Anda di halaman 1dari 14

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Anemia adalah keadaan dimana kadar sel darah merah dan hemoglobin dalam darah
kurang dari normal. Hemoglobin terdapat dalam lel darah merah dan merupakan pigmen
pemberi warna merah sekaligus pembawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Hal ini
dapat menjelaskan mengapa kurang darah dapat menyebabkan gejala lemah dan lesu yang
tidak biasa. Paru-paru dan jantung juga terpaksa erkerja keras untuk mendapat oksigen dari
darah yang menyebabkan nafas terasa pendek.
Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang selalu ada di setiap negara
terutama negara berkembang yang di perkirakan 30% penduduk dunia menderita anemia.
Anemia bnyak terjadi pada masyarakat terutama pada remaja dan ibu hamil. Anemia
padaremaja putri sampai saat ini masih cukup tinggi, menrut world health organization
(who) (2013), prevalensi anemia di sunia sekitar 40-88%. Jumlah penduduk usia remaja
(10-19 tahun) di indonesia sebesar 26,2% yang terdiri dari 50,9% laki-laki dan 49,1%
perempuan. (kemenkes RI, 2013)
Anemia dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik maupun dengan pemeriksaan
laboratorium. Secara fisik penderita tampak pucat, lemah, dan secara laboratorik
didapatkan penurunan kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah dari harga normal.
Anemia bukan suatu penyakit tertentu, tetapi cerminan perubahan patofisiologik yang
mendasar yang diuraikan melalui anamnesis yang seksama, pemeriksaan fisik, dan
konfirmasi laboratorium (Baldy, 2006).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud penyakit anemia ?
2. Apa saja klasifikasi dari anemia ?
3. Faktor apa saja yang mempengaruhi anemia ?
4. Bagaima patofisiologi dari anemia ?
5. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dilakukan dalam pemeriksaan anemia ?
6. Bagaimana penatalaksanaan pada penyakit anemia ?
7. Apa saja diagnosa keperawatan yang muncul dalam anemia ?
8. Komplikasi apa yang akan terjadi pada anemia ?
9. Bagaimana asuhan keperawatan pada anemia ?

C. TUJUAN PEMBAHASAN
1. Agar mengetahui lebih lanjut tentang anemia
2. Untuk mengetahui fator apa yang mempengaruhi tejadinya anemia

Anemia | 1
3. Agar perawat lebih tau tentang bagaimana asuhan keperawatan dari anemia.
4. Sebagai acuhan untuk perawatan penyakit anemia

D. MANFAAT
1. Perawat dapat mengetahui apa dan bagaimana penaykit anemia
2. Perawat lebih tahu tentang bagaimana asuhan keperawatan dari anemia dan bagaimana
cara pencegahan.

E. METODE PENULISAN
Dalam penulisan makalah ini, digunakan beberapa metode. Hal ini di maksudkan untuk
memperoleh teori yang di ajarkan pada buku buku yang berkaitan dengan judul dari
makalah serta mencari sumber sumber yang ada pada buku referensi.
Adapun dalan pengolahan data, metode yang di pakai adalah sebagai berikut:
1) Studi kepustakaan
Mengambil pengertian dari buku yang sudah ada, dengan harapan makalah ini tidak
menyimpang dari pengertian yang sudah ada sebelumnya.
2) Metode analisa data
Dalam penyusunan makalah ini, digunakan metode pengambilan data dari sebuah
karyatulis ilmiah atau jurnal-jurnal yang sudah ada untuk memperoleh data yang
relevan. Dengan harapan makalah ini tidak menyimpang dari penelitian atau hasil
penelitian yang sudah ada sebelumnya.

Anemia | 2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Anemia
Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit
(red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam
jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity). Secara
praktis anemia ditunjukkan oleh penurunan kadar hemoglobin, hematokrit atau hitung
eritrosit (red cell count). (Bakta, 2009)

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hemoglobin (Hb) seseorang dalam darah
lebih rendah dari normal. Remaja putri merupakan salah satu kelompok yang berisiko
menderita anemia (Arisman, 2010).

Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin
turun dibawah normal. (Wong, 2003)

B. Klasifikasi
Klasifikasi Anemia menurut etiopatogenesis : (Bakta.2009)
A. Anemia karena gangguan pembentukan eritrosit dalam sumsum tulang
1. Kekurangan bahan esensial pembentuk eritrosit
a. Anemia defisiensi besi
b. Anemia defisiensi asam folat
c. Anemia defisiensi vitamin B12
2. Gangguan penggunaan besi
a. Anemia akibat penyakit kronik
b. Anemia sideroblastik
3. Kerusakan sumsum tulang
a. Anemia aplastik
b. Anemia mieloptisik
c. Anemia pada keganasan hematologi
d. Anemia diseritropoietik
e. Anemia pada sindrom mielodisplastik
B. Anemia akibat perdarahan
1. Anemia pasca perdarahan akut
2. Anemia akibat perdarahan kronik
C. Anemia hemolitik
1. Anemia hemolitik intrakorpuskular
a. Gangguan membran eritrosit (membranopati)
b. Gangguan enzim eritrosit (enzimopati): anemia akibat defisiensi G6PD

Anemia | 3
c. Gangguan hemoglobin (hemoglobinopati)
- Thalasemia
- Hemoglobinopati struktural : HbS, HbE, dll
2. Anemia hemolitik ekstrakorpuskuler
a. Anemia hemolitik autoimun
b. Anemia hemolitik mikroangiopatik
c. Lain-lain
D. Anemia dengan penyebab tidak diketahui atau dengan patogenesis yang kompleks
Klasifikasi anemia berdasarkan morfologi dan etiologi: (Bakta.2009)
1. Anemia hipokromik mikrositer
a. Anemia defisiensi besi
b. Thalasemia major
c. Anemia akibat penyakit kronik
d. Anemia sideroblastik
2. Anemia normokromik normositer
a. Anemia pasca perdarahan akut
b. Anemia aplastik
c. Anemia hemolitik didapat
d. Anemia akibat penyakit kronik
e. Anemia pada gagal ginjal kronik
f. Anemia pada sindrom mielodisplastik
g. Anemia pada keganasan hematologik
3. Anemia makrositer
a. Bentuk megaloblastik
- Anemia defisiensi asam folat
- Anemia defisiensi B12, termasuk anemia pernisiosa
b. Bentuk non-megaloblastik
- Anemia pada penyakit hati kronik
- Anemia pada hipotiroidisme
- Anemia pada sindrom mielodisplastik

C. Etiologi
Anemia bukanlah suatu kesatuan penyakit tersendiri (disease entity), tetapi merupakan
gejala dari berbagai macam penyakit dasar (underlying disease). Pada dasarnya anemia
disebabkan karena :
a. Gangguan pada pembentukan atau produksi eritrosit oleh susmsum tulang.
(Price,2006)

Anemia | 4
- Perubahan sintesa Hb yang dapat menimbulkan anemi difisiensi Fe, Thalasemia,
dan anemi infeksi kronik.
- Perubahan sintesa DNA akibat kekur angan nutrien yang dapat menimbulkan
anemi pernisiosa dan anemi asam folat.
- Fungsi sel induk ( stem sel ) terganggu , sehingga dapat menimbulkan anemi
aplastik dan leukemia.
- Infiltrasi sumsum tulang, misalnya karena karsinoma.
b. Kehilangan darah keluar dari tubuh (pendarahan). (Price,2006)
- Akut karena perdarahan atau trauma / kecelakaan yang terjadi secara mendadak.
- Kronis karena perdarahan pada saluran cerna atau menorhagia.
c. Proses penghanjuran eritrosit oleh tubuh sebelum waktunya (hemolisis). (Price,2006)
- Faktor bawaan, misalnya kekurangan enzim G6PD ( untuk mencegah kerusakan
eritrosit)
- Faktor yang didapat, yaitu adanya bahan yang dapat merusak eritrosit misalnya,
ureum pada darah karena gangguan ginjal atau penggunaan obat acetosal.

D. Patofisiologi
Anemia disebabakan oleh kegagalan sumsum tulang menghasilkan cukup SDM (sel
darah maerah ). Meskipun semua bahan yang di butuhkan untuk eritropoises tersedia.
Berkurangnya kemampuan eritropoise dapat di sebabkan oleh destruksi sumsum tulang
merah oleh bahan kimia toksik ( misalnya benzena), pajanan berlebihan terhadap radiasi
(contoh : jatuhan dari ledakan bom nuklir / pajanan berlebihan ke sinar X ) infasi sumsum
tulang oleh sel kanker atau kemoterapi untuk kanker.

Proses destruktif dapat secara selektif mengurangi produksi eritrosit sum-sum tulang
atau mungkin juga menurunkan kemampuan sumsum menghasilkan leukosit & trombosit.
Keparahan anemia bergantung pada luas kerusakan jaringan eritropoitik kerusakan yang
luas dapat mematikan ( sharewood,2012).

Anemia disebabkan oleh pecahnya eritrosit dalam darah yang berlebihan. Hemolisis
atau ruptur SGM jadi karena sel yang sebenarnya normal di picu untuk pecah oleh faktor
eksternal seperti pada infasi SDM oleh parasit malaria atau karena sel tersebut memang
cacat, seperti pada penyakit sel sabit. Penyakit sel sabit adalah contoh paling di kenal di
anatara berbagai kelainan herediter eritrosit yang menyebabkan sel-sel ini sangat rapuh.
Pada keadaan ini terbentuk hemoglobin cacat yang menyatu untuk membentuk rantai kaku
yang menyebabkan SDM tidak lentur dan berbentuk tak alami , seperti bulan sabit. Tidak
seperti eritrosit normal, SDM cacat ini cenderung membentuk gumpalan yang kemudian
menyumbat aliran darah melalui pembuluh-pembuluh halus sehingga timbul nyeri dan
kerusakan jaringan. Selain itu eritrosit cacat tersebut rapuh dan mudah pecah, bahkan
sebagai sel muda, sewaktu mengalir melalui kapiler limpa yang sempit. Meskiput

Anemia | 5
eritropoisis mengalami percepatan oleh kerusakan konstan SDM namun produksi ini tidak
mampu mengimbangi laju detruksi sehingga dapat terjadi anemia ( sharewood,2012).

Anemia disebabkan oleh ketidak mampuan tubuh menyerap vitamin B12 yang masuk
dari melalui makanan dari saluran cerna. Vitamin B12 penting untuk pembentukan dan
pematangan normal sumber daya manusia (SDM). Vitamin ini banyak terdapat di berbagai
makanan. Masalahnya adalah defisieni meningkatakan konsumsi bahan makanan sumber
zat besi, penggunaan bahan makanan yang telah difortifikasi dan penanggulangan parasit
cacing tambang dan penyakit infeksi (Wirakusumah,1998).

E. Mekanisme Kerja Darah Sehingga Mengakibatkan Anemia

Sel darah merah mengandung banyak molekul hemoglobin di dalamnya. Kerja dari sel
darah merah sendiri terutama hemoglobin adalah mengikat oksigen yang masuk dari paru-
paru. Hemoglobin akan mengikat oksigen dan kemudian melepaskan oksigen ke sel sel
jaringan.

Apabila sel darah merah sendiri berkurang maka hemoglobin yang ada juga berkurang.
Sehingga, darah akan sedikit untuk membawa oksigen yang akan dilepaskan ke sel-sel
jaringan didalam tubuh.

F. Manifestasi Klinis
Tanda-tanda yang paling sering dikaitkan dengan anemia (Gasche C., 1997:126).
a. Pucat
b. Pusing
c. Susah Konsentrasi

Anemia | 6
d. Mudah Mengantuk
e. Prestasi Kerja Fisik
f. Takikardi
g. Sakit Dada
h. Dyspnea
i. Nafas Pendek
j. Cepat Lelah
k. Kelemahan
l. Tinitus
Pada penderita defisiensi yang berat ditandai dengan :
a. rambut rapuh halus
b. kuku tipis rata mudah patah
c. atropi papila lidah mengakibatkan lidah tampak pucat, licin, mengkilat, merah
daging meradang dan sakit (Guyton, 1997).
Gejala khas masing-masing anemia : (Huda.N,2015)
a. pendarahan berulang/kronik pada anemia paska pendarahan, anemia defisiensi besi.
b. Ikterus, urin berwarna kuning tua atau coklat, perut mrongkol makin buncit pada
anemia hemolitik.
c. Mudah infeksi pada anemia aplastik dan anemia karena keganasan.
Manifestasi khusus pada anemia : (Huda.N,2015)
a. Defisiensi besi : spoon nail, glositis
b. Defisiensi B12 : paresis, ulkus di tungkai
c. Hemolitik : ikterus, splenomegali
d. Apalstik: anemia biasanya berat, pendarahan, infeksi

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan labolatorium
a. Tes penyaring, Pemeriksaan ini meliputi pengkajian pada kompone-komponen
kadar hemoglobin, indeks eritrosit , (MCV, MCV, dan MCHC), apusan darah
tepi.
b. Pemeriksaan darah seri anemia: hitung leukosit, trombosit, laju endap darah
(LED), dan hitung retikulosit.
c. Pemeriksaan sumsum tulang : pemeriksaan ini memberikan informasi
mengenai keadaan system hematopoesis.
d. Pemeriksaan atas indikasi khusus : pemeriksaan ini untuk mengonfirmasi
dugaan diagnosis awal yang memiliki komponen berikut:
- Anemia defisiensi besi : serum iron, TIBC, saturasi transferin, dan
feritin serum.

Anemia | 7
- Anemia megaloplastik : asam folat darah/ertrosit vitamin B12.
- Anemia hemolitik : hitung retikulosit, tes coombs, dan elektroforesis
Hb.
- Anemia pada leukeumia akut biasanya dilakukan pemeriksaan
sitokimia.
2. Pemeriksaan labolatorium non hematologis : faal ginjal, faal endokrin, asam urat, faal
hati, biakan kuman.
3. Radiologi : torak, bone, survey, USG, atau linfangiografi
4. Pemeriksaan sitogenik
5. Pemeriksaan biologi molekuler (PCR = polymerase chain racion, FISH = fluorescance
in situ hybridization)

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan anemia ditunjukkan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang
hilang. Penatalaksanaan anemia berdasarkan penyebabnya, yaitu :
1. Anemia aplastik
Dengan transplantasi sumsum tulang dan terapi imumosubresif dengan antithimocyte
globulin (ATG) yang di perlukan melalui jalur sentral selama 7-10 hari. Prognosis buruk
jika transplasntasi sumsum tulang tidak berhasil. Bila diperlukan dapat diberikan
transfusi RBC rendah leukosit dan platelet.
2. Anemia pada penyakit ginjal
Pada pasien dialisis yang harus di tanggani dengan pemberian zat besi dan asam folat.
Kalau tersedia, dapat diberikan eritropoetin rekombinan.
3. Anemia pada penyakit kronis
Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak memerlukan penanganan untuk
anemianya. Dengan menanggani kelainan yang mendasarinya, maka anemia akan
terobati dengan sendirinya.
4. Anemia pada defisiensi besi dan asam folat
Dengan pemberian makanan yang adekuat. Pada defidiendi besi diberikan sulfas
ferosus 3x 10 mg/hari. Transfusi darah diberikan bila kadar Hb kurang dari 5 gr %.
5. Anemia megaloblastik
a. Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian vitamin B12, bila defisiensi
disebabkan oleh defekabsorbsi atau tidak tersediannya faktor intrinsik dapat
diberikan vitamin B12 dengan injeksi IM (intra muskular)
b. Usaha mencegah kekambuhan anemia, terapi vitamin B12 harus di teruskan selama
hidup pasien yang menderita anemia pernisiosa atau malapsorbsi yang tidak dapat di
koreksi.
c. Pada anemia defisiensi asam folat diberikan asam folat 3 x 5 mg/hari.

Anemia | 8
d. Anemia defisiensi sam folat pada pasien dengan gangguan absorbsi, penanganannya
dengan diet dan penambahan asam folat 1mg/hari secara IM.
6. Anemia pasca mendarahan
Dengan pemberian transfusi darah dan plasma. Dalam keadaan darurat diberikan caira
intra vena dengan cairan infus apa saja yang tersedia.
7. Anemia hemolitik
Dengan pemberian transfusi darah menggantikan darah yang hemolisis.

I. Pathway / WOC
(Lampiran 1)

J. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan jaringan perifer berhubungan dengan turunnya Oksihemoglobin
2. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan beban kerja jantung
3. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan transport O2
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
yang kurang, anoreksia.
5. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik
6. Resiko Infeksi berhubungan dengan penurunan imun dalan tubuh

K. Komplikasi
1. Sepsi
2. Sensitasi terhadap antigen donor yang bereaksi silang menyebabkan perdarahan tidak
dapat terkendali.
3. Cangkokan vs penyakit hospes (timbul setelah pencangkokan sumsum tulang.
4. Kegagalan cangkok sumsum (terjadi setelah transplantasi sumsum tulang).
5. Leukemia mielogen akut, b/d anemia fanconi
6. Hepatitis, hemosedorosis, dan hemokromatosis
(Betz and Sowdwen, 2002)
(Soepandiman, 1994)

K. Intervensi

No. Dx Kriteria hasil Intervensi


1. Ketidakefektifan  Tekanan systole dan diastole  Monitor adanya daerah
perfusi jaringan dalam rentang yang di tertentu yang hanya peka
perifer harapkan terhadap panas, dingin,
berhubungan  Tidak ada tanda tanda tajam, tumpul.
dengan turunnya peningkatan tekanan  Intruksikan keluarga untuk
Oksihemoglobin intrakranial (tidak lebih dari 15 mengobservasi kulit jika ada
mmHg) isi atau laserasi
 Tidak ada ortostatik hipertensi  Gunakan sarung tangan
untuk proteksi
 Batasi gerakan pada kepala,

Anemia | 9
leher dan punggung
 Monitor kemampuan BAB
 Kolaborasi pemberian
analgetik
 Monitor adanya
tromboplebitis
 Diskusikan mengenai
penyebab perubahan sensasi
1. Nyeri akut  Mampu mengontrol nyeri  Lakukan pengkajian nyeri
berhubungan (tahu penyebab nyeri, mampu secara komprehensif
dengan menggunakan tehnik termasuk lokasi,
peningkatan beban nonfarmakologi untuk karakteristik, durasi,
kerja jantung mengurangi nyeri, mencari frekuensi, kualitas dan faktor
bantuan) presipitas
 Melaporkan bahwa nyeri  Observasi reaksi nonverbal
berkurang dengan dari ketidaknyamanan
menggunakan manajemen  Gunakan teknik komunikasi
nyeri terapeutik untuk mengetahui
 Mampu mengenali rasa pengalaman nyeri pasien
nyaman setelah nyeri  Kaji kultur yang
berkurang mempengaruhi respon nyeri
 Evaluasi pengalaman nyeri
masa lampau
 Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)
 Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
 Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas, dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat
 Cek intruksi dokter tentang
jenis obat, dosis, dan
frekuensi
 Cek riwayat alergi
 Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan beratnya
nyeri
 Pilih rute pemebrian secara
IV, IM untuk pengobatan
nyeri secara teratur
2. Ketidakefektifan  Mendemonstrasikan batuk  Buka jalan nafas, gunakan
pola nafas efektif dan suara nafas yang teknik chin lift atau jaw
berhubungan bersih, tidak ada sianosis dan thrust bila perlu
dengan dyspneu (mampu  Posisikan pasien untuk
penurunan mengeluarkan sputum, mampu memaksimalkan ventilasi
transport O2 bernafas dengan mudah, tidak  Identifikasi pasien perlunya
ada pursed lips) pemasangan alat jalan nafas
 Menunjukkan jalan nafas yang buatan
paten (klien tidak merasa  Pasang mayo bila perlu
tercekik, irama nafas,  Lakukan fisioterapi dada bila
frekuensi pernafasan dalam perlu
rentang normal, tidak ada  Keluarkan secret dengan
Anemia | 10
suara nafas abnormal) batuk atau suction
 Tanda –tanda vital dalam  Auskultasi suara nafas, catat
rentang normal (tekanan darah, adanya suara tambahan
nadi, pernafasan)  Lakukan suctin pada mayo
3. Ketidakseimbang  Adanya peningkatan berat  Kaji adanya alergi makanan
an nutrisi kurang badan sesuai dengan tujuan  Kolaborasi dengan ahli gizi
dari kebutuhan  Berat badan ideal sesuai untuk menentukan jumlah
tubuh dengan tinggi badan kalori dan nutrisi yang
berhubungan  Mampu mengidentifikasi dibutuhkan pasien
dengan intake kebutuhan nutrisi  Anjurkan pasien untuk intake
yang kurang,  Tidak ada tanda-tanda Fe
anoreksia. malnutrisi  BB pasien dalam batas
 Menunjukkan peningkatan normal monitor adanya
fungsi pengecapan dari penurunan berat badan
menelan  Monitor tipe dan jumlah
 Tidak terjadi penurunan berat aktivitas yang biasa
badan yang berarti dilakukan
 Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan
 Monitor lingkungan selama
makan
4. Defisit perawatan  Setelah dilakukan tindakan  Monitor kemempuan klien
diri berhubungan keperawatan kebutuhan untuk perawatan diri yang
dengan mandiri klien terpenuhi mandiri.
kelemahan fisik  Klien terbebas dari bau badan  Monitor kebutuhan klien
 Menyatakan kenyamanan untuk alat-alat bantu untuk
terhadap kemampuan untuk kebersihan diri, berpakaian,
melakukan ADLs berhias, toileting dan makan.
 Dapat melakukan ADLS  Sediakan bantuan sampai
dengan bantuan klien mampu secara utuh
untuk melakukan self-care.
 Dorong klien untuk
melakukan aktivitas sehari-
hari yang normal sesuai
kemampuan yang dimiliki.
 Dorong untuk melakukan
secara mandiri, tapi beri
bantuan ketika klien tidak
mampu melakukannya.
 Ajarkan klien/ keluarga
untuk mendorong
kemandirian, untuk
memberikan bantuan hanya
jika pasien tidak mampu
untuk melakukannya.
 Berikan aktivitas rutin sehari-
hari sesuai kemampuan.
 Pertimbangkan usia klien jika
mendorong pelaksanaan
aktivitas sehari-hari.

5. Resiko Infeksi  Klien bebas dari tanda dan  Bersihkan lingkungan


berhubungan gejala infeksi setelaah dipakai pasien lain
dengan  Mendeskripsikan proses  Pertahankan teknik isolasi
penurunan imun penularan penyakit, faktor  Batasi pengunjung bila perlu
dalan tubuh yang mempengaruhi penularan  Gunakan sabun antimikrobia
Anemia | 11
serta penatalaksanaannya untuk cuci tangan
 Menunjukkan kemampuan  Cuci tangan setiap sebelum
untuk mencegah timbulnya dan sesudah tindakan
infeksi keperawatan
 Jumlah leukosit dalam batas  Gunakan baju, sarung tangan
normal sebagai alat pelindung
 Menunjukkan perilaku hidup  Pertahankan lingkungan
sehat aseptik selama pemasangan
alat

Anemia | 12
BAB III

KESIMPULAN

Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit


(red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam
jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity). Secara praktis
anemia ditunjukkan oleh penurunan kadar hemoglobin, hematokrit atau hitung eritrosit (red
cell count). Pada dasarnya anemia disebabkan karena gangguan pembentukan atau produksi
eritrosit oleh sumsum tulang, kehilangan darah keluar dari tubuh (pendarahan), dan proses
penghancuran eritrosit oleh tubuh sebelum waktunya. Anemia dapat diketahuui dengan adanya
pemerisaan darah lengkap laboratorium. Banyak sekali intervesi didalam asuhan keperawatan
sebagai penanganan penyakit anemia serta pencegahannya.

Anemia | 13
DAFTAR PUSTAKA

Arisman. 2010. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta: Ecg


Bakta, I.M., 2009. Pendekatan terhadap Pasien Anemia. In: Sudoyo, A.W. Ed. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid II Edisi V. Jakarta: Internal Publishing, Pp. 1110.

Baldy, C. M. 2006. Gangguan Sel Darah Putih dan Sel Plasma. Dalam: Price, S. A., L. M.
Wilson. 2006. Patofisiologi Edisi 6. Jakarta: EGC, 271-284.
Balitbang Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013. Jakarta : Kemenkes RI
Betz, L.C & Sowden, A.L. 2002. Keperawatan Pediatrik : alih bahasa. Yan Tambayong;
editor Bahasa Indonesia, Sari Kurnia Ningsih. Monica Este. Jakarta : EGC
Gasche C. Lomer ECM. Cavill I. Dan Aweiis G. 2014. Iron, Anemia, and Inflammatory Bowel
Disease. Review Article 53:1190-7
Guyton A. C., Hall J. E.1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta : EGC

Huda N., Amin dan Kusuma, Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & Nanda Nic-Noc. Edisi Revisi Jilid 1. Jogjakarta : Mediaction Jogja.

Masrizal. 2007. Anemia Defisiensi Besi. Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, Ii (I) :
140-145. Fakultas Ilmu Kesehatan Unand.

Patrick Davay, 2002, At A Glance Medicine, Jakarta, Ems

Price, Sylvia, Dkk. 2006. Patofiologi Konsep Klinis Proses - Proses Penyakit. Jakarta : EGC

Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika

Soepandiman. 1994. Hematologi Klinik. Edisi 1. Jakarta : Penerbit Alumni

Wirakusumah, E.S. 1998. Buah dan Sayur untuk Terapi. Jakarta : Penebar Swadaya

Sherwood, Lauralee. 2012. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 6. Jakarta : EGC

Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Ed 4. Jakarta: EGC

Anemia | 14