Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH VISKOMETER BOLA JATUH

Oleh :

AKADEMI FARMASI SARASWATI DENPASAR


2017/1018
Kata Pengantar

1
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat dan rahmat
beliau, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini
yang berjudul viskometer bola jatuh.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah


pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami
dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman


yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada
para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat
membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Denpasar, oktober 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata pengantar
Daftar isi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.2 Rumusan masalah
1.3 Tujuan
1.4 Manfaat
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian viscometer bola jatuh
2.2 Prinsip kerja viscometer bola jatuh
2.3 Contoh soal viscometer bola jatuh
2.4 Gambar alat viscometer bola jatuh
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I

3
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Suatu zat memiliki kemampuan tertentu sehingga suatu
padatan yang dimasukkan kedalamnya mendapat gaya
tekanan yang diakibatkan peristiwa gesekan antara permukaan
padatan tersebut dengan zat cair. Sebagai contoh, apabila kita
memasukkan sebuah bola kecil kedalam zat cair, terlihatlah
batu tersebut mula-mula turun dengan cepat kemudian
melambat hingga akhirnya sampai didasar zat cair. Bola kecil
tersebut pada saat tertentu mengalami sejumlah perlambatan
hingga mencapai gerak lurus beraturan. Gerakan bola kecil
menjelaskan bahwa adanya suatu kemampuan yang dimiliki
suatu zat cair sehingga kecepatan bola berubah. Mula-mula
akan mengalami percepatan yang dikarenakan gaya beratnya
tetapi dengan sifat kekentalan cairan maka besarnya
percepatannya akan semakin berkurang dan akhirnya nol.
Pada saat tersebut kecepatan bola tetap dan disebut
kecepatan terminal. Hambatan-hambatan dinamakan sebagai
kekentalan (viskositas). Akibaat viskositas zat cair itulah yang
menyebabkan terjadinya perubahan yang cukup drastis
terhadap kecepatan batu.
Kekentalan adalah suatu sifat cairan yang berhubungan
erat dengan hambatan untuk mengalir, dimana makin tinggi
kekentalan maka makin besar hambatannya. Kekentalan
didefenisikan sebagai gaya yang diperlukan untuk
menggerakkan secara berkesinambungan suatu permukaan
datar melewati permukaan datar lain dalam kondisi mapan
tertentu bila ruang diantara permukaan tersebut diisi dengan
cairan yang akan ditentukan kekentalannya. Satuan dasar
yang digunakan adalah poise (1 poise = 100 sentipoise).
Penentuan viskositas suatu fluida itu baik atau tidak dapat
ditinjau dari berbagai aspek antara lain: temperatur, tekanan,
laju perpindah dan momentum molekul air. [ CITATION
mau10 \l 1033 ]
Pengukuran tingkat kekentalan zat cair yang paling umum
dan paling sederhana yang kita ketahui adalah dengan
menggunakan konsep hokum stokes. Pengukuran viskositas zat
cair dengan hokum Stokes atau sering disebut dengan Falling
Ball Viskometer menggunakan konsep perhitungan waktu yang
dibutuhkan suatu bola dengan diameter tertentu yang
melewati sampel zat cair yang akan diukur viskositasnya pada
jarak tertentu. Selama ini, eksperimen menentukan viskositas
zat cair dengan hokum Stokes masih menggunakan cara
manual, yaitu perhitungan waktu masih mengandalkan
penglihatan manusia dan stopwatch. Pada proses tersebut,
human error masih menjadi permasalahan pada keakuratan
hasil eksperimen, antara lain pada penentuan waktu awal bola
memasuki tabung sampel dan waktu akhir bola mencapai

4
dasar tabung. Dengan demikian, dibutuhkan alat ukur
sederhana yang dapat mengatasi kekurangan ini.
Salah satu alat yang sering digunakan untuk mengukur
nilai kekentalan suatu fluida adalah Viskometer. Viskometer
merupakan alat untuk menghitung nilai viskositas atau
kekentalan suatu fluida. Dalam pembuatan alat viskometer
ditujukan untuk memperoleh waktu agar diperoleh nilai
viskositas dari suatu fluida dan material benda yang diujikan.
[ CITATION Rid11 \l 1033 ]

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah pada makalah ini, diantaranya :
1. Apakah pengertian dari viskometer bola jatuh ?
2. Bagaimana prinsip kerja viskometer bola jatuh ?
3. Rumus dan contoh soal dari viskometer bola jatuh ?
4. Bagaimana interpretasi hasil sehingga didapatkan nilai
viskositas zat yang akan diukur ?
5. Bagaimana gambar viscometer bola jatuh?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pada makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian dari viscometer bola jatuh
2. Untuk mengetahui prinsip kerja dari viscometer bola jatuh
3. Untuk mengetahui rumus dan contoh soal dari viskositas bola
jatuh
4. Untuk mengetahui gambar viscometer bola jatuh
5. Untuk mengetahui interpretasi hasil sehingga didapatkan
nilai viskositas zat yang akan diukur

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Memberikan pemahaman mengenai viscometer bola jatuh,
prinsip kerja dan contoh soal serta cara menyelesaikannya

5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Viskometer bola jatuh
Viskometer bola jatuh merupakan viskosimeter satu titik yang digunakan unt
uk menentukan viskosita cairan newton. Viskosmeter ini bekerja pada satu titik
kecepatan geser, sehingga hanya dihasilkan satu titik pada rheogram. Pada viskometer ini
sampel dan bola diletakkan dalam tabung gelas dan dibiarkan mencapai temperatur
keseimbangan dengan air yang berada dalam jaket di sekelilingnya pada temperatur
konstan. Tabung dan jaket air tersebut kemudian dibalik, yang akan menyebabkan bola
berada pada puncak tabung gelas dalam. Waktu bagi bola tersebut untuk jatuh antara
dua tanda diukur dengan teliti dan diulangi beberapa kali

2.2 Prinsip kerja viskometer bola jatuh


1. Viskometer bola Jatuh
Ada 2 macam prinsip viskometer bola jatuh, diantaranya:
a. Viskometer bola jatuh menurut Stokes
Jika sebuah benda yang bergerak jatuh didalam fluida, ada
tiga macam gaya yang bekerja, yaitu:
 Gaya gravitasi atau gaya berat (W). Gaya inilah yang
menyebabkan benda bergerak ke bawah dengan suatu
percepatan.
 Gaya apung (buoyant force) atau gaya Archimedes (B). Arah
gaya ini keatas dan besarnya sama dengan berat fluida yang
dipindahkan oleh benda itu.
 Gaya gesek (Frictional force) Fg. Arahnya keatas dan
besarnya seperti yang dinyatakan oleh persamaan :

Dimana K adalah kontanta, dan V adalah kecepatan benda.


Benda yang jatuh mempunyai kecepatan yang makin lama makin
besar, tetapi dalam medium ada gaya gesek yang makin besar

6
bila kecepatan benda jatuh makin besar. Benda yang bentuknya
tidak beraturan dan rumit serta besar akan menghasilkan harga k
yang besar.
Fluida yang viskositasnya besar akan menghasilkan harga k
yang besar pula. Untuk benda yang berbentuk bola dengan jari-
jari R dan fluida dengan viskositas � besarnya k dapat dinyatakan
sebagai berikut

Hubungan ini diberikan oleh Stokes dan berlaku untuk aliran


fluida yang laminer. Jika kedua rumus digabungkan, maka akan
diperoleh gaya gesek :

Alat ini terdiri dari sebuah tabung yang di bagian dinding


luarnya diselubungi dengan air agar suhu di dalamnya konstan.
Digunakan untuk menentukan Viskositas cairan yang kental tetapi
yang tembus cahaya agar dapat mengamati jatuhnya bola besi
sampai ke dasar tabung. Menurut hokum Stokes:

Dimana:
� = Viskositas (centipoise)
g = Gravitasi (m/s2)
V = Kecepatan bola (m/s)
γ = Massa jenis bola (kg/m3)
γ1 = Massa jenis zat cair (kg/m3)
Prinsip kerja dari viskometer bola jatuh menurut Stokes
adalah jika sebuah benda berbentuk bola dijatuhkan ke dalam
fluida kental, misalnya kelereng dijatuhkan ke dalam minyak
dalam sebuah tabung, nampak mula-mula kelereng bergerak
dipercepat. Tetapi beberapa saat setelah menempuh jarak cukup
jauh, nampak kelereng bergerak dengan kecepatan konstan
(bergerak lurus beraturan). Ini berarti bahwa di samping gaya
berat dan gaya apung zat cair masih ada gaya lain yang bekerja
pada kelereng tersebut, yaitu gaya gesekan yang disebabkan oleh
kekentalan fluida. Semakin besar koefisien kekentalan suatu fluida
maka semakin besar gaya gesek yang ditimbulkan oleh fluida.
Viskositas juga dipengaruhi oleh perubahan suhu. Apabila suhu
naik maka viskositas menjadi turun atau sebaliknya.

7
Gambar 2 Viskometer bola jatuh yang memenuhi hukum
Stokes

b. Viskometer bola jatuh menurut Hoppler

Gambar 3. Viskometer bola jatuh menurut Hoppler


Viskometer bola jatuh menurut Hoeppler dapat dilihat pada
gambar diatas. Pada viskometer ini yang diukur adalah waktu
yang dibutuhkan oleh sebuah bola logam untuk melewati cairan
setinggi tertentu. Suatu benda karena adanya gravitasi akan jatuh
melalui medium yang berviskositas (seperti cairan misalnya),
dengan kecepatan yang semakin besar sampai mencapai
kecepatan maksimum. Kecepatan maksimum akan tercapai bila
gravitasi sama dengan fictional resistance medium (Bird, 1993).

8
Salah satu keuntungan viskometer bola jatuh menurut
Hoeppler dibandingkan dengan menurut hukum Stokes adalah
peralatan yang relatif lebih kecil dan adanya kontrol temperatur,
artinya pengukuran dapat dilakukan dengan temperatur yang
bervariasi.
Rumus umum yang digunakan untuk menghitung viskositas
dengan menggunakan viskometer bola jatuh menurut Hoeppler ini
adalah:

Dimana : μ adalah kekentalan dinamik (cP)


ρ 2 adalah massa jenis bola (kg/m3)
ρ 1 adalah massa jenis fluida (kg/m3)
t adalah waktu yang diperlukan (s)
Prinsip kerja dari viskometer bola jatuh menurut Hoeppler ini
adalah dengan cara menggelindingkan bola yang terbuat dari
kaca. Karena gaya gravitasi benda yang jatuh melalui medium
yang berviskositas dengan kecepatan yang besar sampai pada
kecepatan yang maksimum. Kecepatan jatuhnya bola merupakan
fungsi dari harga respirok sampel.

2.3 Rumus dan Contoh soal viskositas bola jatuh


2.3.1 Rumus
1. Rumus gaya gesek stokes

Keterangan :
Fg = gaya gesek
n = viskositas
V = kecepatan

2. Rumus viskositas hukum stokes

Atau
ρ 1−ρ 2
n=
¿
2 g R2 ¿
¿

keterangan :
� = Viskositas (centipoise)
g = Gravitasi (m/s2)
V = Kecepatan bola (m/s)
γ/ ρ 1 = Massa jenis bola (kg/m3)
γ1/ ρ 2 = Massa jenis zat cair (kg/m3)

3. Rumus viskositas menurut hopler

9
Keterangan :
μ adalah kekentalan dinamik (cP)
ρ 2 adalah massa jenis bola (kg/m3)
ρ 1 adalah massa jenis fluida (kg/m3)
t adalah waktu yang diperlukan (s)

2.3.2 contoh soal


1. Sebuah bola yang massa jenisnya 6,36
gram/cm³ dan berdiameter 20 mm jatuh ke
dalam cairan pelumas yang massa jenisnya 5,10
gram/cm³. Jika kecepatan terminal bola
mencapai 0,2 m/s, dan g = 10 m/s², tentukan
koefisien viskositas cairan pelumas tersebut.

2.4 Intepretasi hasil


Diketahui bahwa prinsip kerja dari
viscometer bola jatuh adalah mengukur
kecepatan bola jatuh melalui cairan dalam
tabung dengan suhu tetap. Pada viscometer
bola jatuh, tabungnya dipasang miring
sehingga kecepatan bola jatuh akan
berkurang dan pengukuran dapat dilakukan
lebih teliti. Viscometer ini cocok digunakan
untuk cairan yang sukar diukur dengan
viskoeter Ostwald.

Dari contoh soal nomor 1 diatas, diketahui sebuah bola yang


massa jenisnya 6,36 gram/cm³ dan berdiameter 20 mm jatuh ke
dalam cairan pelumas yang massa jenisnya 5,10 gram/cm³
dimana kecepatannya 0,2 m/s, dan g = 10 m/s², dicari koefisien
ρ 1−ρ 2
viskositas cairan pelumas dengan rumus n =
¿ . diketahui
2 g R2 ¿
¿
g = m/s², V = 0,2 m/s, ρ 1 = 6,36 gram/cm³ (6360 kg/m³),
ρ 2 = 5,10 gram/cm³ (5100 kg/m³) , d = 20 mm ( R = 10mm).
Dari data tersebut dapat dijabarkan jawaban sebagai berikut :

⇔ Koefisien viskositas η = [2R²g.(ρb - ρf)] / 9.vt

⇔ = [2.(10⁻²)².(10).(6360 - 5100)] / [9 x
0,2]

10
⇔ = 140 x 10⁻² Pa.s

jadi Koefisien viskositas sebesar 140 x 10⁻² Pa.s

2.5 Gambar viscometer bola jatuh

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

11
Viskositas adalah sebuah ukuran penolakan sebuah fluida
terhadap perubahan bentuk di bawah tekanan shear. Biasanya
diterima sebagai "kekentalan", atau penolakan terhadap penuangan.
Viskositas diartikan sebagai resistensi atau ketidakmauan suatu bahan
untuk mengalir yang disebabkan karena adanya gesekan atau
perlawanan suatu bahan terhadap deformasi atau perubahan bentuk
apabila bahan tersebut dikenai gaya tertentu. Viskometer merupakan
sebuah alat yang digunakan untuk mengukur viskositas suatu cairan.
Viskometer bola jatuh terdiri dari 2 prinsip yaitu menurut stokes
dan hoeppler. Salah satu keuntungan viskometer bola jatuh menurut
Hoeppler dibandingkan dengan menurut hukum Stokes adalah
peralatan yang relatif lebih kecil dan adanya kontrol temperatur,
artinya pengukuran dapat dilakukan dengan temperatur yang
bervariasi.

3.2 Saran

Daftar Pustaka

Martono, A., astuti, J., & Syakur, A. (2013). Analisis Karakteristik


Dielektrik Minyak Hidrolik Sebagai Alternatif Isolasi Cair untuk
Transformator Daya. Semarang: Jurusan Teknik Elektro,
Universitas Diponegoro.
maulida, R. H. (2010). Analisis Karakteristik Pengaruh Suhu dan
Kontaminan terhadap Viskositas Oli Menggunakan Rotary
Viscometer. Jurnal Neutrino.
Ridwan, Wiseno, E., & Suwargo, P. G. (2011). Pembuatan dan Pengujian
Viskometer Tabung. Depok: Universitas Gunadarma.
Martin, Alferd., Swarbick, James & cammarata, Arthur.1993.Farmasi
Fisik Dasar-Dasar dalam Ilmu Farmasetik.UI Press:Jakarta

12
Martin. 1993. Farmasi Fisik Dasar-Dasar Kimia Fisik dalam Ilmu
Farmasetik. Diterjemahkan
oleh Yoshita. UII Press. Yogyakarta.

13