Anda di halaman 1dari 11

Qanun Medika vol.I no.

2 | Juli 2017

Tinjauan Pustaka

TINJAUAN ANATOMI KLINIK DAN MANAJEMEN BELL’S PALSY

Nur Mujaddidah
1)Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya

Submitted : May 2017 | Accepted : June 2017 | Published : July 2017

ABSTRACT

Bell's Palsy is a peripheral facial nerve weakness (facial nerve) with acute onset on one
side of the face. This condition causes the inability of the patient to move half of his face
consciously (volunter) on the affected side. The Bell's Palsy incidence is 20-30 cases out of
100.000 people, and accounts for 60-70% of all cases of unilateral facial paralysis. The disease
is self-limited, but causes great suffering for patients who are not treated properly. Controversy
in the management is still debated, and the cause is still unknown. The underlying hypothesis
are ischemic, vascular, viral, bacterial, hereditary, and immunologic. Therapy done so far is to
improve facial nerve function and healing process. The management of the therapy used will be
closely related to the structure of the anatomy and its functions and associated abnormalities.
The modalities of Bell's Palsy therapy are with corticosteroids and antivirals, facial exercises,
electrostimulation, physiotherapy and decompression operations. Approximately 80-90% of
patients with Bell's palsy recover completely within 6 months, even in 50-60% of cases
improved within 3 weeks. Approximately 10% experienced persistent facial muscle asymmetry,
and 5% experienced severe sequelae, and 8% of cases were recurrent.

Keywords : Bell's palsy, facial nerve, self-limited


Korespondensi : sayamujaddidah@gmail.com

ABSTRAK

Bell’s palsy adalah kelemahan atau kelumpuhan saraf perifer wajah (nervus fasialis)
secara akut pada sisi sebelah wajah. Kondisi ini menyebabkan ketidakmampuan penderita
menggerakkan separuh wajahnya secara sadar (volunter) pada sisi yang sakit. Insiden Bell’s
Palsy adalah sebesar 20-30 kasus dari 100.000 orang, dan merupakan 60 – 70% dari seluruh
kasus kelumpuhan perifer wajah unilateral. Penyakit ini bersifat sembuh sendiri (self-limited),
tetapi menimbulkan penderitaan yang besar bagi pasien jika tidak ditangani dengan sempurna.
Kontroversi dalam tatalaksana masih diperdebatkan, dan penyebabnya pun masih tidak
diketahui dengan pasti. Hipotesis penyebabnya antara lain iskemik, vaskular, virus, bakteri,
herediter, dan imunologi. Terapi yang dilakukan selama ini adalah untuk meningkatkan fungsi
saraf wajah dan proses penyembuhan. Manajemen terapi yang digunakan akan sangat terkait
dengan struktur anatomi dan fungsi serta kelainan yang berhubungan dengannya. Modalitas
terapi Bell’s palsy yaitu dengan kortikosteroid dan antiviral, latihan fasial, elektrostimulasi,
fisioterapi dan operasi dekompresi. Sekitar 80-90% pasien dengan Bell’s palsy sembuh total
dalam 6 bulan, bahkan pada 50-60% kasus membaik dalam 3 minggu. Sekitar 10% mengalami
asimetri muskulus fasialis persisten, dan 5% mengalami sekuele yang berat, serta 8% kasus
dapat rekuren.

1
Qanun Medika vol.I no.2 | Juli 2017

Kata kunci : Bell’s palsy, nervus fasialis, self-limited


Korespondensi : sayamujaddidah@gmail.com

PENDAHULUAN Hal ini menjadikan kesamaan persepsi


mengenai manajemen Bell’s palsy belum
Bell’s palsy merupakan kasus ada.
terbanyak dari kelumpuhan akut perifer Pengetahuan tentang anatomi dasar
wajah unilateral di dunia. Insidensinya saraf wajah (nervus facialis) dan otot-otot
adalah sebesar 20-30 kasus dari 100.000 wajah yang diinervasinya adalah penting
orang. Bell’s palsy menempati porsi sebesar dalam pemahaman tentang Bell’s palsy.
60-70% dari seluruh kasus kelumpuhan Para ahli yang menangani harus memahami
perifer wajah unilateral (Murthy & Saxena, anatomi dasar yang dikaitkan dengan
2011). Data yang dikumpulkan dari 4 buah anatomi klinik dalam penanganan penyakit
Rumah sakit di Indonesia menunjukkan ini. Manajemen terapi yang digunakan akan
bahwa frekuensi Bell’s palsy sebesar 19,55 sangat terkait dengan struktur anatomi dan
% dari seluruh kasus neuropati (Sabirin, fungsi serta kelainan yang berhubungan
1990). dengannya.
Kontroversi dalam tata laksana masih
diperdebatkan. Sebagian besar kasus (85%) PEMBAHASAN
sembuh sempurna dalam 1-2 bulan dan Definisi Dan Etiologi Bell’s Palsy
rekurensi terjadi pada 8% kasus. (Lowis & Bell’s Palsy pertama sekali
Gaharu 2012). Banyak perbedaan pendapat dideskripsikan pada tahun 1821 oleh
muncul dalam pemberian terapi yang tepat. seorang anatomis dan dokter bedah
Proses penyembuhan kadang lama. bernama Sir Charles Bell (Lowis & Gaharu
Rekurensi terjadi pada beberapa pasien. 2012). Bell’s palsy adalah kelemahan atau
Beberapa hal ini memberikan beban bagi kelumpuhan saraf perifer wajah secara akut
pasien secara material dan psikologis. (acute onset) pada sisi sebelah wajah (de
Kelumpuhan saraf wajah pada Bell’s Almeida et al., 2014).
palsy tidak diketahui dengan pasti Lima kemungkinan (hipotesis)
penyebabnya hingga saat ini. Kondisi ini penyebab Bell’s palsy, yaitu iskemik
menyebabkan ketidakmampuan penderita vaskular, virus, bakteri, herediter, dan
menggerakkan separuh wajahnya secara imunologi. Hipotesis virus lebih banyak
sadar (volunter) pada sisi yang sakit. dibahas sebagai etiologi penyakit ini.
Walaupun Bell’s palsy bersifat bisa sembuh Sebuah penelitian mengidentifikasi genom
sendiri (self-limited), penyakit ini bisa virus herpes simpleks (HSV) di ganglion
menyebabkan penyulit seperti kerusakan genikulatum seorang pria usia lanjut yang
mata akibat kelopak mata tidak bisa meninggal enam minggu setelah
menutup. Beberapa gejala sisa dapat mengalami Bell’s palsy(Lowis & Gaharu
muncul pada penderita akibat pengobatan 2012).
yang tidak tepat. Terapi yang dilakukan Etiologi Bell’s palsy terbanyak
selama ini adalah untuk meningkatkan diduga adalah infeksi virus. Mekanisme
fungsi saraf wajah dan proses penyembuhan pasti yang terjadi akibat infeksi ini yang
(Baugh et al., 2013). Kontroversi banyak menyebabkan penyakit belum diketahui.
terjadi pada modalitas terapi yang dipakai. Inflamasi dan edema diduga muncul akibat

2
Qanun Medika vol.I no.2 | Juli 2017

infeksi. Nervus fasialis yang berjalan Beberapa kasus Bell’s palsy


melewati terowongan sempit menjadi disebabkan iskemia oleh karena diabetes
terjepit karena edema ini dan menyebabkan dan aterosklerosis. Hal ini mungkin
kerusakan saraf tersebut baik secara menjelaskan insiden yang meningkat dari
sementara maupun permanen (Baugh et al. Bell’s palsy pada pasien tua. Kelainan ini
2013). Virus yang menyebabkan infeksi ini analog dengan mononeuropati iskemik pada
diduga adalah herpes simpleks (de Almeida saraf kranialis lain pada pasien diabetes
et al. 2014). (Gilden, 2004).

Gambar 1. A. Innervasi sensoris wajah B. Innervasi motorik wajah (otot mimik) C. Arteri wajah D. Vena wajah
(Snell, 2012)

Bagian penting lain pada tulang regio meakus akustikus internus menuju
wajah adalah tulang maxilla. Tulang ini ventrolateral. Saraf memasuki kanalis
mempunyai gigi dan sinus maxillaris. fasialis di dasar dari meatus dan berbelok
Tulang lain yang ada di bawah maxilla ke arah dorsolateral. Saraf menuju dinding
adalah mandibula dengan gigi-giginya medial dari kavum timpani dan membentuk
(Snell, 2012). sudut di atas promontorium yang disebut
ganglion genikulatum. Saraf kemudian
Saraf Fasialis dan Perjalanannya berjalan turun pada dinding dorsal kavum
Saraf fasialis memiliki nukleus yang timpani dan ke luar dari os temporal
terletak di dalam medulla oblongata. Saraf melalui foramen stylomastoideus. Saraf
fasialis memiliki akar saraf motorik yang tetap berjalan menembus glandula parotis
melayani otot-otot mimik dan akar sensorik untuk memberi persarafan pada otot-otot
khusus (nervus intermedius). Saraf ini mimik (Snell, 2012).
muncul di permukaan anterior antara pons
dan medulla oblongata (angulus
pontocerebelaris). Akar sarafnya berjalan
bersama nervus vestibulo-cochlearis dan
masuk ke meatus akustikus internus pada
pars petrosa dari tulang temporal (Snell,
2012).
Saraf terletak di antara alat
Gambar 2. Tempat akar saraf fasialis keluar
keseimbangan dan pendengaran yaitu bersama saraf vestibulocochlearis
cochlea dan vestibulum saat berjalan dari (N.VIII) di angulus
pontocerebelaris (Netter, 2014)

3
Qanun Medika vol.I no.2 | Juli 2017

berupa serat sekremotorik yang


memberi persarafan pada kelenjar
liur submandibular dan sublingual.
Korda timpani juga memiliki serat
saraf taste bud dari 2/3 anterior
lidah dan dasar mulut.
d. Nervus aurikularis posterior
memberi persarafan otot aurikel
dan muskulus temporalis. Terdapat
juga cabang muskularis yang keluar
setelah saraf keluar dari foramen
stylomastoideus. Cabang ini
memberi persarafan pada muskulus
stylohyoid dan muskulus
Gambar 3. N.VII (fasialis) membentuk ganglion
digastricus posterior.
genikulatum (Netter,2014). e. Lima cabang terminal untuk otot-
otot mimik. Cabang-cabang itu
Saraf fasialis memiliki lima percabangan adalah cabang temporal, cabang
penting sebagai berikut: zigomatik, cabang buccal, cabang
a. Nervus petrosus superfisialis mayor mandibular dan cabang cervical
keluar dari ganglion geniculi. Saraf (Snell, 2012).
ini memiliki cabang preganglionik Nervus fasialis berada di dalam
parasimpatetik yang memberi kelenjar liur parotis setelah meninggalkan
sinaps pada ganglion foramen stylomastoideus. Saraf
pterygopalatina. Serat-serat saraf memberikan cabang terminal di batas
ini memberi percabangan anterior kelenjar parotis. Cabang-cabang ini
sekromotorik pada kelenjar menuju otot-otot mimik di wajah dan regio
lakrimalis dan kelenjar pada hidung scalp. Cabang buccal untuk muskulus
dan palatum. Saraf ini juga buccinator. Cabang cervicalis untuk
mengandung serat afferen yang muskulus platysma dan muskulus depressor
didapat dari taste bud dari mukosa anguli oris.
palatum.
b. Saraf stapedius, memberi
persarafan pada muskulus stapedius
di telinga tengah.
c. Korda timpani muncul di kanalis
fasialis di dinding posterior kavum
timpani. Bagian saraf ini langsung
menuju permukaan medial dari
bagian atas membran timpani dan
meninggalkan telinga tengah
melalui fisura petrotimpanikus dan
memasuki fossa infratemporal dan
bergabung dengan nervus lingualis. Gambar 4. Perjalanan nervus fasialis (N.
Korda timpani memiliki serat VII) secara skematis (Netter, 2014)

preganglionik parasimpatetik

4
Qanun Medika vol.I no.2 | Juli 2017

Nervus fasialis dengan semua Otot sphincter dari cuping hidung


perjalanannya ini mengontrol mimik wajah adalah muskulus kompresor naris dan otot
(facial expression), salivasi dan lakrimasi dilatatornya adalah muskulus dilatator
serta digunakan untuk sensasi rasa dari naris.Muskulus procerus digunakan untuk
anterior lidah, dasar mulut dan palatum mengerutkan hidung (Snell, 2012).
(Snell, 2012). Otot sphincter dari mulut adalah
muskulus orbicularis okuli. Serat-seratnya
mengelilingi lubang mulut dalam bagian
dari bibir. Serat-seratnya sebagian muncul
dari garis tengah maxilla di atas dan
mandibula di bawah. Serat lain muncul dari
bagian dalam kulit dan menyilang pada
membran mukosa membentuk garis dalam
bibir. Banyak dari serat berasal muskulus
buccinator. Otot dilatator dari mulut terdiri
dari banyak serat otot yang bergabung dan
fungsinya adalah memisahkan bibir.
Gerakan ini lalu diikuti pemisahan rahang
bawah. Serat-serat otot dilatator mulut ini
Gambar 5. Anatomi fungsional dari nervus fasialis
(N.VII) secara skematis (Gilden, 2004)
muncul dari tulang dan fascia di sekitar
mulut dan bersatu untuk membentuk bibir.
Otot-otot Mimik (Facial Expression Nama kelompok otot itu adalah sebagai
Muscles) berikut:
 Muskulus levator labii superioris
Otot-otot mimik terdapat di dalam fascia
alaqua nasi
superfisialis wajah dan muncul dari tulang
pada wajah dan masuk pada kulit wajah.  Muskulus levator labii superioris
Lubang-lubang pada wajah yaitu orbita,  Muskulus zygomaticus minor
hidung dan mulut dilindungi oleh kelopak  Muskulus zygomaticus major
mata, cuping hidung dan bibir. Fungsi otot-  Muskulus levator anguli oris
otot mimik adalah untuk menutup  Muskulus risorius
(sphincter) dan membuka (dilatator)  Muskulus depressor anguli oris
struktur-struktur ini. Fungsi kedua otot-otot  Muskulus depressor labii inferioris
mimik adalah membuat ekspresi wajah.  Muskulus mentalis(Snell, 2012).
Semua otot ini mendapat suplai darah dari Muskulus buccinator berorigo di batas
arteri fasialis (Snell, 2012). alveolar dari maxilla dan mandibula pada
Otot sphincter dari kelopak mata gigi molar oposisinya dan juga dari ligamen
adalah muskulus orbikularis okuli dan otot pterygomandibula. Otot berjalan ke depan
dilatatornya adalah muskulus levator dan membentuk lapisan otot-otot pipi. Otot
palpebra superioris dan muskulus dikaitkan dengan kelenjar parotis. Otot
occipitofrontalis.Muskulus occipitofrontalis buccinator menyilang pada serat utamanya
membentuk bagian dari scalp. Muskulus di sudut mulut. Otot buccinator berfungsi
corrugator supercilii adalah untuk untuk kompresi pipi dan bibir untuk
mengkerutkan dahi (Snell, 2012). mencegah pipi tergigit saat mengunyah
(Snell, 2012).

5
Qanun Medika vol.I no.2 | Juli 2017

Tabel 1. Origo, insersi, persarafan dan fungsi otot-otok mimik (Snell, 2012)

Patofisiologi Bell’s Palsy bagian ini menerima serat kortikobulbar


Saraf fasialis keluar dari otak di angulus dari kedua korteks serebral (Snell, 2012).
ponto-cerebelaris memasuki meatus Murakami, dkk menggunakan teknik
akustikus internus. Saraf selanjutnyaberada reaksi rantai polimerase untuk
di dalam kanalis fasialis memberikan mengamplifikasi sekuens genom
cabang untukganglion pterygopalatina virus,dikenal sebagai HSV tipe 1 di dalam
sedangkan cabang kecilnya kemuskulus cairan endoneural sekeliling saraf ketujuh
stapedius dan bergabung dengan korda pada 11 sampel dari 14 kasus Bell’spalsy
timpani.Pada bagian awal dari kanalis yang dilakukan dekompresi pembedahan
fasialis, segmen labirinmerupakan bagian pada kasus yang berat. Murakami, dkk
yang tersempit yang dilewati saraf fasialis. menginokulasi HSV dalam telinga dan
Foramen meatal pada segmen ini hanya lidah tikus yang menyebabkan paralisis
memiliki diametersebesar 0,66 mm(Lowis pada wajah tikus tersebut. Antigen virus
& Gaharu, 2012). tersebut kemudian ditemukan pada saraf
Otot-otot wajah diinervasi saraf fasialis dan ganglion genikulatum. Dengan
fasialis. Kerusakan pada saraf fasialis di adanya temuan ini, istilah paralisis fasialis
meatus akustikus internus (karena tumor), herpes simpleks atau herpetika dapat
di telinga tengah (karena infeksi atau diadopsi. Gambaran patologi dan
operasi), di kanalis fasialis (perineuritis, mikroskopis menunjukkan proses
Bell’s palsy) atau di kelenjar parotis (karena demielinisasi, edema, dan gangguan
tumor) akan menyebabkan distorsi wajah, vaskular saraf (Lowis & Gaharu, 2012).
dengan penurunan kelopak mata bawah dan
sudut mulut pada sisi wajah yang terkena. Manifestasi Klinis dan Diagnosis Bell’s
Ini terjadi pada lesi lower motor neuron Palsy
(LMN). Lesi upper motor neuron (UMN) Manifestasi klinis Bell’s palsy dapat
akan menunjukkan bagian atas wajah tetap berbeda tergantung lesi pada perjalanan
normal karena saraf yang menginnervasi saraf fasialis. Bila lesi di foramen
stylomastoideus, dapat terjadi gangguan

6
Qanun Medika vol.I no.2 | Juli 2017

komplit yang menyebabkan paralisis semua  Diagnosa Bell’s palsy


ototekspresi wajah. Saat menutup kelopak dilakukan ketika tidak ada
mata, kedua matamelakukan rotasi ke atas etiologi medis lain yang bisa
(Bell’s phenomenon). Selain itu,mata dapat diidentifikasi sebagai
terasa berair karena aliran air mata ke penyebab kelemahan wajah.
sakuslakrimalis yang dibantu muskulus  Bell’s palsybilateral adalah
orbikularis okuli terganggu. Manifestasi langka.
komplit lainnya ditunjukkan dengan  Kondisi lain penyebab
makanan yang tersimpan antara gigi dan paralisis fasial meliputi stroke,
pipi akibat gangguan gerakan wajah dan air tumor otak, tumor parotis atau
liur keluar dari sudut mulut(Lowis & fossa intratemporal, kanker
Gaharu, 2012). yang melibatkan nervus
Lesi di kanalis fasialis (di atas fasialis, dan penyakit sistemik
persimpangan dengan korda timpani tetapi serta infeksius seperti zoster,
di bawah ganglion genikulatum) akan sarcoidosis, atau penyakit
menunjukkan semua gejala seperti lesi di Lyme.
foramen stylomastoid ditambah pengecapan  Bell’s palsy biasanya sembuh
menghilang pada dua per tiga anterior lidah sendiri (self-limited)
pada sisi yang sama (Lowis & Gaharu,  Bell’s palsy bisa muncul pada
2012). pria dewasa, wanita dewasa
Lesi yang terjadi di saraf yang menuju dan anak-anak tetapi lebih
ke muskulus stapedius dapat umum pada orang dengan usia
mengakibatkan hiperakusis (sensitivitas 15-45 tahun dan dengan
nyeri terhadapsuara keras). Selain itu, lesi penyakit diabetes, penyakit
pada ganglion genikulatum akan saluran pernafasan atas atau
menimbulkan lakrimasi dan berkurangnya imun sistem yang lemah atau
salivasi sertadapat melibatkan saraf selama kehamilan (Baugh et
kedelapan (Lowis & Gaharu, 2012). al, 2013).
Pasien dengan Bell’s palsy juga dapat Anamnesa dan pemeriksaan fisik
mengalami mata dan mulut yang kering, adalah hal yang paling vital pada diagnosa
kehilangan atau gangguan rasa (taste), pasien dengan Bell’s palsy. Kebanyakan
hiperakusis dan penurunan (sagging) kasus adalah idiopatik. Penggunaan
kelopak mata atau sudut mulut (Baugh et al, imaging diagnostik tidak direkomendasikan
2013). pada saat pasien pertama kali datang. MRI
Penegakan diagnosis Bell’s palsy (magnetic resonance imaging) mungkin
memerlukan anamnesis (history-taking) dan menunjukkan pembesaran pada saraf
pemeriksaan fisik yang cermat pada pasien fasialis terutama di daerah ganglion
yang dicurigai terkena penyakit ini. geniculi, tetapi penemuan ini tidak
American Otolaryngology-Head and Neck berpengaruh pada proses terapi. (Baugh et
Surgery (2013) memberikan beberapa hal al, 2013).
ini sebagai pertimbangan untuk diagnosis Paralisis fasialis mudah didiagnosis
Bell’s palsy: dengan pemeriksaanfisik yang lengkap
 Onset Bell’s palsy cepat (72 untuk menyingkirkan kelainansepanjang
jam). perjalanan saraf dan kemungkinan
penyebab lain.Adapun pemeriksaan yang

7
Qanun Medika vol.I no.2 | Juli 2017

dilakukan adalah pemeriksaangerakan dan yang terkena memutar ke atas.Bila terdapat


ekspresi wajah sesuai dengan otot yang hiperakusis, saat stetoskop diletakkan
diberi persarafan oleh nervus padatelinga pasien maka suara akan
fasialis.Pemeriksaan ini akan terdengar lebih jelas padasisi cabang
menemukankelemahan pada seluruh wajah muskulus stapedius yang paralisis (Lowis &
sisi yang terkena.Kemudian, pasien diminta Gaharu, 2012).
menutup mata dan mata pasienpada sisi

Gambar 6. Parese wajah perifer dan sentral (Gilden, 2004)

Kelainan sentral dapatmerupakan Barre menunjukkan adanya paresis bilateral


stroke bila disertai kelemahan anggota dan akut. Kelainan miastenia gravis
gerak sisiyang sama dan ditemukan proses memperlihatkan tanda patognomonik
patologis di hemisfer serebri kontralateral. berupa gangguan gerak mata kompleks dan
Kelainan tumor dapat didiagnosis apabila kelemahan otot orbikularis okuli bilateral.
onset gradualdan disertai perubahan mental Tumor serebello-pontin (tersering) terjadi
status atau riwayat kanker dibagian tubuh apabila disertai kelainan nervus kranialis V
lainnya; sklerosis multipel bila disertai dan VIII. Diagnosis tumorkelenjar parotis
kelainanneurologis lain seperti hemiparesis diberikan bila ditemukan massa di wajah
atau neuritis optika. Diagnosis trauma (angulus mandibula). Sarcoidosis
diberikan bila terdapat fraktur os temporalis menunjukkan tanda-tanda febris,
pars petrosus, basiskranii, atau terdapat perembesan kelenjar limfe hilus, uveitis,
riwayat trauma sebelumnya (Lowis & parotitis,eritema nodosa, dan kadang
Gaharu, 2012). hiperkalsemia(Lowis & Gaharu, 2012).
Kelainan perifer yang ditemukan dapat
merupakan suatuotitis media supuratif dan Tatalaksana Bell’s Palsy
mastoiditis apabila terjadi reaksiradang Peran dokter umum sebagai lini terdepan
dalam kavum timpani dan foto mastoid pelayanan primer berupa identifikasi dini
menunjukkan suatu gambaran infeksi. dan merujuk ke spesialis saraf(jika tersedia)
Herpes zoster otikus menunjukkan adanya apabila terdapat kelainan lain pada
tuli perseptif, tampak vesikel yang terasa pemeriksaan neurologis yang mengarah
amat nyeridi pinna dan/atau pemeriksaan pada penyakit yang menjadi diagnosis
darah menunjukkan kenaikantiter antibodi banding Bell’s palsy. Jika tidak tersedia,
virus varicella-zoster. Sindroma Guillain- dokter umumdapat menentukan terapi

8
Qanun Medika vol.I no.2 | Juli 2017

selanjutnya setelah menyingkirkan menentukan derajat


diagnosis banding lain. Terapi yang kelemahan, untuk terapi lebih
diberikan dokter umum dapat berupa lanjut.
kombinasi non-farmakologis dan  Kortikosteroid harus
farmakologis (de Almeida et al., 2014) digunakan kecuali ada
Canadian Society of Otolaryngology- kontraindikasi pada pasien
Head and Neck Surgery dan Canadian dengan Bell’s palsy. Antiviral
Neurological Sciences Federation mungkin bisa digunakan pada
melakukan review terhadap beberapa pasien dengan parese komplit
modalitas terapi Bell’s palsy. Mereka atau parah.
membuat review tentang bukti penanganan  Pasien dengan penutupan mata
Bell’s palsy dengan kortikosteroid dan yang inkomplit harus diberi
antiviral, latihan fasial, elektrostimulasi, proteksi mata dengan lubrikasi
fisio terapi dan operasi dekompresi. Mereka dan salep untuk menghindari
juga membahas terapi perlindungan mata, kerusakan kornea.
rujukan spesialis, dan investigasi lebih jauh  Pasien dengan kelemahan
pada pasien yang memiliki kelemahan wajah fasial yang persisten
wajah yang persisten dan progresif. Mereka atau progresif membutuhkan
memberikan beberapa hal berikut sebagai imaging untuk mencari
hasil review: penyebab. Pasien ini juga
 Diagnosa awal pasien Bell’s membutuhkan rujukan ke ahli
palsy harus meliputi saraf dan fisioterapis (de
pemeriksaan fisik untuk Almeida et al, 2014).
menyingkirkan penyebab lain
kelemahan wajah dan

Tabel 2. Rumusan rekomendasi terapi Bell’s palsy menurut Canadian Society of Otolaryngology-Head and Neck
Surgery dan Canadian Neurological Sciences Federation (de Almeida et al, 2014)

Sistem penilaian nervus fasialis House- di awal pasien didiagnosa dengan Bell’s
Brackmann dipakai untuk menunjukkan palsy, namun dapat menunjukkan kemajuan
kemajuan perbaikan saraf fasialis pada hasil terapi dapat pasien (Baugh et al.,
proses terapi. Sistem ini tidak dapat dipakai 2013).

9
Qanun Medika vol.I no.2 | Juli 2017

Tabel 3. Sistem grading nervus fasialis House-Brackmann (Baugh et al, 2013).

Komplikasi Bell’s Palsy  Crocodile tearphenomenon, yang


Sekitar 5% pasien setelah menderita Bell’s timbul beberapa bulan setelah
palsymengalami sekuele berat yang tidak paresisakibat regenerasi yang salah
dapat diterima. Beberapakomplikasi yang dari serabut otonom, contohnyaair
sering terjadi akibat Bell’s palsy, adalah mata pasien keluar pada saat
sebagai berikut: mengkonsumsi makanan,
 Regenerasi motor inkomplit yaitu  Clonic facial spasm (hemifacial
regenerasi suboptimalyang spasm), yaitu timbulkedutan secara
menyebabkan paresis seluruh atau tiba-tiba (shock-like) pada wajah
beberapa muskulus fasialis. yang dapatterjadi pada satu sisi
 Regenerasi sensorik inkomplit wajah saja pada stadium awal,
yang menyebabkandisgeusia kemudianmengenai sisi lainnya
(gangguan pengecapan), ageusia (lesi bilateral tidak terjadi
(hilangpengecapan), dan disestesia bersamaan) (Lowis & Gaharu,
(gangguan sensasi atau 2012).
sensasiyang tidak sama dengan
stimuli normal) Prognosis Bell’s Palsy
 Reinervasi yang salah dari saraf Perjalanan alamiah Bell’s palsy bervariasi
fasialis (Lowis & Gaharu, 2012). dari perbaikankomplit dini sampai cedera
Reinervasi yang salah dari saraf fasialis saraf substansial dengan sekuelepermanen.
dapat menyebabkan beberapa kondisi Sekitar 80-90% pasien dengan Bell’s palsy
sebagai berikut: sembuhtotal dalam 6 bulan, bahkan pada
 Sinkinesis yaitu gerakan involunter 50-60% kasus membaik dalam 3
yang mengikutigerakan volunter, minggu.Sekitar 10% mengalami asimetri
contohnya timbul gerakan elevasi muskulusfasialis persisten, dan 5%
involunter dari sudut mata, mengalami sekuele yang berat, serta 8%
kontraksi platysma, atau pengerutan kasus dapat rekuren (Lowis & Gaharu,
dahi saat memejamkan mata. 2012).

10
Qanun Medika vol.I no.2 | Juli 2017

Faktor yang dapat mengarah ke proses penyembuhan. Modalitas terapi


prognosis buruk adalahpalsi komplit (risiko Bell’s palsy yaitu dengan kortikosteroid dan
sekuele berat), riwayat rekurensi, antiviral, latihan fasial, elektrostimulasi,
diabetes,adanya nyeri hebat post-aurikular, fisioterapi dan operasi dekompresi. Sekitar
gangguan pengecapan,refleks stapedius, 80-90% pasien dengan Bell’s palsy sembuh
wanita hamil dengan Bell’s palsy,bukti total dalam 6 bulan,
denervasi mulai setelah 10 hari
(penyembuhan lambat),dan kasus dengan DAFTAR PUSTAKA
penyengatan kontras yang jelas (Lowis & De Almeida, JR. et al., (2014). Management Of Bell
Gaharu, 2012). Palsy: Clinical Practice Guideline. CMAJ :
Faktor yang dapat mendukung ke Canadian Med. Ass. J, Vol. 186(12), pp. 917–
922.
prognosis baik adalah paralisis parsial Baugh, RF. et al., (2013). Clinical Practice Guideline:
inkomplit pada fase akut (penyembuhan Bell’s Palsy, Otolaryngology-Head and Neck
Surg. J., Vol.149,pp.S1–S27.
total), pemberian kortikosteroid dini, Gilden, DH., (2004). Bell ’ s Palsy, New England J of
penyembuhan awal dan/atau perbaikan Med., vol.351(13), pp.1323–31.
fungsi pengecapan dalam minggu pertama Huang, B. et al., (2012). Psychological factors are
closely associated with the Bell's palsy: a case-
(Lowis & Gaharu, 2012). control study. J Huazhong University of Sci.
Tech. Med. Sci. Vol 32(2), pp.272-9.
Lowis, H., Gaharu, MN. (2012). Bell’s Palsy,
KESIMPULAN Diagnosis dan Tata Laksana di Pelayanan
Bell’s palsy adalah kelemahan atau Primer. J of Indonesia Med. Ass.,Vol.62(1),
kelumpuhan saraf perifer wajah (nervus pp.32.
Murthy, JMK., Saxena, AB. (2011), Bell's Palsy:
fasialis) secara akut pada sisi sebelah Treatment Guidelines. Annals of Ind. Acad. of
wajah. Penyakit ini bersifat sembuh sendiri Neurology,Vol.14(1), pp.70-72.
Netter, FH. (2014). Atlas of Human Anatomy Sixth
(self-limited). Kontroversi dalam Edition. Philadelphia: Saunders.
tatalaksana masih diperdebatkan, dan Sabirin, J. (1990). Bell’s Palsy. Dalam : Hadinoto
penyebabnya pun masih tidak diketahui dkk. Gangguan Gerak. Cetakan I. Semarang :
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro:
dengan pasti. Hipotesis penyebabnya antara 171-81.
lain iskemik, vaskular, virus, bakteri, Snell, RS. (2012). Clinical Anatomy By Regions 9th
Edition. Philadelphia, Lippincott Williams &
herediter, dan imunologi. Terapi yang Wilkins.
dilakukan selama ini adalah untuk
meningkatkan fungsi saraf wajah dan

11