Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seorang perawat triage harus memiliki pengetahuan dan keterampilan
untuk melakukan peran triase. Perawat dan profesional memiliki kewajiban hukum
untuk melaksanakan peran Triage Perawat menggunakan pendekatan sistematis.
Perawat UGD, sebagai profesional, bertanggung jawab atas tindakan
mereka. Akuntabilitas berasal dari pemanfaatan protokol yang tersedia,
penyelesaian dokumentasi yang benar, dan kepatuhan terhadap standar dan panduan
kualitas. Protokol idealnya membantu dalam pemeliharaan standar perawatan yang
tinggi secara konsisten di institusi tersebut dan dapat digunakan jika perlu untuk
memberikan bukti dari praktek klinis di fasilitas perawatan kesehatan.
Protokol harus dipandang sebagai standar minimal perawatan yang diberikan.
Posisi pernyataan yang menjelaskan peran dan tanggung jawab Nurse Triage termasuk
praktek standar minimum telah dihasilkan oleh badan-badan profesional.
Semua perawat harus mengetahui beberapa prinsip hukum dasar, yang
meliputi persetujuan, unsur-unsur kelalaian, definisi dan sumber-sumber standar
perawatan, dan bagaimana kebijakan dan pedoman dapat mempengaruhi praktek. Ada
harapan bahwa perawat melakukan peran perawat Triage akan memiliki pengalaman
yang memadai, pelatihan dan supervisi untuk melakukan peran. Lembaga yang
mempekerjakan juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa staf cukup
siap untuk melakukan peran.
Pada beberapa rumah sakit yang sudah menggunakan dokter triage, dokter
tersebut dapat menganjurkan seorang pasien untuk masuk dan menerima penanganan
dari dokter IGD atau dirawat langsung oleh dokter yang merawat di ruangan. Hal ini
untuk meningkatkan efektivitas dimana pasien dapat sesegera mungkin mendapat
perawatan lebih lanjut.

B. Definisi
Sistem Triage: Proses di mana seorang klinisi menilai tingkat urgensi pasien.
Triage: sistem triase adalah struktur dasar di mana semua pasien yang datang
dikategorikan ke dalam kelompok tertentu dengan menggunakan standar skala
penilaian urgensi atau struktur .
Triage adalah proses khusus memilah pasien berdasar beratnya cedera atau
penyakit untuk menentukan jenis perawatan gawat darurat serta transportasi
selanjutnya. Tindakan ini merupakan proses yang berkesinambungan sepanjang
pengelolaan musibah terutama musibah yang melibatkan massa.
Re-triase: status klinis adalah merupakan kondisi yang dinamis. Jika terjadi
perubahan status klinis yang akan berdampak pada perubahan kategori triase, atau jika

1
didapatkan informasi tambahan tentang kondisi pasien yang akan mempengaruhi
urgensi (lihat di bawah), maka triage ulang harus dilakukan. Ketika seorang
pasien kembali diprioritaskan, kode triase awal dan kode triase selanjutnya harus
didokumentasikan. Alasan untuk melakukan triage ulang juga harus
didokumentasikan.
Urgensi: Urgensi ditentukan berdasarkan kondisi klinis pasien dan
digunakan untuk menentukan kecepatan intervensi yang diperlukan untuk mencapai
hasil yang optimal. Tingkat Urgensi adalah tingkat keparahan atau kompleksitas suatu
penyakit atau cedera. Sebagai contoh, pasien mungkin akan diprioritaskan ke
peringkat urgensi yang lebih rendah karena mereka dinilai lcukup aman bagi mereka
untuk menunggu penilaian emergensi, walaupun mereka mungkin masih
memerlukan rawat inap di rumah sakit untuk kondisi mereka atau mempunyai
kondisi morbiditas yang signifikan dan resiko kematian.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan dari sistem triase adalah untuk memastikan bahwa tingkat dan kualitas
pelayanan yang diberikan kepada masyarakat adalah sesuai dengan kriteria klinis,
bukan didasarkan pada kebutuhan organisasi atau administrasi.
2. Tujuan Khusus
1. Mengoptimalkan keselamatan dan efisiensi pelayanan darurat berbasis-rumah
sakit dan untuk menjamin kemudahan akses terhadap pelayanan kesehatan di
seluruh lapisan masyarakat;
2. Sebagai Sebuah tempat masuk tunggal untuk semua pasien datang (bersifat
ambulans dan non-bersifat ambulans), sehingga semua pasien memperoleh
proses penilaian yang sama.
3. Lingkungan fisik yang sesuai untuk melakukan melakukan pemeriksaan
singkat. Juga diperlukan lingkungan yang memberikan kemudahan untuk
pasien menyampaikan kondisi klinis, memperoleh rasa aman dan persyaratan
administrasi, serta ketersediaan peralatan pertolongan pertama serta
tersedianya fasilitas cuci tangan.
4. Sebuah sistem penerimaan pasien yang terorganisir akan memungkinkan
kemudah aliran informasi kepada pasien dari unit triase sampai ke seluruh
komponen instalasi gawat darurat , dari pemeriksaan sampai penanganan
pasien
5. Didapatnya data yang tepat waktu untuk kebutuhan pemberian pelayanan ,
termasuk sistem untuk memberitahukan kedatangan pasien dengan ambulan
dan pelayanan gawat darurat lainnya.

2
BAB II
RUANG LINGKUP

A. Pelaksana Panduan
Pelaksana panduan ini adalah dokter dan perawat IGD yang telah memiliki sertifikasi
Triase.

B. Tempat pelaksanaan
Panduan ini dilaksanakan di Instalasi Gawat Darurat.

3
C. Waktu pelaksanaan
Panduan ini dilaksanakan pada saat semua pasien masuk melalui IGD.

BAB III
TATA LAKSANA

Proses triage meliputi tahap pre-hospital / lapangan dan hospital atau pusat pelayanan
kesehatan lainnya. Triage lapangan harus dilakukan oleh petugas pertama yang tiba ditempat
kejadian dan tindakan ini harus dinilai ulang terus menerus karena status triase pasien dapat
berubah. Metode yang digunakan bisa secara METTAG (Triage tagging system) atau sistem
triage Penuntun Lapangan START (Simple Triage And Rapid Transportation).
Petugas lapangan memberikan penilaian pasien untuk memastikan kelompok korban
seperti yang memerlukan transport segera atau tidak, atau yang tidak mungkin diselamatkan,

4
atau mati. Ini memungkinkan penolong secara cepat mengidentifikasikan korban dengan
risiko besar akan kematian segera atau apakah memerlukan transport segera, serta melakukan
tindakan pertolongan primer dan stabilisasi_darurat.
Pada tahap rumah sakit, triage dapat juga dilakukan walaupun agak berbeda dengan
triage lapangan. Dengan tenaga dan peralatan yang lebih memadai, tenaga medis dapat
melakukan tindakan sesuai dengan kedaruratan penderita dan berdasarkan etika profesi. Saat
menilai pasien, secara bersamaan juga dilakukan tindakan diagnostik, hingga waktu yang
diperlukan untuk menilai dan menstabilkan pasien berkurang.

Ruang lingkup pelayanan instalasi gawat darurat meliputi:


1. Pasien dengan kasus True Emergency
Yaitu pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat darurat atau akan menjadi
gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak
mendapat pertolongan secepatnya.
2. Pasien dengan kasus False Emergency
Yaitu pasien dengan:
 Keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tidak memerlukan tindakan darurat
 Keadaan gawat tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota badannya
 Keadaan tidak gawat dan tidak darurat

Simple Triage / Triage Sederhana / Triage inisial


START, sebagai cara triage lapangan yang berprinsip pada sederhana dan kecepatan, dapat
dilakukan oleh tenaga medis atau tenaga awam terlatih. Dalam memilah pasien, petugas
melakukan penilaian kesadaran, ventilasi, dan perfusi selama kurang dari 60 detik lalu
memberikan tanda dengan menggunakan berbagai alat berwarna, seperti bendera, kain, atau
isolasi.
§ Hitam : pasien meninggal atau cedera fatal yang tidak memungkinkan untuk resusitasi.
Tidak memerlukan perhatian.
§ Merah : pasien cedera berat atau mengancam jiwa dan memerlukan transport segera.
Misalnya :
- gagal nafas
- cedera torako-abdominal
- cedera kepala atau maksilo-fasial berat
- shok atau perdarahan berat
- luka bakar berat
§ Kuning : pasien cedera yang dipastikan tidak mengancam jiwa dalam waktu dekat. Dapat
ditunda hingga beberapa jam. Misalnya :
- cedera abdomen tanpa shok,

5
- cedera dada tanpa gangguan respirasi,
- fraktura mayor tanpa syok
- cedera kepala atau tulang belakang leher tanpa gangguan kesadaran
- luka bakar ringan
§ Hijau : cedera ringan memerlukan yang tidak stabilisasi segera. Misalnya :
- cedera jaringan lunak,
- fraktura dan dislokasi ekstremitas,
- cedera maksilo-fasial tanpa gangguan jalan nafas
- gawat darurat psikologis

Sistem START ( Simple Triage And Rapid Treatment )


a. Katakan pada korban yang bisa jalan pindah ke daerah khusus yang sudah ditentukan;
b. Alihkan kepada korban yang tidak bisa jalan dengan penilaian awal :
1) Pernapasan
a) Lebih dari 30 x / menit , berikan label merah;
b) Jika tidak bernapas, buka jalan napas, jika bernapas prioritas I (merah), jika tidak
bernapas prioritas 0 (hitam);
c) Jika pernapasan kurang dari 30 x / menit , lakukan penilaian perfusi;
2) Perfusi
a) Nilai pengisian kembali kapiler, lebih dari 2 detik prioritas I (merah), periksa
semua sumber perdarahan besar;
b) Jika pengisian kembali kapiler kurang dari 2 detik lakukan penilaian kesadaran;
3) Status kesadaran
a) Tidak berespon prioritas I (merah);
b) Ada respon dengan perintah sederhana prioritas II (kuning);

Dapat juga menggunakan algoritma berikut :

6
Advanced Triage / Triage lanjutan
Pasien dengan harapan hidup yang kecil dengan tersedianya peralatan dan tenaga medis yang
lebih lengkap diharapkan dapat ditingkatkan harapan hidupnya. Namun apabila tenaga medis
dan perlengkapan tidak dapat memenuhi kebutuhan dari pasien, misalnya pada bencana yang
melibatkan banyak korban, tenaga medis dapat memutuskan untuk lebih memberikan
perhatian pada pasien dengan cedera berat yang harapan hidupnya lebih besar sesuai dengan
etika profesional. Hal inilah yang menjadi tujuan dari triage lanjutan.
Pemantauan pada triage lanjutan dapat menggunakan Revised Trauma Score (RVT) atau
Injury Severity Score (ISS).

RVT menggunakan parameter kesadaran (GCS), tekanan darah sistolik (dapat menggunakan
per palpasi untuk mempercepat pantauan), dan frekuensi pernapasan.
Skor 12 : delayed
11 : urgent, dapat ditunda
4 – 10 : immediate, memerlukan penatalaksanaan sesegera mungkin
0 – 3 : morgue, cedera serius yang tidak lagi memerlukan tindakan darurat

Glasgow Coma Scale Systolic Pressure Respiratory Rate


GCS Points SBP Points RR Points
>89 4 10-30 4
15-13 4
76-89 3 >30 3
12-9 3
6-9 2
8-6 2 50-75 2
1-5 1
5-4 1 1-49 1
0 0
3 0 0 0

ISS menggunakan parameter 3 bagian tubuh.


A : wajah, leher, kepala
B : toraks, abdomen
C : ekstremitas, jaringan lunak, kulit
tiap parameter diberi skor 0 – 5 yaitu :
1. cedera ringan

7
2. cedera sedang
3. cedera serius
4. cedera berat
5. kritis
Hasil skoring tersebut kemudian dikuadratkan dan dijumlahkan.
ISS = A2 + B2 + C2
Hasil lebih dari 15 dianggap sebagai politrauma. Hasil dari perhitungan ISS ini digunakan
sebagai perbandingan dalam penentuan prioritas penatalaksanaan pasien massal.

BAB IV
DOKUMENTASI

Pencatatan dan pelaporan triase dilakukan oleh perawat IGD dengan


mengunakan format yang sudah disediakan oleh Catatan Medis IGD.
Dokumentasi setiap interaksi antara saat melakukan triage antara perawat dan
pasien dan / atau lainnya yang signifikan adalah bagaian lain dari akuntabilitas dalam
praktik.

Anda mungkin juga menyukai