Anda di halaman 1dari 6

HUBUNGAN PELAKSANAAN ORAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN

INFEKSI RONGGA MULUT PADA PASIEN DENGAN PENURUNAN


KESADARAN DI RSU IMELDA PEKERJA INDONESIA MEDAN

Nixson Manurung
Email : nixsonmanurung@gmail.com

ABSTRAK

Oral Hygiene adalah tindakan untuk membersihkan dan menyegarkan mulut, gigi
dan gusi. Untuk pasien yang tidak mampu mempertahankan kebersihan mulut dan gigi
secara mandiri harus dipantau sepenuhnya oleh perawat. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan antara pelaksanaan oral hygiene pada pasien penurunan
kesadaran dengan kejadian infeksi pada rongga mulut di RSU Imelda Pekerja Indonesia
Medan. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan
menggunakan rancangan Cross Sectional pada 30 responden pasien dengan penurunan
kesadaran di RSU Imelda Pekerja Indonesia Medan. Variabel independen penelitian ini
adalah pelaksanaan Oral Hygiene dan variabel dependen penelitian ini adalah kejadian
infeksi rongga mulut. Data dikumpulkan melalui observasi dan menggunakan instrumen
berupa checklist. Hasil penelitian bahwa ada hubungan yang bermakna secara signifikan
antara pelaksanaan oral hygiene dengan kejadian infeksi rongga mulut dengan batas
kemaknaan α < 0.05. Didapatkan p = 0,00, sehingga 0,00 < 0.05. Disarankan perawat
meningkatkan pelaksanaan oral hygiene dengan cara mengikuti SOP yang ada
diruangan.

Kata Kunci : Oral Hygiene , Kejadian infeksi rongga mulut


Pendahuluan data RSU Imelda Pekerja Indonesia
Medan, bahwa terdapat 3% kasus
Oral hygiene adalah tindakan dengan penurunan kesadaran atau koma
untuk membersihkan dan menyegarkan dari 10% jumlah kasus
mulut, gigi dan gusi (Clark, dalam kegawatdaruratan neurologi di RSU
Shocker, 2008). Dan menurut Taylor, et Imelda Pekerja Indonesia Medan.
al (dalam Shocker, 2008), oral hygiene
adalah tindakan yang ditujukan untuk Berangkat dari masalah yang
menjaga kontinuitas bibir, lidah dan dipaparkan di atas, peneliti merasa
mukosa mulut, mencegah infeksi dan tertarik untuk mengetahui Hubungan
melembabkan membran mulut dan Pelaksanaan Oral Hygiene Dengan
bibir. Sedangkan menurut Hidayat dan Kejadian Infeksi Rongga Mulut Pada
Uliyah (2005), oral hygiene merupakan Pasien Dengan Penurunan Kesadaran di
tindakan keperawatan yang dilakukan RSU Imelda Pekerja Indonesia Medan
pada pasien yang dihospitalisasi. pada tahun 2014
Tindakan ini dapat dilakukan oleh
pasien yang sadar secara mandiri atau
dengan bantuan perawat. Untuk pasien Metode
yang tidak mampu mempertahankan
kebersihan mulut dan gigi secara Desain yang digunakan dalam
mandiri harus dipantau sepenuhnya oleh penelitian ini adalah deskriptif korelasi
dengan menggunakan rancangan Cross
perawat.
Sectional yaitu penelitian yang
Tujuan utama dari kesehatan menekankan waktu pengukuran /
observasi data variabel independen dan
rongga mulut adalah untuk mencegah
dependen hanya satu kali pada satu saat
penumpukan plak dan mencegah (Nursalam, 2009).
lengketnya bakteri yang terbentuk pada Penelitian ini akan dilaksanakan di RSU
gigi. Akumulasi plak bakteri pada gigi Imelda Pekerja Indonesia Medan pada
karena hygiene mulut yang buruk 16 Desember 2014 s/d 18 Desember
adalah faktor penyebab dari masalah 2014. Jumlah sampel dalam penelitian
utama kesehatan rongga mulut, ini adalah 30 orang. Analisa data
terutama gigi. Kebersihan mulut yang dilakukan dengan analisis univariat dan
buruk memungkinkan akumulasi bakteri bivariat. Berdasarkan karakteristik data
penghasil asam pada permukaan gigi. tersebut maka uji statistik menggunakan
Asam demineralizes email gigi uji Chi Square yang bertujuan untuk
menyebabkan kerusakan gigi (gigi mengetahui adanya hubungan antara
berlubang). Plak gigi juga dapat pelaksanaan oral hygiene dengan
menyerang dan menginfeksi gusi kejadian infeksi rongga mulut. Variabel
menyebabkan penyakit gusi dan penelitian ini akan dianalisis
periodontitis. menggunakan Program Komputerisasi,
dengan uji statitic parametrik
Penurunan kesadaran
menggunakan uji Chi Square dengan
merupakan kasus gawat darurat yang
batas kemaknaan r < 0.05.
sering dijumpai dalam praktek sehari-
hari. Berdasarkan hasil pengumpulan
Hasil dan Pembahasan Pembahasan

Dari data memberikan gambaran Diketahui bahwa dilaksanakan oral


umur responden sebagian besar 53,3 % hygiene pada 28 responden mengalami
atau 16 orang berusia 30 tahun – 60 infeksi ringan sebanyak 19 responden (
tahun. 30 % atau 9 orang berusia < 30 67,9% ) dan infeksi sedang sebanyak 9
tahun dan responden yang paling sedikit responden ( 32,1% ). Tidak
berusia > 60 tahun sebanyak 16,7% atau dilaksanakan oral hygiene pada 2
5 orang. responden ( 0% ) mengalami infeksi
berat sebanyak 2 responden ( 100% ).
Gambaran responden yang paling Dengan uji chi-square diketahui bahwa
banyak adalah berjenis kelamin laki-laki ada hubungan yang bermakna secara
sebesar 53,3 % atau 16 orang, signifikan antara pelaksanaan oral
sedangkan 46,7 % atau 14 orang hygiene dengan kejadian infeksi rongga
berjenis kelamin perempuan mulut dengan batas kemaknaan α <
0.05. Didapatkan p = 0,00, sehingga
Hasil penelitian menunjukkan 0,00 < 0.05. Pelaksanaan oral hygiene
bahwa sebagian besar responden dilaksanakan dan responden yang
(pasien) dilaksanakan oral hygiene mengalami infeksi ringan dan infeksi
sebanyak 93,3 % atau 28 orang dan sedang diasumsikan peneliti infeksi
tidak dilaksanakan oral hygiene rongga mulut tetap terjadi walaupun
sebanyak 6,7 % atau 2 orang telah dilaksanakan oral hygiene hal ini
Hasil penelitian menunjukkan dipengaruhi oleh tidak adanya gerakan
bahwa sebagian besar responden mengunyah dan menelan secara
(pasien) mengalami kejadian infeksi fisiologis oleh karena responden
ringan sebesar 61 % atau 19 orang, mengalami penurunan kesadaran
kemudian kategori infeksi sedang 9 % dimana responden tidak sadar dalam arti
atau 9 orang dan kategori infeksi berat 8 tidak terjaga/tidak terbangun secara
% atau 2 orang utuh. Rongga mulut adalah bagian
teratas dari saluran pencernaan yang
Tabulasi silang hubungan merupakan tempat hidup bakteri aerob
pelaksanaan tindakan oral hygiene dan anaerob yang berjumlah lebih dari
dengan kejadian infeksi rongga mulut 400 ribu spesies bakteri.
pada pasien dengan penurunan
kesadaran diatas dapat diketahui bahwa Pelaksanaan oral hygiene
dilaksanakan oral hygiene pada 28 dilaksanakan dan responden yang
responden mengalami infeksi ringan mengalami infeksi ringan dan infeksi
sebanyak 19 responden ( 67,9% ) dan sedang diasumsikan peneliti juga
infeksi sedang sebanyak 9 responden ( dipengaruhi oleh faktor prilaku perawat
32,1% ). Tidak dilaksanakan oral dalam melaksanakan oral hygiene yaitu
hygiene pada 2 responden ( 0% ) tidak mematuhi SOP. Hal ini
mengalami infeksi berat sebanyak 2 dilatarbelakangi karena kurangnya
responden ( 100% ). Dengan uji chi- supervisi dalam menejemen
square diketahui bahwa ada hubungan keperawatan. Supervisi merupakan
yang bermakna secara signifikan antara bagian yang penting dalam manajemen
pelaksanaan oral hygiene dengan serta keseluruhan. Dalam pelaksanaan
kejadian infeksi rongga mulut dengan supervisi, supervisor membuat suatu
batas kemaknaan α < 0.05. Didapatkan keputusan tentang suatu pekerjaan yang
p = 0,00, sehingga 0,00 < 0.05 akan dilaksanakan, kemudian siapa
yang akan melaksanakan. Disini peneliti
melihat kurangnya tanggung jawab
kepala ruangan dalam supervisi penurunan kesadaran dilaksanakan oral
pelayanan kesehatan diunit kerjanya hygiene. Uji statistik menggunakan uji
yaitu ruang ICU. Kepala ruangan chi square menunjukkan ada hubungan
merupakan ujung tombak penentu pelaksanaan oral hygiene dengan
tercapai tidaknya tujuan pelayanan kejadian infeksi rongga mulut pada
dalam memberikan asuhan keperawatan Pasien dengan penurunan kesadaran di
dan pendokumentasian diunit kerjanya. RSU Imelda Pekerja Indonesia Medan.
Hal ini juga relevan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Anang
Satrianto (2008) bahwa pada penderita
Saran
yang mengalami penurunan kesadaran
dan gangguan neuromusculer, oral Diharapkan kepada pihak
hygiene merupakan tindakan yang meneger keperawatan melaksanakan
mutlak dilakukan oleh perawat ( supervisi langsung dan tidak langsung
Doengoes,2000 ). Pemberian asuhan untuk menemukan berbagai
keperawatan untuk membersihkan hambatan/permasalahan dalam
mulut pasien sedikitnya dua kali sehari pelaksanaan asuhan keperawatan
(perry,2005). Menuntun prilaku diruangan dengan mencoba memandang
seseorang sehingga orang tersebut dapat secara menyeluruh faktor-faktor yang
bertindak sesuai dengan sikap yang mempengaruhi dan bersama dengan staf
diekspresikan. Prilaku perawat dalam keperawatan untuk mencari jalan
melakukan oral hygiene pada pasien pemecahannya.
penurunan kesadaran berlandaskan pada
sikap yang perlu dimiliki seorang Diharapkan kepala ruangan
perawat agar dapat bertanggung jawab dalam supervisi
memberikanpelayanan dengan baik. ( pelayanan keperawatan diunit kerjanya
Sunaryo,2004 ). Berdasarkan uraian dengan melakukan kegiatan meliputi :
tersebut diatas, maka dalam perencanaan dan pengorganisasian,
pelaksanaan oral hygiene terdapat dua membuat penugasan dan memberi
komponen yang memiliki peranan, yang pengarahan juga bimbingan, mendorong
pertama adalah komponen sikap dan kerjasama dan berpartisipasi,
yang kedua adalah komponen prilaku. melakukan koordinasi kegiatan dan
Dua komponen tersebut berinteraksi melakukan evaluasi hasil penampilan
satu dengan yang lainnya dan kerja.
memberikan pengaruh terhadap
tindakan keperawatan. Faktor-faktor Diharapkan perawat dapat
yang mempengaruhi komponen prilaku menyelesaikan tugasnya secara efektif
adalah faktor endogen antara lain jenis dan efisien, melaksanakan sistem dan
ras, jenis kelamin, sifat fisik, sifat prosedur yang tidak menyimpang dan
kepribadian, bakat pembawaan, meningkatkan kemampuan perawat
intelegensi dan faktor karena akan berdampak pada
peningkatan kualitas pelayanan
kesehatan, terutama pelaksanaan oral
hygiene untuk mengurangi kejadian
Kesimpulan infeksi rongga mulut dengan cara
mengikuti SOP yang ada diruangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pelaksanaan oral hygiene sudah
dilaksanakan oleh perawat, pernyataan
ini didukung dengan adanya data
sebesar 93,3 % pasien dengan
Daftar Pustaka digilib.unimus.ac.id/download.php?
id=739
Alicia et al. (2004). CDC & HICPAC:
Guidline for prevention of surgical Genuit, T., Bochicchio, G., Napolitano,
site infection. Diperoleh tanggal 09 L.M., McCarter, R.J., Roghman,
Agustus 2012 dari M.C (2004). Prophylactic
www.cdc.gov/hicpac/pdf/SSIguideli Chlorhexidine Oral Rinse
nes.pdf. Decreases Ventilator-Associated
Pneumonia in Surgical ICU
Amalia et al. (2008). Hubungan Patients. Diperoleh tanggal 09
pelaksanaan tindakan oral hygiene Agustus 2012 dari
dengan kejadian infeksi rongga http://www.liebertonline.com/doi/pd
mulut pada pasien cedera kepala f/journal.
dengan penurunan kesadaran di
ruang 13 RSU Dr. Saiful Anwar Grap, M.J et al. (2003). Duration of
Malang. Diperoleh tanggal 09 action of a single, early oral
Agustus 2012 dari application of chlorhexidine on oral
http://www.depkes.ujs.com/jurnal. microbial flora in mechanicallyu
ventilated patients: A pilot study.
Arifin, M. (2002). Peranan oksigen Heart and Lung, 33(2), 83-91.
reaktif pada cedera kepala berat
pengaruhnya pada gangguan fungsi Hafid, B. (2002). Kranioplasti
enzim akinitase dan kondisi asidosis Ototransplantasi Kalvarium.
primer otak.FKM UI. Perbandingan Penyimpanan di
Subgalea dan Penyimpanan Beku
Burn, N., & Grove, S.K. (2005). The [Disertasi]. Program Pascasarjana
practice of nursing research: Universitas Airlangga, Surabaya.
conduct, crique, and utilization. (5 th
ed). Missouri: Elsevier Sounders. Hastono, S.P. (2010). Statistik kesehatan.
Rajawali Pers: Jakarta.
Chulay, M. (2005). VAP Prevention: The
Latest Guidelines. Diperoleh Heni et al. (2001). Keperawatan
tanggal 09 Agustus 2012 dari kardiovaskuler, pusat kesehatan
http://rn.modernmedicine.com/rnwe jantung dan pembuluh darah.
b/articleDetail.jsp?id=149672. Jakarta: Diklat Rumah sakit Jantung
Harapan Kita.
Doenges, M.E. (2000). Rencana asuhan
keperawatan; pedoman untuk Hidayat, AAA. (2008). Metode Penelitian
perencanaan dan Keperawatan Dan Tekhnik Analisis
pendokumentasian perawatan Data. Salemba Medika: Jakarta.
pasien. Edisi 3. Jakarta: EGC.
Ibrahim, E.H. (2000). A Comparative
Dzulfikar. (2006). Karakteristik Analysis of Patients with Early-Oset
Penderita yang Mendapat Tindakan VS Late-Onset
Ventilasi Mekanik Yang Dirawat di Nosocomialpneumonia in The ICU
ruang Perawatan Intensif Anak Setting. Chest. 117:1434-42.
Rumah Sakit Hasan Sadikin
Bandung. Bandung: FKUP Rumah
Sakit Hasan Sadikin Bandung. Ikhsanuddin, A.H. (2010). Asuhan
Keperawatan pada pasien dengan
Ernawati (2006). Ventilator Associated koma myxedema. Diperoleh tanggal
Pneumonia. Diperoleh pada tanggal
09 Agustus 2012 dari
09 Agustus 2012 dari Prasanti, F. (2008). Efek chlorhexidine
http://ocw.usu.ac.id. terhadap resiko karies ditinjau dari
pH plak dan pH saliva. Diperoleh
Koeman M, Hak F, Ramsay G, Joore tanggal 09 Agustus 2012 dari
Kaasjager K, Hans, Vander Ven. http://www.lontar.ui.ac.id.
(2006). Oral decontamination with
chlorehexidine reduces the inciden Purnawan. (2010). Kapita Selekta
of ventilator associated pneumonia. Kedokteran, Jakarta: Media
American journal of respiratory and Aesculapius Fakultas Kedokteran
critical care medicine. Availeable Universitas Airlangga.
from:
http//ajrccm.atsjournals.org/cgi/cont Rello et al. (2007). Prevention of zero
ent/short/173/121348. rate possible. associated
pneumonia. American Journal of
Kurniadi. (2010). Perbedaan efektivitas respiratory and critical care
oral hygiene antara povidone iodine medicine. Diperoleh tanggal 09
dengan chlorhexidine terhadap Agustus 2012 dari
clinical pulmonary infection score http://ajrccm.atsjournals.org/ci/cont
pada penderita dengan ventilator ent/short/173/12/1348.
mekanik. Diperoleh tanggal 09
agustus 2012 dari Rello et al. (2007). Oral care practices in
http://eprints.undip.ac.id/29081/. intensive care units: a survey of 59
European ICUs. Diperoleh tanggal
Luna, C.M et al. (2003). Resolution of 09 Agustus 2012 dari
Ventillator associated pneumonia http://www.liebertonline.com/doi/pd
prospective evaluation of the f/journal.
clinical pulmonary infection score
as an early clinically predictor of Smeltzer & Bare. (2002). Keperawatan
outcome. Critical care Med 31: 676- Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta:
82. EGC.

Medical Record RSUD Arifin Achmad. Sony, H.S. (2010). Kin Mouthwash with
(2012). Prevalensi pasien yang Chlorhexidine. Diperoleh tanggal 09
terpasang ventilator di Ruang ICU Agustus 2012 dari
RSUD Arifin Achmad. Pekanbaru: http://www.galapharma.com.
RSUD Arifin Achmad.
Wiryana. (2007). Ventilator associated
Nursalam. (2003). Konsep dan pneumonia. Denpasar: FK UNUD.
Penerapan Metodologi Penelitian Diperoleh tanggal 09 agustus 2012
Ilmu Keperawatan. Jakarta: dari
Salemba Medika. digilib.unimus.ac.id/download.php?
id=7397.
Peterson, D. (2005). How to use
Chlorhexidine 0,12%. Diperoleh
tanggal 09 Agustus 2012 dari
www.dentalgentlecare.com .

Potter & Perry. (2009). Buku Ajar


Fundamental Keperawatan (Edisi
4). Jakarta: EGC.