Anda di halaman 1dari 2

Analisis Contoh Usaha Spekulatif (Bella Fitra 15-131)

Gambar di atas merupakan salah satu contoh usaha spekulatif yang banyak
beredar di internet. Mengapa dikatakan sebagai usaha spekulatif? Karena pada
gambar iklan usaha tersebut memuat ciri-ciri dari usaha spekulatif, diantaranya:

1. Didasarkan motif ingin cepat kaya dan menjanjikan keuntungan yang besar
Dilihat dari kalimat “hasilkan Rp.300.000,- sampai Rp.700.000,- per hari”,
maka jelas sekali bahwa iklan tersebut memiliki motif ingin cepat kaya. Iklan
tersebut juga menjanjikan keuntungan yang cukup besar. Bayangkan saja jika
sehari mendapatkan hasil Rp.700.000,- maka satu bulan dapat menghasilkan
Rp.2.100.000,-. Pada iklan tersebut juga dituliskan bahwa penulis iklan berhasil
menghasilkan 5000% keuntungan di hari ke-72. Hal ini tentu menggiurkan bagi
siapa saja yang ingin mendapatkan hasil yang besar dalam waktu singkat.
2. Mengedapankan cara-cara instan dan mendewakan passive income
Iklan di atas jelas sekali menggunakan cara instan dan mendewakan passive
income, yaitu dimana pekerjaan yang dilakukan sangat ringan namun hasil yang
didapatkan sangat besar. Terlihat dalam kalimat iklan “hanya meluangkan waktu
cukup 15 menit saja/hari” dan “pure asli dari internet” yang artinya hanya dengan
duduk di depan komputer dengan sambungan internet selama 15 menit per hari
pelaku usaha akan mendapatkan keuntungan yang besar, yaitu sebesar
Rp.300.000,- sampai Rp.700.000,-.
3. Tidak peduli kerugian pihak lain
Iklan di atas tidak menjelaskan bentuk pertanggungjawaban apabila terjadi
kerugian pada salah satu peserta usaha dan juga tidak dijelaskan apakah ada
asuransi atau semacamnya jika terjadi sesuatu pada peserta usaha. Hal ini
menunjukkan bahwa usaha yang ditawarkan pada iklan tersebut tidak peduli pada
kerugian pihak lain bahkan peserta lain dalam usaha tersebut.
4. Pendidikan dan aspek spiritual dianggap tidak penting
Dalam iklan usaha di atas, tidak ditentukan persyaratan yang jelas tentang
pendidikan minimal peserta yang dapat mengikuti usaha tersebut. Hal ini
menunjukkan bahwa tingkat pendidikan calon peserta usaha tersebut tidaklah
penting. Selain itu, iklan usaha tersebut juga tidak menjelaskan aturan-aturan
terkait aspek spiritual calon peserta usaha.
5. Sesuatu yang diperdagangkan belum tentu ada
Iklan usaha di atas tidak menjelaskan sama sekali bagaimana prosedur kerja
yang dilakukan dan bergerak di bidang apa usaha tersebut. Bahkan iklan tersebut
juga tidak menjelaskan apa yang diperdagangkan, misal jual beli barang rumah
tangga online dan lain-lain.