya tekanand arah yang bukan

saja disebabkan spasme pembuluh darah, melainkan juga disebabkan oleh bertambahnya volume plasma.

f. Jantung dapat membesar dan terjadi gagal jantung akibat hipertensi yang menetap dan kelainan di miokardium.

g. Anemia yang timbul karena adanya hipervolemia di samping sintesis eritropoetik yang menurun.

6. Pemeriksaan Penunjang

a. Urinalisis menunjukkan adanya proteinuria (+1 sampai +4),


b. Hematuria makroskopik ditemukan hampir pada 50% penderita

c. Kelainan sedimen urine dengan eritrosit disformik

d. Leukosituria serta torak selulet

e. Granular

f. Eritrosit(++)

g. Albumin (+)

h. Silinder lekosit (+).

i. Kadang-kadang kadar ureum dan kreatinin serum meningkat dengan tanda gagal ginjal seperti hiperkalemia, asidosis, hiperfosfatemia

dan hipokalsemia.

j. Kadang-kadang tampak adanya proteinuria masif dengan gejala sindroma nefrotik. Komplomen hemolitik total serum (total hemolytic

comploment) dan C3 rendah pada hampir semua pasien dalam minggu pertama, tetapi C4 normal atau hanya menurun sedikit,

sedangkan kadar properdin menurun pada 50% pasien. Keadaan tersebut menunjukkan aktivasi jalur alternatif komplomen.

7. Penatalaksanaan

Tujuan penatalaksanaan adalah untuk melindungi fungsi ginjal dan menangani komplikasi dengan tepat.

a. Medis
1) Pemberian penisilin pada fase akut. Pemberian antibiotika ini tidak mempengaruhi beratnya glomerulonefritis, melainkan mengurangi

menyebarnya infeksi Streptococcus yang mungkin masih, dapat dikombinasi dengan amoksislin 50 mg/kg BB dibagi 3 dosis selama

10 hari. Jika alergi terhadap golongan penisilin, diganti dengan eritromisin 30 mg/kg BB/hari dibagi 3 dosis.

2) Pengobatan terhadap hipertensi. Pemberian cairan dikurangi, pemberian sedativa untuk menenangkan penderita sehingga dapat cukup

beristirahat. Pada hipertensi dengan gejala serebral diberikan reserpin dan hidralazin. Mula-mula diberikan reserpin sebanyak 0,07

mg/kgbb secara intramuskular. Bila terjadi diuresis 5-10 jam kemudian, maka selanjutnya reserpin diberikan peroral dengan dosis

rumat, 0,03 mg/kgbb/hari. Magnesium sulfat parenteral tidak dianjurkan lagi karena memberi efek toksis.

3) Pemberian furosemid (Lasix) secara intravena (1 mg/kgbb/kali) dalam 5-10 menit tidak berakibat buruk pada hemodinamika ginjal

dan filtrasi glomerulus

4) Bila timbul gagal jantung, maka diberikan digitalis, sedativa dan oksigen.

b. Keperawatan

1) Istirahat mutlak selama 3-4 minggu. Dulu dianjurkan istirahat mutlah selama 6-8 minggu untuk memberi kesempatan pada ginjal

untuk menyembuh. Tetapi penyelidikan terakhir menunjukkan bahwa mobilisasi penderita sesudah 3-4 minggu dari mulai timbulnya

penyakit tidak berakibat buruk terhadap perjalanan penyakitnya.

2) Pada fase akut diberikan makanan rendah protein (1 g/kgbb/hari) dan rendah garam (1 g/hari). Makanan lunak diberikan pada

penderita dengan suhu tinggi dan makanan biasa bila suhu telah normal kembali.
3) Bila ada anuria atau muntah, maka diberikan IVFD dengan larutan glukosa 10%. Pada penderita tanpa komplikasi pemberian cairan

disesuaikan dengan kebutuhan

4) Bila ada komplikasi seperti gagal jantung, edema, hipertensi dan oliguria, maka jumlah cairan yang diberikan harus dibatasi.
BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 Demografi

Nama : An. A ------------------------------------, Nama ayah : Tn. S

Umur/ Pendidikan : 8 tahun / MI kelas 2 ---------, Umur : 37 tahun

Jenis kelamin : Perempuan -----------------------, Pendidikan : SLTA

Alamat : GKGA Kedunganyar Gresik -----------, Pekerjaan : Karyawan

Masuk RS : ------------------ ------------------, Nama ibu : Ny. N / 38 tahun

No. CM : ---------------------------------------, Pendidikan : SLTP

Tgl. Diperiksa :---------------------------------- , Pekerjaan : ibu rumah tangga

2.2 Pengkajian

Pengkajian Anamnesis
2. Riwayat penyakit
Sebelumnya :
Adanya riwayat infeksi streptokokus beta hemolitik dan riwayat lupus eritematosus atau penyakit autoimun lain.
Sekarang :
Klien mengeluh kencing berwarna seperti cucian daging, bengkak sekitar mata dan seluruh tubuh. Tidak nafsu makan, mual , muntah
dan diare. Badan panas hanya sutu hari pertama sakit.
3. Pertumbuhan dan perkembangan :
Ø Pertumbuhan :
BB = 9x7-5/2=29 kg , menurut anak umur 9 tahun BB nya adalah BB umur 6 tahun = 20 kg ditambah 5-7 lb pertahun = 26 - 29 kg,
tinggi badan anak 138 cm. Nadi 80—100x/menit, dan RR 18-20x/menit, tekanan darah 65-108/60-68 mm Hg. Kebutuhan kalori 70-
80 kal/kgBB/hari. Gigi pemanen pertama /molar, umur 6-7 tahun gigi susu mulai lepas, pada umur 10—11 tahun jumlah gigi
permanen 10-11 buah.
Ø Perkembangan :
Psikososial : Anak pada tugas perkembangan industri X inferioritas, dapat menyelesaikan tugas menghasilkan sesuatu.

b. Pemeriksaan Fisik
1. Aktivitas/istirahat
- Gejala: kelemahan/malaise
- Tanda: kelemahan otot, kehilangan tonus otot

2. Sirkulasi
- Tanda: hipertensi, pucat,edema
3. Eliminasi
- Gejala: perubahan pola berkemih (oliguri)
- Tanda: Perubahan warna urine (kuning pekat, merah)
4. Makanan/cairan
- Gejala: (edema), anoreksia, mual, muntah
- Tanda: penurunan keluaran urine
5. Pernafasan
- Gejala: nafas pendek
- Tanda: Takipnea, dispnea, peningkatan frekwensi, kedalaman (pernafasan kusmaul)
6. Nyeri/kenyamanan
- Gejala: nyeri pinggang, sakit kepala
- Tanda: perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah

c. Pengkajian Perpola
a. Pola nutrisi dan metabolik:
Suhu badan normal hanya panas hari pertama sakit. Dapat terjadi kelebihan beban sirkulasi karena adanya retensi natrium dan air,
edema pada sekitar mata dan seluruh tubuh. Klien mudah mengalami infeksi karena adanya depresi sistem imun. Adanya mual ,
muntah dan anoreksia menyebabkan intake nutrisi yang tidak adekuat. BB meningkat karena adanya edema. Perlukaan pada kulit
dapat terjadi karena uremia.
b. Pola eliminasi :
Eliminasi alvi tidak ada gangguan, eliminasi urin : gangguan pada glumerulus menyebakan sisa-sisa metabolisme tidak dapat
diekskresi dan terjadi penyerapan kembali air dan natrium pada tubulus yang tidak mengalami gangguan yang menyebabkan oliguria
sampai anuria, proteinuri, hematuria.

c. Pola Aktifitas dan latihan :


Pada Klien dengan kelemahan malaise, kelemahan otot dan kehilangan tonus karena adanya hiperkalemia. Dalam perawatan klien
perlu istirahat karena adanya kelainan jantung dan dan tekanan darah mutlak selama 2 minggu dan mobilisasi duduk dimulai bila
tekanan ddarah sudah normaal selama 1 minggu. Adanya edema paru maka pada inspeksi terlihat retraksi dada, pengggunaan otot
bantu napas, teraba , auskultasi terdengar rales dan krekels , pasien mengeluh sesak, frekuensi napas. Kelebihan beban sirkulasi
dapat menyebabkan pemmbesaran jantung (Dispnea, ortopnea dan pasien terlihat lemah) , anemia dan hipertensi yang juga
disebabkan oleh spasme pembuluh darah. Hipertensi yang menetap dapat menyebabkan gagal jantung. Hipertensi ensefalopati
merupakan gejala serebrum karena hipertensi dengan gejala penglihatan kabur, pusing, muntah, dan kejang-kejang. GNA munculnya
tiba-tiba orang tua tidak mengetahui penyebab dan penanganan penyakit ini.
d. Pola tidur dan istirahat :
Klien tidak dapat tidur terlentang karena sesak dan gatal karena adanya uremia. keletihan, kelemahan malaise, kelemahan otot dan
kehilangan tonus
e. Kognitif & perseptual :
Peningkatan ureum darah menyebabkan kulit bersisik kasar dan rasa gatal. Gangguan penglihatan dapat terjadi apabila terjadi
ensefalopati hipertensi. Hipertemi terjadi pada hari pertama sakit dan ditemukan bila ada infeksi karena inumnitas yang menurun.
f. Persepsi diri :
Klien cemas dan takut karena urinenya berwarna merah dan edema dan perawatan yang lama. Anak berharap dapat sembuh kembali
seperti semula
g. Hubungan peran :
Anak tidak dibesuk oleh teman – temannya karena jauh dan lingkungan perawatann yang baru serta kondisi kritis menyebabkan anak
banyak diam.
h. Nilai keyakinan : Klien berdoa memohon kesembuhan sebelum tidur.

d. Pemeriksaan Diagnostik
Pada laboratorium didapatkan:
- Hb menurun ( 8-11 )
- Ureum dan serum kreatinin meningkat.
( Ureum : Laki-laki = 8,84-24,7 mmol/24jam atau 1-2,8 mg/24jam, wanita = 7,9-14,1 mmol/24jam atau 0,9-1,6 mg/24jam, Sedangkan
Serum kreatinin : Laki-laki = 55-123 mikromol/L atau 0,6-1,4 mg/dl, wanita = 44-106 mikromol/L atau 0,5-1,2 mg/dl ).
- Elektrolit serum (natrium meningkat, normalnya 1100 g)
- Urinalisis (BJ. Urine meningkat : 1,015-1,025 , albumin , Eritrosit , leukosit )
- Pada rontgen: IVP abnormalitas pada sistem penampungan (Ductus koligentes)
- Pemeriksaan darah
LED meningkat.
Kadar HB menurun.
Albumin serum menurun (++).
Ureum & kreatinin meningkat.
Titer anti streptolisin meningkat.
2. Perencanaan keperawatan

3. . DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan urine
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia dan penurunan kebutuhan metabolik
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema dan menurunnya tingkat antivitas
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan fatigue (kelelahan) dan tirah baring.
5. Nyeri akut (sakit kepala dan pusing) berhubugan dengan gangguan perfusi darah otak sekunder terhadap hipertensi.
6. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan.
4. Intervensi

No. Dx Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


1. 1.Kelebihan volume Tujuan: Status cairan pasien 1. Monitor intake dan
dapat dipertahankan secara
cairan berhubungan output
seimbang.
dengan penurunan urine 2. Kaji edema
Kriteria hasil:
3. Timbang berat badan
a. Pengeluaran urine 1- 4. Monitor tekanan
2 ml/KgBB/jam
darah setiap 4 jam
b. Tekanan darah 5. Pembatasan cairan
dalam batas normal
dan sodium sesuai
c. Tidak ada edema program

d. Berat jenis urine


normal

e. Berat badan stabil

2. Ketidakseimbangan Tujuan: Pasien dapat Kaji membran mukosa dan 1.


mempertahankan intake turgor kulit setiap hari untuk
nutrisi kurang dari
(masukan) yang adekuat monitor hidrasi
kebutuhan tubuh
Kriteria hasil: Pertahankan pembatasan
berhubungan dengan
sodium dan cairan sesuai
anoreksia dan penurunan a. Stamina program pemeriksaan
kebutuhan metabolik b. Tenaga protein sesuai program.

c.Kekuatan Makanan dengan rendah


menggenggam protein.

d. Daya tahan tubuh . Memilih posisi saat makan


yang sesuai dengan
keinginan anak.

3. . Kerusakan integritas Tujuan: keutuhan kulit a. Kaji edema dan


pasien dapat dipertahankan tinggikan ekstremitas
kulit berhubungan
jika “pitting” edema
dengan edema dan Kriteria Hasil: ada.
menurunnya tingkat
a. Integritas kulit yang b. Kaji tanda dan
antivitas baik bisa gejala potensial
dipertahankan atau aktual
(sensasi, elastisitas, kerusakan kulit.
temperatur, hidrasi,
pigmentasi) c.Pertahankan
kebersihan
b. Tidak ada luka atau perseorangan:
lesi pada kulit mandi setiap hari,
penggunaan
c. Perfusi jaringan baik pelembab kulit
dan ganti tenun
d. Mampu melindungi setiap hari.
kulit dan
mempertahankan d. Rubah posisi setiap
kelembapan kulit 2 jam jika
serta perawatan
alami memungkinkan.

e. Penggunaan matras
yang lembut.

4 .Intoleransi aktivitas Tujuan:Kebutuhan a. Kaji pola


istirahat pasien terpenuhi
berhubungan dengan aktivitas dan tidur
fatigue (kelelahan) dan Kriteria Hasil: selama
tirah baring. hospitalisasi
a. Istirahat dan
aktivitas seimbang
b. Tirah baring selama
b. Tidur siang 2-3 minggu

c.Mengetahui c.Atur jadwal aktivitas


keterbatasan yang tidak
energinya menyebabkan
gangguan istirahat
d.Mengubah gaya tidur.
hidup untuk
mengurangi resiko. d. Berikan aktivitas
bermain yang
sesuai dengan
tingkat energi
anak

e. Bantu anak untuk


mengidentifikasi
aktivitas yang
disukai

5 Nyeri akut (sakit kepala Tujuan: Rasa nyeri (sakit a.Kaji secara
kepala dan pusing) pasien komprehensif
dan pusing) berhubugan
berkurang tentang nyeri
dengan gangguan perfusi (lokasi,
Kriteria Hasil: karakteristik, dan
darah otak sekunder
onset, durasi,
terhadap hipertensi. a. Mengenali faktor frekuensi, kualitas,
penyebab intensitas dan
beratnya nyeri).
b.Menggunakan
metode b. Observasi isyarat-
pencegahan isyarat non verbal
dan
c. Mengenali gejala- ketidaknyamanan
gejala nyeri
c. Ajarkan teknik non
d. Mencari bantuan farmakologi
tenaga kesehatan (relaksasi, terapi
bermain, terapi
aktivitas)

d. Beri dukungan
terhadap pasien
dan keluarga

e. Anjurkan istirahat
yang cukup.

6 . Cemas berhubungan Tujuan: Kecemasan pasien a. Kaji tanda dan


dan orang tua menurun gejala kecemasan
dengan kurangnya
pengetahuan. Kriteria Hasil: b. Ajarkan untuk
mengekspresikan
a.Memonitor intensitas perasaan dan
kecemasan jawab pertanyaan
dengan jelas dan
b.Menurunkan jujur.
stimulasi
lingkungan ketika c. Jelaskan kepada
cemas keluarga mengenai
pengetahuan
c. Mencari informasi tentang penyakit
lingkungan ketika anak dan rencana
cemas pengobatannya.

d. Merencanakan d. Ajarkan dan ijinkan


strategi koping orang tua untuk
berpartisipasi
dalam perawatan
anak.

e. Libatkan anak
dalam aktivitas
permainan yang
sesuai dengan
kondisi dan usia.
5. Pelaksanaan

Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama

pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan

kesehatan klien.

6. Evaluasi

a. Intake dan output cairan seimbang.

b. Tidak ada udema.

c. Tanda-tanda vital: TD: 120/80 mmHg, RR: 20 X/m, HR: 80 X/mt, suhu: 367o C.

d. Kadar elektrolit darah normal.

e. Tidak ada mual, muntah.

f. Pasien dapat menghabiskan porsi makanan yang dihidangkan.

g. Tidak ada gatal-gatal dan lecet pada kulit.

h. Tahan terhadap aktivitas tanpa ada kelelahan.

6. Penkes

a. Instruksikan pada pasien mencakup penjelasan dan penjadwalan evaluasi tindak lanjut terhadap tekanan darah, tindakan urinalisis

untuk protein, dan kadar BUN serta kreatinin untuk menentukan perkembangan penyakit.
b. Pasien diinstruksikan untuk member tahu dokter jika gejala gagal ginjal terjadi (seperti: keletihan, mual, muntah, haluaran urine

berkurang).
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Glomerunefritis merupakan penyakit perdangan ginjal bilateral. Glomerulonefritis akut paling lazim terjadi pada anak-anak 3

sampai 7 tahun meskipun orang dewasa muda dan remaja dapat juga terserang , perbandingan penyakit ini pada pria dan wnita 2:1.

GNA ialah suatu reaksi imunologis pada ginjal terhadap bakteri atau virus tertentu.Yang sering terjadi ialah akibat infeksi2.

tidak semua infeksi streptokokus akan menjadi glomerulonefritis, hanya beberapa tipe saja. Timbulnya GNA didahului oleh infeksi

ekstra renal, terutama di traktus respirotorius bagian kulit oleh kuman streptokokus beta hemolitikus golongan A tipe 12, 4, 16, 25 dan

49. dari tipe tersebut diatas tipe 12 dan 25 lebih bersifat nefritogen disbanding yang lain. Mengapa tipe tersebut lebih nefritogen dari

pada yang lain tidak di ketahui.

Gejala-gejala umum yang berkaitan dengan permulaan penyakit adalah rasa lelah, anoreksia dan kadang demam,sakit kepala,

mual, muntah. Gambaran yang paling sering ditemukan adalah :hematuria, oliguria,edema,hipertensi.

Tujuan utama dalam penatalaksanaan glomerulonefritis adalah untuk Meminimalkan kerusakan pada glomerulus, Meminimalkan

metabolisme pada ginjal, Meningkatkan fungsi ginjal.


Tidak ada pengobatan khusus yang mempengaruhi penyembuhan kelainan glomerulus. Pemberian pinisilin untuk membrantas

semua sisa infeksi,tirah baring selama stadium akut, diet bebas bila terjadi edema atau gejala gagal jantung danantihipertensi kalau

perlu,sementara kortikosteroid tidak mempunyai efek pada glomerulofritis akut pasca infeksi strepkokus.

B. Saran

1. Bagi Klien dan keluarga

a) Dapat mengenal gejala Glomerulonefritis Akut sedini mungkin

b) Mengetahui tindakan pencegahan terhadap penyakit Glomerulonefritis Akut

c) Segera berobat ke fasilitas kesehatan terdekat

2. Bagi perawat

a) Terus belajar tentang konsep penyakit dan asuhan keperawatan Glomerulonefritis Akut sehingga dapat memberikan pelayanan

keperawatan secara profesional kepada klien.

3. Bagi institusi / lembaga

a) Memberikan bimbingan dan latihan kepada mahasiswa tentang penulisan karya tulis dalam bentuk penugasan.

b) Menerapkan budaya membaca dikalangan mahasiswa di kampus.

c) Menyiapkan fasilitas yang memadai terutama buku-buku yang berhubungan dengan kesehatan atau keperawatan.

4. Bagi mahasiswa
a) Belajar terus-menerus dengan banyak membaca di perpustakaan, latihan menulis karya tulis sederhana sesuai dengan teori yang

diberikan oleh dosen.


DAFTAR PUSTAKA

Arvin , Behrman Klirgman.2000.Ilmu Kesehatan Anak.,Jakarta : EGC

Betz Cecily L., Sowden Linda A. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri, Ed. 5. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Corwin, Elizabeth.J.2007.Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta EGC.

Lumenta, Nico A., dkk. 2006. Kenali Jenis Penyakit dan Cara Penyembuhanya Manajemen Hidup Sehat.Jakarta: Gramedia

Marylin E. Doengoes, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien

Edisi 3. Jakarta: Peneribit Buku Kedokteran EGC.

Nelson.2000. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: EGC

Nettina, Sandra M. (2001). Pedoman Praktik Keperawatan.Jakarta: EGC

Price, Sylvia,dkk. (2005). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta EGC

Smeltzer and Brenda. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Brunner and Suddarth edisi 8 volume 2, Jakarta: EGC

Tucker, S.M, et all .1998. Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, diagnosis dan evaluasi , Edisi V. Jakarta: Buku Kedokteran

EGC