Anda di halaman 1dari 145

MODEL PROSES PRODUKSI INDUSTRI

TAPIOKA RAMAH LINGKUNGAN BERBASIS


PRODUKSI BERSIH
(Studi Kasus di Provinsi Lampung)

ERDI SUROSO

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI
DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi dengan judul Model Proses
Produksi Industri Tapioka Ramah Lingkungan Berbasis Produksi Bersih
(Studi Kasus di Provinsi Lampung) adalah karya saya sendiri dan belum
diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini

Bogor, Juni 2011

Erdi Suroso
P062050151
ABSTRAK
ERDI SUROSO. Model Proses Produksi Industri Tapioka Ramah Lingkungan
Berbasis Produksi Bersih (Studi Kasus di Provinsi Lampung). Dibimbing oleh M.H.
BINTORO DJOEFRIE, UDIN HASANUDIN, dan AHMAD ARIF AMIN

Industri tapioka merupakan salah satu industri yang potensial mencemari


lingkungan terutama peningkatan pemanasan global sehingga memerlukan upaya
perbaikan, Upaya perbaikan yang dilakukan diharapkan akan meningkatkan
efisiensi proses sekaligus menurunkan biaya operasional.
Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan tahap proses pengolahan tapioka
yang potensial untuk penerapan produksi bersih pabrik tapioka berdasarkan
penggunaan air, energi, dan karakteristik limbah yang dihasilkan; menghasilkan
alternatif perbaikan proses produksi dan pengelolaan limbah industri tapioka yang
dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko pencemaran terhadap
lingkungan berdasarkan hasil analisis dan evaluasi nilai manfaat ekonomis dan
lingkungan; menghasilkan model proses produksi industri tapioka ramah
lingkungan berbasis produksi bersih.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip produksi bersih dapat
diterapkan pada industri tepung tapioka. Proses daur ulang penggunaan air
merupakan alternatif sebagai peningkatan efisiensi yang dapat dilakukan pada
tahapan penggunaan limbah separator untuk proses pencucian bahan baku.
Efisiensi penggunaan air produksi sebesar 923,52 m3 hasil dari daur ulang air sisa
separator sehingga akan menghemat penggunaan air bersih sebesar 27% dari total
air bersih yang digunakan sebesar 3.420,43 m3. Apabila dihitung dengan pajak
pemanfaatan air bawah tanah, maka akan menghemat biaya operasional sebesar
Rp.955.843,- per hari. Pemanfaatan air limbah sebagai sumber energi baru
terbarukan merupakan alternatif perbaikan efisiensi proses produksi tapioka.
Energi yang dihasilkan dari konversi gas metana setara sebesar 47.221,75
kWh/hari, sehingga bila dimanfaatkan untuk proses produksi industri tapioka
sangat mencukupi dari energi yang dibutuhkan sebesar 39.904,2 kWh/hari.
Kelebihan energi industri tapioka sebesar 7.317,55 kWh/hari dikonversikan ke
bahan bakar solar, maka akan setara dengan 2.195,27 liter solar/hari. Energi yang
digunakan industri tapioka untuk keperluan proses pengeringan menggunakan
oven sebesar 12.779,57 kWh bila dikonversi bahan bakar solar setara 3.833,87
liter, maka kebutuhan bahan bakar solar tersebut dapat terpenuhi 100%
seluruhnya. Biaya operasional yang dibutuhkan untuk membeli bahan bakar solar
sebesar Rp.25.303.548,- dapat dihemat dengan memanfaatkan sumber energi baru
terbarukan. Kelebihan energi setelah dikurangi konsumsi energi untuk proses
pengeringan sebesar 7.317,55 kWh setara dengan bahan bakar solar sebanyak
2.195,27 liter dapat dikonversikan menjadi nilai ekonomi sebesar Rp.
14,488,749,-. Kelebihan energi ini dapat digunakan untuk aktivitas lain di sekitar
lokasi industri seperti aktivitas kantor, perumahan dan penerangan. Selain itu,
berkurangnya gas CO2 dari hasil dekomposisi air limbah industri tapioka adalah
sebesar 4.562,84 tonCO2e. Perusahaan akan dapat memperoleh CER (Credit
Emission Reduction) dari upaya pengurangan carbon yang terlepas ke lingkungan
melalui methane capture berkisar Rp. 281.830.656,- s/d Rp. 845.491.970,-. Hasil
studi kelayakan ekonomi opsi produksi bersih industri tapioka dengan
memanfaatkan ampas/onggok sebagai pakan ternak dengan kegiatan
penggemukan sapi sebanyak 100 ekor dapat memberikan keuntungan sebesar
Rp.966.500.000,- dengan payback periode 0,74 tahun. Penggunaan kembali air
sisa proses separator untuk pencucian ubikayu memberikan nilai keuntungan
penghematan biaya sebesar Rp.24.851.923,- setiap bulannya. Pemanfaatan air
limbah sebagai salah satu sumber energi terbarukan dalam bentuk biogas dengan
sistem CIGAR memberikan manfaat yang cukup menguntungkan dengan payback
periode selama 7,3 bulan. Pemanfaatan kulit, serat ubikayu untuk pupuk organik
akan memberikan manfaat sebesar Rp.79.500.000. Industri tapioka dinilai sangat
menguntungkan apabila dapat menerapkan dengan baik perbaikan proses yang
direkomendasikan, sehingga dampak pencemaran terhadap lingkungan dapat
diminimalkan. Model proses produksi industri tapioka ramah lingkungan berbasis
produksi bersih yang dihasilkan dapat memberikan solusi skenario pemanfaatan
air limbah, pemanfaatan energi dari air limbah dan reduksi emisi gas. Limbah
padat dapat digunakan sebagai pakan ternak, pupuk organik yang secara efektif
menuju terciptanya agroindustri tapioka yang ramah lingkungan dan menurunkan
dampak efek pemanasan global.

Kata kunci: produksi bersih, proses produksi, tapioka


ABSTRACT
ERDI SUROSO. Tapioka Industry Production Process Model-Based
Environmentally Friendly Cleaner Production (Case Study in Lampung Province).
Under the direction of M.H. BINTORO DJOEFRIE, UDIN HASANUDIN, and AHMAD
ARIF AMIN.

Tapioca industry is one industry that potentially polluted the environment,


especially the increase of global warming that requires improvement efforts,
improvements made efforts expected to improve process efficiency while lowering
operational costs.
The purpose of this study is to get the tapioca processing stage for potential
application of clean production of tapioca factory based on the use of water,
energy, and characteristics of waste generated; produce alternative production
process improvement and management of industrial waste tapioca that can
increase efficiency and reduce the risk of pollution to the environment based on
analysis and evaluation of economic benefits and environmental values; produce
a process model of environmentally friendly industrial production of tapioca-
based cleaner production.
The results showed that the principle of cleaner production can be applied
to the tapioca starch industry. The process of recycling water used efficiency
improvements as an alternative that can be performed on stage separator for use
of waste raw material leaching process. Efficiency of water used for production of
923.52 m3 of recycled water from the rest of the separator so that will save fresh
water use by 27% of the total water use for 3,420.43 m3. If the tax is calculated
with the use of underground water, it will save operational cost IDR.955,843 per
day. Utilization of wastewater as a source of new renewable energy is an
alternative to tapioca production process efficiency improvements. The energy
generated from the conversion of methane equivalent of 47,221.75 kWh / day, so
when used for industrial production processes of tapioca is sufficient energy
required for 39,904.2 kWh / day. Excess energy for industrial tapioca 7,317.55
kWh / day is converted into diesel fuel, it will be the equivalent of 2,195.27 liters
of diesel / day. Energy used tapioca industry for the drying process using an oven
at 12,779.57 kWh when converted diesel fuel equivalent of 3,833.87 liters, then
the diesel fuel requirements can be fulfilled 100% full. Operational costs required
to purchase diesel fuel for IDR5.303.548, - can be saved by making use of new
renewable energy sources. Excess energy net energy consumption for the drying
process of 7317.55 kWh equivalent to diesel fuel as much as 2195.27 liters could
be converted into economic value of IDR. 14,488,749, -. Excess energy can be
used for other activities around the location of industries such as office activities,
housing and lighting. In addition, the reduction of CO 2 gases from the
decomposition of the waste water industry amounted to 4,562.84 tonCO2e
tapioca. The company will be able to obtain CERs (Credit Emission Reduction) of
reduction carbon released into the environment through methane capture ranges
from IDR. 281,830,656 - 845,491,970. The results of the economic feasibility
study of industrial cleaner production options by utilizing tapioca pulp / onggok
as fodder to cattle fattening activities as much as 100 individuals may provide a
gain of IDR.966,500,000 with a payback period of 0.74 years. Reusing water
separator for the rest of the process of washing the cassava value IDR.24,851,923
advantage of cost savings per month. Utilization of wastewater as a source of
renewable energy in the form of biogas systems provided sufficient benefit Cigar
profitable with payback period of 7.3 months. Utilization of the skin, fiber cassava
for the organic fertilizer will provide benefits for IDR.79,500,000. Tapioca
industries considered to be very profitable if it can apply to either the
recommended process improvements, so the impact of pollution on the
environment can be minimized. Tapioca production process model of
environmentally friendly industrial based on production cleaner that can provide
solutions resulting waste water utilization scenarios, energy utilization of waste
water and reduction of gas emissions. Solid waste can be used as animal feed,
organic fertilizer which effectively towards the creation of environmentally
friendly agroindustry tapioca and reduce the impact of global warming effects.

Keywords: cleaner production, production process, tapioka industry


RINGKASAN DISERTASI

ERDI SUROSO. Model Proses Produksi Industri Tapioka Ramah Lingkungan


Berbasis Produksi Bersih (Studi Kasus di Provinsi Lampung). Dibimbing oleh M.H.
BINTORO DJOEFRIE, UDIN HASANUDIN, dan AHMAD ARIF AMIN.

Industri tapioka merupakan salah satu jenis industri agro (Agro-based-


industri) berbahan baku ubikayu/singkong yang banyak tersebar di Indonesia baik
skala kecil, menengah, maupun berskala besar.
Provinsi Lampung merupakan salah satu sentra produksi ubikayu di
Indonesia dengan total luas panen pada tahun 2009 mencapai 320.344 ha, tingkat
produktivitas rata-rata 24,61 ton/ha dan total produksi sebesar 7.885.116 ton.
Ubikayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu komoditas tanaman
pangan yang memiliki peranan penting dalam sistem ekonomi daerah. Produksi
ubikayu yang sangat tinggi telah mendorong berdirinya lebih dari 65 industri
tapioka di Propinsi Lampung.
Industri tapioka dalam kegiatan produksinya memiliki rendemen berkisar
20-25% b/b dari bobot ubikayu yang diolah. Industri tapioka selalu menghasilkan
limbah, baik berupa limbah padat, cair maupun gas yang sering menimbulkan bau
yang tidak dikehendaki. Limbah padat berupa kulit, ampas (onggok), dan lindur
(elot). Kandungan air yang cukup tinggi dalam limbah padat tapioka merupakan
media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme yang menyebabkan proses
pembusukan limbah padat menjadi lebih cepat dan proses pembusukan ini dapat
menimbulkan masalah bau busuk pada limbah padat tapioka. Air limbah industri
tapioka berasal dari proses pencucian bahan baku, dan ekstraksi. Limbah organik
tersebut bila dibuang langsung ke perairan umum akan menimbulkan perubahan
warna air menjadi kehitaman, penurunan kadar oksigen dalam air dan me-
nimbulkan bau busuk. Air limbah yang dihasilkan industri tapioka sekitar 4-7
m3/ton ubikayu yang diolah dengan konsentrasi bahan organik yang sangat tinggi.
Sistem pengolahan air limbah tapioka saat ini banyak menggunakan kolam-kolam
anaerobik yang memanfaatkan mikroba untuk menguraikan bahan-bahan organik
dalam air limbah tersebut. Sistem kolam anaerobik selain memerlukan waktu
tinggal yang lama, juga dinilai kurang ekonomis karena memerlukan areal
pengolahan air limbah yang cukup luas dan tidak menghasilkan sesuatu yang ber-
nilai ekonomi. Penerapan sistem kolam anaerobik dalam pengolahan air limbah
tapioka akan menghasilkan gas berupa metana (CH4). Gas metana merupakan gas
rumah kaca yang memberikan kontribusi terhadap pemanasan global. Selain
bersifat merusak lingkungan, gas metana dikenal umum berpotensi sebagai bahan
3
bakar alternatif dengan nilai kalor 35,9 MJ/m CH4. Hal ini ditunjukkan dengan
telah dimanfaatkannya gas metana sebagai bahan bakar alternatif antara lain dari
pengolahan kotoran ternak, baik sapi maupun babi. Pemanfaatan gas metana yang
dihasilkan dari air limbah agroindustri sebagai sumber energi alternatif belum
banyak dikaji. Pemanfaatan gas metana yang terbentuk pada kolam anaerobik
IPAL agroindustri tapioka akan memberikan manfaat yaitu menurunnya nilai
COD air limbah sehingga dapat memenuhi baku mutu lingkungan, tersedianya
energi alternatif, dan sekaligus berperan dalam mencegah pemanasan global
dengan tidak terlepasnya gas metana ke udara.
Obyek penelitian ini adalah pabrik tapioka yang mengolah ubikayu menjadi
tapioka. Penelitian difokuskan pada proses pengolahan ubikayu menjadi tapioka
yang potensial untuk penerapan konsep produksi bersih dengan beberapa kriteria
penilaian antara lain identifikasi sumber penghasil limbah, efisiensi penggunaan
sumberdaya energi, daur ulang limbah dan pemanfaatan air limbah.
Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan tahap proses pengolahan tapioka
yang potensial untuk penerapan produksi bersih pabrik tapioka berdasarkan peng-
gunaan air, energi, dan karakteristik limbah yang dihasilkan; menghasilkan
alternatif perbaikan proses produksi dan pengelolaan limbah industri tapioka yang
dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko pencemaran terhadap
lingkungan berdasarkan hasil analisis dan evaluasi nilai manfaat ekonomis dan
lingkungan; menghasilkan model proses produksi industri tapioka ramah
lingkungan berbasis produksi bersih.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip produksi bersih dapat
diterapkan pada industri tepung tapioka. Proses daur ulang penggunaan air
merupakan alternatif sebagai peningkatan efisiensi yang dapat dilakukan pada
tahapan penggunaan limbah separator untuk proses pencucian bahan baku.
Efisiensi penggunaan air produksi sebesar 923,52 m3 hasil dari daur ulang air sisa
separator sehingga akan menghemat penggunaan air bersih sebesar 27% dari total
air bersih yang digunakan sebesar 3.420,43 m 3. Apabila dihitung dengan pajak
pemanfaatan air bawah tanah, maka akan menghemat biaya operasional sebesar
Rp.955.843,- per hari. Pemanfaatan air limbah sebagai sumber energi baru
terbarukan merupakan alternatif perbaikan efisiensi proses produksi tapioka.
Energi yang dihasilkan dari konversi gas metana setara sebesar 47.221,75
kWh/hari, sehingga bila dimanfaatkan untuk proses produksi industri tapioka
sangat mencukupi dari energi yang dibutuhkan sebesar 39.904,2 kWh/hari.
Kelebihan energi industri tapioka sebesar 7.317,55 kWh/hari dikonversikan ke
bahan bakar solar, maka akan setara dengan 2.195,27 liter solar/hari. Energi yang
digunakan industri tapioka untuk keperluan proses pengeringan menggunakan
oven sebesar 12.779,57 kWh bila dikonversi bahan bakar solar setara 3.833,87
liter, maka kebutuhan bahan bakar solar tersebut dapat terpenuhi 100%
seluruhnya. Biaya operasional yang dibutuhkan untuk membeli bahan bakar solar
sebesar Rp.25.303.548,- dapat dihemat dengan memanfaatkan sumber energi baru
terbarukan. Kelebihan energi setelah dikurangi konsumsi energi untuk proses
pengeringan sebesar 7.317,55 kWh setara dengan bahan bakar solar sebanyak
2.195,27 liter dapat dikonversikan menjadi nilai ekonomi sebesar Rp.
14,488,749,-. Kelebihan energi ini dapat digunakan untuk aktivitas lain di sekitar
lokasi industri seperti aktivitas kantor, perumahan dan penerangan. Selain itu,
berkurangnya gas CO2 dari hasil dekomposisi air limbah industri tapioka adalah
sebesar 4.562,84 tonCO2e. Perusahaan akan dapat memperoleh CER (Credit
Emission Reduction) dari upaya pengurangan carbon yang terlepas ke lingkungan
melalui methane capture berkisar Rp. 281.830.656,- s/d Rp. 845.491.970,-. Hasil
studi kelayakan ekonomi opsi produksi bersih industri tapioka dengan
memanfaatkan ampas/onggok sebagai pakan ternak dengan kegiatan
penggemukan sapi sebanyak 100 ekor dapat memberikan keuntungan sebesar
Rp.966.500.000,- dengan payback periode 0,74 tahun. Penggunaan kembali air
sisa proses separator untuk pencucian ubikayu memberikan nilai keuntungan
penghematan biaya sebesar Rp.24.851.923,- setiap bulannya. Pemanfaatan air
limbah sebagai salah satu sumber energi terbarukan dalam bentuk biogas dengan
sistem CIGAR memberikan manfaat yang cukup menguntungkan dengan payback
periode selama 7,3 bulan. Pemanfaatan kulit, serat ubikayu untuk pupuk organik
akan memberikan manfaat sebesar Rp.79.500.000. Industri tapioka dinilai sangat
menguntungkan apabila dapat menerapkan dengan baik perbaikan proses yang
direkomendasikan, sehingga dampak pencemaran terhadap lingkungan dapat
diminimalkan. Model proses produksi industri tapioka ramah lingkungan berbasis
produksi bersih yang dihasilkan dapat memberikan solusi skenario pemanfaatan
air limbah, pemanfaatan energi dari air limbah dan reduksi emisi gas. Limbah
padat dapat digunakan sebagai pakan ternak, pupuk organik yang secara efektif
menuju terciptanya agroindustri tapioka yang ramah lingkungan dan menurunkan
dampak efek pemanasan global.

Kata Kunci: Produksi bersih, proses produksi, industri tapioka


© Hak cipta milik IPB, tahun 2011
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencantumkan atau menyebutkan sumber.
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian,
penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah.
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh
karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB
MODEL PROSES PRODUKSI INDUSTRI TAPIOKA RAMAH
LINGKUNGAN BERBASIS PRODUKSI BERSIH
(Studi Kasus di Provinsi Lampung)

ERDI SUROSO

Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor
Pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
Penguji Luar Komisi
Ujian Tertutup : Prof. Dr. Ir. Suprihatin, Dipl.Eng.
Dr. Ir. Mohammad Yani, M.Eng.
Tanggal : 21 Maret 2011

Penguji Luar Komisi


Ujian Terbuka : Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S.
Dr. Ir. Muhammad Romli, M.Sc.St.
Tanggal : 07 Juni 2011
“Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada Kemudahan”
(Q.S. Al-Insyirah 94:6)

Kupersembahkan karya ini


Untuk doa, dukungan dan kesetiaan yang tulus dan tak berujung dari:
Papa (alm.) dan Ibu –“ the most”,
Sylvia – “the beloved wife”,
Sidiq, Nadia, dan Syafiq – “the precious gifts”,
Papi,
Keluarga Besar,
Kerabat dan para sahabat – “the truly friends”

Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjaga engkau dan engkau
menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) sedangkan harta terhukum.
Kalau harta itu akan berkurang apabila dibelanjakan, tetapi ilmu akan
bertambah apabila dibelanjakan.(Sayyidina Ali bin Abi Thalib)
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas karunia dan
rahmat-Nya sehingga penyusunan disertasi yang menjadi tugas dan tanggung
jawab penulis telah dapat diselesaikan. Disertasi ini berjudul Model Proses
Produksi Industri Tapioka Ramah Lingkungan Berbasis Produksi Bersih (Studi
Kasus di Provinsi Lampung) merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kinerja
proses produksi dan lingkungan dari industri tapioka yang pada saat ini belum
dapat dikatakan baik.
Disertasi ini dapat terselesaikan berkat bimbingan, arahan, dan masukan
yang tak kenal lelah dan penuh kesabaran dari komisi pembimbing yang diketuai
oleh Prof. Dr. Ir. M.H. Bintoro Djoefrie, M.Agr. dengan anggota Dr.Eng. Ir. Udin
Hasanudin, M.T., Dr. drh. Ahmad Arif Amin, untuk itu penulis ucapkan banyak
terima kasih. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Ir.
Muchammad Sri Saeni, M.S. (almarhum) sebagai ketua komisi pembimbing
pertama atas bimbingan, arahan dan masukan semasa beliau masih hidup hingga
akhir hayatnya. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Suprihatin,
Dipl. Eng. dan Dr. Ir. Mohammad Yani, M.Eng. selaku penguji luar komisi pada
saat ujian tertutup. Selain itu, Penulis mengucapkan terimakasih kepada Prof. Dr.
Ir. Sugeng P. Harianto, M.S. dan Dr. Ir. Muhammad Romli, M.Sc.St. selaku
penguji luar komisi pada saat ujian terbuka. Penulis tetap mengharapkan
kesediaan para pembimbing dan penguji untuk memberikan kesempatan bertukar
pikiran di masa mendatang.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi penulis ucapkan kepada
Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr. selaku Dekan Sekolah Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti
program pascasarjana pada tingkat Doktor (S3).
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi penulis ucapkan kepada
Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, M.S. selaku Ketua Program Studi Pengelolaan
Sumberdaya Alam dan Lingkungan SPS-IPB dan para staf pengajar PS PSL atas
kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti program pascasarjana
pada tingkat Doktor serta menambah ilmu/wawasan di bidang lingkungan.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi penulis ucapkan kepada
Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S. selaku Rektor Universitas Lampung dan
seluruh civitas akademika Universitas Lampung yang telah memberikan ijin dan
kesempatan penulis mengikuti program pascasarjana Doktor (S3).
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi penulis ucapkan kepada
Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., Prof. Dr. Ir. KES Manik, M.S., Prof. Dr.
John Hendri, M.S. yang telah bersedia memberikan rekomendasi kepada penulis
untuk melanjutkan studi program pascasarjana Doktor (S3).di Institut Pertanian
Bogor.
Kepada Bapak Suryadi, Bapak Abi, Bapak Supardi, Bapak Gigik, Bapak
Julius, Bapak Supar serta para pemilik industri tapioka di Provinsi Lampung yang
telah bersedia meluangkan waktu, berbagi ilmu dan informasi, serta masukan
yang berharga, penulis sampaikan terima kasih dan besar harapan bahwa
penelitian dapat memberikan sesuatu yang berguna walaupun masih sangat
sederhana.
Penulis mengucapkan terimakasih atas kebaikan dari para sahabat
khususnya Prof. Dr. John Hendri, M.S., Prof. Dr. Wan Abbas Zakaria, M.S., Prof.
Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.S., Dr. Ir. Suharyono AS, M.S., Ir. Slamet Budi
Yuwono, M.S., Dr. Ir. Tanto Pratondo Utomo, M.S., Drs. Buchori Asyik, M.S., Ir.
Setyo Widagdo, M.Si., Dr. Ir. Sumaryo, M.Si., Dr. Hartoyo, M.Si., Dr. Toto
Gunarto, M.S., Dr. M. Thoha B.S Jaya, M.S., Ir. Abdullah Aman Damai, M.Si.,
Dr. Rustam Abdul Rauf, M.S., Dr. Muh. Sarkowi, Ir. Prima Yudha, M.T.A., Drs.
Teguh Budi Raharjo,M.S., Ir. Efri, M.S., Dr. Ir. Murhadi, M.S., Dr. Muchammad
Yusron, M.Phil., Partomo, Asnil, Muhammad Wijaya beserta mahasiswa S 3
angkatan 2005 PS PSL SPS-IPB, rekan-rekan bimbingan disertasi/tesis/skripsi
Prof. Dr. Ir. H.M.H. Bintoro Djoefrie, M.Agr., rekan-rekan jurusan THP FP-Unila,
rekan-rekan Wisma Beldes, Hi. Uking sekeluarga, mas Joko Sugiyono serta para
mahasiswa Unila, atas segala bantuan baik moril maupun material.
Terima kasih tak lupa penulis ucapkan kepada Prof. Koichi Fujie, Mr.
Inokawa dan Mr. Kajitani atas kesempatan bergabung sebagai anggota peneliti
dalam riset kerjasama Universitas Lampung-JFE Techno Research, Japan serta
kesempatan untuk menimba ilmu dalam bidang agroindustri.
Kepada Tim Asisten Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Agro-
industri, Kementerian Lingkungan Hidup RI, penulis mengucapkan terima kasih
atas kesempatan bergabung sebagai anggota tim dalam menyusun buku Pedoman
Pengelolaan Limbah Industri Pengolahan Tapioka tahun 2009 dan Penerapan
Pedoman Pengelolaan Limbah Agroindustri Tapioka tahun 2010.
Atas segala pengorbanan, dukungan, dan ketulusan serta doa yang tak putus
terutama selama penulis mengikuti program S3 dari Ibunda Hj. Endang Suprapti,
bapak mertua H. Arifin Winatapradja, istriku tercinta Hj. Sylvia Putrandari W,
anak-anakku Sidiq, Nadia dan Syafiq, mas Hari Prasetyo dan mbak Mala, kak
Wayan Suwindra, kak Mufti Sapano, mas Vedi dan Shanti, Trisna dan Rini, mas
Adriatma dan mbak Mevia serta seluruh keluarga besarku, penulis ucapkan terima
kasih yang tak terhingga. Penulis juga memanjatkan doa kepada papa H. Mas’ud
Yusuf (alm.) dan ibu mertua Hj. Iken Srisularsikin (alm.) yang tidak sempat
mendampingi penulis hingga disertasi ini terselesaikan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak lain yang turut
mendukung dan membantu penulis selama ini sekaligus permohonan maaf karena
tidak dapat menyebutkan satu per satu. Semoga disertasi ini bermanfaat.

Bogor, Juni 2011

Erdi Suroso
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kota Metro, Provinsi Lampung pada tanggal 6


Oktober 1972, sebagai anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Drs. Hi.
Mas’ud Yusuf, M.Pd. (almarhum) dan Dra. Hj. Endang Suprapti.
Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SD Sejahtera I,
Kedaton, Bandar Lampung pada tahun 1985; Sekolah Menengah Pertama dari
SMP Xaverius Tanjungkarang, Bandarlampung pada tahun 1988; Sekolah
Menengah Atas dari SMA Xaverius Pahoman, Bandarlampung pada tahun 1991.
Penulis melanjutkan pendidikan Sarjana (S1) di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian,
Fakultas Pertanian, Universitas Lampung (UNILA) dan lulus pada tahun 1996.
Pada tahun 1998, penulis bergabung sebagai staf pengajar di Jurusan Teknologi
Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung (UNILA).
Pada tahun 2000 dengan beasiswa dari Dirjen Dikti melalui BPPS, penulis
melanjutkan pendidikan pascasarjana (S2) pada Program Pascasarjana Magister
Teknologi Agroindustri – Universitas Lampung dan lulus pada tahun 2004.
Selanjut-nya pada tahun 2005 dengan beasiswa BPPS pula, penulis melanjutkan
pendidikan program Doktor S3 pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya
Alam dan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana - Institut Pertanian Bogor (SPs IPB).
Penulis menikah dengan Hj. Sylvia Putrandari, S.T.P. dan telah dikaruniai 3
orang anak yaitu Sidiq Nurrachman, Nadia Fakhirah Nurramdhani dan
Muhammad Nur Syafiq.
Selama mengikuti pendidikan pada program S3 penulis berkesempatan
mengikuti satu seminar internasional, yaitu International Wastewater Association
(IWA) Congress di Bangkok tahun 2006. Selain itu, penulis pada tahun 2007
berkesempatan mengikuti kursus singkat Teknologi Tepat Guna Limbah Cair
yang berlangsung di Pusteklim Yogyakarta.
Sebagian dari disertasi ini telah dipublikasikan pada Majalah Ilmiah
Teknologi Agroindustri edisi Juni 2011 Volume 2 No. 1 yang diterbitkan oleh
Balai Riset dan Standarisasi Industri Bandar Lampung (ISSN: 2085 - 6067)
dengan judul Kajian Evaluasi Proses Produksi Industri Tapioka Berbasis Produksi
Bersih (Studi Kasus di Provinsi Lampung) dan Jurnal Agroland Universitas
Tadulako edisi April 2011 Volume 18 No. 1 (ISSN: 0854-641X) dengan judul
Pemanfaatan Air Limbah Industri Tapioka Sebagai Penghasil Gas Metana Dalam
Upaya Pelestarian Lingkungan.
i

DAFTAR ISI
Halaman

DAFTAR ISI .................................................................................................... i


DAFTAR TABEL ............................................................................................ ii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... v
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... x
PENDAHULUAN............................................................................................ 1
Latar Belakang ........................................................................................ 1
Kerangka Pemikiran. .............................................................................. 2
Perumusan Masalah ................................................................................ 4
Tujuan Penelitian .................................................................................... 6
Manfaat Penelitian .................................................................................. 6
Novelty (Kebaruan) ................................................................................ 7
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................... 8
Konsep Dasar Produksi Bersih ............................................................... 8
Peluang dan Tantangan Penerapan Produksi Bersih .............................. 9
Strategi Penerapan Produksi Bersih ....................................................... 14
Penerapan Produksi Bersih ..................................................................... 16
Industri Tapioka ...................................................................................... 19
Limbah Industri Tapioka ........................................................................ 22
Biogas Sebagai Sumber Energi Alternatif .............................................. 27
METODE PENELITIAN ................................................................................. 29
Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................. 29
Pelaksanaan Penelitian............................................................................ 29
Tahapan Penelitian.................................................................................. 30
Kajian Produksi Bersih Industri Tapioka ............................................... 33
Neraca Massa dan Neraca Energi ........................................................... 34
Evaluasi Ekonomis Pilihan Produksi Bersih .......................................... 35
Parameter Mutu Lingkungan Air Limbah Industri Tapioka ................... 37
Metode Pengukuran Biogas di Kolam Air Limbah ................................ 40
Nilai Tambah Pengelolaan Limbah terhadap Lingkungan ..................... 40
HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................ 42
Profil Tanaman Ubikayu Ubikayu di Indonesia ..................................... 42
Potensi Tanaman Ubikayu di Provinsi Lampung ................................... 43
Struktur Industri Tapioka di Provinsi Lampung ..................................... 46
Pengelolaan Limbah Industri Tapioka .................................................... 63
Sistem Penanganan Limbah .................................................................... 72
Studi Kelayakan Opsi Produksi Bersih Industri Tapioka ....................... 86
Model Proses Produksi Industri Tapioka Ramah Lingkungan ............... 90
KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................ 92
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 94
LAMPIRAN ..................................................................................................... 100
ii

DAFTAR TABEL

Tabel : Teks Halaman


1. Upaya-upaya yang dapat diterapkan pada produksi bersih ...................... 18
2. Komposisi kimia kulit ubikayu ................................................................ 23
3. Komposisi kimia onggok .......................................................................... 23
4. Baku mutu air limbah industri tapioka ..................................................... 27
5. Konversi energi biogas ............................................................................. 28
6. Komposisi biogas ..................................................................................... 28
7. Data yang dibutuhkan pada kajian produksi bersih tingkat pabrik
tapioka ...................................................................................................... 33
8. Perbandingan rata-rata angka BOD5/COD untuk beberapa jenis air........ 39
9. Karakteristik industri tapioka yang dipilih sebagai lokasi penelitian ....... 48
10. Kadar pati varietas ubikayu di wilayah studi ........................................... 58
11. Karakteristik kualitas air limbah dari separator dan cucian ..................... 65
12. Karakteristik air limbah yang dihasilkan dari industri tapioka................. 67
13. Karakteristik air limbah di kolam anaerobik I, II, III, IV ......................... 68
14. Karakteristik biogas beberapa industri tapioka ........................................ 72
15. Komposisi pupuk organik dari kulit ubikayu ........................................... 79
16. Perhitungan asumsi energi listrik yang dihasilkan dari biogas ................ 83
17. Studi kelayakan opsi produksi bersih pada industri tapioka .................... 87
18. Penentuan skala prioritas opsi produksi bersih ........................................ 88
19. perhitungan studi kelayakan ekonomi opsi produksi bersih industri
tapioka ...................................................................................................... 89
iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar : Teks Halaman


1. Kerangka pemikiran penelitian .............................................................. 3
2. Perumusan masalah.................................................................................. 5
3. Teknik-teknik produksi bersih ................................................................. 17
4. Skema proses pengolahan tapioka di industri kecil ................................. 20
5. Skema proses pengolahan tapioka di industri skala besar ....................... 21
6. Lokasi pengambilan sampel di Provinsi Lampung .................................. 29
7. Diagram alir tata laksana penelitian......................................................... 30
8. Metodologi kajian produksi bersih .......................................................... 31
9. Lima Jenis Penyebab Dihasilkannya Limbah .......................................... 32
10. Jenis-jenis pilihan perbaikan dengan pendekatan produksi bersih .......... 32
11. Neraca material dan komponen-komponennya ....................................... 32
12. Peralatan penangkap gas (a) dan gas meter (b) yang digunakan untuk
pengukuran biogas pada IPAL industri tapioka ....................................... 40
13. Pohon industri ubikayu ............................................................................ 44
14. Perkembangan harga ubikayu di Provinsi Lampung ............................... 45
15. Proses pengupasan ubikayu ..................................................................... 49
16. Proses pencucian ubikayu ........................................................................ 49
17. Proses pemarutan ubikayu ....................................................................... 49
18. Pengayakan parutan pati ubikayu ............................................................ 50
19. Air aci dialirkan pada bak pengendapan .................................................. 50
20. Proses pengendapan aci ubikayu ............................................................. 51
21. Tapioka basah yang siap untuk dijemur .................................................. 51
22. Penjemuran tapioka basah ....................................................................... 51
23. Neraca massa dan air industri tapika A ................................................... 52
24. Kondisi eksisting industri tapioka A........................................................ 53
25. IPAL industri tapioka A setelah ditutup dengan plastik HDPE............... 54
26. Kondisi eksisting industri tapioka skala besar ......................................... 56
27. Proses pengangkutan bahan baku ubikayu .............................................. 57
28. Proses penentuan kualitas dan pengukuran kadar pati ubikayu ............... 57
29. Neraca massa dan air proses pengupasan dan pencucuian ubikayu ........ 59
30. Neraca massa dan air proses pencacahan dan pemarutan ubikayu .......... 60
31. Neraca massa dan air proses ekstraksi bubur ubikayu ............................. 61
32. Neraca massa dan air proses dewatering susu pati ubikayu .................... 61
33. Neraca massa dan air proses sentifuse susu pati ...................................... 62
34. Neraca massa dan air proses pengeringan dan pengemasan tapioka ....... 62
35. Diagram alir proses produksi industri tapioka D ..................................... 63
36. Jenis air limbah proses produksi tapioka ................................................. 64
37. Lay out pengolahan air limbah industri tapioka ...................................... 67
38. Lokasi pengambilan sampling gas pada kolam air limbah industri
tapioka...................................................................................................... 69
39. Jenis limbah padat pengolahan tapioka ................................................... 71
40. Air limbah yang menghasilkan gas CO2 dan CH4 ................................... 72
41. Kondisi sistem penanganan limbah padat industri tapioka ...................... 73
42. Pemanfaatan dan penghematan air dari proses separator ........................ 78
43. Pupuk organik setelah proses dekomposisi selama 30 hari ..................... 80
iv

Gambar : Teks Halaman


44. Kegiatan peternakan dan penggemukan sapi di salah satu industri tapioka ....... 80
45. Pakan meniran yang sudah dipisahkan dengan tanah ........................................ 81
46. Neraca energi industri tapioka ........................................................................... 83
47. Model proses produksi tapioka ramah lingkungan ............................................ 91
v

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran : Teks Halaman


1. Sebaran tanaman ubikayu di Indonesia ................................................... 101
2. Luas panen, produksi, dan produktivitas ubikayu di Indonesia ............... 102
3. Luas panen tanaman ubikayu (ha) di 10 provinsi di Indonesia tahun
2005-2009 ................................................................................................ 102
4. Produksi ubikayu (ton) di 10 provinsi di Indonesia tahun 2005-2009 .... 102
5. Produktivitas ubikayu (kuintal/ha) di 10 provinsi di Indonesia tahun
2005-2009 ................................................................................................ 103
6. Perkembangan luas panen, produksi, dan produktivitas ubikayu di
Propinsi Lampung tahun 2004-2008. ...................................................... 103
7. Karakteristik beberapa varietas unggul ubikayu...................................... 104
8. Daftar perusahaan industri tapioka di Provinsi Lampung .................................. 106
9. Evaluasi proses produksi industri tapioka ......................................................... 108
10. Estimasi biaya instalasi biogas industri tapioka ................................................ 110
11. Perhitungan reduksi CO2 ................................................................................... 111
12. IPCC Guidelines for national greenhouse gas inventories ................................. 112
13. Wawancara dengan petugas quality control dalam tahapan proses produksi
tapioka .............................................................................................................. 113
14. Wawancara dengan salah satu manager pabrik mengenai penentuan kadar
pati dalam ubikayu ............................................................................................ 113
15. Pengambilan sampel air limbah dari separator .................................................. 114
16. Air limbah yang berasal dari pencucian ubikayu............................................... 114
17. Pengambilan air limbah di IPAL industri tapioka ............................................. 115
18. Pengukuran di lokasi (temperatur, pH dan DO) bersama Dr. Ir. Udin
Hasanudin, M.T. ............................................................................................... 115
19. Kunjungan Prof. Dr. Ir. H.M.H. Bintoro, M.Agr. ke lokasi salah satu industri
tapioka .............................................................................................................. 116
20. Limbah padat yang cukup melimpah masuk ke kolam penampungan air
limbah ............................................................................................................... 116
21. Limbah onggok yang dihasilkan dari proses produksi industri tapioka ............. 117
22. Salah satu IPAL industri tapioka ....................................................................... 117
23. Salah satu outlet IPAL akhir industri tapioka .................................................... 118
24. Spektrofotometer HACH 4000C untuk mengukur COD ................................... 118
25. Digestion reaktor DRB 200 untuk pemanasan COD ......................................... 119
26. Inkubator dan furnace untuk analisa TS dan VTS ............................................. 119
27. Desikator dan timbangan analitik 4 digit ........................................................... 119
28. Gas chromatography dan seperangkat PC untuk analisa konsentrasi biogas ..... 120
29. Reagen COD yang telah diisi sampel air limbah ............................................... 120
30. Hasil biogas yang dimanfaatkan untuk memasak .............................................. 121
31. Generator biogas dengan kapasitas 3.2 MW ..................................................... 121
1

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Industri tapioka merupakan salah satu jenis industri agro (Agro-based-


industri) berbahan baku ubikayu/singkong yang banyak tersebar di Indonesia baik
skala kecil, skala menengah, maupun skala besar.
Provinsi Lampung merupakan salah satu produsen ubikayu di Indonesia
dengan total luas panen pada tahun 2009 seluas 320.344 ha, tingkat produktivitas
rata-rata sebesar 24,61 ton/ha dan total produksi sebesar 7.885.116 ton (BPS,
2010). Ubikayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu komoditas
tanaman pangan yang memiliki peranan penting dalam sistem ekonomi daerah
(Direktorat Jenderal PPHP, 2006).
Produksi ubikayu yang sangat tinggi telah mendorong berdirinya lebih dari
65 industri tapioka di Propinsi Lampung. Industri tapioka dalam kegiatan
produksinya memiliki rendemen berkisar 20-25% b/b dari bobot ubikayu yang
diolah. Industri tapioka selalu menghasilkan limbah, baik berupa limbah padat,
cair maupun gas yang sering menimbulkan bau yang tidak dikehendaki. Ketiga
jenis limbah ini memiliki karakteristik dan beban pencemaran yang berbeda.
Limbah padat berupa kulit, ampas (onggok), dan lindur (elot). Kandungan
air yang cukup tinggi dalam limbah padat tapioka merupakan media yang baik
untuk pertumbuhan mikroorganisme yang menyebabkan proses pembusukan
limbah padat menjadi lebih cepat dan proses pembusukan ini dapat menimbulkan
masalah bau busuk pada limbah padat tapioka.
Air limbah industri tapioka berasal dari proses pencucian bahan baku
(ubikayu), dan ekstraksi. Limbah organik tersebut bila dibuang langsung ke
perairan umum akan menimbulkan perubahan warna air menjadi kehitaman,
penurunan kadar oksigen dalam air dan menimbulkan bau busuk. Air limbah
yang dihasilkan industri tapioka sekitar 4-7 m3/ton ubikayu yang diolah dengan
konsentrasi bahan organik yang sangat tinggi.
Sistem pengolahan air limbah tapioka saat ini banyak menggunakan kolam-
kolam anaerobik yang memanfaatkan mikroba untuk menguraikan bahan-bahan
organik dalam air limbah tersebut. Sistem kolam anaerobik selain memerlukan
2

waktu tinggal yang lama, juga dinilai kurang ekonomis karena memerlukan areal
pengolahan air limbah yang cukup luas dan tidak menghasilkan sesuatu yang ber-
nilai ekonomi. Penerapan sistem kolam anaerobik dalam pengolahan air limbah
tapioka akan menghasilkan gas berupa metana (CH4). Gas metana merupakan gas
rumah kaca yang memberikan kontribusi terhadap pemanasan global (Rhode,
1990). Gas metana akan menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang
yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di
permukaan bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan
panas bumi meningkat.
Adanya pencemaran udara, yang berupa bau tidak sedap di dekat lokasi
industri tapioka, banyak disebabkan oleh membusuknya limbah padat maupun air
limbah yang tidak dikelola dengan cepat dan tepat, sehingga terjadi pembusukan
yang tidak dikehendaki (Balitbang Industri, 2007). Untuk itu sangatlah perlu
kiranya dikembangkan metode pengelolaan limbah yang lebih baik dan ramah
lingkungan sehingga akan memberikan nilai ekonomis yang lebih besar.
Tindakan pengelolaan lingkungan dalam sistem pengelolaan lingkungan
(environment protection agency) diprioritaskan pada usaha pengurangan limbah
pada sumbernya. Pendekatan tersebut memunculkan konsep produksi bersih.
Produksi bersih merupakan suatu pendekatan yang mengarah kepada peningkatan
efisiensi proses produksi, penggunaan teknik-teknik daur ulang dan pakai ulang,
kemungkinan substitusi bahan baku dengan yang lebih ekonomis dan tidak ber-
bahaya serta perbaikan sistem operasi dan prosedur kerja. Upaya-upaya yang di-
lakukan pada penerapan produksi bersih, mulai dari yang sederhana sampai
dengan yang kompleks, yaitu good housekeeping, optimasi proses, substitusi
bahan baku, teknologi baru, dan desain produk baru.

Kerangka Pemikiran
Kegiatan industri tapioka yang ada saat ini sering menimbulkan masalah
lingkungan sehingga sudah selayaknya diperhatikan dan dikendalikan. Jika tidak
ditangani secara serius, maka limbah industri tapioka yang terdiri atas limbah
padat, cair dan gas, berpotensi besar mencemari lingkungan.
3

Upaya-upaya nyata sebagai pelaksanaan prinsip pengembangan industri


yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan harus menjadi perhatian khusus
dalam melakukan kegiatan industri. Pengendalian tersebut sudah harus dimulai
dari tahap pemilihan bahan baku hingga akhir proses produksi. Sehubungan
dengan itu, dibutuhkan informasi pemilihan bahan baku yang bersih dari bahan
pencemar, teknologi proses yang bersih dan mampu menghasilkan limbah yang
sedikit, efisiensi proses yang tinggi, serta didukung teknologi daur ulang dan
penanganan limbah yang baik. Hal tersebut merupakan salah satu butir konsep
cleaner production/produksi bersih. Produksi bersih merupakan konsep strategi
pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu yang diterapkan
secara terus-menerus pada proses produksi, produk dan jasa untuk meminimalkan
terjadinya resiko terhadap manusia dan lingkungan (UNEP, 2003).

Ubikayu

Proses Pengolahan
Pabrik Tapioka
Masukan:
 Air yg diperlukan?
Global Warming?  Energi yg diperlukan
Pencemaran?

Efisiensi
Limbah Tapioka

Meminimalisasi

Produksi bersih
Kajian yg dilakukan  QuickScan
 Profound Analysis
 Sintesis

Gambar 1. Kerangka pemikiran penelitian

Upaya pokok dari penerapan konsep produksi bersih adalah upaya men-
cegah, mengurangi, dan mengeliminasi limbah yang dihasilkan dengan cara sebagai
berikut: (1) menghitung penggunaan bahan-bahan kimia dan bahan-bahan lainnya
serta jumlah limbah yang dihasilkan; (2) mengidentifikasi penyebab dihasilkannya
limbah; (3) mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan upaya untuk mengurangi
limbah; (4) mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan yang layak; dan (5) meng-
implementasikan kemungkinan terbaik dari penerapan produksi bersih. Keluaran
4

yang diharapkan dari implementasi produksi bersih adalah terjadinya peningkatan


efisiensi, kinerja lingkungan, dan keunggulan kompetitif. Kerangka pemikiran
penelitian ini disajikan pada Gambar 1.

Perumusan Masalah

Tapioka yang dihasilkan dari proses produksi ubikayu memiliki rendemen


berkisar 20-25% b/b dari bobot ubikayu yang diolah. Selebihnya industri ini juga
menghasilkan limbah padat,air limbah dan gas.
Limbah padat yang dihasilkan berupa kotoran kulit ubikayu, ampas limbah
yang dihasilkan industri tapioka berkisar 4-7 m3/ton ubikayu yang diolah dengan
konsentrasi bahan organik yang sangat tinggi dengan nilai COD mencapai 18.000-
25.000 mg/L, sehingga perlu dilakukan penanganan serius dalam menurunkan
jumlah dan konsentrasi limbah yang dihasilkan.
Sistem pengolahan air limbah industri tapioka yang saat ini diterapkan yaitu
pengolahan limbah biologis secara anaerobik terbuka (lagoon/pond) yang dapat
menghasilkan gas karbon diokasida (CO2), metana (CH4), amoniak (NH2), hidro-
gen sulfat (H2S), dan senyawa lainnya. Sistem kolam anaerobik disamping me-
merlukan waktu tinggal yang lama, juga dinilai kurang ekonomis karena me-
merlukan areal pengolahan air limbah yang cukup luas dan tidak menghasilkan
sesuatu yang bernilai ekonomi. Gas metana merupakan gas rumah kaca yang
memberikan kontribusi terhadap pemanasan global (Rhode, 1990). Pemanasan
global (global warming) merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari
tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang
disebabkan oleh meningkatnya emisi gas seperti karbondioksida (CO 2), metana
(CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari akan terperangkap
dalam atmosfer bumi.
Gas metana (CH4) merupakan gas yang mudah terbakar (flammable gas)
sehingga merupakan salah satu sumber energi baru dan terbarukan. Pemanfaatan
gas metana sebagai sumber energi dapat mengurangi dampak pemanasan global.
Walaupun dalam pembakaran metana juga akan dihasilkan karbon dioksida, tetapi
dampak karbon dioksida terhadap pemanasan global jauh lebih kecil, yaitu hanya
21 kali lebih kecil dibandingkan dampak gas metana (Rodhe, 1990).
5

Bahan Baku
Ubikayu

INDUSTRI
TAPIOKA
TAPIOKA

Limbah Padat
(Kulit, Onggok, Elot) Air limbah
Global
Warming

CO2
Pencemaran Udara Pencemaran Air
CH4

 Preventif
 Integratif
 Berkelanjutan

PRODUKSI BERSIH

 menghitung penggunaan bahan serta limbah yang dihasilkan


 mengidentifikasi penyebab dihasilkannya limbah
 mengidentifikasi kemungkinan upaya mengurangi limbah
 mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan yang layak
 mengimplementasikan kemungkinan terbaik dari penerapan
produksi bersih dan mengkaji penerapannya

MODEL PROSES PRODUKSI INDUSTRI TAPIOKA RAMAH


LINGKUNGAN BERBASIS PRODUKSI BERSIH

Gambar 2. Perumusan Masalah

Selain bersifat merusak lingkungan, gas metana dikenal umum berpotensi


3
sebagai bahan bakar alternatif dengan nilai kalor 35,9 MJ/m CH4 (Nakamura,

2006). Hal ini ditunjukkan dengan telah dimanfaatkannya gas metana sebagai
bahan bakar alternatif antara lain dari pengolahan kotoran ternak, baik sapi mau-
pun babi. Pemanfaatan gas metana yang dihasilkan dari air limbah agroindustri
sebagai sumber energi alternatif belum banyak dikaji. Pemanfaatan gas metana
yang terbentuk pada kolam anaerobik IPAL agroindustri tapioka akan memberi-
kan manfaat yaitu menurunnya nilai COD air limbah sehingga dapat memenuhi
baku mutu lingkungan, tersedianya energi alternatif, dan sekaligus berperan dalam
mencegah pemanasan global dengan tidak terlepasnya gas metana ke udara.
Cleaner production atau produksi bersih adalah suatu strategi pengelolaan
lingkungan yang bersifat preventif, terintegrasi dan berkelanjutan untuk mencegah
6

dan/atau mengurangi terbentuknya limbah pada sumbernya. Obyek penelitian ini


adalah pabrik tapioka yang mengolah ubikayu menjadi tapioka. Penelitian di-
fokuskan pada proses pengolahan ubikayu menjadi tapioka yang potensial untuk
penerapan konsep produksi bersih dengan beberapa kriteria penilaian antara lain
identifikasi sumber penghasil limbah, efisiensi penggunaan sumberdaya energi,
daur ulang limbah dan pemanfaatan air limbah.
Selanjutnya dilakukan kajian terhadap bagian dari proses produksi ubikayu
menjadi tapioka untuk menghasilkan kemungkinan penerapan konsep produksi
bersih berdasarkan analisis dan evaluasi nilai manfaat ekonomis dan lingkungan-
nya.
Implementasi produksi bersih industri tapioka tersebut dilakukan untuk
menghasilkan suatu model proses produksi industri tapioka ramah lingkungan
berbasis produksi bersih yang efisien dalam penggunaan air dan energi, biaya
produksi, minimalisasi limbah yang dihasilkan dan kemungkinan produksi dan
pemanfaatan energi dari air limbah.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. mendapatkan tahap proses pengolahan tapioka yang potensial untuk penerap-
an produksi bersih pabrik tapioka berdasarkan penggunaan air, energi, dan
karakteristik limbah yang dihasilkan;
2. menghasilkan alternatif perbaikan proses produksi dan pengelolaan limbah
industri tapioka yang dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko
pencemaran terhadap lingkungan berdasarkan hasil analisis dan evaluasi nilai
manfaat ekonomis dan lingkungan;
3. menghasilkan model proses produksi industri tapioka ramah lingkungan
berbasis produksi bersih.

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi untuk


perbaikan proses produksi dan pengelolaan limbah industri tapioka yang ramah
lingkungan sehingga dapat menurunkan resiko pencemaran lingkungan sekaligus
meningkatkan efisiensi industri tapioka.
7

Novelty (Kebaruan)

Dalam penelitian ini novelty (kebaruan) yang dikemukakan adalah dapat


memberikan kontribusi kondisi industri tapioka yang lebih baik dan ramah
lingkungan dibandingkan kondisi industri tapioka sekarang ini dengan me-
rekomendasikan perbaikan efisiensi penggunaan air dan energi terhadap proses
produksi industri tapioka yang telah berlangsung selama ini dan memanfaatkan
potensi energi dari air limbah industri tapioka sebagai salah satu sumber energi
terbarukan sekaligus berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
8

TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Dasar Produksi Bersih

Produksi bersih merupakan salah satu sistem pengelolaan lingkungan yang


dilaksanakan secara sukarela (voluntary) sebab penerapannya bersifat tidak wajib.
Konsep produksi bersih merupakan pemikiran baru untuk lebih meningkatkan
kualitas lingkungan dengan lebih bersifat proaktif. Produksi bersih merupakan
istilah yang digunakan untuk menjelaskan pendekatan secara konseptual dan
operasional terhadap proses produksi dan jasa, dengan meminimumkan dampak
terhadap lingkungan dan manusia dari keseluruhan daur hidup produknya.
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal, 1995) mendefinisikan
Produksi bersih sebagai suatu strategi pengelolaan lingkungan yang preventif dan
diterapkan secara terus-menerus pada proses produksi, serta daur hidup produk
dan jasa untuk meningkatkan eko-efisiensi dengan tujuan mengurangi risiko
terhadap manusia dan lingkungan.
Strategi Produksi bersih mempunyai arti yang sangat luas karena di dalam-
nya termasuk upaya pencegahan pencemaran dan perusakan lingkungan melalui
pilihan jenis proses yang akrab lingkungan, minimisasi limbah, analisis daur
hidup produk, dan teknologi bersih. Pencegahan pencemaran dan perusakan
lingkungan merupakan strategi yang perlu diprioritaskan dalam upaya untuk
mewujudkan industri dan jasa yang berwawasan lingkungan, namun bukanlah
merupakan satu satunya strategi yang harus diterapkan. Strategi lain seperti
program daur ulang, pengolahan dan pembuangan limbah tetap diperlukan,
sehingga dapat saling melengkapi satu dengan lainnya (Bratasida, 1997). Strategi
untuk menghilangkan limbah atau mengurangi limbah sebelum terjadi (preventive
strategy), lebih baik daripada strategi pengolahan limbah atau pembuangan
limbah yang telah ditimbulkan (treatment strategy). Kombinasi kedua strategi
tersebut sesuai dengan skala prioritas pelaksanaan produksi bersih adalah sebagai
berikut (Overcash, 1986) :
1. Eliminasi : Strategi ini dimasukkan sebagai metode pengurangan limbah secara
total. Bila perlu tidak mengeluarkan limbah sama sekali (zero discharge).
9

2. Mengurangi sumber limbah: Strategi pengurangan limbah yang terbaik adalah


menjaga agar limbah tidak terbentuk pada tahap awal. Pencegahan limbah
mungkin memerlukan beberapa perubahan penting dalam proses produksi,
tetapi dapat meningkatkan efisiensi ekonomi yang besar dan menekan pen-
cemaran lingkungan.
3. Daur ulang: Jika timbulnya limbah tidak dapat dihindarkan dalam suatu proses,
maka harus dicari strategi untuk meminimalkan limbah tersebut sampai batas
tertinggi yang mungkin dilakukan, seperti misalnya daur ulang (recycle)
dan/atau penggunaan kembali (reuse). Jika limbah tersebut tidak dapat
dicegah atau diminimalkan melalui penggunaan kembali atau daur ulang,
maka strategi yang bersifat mengurangi volume atau kadar racunnya melalui
pengolahan limbah dapat dilakukan. Walaupun strategi ini kadang-kadang
dapat mengurangi jumlah limbah, tetapi tidak sama efektifnya dengan
mencegah limbah di tahap awal.
4. Pengolahan limbah: Strategi yang terpaksa dilakukan mengingat pada proses
perancangan produksi perusahaan belum mengantisipasi adanya teknologi
baru yang sudah bebas limbah (zerro waste). Hal ini berarti limbah memang
sudah terjadi dan ada dalam sistem produksinya, namun kualitas dan kuantitas
limbah yang ada dikendalikan agar tidak melebihi baku mutu yang telah
disyaratkan.
5. Pembuangan limbah: strategi terakhir yang perlu dipertimbangkan adalah
metode-metode pembuangan alternatif. Pembuangan limbah yang tepat
merupakan suatu komponen penting dari keseluruhan program manajemen
lingkungan, meskipun ini adalah teknik yang paling tidak efektif.
6. Remediasi: strategi penggunaan kembali bahan-bahan yang terbuang bersama
limbah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kadar racun dan kuantitas limbah
yang ada.

Peluang dan Tantangan Penerapan Produksi Bersih

Produksi bersih diperlukan sebagai cara untuk mengharmonisasikan upaya


perlindungan lingkungan dengan kegiatan pembangunan dan pertumbuhan
10

ekonomi. Menurut Djajadiningrat (2001), peluang penerapan Produksi bersih


adalah:

1. Memberi keuntungan ekonomi, karena konsep produksi bersih didalamnya


terdapat strategi pencegahan pencemaran pada sumbernya (source reduction
dan inprocess recycling) yaitu pencegahan terbentuknya limbah secara dini
sehingga dapat mengurangi biaya investasi yang harus dikeluarkan untuk
pengolahan, pembuangan limbah dan upaya perbaikan lingkungan.
2. Mencegah terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan.
3. Memelihara dan memperkuat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang
melalui konservasi sumberdaya, bahan baku dan energi.
4. Mendorong pengembangan teknologi baru yang lebih efisien dan akrab
lingkungan
5. Mendukung prinsip ‘environmental equity’ dalam rangka pembangunan ber-
kelanjutan.
6. Mencegah atau memperlambat terjadinya proses degradasi lingkungan dan
pemanfaatan sumberdaya alam.
7. Memelihara ekosistem lingkungan.
8. Memperkuat daya saing produk di pasar internasional.

Tantangan penerapan produksi bersih, antara lain :


1. Tercapainya efisiensi produksi yang optimal
2. Diperolehnya penghargaan masyarakat terhadap sistem produksi yang akrab
lingkungan
3. Mendapatkan insentif.

Pengembangan pelaksanaan dan penerapan produksi bersih intinya adalah


mengubah pola pikir tradisional ‘end-of-pipe’ dengan paradigma baru dalam
pengelolaan pencemaran lingkungan, yaitu penerapan produksi bersih, yang
dapat meningkatkan efisiensi produksi sehingga akan memberikan peningkat-
an keuntungan baik secara finansial, teknik maupun regulasi. Hambatan
ekonomi akan timbul bila kalangan pengusaha merasa tidak akan mendapat
keuntungan dalam penerapan produksi bersih. Sekecil apapun penerapan
11

produksi bersih, bila tidak menguntungkan bagi perusahaan maka sulit bagi
manajemen untuk membuat keputusan tentang penerapan produksi bersih.
Menurut Djajadiningrat (2001), hambatan pada aspek ekonomi dan teknis
antara lain:

1. Keperluan biaya tambahan peralatan


2. Tingginya modal/investasi yang dibutuhkan dibanding kan penerapan kontrol
pencemaran secara konvensional sekaligus penerapan produksi bersih
3. Penghematan proses produksi bersih yang belum nyata realisasinya
4. Kurangnya informasi produksi bersih
5. Sistem yang baru ada kemungkinan tidak sesuai dengan yang diharapkan,
sehingga dapat menyebabkan gangguan
6. Fasilitas produksi ada kemungkinan sudah penuh sehingga tidak ada tempat
lagi untuk tambahan peralatan.

Kendala sumberdaya manusia dalam penerapan produksi bersih dapat


berupa:
1. Kurangnya komitmen manajemen puncak
2. Adanya keengganan untuk berubah baik secara individu maupun organisasi
3. Lemahnya komunikasi internal
4. Pelaksanaan organisasi yang kaku
5. Birokrasi, terutama dalam pengumpulan data.
6. Kurangnya dokumentasi dan penyebaran informasi.
7. Kurangnya pelatihan kepada sumberdaya manusia mengenai produksi bersih.

Manfaat penerapan Produksi bersih, antara lain :


1. Lebih efektif dan efisien dalam penggunaan sumberdaya alam.
2. Mengurangi biaya-biaya yang berkenaan dengan lingkungan
3. Mengurangi atau mencegah terbentuknya pencemar
4. Mencegah berpindahnya pencemar dari satu media ke media lain
5. Mengurangi risiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan
6. Memberikan peluang untuk mencapai sistem manajemen lingkungan pada
ISO 14000
12

7. Memberikan keunggulan daya saing pada tingkat pasar domestik dan


internasional.

Saat ini terdapat dua mekanisme yang mendorong terjadinya pendekatan


baru dalam hal perdagangan global, yaitu pertama, adanya kekuatan konsumen
yang makin meningkat dan makin besarnya rasa solidaritas lingkungan terhadap
produk yang dibelinya agar tidak menimbulkan dampak lingkungan dalam
pengadaannya, seperti ecolabel atau green label yang menandai bahwa produk
tertentu diproduksi melalui produksi bersih. Kedua, sejak awal tahun tujuh
puluhan sampai pertengahan delapan puluhan, industri menghadapi penegakan
hukum yang konsisten disertai baku mutu yang makin ketat. Oleh karena itu,
terjadi kejar-mengejar antara baku mutu dengan kemampuan industri menaati
baku mutu. Dari sisi perdagangan terjadi kecenderungan mengaitkan aspek
lingkungan hidup, sehingga hal tersebut menjadikan suatu tantangan bagi
kalangan industri dan jasa untuk dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas
kerjanya supaya tetap dapat mempertahankan diri dalam situasi persaingan global.
Pengusaha juga perlu mempertimbangkan perspektif konsumen mengenai
produknya, seperti citra positif yang diperoleh dengan mendapatkan sertifikasi
ecolabel dan ISO 14000. Sebagian konsumen mempunyai pertimbangan yang luas
dalam setiap melakukan tindakan berkonsumsi. Mereka tidak hanya memperhatikan
mutu, penampilan, harga, garansi ataupun pelayanannya saja, melainkan juga akan
mempertimbangkan beberapa masalah baru. Pertama, masalah ekologi, yang ber-
kaitan dengan ada tidaknya unsur pencemaran atau perusakan lingkungan mulai
dari pengadaan bahan baku, proses produksi, serta akibat yang ditimbulkan dari
penggunaan barang tersebut. Kedua, masalah etika, setiap kali konsumen
memutuskan untuk membeli atau tidak membeli, mereka terlebih dahulu mem-
pertimbangkan etika produsennya. Apakah produsen menjalankan usahanya
dengan benar atau apakah produsen tidak memanfaatkan kelemahan peraturan
yang ada di suatu negara. Contoh dalam hal ini adalah penghargaan yang lebih
dari konsumen terhadap suatu perusahaan yang telah menggunakan standar yang
diakui secara internasional (misalnya ISO 9000, ISO 14000). Yang ketiga adalah
masalah keadilan, yaitu apakah produksi tersebut mengeksploitasi sumberdaya
alam dan ekonomi masyarakat lokal, atau apakah pengusaha mengupayakan
13

pelestarian dengan penghitungan yang tepat antara eksploitasi yang mereka


lakukan sejalan dengan upaya perbaikan. Contoh dalam masalah ini adalah kondisi
masyarakat sekarang yang semakin kritis sehingga upaya pelestarian lingkungan
hidup selalu ditanyakan dalam setiap bentuk produk dan jasa yang ada. Penerapan
produksi bersih dapat mendukung ketiga aspek tersebut, terutama dalam kaitannya
dengan sertifikasi ecolabel dan ISO 14000.
Sikap Indonesia mengenai perlunya integrasi produksi bersih dengan strategi
pemasaran produk dalam menanggapi isu lingkungan sudah jelas. Hal tersebut
sudah menjadi komitmen pemerintah. Dalam konteks perdagangan dan industri di
Indonesia, pemerintah juga telah memperkenalkan produksi bersih (cleaner
production) sejak tahun 1993 melalui program-program yang dikembangkan oleh
BAPEDAL untuk menarik minat masyarakat (community awareness) dalam
menerapkan produksi bersih.
Tekad pemerintah untuk melaksanakan produksi bersih ini kemudian
dicanangkan pada tahun 1995 sebagai komitmen nasional bagi kalangan industri
dan pengusaha untuk dapat mewujudkan pembangunan berkelanjutan (sustainable
development). Tindak lanjutnya pada tahun 1996 telah disusun suatu rencana
pelaksanaan kegiatan produksi bersih yang mencakup arahan pelaksanaan produksi
bersih pada seluruh sektor kegiatan. Pola ini dilakukan melalui kegitan bantuan
teknis, pengembangan sistem informasi, peningkatan kesadaran dan pelatihan serta
pengembangan sistem insentif. Selanjutnya konsep produksi bersih dilaksanakan
sejalan dengan program-program lain yang dapat mendorong penerapan produksi
bersih seperti label lingkungan (environmental labeling) dan Sistem Manajemen
Lingkungan (environmental management system) melalui kegiatan kerjasama
dengan instansi terkait misalnya Kementerian Industri dan Perdagangan Republik
Indonesia.
Pemasaran pada hakekatnya ditujukan untuk dapat memenuhi kebutuhan
konsumen. Persoalannya, kebutuhan konsumen tidak hanya sekedar memenuhi
kebutuhan untuk hidup saja, tetapi juga kebutuhan untuk menjaga kebersihan dan
kelestarian lingkungan hidup mereka. Kepedulian konsumen akan lingkungan
yang semakin meningkat tersebut perlu diantisipasi oleh semua pihak. Adanya
integrasi produksi bersih dengan strategi pemasaran produk maka banyak manfaat
14

yang dapat diperoleh bagi semua pihak (win-win situation). Bagi pengusaha
ekspor, upaya mengintegrasikan penerapan produksi bersih dengan strategi
pemasaran akan membuat produk dan/atau jasa lainnya telah memenuhi per-
syaratan tertentu sehingga dapat dikatakan sebagai produk/jasa yang akrab dengan
lingkungan. Dengan demikian, produknya akan dapat diterima oleh konsumen
internasional.

Strategi Penerapan Produksi Bersih

Komitmen nasional produksi bersih merupakan upaya penggalangan penerapan


produksi bersih secara sukarela oleh berbagai kalangan, baik itu pemerintah, kalangan
industri dan jasa, bahkan para peneliti dan konsultan yang terlibat. Komitmen nasional
produksi bersih ini antara lain :
1. Produksi bersih dipertimbangkan pada tahap sedini mungkin dalam
pengembangan proyek-proyek baru, atau pada saat mengkaji proses dan/atau
aktivitas yang sedang berlangsung
2. Semua pihak turut bertanggung jawab dan terlibat dalam program dan
rencana tindakan produksi bersih dan bekerjasama untuk mengharmonisasi-
kan pendekatan-pendekatan produksi bersih.
3. Agar produksi bersih dapat dilaksanakan secara efektif, semua pendekatan
melalui peraturan perundang-undangan, instrumen ekonomi maupun upaya
sukarela harus dipertimbangkan.
4. Program produksi bersih menekankan pada upaya perbaikan yang berlanjut.
5. Produksi bersih hendaknya melibatkan pertimbangan daur hidup suatu
produk
6. Produksi bersih menjadi salah satu elemen inti dari sistem manajemen
lingkungan, seperti pada ISO 14001.
7. Produksi bersih dilaksanakan agar tercapai daya saing yang lebih besar di
pasar domestik maupun internasional melalui peningkatan efisiensi dan
perbaikan struktur biaya.

Penerapan produksi bersih hingga saat ini telah memperoleh dukungan yang
luas dengan penerapan pada skala nasional maupun internasional melalui program
Clean Development Mechanism (CDM) yang tercantum dalam Pasal 12 Protokol
15

Kyoto. Penerapan CDM terutama adalah untuk mengurangi emisi karbon ke


atmosfir, dan dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing negara. Selain
itu, negara maju khususnya yang tergabung dalam JI (Joint Implementation) harus
membantu negara-negara berkembang dalam penerapan CDM. Dengan membantu
penerapan CDM tersebut, negara maju dapat memperoleh unit pengurangan emisi
(Emission Reduction Unit/ERU) dan sertifikasi pengurangan emisi (Certified
Emission Reduction/CER) dari penerapan CDM tersebut, serta peningkatan jatah
emisinya di dalam negeri melalui perdagangan emisi. Bagi negara berkembang,
kerjasama tersebut dapat meningkatkan kegiatan ekonomi dan pembangunan di
negara tersebut serta membantu mempercepat tercapainya pembangunan yang
berkelanjutan. Itulah sebabnya mengapa CDM dapat diterima oleh banyak negara,
karena dinilai fleksibel dan mampu mengendalikan pencemaran lingkungan
(Murdiyarso, 2003).
Menurut Murdiyarso (2003) bahwa secara umum untuk dapat menerapkan
produksi bersih, diperlukan kelembagaan Produksi bersih sebagai prioritas pada
semua aktivitas, dengan cara :
1. Memasukkan konsep produksi bersih ke dalam perundang-undangan, peratur-
an dan kebijakan nasional.
2. Mengintegrasikan konsep produksi bersih dalam suatu kebijakan dan program
departemen sektoral dan pemerintah daerah, diantaranya dengan meneliti
peluang untuk memberikan insentif dalam rangka promosi untuk pelaksanaan
produksi bersih.
3. Menetapkan komite nasional produksi bersih yang bertugas untuk me-
ngembangkan, melaksanakan strategi dan merencanakan produksi bersih.
Komite tersebut akan memantau perkembangannya dan melaporkan kepada
presiden mengenai kinerja produksi bersih.
4. Mempercepat usaha penerapan produksi bersih secara nasional, berarti mem-
fasilitasi diterimanya produksi bersih oleh semua pihak, dan hal ini akan
diperkuat dengan diratifikasinya Protokol Kyoto.
5. Mengidentifikasi peluang dan mengembangkan kegiatan penelitian dan
pengembangan di bidang produksi bersih dan mendorong pelaksanaan
produksi bersih yang bersifat operasional untuk semua aktivitas.
16

6. Mengembangkan program pendidikan dan latihan produksi bersih untuk


semua pihak.
7. Bantuan bagi perusahaan skala kecil dan menengah dalam upaya meng-
integrasikan konsep produksi bersih, baik bantuan teknis maupun pendanaan.
8. Pengembangan penggunaan instrumen ekonomi untuk dapat mendukung di-
laksanakannya produksi bersih, mengingat produksi bersih perlu dirancang
menarik agar dapat meningkatkan partisipasi semua pihak, seperti pemberian
insentif.

Penerapan Produksi Bersih


Produksi bersih berbeda dengan kontrol polusi yang merupakan proses
pengendalian pencemaran suatu kegiatan setelah kegiatan produksi (after-the-
event) dengan pendekatan reaksi dan perlakuan (react and treat); sedangkan
produksi bersih merupakan suatu tindakan proaktif dengan filosofi antisipasi dan
pencegahan (anticipate and prevent) dan menganggap bahwa mencegah lebih baik
daripada menangani sesuatu yang telah terjadi. Produksi bersih difokuskan pada
upaya pengurangan limbah yang dihasilkan selama siklus hidup dari suatu produk
yang dihasilkan berdasarkan kegiatan-kegiatan dan teknologi yang meminimalkan
limbah dan energi yang digunakan dengan melibatkan penggunaan desain produk,
teknologi yang ramah lingkungan, proses dan kegiatan yang meminimalkan
limbah. Teknologi pengolahan limbah (end-of-pipe) tidak berarti menjadi tidak
diperlukan dengan diterapkannya konsep produksi bersih, tetapi dengan penerapan
filosofi produksi bersih menyebabkan berkurangnya masalah limbah dan polusi
yang pada akhirnya mengurangi beban yang harus diolah dengan teknik
pengolahan limbah dan untuk beberapa kasus resiko berupa limbah yang
dihasilkan dapat dihindari. (Andrews et al. 2002; UNEP DTIE dan DEPA 2000).
Beberapa upaya dan teknik-teknik yang dapat dilakukan dalam penerapan konsep
produksi bersih disajikan pada Gambar 3. dan Tabel 1.
Keberhasilan penerapan upaya perbaikan melalui pendekatan produksi
bersih didukung antara lain melalui:
(1) perubahan sikap (changing attitudes) dari pihak-pihak yang terlibat didalam
suatu organisasi yang menerapkan produksi bersih dan hal ini sama penting-
nya dengan penerapan perubahan teknologi;
17

(2) penerapan pengetahuan (applying know-how) yang berarti peningkatan


efisiensi, penerapan teknik manajemen yang lebih baik, perbaikan teknik tata
cara kerja (housekeeping practices), dan penyempurnaan kebijakan dan
prosedur kerja perusahaan; dan
(3) perbaikan teknologi (improving technology) yang dilakukan antara lain
dengan (a) perubahan proses dan teknologi manufaktur; (b) perubahan peng-
gunaan input proses (bahan baku, sumber energi, resirkulasi air); (c)
perubahan produk akhir atau pengembangan produk-produk alternatif; dan (d)
penggunaan kembali limbah dan hasil samping (UNEP DTIE dan DEPA
2000; Maiellaro dan Lerario, 2000).

TEKNIK
PRODUKSI
BERSIH

Pengurangan Sumber Daur Ulang


Pencemar

Pengubahan Pengendalian Pengambilan Penggunaan


Produk Sumber Kembali Kembali
 Penggantian Pencemar Diproses untuk:  Pengembalian ke
Produk  Mendapatkan proses asal
 Pengubahan kembali bahan  Penggantian
Komposisi asal bahan baku untuk
Produk  Memperoleh proses lain
produk samping

Pengubahan Material Pengubahan Teknologi Tata Cara Operasi


Input  Pengubahan proses  Tindakan-tindakan
 Pemurnian material  Pengubahan tata letak, prosedural
 Penggantian peralatan/perpipaan  Pencegahan kehilangan
material  Pengubahan tatanan  Pemisahan aliran
dan ketentuan operasi limbah
 Otomatisasi peralatan  Peningkatan
penanganan material
 Penjadwalan produksi

Gambar 3. Teknik-teknik produksi bersih.


Sumber: UNEP DTIE dan DEPA (2000)
18

Tabel 1. Upaya-upaya yang dapat diterapkan pada produksi bersih


Jenis Upaya Keterangan
Good House- Penerapan produksi bersih melalui perbaikan tatacara kerja dan
keeping upaya perawatan yang memadai, sehingga dihasilkan suatu
keuntungan yang nyata. Upaya ini memerlukan biaya yang
rendah.
Optimisasi Konsumsi terhadap sumberdaya yang digunakan dapat
Proses dikurangi dengan mengoptimalkan proses yang digunakan.
Upaya ini memerlukan biaya yang lebih tinggi dibandingkan
house-keeping
Substitusi Penerapan produksi bersih melalui upaya ini dapat menghindari
Bahan Baku masalah lingkungan yang mungkin timbul dengan mengganti
bahan-bahan yang berbahaya bagi lingkungan dengan bahan
lain yang bersifat lebih ramah lingkungan. Upaya ini ke-
mungkinan memerlukan perubahan peralatan proses produksi
yang digunakan.
Teknologi Penerapan produksi bersih melalui upaya ini dapat mengurangi
Baru konsumsi sumberdaya dan meminimalkan limbah yang dihasil-
kan melalui peningkatan efisiensi operasi kerja. Upaya ini
umumnya memerlukan invesitasi modal yang tinggi, tetapi
jangka waktu kembali modal (payback periods) umumnya
singkat
Desain Penerapan produksi bersih melalui desain produk baru
Produk Baru menghasilkan keuntungan melalui siklus hidup produk tersebut
termasuk mengurangi penggunaan bahan-bahan berbahaya,
limbah yang dihasilkan, konsumsi energi, dan meningkatkan
efisiensi proses produksi. Desain produk baru merupakan
strategi jangka panjang yang membutuhkan peralatan produksi
baru dan upaya pemasaran yang lebih intensif, tetapi hasil yang
diperoleh sangat menjanjikan
Sumber: UNEP DTIE dan DEPA (2000); Maiellaro dan Lerario (2000)

Produksi bersih yang diterapkan pada berbagai bidang memberikan


keuntungan antara lain:
(1) perbaikan proses produksi yang dilakukan dan produk yang dihasilkan;
(2) penghematan bahan baku dan energi, sehingga mengurangi biaya produksi;
(3) peningkatan daya saing sebagai akibat penggunaan teknologi baru dan yang
telah diperbaiki;
(4) mengurangi kekhawatiran terhadap peraturan lingkungan yang diterapkan;
19

(5) mengurangi upaya yang berkaitan dengan penanganan, penyimpanan, dan


pembuangan bahan-bahan berbahaya;
(6) meningkatkan kesehatan, keselamatan, dan moral para pekerja;
(7) meningkatkan citra perusahaan; dan
(8) mengurangi biaya penanganan limbah yang dihasilkan (UNEP CCP dan the
CRC WMPC, 1999; UNEP DITE dan DEPA 2000; Maiellaro dan Lerario,
2000).

Industri Tapioka

Industri tapioka di Indonesia terbagi menjadi industri berkapasitas kecil,


menengah dan besar yang beroperasi secara nasional. Industri tapioka skala kecil
adalah industri yang menggunakan teknologi proses dan peralatan tradisional
dengan kemampuan produksi sekitar 5 ton bahan baku per hari. Industri tapioka
skala menengah adalah industri yang menggunakan teknologi proses dan peralatan
yang lebih sederhana dibandingkan industri skala besar serta mempunyai
kemampuan produksi 20-200 ton bahan baku per hari. Industri tapioka skala besar
adalah industri yang menggunakan teknologi proses produksi mekanis penuh dan
mempunyai kemampuan produksi di atas 200 ton bahan baku per hari (Bapedal,
1996).
Dilihat dari proses pengolahan, industri tapioka digolongkan dalam dua
kelompok. Kelompok pertama industri kecil menggunakan mesin-mesin
sederhana dengan kapasitas produksi rendah, modal kecil dan lebih banyak
menggunakan tenaga kerja, dan kelompok kedua merupakan industri besar yang
menggunakan mesin-mesin dengan kapasitas produksi besar, modal kuat dan
tenaga kerja sedikit. Skema proses pengolahan tapioka industri kecil dan industri
besar dapat dilihat pada Gambar 4. dan Gambar 5.
Tahapan proses produksi industri tapioka skala kecil adalah tahap proses
pengupasan bahan baku, pencucian bahan baku, pemarutan ubikayu, proses
ekstraksi bubur ubikayu, proses pengendapan dalam bak pengendapan, proses
penjemuran menggunakan panas matahari, proses penggilingan tapioka kasar dan
pengayakan hingga diperoleh tapioka halus.
20

Ubikayu 1 ton

Kulit dan kotoran


Pengupasan

Air Pencucian Limbah Cair

Pemarutan

Bubur ubikayu
Ekstraksi Ampas
Air

400 kg
Air Pencucian untuk
peralatan Limbah Cair

Air
Limbah Pengendapan Air

Air
Limbah Penjemuran

Penggilingan

Pengayakan

TEPUNG TAPIOKA 300 kg

Gambar 4. Skema Proses Pengolahan Tapioka di Industri Skala Kecil


Sumber: (Bapedal, 1996)

Tahapan proses produksi di pabrik tapioka modern skala besar adalah tahap
pembersihan ubikayu dari pasir atau tanah, pengupasan dapat dilakukan manual
dengan tenaga manusia maupun secara mekanis, pemotongan dan pencacahan
dilakukan untuk mendapatkan ukuran ubikayu yang lebih kecil untuk memper-
mudah pada proses selanjutnya, serta pemarutan yang dilakukan secara mekanis
dan biasanya pada proses ini ditambahkan dengan air yang akan menghasilkan
bubur ubikayu. Tahap selanjutnya adalah ekstraksi bubur ubikayu yang dilakukan
21

dengan ekstraktor (saringan berputar berbentuk kerucut) yang terdiri dari ayakan
stainless steel atau filter cloth dengan bantuan air cucian yang mengandung asam
sulfide untuk menjamin pemisahan pati dengan ampasnya dan untuk menghindari
terjadinya proses mikrobiologi. Setelah dilakukan ekstraksi bubur ubikayu, tahap
selanjutnya adalah pengeringan dan pengemasan. Kegiatan ini terdiri dari peng-
hilangan air pada bubur tepung dengan menggunakan dewatering, pengeringan
tepung basah dengan flash dryer atau pneumatic dryer, pengumpulan tepung
kering dengan cyclone dan pengayakan atau penyaringan yang dilakukan untuk
menyaring ukuran tepung sesuai kebutuhan sebelum dimasukkan ke silo (ruangan
penyimpan) untuk pengemasan tepung tapioka yang selanjutnya siap dipasarkan.

Gambar 5. Skema Proses Produksi Tapioka Industri Skala Besar


(Sumber: KLH, 2004 dalam Purwati, 2010)
22

Limbah Industri Tapioka

Menurut Winarno (1986) yang dimaksud limbah adalah kotoran atau


buangan yang tercermin dalam kata pelimbahan yang berarti tempat penampung
kotoran atau buangan. Thompson (1973) mengatakan bahwa sebagian besar
limbah merupakan komponen penyebab pencemaran yang terdiri dan zat atau
bahan yang tidak mempunyai kegunaan lagi bagi masyarakat.
Limbah industri pertanian kebanyakan menghasilkan limbah yang bersifat
cair atau padat yang masih kaya dengan zat organik yang mudah mengalami
penguraian (Algamar, 1986). Industri yang ada membuang umumnya membuang
limbahnya ke perairan terbuka, sehingga dalam waktu yang relatif singkat akan
terjadi bau busuk sebagai akibat terjadinya fermentasi limbah.
Kunaefi (1982) berpendapat bahwa limbah industri adalah buangan yang
berasal dari industri sebagai akibat dari produksi. Pengusaha industri yang akan
membuang limbah diwajibkan mengolah terlebih dahulu untuk mencegah pen-
cemaran lingkungan hidup di sekitarnya dengan metode pengolahan limbah yang
dapat dilakukan secara fisik, kimia, biologi atau kombinasi untuk mengatasi pen-
cemaran. Sugiharto (1987) mengatakan bahwa air limbah yang berasal dari
industri sangat bervariasi, serta tergantung dari jenis dan besar kecilnya industri,
pengawasan pada proses industri, derajat penggunaan air, dan derajat pengolahan.
Limbah dari industri tapioka bisa dibedakan menjadi 3 macam yaitu limbah
padat, cair dan gas (Tjiptadi, 1985). Limbah padat dari industri tapioka adalah
kulit ubikayu, ampas atau onggok, dan lindur (elot). Limbah kulit ubikayu adalah
limbah yang dihasilkan dari proses pengupasan kulit ubikayu. Persentase jumlah
limbah kulit ubikayu bagian luar sebesar 0,5-2% dari berat total ubikayu segar dan
limbah kulit ubikayu bagian dalam sebesar 8-15% (Hikmiyati et al., 2009). Kulit
ubikayu ini biasanya juga digunakan untuk pakan ternak dan selebihnya dibuang
karena mengandung Cyanogenic glucosides yang dapat meracuni hewan ternak
(Nursita, 2005). Komposisi kimia kulit ubikayu dapat dilihat pada Tabel 2.
Ampas (onggok) adalah limbah dan industri tapioka yang dihasilkan dari
proses pemerasan dan penyaringan. Komponen penting yang terdapat dalam
onggok adalah pati dan selulosa. Onggok juga mengandung air dan karbohidrat
yang cukup tinggi serta kandungan protein kasar dan lemak yang rendah.
23

Tabel 2. Komposisi kimia kulit ubikayu


Komposisi kimia Nilai (%)
Air* 67,7438
Abu* 1,8629
Lemak kasar* 1,4430
Serat kasar* 10,5952
Protein kasar* 6,0360
C** 59,31
H** 9,78
O** 28,74
N** 2,06
S** 0,11
Ash** 0,3
Sumber: *) Laboratorium Fakultas Peternakan,Universitas Diponegoro (2008)
dalam Hikmiyati, et al. (2009)
**) Ikawati, et al. (2009)
Banyaknya onggok yang dihasilkan dipengaruhi oleh varietas ubikayu, umur
ubikayu, dan kasar-halusnya parutan yang digunakan. Varietas ubikayu yang
bermutu baik dapat menghasilkan pati dengan rendemen tinggi. Saat musim
hujan sebagian industri tapioka banyak membuang onggok bersama dengan air
limbahnya, sehingga airnya keruh dan pekat. Hal ini sangat mengganggu
kesehatan dan bahkan dapat mematikan biota air.
Onggok yang dikeluarkan industri kecil karena keterbatasan pengetahuan
dan teknologi yang dimiliki maka onggok masih mengandung pati dengan
konsentrasi cukup tinggi (Ira, 1991 dalam Chardialani, 2008). Adapun komposisi
kimia onggok dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Komposisi kimia onggok.
Komposisi kimia Nilai (%)
Karbohidrat* 68
Protein 3,6
Lemak 2,3
Serat kasar* 10
Air 20,31
Abu 4,4
Sumber : *) Susijahadi (1997) dalam Pratama (2009)

Lindur atau elot adalah limbah padat yang dihasilkan dari sisa proses
pengendapan pati. Limbah elot ini masih mengandung kadar pati dengan kualitas
rendah, sehingga bila elot ini langsung dibuang bersamaan dengan air limbah ke
perairan, maka elot akan meningkatkan beban pencemaran yang akan terjadi di
perairan.
24

Air limbah industri tapioka berasal dari proses pencucian bahan baku,
penyaringan bubur ubikayu (ekstraksi) dan pengendapan pati. Kualitas air limbah
industri tapioka dapat ditentukan dengan beberapa parameter uji. Parameter uji
yang pokok dalam air limbah industri tapioka antara lain BOD5, COD, padatan
terlarut, padatan tersuspensi, sianida (HCN) dan pH. Menurut Fajarudin (2002),
karakteristik limbah cair industri tapioka meliputi:
1. Warna
Warna air limbah transparan disertai suspensi berwarna putih. Zat terlarut
dan tersuspensi yang mengalami penguraian hayati dan kimia akan berubah
warna. Hal ini merupakan proses yang paling merugikan, karena kadar oksigen di
dalam air limbah menjadi nol, sehingga air limbah berubah menjadi warna hitam
dan busuk.
2. Bau
Bau industri tapioka tidak enak disebabkan oleh adanya pemecahan zat
organik oleh mikroba. Bau menyengat yang timbul di perairan sungai atau salur-
an, biasanya timbul apabila sungai atau saluran tersebut sudah menjadi anaerob
atau tidak ada oksigen yang terlarut. Bau tersebut timbul karena penyusun protein
dan karbohidrat terpecah, sehingga timbul bau busuk dari gas alam sulfida.
3. Kekeruhan
Adanya padatan terlarut dan tersuspensi di dalam air limbah tapioka
menyebabkan air keruh. Kekeruhan ini terjadi Karena zat organik atau zat-zat
tersuspensi dari pati yang tercecer atau zat organik terlarut yang sudah terpecah,
sehingga air limbah berubah menjadi emulsi keruh.
4. BOD (Biochimical Oxigen Demand)
Padatan yang terlarut dalam air buangan terdiri dari zat organik dan
anorganik. Zat organik misalnya protein, karbohidrat, lemak, dan minyak.
Protein dan karbohidrat lebih mudah terpecah melalui proses hayati menghasilkan
amonia, sulfida, dan asam lainnya. Sedangkan lebih stabil terhadap perusakan
hayati, namun apabila ada asam mineral dapat menguraikan asam lemak menjadi
gliserol. Air limbah industri tapioka mengandung pati, sedikit lemak, protein dan
zat organik lainnya yang ditandai banyaknya zat-zat terapung dan menggumpal.
Jumlah zat organik yang terlarut dalam air limbah tapioka dapat diketahui dengan
25

melihat nilai BOD. Angka BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dibutuhkan
untuk keperluan aktivitas mikroba dalam memecah zat organik secara biologis di
dalam air limbah. Angka BOD dinyatakan dalam satuan mg/Latau ppm (part per
million) dan biasanya pula dinyatakan dalam beban yaitu gram atau kilogram per
satuan waktu.
5. COD (Chimical Oxigen Demand)
Chimical Oxigen Demand merupakan parameter air limbah yang menunjuk-
kan jumlah zat organik biodegradasi dan non biodegradasi dalam air limbah. Zat
tersebut dapat dioksidasi oleh bahan kimia K2Cr2O7 dalam asam, misalnya sulfat,
nitrit kadar tinggi, dan zat-zat reduktor lainnya. Besarnya angka COD biasanya
dua sampai tiga kali lebih besar dari BOD. Kisaran angka COD adalah 7.000-
30.000 mg/L.
6. Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) air limbah tapioka sangat dipengaruhi oleh kegiatan
mikroba dalam pemecahan bahan organik. Air buangan cenderung asam, dan
pada keadaan asam ini terlepas zat-zat yang mudah menjadi gas. Dari hasil
percobaan, pada saat pembuatan tapioka pH larutan 6,51 namun setelah air limbah
berumur tujuh jam mulai terjadi penurunan pH menjadi 5,8 setelah 13 jam pH
menjadi 4,91 dan setelah satu hari menjadi pH 4,84 (Nurhasan dan Pramudyanto,
1983).
7. Padatan Tersuspensi
Padatan tersuspensi mempengaruhi kekeruhan air dan warna air. Apabila
terjadi pengendapan dan pembusukkan zat-zat tersebut di dalam badan perairan
penerima air limbah, maka akan mengurangi nilai guna perairan tersebut. Padatan
tersuspensi di dalam air cukup tinggi, berkisar 1.500-5.000 mg/L. Padatan
tersuspensi ini merupakan suspensi pati yang terendapkan pada pengendapan
tingginya kandungan padatan tersuspensi menandakan bahwa proses pengendapan
belum sempurna.
8. Asam Sianida (HCN)
Selama ini dikenal ada dua jenis ubikayu, yaitu ubikayu manis dan ubikayu
pahit. Kriteria manis dan pahit biasanya berdasarkan kadar asam sianida (HCN)
26

yang terkandung dalam umbi ubikayu. Darjanto dan Muryati (1980) membagi
ubikayu menjadi tiga golongan sebagai berikut.
a. Golongan yang tidak beracun (tidak berbahaya), mengandung HCN 20 - 50
mg per kg umbi.
b. Golongan yangberacun sedang, mengandung HCN 50 – 100 mg per kg umbi.
c. Golongan yang sangat beracun, mengandung HCN lebih besar dari 100 mg
per kg umbi.
Menurut Grace (1977), kandungan asam sianida semula diperkirakan
berhubungan dengan varietas ubikayu, namun kemudian ternyata juga bergantung
pada kondisi pertumbuhan, tanah, kelembaban, suhu dan umur tanaman.
Komposisi kimia tepung dan pati ubikayu jenis pahit dan manis ternyata hampir
sama, kecuali kadar serat dan kadar abu pada tepung ubikayu manis lebih tinggi
dari tepung ubikayu pahit (Rattanachon et al. 2004). Selanjutnya Rattanachon et
al. (2004) menerangkan bahwa viskositas tepung dan pati ubikayu tergantung
varietasnya, dan tidak ada hubungannya dengan kriteria manis atau pahit.
Industri tapioka kebanyakan menggunakan bahan baku ubikayu beracun,
karena harganya murah. Ubikayu mengandung senyawa sianogenik linamarin.
Komponen ini apabila terhidrolisis dapat menjadi glukosa, aseton, dan asam
sianida (HCN). HCN terhidrolisa jika kontak dengan udara (O 2), oleh karena itu
kandungan sianida bukan penyebab utama timbulnya pencemaran. Menurut
Barana dan Cereda (2000) limbah cair industri tapioka memiliki kandungan
sianida sebanyak 33,59 ppm.
HCN pada ubikayu yang telah tua ditandai oleh membirunya umbi pada
ubikayu ataupun pada kulitnya. HCN juga terletak pada daun ubikayu, ditandai
dengan pahitnya rasa daun pada ubikayu tersebut. HCN diketahui dapat larut
dalam air. Hal ini terlihat bahwa ubikayu yang mengalami proses pencucian akan
mengalami perubahan warna biru perlahan memudar kemudian menjadi agak
keputih-putihan kembali. Hal itu membuktikan bahwa kadar asam sianida ubikayu
akan menurun kadarnya setelah mengalami pencucian, perendaman, perebusan,
dan penjemuran.
Air limbah dengan karakteristik tersebut harus ditangani dengan serius agar
tidak mencemari lingkungan dan memenuhi standar baku mutu air limbah di
27

Provinsi Lampung. Spesifikasi baku mutu air limbah industri tapioka didasarkan
pada Peraturan Gubernur Lampung Nomor 7 Tahun 2010 tentang baku mutu air
limbah usaha dan/atau kegiatan di Provinsi Lampung. Baku mutu untuk air
limbah industri tapioka dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Baku Mutu Air Limbah Industri Tapioka
Parameter Kadar Maksimal
BOD (5 Hari, 20OC) 100 mg/L
COD 250 mg/L
Total Padatan Tersuspensi 60 mg/L
pH 6–9
Sianida 0,2 mg/L
Debit 25 m3 per ton produk
Sumber : Peraturan Gubernur Lampung Nomor 7 Tahun 2010

Biogas sebagai Sumber Energi Alternatif

Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi
dari bahan-bahan organik termasuk diantaranya kotoran manusia dan hewan,
limbah domestik (rumah tangga), limbah agroindustri, sampah biodegradable atau
setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Biogas
merupakan gas yang tidak berwarna, sangat tinggi dan cepat daya nyalanya,
sehingga sejak biogas berada pada bejana pembuatan sampai penggunaannya
untuk penerangan atau memasak, harus selalu dihindarkan dari api yang dapat
menyebabkan kebakaran atau ledakan (Suriawiria, 2005). Sifat Biogas adalah
20 % lebih ringan dari udara dan mempunyai satu suhu nyala di sekitar 650ºC
sampai dengan 750ºC. Nilai kalor dari biogas adalah 20 Mega Joules (MJ) per m3
dan membakar dengan tingkat efisiensi 60 persen di suatu dapur biogas yang
konvensional.
Biogas dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembangkit listrik, pemanas
ruangan, memasak, dan pemanas air. Jika dikompresi, biogas dapat menggantikan
gas alam terkompresi (CNG) yang digunakan pada kendaraan. Biogas yang telah
dimurnikan akan memiliki karakteristik yang sama dengan gas alam. Akan tetapi
gas tersebut harus sangat bersih untuk mencapai kualitas pipeline. Air (H2O),
hydrogen sulfide (H2S) dan partikulat harus dihilangkan jika terkandung dalam
jumlah yang besar di gas tersebut. Apabila biogas harus digunakan tanpa
pembersihan yang ekstensif, maka biasanya gas ini dicampur dengan gas alam
28

untuk meningkatkan pembakaran. Biogas yang telah dibersihkan untuk mencapai


kualitas pipeline dinamakan gas alam terbaharui. Nilai potensial pemanfaatan
biogas ini akan terus meningkat karena adanya jumlah bahan baku biogas yang
melimpah dan rasio antara energi biogas dan energi minyak bumi yang men-
janjikan. Konversi energi biogas dan penggunaannya dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Konversi energi biogas
Penggunaan Energi 1 m3 biogas
Penerangan* sebanding dengan lampu 60 – 100 W
selama 6 jam
Listrik* sebanding dengan 1,25 Kwh listrik
Pengganti bahan bakar**
Minyak Tanah 0,62 liter
Solar 0,52 liter
Sumber: *) Kristoferson dan Bolkaders (1991) dalam Haryati (2006)
**) Ditjen PPHP Departemen Pertanian RI (2009)

Gas metan adalah gas yang mengandung unsur satu atom C dan empat atom
H yang memiliki sifat mudah terbakar. Satu mol metana memerlukan dua mol
oksigen untuk dapat dioksidasi menjadi CO2 dan air, akibatnya setiap produksi 16
gram metana dapat menurunkan COD air limbah sebanyak 64 gram. Pada suhu
dan tekanan standar, setiap stabilisasi 1 pound COD dapat meng-hasilkan 5,62 ft3
metana atau 0,35 m3 metana/kg COD (Grady dan Lim, 1980 dalam Haryati,
2006). Komposisi biogas dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Komposisi biogas
Komposisi %
Metana (CH4) 55 - 75
Karbon dioksida (CO2) 25 - 45
Nitrogen (N2) 0 - 0,3
Hidrogen (H2) 1-5
Hidrogen sulfida (H2S) 0-3
Oksigen (O2) 0,1 - 0,5
Sumber : Hermawan et al. (2007)
29

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di industri tapioka skala kecil dengan kapasitas bahan


baku 80 ton /hari dan skala besar dengan kapasitas bahan baku 750 ton/hari di
Provinsi Lampung. Industri tapioka skala kecil berada di wilayah Kabupaten
Pesawan. Sedangkan industri tapioka skala besar tersebut tersebar di 5 (lima)
kabupaten. Selain dari industri tapioka, data juga dikumpulkan dari berbagai
sumber baik data primer maupun data sekunder. Penelitian ini berlangsung
selama 9 bulan dari bulan Februari sampai dengan November 2008.

Gambar 6. Lokasi pengambilan sampel di Provinsi Lampung

Keterangan:
: lokasi penelitian (pengambilan sampel)

Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada dua tahap yaitu (1) pengamatan dan kajian
produksi bersih pada tingkat pabrik tapioka; dan (2) kajian implementasi
30

penerapan produksi bersih pabrik tapioka yang direkomendasikan. Secara lengkap


diagram alir tata laksana penelitian disajikan pada Gambar 7.

QuickScan
Pabrik Tapioka  source identification
 cause evaluation

bagian proses produksi yang


potensial untuk penerapan
produksi bersih

Profound Analysis
 neraca massa dan energi
 options generation

 Diagram input-output
 Alternatif-alternatif pilihan
penerapan produksi bersih

Sintesis
 Evaluasi ekonomi
 Evaluasi lingkungan

tidak
layak?

ya
Alternatif-alternatif pilihan
penerapan produksi bersih
terpilih

Model Proses Produksi Industri


Tapioka Ramah Lingkungan Berbasis
Produksi Bersih

Gambar 7. Diagram alir tata laksana penelitian

Tahapan Penelitian

Pada penelitian ini metodologi yang dikemukakan Gambault dan Versteege


(1999 dalam Fauzi 2003) yang disajikan pada Gambar 8. dan Audit and Reduction
Manual for Industrial Emission and Wastes (UNEP 1991 dalam FHBB 2005)
digunakan sebagai metodologi acuan kajian serta metode QuickScan (Buser dan
31

Walder 2002; FHBB 2005) digunakan pada tahap analisis pendahuluan.


QuickScan menghasilkan keluaran berupa: 1) sumber-sumber utama penyebab
polusi lingkungan; 2) kuantitas material dan atau energi yang digunakan; 3)
limbah atau cemaran dan emisi yang dihasilkan. Metode QuickScan
menghasilkan fokus audit pada pengkajian penerapan produksi bersih tahap
berikutnya terhadap suatu bagian proses produksi dinilai potensial untuk diterap-
kannya perbaikan berdasarkan konsep produksi bersih (Buser dan Walder 2002).

2. QuickScan
1. Persiapan
penelitian pendahuluan
untuk menentukan fokus
kemungkinan penerapan
produksi bersih

3. Profound analysis

analisis mendalam terhadap


proses produksi terpilih,
Alternatif-alternatif pilihan penjabaran dalam bentuk
produksi bersih terpilih neraca massa dan energi

4. Sintesis

pencarian pilihan
pencegahan,
penyeleksian pilihan
pencegahan, dan studi
kelayakan
Gambar 8. Metodologi kajian produksi bersih (modifikasi Gambault dan
Versteege 1999 dalam Fauzi 2003)

Analisis pendahuluan menggunakan teknik QuickScan dilakukan dengan cara


identifikasi sumber (source identification) yang diikuti dengan evaluasi penyebab
(cause evaluation), dan perolehan pilihan yang mungkin diterapkan (option gene-
ration). Kajian difokuskan pada lima komponen yaitu 1) bahan-bahan masukan
(input); 2) teknologi yang digunakan; 3) pelaksanaan proses; 4) produk; dan 5)
limbah yang dihasilkan (Gambar 9.). Kemungkinan-kemungkinan jenis-jenis
pilihan perbaikan yang dihasilkan berupa 1) substitusi bahan-bahan masukan; 2)
modifikasi teknologi; 3) good housekeeping; 4) modifikasi produk yang dihasil-
kan; dan 5) on-site reuse (Gambar 10.).
32

Teknologi Pelaksanaan proses

Produk yang
Bahan-bahan dihasilkan
masukan
PROSES PENGOLAHAN
TAPIOKA
Limbah

Gambar 9. Lima jenis penyebab dihasilkannya limbah (van Berkel, 2006).

Modifikasi Good Housekeeping


Teknologi

Modifikasi Produk
Substitusi Bahan yang dihasilkan
masukan
PROSES PENGOLAHAN
TAPIOKA
On-site reuse

Gambar 10. Jenis-jenis pilihan perbaikan dengan pendekatan produksi bersih (van
Berkel, 2006).

Tahapan proses pengolahan tapioka dikaji secara rinci dan mendalam


(profound analysis) untuk mendapatkan informasi tentang masukan yang diguna-
kan pada proses serta keluaran yang dihasilkan. Masukan pada suatu tahapan
proses berupa bahan-bahan yang digunakan, energi, dan air; sedangkan keluaran
yang dihasilkan berupa produk utama, hasil samping, limbah yang dapat didaur
ulang atau digunakan kembali, dan limbah yang harus ditangani sebelum dibuang
ke lingkungan. Masukan dan keluaran dihitung dalam basis yang sama dan
selanjutnya dijabarkan dalam neraca seperti disajikan pada Gambar 11.

Masukan Gas Keluaran

Bahan baku 1 Produk utama

Bahan baku 2 Hasil samping


Proses produksi atau unit operasi
Bahan baku 3 Air limbah

Air dan energi Limbah yang disimpan


atau dibuang
Gambar 11. Neraca material dan komponen-komponennya
33

Kajian Produksi Bersih Industri Tapioka

Tahap ini berupa pengamatan terhadap proses pengolahan ubikayu menjadi


tapioka pada tingkat pabrik dan wawancara untuk mendapatkan data yaitu

1) bahan-bahan masukan (input);


2) teknologi yang digunakan;
3) pelaksanaan proses;
4) produk; dan
5) limbah yang dihasilkan.

Data yang diperoleh dari hasil analisis pendahuluan dijabarkan dalam bentuk
aliran masukan dan keluaran berupa neraca massa dan energi serta limbah yang
dihasilkan. Komponen-komponen dalam neraca massa dan energi yang dihasil-
kan disajikan berdasarkan basis unit produk yang dihasilkan. Tahap sintesis untuk
menentukan pilihan produksi bersih terpilih berdasarkan:
1) evaluasi ekonomis menggunakan kriteria PBP, NPV, dan IRR (Soeharto 2002)
2) evaluasi lingkungan berdasarkan kriteria perubahan penggunaan bahan baku
dan pembantu, perubahan penggunaan air dan energi, dan karakteristik limbah
yang dihasilkan berupa nilai TSS, COD, BOD, sianida (HCN), dan pH
(Alaerts dan Santika 1984; APHA 1992).
Data yang dikumpulkan pada tahap ini disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Data yang dibutuhkan pada kajian produksi bersih tingkat industri
tapioka
Jenis Keterangan Cara perolehan data
Masukan (input) Ubikayu, air, energi, dan lain- Wawancara, pengamatan
lain dan pengukuran langsung
Keluaran (output) Tapioka, hasil samping, Wawancara, pengamatan
limbah padat, air limbah dan pengukuran langsung
Proses pembuatan tapioka Diagram alir dan neraca Pengamatan langsung
Mutu Ubikayu Kadar kotoran, kadar pati Pengujian laboratorium
Mutu tapioka Kadar abu, kadar air, Derajat Pengujian laboratorium
putih, cemaran logam, dan uji
bakteri
Air limbah Jumlah dan karakteristik lim- Pengukuran langsung dan
bah) pengujian laboratorium
Limbah padat Jumlah dan jenis limbah Pengamatan dan peng-
ukuran langsung
Biaya produksi tapioka Biaya per satuan produk Wawancara
34

Neraca Massa dan Neraca Energi

Neraca Massa
Neraca massa (mass balance) seringkali disebut sebagai neraca material
dalam industri kimia. Suatu neraca massa dapat bermakna tanpa adanya neraca
energi, tetapi sebaliknya suatu neraca energi membutuhkan pengetahuan tentang
massa dan komposisi dari semua aliran yang ada dalam neraca. Kombinasi dari
neraca massa dan neraca energi merupakan suatu alat yang penting untuk evaluasi
yang efektif terhadap proses rutin suatu industri kimia (Clausen dan Mattson
1978).
Neraca massa dibuat berdasarkan konsep hukum kekekalan (konservasi)
materi yang menyatakan bahwa atom-atom tidak dapat diciptakan atau
dihancurkan. Atom-atom yang masuk ke dalam suatu sistem terakumulasi dalam
sistem atau meninggalkannya (Clausen dan Mattson 1978). Hal ini dinyatakan
dalam persamaan berikut:

Akumulasi dari atom j total atom j yang total atom j yang


dalam sistem = memasuki sistem - meninggalkan sistem …. (1)

Dengan menjumlahkan seluruh atom yang masuk dan meninggalkan sistem, total
neraca material yang dihasilkan menjadi:

Total akumulasi dalam total massa total massa


sistem = memasuki sistem - meninggalkan sistem …(2)

Jika tidak terjadi akumulasi dalam sistem maka persamaan 2 direduksi menjadi
sebagai berikut:

total massa total atom massa


memasuki sistem = meninggalkan sistem ……..…..................... (3)

Neraca massa dibuat berdasarkan beberapa tahap yaitu: (1) Menggambar-


kan aliran proses yang telah disederhanakan dalam bentuk diagram; (2) Me-
nempatkan data yang tersedia pada aliran proses yang telah dibentuk dalam suatu
diagram menggunakan unit tertentu (metric system atau the American engineering
system); (3) Membuat semua persamaan kimia untuk reaksi kimia yang terjadi di
dalam proses; dan (4) Memilih basis yang digunakan untuk perhitungan (Clausen
dan Mattson, 1978).
35

Neraca Energi
Neraca energi dibuat berdasarkan hukum termodinamika pertama tentang
kekekalan energi. Hukum termodinamika pertama diterapkan dalam bentuk ne-
raca energi dengan persamaan sebagai berikut:
Energi yang terakumulasi = energi yang – energi yang
dalam sistem masuk keluar ……………… (4)

Neraca energi dibuat dengan tahapan yang sama seperti pembuatan neraca
massa dan semua jenis energi yang terdapat dalam sistem harus diekspresikan
dalam satuan unit yang sama (metric system atau the American engineering
system). Jenis-jenis energi yang digunakan dalam neraca energi adalah energi
potensial, energi kinetik, energi termal (thermal energy), energi kerja (work
energy), dan energi dalam (internal energy) (Clausen dan Mattson, 1978).
Energi yang merupakan salah satu input dalam proses produksi pertanian
memiliki beberapa bentuk, antara lain energi langsung, energi tidak langsung, dan
energi biologis. Energi yang digunakan dalam proses produksi dan pengolahan
tapioka dapat dikategorikan menjadi 2 golongan yaitu energi langsung dan energi
tidak langsung. Energi langsung adalah bentuk energi yang digunakan secara
langsung dalam proses produksi yang antara lain berupa energi bahan bakar dan
energi manusia. Energi tidak langsung adalah energi yang digunakan untuk mem-
bentuk barang atau memberikan masukan atau energi yang tidak langsung
berhubungan dengan proses produksi yang antara lain berupa energi biomassa dan
energi alat mesin. Jumlah energi langsung dan tidak langsung yang telah diguna-
kan dalam memproduksi suatu barang disebut embodied energy (Abdullah, 1987;
Fluck, 1992). Dalam penelitian ini akan ditentukan kebutuhan energi langsung
per satuan produk yang dihasilkan.

Evaluasi Ekonomis Pilihan Produksi Bersih

Evaluasi ekonomis terhadap pilihan produksi yang dihasilkan ditentukan


menggunakan instrumen-instrumen berupa pay back period, net present value
(NPV), dan internal rate of return (IRR) (UNEP 1995 dalam UNEP DTIE dan
DEPA 2000; Brown 1994; Soeharto 2002).
36

Pay back Period (PBP)


PBP atau waktu pengembalian modal adalah waktu yang diperlukan oleh
proyek untuk mengembalikan investasi awal dengan tingkat pengembalian
tertentu. Perhitungan PBP dilakukan berdasarkan aliran kas baik tahunan maupun
yang merupakan nilai sisa. Apabila suatu alternatif investasi mempunyai umur
ekonomis lebih besar daripada periode pengembalian (N’), maka alternatif
tersebut layak. Jika sebaliknya N’ lebih besar dari estimasi umur ekonomis, maka
dikatakan tidak layak. PBP dihitung dengan formula sebagai berikut:
N"
PBP = -P +  A ( P / F , i%, t )
t 1
t
….. (5)

Keterangan:
At = Aliran kas yang terjadi pada periode t
N’ = Periode pengembalian yang akan dihitung
P = nilai sekarang
F = nilai yang akan datang

Net present value (NPV)


NPV menyatakan nilai bersih investasi saat ini yang diperoleh dari selisih
antara nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan kas bersih di
masa yang akan datang, setelah memperhitungkan discount factor. Suatu proyek
dapat dinyatakan bermanfaat untuk dilaksanakan apabila NPV > 0. Jika NPV =0
berarti proyek dapat mengembalikan sebesar social opportunity cost faktor
produksi modal. Jika NPV < 0 berarti proyek tidak dapat menghasilkan, sehingga
ditolak. Formula untuk menghitung NPV adalah :
n
( Bt  Ct )
NPV = t 1 (1  i ) t
K 0 ……………………………… (6)

Keterangan:
Bt = benefit bruto proyek pada tahun ke t
Ct = biaya bruto proyek pada tahun ke t
K0 = nilai investasi awal
n = umur ekonomis proyek
i = tingkat bunga modal (persen)

Internal rate of return (IRR)


IRR menunjukkan tingkat bunga pada saat jumlah penerimaan sama dengan
jumlah pengeluaran atau tingkat suku bunga yang menghasilkan NPV = 0. Jika
37

nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku maka suatu proyek
dapat dilanjutkan, jika yang terjadi sebaliknya maka proyek ditolak. IRR dapat
dihitung dengan formula sebagai berikut

IRR = D f P   
PVP
 x( D f N  D f P  …………….. (7)
 PVP  PVN 
Keterangan:
DfP = Discount factor yang menghasilkan present value positif
DfN = Discount factor yang menghasilkan present value negatif
PVP = present value positif
PVN = present value negatif

Parameter Mutu Lingkungan Air limbah Industri Tapioka

Industri tapioka mempunyai potensi mencemari lingkungan karena


mengandung bahan organik yang tinggi berupa senyawa karbon, dan nitrogen
yang relatif tinggi, sehingga berpotensi menyebabkan proses eutrofikasi dan dapat
menstimulasi pertumbuhan ganggang secara cepat (Tchobanoglous, 1991).

Total Suspended Solid (TSS)


TSS atau total zat padat tersuspensi diklasifikasikan menjadi zat padat dan
melayang yang bersifat organis dan zat padat terendap yang dapat bersifat organis
dan anorganis. Zat padat terendap adalah zat padat dalam suspensi yang dalam
keadaan tenang dapat mengendap setelah waktu tertentu karena pengaruh gaya
beratnya. Penentuan zat padat terendap tersebut dapat melalui volumenya yang
disebut dengan analisis volume lumpur (sludge volume) dan dapat melalui
bobotnya yang disebut dengan analisis lumpur kasar atau umumnya disebut zat
padat terendap (settleable solids) (Alaerts dan Santika 1984).
Sampel dimasukkan ke dalam tabung untuk disentrifius. Sebelumnya
cawan kosong telah di oven selama 1 jam dan dinginkan ke dalam desikator
selama 30 menit. Kemudian dilakukan penimbangan berat cawan. Endapan yang
terbentuk dari sentrifius di masukkan ke dalam cawan porselen yang telah
diketahui berat keringnya kemudian cawan di masukkan ke dalam oven 105 oC
selama lebih kurang 3 jam atau masukkan ke dalam inkubator selama semalam
dengan suhu 800C. Kemudian di oven selama 2 jam dengan suhu 105 oC.
Selanjutnya dimasukkan ke dalam desikator selama kira-kira 60 menit dan
38

lakukan penimbangan. Selisih berat cawan setelah dioven dengan berat kering
cawan dan dibagi dengan volume sampel yang disentrifius dalam liter adalah nilai
TSS (APHA, 1998).

berat cawan setelah dioven 105o C ,2 jam ( g )  berat ker ing cawan ( g )
SS 
volum sampel yang disentrifi us ( L)

Biological Oxygen Demand (BOD)


BOD atau kebutuhan oksigen secara biologis merupakan suatu analisis
empiris yang mencoba mendekati secara global proses-proses mikrobiologis yang
terjadi di dalam air. Nilai BOD yang dihasilkan menunjukkan jumlah oksigen
yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan atau mengoksidasikan hampir
semua zat organik yang terlarut dan sebagian zat-zat organik yang tersuspensi
dalam air (Alaerts dan Santika 1984; APHA 1992).
Larutan buffer yang digunakan untuk pengujian BOD terdiri dari 4 larutan dengan
komposisi sebagai berikut :
1. Larutan buffer fosfat dibuat dengan cara melarutkan 8,5 gram KH2PO4,
33,40 gram Na2HPO4.7H2O, dan 1,70 gram NH4Cl ke dalam 1 Liter
aquades.
2. Larutan buffer magnesium sulfat dibuat dengan cara melarutkan 22,50
gram MgSO4.7H2O dalam 500 mL aquades dan diencerkan sampai 1 Liter.
3. Larutan buffer kalsium klorida dibuat dengan cara melarutkan 27,50 gram
CaCl2 dalam 500 mL aquades dan diencerkan hingga 1 Liter.
4. Larutan buffer ferri klorida dibuat dengan cara melarutkan 0,25 gram
FeCl3.6H2O ke dalam 500 mL aquades dan diencerkan hingga 1 Liter.

Nilai BOD diukur dengan menghitung selisih antara konsentrasi oksigen terlarut
sebelum (DO0) dan sesudah inkubasi selama 5 hari (DO5). Pengukuran DO
menggunakan DO meter jenis DO-24P. Sebelum alat digunakan terlebih dahulu
DO meter dilakukan kaliberasi. Sampel sebanyak 20 mL dimasukkan ke dalam
gelas beaker 1000 mL dan ditambahkan larutan buffer masing-masing sebanyak 1
mL serta 1 tetes seed kemudian diencerkan hingga 800 mL. Setelah itu sampel
distirer selama 5 menit lalu dimasukkan ke dalam botol BOD ukuran 300 mL
39

(sampel dibuat duplo) dan dilakukan pengukuran DO0. Blanko dibuat dengan
memasukkan larutan buffer masing-masing 1 mL dan seed 1 tetes ke dalam gelas
beaker 1000 mL dan diencerkan hingga 800 mL. Kemudian blanko distirer
selama 5 menit lalu dimasukkan ke dalam botol BOD ukuran 300 mL (blanko
dibuat duplo) dan dilakukan pengukuran BO0. Setelah dilakukan pengukuran DO0
dan BO0, botol BOD ditutup rapat dan diinkubasi selama 5 hari pada suhu 20 oC di
ruang gelap. Pada hari ke-5 dilakukan pengukuran DO yang tersisa.
Rumus perhitungan BOD :
  DO0  DO5   BO 0  BO 5 
BOD (mg / L)    1000   1000  
 x P
  
 V1   V2 
Dengan :
DO0 = rata-rata DO sampel 0 hari (mg/L)
DO5 = rata-rata DO sampel 5 hari (mg/L)
BO 0 = rata-rata DO blanko 0 hari (mg/L)
BO 5 = rata-rata DO blanko 5 hari (mg/L)
V 1 = rata-rata volume botol sampel (mL)
V 2 = rata-rata volume botol blanko (mL)
P = Pengenceran

Chemical Oxygen Demand (COD)


Pengukuran karakteristik limbah berupa COD dilakukan dengan cara :
Sampel diaduk terlebih dahulu kemudian diambil sebanyak 0,2 mL atau 200 µl
menggunakan mikropipet. Masukkan ke dalam vial yang berisi reagen COD,
kemudian dipanaskan dengan reactor unit DRB200 pada suhu 150oC selama 2
jam. Setelah dipanaskan, vial dikeluarkan dan dibiarkan sampai suhunya sama
dengan suhu ruang kemudian diukur nilai COD dengan HACH Spektrofotometri
DR4000 (HACH Company, 2004). Analisis COD berbeda dengan analisis BOD
namun perbandingan antara nilai COD dan nilai BOD dapat ditetapkan seperti
yang disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Perbandingan rata-rata angka BOD5/COD untuk beberapa jenis air
Jenis air BOD5/COD
Air buangan domestik (penduduk) 0,40 – 0,60
Air buangan domestik setelah pengendapan primer 0,60
Air buangan domestik setelah pengolahan biologis 0,20
Air sungai 0,10
Sumber: Alaerts dan Santika (1984)
40

Metode Pengukuran Biogas di Kolam Air Limbah

Teknik yang dikembangkan adalah menggunakan metode Direct Floating


Material Method yaitu meletakkan kontainer plastik yang dilengkapi dengan
material mengambang (floating material), pemberat, selang plastik, katup, dan
gas-meter di atas kolam IPAL seperti pada Gambar 12.

(a) (b)
Gambar 12. Peralatan penangkap gas (a) dan gas meter (b) yang digunakan
untuk pengukuran biogas pada IPAL industri tapioka

Biogas dikumpulkan dari kolam No.4 menggunakan kontainer plastik


dengan 60 cm × 40 cm × 30 cm (panjang × lebar × kedalaman). Setiap titik peng-
ambilan sampel biogas memiliki waktu pengukuran selama 1-3 jam. Laju aliran
biogas yang keluar dicatat menggunakan meteran gas basah (WK-NK-0.5B,
Shinagawa Corporation, Jepang) dengan kapasitas laju alir 1-300 L/jam. Sampel
biogas diambil dari kolam air limbah No.4 untuk menentukan komposisi biogas.
Sampel biogas selanjutnya diukur dengan menggunakan alat analisis gas (GC-
2014, Shimadzu).

Nilai Tambah Pengelolaan Limbah Terhadap Lingkungan

Nilai tambah terhadap lingkungan dari pengelolaan limbah dihitung dari


pengolahan limbah cair, sementara untuk pengolahan limbah padat tidak dilaku-
kan perhitungan karena limbah padat diasumsikan dapat direduksi sampai ke titik
nol (zero). Nilai tambah terhadap lingkungan dari pengolahan limbah cair menjadi
biogas dilakukan dengan menghitung reduksi pencemaran gas rumah kaca (CH4)
setelah dilakukan pengolahan.
41

Reduksi gas CO2 dari pemanfaatan limbah cair dihitung dengan meng-
gunakan metode UNFCC (United Nation For Climate Change) tentang reduction
emission di pengolahan limbah dan penggunaan reaktor dengan bahan bakar
terbaharui (biogas) menggunakan IPCC 2006 Tools (Avoided waste water and on
site energy use emission in the industrial sector) dimana gas CO2 dikonversikan
sebagai bahan terbakar yang terperangkap pada pembentukan methane (Purwati,
2010). Rumus perhitungannya adalah sebagai berikut :

ER y  BE y  PE y …………………………………………………….………………(1)
Keterangan :
ERy : Emission reduction in the year y (pengurangan emisi CO2 pada
tahun y) t CO2
BEy : Baseline emission in the year y (emisi CO2 yang ditimbulkan
apabila tidak ada pemanfaatan pada tahun y) t CO2
PEy : Project emission in the year y (emisi CO2 yang ditimbulkan oleh
adanya pemanfaatan pada tahun y) t CO2

BE y  BE y , wwtread  BE y power ………………………………(2)

Keterangan :
BEy,wwtread : Baseline emission from open lagoon in the year y (emisi CO2
yang ditimbulkan dari kolam pengolahan terbuka apabila tidak
ada pemanfaatan pada tahun y)
BEy,power : Baseline emission year from power generator in the year y (emisi
CO2 yang ditimbulkan dari generator apabila tidak ada
pemanfaatan pada tahun y)

PE y  BE y 10% ………………………………………………………………………………………(3)
42

HASIL DAN PEMBAHASAN


Profil Tanaman Ubikayu Di Indonesia

Tanaman ubikayu tumbuh tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, namun


penyebarannya terbanyak di pulau Jawa dan Sumatera, masing-masing 50% dan
32% dari total luas panen ubikayu di Indonesia. Pulau Sumatera tanaman ubikayu
terbanyak di Provinsi Lampung (26,6 %), sedangkan pulau Jawa terbanyak di
Provinsi Jawa Timur (18,7 %) dan Provinsi Jawa Tengah (16,7 %) (Departemen
Pertanian, 2009).
Indonesia merupakan salah satu negara produsen ubikayu nomor 4 terbesar
di dunia setelah Nigeria, Brazilia dan Thailand. Luas lahan tanaman ubikayu di
Indonesia mengalami penurunan sejak tahun 2001 seluas 1.284.040 ha hingga
tahun 2009 seluas 1.205.440 ha seperti yang tertera dalam data statistik pada
Lampiran 2, namun produksi umbi ubikayu tetap mengalami peningkatan. Dengan
demikian, produktivitas tanaman ubikayu di Indonesia mengalami peningkatan
yang mungkin disebabkan tersedianya bibit yang lebih baik serta tehnik budidaya
yang lebih baik juga.
Provinsi dengan luas lahan ubikayu, produksi ubikayu dan produktivitas
ubikayu tertinggi di Indonesia adalah provinsi Lampung. Luas panen, produksi
dan produktivitas ubikayu di provinsi ini pada tahun 2009 masing-masing
mencapai 320.344 Ha, 7.885.116 ton dan 24,61 ton/ha. Data statistik pada
Lampiran 3. menunjukkan sepuluh provinsi dengan luas lahan tanaman ubikayu
terbesar di Indonesia, sedangkan Lampiran 4. dan Lampiran 5. masing-masing
menunjukkan sepuluh provinsi dengan tingkat produksi dan produktivitas ter-
tinggi.
Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat produktivitas tertinggi dicapai
oleh provinsi di Sumatera, kemudian di Jawa dan di Sulawesi, sedangkan tingkat
produktivitas di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kalimantan Barat rendah,
sehingga walaupun luas panen dan produksinya masuk dalam 10 besar, tetapi
produktivitasnya tidak masuk ke dalam 10 besar.
Provinsi Lampung sebagai salah satu sentra produksi ubikayu di Indonesia
hampir merata diusahakan terutama pada lahan kering yang marjinal. Hal tersebut
43

didorong oleh karena mudahnya teknologi budidaya dan kecilnya risiko dalam
usahatani ubikayu. Perkembangan luas panen ubikayu, produksi ubikayu, dan
produktivitas ubikayu di Provinsi Lampung disajikan pada Lampiran 6.
Ubikayu sebagai bahan baku industri dapat diolah menjadi berbagai produk
antara lain tapioka, glukosa kristal, fruktosa, sorbitol, high fructose syrup (HFS),
dekstrin, alkohol, etanol, asam sitrat (citric acid), dan monosodium glutamate.
Dekstrin digunakan antara lain pada industri tekstil, kertas perekat plywood dan
farmasi/kimia. Asam sitrat dapat digunakan sebagai pemberi rasa asam dalam
pembuatan makanan kaleng, minuman, jams, jelly, obat-obatan. Selain itu asam
sitrat dapat pula digunakan sebagai pemberi rasa asam pada sirup, kembang gula
dan saus tembakau. Monosodium glutamate digunakan sebagai penyedap makan-
an. Sorbitol (produk akhir ubikayu) dibuat dari tapioka cair berwarna putih bening
seperti gel/putih mengkilat digunakan antara lain pada industri kembang gula/
permen dan minuman instan yang produknya mempunyai nilai jual yang tinggi,
serta dapat dimanfaatkan sebagai bahan pemanis untuk pasta gigi, kosmetik, dan
cat minyak (Hafsah, 2003).
Ubikayu merupakan bahan campuran pakan ternak yang cukup baik. Namun
demikian, penggunaannya di Indonesia masih sangat terbatas. Hal ini antara lain
disebabkan industri pakan ternak di Indonesia masih banyak menggunakan jagung
dan kedelai sebagai bahan baku utamanya. Negara pemakai hasil ubikayu untuk
pakan ternak yang cukup besar adalah Jerman dan Belanda, dimana > 50% meng-
gunakan campuran ubikayu sebagai pakan ternak. Bahan ubikayu yang digunakan
pada industri pakan ternak antara lain gaplek, chips, gaplek pellet, tepung gaplek,
ampas, dan tepung ampas tapioka (Hafsah, 2003). Ubikayu memiliki pohon
industri yang berspektrum luas seperti diperlihatkan pada Gambar 13.

Potensi Tanaman Ubikayu di Provinsi Lampung


Selama kurun waktu 2005-2009 produksi ubikayu di Provinsi Lampung
menunjukkan peningkatan sebesar 60,95 % yaitu dari 4.806.254 ton pada tahun
2005 menjadi 7.885.116 ton pada tahun 2009. Walaupun mengalami peningkatan
namun produktivitas ubikayu pada tahun 2009 di Provinsi Lampung masih relatif
rendah, yaitu sebesar 24,61 ton per hektar. Wargiono (1990), menyatakan bahwa
produktivitas rata-rata ubikayu dapat mencapai lebih dari 30 ton per hektar.
44

Kulit Industri pakan ternak

Industri pangan, kertas, kayu


Tapioka
lapis

Dektrin Industri tekstil, pharmasi dan


kimia

Gula Glukosa Industri makanan

Gula Fruktosa Industri makanan

Industri Kimia, pharmasi,


Ethanol Bio-fuel

Asam Organik Industri makanan dan Kimia

UBIKAYU
Senyawa kimia Industri Kimia
lain

Onggok Industri pakan ternak

Umbi Gaplek

Industri pakan ternak


Pellet

Industri Pangan: cassava


chip, cassava stick

Gambar 13. Pohon industri ubikayu


Sumber: (Wargiono dan Barrett, 1987)

Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan menggunakan metode quickscan


rendahnya produktivitas komoditas ubikayu di Provinsi Lampung disebabkan oleh
banyak faktor. Faktor utama adalah harga ubikayu yang masih rendah dan
kelembaman dalam pemasaran menyebabkan petani produsen kurang berminat
untuk meningkatkan produktivitas usahataninya. Faktor lain penyebab rendahnya
produktivitas ubikayu adalah posisi tawar petani yang lemah sebagai akibat dari
petani bekerja secara individual dalam struktur pasar yang cenderung oligopsoni,
sehingga harga cendrung turun pada musim panen dan merugikan petani. Harga
merupakan hal penting yang mempengaruhi keputusan petani untuk menentukan
45

jumlah luas areal yang akan ditanami dengan suatu komoditi tak terkecuali
ubikayu. Harga yang stabil dan tinggi menjadi insentif tersendiri bagi petani untuk
memperluas areal tanamnya. Perkembangan harga ubikayu dapat dilihat pada
Gambar 14.

Perkembangan Harga Jual Ubikayu Provinsi Lampung


800
700
600
Harga (Rp)

500
400
300
200
100
0
1995 1998 2001 2004 2007 2010 2013

Tahun

Gambar 14. Perkembangan Harga ubikayu di Provinsi Lampung

Berdasarkan Gambar 14. perkembangan harga ubikayu relatif meningkat


dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 16,6 persen per tahun. Peningkatan harga
yang drastis terjadi pada tahun 1999 dimana harga ubikayu meningkat 35 persen
dari Rp.318/kg menjadi Rp.432/kg. Tahun 2002 terjadi penurunan tingkat harga
ubikayu sebesar 42 persen dari Rp.549/kg menjadi Rp.317/kg. Hal ini terjadi
karena adanya panen raya yang mengakibatkan kelebihan penawaran ubikayu
sehingga pada akhirnya harga menjadi turun. Selanjutnya hingga tahun 2010
harga ubikayu mulai semakin meningkat mendekati harga Rp.700/kg.
Mengingat peranan ubikayu sebagai sumber bahan baku maka faktor harga
menjadi hal yang sangat penting untuk dijaga kestabilannya. Hal tersebut di-
maksudkan agar petani tidak menjadi pihak yang dirugikan karena memiliki
bargaining position yang lebih rendah. Kestabilan harga ini tentunya akan
menjadi jaminan bagi ketersediaan ubikayu sebagai bahan baku karena petani
memiliki insentif untuk memproduksi ubikayu yang memiliki harga jual yang
stabil. Adanya struktur pasar yang cenderung oligopsoni mendorong terjadinya
praktik-praktik yang merugikan petani produsen seperti curang timbang, dan tidak
46

jelasnya standar rafraksi. Keadaan tersebut sudah sering dikeluhkan oleh petani
ubikayu di Provinsi Lampung (Zakaria,1997).

Struktur Industri Tapioka di Provinsi Lampung

Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan menggunakan metode quickscan


diperoleh informasi industri tapioka yang ada di provinsi Lampung dapat
mengolah ubikayu sekitar 100-1.200 ton/hari/industri sesuai jumlah dan besarnya
kapasitas produksi. Selain itu, dalam waktu dekat akan beroperasi 2 pabrik
ethanol berbahan baku ubikayu yang akan menyerap sekitar 720.000 ton ubikayu/
tahun.
Tapioka yang dihasilkan Provinsi Lampung digunakan untuk industri
pangan dan non pangan (kertas, kayu lapis, dan papan partikel) di dalam negeri
dan sebagian diekspor. Khusus untuk gaplek sebagian besar digunakan sebagai
bahan baku industri pakan ternak di dalam dan di luar negeri terutama di Republik
Federal Jerman, Belanda, dan Prancis. Peluang ekspor gaplek Indonesia ke MEE
hanya mampu menguasai 17% sisanya sebagian besar dikuasai oleh Thailand
(PAE, 1990; dan BPS, 2008).
Sistem agribisnis ubikayu bagi masyarakat Lampung mampu menyediakan
lapangan kerja yang luas. Budidaya ubikayu bersifat labor intensif dengan me-
nyediakan lapangan kerja sebanyak 135 hari kerja setara pria (HKP)/ha/tahun; di
tingkat pabrik pengolahan, lapangan kerja yang tersedia sebesar 17.444 HKP/
tahun (untuk pabrik berkapasitas giling 300 ton ubikayu/hari). Selain itu, ubikayu
merupakan bahan baku bagi 65 pabrik tapioka dengan total kapasitas setara 5,2
juta ton ubikayu dan bagi 14 pabrik gaplek dengan total kapasitas setara 3,5 juta
ton ubikayu (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Lampung, 2006).
Hasil penelitian pendahuluan menggunakan metode quickscan, diperoleh
data informasi bahwa industri tapioka di Provinsi Lampung dalam memperoleh
bahan baku sangat bergantung dari petani dan pemasok/mitra binaan perusahaan.
Keberadaan industri tapioka yang cukup banyak dengan kapasitas produksi tinggi
mengakibatkan suplai bahan baku ubikayu tidak mencukupi kebutuhan industri
sehingga proses produksi tidak berjalan secara efektif. Hal ini berdampak negatif
dengan munculnya tengkulak yang menjadi pedagang perantara untuk mengambil
47

keuntungan secara sepihak dalam pengadaan bahan baku ubikayu bagi industri,
sehingga posisi petani yang akan dirugikan. Lemahnya posisi petani ubikayu
dalam menghadapi pengaruh fluktuasi harga, terutama disebabkan karena ubikayu
memiliki daya simpan yang rendah, dan produktifitasnya juga rendah akibat
modal usaha yang sangat terbatas, disamping kebutuhan keluarga yang sudah
sangat mendesak. Pendapatan petani ubikayu akan makin rendah lagi karena pada
saat dijual ke pabrik mendapatkan mutu ubikayunya rendah dan rafaksi yang
ditentukan secara sepihak oleh pabrik.
Industri tapioka sebagai pengguna bahan baku ubikayu sangat sulit mem-
peroleh kualitas bahan baku yang bermutu dengan kadar pati tinggi. Sulitnya
mengontrol kualitas bahan baku ubikayu ini karena bahan baku yg diterima dari
petani atau mitra binaannya memiliki mutu sangat bervariasi baik dari segi
varietas ubikayu yang tidak seragam, umur panen ubikayu yang bervariasi, dan
kondisi penyimpanan sementara bahan baku terlalu lama yang dapat menurunkan
kadar pati dalam ubikayu.
Berdasarkan hasil informasi tersebut di atas, penelitian ini hanya difokuskan
pada proses industri tapioka, sehingga dari segi penyediaan bahan baku ubikayu
pada tingkat on farm tidak dilakukan. Pada proses produksi industri tapioka akan
dikaji penggunaan air, pemanfaatan air limbah sebagai sumber salah satu sumber
energi terbarukan dan mengurangi dampak pemanasan global akibat dari efek gas
rumah kaca. Selain itu, akan dikaji alternatif pemanfaatan hasil samping dari
industri tapioka ini. Industri tapioka yang dipilih sebagai lokasi dalam penelitian
memiliki kapasitas produksi yang berbeda, dapat dilihat pada Tabel 9.

Industri Tapioka Skala Kecil


Industri tapioka skala kecil pada penelitian ini merupakan industri yang
menggunakan teknologi tradisional, yaitu industri pengolahan tapioka yang
menggunakan peralatan produksi teknologi mekanik yang sederhana dan masih
mengandalkan sinar matahari dalam tahap pengeringannya.
Industri tapioka A merupakan industri tapioka skala kecil dengan kapasitas
mesin terpasang 80 ton/hari bahan baku ubikayu. Bahan baku industri tapioka
yang diolah pabrik berasal dari kebun sendiri dan dari petani yang menjual
langsung ke lokasi pabrik. Bahan baku yang diolah tidak memiliki kualifikasi
48

mutu bahan baku tertentu karena untuk mendapatkan bahan baku ubikayu yang
akan diolah, perusahaan harus bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar
dalam jumlah maupun harga bahan baku yang dibeli.
Tabel 9. Karakteristik industri tapioka yang dipilih sebagai lokasi penelitian
Uraian Industri tapioka
Satuan
A B C D E
ton/har
Bahan Baku Ubikayu 80,00 600,00 750,00 800,00 1.800,00
i
ton/har
Produksi tapioka 20,48 150 187,50 190,02 450,00
i
Skala Skala Skala Skala Skala
Skala Produksi -
kecil besar besar besar besar
Semi
Otomati Otomati Otomati Otomati
Teknologi - otomati
s s s s
s
Operasional hari 25,00 25,00 26,00 25,00 26,00
Listrik Listrik Listrik Listrik
Sumber Energi - Listrik dan dan dan dan
BBM BBM BBM BBM
Penggunaan Air m3/hr 400,00 2.640,00 3.750,00 3.420,43 7.712,55
Sumur Sumur Sumur Sumur Sumur
Sumber Air -
dalam dalam dalam dalam dalam
m3/ton
Indeks Air 19,53 17,60 20,00 19,69 17,14
tapioka
kWh/ton
Indeks Listrik - 193,52 207,39 197,12 -
tapioka
L/ton
Indeks BBM - - 37,05 36,98 34,47
tapioka
Air Limbah m3/hr 395,38 1.690,00 2.112,50 3.629,46 5.713,93
Limbah padat
 Ampas/Onggok ton/hr 9,60 180,00 225,00 266,03 675,01
 Kulit ton/hr 1,16 43,23 53,00 72,21 149,99
 Bonggol/kotoran ton/hr 0,59 8,76 11,24 14,08 90,00

Secara umum tahapan proses produksi pada Industri tapioka A dengan


kapaitas mesin 80 ton/hari bahan baku ubikayu sebagai berikut:
a. Pengupasan; ubikayu dapat dilaksanakan di pabrik atau pabrik membeli
ubikayu yang telah dikupas. Selama proses pengupasan, sortasi ubikayu juga
dilakukan untuk memilih ubikayu berkualitas tinggi.
b. Pencucian; ubikayu yang telah dikupas lalu dicuci dalam bak pencuci, yang
banyak dilakukan dengan tenaga manusia dan ban berjalan (belt conveyer)
sederhana.
49

Gambar 15. Proses pengupasan ubikayu

Gambar 16. Proses pencucian ubikayu


c. Pemarutan; ubikayu yang sudah dikupas dan dicuci, selanjutnya dimasukan
ke dalam parutan mekanik sambil diberi air.

Gambar 17. Proses pemarutan ubikayu


50

d. Pengayakan; parutan aci basah dimasukkan ke dalam ayakan dari kawat


dibingkai berukuran kira-kira 1 x 3 meter, yang bergerak/bergoyang dengan
as eksentrik. Air aci dialirkan ke dalam bak sedangkan onggok ditampung
untuk dijemur.

Gambar 18. Pengayakan parutan pati ubikayu

Gambar 19. Air aci dialirkan pada bak pengendapan


e. Pengendapan; air aci yang berupa susu masuk ke dalam bak pengendapan.
Panjang bak tersebut ada yang mencapai 100 m. Ketebalan endapan dari
ujung  50 cm, lalu menurun hingga habis ketebalannya. Tapioka dalam bak
ini sudah dapat ditentukan kelas mutunya, antara lain terbaik terletak pada
meter kedua hingga meter kelima.
51

Gambar 20. Proses pengendapan aci ubikayu

Gambar 21. Tapioka basah yang siap untuk dijemur

f. Pengeringan; tapioka basah diambil dengan sekop dan dijemur menggunakan


tampah (nampan bambu  100 cm).

Gambar 22. Penjemuran tapioka basah


52

g. Penghalusan; tapioka kering yang telah dijemur kemudian dimasukkan ke


dalam mesin penghalus, dan akhirnya lewat saringan terkumpul dalam bak.
h. Pengepakan; tapioka kering dan halus dalam bak dimasukkan ke dalam
karung, tetapi hal ini tidak dapat dilakukan bersama-sama saat mesin peng-
halus sedang berjalan sebab bak pengumpul tersebut tertutup rapat agar
tapioka tidak beterbangan.
Secara rinci penggunaan air dan energi industri tapioka A dapat dilihat pada
Gambar 23.
Ubi Kayu 80 ton

Air cucian 46.36 m3


Air 44,3 m3
Pencucian dan Pengupasan
Kulit 11,6 ton
Meniran 0,36 ton

Pemarutan Kotoran,serat 0,23 ton

Ampas 9,6 ton


Penyaringan

Air 355,7 m3 Pengendapan Air 349,02 m3

Penjemuran, Penghalusan, Air menguap 4,62 m3


dan Pengemasan
Pati menguap

Tapioka 20.48 ton

Gambar 23. Neraca massa dan air industri tapioka A


53

Dalam melakukan pengolahan terhadap limbah yang dihasilkan, industri


tapioka A telah melakukan berbagai metode pengolahan untuk mengolah air
limbah dan limbah padat yang dihasilkan dari pabrik. Proses pengelolaan air
limbah yang dihasilkan, industri tapioka A telah lama memiliki IPAL berupa
kolam-kolam penampung limbah yang berjumlah empat buah kolam yang cukup
untuk menampung air limbah yang dihasilkan dari pabrik, selain kolam penam-
pung, limbah padat yang berupa onggok juga telah dilakukan pengolahan dengan
metode penjemuran untuk menghasilkan onggok kering. Sistem pengolahan air
limbah dengan kondisi demikian belum termanfaatkan secara optimal sehingga
dapat mengganggu estetika lingkungan dan memberikan sumbangan terhadap
potensi pemanasan global dari gas rumah kaca yang dihasilkan. Selain itu, limbah
meniran yang yang dihasilkan tidak dimanfaatkan sehingga terjadi penumpukan
yang menimbulkan bau dan gundukan yang mempersempit lokasi pabrik.

Proses pengepresan onggok Proses pengendapan pati

Proses penjemuran onggok Kolam air limbah

Gambar 24. Kondisi eksisting indistri tapioka A


Air limbah tersebut dapat menghasilkan gas CH 4 dan CO2 sehingga sangat
potensial untuk dimanfaatkan sebagai salah satu sumber energi terbarukan.
Metode penangkapan gas metana dan karbondioksida dengan menggunakan
sistem CIGAR (Covered In Ground Anaerobic Bioreactor) merupakan metode
54

penangkapan biogas dengan cara membuat kolam penampung limbah dan


menutup kolam tersebut dengan menggunakan plastik jenis HDPE (High Density
Poly Ethylene) dengan ketebalan minimum 1,0 mm. Sistem CIGAR dapat
mereduksi sedikitnya 95% BOD, 75% COD dan mereduksi warna limbah. Sistem
CIGAR merombak bahan organik melalui tiga tahap proses biologi (hidrolisis,
asido-genesis, dan metano-genesis). Penggunaan HDPE sebagai penutup kolam
pada sistem CIGAR adalah karena HDPE memiliki elastisitas yang baik, jika
biogas diproduksi dengan baik, maka penutup akan mengembang keatas dan jika
sedang tidak ada biogas, maka plastik penutup akan rata dengan permukaan kolam.
Selain itu, plastik HDPE memiliki sifat porositas yang baik, sehingga biogas yang
dihasilkan tidak hilang keluar melalui pori plastik tersebut.
Sistem CIGAR dengan HDPE (High Density Poly Ethylene) sebagai cover
dalam memproduksi biogas dari air limbah tapioka yang telah diterapkan di
industri tapioka A ini dibangun pada bulan Januari 2010. Bioreaktor ini memiliki
volume sebanyak 4.410 m3 dengan laju alir umpan sebanyak 182.736 m 3.
Berdasarkan volume reaktor dan laju alir umpan tersebut, air limbah di dalam
bioreaktor memiliki waktu tinggal hidrolik selama 24 hari.
Berdasarkan pengembangan teknologi yang telah dilakukan terutama yang
berkaitan dengan optimasi proses pembentukan gas metana maka biogas yang
dihasilkan pada IPAL di industri tapioka masih dapat ditingkatkan jumlahnya.
Teknik tersebut kemungkinan lebih layak dilakukan untuk agroindustri yang telah
berjalan dan mengolah air limbahnya dengan sistem kolam (Gambar 25).

Gambar 25. IPAL industri tapioka A setelah di tutup dengan plastik HDPE
55

Industri tapioka A dengan hasil karakterisasi limbah yang telah dilakukan


terhadap kinerja CIGAR yaitu nilai T-COD inlet rata-rata adalah sebesar 10.650
mg/L dan nilai T-COD outlet rata-rata adalah sebesar 1.915 mg/L. Nilai T-COD
removal adalah 8.735 mg/L, sehingga nilai T-COD removal/hari adalah sebesar
1605056,25 mg/L atau 1.605,06 g/L.
Konsentrasi gas metana dalam biogas adalah 54,36% (Mulyadi, 2011) dan
prosentase T-COD removal adalah 82,019%, sehingga didapat produksi gas
metana yang dihasilkan dari CIGAR adalah 460,76 m 3/kg COD/hari dan produksi
biogas yang dihasilkan adalah sebesar 847,64 m3/hari atau 309.388,23 m3/tahun.
Karakterisasi terhadap air limbah yang diolah menjadi biogas digunakan
untuk menghitung produksi gas yang dihasilkan dari reaktor CIGAR yang
nantinya akan digunakan untuk menganalisis manfaat ekonomi dari pengolahan
air limbah dengan metode penangkapan biogas dengan cara mengkonversi nilai
produksi biogas dengan nilai bahan bakar atau energi yang disetarakan.
Karakterisasi air limbah untuk menghitung potensi biogas dari reaktor meliputi
nilai COD pada inlet dan outlet serta nilai COD removal air limbah.

Industri Tapioka Skala Besar

Industri tapioka skala besar pada penelitian ini merupakan industri yang
menggunakan teknologi modern dari proses awal sampai produk jadi. Industri B,
industri C, industri D, dan industri E yang menggunakan peralatan full outomate
ini memiliki efisiensi tinggi, karena proses produksi memerlukan tenaga kerja
yang sedikit, waktu operasional produksi lebih pendek dan menghasilkan tapioka
berkualitas.
Kapasitas produksi tapioka yang dihasilkan industri B sebesar 150 ton/hari,
Industri C sebesar 187,5 ton/hari, industri D sebesar 200 ton/hari. Sedangkan
industri tapioka E memiliki 2 unit mesin produksi dengan kapasitas terpasang 200
ton/hari dan 250 ton/hari. Kondisi industri tapioka dapat dilihat pada Gambar 26.
Berdasarkan data Tabel 12, diperoleh tingkat efisiensi penggunaan air
semakin tinggi dengan semakin meningkatnya kapasitas mesin produksi yang
digunakan. Penggunaan air bersih berkisar antara 4,28-5,00 m3/ton ubikayu.
56

Gambar 26. Kondisi eksisting Industri tapioka skala besar

Air yang digunakan bersumber dari air sumur dalam/air bawah tanah,
sehingga terjadi pemborosan dalam penggunaan air bersih untuk masing-masing
industri tapioka. Industri tapioka B memanfaatkan air bersih sebesar 2.640
m3/hari, industri C sebesar 3.750 m3/hari, industri D sebesar 3.424 m3/hari, dan
industri E sebesar 7.712,55 m3/hari. Penggunaan air tersebut akan berakibat
tingginya pajak yang harus dibayarkan oleh industri yang diatur dalam Peraturan
Daerah Provinsi Lampung No. 4/2002 tentang Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan
Air Permukaan. Salah satu keputusan dari peraturan daerah tersebut disebutkan
penggunaan air di atas 2.500 m3 untuk niaga dikenai tarif Rp1.035,-/m3. Selain itu,
tingginya penggunaan air bawah tanah akan berdampak pada penurunan jumlah
dan mutu air tanah, yang dibuktikan dengan penurunan muka air yang menerus,
penyusupan air laut di daerah pantai, serta amblesan tanah.
Bahan baku yang baru datang ke pabrik, terlebih dahulu ditimbang untuk
mencari bobot brutonya. Setelah ditimbang mobil menuju ke lapangan ubikayu
untuk dilakukan pemeriksaan oleh petugas KIR ubikayu untuk melakukan
penaksiran besaran refaksi/potongan berat yang akan diberlakukan.
57

Gambar 27. Proses pengangkutan bahan baku ubikayu

Tafsiran refaksi dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) dengan menimbang
kadar aci dari sampel 5 kg ubikayu; (2) menaksir kandungan tanah, dan kotoran
yang terbawa oleh ubikayu tersebut. Setelah selesai penimbangan dan kir, muatan
truk tersebut kemudian diturunkan ke lantai penghamparan/ penyimpanan. Mobil
kembali ditimbang untuk mendapatkan bobot bersih kendaraan. Dengan demikian
bobot ubikayu (yang akan dipakai sebagai dasar pembayaran kepada pemasoknya
adalah:
Bobot Netto = Bobot Bruto – Bobot Truk kosong - Refaksi

Gambar 28. Proses penentuan kualitas dan pengukuran kadar pati ubikayu

Bahan baku ubikayu industri tapioka diperoleh dari petani, pemasok/mitra


binaan perusahaan. Jumlah lahan dari pemasok/mitra berdasarkan informasi dari
perusahaan seluas ± 45.000 ha dengan menghasilkan ± 20 ton/ha ubikayu.
Varietas ubikayu unggul yang biasa ditanam, antara lain Adira 1, Adira 4, Adira 2,
Darul Hidayah, Malang 1, Malang 2, Malang-4, Malang-6, UJ-3, dan UJ-5.
Beberapa varietas ubikayu dan keunggulannya dapat dilihat pada Lampiran 8.
58

Hasil pengukuran lapangan kadar pati varietas ubikayu yang dominan


digunakan industri tapioka disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Kadar pati varietas ubikayu di wilayah studi

No. Jenis sampel Kadar Pati (%)


1. Ubikayu varietas Kasertsat 18,15
2. Ubikayu varietas Thailand 16,99

Berdasarkan Tabel 10, rendahnya hasil pengukuran kadar pati di lapangan


dipengaruhi oleh variasi umur ubikayu yang dipanen tidak seragam, lamanya
proses penampungan sementara sebelum proses pengolahan sehingga terjadi
proses fermentasi yang berdampak pada menurunnya kandungan pati dalam bahan
baku ubikayu.
Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian, tahapan proses produksi
tapioka pada industri tapioka skala besar di Provinsi Lampung memiliki kesamaan
dalam tahapannya. Tahapan proses produksi yang disajikan dibawah ini adalah
industri tapioka D dengan kapasitas 800 ton/hari. Industri tapioka D memiliki data
yang cukup, sehingga dipilih untuk dikaji lebih dalam tahapan proses produksi-
nya. Diagram alir proses produksi industri tapioka D disajikan pada gambar 28.
Secara lebih rinci tahapan proses produksi industri tapioka D sebagai berikut:
1. Pembersihan
Bahan baku ubikayu dengan jumlah 800 ton dikumpulkan dalam tempat
penampungan. Pembersihan yang dilakukan terhadap bahan baku bertujuan
untuk membersihkan benda-benda asing seperti batang, ubikayu busuk, debu,
pasir, tanah dan kotoran (benda asing) lainnya. Pembersihan dilakukan dengan
cara peniupan angin yang bertekanan tinggi atau dengan sistem vibrasi dan
saringan berputar. Setelah pembersihan dilakukan penimbangan bahan baku
yang sudah dibersihkan.
2. Pencucian dan Pengupasan Kulit
Pencucian bahan baku dilakukan dengan menggunakan air yang disemprotkan
pada bagian ujung atas dari ban berjalan (belt conveyer) yang mempunyai
kemiringan tertentu. Dengan demikian tanah, pasir, dan kotoran-kotoran
59

lainnya yang masih melekat pada bahan baku terbawa bersama air mengalir.
Tahap selanjutnya adalah pengupasan kulit (peeler).
Hasil hitungan neraca massa dan air diperoleh bahwa proses pencucian dan
pengupasan ubikayu ini membutuhkan air sebesar 1.026,13 m 3, Proses
pencucian dan pengupasan ubikayu menghasilkan produk samping berupa air
cucian sebesar 1.007,13 m3 air cucian, kotoran kulit sebesar 72,21 ton, dan
meniran sebesar 14,08 ton. Sedangkan produk ubikayu hasil pencucian dan
pengupasan sebesar 746,79 ton.

Gambar 29. Neraca massa dan air proses pengupasan dan pencucian ubikayu

3. Sortasi
Proses sortasi (penyortiran) terhadap bahan baku dilakukan dengan tujuan
untuk memisahkan bahan baku yang mempunyai kualitas rendah yaitu bahan
baku yang berkayu, dan mulai membusuk yang dilakukan secara manual.
Bagian umbi yang membusuk dipotong dan bagian yang masih segar tetap
digunakan. Umbi yang masih kotor atau belum sempurna terkupas dikembali-
kan ke alat pencuci pencuci dan pengupas kulit.
4. Pencacahan
Ubikayu yang telah disortasi kemudian ditimbang dan ditransportasikan
dengan ban berjalan (belt conveyer) menuju suatu alat pencacah (choper).
Pencacahan dilakukan sedemikian rupa (dirajang) hingga menjadi potongan
kecil (chip) yang mempunyai ketebalan antara 30-50 mm.
5. Pemarutan
Potongan kecil (chip) yang terbentuk ditampung dalam alat pengumpan
(feeder) untuk diumpankan ke dalam alat pelumat (desintegrator atau rasper).
60

Gambar 30. Neraca massa dan air proses pencacahan dan pemarutan ubikayu

Di dalam desintegrator, chip dilumatkan menjadi bubur umbi. Pada operasi


pelumatan diharapkan dapat menghasilkan pati yang maksimal dan tanpa
menghasilkan serat halus yang terlalu banyak, karena kandungan serat halus
yang terlalu banyak dapat mempengaruhi efisiensi hasil. Air bersih yang
dibutuhkan untuk proses pemarutan sebesar 247,03 m 3. Bubur ubikayu yang
dihasilkan dari proses pemarutan sebesar 993, 82 ton.
6. Ektraksi Pati
Ekstraksi pati dilakukan dengan cara bubur umbi dimasukkan ke dalam alat
ekstraktor secara bertingkat (3 tahap). Bubur umbi disaring dengan saringan
statis (static screen) dengan tujuan serat dan partikel kasar dapat dipisahkan.
Bubur umbi yang lolos saringan dialirkan menuju saringan berputar (rotary
conical screen) sehingga partikel-partikel yang lebih halus (terutama serat)
dapat dipisahkan.
Ektraksi bisa juga dilakukan dengan alat ekstraktor jet dengan model nozzle
berputar (jet extractor, rotary nozzle type). Alat tersebut termasuk alat pemu-
tar (centrifuge) dengan saringan miring (sliding screen) yang didalamnya di-
lengkapi dengan suatu system pencuci khusus (nozzle). Dalam sistem tersebut
butir-butir pati dan partikel-partikel halus terlempar keluar dan ampas serta
partikel yang tidak lolos saring akan semakin kecil mengandung pati. Air
bersih yang digunakan pada tahap ekstraksi pati ini sangat tinggi sebesar
1.387,17 m3.
61

Gambar 31. Neraca massa dan air proses ekstraksi bubur ubikayu
Produk samping yang dihasilkan berupa air sisa ekstraksi sebesar 741,09 m 3
dan limbah padat berupa ampas sebesar 266,03 ton.
7. Pengurangan Air (Dewatering)
Pati yang dihasilkan dari penyaringan ditampung dalam tangki pengumpan
atau dipompa untuk dimasukkan ke dalam separator sentrifugal dengan tujuan
agar serat-serat halus yang terkandung didalamnya dapat dipisahkan. Bahan-
bahan yang terlarut dipisahkan dengan cara pencucian yang berulang di dalam
separator. Pati yang sudah murni tersebut dialirkan ke dalam hidrocyclone
atau bak-bak pengendapan untuk dipisahkan airnya. Kebutuhan air bersih
pada proses ini sebesar 760,10 m3.

Gambar 32. Neraca massa dan air proses dewatering susu pati ubikayu

Pati yang sudah mengalami banyak kehilangan air tersebut dialirkan menuju
alat pemutar atau penapis vakum (rotary vacuum filter) untuk dibuang airnya
lebih lanjut (de-watering). Air sisa yang dihasilkan dari proses de-watering
sebanyak 1.254,16 m3. Air sisa tersebut selama ini belum dimanfaatkan dan
langsung dibuang menuju kolam IPAL. Tapioka basah yang dihasilkan dari
proses de-watering ini sebesar 252,73 ton.
62

Gambar 33. Neraca massa dan air proses sentrifuse susu pati

8. Pengeringan
Alat pengering yang biasa digunakan untuk mengeringkan pati adalah alat
pengering tipe pneumatic (pneumatic flesh drier suction type). Dalam sistem
pengeringan tersebut pati basah ditransformasikan menggunakan kotrek
(screw conveyer) menuju zona pengisapan (suction zone). Udara pengeringan
dihasilkan dengan cara pemanasan udara, pati digerakkan menuju bagian atas
alat pengering yang selanjutnya disemprotkan ke bagian bawah alat pengering
terdapat ruangan yang mengandung udara panas yang mempunyai suhu antara
50oC – 60oC. Pati kering yang dihasilkan dialirkan menuju unit ayakan untuk
memisahkan gumpalan-gumpalan pati kering sehingga terbentuk pati kering
yang halus.

Gambar 34. Neraca massa dan air proses pengeringan dan pengemasan tapioka

9. Pengemasan
Pati kering yang halus selanjutnya dimasukkan ke dalam silo, lalu dikemas ke
dalam kemasan yang terbuat dari bahan blacu atau karung plastik yang di
dalamnya dilapisi dengan plastik. Produk tapioka yang dihasilkan proses
produksi industri tapioka dengan bahan baku 800 ton/hari sebesar 190,02 ton.
63

Proses produksi industri tapioka skala besar secara lengkap disajikan pada
Gambar 35. di bawah ini.

Gambar 35. Diagram alir proses produksi industri tapioka D

Pengelolaan Limbah Industri Tapioka

Sumber dan Karakteristik Limbah


Limbah merupakan sesuatu yang dihasilkan dari suatu proses produksi atau
proses penunjang yang mendukung proses utama selain produk yang diinginkan.
Limbah dihasilkan karena adanya inefisiensi di segala aktivitas dan adanya bahan
atau materi dan/atau energi yang tidak dapat digunakan kembali bagi kegiatan
64

produksi tersebut. Industri tapioka menghasilkan tiga macam limbah, yaitu


limbah padat, air limbah dan limbah gas. Limbah yang dihasilkan sebagian besar
didominasi oleh air limbah yang kemudian diikuti oleh limbah padat.

Air limbah
Proses pembuatan tapioka memerlukan air untuk memisahkan pati dari
serat. Pati yang larut dalam air harus dipisahkan. Teknologi yang ada belum
mampu memisahkan seluruh pati yang terlarut dalam air, sehingga air limbah
yang dilepaskan ke lingkungan masih mengandung pati.
Air limbah akan mengalami dekomposisi secara alami di badan-badan
perairan dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Bau tersebut dihasilkan pada
proses penguraian senyawa mengandung nitrogen, sulfur dan fosfor dari bahan
berprotein (Zaitun, 1999; Hanifah dkk, 1999).

Pencucian ubikayu Air buangan pencucian ubikayu

Air separator

Gambar 36. Jenis air limbah proses produksi tapioka

Air limbah yang dihasilkan pada proses pengolahan pati tapioka berasal dari
proses pencucian, pembersihan alat produksi dan lantai pabrik serta dari proses
pemisahan pati ubikayu. Air limbah dari hasil pengolahan pati tapioka terdiri atas
air dan sisa pati tapioka yang ter-suspensi dalam air. Air limbah yang dihasilkan
oleh industri tapioka skala besar ini berkisar antara 4,28-5,00 m3/ton ubikayu.
65

Menurut Nurhasan dan Pramudyanto (1991), tingginya kandungan bahan-


bahan organik tersebut dapat mempengaruhi keseimbangan lingkungan untuk
menetralisasinya. Hal tersebut menyebabkan warna perairan berubah menjadi
kehitaman, menurunkan kadar oksigen di dalam air, dan dapat menyebabkan bau
busuk. Secara alami limbah tersebut dapat terdegradasi di lingkungan, akan tetapi
penumpukan limbah organik di wilayah perairan seperti sungai, sumur, danau
akan menurunkan kandungan oksigen terlarut.
Parameter yang biasa dilakukan untuk mengukur nilai tinggi rendahnya
kandungan oksigen terlarut pada suatu badan air adalah dengan menentukan nilai
COD dan BOD. Semakin tinggi nilai kedua parameter tersebut maka semakin
rendah kandungan oksigen terlarut pada suatu badan air tersebut.
Air limbah yang dihasilkan dalam proses produksi industri tapioka dibagi
dalam dua jenis yaitu: air limbah dari separator (proses ekstraksi, separator dan
sentrifuse) dan air limbah dari cucian (pencucian bahan baku dan pencucian
peralatan). Kandungan COD dalam air limbah dari separator masih sangat tinggi
yaitu 20.433 mg/L, sedangkan kandungan COD air limbah dari cucian sangat
rendah yaitu 2.015 mg/L. Karakteristik kualitas air limbah dari separator dan
cucian dapat di lihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Karakteristik kualitas air limbah dari separator dan cucian

Komponen DO Suhu COD BOD5


pH (mg/L) (OC) (mg/L) (mg/L)
Air limbah dari Separator 6,01 6,62 29,6 20.433 11.466
Air limbah dari Cucian 7,68 2,36 30,4 2.015 1.132

Menurut Soeriaatmadja (1984), limbah industri tapioka yang dibiarkan


terbuang diperairan terbuka akan menimbulkan 5 perubahan kualitas air, yaitu:
1) Peningkatan zat padat berupa senyawa organik, sehingga timbul kenaikan
limbah padatan, tersuspensi maupun terlarut
2) Peningkatan kebutuhan oksigen oleh mikroba-pembusuk senyawa organik,
dinyatakan dengan BOD5
3) Peningkatan kebutuhan oksigen untuk dekomposisi kimiawi dalam air,
dinyatakan dalam COD
66

4) Peningkatan senyawa zat racun dalam air dan pembawa bau busuk dan
menyebar keluar dari ekosistem akuatik
5) Peningkatan derajat keasaman dinyatakan dengan pH akan merusak
keseimbangan ekosistem akuatik/perairan terbuka.

Bahan organik yang terdapat di perairan sebenarnya menguntungkan bagi


hewan air, karena merupakan sumber pangan bagi hewan-hewan tersebut. Namun,
dalam kadar yang tinggi justru mengancam lingkungan perairan. Bila persediaan
oksigen di perairan cukup, maka terjadi dekomposisi aerobik yang pada umumnya
tidak menghasilkan zat-zat yang bersifat toksik terhadap organisme air. Sebalik-
nya, jika ketersediaan tidak mencukupi akan terjadi perombakkan anaerobik yang
akan menghasilkan hidrogen sulfida dan amonia yang keduanya bersifat toksik
bagi hewan air.
Menurut Grady dan Lim (1980), kebutuhan oksigen ditentukan oleh kadar
pencemar yang dapat diuraikan secara biologi (biodegradable pollutant), artinya
kebutuhan oksigen ditentukan oleh bobot oksigen yang diperlukan untuk oksidasi
zat pencemar menjadi senyawa yang stabil. Jika kandungan senyawa organik dan
anorganik cukup besar, maka apabila oksigen yang terlarut dalam air akan
mencapai nol, sehingga mengancam kehidupan biota air.
Air limbah industri tapioka biasanya mengandung bahan organik baik yang
larut maupun yang tidak larut dalam air, sehingga air limbah industri tapioka lebih
cocok bila diolah secara biologi. Namun mengingat bahwa kandungan bahan
organik maupun padatan terlarut serta volume limbah yang dihasilkan sangat
berfluktuasi, maka perlakuan secara fisika dan kimia masih diperlukan.
Industri tapioka skala besar memiliki sarana pengolahan air limbah. Semua
industri tapioka tersebut menggunakan sistem kolam (lagoon) untuk mengolah air
limbah yang dihasilkan dari proses produksi tapioka. Salah satu industri tapioka
D memiliki 15 kolam instalasi pengolahan air limbah dengan luas wilayah 11,7 ha.
Lay out kolam air limbah industri tapioka D disajikan pada Gambar 37.
67

Gambar 37. Lay out pengolahan air limbah industri tapioka

Air limbah yang dihasilkan dari proses produksi industri tapioka terus
mengalir dari kolam No.1 sampai kolam No.15 dengan kedalaman rata-rata 3
meter. Kolam air limbah nomor 15 merupakan kolam air limbah yang terakhir
(outlet) sebelum dibuang ke perairan umum, sesuai Peraturan Gubernur Lampung
Nomor 7 Tahun 2010 tentang baku mutu air limbah usaha dan/atau kegiatan di
Provinsi Lampung, maka seluruh industri tapioka di Provinsi lampung diwajibkan
harus memenuhi kriteria baku mutu yang telah ditentukan tersebut. Karakteristik
air limbah yang dihasilkan dari outlet industri tapioka sampel penelitian disajikan
pada Tabel 12.

Tabel 12. Karakteristik air limbah yang dihasilkan dari industri tapioka
Hasil Pengukuran titik Outlet
Parameter Satuan
Industri A Industri B Industri C Industri D Industri E

pH 7,81 8,15 6,80 7,45 7,12


O
Temperatur C 28,50 27,50 29,00 30,50 29,50
Dissolved oxygen (DO) (mg/L) 4,57 4,82 5,02 4,96 4,68
Chemical oxygen demand (COD) (mg/L) 169,00 295,00 103,00 266,00 198,00
Biological oxygen demand (BOD) (mg/L) 67,80 129,00 52,04 102,00 92,00
Total suspended solid (TSS) (mg/L) 42,00 51,00 27,00 39,00 44,00
Asam Sianida (HCN) (mg/L) 0,008 0,006 0,004 0,003 0,005

Berdasarkan Tabel 12. Tersebut, nilai COD dan BOD industri B dan industri
C belum memenuhi kriteria baku mutu yang ditetapkan sebesar 250 mg/L dan 100
mg/L, sehingga perlu dilakukan perbaikan pada proses pengolahan air limbahnya.
Salah satu penyebab tingginya nilai COD dan BOD tersebut akibat pendangkalan
68

kolam IPAL karena jumlah limbah padat berupa kulit, serat dan meniran yang
masuk kedalam kolam IPAL cukup banyak.
Industri tapioka potensial di Provinsi Lampung yang disurvai telah
mempunyai IPAL dengan sistem kolam biologis yang terdiri atas kolam anaero-
bik, fakultatif, dan aerobik. Sampel gas diambil dari kolam No.4 yang memiliki
luas wilayah 0,52 ha.
Kolam anaerobik No.4 IPAL industri tapioka merupakan kolam keempat
yang dimasuki oleh air limbah tapioka setelah kolam anaerobik 1, anaerobik 2,
dan anaerobik 3. Hasil survei yang dilakukan pada tanggal 11 januari 2008, sistem
pengolahan air limbah yang ada di salah satu industri tapioka berupa kolam-kolam
biologis. Kolam tersebut terdiri dari kolam penampungan, kolam pengendapan,
kolam anaerob, kolam fakultatif, kolam aerob, kolam biokontrol, dan kolam bahan
berbahaya dan beracun. Kolam anaerobik 4 ini memiliki luas sekitar 5.233 m 2
dengan kedalaman 3-4 meter, serta daya tampung kolam adalah 13.998 m 3.
Karakteristik kolam anaerobik 4 ini adalah berwarna hitam, berbau busuk, jumlah
padatan terapung sedikit, aktifitas mikroba sangat tinggi, sedikit buih, dan jika
diamati akan terlihat gelembung-gelembung gas CO2 yang keluar dari dasar
kolam. Karakteristik air limbah pada kolam anaerobik di salah satu industri
tapioka di Provinsi Lampung dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Karakteristik air limbah di kolam anaerobik I, II, III, IV.
Karakteristik Kolam 1 Kolam 2 Kolam 3 Kolam 4
PH 4,39 6,92 7,05 6,95
Kekeruhan (FAU/NTU) 2.606 359,0 236 7,25
Padatan normal (mg/L) 4.680 1.104 956 1796
Padatan tersuspensi (mg/L) 2.742 224,0 224 520
Padatan terendap (%) 4 0 0 0,20
COD (mg/L) 11.130 396,0 154,0 783
BOD5 (mg/L) 8.624,7 - 24,0 563,9
Volatil acid (mg/L) 1.500 102,0 - 192

Pengukuran COD influen kolam No.1 di bulan Februari sebesar 7.465 mg/L
merupakan yang terendah nilai dan pada bulan Agustus adalah 13.640 mg/L yang
merupakan nilai tertinggi. Beberapa Penelitian melaporkan variasi COD air
limbah dengan investigasi ke beberapa pabrik tapioka di Vietnam nilai COD
69

berkisar 11.000 - 13.500 mg/L (Hien et al., 1999) dan pabrik tapioka di Thailand
nilai COD berkisar 12.966-19.278 mg/L (Sriroth et al., 2000).
Menurut Kamahara et al. (2010) bahwa nilai COD air limbah dari pabrik
tapioka tidak hanya memiliki variasi dari masing-masing pabrik tetapi juga
dipengaruhi oleh perubahan musim. Dalam kolam No.3 ke kolam No.5, influen
COD mengalami penurunan dari 13.330 mg/L sampai 600 mg/L selama waktu 20-
36 hari.
COD Removal sekitar 96% sampai masuk kolam yang HRT No.5 adalah 36
hari. Di sisi lain, pH meningkat dari 4,11 nilai di kolam No.3 untuk 6,78 nilai di
kolam No.5 pada saat yang sama. Rajbhandari dan Annachhatre (2004) melapor-
kan kondisi anaerobik pH berkisar 6-8. Oleh karena itu, dengan kondisi yang ada
sangat dimungkinkan untuk menghitung potensi gas metana selama waktu retensi
hidrolik.

K3 K4-2
K4-1 K4-3 K5

Kolam #3 Kolam#4 Kolam #5

Gambar 38. Lokasi pengambilan sampling gas pada kolam air limbah industri
tapioka

Aktivitas biologis diamati dari akhir kolam No.3 sampai akhir kolam No.4
yang dibuktikan dengan pembentukan gelembung gas yang berlebihan dan adanya
lumpur mengambang di permukaan kolam (Gambar 38). Oleh karena itu, kolam
No.4 disimpulkan sebagai aktivitas yang paling anaerobik. Hasil yang diperoleh
dari pengukuran lapangan adalah laju produksi biogas di kolam No.4 berkisar
25,9-133,4 L/m2/jam, dan laju produksi gas rata-rata adalah 67,2 L/m2/jam.
Komposisi Biogas dari kolam No.4 adalah 58% metana, 30% karbon
dioksida, nitrogen 5% dan 7% dari bahan lain. Dari hasil tersebut, faktor emisi
metana di kolam No.4 dapat diperkirakan 0,24 g CH4/ g COD Removal. Hasil
tersebut hampir sama dengan IPCC (2006) value 0,25g CH4 / g COD Removal.
Selain itu, diperkirakan bahwa karbon berpengaruh mengkonversi menjadi 44%
70

sebagai metana, 23% karbon dioksida dan 6,8% sebagai limbah. Oleh karena itu,
26% dari karbon terdapat di dalam kolam.
Produksi gas metana dari air limbah tapioka sangat tergantung pada COD
selama proses anaerobik. Setiap kilogram COD removal akan menghasilkan 0,35
m3 CH4 (Tchobanoglous, 1991). Air limbah segar dari pabrik tapioka memiliki
COD sebesar 18.000 mg/L dan harus ditangani sampai 250 maksimum COD
mg/L sesuai standar efluen nasional. Berdasarkan perhitungan teoritis, nilai yang
diamati produksi gas dari kolam No. 4 hanya 42-49 persen dari nilai teoritis,
kondisi tersebut mungkin disebabkan oleh kondisi pada pertumbuhan anaerob
kolam No.4 yang tidak sepenuhnya mendukung seperti nilai pH < 6.
Kondisi optimum nilai pH untuk aktivitas anaerob berkisar 6 - 8 dan pH
untuk bakteri metanogen sebesar 7 (Sham, 1984). Gas metana (CH4) yang dihasil-

kan pada kolam No.4 tersebut diukur secara langsung mengunakan detektor
metana (methane detector). Hasil pengamatan yang dilakukan menunjukkan
3
bahwa produksi biogas adalah sebesar 24 m /ton ubikayu dengan konsentrasi gas
3
CH4 berkisar antara 60-65 persen atau setara dengan 14,4-15,6 m gas CH4/ton
ubikayu. Berdasarkan karakteristik kolam anaerobik (Tchobanoglous, 1991),
limbah pabrik tapioka berpotensial untuk dikembangkan sebagai sumber energi
alternatif.

Limbah Padat
Limbah padat industri tapioka berasal dari proses pengupasan yaitu berupa
kulit ubikayu dan dari proses ekstraksi yang berupa ampas ubikayu. Tjiptadi dan
Nasution (1978) membagi limbah padat dari industri tapioka terbagi menjadi
beberapa macam yaitu:
1) Kulit yang berasal dari pengupasan ubikayu
2) Sisa-sisa potongan ubikayu yang tidak terparut berasal dari proses pemarutan.
3) Ampas onggok yang merupakan sisa dari proses ekstrasi pati, terdiri atas sisa-
sisa pati dan serat-serat.

Persentase jumlah limbah kulit ubikayu bagian luar sebesar 0,5-2% dari
berat total ubikayu segar dan limbah kulit ubikayu bagian dalam sebesar 8-15%
(Hikmiyati et al., 2009).
71

Kulit Ubikayu Ampas /Onggok basah

Onggok Kering Meniran

Gambar 39. Jenis limbah padat pengolahan tapioka

Limbah Gas
Air limbah dan limbah padat yang dihasilkan oleh industri tapioka, dalam
pemanfaatannya masih belum maksimal. Beberapa industri telah melakukan
pemanfaatan terhadap limbah yang dihasilkan baik yang berbentuk padat maupun
cair dengan tujuan untuk meningkatkan nilai manfaat dari limbah tersebut.
Namun demikian, masih banyak kendala yang dihadapi dalam melakukan
pemanfaatan limbah industri tapioka. Selain volumenya yang besar, kandungan
COD di dalam air limbah tersebut juga tinggi dan pada proses pengolahan secara
biologi dengan sistem anaerobik tentunya dapat menimbulkan gas-gas yang ber-
potensi memberi sumbangan terhadap pemanasan global. Kondisi tersebut tentu-
nya menuntut kesadaran para pelaku industri untuk melakukan pengelolaan
terhadap gas-gas yang dihasilkan pada proses pengolahan air limbah untuk
meminimalisasi dampak negatif yang ditimbulkan. Karakteristik biogas di lokasi
sampling disajikan pada Tabel 14.
Berdasarkan Tabel 14, komposisi biogas yang dihasilkan dari beberapa
industri tapioka di dominasi oleh gas CH4 , CO2 dan N2. Persentase rata-rata gas
72

CH4 yang dihasilkan sebesar 56,214 %, persentase rata-rata gas CO2, yang
dihasilkan sebesar 38,372%, dan persentase gas N2 yang dihasilkan sebesar
5,414%.
Tabel 14. Karakteristik biogas beberapa industri tapioka
Komposisi gas
No. Industri Sampling
CH4 (%) CO2 (%) N2 (%)
1. Industri A 54,36 35,64 10,00
2. Industri B 60,47 33,63 5,90
3. Industri C*) 55,97 42,08 1,95
4. Industri D 52,38 42,62 5,00
5. Industri E 57,89 37,89 4,22

Gambar 40. Air limbah yang menghasilkan gas CO2 dan CH4

Sistem Penanganan Limbah


Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan sistem penanganan limbah
yang telah dilakukan industri tapioka belum optimal sehingga masih meng-
akibatkan kerusakan lingkungan, mengganggu kesehatan dan estetika lingkungan
serta memberikan sumbangan terhadap potensi pemanasan global.
Limbah padat berupa kulit, kotoran dan meniran yang merupakan produk
samping dari proses industri tapioka belum seluruhnya dimanfaatkan sehingga
terjadi penumpukan yang menimbulkan bau dan gundukan yang mempersempit
lokasi pabrik. Selain itu, limbah padat berupa kulit yang terbawa pada air buang-
an pencucian ubikayu tanpa dilakukan penanganan serius secara bertahap akan
menutupi permukaan kolam air limbah, sehingga berakibat terjadi pendangkalan
kolam air limbah yang ada. Pendangkalan kolam tersebut berpengaruh terhadap
73

lamanya waktu tinggal air limbah yang dihasilkan, sehingga proses pengolahan air
limbah secara biologi dengan sistem anaerobik tidak berjalan dengan baik.

Gambar 41. Kondisi sistem penanganan limbah padat industri tapioka

Hal ini menyebabkan air limbah yang keluar dari kolam limbah terakhir ke
perairan umum/sungai tidak bisa sesuai standar baku mutu kualitas air yang diatur
dalam Peraturan Gubernur Provinsi Lampung Nomor 7 tahun 2010 tentang baku
mutu air limbah usaha dan/atau kegiatan di Provinsi Lampung.
Limbah onggok yang dihasilkan dari proses produksi tapioka cukup tinggi
berkisar 12-39% per ton ubikayu. Penanganan onggok basah masih sangat lambat
sehingga terjadi penumpukan. Onggok basah sebagian akan dibeli oleh pihak
ketiga dan sebagian limbah onggok basah ini di keringkan secara manual dengan
menggunakan panas matahari. Proses penjemuran onggok basah ini tergantung
kondisi cuaca/panas matahari sehingga memerlukan penanganan khusus, tempat
luas dan waktu yang cukup lama. Hal ini berakibat timbulnya bau busuk dan
menjadi sarang hewan/hama seperti kecoa, tikus, dan lalat yang dapat meng-
ganggu kesehatan pekerja dan masyarakat yang tinggal di sekitar industri tapioka.
Kasus pencemaran sungai terjadi di Provinsi Lampung selama tahun 2008
antara lain di Sungai Way Seputih dan Way Terusan yang mengalir di wilayah
Kabupaten Lampung Tengah dan Tulang Bawang akibat limbah tapioka PT.
Teguh Wibawa Bakti Persada (PT. TWBP) pada 11 Januari 2008. Akibat men-
cemari sungai tersebut, PT. TWBP diwajibkan membayar ganti rugi kepada
masyarakat dan PT. TWBP harus memulihkan lingkungan perairan dengan cara
menebarkan benih ikan pada Sungai Way Terusan dari hulu hingga hilir.
74

Pencemaran sungai Way Muara dan Way Sungkai terjadi pada 26 Februari
2008 yang terletak di Kabupaten Lampung Utara. Warga di wilayah kampung-
kampung yang dilalui Sungai Way Muara dan Way Sungkai menjadi resah akibat
pencemaran sungai tersebut yang diduga tercemar limbah pabrik tapioka dari PT.
FM di Tulung Buyut, Hulu Sungkai. Dugaan sungai tersebut tercemar limbah
dibuktikan dengan banyaknya ikan palau, baung ukuran kecil, lais, dan parai
(wader) yang mati serta warna air menjadi keruh dan berbau busuk. Selain itu
juga air sungai tersebut sudah tidak dapat digunakan mandi karena membuat kulit
gatal-gatal. Pencemaran Sungai Way Semah (Kabupaten Pesawaran) terjadi pada
Juli 2008. Ratusan warga Desa Negarasaka, Negeri Katon, Pesawaran tidak bisa
lagi memanfaatkan air Way Semah. Beberapa titik aliran sungai, terlihat warna
air yang berwarna cokelat kehitam-hitaman dan mengeluarkan bau tidak
sedap. Selain itu, beberapa titik aliran sungai terlihat permukaan airnya tertutup
busa yang mengeluarkan bau menyengat. (BLHD Provinsi Lampung, 2010).

Pengurangan limbah pada sumbernya (Source Reduction)

a. Good Housekeeping
Good housekeeping adalah suatu cara untuk mencegah suatu kebocoran atau
tumpahan, dan perawatan terhadap alat atau perangkat yang dapat menyebabkan
inefisiensi.
Good housekeeping dimaksudkan untuk memperbaiki efisiensi pemakaian air
dan mencegah kehilangan bahan. Aktivitas produksi bersih antara lain dengan
pelaksanaan cara berproduksi yang baik (GMPs), pemantauan penggunaan air,
dan pemantauan pekerja. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan
penyuluhan sehingga pengetahuan dan kesadaran para pelaku industri lebih baik.
Pencucian peralatan sebaiknya dilakukan setiap hari atau setelah selesai proses
produksi. Sisa-sisa pati yang rnenempel pada alat akan mempengaruhi kualitas
tapioka shift berikutnya terutama parameter derajat keputihan dan bau. Kusarpoko
(2003) yang menyatakan bahwa proses kontaminasi limbah oleh mikroorganisme
dapat terjadi setelah 12 jam. Menurut Grace (1977), kandungan gula dan nutrien
lainnya menyebabkan mikroorganisme melakukan fermentasi dan menghasilkan
alkohol dan asam organik penyebab bau.
75

Good housekeeping pada industri tapioka tersebut tergolong tidak baik.


Hal tersebut terlihat dari banyaknya sisa-sisa tapioka yang bertebaran di lantai.
Sisa tapioka yang bertebaran mengakibatkan bertumbuhnya mikroba. Hal tersebut
dapat berdampak pada mutu tapioka yang dihasilkan. Upaya untuk mengurangi
terjadinya kehilangan tersebut, industri tapioka sebaiknya menggunakan mesin
khusus dalam proses pengecilan ukuran tapioka.
Selain itu, pekerja tidak dilengkapi dengan sepatu boot padahal dalam
proses pembuatan tapioka tersebut sebagian besar menggunakan air, sehingga
kemungkinan untuk terpeleset sangat besar. Air langsung disalurkan dari tanki air
melalui pipa dengan menggunakan pompa sehingga penggunaan air lebih ter-
kontrol.

b. Perubahan proses (Process Change)

 Perubahan Bahan Input (Material Input Change) adalah penggantian bahan


baku dari bahan yang memiliki kualitas rendah yaitu ubikayu terlalu muda
atau terlalu tua, ubikayu dengan kadar pati rendah, ubikayu jumlah lendir
tinggi, warna ubikayu yang tidak cerah, kadar HCN yang tinggi.
 Pengendalian proses yang baik (Better Process Control) adalah modifikasi
dari prosedur atau proses kerja, instruksi pengoperasian mesin dan pen-
dokumentasian jalannya proses dalam rangka meningkatkan efisiensi dan
meminimalisasi limbah dan emisi.
o Tahap proses pencucian dilakukan pengontrolan pada jumlah air yang
digunakan untuk proses pencucian dan mengganti secara periodik air
pencucian tersebut. Ubikayu hasil pencucian juga diperiksa secara
intensif sudah bersih dari lendir dan kotoran, karena dapat menurunkan
kualitas produk tapioka yang dihasilkan.
o Tahap proses pemarutan dilakukan pengontrolan mesin pemarutan
secara periodik. Ubikayu diparut secara sempurna sehingga dapat
meningkatkaan kadar pati lebih dari 86% dan granula pati yang keluar/
hilang kurang dari 90%.
o Tahap proses filtering dilakukan pengontrolan mesin secara priodik
sehingga dapat mengurangi kemurnian produk.
76

o Tahap proses ekstraksi dilakukan pengontrolan mesin terutama serat


yang masih terbawa dalam proses. Proses ekstraksi dilakukan dalam
dua tahap proses sehingga akan mempengaruhi kemurnian produk
tapioka yang dihasilkan.
o Tahap proses de-watering dilakukan pengontrolan terhadap putaran
silinder yang diatur konstan 1.450 rpm.
o Tahap proses drying dilakukan pengotrolan suhu, kelembaban, dan
waktu yang digunakan untuk proses pengeringan.
o Proses pengemasan dan penyimpanan dilakukan penyimpanan secara
aseptis dan menerapkan proses penggudangan first in first out.
 Modifikasi peralatan (Equipment Modification) adalah modifikasi dari
peralatan dan perlengkapan yang digunakan pada saat proses dengan cara
menambahkan alat pengendalian dan pengukuran dalam rangka meningkatkan
efisiensi, meminimalisasi limbah dan emisi. Perubahan teknologi (Technology
Change) adalah penggantian teknologi yang ada, alur proses dalam rangka
meminimalisasi limbah dan emisi selama proses produksi. Namun demikian
cara ini membutuhkan desain lebih lanjut untuk meyesuaikan dengan kapasitas
produksi yang berbeda-beda sehingga membutuhkan investasi yang besar.
Pencucian dua tahap dengan menggunakan recovery air limbah proses
ekstraksi dan air proses separator lainnya. Cara ini dapat dilakukan dengan
syarat air tidak mengandung polutan berbahaya dan mikroorganisme karena
bisa menurunkan kulitas tapioka yang dihasilkan (Falcon et al., 1984).

Daur Ulang (Recycling)

a. Penggunaan kembali pada tempatnya (On site Recovery and Reuse) adalah
penggunaan kembali limbah yang dihasilkan pada proses yang sama atau pada
proses yang lain di industri tersebut.
Pada strategi daur ulang dan penggunaan kembali proses tersebut dapat
melakukan penggunaan air yang masih bersih (white water) secara berulang.
Air yang dikeluarkan dari beberapa proses yang masih dianggap layak diguna-
kan kembali, seperti air pencucian pada proses penggilingan, ditampung
77

terlebih dahulu di suatu bak penampungan (white water pit) yang kemudian
disalurkan ke beberapa proses yang membutuhkan air.
Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menghemat penggunaan air (fresh
water) dalam proses. Air tersebut tidak akan digunakan kembali atau dibuang
apabila sudah dianggap tidak layak untuk digunakan kembali. Air yang
dianggap tidak layak digunakan kembali disebabkan oleh adanya kotoran-
kotoran yang dapat mengganggu kualitas tapioka yang dihasilkan.
Hasil pengamatan yang telah dilakukan di industri tapioka tersebut, upaya
untuk meminimalkan limbah yang dihasilkan dapat dilakukan dengan meman-
faatkan kembali air sisa dari separator untuk digunakan kembali sebagai
pengganti air pencucian bahan baku.
Pada industri skala 800 ton/hari bahan baku ubikayu, air yang digunakan
sebagai pencucian dan pencacahan sebesar 1.026,13 m 3 per hari. Air sisa yang
dihasilkan dari proses pengurangan air (dewatering) dengan separator sebesar
1.254,16 m3. Air sisa tersebut dapat mensubstitusi air bersih yang digunakan
sebesar 90% dari 1.026,13 m3 per hari kebutuhan air bersih, sehingga terjadi
penghematan air bersih sebesar 923,52 m3 atau kebutuhan air bersih hanya
sebesar 102,61 m3 per hari. Selain itu, dapat mengurangi air sisa dari separator
yang terbuang, sehingga air sisa yang terbuang hanya 330,64 m3.
Pemanfaatan kembali air sisa dari separator sebanyak 923,52 m 3 akan meng-
hemat penggunaan air bersih sebesar 27% dari total air bersih yang digunakan
sebesar 3.420,43 m3. Apabila dihitung dengan pajak pemanfaatan air bawah
tanah yang harus dibayarkan perusahaan Rp.1.035/m 3 sesuai Perda Provinsi
Lampung No.4/2002, maka akan menghemat biaya sebesar Rp.955.843,- per
hari dari total pajak Rp.3.540.145,- per hari.
Karakteristik air sisa dari separator memiliki nilai COD yang masih tinggi
sebesar 20.433 mg/L, tetapi tidak akan mempengaruhi kualitas tapioka yang
dihasilkan. Air sisa dari separator tersebut masih dalam keadaan encer dan air
baru digunakan untuk proses produksi, sehingga masih layak untuk digunakan
kembali. Neraca pemanfaatan dan penghematan air dari proses separator
disajikan pada gambar 42.
78

Gambar 42. Pemanfaatan dan penghematan air dari proses separator


Keterangan: --- proses pemanfaatan daur ulang air sisa dari separator

b. Produksi produk samping yang bermanfaat (Creation of useful by-product)


Tidak adanya kendala dalam pemanfaatan limbah padat industri tapioka bukan
berarti seluruh industri tersebut telah melakukan pemanfaatan limbah padat
sebagai produk turunan. Hal ini terjadi karena limbah padat industri tapioka
berupa onggok sudah memiliki nilai ekonomi tanpa harus dilakukan pengolah-
an terlebih dahulu dan banyak pihak ketiga yang bersedia membeli limbah
padat ini untuk berbagai keperluan. Nilai ekonomi dari onggok ini cukup
tinggi yaitu sekitar Rp. 400,-/kg untuk onggok basah dengan kualitas rendah
dan dapat mencapai harga Rp. 1.000,-/kg untuk onggok dengan kualitas tinggi
dan kadar kekeringan tertentu.
79

Untuk limbah padat berupa kulit biasanya hanya dimanfaatkan sebagai


urugan ataupun dibakar. Dengan demikian tentunya nilai manfaat yang didapat
tidak maksimal karena sebenarnya nilai manfaat dari limbah padat kulit tersebut
dapat lebih ditingkatkan misalnya dengan cara menggunakannya sebagai bahan
baku pembuatan pupuk organik. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh
industri tapioka E, penggunaan pupuk organik pada tanaman ubikayu dapat
meningkatkan produksi hingga 10 ton/ha dan dapat mensubtitusi kebutuhan
penggunaan pupuk kimia hingga 2 kwintal/ha/tahun. Pembuatan pupuk organik
didasarkan kepada :
a) Limbah padat setiap hari dikeluarkan dalam jumlah besar
b) Produktivitas (kesuburan, fisik, biologis) lahan pertanian di Lampung
terus menurun.
c) Harga pupuk kimia makin tinggi
d) Keberadaan pupuk kimia sulit diperoleh
e) Teknologi pembuatan pupuk organik relatif mudah
Dalam proses pembuatan pupuk organik diperlukan bahan penolong berupa
Kaptan yang berfungsi untuk menikan pH dan EM4 yang merupakan kultur
tanaman untuk mempercepat proses pengomposan.
Limbah kulit ubikayu, onggok rusak (meniran) yang akan dikomposkan
sebelumnya dibasahi terlebih dahulu dengan air lalu disiram dengan larutan EM 4
dan kaptan. Komposisi pembuatan pupuk organik dari kulit ubikayu dapat dilihat
pada Tabel 15.
Tabel 15. Komposisi Pupuk Organik dari Kulit Ubikayu
Uraian Jumlah
 Kulit Ubikayu 1.000 kg
 Onggok Rusak (meniran) 1.000 kg
 Kaptan 100 kg
 EM4 2 liter

Selanjutnya dilakukan proses fermentasi selama 30 hari. Bahan yang telah


terdekomposisi karena pengomposan menjadi lebih hitam, seperti pada Gambar
43. Limbah meniran yang terdiri dari kulit, bonggol, dan serpihan ubikayu sisa
hasil ekstraksi yang telah dipisahkan dengan tanah dapat dimanfaatkan sebagai
pakan ternak.
80

Gambar 43. Pupuk organik setelah proses dekomposisi selama 30 hari

Limbah meniran ubikayu terdiri dari kulit (80%) serta bonggol dan serpihan
ubi (20%). Limbah meniran dapat diberikan pada ternak karena kandungan nutrisi
didalamnya yang cukup tinggi.
Menurut Hikmiyati, et al. (2009), limbah kulit ubikayu dapat menjadi
sumber pakan ternak ruminansia karena kulit ubikayu memiliki kandungan nutrisi
yang lengkap yaitu serat, karbohidrat, lemak, protein dan mineral makro.

Gambar 44. Kegiatan peternakan penggemukan sapi di industri tapioka A.

Limbah meniran yang sudah dipisahkan dengan tanah memiliki nilai


ekonomi yang cukup tinggi. Harga limbah meniran jika dijual kepada peternak
adalah Rp.200.000,00/ton. Peminat limbah meniran tersebut umumnya peternak-
peternak besar dengan kegiatan usaha yang sama yaitu penggemukan sapi potong.
81

Gambar 45. Pakan meniran yang sudah dipisahkan dengan tanah

Kontribusi meniran ubikayu pada pakan ternak adalah sebesar 70,58% dari
total pakan campuran, sisanya adalah pakan pelet (23,53%), dan bungkil sawit
atau hijauan (5,88%). Sistem pemberian pakan diberikan secara bersamaan
dengan mencampur ketiga jenis pakan tersebut.

Metode End of Pipe


Metode end of pipe dilakukan untuk mengelola air limbah yang dihasilkan
oleh industri tapioka agar air yang dikeluarkan tidak berbahaya atau mencemari
lingkungan. Air limbah yang dihasilkan setiap harinya mengandung senyawa
asam sianida (HCN), sehingga perlu ditangani sebelum dibuang langsung ke
sungai. Penanganan tersebut dapat dilakukan dengan membuat bak penampung air
limbah. Selanjutnya limbah dilakukan perlakuan penambahan kapur tohor
sehingga kandungan asam sianida pada limbah dapat diturunkan sehingga pH
limbah netral.
Pengolahan air limbah secara anaerobik dalam kolam terbuka juga sangat
potensial menghasilkan gas-gas rumah kaca terutama gas metana dan karbon
dioksida. Berkenaan dengan itu, pemanfaatan air limbah agroindustri tapioka akan
sangat membantu pemenuhan kebutuhan energi dari sumber-sumber yang dapat
diperbaharui. Selain itu penggunaan energi tersebut juga akan dapat mencegah
pencemaran tanah dan air serta dapat mengurangi dampak pemanasan global
akibat emisi gas-gas rumah kaca.
82

Sistem CIGAR dengan mengisolasi kolam anaerobik dengan plastik jenis


HDPE (High Density Poly Ethylene), sehingga gas metana dapat diakumulasi
merupakan salah satu solusi dalam mengolah air limbah industri tapioka sehingga
dapat mengurangi tingkat pencemaran yang ditimbulkan dan gas metana yang
dihasilkan dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi alternatif yang terbarukan.
Agroindustri tapioka umumnya menggunakan minyak diesel/solar atau
batubara sebagai sumber energinya, baik untuk kebutuhan listrik maupun unit
pengering. Ada juga yang menggunakan listrik PT. PLN sebagai sumber energi
utamanya. Penggunaan energi listrik industri tapioka A tidak dapat dihitung
secara detail, karena penggunaan listrik pada industri tapioka A bercampur dengan
kegiatan usaha yang lainnya seperti pengeringan jagung, pembuatan tepung
mocaf, penggemukan sapi, dan aktivitas rumah tangga. Selain itu, informasi data
konsumsi listrik juga sulit diperoleh dari industri tapioka A. Sedangkan industri
tapioka skala besar yang dapat diperoleh secara detail selama satu tahun adalah
industri tapioka D. Indeks energi listrik yang digunakan untuk proses produksi
industri tapioka sebesar 210 kWh/ton tapioka sehingga apabila dihasilkan produk
tapioka sebesar 190,02 ton maka energi yang dibutuhkan sebesar 39.904,2 kWh.
Sumber energi yang digunakan berasal dari listrik dan BBM. Energi listrik ini
digunakan untuk proses pencacahan dan pemarutan, serta separator, sedangkan
proses pengeringan menggunakan oven dengan energi dari BBM. Proses
pencacahan dan pemarutan membutuhkan energi listrik sebesar 9.362,69 kWh,
proses pengurangan air dalam separator membutuh-kan energi sebesar 17.761,96
kWh, dan proses pengeringan sampai dengan pengemasan produk membutuhkan
energi sebesar 12.779,57 kWh.
Apabila dalam sehari industri tapioka mengolah 800 ton ubikayu dan meng-
hasilkan 3,76 m3 air limbah/ton ubikayu dengan nilai COD rata-rata sebesar
18.000 mg/L, jika diasumsikan bahwa 1 kg COD Removal akan menghasilkan
0,35 m3 CH4 (Tchobanoglous, 1991), maka air limbah pabrik tapioka akan meng-
hasilkan 18.950 m3 CH4/hari atau sebesar 31.584 m3 gas/hari.
83

800 ton ubikayu

Pencacahan dan
Energi listrik 9.362,69 Kwh
pemarutan

Seperator 2 tahap
Energi Listrik 17.761,96 Kwh

Pengeringan &
Energi Listrik 12.779,57 Kwh
Pengemasan

Tapioka 190.02 ton

Gambar 46. Neraca energi industri tapioka

Hasil perhitungan asumsi produksi energi listrik yang dapat dihasilkan dari air
limbah industri tapioka sebesar 47.221,75 kWh, sehingga bila dimanfaatkan untuk
proses produksi industri tapioka tahap pencacahan dan pemarutan, serta separator 2
tahap sangat mencukupi dari energi yang dibutuhkan sebesar 27.124,63 kWh.
Tabel 16. Perhitungan asumsi energi listrik yang dihasilkan dari biogas
Rincian Satuan Nilai
Produksi Ubikayu ton/hari 800
3
Produksi air limbah m /ton ubikayu 3,76
Total air Limbah yg dihasilkan m3 3.008
Asumsi 1 kg COD Removal
(Tchobanoglous, 1991) m3CH4 0,35
COD rata-rata mg/L 18.000
Konsentrasi CH4 % 60
3
Produksi Gas Metana m CH4/hari 18.950,4
Produksi Biogas m3 Biogas/hari 31.584
Kalor biogas (CH4+CO2) MJ/m3 35,9
Produksi kalor MJ 680.319,4
Konversi MJ ke kWh kWh/MJ 0,277778
Produksi kalor kWh 188.887
Efisiensi energi % 25
Produksi kalor riil kWh 47.221,75
84

Menurut Kurtubi (2006) dalam Purwati (2010), 1 kWh energi listrik yang
dihasilkan dari pembangkit tenaga diesel memerlukan bahan bakar solar antara
0,27-0,32 liter. Dengan kisaran tersebut, maka diasumsikan bahwa setiap 1 kWh
listrik yang dihasilkan akan memerlukan 0,30 liter solar. Bila kelebihan energi
sebesar 20.097,12 kWh dikonversikan ke bahan bakar solar, maka akan setara
dengan 6.029,14 liter solar. Konsumsi energi untuk proses pengeringan meng-
gunakan oven sebesar 12.779,57 kWh, bila dikonversi menjadi bahan bakar solar
maka akan setara dengan 3.833,87 liter solar. Kebutuhan BBM tesebut dapat
terpenuhi sebesar 100% dari sisa kelebihan energi sebelumnya. Biaya yang di-
butuhkan untuk membeli BBM industri tapioka sebanyak 3.833,97 liter atau
sebesar Rp.25.303.548,- (asumsi harga BBM industri Rp.6.600/L).dapat dihemat
dengan memanfaatkan sumber energi baru terbarukan ini.
Kelebihan energi sebesar 7.317,55 kWh atau 2.195,27 liter solar ini dapat
digunakan untuk aktivitas lain di sekitar lokasi industri seperti aktivitas kantor,
perumahan dan penerangan. Selanjutnya untuk memperoleh nilai ekonomi dari
kelebihan energi yang dihasilkan sebesar 7.317,55 kWh atau 2.195,27 liter solar
ini dapat dikonversikan menjadi nilai ekonomi sebesar Rp. 14,488,749.00,-
(asumsi harga BBM industri Rp.6.600/L).
Pemanfaatan biogas sebagai bahan bakar terbarui juga menghasilkan manfaat
lingkungan berupa berkurangnya (reduksi) CO2 yang terlepas ke lingkungan.
Industri tapioka A yang telah menerapkan sistem CIGAR dengan mengisolasi kolam
anaerobik dengan plastik jenis HDPE (High Density Poly Ethylene), sehingga gas
metana yang dapat diakumulasi merupakan salah satu solusi dalam mengolah air
limbah industri tapioka sehingga dapat mengurangi tingkat pencemaran yang
ditimbulkan dan emis gas yang dihasilkan. Berkurangnya emisi CO2 yang dilaku-
kan oleh industri tapioka A digunakan perhitungan sebagai berikut:
Baseline Emisi (BE) = BE ww tread + BE y power
= 5.038,02 + 31,80
= 5.069,82 tonCO2e
Project Emisi (PE) = 10% dari nilai BE (asumsi untuk industri kecil)
= 5.069,82 x 10%
= 506,982 tonCO2e
Reduksi Emisi CO2 = BE - PE
= 5.069,82 tonCO2e – 506,982 tonCO2e
= 4.562,84 tonCO2e
85

Pemanfaatan gas metana sebagai energi terbarukan juga menghasilkan


manfaat lingkungan dengan berkurangnya (reduksi) gas CO2 yang terlepas ke
udara. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan metode IPCC 2006
yang telah dilakukan, berkurangnya gas CO2 dari hasil dekomposisi air limbah di
Industri tapioka A selama tahun 2010 adalah sebesar 4.562,84 tCO 2e. Dengan
demikian, dalam satu tahun pengolahan air limbah dapat menggurangi potensi
pemanasan global yang cukup besar dengan berkurangnya gas CO 2 sebesar
4.562,84 tCO2e hanya dalam satu tahun saja.
Selain keuntungan tersebut, karena kegiatan pemanfaatan air limbah sebagai
bahan bakar yang renewable ini termasuk suatu usaha baru dalam upaya
pengurangan emisi carbon sehingga dapat diajukan sebagai proyek CDM (clean
Development Mekanisme). Dengan proyek CDM ini, apabila disetujui maka
perusahaan dapat memperoleh CER (Credit Emission Reduction) dari upaya
pengurangan carbon yang terlepas ke lingkungan. CERs yang diterima oleh
perusahaan dari pemanfaatan tersebut berkisar antara 5€ s/d 15 € untuk setiap ton
carbon yang direduksi (Doc. PDD BAJ, 2007).
Perhitungan estimasi CERs yang diperoleh menggunakan kurs tengah BI
pada tanggal 22 Maret 2011 dengan harga Rp. 12.353,30 per 1€. Dengan harga
tersebut, maka manfaat ekonomi tambahan yang diperoleh dapat dihitung sebagai
berikut:
CERs = 4.562,84 t CO2e x (5€ s/d 15€)
= Rp. 281.830.656,- s/d Rp. 845.491.970,-

Berdasarkan perhitungan tersebut, apabila disetujui oleh proyek CDM maka


perusahaan dapat memperoleh CER (Credit Emission Reduction) dari upaya
pengurangan carbon yang terlepas ke lingkungan melalui methane capture
berkisar antara Rp Rp. 281.830.656, - s/d Rp. 845.491.970, -.
Dengan pemanfaatan sebagian air limbah yang telah dilakukan proses
pengolahan sebagai air proses dan pemanfaatan gas-gas yang dihasilkan sebagai
bahan bakar alternatif, maka manfaat lingkungan yang dapat diperoleh antara lain
dapat menurunnya volume air limbah yang terbuang ke lingkungan (badan air),
dapat mengurangi beban pencemaran lingkungan yang ditimbulkan industri
tapioka, mengurangi gangguan lingkungan berupa kebauan yang ditimbulkan oleh
86

munculnya gas akibat proses dekomposisi pada proses pengolahan air limbah
dengan sistem biologi pada secara anaerobik.

Studi Kelayakan Opsi Produksi Bersih Industri Tapioka

Studi kelayakan dilakukan mencari alternatif-alternatif/opsi-opsi produksi


bersih yang diberikan untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi
perusahaan. Studi kelayakan yang dievaluasi meliputi studi kelayakan teknis,
studi kelayakan ekonomi dan studi kelayakan lingkungan. Tujuan dari studi
kelayakan tersebut adalah untuk menentukan opsi-opsi produksi bersih yang
mungkin diterapkan atau tidak pada industri tapioka, bila ditinjau dari kemudahan
dalam melaksanakan, opsi biaya dan manfaat bila opsi itu diterapkan serta
dampaknya terhadap lingkungan setelah opsi tersebut diterapkan. Hasil Studi
kelayakan opsi produksi bersih disajikan pada Tabel 17.
Berdasarkan pada Tabel 17. tersebut, dapat terlihat bahwa opsi pemanfaatan
limbah-limbah padat yang dihasilkan menduduki prioritas pertama, pertimbangan
tersebut diambil berdasarkan kepada:
1. Secara ekonomis, pemanfaatan limbah padat untuk kepentingan lain dapat
memberi penghasilan tambahan bagi perusahaan meskipun pemanfaatan
limbah tidak dilakukan secara langsung oleh perusahaan melainkan dengan
menjualnya kepada pihak lain.
2. Secara teknis, untuk memanfaatkan limbah padat tersebut memang bagi
perusahaan cukup sulit untuk dilaksanakan, oleh karena itu, perusahaan
dapat menjual limbah tersebut kepada pihak/perusahaan lain agar dapat
dimanfaatkan. Berdasarkan hasil wawancara secara mendalam, hal tersebut
biasa terjadi pada industri tapioka yang menyerahkan limbah padat berupa
onggok kepada pihak ke-3. Masyarakat yang memanfaatkan limbah padat
berupa onggok merupakan pihak ke-3 yang melakukan pengelolaan secara
manual. Onggok yang dimanfaatkan oleh masyarakat mempunyai kualitas
rendah dengan kondisi basah. Masyarakat memanfaatkannya dengan me-
ngeringkan onggok tersebut menggunakan bantuan sinar matahari sehingga
memerlukan waktu yang lama dan prosesnya terjadi proses dekomposisi.
87

Tabel 17. Studi Kelayakan Opsi Produksi Bersih pada Industri Tapioka
Solusi Produksi Manfaat Manfaat
Proses Masalah
Bersih Ekonomi Lingkungan
Pengupasan Pemakaian Pencucian 2 Mengurangi Mengurangi
dan air yang tahap (dengan biaya pencemaran
Pencucian berlebihan menggunakan penggunaan akibat air
Ubikayu pada proses air sisa proses air limbah
pencucian ekstraksi dan
air dari
separator)
Pencemaran Memanfaatkan Meningkatkan Mengurangi
karena limbah (kulit pendapatan pencemaran
limbah padat ubikayu) untuk akibat limbah
kepentingan lain padat
(pupuk)
Pencemaran Memanfaatkan Meningkatkan Mengurangi
karena air air limbah untuk pendapatan pencemaran
limbah biogas akibat air
limbah
Pemarutan Loss akibat Mengumpulkan Meningkatkan
proses hasil parutan rendemen
pemarutan yang tercecer
Penyaringan Pencemaran Memanfaatkan Meningkatkan Mengurangi
karena limbah (ampas/ pendapatan pencemaran
limbah padat onggok) untuk akibat limbah
kepentingan lain padat
Ekstraksi Pati Pencemaran Menggunakan Efesiensi air Mengurangi
karena air kembali air sisa pencemaran
limbah proses separator akibat limbah
untuk proses
pencucian
Memanfaatkan Meningkatkan
limbah untuk pendapatan
biogas
Loss akibat Mengumpulkan Meningkatkan
proses pati yang rendemen
ekstraksi pati tertinggal
Pengemasan Pencemaran Mengumpulkan Meningkatkan Mereduksi
udara karena kembali tepung- rendemen polusi udara
tepung kasar tepung kasar
yang tersebut
beterbangan Penggunaan Kesehatan
masker pekerja

Berdasarkan sudut pandang lingkungan dengan memanfaatkan limbah padat


tersebut dengan tidak dibuang ke lingkungan sehingga pencemaran akibat limbah
padat dapat dikurangi. Memanfaatkan onggok sebagai bahan baku pembuatan
asam sitrat dan pupuk organik merupakan salah satu alternatif pemanfaatan
88

limbah padat. Manfaat lingkungan yang diterima adalah berkurangnya gangguan


lingkungan yang muncul berupa kebauan dan pencemaran lingkungan dari lindi
yang muncul dari tumpukan onggok. Kebauan dari lindi muncul akibat terjadinya
proses dekomposisi (penguraian oleh bakteri) dari tumpukan onggok yang tidak
langsung dilakukan pengelolaan. Pemanfaatan limbah padat berupa kulit dan
meniran sebagai pupuk organik dapat mensubtitusi penggunaan pupuk kimia.
Aplikasi pupuk organik di lahan dapat digunakan untuk memperbaiki sifat fisik,
kimia dan biologi tanah sehingga dapat meningkatkan unsur hara pada tanah.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh salah satu industri tapioka, perbaikan
unsur hara tanah tersebut dapat meningkatkan produksi ubikayu hingga 10 ton/ha/
tahun. Selain itu dapat menekan aktivitas serangga hama dan mikroorganisme
patogen yang dapat meningkatkan dan menjaga kestabilan produksi tanaman dan
menjaga kestabilan produksi. Hasil penentuan opsi produksi bersih berdasarkan
skala prioritas disajikan pada Tabel 18.

Tabel 18. Penentuan Skala Prioritas Opsi Produksi Bersih


Penilaian
Lingkungan
Ekonomis

Skala
Teknis

No Opsi Total
prioritas

1 Memanfaatkan kulit, serat ubikayu 3 3 2 8 4


untuk pupuk organik
2 Memanfaatkan air limbah biogas 2 3 3 8 3
3 Memanfaatkan ampas/ onggok untuk 3 3 3 9 1
pakan ternak
4 Menggunakan kembali air sisa proses 3 3 3 9 2
separator untuk proses pencucian

Keterangan skala penilaian:


Skala Teknis Ekonomi Lingkungan
3 Mudah sekali untuk Memberikan nilai Memberikan efek yang
dilaksanakan tambah yang signifikan terhadap
signifikan perbaikan lingkungan
2 Relatif mudah untuk Sedikit nilai tambah Sedikit efek terhadap
dilaksanakan ekonomi perbaikan lingkungan
1 Susah untuk Tidak ada nilai tambah Tidak ada efek terhadap
dilaksanakan perbaikan lingkungan
89

Tabel 19. Perhitungan studi kelayakan ekonomi opsi produksi bersih industri
tapioka

Opsi Perhitungan Nilai Satuan

1. Memanfaatkan ampas / onggok untuk pakan ternak dengan penggemukan 100 ekor
sapi
Hasil penjualan 100 ekor sapi x Rp.20.000.000 2.000.000.000 Rupiah

Biaya Operasional Biaya tetap : Rp. 200.000.000 1.033.500.000 Rupiah


Biaya Variabel : Rp.833.500.000
Keuntungan 966.500.000 Rupiah
Payback period 0,74 tahun
2.Menggunakan kembali air sisa proses separator untuk proses pencucian
Instalasi daur ulang 57.600.000 Rp/bulan
air
Penghematan air 923,52 m3/hari x Rp.1.035/m3 x 24.851.923 Rp/bulan
26 hari/bulan
Keuntungan - Rp/bulan
Penghematan air
Payback period -
3. Memanfaatkan Air Limbah untuk Biogas
Biaya Instalasi Sistem bioreaktor CIGAR 25 Milyar Rupiah

Hasil Konversi gas Rp. 131.090.335,20,-/hari x 26 3,408 Milyar Rp/bulan


Metana hari
Payback period 25 Milyar : 3,408 Milyar 7,33 Bulan

4. Memanfaatkan kulit, serat ubikayu untuk pupuk organik

Biaya operasional Kapasitas 20 ton 120.500.000 Rp/bulan

Hasil penjualan 20 ton x Rp.10.000/kg 200.000.000 Rp/bulan

Keuntungan 79.500.000 Rp/bulan

Payback period 0,60 Tahun

Berdasarkan perhitungan studi kelayakan ekonomi opsi produksi bersih


industri tapioka pada Tabel 19, memanfaatkan ampas/onggok sebagai pakan
ternak dengan kegiatan penggemukan sapi sebanyak 100 ekor akan memberikan
keuntungan sebesar Rp.966.500.000,- dengan payback periode selama 0,74 tahun.
Penggunaan kembali air sisa proses separator utnuk pencucian ubikayu mem-
berikan nilai keuntungan penghematan biaya sebesar Rp.24.851.923,- per bulan.
90

Pemanfaatan air limbah sebagai sumber energi terbarukan dalam bentuk biogas
dengan sistem CIGAR memberikan manfaat yang cukup menguntungkan, dengan
payback periode selama 7,33 bulan. Kondisi optimal sitem CIGAR ini akan
diperoleh apabila kontinuitas proses produksi berjalan baik, sehingga gas metana
yang dihasilkan akan stabil. Pemanfaatan kulit, serat ubikayu untuk pupuk organik
akan memberikan manfaat sebesar Rp.79.500.000,-. Industri tapioka dinilai sangat
menguntungkan apabila dapat menerapkan dengan baik perbaikan proses yang
direkomendasikan, sehingga dampak pencemaran terhadap lingkungan pun dapat
diminimalkan.

Model Proses Produksi Industri Tapioka Ramah Lingkungan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan di atas, maka dapat


diformulasikan dalam bentuk model proses produksi industri tapioka yang ramah
lingkungan. Industri tapioka dengan produk utama tapioka, menghasilkan produk
samping berupa limbah padat dan air limbah. Opsi produksi bersih dalam proses
produksi tapioka adalah pemanfaatan limbah padat sebagai bahan pakan ternak,
pemanfaatan penggunaan air sisa/buangan kembali dalam proses produksi industri
tapioka, pemanfaatan air limbah sebagai salah satu energi alternatif (biogas), dan
pemanfaatan sebagai pengomposan limbah padat. Produk recycle yang dapat
dilakukan adalah pemanfaatan pakan ternak untuk kegiatan penggemukan hewan
ternak, pupuk organik dan sumber energi biogas dari pupuk organik yang dihasil-
kan, pemanfaatan onggok untuk produk lain, dan proses treatment air limbah yang
dapat digunakan sebagai alternatif sumber energi potensial. Hasil dari pemupukan
lahan menggunakan pupuk organik akan memperoleh manfaat bagi industri
tapioka dalam peningkatan produksi ubikayu. Produk akhir berupa penggemukan
hewan ternak yang siap meningkatkan nilai tambah industri tapioka, ubikayu siap
digunakan dalam proses industri tapioka atau ubikayu yang siap dipasarkan, dan
memperoleh nilai tambah dari produksi biogas tersebut untuk kegiatan rumah
tangga. Selain itu, produksi biogas juga dapat digunakan untuk industri lain yang
membutuhkannya. Model proses produksi industri tapioka yang ramah lingkungan
disajikan pada Gambar 47.
91

Gambar 47. Model proses produksi industri tapioka ramah lingkungan

91
92

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Prinsip produksi bersih dapat diterapkan pada industri tepung tapioka. Proses
daur ulang penggunaan air merupakan alternatif sebagai peningkatan efisiensi
yang dapat dilakukan pada tahapan penggunaan limbah separator untuk pen-
cucian bahan baku. Efisiensi penggunaan air produksi sebesar 923,52 m3 hasil
dari daur ulang air sisa separator sehingga akan menghemat penggunaan air
bersih sebesar 27% dari total air bersih yang digunakan sebesar 3.420,43 m 3.
Apabila dihitung dengan pajak pemanfaatan air bawah tanah, maka akan
menghemat biaya sebesar Rp.955.843,- per hari.
2. Pemanfaatan air limbah sebagai sumber energi baru terbarukan merupakan
alternatif perbaikan efisiensi proses produksi tapioka. Energi yang dihasilkan
dari konversi gas metana setara sebesar 47.221,75 kWh/hari, sehingga bila
dimanfaatkan untuk proses produksi industri tapioka sangat mencukupi dari
energi yang dibutuhkan sebesar 39.904,2 kWh/hari. Kelebihan energi industri
tapioka sebesar 7.317,55 kWh/hari dikonversikan ke bahan bakar solar, maka
akan setara dengan 2.195,27 liter solar/hari. Energi yang dapat digunakan
industri tapioka untuk keperluan proses pengeringan menggunakan oven
sebesar 12.779,57 kWh bila dikonversi bahan bakar solar setara 3.833,87 liter,
maka kebutuhan bahan bakar solar tersebut dapat terpenuhi 100% seluruhnya.
Biaya operasional yang dibutuhkan untuk membeli bahan bakar solar sebesar
Rp.25.303.548,- dapat dihemat dengan memanfaatkan sumber energi baru
terbarukan. Kelebihan energi setelah dikurangi konsumsi energi untuk proses
pengeringan sebesar 7.317,55 kWh setara dengan bahan bakar solar sebanyak
2.195,27 liter dapat dikonversikan menjadi nilai ekonomi sebesar Rp.
14,488,749,-. Kelebihan energi ini dapat digunakan untuk aktivitas lain di
sekitar lokasi industri seperti aktivitas kantor, perumahan dan penerangan.
Selain itu, berkurangnya gas CO2 dari hasil dekomposisi air limbah industri
tapioka adalah sebesar 4.562,84 tonCO2e. Perusahaan akan dapat memperoleh
CER (Credit Emission Reduction) dari upaya pengurangan carbon yang
93

terlepas ke lingkungan melalui methane capture berkisar Rp. 281.830.656,-


s/d Rp. 845.491.970,-.
3. Hasil studi kelayakan ekonomi opsi produksi bersih industri tapioka dengan
memanfaatkan ampas/onggok sebagai pakan ternak dengan kegiatan peng-
gemukan sapi sebanyak 100 ekor dapat memberikan keuntungan sebesar
Rp.966.500.000,- dengan payback periode selama 0,74 tahun. Penggunaan
kembali air sisa proses separator untuk proses pencucian ubikayu memberikan
nilai keuntungan penghematan biaya operasional sebesar Rp.24.851.923,- per
bulan. Pemanfaatan air limbah sebagai sumber energi terbarukan dalam
bentuk biogas dengan sistem CIGAR memberikan manfaat yang sangat
menguntungkan, dengan payback periode selama 7,3 bulan. Pemanfaatan
kulit, serat ubikayu untuk pupuk organik akan memberikan manfaat sebesar
Rp.79.500.000. Industri tapioka dinilai sangat menguntungkan apabila dapat
menerapkan dengan baik perbaikan proses yang direkomendasikan, sehingga
dampak pencemaran terhadap lingkungan dapat diminimalkan.
4. Model proses produksi industri tapioka ramah lingkungan berbasis produksi
bersih yang dihasilkan dapat memberikan solusi skenario pemanfaatan air
limbah, pemanfaatan energi dari air limbah dan reduksi emisi gas. Limbah
padat dapat digunakan sebagai pakan ternak, pupuk organik yang secara
efektif menuju terciptanya agroindustri tapioka yang ramah lingkungan dan
menurunkan dampak efek pemanasan global.
Saran
Perlu dikaji pemetaan untuk mendapatkan informasi tentang sumber-sumber
air limbah yang berpotensial meningkatkan efek gas rumah kaca berikut lokasi
agroindustrinya, identifikasi dan inventarisasi potensi energi yang dihasilkan dari
air limbah industri, sehingga dapat diperoleh informasi berapa besar industri di
Provinsi Lampung menyumbang dampak pemanasan global dan mencari solusi
untuk mengatasinya.
94

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah K. 1987. Energi dan listrik pertanian. Bogor: JICA-DGHE. IPB


Project - ADAET.
Akanbi W.B., Adebayo T.A., Togun O.A., Adeyeye A.S. , Olaniran O. A. 2007.
The Use of Compost Extract as Foliar Spray Nutrient Source and Botanical
Insecticide in Telfairia occidentalis. World Journal of Agricultural Sciences.
3, (5), 642-652.
Alaerts G, Santika SS. 1984. Metoda Penelitian Air. Penerbit Usaha Nasional.
Surabaya:
Algamar, K. 1986. Proses Anaerobik Sebagai Alternatif Untuk Mengolah Limbah
Industri Hasil Pertanian. Paper Seminar Limbah Teknik Penyehatan serta
Bioteknologi Pengolahan Limbah. Jurusan Teknik Lingkungan PAU
Bioteknologi ITB dan Ikatan Ahli Teknik Penyehatan Indonesia. Bandung.
Andrews SKT, Stearne J, Orbell JD. 2002. Awarness and adoption of cleaner
production in small to medium sized business in Geelong Region, Victoria,
Australia. Journal of Cleaner Production. 10(2002):373-380.
American Public Health Association (APHA). 1992. Standard Methods for the
Examination of Water and Wastewater. 18th ed. New York: American
Public Health Association.
American Public Health Association (APHA). 1998.. Standard Methods for the
Examination of Water and Wastewater, 20th edition. American Public
Health Association, Washington, DC.
Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Departemen Perindustrian. 2007.
Panduan Pengelolaan Limbah Industri Tapioka. Jakarta. 49 halaman.
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Lampung. 2010. Kondisi
Umum Provinsi Lampung. http://bplhdlampung.com/index.php?option=
com_content&view=article&id=196&Itemid=201. Tanggal 21 April 2010.
Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung. 2009. Lampung Dalam Angka 2008.
Lampung.
----------. 2010. Lampung Dalam Angka 2009. Lampung.
Badan Pusat Statistik. 2010. Statistik Indonesia. 2009. Di dalam http://www.
bps.go.id/aboutus. php?pub=1&pubs=40 . 11 September 2010
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 1995. National commitment to
implement a cleaner production strategy in Indonesia. Jakarta:
Badan Pengendalian Dampak lingkungan. 1996. Teknologi Pengendalian Dampak
Lingkungan Industri Tapioka di Indonesia. Buku Panduan. Jakarta.
Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. 2004. Balai
Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Malang.
---------. 2005. Teknologi Produksi Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Balai
Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Malang.
95

Barana, C. A., dan P. M. Cereda. 2000. Cassava Wastewater (Manipuera)


Treatment Using A Two-Phase Anaerobic Biodigestor. J. Cienc. Tecnol.
Aliment. Vol. 20. No. 2. Campinas. May/Aug. Brazil. http://
goegle.com/cassava wastewater. Diakses tanggal 25 Mei 2010.
Bratasida, L. 1997. Kebijakan Nasional tentang Produksi Bersih. Bapedal, Jakarta.
Brown JG. 1994. Agroindustrial Investment and Operations. EDI Development
Studies. Washington DC:
Buser C, Walder J. 2002. Guidelines for Cleaner Production – Conducting
Quick-Scans in the Company. Muttenz, Switzerland: FHBB.
Campbell, ME. & WM. Glenn. 1982. Profit from Pollution Prevention.
Pollution Probbe Foundation, Toronto.
Chardialani, A. 2008. Studi Pemanfaatan Onggok sebagai Bioimmobilizer
Mikroorganisme dalam Produksi Biogas dari Limbah Cair Industri Tapioka.
Skripsi. Universitas Lampung.
Clausen CA, Mattson G. 1978. Principle of Industrial Chemistry. Toronto: John
Wiley & Sons.
Darjanto dan Murjati. 1980. Khasiat, Racun dan Masakan Ketela Pohon. yayasan
Dewi Sri. Bogor:
Departemen Pertanian Republik Indonesia. 2009. Basis Data Statistik Pertanian.
http://database.deptan.go.id/bdsp/index.asp. 7 April 2010.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi Lampung. 2006. Laporan
Tahunan Tanaman Pangan. Bandar Lampung.
Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. 2006. Strategi
pengembangan agroindustri ubikayu di Provinsi Lampung. Direktorat
Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian
Republik Indonesia, Jakarta.
Ditjen PPHP Departemen Pertanian RI. 2009. Biogas Skala Rumah Tangga,
Program Bio Energi Pedesaan (BEP). Direktorat Pengolahan Hasil
Pertanian-Ditjen PPHP Departeman Pertanian RI. Jakarta.
Djajadiningrat, ST. 2001. Untuk Generasi Masa Depan Pemikiran, Tantangan dan
Permasalahan Lingkungan. Studio Tekno Ekonomi ITB, Bandung
Fachbochschule beider Basel (FHBB). 2005. www.fhbb.cp/cp. 7 Maret 2005.
Fajarudin. 2002. Pengaruh Jumlah Air Ekstraksi dan Lama Pengendapan
Terhadap Karakteristik Limbah Cair Tapioka Pada Sistem Bacth. Skripsi.
Universitas Lampung.
Falcon W.P., W.O. Jones, dan R.S. Pearson. 1984. Ekonomi Ubi Kayu di Jawa.
The Board Trustees of The Leland Stanford University. The Cassava
Economy of Java. Penerjemah. Stanford University Press. Terjemahan dari:
The Cassava Economy of Java. Jakarta
96

Fauzi AM. 2003. Analisis kelayakan finansial penerapan produksi bersih dan
kendala sosio kultural. Disampaikan pada Pelatihan TOT Cleaner
Production. Jakarta, 13 – 22 Oktober 2003.
Fluck, R.C. 1992. Energy conservation in agricultural transportation. In R.C.
Fluck (ed.), Energy in World Agriculture: Energy in Farm Production.
6:171-176. Elsevier, Amsterdam.
Grace MR. 1977. Cassava Processing. Rome: FAO of The United Nations.
Grady Jr. C.P.L. dan Lim H.C. 1980. Biological Wastewater Treatment, Theory
and Applications. Marcel Dekker Inc. New York.
Greenfield, R. E. 1971. Starch and Starch Product, p. 121-131. Di dalam: C.F.
Gurnham (ed.) Industrial waste water control. Academic Press, New York,
London.
Hafsah, M.J. 2003. Bisnis Ubi Kayu Indonesia. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Hanifah, T.A., Saeni, M.S., Adijuwana, H., Bintoro, H.M.H. 1999. Evaluasi
Kandungan Logam Berat Timbal dan Kadmium dalam Ubikayu (Manihot
esculenta Crantz). Buletin Ilmiah Gaku-ryoku, Vol.V (1).
Haryati, T. 2006. Biogas: Limbah Peternakan Yang Menjadi Sumber Energi
Alternatif. Wartazoa. 16 (3): 160-169.
Hermawan, B., Q. Lailatul, P. Candrarini, dan P. S. Evan. 2007. Sampah
Organik sebagai Bahan Baku Biogas. Artikel. http://www.chem-is-
try.org/?sect=fokus&ext=31. Diakses tanggal 28 Mei 2010.
Hien PG, Oanh LTK, Viet NT, Lettinga G. 1999. Closed wastewater system in the
tapioca industry in Vietnam. Water Sci Technol 39:89–96.
Hikmiyati, Nopita, dan Yanie, N.S. 2009. Pembuatan Bioetanol dari Limbah Kulit
Singkong Melalui Proses Hidrolisa Asam dan Enzimatis. Jurnal Penelitian
Teknik Kimia. Universitas Diponegoro. Semarang.
Ikawati, dan Melati. 2009. Pembuatan Karbon Aktif dari Limbah Kulit Singkong
UKM tapioka Kabupaten Pati. Jurnal Penelitian Teknik Kimia. Universitas
Diponegoro. Semarang.
IPCC.2006. IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories, Volume 5
Waste, Chapter 6 Wastewater Treatment and discharge
Kamahara H., Hasanudin U., Atsuta Y., Widiyanto A., Tachibana R., Goto N.,
Daimon H., Fujie K. 2010. Methane Emission from Anaerobic Pond of
Tapioca Strach Extraction Wastewater in Indonesia. Journal of
Ecotechnology Research. 15 (2): 79-83.
Kunaefi, H. A. 1982. Tata Cara Pengendalian dan Kriteria Pencemaran
Lingkungan Akibat Industri. Seksi Lab & Instalkes Kanwil Propinsi Jawa
Barat.
Maiellaro N, Lerario A. 2000. Knowledge system for sustainable design. Sustain-
able building resource research. www.ba.cnr.it/iris/sustain, 13 Nopember
2002.
97

Metcalf dan Eddy. 1991. Wastewater Engineering: Treatment Disposal Reuse.


McGraw-Hill Book Co. Singapore:
Murdiyarso, Daniel. 2003. CDM : Mekanisme Pembangunan Bersih. Penerbit
Buku Kompas, Jakarta.
Mulyadi U. 2011. Evaluasi Kinerja Cigar (Covered In The Ground Anaero-bic
Reactor) Di Industri Tapioka Rakyat. Skripsi. Universitas Lampung.
Nakamura, H. 2006. Metana production technologies and its contribution to clean
development mechanism (CDM). Proceeding. Seminar Sustainable Society
Achievement by Biomass Effective Use, EBARA Hatakeyama Memorial
Fund, January 24-25, 2006. Jakarta.
Nurhasan, Pramudyanto, B. B. 1991. Penanganan Air Limbah Pabrik Tahu.
Yayasan Bina Karya Lestari (Bintari). http://www.menlh.go.id./usaha-
kecil. 5 Maret 2008.
Nursita. 2005. “Sifat Fisik dan Palabilitas Wafe Ransum Komplit untuk Domba
dengan Menggunakan Kulit Singkong”, Skripsi, Departemen Ilmu Nutrisi
dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Overcash, MR. 1986. Techniques for Industrial Pollution Prevention. Lewis
Publishers, New York.
Peraturan Gubernur Provinsi Lampung Nomor 7 tahun 2010 tentang Baku Mutu
Air Limbah Usaha dan/atau Kegiatan Di Provinsi Lampung.
Pratama, A.G. 2009. Mempelajari Pengaruh Konsentrasi Ragi Instan dan Waktu
Fermentasi Terhadap Pembuatan Alkohol dari Ampas Ubi Kayu (Manihot
utilisima). Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara.
Purwati, E. 2010. Penerapan Konsep Zero Waste Pada Pengelolaan Limbah
Industri Tapioka, Tesis, Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia,
Jakarta
Rajbhandari, B. K. dan Annachhatre, A. P. 2004. "Anaerobic Ponds Treatment of
Starch Wastewater: Case Study in Thailand", Bioresource Technology,
95(2): 135-143.
Rattanachon W, Piyachomkwan K, Sriroth K. 2004. Physico chemical properties
of root, flour and starch of bitter and sweet cassava varieties.
http://www.ciat.cgiar.org/biotechnology/cbn/sixth_internationalmeeting/Pos
ters-PDF/PS-5/W_Rattanachon.pdf.
Rodhe, A. L. 1990. A comparison of the contribution of various gasses to the
greenhouse effect. Science, 248, 1217-1219.
Rukmana, H.R. 1997. Ubikayu Budidaya dan Pascapanen. Kanisius, Yogyakarta.
Sham, H. 1984. Anaerobic wastewater treatment. Dikutip dalam Fiechter, A.
(Ed). Advances in Biochemical Eng./Biotech. Vol. 29. Springer Verlag.
Berlin.
Soeharto, I. 2002. Studi Kelayakan Proyek Industri. Jakarta : Erlangga.
98

Sriroth K, Wanlapatit S, Chollakup R, Chotineeranat S, Piyachomkwan K, Oates


C.G. 1999. An improved dewatering performance in cassava starch process
by an pressure filter. Starch/Starke 51:383–388.
Sriroth, K., Chollakup, R., Chotineeranat, S., Piyachomkwan, K., and Oates, C. G.
2000. Processing of cassava waste for improved biomass utilization.
Bioresource Technol. 71(1): 63-69.
Sudaryanto, 1989. Kulit Ubi sebagai Bahan Pakan Ternak. dalam Warta Litbang
Pertanian. No. 3 vol. XI. Mei1 1989. Departemen Pertanian.
Sugiharto. 1987. Dasar-dasar Pengolahan Air Limbah. UI Press. Universitas
Indonesia. Jakarta.
Suhartina. 2005. Deskripsi varietas unggul kacang-kacangan dan umbi-umbian.
Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian.
Suriawiria, U. 2005. Menuai biogas dari limbah. Artikel. http://www.pikiran-
rakyat.com/cetak/2005/0405/07/cakrawala/penelitian03.htm. Diakses
tanggal 28 Mei 2010.
Soeriaatmaja, R.E. 1984. Asas-asas Pengolahan Limbah Tapioka. Kantor
Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Jakarta.
Tchobanoglous G. 1991. Wastewater Engineering: Treatment, Disposal, and Re-
use. McGraw-Hill International Edition, Singapore.
Thompson, D. N. 1973. The Economic of Environmental Protection. Wintrop
Publisher, Inc. Cambridge, Massacushaetts.
Tjiptadi, W. 1985. Telaah Kualitas dan Kuantitas Limbah Industri Tapioka serta
Cara Pengendaliannya di Daerah Bogor. Disertasi. Sekolah Pascasarjana
IPB. Bogor.
UNEP. 2003. Cleaner Production Assessment in Industry. Di dalam
http://www.uneptie.org/pc/cp/understandingcp/cpindustry.htm.
UNEP Center for Cleaner Production (CCP) dan the CRC for Waste Minimisation
and Pollution Control (WMPC), Ltd. 1999. Cleaner Production Self
Assessment Guide: Metal Casting Industries. www.geosp.uq.edu.au/
emc/CP/pdfs/Guide.pdf, 12 April 2005
United Nations Enviroment Programme Division of Technology, Industri, and
Economic (UNEP DTIE) and Danish Environmental Protection Agency
(DEPA). 2000. Cleaner Production Assessment in Dairy Processing.
van Berkel R. 2006. Cleaner production and eco-efficiency. In: Handbook on
Environmental Technology Management (D. Marinova, Ed.). Edward Elgar
Publications, Cheltenham, UK.
Wargiono, J. 1990. Pengaruh Pemupukan NPK Terhadap Status Hara dan Hasil
Ubikayu. Penelitian Pertanian V.10 (1): 1-7.
Wargiono, J., Barrett Diane M. 1987. Budidaya Ubikayu. Yayasan Obor
Indonesia dan Gramedia. Jakarta.
99

Zakaria W.A. 1997. Analisis Penawaran dan Permintaan Produk Ubikayu


Lampung serta Kaitannya Dengan Pasar Domestik dan Dunia. Disertasi.
Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor.
Zaitun. 1999. Efektivitas limbah industri tapioka sebagai pupuk cair. Tesis
Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Program Pascasarjana,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
100

LAMPIRAN
101

Lampiran 1. Sebaran Tanaman Ubi Kayu di Indonesia*


Pulau Propinsi Luas Tanam (%)
Sumatra Nangroe Aceh Darussalam 0,2812
Sumatra Utara 2,9217
Sumatra Barat 0,5175
Riau 0,3960
Jambi 0,2844
Sumatra Selatan 0,0968
Bengkulu 0,5551
Lampung 26,5893
Bangka Belitung 0,1131
Kepulauan Riau 0,0565
50
Jawa DKI Jakarta 0,0045
Jawa Barat 8,8552
Jawa Tengah 16,6779
Daerah Istimewa Yogyakarta 5,1396
Jawa Timur 18,7454
Banten 0,6982
32
Kalimantan Kalimantan Barat 1,3070
Kalimantan Tengah 0,4862
Kalimantan Selatan 0,6886
Kalimantan Timur 0,5533
3
Sulawesi Sulawesi Utara 0,4792
Sulawesi Tengah 0,3868
Sulawesi Selatan 2,6040
Sulawesi Tenggara 1,2533
Gorontalo 0,0543
Sulawesi Barat 0,2777
5

Bali dan Nusa Tenggara Bali 1,0421


Nusa Tenggara Barat 0,6303
Nusa Tenggara Timur 6,3993
8
Maluku dan Papua Maluku 0,6981
Papua 0,2507
Maluku Utara 0,8209
Papua Barat 0,1355
2
Keterangan:
* Data diolah dari luas panen ubikayu tahun 2007 basis data Departemen pertanian (2009)
102

Lampiran 2. Luas panen, produksi dan produktivitas ubikayu di Indonesia


Produktivitas
Tahun Luas Panen (ha) Produksi (ton)
(ku/ha)
2000 1.284.040 16.089.020 125,00
2001 1.317.912 17.054.648 129,41
2002 1.276.533 16.912.901 132,00
2003 1.244.543 18.523.810 149,00
2004 1.255.805 19.424.707 155,00
2005 1.213.460 19.321.183 159,00
2006 1.227.459 19.986.640 163,00
2007 1.201.481 19.988.058 166,36
2008 1.204.933 21.756.991 180,57
2009 1.205.440 21.990.381 182,43
Sumber: BPS (2010)

Lampiran 3. Luas Panen Tanaman Ubikayu (Ha) di 10 Propinsi di Indonesia


Tahun 2005 – 2009.
Propinsi Tahun
2005 2006 2007 2008 2009
Lampung 252.984 283.430 316.806 318.969 320.344
Jawa Timur 253.336 232.538 223.348 220.394 202.708
Jawa Tengah 210.983 211.917 198.714 191.053 192.018
Jawa Barat 117.786 113.663 105.508 109.354 114.034
NTT 86.464 89.591 76.247 87.906 86.608
DIY 60.695 60.926 61.237 62.543 71.718
Sumatera Utara 40.717 35.996 34.812 37.941 38.140
Sulawesi Selatan 27.568 32.852 31.026 29.796 28.347
Kalimantan Barat 17.020 17.775 15.573 13.677 13.929
Sulawesi Tenggara 14.820 14.825 14.933 12.190 14.803
Sumber: BPS(2010)

Lampiran 4. Produksi ubikayu (ton) di 10 propinsi di Indonesia tahun 2005–2009.


Propinsi Tahun
2005 2006 2007 2008 2009
Lampung 4.806.254 5.499.403 6.394.906 7.721.882 7.885.116
Jawa Timur 4.023.614 3.680.567 3.423.630 3.533.772 3.094.320
Jawa Tengah 3.478.970 3.553.820 3.410.469 3.325.099 3.369.046
Jawa Barat 2.068.981 2.044.674 1.922.840 2.034.854 2.124.899
NTT 891.783 938.010 794.121 892.907 1.098.192
DIY 920.909 1.016.270 976.610 928.974 916.997
Sumatera Utara 509.796 452.450 438.573 736.771 887.987
Sulawesi Selatan 464.435 567.749 514.277 504.198 481.434
Sulawesi Tenggara 256.467 238.039 239.271 217.727 220.739
Kalimantan Barat 243.251 250.173 221.630 193.804 58.494
Sumber: BPS (2010)
103

Lampiran 5. Produktivitas ubikayu (kuintal/ha) di 10 propinsi di Indonesia tahun


2005 – 2009.
Propinsi Tahun
2005 2006 2007 2008 2009
Lampung 190,00 194,00 201,86 242,09 246,15
Sumatera Utara 125,00 126,00 125,98 194,19 232,82
Jawa Barat 176,00 180,00 182,25 186,08 186,34
Jawa Tengah 165,00 168,00 171,63 174,04 175,45
Sulawesi Tengah 134,00 140,00 153,74 167,90 173,24
Sulawesi Selatan 168,00 173,00 165,76 169,22 169,84
Jawa Timur 159,00 158,00 153,29 160,34 152,65
Sulawesi Tenggara 173,00 161,00 160,23 178,61 149,12
DIY 152,00 167,00 159,48 142,77 153,13
Kalimantan Timur 154,00 155,00 159,86 154,30 151,33
Sumber: BPS (2010)

Lampiran 6. Perkembangan luas panen, produksi, dan produktivitas ubikayu di


Propinsi Lampung tahun 2005-2009.
Luas Panen Produksi Produktivitas
Tahun
(Ha) (Ton) (Kuintal/Ha)
2005 252.984 4.806.254 190,00
2006 283.430 5.499.403 194,00
2007 316.806 6.394.906 201,86
2008 318.969 7.721.882 242,09
2009 320.344 7.885.116 246,15
Sumber : BPS, 2010
104

Lampiran 7. Karakteristik beberapa varietas unggul ubikayu.


Varietas Karakteristik Keunggulan
Adira-1 Dilepas tahun 1978; umur 7-10 bulan; bentuk daun  Umur 7-10 bulan
menjari agak lonjong; warna pucuk daun coklat;  Hasil 22 ton/ha
warna tangkai daun merah bagian atas dan merah  Kadar pati 45%
muda bagian bawah; warna batang muda hijau  Kadar HCN 27,5 ppm
muda; warna batang tua coklat; warna kulit umbi
coklat bagian luar dan kuning bagian dalam; warna
daging umbi kuning; kualitas rebus baik; rasa enak;
kadar tepung/pati 45%; kadar protein 0,5% (basah);
kadar HCN 27,5 ppm; hasil rata-rata 22 t/ha umbi
basah; agak tahan tungau merah (Tetranichus
bimaculatus); tahan bakteri hawar daun (Cassava
Bacterial Blight, CBB), tahan penyakit layu
(Pseudomonas solanacearum), (Xanthomonas
manihotis).
Adira-2 Dilepas tahun 1978; umur 8-12 bulan; bentuk daun  Umur 8-12 bulan
menjari agak lonjong dan gemuk; warna pucuk daun  Hasil 22 ton/ha
ungu; warna tangkai daun merah muda bagian atas  Kadar pati 41%
dan hijau muda bagian bawah; warna batang muda  Kadar HCN 124 ppm
hijau muda; warna batang tua putih coklat; warna
kulit umbi putih coklat bagian luar dan ungu muda
bagian dalam; warna daging umbi putih; kualitas
rebus baik; rasa agak pahit; kadar tepung/pati 41%;
kadar protein 0,7% (basah); kadar HCN 124 ppm;
hasil rata-rata 22 t/ha umbi basah; cukup tahan
tungau merah (Tetranichus bimaculatus); tahan
penyakit layu (Pseudomonas solanacearum).
Darul Dilepas tahun 1998; Umur 8-12 bulan; Bentuk daun  Umur 8-12 bulan
Hidayah Menjari agak ramping; Warna daun pucuk hijau  Hasil 102,1 ton/ha
agak kekuningan; Warna tungkai daun tua merah;  Kadar pati 25-31,52%
Warna batang muda hijau; Warna batang tua putih;  Kadar HCN < 40 ppm
Kulit ari batang tipis mudah menge-lupas (tidak
tahan disimpan lama); Warna kulit umbi bagian luar
putih kecoklatan, bagian dalam merah jambu; Warna
daging umbi putih; Tekstur daging umbi padat;
Bentuk umbi memanjang; Kualitas rebus baik; rasa
kenyal seperti ketan; Kadar pati 25,00– 31,52%;
Kadar HCN Rendah (<40 ppm); Potensi hasil 102,10
t /ha umbi segar; Agak peka terhadap serangan hama
tungau merah (tetranichus sp) dan penyakit busuk
jamur.
Adira-4 Dilepas tahun 1987; umur 8 bulan; bentuk daun  Umur 8 bulan
biasa agak lonjong; warna pucuk daun hijau; warna  Hasil 25-40 ton/ha
tangkai daun merah kehijauan (muda hijau  Kadar pati 25-30%
kemerahan) bagian atas dan hijau kemerahan (hijau  Kadar HCN 68 ppm
muda) bagian bawah; warna batang muda hijau
muda; warna batang tua abu-abu; warna kulit umbi
coklat bagian luar dan ros bagian dalam; warna
daging umbi putih; kualitas rebus bagus tetapi agak
pahit; rasa agak pahit; kadar tepung/pati 25-30%;
kadar protein 0,8% (basah); kadar HCN 68 ppm;
hasil 25-40 t/ha umbi basah; cukup tahan tungau
merah (Tetranichus bimaculatus); tahan bakteri
105

Varietas Karakteristik Keunggulan


hawar daun CBB,tahan penyakit layu (Pseudomonas
solanacearum),( Xanthomonas manihotis).
Malang-1 Dilepas tahun 1992; umur 9-10 bulan; bentuk daun  Umur 9-10 bulan
menjari agak gemuk; warna pucuk daun hijau  Hasil 48,7 ton/ha
keunguan; warna tangkai daun tua bagian atas dan  Kadar pati 32-36%
bagian bawah hijau kekuning-kuningan dengan  Kadar HCN < 40 ppm
bercak merah ungu dibagian pangkal; warna batang
muda hijau muda; warna batang tua hijau keabu-
abuan; warna kulit umbi putih kecoklatan bagian
luar dan bagian dalam; warna daging umbi putih
kekuningan; kualitas rebus baik; rasa agak pahit;
kadar tepung/pati 32-36%; kadar protein 0,5%
(basah); kadar HCN <40 ppm (metode asam pikrat);
hasil rata-rata 36,5 t/ha umbi basah (24,3-48,7 t/ha);
toleran tungau merah (Tetranichus bimaculatus);
toleran bercak daun (Cercospora sp.).
Malang-2 Dilepas tahun 1992; umur 8-10 bulan; bentuk daun  Umur 8-10 bulan
menjari dengan cuping sempit; warna pucuk daun  Hasil 42 ton/ha
hijau muda kekuningan; warna tangkai daun tua  Kadar pati 25-31,52%
bagian atas dan bagian bawah hijau muda kekuning-  Kadar HCN < 40 ppm
kuningan; warna batang muda hijau muda; warna
batang tua coklat kemerahan; warna kulit umbi
coklat kemerahan bagian luar dan putih kecoklatan
bagian dalam; warna daging umbi kuning muda;
kualitas rebus baik; rasa enak (manis); kadar
tepung/pati 32-36%; kadar protein 0,5% (basah);
kadar HCN <40 ppm (metode asam pikrat); hasil
rata-rata 31,5 t/ha umbi basah (20-42 t/ha); agak
peka tungau merah (Tetranichus bimaculatus);
toleran bercak daun (Cercospora sp.) dan hawar
daun CBB.
Malang-4 Tidak bercabang; agak tahan terhadap hama tungau  Umur 9 bulan
merah; umur 9 bulan; hasil 39,7 t/ha; warna kulit  Hasil 39,7 ton/ha
luar umbi coklat; warna kulit dalam umbi putih;  Kadar pati 25-32%
daging umbi putih, rasa pahit (kadar HCN>100  Kadar HCN >100 ppm
ppm); kadar tepung/pati 25-32%.
Malang-6 Bercabang tinggi, agak tahan terhadap hama tungau  Umur 9 bulan
merah (Tetranichus bimaculatus); umur 9 bulan;  Hasil 36,5 ton/ha
hasil 36,5 t/ha; warna kulit umbi putih; warna kulit  Kadar pati 25-32%
dalam umbi kekuning-kuningan; daging umbi putih;  Kadar HCN >100 ppm
rasa pahit (kadar HCN >100 ppm); kadar pati 25-
32%.
UJ-3 Tegak; tidak bercabang; tahan terhadap CBB; umur  Umur 8-10 bulan
8-10 bulan; hasil 35-40 t/ha; warna kulit umbi krem  Hasil 35-40 ton/ha
keputihan; warna kulit dalam umbi putih kemerahan;  Kadar pati 25-30%
rasa pahit (kadar HCN >100 ppm); kadar tepung/pati  Kadar HCN >100 ppm
25-30%.
UJ-5 Tidak bercabang; tahan terhadap CBB; umur 9  Umur 9 bulan
bulan; hasil 38 t/ha; warna kulit umbi putih; warna  Hasil 38 ton/ha
kulit dalam umbi keunguan; rasa pahit (kadar HCN  Kadar pati 19-30%
>100 ppm); kadar pati 19-30%.  Kadar HCN >100 ppm

Sumber: Wargiono (2006); Balitkabi (2005); Balitkabi (2004).


106

Lampiran 8. Daftar perusahaan Industri tapioka di Provinsi Lampung


Kapasitas Produksi per
No. Nama Perusahaan
tahun (ton)
1 PT.Lenggang Citra Lestari 15.000
2 PT.Astra Swadaya Andalas Maju 63.000
3 PT.Luhur Perkasa Maju Dinamika 120.000
4 PT.Wira Kencana Adi Perdana Hutomo Budiono 75.000
5 PT.Sungai Budi Perkasa Widarto 18.000
6 PT.Eka Inti Tapioka Murni Handoko Winata 37.000
7 PT.Gunung Sumber Kasih 10.000
8 PT.Bali Bungasari 30.000
9 PT.Rama Utara 540
10 PT.Eka Inti Tapioka Murni Handoko Winata 75.000
11 PT.Multi Agro Coorpiration Drs.Kusuma Subagjo 40.000
12 PT.Wira Tapioka Mandiri 75.000
13 PT.Eka Inti Tapioka Mas 37.000
14 PT.Huma Indah Mekar 12.000
PT.Budi Acid Jaya (Eks.Bumi Lampung Permai)
15 Santoso Winata 24.000
16 PT.Umas Jaya Farm Slamet Winata 10.000
17 PT.Pola Kesatrian Jaya 18.000
18 PT.Budi Acid Jaya Slamet Winata 60.000
19 PT.Bumi Acid Jaya (Eks.CV.Bumi Waras) 63.000
20 PT.Teguh Wibawa Bhakti Persada 4.140
21 PT.Ersindo Dwi Mitra Lestari 18.000
22 PT.Lestari Eka Perdana 14.000
23 PT.Bali Bunga Sari 30.000
24 Perusahaan Tapioka Sanggar Buana 945
25 PT.Budi Acid Jaya Eks PT.Sungai Budi 43.000
26 PT.Budi Acid Jaya Eks.CV.Bumi Wara 75.000
27 Alwi 945
28 PT.Wilang Sari 17.000
29 PT.Wira Kencana Adi Perdana 30.000
30 PT.Wira Kencana Adi Perdana 30.000
31 PT.Sinar Pematang Mulia 7.500
32 PT.Budi Acid Jaya Eks.CV.Bumi Waras 45.000
33 PT.Budi Acid Jaya Eks.CV.Bumi Waras 75.000
34 Sumber Agung 750
35 Tapioka Bumi Nabung 750
36 Bangun 2.268
37 CV.Sinar Bintang 1.000
38 Suka Bumi 2.160
39 Mataram 850
40 Tapioka Karya Kencana 190
41 Bumi Nabung I 750
42 Bumi Nabung II 608
43 Betry 580
44 PT.Bumi Jaya Murni 1.260
45 PT.Budi Acid Jaya 48.000
46 Gunung Sugih Agung 1.000
107

Kapasitas Produksi per


No. Nama Perusahaan
tahun (ton)
47 Sinar Bahuga 1.000
48 PT.Adi Wira Satu Pertiwi 2.000
49 Setia Budi 3.500
50 Tapioka Subur Makmur 580
51 Johali 6.000
52 Tapioka Sanggar Buana 1.000
53 Banjar Sari 2.000
54 Selamet 1.250
55 Jangkar Mas 6.000
56 Gayatri 648
57 Hang Tuah 945
58 Gunung Intan 190
59 Sentral Intan 1.500
60 Sri Budoyo 200
61 Gunung Intan 4.500
62 Gunung Sugih 8.000
63 Way Raman 1.000
64 CV.Bumi Waras 30.000
65 PT.Matuli Biaoja 40.000
Sumber: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Lampung (2006)
108

Lampiran 9. Hasil evaluasi metode quickscan proses produksi industri tapioka


TINDAKAN
FAKTOR KEMUNGKINAN KOREKSI
DITOLAK DITERIMA

1.Ingredient
a.) Ubikayu Terlalu muda atau terlalu tua Diganti / dikembalikan ke supplier Mempengaruhi konsentrasi pati, Usia ubikayu yang
kadar padatan terlarut optimum
Kadar pati rendah Disesuaikan dengan skala Mempengaruhi viskositas bubur pati Kadar pati sesuai
standar(24 %)
Banyak lender Dicuci sampai lendir hilang Produk akhir jelek; menyebabkan Tanpa lendir
reaksi pencoklatan
Warna kuning hingga lebam Diganti (dikembalikan ke supplier) Mempengaruhi warna tepung Warna putih cerah

2. Processing
b.) Pencucian Tidak bersih Mengulang proses pencucian; Mencemari tepung sehingga Bersih / tidak ada kulit
mengganti air secara periodik menurunkan kualitas produk yang masih terikut
Air terlalu banyak/ terlalu sedikit Menyesuaikan jumlah air Masih ada lendir yang dapat Bersih tanpa lendir
menyebabkan pencoklatan
c.) Pemarutan Tidak sempurna Menyempurnakan pemarutan Menurunkan kadar pati produk Kadar pati > 86 % kadar
serta halus rendah

Granula pati yang keluar terlalu Koreksi mesin Granula pati yang keluar <90% Granula pati yang keluar
sedikit > 90%
d.) Filtering Tidak sempurna, penyaring rusak Melakukan dengan sempurna, koreksi Kadar impurities yang rendah Mengurangi kemurnian
alat produk (mengandung
ampas)
Kandungan kotoran masih tinggi Melakukan dengan sempurna Kadar pati tinggi, kadar serat rendah Mengurangi kemurnian
produk
e.) Ekstraksi Serat masih terbawa Melakukan ekstraksi secara bertahap Kemurnian tinggi, kadar serat rendah Mempengaruhi
kemurnian produk
108
109

TINDAKAN
FAKTOR KEMUNGKINAN KOREKSI
DITOLAK DITERIMA
f.) De-Watering Kadar air susu pati masih tinggi Koreksi alat; putaran silinder diatur Kadar air sudah sesuai untuk drying Menyulitkan
konstan 1450 rpm pengeringan (beban
draying berat) produk
tidak kering
g.) Pengeringan Suhu terlalu rendah atau terlalu Drying pada temperatur optimum 50- Warna, rasa, bau yang sesuai Menurunkan kualitas
/drying tinggi 60oC; warna, bau, dan rasa
produk
Kelembaban tinggi Mengatur kelembaban yang sesuai; Produk yang kering Produk yang belum
meniupkan aliran udara panas; kontrol cukup kering
suhu
Kadar air awal pati basah masih Kembali ke (penyempurnaan tahap de- Drying sulit,produk tidak cukup Kadar air yang optimum
tinggi watering kering untuk drying
Waktu drying terlalu lama/ singkat Menyesuaikan dengan standar waktu Produk belum cukup kering Produk kering
Laju aliran udara tidak konstan Stabilisasi laju aliran udara Kadar air produk tidak seragam Kadar air produk yang
seragam
h.) Pengemasan Kontaminasi mikroba Penyimpanan aseptis Menurunkan kualitas (bau apek, Tidak ada perubahan
dan warna kuning karena jamur)
penyimpanan

109
110

Lampiran 10. Estimasi Biaya Instalasi Biogas Industri Tapioka


No. Rincian Harga
1 Desain detail 675,000,000.00
Sub Total 675,000,000.00

2 Fasilitas
1. Gas Engine Genset System 3.2 MW 12,375,000,000.00
2. Equipment, pump, installation work 2,260,000,000.00
3. Piping System & Gas Piping 2,264,500,000.00
4. Gas Solid Separator, Plate Settle 1,150,000,000.00
5. Electrical & Control System 895,000,000.00
6. Gas Blower & Control Panel 265,000,000.00
7. Gas Flare 360,000,000.00
8. Acid Pond Mixer 462,500,000.00
9. Scada System & PLC Panel 243,000,000.00
Sub Total 20,275,000,000.00

3 Konstruksi 3,800,000,000.00
Sub Total 3,800,000,000.00

4 Lain-lain 250,000,000.00
Sub Total 250,000,000.00

TOTAL 25,000,000,000.00
111

Lampiran 11. Perhitungan


PERHITUNGAN REDUKSIReduksi
CO2 CO2

Baseline Emission from avoided methane emission


BEy.ww.tread= Qy.ww * jumlah(CODy.ww.removed.i*B0.ww*M CFww.treatment.i*GWP_CH4)

Baseline
Quantity y.ww COD removed B0.ww Emission
jumlah M FCww GWP_CH4
(m3) (ton/m3) (CH4/kg COD) y.ww.tread (ton
CO2 e)
89,249 0.056448 0.016 0.21 0.8 21 5,038

Dimana:
- Quantity y.ww adalah jumlah limbah cair yang diolah melalui CIGAR
- COD removed = dihitung menggunakan asumsi efektivitas alat yang digunakan sesuai perhitungan yang dilakukan
pada saat perancangan yaitu 0,016 ton m3
- BO = bangkitan metane dari air limbah yang diolah berdasarkan perhitungan IPCC 2006 adalah 0,25 CH4/kg COD
- M FC = perhitungan faktor koreksi metanuntuk industri kecil yang digunakan oleh IPCC 2006 yaitu 0,8 (Tabel III.H.1)
- GWP = potensi pemanasan global yang diakibatkan oleh metan berdasarkan ketentuan dari UNFCCC yaitu 21

BEy.power= Egy*Efelectricity

Electricity Baseline
Generator in Emission y
EF electricity
year power
(M Wh) (ton CO2 e)
38.78 0.82 31.80

Dimana:
- Electricity Generator in year = jumlah listrik yang dibutuhkan oleh industri yaitu 38,78 M Wh per tahun
- EF electricity = faktor emisi dari penggunaan generator dengan bahan bakar fosil sesuai ketentuan UNFCCC yaitu 0,82

BE= BE ww tread + BE y power

Baseline Baseline
Baseline
Emission in ww Emission in y
Emission
tread power (ton
(ton CO2 e)
(ton CO2 e) CO2 e)

5,037.91 31.80 5,069.71


112

Lampiran 12. IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories, 2006
113

Lampiran 13. Wawancara dengan petugas quality control dalam tahapan proses
produksi tapioka

Lampiran 14. Wawancara dengan Salah satu manager pabrik mengenai penentuan
kadar pati dalam ubikayu
114

Lampiran 15. Pengambilan sampel air limbah dari separator

Lampiran 16. Air limbah yang berasal dari pencucian ubikayu


115

Lampiran 17. Pengambilan air limbah di IPAL industri iapioka

Lampiran 18. Pengukuran di lokasi (Temperatur, pH, dan DO) bersama Dr. Ir.
Udin Hasanudin, M.T.
116

Lampiran 19. Kunjungan Prof.Dr.Ir. H.M.H. Bintoro, M.Agr. ke lokasi salah satu
industri tapioka
117

Lampiran 20. Limbah padat yang cukup melimpah masuk ke kolam penampungan
air limbah

Lampiran 21. Limbah onggok yang dihasilkan dari proses produksi industri tapioka
118

Lampiran 22. Salah satu IPAL Industri tapioka

Lampiran 23. Salah satu outlet IPAL akhir industri tapioka

Lampiran 24. Spektrofotometer HACH 4000U untuk mengukur COD


119

Lampiran 25. Digestion Reactor DRB 200 untuk pemanas COD

Lampiran 26. Inkubator dan furnace untuk analisa TS dan VTS

Lampiran 27. Desikator dan timbangan analitik 4 digit


120

Lampiran 28. Gas Chromatography dan seperangkat PC untuk analisa konsentrasi


biogas

Lampiran 29. Reagen COD yang telah diisi sampel air limbah
121

Lampiran 30. Hasil biogas yang dimanfaatkan untuk memasak

Lampiran 31. Generator biogas dengan kapasitas 3.2 MW