Anda di halaman 1dari 3

Anestesi, Fisiologi Maternal dan Fetal

Bab ini mengemukakan fisiologi normal yang berhubungan dengan kehamilan,


persalinan dan kelahiran bayi.
Kehamilan mempengaruhi semua system organ.
I. Efek sistem saraf pusat
Minimal alveolar konsentrasi menurun selama kehamilan. Kembali normal
setelah hari ketiga post partum. Ini adalah efek dari progesteron dan B-endorfin.
Obat anestesi local juga dapat dikurangi selama kehamilan, ini akibat
pelebaran pembuluh darah epidural. Efek pembendungan vena kava inferior adalah 1.
penurunan volume cairan serebrospinal, 2. menurunkan volume ruang epidural dan 3.
meningkatkan tekanan rongga epidural. Kedua efek pertama menguatkan penyebaran
cephalad, namun efek ketiga bisa menyebabkan penembusan dura.
II. Efek respirasi
Konsumsi oksigen meningkat 20-40 % dan ventilasi per menit meningkat
40-50 % saat kehamilan. PaCO2 menurun sampai 28-32 mmHg. Kardiak output
meningkat sehingga meningkatkan penyaluran oksigen ke jaringan. Diameter
anteroposterior dinding dada pada trimester 3 meningkat sehingga pergerakan
difragma terpengaruh. Pernafasan yg terjadi adalah pernafasan ddg dada. FRC
menurun 20% saat aterm. Jika terjadi apnea dapat terjadi desaturasi yang cepat. Saat
terlentang FRC meningkat saat aterm sehingga bisa terjadi atelektasis dan
hypoksemia. Persalinan tidak boleh terlentang tanpa menggunakan oksigen.
Penurunan FRC menyebabkan kenaikan minute ventilation sehingga menigkatkan
pengambilan zat anestesi. Terjadi juga pembengkakan saluran nafas atas sehingga
harus menggunakan ETT yang kecil (6mm-7mm) .
III. Efek kardiovaskular
Kardiak output dan volume darah meningkat. Terjadi penambahan plasma
sehingga terjadi anemia dan penurunan viskositas darah. Penurunan sistemik vaskular
resisten akan menurunkan diastol muali pada trimester kedua. Respon terhadap agen
adrenergik dan vasokonstriktor menumpul. Saat aterm volume darah meningkat 1000
– 1500 ml, atau 90 ml/kgbb. Kardiak output meningkat 40% aterm karena denyut
jantung meningkat 15-30% dan stroke volume 30%. Penurunan kardiak output terjadi
stl 28 minggu kehamilan. Saat aterm pada 20% wanita hamil terjadi supine
hypotension syndrome. Kompresi aortocaval bisa menyebabkan fetal distress namun
dapat dicegah. Kombinasi dari sistemik hipotensi, peningkatan tekanan vena uterus,
dan hipoperfusi uterus menyebabkan perburukan uterus. Jika dikombinasi dengan
efek hipotensi anestesi regional dapat menyebabkan asfeksi janin maka pasien > 28
minggu jika harus terlentang harus diganjal dibawah panggul kanan sebesar >15
derajat. Obstruksi vena kava juga menyebabkan stasis vena, phlebitis dan edema
ekstrimitas bawah. Elevasi difragma menggeser posisi jantung sehingga terlihat
pembesaran jantung pada thoraks foto, left axis deviasi dan perubahan gelombang T
pada EKG. Bisa juga terdengar murmur sistolik grade 1-2 dan splitting bunyi jantung
S1 dan S3, kadang terjadi asimtomatik pericardial efusi.
IV. Efek renal
Terjadi renal vasodilatasi tapi autoregulasi tetap terjaga. Ginjal membesar.
Peningkatan renin dan aldosteron menyebabkan retensi sodium. Aliran plasma renal,
dan GFR meningkat sebanyak 50% saat trimester pertama. Serum kreatini dan BUN
menurun, kadang terjadi glycosuria dan proteinuria.
V. Efek Gastrointestinal
Refluks gastroesofageal dan esophagitis kadang terjadi. Penurunan tonus
spincter gastroesofageal, hipersekresi asam lambung, sehingga beresiko terhadap
aspirasi pneumonia.
VI. Efek Hepar
Peningkatan fosfatase serum alkalin karena disekrsi di plasenta. Terjadi
penurunan 25-30 % serum pseudokolonesterase.
VII. Efek hematologis
Kehamilan berhubungan dengan keadaan hiperkoagulasi. Semua faktor
pembekuan meningkat kecuali faktor XI.
VIII. Efek Metabolik
Kompleks metabolik dan perubahan hormonal terlihat selama kehamilan.
Terjadi peningkatan kadar gula sehingga insulin pun meningkat dan sel B pankreas
meningkat. Peningkatan gonadotropin dan estrogen menyebabkan pembesaran
kelenjar tiroid dan globulin.
IX. Efek Muskuloskeletal
Peningkatan relaksin memudahkan persalinan tapi menyebabkan nyeri
punggung.

Sirkulasi Uteroplasental
Tergantung dari uterine blood flow dan fungsi plasenta. Uterine blood flow 10%
dari kardiak output atau 600-700 ml/min. 80 % masuk ke plasenta sisanya ke
miometrium. Yang menyebabkan penurunan uterin blood flow 1. sistemik hipotensi 2.
vasokonstriksi uterus, 3. kontraksi uterus. Efedrin adalah vasokonstriktor terpilih
pada kehamilan.

Fungsi Plasenta
Mempunyai sisi maternal dan fetal, memiliki 2 arteri dan satu vena umbilikalis.
Pertukaran plasenta melalui difusi (semua zat dengan berat dibawah 1000), bulk flow
(air), transport aktif (asam amino, vitamin dan kalsium, besi), pinositosis (molekul
besar seperti imunoglobulin), pemecahan (pemecahan membran plasenta dan
pencampuran darah maternal dan fetal bertanggung jawab atas Rh sensitisasi)

Pertukaran gas respirasi


Konsumsi oksigen fetus 21 ml/min. Oksigen dan karbondioksida bertukar lewat
plasenta.

Pertukaran zat anestesi


Tergantung ratio vena umbilikalis dan vena maternal (UV/UM), sedangkan
uptake-nya tergantung ratio umbilikal arteri fetus ke umbilikal vena (UA/UV). Semua
agen inhalasi dan semua agen intravena dapat melewati plasenta, obat inhalasi dapat
sedikit menyebabkan fetal depresi jika <1 MAC dan persalinan < 10 menit. Efek
opioid bervariasi, bisa memperlambat persalinan. Fentanyl kurang menyebabkan
depresi fetal. Transfer plasenta tergantung 1. pKa, 2. maternal dan fetal pH dan, 3.
Protein binding
Barbiturat dan propofol berhubungan dengan reduksi ringan pada uterin blood
flow. Midazolam hipotensi sementara jika digunakan untuk induksi, volatile
menurunkan tekanan darah dan aktivitas uterus.

Efek persalinan terhadap ibu adalah hiperventilasi yang menyebebkan PaCO2


dibawah 20 mmHg, juga dapat menyebabkan penurunan uterin blood flow dan fetal
asidosis.
Oksotosin jika infus cepat bisa menyebabkan hipotensi, ergot alkaloid dapat
menyebabkan hipertensi jadi dimasukkan secara perlahan, magnesium berguna untuk
tokolisis dan mencegah kejang eklamsi 4 gr i.v, lalu 2 gr i.v/jam, efek samping
hipotensi, blok jantung dan sedasi.

Fisiologi Fetus
Setengah kardiak output fetus menuju plasenta
1. Darah mengandung oksigen dari plasenta bercampur dengan darah vena dari
tubuh bagian bawah dan ke inferior vena kava ke atrium kanan.
2. dari atrium kanan melalui foramen ovale ke atrium kiri.
3. lalu ke ventrikel kiri ke bagian tubuh atas
4. darah dari tubuh bagian atas dengan sedikit oksigen masuk ke superior vena
kava ke atrium kanan
5. Dari atrium kanan ke ventrikel kanan lalu ke arteri pulmonal
6. Tapi karena resistensi besar darah masuk ke aorta melalui duktus arteriosus
lalu kembali ke plasenta dan tubuh bagian bawah.
Bayi dapat hidup diluar setelah 24-26 minggu karena kapiler paru baru terbentuk.
Surfaktan terbentuk minggu ke 34. Ketika bayi keluar pervaginam cairan di paru
diperas keluar saat dada melewati pelvis, bayi yang dilahirkan secara SC tidak
mengalami ini sehingga dapat terjadi takipnea sementara post partum.
Hipoksia dan asidosis selama hari2 pertama post partum bisa merubah
perubahan fisiologis fetus, lingkaran setan terjadi jika right to left shunt terjadi
post partum bisa menambah besarnya shunt itu sendiri.