Anda di halaman 1dari 4

BAB 5

EVALUASI DAN PERHITUNGAN DALAM BIOPROSES

Bioreaktor merupakan jantung proses dalam rangkaian pendayagunaan sistem hayati


(enzim maupun sel) untuk menghasilkan produk tertentu. Kelayakan teknis suatu bioproses
sangat ditentukan oleh kinerja bioreaktor. Kinerja reaksi enzimatik dan mikroba merupakan
dasar untuk menentukan kinerja tersebutv yang mencakup parameter dasar produktivitas,
hasil (yield) dan tingkat konversi substrat menjadi produk. Proses dengan tingkat keandalan
yang tinggi dan aman dapat diperhitungkan/dirancang berdasarkan analisis bioreaktor
tentang konsep persamaan kinetika. Perilaku bioreaktor dapat dikelompokan menjadi 3, yaitu
curah (batch, discontinuous), semi sinambung (fed batch) dan sinambung (continous). Untuk
meningkatkan kinerja bioproses, modifikasi dari 3 pola dasar tersebut sering dilakukan,
antara lain dengan pendaurulangan (curah dan sinambung) serta pengoperasian bioreaktor
tahap banyak (cascade) secara seri.

Bioreaktor Enzimatik

1) Bioreaktor enzimatik curah (discontinuous stirred tank reaktor, DSTR).


Substrat dan biokatalis dimasukkan pada awal pengerjaan ke dalam bioreaktor yang
teragitasi secara baik. Perubahan konsentrasi umpan (S) terhadap waktu diberikan oleh
neraca massa dalam bioreaktor.
𝑑𝑆
-rs = v 𝑑𝑡

V adalah volume reaktor (konstan), rs adalah laju perubahan substrat (mol atau g per
satuan waktu). Variasi S terhadap waktu bergantung pada hukum tentang laju (rs).

a) Kinetika Michaelis-Menten
Dengan menganggap laju pengurangan substrat mengikuti persamaan Michaelis-
maka neraca massa dapat ditulis :
𝑉𝑚𝑎𝑘𝑠 −1 . 𝑆 𝑑𝑆
v = v 𝑑𝑡
𝐾𝑀 + 𝑆
Vmaks adalah aktivitas enzimatik maksimal per satuan volume reaktor. Integrasi
persamaan tersebut menghasilkan variasi substrat tehadap waktu:
vmaks-1 .t = KM. ln So/S + (So-S)
So adalah konsentrasi awal substrat, bila X adalah derajat konversi reaksi:
X=(So-S)/So
Maka persamaan di atas menjadi:
vmaks-1 .t = X.So - KM. ln (1-X)

GAMBAR 5.1. Skema berbagai reaktor

Secara sederhana parameter proses (vmaks, KM, X) dapat ditentukan dengan


menggambarkan perubahan substrat atau biomassa terhadap waktu.
Gambar 5.2
b) Penghambatan oleh produk
Bila reaksi enzimatik dihambat secara kompetitif oleh produk, maka neraca substrat
dalam reaktor:
𝑉𝑚𝑎𝑘𝑠−1 . 𝑆 𝑑𝑆
v 𝑃 = v 𝑑𝑡
𝐾𝑀 (1+ )+ 𝑆
𝐾𝑝

Gambar 5.3

Dengan KP adalah tetapan penghambatan. Bila satu molekul substrat dapat diubah
menjadi satu molekl produk, P = So-S
Maka perubahan konsentrasi substrat dapat dinyatakan:

-vmaks”/l = KM(1+So/KP)ln(1-P/So)+(1-KM/KP)P

Gambar 5.3 menyajikan grafik hidrolisis maltosa glukoamilase yang melibatkan


penghambatan oleh produk (glukosa).
Teknik yang sama dengan mudah dapat digunakan untuk menurunkan hubungan
perubahan konsentrasi substrat terhadap waktu bagi dua jenis penghambatan yang
lain, yaitu penghambatan tidak kompetitif dan penghambatan bukan kompetitif.

Persamaan laju pada penghambatan tidak kompetitif oleh produk

𝑉𝑚𝑎𝑘𝑠 𝑆
vi = 𝑃 . 𝑃
1+ 𝑆+𝐾𝑀 /(1+ )
𝐾𝑝 𝐾𝑝

Penghambatan bukan kompetitif oleh produk

𝑉𝑚𝑎𝑘𝑠 𝑆
Pi = 𝑃 . 𝑆+𝐾
1+ 𝑀
𝐾𝑝

Penghambatan oleh substrat

𝑆
vi = vmaks 𝑆+𝐾𝑀 +𝑆"/𝐾𝑠

2) Bioreaktor enzimatik sinambung


Bioreaktor enzimatik sinambung yang banyak digunakan dalam bioproses adalah reaktor
teragitasi (CSTR) dan reaktor piston (PFR)

Gambar 5.4
a) Bioreaktor CSTR
Untuk menghitung neraca massa pada sistem sinambung maka dlihat aliran masukan
dan keluarannya.
Neraca massa diberikan oleh persamaan:

Jumlah substrat masuk per satuan waktu + Jumlah substrat yang ditransformasi per
satuan waktu = Jumlah substrat yang keluar per satuan waktu + variasi jumlah
substrat per satuan waktu

Q.So – rs = Q.S + V(dS/dt)

Dalam reaktor homogen dan mencapai keadaan tunak/stasioner (steady-state),


dS/dt=0, maka neraca substrat dapat dinyatakan secara sederhana:

Q/(So-S) = rs .V

rs adalah laju pengurangan substrat dalam reaktor.

Gambar 5.5
Waktu lewat dalam reaktor (t) dinyatakan sebagai berikut: t = V/Q.
Konsentrasi substrat keluar dari fermentor bergantung pada model kinetika reaksi.

a. Kinetika Michaelis-Menten
Q(So-S) = v(v”maks .S)/(KM+S)

b. Penghambatan oleh substrat


𝑉𝑚𝑎𝑘𝑠 −1 . 𝑆
Q(So-S) = v 𝐾 ′ /𝐾𝑑
𝑀 + 𝑆+𝑆

b) Bioeraktor enzimatik piston (PFR)


Dengan pergerakan piston dalamreaktor, konsentrasi S menurun secara terus menerus.
Persamaan diferensial yang melukiskan variasi S diberikan dengan menyususn neraca
massa pada elemen volume reaktor.
QS-r”.dV = (S+dS)

Gambar 5.6

r”, adalah laju penggunaan substrat per satuan volume reaktor. Dengan mengikuti
kinetika Michaelis, integrasi persamaanantara yang masuk dan keluar reaktor dengan
volume V memberi hasil:
v”maks = v/Q(V”maks = KM. lnSo/S+(So-S)
t adalah waktu lewat dalam reaktor

Terlihat bahwakonsentrasi substrat pada keluaran waktu lewat sama dengan yang
diperoleh pada reaktor tertutu pada saat awal. Penghambatan oleh produk akan
menurun secara nyata pada produktivitas bioreaktor.
Gambar 5.7
c) Perbandingan antara CSTR dan PFR
Perbedaan antara CSTR dan PFR dapat dilihat berdasarkan pola aliran dan
produktivitas. Pada bioreaktor CSTR pencampuran cairan di dalam bioreaktor cukup
untuk mempertahankan keseragaman konsentrasi substrat dan produk. Sehingga
konsentrasi substrat dan produk pada keluaran dalah sama dengan konsentrasi dalam
bioreaktor.
Sedangkan pada PFR pencampuran cairan pada arah axial dapat
diabaikan.Bagian media mengalir ke dalam bioreaktor tanpa mengalami pencampuran
dengan bagian sebelumnya atau sesudahnya. Seluruh bagian mempunyai waktu
tinggal yang sama, tetapi konsentrasi substrat dan produk tidak seragam. Konsentrasi
substrat pada keluarab menurun, sedangkan konsentrasi produk meningkat. (Gambar
5.8)
Pada kinetika umum, produktivitas suatu reaktor piston lebih tinggi ketimbang
CSTR pada volume yang sama.
Bila rs” adalah laju penggunaan substrat per satuan volume reaktor, dan So
dan S adalah konsentrasi substrat pada masukan dan keluaran, maka waktu lewat
untuk:
CSTR : t = V/Q = (So-S)/ rs”
PFR : t = V/Q = dS/ rs”

Penggambaran l/t” , terhadap S akan diperoleh grafik seperti disajikan pada Gambar
5.9. Acuan volume (V) reaktor dibutuhkan untuk menentukan suatu konsentrasi pada
S keluaran dan diberikan oleh pembandingan dua luasan. Dari gambar tesebut terlihat
bahwa waktu lewat bioreaktor PFR lebih kecil dibandingkan CSTR. Artinya untuk
memperoleh kinerja yang sama pada volume yang sama, bioproses yang dikerjakan
dalam PFR membutuhkan waktu yang lebih pendek.

Gambar 5.8