Anda di halaman 1dari 121

Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Air adalah salah satu kebutuhan vital bagi kelangsunga hidup manusia, hewan
maupun tumbuhan yang ada di atas permukaan bumi ini. Sehingga segala sesuatu yang
berhubungan dengan airtidak dapat diabaikan begitu saja, mengingat semakin banyak
penggunaan air didalam semua aktivitas kehidupan sehari-hari.
Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah air bersih. Disamping untuk
kebutuhan air minum, air bersih diperlukan juga untuk keperluan rumah tangga
seharihari misalnya mandi, mencuci, memasak dan lain sebagainya.Sudah barang tentu
dengan adanya pemakain air untuk rumah tangga ini, perlu pula dipikirkan tentang
pembuangan air bekas pemakaiannya.
Air yang telah dipakai tersebut merupakan suatu air kotor dan harus dibuang,
tetapi pembuangannya tidak boleh mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan.
Pembuangan secara langsung ke dalam sungai tanpa ada pengolahan terlebih dahulu
akan mengakibatkan tercemarnya air sungai tersebut. Hal ini dapat diatasi dengan
meningkatkan sanitasi lingkungan sehingga tercipta kondisi lingkungan yang baik dan
benar.
Sebagai realisasi dari hal tersebut di atas perlu direncanakan suatu sistem
pengolahan air buangan yang memadai. Dalam tugas ini objek studi yang diambil adalah
kota Sumenep yang terletak di kabupaten Sumenep, propinsi Jawa Timur.

1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud dari sistem bangunan pengolahan air buangan ini adalah sebagai suatu
fasilitas yang membantu mengolah air buangan sedemikian rupa, sehingga dapat
mengurangi kadar zat atau konstituent tertentu yang terkandung di dalam air buangan
sampai batas yang disyaratkan dan tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan
hidup manusia serta kehidupan di dalam badan air penerima.

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 1


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Pada umumnya di dalam air buangan banyak terdapat jenis bakteri khususnya
bakteri patogen yang seringkali menyebabkan penyebaran berbagai macam penyakit.
Dan terutama pengaruhnya terhadap pengurangan oksigen di dalam air akibat proses
biokimia yang terjadi karena kehadiran zat-zat tertentu di dalam air buangan.
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa tujuan utama dari perencanaan
bangunan pengolahan air buangan ini adalah :
• Menentukan jenis pengolahan air buangan yang sesuai dengan data kualitas
kandungan air buangan yang dihasilkan.
• Merencanakan bangunan pengolah air buangan, termasuk diagram alir proses
pengolahan.
• Menentukan kualitas dan kuantitas penghilangan kandungan bahan
organikmaupun anorganik yang dikehendaki.
• Menentukan kehilangan tekanan yeng terjadi sehingga dapat diketahui tinggi
muka air yang dikehendaki pada tiap unit serta dideskripsikan profil hidrolisnya.

1.3. Ruang Lingkup

Ruang Lingkup dalam tugas perencanaan ini dititikberatkan pada pembuatan


konsep-konsep dasar perhitungan disain yang meliputi :
• Primary Treatment :
 Pompa Non Clogging / Srew Pump
 Screening
 Grit Chamber
• Secondary Treatment :
Pengolahan secara biologis secara aerobik maupun anaerobik.
• Sludge Treatment dan Disposal.
• Lay Out, profil hidrolis, gambar-gambar disain.
• Bill Of Quantity dan Rencana Anggaran Biaya.

BAB II DASAR TEORI

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 2


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

2.1. Identifikasi Air Buangan

Air buangan biasa dinamakan air limbah atau sludge bahan buangan dari suatu
lingkungan masyrakat dimana terdapat kontaminan di dalamnya yang merupakan
substansi organik dan anorganikoriginal. Air buangan ini berasal dari sumber domestik,
industri, air hujan atau infiltrasi ground water.
Air limbah yang masih baru berupa cairan keruh dan berbau tanah tetapi tidak terlalu
merangsang. Bahan buangan ini mengandung padatan terapung dan tersuspensi serta
polutan dalam bentuk larutan. Selain tidak sedap dipandang, air buangan ini sangat
berbahaya terutama karena jumlah organisme patogen yang dikandungnya. Karena itu
air limbah perlu mendapat penanganan khusus dalam pengolahannya sebelum
dikembalikan ke badan air. Adapun komposisi air limbah dapat dideskripsikan sebagai
berikut :

Air Limbah

Air (99,9%) Padatan (0,1%)

Zat Organik (70%) Zat anorganik (30%)

Protein (65%) Karbohidrat (25%) Lemak (10%)

Bahan butiran Garam Logam


Gambar 2.1. Komposisi air limbah (Tebbut, 1970)

Bahan buangan biasanya diolah dengan memasukkan oksigen di dalamnya sehingga


bakteri dapat memanfaatkan bahan buangan ini sebagai makanan. Reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut :

bakteri

Bahan buangan baru + O2 Bahan buangan olahan + Bakteri

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 3


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Hal penting yang perlu diperhatikan untuk dijadikan acuan dalam disain operasi
bangunan pengolah air buangan adalah :
• Zat padat atau solid, terutama zat padat tersuspensi
• Material organik (biodegradable)
• Nutrien (nitrogen dan phosphor)
• Patogen
• Mikropolutan, terutama logam berat, dissolved solid atau zat padat terlarut

Dalam air buangan, diasumsikan telah melewati proses penyaringan (screening).


Berdasarkan ukurannya, zat padat diklasifikasikan sebagai :
 Zat padat tersuspensi (suspended solid)
 Zat padat terlarut (dissolved solid)
 Koloid

Pemisahan solid pada wastewater sering mengalami kesulitan , sehingga fraksi


dissolved diturunkan dengan mekanisme tertentu.
Parameter dalam air buangan :
a) Konduktivitas
Electrical Conductivity biasanya digunakan sebagai parameter kuantitas TDS (Total
Dissolved solid) pada sampel.
b) Temperatur
Temperatur sangat berpengaruh terhadap kondisi air limbah, semakin tinggi
temperatur maka kelarutan gas menurun, reaksi kimia meningkat dan pertumbuhan
mikroorganisme berubah. Misalnya pada daerah tropis bakteri anaerobik tumbuh
pada temperatur 20-25 OC, di luar range tersebut pertumbuhan mikroorganisme
tersebut akan terganggu.
c) Bau dan Warna
Bau biasanya dihasilkan dari hidrolisis dan degradasi secara aerobik maupun
anaerobik dari zat organik yang menghasilkan NH3. Bau dapat dikurangi dengan
aerasi secara intensifseperti strpping dari senyawa volatile dan oksidasi dari
senyawa biodegradable serta dapat juga dengan penutupan treatment plant. Warna
merupakan hasil produk degradasi air buangan. Pemisahan warna sangat sulit
dan perlu biaya tinggi. Bau dan warna ini adalah indikasi awal dari spesifik air limbah.

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 4


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Padatan dalam air limbah yang menduduki komposisi terbesar adalah material
organik (70%).

Komposisi material organik pada air limbah adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1. Komposisi material organik pada air limbah


KATEGORI KOMPOSISI
Karbohidrat C, H, O
Lemak C, H, O, N
Protein C, H, O, N, S, P
Urea C, H, O, N

Sebagai parameter material organik adalah :


a) ThOD (Theoritical Oxygen Demand)
Biasanya digunakan bila senyawa organiknya diketahui dan dapat dihitung bila
persamaan reaksi diketahui. Karena air limbah komposisinya sangat kompleks di
alam maka ThOD tidak dapat dihitung. Tetapi dalam praktiknya dapat digunakan
COD.
b) COD (Chemical Oxygen Demand)
Jumlah kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk oksidasi material organik, yang
didapat dengan mengoksidasi limbah dengan larutan asam dikromat yang mendidih
(Cr2O72-). Jumlah COD biasanya lebih besar dari BOD.
c) BOD (Biochemical Oxygen Demand)
Parameter ini menunjukkan kebutuhan oksigen untuk pengoksidasian limbah oleh
bakteri. Limbah yang teroksidasi hanya limbah yang biodegradablr saja.

Hubungan antara ketiga parameter tersebut adalah :

ThOD > COD > BOD


Melihat kandungan air limbah yang begitu kompleks dan dapat menimbulkan
dampak yang buruk pada masyarakat, maka disain bangunan pengolah air buangan
harus benar-benar menghasilkan efluen yang aman bagi lingkungan.

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 5


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

2.2. Pengelolaan Air Limbah

Dalam Pengelolaan air limbah ada tiga aspek yang saling berhubungan, yaitu :

1) Pengumpulan
Pengumpulan air limbah rumah tangga sebaiknya dilakukan dengan sistem
pengaliran air dalam pipa sepenuhnya . Hal ini dimaksudkan untuk mencegah
terjadinya kontaminasi dan mempermudah pengumpulan.

2) Pengolahan
Pengolahan terutama dibutuhkan untuk membunuh mikroorganisme patogen yang
ada di dalam air limbah dan untuk menjamin agar sesuai untuk setiap proses
penggunaan ulang yang dipilih untuknya.Pengolahan air limbah adalah suatu
kombinasi dari proses fisik, biologis, dan kimiawi.
Kriteria penyelenggaraan sistem pengolahan air limbah adalah :
a. Kesehatan
Organisme patogen tidak boleh tersebar baik secara langsung maupun tidak
langsung. Proses pengolahan memiliki derajat pengolahan yang tinggi.
b. Penggunaan ulang
Proses pengolahan harus memberikan hasil yang aman untuk penggunaan ulang
(aquaculture dan pertanian).
c. Ekologis
Pembuangan air limbah ke dalam air permukaan tidak boleh melebihi kapasitas
pembersihan diri dari badan air penerima.
d. Gangguan
Bau yang ditimbulkan harus berada di bawah ambang batas.

e. Kebudayaan
Metoda yang dipilih untuk pengumpulan, pengolahan, dan penggunaan ulang
harus sesuai dengan kebiasaan dan keadaan sosial setempat.
f. Biaya

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 6


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Diusahakan biaya yang dikeluarkan sehemat dan seefisien mungkin sehingga


masyarakat yang memakai instalasi pengolahan dapat membayar.

3) Penggunaan Ulang Air Limbah

Kelangkaan akan air yang umum terjadi di daerah tropis dan subtropis serta tingginya
biaya untuk membangun sistem penyediaan air yang baru merupakan dua faktor
utama yang mendorong bertambahnya kebutuhan untuk mengkonversi sumber-
sumber air dengan penggunaan ulang efluen atau dengan reklamasi efluen untuk
menghasilkan air yang dapat dipakai untuk distribusi, misalnya air pendingin.
Penggunaan ulang air buangan segar maupun sudah terolah untuk irigasi telah
dipakai secara meluas selama bertahun-tahun. Untuk masa sekarang, perhatian
ditujukan pada aquaculture dan penggunaan ulang efluen untuk keperluan kota dan
industri.

BAB III DASAR-DASAR PERENCANAAN

3.1. Jumlah Penduduk dan Kuantitas Air Buangan


Dalam merencanakan bangunan pengolah air buangan ada beberapa dasar
perencanaan yang harus diperhatikan. Terutama mengenai kuantitas air buangan yang
dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang dilayani dan perlu dilakukan suatu prediksi
jumlah penduduk sesuai dengan periode tahun perencanaan, yaitu dengan metoda
proyeksi.

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 7


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Metoda proyeksi yang digunakan adalah metoda Geometri, dan data hasil
proyeksi penduduk Kota Sumenep adalah sebagai berikut :

Tabel 3.1. Hasil proyeksi penduduk Kota Sumenep


Tahun Jumlah Penduduk
2000 123194
2001 123787
2002 124417
2003 125051
2004 125687
2005 126327
2006 126970
2007 127617
2008 128266
2009 128919
2010 129576
2011 130235
2012 130899
2013 131567
2014 132236
Sumber : Hasil perhitungan

Tabel 3.2. Proyeksi Fasilitas Umum Kota Sumenep


No 2001 2011

Fasilitas Jumlah Juml. Orang Fasilitas Jumlah Juml. Orang


1 Masjid 15 200 Masjid 17 200
2 Gereja 3 30 Gereja 4 30
3 Sekolah 20 150 Sekolah 24 150
4 Rumah Sakit 2 250 Rumah Sakit 3 250
5 Puskesmas 6 30 Puskesmas 7 30
6 Toko 124 40 Toko 143 40
7 Pasar 4 50 Pasar 5 50
8 Kantor 28 100 Kantor 33 100
9 Terminal 1 150 Terminal 2 150
10 Industri 4 200 Industri 6 200
Sumber : Hasil perhitungan

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 8


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Kuantitas air buangan untuk suatu daerah terutama ditentukan oleh jumlah
penduduk, tingkat hidup, iklim dan kegiatan sehari-hari. Untuk keperluan rumah tangga
jumlah ini dipengaruhi jumlah pemakaian air untuk mandi, mencuci, memasak dan
keperluan minum tiap orang perhari. Disamping itu adanya kegiatan lain seperti kegiatan
perdagangan, perkantoran, industri dan lain sebagainya, maka jumlah kuantitas air
buangan ini akan semakin meningkat.
Dari data Sistem Penyaluran Air Buangan (SPAB) Kota Sumenep diperoleh data
kuantitas air buangan sebagai berikut :

Tabel 3.3. Pembagian blok pelayanan


BLOK DESA % Jumlah
Penduduk
Blok I Kebonagung 85 5446
Blok II Pamolokan 55 5295
Karangduak 100 9646
Blok III Pamolokan 35 3369
Bungkal 90 5774
Blok IV Pandean 20 1747
Kebonagung 15 961
Babalan 10 690
Batuan 20 1481
Blok V Pandean 80 6988
Babalan 35 2415
Gedugan 10 559
Blok VI Babalan 55 3795
Gedugan 70 3914
Blok VII Kolor 40 4061
Gedugan 20 1118
Blok VIII Pangerangan 70 6137
Kepanjen 100 9255
Pejagalan 100 9422
Pamolokan 10 963
Bungkal 5 321
Blok IX Kolor 60 6091
Blok X Pabean 70 8220
Blok XI Pangerangan 30 2630
Kacongan 50 3108

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 9


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Pabean 30 3523
Bungkal 5 321
Blok XII Kacongan 50 3108
Marega daya 100 6479
Bab XIII Batuan 80 5925
Sumber : Hasil perhitungan

Tabel 3.4. Pembagian fasilitas umum tiap blok pelayanan


No Fasilitas Blok

I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII Total Unit


1 Masjid 1 2 1 2 3 1 1 1 1 1 1 1 1 17
2 Gereja - 1 - 1 1 - - - 1 - - - - 4
3
Sekolah 1 3 1 3 4 1 2 2 1 2 1 2 1 24
4 Rumah
Sakit - 1 - - 1 - - - - - - 1 - 3
5 Puskesma
6 s - 1 - 1 1 - 1 - 1 - 1 1 - 7
7
Toko 6 18 7 16 21 6 10 9 14 9 10 12 5 143
8
9 Pasar - 1 - 1 1 - - 1 - - 1 - - 5
10 Kantor 2 5 1 4 5 2 2 2 2 2 2 3 1 33
Terminal - - - - 1 - - - - - 1 - - 2
Industri 1 - 1 - - 1 - - - 1 - - 1 5
Sumber : Hasil perhitungan

Untuk perencanaan ini, debit air buangan yang dihasilkan diasumsikan sebesar
70% dari debit air bersih yang digunakan. Debit air bersih yang digunakan untuk
keperluan diperkirakan sebesar 150 lt/org/hari. Sedangkan untuk keperluan non
domestik yaitu:

Tabel 3.5. Asumsi pemakaian air bersih non domestik


Jenis Debit Asumsi Jumlah
Fasilitas (l/org/hari) Pemakai
(org/unit)
Masjid 30 200
Gereja 15 30
Rumah Sakit 200 150

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 10


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Sekolah 20 250
Puskesmas 25 30
Toko 25 40
Kantor 30 50
Pasar 40 100
Terminal 20 150
Industri 350 200

Dan untuk tiap-tiap blok, kebutuhan air bersihnya untuk konsumsi domestik dibedakan
menjadi:
1. Sambungan Rumah (SR), dimana jumlah penduduk yang dilayani diasumsikan
80% dari jumlah penduduk total blok tersebut. Dan kebutuhan air untuk
sambungan rumah adalah sebesar 150 lt/org/hari.
2. Kran Umum (KU), diasumsikan yang dilayani adalah 20% dari jumlah penduduk
blok itu. Dan kebutuhan airnya adalah 30 lt/org/hari.

Dan pada tahun 2011 jumlah penduduk yang dapat dilayani oleh PDAM diasumsikan
80%. Kemudian dari data-data dan ketentuan yang telah disebutkan, maka dapat
dilakukan perhitungan debit air buangan.

A. Konsumsi Domestik

Contoh perhitungan untuk Blok I

• Jumlah penduduk : 5446 jiwa


• % penduduk terlayani : 80%
• Sambungan rumah : 80%;keb. airnya 150 lt/org/hari
• Kran umum : 20% ; keb. Airnya 30 lt/org/hari

Perhitungannya:
1. Sambungan Rumah (SR)
Q air bersih = 80% x JmPend. X 80% x 150 lt/org/hari
= 80% x 5446 x 80% x 150 lt/org/hari

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 11


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

= 522816 lt/hari = 6 lt/dt


Q air buangan = 70% x Q air bersih
= 70% x 6 lt/dt
= 4.2 lt/dt
2. Kran Umum (KU)
Q air bersih = 80% x JmPend. X 80% x Keb. Air
= 80% x 5446 x 80% x 30 lt/org/hari
= 26141 lt/hari = 0.3 lt/dt
Q air buangan = 70% x 0.3 lt/dt
= 0.21 lt/dt

3. Kebutuhan air domestik


Q domestik = Q sambungan rumah + Q kran umum
= 522816 + 26141
= 54897 lt/hari
= 6 lt/detik
Q air buangan domestik = 70% x 6 lt/dt
= 4.2 lt/dt

Dan untuk perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3.6. Keb. Air domestik dan buangan


Qsr
BLOK JUMLAH % JML PDDK Q sr buangan
PENDDK TERLAYANI ( l/dt ) ( l/dt )
I 5446 80 4357 6.05 4.24
II 14941 80 11803 16.39 11.48
III 9143 80 7314 10.16 7.11
IV 4879 80 3903 5.42 3.79
V 9962 80 7970 11.07 7.75
VI 7709 80 6090 8.46 5.92
VII 5179 80 4040 5.61 3.93
VIII 26098 80 20878 29.00 20.30

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 12


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

IX 6091 80 4873 6.77 4.74


X 8220 80 6576 9.13 6.39
XI 9582 80 7570 10.51 7.36
XII 9587 80 7574 10.52 7.36
XIII 5925 80 4740 6.58 4.61

Q ku Q ku buangan Q dom Q dom buangan


( l/dt ) ( l/dt ) ( l/dt ) ( l/dt )
0.30 0.21 6 4.2
0.82 0.57 17 12.05
0.51 0.36 11 7.47
0.27 0.19 6 3.98
0.55 0.39 12 8.14
0.42 0.30 9 6.22
0.28 0.20 6 4.12
1.45 1.01 30 21.31
0.34 0.24 7 4.97
0.46 0.32 10 6.71

0.53 0.37 11 7.73


0.53 0.37 11 7.73
0.33 0.23 7 4.84
Sumber : Hasil perhitungan

B. Konsumsi Non Domestik

Contoh perhitungan untuk Blok I

Q non domestik = Σ unit X Debit X Asumsi jml pemakai


Q masjid = 1 x 30 200 = 6000 lt/hari
Q sekolah = 1 x 20 x 250 = 10000 lt/hari
Q toko = 6 x 25 x 40 = 6000 lt/hari
Q kantor = 2 x 30 x 50 = 7000 lt/hari
Q industri = 1 x 350 x 200 = 70000 lt/hari

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 13


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Total keseluruhan adalah 90000 lt/hari = 1.042 l/dtk

Q buangan non domestik = 1.042 x 70%


= 0.729 lt/dt
Dan untuk perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3.7. Keb. Air non domestik dan buangan


Blok Debit Debit Debit Buangan
Non Domestik Non Domestik Non Domestik
(l/hari) (l/detik) (l/detik)
I 90000 1.042 0.729
II 87700 1.015 0.711
III 89500 1.036 0.725
IV 54200 0.627 0.439
V 104700 1.212 0.848
VI 90000 1.042 0.729
VII 29750 0.344 0.241
VIII 32000 0.370 0.259
IX 29200 0.338 0.237
X 98000 1.134 0.794
XI 31750 0.367 0.257
XII 63250 0.732 0.512
XIII 87500 1.013 0.709
Sumber : Hasil perhitungan

C. Kebutuhan Air Total

Contoh perhitungan untuk Blok I


Q air bersih total = Q air domestik + Q non domestik
= 6 lt/dt + 1.042 lt/dt
= 7.042 lt/dt
Q air buangan total = 70% x Q air bersih total
= 70% x 7.042 lt/dt
= 4.929 lt/dt
Dan untuk perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 14


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Tabel 3.8. Keb. Air bersih dan buangan total


Q non Q air bersih Q air buangan
Blok Q domestik domestik total total
(l/detik) (l/detik) (l/detik) (l/detik)

I 6 1.042 7.042 4.929


II 17 1.015 18.015 12.611
III 11 1.036 12.036 8.425
IV 6 0.627 6.627 4.639
V 12 1.212 13.212 9.248
VI 9 1.042 10.042 7.029
VII 6 0.344 6.344 4.441
VIII 30 0.370 30.370 21.259
IX 7 0.338 7.338 5.137
X 10 1.134 11.134 7.794
XI 11 0.367 11.367 7.957
XII 11 0.732 11.732 8.212
XIII 7 1.013 8.013 5.609
Sumber : Hasil perhitungan

Debit air buangan yang telah diperoleh diatas merupakan debit rata-rata (average).
Dan untuk selanjutnya dilakukan perhitungan fluktuasi air buangan sebagai berikut:

Contoh perhitungan untuk Blok I

• Luas = 272.25 ha
• Jumlah penduduk terlayani = 4357 jiwa
• Q domestik = 548.957 m3/hari
• Q non domestik = 90 m3/hari

Q average = Q domestik + Q non domestik


= 548.957 + 90
= 638.957 m3/hari

Berdasarkan grafik, didapatkan factor peak = 3.4


Q peak = Q ave x fp

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 15


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

= 638.957 m3/hari x 3.4


= 2172.454 m3/hari
Dan didapat pula faktor average infiltrasi = 5.6
Qaveinf = Luas x fav
= 272.25 x 5.6
= 1524.6 m3/hari

Q peak total = Q peak + Q average infiltrasi


= 2172.454 + 1524.6
= 3697.05 m3/hari
= 42.79 l/dt
0.2

⎛ ⎞
Q minimum = 1/5x ⎜ P ⎟ xQave
⎝1000⎠
0.2

⎛ ⎞
= 1/5x ⎜ 4357 ⎟ x638.957
⎝1000 ⎠
= 171.53 m3/hari
= 1.985 l/dt

Dan untuk perhitungan blok-blok yang lain, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3.9. Debit air buangan tiap blok


Jml Q air Q air
Blok Pend Luas bersih Q air bersih bersih
Q air bersih Q Q
Terlayani (ha) Domestik Non domestik Domestik Non domestik Average Average
(l/hari) (l/hari) (m3/hari) (m3/hari) (m3/hari) (m3/dt)
I 4357 272.25 548957 90000 548.957 90 638.957 0.0074
II 11803 225 1487227 87700 1487.227 87.7 1574.927 0.0182
III 7314 247.5 921614 89500 921.614 89.5 1011.114 0.0117
IV 3903 207.9 491803 54200 491.803 54.2 546.003 0.0063
V 7970 222.75 1004170 104700 1004.17 104.7 1108.87 0.0128
VI 6090 193.5 767354 90000 767.354 90 857.354 0.0099

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 16


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

VII 4040 371.25 508992 29750 508.992 29.75 538.742 0.0062


VIII 20878 348.75 2630678 32000 2630.678 32 2662.678 0.0308
IX 4873 418.5 613973 29200 613.973 29.2 643.173 0.0074
X 6576 162 828576 98000 828.576 98 926.576 0.0107
XI 7570 299.25 953792 31750 953.792 31.75 985.542 0.0114
XII 7574 497.25 954290 63250 954.29 63.25 1017.54 0.0118
XIII 4740 173.5 597240 87500 597.24 87.5 684.74 0.0079

Q
Peak Q Factor Average Q Peak Q Peak Q Q
Factor Peak Average Infiltrasi Total Total Minimum Minimum

(m3/hari) Infiltrasi (m3/hari) (m3/hari) (L/dt) (m3/hari) (L/dt)


3.4 2172.454 5.60 1524.6 3697.05 42.790 171.530 1.985
3.1 4882.274 5.80 1305 6187.27 71.612 516.047 5.973
3.2 3235.565 5.70 1410.75 4646.31 53.777 301.066 3.485
3.3 1801.810 6.00 1247.4 3049.21 35.292 143.385 1.660
3.2 3548.384 5.80 1291.95 4840.33 56.022 335.894 3.888
3.3 2829.268 6.10 1180.35 4009.62 46.408 246.101 2.848
3.3 1777.849 4.80 1782 3559.85 41.202 142.458 1.649
3.0 7988.034 4.90 1708.875 9696.91 112.233 977.882 11.318
3.4 2186.788 4.60 1925.1 4111.89 47.591 176.570 2.044
3.2 2965.043 6.20 1004.4 3969.44 45.943 270.087 3.126
3.2 3153.734 5.30 1586.025 4739.76 54.858 295.477 3.420
3.2 3256.128 4.20 2088.45 5344.58 61.859 305.103 3.531
3.3 2259.642 6.10 1058.35 3317.99 38.403 186.944 2.164
Sumber : Hasil perhitungan

BAB IV ALTERNATIF PERENCANAAN

4.1. Klasifikasi Pengolahan Air Buangan

Pengolahan air buangan dapat diklasifikasikan berdasarkan proses pengolahan dan


tingkat pengolahannya.

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 17


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

A. Kalsifikasi berdasarkan proses pengolahan


a) Pengolahan secara fisik, dilakukan dengan maksud untuk menghilangkan benda-
benda fisik atau memperbaiki sifat-sifat fisik air buangan Pengolahan secara fisik
dapat dilakukan dengan :
• Screening (penyaringan)
• Sedimentasi
• Flokulasi
• Filtrasi
• Grit Chamber
• Comminutor
• Drying Bed
b) Pengolahan secara kimiawi, pengolahan yang menggunakan bahan-bahan kimia
untuk memperbaiki kualitas air buangan.
Pengolahan secara kimiawi dapat dilakukan dengan :
• Koagulasi
• Chemical Precipitation
• Disinfeksi (Chlorinasi)
c) Pengolahan secara biologis, dengan memanfaatkan mikroorganisme di dalam
proses pengolahan
Pengolahan biologis dapat dilakukan dengan :
• Trickling Filter
• Activated Sludge
• Lagoon
• Aerobic Stabilization Ponds
• Digestion
B. Klasifikasi berdasarkan tingkat pengolahan
a) Pengolahan primer, bertujuan untuk mengurangi kadar zat-zat yang terkandung
dalam air buangan dan membantu agar beban pada pengolahan sekunder tidak
terlalu berat. Pengolahan primer ini dapat mengurangi atau menurunkan
Suspended Solid (SS) sebesar 50-60 % dan BOD 25-30 % (Elwyn E. Seelye).
Unit-unit pengolahan dapat berupa :
• Sreen

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 18


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

• Comminutor
• Grit Chamber
• Sedimentasi
b) Pengolahan sekunder, merupakan proses pengolahan biologis dengan bantuan
mokroorganisme. Pengolahan sekunder ini dapat mengurangi SS sebesar 90 %
dan BOD sebesar 70-95 (Elwyn E. Seelye).
Unit-unit pengolahan dapat berupa :
• Trickling Filter
• Activated Sludge
• Stabilization Pond
c) Pengolahan tersier, dipergunakan untuk menghilangkan unsur-unsur tertentu
dalam air buangan yang tidak diinginkan seperti Nitrogen (N), Phosphor (P) serta
proses disinfeksi.

4.2. Alternatif Pengolahan

Ada beberapa alternatif pengolahan air buangan yang dapat dipilih sehubungan dengan
beban pengolahan yang harus diolah sehingga dapat menghasilkan efluen yang sesuai
dengan baku mutu air limbah yang ditentukan. Adapun kriteria pemilihan suatu alternatif
pengolahan adalah :
a) Efisiensi Pengolahan
Efisiensi pengolahan berhubungan dengan kemampuan proses tersebut dalam
mengolah air limbah.
b) Aspek Teknis
Aspek teknis meliputi kemudahan dari segi konstruksi, ketersediaan tenaga ahli,
untuk mendapatkan bahan-bahan konstruksi, operasi maupun pemeliharan.
c) Aspek ekonomis
Aspek ekonomis meliputi pembiayaan dalam hal konstruksi, operasi maupun
pemeliharaan dari instalasi bangunan pengolahan air buangan.
d) Aspek Lingkungan

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 19


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Aspek lingkungan meliputi kemungkinan adanya gangguan terhadap penduduk dan


lingkungan, yaitu yang berhubungan dengan keseimbangan ekologis, serta
penggunaan lahan.

Flow diagram yang menjadi alternatif pengolahan adalah sebagai berikut :

Alternatif 1 (Oxidation Ditch) :

5 6 8
9 10

11

Keterangan :
1. Saluran Pembawa R Return Sludge
2. Sumur Pengumpul S1 Sludge dari Bak Pengendap I
3. Pompa S2 Sludge dari Secondary Clarifier
4. Bar Sreen F Resirkulasi Filtrat
5. Grit Chamber
6. Bak Ekualisasi
7. Bak Pengendap I
8. Oxidation Ditch
9. Secondary Clarifier
10. Disinfeksi
11. Sludge Drying Bed

Keuntungan :
• Mempunyai efisiensi removal BOD dan COD yang tinggi antara 80-85 %.
• Removal N tinggi (aerobic-anoxic).
• Dapat dimodifikasi sesuai karakteristik air buangan.
• Efluen yang dihasilkan lebih konstan / stabil (F/M ratio kecil sehingga terjadi
endogeneous respiration dan sludge yang dihasilkan lebih sedikit) dan tidak tidak
berbau.

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 20


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

• Penanganan dan pengolahan lumpur dapat diabaikan (dikurangi) karena


buangan lumpur relatif sedikit dan stabil, sehingga dapat langsung dikeringkan
dengan Sludge Drying Bed (SDB).
• Tidak terdapat gangguan serangga.

Kerugian :
• Memerlukan area yang luas.
• Tidak fleksibel untuk beban organik dan beban hidrolik yang tidak stabil
(bervariasi).
• Perlu tenaga terlatih untuk operasi pengolahannya.

Alternatif 2 (Trickling Filter) :

5 6 8 9 10

11 12 13

Keterangan :
1. Saluran Pembawa R Return Sludge
2. Sumur Pengumpul S1 Sluge dari Bak Pengendap I
3. Pompa S2 Sludge dari Secondary Clarifier
4. Bar Sreen F Resirkulasi Filtrat
5. Grit Chamber
6. Bak Ekualisasi
7. Bak Pengendap I
8. Trickling Filter
9. Secondary Clarifier
10. Disinfeksi
11. Thickener
12. Digester

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 21


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

13. Sludge Dryng Bed / Fiter Press

Keuntungan :
• Tidak terganggu adanya beban hidrolik dan organik.
• Mempunyai efisiensi pengolahan 60-80 %.
• Tidak memerlukan lahan yang luas.
• Kebutuhan oksigen tidak terlalu besar.

Kerugian :
• Kemungkinan timbulnya lalat (serangga).
• Efluen berbau.
• Perlu tenaga terlatih untuk operasi pengolahannya.
• Memerlukan pengolahan lumpur yang lengkap.
• Kehilangan tekanan cukup besar antara 1,8-3,6 atm.

Alternatif 3 (Aeration Tank) :

5 6 8 9 10

11 12 13

Keterangan :
1. Saluran Pembawa R Return Sludge
2. Sumur Pengumpul S1 Sluge dari Bak Pengendap I
3. Pompa S2 Sludge dari Secondary Clarifier
4. Bar Sreen F Resirkulasi Filtrat
5. Grit Chamber
6. Bak Ekualisasi
7. Bak Pengendap I
8. Aeration Tank
9. Secondary Clarifier

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 22


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

10. Disinfeksi
11. Thickener
12. Digester
13. Sludge Dryng Bed / Fiter Press

Keuntungan :
• Mempunyai efisiensi removal BOD tinggi antar 80-85 %.
• Dapat dimodifikasi sesuai karakteristik air buangan.
• Efluen tidak berbau.
• Terhindar dari gangguan lalat (serangga).

Kerugian :
• Memerlukan area yang luas.
• Memerlukan proses stabilisasi lumpur.
• Memerlukan tenaga profesional yang banyak dan terlatih.
• Tidak fleksibel terhadap variasi beban hidrolik.

4.3. Dasar Pemikiran Pemilihan Alternatif


4.3.1. Kriteria Pemilihan

Dalam menentukan criteria pemilihan ini, digunakan pertimbangan pada beberapa


aspek, yaitu:
1. Efisiensi Pengolahan
Ditujukan agar dapat dihasilkan efluen yang memenuhi persyaratan yang telah
ditentukan untuk dikembalikan ke badan air atau dimanfaatkan kembali.
2. Aspek Teknis
a. Segi konstruksi
Menyangkut teknis pelaksanaan, ketersediaan tenaga ahli, kemudahan material
konstruksi, dan instalasi bangunan.
b. Segi Operasi dan Pemeliharaan
Menyangkut ketersediaan tenaga ahli, kemudahan pengoperasian dan
pemeliharaan instalasi.

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 23


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

3. Aspek Ekonomis
Menyangkut masalah financial atau pembiayaan dalam hal konstruksi, operasi dan
pemeliharaan IPAL.
4. Aspek Lingkungan
Kemungkinan terjadinya gangguan yang dirasakan penduduk akibat
ketidakseimbangan faktor ekologis.

4.3.2. Alternatif Pengolahan Terpilih

Dari analisa-analisa yang dilakukan pada masing-masing alternative, maka dipilih


alternative pengolahan 3 (tiga), yaitu pengolahan biologis dengan menggunakan
complete – mix activated sludge.
Pemilihan ini didasarkan pada efisiensi removal BOD yang tinggi serta dapat
dimodifikasi sesuai dengan karakteristik air buangan.

4.4. Mass Balance

Dari alternative pengolahan yang terpilih, maka dilakukan perhitungan mass balance.

Mass Balance Dengan Oxidation Ditch

Efisiensi removal tiap unit pengolahan yang dapat dicapai dengan menggunakan
Oxidation Ditch dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Efisiensi removal unit pengolahan


Efisiensi removal (%)
Unit Pengolahan
BOD COD SS P Org-N NH3-N

Bar screen - - - - - -
Grit chamber 10 5 5 - - -

Pengendapan pertama 30 – 40 30 - 40 50 - 65 10 - 20 10 - 20 -

Oxidatiopn Ditch 75 – 95 80 - 85 80 - 90 10 - 25 15 - 50 -

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 24


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

(Sumber : Metcalf & Eddy. 1981. Waswater Ingineering : Collection and Pumping of
Wastewater. Hal 170)

Perhitungan mass balance :


Data awal :
Qp = 0,487 m3/detik = 42056,97 m3/hari
[BOD] = 220 mg/L
BOD M = [BOD] x Qp = 220 mg/L x 42056,97 m3/hari = 9252,53 kg/hari
[COD] = 500 mg/L
COD M = [COD] x Qp = 500 mg/L x 42056,97 m3/hari = 21028,49 kg/hari
[SS] = 220 mg/L
SS M = [SS] x Qp = 220 mg/L x 42056,97 m3/hari = 9252,53 kg/hari

[N] = 40 mg/L
N M = [N] x Qp = 40 mg/L x 42056,97 m3/hari = 1682,28 kg/hari
[P] = 8 mg/L
P M = [P] x Qp = 8 mg/L x 42056,97 m3/hari = 336,46 kg/hari

1. Grit Chamber
Kemampuan meremoval : BOD = 10 % SS = 5 % P=-
COD = 5 % N=-
Yang keluar dari Grit Chamber (out) :
BODM’ = 9252,53 x (100 - 10) % = 8327,28 kg/hari
CODM’ = 21028,49 x (100 - 5) % = 19977,07 kg/hari
SSM’ = 9252,53 x (100 - 5) % = 8789,90 kg/hari
NM’ = = 1682,28 kg/hari
PM’ = = 336,46 kg/hari
Yang menjadi sludge (waste) :
BODM = 9252,53 – 8321,28 = 931,25 kg/hari
CODM = 21028,49 – 19977,07 = 1051,42 kg/hari
SSM = 9252,53 – 8789,90 = 462,63 kg/hari
NM = = 0 kg/hari
PM = = 0 kg/hari
Efluen Grit Chamber :

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 25


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

BODM ' 8327,28


[BOD] = x 1000 = x 1000 = 198 mg/L
Qefluen 42056,97

CODM ' 19977,07


[COD] = x 1000 = x 1000 = 475 mg/L Qefluen
42056,97

SSM ' 8789,9


[SS] = x 1000 = x 1000 = 209
mg/L Qefluen 42056,97
[P] = 40 mg/l
[N] = 8 mg/l

2. Primary Clarifier (Pengendap pertama)


Kemampuan meremoval : BOD = 35 % SS = 65 % P = 20 %
COD = 35 % N = 15 %
Yang keluar dari primary clarifier (out) :
BODM’ = 8327,28 x (100 - 35) % = 5412,73 kg/hari CODM’ =
19977,07 x (100 - 35) % = 12985,1 kg/hari SSM’ = 8789,9
x (100 - 65) % = 3076,47 kg/hari
NM’ = 1682,28 x (100 - 15) % = 1429,94 kg/hari
PM’ = 336,46 x (100 - 20) % = 269,17 kg/hari Yang
menjadi sludge (waste) :
BODM = 8327,28 – 5412,73 = 2914,55 kg/hari
CODM = 19977,07 – 12985,1 = 6991,97 kg/hari SSM
= 8789,9 – 3076,47 = 5713,43 kg/hari
NM = 1682,28 – 1429,94 = 252,34 kg/hari
PM = 336,46 – 269,17 = 67,29 kg/hari
Qwaste : Berat solid = 6 % dari lumpur

Massa lumpur = x SSM '= x 5713,43 =


95223,83kg/hari

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 26


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Volume lumpur = massa lumpur = 95223,83 = 3/hari


90,69 m
berat jenis lumpur 1,05 x 1000
Qefluen = Qinfluen – Qlumpur = 42056,97 – 90,69 = 41966,28 m3/hari Efluen
primary clarifier :

BODM ' 5412,73


[BOD] = x 1000 = x 1000 = 128,98 mg/L Qefluen
41966,28
CODM ' 12985,1
[COD] = x 1000 = x 1000 = 309,42 mg/L
Qefluen 41966,28

SSM ' 3076,47


[SS] = x 1000 = x 1000 = 73,31 mg/L
Qefluen 41966,28

NM ' 1429,94
[N] = x 1000 = x 1000 = 34,07 mg/L
Qefluen 41966,28

PM ' 269,17
[P] = x 1000 = x 1000 = 6,41
mg/L Qefluen 41966,28

3. Oxidation Ditch & Secondary Clarifier


Kemampuan meremoval : BOD = 90 % SS = 90 % P = 25 %
COD = 80 % N = 30 %
Yang keluar dari secondary clarifier (out) :
BODM’ = 5412,73 x (100 - 90)% = 541,27 kg/hari
CODM’ = 12985,1 x (100 - 80)% = 2597,02 kg/hari
SSM’ = 3076,47 x (100 - 90)% = 307,65 kg/hari
NM’ = 1429,94 x (100 - 30)% = 1000,96 kg/hari
PM’ = 269,17 x (100 - 25)% = 201,88 kg/hari
Yang menjadi sludge (waste) :
BODM = 5412,73 - 541,27 = 4871,46 kg/hari
CODM = 12985,1- 2597,02 = 10388,08 kg/hari
SSM = 3076,47 - 307,65 = 2768,82 kg/hari

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 27


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

NM = 1429,94 - 1000,96 = 428,98 kg/hari


PM = 269,17 - 201,88 = 67,29 kg/hari
Qwaste : Berat solid = 6 % dari lumpur

Massa lumpur = x SSM '= x 2768,82 = 46147


kg/hari

Volume lumpur = massa lumpur = 46147 = 3 /hari


43,95 m
berat jenis lumpur 1,05 x 1000
Volume Lumpur yang diresirkulasikan sebesar 75 %
= 75 % x 43,95 m3/hari
= 32,96 m3/hari

Qefluen = Qinfluen – Qlumpur = 42056,97 – 32,96 = 42024,01 m3/hari


Efluen secondary clarifier :

BODM ' 541,27


[BOD] = x 1000 = x 1000 = 12,88 mg/L
Qefluen 42024,01

CODM ' 2597,02


[COD] = x 1000 = x 1000 = 61,8 mg/L
Qefluen 42024,01

SSM ' 307,65


[SS] = x 1000 = x 1000 = 7,32 mg/L
Qefluen 42024,01

NM ' 1000,96
[N] = x 1000 = x 1000 = 23,82 mg/L
Qefluen 42024,01

PM ' 201,88
[P] = x 1000 = x 1000 = 4,8
mg/L Qefluen 42024,01

Mass Balance Dengan Trickling Filter

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 28


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Efisiensi removal tiap unit pengolahan yang dapat dicapai dengan menggunakan
Tricling Filter dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Efisiensi removal unit pengolahan


Efisiensi removal (%)
Unit Pengolahan
BOD COD SS P Org-N NH3-N

Bar screen - - - - - -
Grit chamber 10 5 5 - - -

Pengendapan pertama 30 – 40 30 - 40 50 - 65 10 - 20 10 - 20 -
Trickling Filter 65 – 80 60 - 70 60 - 85 15 - 50 8 - 12 -
(Sumber : Metcalf & Eddy. 1981. Waswater Ingineering : Collection and Pumping of
Wastewater. Hal 170)

Perhitungan mass balance :


Data awal :
Qp = 0,487 m3/detik = 42056,97 m3/hari
[BOD] = 220 mg/L
BOD M = [BOD] x Qp = 220 mg/L x 42056,97 m3/hari = 9252,53 kg/hari
[COD] = 500 mg/L
COD M = [COD] x Qp = 500 mg/L x 42056,97 m3/hari = 21028,49 kg/hari

[SS] = 220 mg/L


SS M = [SS] x Qp = 220 mg/L x 42056,97 m3/hari = 9252,53 kg/hari
[N] = 40 mg/L
N M = [N] x Qp = 40 mg/L x 42056,97 m3/hari = 1682,28 kg/hari
[P] = 8 mg/L
P M = [P] x Qp = 8 mg/L 42056,97 x m3/hari = 336,46 kg/hari

1. Grit Chamber
Kemampuan meremoval : BOD = 10 % SS = 5 % P=-
COD = 5 % N=-

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 29


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Yang keluar dari Grit Chamber (out) :


BODM’ = 9252,53 x (100 - 10) % = 8327,28 kg/hari
CODM’ = 21028,49 x (100 - 5) % = 19977,07 kg/hari
SSM’ = 9252,53 x (100 - 5) % = 8789,90 kg/hari
NM’ = = 1682,28 kg/hari
PM’ = = 336,46 kg/hari
Yang menjadi sludge (waste) :
BODM = 9252,53 – 8321,28 = 931,25 kg/hari
CODM = 21028,49 – 19977,07 = 1051,42 kg/hari
SSM = 9252,53 – 8789,90 = 462,63 kg/hari
NM = = 0 kg/hari
PM = = 0 kg/hari
Efluen Grit Chamber :

BODM ' 8327,28


[BOD] = x 1000 = x 1000 = 198 mg/L
Qefluen 42056,97

CODM ' 19977,07


[COD] = x 1000 = x 1000 = 475 mg/L
Qefluen 42056,97

SSM ' 8789,9


[SS] = x 1000 = x 1000 =
209 mg/L Qefluen 42056,97
[P] = 40 mg/l
[N] = 8 mg/l

2. Primary Clarifier (Pengendap pertama)


Kemampuan meremoval : BOD = 35 % SS = 65 % P = 20 %
COD = 35 % N = 15 %
Yang keluar dari primary clarifier (out) :
BODM’ = 8327,28 x (100 - 35) % = 5412,73 kg/hari
CODM’ = 19977,07 x (100 - 35) % = 12985,1 kg/hari
SSM’ = 8789,9 x (100 - 65) % = 3076,47 kg/hari

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 30


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

NM’ = 1682,28 x (100 - 15) % = 1429,94 kg/hari


PM’ = 336,46 x (100 - 20) % = 269,17 kg/hari
Yang menjadi sludge (waste) :
BODM = 8327,28 – 5412,73 = 2914,55 kg/hari
CODM = 19977,07 – 12985,1 = 6991,97 kg/hari
SSM = 8789,9 – 3076,47 = 5713,43 kg/hari
NM = 1682,28 – 1429,94 = 252,34 kg/hari
PM = 336,46 – 269,17 = 67,29 kg/hari
Qwaste : Berat solid = 6 % dari lumpur

Massa lumpur = x SSM '= x 5713,43 =


95223,83kg/hari

Volume lumpur = massa lumpur = 95223,83 = 3/hari


90,69 m
berat jenis lumpur 1,05 x 1000
Qefluen = Qinfluen – Qlumpur = 42056,97 – 90,69 = 41966,28 m3/hari Efluen
primary clarifier :

BODM ' 5412,73


[BOD] = x 1000 = x 1000 = 128,98 mg/L
Qefluen 41966,28

CODM ' 12985,1


[COD] = x 1000 = x 1000 = 309,42 mg/L
Qefluen 41966,28

SSM ' 3076,47


[SS] = x 1000 = x 1000 = 73,31 mg/L
Qefluen 41966,28

NM ' 1429,94
[N] = x 1000 = x 1000 = 34,07 mg/L
Qefluen 41966,28

PM ' 269,17
[P] = x 1000 = x 1000 = 6,41
mg/L Qefluen 41966,28

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 31


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

3. Tricling Filter
Kemampuan meremoval : BOD = 70 % SS = 75 % P = 15 %
COD = 70 % N = 10 %
Yang keluar dari secondary clarifier (out) :
BODM’ = 5412,73 x (100 - 70)% = 1623,82 kg/hari
CODM’ = 12985,1 x (100 – 70)% = 3895,53 kg/hari
SSM’ = 3076,47 x (100 - 75)% = 769,12 kg/hari
NM’ = 1429,94 x (100 - 10)% = 1286,95 kg/hari
PM’ = 269,17 x (100 - 15)% = 228,79 kg/hari
Yang menjadi sludge (waste) :
BODM = 5412,73 - 1623,82 = 3788,91 kg/hari
CODM = 12985,1 - 3895,53 = 9085,57 kg/hari
SSM = 3076,47 - 769,12 = 2307,35 kg/hari
NM = 1429,94 - 1286,95 = 142,99 kg/hari
PM = 269,17 - 228,79 = 40,38 kg/hari
Qwaste : Berat solid = 6 % dari lumpur

Massa lumpur = x SSM '= x 2307,35 = 38455,83


kg/hari

Volume lumpur = massa lumpur = 38455,83 = 3/hari


36,62 m
berat jenis lumpur 1,05 x 1000
Qefluen = Qinfluen – Qlumpur = 41966,28 – 36,62 = 41929,66 m3/hari Efluen
secondary clarifier :

BODM ' 1623,82


[BOD] = x 1000 = x 1000 = 38,73
mg/L Qefluen 41929,66

CODM ' 3895,53


[COD] = x 1000 = x 1000 = 92,91
mg/L Qefluen 41929,66

SSM ' 769,12


[SS] = x 1000 = x 1000 = 18,34 mg/L
Qefluen 41929,66

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 32


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

NM ' 1286,95
[N] = x 1000 = x 1000 = 30,69 mg/L
Qefluen 41929,66

PM ' 228,79
[P] = x 1000 = x 1000 = 5,46
mg/L Qefluen 41929,66

Mass Balance Dengan Tangki Aerasi ( Activated Sludge Process )

Efisiensi removal tiap unit pengolahan yang dapat dicapai dengan menggunakan
Tangki Aerasi ( ASP ) dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Efisiensi removal unit pengolahan


Efisiensi removal (%)
Unit Pengolahan
BOD COD SS P Org-N NH3-N

Bar screen - - - - - -
Grit chamber 10 5 5 - - -

Pengendapan pertama 30 - 40 30 - 40 50 - 65 10 - 20 10 - 20 -
Tangki Aerasi ( ASP ) 75 - 95 80 - 85 80 - 90 10 - 25 15 - 50 -
(Sumber : Metcalf & Eddy. 1981. Waswater Ingineering : Collection and Pumping of
Wastewater. Hal 170)

Perhitungan mass balance :


Data awal :
Qp = 0,487 m3/detik = 42056,97 m3/hari
[BOD] = 220 mg/L
BOD M = [BOD] x Qp = 220 mg/L x 42056,97 m3/hari = 9252,53 kg/hari
[COD] = 500 mg/L
COD M = [COD] x Qp = 500 mg/L x 42056,97 m3/hari = 21028,49 kg/hari
[SS] = 220 mg/L
SS M = [SS] x Qp = 220 mg/L x 42056,97 m3/hari = 9252,53 kg/hari
[N] = 40 mg/L

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 33


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

N M = [N] x Qp = 40 mg/L x 42056,97 m3/hari = 1682,28 kg/hari


[P] = 8 mg/L
P M = [P] x Qp = 8 mg/L 42056,97 x m3/hari = 336,46 kg/hari

1. Grit Chamber
Kemampuan meremoval : BOD = 10 % SS = 5 % P=-
COD = 5 % N=-

Yang keluar dari Grit Chamber (out) :


BODM’ = 9252,53 x (100 - 10) % = 8327,28 kg/hari
CODM’ = 21028,49 x (100 - 5) % = 19977,07 kg/hari
SSM’ = 9252,53 x (100 - 5) % = 8789,90 kg/hari
NM’ = = 1682,28 kg/hari
PM’ = = 336,46 kg/hari
Yang menjadi sludge (waste) :
BODM = 9252,53 – 8321,28 = 931,25 kg/hari
CODM = 21028,49 – 19977,07 = 1051,42 kg/hari
SSM = 9252,53 – 8789,90 = 462,63 kg/hari
NM = = 0 kg/hari
PM = = 0 kg/hari
Efluen Grit Chamber :

BODM ' 8327,28


[BOD] = x 1000 = x 1000 = 198 mg/L
Qefluen 42056,97

CODM ' 19977,07


[COD] = x 1000 = x 1000 = 475 mg/L
Qefluen 42056,97

SSM ' 8789,9


[SS] = x 1000 = x 1000 =
209 mg/L Qefluen 42056,97
[P] = 40 mg/l
Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 34
Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

[N] = 8 mg/l

2. Primary Clarifier (Pengendap pertama)


Kemampuan meremoval : BOD = 35 % SS = 65 % P = 20 %
COD = 35 % N = 15 %
Yang keluar dari primary clarifier (out) :
BODM’ = 8327,28 x (100 - 35) % = 5412,73 kg/hari CODM’ =
19977,07 x (100 - 35) % = 12985,1 kg/hari SSM’ =
8789,9 x (100 - 65) % = 3076,47 kg/hari
NM’ = 1682,28 x (100 - 15) % = 1429,94 kg/hari
PM’ = 336,46 x (100 - 20) % = 269,17 kg/hari Yang
menjadi sludge (waste) :
BODM = 8327,28 – 5412,73 = 2914,55 kg/hari
CODM = 19977,07 – 12985,1 = 6991,97 kg/hari SSM =
8789,9 – 3076,47 = 5713,43 kg/hari
NM = 1682,28 – 1429,94 = 252,34 kg/hari
PM = 336,46 – 269,17 = 67,29 kg/hari
Qwaste : Berat solid = 6 % dari lumpur

Massa lumpur = x SSM '= x 5713,43 =


95223,83kg/hari

Volume lumpur = massa lumpur = 95223,83 = 3/hari


90,69 m
berat jenis lumpur 1,05 x 1000
Qefluen = Qinfluen – Qlumpur = 42056,97 – 90,69 = 41966,28 m3/hari Efluen
primary clarifier :

BODM ' 5412,73


[BOD] = x 1000 = x 1000 = 128,98 mg/L
Qefluen 41966,28

CODM ' 12985,1


[COD] = x 1000 = x 1000 = 309,42 mg/L
Qefluen 41966,28
Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 35
Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

SSM ' 3076,47


[SS] = x 1000 = x 1000 = 73,31 mg/L
Qefluen 41966,28

NM ' 1429,94
[N] = x 1000 = x 1000 = 34,07 mg/L
Qefluen 41966,28

PM ' 269,17
[P] = x 1000 = x 1000 = 6,41
mg/L Qefluen 41966,28

3. Tangki Aerasi ( Activated Process )

Direncanakan :
 k = 5 / hari
 y = 0,6 mg VSS / mg BOD5
 kd = 0,06 / hari
 θc = 10 hari
 Xr = 10000 mg/l ( sebagai MLSS ) dan 8000 mg/l ( sebagai MLVSS)
 MLSS = 2000 mg/l
 MLVSS/MLSS= 0,8
 Qr/Q = 0,25 – 0,75
 BOD efluen yang diinginkan = 20 mg/l
 TSS efluen ytang diinginkan = 100 mg/l
 Q influen = 42056,97 m3/hari
Perhitungan :
• BOD5 terlarut di efluen tangki aerasi BOD5 = 68 % BOD ultimate
BOD solid = 65 % biodegradable
= 20 mg/l x 0,65 x 0,68 x 1,42 mg O2 / mg sel
= 12,55 mg/l
BOD terlarut di efluen ( lolos ) = 20 mg/l – 12,55 mg/l
= 7,45 mg/l

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 36


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Efisiensi = x100%
= 94,2 %

• Rasio resirkulasi Lumpur


X ( Qr + Q ) = ( Qr x Xr ) + ( Qin x Xin )
2000 Q + 2000 Qr = 8000 Qr
Qr / Q = 0,33
Qr = 0,33 x 42056,97 m3/hari
= 13878,8 m3/hari

Q influen tangki aerasi = Q + Qr


= 42056,97 + 13878,8
= 55935,77 m3/hari

• Volume tangki aerasi

Vr = y.θc.Q.(So − S)

X(1+ kd.θc)

=
= 12737,62 m3

y
• Yobs =
1+ kd.θc

=
= 0,375

• Produksi Lumpur ( Px )
Yobs.Q.(So − S)
Px =

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 37


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

1000

=
= 2547,52 kg/hari ( sebagai MLVSS )
Px ( MLSS ) = 2547,52 / 0,8
= 3184,4 kg/hari

• Total Solid Waste


= Px ( MLSS ) – SS removed
= 3184,4 – ( 55935,77 x 20 x 10-6 x 103 )
= 2065,68 kg/hari

• Qw = Total solid waste MLSS


2065,68kg /hari
=
2,5kg /m3

= 826,27 m3/hari

• Q efluen = Q influen – Qw
= 55935,77 – 826,27
= 55109,5 m3/hari

• Removal COD = 85 %
COD efluen = 15 % x 12985,1 kg/hari
= 1947,77 kg/hari
COD waste = 85 % x 12985,1 kg/hari
= 11037,34 kg/hari

1947,77kg /hari
[ COD ef ] = 55109,5m3 /hari

= 35,34 mg/l

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 38


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

• Removal P = 25 %
P efluen = 75 % x 269,17 kg/hari
= 201,88 kg/hari
• Removal N = 50 %
Pw = 25 % x 269,17 kg/hari
= 67,29 kg/hari
201,88kg /hari
[ P efluen ] = 3 /hari N efluen = 50 % x 1429,94 kg/hari
55109,5m = 714,97 kg/hari
= 3,66 mg/l Nw = 50 % x 1429,94 kg/hari
= 714,97 kg/hari
714,97kg /hari
[ N efluen ] = 3 /hari

55109,5m
= 12,97 mg/l

BAB V
PRELIMINARY SIZING

5.1. SUMUR PENGUMPUL DAN POMPA

Direncanakan:
- Dibuat 1 sumur pengumpul
- Waktu detensi (td) = 5 menit (< 10 menit)
- Q peak = 0,487 m3/dt Perhitungan:
 Q sumur pengumpul

3
Q peak 0,487 /detik
Q= = = 0,487 m
Σ sumur 1
 Volume sumur pengumpul
V = Q x td
= 0,487 m3/detik x 5 menit x 60 detik/menit

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 39


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

= 146,1 m3
 Luas area sumur pengumpul Direncanakan: h = 2,5 m
P:L=3:2

v = 146,1 = 2

A= 58,4 m
h 2,5
 Dimensi sumur pengumpul
A=P:L
58,4 m2 = 3/2L . L
L2 = 38,9 m
L = 6,24 m
P = 3/2L
= 3/2 . 6,24
= 9,36 m

5.2. Screening ( Bar Screen )

Direncanakan bar screen dipasang pada sebuah saluran yang menghubungkan antara
sumur pengumpul dan grit chamber.
Direncanakan:
- lebar = 1 meter
- panjang = 3 meter
Jadi luas untuk bar screen adalah:
L = panjang x lebar
= 3 meter x 1 meter
= 3 m2

5.3. Grit Chamber

Direncanakan:
- digunakan grit chamber tipe horizontal flow
- dibuat satu grit chamber dengan proportional weir

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 40


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

- kecepatan horizontal (Vh) = 0,3 m/detik


- diameter partikel minimal yang diendapkan = 0,2 mm (65 mesh)
- suhu 250C = ν = 0,8774.10-2 cm/detik
- Ss grit = 2,65 Perhitungan:
 Q channel

Q peak 0,487 m3
Q= =
Σ channel 1
3
= 0,487 m /detik
 Luas penampang (A)
A 0,487
A= =
b 0,3
= 1,62 m2 
Direncanakan b =
2 m a 1,62 h = = b
2
= 0,81 m
 Kecepatan pengendapan partikel (Vs)
g 981
Vs = =
(18 . v) . (Ss - 1) . dp2 (18 . 0,008774) . (2,65 - 1) . (0,02)2
= 4,1 cm/detik
= 0,041 m/dt
 Surface area (As)
Q 0,487
As = =
Vs 0,041
= 11,878 m2
 Panjang bak (P)
As 11,878
P= = b 2
= 5,9 m

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 41


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

5.4. Bak Pengendap I (Zona Setling)

Direncanakan:
- dibuat 4 buah bak pengendap I
- waktu detensi (td) = 1,5 jam
Perhitungan:
 Debit masing-masing bak (Q)
Q peak 0,487
Q tiap bak = = Σ bak 4
= 0,122 m3/dtk
 Volume masing-masing bak (V)
V = Q . td
= 0,122 m3/dtk x 1,5 jam x 3600 dt/jam
= 658,8 m3
 Dimensi bak
H = 1/12 . L0,8

B:h=1:4
V=bxLxh
658,8 = 1/4L x L x 1/12 x L0,8
658,8 = 0,02L0,8
L2,8 = 32940

L = 41 m

B = 1/4L
= ¼ . 41
= 10 m h =
1/12 . L0,8

= 1/12 . (41)0,8

= 1,6 m

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 42


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

5.5. Activated Sludge

Direncanakan:
 Q peak = 0,487 m3/detik
 Q average = 0,153 m3/detik
 Q max = Q average x faktor max-day
= 0,153 x 1,2 = 0,1836 m3/detik
 θc = 10 hari
 Q max = 0,1836 m3/s = 15863,04 m3/hari
 Y = 0,5
 So = 128,9 mg/l
 S = 6,2 mg/l
 X ( MLVSS ) = 2500 mg/l
 MLSS = 3000 mg/l
 X resirkulasi = 10000 mg/l
 Kd = 0,06 / hari

Perhitungan:
 Volume reactor

θc . Q . Y . ( So - S )
V=
X ( 1 + Kd . θc )
10 hari . 15863,04 m3/hari . 0,5 . ( 128,9 - 6,2 ) mg/l
=
2500 ( 1 + ( 0,06 / hari . 10 hari ) )
= 2433 m3

 Direncanakan terdiri dari 2 tangki aerasi


V tiap tangki = 2433 m3 : 2
= 1216,5 m3

 Dimensi tangki aerasi


Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 43
Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

- Kedalaman ( H ) = 5 m
- L : W = 2:1
- V = LxWxH
= 2W x W x H
1216,5 m3 = 2W 2 x 5
W = 10 m
L = 20 m
Freeboard = 0,5 m

5.6. Secondary Clarifier

Direncanakan:
-terdiri dari 4 unit clarifier
-Q peak = 0,487 m3/detik
-Q average = 0,153 m3/detik
-Q max = 0,153 x 1,2 = 0,1836 m3/detik Diketahui:
X = 3000 mg/l
Sf = 2 kg/m2.jam

Perhitungan:

• Q tiap clarifier = = 0,04 m3/detik

• A surface = = 60 m2

⎛4x60⎞1/ 2
• Diameter clarifier = ⎜ ⎟ = 8,7 m ≈ 9 m ⎝ 3,14 ⎠

5.7. Desinfeksi

Perencanaan yang digunakan :


- menggunakan Round the end horizontal baffle
- terbuat dari beton (n = 0,015)

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 44


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

- dosis chlorine = 5 mg/l

Perhitungan:
 Dosis chlorine untuk desinfeksi
Dosis = 5 mg/l x 0,487 m3/dt x 86400 dt/hari = 210,384 kg/hari ≈ 210 kg/hari
210 kg/hari
Ca(OCl)2 yang dibutuhkan = = 300
kg/hari 0,7
 Dimensi bak kontak chlorine
Volume bak = Q x td = 0,487 m3/dt x 20 menit x 60 dt/menit = 584,4 m3

Panjang round the end = VH x td = 3 m/menit x 20 menit = 60 m


Dimensi bak : P = 60 m H = 2,2 m
L = 4,4 m free board = 0,3 m
P 60 m
Jumlah saluran = = = 13,64 ≈ 14
L 4,4 m
60 m
Lebar tiap saluran = = 4,29 m
14

5.8. Thickener

Diketahui:
- berat solid = 4545,63 kg/hari
- direncakan satu unit sludge thickener
- solid loading = 50 kg/m2.jam

Perhitungan:
- Luas permukaan (As)

As = = 90,91 m2
- Diameter thickener

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 45


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

⎛4x90,91⎞1/ 2
D=⎜ ⎟ = 10,76 m ⎝ π ⎠

5.9. Sludge Digester

Diketahui:
- berat solid = 4545,63 kg/hari
- berat Lumpur = 30825,7 kg/hari
- kadar solid = 7%
- kadar air = 93%

Direncanakan:
- kadar air di sludge digester 90% dalam waktu 15 hari
- dibuat 2 unit sludge digester

Perhitungan:
Kapasitas tangki:
0,0005(2− atxv)
B= xWxt
1−Wm
Dimana:
B = kapasitas tangki
at = fraksi volatile solid yang terurai v =
fraksi volatile solid yang masuk w = berat
solid yang masuk Wm = kadar air rata-rata
t = digestion time Asumsi: at =50% v = 70%

0,0005(2− 50%x70%)
B=
x4545,63x15 1− 91,5%
= 661,79 m3

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 46


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Dimensi tangki
Direncanakan digester berbentuk lingkaran ; dengan h = 2 m

A= = 330,895 m2
⎛4x330,895⎞1/ 2
D=⎜ ⎟ = 20,5 m
⎝π⎠

5.10. Sludge Drying Bed

Perencanaan yang digunakan :


- berat lumpur = 3187,44 kg/hari
- volume lumpur = 62,5 m3/hari
- kadar solid = 12 %
- kadar air = 88 %
- menggunakan 2 unit sludge drying bed yang tiap unit terdiri dari 10 cell - waktu
pengeringan = 10 hari

Perhitungan sludge drying bed :


 Dimensi bed
Produksi lumpur dalam 1 hari dikeringkan dengan menggunakan 2 cell dalam 1
unit sludge drying bed.

V x (1 - ρ)
Volume cake kering : V1 =
1 - ρS

= 62,5 m3/hari x (1 - 0,88) = 30 m3/hari


1 - 0,75

30 m3 = 15 m3
Volume cake kering tiap cell =
2
Volume cake kering tiap bed (10 cell) = 10 x 15 m3 = 150 m3

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 47


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

15 m3 2

Luas permukaan cell = = 50 m → diperoleh P = 8 m dan L = 6,25 m 0,3


m
3
62,5 m3/hari x 10 hari
Volume tiap bed = = 312,5 m
2
(312,5 - 150) m3
Kedalaman air = = 0,325 m (5
x 6,25 m) x (2 x 8 m)

Sehingga :
Dimensi cell : P=8m Kedalaman = 0,3 m
L = 6,25 m
Dimensi bed : P = 5 x 6,25 m = 31,25 m
L = 2 x 8 m = 16 m
Kedalaman = 0,45 m + 0,3 m + 0,325 m = 1,075 m
Free board = 0,225 m

BAB VI PRELIMINARY TREATMENT

6.1. Saluran Pembawa

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 48


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Kriteria Desain:
 Bentuk saluran direncanakan berbentuk bulat dengan bahan dari pipa beton (n =
0,013)
 Kecepatan aliran berkisar antara 0,3 – 2 m/dt
 Slope saluran 0,0008 – 0,0033, diambil 0,003
(Sumber : Metcalf and Eddy, Wastewater Engineering Collection & Pumping)

Data Perencanaan:
 Q peak = 0,487 m3/detik
 Q ave = 0,153 m3/detik

 Q min = 0,047 m3/detik

Perhitungan:
 Pada saat Q peak, masih tersisa tinggi renang = 0,1 ; maka d/D
= 0,9 k = 0,44
(Sumber : Tabel 2.4, Metcalf and Eddy, Wastewater Engineering)
Persamaan:
Q = (k/n) . d8/3 . S1/2, sehingga untuk Q peak / Q full

⎡ Qpeak ⎤3/8 ⎡ 0,487 ⎤3/8


d peak = ⎢⎣(k /nxS1/ 2 )⎥⎦ =⎢⎣(0,44/0,013x0,0031/ 2 )⎥⎦

= 0,6 m Jadi:
D = d peak / 0,9
= 0,6 / 0,9
= 0,66 m

 Dengan diameter yang sama dapat dicari d min untuk Q min


sebagai berikut:
Q = (k/n) . d8/3 . S1/2

Jadi:
n
K = Q min x (d 8/ 3.S1/ 2 )

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 49


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

= 0,047 x
= 0,044
Berdasarkan tabel 2.4, Metcalf and Eddy Wastewater Engineering, dengan nilai k =
0,044, maka d/n = 0,3, sehingga:
d min = 0,3 x D
= 0,3 x 0,66 m
= 0,19 m

6.2. Sumur Pengumpul

Penggunaan sumur pengumpul pada pengolahan pendahuluan ini berfungsi


untuk :
a. Menampung air buangan dari saluran pembawa yang kedalamannya dibawah
permukaan instalasi pengolahan air buangan.
b. Menstabilkan variasi debit dan konsentrasi air buangan yang akan masuk ke
bangunan pengolah air buangan.
c. Mengatasi masalah operasional yang dapat disebabkan oleh variasi debit dan
konsentrasi air buangan.
d. Meningkatkan proses kinerja pada saat keadaan down stream.

Perencanaan sumur pengumpul :


- berbentuk segi empat
- waktu detensi (td) ≤ 10 menit untuk menghindari terjadinya pengendapan lumpur
- QMin = 0,047 m3/detik = 2,82 m3/menit
QPeak = 0,487 m3/detik = 29,22 m3/menit

- jarak pompa ke dinding = 0,5 m


- jarak antara pompa = 0,6 m
- diameter pompa = 1,2 m
- panjang sumur pengumpul = 6,5 m
- ketinggian air dalam sumur pengumpul = 0,78 m
- free board = 0,3 m
Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 50
Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Perhitungan sumur pengumpul :


 Lebar sumur pengumpul :
L = (2 x jarak pompa ke dinding) + (2 x diameter) + jarak antar pompa
= (2 x 0,5) m + (2 x 1,2) m + 0,6 m
=4m

 Volume sumur pengumpul :


Volume = P x L x H = 6,5 m x 4 m x 0,78 m = 20,28 m3

 Cek waktu detensi :

volume 20,28 m3
saat QMin ; td = Q = 2,82 m3/menit = 7,19 menit ….. ≤10 menit (ok !)

volume 20,28 m3
saat QPeak ;td = Q = 29,22 m3/menit = 0,69 menit …..≤10 menit (ok !)

 Dimensi sumur pengumpul :


Panjang (P) = 6,5 m Kedalaman (H) = 0,78 m
Lebar (L) = 4 m Free board = 0,3 m

6.3. Pompa

Air buangan yang dimasukkan ke dalam sumur pengumpul dinaikkan menuju


bangunan pengolahan air buangan dengan menggunakan pompa. Jenis pompa yang
dapat digunakan adalah pompa yang tidak akan tersumbat oleh partikel terbesar dari air
buangan atau oleh kepekatan lumpur.
Pompa yang digunakan adalah jenis pompa Screw pump. Pompa ini didasarkan
pada prinsip dimana batang besi yang berputar , disesuaikan dengan satu, dua, atau
lebih helical blade yang berputar dengan kemiringan tertentu yang akan mendorong air
buangan naik ke atas. Keuntungan pompa ini bila dibandingkan dengan jenis lainnya :

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 51


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

1. Pompa ini dapat memompa padatan yang besar tanpa dikhawatirkan akan terjadi
penyumbatan.
2. Pompa ini dapat beroperasi pada kecepatan yang konstan dengan variasi debit yang
besar dan memiliki efisiensi yang cukup baik.

Kriteria desain screw pump :


Tabel 6.1 Kriteria desain Screw pump
Parameter Range
Diameter screw (m) 0,3 – 3
Kapasitas debit (m3/dt) 0,01 – 3,2 30

Sudut kemiringan, α (derajat) – 38

Head total (m) 9


(Sumber : Metcalf & Eddy. 1981. Waswater Ingineering : Collection and Pumping of Wastewater.
Hal 284)

Perencanaan yang digunakan :


- digunakan 2 pompa, 1 pompa operasi dan 1 pompa cadangan yang digunakan
secara bergantian

- sudut kemiringan pompa ( α ) = 300


- QMin = 0,047 m3/detik = 2,82 m3/menit
QPeak = 0,487 m3/detik = 29,22 m3/menit

Perhitungan screw pump :

 Dengan menggunakan α =300, dari data teknis screw pump


diperoleh :
 untuk QMin ; n = 75 rpm ; D = 550 m ; H2 = 4,5 m  untuk
QPeak ; n = 44 rpm ; D = 1200 m ; H2 = 5,6 m  Kedalaman air di
sumur pengumpul :

 h1 = x D x Cos α = x (1,2 m)
x Cos 30 = 0,78 m
0

 Kedalaman air di discharge :


D 1,2 m
Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 52
Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

 Δh= = = 0,3 m
4 4
 Total head pompa :
 H = H2 + h1 – Δh = 5,6 m + 0,78 m – 0,3 m = 5,12 m  Power
pompa pada efisiensi 70 % :

Q
 P = ( r x g x H2 x )
efluen
1000 kg/m3 x 9,81 m/dt 2 x 5,6 m x 0,487 m3/dt
P =

= 38,22 Kwh 0,7

Screw pump

0,55 m

5,6 m

0,78 m 0
30

6,5 m

Gambar 6.1 Sketsa sumur pengumpul dan pompa.

6.4. Saluran Penerima dan Bar Screen

Saluran penerima ini berfungsi untuk menerima air yang dipompa dari sumur
pengumpul untuk diteruskan ke unit pengolahan lainnya. Pada saluran penerima ini
terdapat screen untuk proses penyaringan.

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 53


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Perhitungan :
A. SALURAN PENERIMA / PIPA OUTFALL
 Q peak = 0,487 m3/s
 Kecepatan ( v ) direncanakan = 0,8 m/s  Diameter pipa : - A = Q / V
= 0,487 / 0,8
= 0,61 m2
- D = ( 4 . A / π )0,5
= ( 4 . 0,61 / π )0,5
= 0,88 m = 0,9 m

 Cek kecepatan - V = Q / A
= 0,487 / ( ¼ .π. 0,92 )
= 0,77 m/s

B. SALURAN PADA BAR SCREEN


 Saluran terbuat dari beton dengan n = 0,013
 Bentuk saluran segi empat
 Kecepatan dalam saluran = ( 0,1 – 0,6 ) m/s
 Slope maksimum = 0,001 m/m
 Lebar dasar saluran ( B ) = 1,0 m
 Kedalaman ( h ) = 0,8 m ; freeboard = 0,2 m

 Luas efektif ( A )
A = Bxh
= 1,0 x 0,8
= 0,8 m2

 Keliling basah ( P ) P = B + 2h
= 1,0 + ( 2.0,8 )
= 2,6 m

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 54


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

 Jari-jari hidrolis ( R )
R = A/P
= 0,8 / 2,6
= 0,31 m

 Persamaan Manning
Q = 1/n . R2/3 . S1/2 . A
0,487 = 1/0,013 . ( 0,31 )2/3 . S1/2 . 0,8

S = 2 . 10-4
 Cek kecepatan V = Q / A
= 0,487 / 0,8
= 0,61 m/s

 Headloss hf = S.L ( direncanakan L = 4 m )


= 2 . 10-4 . 4
= 0,0008 m

C. BAR SCREEN

Fungsi dari screen ini adalah untuk menyaring benda-benda padat dan kasar
yang terbawa dalam air buangan, yang dapat menyebabkan penyumbatan dan
kerusakan pada peralatan-peralatan seperti pompa, valve, dan perlengkapan lainnya.
Contohnya seperti plastik-plastik yang mengapung, bayang kayu, logam, dan
sebagainya.
Pada umumnya screen berupa batang (bar) pararel atau juga kawat. Screen
yang berupa pararel bar disebut rack.

Kriteria desain bar screen :

Tabel 6.2 Kriteria desain Bar screen

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 55


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Pembersihan Pembersihan
Parameter
Manual Mekanik
Kemampuan meremoval (%)
BOD -- --
COD -- --
-- --
SS
P
Org-N
N
Ukuran batang (mm)
Lebar 5 – 15 5 – 15

Kedalaman 25 – 75 25 – 75
Jarak antar batang (mm) 25 – 50 15 – 75
Slope dari vertikal (derajat) 30 – 45 0 – 30
Kecepatan melalui rack (m/detik) 0,3 – 0,6 0,6 – 1,0
Headloss maksimum (mm) 150 150
(Sumber : Metcalf & Eddy. 1991, Waswater Engineering : Treatment, Disposal, and Reuse. Hal :
170 & 448)

Tabel 6.3 Tabel faktor bentuk dari batang (β)


Tipe Bar β

Segi empat dengan sisi tajam 2,42


Segi empat dengan sisi semi circular menghadap up-stream 1,83
A. Circular 1,79
Segi empat dengan sisi semi circular menghadap up-stream
dan down stream 1,67

Bentuk Tear 0,76


(Sumber : Qasim. 1985. Waswater Treatment Plants : Planning, Design, and Operation. Hal :
161)

Perencanaan yang digunakan


 Penampang batang screen
- Lebar bar ( w ) = 10 mm

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 56


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

- Tebal bar = 50 mm
- Jarak antar kisi = 30 mm
- Bentuk bar rectangular ( β ) = 2,42
- Sudut kemiringan batang ( α ) = 45° terhadap horizontal

Perhitungan
 Jumlah batang ( kisi )
B = ( n - 1 )b + nw
1,0 = ( n – 1 ). 0,03 + 0,01n n =
25,75 buah = 26 buah

 Jumlah celah = jumlah kisi + 1


= 26 + 1
= 27 buah

 Ws = B - nw
= 1,0 – ( 26 . 0,01 )
= 0,74 m

 Panjang kisi-kisi batang yang terendam air ( Ls ) h


Ls =
Sinα

=
= 1,13 m

 Kecepatan melalui kisi dalam keadaan bersih / tidak tersumbat ( Vs )


Qpeak
Vs =
(WsxLs)

=
= 0,58 m/s

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 57


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

 Kecepatan aliran saat clogging 50 %


Keadaan clogging diasumsikan lebar bukaan total antar batang ( Ws ) adalah 2
kali lebar bukaan total antar batang saat clogging ( Ws’ ) ,sehingga :
Ws’ = ½ . Ws
= ½ . 0,74
= 0,37 m
Q
Vs’ =
(1/2xWsxLs)
Vs’ = 2 Vs
= 2 . 0,58
= 1,16 m/s

 Kehilangan Tekanan ( hL )
- Headloss pada bar rack
Vs2
hv =
2g
(0,58)2
=
2.9,81
= 0,017 m

- Headloss saat screen bersih


hL = β . ( w/b )4/3 . hv. Sin 45°
= 2,42 . ( 0,01/0,03 )4/3 . 0,017 . sin 45

= 0,0066 m

- Headloss saat clogging 50 %


hL’ = [ (Vs’2 – Vs2 ) / 2g ] . 1/0,9

= [ ( 1,162 – 0,582 ) / 2.9,81 ] . 1/0,9

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 58


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

= 0,05 m

1 2

d1 d1’ d2

Z1 Z2

Gambar 6.2 Sketsa saluran penerima dan bar screen.

Keterangan : 1 titik saat sebelum bar screen


2 titik saat setelah bar screen
Z1 = Z2 = datum = 0

6.5. Grit Chamber

Grit chamber berfungsi untuk memisahkan partikel grit yang terbawa di dalam air
buangan, agar tidak mengganggu proses dan pengoperasian unit selanjutnya. Selain itu,
pemisahan partikel grit juga dapat mengurangi beban pengolahan untuk unit pengolah
selanjutnya.
Secara umum, grit chamber dapat dibedakan 2 (dua) macam, yaitu :
1. Horizontal Flow Grit Chamber
Yaitu grit chamber dengan arah aliran horisontal dan kecepatan aliran terkontrol
oleh unit khusus pada bagian efluen, seperti weir atau parshall flume, dan
sebagainya.
2. Aerated Grit Chamber
Yaitu grit chamber dengan aerasi, dimana alirannya merupakan aliran spiral dan
kecepatan melingkar dikontrol oleh dimensi dan suplai udara.

Kriteria desain grit chamber :

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 59


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Tabel 6.4 Kriteria desain grit chamber.


Parameter Range Tipikal

Kemampuan meremoval (%)


BOD 0–50 -
COD –5 -
SS 0 – 10 -
P -- -
- -
Org-N -
N
Waktu detensi (detik) 45 – 90 60
Kecepatan horizontal (m/detik) 0,25 – 0,40 0,3
Kecepatan mengendap untuk meremoval :
Material 65-mesh ( 0,21 mm) (m/menit) 1,0 – 1,3 1,15 0,75
Material 100-mesh ( 0,15 mm) (m/menit) 0,6 – 0,9

Headloss pada unit kontrol, dalam % kedalam


saluran (%) 30 – 40 36

(Sumber : Metcalf & Eddy. 1991, Waswater Engineering : Treatment, Disposal, and Reuse. Hal :
458)

Perencanaan yang digunakan :


- menggunakan 2 (dua) unit grit chamber yang dioperasikan secara bergantian
- waktu detensi (td) = 60 detik = 1 menit
- kecepatan horisontal (VH) = 0,3 m/detik
- diameter partikel yang diendapkan = 65 mesh (0,21 mm)
- kecepatan pengendapan (VS) = 1,15 m/menit = 0,01917 m/detik
- Q pengolahan = Q peak = 0,487 m3/detik

Perhitungan grit chamber :


 Luas penampang :

Cross Q = 0,487 m3/dt 2

A = = 1,62 m VH 0,3 m/dt

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 60


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

 Luas permukaan :

Surface Q = 0,487 m3/dt 2

A = = 25,40 m VS
0,01917 m/dt

 Kedalaman air :
h = VS x td = 1,15 m/menit x 1 menit = 1,15 m

 Lebar grit chamber :

ACross 1,62 m2
b= = = 1,4 m h
1,15 m

 Panjang grit chamber :

Volume Q x td 0,487 m3/dt x 60 dt


L= bxh=bxh= (1,4 x 1,15) m2 = 18,15 m

 Cek NRe :
bxh 1,4 x 1,15
R= = = 0,435 b + (2 x h) 1,4 +
(2 x 1,15)
VH x R 0,3 x 0,435
NRe = = 0,8774 x 10-4 = 1487,35 ….. < 2000 (ok !) υ
Perhitungan grit storage :
 Direncanakan :
- debit air buangan tiap hari = 0,487 m3/detik = 42076,8 m3/hari
- kadar (kandungan pasir) = 30 m3/ 106 m3 air buangan

- pengurasan direncanakan tiap 3 hari


- bentuk grit storage = trapezium

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 61


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

 Volume pasir dalam 1 hari :

VPasir = x 42076,8 m3 = 1,262 m3

 Volume pengurasan :
VKuras = 1,262 m3 x 3 =3,786 m3 

Dimensi grit storage :

Gambar 6.3 Sketsa ruang grit storage.

Keterangan : a = panjang grit chamber = 18,15 m


b = lebar grit chamber = 1,4 m
c = 15,35 m d = 0,5
m
t = kedalaman grit storage (m)
Luas permukaan : A1 = a x b = (18,15 x 1) m2 = 18,15 m2
Luas dasar : A2 = c x d = (15,35 x 0,5) m2 = 7,675 m2

Volume grit storage = (


x t x A1 + A2 + (A1 x A2 ) )
1

3,786 m3 = (
x t x 18,15 + 7,675 + (18,15 x 7,675) )
3

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 62


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

t= 0,3 m

Perhitungan propotional weir :


 Direncanakan :
- debit = 0,487 m3/detik = 17,1982 ft3/detik

- a = 0,1 m = 0,328 ft
- y = 0,2 m = 0,656 ft
- h = tinggi muka air di grit chamber = 1,15 m = 3,773 ft

a 1

 2
Q = 4,97 x (a ) x b x (h - ) 3
1
17,1982 = 4,97 x (0,328)2 x b x (3,773 - )

b = 1,649 ft
= 0,502 m
y
0,656
 Perbandingan : = = 2 a 0,328

x
 Dari tabel, diperoleh nilai : = 0,392 b
x = 0,392 x b = 0,392 x 1,649 = 0,646 ft
= 0,197 m
 Dimensi proportional weir : a = 0,328 ft = 0,10 m
b = 1,649 ft = 0,502 m x = 0,646 ft = 0,197 m
y = 0,656 ft = 0,20 m

y x
Tabel 6.5. Nilai dan untuk proportional weir. a
b
y x y x y x

a b a b a b

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 63


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

0,1 0,2 0,805 12 0,500 10 0,195


0,3 0,4 0,732 34 0,392 12 14 0,179
0,5 0,6 0,681 56 0,333 16 18 0,166
0,7 0,641 7 0,295 20 0,156
0,8 0,9 0,608 89 0,268 25 30 0,147
0,580 0,247 0,140
0,556 0,230 0,126
0,536 0,216 0,115
0,517 0,205

BAB VII PRIMARY SEDIMENTATION

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 64


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Prinsip dalam bak pengendapan pertama (primary sedimentation) ini adalah


memisahkan padatan tersuspensi dalam air buangan dengan cara gravitasi. Hal ini dapat
dilakukan dengan mengatur kecepatan mengendapnya. Dua sasaran pengendapan
pertama dalam pengolahan air limbah adalah klarifikasi dan penebalan lumpur.
Efisiensi penghilangan dari partikel diskrit dengan ukuran, bentuk, densitas dan
spesific gravity yang sama tidak tergantung dari kedalaman bak, tetapi pada luas
permukaan bak serta waktu detensi.
Bak pengendap pertama terdiri dari 4 (empat) ruangan fungsional, yaitu :
1. Zona Inlet : tempat memperhalus aliran transisi dari aliran influen ke aliran
steady uniform di zona settling (aliran laminer).
2. Zona Settling : tempat berlangsungnya proses pengendapan / pemisahan
partikel-partikel diskrit di dalam air buangan.
3. Zona Sludge : tempat menampung material yang diendapkan bersama lumpur
endapan.
4. Zona Outlet : tempat memperhalus aliran transisi dari zona settling ke aliran
efluen serta mengatur debit efluen.

Zona Zona
Zona Outlet
Inlet

ZonaSludge

Gambar 7.1 Pembagian zona pada bak pengendap pertama.

Kriteria desain bak pengendap pertama :

Tabel 7.1 Kriteria desain bak pengendap pertama.


Parameter Range Tipikal

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 65


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Kemampuan meremoval (%)


BOD 30 – 40 -
COD 30 – 40 -
-
SS 50 – 65 -
P 10 – 20 -
-
Org-N 10 – 20
N 0
Pengendapan primer yang diikuti oleh pengolahan
sekunder 1,5 – 2,5 2,0
Waktu detensi (jam)
Overflow Rate (m3/m3.hari) 30 – 45 -
Average flow 80 – 120 100
125 – 500 250
Peak hourly flow
Weir loading (m3/m.hari)
Pengendapan primer dengan waste activated-sludge
return 1,5 – 2,5 2,0
Waktu detensi (jam)
Overflow Rate (m3/m3.hari) 25 – 30 -
Average flow 50 – 70 60
Peak hourly flow 125 – 500 250
Weir loading (m3/m.hari)
(Sumber : Metcalf & Eddy. 1991, Waswater Engineering : Treatment, Disposal, and Reuse. Hal :
170 dan 475)

Tabel 7.2 Kriteria desain untuk bak pengendap pertama berbentuk Segi Empat dan
Lingkaran.
Jenis Range Tipikal

Rectangular (segi empat)


Kedalaman (m) 3 – 4,5 3,5
Panjang (m) 15 – 90 20 – 40
Lebar (m) 3 – 20 5 – 10
Flight speed (m/menit) 0,6 – 1,2 0,9

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 66


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Circular (lingkaran)
Kedalaman (m) 3 – 4,5 3,5
Diameter (m) 3 – 60 10 – 45
Slope dasar (mm/m) 60 – 165 80
Flight travel speed (r/menit) 0,02 – 0,05 0,03
(Sumber : Metcalf & Eddy. 1991, Waswater Engineering : Treatment, Disposal, and Reuse. Hal :
477)

Tabel 7.3 Waktu detensi untuk variasi Overflow Rate dan kedalaman bak.
Overflow Rate Waktu detensi (jam)
(m3/m2.hari) Dalam Dalam Dalam Dalam Dalam Dalam
2,0 m 2,5 m 3,0 m 3,5 m 4,0 m 4,5 m

30 1,6 1,2 2,0 1,5 2,4 1,8 2,8 2,1 3,2 2,4 3,6 2,7
40 1,0 0,8 1,2 1,0 1,4 1,2 1,7 1,4 1,9 1,6 2,2 1,8
50 0,7 0,6 0,9 0,8 1,0 0,9 1,2 1,1 1,4 1,2 1,5 1,4
60
70
80

(Sumber : Qasim. 1985. Waswater Treatment Plants : Planning, Design, and Operation. Hal :
269)

Perencanaan yang digunakan :


- menggunakan bak dengan bentuk segi empat
- menggunakan 4 (empat) unit
- Waktu detensi dari perhitungan laboratorium 1,175 jam - zona pengendapan
(settling zone) : overflow rate (OFR) = 7,5.10-4 m/s suhu air buangan = 25 0C
viskositas kinematis pada suhu 25 0C = 0,8975 x 10-6 ms/detik
specific gravity (Sg) = 2,65 faktor friksi (f) = 0,03 untuk pasir
unigranular k = 0,04

Perhitungan bak pengendap pertama :


Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 67
Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

A. Saluran Pembawa

Direncanakan:
- Q peak = 0,487 m3/detik
- Saluran segiempat ; b = 2h
- Saluran dari beton ; n = 0,013
- Kecepatan aliran ; v = 1 m/detik Perhitungan:
- Dimensi saluran

2
Q 0,487 2h2
A = = = 0,487 m → v 1

⎡0,487 m2 ⎤1/2
h=⎢ ⎥ = 0,5 m
⎣ 2 ⎦
b=1m
bxh 1 x 0,5
R= = = 0,25 b + 2h 1
+ (2 x 0,5)
- Perhitungan slope saluran

⎡v x n⎤2 ⎡1 m/detik x 0,013⎤2


S = ⎢⎣ R2/3 ⎥⎦ = ⎢⎣ (0,25)2 / 3
⎥⎦ = 0,001
- Kehilangan tekanan sepanjang saluran
Direncanakan ; L saluran = 4 m
Hf = s x L
= 0,001 x 4
= 0,004 m

B. Settling Zone

• Jumlah Q tiap unit bak pengendap :

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 68


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Q tiap bak = 0,487 m3/dt = 0,12 m3/dt


4

• Luas permukaan :

Q = 7,5.100,487 -m4 m/detik3/detik = 160 m2


ASurface =
OFR

• Kedalaman bak ( h )
Waktu detensi ( td ) dari perhitungan laboratorium = 1,175 jam = 4230 detik
Volume = Q x td
= 0,12 m3/detik x 4230 detik
= 507,6 m3
Kedalaman bak ( h ) = Volume : Asurface
= 507,6 m3 : 160
m2 = 3,17 m = 3,2
m
• Dimensi bak

Perbandingan panjang (P) : lebar (L) = 4 : 1

Sehingga : A =PxL =4L2


160 m2 = 4 L2

L = 6,32 m = 6,3 m

P = 4 x L = 4 x 6,3 m = 25,2 m
Dimensi bak : P = 25,2 m h = 3,2 m

L = 6,3 m free board = 0,3 m

• Kecepatan horizontal ( Vh )
Vh = P / td
= 2520 cm / 4230 detik

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 69


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

= 0,595 cm/detik = 0,6 cm/detik

• Kontrol Scouring Velocity


- Diameter partikel

1
-2
) x (8,975 x 10-3))

(18 x VS x υ) 2 (18 x (7,5 x 10


dp =
( )1 = (9,81 x (2,65 - 1) m)

g x (Sg - 1) 2
= 2,74 x 10-3 cm = 0,0274 mm

- Kecepatan scouring
1

⎡8 x k x (Sg - 1) x g x dp⎤ 2
⎢ ⎥
VSc = f ⎦⎣
1

⎡8 x 0,04 x (2,65 - 1) x 9,80 x (2,74 x 10 )⎤ 2 -3

= ⎢⎣ 0,02 ⎥⎦
= 8,42 cm/detik

Karena VSc > VH , maka tidak akan terjadi scouring (ok !).

• Kontrol bilangan Reynold


Jari-jari hidrolis :
LxH 6,3 x 3,2
R= = = 1,59 m
L + 2H 6,3+ (2 x 3,2)
VH x R 0,06 cm/dt x 1,59.10-2 cm
NRe = υ = 0,8372x10−2 cm2/dt = 113,95 < 2000 (ok !)

• Kontrol bilangan Froud

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 70


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

2,3 x 10 < 10
NF = = =
gV x HR2 9,80 cm/dt(0,62 x cm/dt1,59).210−2 cm −6 -5

Karena NF < 10-5 akan menimbulkan aliran singkat (short circuit) dalam bak
pengendap. Untuk mengatasi masalah ini, alternatif yang digunakan adalah
dengan pembuatan ‘Perforated baffle’ pada zona inlet.

C. Sludge Zone

Dari data laboratorium didapatkan data kualitas air limbah yang masuk ke
sedimentasi adalah sebagai berikut:
BOD = 8327,28 kg/hari
COD = 19977,07 kg/hari
TSS = 8789,90 kg/hari
• Removal yang terjadi di bak pengendap I
BOD =
35% COD =
35% TSS =
65% N =
15%
P = 20%
BODe = 35% x 8327,28 kg/hari = 2914,55 kg/hari
CODe = 35% x 19977,07 kg/hari = 6991,97 kg/hari
TSSe = 65% x 8789,90 kg/hari = 5713,43 kg/hari

• Volume lumpur didasarkan pada berat solid (TSS).


Kandungan Lumpur = 6% (Sg = 1,05)
5713,43 kg/hari x 1000 g/kg
Volume lumpur = 0,06 x 1,05 x
1 g/cm3x106 cm3 /m3

= 90,689 m3

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 71


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

• Dimensi ruang lumpur

P
P1 = 6,3 m
P2 = 5 m A1 = 6,3 x 6,3 = 39,69 m2
P
L1
L2 L1 = 6,3 m A2 = 5x3 = 15 m2
L2 = 3 m

Tinggi ruang lumpur didapat dengan :

V = x t x (A1 + A2 + A1 x A2 )

90,689 m3 = x t x (39,69 + 15 + 39,69 x 15)


t = 3,44 m ≅ 3,4 m

• Pengurasan lumpur
Direncanakan : Q = 50 l/dt = 0,05 m3/dt
Dilakukan dengan menggunakan valve otomatis Waktu
pengurasan 8 jam sekali dalam 1 hari

Q 0,05 m3/dt 2

A= = = 0,05 m
V 1 m/dt

4 x (0,05)
Diameter pipa penguras : D = = 0,25 m = 250 mm
π
volume 90,69 m3
Waktu pengurasan : t = Q = 0,05 m3/dt = 1813,8 detik = 30,23 menit

D. Inlet Zone

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 72


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

• Saluran pembawa
Tinggi muka air :
A = b x y = 2y x y = 2 y2
2

Q = 1 x ⎛⎜ y ⎞⎟ 3 12 xA
x (S)
n⎝2⎠
2

3
1 ⎛y⎞3 2
1 x 2y
2

0,487 m /dt = x ⎜ ⎟ x (0,0003) 0,013 ⎝ 2 ⎠


diperoleh y = 0,63 m
b = 2 x y = 2 x 0,63 m = 1,26 m
Cek kecepatan :

Q 0,487 m3/dt V = A = (0,63 x 1,26) m2 =


0,61 m/detik ….. (ok !)

Headloss saluran :
Hf = S x L = 0,0003 x 3 m = 0,0009 m Dimensi
saluran :
Panjang (L) = 3 m Kedalaman (y) = 0,63 m
Lebar (b) = 1,26 m Free board = 0,32 m

• Saluran pembagi

Q = 0,487 m3/dt = 3/detik


0,2435 m
2
Tinggi muka air : A = b x y =
2y x y = 2 y2
2

Q = 1 x ⎛⎜ y ⎞⎟ 3 x (S) 12 x A
n⎝2⎠
2

x (0,0003)
0,2435 m3/dt = 1 x ⎛⎜ y ⎞⎟ 3 12 x 2y2

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 73


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

0,013 ⎝ 2 ⎠
diperoleh y = 0,49 m
b = 2 x y = 2 x 0,49 m = 0,98 m Cek
kecepatan :

Q 0,2435 m3/dt
V = A = (0,49 x 0,98) m2 = 0,51 m/detik ….. (ok !)

Dimensi saluran :
Kedalaman (y) = 0,49 m Free board = 0,22 m
Lebar (b) = 0,98 m

• Saluran inlet bak

Q = 0,487 m3/dt 3/detik


= 0,2435 m
2
Tinggi muka air : A = b x y =
2y x y = 2 y2
2

⎛ y⎞ 3
Q =1x ⎜ ⎟ x (S) 12 x A
n⎝2⎠
2

⎛ y⎞
0,2435 m3/dt = 1 x ⎜ ⎟ 3 x (0,0003)12 x 2y2
0,013 ⎝ 2 ⎠
diperoleh y = 0,49 m
b = 2 x y = 2 x 0,49 m = 0,98 m
Cek kecepatan :

Q 0,2435 m3/dt
V = A = (0,49 x 0,98) m2 = 0,51 m/detik ….. (ok !)

Dimensi saluran :

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 74


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Kedalaman (y) = 0,49 m Free board = 0,22 m Lebar (b)


= 0,98 m

Digunakan perforated baffle, dengan jarak baffle dari inlet = 1 m


• Bak transisi o Q bak pengumpul = 0,487 m3/detik o Panjang bak =
1,0 m
o Lebar bak =
lebar total bak
sedimentasi
= (4 x lebar bak) + 5 . tebal dinding
= (4 x 6,3) + (5 x 0,3)
= 26,7 m
o V rencana = 0,3 m/detik o
Dimensi bak
A=Q/V
= 0,487 / 0,3
= 1,62 m2
A=Lxh

h = 1,62 / 26,7 =
0,06 m h total = h +
freeboard
= 0,06 + 0,44
= 0,5 m
• Pintu Air
Direncanakan:
o Lebar pintu air (b) = 1 m o Jumlah
pintu tiap bak ada 2 buah o Bukaan
pintu air
Q = 0,487 / 8
= 0,06 m3/detik

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 75


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Q = k . μ . a . b . (2gh)0,5
0,06 = 1 . 1 . a . (2 . 9,8 .
0,06)0,5 a = 0,06 m

Saluran inlet bak

Saluran pembagi

Saluran pembawa
dari grit chamber

Gambar 7.2 Denah saluran pembawa bak pengendap pertama.

• Perforated baffle
Direncanakan :
- Jarak dari inlet = 1 m
- diameter lubang = 5 cm = 0,05 m
- tinggi baffle (h) = 2 m
- lebar baffle (L) = lebar bak pengendap = 6,3 m
- kecepatan melalui lubang = 0,2 m/detik
- koefisien konstanta lubang (c) = 0,5

2
= 1 x π x (0,05 m)2 = 1,96
x 10-3 m2
Luas tiap lubang :

A
L
=

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 76


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

x
π
x
D
4
Luas baffle = A = l x h = 6,3 x 2 = 12,6 m2 Luas
total lubang:

Q 0,12 1,2m2
A’ = = =
c.v 0,5x0,2
Jumlah lubang yang dibutuhkan (n)
n = A’ : A tiap lubang = 1,2 :
1,96.10-3
= 612,24 = 612 buah

Debit tiap lubang : QL = 0,12 m3/dt = 1,96.10-4 m3/dt


612
QL 1,96.10-4 m3/dt
=
Kecepatan dalam lubang : VL A = 1,96 x 10-3 m2 = 0,1 m/dt
L

Untuk jumlah lubang 612 buah, susunan lubangnya sebagai berikut: o


L : h = 6,3 : 2
= 3,2
L = 3,2 h
L x h = 612 3,2h2 =
612 h = 13,8 = 14
buah
L = 45 buah
Jadi jumlah lubang horizontal = 45 buah
Jumlah lubang vertical = 14 buah
Jarak antar lubang horizontal (Sh)

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 77


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

lebarbaffle− (∑lubangHxd)
Sh =
∑lubangH +1

= = 0,08 m = 8 cm

Jarak antar lubang vertical (Sv)

lebarbaffle− (∑lubangVxd)
Sv =
∑lubangV +1

= cm
Kontrol bilangan Reynolds :
Jari-jari hidrolis :

A x π x D2 D 0,05 m
R= == = = 0,0125 m
PπxD 4 4
VH x R 0,1 m/dt x 0,0125 m
NRe = υ = 0,8975 x 10−6 m2/dt = 1392,8 < 2000 (ok !)

Kontrol bilangan Froud (NFr)

VH2 (10cm/dt)2 -5 NFr = gxR =


980cm/dt2x1,25cm = 0,08 > 10 (ok !)

E. Outlet Zone

Direncanakan:
- Q = 0,12 m3/detik = 10368 m3/hari
- Weir Loading Rate (WLR) = 125 m3/m2.hari
- Bentuk pelimpah jenis U weir
Perhitungan
• Panjang keseluruhan weir tiap bak :

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 78


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Q 10368
L= = = 82,9 m
WLR 125

0,5 m

5,3 m 6,3 m
0,5 m

a 0,5 m

Gambar 7.3. Desain outlet bak pengendap pertama

• Dimensi gutter:
Direncanakan lebar gutter = 0,5 m
Kedalaman gutter ( h )
Q = 1,375 x b x h
0,12 = 1,375 x 0,5 x h
h = 0,17 m = 0,2 m
freeboard = 0,3 m
h total = 0,5 m
Dimensi gutter : b = 0,5 m
h = 0,5 m

• Tinggi air di atas gutter :


Q = 1,84 x L x h3/2
0,12 m3/dtk = 1,84 x 75,12 m x h3/2 h
= 0,085 m = 8,5 cm
• Kedalaman kritis (yc)
yc = ( q2 / g )1/3 q

=Q/b

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 79


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

= 0,12 / 0,5 =
0,24 m3/detik yc =
(0,242 / 9,80)
= 0,2 m
• Jumlah pelimpah
- direncanakan panjang pelimpah = 7,5 m

- jumlah pelimpah (n)

panjangtotalweir −lebarbak
(n-1) =
2xpanjangtiappelim pah

n = 5 buah

- jarak antar pelimpah (s)


lebarbak − (nxlebarpelim pah)
s =
n−1

=
= 0,95 m

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 80


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

BAB VIII PENGOLAHAN BIOLOGIS

Pengolahan biologis yang digunakan adalah Activated Sludge Complete Mixed


(continous flow stirred tank), karena:
- efisiensi > confensional
- mampu mengatasi snock loading
- organic loading tinggi
- kondisi dalam reactor di setiap titik konsentrasinya sama
Aerasi yang digunakan adalah mechanical surface aerator, karena:
- mudah dalam operasi
- tidak mudah terjadi clogging pada aerator

KRITERIA DESAIN
A. Tangki Aerasi Aliran Kontinyu
 Rasio F/M = 0,2 – 0,6 kg BOD5 / kg MLSS . hari
 Aerator loading = 0,8 – 2 kg BOD5 / m3 . hari
 Waktu aerasi = 3 – 5 jam
 Umur Lumpur ( θc ) = 5 – 15 hari
 Rasio Resirkulasi = 25 – 100 %
 MLVSS = 3000 – 6000 mg/l
 BOD removal = 85 – 99 %
 SS removal = 85 – 95 %

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 81


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

B. Surface Aerator
 Kebutuhan kedalaman bak = 3–5m
 Power untuk completed mixed = 0,75 – 75 KW ( 1 – 100 HP )
 Transfer rate O2 = 1,4 – 1,8 kg O2 / KW.hari
 Faktor koreksi salinity surface ( β ) = 1
 Faktor koreksi transfer O2 ( α ) = 0,8 – 0,85
 Range dimensi tangki aerasi
- Kedalaman ( H ) = 3–5m
- Freeboard = 0,3 – 0,5 m
- Lebar ( W ) = 6 – 12 m
- Rasio W : H = 1 : 1 – 1 : 2,2

DIKETAHUI
 Q peak = 0,487 m3/detik
 Q average = 0,153 m3/detik
 Q max = Q average x faktor max-day
= 0,153 x 1,2 = 0,1836 m3/detik

 BOD influen = 128,9 mg/l


 TSS influen = 73,3 mg/l
 BOD solid = 65 % bioderadable
 1 gr biodegradable = 1,42 gr BODu
 MLSS / MLVSS = 0,8
 BOD5 = 0,68 BODu
 Direncanakan

- BOD efluen = 20 ng/l

- TSS efluen = 22 mg/l

PERHITUNGAN
1. Biological solid yang terbiodegradasi
= 65/100 x 22 mg/l

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 82


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

= 14,3 mg/l
 BOD ultimate = 65/100 x 22 mg/l x 1,42 mg O2
= 20,3 mg/l
 BOD5 solid = 20,3 mg/l x 0,68
= 13,8 mg/l
 BOD terlarut yang lolos = 20 mg/l - 13,8 mg/l
= 6,2 mg/l

2. Efisiensi

( 128,9 - 6,2 ) mg/l


= x 100 %
128,9 mg/l
= 95,2 %
 Efisiensi total

( 128,9 - 20 ) mg/l
= x 100 %
128,9 mg/l
= 84,5 %

3. Volume reactor
Direncanakan
 θc = 10 hari
 Q max = 0,1836 m3/s = 15863,04 m3/hari
 Y = 0,5
 So = 128,9 mg/l
 S = 6,2 mg/l
 X ( MLVSS ) = 2500 mg/l
 MLSS = 3000 mg/l
 X resirkulasi = 10000 mg/l
 Kd = 0,06 kg/ hari
Perhitungan :
 Volume tangki aerasi

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 83


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

θc . Q . Y . ( So - S )
V=
X ( 1 + Kd . θc )
10 hari . 15863,04 m3/hari . 0,5 . ( 128,9 - 6,2 ) mg/l
=
2500 ( 1 + ( 0,06 / hari . 10 hari ) )
= 2433 m3

 Direncanakan terdiri dari 2 tangki aerasi


V tiap tangki = 2433 m3 : 2
= 1216,5 m3

 Dimensi tangki aerasi


- Kedalaman ( H ) = 5 m
- L : W = 2:1
- V = LxWxH
= 2W x W x H
3
1216,5 m = 2W 2 x 5
W = 10 m
L = 20 m
Freeboard = 0,5 m

4. Kuantitas Sludge Yang Dihasilkan


 Konstanta Yield Observe ( Yobs )
Y
Yobs =
1+ Kd.θc
0,5
=
1 + 0,06 / hari . 10 hari
= 0,3125

 Penambahan massa MLVSS

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 84


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Px ( MLVSS ) = Yobs . Q . ( So – S )
= 0,3125 . 15863,04 m3/hari . ( 128,9 – 6,2 ) mg/l . 10-3
= 608,25 kg/hari

 Penambahan massa MLSS


Px ( MLSS ) = 608,25 kg/hari : 0,8
= 760,31 kg/hari

 Massa Lumpur yang harus dibuang


Px ( SS ) = Px ( MLSS ) - SS removed
= 760,31 kg/hari - ( 22 mg/l x 15863,04 m3/hari x 10-3 )
= 411,32 kg/hari

5. Rasio resirkulasi lumpur


Konsentrasi MLSS tangki aerasi = 3000 mg/l
Konsentrasi return VSS = 10000 mg/l
MLSS ( Qr + Q ) = return VSS x Qr
3000 Qr + 3000 Q = 10000 Qr
3000 Q = 7000 Qr
Qr
= 0,43
Q
R = 0,43

6. Debit resirkulasi lumpur


Qr = 0,43 x Q
= 0,43 x 15863,04 m3/hr
= 6821,1 m3/hr

7. Hydraulic retention time untuk reactor


V td
=

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 85


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Q
2433 m3

= 15863,04 m3/hari

= 0,15 hari = 3,6 jam

8. Check F/M ratio So


F/M =
θxX
128,9 mg/l
=
0,07 hari x 3000 mg/l
= 0,6 /hari

9. Kontrol organicloading rate ( OLR ) Q x So


OLR =
Vr
15863,04 m3/hari x 128,9 mg/l x 10-3
= 2433m3

= 0,84 kg BOD5 / m3.hari

10. Kebutuhan O2 berdasarkan BODu

 Massa BODu dari air buangan yang masuk dan diubah dalam proses
Q . ( So - S )
=
0,68

15863,04 m3/hari . ( 128,9 - 6,2 ) mg/l x 10-3


=
0,68
= 2862,3 kg/hari
 Kebutuhan O2

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 86


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

O2 digunakan sebagai bahan organic karbon dan konversi Nitrogen dari


Ammonium menjadi Nitrat
Kebutuhan O2 = BODu – ( 1,42 . Px ( MLSS ) )
= 2862,3 kg/hari – ( 1,42 . 169 kg/hari )
= 2862,3 kg/hari – 239,98 kg/hari
= 2622,3 kg/hari

11. Volume udara yang dibutuhkan Direncanakan :

- Koefisien oksigen transfer = 8 %


- Faktor kemanan = 2
- Udara mengandung = 23,2 % O2
Perhitungan :
- Kebutuhan udara teoritis
2622,3 kg/hari
= 1,201 kg/m3 x 0,232
= 9411,34 m3 /hari

- Kebutuhan udara actual

9411,34 m3/hari
=
0,08
= 117641,75 m3/hari
= 81,69 m3/menit

- Kebutuhan udara desain


= 2 x 81,69 m3/menit
= 163,38 m3/menit

12. Kontrol volume udara dengan nilai actual  Air Volume / unit volume

117641,75 m3/hari

= 15863,04 m3/hari / 2

= 14,83 m3/m3  Kebutuhan


udara / kg BOD removed

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 87


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

117641,75 m3/hari

=
(15863,04 m3/hari / 2) x (128,9 - 6,2 ) mg/l x 10-3
= 120,88 m3/kg BOD5 removed

13. Desain aerator yang digunakan Direncanakan :


 Digunakan aerator dengan jenis surface aerator
 Tranfer O2 , No = 1,7 kg O2 / KWh
 α = 0,85
 β= 1
 O2 saturated , Cs pada suhu 28 °C = 7,92 mg/l
 O2 pada saat operasi, CL = 2 mg/l
 Power = 10 KW
Perhitungan :
 Transfer O2 ( N )

N = No x α x ( 1,024 )T-20 x ⎡⎢⎣ β . 9C,S17 - CL ⎤⎥⎦

= 1,7 x 0,85 x ( 1,024 )28-20 x ⎢⎡1 . 79,,9217 - 2⎤⎥⎦


= 1,13 kg O2 /
KWh  Tenaga aerator (
D)

Kebutuhan O2
D=
N
2622,3 kg/hari / 24 jam/hari
=
1,13 kg O2 / KWh . hari

= 96,6 KW

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 88


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

 Jumlah aerator ( n )
Tenaga aerator
n=
Power
96,6 KW
=
10 KW
= 9,6 = 10 unit

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 89


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

BAB IX SECONDARY CLARIFIER

Bak pengendap II (secondary clarifier) berfungsi untuk memisahkan lumpur aktif


dari activated sludge dari MLSS. Lumpur yang mengandung bakteri yang masih aktif
akan diresirkulasi kembali ke actiated sludge dan lumpur yang mengandung bakteri yang
sudah mati atau tidak aktif lagi dialirkan ke pengolahan lumpur. Langkah ini (pengolahan
lumpur) merupakan langkah terakhir untuk menghasilkan efluen yang stabil dengan
konsentrasi BOD dan suspended solid (SS) yang rendah.
Faktor-faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam mendesain bak pengendap
kedua (secondary clarifier) antara lain :
a. tipe tangki yang digunakan
b. karakteristik pengendapan lumpur
c. surface loading rate atau solid loading rate
d. penempatan dan weir loading rate
Berdasarkan operasionalnya, bak pengendap kedua memiliki 2 (dua) fungsi, yaitu :
1. memisahkan MLSS dari air buangan yang diolah
2. memadatkan sludge return
Berdasarkan jenis tangkinya, dapat dibedakan menjadi 2 (dua) bentuk, yaitu
rectanguler (segi empat atau persegi panjang) dan circular (lingkaran).
Bak pengendap II merupakan proses dari activated sludge yang operasinya
merupakan sistem continuous mixed-flow.

Kriteria desain bak pengendap kedua :


Tabel 9.1 Kriteria desain untuk bak pengendap kedua.
Parameter Range

Overflow rate (m3/m2.hari) 15 – 40


Solid loading rate (kg/m2.hari) 50 – 150
Weir loading (m3/m2.hari) < 124

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 90


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Waktu detensi (jam) 2–6

Flux solid (kg/m2.hari) 2 – 4,2


(Sumber : Qasim. 1985. Waswater Treatment Plants : Planning, Design, and Operation)

Perencanaan yang digunakan :


• bak berbentuk circular dengan tipe center feed (dilengkapi scrapper)
• menggunakan 4 unit bak pengendap kedua
• TSSResirkulasi (Xr) = 10000 mg/l
• MLSS = 3000 mg/l (g/m3) = 3 kg/m3
• kedalaman zona air jernih dan pengendapan = 2 m
• diasumsikan di bawah kondisi normal, massa lumpur yang tertahan di bak
pengendap II 30 % dari massa solid di tangki aerasi
• konsentrasi rata-rata lumpur di dalam bak pengendap II = 7000 mg/l (g/m3)
• ruang lumpur dapat menampung lumpur selama 2 hari
• sistem efluen :
- menggunakan VNotch 900 standar pada plat weir (dipasang di sekeliling bak)
- lebar saluran pelimpah = 0,5 m
- kedalaman VNotch 8 cm dengan jarak antar pusat 39,5 cm
- ukuran efluen box = 2 m x 2 m
- kedalaman air di efluen box = 0,61 m
- beda tinggi di saluran pelimpah dengan efluen box = 0,3 m
- 16 % kehilangan akibat friksi, turbulensi, dan belokan
- tambahan kedalaman 25 cm guna memastikan jatuh bebas

Perhitungan bak pengendap II :


 Perhitungan Q tiap bak
Rencana Q di BP II :

QResirkulasi : MLSS ( Qr + Q ) = return VSS x Qr


3000 Qr + 3000 Q = 10000 Qr
3000 Q = 7000 Qr

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 91


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Qr QBak Pengendap II = Q +
= 0,43 QResirkulasi – MLSS pada
Q under flow
Qr = 1515,8 m3/hr
QR 1515,8 m3/detik
Cek : Q= 15863,04 m3/detik = 0,09…..(ok !)

MLSS pada under flow :

⎛QxS⎞ ⎛15863,04 m3/hari x 6,2 g/m3 ⎞


= Px - ⎜⎜⎝1000 g/kg ⎟⎟⎠ = 411,32 kg/hari - ⎜⎝ 1000
g/kg ⎟⎠

= 411,32 kg/hari - 98,35 kg/hari


= 312,97 kg/hari

= 312,973,75 kg/m kg/hari3 = 83,46 m3/hari

Maka :
QBak Pengendap II = 15863,04 m3/hr + 1515,8 m3/hr – 83,46 m3/hr

= 17295,38 m3/hr

Q tiap bak = 17295,38 m3/hr = 4323,845 m3/hr =


180,16 m3/jam 4
 Penentuan Solif Flux (SF)
Berdasarkan konsentrasi lumpur resirkulasi Xr = 10000 mg/l, diperoleh nilai SF =
2,0 kg/m2.jam
 Perhitungan luas permukaan
Q x X 180,16 m 3 /jam x 3,75 kg/m 3
ASurface = = 2 = 337,8 m 2
SF 2,0 kg/m .jam

4 x (337,8) 2
Diameter bak pengendap II : D= = 38,13 m ≈ 38,1 m
π
Luas permukaan sebenarnya :

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 92


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

AActual = x π x (38,1 m)2 = 1139,5 m2


 Kontrol Overflow Rate

OFR = QA = 4323,8451139,5 m m3/hari2 = 3/m2.hari ( < 15 m3/m2.hari …. .OK! )


3,79 m

Pada saat hanya 3 unit yang beroperasi :


⎛⎜17295,38⎞⎟ m3/dt

OFR = QA = ⎝ 11393,5⎠ m2 = 5,059 m3/m2.hari

 Kontrol Solid Loading

SL = 4323,8451139,5 m m3/hari2 x 1000 x 3750 g/kg g/m3 = 14,23


kg/m2.hari ( < 50 kg/m2.hr..OK!)

Pada saat hanya 3 unit yang beroperasi :

⎛⎜17295,38⎞⎟ 3/dt x 3750 g/m3 m


⎝ 3 ⎠ 2
.hari
SL = 1139,5 m2 x 1000 g/kg = 18,97 kg/m

 Perhitungan kedalaman BP II :
Kedalaman BP II meliputi :
- zona air jernih dan zona pengendapan
- zona thickening (pemadatan lumpur)
- zona ruang lumpur
Penentuan kedalaman zona thickening :
- Dimensi tangki aerasi :

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 93


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

L = 20
mW = 10
m
H = 5 m
- Total massa solid pada tiap tangki aerasi :
= X x Volume tangki aerasi

3000 g/m3 x 5 m x 20 m x 10 m
= = 3000 kg
1000 g/kg
- Total massa solid pada tiap BP II :
= 30 % x 3000 kg = 900 kg -
Kedalaman zona thickening :
total massa solid tiap BP II x 1000 g/kg
=
konsentrasi rata - rata lumpur BP II x AActual

900 kg x 1000 g/kg


= 7000 g/m3 x 1139,5 m2 = 0,13
m ≈ 0,15 m
Penentuan kedalaman zona ruang lumpur :
- Massa jumlah lumpur = 2 hari x produksi lumpur tangki aerasi
= 2 hari x 760,31 kg/hari
= 1520,62 kg
1520,62 kg
- Penyimpanan lumpur pada tiap BP II = = 380,155 kg 4
- Total jumlah lumpur dalam tiap BP II = 900 kg + 380,155 kg
= 1280,155 kg
- Kedalaman ruang lumpur :
total jumlah lumpur tiap BP II x 1000 g/kg
=
konsentrasi rata - rata lumpur BP II x AActual

1280,155 kg x 1000 g/kg


= 7000 g/m3 x 1139,5 m2 = 0,16
m ≈ 0,2 m
Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 94
Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Total kedalaman BP II = 2 m + 0,15 m + 0,2 m = 2,35 m ≈ 2,5 m Dengan


free board = 0,5 m
Total kedalaman = 2,5 + 0,5 = 3 m

 Perhitungan waktu detensi

Volume rata-rata BP II = x π x (38,1 m)2 x 5,8 m = 6609,18 m3


Volume 6609,18 m3
Waktu detensi = Qtiap BP II = 180,16 m3/jam = 36,69 jam

Pada saat hanya 3 unit yang beroperasi :

6609,18 m3
= = 27,51 jam
⎛⎜17295,38⎞⎟ 3/hari x 1 hari/jam m
⎝ 3 ⎠ 24
 Perencanaan efluen
Panjang efluen weir = π x (38,1 – 1) m = 116,494 m
panjang efluen weir 116,494 m x 100 cm/m
Total jumlah VNotch = = = 296
jarak antar pusat 39,5 cm
Head di atas VNotch :
Q = 0,1836 m3/dt – MLSS yang dibuang
= 15863,04 m3/hari–83,46 m3/hari = 15779,58 m3/hari=0,183 m3/detik

Qtiap BP II = 15779,58 m3/hari = 3944,89 m3/hari=


0,045 m3/detik 4

tiap V notch 3944,89 m3/hari = 13,33 m3/hari = 0,00015 m3 /detik


Q =
296
2

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 95


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan


Head= ⎡⎢15 x ⎛⎜⎜ 1,5 x 10-4 m3/dt2 ) x tan 450 ⎠⎞⎟ ⎥⎤⎥⎦ 5 = 0,026 m = 2,6 cm ⎢⎣

8 ⎝0,584 x (2 x 9,81 m/dt

Pada saat hanya 3 unit yang beroperasi :


2

Head = ⎡⎢⎢15 ⎛⎜⎜ ⎛⎜⎝30 x ,183296⎞⎠⎟ m3/dt ⎞⎟⎟⎤⎥⎥ 5 = 0,029 m = 2,9 cm


x
⎢ 8 ⎜0,584 x (2 x 9,81 m/dt2) x tan 450 ⎟⎥
⎜ ⎟
⎢⎣ ⎝ ⎠⎥⎦
Cek weir loading :

0,045 m3/dt x 86400 dt/hari3/m.hari (<124 m3/m.hr OK


WL = = 33,38 m
116,494 m
Pada saat hanya 3 unit yang beroperasi :

WL = 0,183 m3/dt x
86400 dt/hari = 45,24 m3/m.hari
3 x 116,494 m
Kedalaman saluran pelimpah :
Y2 = kedalaman air dalam box efluen – beda tinggi muka air
= 0,61 m – 0,3 m = 0,31 m
Q pada tiap sisi saluran pelimpah :

= 0,183 m3/dt 3/dt


= 0,0305 m
2 x 3 BP II yang beroperasi
Rata-rata panjang ½ saluran pelimpah :

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 96


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

= x [π x (38,1 - 0,2) m - 2 m] = 56,36 m

Q per m panjang weir = 0,0305 m3/dt -4 m3/m.dt


= 5,4 x 10
56,36 m
2 2 x (5,4 x 10-4 m3/m.dt x 56,36 m x 1)2 Yi = (0,31
m) + 9,81 m /dt2 x (0,2 m)2 x 0,31 m = 0,33 m

Total kedalaman saluran pelimpah = (0,33 m x 1,16) + 0,25 = 0,63 m = 0,65 m

BAB X PENGOLAHAN LUMPUR

10.1. Sludge Thickener

Merupakan bak yang digunakan untuk menaikkan kandungan solid dalam lumpur
dengan cara mengurangi porsi atau fraksi cairan, sehingga lumpur dapat dipisahkan dari
air dan ketebalannya menjadi berkurang. Sehingga praktis terjadi pemekatan
konsentrasi lumpur.

Dalam perencanaan ini digunakan sludge thickener dengan metode gravitasi, dengan
mengolah lumpur yang berasal dari pengendapan I dan sistem activated sludge.

Kriteria desain sludge thickener :

Tabel 10.1 Kriteria desain sludge thickener untuk lumpur yang berasal dari pengen-
dap I dan proses activated sludge.
Parameter Range

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 97


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Konsentrasi influen solid (%) 0,5 – 2,0


Konsentrasi thickened solid (%) 4,0 – 6,0
Hydraulic loading (m3/m2.hari) 4 – 10
Solid loading (kg/m2.hari) 25 – 80 85

Penghilangan solid (%) Overflow, – 92


TSS (mg/l) 300 – 800
(Sumber : Qasim. 1985. Waswater Treatment Plants : Planning, Design, and
Operation. Hal : 431)

Perencanaan yang digunakan :


- menggunakan 2 unit gravity thickener
- solid loading = 80 kg/m2.hari
- kadar solid = 4 % dari lumpur dengan densitas 1050 kg/m3
- kadar air = 96 % dari lumpur dengan densitas 1000 kg/m3
- zona air jernih = 1 m
- zona pengendapan = 1,5 m
- free board = 0,5 m
- waktu detensi = 1 hari
- konsentrasi solid di dasar zona thickening = 4 %
- slope dasar thickener dengan central well dan dengan sludge scrapper = 17 cm/m

Perhitungan sludge thickener :


 Solid yang masuk ke dalam thickener :
Solid yang masuk : bak pengendap I = 3076,47 kg/hari
bak pengendap II = 1469,16 kg/hari total = 4545,63
kg/hari

Berat lumpur = x total solid = x 4545,63 kg/hari =


113640,75 kg/hari
3
berat solid 4545,63 kg/hari /hari
Volume solid = densitas = 1050 kg/m3 = 4,329 m

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 98


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

berat lumpur 113640,75 kg/hari 3 /hari Volume lumpur =


densitas = 1050 kg/m3 = 108,229 m

Volume air = volume lumpur – volume solid


= 108,229 m3/hari – 4,329 m3/hari = 103,9 m3/hari
 Luas permukaan :
2
berat solid 4545,63 kg/hari
ASurface = solid loading = 80 kg/m2.hari = 56,82 m

volume lumpur 108,229 m3/hari 3


/m2.hari
Hydraulic loading = ASurface = 56,82 m2 = 1,9 m

Karena hydraulic loading tidak sesuai dengan kriteria desain, maka digunakan HL
= 4 m3/m2.hari, sehingga :

/hari
Surface 108,2294 m3/m m2.hari3 2

A = = 27,06 m
2
4545,63 kg/hari .hari SL =
27,06 m2 = 168 kg/m

Ternyata solid loading melebihi kriteria desain, maka digunakan solid loading 80
kg/m2.hari, hydraulic loading 1,9 m3/m2.hari, dan ASurface = 56,82 m2.

 Dimensi gravity thickener :

ASurface tiap unit =

⎛ 4 x 28,41 m2 ⎞

Diameter tiap unit = ⎜⎜⎝ π ⎟⎟⎠ = 6,02 m ≈ 6 m

Kedalaman zona thickening


Thickener terdiri dari 3 bagian zona air jernih, zona pengendapan, dan zona
thickening.
Total konsentrasi solid :

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 99


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

4545,63 kg/hari x 1000 g/kg

= 1,05 x 1 g/cm3 x 106 cm3/m3 x 107,96 m3/hari = 0,04

Konsentrasi rata-rata lumpur di zona thickening = =4%

Volume lumpur tiap unit = x π x (6 m)2 x h = 28,26 h


Massa solid di zona thickening pada 4 % solid :

3
) x 0,04 g/g x 1 kg x 1,05 x 106 cm3/m3
= (28,26 h m
1000 g
= 1186,92 h kg
Dengan waktu detensi 1 hari :

(1186,92 h) kg
= = 1 hari → h = 1,9 m ≈ 2 m
2272,82 kg/hari
Kedalaman zona thickening :
= zona air jernih + zona pengendapan + zona thickening
= 1 m + 1,5 m + 2 m = 4,5 m
Kedalaman dari thickener pada central well (pertengahan bak) :
17 cm/m 6m
Drop total ke central well = x = 0,51 m
100cm/m 2
Total kedalaman thickener :
= free board + thickening + drop total
= 0,49 m + 4,5 m + 0,51 m = 5,5 m

10.2. Sludge Digester

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 100


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Adalah suatu tangki yang berfungsi untuk menguraikan volatile solid yang ada
dalam lumpur. Proses ini bertujuan untuk menstabilkan lumpur dan mengurangi
biomassa. Pada perencanaan ini digunakan tipe anaerobic sludge digester.

Perencanaan yang digunakan :


- menggunakan 2 unit Anaerobic Digester
- Q lumpur = 4,329 m3/dt

- periode digester (θC) = 15 hari


- VS loading = 2,5 kg/m3.hari
- berat solid = 4545,63 kg/hari
- kedalaman akumulasi grit = 1 m
- kedalaman scum blanket = 0,6 m
- jarak minimum antara floating cover dan level digester maksimum = 0,6 m
- 65 % solid bersifat biodegradable
- 1 g biodegradable solid = 1,42 g BODL
- koefisien yield (Y) = 0,05
- koefisien kd = 0,03 hari-1

- efisiensi (E) = 0,8


- gas methan = 66 % gas produksi
- asumsi reduksi VS = 52 %
- total solid di lumpur dari thickening = 4 %
- berat udara = 1,162 kg/m3
- densitas gas digester = 86 % dari udara
- total solid dalam supernatan digester = 4000 mg/l
- specific gravity supernatan = 1
- total solid dalam lumpur digester = 4 %
- specific heat (CP) untuk lumpur = 4200 J/kg
- suhu lumpur = 280C
- slope dasar tangki = vertikal : horisontal = 1 : 3

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 101


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Perhitungan anaerobic digester :


 Kapasitas digester
Dengan menggunakan Q lumpur dan periode digester :
Volume = Q x td = 4,329 m3/hari x 15 hari = 64,935 m3 Dengan

menggunakan VS loading :
3
berat lumpur 4545,63 kg/hari Volume =
VS loading = 2,5 kg/m3.hari = 1818,25 m

Maka volume yang digunakan adalah 1818,25 m3

 Dimensi dan geometri digester


Kedalaman = akumulasi grit + scum blanket + jarak minimum antara floating cover
& level digester maks.
= 1 m + 0,6 m + 0,6 m = 2,2 m
Bila side water depth tanpa kerucut (cone)= 7,6 m, akan tersedia tambahan
volume dalam kerucut :
7,6 m - 2,2 m
Volume aktif = = 0,71 dari volume total
7,6 m

Asumsi volume aktif digester = 1750 m3 x = 2500 m3

2500 m3 = 1250 m3
Volume tiap unit =
2
2500 m3 2

Luas permukaan tiap unit = = 164,5 m 7,6 m

⎛ 4 x 164,5 m2⎞
Diameter tiap unit = ⎜ ⎟ =14,5 m
⎝π⎠
Dimensi digester : Diameter = 14,5 m
Side water depth = 7,6 m

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 102


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

 Produksi gas
Konsentrasi solid

berat lumpur 4545,63 kg/hari x 1000 g/kg 6 g/m3 = Q lumpur


= 4,329 m3/hari = 1,05 x 10

BODL dalam lumpur = 1,05 x 106 g/m3 x 65 % x 1,42 g/g = 969150 g/m3
Produksi gas methan :
YxQxExS
Px =
[1+ (kd x θC )] x 1000 g/kg

0,05 x 4,329 m3/hari x 0,8 x 969150 g/m3


= [1+ (0,03 hari-1 x 15 hari)] x 1000
g/kg = 115,737 kg/hari

Volume gas methan :

= 0,35 m3/kg x ⎨⎧⎡⎢ E1000 x Q x g/kgSo⎤⎥⎦ - (1,42 x Px)⎫⎬⎭

⎩⎣


= 0,35m3/kgx⎨⎩⎡⎢⎣ 0,8x4,329 m10003/harix9691 g/kg 50 g/m3 ⎤⎥⎦ -
(1,42x115,737 kg/hari)⎫⎬⎭

= 1117,2 m3/hari

1117,2 m3/hari
Produksi gas digester = = 1692,73 m3/hari
66%

 Produksi lumpur hasil proses digester


Jumlah solid dalam lumpur hasil proses digester :
TVS = 4545,63 kg/hari
TVS yang musnah = 4545,63 kg/hari x 0,52 = 2363,73 kg/hari TS
yang tersisa setelah proses digester :

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 103


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

= nonvolatile solid + VS yang tersisa


= (4545,63 – 2363,73) kg/hari + (0,48 x 2363,73 kg/hari)
= 3316,49 kg/hari Jumlah
total massa di digester :
Total solid di digester = 4545,63 kg/hari
Total solid dalam lumpur dari thickening = 4 %
4545,63 kg/hari
Total massa = = 113640,75
kg/hari 0,04
Jumlah total massa yang meninggalkan digester (efluen) :
Total produksi gas digester = produksi gas x berat udara x densitas
= 1692,73 m3/hari x 1,162 kg/m3 x 0,86
= 1691,579 kg/hari

Total massa yang meninggalkan digester :


= 113640,75 kg/hari – 1691,579 kg/hari = 111949,171 kg/hari

Q supernatan dari digester :


Asumsi supernatan solid digester = S
S 3316,49 kg/hari - S
Maka : + = 111949,171 kg/hari 0,004 0,04
diperoleh S = 129,05 kg/hari

129,05 kg/hari x 1000 g/kg 3/hari Q


supernatan = 0,004 g/cm3 x 106
cm3/m3 = 32,26 m

Konsentrasi solid dalam supernatan :


129,05 kg/hari x 1000 g/kg x 1000 mg/g
= 40 m3/hari x 1000l/m3 =
3226,25 mg/l

Berat lumpur hasil proses digester :

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 104


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

= TS yg tersisa setelah proses digester – TS yg hilang dlm supernatan


= 3316,49 kg/hari – 129,05 kg/hari
= 3187,44 kg/hari
Volume lumpur hasil proses digester :

3187,44 kg/hari x 1000 g/kg 3/hari

= 0,05 g/g x 1,02 x 1


g/cm3 x 106 cm3/m3 = 62,5 m

10.3. Sludge Drying Bed

Merupakan suatu bak untuk mengeringkan lumpur hasil pengolahan anaerobic


digester. Bak ini biasanya berbentuk persegi panjang yang terdiri dari lapisan pasir dan
kerikil, serta pipa drain untuk mengalirkan air dari lumpur yang dikeringkan. Waktu
pengeringan tergantung dari cuaca, terutama sinar matahari.

Perencanaan yang digunakan :


- berat lumpur = 3187,44 kg/hari
- volume lumpur = 62,5 m3/hari
- kadar solid = 12 %
- kadar air = 88 %
- menggunakan 2 unit sludge drying bed yang tiap unit terdiri dari 10 cell
- waktu pengeringan = 10 hari
- media : Lapisan pasir fine sand 150 mm
coarse sand 75 mm
Lapisan kerikil fine gravel 75 mm
medium gravel 75 mm
coarse gravel 75 mm

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 105


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

ketebalan total media = 450 mm


- kadar air pada cake sludge = 75 %
- tebal (kedalaman) cake sludge = 0,3 m

Perhitungan sludge drying bed :


 Dimensi bed
Produksi lumpur dalam 1 hari dikeringkan dengan menggunakan 2 cell dalam 1
unit sludge drying bed.

V x (1 - ρ)
Volume cake kering : V1 =
1 - ρS

= 62,5 m3/hari x (1 - 0,88) = 30 m3/hari


1 - 0,75

30 m3 = 15 m3
Volume cake kering tiap cell =
2
Volume cake kering tiap bed (10 cell) = 10 x 15 m3 = 150 m3

15 m3 2

Luas permukaan cell = = 50 m → diperoleh P = 8 m dan L = 6,25 m 0,3


m

62,5 m3/hari x 10 hari 3

Volume tiap bed = = 312,5 m


2

(312,5 - 150) m3
Kedalaman air = = 0,325 m (5
x 6,25 m) x (2 x 8 m)
Sehingga :
Dimensi cell : P=8m Kedalaman = 0,3 m

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 106


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

L = 6,25 m

Dimensi bed : P = 5 x 6,25 m = 31,25 m


L = 2 x 8 m = 16 m
Kedalaman = 0,45 m + 0,3 m + 0,325 m = 1,075 m
Free board = 0,225 m

 Underdrain
Berfungsi untuk menampung dan mengeluarkan air dari lumpur.
Terletak di bawah lapisan kerikil (media).
Direncanakan diameter pipa = 100 cm.

BAB XI DESINFEKSI

Supernatan yang berasal dari pengolahan biologis didesinfeksi terlebih dahulu


sebelum dibuang ke badan air penerima. Hal ini bertujuan agar efluen yang dibuang tidak
berbau dan aman bagi badan air penerima.

Senyawa chlorine yang digunakan dalam perencanaan ini adalah Calcium


hyphochlorite [ Ca(OCl)2 ] dengan alasan :
a. bersifat toksik terhadap mikroorganisme yang bersifat patogen
b. berkemampuan tinggi untuk larut di dalam air
c. tersedia di pasaran dengan harga relatif murah
d. tidak toksik bagi manusia dan binatang

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 107


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Kriteria desain desinfeksi : o dosis chlorine untuk efluen air


buangan = 3 – 15 mg/l o Ca(OCl)2 yang digunakan
mengandung 70 % chlorine o waktu kontak = 15 – 45
menit o kecepatan horisontal (VH) = 2 – 4,5 m/menit

Perencanaan yang digunakan :


- menggunakan Round the end horizontal baffle
- terbuat dari beton (n = 0,015)
- dosis chlorine = 5 mg/l
- Ca(OCl)2 yang digunakan mengandung 70 % chlorine
- waktu kontak = 20 menit
- kecepatan horisontal = 3 m/menit

- ρ Ca(OCl)2 = 1,2 kg/l


- konsentrasi larutan Ca(OCl)2 = 10 %
- pengadukan tiap 1 hari sekali

Perhitungan desinfeksi :
 Dosis chlorine untuk desinfeksi
Dosis = 5 mg/l x 0,487 m3/dt x 86400 dt/hari = 210,384 kg/hari ≈ 210 kg/hari
210 kg/hari
Ca(OCl)2 yang dibutuhkan = = 300
kg/hari 0,7

 Dimensi bak kontak chlorine


Volume bak = Q x td = 0,487 m3/dt x 20 menit x 60 dt/menit = 584,4 m3

Panjang round the end = VH x td = 3 m/menit x 20 menit = 60 m


Dimensi bak : P = 60 m H = 2,2 m
L = 4,4 m free board = 0,3 m P
60 m
Jumlah saluran = = = 13,64 ≈ 14
Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 108
Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

L 4,4 m
60 m
Lebar tiap saluran = = 4,29 m
14
2 2

⎡⎢ ⎤⎥ ⎡⎢ 0,015 x ⎛⎜ 3 ⎞⎟ ⎤⎥

⎥ ⎢ ⎜⎜ ⎝ ⎠ ⎟⎟ ⎥ ⎥
Slope saluran = ⎢⎢⎣⎢⎝ bbn x + + 2 DVDH⎞⎠2 ⎥⎥⎥⎦ = ⎣⎢ ⎢⎛ ⎝ 4,29 m + (2 x 260,2 m)⎠ 23 ⎦⎥

= 8,37 x 10-7
⎜ ⎟ ⎢
⎢⎛ 3 4,29 m + 2,2 m ⎞⎥

Lebar saluran pada belokan :


VBelokan = 2,5 VH = 2,5 x 3 m/menit = 7,5 m/menit = 0,125 m/dt

Belokan Q = 0,487 m3/dt = 3,896 m2


A =
VBelokan 0,125 m/dt

Lebar belokan = ABelokan = 3,896 m2 = 1,77 m


D 2,2 m
 Headloss

⎛ 3 ⎞2
2 ⎜ ⎟
VH ⎝ 60⎠
Saluran lurus = n x = 14 x = 1,78 x 10-3 m 2 x g
2 x 9,81
Karena gesekan = S x L = 8,37 x 10-7 x 60 m = 5,02 x 10-5 m

VH2 (0,125)2
Pada belokan = (n - 1) x = (14 - 1) x = 0,01 m
2 x g 2 x 9,81

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 109


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Headloss total = 1,78 x 10-3 m + 5,02 x 10-5 m + 0,01 m = 0,012 m

 Dimensi bak pengaduk


Volume Ca(OCl)2

= kebutuhan Ca(OCl)Ca(OCl)2 2
= 3001,2 kg/hari kg/l

= 250 l/hari = 0,25 m3/hari ρ


Volume pengadukan Ca(OCl)2 = 0,25 m3/hari x 1 hari = 0,25 m3

Volume pelarut (air) untuk chlorine 10 % = x 0,25m3 = 2,25 m3


Volume bak pengaduk = volume Ca(OCl)2 + volume air
= 0,25 m3 + 2,25 m3 = 2,5 m3

Dimensi : P = 1,58 m H=1m


L = 1,58 m free board = 0,3 m

BAB XII PROFIL HIDROLIS

Diketahui ketinggian awal untuk penanaman saluran pembawa adalah – 2,9488 m

Perhitungan:
1. SALURAN PEMBAWA
 Kehilangan tekanan pada saluran (hf) = S x L hf
= 0,003 x 5 m
= 0,015 m
 Elevasi muka air = ( - 2,9488 – 0,015 )
= - 2,9638 m

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 110


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

2. SUMUR PENGUMPUL DAN POMPA


 Dipompa dengan screw pump setinggi 5,12
m Elevasi muka air = - 2,9638 m + 5,12 m
= + 2,1562 m

3. BAR SCREEN
 Head loss (hf) = 0,0066 m
 Elevasi muka air = + 2,1562 m – 0,0066 m
= + 2,1496

4. GRIT CHAMBER
 Kecepatan pada grit chamber = 0,3 m/detik
 Kehilangan tekanan pada inlet R = 0,4

⎛ vxn ⎞2 ⎛0,3x0,015⎞2

S = ⎜⎝0,42 / 3 ⎟⎠ =⎜⎝ 0,5 ⎟⎠ = 0,00007


hf = 0,00007 x 4 m
= 0,00028 m

 Kehilangan tekanan pada bak grit chamber b


x h 1,4 x 1,15
R= = = 0,4 b +
2h 1,4+ 2,3 ⎛v x n⎞2
⎛0,3 x 0,015⎞2
S = ⎜⎝ 2/3 ⎟ =⎜ 0,442 / 3 ⎟⎠ =
0,00006
R ⎠ ⎝
hf = 0,00006 x 18,15 = 0,0011 m hf
total = 0,00028 + 0,0011
= 0,0014 m
 Elevasi muka air = + 2,1496 – 0,0014
= + 2,1482 m

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 111


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

5. BAK PENGENDAP I
 Kehilangan tekanan di pipa inlet = 0,004 m

(v1 - v2)2 (0,04 - 0,006)2


 hf perforated baffle = k x = 2,54 x = 0,00015m
2g 2x9,81

 hf pintu air = = 0,003m


 bak sedimentasi ke outlet ; hf = S x L = 0,0013 x 25,2 = 0,032 m
 hf total = (0,00015 + 0,003 + 0,032) = 0,035 m  elevasi muka air = +
2,1482 – 0,035
= + 2,1132 m

6. ACTIVATED SLUDGE
 hf inlet = 0,02 m
 hf outlet = 0,02 m
 hf total = 0,04 m
 elevasi muka air = + 2,1132 – 0,04
= + 2,0732 m

7. SECONDARY CLARIFIER
 hf inlet
Diketahui:
Q = 0,05 m3/detik
V = 0,6 m/detik

Q 0,05 2

A= = = 0,08m
v 0,6

⎛4 A⎞1/ 2 ⎛4 x 0,08⎞1/ 2
D=⎜ ⎟ =⎜ ⎟ = 0,3m
⎝π⎠ ⎝ 3,14 ⎠
Direncanakan L inlet = 4 m

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 112


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

⎡ 0,05 ⎤1,85

hf = ⎢⎣0,2785 x 130 x 0,32,63 ⎥⎦ x 4

= 0,007 m
 hf outlet
Direncanakan:
Φoutlet = Φinlet = 0,3 m
L outlet = 7 m Perhitungan:

⎡ 0,05 ⎤1,85

hf = ⎢⎣0,2785 x 130 x 0,32,63 ⎥⎦ x 7

= 0,01 m hf total =
0,007 + 0,01
= 0,017 m
 elevasi muka air = + 2,0732 – 0,017
= + 2,0562 m

8. DESINFEKSI
 hf = 0,012 m
 elevasi muka air = + 2,0562 – 0,012
= + 2,0442 m

BAB XIII BILL OF QUANTITY

Perhitungan Bill of Quantity (BOQ) hanya pada kebutuhan bangunan saja, perinciannya
sebagai berikut:
Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 113
Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

1. SALURAN PEMBAWA
Digunakan pipa dengan ukuran:
- diameter = 600 mm
- panjang = 5 m
- jumlah saluran = 1 buah

2. SUMUR PENGUMPUL DAN POMPA


- h = 0,78 m
- b=4m
- L = 6,5 m
- Tebal beton = 0,5 m
- Jumlah sumur pengumpul = 1 buah

Volume beton = { (0,78 + 0,3) x (4 + (2 x 0,3) x 6,5)} – {0,78 x 4 x 6,5}


= 12,012 m3

Penggalian = { (0,78 + 0,3) x (4 + (2 x 0,3) x 6,5)}


= 32,292 m3

Screw pump
- 1 buah screw pump 57,9 Hp dengan Q = 0,487 m3/dt dan diameter pompa =
1600 mm
- 1 buah drive motor screw pump
- 1 buah jembatan control (walk wad)

3. BAR SCREEN DAN SALURAN


a. Saluran
- h = 0,8 m + 0,2 m = 1 m
- b=1m

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 114


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

- L=4m
- Tebal beton = 0,3 m
- Jumlah saluran 1 buah

Volume beton = { (1 + 0,3) x (1 + (2 x 0,3) x 3)} – {1 x 1 x 4}


= 2,24 m3

Penggalian = { (1 + 0,3) x (1 + (2 x 0,3) x 3)}


= 6,24 m3

b. Bar Screen
- racks dengan lebar = 0,01 m = 26 buah
- perlengkapan reciprolating rack untuk pembersihan = 1 buah

4. GRIT CHAMBER
a. Grit Removal
- h = 1,15 m + 0,3 m = 1,45 m
- b = 1,4 m
- L = 18,5 m
- Tebal beton = 0,3 m
- Jumlah bak = 1 buah

Volume beton = { (1,45 + 0,3) x (1,4 + (2 x 0,3) x 18,15)} – {18,15 x 1,4 x 1,45}
= 26,68 m3

Penggalian = { (1,45 + 0,3) x (1,4 + (2 x 0,3) x 18,15)}


= 63,525 m3

b. Grit Storage
- h = 0,3 m

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 115


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

- b = 1,4 m
- L = 15,35 m
- Tebal beton = 0,3 m
- Jumlah bak = 1 buah

Volume beton = { (6,3 + 0,3) x (1,4 + (2 x 0,3) x 15,35)} – {15,35 x 1,4 x 0,3}
= 11,973 m3

Penggalian = { (6,3 + 0,3) x (1,4 + (2 x 0,3) x 15,35)}


= 18,42 m3

c. Proportional Weir
Digunakan betonan

5. PRIMARY SEDIMENTATION
a. Saluran Pembawa
 h = 0,5 m + 0,3 m = 0,8 m
 b=1m L=4m
 Tebal beton = 0,3 m
 Jumlah saluran = 1 buah

Volume beton = { (0,8 + 0,3) x (1 + (2 x 0,3) x 4)} – {1 x 0,8 x 4}


= 3,84 m3

Penggalian = { (0,8 + 0,3) x (1 + (2 x 0,3) x 4)}


= 7,04 m3

b. Pintu Air
Digunakan pintu air dari pelat baja dan diletakkan sebelum bak pengendap
sebanyak 4 buah.

c. Bangunan Sedimentasi I

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 116


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

 h = 3,2 m + 0,3 m = 3,5 m


 b = 6,3 m
 L = 25,2 m
 Tebal beton = 0,3 m
 Jumlah bak = 4 buah

Volume beton = { (3,5 + 0,3) x (6,3 + (2 x 0,3) x 25,2)} – {3,5 x 6,3 x 25,2}
= 105,084 m3

Penggalian = { (3,5 + 0,3) x (6,3 + (2 x 0,3) x 25,2)}


= 660,744 m3

d. Pelat untuk Perforated Baffle


A = 3,5 x 6,3 x 4 buah
= 88,2 m2

e. 4 buah drive valve untuk pengurasan lumpur


f. Travelling bridge + drive motor = 4 buah
g. Walk wad = 4 buah
h. Ruang Lumpur
 b atas = 5 m
 b bawah = 3 m
 P atas = 6,3 m
 P bawah = 6,3 m
 h = 3,4 buah

Volume beton = 4 {1/3(6,3 x 5) x (6,3 x 3) + 39,69x15 } –

{1/3(6,3 x 5) x (6,3 x 3) + 39,69x15 }


= 74,799 m3

Penggalian = 4 {1/3(6,3 x 5) x (6,3 x 3) + 39,69x15 }

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 117


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

= 99,732 m3
6. ACTIVATED SLUDGE
 h=5m
 b = 10 m
 L = 20 m
 Tebal beton = 0,5 m
 Jumlah tangki aerasi = 2 buah
 Pintu air sebanyak 2 buah

Volume beton = { (5 + 0,5) x (10 + (2 x 0,5) x 20)} – {5 x 10 x 20}


= 420 m3

Penggalian = { (5 + 0,5) x (10 + (2 x 0,5) x 20)}


= 1210 m3

7. SECONDARY CLARIFIER
a. Bak
 Diameter = 38,1 m
 h=3m
 tebal beton = 0,5 m

Volume beton = { ¼.π (38,62 – 38,12) x 3 } x 4 buah


= 361,257 m3

Penggalian = { ¼.π (38,62) x 3 } x 4 buah


= 14035,42 m3

b. Walk wad 38,1 m ; 4 buah (berupa traveling bridge)


c. Scrapper + perlengkapan = 4 buah
d. Pintu air sebelum secondary clarifier = 4 buah

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 118


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

8. SLUDGE THICKENING
 Diameter = 6 m
 h = 5,5 m
 tebal beton = 0,5 m
Volume beton = { ¼.π (6,52 – 62)}
= 5 m3

Penggalian = { ¼.π (6,52) } x 5,5


= 182,414 m3

9. SLUDGE DIGESTER
 Diameter = 14,5 m
 h = 2,2 m
 tebal beton = 0,5 m
 terdiri dari 2 unit

Volume beton = { ¼.π (152 – 14,52)} x 2


= 23,158 m3

Penggalian = { ¼.π (152) x 2 } x 2


= 706,5 m3

10. SLUDGE DRYING BED


 L = 31,25 m
 b = 16 m
 h = 1,075 m
 terdiri dari 2 unit
 tebal beton = 0,5 m

Volume beton = { (1,075 x 0,5) x (16 x 0,5) + (0,5 x 31,25)}


= 25,397 m3

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 119


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Penggalian = { 31,75 x 16,5 x 1,575 x 2 }


= 1650,2 m3

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 120


Tugas

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan

Sony Wahyudi Teknik Lingkungan – ITS Surabaya 121