Anda di halaman 1dari 123

Mekanika Teknik I

BAB I
VEKTOR GAYA ( FORCE )

Capaian Pembelajaran Umum


Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui tentang penyusunan gaya-gaya dan penguraian
gaya-gaya, baik resultan gaya maupun komponen gaya-bidang (koplanar) dan gaya-ruang
(tak koplanar).

Capaian Pembelajaran Khusus


1. Mahasiswa dapat menghitung dan menuliskan besar resultan gaya-bidang dalam bentuk notasi
skalar dan notasi vektor.
2. Mahasiswa dapat menghitung besar komponen-komponen gaya-bidang
3. Mahasiswa dapat menentukan arah resultan gaya-bidang
4. Mahasiswa dapat menghitung dan menuliskan besar resultan gaya-ruang dalam bentuk notasi
skalar dan notasi vektor.
5. Mahasiswa dapat menentukan arah resultan gaya-ruang

Politeknik Negeri Sriwijaya 1


MY
Mekanika Teknik I

PENDAHULUAN
Dasar-dasar meknika benda tegar mengacu pada hukum-hukum dasar yang diberika oleh
Sir Isaac Newton yaitu :
1. Hukum Newton I : Jika resultan gaya yang bekerja pada partikel = 0, partikel
akan diam (jika awalnya diam), atau akan bergerak lurus dengan kecepatan konstan
(jika awalnya bergerak). Hukum inilah yang melandasi Mekanika Statika.
2. Hukum Newton II : Jika resultan gaya yang bekerja pada partikel ≠ 0, maka
partikel akan mengalami percepatan yang searah dan sebanding dengan resultan
gayanya. Hukum ini yang melandasi Mekanika Dinamika.
3. Hukum Newton III : Gaya-gaya aksi dan reaksi antara benda-benda yang
berkontak akan sama besar, segaris kerja dan berlawanan arah. Hukum ini yang
melandas Konsep Gaya.
Untuk mempermudah dalam penyelesaian besaran-besaran fisis dalam mekanika
diungkapkan secara matematik dalam pengertian skalar dan vektor

POKOK-POKOK BAHASAN
1.1 Gaya-Gaya Bidang ( Koplanar )

1.2 Vektor dan Skalar


Vektor adalah besaran yang mempunyai besar dan arah, misal : perpindahan
(displacement), kecepatan, gaya dan percepatan.
Skalar adalah besaran yang mempunyai besar tetapi tanpa arah, misal : massa,
panjang, waktu, suhu.
Operasi Vektor
R = F1 + F2 = F2 + F1
R = F1 – F2 = F1 + (- F2)
Contoh :
1. R = F1 + F2 = F2 + F1
F1 F2

F1 F2
Politeknik Negeri Sriwijaya 2
MY
Mekanika Teknik I

R
Atau
F1
R
F2

2. R = F1 – F2 = F1 + (- F2)

F1 F2
- F2
R
Atau F1

R
-F2 F1

1.2.1 Penjumlahan Vektor Gaya


Jika permasalahan melibatkan penjumlahan dua gaya yang saling tegak lurus, maka
salah satu penyelesaianya menggunakan aturan sinus dan cosinus.

A γ B

β α
C
Hukum Sinus :
𝐴 𝐵 𝐶
= =
𝑆𝑖𝑛 𝛼 𝑆𝑖𝑛 𝛽 𝑆𝑖𝑛 𝛾
Hukum Cosinus :
C 2  A2  B 2  2 AB cos 

Politeknik Negeri Sriwijaya 3


MY
Mekanika Teknik I

Contoh :
Dua buah gaya bekerja seperti pada gambar di bawah ini, tentukan besar dan arah
resultan terhadap gaya F1.
F1= 1000 N
600

F2 = 800 N

Solusi :


R
600 F1
α
F2

360 0  2  30 0
  150 0
2

R  F1  F2  2 F1 F2 cos 
2 2

R  1000 2  800 2  2  1000  800 cos150 0


R

Arah R atau α :
F1 R

sin  sin 150 0
1000  sin 150 0
Sin  
R


Jika penjumlahan gaya-gaya yang terjadi menggunakan aturan sumbu kartesius


(sb.x, sb.y). Caranya seperti di bawah ini,

y (j)

Fy F

x (i) α x (i)
Politeknik Negeri Sriwijaya 4
MY
Mekanika Teknik I

Fx

Y (j)

Di mana :
Fx = F cos α
Fy = F sin α
Besarnya F :

F  Fx  Fy  ( F cos  ) 2  ( F sin  ) 2
2 2
Notasi skalar

Atau
F = Fx i + Fy j Notasi vektor kartesian

Contoh :
1. y
F1 = 500 N

F2 = 800 N 600
x

Tentukan :
a. Besar resultan gaya dalam notasi skalar
b. Besar resultan gaya dalam notasi vektor kartisian
c. Arah resultan gayanya.
Penyelesaiannya :

F1
F1y
F2
F1x
Politeknik Negeri Sriwijaya 5
MY
Mekanika Teknik I

F1x = F1 . cos 300


= 500 cos 300 = 433,013 N
F1y = F1 . sin 300
= 500 sin 300 = 250 N
F2x = F2 = 800 N
F2y =0

F x  F1x  F2 x  433,013  800  366,987 N

F y  F1 y  F2 y  250  0  250 N
a. Besar resultan gaya dalam notasi skalar

R  F    F 
x
2
y
2
  366,9872  2502  444,049 N

b. Besar resultan dalam notasi vektor skalar


R = (F1x + F2x) i + (F1y + F2y) j
R = -366,987 N (i) + 250 N (j)
c. Arah resultan gaya R

tan  
F y

 366,987
 1,468
F x 250
  55,737 0

Politeknik Negeri Sriwijaya 6


MY
Mekanika Teknik I

Latihan-latihan
1. Tentukan besar gaya resultan R = F1 + F2 + F3 dan arahnya, diukur berlawanan arah
jarum jam dari sumbu x positip.

2. Tentukan besar gaya resultan R = F1 + F2 dan arahnya, diukur berlawanan jarum jam
dari sumbu x positip.

3. Tentukan besar gaya resultan dan arahnya terhadap sumbu x positip.

Politeknik Negeri Sriwijaya 7


MY
Mekanika Teknik I

4. Uraikan gaya-gaya F1 dan F2 menjadi komponen-komponen yg bekerja sepanjang


sumbu u dan v dan tentukan besar komponen-komonennya.

5. Uraikan gaya 100 N menjadi komponen-komponen yang bekerja sepanjang sumbu u


dan v dan tentukan besar komponen-komponennya.

6. Tentukan komponen-komponen x dan y dari gaya 1500 N.

Politeknik Negeri Sriwijaya 8


MY
Mekanika Teknik I

7. Komponen-y dari gaya F yang dikenakan seseorang pada gagang kunci Inggris adalah 300 N.
(lihat gambar di bawah).

Tentukan komponen-x dan gaya F

8. Apabila dalam posisi tertutup, penutup pintu ,yang menggunakan piston pegas dan
piston hidrolik, mengakibatkan gaya P = 100 N pada pintu di B dalam arah B ke A,
sehingga menahan pintu agar tetap tertutup.
Tentukan komponen-komponen gaya P yang sejajar dan tegak lurus pintu.

9. Tentukan resultan R dari tiga gaya tarik yang bekerja pada baut mata. Dan tentukan
sudut yang dibentuk oleh R terhadap sumbu-x positip. (lihat gambar di bawah)

Politeknik Negeri Sriwijaya 9


MY
Mekanika Teknik I

10. Empat batang ramping dikaitkan pada tumpuan sebagaimana terlihat pada gambar di
bawah. Jika gaya yang dikenakan oleh tiga batang diketahui, tentukan sudut  dari
batang ke empat dan besar gaya tarik F pada batang tersebut jika resultan ke empat
gaya tersebut adalah 200 N dan tegak lurus ke atas.

Politeknik Negeri Sriwijaya 10


MY
Mekanika Teknik I

BAB/TOPIK : I/ Vektor Gaya ( Force )


SUB. BAB/SUB.TOPIK : 1.2 Vektor Gaya Tiga Dimensi ( Tak Koplanar )
ALOKASI WAKTU : 3 Jam/Minggu
SEMESTER : I (Satu)

Tujuan Instruksional Umum (TIU)


Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui tentang penjumlahan dan penyusunan gaya-gaya
dalam ruang (tiga dimensi)/

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


 Mahasiswa dapat menghitung hasil penjumlahan gaya-gaya dalam ruang secara
analistis dengan benar;
 Mahasiswa dapat menentukan komponen-komponen gaya dalam ruang secara analistis
dengan benar;
 Mahasiswa dapat menentukan arah resultan gaya dalam ruang dengan benar.

Politeknik Negeri Sriwijaya 11


MY
Mekanika Teknik I

1.2.1 Vektor Tak Koplanar


Vektor tak-koplanar adalah vektor yang bekerja pada satu titik pangkal dan tidak
pada satu bidang.
Setiap vektor A dalam ruang 3 dimensi dikatakan sebagai vektor tak-koplanar (lihat
gambar di bawah).
z

A
A3k
y
A1i
A2j
x
Misalkan (A1, A2, A3) koordinat-koordinat tegak lurus titik terminal dari vektor A
dengan titik asal pada O. Vektor-vektor A1 i, A2 j dan A3 k disebut vektor-vektor
komponen tegak lurus atau vektor-vektor komponen dari A berturut-turut dalam arah
x, y dan z.
Vektor satuan merupakan vektor yang mempunyai besar 1. Jika A adalah sebuah
vektor yang mempunyai besar A ≠ 1, maka vektor satuan yang mempunyai arah yang
sama seperti A dinyatakan dengan
Politeknik Negeri Sriwijaya 12
MY
Mekanika Teknik I

𝑨
𝑢𝐴 =
𝐴

Cara yang mudah untuk mendapatkan cosinus arah vektor A adalah membentuk
suatu vektor satuan dalam arah vektor A.
Jika A dinyatakan dalam vektor kartesian A = Ax i + Ay j + Az k (lihat gambar atas),
maka kita peroleh :
𝑨 Ax Ay Az
𝑢𝐴 = = i+ j+ k
𝐴 A A A
Dimana :
uA : vektor satuan
A : vektor A
A : besar vektor A

Besar vektor A  Ax  Ay  Az atau A2  Ax  Ay  Az


2 2 2 2 2 2

Ax
cos   (lihat gambar a)
A
Ay
cos   (lihat gambar b)
A
Az
cos   (lihat gambar c)
A
Jadi : u A  cos i  cos j  cos k

Jika A2  Ax  Ay  Az dibagi dengan A2, maka


2 2 2

Politeknik Negeri Sriwijaya 13


MY
Mekanika Teknik I

2 2 2
A 2 Ax Ay Az
 2  2  2
A2 A A A
1  cos   cos   cos 2 
2 2

Contoh :
1. Jika gaya F = 1000 N seperti yang ditunjukan dalam gambar (2.10,hal46).
Tentukan :
a. Komponen gaya F terhadap sumbu x, y, dan z
b. Nyatakan gaya F dalam vektor kartesian.
Solusi :
cos 2   cos 2   cos 2   1
cos 2   cos 2 60 0  cos 2 45 0  1
cos   1  0,707 2  0,5 2  0,5

Untuk α = 0,5
  cos 1 0,5  60 0
Untuk α = - 0,5
  cos 1 (0,5)  120 0
Berdasarkan gambar pada soal di atas besarnya α = 600
a. Komponen-komponen gaya F terhadap sumbu x, y, dan z
Fx = F cos α = 1000 cos 600 = .........
Fy = F cos β = 1000 cos 600 = ..........
Fz = F cos γ = 1000 cos 450 = .........
b. Pernyataan Gaya F dalam vektor kartesius
F = F cos α i + F cos β j + F cos γ k
F = 1000 cos 600 i + 1000 cos 600 j + 1000 cos 450 k
F= i+ j+ k

Politeknik Negeri Sriwijaya 14


MY
Mekanika Teknik I

Latihan-latihan
1. Tentukan besar dan sudut arah koordinat dan gaya resultan yang bekerja pada cincin
seperti gambar di bawah ini.

2. Nyatakan gaya F pada gambar di bawah ini dalam notasi vektor kartesian.

3. Nyatakan gaya F pada gambar di bawah ini dalam notasi vektor kartesian.

Politeknik Negeri Sriwijaya 15


MY
Mekanika Teknik I

4. Dua buah gaya F1 dan F2 bekerja ada pengait (lihat gambar). Tentukan sudut arah
koordinat dari gaya F2 sehingga gaya resultan R bekerja sepanjang sumbu y positip dan
mempunyai besar 800 N.

5. Peregang kawat dikencangkan sampai tarikan pada kawat AB mencapai 1,5 kN. Tentukan
komponen-komponen gaya –x, -y dan –z (lihat gambar di bawah).

6. Seutas kawat penahan menara dipancangkan dengan sebuah baut pada A (lihat
gambar). Gaya tegang kawat sebesar 2500 N.

Politeknik Negeri Sriwijaya 16


MY
Mekanika Teknik I

Tentukan :
a. Komponen-komponen Fx, Fy, Fz dari gaya yang beraksi pada baut.
b. Tentukan sudut-sudut x, y, z.

1.2.2 Vektor Posisi


Vektor posisi R didefinisikan sebagai suatu vektor tertentu yang menempati suatu
titik dalam ruang relatif terhadap titik lain.
Misalnya, jika R merentang dari titik asal koordinat O ke titik P(x,y,z), maka R dapat
dinyatakan dalam bentuk vektor kartesian sebagai berikut :
R = x i + y j + z k (lihat gambar di bawah).

Dari gambar tersebut di atas bahwa cara penjumlahan vektor kepala ke pangkal dari
tiga komponen menghasilkan vektor R. Diawali pada titik asal O, bergerak pada x
dalam arah +i, kemudian y dalam arah +y dan akhirnya z dalam arah +k untuk
sampai pada titik P(x,y,z).
Dalam kasus yang lebih umum, vektor posisi dapat diarahkan dari titik A ke titik B
dalam ruang (lihat gambar di bawah).

Politeknik Negeri Sriwijaya 17


MY
Mekanika Teknik I

RA + R = RB
R = RB - RA
= (xB i + yB j + zB k) – (xA i + yA j + zA k)
= (xB – xA) i + (yB – yA) j + (zB – zA) k
Jadi penjumlahan kepala ke pangal dari tiga komponen-komponen ini menghasilkan
R, yaitu bergerak dari A ke B, yang pertama kali menjalani (x B – xA) dalam arah +i,
kemudian (yB – yA) dalam arah +j, dan terakhir (zB – zA) dalam arah +k
Contoh :
1. Sebuah tali elastis diikatkan pada titik A dan B seperti gambar di bawah.
Tentukan panjang dan arahny diukur dari A menuju B

Solusi :
Titik A (1 m, 0 m, -3 m)
Titik B (-2 m, 2 m, 3 m)
R = AB = (-2 -1)m i + (2 – 0)m j + [3 – (-3)]m k
= -3m i + 2m j + 6m k

Politeknik Negeri Sriwijaya 18


MY
Mekanika Teknik I

Besarnya R atau panjang tali AB = √(−3)2 + 22 + 62 = 7𝑚


Arah dari A menuju B adalah :
𝐑 −3 2 6
𝑢=𝑅= 𝑖+ 𝑗 + 7𝑘
7 7
−3
𝛼 = 𝑐𝑜𝑠 −1 ( ) = 1150
7
2
𝛽 = 𝑐𝑜𝑠 −1 ( ) = 73,40
7
6
𝛾 = 𝑐𝑜𝑠 −1 ( ) = 310
7

2. Orang yang ada di gambar bawah menunujukan sedang menarik tali dengan gaya
sebesar 70 N. Nyatakan gaya F yang diberikan oleh orang tersebut pada penopang A
sebagai suatu vektor kartesian dan tentukan arahnya.

Solusi :
Titik A (0, 0, 7,5)
Titik B (3m, -2m, 1,5m)
R = (3 – 0)m i + (-2 – 0)m j + (1,5 – 7,5)m k

Politeknik Negeri Sriwijaya 19


MY
Mekanika Teknik I

= (3 i – 2 j – 6 k)m
Besar R atau panjang AB :

𝑅 = √(3)2 + (−2)2 + (−6)2 = 7𝑚


Gaya F adalah :
𝑭
𝑢=
𝐹
3 2 6
𝑭 = 𝐹𝑢 = 70𝑁 ( 𝑖 − 𝑗 − 𝑘) = (30𝑖 − 20𝑗 − 60𝑘)𝑁
7 7 7
Arah F adalah :
3
𝛼 = 𝑐𝑜𝑠 −1 ( ) = 64,60
7
2
𝛽 = 𝑐𝑜𝑠 −1 (− ) = 1070
7
6
𝛾 = 𝑐𝑜𝑠 −1 (− ) = 1490
7

3. Dua batang kawat menderita gaya FAB = 100 N dan FAC = 120 N pada pengait A (lihat
gambar). Tentukan besar gaya resultan R yang bekerja di dinding A.

Politeknik Negeri Sriwijaya 20


MY
Mekanika Teknik I

Politeknik Negeri Sriwijaya 21


MY
Mekanika Teknik I

BAB/TOPIK : II/ Momen dan Kopel


SUB. BAB/SUB.TOPIK : Momen dan Kopel
ALOKASI WAKTU : 3 Jam /Minggu
SEMESTER : I (Satu)

Tujuan Intruksional Umum (TIU)


Mahasiswa diharapkan mengetahui tentang pengertian Momen dan Kopel Bidang
Mahasiswa diharapkan mengetahui tentang pengertian Momen dan Kopel Ruang.

Tujuan Intruksional Khusus (TIK)


 Mahasiswa dapat menyebutkan perbedaan Momen dan Kopel Bidang dengan
benar;
 Mahasiswa dapat menyebutkan perbedaan Momen dan Kopel Ruang dengan
benar;
 Mahasiswa dapat menghitung besarnya momen dan atau kopel bidang yang terjadi
akibat gaya yang bekerja pada suatu batang dengan benar;
 Mahasiswa dapat menghitung besarnya momen dan kopel ruang yang terjadi akibat
gaya yang bekerja pada suatu ruang tiga dimensi dengan benar.

Politeknik Negeri Sriwijaya 22


MY
Mekanika Teknik I

2.1 Momen Bidang


Momen adalah sebuah gaya yang bermaksud untuk menggerakan dan memutar benda.
Momen juga sering disebut torsi.
Gambar di bawah menunjukan sebuah gaya yang bekerja pada sebuah benda yang
bermaksud untuk memutar benda
Besar momen = Gaya x Jarak

M =Fxd N.m
Tanda moomen :
Yang searah jarum jam diberi tanda (+) dan
Yang berlawanan arah jarum jam diberi
tanda (-)

Prinsip Momen :
Prinsip momen yang terpenting adalah berdasarkan Teori Varignon atau Principle of
Moment.

Politeknik Negeri Sriwijaya 23


MY
Mekanika Teknik I

Menurut Teorema Varignon :


Suatu teorema yang sangat penting dalam Statika yang ditemukan oleh Matematikawan
Prancis yang bernama Varignon ( 1654 – 1722 ). Teorema ini menyatakan bahwa
momen sebuah gaya terhadap setiap sumbu samadengan jumlah momen komponen
gaya itu terhadap sumbu yang bersangkutan..
Pembuktian teorema di atas adalah sebagai berikut :

R
d
c
F1 p

F2 q r b
   a
O

Karena jajaran genjang, maka :


ad = ab + bd
bd = ac
R sin  = F2 sin  + F1 sin 
Dimana :
ad = R sin 
ab = F2 sin 
ac = F1 sin 
Jika dikalikan dengan panjang Oa di dapat :
R sin . Oa = F2 sin . Oa + F1 sin . Oa
p = Oa sin 
q = Oa sin 
r = Oa sin 
R. r = F2 . p + F1. q

Politeknik Negeri Sriwijaya 24


MY
Mekanika Teknik I

Dari uraian di atas telah terbukti bahwa momen suatu gaya R terhadap suatu titik a =
R. r sama dengan jumlah momen komponen-komponennya = F2. p + F1. q
Jadi :
R. r = F2. p + F1. q
Rumus ini berlaku juga untuk komponen gaya yang lebih dari dua gaya.

Contoh :
Tentukan besar momen terhadap titik O akibat gaya sebesar 600 N. (lihat gambar)

Penyelesaian :
Cara I :

d = 4 cos 400 + 2 sin 400 = 4,35 m


M0 = F. d
M0 = 600 . 4,35 = 2610 Nm

Cara II :

Politeknik Negeri Sriwijaya 25


MY
Mekanika Teknik I

F1 = 600 cos 400 = 460 N


F2 = 600 sin 400 = 386 N
Berdasarkan Teorema Varignon;
M0 = 460. 4 + 386. 2 = 2610 NM

Cara III :
Pindahkan gaya 600 N tersebut di atas sepanjang garis kerjanya ke titik B, yang
meniadakan dari komponen F2. Lengan F1 menjadi :
d1 = 4 + 2 tan 400 = 5,68 m.

Jadi momen di titik O adalah :


M0 = 460. 5,68 = 2610 Nm.

Cara IV : sama dengan cara III, hanya perpanjangan F nya ke titik C. (silahkan diteruskan
sendiri).

Politeknik Negeri Sriwijaya 26


MY
Mekanika Teknik I

Latihan.
1. Sebuah gaya F sebesar 40 N dikenakan pada roda gigi. (lihat gambar).
Tentukan momen akibat gaya F terhadap titik O.

2. Seorang pengemudi mengenakan gaya 20 N pada jeruji dalam bidang kemudi. (lihat
gambar). Tentukan momen akibat gaya ini terhadap pusat kemudi O.

3. Tentukan jarak -y yang diukur ke bawah dari puncak suatu tiang di mana satu gaya
horisontal F harus dikenakan agar memberikan pengaruh luar yang sama seperti kedua
gaya
yang ditunjukan pada gambar di bawah ini.

Politeknik Negeri Sriwijaya 27


MY
Mekanika Teknik I

4. Hitunglah momen akibat gaya 250 N pada gagang kunci monyet terhadap pusat baut.

5. Gaya sebesar 1200 N bekerja pada braket (lihat gambar). Tentukan Momen di titik A
dari akibat gaya tersebut.

6. Gaya sebesar 30 lb bekerja pada lengan 3 ft (lihat gambar). Tentukan momen terhadap
titik O.
Politeknik Negeri Sriwijaya 28
MY
Mekanika Teknik I

7. Gaya sebesar 150 N diterpakan pada lengan kontrol A (lihat gambar). Dengan
mengetahui jarak AB ialah 250 mm, tentukan momen gaya terhadap B bila  adalah
500.

Politeknik Negeri Sriwijaya 29


MY
Mekanika Teknik I

2.2 Momen Suatu Kopel Bidang


Dua buah gaya yang besarnya sama, garis aksinya sejajar, dan arahnya berlawanan
membentuk suatu kopel. Dua gaya semacam itu, F dan F1 yang besarnya sama dengan
F ditunjukan beraksi pada benda tegar (lihat gambardi bawah ini).
F
A F1
d2 d
d1

Besar momen M terhadap titik A adalah :


MA = F. d1 – F. d2
= F ( d1 – d2 ) ………………. Dimana d1 – d2 = d
Jadi MA = F. d MA adalah momen kopel

Contoh :
1. Gaya F bekerja pada titik A (lihat gambar di bawah), jika ditambahkan sejumlah
gaya dan gaya tersebut saling meniadakan (F = 0) maka akan timbul kopel.
Besarnya kopel (M) = - F.d
B. F B F
d d
Politeknik Negeri Sriwijaya 30
MY
Mekanika Teknik I

A. F A F

B F
M

2. Letakan gaya 80 N pada lever dengan system seperti momen kopel, gaya dan kopel
pada titik O
F = 80 N F

9m
O 600
F F F M

Kopel = - F. l sin 600


= - 80. 9, 0,5 3

= - 360 3 Nm

Politeknik Negeri Sriwijaya 31


MY
Mekanika Teknik I

Latihan-latihan :
1. Gaya sebesar 50 lb diterapkan pada keping sudut (lihat gambar).
Tentukan :
a. Sistem gaya kopel pada A yang ekuivalen.
b. Sistem ekuivalen yang terdiri dari gaya 150 lb di B dan gaya yang lain di A.

2. Gantilah gaya horisontal 400 N yang bekerja pada pengungkit dengan sistem setara
(equivalent system) yang terdiri dari sebuah gaya di O dan sebuah kopel.

Politeknik Negeri Sriwijaya 32


MY
Mekanika Teknik I

3. Ketika berbelok ke kiri, seorang pengemudi mengenakan dua buah gaya masing-
masing sebesar 6 N pada roda kemudi (lihat gambar). Tentukan momen akibat gaya ini.
Bahaslah pengaruh dari perubahan diameter roda kemudi d.

4. Pada gambar di bawah adalah sebuah pintu masuk putar bila dilihat dari atas. Dua
orang secara serentak mendekati pintu tersebut dan mengenakan gaya yang sama
besarnya sebagaimana terlihat. Jika momen resultan terhadap sumbu poros pintu di O
adalah 15 Nm, tentukan besar gaya-gaya tersebut.

5. Sebuah kunci nok digunakan untuk mengencangkan baut berkepala persegi. Bila gaya
sebesar 250 N dikenakan pada kunci nok tersebut (lihat gambar), tentukan besar F dari
gaya-gaya yang sama yang dikenakan di ke empat titik kontak pada kepala baut 25
mm. Sehingga pengaruh luarnya pada baut setara dengan kedua gaya 250 N tersebut di
atas. Anggap bahwa gaya bekerja tegaklurus terhadap permukaan datar kepala baut.

Politeknik Negeri Sriwijaya 33


MY
Mekanika Teknik I

Momen Ruang (tiga dimensi)

Momen dalam tiga dimensi, penentuan jarak tegaklurus antara sebuah titik atau garis
dengan garis kerja gaya dapat merupakan perhitungan yang membosankan. Pendekatan
vektor dengan menggunakan perkalian silang akan lebih memudahkan.
Persamaan perkalian silang untuk MO dapat ditulis dalam bentuk diterminan:
i j k
MO = rx ry rz
Fx Fy Fz

MO = ( ry. Fx – rz. Fy ) i + ( rz. Fx – rx . Fz ) j + (rx. Fy – ry. Fx ) k

Untuk mengetahui lebih jelas tentang hubungan perkalian-silang, marilah kita amati ketiga
komponen dari momen gaya tersebut terhadap sebuah titik (lihat gambar), yang
menunjukan tiga komponen gaya F yang bekerja pada titik A yang dipisahkan dari titik O
oleh vektor r.

Fx F
z

A Fy
Politeknik Negeri Sriwijaya 34
MY
Mekanika Teknik I

Mz
r rz Fx
y
My
rx
O
ry

Mx x

Besarnya skalar dari momen akibat ketiga gaya ini terhadap sumbu –x, -y, -z melalui titik
O adalah :
Mx = ry. Fz – rz. Fy
My = rz. Fx - rx. Fz
Mz = rx. Fy – ry. Fx
Kopel Ruang (tiga dimensi)
Momen kopel merupakan vektor bebas, sedangkan momen gaya terhadap sebuah titik
(yang juga merupakan momen terhadap sumbu tertentu yang melalui titik tersebut)
merupakan vektor geser yang arahnya adalah sepanjang sumbu yang melalui titik itu.
Seperti dalam kasus dua dimensi, sebuah kopel cenderung untuk menghasilkan rotasi
murni dari benda yang bersangkutan terhadap sebuah sumbu yang tegaklurus
terhadap bidang gaya yang membentuk kopel tersebut.

Latihan-latihan.

Politeknik Negeri Sriwijaya 35


MY
Mekanika Teknik I

1. Suatu tarikan T sebesar 10 kN dikenakan pada kabel yang terikat pada puncak A dari
tiang tegar dan ditanamkan di tanah di B. Tentukan momen MB akibat T terhadap
sumbu –z yang melalui pondasi O.

2. Tentukan besar dan arah kopel M yang akan menggantikan dua buah kopel yang
diberikan dan masih menghasilkan pengaruh luar yang sama pada balok. Tentukan dua
buah gaya F dan –F, bekerja pada kedua sisi balok yang sejajar bidang y-z, yang dapat
menggantikan keempat vektor yang diberikan tersebut. Gaya-gaya 30 kN bekerja
sejajar bidang y-z.

3. Sebuah gaya sebesar 400 N dikenakan di A untuk menangani engkol pengendali yang
dipasang pada poros tetap OB. Dalam usaha menentukan pengaruh gaya terhadap

Politeknik Negeri Sriwijaya 36


MY
Mekanika Teknik I

tangkai poros pada potongan melintang seperti di O, kita dapat mengganti gaya
tersebut dengan gaya setara di O dan sebuah kopel. Gambarkan kopel ini sebagai
suatu vektor M.

4. Dua kopel beraksi pada balok (lihat gambar). Gantilah kedua kopel ini dengan suatu
kopel ekuivalen.

5. Dalam usaha mengambil sebuah beban dari posisi A, dihasilkan tarikan kabel T sebesar
21 kN. Hitunglah momen yang dihasilkan T terhadap pangkal O dari Kren- angkat
kuntruksi. (lihat gambar).
Politeknik Negeri Sriwijaya 37
MY
Mekanika Teknik I

BAB/TOPIK : III/Diagram Benda Bebas (FBD) Pada Sistem Kesetimbang-


an
SUB. BAB/ SUB.TOPIK : 3.1 /Diagram Benda Bebas (FBD)
ALOKASI WAKTU : 3 Jam/ Minggu
SEMESTER : I (Satu)

Tujuan Intruksional Umum (TIU)


Mahasiswa dapat memahami tentang Free Body Diagram (Diagram Benda Bebas) pada
benda (balok) tegar/kaku.

Tujuan Intruksional Khusus (TIK)


 Mahasiswa dapat menggambarkan Free Body Diagram pada benda tegar dengan
benar;
 Mahasiswa dapat melukiskan reaksi-reaksi gaya pada cantilever dengan benar;

Politeknik Negeri Sriwijaya 38


MY
Mekanika Teknik I

 Mahasiswa dapat melukiskan reaksi-reaksi gaya pada sistem tumpuan benda tegar
baik engsel maupun rol dengan benar;
 Mahasiswa dapat menyebutkan perbedaan antara tumpuan jepit, rol dan engsel
dengan benar.

Aplikasi Mekanis dari Gaya-gaya Dalam Analisis Dua-Dimensi

Politeknik Negeri Sriwijaya 39


MY
Mekanika Teknik I

Politeknik Negeri Sriwijaya 40


MY
Mekanika Teknik I

Politeknik Negeri Sriwijaya 41


MY
Mekanika Teknik I

Conto-contoh :

Politeknik Negeri Sriwijaya 42


MY
Mekanika Teknik I

Latihan-latihan
I.

Politeknik Negeri Sriwijaya 43


MY
Mekanika Teknik I

II.

Politeknik Negeri Sriwijaya 44


MY
Mekanika Teknik I

III.

Politeknik Negeri Sriwijaya 45


MY
Mekanika Teknik I

BAB/TOPIK : III/Diagram Benda Bebas (FBD) pada Sistem Kesetimbang-


an
SUB. BAB/SUB. TOPIK : 3.2 ./ Kesetimbangan
WAKTU : 3 Jam./ Minggu
SEMESTER : I (Satu)

Tujuan Intruksional Umum (TIU)


Mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang sistem Kesetimbangan pada benda
tegar/ kaku.

Tujuan Intruksional Khusus (TIK)


 Mahasiswa dapat menghitung besarnya reaksi yang terjadi pada tumpuan jepit
akibat beban luar dengan benar.
 Mahasiswa dapat menghitung besarnya reaksi yang terjadi pada tumpuan rol dan
engsel akobat beban luar dengan benar.

Politeknik Negeri Sriwijaya 46


MY
Mekanika Teknik I

3.2.1 Sistem Kesetimbangan pada Benda Tegar/Kaku Dua Dimensi


Kesetimbangan didefinisikan sebagai kondisi di mana resultan semua gaya yang
bekerja pada sebuah bendan adalah nol.
Fx = 0, Fy = 0, M = 0
Dimana :
Fx = 0, artinya jumlah semua gaya searah sumbu-x adalah nol
Fy = 0, artinya jumlah semua gaya searah sumbu-y adalah nol
M = 0, artinya jumlah momen pada suatu mekanikis adalah nol

Contoh :

Politeknik Negeri Sriwijaya 47


MY
Mekanika Teknik I

Contoh :
F1 F2 F1 = 1000 N
A B F2 = 500 N
Ditanyakan :
2m 3m 2m Reaksi gaya di titik A dan titik B

Penyelesaian :
F1 F2
RAx A B
RAY RBy

 Fx = 0
RAx = 0

 MA = 0
F1. 2 + F2. 5 – RBy. 7 = 0
1000. 2 + 500. 5 – RBy. 7 = 0
1000.2  500.5
RBy = = 642,857 N
7

 Fy = 0
RAy – F1 – F2 + RBy = 0
RAy = 1000 + 500 – 642,857 = 857,142 N

Politeknik Negeri Sriwijaya 48


MY
Mekanika Teknik I

Latihan-latihan
1. Crane tetap bermassa 1000 kg dipakai untuk mengangkat peti seberat 2400 kg. Benda
itu dipegang tetap pada tempatnya oleh pin di A dan roller B. Pusat gravitasi Crane
terletak di titik G. Tentukan komponen realksi di A dan di B .

2. Balok kantilever dibebani seperti pada gambar di bawah ini. Balok tersebut ujung
kakinya terikat ( dijepit ) dan ujung lainnya bebas. Tentukan reaksi pada bagian yang
terjepit .

Politeknik Negeri Sriwijaya 49


MY
Mekanika Teknik I

3. Kereta beban berada dalam keadaan diam pada rel yang membentuk sudut 250 dengan
vertikal. Berat seluruh kereta serta bebannya ialah 5500 lb, dan beraksi pada titik 30 in
dari rel. Tentukan gaya tegang kabel dan reaksi pada masing-masing pasangan roda.

4. Lengan AB yang panjangnya 40 ft, beratnya 0,5 ton; jarak dari aksel A ke pusat
gravitasi G dari lengan itu ialah 20 ft. untuk kedudukan seperti pada gambar. Tentukan
gaya tegang T dalam kabel dan reaksi di A.

Politeknik Negeri Sriwijaya 50


MY
Mekanika Teknik I

5. Suatu Derek mengangkat sebuah Buldoser seberat 4,2 MN. Pusat massa lengan OA
beratnya 2 MN berada pada pertengahan panjangnya. Hitungkah tarikan kabel T yang
diikat ke B dan Besar gaya yang disangga oleh lengan tersebut pada engsel di O dalam
keadaan setimbang pada posisi 600. (lebar lengan diabaikan).

Politeknik Negeri Sriwijaya 51


MY
Mekanika Teknik I

BAB/TOPIK : IV/ Titik Berat


SUB. BAB/ SUB. TOPIK : Titik Berat Garis, Bidang dan Ruang
ALOKASI WAKTU : 3 Jam/ Minggu
SEMESTER : I (Satu)

Tujuan Intruksional Umum (TIU)


Mahasiswa dapat memahami tentang titik berat garis, bidang dan ruang.

Tujuan Intruksional Khusus (TIK)


 Mahasiswa dapat menentukan titik berat garis dengan benar;
 Mahasiswa dapat menentukan titik berat bidang dengan benar;
 Mahasiswa dapat menentukan titik berat ruang atau benda dengan benar;
 Mahasiswa dapat menyebutkan fungsi titik-titik berat garis, bidang dang ruang
dengan benar.

Politeknik Negeri Sriwijaya 52


MY
Mekanika Teknik I

4.1 Titik Berat Garis.


1. Titik berat suatu garis lurus adalah titik pada pertengahan garis tersebut
G

2. Titik berat garis gabungan umumnya tidak terletak pada garis tersebut.

.G

3. Titik berat garis gabungan yang simestris adalah selalu pada sumbu simetris.
G
G

Contoh :
1. Hitung titik berat dari garis gabungan di bawah ini.

Ga Gc 60
40
Politeknik Negeri Sriwijaya 53
MY
Mekanika Teknik I

Gb X
Y 30

Penyelesaian :
Titik berat dari masing-masing garis adalah : Ga, Gb, Gc terletak masing-masing pada
pertengahannya.
N Ln Xn Yn Lnb. Xn Ln. Yn
1 40 0 20 0 800
2 30 15 0 450 0
3 60 30 30 1800 1800
 130 2250 2600
L n . Xn
Xo =
L n
2250
= = 17,3 dari A
130
Ln .Yn
Yo =
Ln
2600
= = 20 dari A
130
Jadi Titik beratnya G ( 17,3 , 20 )

Khusus untuk Titik Berat Tali Busur


r.sin 
Jika Y1 = 0; maka X1 = ……… dimana  penyebut = /4

4.2 Titik Berat Bidang


Suatu bidang dapat dicari titik beratnya dengan cara memomenkan bidang tersebut
terhadap garis sumbu yang telah ditentukan letaknya lalu dibagi dengan luas bidang
tersebut.
Pada bidang-bidang tertentu titik beratnya terletak pada perpotongan garis beratnya.
Contoh :

Politeknik Negeri Sriwijaya 54


MY
Mekanika Teknik I

Tentukanlah koordinator titik berat sebuah trapesium yang mempunyai ukuran seperti
pada gambar.
Panjang garis sejajar yang terpendek 4 cm, panjang garis sejajar yang terpanjang 7 cm
dan tingginya 3 cm.
4 cm
3 cm

3 cm G
Y1 Y2
X1
X2
Dimuka telah dijelaskan bahwa titik berat suatu bidang terletak pada titik
perpotongan garis berat bidang tersebut, untuk itu maka bidang tersebut dibagai
menjadi dua penampang yaitu : A1 dan A2
X1 = (  Ai Xi )/ (  Ai )
= ( A1 X1 + A2 X2 ) / ( A1 + A2 )
= ( 12. 2 + 4,5. 5 ) / ( 12 + 4,5 )
= 2,82 cm

Y1 = (  Ai. Yi ) / (  Ai )
= ( A1. Y1 + A2. Y2 ) / ( A1 + A2 )
= ( 12. 1,5 + 4,5. 1 ) / ( 12 + 4,5 )
= 1,36 cm
Jadi titik berat bidang trapisium tersebut adalah : G ( 2,82 , 1,36 )

4.3 Titik Berat Ruang


X1 = ( Vi. Xi ) / ( Vi)
Y1 = ( Vi. Yi ) / ( Vi)
Z1 = ( Vi. Zi ) / ( Vi)

Politeknik Negeri Sriwijaya 55


MY
Mekanika Teknik I

Latihan-;atihan
1. Tentukan titik berat dari garis gabungan berikut ini :
40
30 50
30
30 30 40

30o 28
76
34

2. Tentukan titik berat dari gabungan garis dan busur di bawah ini.
25 mm
60o

50 mm 40 mm r = 40 mm
50 mm

3. Tentukan letak titik berat dari gambar di bawah ini


800
Politeknik Negeri Sriwijaya 56
MY
Mekanika Teknik I

400

200
150 100

4. Tentukan titik berat luas trapisium seperti pada gambar di bawah ini.

100 mm

150 mm

175 mm

Politeknik Negeri Sriwijaya 57


MY
Mekanika Teknik I

BAB/TOPIK : V/ Bidang Gaya Geser dan Momen


SUB. BAB/ SUB. TOPIK : 5.1 / Bidang Gaya Geser dan Momen pada Cantilever
ALOKASI WAKTU : 3 Jam/ Minggu
SEMESTER : I (Satu)

Tujuan Intruksional Umum (TIU)


Mahasiswa dapat memahami tentang pengertian bidang gaya geser dan bidang momen
pada suatu batang.

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


 Mahasiswa dapat melukis bidang gaya geser pada sistem cantilever dengan benar.
 Mahasiswa dapat melukis bidang momen pada sistem cantilever dengan benar.
 Mahasiswa dapat menghitung besarnya gaya geser dan momen maksimum pada
sistem cantilever dengan benar.

Politeknik Negeri Sriwijaya 58


MY
Mekanika Teknik I

Momen Bengkok (bending moment)

Momen Puntir (torsion)

Untuk beam akan kita tinjau besarnya gaya geser dan momen bengkok pada setiap
titik sepanjang beam tersebut.
Langkah-langkah dalam penyelesaian persoalan tersebut adalah :
1. Buat free body diagram ;
2. Tentukan reaksi-reaksinya berdasarkan persamaan kesetimbangan;
3. Potonglah sebagian batang dari ujung kiri atau kanan dan gambar free body
diagramnya;

Politeknik Negeri Sriwijaya 59


MY
Mekanika Teknik I

4. Tentukan gaya geser danmomen bengkok pada tiap-tiap potongan tersebut;


5. Gambarkan bidang gaya geser (V) dan bidang momen bengkok (M); yang positip
pada potongan tersebut sesuai dengan perjanjian yang lazim dipakai.
M (+)

RA V (+)

M (+)

V (+) RB
5.1 Cantilever
Apabila suatu batang ditumpu dengan jepitan (cantilever), maka jepitan tersbut
harus mampu menahan beban aksial dan lateral serta momen bengkok. Karena sifat
cantilever itu harus memiliki reaksi-reaksi gaya dan momen.

Contoh :
1. Diketahui : Sebuah batang yang dijepit, pada ujungnya diberi beban F
Ditanyakan : Lukis bidang gaya geser (V) dan bidang momen (M)
(lihat gambar di bawah)
F
A
L

Penyelesaian :
F  Fx = 0
A RAx = 0
L  Fy = 0
RAx x F RAy – F = 0; didapat RAy = F
 MA = 0
MA RAy MA + F. L = 0; didapat MA = - F. L
F Ditinjau pada potongan di x :
Mx  Mx = 0
Politeknik Negeri Sriwijaya 60
MY
Mekanika Teknik I

Vx Mx + F. x = 0
Mx = -F. x
Untuk x = 0. maka Mx = 0
Untuk x = L; maka Mx = - F. L
Vx Bidang (V) F  Fy = 0
Vx – F = 0; didapat Vx = F (konstan)

Bidang (M)
- F.L

Latihan- Latihan
Gambar dan tentukan besarnya gaya geser dan momen maksimum pada soal-soal di bawah
ini;
1. 50 kN
5m

2. 50 kN 75 kN
3m 4m

100 kN 50 kN
3.
600
2m 5m

40 kN
4. 30 NM
3m 4m

Politeknik Negeri Sriwijaya 61


MY
Mekanika Teknik I

BAB/TOPIK : V/ Bidang Gaya Geser dan Momen


SUB. BAB/ SUB. TOPIK : 5.2 / Bidang Gaya Geser dan Momen Pada Support
ALOKASI WAKTU : 3 Jam/ Minggu
SEMESTER : I (Satu)

Tujuan Intruksional Umum (TIU)


Mahasiswa dapat memahami tentang pengertian bidang gaya geser dan bidang momen
pada suatu batang.

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


 Mahasiswa dapat melukis bidang gaya geser pada sistem support dengan benar.
 Mahasiswa dapat melukis bidang momen pada sistem support dengan benar.
 Mahasiswa dapat menghitung besarnya gaya geser dan momen maksimum pada
sistem support dengan benar.

Politeknik Negeri Sriwijaya 62


MY
Mekanika Teknik I

5.2 Dukungan (Suport)


Apabila ada suatu benda atau batang direbahkan dan batang itu harus menahan suatu
beban, supaya terdapat suatu keseimbangan maka benda tadi harus ditumpu.
Bila hanya ditumpu sebuah saja, batang itu akan mudah dihilangkan keseimbangannya.
Dengan demikian harus ditumpu dengan jumlah diu buah tumpuan; ini yang sering
disebut dengan nama Support.
F
a b
A B

Dimuka telah diterangkan bahwa jika gaya F diketahui maka bidang lintang (geser) dan
bidang momen dapat digambarkan dengan memakai skala.

I F  MA = 0

RAx A a b B - RBy. L + F. a = 0

RAy L RBy RBy = (F. a)/ L


 Fy = 0
RAx x Mx RAy – F + RBy = 0
RAy x
Vx RAy = F - RBy
Potongan I : 0  x  a
F
a Mx Bidang Gaya Geser;
Politeknik Negeri Sriwijaya 63
MY
Mekanika Teknik I

RAy x Vx  Fy = 0
RAy + Vx = 0

Vx = RAy
Bidang Geser
RAy + F Untuk x = 0, maka Vx = RAy
Untuk x a, maka Vx = RAy
-  Mx = 0
RBy
RAy. x – Mx = 0
+
Bidang Momen Mx = RAy. x

Untuk x = 0, maka Mx = 0
Untuk x = a, maka Mx = RAy. x
Potongan II : a  x L
 Fy = 0
RAy – F + Vx = 0
Vx = F - RAy
Untuk x = a, maka Vx = F - RAy
Untuk x = L, maka Vx = F - RAy

 Mx = 0
RAy. x – F. (L-a) - Mx = 0
Mx = RAy. x - F (L – a)

Politeknik Negeri Sriwijaya 64


MY
Mekanika Teknik I

Latihan-latihan.

1.
A Q = 2 kN/m

10 m

F = 10 kN Q = 4 kN/m
2.

10 m

3. F1 = 10 kN F2 = 20 kN
2m 3m 3m
A B

4. Q = 5 kN/m

A B
10 m

Politeknik Negeri Sriwijaya 65


MY
Mekanika Teknik I

5. F = 10 kN Q = 3 kN/m

A B

2m 5m

BAB/ TOPIK : VI/ Analisa Struktur


SUB. BAB/ SUB. TOPIK : 6.1 / Analisa Grafik Truss dengan Metode Sambungan
(Cremona)
ALOKASI WAKTU : 3 Jam/ Minggu
SEMESTER : I (Satu)

Tujuan Intruksional Umum (TIU)


 Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui tentang pengertian struktur pada system
mekanika.
 Mehasiswa dapat mengetahui jenis-jenis kerangka
 Mahasiswa dapat mengetahui tentang Metode Cremona.

Tujuan Intruksional khusus (TIK)


 Mahasiswa dapat menyebutkan cara-cara menggunakan Metode Cremona dengan
benar
 Mahasiswa dapat menghitung gaya-gaya pada batang dengan menggunakan
Metode Cremona dengan benar

Politeknik Negeri Sriwijaya 66


MY
Mekanika Teknik I

Definisi Truss
Truss merupakan salah satu jenis umum dari struktur teknik. Truss menghasilkan keduanya
: pemecahan praktis dan ekonomis pada situasi teknik, khususnya dalam perancangan
jembatan, bagunan-bangunan, rangka Crane dan sebagainya.
Truss terdiri dari bagian yang berbentuk lurus dan sambungan (sendi) penghubung; jadi
truss yang biasa dipakai seperti gambar di bawah ini.

Pada gambar di atas, terlihat ada batang AB; sebagai gantinya kita punya dua batang AD
dan DB. Struktur yang sebenarnya dibentuk dari beberapa truss yang dihubungkan bersama

Politeknik Negeri Sriwijaya 67


MY
Mekanika Teknik I

membentuk kerangka ruang. Masing-masing truss dirancang untuk memikul bebn yang
beraksi pada bidangnya, sehingga dapat diperlakukan sebagai struktur dua dimensi.
Pada umumnya, bagian-bagian truss berbentuk batang dan hanya bisa mendukung beban
ringan dalam arah lateral; ini berarti semua beban hasrus diterapkan pada berbagai
sambungannya; dan bukan langsung pada bagian-bagiannya. Bila suatu beban
terkonsentrasi diterapkan antara dua sambungan, atau bila beban terdistribusi harus
didukung oleh truss itu, seperti dalam kasus truss jembatan, sistem lantai harus
ditambahkan yang melalui pemakaian stringger dan balok lantai mentransmisikan beban
pada sambungan (lihat gambar di bawah).

6.1 Analisa Grafik Truss dengan Metode Sambungan (Cremona)


Metode sambungan dapat dipakai sebagai dasar untuk analisa grafik truss. Kita
akan mengembangkan analisa grafik ini dengan meninjau truss.
Truss pada gambar di bawah ini akan digambar lagi free body diagramnya seperti pada
gambar a, dan segi banyak gaya digambarkan lagi menurut skalanya masing-masing
Politeknik Negeri Sriwijaya 68
MY
Mekanika Teknik I

sambungan (gambar b); gaya pada masing-masing bagian batang sekarang ini diukur
dari salah satu segi banyak gaya ini. Banyaknya garis yang telah digambarkan dapat
direduksi jika berbagai segi banyak gaya disuperposisikan. Diagram yang
dihasilkannya ditunjukan pada gambar c, yang dikenal sebagai Diagram Maxwe; dari
truss itu.

1 2 4

A 3 5 B

1 2 4
3 5

RA F RB
(a)

E E B
A E B
A A

D C D C D

(b)

E B

D C
Supaya kita bisa menggambar Diagram Maxwell secara langsung, kita akan melakukannya
sebagai berikut :
1.Huruf kecil atau angka dipakai untuk menandai settiap daerah diluar truss bergerak
menurut arah jarum jam mengelilingi truss, demikian juga setiap daerah di dalam truss.
Politeknik Negeri Sriwijaya 69
MY
Mekanika Teknik I

2.Reaksi-reaksi ditentukan dengan memecahkan persamaan kesetimbangan keseluruhan


truss.
3. Dengan memilih gaya eksternal dalam urutan menurut arah jarum jam mengelilingi
truss itu, kita gambarkan menurut skalanya segi banyak gaya untuk keseluruhan truss.
Jika suatu sambungan yang jumlah gayanya beraksi padanya hanya dua bisa
ditemukan; langkah 1 dan 2 dapat dihilangkan atau setidak-tidaknya ditunda.
B
A
1

4 D C

4. Suatu segi banyak kita gambar untuk masing-masing sambungan dengan


memperkenalkannya berturutan sebagai sambungan yang mangalami aksi dua gaya tak
diketahui. Semua garis yang telah digambarkan sebelumnya dapat kita pakai; jadi
hanya diperlukan dua garis tambahan untuk melengkapi masing-masing segi banyak
gaya baru.

Contoh :
Tentukan gaya-gaya dalam tiap bagian pada truss di bawah ini, dengan menggunakan
metode Mazwell (Cremona).

2000 N
1000 N
b c
1 2 3

a f h e

g
4 5

Penyelesaian :
Politeknik Negeri Sriwijaya 70
MY
Mekanika Teknik I

2000 N 1000 N 7000 N

10000 N

A G Truss (penunjang) gambar disamping untuk me


nimbang; beban yang beraksi dan reaksinya
semuanya ditunjukan. Menggunakan notasi
B F Bow, huruf yang lebih kecil diberikan pada tiap
Bidang diluar penunjang dan masing-masing
C H bidang di dalam penunjang.
Untuk menghitung gaya-gaya reaksi digunakan
sistem kesetimbangan.
Pilih gaya eksternal searah jarum jam sekeliling
Penunjang, kiat gambar untuk menimbang gaya
Poligon bagi keseluruhan penunjang dari
Ujung ke ujung model; sedemikian sehingga
Titik-titik A, B, C, D, dan E diletakan pada
Diagram Maxwell.
Perhatikan sendi I, disini terdapat dua gaya yang
Tidak diketahui, kita letakan sekarang titik F
D. E dengan menggambar garis BF dan AF, yang sejajar dengan
bagian bf dan fa, berturut-turut; kemudian kita perhatikan sendi 4, dimana sekarang hanya
ada dua gaya yang tidak diketahui, dan dari sini hanya satu titik tidak diketahui dalam
segitiga yang berhubungan dengan diagram Maxwell. Garis FG dan AG digambarkan
sejajar dengan fg dan ga, berturut-turut; titik g diletakan pada titik potong garis ini.
Kemudian kita memperhatikan sendi 2 dan leyakan titik H pada titik potong garis CH dan
GH yang digambarkan sejajar dengan ch dan hg, berturut-turut. Semua titik dari diagram
Maxwell sekarang telah diletakan.
Politeknik Negeri Sriwijaya 71
MY
Mekanika Teknik I

Karena HE mewakili gaya dalam bagian he, kita dapat menggambar satu garis melalui titik
H sejajar bagian he; garis ini harus melewati titik E, yang talah diletakan. Ini merupakan
pertanda ketepatan menggambar diagram Maxwell.
Kemudian besar dan arah dalam tiap bagian ditentukan dari diagram Maxwell; besarnya
diukur langsung, dan arahnya ditemukan sebagai yang ditunjukan pada halaman
sebelumnya. Hasil akhir dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Bagian Gaya (lb) Jenis gaya
Bf 1500 Tarik
Fa 2500 Tekan
Fg 2500 Tarik
Ga 3000 Tekan
Hg 3750 Tekan
Ch 5250 Tarik
he 8750 Tekan

Latihan-Latihan
1. Hitunglah gaya pada tiap batang dari rangka-batang kantilever yang dibebani seperti
terlihat pada gambar di bawah ini, dengan metode sambungan titik.

2. Tentukan gaya-gaya batang dari rangkaian batang yang dibebani (lihat gambar di
bawah ini).

Politeknik Negeri Sriwijaya 72


MY
Mekanika Teknik I

3. Tentukan gaya-gaya batang dari rangkaian batang yang dibeban di bawah ini.

BAB/ TOPIK : VI/ Analisa Struktur


SUB. BAB/SUB. TOPIK : 6.2 / Analisa Struktur dengan metode Ritter
ALOKASI WAKTU : 3 Jam/ Minggu
SEMESTER : I (Satu)

Tujuan Intruksional Umum (TIU)


 Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui tentang pengertian struktur pada sistem
mekanika.
 Mahasiswa dapat mengetahui tentang Metode Ritter.

Politeknik Negeri Sriwijaya 73


MY
Mekanika Teknik I

Tujuan Intruksional khusus (TIK)


 Mahasiswa dapat menyebutkan cara-cara menggunakan Metode Ritter dengan
benar
 Mahasiswa dapat menghitung gaya-gaya pada batang dengan menggunakan
Metode Ritter dengan benar

6.2 Analisa Truss dengan Metode Pemotongan ( Ritter)


Metode Cremona sangat efektif bilamana harus ditentukan gaya-gaya dalam semua
bagian (batang). Tetapi bilamana gaya hanya dalam satu bagian atau gaya dalam
beberapa bagian saja yang diinginkan, metode Ritter ternyata lebih efektif.
Andaikata kita ingin menentukan gaya dalam bagian BD dari Truss (penunjang) lihat
gambar di bawah. Untuk mengerjakan ini, kita harus menentukan gaya dengan mana
bagian BD beraksi baik pada smbungan B atau D. Bilamana kita harus menggunakan
metode Cremona, kita akan memilih baik sambungan B atau D sebagai benda bebas.
Tetapi kita dapat juga memilih sebagai benda bebas bagian yang lebih luas dari pada
penunjang, terdiri dari beberapa sendi dan bagian, asalkan gaya yang di inginkan
adalah satu diantara gaya luar yang beraksi pada bagian tersebut.
Politeknik Negeri Sriwijaya 74
MY
Mekanika Teknik I

Jika, sebagai tambahan, sebagian dari penunjang dipilih sedemikian hingga secara total
hanya ada tiga gaya yang tidak diketahui beraksi padanya, gaya yang di inginkan dapat
diperoleh dengan menyelesaikan persamaan kesetimbangan bagi sebagian penunjang,
salah satunya adalah bagian yang diinginkan, yaitu dengan menggambar suatu garis
yang membagi penunjang menjadi dua bagian yang terpotong sempurna, tetapi tidak
memotong lebih dari pada tiga nagian. Ledua bagian dari penunjang yang doiperoleh
setelah pemotongan bagian setelah dipisahkan kemudian dapat digunakan sebagai
benda bebas.
F1 F2 F3

A B n D G

C n E
Dalam gambar di atas , bagian komponen n-n telah dilewatkan melalui bagian BD, BE dan
CE dan sebagian ABC dari penunjang dipilih sebagai benda bebas (lihat gambar di bawah).
Gaya yang beraksi pada benda bebas adalah bagian F1 dan F2 pada titik A dan B dan tiga
gaya yang tidak diketahui FBE, FBD dan FCE. Karena belum diketahui bagian yang
dipindahkan berada dalam keadaan tarik atau tekan; Tiga gaya telah ditarik sekehendak
dari benda bebas dan seolah-olah bagian itu dalam keadaan tarik.
Kenyataan bahwa benda tegar ABC dari penunjang dalam kesetimbangan dapat ditunjukan
dengan menuliskan tiga persamaan yang dapat diselesaiakan untuk tiga gaya yang tidak
diketahui.
F1 F2
FBD
A B
FBE
C FCE E
Jika hanya gaya FBD yang diinginkan, kita hanya cukup menulis satu persamaan, asalkan
persamaan tidak terdiri dari yang lain tidak diketahui. Demikian maka persamaan  ME = 0
memberikan nilai besarnya FBD dari gaya FDB Tanda positip dalam jawaban akan
Politeknik Negeri Sriwijaya 75
MY
Mekanika Teknik I

menunjukan bahwa dugaan kita semula tentang FBD adalah benar dan bahwa bagian FBD
dalam keadaan tarik; tanda negatip aqkan menunjukan bahwa dugaan kita tidak benar dan
bahwa FBD adalah dalam keadaan tekan.
Di lain pihak, jika hanya gaya FCE yang diinginkan, suatu persamaan yang tidak
melibatkan FBD atau FBE harus ditulis; suatu persamaan yang layak adalah  MB = 0.
Tanda positip untuk besarnya FCE dari gaya yang diinginkan menunjukan dugaan yang
benar oleh karena itu keadaan tarik; dan tanda negatip menunjukan dugaan yang tidak
benar, oleh karena itu keadaan tekan.
Jika hanya FBE yang diinginkan, persamaan yang layak adalah  Fy = 0. Apakah bagian itu
dalam keadaan tarik atau tekan ditentukan oleh tanda dari jawabannya.

Latihan-latihan.
1. Hitunglah gaya pada tiap batang dari rangka-batang kantilever yang dibebani seperti
terlihat pada gambar di bawah ini, dengan metode sambungan titik.

Politeknik Negeri Sriwijaya 76


MY
Mekanika Teknik I

2. Tentukan gaya-gaya batang dari rangkaian batang yang dibebani (lihat gambar di
bawah ini).

3. Tentukan gaya-gaya batang dari rangkaian batang yang dibebani di bawah ini.

4. Hitung gaya pada batang CG dan batang CF untuk rangka-batang di bawah ini.

Politeknik Negeri Sriwijaya 77


MY
Mekanika Teknik I

5. Hitunglah gaya-gaya yang terjadi pada batang-batang GH dan ED untuk rangka-batang


Derek pada saat mengangkat mobil seberat 1800 kg. (lihat gambar di bawah).

BAB/TOPIK : VII / Gesekan


SUB. BAB/SUB. TOPIK : 7.1/ Hukum Gesekan dan Sudut Gesekan
ALOKASI WAKTU : 3 Jam/ Minggu
SEMESTER : I (Satu)

Tujuan Intruksional Umum (TIU)


 Mahasiswa diharapkan dapat memahami tentang pengertian gesekan statis dan
Kinematik.

Politeknik Negeri Sriwijaya 78


MY
Mekanika Teknik I

 Mahasiswa diharapkan dapat memahami pengaruh gesekan terhadap gaya pada dua
benda yang saling bergerak.

Tujuan Intruksional Khusus (TIK)


 Mahasiswa dapat menyebutkan perbedaan saat terjadinya gesekan statis dan
dinamis pada suatu benda dengan benar.
 Mahasiswa dapat menghitung gaya gesek luncur pada benda yang bergerak pada
bidang datar dan bidang miring.

Pengertian Gesekan.

Sebuah benda jika diluncurkan di atas meja yang rata dan mendatar lajunya akan
berkurang dan akhirnya berhenti. Jelas berarti adan gaya luar dalam arah horizontal pada
benda yang arhnya berlawanan dengan gerak benda, gaya ini yang disebut gaya gesekan
yang bekerja pada benda dan disebabkan oleh benda.
Gaya gesekan ini terjadi bila dua buah benda bergesekan yaitu permukaan kedua benda
bersinggungan waktu benda yang satu bergerak terhadap benda yang lain.
Gaya-gaya gesekan selalu melawan gerak, meskipun tidak ada gerak relatip antara dua
benda yang bersinggungan, gaya gesekan dapat juga terjadi.
Politeknik Negeri Sriwijaya 79
MY
Mekanika Teknik I

7.1.1 Hukum Gesekan Kering dan Sudut Gesekan


Hukum gesekan dapat dipahami melalui percobaan-percobaan di bawah ini, yaitu jika
sebuah balok yang beratnya W diletakan pada suatu permukaan datar horizontal; yang
mana balok tanpa diberi gaya dorong dan yang satunya diberi gaya dorong P.

Tanpa gaya dorong P Diberi gaya dorong P

Fm = s. N

Fk = k. N

Contoh :
Koefesien gesek kinematik baja dengan baja tanpa pelumas.
Kecepatan [ m/dt] 10-4 10-3 10-2 10-1 10
Koef. Gesek k 0,53 0,48 0,39 0,19 0,18

Berdasarkan percobaan-percobaan (empiris), dihasilkan harga-harga koefesien gesek


kering dari static dan kinematik pada kecepatan tertentu (lihat table di bawah ini).
BAHAN s k
Baja lumer pada baja lumer 0,75 0,53

Politeknik Negeri Sriwijaya 80


MY
Mekanika Teknik I

Alumunium pada baja lumer 0,61 0,47


Tembaga pada baja lumer 0,53 0,36
Besi tuang pada bes tuang 1,10 0,15
Bahan rem pada besi tuang 0,40 0,30
Kayu pada besi tuang 0,60 0,32
Batu pada besi tuang 0,45 0,22
Kulit pada besi tuang 0,60 0,56
Karet pada logam metal 0,40 0,30
Karet pada kayu 0,40 0,30
Karet pada trotoar 0,90 0,80
Kulit pada kayu 0,40 0,30
Kaca/gelas pada nikel 0,78 0,56

Dari penjelasan gambar di atas, jelaslah bahwa empat situasi berbeda dapat terjadi bila
suatu benda tegar kontak dengan suatu permukaan horizontal.

NO FRICTION : TIDAK ADAN GESEKAN

( Px = 0 )

NO MOTION : TAK BERGERAK

( Px < Fm )

Politeknik Negeri Sriwijaya 81


MY
Mekanika Teknik I

MOTION IMPENDING : HAMPIR BERGERAK

( Px = Fm )

MOTION : BERGERAK

( Px > Fm )

7.1.2 Sudut Gesekan


Untuk gesekan statis, sudut gesekannya adalah :
Fm  s .N
tan s = 
N N
tan s = s

Untuk gesekan kinetis, sudut gesekannya adalah :


Fk  k . .N
tan k = 
N N
tan k = k
Untuk mempermudah memahami sudut gesekan dapat dilihat pada gambar di
bawah ini :

Politeknik Negeri Sriwijaya 82


MY
Mekanika Teknik I

NO FRICTION : TAK BERGESEKAN

NO MOTION : TAK BERGERAK

MOTION IMPENDING : HAMPIR BERGERAK

ANGLE OF REPOSE : SUDUT GEMING

Politeknik Negeri Sriwijaya 83


MY
Mekanika Teknik I

MOTION : BERGERAK

Politeknik Negeri Sriwijaya 84


MY
Mekanika Teknik I

Contoh soal :
1. Sebuah benda bermasa 20 [kg] diletakkan pada bidang datar yang horizontal,benda dan
bidang tersebut terbuat dari besi tuang tanpa dilumasi. Hitung gaya gesek maximum
untuk static dan gaya gesek kinetik pada kecepatan tertentu.
Jawab :
m = 20 [kg]
g = 9,81 [m/dt2]
Pada table menurut percobaan didapatkan harga s = 1,10 dan k = 0,15.
W=m.g
= 20 . 9,81

Politeknik Negeri Sriwijaya 85


MY
Mekanika Teknik I

=196,2 [N]
Maka gaya gesek static maximum :
f = FN . S
= 196,2 . 1,10
= 215,82 [N]
Sedangkan gaya gesek kinetik :
f = FN . K
= 196,2 . 0,15
= 29,430 [N]
Latihan-Latihan
1. Suatu gaya 100 lb beraksi pada balok yang beratnya 300 lb yang ditempatkan di atas
bidang datar miring. Koefesien gesek anatar balok dan bidang datar s = 0,25 dan k =
0,20 (lihat gambar di bawah). Tentukan apakah balok dalam keadaan kesetimbangan,
dan dapatkah nilai dari gaya gesekan.

2. Tentukan sudut maksimum  yang dapat dibuat oleh bidang miring yang dapat di setel
terhadap bidang horizontal sebelum balok bermassa m mulai menggelincir. Koefesien
gesek statik antara balok dan permukaan adalah s.

Politeknik Negeri Sriwijaya 86


MY
Mekanika Teknik I

3. Tentukan jangkauan nilai ( range) yang dapat dimiliki oleh massa m0 supaya balok
seberat 100 kg (lihat gambar) tidak mulai bergerak ke atas maupun menggelincir ke
bawah pada bidang. Koefesien gesekan statik untuk permukaan kontak adalah 0,30.

4. Tentukan besar dan arah gaya gesekan yang bekerja pada balok 100 kg, jika pertama-
tama, P = 500 N dan, kedua, P = 100 N. Koefesien gesek statik 0,20 dan koefesien
gesek kinetik 0,17. Gaya-gaya tersebut dikenakan di mana balok mula-mula dalam
keadaan diam.

Politeknik Negeri Sriwijaya 87


MY
Mekanika Teknik I

BAB/TOPIK : VII/ Gesekan


SUB. BAB/ SUB. TOPIK : 7.2 & 7.3/ Gesekan pada Puli dan Gesekan pada Baji (Pasak)
ALOKASI WAKTU : 3 Jam/ Minggu
SEMESTER : I (Satu)

Tujuan Intruksional Umum (TIU)


 Mahasiswa dapat memahami pengertian tentang gesekan yang terjadi antara puli
dan sabuk.
 Mahasiswa dapat memahami tentang gesekan yang terjadi pada baji (pasak)

Tujuan Intruksional Khusus (TIK)


 Mahasiswa dapat menyebutkan perbedaan pinion puli dan gear puli dengan benar.
 Mahasiswa dapat menghitung besarnya gesekan yang terjadi pada puli dan sabuk.
 Mahasiswa dapat menghitung daya puli pinion yang diperlukan akibat pengaruh
gesekan dengan benar.
 Mahasiswa dapat menghitung besarnya gaya gesek yang terjadi pada baji (pasak)
dengan benar.
Politeknik Negeri Sriwijaya 88
MY
Mekanika Teknik I

7.2 Gesekan pada Tali


Salah satu dari pemindahan tenaga menggunakan tali, misalnya pada mesin-mesin
bubut dan sebagainya.
Prinsip pemindahan tenaga ini adalah gesekan dari pully, andaikan tidak ada gesekan
maka tidak akan terjadi pemindahan tenaga.
Untuk itu di lihat pemindahan tenaga dengan sabuk (lihat gambar di bawah),
perbandingan antara tegangan yang menarik dengan yang ditarik dapat dihitung.
Besarnya tenaga yang dipindahkan :
Daya = gaya x kecepatan

T1

T2

Dimana :
P : daya/tenaga yang dipindahkan dalam Watt
Politeknik Negeri Sriwijaya 89
MY
Mekanika Teknik I

T : Gaya tegang tali


T = T1 – T2 dalam Newton
T1 : Gaya tegang tali pada penarik
T2 : Gaya tegang tali pada sisi kendor
V : kecepatan keliling tali
.D.n
V = dalam m/detik
60
D : Diamewter pully dalam m
n : Putaran pully dalam rpm
Sehinggga rumusnya dapat ditulis sebagai berikut :
.D.n
P = (T1 - T2). …………..Watt
60

T1 T1 = Tr + T2 dan
T1 = T2. e
 Rumus tersebut dapat dibuktikan dengan
memakai deferensial dan integral.

Tr T2

Dimana :
T1 : gaya tegang sisi kencang
T2 : gaya tegang sisi kendor
e : bilangan alam = 2,718281828….
 : koefesien gesek.
 : sudut kontak

Contoh :

T1 = 250 N 1600

Politeknik Negeri Sriwijaya 90


MY
Mekanika Teknik I

120 cm 60 cm
T2

Pada gambar di atas n = 200 rpm, koef. Gesek = 0,5.


Tentukan :Tenaga yamg dapat dipindahkan oleh pully tersebut.
Penyelesaian :
T1
= e
T2
160
= . 2.  = 2,79 rad
360
250
sehingga = e0,5. 2,79
T2
T2 = 61,958 N
 .D.n
Daya P = (T1 – T2) .
60
3,14.0,6.200
P = (250 – 61,958).
60
P = 1181,5 Watt

7.3 Gesekan pada Baji (pasak)


Pasak adalah suatu alat yang sederhana dan banyak dugunakan dalam mesin-mesin
dengan maksud untuk mengatur posisi suatu alat atau untuk mengunci suatu alat. Jika
pasak digeser akan terjadi gaya resultante pada masing-masing permukaan pasak
yang arahnya miring dari normal yang besarnya kemiringan sama dengan sudut gesek
da arahnya resultan selalu berlawanan arah dengan arah gerakan relatif dari pasak
pada waktu mulai menekan.
Pada gambar di bawah ini terlihat sebuah pasak yang digunakan untuk mengatur
posisi suatu benda yang punya massa m, koefesien gesek pada permukaan pasak  =
tg .
Gaya yang diperlukan untuk mulai mnggerakan pasak akan di peroleh dengan cara
lukisan maupun perhitungan.
Politeknik Negeri Sriwijaya 91
MY
Mekanika Teknik I

 F

R1

R2 R2 cos (+)
R2 sin (+)
 

R


R3 

Free body diagram bendanya dengan cara Poligon, sebagai berikut :


R1

R2 W
Politeknik Negeri Sriwijaya 92
MY
Mekanika Teknik I

+

Bila secara analistis :


 Fy = 0  maka W = R2. cos ( + ) ……………I
 Fx = 0  maka R1 = R2.sin ( + ) ……………..2
Dari pers. (1) dan (2) dapat dieliminir R1 dan R2.
Kita lihat free body diagram pada pasak.

R3

 +

P R2
Secara analistis :
 Fy = 0
R2. cos (+) = R3 cos 
 Fx = 0
R2. sin (+) + R3. sin  = P
R1 dan R2 di eliminir akan didapat P dan R3.

Contoh :
Sebuah balok bermassa 500 kg, diatur oleh pasak dngan besar sudut kemiringan 5 0,
koesesien gesek kedua permukaan pasak 0,3 dan koefesien gesek pada balok dan bagian
horizontal 0,6

Politeknik Negeri Sriwijaya 93


MY
Mekanika Teknik I

Ditanyakan :
a. Gaya F supaya balok dapat tergeser.
b. Gaya-gaya reaksi.
Penyelesaian :
Massa m = 500 kg
 = 50, 1 = 0,3 dan 2 = 0,6

R2 W
 1
1 1
R1 R2

2
R3

Apabila dapat menggambarkan free body diagram maka akan lebih cepat menggunakan
metode gabungan;

1 42,34 1
2 R2 73,30
R 1
2 W F R1
68,30
tg 1 = 1, dimana tg 1 = 0,3

Politeknik Negeri Sriwijaya 94


MY
Mekanika Teknik I

1 = 16,70
tg 2 = 2, dimana tg 2 = 0,6  2 = 30,960
W = m. g
= 500. 9,81 = 4905 N
W R3
=  R3 = 6975,678 N
sin 42,343 sin 106,7
W R2
=  R2 = 3746,29 N
sin 42,34 sin 30,96
Pada diagram ke 2 :
R2 F
=  F = 2504,38 N
sin 68,3 sin 38,4
R1 R2
=  R1 = 3862 N
sin 73,3 sin 68,3
Maka gaya yang menggeser balok sebesar F = 2504,38 N

Latihan-Latihan
1. Posisi vertkal dari balok 100kg disetel oleh baji yang diaktifkan oleh sekrup. Hitunglah
momen M yang harus diterapkan pada gagang sekrup untuk menaikan balok. Sekrup
berulir tunggal mempunyai ulir bujur sangkar dengan diameter rata-rata 30 mm dan
kemajuan 10 mm untuk setiap putaran penuh. Koef. gesekan ulir sekrup adalah 0,25,
dan koef. gesek untuk semua permukaan yang bersentuhan dari balok dan baji adalah
0,40. Abaikangesekandi engsel peluru A.

Politeknik Negeri Sriwijaya 95


MY
Mekanika Teknik I

2. Jika koef. gesek antara baji baja dengan serat basah dari batang pohon yang baru
dipotong adalah 0,20. Tentukan sudut maksimum  yang dapat dimiliki baji dan tidak
terpental keluar dari kayu setelah dihantam palu.

3. Kedudukan blok mesin A diatur dengan menggerakan baji (lihat gambar). Dengan
mengetahui besar koef.gesek 0,25 pada setiap permukaan kontak, tentukan gaya P yang
diperlukan untuk menaikan balok.

4. Sabuk melewati dua buah kerekan (puli) dan pada bagian bawah drum yang sedang
berputar dengan diameter 8 inchi . Aksel drum itu bebas bergerak secara vertical dalam
suatu slot, dan sebuah pegas mempertahankan kontak drum itu dengan sabuk.
Berapakah gaya minimum yang harus ditimbulkan oleh pegas supaya tak terjadi gerak
tergelincir jika torsi 30 lb ft diterapkan pada drum? Jika koef. gesek static antara sabuk
dan drum adalah : 0,30

Politeknik Negeri Sriwijaya 96


MY
Mekanika Teknik I

5. Sabuk dipakai untuk menimbulkan torsi pada kerekan (puli) A. tentukan torsi pada puli
A jika tegangan sabuk maksimum yang boleh terdapat ialah 3 kN. Apakah sabuk itu
akan tergelincir dahulu pada puli A atau puli B bila torsi ditambah besarnya?

Politeknik Negeri Sriwijaya 97


MY
Mekanika Teknik I

BAB/TOPIK : VII/ Gesekan


SUB. BAB/SUB. TOPIK : 7.4 / Gesekan pada Dongkrak Ulir
ALOKASI WAKTU : 3 Jam/ Minggu
SEMESTER : I (Satu)

Tujuan Instruksional Umum (TIU)


 Mahasiswa dapat memahami tentang gesekan pada ulir Dongkrak

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


 Mahasiswa dapat menghitung besarnya gaya/daya yang dibutuhkan untuk
mengangkat beban dengan alat dongkrak berulir dengan benar.
 Nahasiswa dapat menghitung besarnya gaya yang diperlukan untuk mengangkat
beban pada dongkrak bergigi ganda dengan benar.

Politeknik Negeri Sriwijaya 98


MY
Mekanika Teknik I

 Mahasiswa dapat menghitung gaya yang diperlukan untuk mengangkat beban


dengan dongkrak Inggris dengan benar

7.4 Gesekan Dongkrak


Ulir digunakan untuk mengikat , memindahkan atau menggerakan. Dalam hal ini
tenaga atau gerakan berdasarkan gesekan sepanjang ulir.
Sebenarnya ulir merupakan suatu segi-tiga siku-siku yang dililitkan pada suatu
batang; tingginya merupakan kisar, sedangkan alasnya merupakan keliling dari
diameter batang, dan sudut  merupakan sudut ulir.


D

Politeknik Negeri Sriwijaya 99


MY
Mekanika Teknik I

Bila ada suatu dongkrak ulir dengan beban W, maka reaksinya dapat dilihat pada
gambar di bawah ini :
RN
P.cos 
W sin P
f P sin
W cos 
W
 FY = 0
RN = P.sin  + W cos  …………………….I
 FX = 0
f + W sin  = P. cos  ……………………II
subt. I dan II
 ( P. sin  + W . cos ) + W. sin  = P. cos 
W (. cos  + sin ) = P (cos  - .. sin )
 cos  sin  sin 
P = W. ; dimana  = tg =
cos   .sin  cos

sin(    )
P = W.
cos(   )

Jadi P = W. tg ( + )………………..Untuk menaikan beban


P = W. tg ( - )……………………Untuk menurunkan beban
Berdasarkan keseimibangan :
P. r = P1. l
Dimana :
P1 : gaya yang diperlukan untuk menaikan/mengangkat beban
l : panjang engkol
Efesiensi Ulir (rendemen)
Usahayangdihasilkan
Rendemen () =
Usahayangdiperlukan

Politeknik Negeri Sriwijaya 100


MY
Mekanika Teknik I

W .tg ( )
=
W .tg (   )

7.4.1 Dongkrak Berulir


Dongkrak berulir adalah sebuah alat angkat yang sederhana, pengangkatan
bebannya dengan menggunakan batang panjang.

Usaha yang dilakukan oleh gaya sebesar : . 2. a. F.  ………….I


Jika setiap putaran tangkai, maka beban akan naik sejauh kisar ulir s; maka usaha
bebannya : s. W ……………………II
Subt. I ke II :
. 2. a. F.  = s. W

7.4.2 Dongkrak Bergigi Tunggal


Adalah sebuah dongkrak yang dilengkapi dengan gigi untuk mengangkat beban.

Politeknik Negeri Sriwijaya 101


MY
Mekanika Teknik I

Bila tangkai berputar satu kali, maka usaha yang dilakukan sebesar : . 2. a. F. 
….I
Pada waktu tangkai berputar satu kali, roda gigi berputar satu kali, ulir akan
mengangkat beban sejauh keliling roda gigi.
Usaha beban : 2. . r. W ……………..II
Usaha tangkai = Usaha beban
. 2. a. F.  = 2. . r. W

7.4.3 Dongkrak Bergigi Ganda


Bila tangkai berputar satu putaran, maka usaha yang dilakukan : . 2. a. F. 
……….I
Jika berputar satu putaran maka :
r1
Roda A berputar 1 putaran; roda B berputar putaran.
r2
Roda C berputar = roda B, karena satu poros.
r1
Maka beban terangkat setinggi : 2 . r3..
r2

r1
Jadi usaha beban : W. 2 . r3.. ……………………II
r2

Usaha tangkai = Usaha beban


r1
. 2. a. F.  = W. 2 . r3..
r2

Politeknik Negeri Sriwijaya 102


MY
Mekanika Teknik I

Bila yang diketaui jumlah giginya dan jarak gigi yang satu dengan lainnya a, maka
:
Roda gigi A : 2. . r1 = z1. s
Roda gigi B : 2. . r2 = z2. s
Roda gigi B : 2. . r2 = z2. s
Roda gigi C : 2. . r3 = z3. s
Kemudian disubtitusikan pada persamaan di atas, sehingga di dapat :
W .z3 .s.z1
F=
2.a. .z2

7.4.4 Dongkrak Inggris

Politeknik Negeri Sriwijaya 103


MY
Mekanika Teknik I

Dongkrak Inggris hamper sama dengan dongkrak berulir, hanya pengangkatan


beban tidak memakai batang pemutar yang panjang, tetapi menggunakan roda gigi
kerucut (roda gigi satelit).

Jika pemutar berputar satu putaran, maka usahanya sebesar : 2. . a. F


Jika rendemen diketahui, maka usahanya : 2. . a. F.  …………………….I
Pemutar berputar satu putaran; maka roda gigi A berputar satu putaran, roda gigi B
zA
berputar putaran.
zB
zA
Jika kisar ulir batang s, maka beban akan naik : s.
zB

zA
Usaha beban : W. s. …………………………….II
zB
Subt. I ke II:
zA
2.. a. F.  = W. s.
zB

Politeknik Negeri Sriwijaya 104


MY
Mekanika Teknik I

Latihan-latihan
1. Sebuah beban beratnya 1 kN, tinggi kisar ulir sebesar s = 0,5 cm, panjang tangkai
pemutar 40 cm dan rendemen dongkrak = 80 %.
Berapa besar gaya yang diperlukan untuk mengangkat beban tersebut ?

2. Sebuah dongkrak berulir tunggal mempunyai panjang tangkai pemutar 45 cm, jari-jari
roda gigi 10 cm dan rendemen 70 % dibebani sebesar 0,05 kN.
Ditanyakan : berapa tenaga (gaya) yang diperlukan untuk mengangkat beban tersebut.

3. Sebuah dongkrak bergigi ganda diketahui panjang tangkai 50 cm, roda gigi pada tangkai
jumlah giginya 10, menggerakan roda gigi 30, dan roda gigi 15 dipasang seporos denga
roda gigi 30, yang kemudian mengangkat beban.

Politeknik Negeri Sriwijaya 105


MY
Mekanika Teknik I

Berapa tenaga (gaya) yang dibutuhkan untuk mengangkat sebuah beban yang
mempunyai massa 500 kg dan rendemen dongkrak 70 %.
Jarak gigi yang satu dengan yang lainnya 2 cm.

4. Sebuah dongkrak Inggris digunakan untuk mengangkat beban 1000 N, panjang tangkai
30 cm, roda gigi pada tangkai 20 gigi, roda gigi pada batang 40 gigi, rendemen 70 %
dan kisar ulir batang 0,5 cm.
Tentukan : Besar gaya yang diperlukan untuk mengangkat beban di atas.

Politeknik Negeri Sriwijaya 106


MY
Mekanika Teknik I

BAB/TOPIK : VII/ Gesekan


SUB. BAB/SUB. TOPIK : 7.5 / Gesekan pada Pesawat Angkat
ALOKASI WAKTU : 3 Jam/ Minggu
SEMESTER : I (Satu)

Tujuan Instruksional Umum (TIU)


Mahasiswa dapat mengetahui tentang geasekan-gesekan yangterjadi pada system pesawata
angkat.

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


 Mahasiswa dapat menghitung besarnya gaya yang dibutuhkan untuk mengangkat
beban dengan alat pesawat angkat dengan benar.

Politeknik Negeri Sriwijaya 107


MY
Mekanika Teknik I

7.5 Pesawat Angkat Sederhana


7.5.1 Kerek
Kerek adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengangkat suatu beban. Kerek
dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :

1. KerekTetap; suatu kerek dimana pullynya/kereknya tetap.

2. Kerek Bergerak; yaitu suatu kerek dimana pullynya bergerak.

Politeknik Negeri Sriwijaya 108


MY
Mekanika Teknik I

Pada kerek tetap besarnya gaya yang digunakan untuk mengangkat beban W
dengan keseimbangan :
 MO = 0
F. r = W. r, jadi F = W
Bila rendemennya di perhatikan maka :
F.  = W
Untuk Kerek Bergrak.
Untuk mendapatkan F pada kerek bergerak :
 MA = 0
F. 2r = W. r; jadi 2F = W
Bila rendemennya di perhatikan ,maka :
2F.  = W
Dimana :
F : gaya yang diperlukan untuk manrik
W : beban yang akan di tarik

7.5.2 Kerek Majemuk


Kerek Majemuk adalah kerek tang terdiri dari gabungan antara kerak tetap dan
kerek bergerak. Tujuan dari gabungan ini untuk mendapatkan gaya-angkat yang
lebih kecil.

7.5.2.1 Kerek majemuk dengan dua buah kerek.


Kerek ini terdiridari sebuah kerek tetap dan sebuah kerek bergerak, sekelompok
kerek tetap dinamakan Lorak-Atas dan sekelompok kerek bergerak dinamakan
Lorak- Bawah.

Politeknik Negeri Sriwijaya 109


MY
Mekanika Teknik I

Untukmenghitung tinggi angkat beban dan panjang tali yang ditarik dengan
persamaan usaha :
Jika, x = tinggi angkat beban
y = panjang tarikan tali
maka; W. x = F. y. 

W. x = 0,5W . y.

x = 0,5 y

7.5.2.2 Kerek Majemuk dengan Tiga kerek


Kerek jenis ini terdiri dari dua buah kerek tetap dan sebuah kerek bergerak.
F = W/3 atau
F.  = W/3
Persamaan Usaha :
. F. y = W. x

Politeknik Negeri Sriwijaya 110


MY
Mekanika Teknik I

7.5.2.3 Kerek Majemuk Dengan Empat Kerek


Kerek jenis ini terdiri dari dua buah kerek tetap dan dua buah kerek bergerak
F = W/4
F.  = W/3
Persamaan Usaha :
. F. y = W. x

Politeknik Negeri Sriwijaya 111


MY
Mekanika Teknik I

Contoh :
Sebuah benda mempunyai massa 50 kg terletak pada bidang miring. Ditarik dengan
kerek majemuk yang dilengkapi dengan kerek sebanyak 4 (empat).
Koefesien gesek antara bidang dan benda 0,2; sudut kemiringan bidang 150 dan
rendemen kerek 0,8 (lihat gambar di bawah).

Ditanyakan :
a. Hitunglah gaya yang dibutuhkan untuk menarik benda itu ?
b. Bila bendas ditari sejauh 2 m, berapa meter tali yang ditarik ?

Penyelesaian :
W = m. g = 50. 9,81 = 490,5 N
Politeknik Negeri Sriwijaya 112
MY
Mekanika Teknik I

a) F = 0,5 Ft/ 
Keseimbangan :
 Fx = 0
Ft = W. sin 150 + Fr
= W. sin 150 + . Rn ……………….I
Rn = W. cos 150
= 490,5. 0,9659
= 473,774 N
Ft = 490,5. 0,3588 + 0,2. 473,774 = 221,685 N
1 221,695
F= = 69,3 N
4 0,8

1
b) F. y = Ft. x.

y = 7,99 m

7.5.2.4 Kerek Majemuk Spanyol


Kerek ini adalah sebuah kerek yang terdiri dari sebuah kerek tetap dan sebuah
kerek majemuk yang dilengkapi dengan beberapa buah kerek.
Gambar di bawah ini adalah sebuah kerek Spanyol yang dilengkapi dengan kerek
majemuk sebanyak empat buah.

Politeknik Negeri Sriwijaya 113


MY
Mekanika Teknik I

3. Penjabaran :
Dari pers. 2. 3 :
S = 2 (W – 4T) = 2 W – 8 T
Dari pers. 2.2 :
0 = 0.5 S – 5 T
0=W–4T–5T
W=9T
Dari pers. 1 :
0=S–T–W

Politeknik Negeri Sriwijaya 114


MY
Mekanika Teknik I

S=W+T
10
S= W
9
Pemeriksaan :
0=S–T–W
10 1
0= W- W–W
9 9
0=0
Anggap bahwa gesekan pada pully dianggap tidak ada, maka
. Fy = Wx
Effort (F) = T
.W
. y = Wx
9
y/9 = x …………..dimana x : jarak perpindahan beban
y = 9 x …………..dimana y : Jarak perpindahan Effort (F)

7.5.2.5 Kerek Majemuk Bertingkat.


Kerek ini adalah kerek yang terdiri dari sebuah kerek tetap dan beberapa kerek
bergerak

Politeknik Negeri Sriwijaya 115


MY
Mekanika Teknik I

Pada gambar di atas terlihat bahwa :


W
F = W/8 atau F =
8.
Persamaan usahanya :
. F y. = W. x

7.5.2.5 Kerek Majemuk Berulir


Kerek majemuk berulir terdiri dari dua buah lorak. Pada lorak atas terdiri dari roda
gigi yang dipasang seporos dengan kerek yang berantai, dan poros berulir yang
dipasang juga kerek berantai.
Pada kerek yang dipasang pada roda gigi untuk menarik beban secara langsung.
Pada kerek yang di pasang pada ulir untuk menarik beban dengan perantara roda
gigi.
Untuk mencari besarnya F di hubungkan bahwa usaha kerek A sama dengan usaha
kerek B yang dipasang pada roda gigi.
Pully A berputar satu kali, maka roda gigi berputar ½ putaran, dimana z adalah
jumlah gigi.
Usaha pully A tiap satu putaran = gaya kali keliling
= F. . D
Bila rendemen kerek diperhitungkan :
Maka usaha pully A = F. . d.  …………………I
Roda gigi berputar ½ putaran.
Jadi usaha pully B = gaya x keliling
= ½ W. . D. 1/z ……………………II
Persamaan I = II
F. . d.  = ½ W. . D. 1/z
W .D
F=
2.z.d .
Dimana :
Politeknik Negeri Sriwijaya 116
MY
Mekanika Teknik I

F : gaya untuk menaikan beban


W : Berat beban
D : diameter pully yang dipasang pada roda gigi
d = diameter pully pada ulir.
Z : jumlah gigi
 : rendemen kerek
Hubungan tinggi angkat dengan tali yang ditarik adalah :
. F. y = W. x

Contoh :
Diketahui sebuah kerek majemuk berulir; garis tengan kerek yang dipasang pada roda
gigi adalah 20 cm, jumlah gigi = 40, diameter pully yang dipasang pada ulir = 30 cm
dan efesien kerek = 30 %.
Pertanyaan :
a. Gaya yang diperlukanbila bebanyang mempunyai massa 100 kg.
b. Berapa meter uluran tali bila beban diangkat 0,5 m

Politeknik Negeri Sriwijaya 117


MY
Mekanika Teknik I

Penyelesaian :
z = 40; D =20 cm; d = 30 cm; m = 100 kg; x = 0,5 m;  = 30 %
W = m. g = 100. 9,81= 981 N
a) Gaya yang dibutuhkan (F) :
W .D
F= = 27,25 N
2.d .z.

b) Panjang tali yang di ulur (y) :


F. y = W. x. 1/
y = 60 m

Tabel koefisien gesek luncur.


Bahan Gesekan Statik Gesekan Kinetik
kering pelumas kering pelumas
Baja pada baja 0,15 0,1 0,14 0,01
Baja pada basi tuang 0,19 0,1 0,18 0,01
Besi tuang pada basi tuang 0,16 - 0,1
Kayu pada kayu 0,5 0,16 0,3 0,08
Kayu pada logam 0,7 0,11 0,5 0,1
Kulit pada besi tuang - 0,3 - -
Karet pada besi tuang - - 0,4 -
Tenun belt pada besi tuang - - 0,4 -
Bahan rem pada baja - - 0,5 0,4
Kulit pada logam/metal 0,6 0,2 0,2 0,12

Politeknik Negeri Sriwijaya 118


MY
Mekanika Teknik I

Tabel koefisien gesek gelinding.


Bahan Operasi pada keadaan Koefisien
Baja dengan baja Dalam oli 0,05
Besi tuang pada besi tuang Dalam oli 0,05
Baja pada baja Kering 0,1 o,15
Laminasi buatan pada baja atau besi tuang Kering 0,2  0,25
Fibre pada baja atau besi tuang Kering 0,15  0,20
Kulit pada besi tuang Kering 0,25  0,35
Kayu pada besi tuang Kering 0,40  0,50
Karet pada besi tuang atau baja Kering 0,45  0,60

Politeknik Negeri Sriwijaya 119


MY
Mekanika Teknik I

DAFTAR PUSTAKA

1. Meriam. JL
Mekanika Teknik I ( Statika )

2. Ferdinand P. Beer/ E. Russell Johnston, jr. The Houw Liong, Ph.D


Mekanika Untuk Insinyur ( Statika )

3. A. Nurluddin
Dasar-dasar GRAFOSTATIKA

4. Hoo Kian Lam, Ir


Ilmu Perkakas Angkat

5. Jerry H. Gins Berg & Joseph Genin


Statics

6. RS. Khurmi
Theory of Machines

Politeknik Negeri Sriwijaya 120


MY
Mekanika Teknik I

Politeknik Negeri Sriwijaya 121


MY
Mekanika Teknik I

Politeknik Negeri Sriwijaya 122


MY
Mekanika Teknik I

Politeknik Negeri Sriwijaya 123


MY