Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana telah memberikan kami

semua kekuatan serta kelancaran dalam menyelesaikan makalah mata kuliah Bahasa

Indonesia yang berjudul “Kata dan Pembentukan” dapat selesai seperti waktu yang telah

kami rencanakan. Tersusunnya makalah ini tentunya tidak lepas dari berbagai pihak yang

telah memberikan bantuan secara materil dan spiritual, baik secara langsung maupun tidak

langsung. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dosen pengasuh mata kuliah Bahasa Indonesia Ibu

Eva Maulida, M.pd. Universitas Muhammaddiyah

2. Orang tua yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada penulis sehingga

makalah ini dapat terselesaikan

3. Teman-teman yang telah membantu dan memberikan dorongan semangat agar makalah ini

dapat di selesaikan

Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang membalas budi baik yang tulus dan

ihklas kepada semua pihak yang penulis sebutkan di atas. Tak ada gading yang tak retak,

untuk itu kamipun menyadari bahwa makalah yang telah kami susun dan kami kemas masih

memiliki banyak kelemahan serta kekurangan-kekurangan baik dari segi teknis maupun non-

teknis. Untuk itu penulis membuka pintu yang selebar-lebarnya kepada semua pihak agar

dapat memberikan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan penulisan-

penulisan mendatang. Dan apabila di dalam makalah ini terdapat hal-hal yang dianggap tidak

berkenan di hati pembaca mohon dimaafkan.

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................................................1

DAFTAR ISI .............................................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................3
A. Latar Belakang ................................................................................................................................. 3
B. Rumusan Masalah..................................................................................................................4
C. Tujuan.....................................................................................................................................4
D. Manfaat ............................................................................................................................................ 4

BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................5
A. Pengertian Kata......................................................................................................................5
B. Jenis-Jenis Kata ................................................................................................................................ 5
C. Bagian-Bagian Kata...............................................................................................................6
D. Pembentukan Kata ................................................................................................................7
E. Pengertian Kalimat ............................................................................................................. 15
F. Pembentukan Kalimat ......................................................................................................... 15
G. Pembuatan Kalimat ............................................................................................................ 16

BAB III PENUTUP.........................................................................................................................21


A. Kesimpulan ....................................................................................................................................... 21

B. Saran ................................................................................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA ..……………………………………………………………………. 23

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kata adalah unsur bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna.

Ada banyak ragam pembentukan kata dalam Bahasa Indonesia. Sebagian besar kata dibentuk

dengan cara menggabungkan beberapa komponen yang berbeda. Untuk memahami cara

pembentukan kata-kata tersebut, kita sebaiknya mengetahui lebih dahulu beberapa konsep

dasar dan istilah dari pembentukan kata.

Pemakaian kata secara tepat dalam kalimat merupakan ciri khas bahasa Indonesia

ragam ilmiah. Kata-kata yang digunakan adalah kata yang bermakna tunggal dan denotatif.

Kata yang bermakna tunggal digunakan untuk menghindari timbulnya berbagai penafsiran

terhadap gagasan yang dikemukakan dalam kalimat. Yang dimaksud dengan kata denotatif

adalah kata-kata yang mengandung makna sebenarnya tanpa dikaitkan dengan nilai rasa.

Untuk memperoleh ketepatan penggunaan kata dalam kalimat, penulis harus paham

betul akan makna ataupun konsep yang terwakili dalam kata-kata yang dipilihnya. Dalam

memilih kata yang tepat untuk suatu kalimat dibutuhkan pengetahuan tentang gagasan yang

dikemukakan dalam kata itu. Di samping itu, pengetahuan tentang ciri-ciri kata benda, kata

kerja, dan kata sifat harus pula kita miliki.

Begitu juga dalam proses pembentukan kalimat, kita harus mengetahui dan tahu

menempatkan unsur-unsur dalam kalimat yaitu subjek, predikat, objek, keterangan, dan

pelengkap.

3
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, masalah yang mungkin akan muncul antara lain:

1. Bagaimanakah proses pembentukan dari sebuah kata dan kalimat ?

2. Hal-hal apa sajakah yang perlu diperhatikan dalam pembentukan kata dan kalimat ?

3. Masalah apa sajakah yang timbul dari pembentukan kata ?

C. Tujuan

Tujuan yang dicapai dalam pembuatan makalah pembentukan kata dan kalimat ini adalah:

1. Mahasiswa diharapkan mampu mengerti dan memahami tentang pembentukan kata dan

kalimat.

2. Mahasiswa diharapkan mampu menganalisis proses pembentukan kata dan kalimat.

3. Mahasiswa diharapkan mampu memecahkan persoalan atau masalah-masalah yang

timbul dari pembentukan kata dan kalimat.

D. Manfaat

Manfaat yang dapat diperoleh dari pembuatan makalah pembentukan kata dan kalimat

ini adalah untuk mengetahui dan memahami tentang proses pembentukan kata dan kalimat

serta hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam proses pembentukan kata dan kalimat.

Setelah mengetahui tentang proses pembentukan kata dan kalimat yang benar, mahasiswa

akan dapat memecahkan dan menyelesaikan persoalan terkait dengan masalah pembentukan

kata dan kalimat.

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kata

Kata adalah satuan bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri atau kata adalah kumpulan dari

beberapa huruf yang mengandung arti tersendiri.

B. Jenis – Jenis Kata

1. Nomina (kata benda)

nama dari seseorang, tempat atau semua benda dan segala yang di bendakan, misalnya: buku,

meja, dll.

2. Verba (kata kerja)

kata yang menyatakan suatu tindakan atau pengertian dinamis, misalnya baca, lari, dll.

3. Adjectiva (kata sifat)

kata yang menjelaskan kata benda, misalnya: keras, cepat.

4. Adverbia (kata keterangan)

kata yang memberikan keterangan pada kata yang bukan kata benda, misalnya: sekarang,

agak, dll.

5. Promina (kata ganti)

kata penggati kata benda, misalnya: ia, itu, dll.

6. Numeralia (kata bilangan)

kata yang menyatakan jumlah benda atau hal atau menunjukan urutannya dalam suatu

deretan, misalnya: satu, kedua, dll.

"Kata tugas adalah jenis kata di luar kata-kata di atas yang berdasarkan peranannya"

5
C. Bagian – Bagian Kata

1. Kata dasar (akar kata)

kata yang paling sedarhana yang belum memiliki imbuhan, juga dapat di kelompokkan

sebagai bentuk asal (tunggal) dan bentuk dasar (kompleks), tetapi berbedaan kedua bentuk ini

tidak dapat di bahas di sini.

2. Afiks (imbuhan)

Satuan terikat (seperangkat huruf tertentu) yang apabila di tambahkan pada kata dasar akan

mengubah makna dan membentuk kata baru. Afiks tidak dapat berdiri sendiri dan harus

melekat pada satuan lain seperti kata dasar. istilah afiks termasuk, prefiks, sufiks, dan konfiks.

3. Prefiks (awalan)

Afiks (imbuhan) yang melekat di depan kata dasar untuk membentuk kata baru dengan arti

yang berbeda.

4. Sufiks (akhiran)

Afiks yang melekat di belakang kata dasar untuk membentuk kata baru dengan arti yang

berbeda.

5. Konfiks (sirkumfiks / simulfiks)

Secara simultan (bersamaan), satu afiks melekat di depan kata dasar dan satu afiks melekat di

belakang kata dasar yang bersama-sama mendukung satu fungsi.

6. Kata turunan (kata jadian)

kata yang baru di turunkan dari kata dasar yang mendapat imbuhan.

7. Keluarga kata dasar

kelompok kata turunan yang semuanya berasal dari satu kata dasar dan memiliki afiks yang

berbeda.

D. Pembentukan Kata

6
Untuk dapat digunakan di dalam kalimat atau pertuturan tertentu, maka setiap bentuk

dasar, terutama dalam bahasa fleksi dan aglutunasi, harus dibentuk lebih dahulu menjadi

sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses

komposisi. Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat, yaitu:

1. Inflektif

Alat yang digunakan untuk penyesuaian bentuk itu biasanya berupa afiks, yang mungkin

berupa prefiks, infiks, dan sufiks atau juga berupa modifikasi internal, yakni perubahan yang

terjadi di dalam bentuk dasar itu.

2. Derivatif

Pembentukan kata secara infektif, tidak membentuk kata baru, atau kata lain yang berbeda

identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya. Hal ini berbeda dengan pembentukan kata

secara derivatif atau derivasional. Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru,

kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

PROSES MORFEMIS

Afiksasi

adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini

terlibat unsur-unsur:

1. Dasar atau bentuk dasar

2. Afiks

3. Makna gramatikal yag dihasilkan

Proses ini dapat bersifat inflektif dan dapat pula bersifat derivatif. Namun, proses ini tidak

berlaku untuk semua bahasa. Ada sejumlah bahasa yang tidak mengenal proses afiksasi ini.

7
Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada

sebuah dasar dalam proses pembentukan kata. Sesuai dengan sifat kata yang dibentuknya,

dibedakan adanya dua jenis afiks, yaitu afiks inflektif dan afiks derivatif.

Afiks yang Umum

Prefiks: ber-, di-, ke-, me-, meng-, mem-, meny-, pe-, pem-, peng-, peny-, per-, se-, ter-

Sufiks: -an, -kan, -i, -pun, -lah, -kah, -nya

Konfiks: ke – an, ber – an, pe – an, peng – an, peny – an, pem – an, per – an, se – nya

Infiks: -el-, -er-, -em-, -in-, -ah-

Mempelajari proses pembentukan kata-kata dan metode pembubuhan afiks merupakan

kunci untuk memahami makna kata-kata turunan dan belajar membaca teks Bahasa Indonesia.

Sebagian besar kata yang terdapat dalam surat kabar dan majalah Indonesia berafiks. Jika

seseorang mengerti makna kata dasar, ia dapat mengerti makna sebagian besar kata yang

berasal (diturunkan) dari kata dasar itu dengan menggunakan kaidah umum untuk masing-

masing jenis afiks.

Berikut ini adalah penjelasan singkat dari beberapa afiks yang telah disebutkan di atas:

ber- : Menambah prefiks ini membentuk verba (kata kerja) yang sering kali mengandung arti

(makna) mempunyai atau memiliki sesuatu. Juga dapat menunjukkan keadaan atau kondisi

atribut tertentu. Penggunaan prefiks ini lebih aktif berarti mempergunakan atau mengerjakan

sesuatu. Fungsi utama prefiks “ber-“ adalah untuk menunjukkan bahwa subyek kalimat

merupakan orang atau sesuatu yang mengalami perbuatan dalam kalimat itu.

8
kan : Menambah sufiks ini akan menghasilkan kata kerja yang menunjukkan penyebab proses

pembuatan atau timbulnya suatu kejadian. Fungsi utamanya yaitu untuk memindahkan

perbuatan verba ke bagian dalam kalimat.

ke-an : Konfiks ini yang paling umum digunakan dalam Bahasa Indonesia. Konfiks ini adalah

untuk:

1. Membentuk nomina yang menyatakan hasil perbuatan atau keadaan dalam pengertian

umum yang menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan kata dasar.

2. Membentuk nomina yang menunjuk kepada tempat atau asal.

3. Membentuk adjektif yang menyatakan keadaan berlebihan.

4. Membentuk verba yang menyatakan kejadian yang kebetulan.

Bedakan dengan kata berawalan “p” yang dilekati awalan “pe-“ yang keduanya luluh menjadi

“pem-“, misalnya “pemimpin” bukan “pimpin” yang diberi infiks “-em-“ melainkan “pimpin”

yang diberi awalan “pe-“.

Sisipan -in-:

Kerja = kinerja

Sambung = sinambung

Dikarenakan tidak ada suatu daftar kata-kata yang dapat diimbuhi infiks, maka

diperlukan pengetahuan kosakata bahasa Indonesia untuk misalnya membedakan bahwa kata

“keledai” bukanlah kata “kedai” yang diberi sisipan “-el-“.

9
Kesalahan Afiks

Kesalahan penggunaan afiks yang ditemukan cukup beragam. Ada banyak ketidak

tepatan dalam menentukan afiks yang akan digunakan dalam proses verbalisasi maupun

nominalisasi. Afiks-afiks tersebut sering digunakan terbalik-balik, misalnya seharusnya

memakai afiks me- tetapi menggunakan afiks ber- dan demikian pula sebaliknya.

Ketidaktepatan tersebut akan berakibat tidak tepatnya sense kalimat yang dibentuk dan

bergesernya arti kalimat tersebut.

Contoh kesalahan-kesalahan penggunaan afiks:

1. Saya nikmat perjalan di Indonesia.

2. Kalau orang tua perceraian, anaknya sering tinggal dengan ibunya.

3. Ketika saya membaca tentang perkelahian pelajar, saya mengherankan.

Alternatif pembenarannya:

1. Saya menikmati perjalanan di Indonesia.

2. Kalau orang tua bercerai, anak-anaknya sering tinggal bersama ibunya.

3. Ketika saya membaca berita tentang perkelahian pelajar, saya heran.

Reduplikasi

adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara

sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi, seperti meja-meja (dari dasar meja),

reduplikasi sebagian seperti lelaki (dari dasar laki), dan reduplikasi dengan perubahan bunyi,

seperti bolak-balik (dari dasar balik). Reduplikasi semu, seperti mondar-mandir, yaitu sejenis

bentuk kata yang tampaknya sebagai hasil reduplikasi, tetapi tidak jelas bentuk dasarnya yang

diulang.

10
Proses reduplikasi dapat bersifat paradigmatis (infleksional) dan dapat pula bersifat

derivasional. Reduplikasi yang paradigmatic tidak mengubah identitas leksikal, melainkan

hanya memberi makna gramatikal. Misalnya, meja-meja berarti “banyak meja” dan kecil-

kecil yang berarti “banyak yang kecil”. Yang bersifat derivasional membentuk kata baru atau

kata yang identitas leksikalnya berbeda dengan bentuk dasarnya. Dalam bahasa Indonesia

bentuk laba-laba dari dasar laba dan pura-pura dari dasar pura.

Khusus mengenai reduplikasi dalam bahasa Indonesia ada beberapa catatan yang perlu

dikemukakan, yakni:

Pertama,

bentuk dasar reduplikasi dalam bahasa Indonesia dapat berupa morfem dasar seperti

meja yang menjadi meja-meja, bentuk berimbuhan seperti pembangunan yang menjadi

pembangunan-pembangunan, dan bisa juga berupa bentuk gabungan kata seperti surat kabar

yang menjadi surat-surat kabar atau surat kabar-surat kabar.

Kedua,

bentuk reduplikasi yang disertai afiks prosesnya mungkin

1) proses reduplikasi dan proses afiksasi itu terjadi bersamaan seperti pada bentuk

berton-ton dan bermeter-meter

2) proses reduplikasi terjadi lebih dahulu, baru disusul oleh proses afiksasi, seperti pada

berlari-lari dan mengingat-ingat (dasarnya lari-lari dan ingat-ingat)

3) proses afiksasi terjadi lebih dahulu, baru kemudian diikuti oleh proses reduplikasi,

seperti pada kesatuan-kesatuan dan memukul-memukul (dasarnya kesatuan dan

memukul).

Ketiga,

11
pada dasar yang berupa gabungan kata, proses reduplikasi mungkin harus berupa

reduplikasi penuh, tetapi mungkin juga hanya berupa reduplikasi parsial. Misalnya, ayam itik-

ayam itik dan sawah ladang-sawah ladang (dasarnya ayam itik dan sawah ladang) contoh

yang reduplikasi penuh, dan surat-surat kabar serta rumah-rumah sakit (dasarnya surat kabar

dan rumah sakit) contoh untuk reduplikasi persial.

Keempat,

banyak orang menyangka bahwa reduplikasi dalam bahasa Indonesia hanya bersifat

paradigmatis dan hanya memberi makna jamak atau kevariasian. Namun, sebenarnya

reduplikasi dalam bahasa Indonesia juga bersifat derivasional. Oleh karena itu, munculnya

bentuk-bentuk seperti mereka-mereka, kita-kita, kamu-kamu, dan dia-dia tidak dapat

dianggap menyalahi kaidah bahasa Indonesia.

Kelima,

ada pakar yang menambahkan adanya reduplikasi semantis, yakni dua buah kata yang

maknanya bersinonim membentuk satu kesatuan gramatikal. Misalnya, ilmu pengetahuan,

hancur, luluh, dan alim ulama.

Keenam,

dalam bahasa Indonesia ada bentuk-bentuk seperti kering kerontang, tua renta, dan

segar bugar di satu pihak; pada pihak lain ada bentuk-bentuk seperti mondar-mandir,

tunggang-langgang, dan komat-kamit, yang wujud bentuknya perlu dipersoalkan.

Komposisi

12
adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang

bebas maupun yang terikat sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas

leksikal yang berbeda atau yang baru.

Dalam bahasa Indonesia proses komposisi ini sangat produktif. Hal ini dapat dipahami,

karena dalam perkembangannya bahasa Indonesia banyak sekali memerlukan kosakata untuk

menampung konsep-konsep yang belum ada kosakatanya atau istilahnya dalam bahasa

Indonesia. Produktifnya proses komposisi itu dalam bahasa Indonesia menumbulkan berbagai

masalah dan berbagai pendapat karena komposisi itu memiliki jenis dan makna yang berbeda-

beda. Masalah-masalah itu antara lain masalah kata majemuk.

Yang menarik adalah meskipun EYD telah mengatur dengan cukup jelas tata cara

penulisan gabungan kata, masih banyak ditemukan kesalahan yang dilakukan pengguna

bahasa Indonesia dalam menuliskan kata majemuk.

Prinsip ringkas penulisan kata gabungan adalah:

1. Ditulis terpisah antar unsurnya. Contoh: darah daging.

2. Boleh diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian dan menghindari salah

pengertian. Contoh: orang-tua muda.

3. Ditulis terpisah jika hanya diberi awalan atau akhiran. Contoh: berterima kasih.

4. Ditulis serangkai jika sekaligus diberi awalan dan akhiran. Contoh: menyebarluaskan.

5. Ditulis serangkai untuk beberapa lama yang telah ditentukan. Contohnya :

manakala, kilometer.

Konversi dan Modifikasi Internal

13
Konversi, sering juga disebut derivasi zero, transmutasi dan transposisi, adalah proses

pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Modifikasi internal (sering disebut juga penambahan internal atau perubahan internal)

adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (yang biasanya berupa

vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap.

Pemendekan

adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga

menjadi sebuah bentuk singkat tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya.

Hasil proses pemendekan ini kita sebut kependekan. Misalnya, bentuk lab (utuhnya

laboratorium), hlm (utuhnya halaman), l (utuhnya liter), hankam (utuhnya pertahanan dan

keamanan), dan SD (utuhnya Sekolah Dasar).

Produktivitas proses morfemis

Yang dimaksud dengan produktivitas dalam proses morfemis ini adalah dapat tidaknya

proses pembentukan kata itu terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi digunakan

berulang-ulang yang secara relatif tak terbatas, artinya ada kemungkinan menambah bentuk

baru dengan proses tersebut. Proses inflektif atau paradigmatis karena tidak membentuk kata

baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya, tidak dapat

dikatakan proses yang produktif. Proses inflektif bersifat tertutup.

E. Pengertian kalimat

14
Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri,mepunyai pola

intonasi final,dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa atau dalam

linguistik,kalimat adalah satuan dari bahasa atau arus ujaran yang berisikan kata atau

kumpulan kata yang memiliki pesan atau tujuan dan di akhiri dengan intonasi final.

F. Macam – Macam Kalimat

1. Kalimat aktif dan Kalimat pasif

Kalimat aktif adalah kalimat yang memiliki subjek untuk melakukan pekerjaan dan

predikat yang berupa kata kerja me-atau ber- dan di-

2. Kalimat langsung dan Kalimat tidak langsung

Kalimat langsung adalah kalimat yang menirukan ucapan orang dan pada bagian

kutipan berupa kalimat tanya dan kalimat perintah menggunakan tanda petik (“.....”)

Kalimat tidak langsung adalah kalimat yang menceritakan kembali kepada orang lain yang

pada bagian kutipan berubah menjadi kalimat berita.

3. Kalimat tunggal sederhana dan Kalimat tunggal luas

Kalimat tunggal sederhana adalah kalimat terdiri dari kata yang menduduki jabatan

subjek,predikat dan objek.

Kalimat tunggal luas adalah kalimat tunggal yang samping terdiri atas kata yang

menduduki fungsi sebagai subjek,predikat dan objek yang terdapat unsur perluasan pada

kalimat. Kalimat majamuk adalah kalimat yang mempunyai dua struktur kalimat yaitu kalimat

dasar atau kalimat lebih.

1. kalimat majemuk setara (koordinasi)

2. kalimat majemuk bertingkat

15
3. kalimat majemuk bertingkat

4. Kalimat efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada

pikiran pendengar atau pembaca

5. Kalimat berita

Kalimat berita adalah suatu kalimat yang peristiwa atau kejadian.

6. Kalimat perintah

Kalimat perintah adalah kalimat yang berisi peritah kepada orang lain untuk

melakukan sesuatu dan untuk mendapatkan tanggapan sesuatu

Kalimat tanya adalah suatu kalimat yang mengandung pertanyaan tentang yang belum di

ketahui

G. Pembentukan kalimat

1. Unsur Kalimat

Unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam buku-buku tata bahasa Indonesia

lama lazim disebut jabatan kata dan kini disebut peran kata, yaitu subjek (S), predikat (P),

objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket). Kalimat bahasa Indonesia baku terdiri dari

sekurang-kurangnya atas dua unsur, yakni S dan P. Unsur yang lain (O, Pel, dan Ket) dalam

suatu kalimat dapat wajib hadir, tidak wajib hadir, atau wajib tidak hadir.

a. Subjek

16
adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, tokoh, sosok (benda), sesuatu hal,

atau suatu masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan. Subjek biasanya diisi oleh

jenis kata/frasa benda (nominal), klausa, atau frasa verbal.

1. Ayahku sedang melukis.

2. Meja direktur besar.

3. Yang berbaju batik dosen saya.

Selain ciri di atas, S dapat juga dikenali dengan cara bertanya dengan memakai kata

tanya siapa (yang)… atau apa (yang)… kepada P. Kalau ada jawaban yang logis atas

pertanyaan yang diajukan, itulah S. Jika ternyata jawabannya tidak ada atau tidak logis berarti

kalimat itu tidak mempunyai S.

Inilah contoh “kalimat” yang tidak mempunyai S karena tidak ada atau tidak jelas pelaku atau

bendanya.

1. Bagi siswa sekolah dilarang masuk.

(yang benar : Siswa sekolah dilarang masuk)

2. Di sini melayani resep obat generik.

(yang benar : Toko ini melayani resep obat generik).

3. Melamun sepanjang malam.

(yang benar : Dia melamun sepanjang malam)

b. Predikat

adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan (tindakan) apa atau dalam

keadaan bagaimana S (pelaku/tokoh atau benda di dalam suatu kalimat).

Selain memberi tahu tindakan atau perbuatan S, prediksi dapat pula menyatakan sifat, situasi,

status, ciri, atau jatidiri S. Termasuk juga sebagai P dalam kalimat adalah pernyataan tentang

17
jumlah sesuatu yang dimiliki S. Predikat dapat berupa kata atau frasa, sebagian besar berkelas

verba atau adjektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal.

Perhatikan contoh berikut ini.

1. Kuda meringkik.

2. Ibu sedang tidur siang.

3. Putrinya cantik jelita.

Tuturan di bawah ini tidak memilik P karena tidak ada kata-kata yang menunjuk perbuatan,

sifat, keadaan, ciri dan status pelaku/bendanya.

1. Adik saya yang gendut lagi lucu itu.

2. Kantor kami yang terletak di Jln. Gatot Subroto.

3. Bandung yang terkenal sebagai kota kembang.

c. Objek

adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Objek pada umumnya diisi oleh nominal,

frasa nominal, atau klausa. Letak O selalu di belakang P yang berupa verba transitif, yaitu

verba yang menuntut wajib hadirnya O seperti pada contoh dibawah ini.

a. Nurul menimang……....(bonekanya)

b. Arsitek merancang………....(sebuah gedung bertingkat)

Jika P diisi oleh verba intransitif, O tidak diperlukan.

a. Nenek sedang tidur.

b. Komputerku rusak.

c. Tamunya pulang.

Objek dalam kalimat aktif dapat berubah menjadi S jika kalimatnya dipasifkan. Perhatikan

contoh kalimat berikut yang letak O-nya di belakang dan lihat ubahan posisinya bila

kalimatnya dipasifkan.

18
a. Serena Williams mengalahkan Angelique Wijaya [O].

a. *Angelique Wijaya [S] dikalahkan oleh Serena Williams.

b. Orang itu menipu adik saya [O].

b. *Adik saya [S] ditipu orang itu

d. Pelengkap

Pelengkap (Pel) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Letak Pel

umumnya di belakang P yang berupa verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh O, dan jenis

kata yang mengisi Pel dan O juga sama, yaitu dapat juga berupa nominal, frase nominal, atau

klausa. Namun, antara Pel dan O terdapat perbedaan. Perhatikan contoh di bawah ini.

1. Ketua MPR // membacakan // Pancasila.

S P O

2. Banyak orsospol // berlandaskan // Pancasila.

S P Pel

Beda Pel dan O adalah Pel tidak dapat dipasipkan menjadi subjek, sedangkan O dapat

dipasipkan menjadi subyek.

Posisi Pancasila sebagai Pel pada contoh no. 2 di atas tidak dapat dipindahkan ke depan

menjadi S dalam kalimat pasip.

Contoh yang salah : Pancasila dilandasi oleh banyak orsospol (X)

Akan tetapi Pancasila sebagai O pada contoh no. 1 di atas dapat dibalik menjadi S dalam

kalimat pasip.

Contoh : Pancasila dibacakan oleh Ketua MPR.

S P O

19
Hal lain yang membedakan Pel dan O adalah jenis pengisinya.Selain diisi oleh nomina

dan frase nominal, Pel dapat pula diisi oleh frase adjektival dan frase preposisional. Di

samping itu, letak Pel tidak selalau persis di belakang P. Kalau dalam kelimatnya terdapat O,

letak Pel adalah di belakang O sehingga urutuan penulisan bagian kalimat menjadi S-P-O-Pel.

Berikut adalah beberapa contoh pelengkap dalam kalimat.

1. Sutardji membacakan pengagumnya puisi kontemporer.

2. Mayang mendongengkan Rayhan Cerita si Kancil.

3. Sekretaris itu mengambilkan atasannya air minum.

Bedakan :

- Sekretaris itu mengambil air minum untuk atasannya.

- Annisa mengirim kopiah bludru untuk kakaknya.

(Kata atasannya dan kakanya menjadi Keterangan (Ket.), sedangkan air minum dan kopiah

bludru adalah Objek).

e. Keterangan

Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai halmengenai

S,P,O, dan Pel. Posisinya bersifat manasuka, dapat di awal, di tengah, atau di akhir kalimat.

Pengisi Ket adalah frase nominal, frase preposional, adverbal, atau klausa.

1. Sekretaris itu mengambilkan atasannya air minum dari kulkas. (ket. Tempat)

2. Eryna Pudi sekarang sedang belajar. (ket. Waktu)

3. Lia memotong roti dengan pisau. (ket. alat)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

20
Kesimpulan dari makalah pembentukan kata dan kalimat ini adalah:

1. Pembentukan kata mempunyai dua sifat, yaitu pertama membentuk kata-kata yang bersifat

inflektif, dan kedua yang bersifat derivatif.

2. Afiksasi asalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar.

3. Prefiks adalah afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar. Sufiks adalah afiks yang

diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar. Infiks adalah afiks yang diimbuhkan di tengah

bentuk dasar. Konfiks adalah afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama

berposisi pada awal bentuk dasar, dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk

dasar. Interfiks adalah sejenis infiks atau elemen penyambung yang muncul dalam proses

penggabungan dua buah unsur.

4. Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara

keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi.

5. Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik

yang bebas maupun yang terikat sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki

identitas leksikal yang berbeda atau yang baru.

6. Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa

perubahan unsur segmental.

7. Modifikasi internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur

(yang biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap.

8. Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem

sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk

utuhnya.

21
9. Kalimat adalah adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri,mepunyai pola

intonasi final,dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.

10. Subjek adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, tokoh, sosok (benda), sesuatu

hal, atau suatu masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan. Subjek biasanya diisi

oleh jenis kata/frasa benda (nominal), klausa, atau frasa verbal.

11. Predikat adalah adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan (tindakan) apa atau

dalam keadaan bagaimana S (pelaku/tokoh atau benda di dalam suatu kalimat).

12. Objek adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Objek pada umumnya diisi oleh

nominal, frasa nominal, atau klausa.

13. Pelengkap adalah bagian kalimat yang melengkapi P.

B. Saran

Untuk pengembangan lebih lanjut, saran yang dapat saya berikan adalah:

1. Perlunya pemahaman yang lebih mendalam terhadap proses pembentukan kata dan

kalimat.

2. Perlu adanya batasan-batasan yang jelas mengenai materi yang termasuk dalam

pembentukan kata dan kalimat.

3. Dibutuhkan banyak referensi, baik dari buku, internet, maupun surat kabar.

DAFTAR PUSTAKA

Slametmuljana. 1957. Kaidah Bahasa Indonesia. Jakarta: Djambatan

22
Samsuri. 1987. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga

Kridalaksana, Harimurti. 1989. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama

[1] Slametmuljana. 1957. Kaidah Bahasa Indonesia. Jakarta: Djambatan hal 199

[2] Samsuri. 1987. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga hal 190

[3] Kridalaksana, Harimurti. 1989. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama hal 29-178

23