Anda di halaman 1dari 40

2017

PROPOSAL TUGAS AKHIR

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI PADANG


A. Judul

“Analisis Tipe Longsor dan Kestabilan Lereng pada Lokasi

Penambangan Pit Osela Selatan PT J Resources Bolaang Mongondow Site

Bakan Kecamatan Lolayan, Kabupaten Boolang Mongondow, Sulawesi

Utara”.

B. Latar Belakang

Pertambangan merupakan salah satu elemen penting dalam

pertumbuhan perekonomian Negara Indonesia. Dampak positif kegiatan

pertambangan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia serta warga

sekitar daerah lokasi pertambangan, yaitu peningkatan infrasruktur dan

ekonomi warga setempat. Selain itu kegiatan pertambangan sangat penting

dilakukan untuk memenuhi kebutuhan serta keberlangsungan hidup manusia

dalam era yang serba modern.

PT J Resources Bolaang Mongondow adalah perusahaan yang

bergerak di bidang usaha pertambangan emas yang beroperasi sejak tahun

2013. Lokasi penambangan terletak di Bakan, Kecamatan Lolayan Kabupaten

Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Operasi penambangan dilakukan

dengan sistem tambang terbuka metode open pit. Perhitungan dan analisis

kestabilan lereng merupakan hal yang sangat penting dilakukan pada tambang

terbuka dengan metode open pit. Proses penambangan secara langsung

memberikan gangguan terhadap massa batuan yang awalnya stabil. Jika tidak

diperhitungkan dengan baik, gangguan tersebut dapat menyebabkan longsor.


Jika terjadi longsor maka akan timbul bahaya yang dapat mengganggu proses

penambangan dan akhirnya berdampak buruk pada efektivitas produksi.

Selama pengoperasian tambang dari awal tahun 2013 hingga saat ini,

telah terjadi beberapa kasus longsor. Untuk menjaga desain lereng tambang

yang stabil sehingga operasional penambangan dapat berjalan dengan aman

diperlukan analisis kemungkinan tipe longsoran dan kondisi kestabilan lereng.

Oleh karena itu penulis bermaksud untuk melakukan penelitian

mengenai stabilitas lereng dengan judul “Analisis Tipe Longsor dan Kestabilan

Lereng pada Lokasi Penambangan Pit Osela Selatan PT J Resources Bolaang

Mongondow Site Bakan Kecamatan Lolayan, Kabupaten Boolang

Mongondow, Sulawesi Utara”.

C. Identifikasi Masalah

Dengan adanya kegiatan pertambangan yang melibatkan pembuatan

lereng, akan dapat meningkatkan potensi permasalahan lereng, terutama

berkenaan dengan potensi keruntuhan lereng batuan (rock slope failure) yang

semakin meningkat. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian yang mendalam

mengenai kondisi kestabilan lereng untuk mendeterminasi kemampuan lereng

akan stabil tanpa diberi perkuatan atau memilih jenis perkuatan yang

dibutuhkan apabila lereng tersebut memiliki potensi kelongsoran yang cukup

besar.

D. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dibuat agar mengetahui fokus pada penelitian untuk

dapat mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkan dengan


maksud sebagai batasan dari kegiatan penelitian agar kegiatan di lapangan

lebih terorganisir dan efisien.

Adapun pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkan sebagai batasan

masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana kondisi massa batuan di lokasi penelitian?

2. Potensi longsoran apa yang mungkin terjadi?

3. Bagaimana tingkat kestabilan lereng di lokasi peneitian?

4. Usaha apa yang dapat dilakukan untuk stabilisasi lereng yang optimum

dan efektif?

E. Batasan Masalah

Penelitian dilakukan dengan memberikan batasan terhadap masalah

yang akan diteliti. Adapun batasan yang ditentukan oleh penulis adalah

sebagai berikut:

1. Penelitian hanya dilakukan pada lokasi penambangan Pit Osela Selatan

2. Investigasi langsung di lapangan diperlukan untuk mendapatkan

parameter-parameter yang dibutuhkan dalam penelitian. Parameter-

parameter yang diukur untuk klasifikasi RMR (Rock Mass Rating)

adalah kuat tekan uniaksial material batuan (intact rock), RQD (rock

quality designation), spasi diskontinuitas (discontinuity spacing), kondisi

(pelapukan) diskontinuitas (discontinuity condition), dan kondisi airtanah

secara umum (general groundwater condition). Sedangkan parameter

yang dibutuhkan untuk klasifikasi slope mass rating (SMR) adalah jurus
dari permukaan lereng (Įs), jurus bidang diskontinuitas (Įj), serta sudut

kemiringan diskontinuitas (ȕj)

3. Analisis kinematika yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk

mengetahui tipe keruntuhan batuan (rock slope failure) yang mungkin

terjadi. Sedangkan analisis kestabilan lereng dengan menggunakan SMR

bertujuan untuk mengetahui kestabilan lereng batuan dan kecenderungan

lereng batuan mengalami longsoran.

F. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Investigasi diskontinuitas batuan (khususnya orientasi diskontinuitas) di

lereng yang diteliti.

Untuk mengetahui adanya potensi tipe keruntuhan pada suatu aktivitas

pemotongan lereng batuan, perlu dilakukan pengukuran orientasi

diskontinuitas yang dilakukan sesudah lereng batuan tersebut tersingkap.

Pada umumnya, jika data struktur geologi telah dirajah, beberapa

konsentrasi kutub yang signifikan hadir di dalam stereonet . Adalah sangat

berguna untuk dapat memilah antara : (i) bidang-bidang yang berpotensi

menjadi penyebab longsoran, dengan (ii) bidang-bidang yang

kemungkinan tidak akan terlibat di dalam longsoran.

2. Mengkaji potensi keruntuhan batuan dengan metode desain empiris dan

klasifikasi massa batuan.


Metode analitik untuk memprediksi potensi keruntuhan batuan dan cara

penanggulangannya seringkali tidak efektif (Maerz, 2000). Oleh karena

itu, penggunaan desain empiris dan klasifikasi massa batuan menjadi

penting (Franklin dan Maerz, 1996).

Klasifikasi massa batuan (rock mass classification) berarti mengumpulkan

data dan mengklasifikasikan singkapan batuan berdasarkan parameter-

parameter yang telah diyakini dapat mencerminkan perilaku massa batuan

tersebut. Analisis yang digunakan adalah rock mass rating (RMR) atau

geomechanic classification system (Bieniawski, 1984) dan slope mass

rating (SMR) yang digunakan oleh Romana (1985).

3. Kajian stabilisasi lereng batuan yang optimum dan efektif.

Kajian ini diawali dengan pengidentifikasian lereng batuan yang tampak

dalam kondisi cenderung tidak stabil, kemudian memilih usaha stabilisasi

yang sesuai berdasarkan klasifikasi SMR.

F. Tinjauan Pustaka

1. Analisis Kestabilan Lereng Batuan

Secara umum perpaduan orientasi diskontinuitas batuan akan

membentuk tiga tipe longsoran/keruntuhan utama pada batuan (Gambar 1),

yaitu :

a. Keruntuhan geser planar (plane sliding failure)

b. Keruntuhan geser baji (wedge sliding failure)

c. Keruntuhan jungkiran (toppling failure)


Namun demikian, seringkali tipe keruntuhan yang ada merupakan

gabungan dari beberapa keruntuhan utama sehingga seakan-akan

membentuk suatu tipe keruntuhan yang tidak beraturan (raveling failure)

atau seringkali disebut sebagai tipe keruntuhan kompleks.

Untuk mengetahui adanya potensi tipe keruntuhan pada suatu

aktivitas pemotongan lereng batuan, perlu dilakukan pemetaan orientasi

diskontinuitas yang dilakukan, baik sebelum maupun sesudah lereng

batuan tersebut tersingkap. Sementara itu, metode analitik untuk

memprediksi potensi keruntuhan batuan dan cara penanggulangannya

seringkali tidak efektif (Maerz, 2000). Oleh karena itu, penggunaan desain

empiris dan klasifikasi massa batuan menjadi penting (Franklin dan Maerz,

1996).

Gambar 1. Tipe Keruntuhan Utama Pada Batuan

2. Klasifikasi Massa Batuan untuk Evaluasi Kestabilan Lereng

a. Klasifikasi Sistem RMR (Geomechanics Classification System)

Bieniawski (1989) klasifikasi geomekanika Rock Mass Rating

(RMR) dikembangkan oleh Beniawski. Pada aplikasi sistem klasifikasi

ini, massa batuan dibagi menjadi sejumlah wilayah struktural dan setiap

wilayah kurang lebih memiliki ciri yang seragam. Batas dari wilayah
struktural biasanya serupa dengan ciri struktur utama seperti patahan,

dike, zona shear, dan lain sebagainya. Lebih lanjut Hoek (2006)

mengilustrasikan dalam beberapa kondisi, yaitu karena perubahan

siknifikan pada spasi diskontinuitas atau karakter diskontinuitas untuk

tipe batuan yang sama, mungkin mengharuskan pembagian massa batuan

ke dalam sejumlah kecil wilayah struktural pada metode RMR. Sistem

klasifikasi massa batuan dengan RMR dari Bieniawski (1973)

menggunakan enam parameter dasar untuk pengklasifikasian dan

evaluasi hasil uji. Keenam parameter tersebut membantu perkiraan lebih

lanjut hasil analisis stabilitas sampai permasalahan khusus geomekanika

batuan.Keenam parameter yang digunakan untuk menentukan nilai RMR

meliputi kuat tekan uniaksial (uniaxial compressive stress, UCS), rock

quality designation (RQD), spasi diskontinuitas, keadaan diskontinuitas,

keadaan air tanah dan orientasi diskontinuitas (Bieniawski, 1989).

1) Kuat tekan uniaksial (uniaxial compressive strength, UCS)

Kuat tekan uniaksial (UCS) dari material batuan utuh (intact

rock material) dapat ditentukan melalui pengujian secara langsung (in

direct tect) di lapangan menggunakan Schmidt Hammer, maupun uji

yang dilakukan di laboratorium. Pada uji langsung persamaan yang

dapat digunakan dalam penentuan kuat tekan uniaksial adalah UCS =

2HR (Sing dkk., 1983), dimana HR merupakan nilai hardness reborn

dari Schmidt Hammer. Untuk penentuan peringkat kuat tekan dari


meterial batuan padu dapat menggunakan klasifikasi dari Bieniawski

(1979) seperti yang terdapat pada tabel 1.

Tabel 1. Indeks Kekuatan Material Batuan Utuh - UCS


(Bieniawski, 1989)
Deskripsi Kuat Tekan Kuat Beban Titik
Bobot
Kualitatif (Mpa) (Mpa)
Kuat
>250 8 15
sekali
Sangat
100-250 4-8 12
kuat
Kuat 50-100 2-4 7
Menengah 25-50 1-2 4
Lebih baik menggunakan
Lemah 10-25 2
kuat tekan uniaxial
Sangat Lebih baik menggunakan
2-10 1
lemah kuat tekan uniaxial
Lemah Lebih baik menggunakan
1-2 0
sekali kuat tekan uniaxial
Tabel 2. Ringkasan Rock Mass Rating System (Bieniawski, 1989)
A. CLASSIFICATION PARAMETERS AND THEIR RATINGS
Parameter Range of values
For this low range
Point-load
Strength >10 MPa 4-10 MPa 2-4 MPa 1-2 MPa uniaxial compressive
strength index
of test is preferred
5-
1 intact rock
Uniaxial comp. 25 1-5 <1
material >250 MPa 100-250 MPa 50-100 MPa 25-50 MPa MP
Strength MPa MPa
a
Rating 15 12 7 4 2 1 0
Drill core quality RQD 90%-100% 75%-90% 50%-75% 25%-50% < 25%
2
Rating 20 17 13 8 3
Spacing of discontinuities >2 m 0.6-2 m 200-600 mm 60-200mm < 60 mm
3
Rating 20 15 10 8 5
Slickenside surfaces
Very rough surfaces Slighty rough Slighty rough Split gauge > 5 mm
or
Not continous No surfaces surfaces thick
Condition of discontinuities Gauge < 5mm thick
sparation Separation < 1mm Separation < 1mm or Separation 1-5 Or Separation > 5
4 (see E) Unweathered walll Slighty weathered Highly weathered mm continuous
mm continuous
rock walls walls
Rating 30 25 20 10 0
Inflow per 10 m
None < 10 10-25 25-125 > 125
Tunnel length (l/m)
Ground
(Joint water press)/
5 water 0 < 0.1 0.1-0.2 0.2-0.5 >0.5
(Mayor principal σ)
General Conditions Completely dry Damp Wet Dripping Flowing
Rating 15 10 7 4 0
B. RATING ADJUSTMENT FOR DISCONTINUITY ORIENTATIONS (See F)
Strike and dip orientations Very favourable Favourable Fair Unfavourable Very unfavourable
Tunnels and mines 0 -2 -5 -10 -12
Rating Foundations 0 -2 -7 -15 -25
Slopes 0 -5 -25 -30
C. ROCK MASS CLASSES DETERMINED FROM TOTAL RATINGS
Rating 100-81 80-61 60-41 40-21 < 21
Class number I II III IV V
Description Very good rock Good rock Fair rock Poor rock Very poor rock
D. MEANING OF ROCK CLASSES
Class number I II III IV V
Average stand-up time 20 yrs for 15 m span I year for 10 span 1 week for 5 m span 10 hrs for 2.5 m span 30 min for 1 m span
Cohession of rock mass (kPa) > 400 300-400 200-300 100-200 < 100
Friction angle of rock mass (deg) > 45 35-45 23-35 15-25 < 15
E. GUIDELINES FOR CLASSIFICATION OF DISCONTINUITY conditions
Discontinuity length (persistence) < 1m 1-3 m 3-10 10-20 > 20 m
Rating 6 4 2 1 0
Separation (aperture) None < 0.1 mm 0.1-1.0 mm 1-5 mm >5
Rating 5 5 4 1 0
Roughness Very rough Rough Slighty rough Smooth Slickensided
Rating 6 5 3 1 0
Infilling (gauge) Hard filling<4mm Hard filling > 5mm Soft filling<5mm Soft filling>5mm
6
Rating 4 2 2 0
Moderately
Weathering
Unweathered Slightly weathered weathered Highly weathered Decomposed
Rating 5
6 3 1 0
F. EFFECT OF DISCONTINUITY STRIKE AND DIP ORIENTATION IN TUNNELLING**
Strike perpendicular to tunnel axis None Strike parallel to tunnel axis
Drive with dip-Dip 45-90° Drive with dip-Dip 20-45° Dip 45-90° Dip 20-45°
Very favourable Favourable Very unfavourable Fair
Drive against dip-Dip 45-90° Drive against dip-Dip 20-45° Dip 0-20 – Irrespective of strike°
Fair Unfavourable Fair
* Some conditions are mutually exclusive. For example, if infilling is present, the roughness of the surface will be
overshadowed by the influence of the gauge. In such causes use A.$ directly.
* Modified after Wickham et al., (1972)
Uraian kelima parameter diatas digabung dalam Tabel 4 dan
berdasarkan utaian tersebut nilai RMR yang diperoleh pada perhitungan
parameter-parameter di atas, Bieniawski (1989) membuat klasifikasi
massa batuan menjadi 5 (lima) kelas seperti yang ditunjukkan Tabel 2.5 di
bawah.
Tabel 3. Kualitas Massa Batuan dari Total (Bieniawski, 1989)
Parameter Bobot
Nilai RMR 81 – 100 61 - 80 41 – 60 21 – 40 < 20
Nomor Kelas
I II III IV V
RMR
Nilai GSI 76 – 95 56 - 75 36 – 55 21 – 35 < 20
Kualitas Massa Sangat Sangat
Baik Sedang Buruk
Batuan baik buruk

2) Spasi Diskontinuitas
Merupakan jarak antara bidang lemah dengan arah tegak lurus
terhadap bidang lemah tersebut.Bentuknya bisa berupa kekar, zona shear,
patahan minor atau permukaan bidang lemah lainnya. Sesuai dengan
peringkat yang dibuat oleh Beniawski (1989) terdapat lima klasifikasi
spasi diskontinuitas seperti termuat pada Tabel 5.
Tabel 4. Indeks Spasi Diskontinuitas (Bieniawski, 1989)
Keadaan diskontinu Spasi (m) Bobot
Sangat lebar >2 20
Lebar 0,6 – 2 15
Sedang 0,2 - 0,6 10
Rapat 0,06 - 0,2 8
Sangat rapat < 0,06 5

3) Kondisi diskontinuitas
Ada lima karakteristik kekar yang masuk dalam pengertian kondisi
kekar, meliputi kemenerusan (persistence), jarak antar permukaan kekar
atau celah (separation/aperture), kekasaran kekar (roughness), material
pengisi (infilling/gouge), dan tingkat kelapukan (weathering). karakteristik
tersebut adalah sebagai berikut:
a) Roughness
Roughness atau kekasaran permukaan bidang diskontinu
merupakan parameter yang penting untuk menentukan kondisi bidang
diskontinu. Suatu permukaan yang kasar akan dapat mencegah
terjadinya pergeseran antara kedua permukaan bidang diskontinu.
Tabel 5. Penggolongan dan Pembobotan Kekasaran Menurut
Bienawski (1976)
Kekasaran Pembobo
Deskripsi
Permukaan tan

Sangat kasar Apabila diraba permukaan sangat tidak 6


rata, membentuk punggungan dengan
(very rough)
sudut terhadap bidang datar mendekati
vertical,

Kasar (rough) Bergelombang, permukaan tidak rata, 5


butiran pada permukaan terlihat jelas,
permukaan kekar terasa kasar.

Sedikit kasar Butiran permukaan terlihat jelas, dapat 3


dibedakan, dan dapat dirasakan apabila
(slightly rough)
diraba

Halus (smooth) Permukaan rata dan terasa halus bila 1


diraba

Licin berlapis Permukaan terlihat mengkilap 0


(slikensided)

b) Separation
Merupakan jarak antara kedua permukaan bidang diskontinu.
Jarak ini biasanya diisi oleh material lainya (filling material) atau bisa
juga diisi oleh air. Makin besar jarak ini, semakin lemah bidang
diskontinu tersebut.
c) Continuity
Continuity merupakan kemenerusan dari sebuah bidang
diskontinu, atau juga merupakan panjang dari suatu bidang
diskontinu.
d) Weathering
Weathering menunjukkan derajat kelapukan permukaan
diskontinu. Klasifikasi derajat kelapukan dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 6. Tingkat Pelapukan Batuan (Bieniawski, 1976)
Klasifikasi Keterangan

Tidak Tidak terlihat tanda-tanda pelapukan, batuan segar,


terlapukkan butiran kristal terlihat jelas dan terang.

Sedikit Kekar terlihat berwarna atau kehitaman, biasanya terisi


terlapukkan dengan lapisan tipis material pengisi. Tanda kehitaman

biasanya akan nampak mulai dari permukaan sampai ke


dalam batuan sejauh 20% dari spasi.

Terlapukkan Tanda kehitaman nampak pada permukaan batuan dan


sebagian material batuan terdekomposisi. Tekstur asli
batuan masih utuh namun mulai menunjukkan butiran
batuan mulai terdekomposisi menjadi tanah.

Sangat Keseluruhan batuan mengalami perubahan warna atau


terlapukkan kehitaman. Dilihat secara penampakan menyerupai
tanah, namun tekstur batuan masih utuh, namun butiran
batuan telah terdekomposisi menjadi tanah.

e) Infilling (Gouge)
Infilling atau material pengisi antara dua permukaan bidang
diskontinu mempengaruhi stabilitas bidang diskontinu dipengaruhi oleh
ketebalan, konsisten atau tidaknya dan sifat material pengisi tersebut.
Filling yang lebih tebal dan memiliki sifat mengembang bila terkena air
dan berbutir sangat halus akan menyebabkan bidang diskontinu menjadi
lemah.
Dalam perhitungan RMR, parameter-parameter diatas diberi
bobot masing- masing dan kemudian dijumlahkan sebagai bobot total
kondisi kekar, Pemberian bobot berdasarkan pada tabel dibawah ini.
Tabel 7. Panduan Klasifikasi Kondisi Kekar (Bieniawski, 1989)
Parameter Rating

< 1 m 1-3m 3-10 m 10-20 m >20 m


Panjang kekar
Persistence/continuity 6 4 2 1 0

0,1–
Jarak antar Tidak < 0,1 1,0
permukaan kekar ada mm mm 1-5 mm > 5 mm

(separation/aperture) 6 5 4 1 0

Sangat Sedikit
Kekasaran kekar kasar Kasar kasar Halus Slickensided

(roughness) 6 5 3 1 0

Tidak
Material pengisi ada Keras Lunak

(infilling/gouge) <5 >5


mm mm < 5 mm > 5 mm

6 4 2 2 0

Tidak Sedikit Sangat


lapuk lapuk Lapuk lapuk Hancur
Kelapukan
(weathering)

6 5 3 1 0

4) Kondisi Air Tanah


Secara teoritis kondisi air tanah dapat diketahui dengan mengukur
besarnya aliran air tanah (debit). Kondisi air tanah berhubungan dengan
pori dan diskontinuitas serta tekanan yang bekerja di dalamnya. Secara
umum kondisi air tanah yang dijumpai pada permukaan batuan dapat
berupa kering, lembab, basah, menetes, dan mengalir.Kemudian keadaan
tersebut diberi peringkat, seperti pada Table 9 di bawah.
Tabel 8. Kondisi Bidang Lemah/Diskontinuitas (Bieniawski, 1989)
Inflow/10m
panjang
None <10 10-25 25-125 > 125
terowongan
(liter/menit)
Tekanan air pada
kekar/tegasan 0 0-0,1 0,1-0,2 0,2-0,5 >0,5
utama dominan
Lemba Meng
Keadaan umum Kering basah menetes
b alir
Bobot 15 10 7 4 0

5) Orientasi Diskontinuitas
Nilai strike dan dip merepresentasikan orientasi dan kemiringan dari
bidang diskontinuitas, sebagaimana telah dijelaskan pada sub-bab
sebelumnya di atas. Nilai strike dan dip pada pekerjaan rekayasa batuan
berhubungan dengan prediksi stabilitas massa batuan dan arah penggalian,
serta sangat berperan untuk memberikan penilaian kuantitatif bidang
diskontinuitas yang kritis pada penggalian terowongan dan rekayasa lereng
pada batuan. Nilai orientasi bidang diskontinuitas terhadap lereng memiliki
variasi penilaian kualitatif dan kuantitatif yang sedikit berbeda antara satu
dengan lainnya (Tabel 10).
Tabel 9. Kesesuaian bidang lemah atau diskontinuitas (Bieniawski,
1989)
Penilaian arah Sangat tidak
Sangat baik Baik cukup Tidak baik
kekar untuk baik

Terowongan 0 -2 -5 -10 -12

Fondasi 0 -2 -7 -15 -25

Lereng 0 -2 -25 -50 -60


b. Slope Mass Rating ( SMR, Rumana dkk, 2003)
Slope Mass Rating (SMR) disajikan sebagai klasifikasi geomekanika
untuk lereng batuan. Romana dkk, (2003) mengusulkan modifikasi pada
konsep penggunanan RMR Bieniawski khususnya untuk kemantapan lereng.
SMR yang didapat dari RMR dengan menambahkan faktor penyesuaian pada
orientasi diskontinutas, kemiringan lereng dan faktor penyesuaian lain,
tergantung pada metode penggalian
SMR = RMR + (F1 · F2 · F3) + F4
Dimana:
RMR dievaluasi menurut Bieniawski (1979 dan 1989) dengan
menambahkan nilai rating untuk lima parameter: (i) kekuatan batuan utuh,
(ii) RQD, (iii) jarak diskontinuitas, (iv) kondisi diskontinuitas, dan (v) aliran
air melalui diskontinuitas atau rasio tekanan pori. F1, F2, dan F3 merupakan
faktor penyesuaian yang berkaitan dengan orientasi kekar(joint) sehubungan
dengan orientasi kemiringan atau lereng, dan F4 adalah faktor koreksi untuk
metode penggalian.
F1 tergantung pada paralelisme antara jointdan Slope face srike.
Nilainya antara 0,15 – 1,0. Nilai 0,15 digunakan ketika sudut antara critical
joint plane dan slope face lebih dari 30 derajat dan probabilitas kegagalan
sangat rendah bernilai 1.0 ketika keduanya mendekati paralel. Nilai-nilai
tersebut cocok dengan hubungan pada rumus (2.11), dimana A menunjukkan
sudut antara strikes of slope face dan joints.
F1 = (1 – Sin A)2
F2 mengacu pada sudut joint dip (Bj) pada longsoran berjenis planar.
Nilainya bervariasi antara 1,00 – 0,15. Nilai 0,15 digunakan ketika
kemiringan critical joint adalah kurang dari 20 derajat dan 1,0 untuk joint
dengan dips lebih besar dari 45 derajat. Untuk longsoran berjenis toppling
maka F2 tetap 1,00, dan nilai tersebut dapat dicari dengan hubungan:
F2 = tan2Bj
F3 mencerminkan hubungan antara slope dan joints dips. Hubungan
tersebut mudah dilihat di longsoran berjenis planar, dimana F3 mengacu pada
probabilitas dari joints “day-lighting” dalam slope face. Kondisi ini disebut
“fair” ketika slope face dan joints sejajar. Jika kemiringan dips 10 derajar
lebih dari joint, kondisi tersebut sangat tidak menguntungkan. Untuk
longsoran toppling kondisi yang tidak menguntungkan tergantung pada
penjumlahan dips dari joint dan lereng. Nilai F3 juga bisa diambil dari
Bieniawski Adjustment Rating For Joint Orientation.
F4 merupakan faktor penyesuaian untuk metode penggalian.Ini
mencakup lereng alam atau kemiringan lereng penggalian sebelum dilakukan
penggalian, smooth blasting, normal blasting, poor blasting dan penggalian
mekanik. Faktor penyesuaian tersebut telah ditetapkan secara empirik sebagai
berikut:
1) Lereng alamiah lebih stabil karena terbentuk akibat proses erosi dalam
waktu yang lama dan ada mekanisme penahan (vegetasi, sedikit air)
dengan nilai F4 = +15.
2) Penggunaan teknik peledakan presplitting meningkatkan stabilitas lereng
untuk suatuk las setengah, F4 = +10.
3) Penggunaan teknik peledakan smooth blasting dengan lubang-lubang yang
baik, juga meningkatkan stabilitas lereng, F4 = +8.
4) Teknik peledakan normal. Penggunaan dengan sound method, tidak
mengubah stabilitas lereng, F4 = 0.
5) Peledakan yang tidak efisien, sering terlalu banyak bahan peledak, tidak
menggunakan peledakan beruntun (delay) atau lubang ledak tidak sejajar,
stabilitas buruk, F4 = - 8.
6) Penggalian lereng dengan peralatan gali, selalu dengan ripper, hanya dapat
dilakukan pada batuan lemah dan atau di batuan terkekarkan, dan sering
digabungkan dengan peledakan. Bidang lereng sulit untuk diakhiri.
Metode ini bisa bertambah atau berkurang tingkat kemantapan lereng,
dapat diberi nilai F4 = 0
Tabel 10. Faktor Penyesuaian untuk Kekar dan Diskripsi dari Kelas SMR (Romana, 2003)
αj = Dip Direction of αs = Dip Direction of
Adjusting Factor For Joints (F₁, F₂, βj = Dip of Joint βs = Dip of Slope
Joint Slope
F₃)
Very Favourable Favourable Fair Unfavourable Very Unfavourable
PlaneFailure |αj - αs| =
> 30° 30° - 20° 20° 10° 10° - 5° < 5°
Toppling |αj - αs - 180°| =
F₁Value 0,15 0,40 0,70 0,85 1,00
Relationship F₁ = (1 - Sin |αj - αs|)²
|βj| = <20° 20° - 30° 30° - 35° 35° - 45° > 45°
Planar Failure 0,15 0,40 0,70 0,85 1,00
F₂Value
Toppling 1,00
Relationship F₂ = tg² βj
Planar
βj - βs = >10° 10° - 0° 0° 0° -(-10°) <(-10°)
Failure
Toppling βj + βs = <110° 110° - 120° >120° - -
F₃Value 0 -6 -25 -50 -60
Relationship F₃ (Bieniawski Adjustment Rating For Joint Orientation)
F₄ = Empirical Values for Method of Excavation
F₄ Adjusting Factor for Excavation
Blasting or
Method Natural Slope Prespliting Smooth Blasting Deficient Blasting
Mechanical
F₄Value 15 10 8 0 -8
DESCRIPTION OF SMR CLASSES
Kelas I II III IV V
SMR 81-100 61-80 41-60 21-40 0-20
Deskripsi masssa batuan Sangat baik Baik Normal Buruk Sangat buruk
Benar-benar tidak
Stabilitas Benar-benar stabil Stabil Sebagian stabil Tidak stabil
stabil
Planar along some Big planar atau
Planar atau big
Jenis keruntuhan Tidak terjadi Block failure joints atau many soil-like atau
wedge failure
wedge failure circular
3. Analsis Kinematik

Berbagai jenis longsoran lereng (slope failure) berhubungan dengan

struktur-struktur geologi yang mengakibatkan adanya suatu

diskontinuitas pada suatu massa batuan.Salah satu metode yang

seringkali digunakan untuk melakukan identifikasi dan karakterisasi

bidang diskontinuitas pada singkapan lereng batuan yaitu metoda

Scanline (Hudson dan Harrison, 1997).

Dalam kaitannya dengan usaha pemetaan diskontinuitas

batuan, scan line sampling harus dilakukan secara sistematik pada

seluruh singkapan batuan yang ada. Parameter yang diukur di

lapangan adalah panjang lintasan scan line (L), jumlah diskontinuitas

(N) dalam lintasan pengukuran, dan kedudukan bidang-bidang

diskontinuitas. Dengan demikian, maka frekuensi dikontinuitas ( λ )

dapat dinyatakan sebagai :

λ = N/L

dan rata-rata spasi diskontinuitas (x) adalah :

x = L/N

Dalam memperhitungkan stabilitas lereng batuan, data

kedudukan bidang-bidang diskontinuitas hasil pengukuran scan line

sampling digambarkan di dalam stereoplot. Pada umumnya, jika data

struktur geologi tersebut telah diplot, beberapa konsentrasi kutub yang

signifikan dapat hadir di dalam stereoplot (Gambar 2.2).


Gambar 2. Penggambaran kutub-kutub bidang struktur pada umunya
memperlihatkan konsentrasi kutub, misalnya kutub A dan B
Adalah sangat berguna untuk dapat memilah antara bidang- bidang

yang berpotensi mengalami keruntuhan, dengan bidang-bidang yang

kemungkinan tidak akan terlibat di dalam longsoran.

Faktor kinematik lereng dikatakan memenuhi syarat untuk

menyebabkan ketidakstabilan apabila pada lereng terdapat ruang bagi blok

massa batuan untuk bergerak pada bidang gelincirnya menuju ruang tersebut

(Hoek dan Bray, 1981)

a. Analisis Kinematik dari Keruntuhan Geser Planar (Plane Failure)

Longsoran bidang (plane failure) adalah bentuk longsoran yang paling

mudah untukdiidentifikasi dan dianalisis. Longsoran bidang dapat

terjadi dengan bidang gelincir tunggal ataupun set bidang gelincir.

Kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan keruntuhan tipe ini adalah :

1) Kemiringan Lereng (ȕ) lebih besar daripada kemiringan bidang

gelincir (ȕ)
2) Jejak bagian bawah bidang diskontinuitas yang menjadi bidang

gelincir harus muncul di muka lereng.

3) Bidang gelincir memiliki jurus (α) yang sejajar atau hampir sejajar

(maksimal 20º) dengan jurus permukaan lereng (α).

4) Kemiringan bidang gelincir (ȕ) lebih besar daripada sudut geser

dalamnya.

b. Analisis Kinematik dari Keruntuhan Baji (Wedge Failure)

Berbeda dengan keruntuhan geser planar, keruntuhan geser baji

akan terjadi bila ada dua bidang diskontinuitas atau lebih berpotongan

sedemikian rupa sehingga membentuk baji terhadap lereng. Persyaratan

lain yang harus terpenuhi di antaranya adalah :

1) Arah garis perpotongan (trend) kedua bidang diskontinuitas harus

mendekati arah kemiringan muka lereng.

2) Sudut lereng lebih besar daripada sudut garis potong kedua bidang

diskontinuitas

3) Garis perpotongan kedua bidang diskontinuitas harus menembus

permukaan lereng.

4) Plunge dari garis perpotongan kedua bidang diskontinuitas lebih

besar daripada sudut geser dalamnya.

Uji Markland (Hoek dan Bray, 1981) dilakukan untuk

menentukan kemungkinan terjadinya keruntuhan geser baji (wedge

sliding failure), dengan arah luncuran terjadi pada penunjaman garis

perpotongan antara dua buah bidang diskontinu planar (Gambar 2.3B).


Uji ini juga mencakup longsoran bidang yang merupakan kasus khusus

dari longsoran baji (Gambar 3). Pada longsoran baji, jika kontak pada

kedua bidang tetap terjadi, luncuran hanya dapat terjadi pada arah

penunjaman garis perpotongan.

c. Analisis Kinematika dari Keruntuhan Jungkiran (Toppling Failure)

Keruntuhan jungkiran umumnya terjadi pada massa batuan

yang kemiringan bidang-bidang diskontinuitasnya berlawanan arah

dengan kemiringan lereng. Bidang-bidang diskontinuitas tersebut

membentuk kolom-kolom yang akan mengguling bila bidang

diskontinuitas yang menghubungkan antar kolom menggelincir.

Analisis keruntuhan jungkiran lebih rumit bila dibandingkan

dengan bentuk keruntuhan planar dan baji. Karena interaksi antar

kolom-kolom yang mengguling secara simultan serta gaya-gaya geser

yang terjadi antar kolom harus diperhatikan.

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan keruntuhan tipe

jungkiran adalah :

1) Jurus dari bidang diskontinuitas harus paralel atau mendekati paralel

dengan jurus permukaan lereng (perbedaan arah maksimal 20º).

2) Sudut kemiringan bidang diskontinuitas harus sama besar dengan

kemiringan permukaan lereng.

3) Plunge dari bidang gelincir harus lebih kecil dari kemiringan

permukaan lereng dikurangi sudut geser dalam dari bidang gelincir

tersebut (goodman, 1980).


Gambar 3. Model stereoplot kondisi struktur yang dapat menyebabkan
jenis-jenis longsoran utama pada batuan (Hoek, 2000)

G. Metodologi Penelitian

1. Jenis Penelitian

Berdasarkan jenisnya, penelitian ini termasuk ke dalam jenis

penelitian kuantitatif dimana sumber data yang digunakan adalah data


berupa angka yang selanjutnya diolah dan dianalisis secara matematik dan

kinematik. Penelitian digolongkan ke dalam beberapa tahapan sebagai

berikut:

1. Tahapan Pendahuluan

Tahap ini meliputi persiapan penelitian sebelum kegiatan

lapangan yang meliputi:

a. Persiapan administrasi dan pengurusan surat-surat izin di kampus

dan perusahaan.

b. Konsultasi dengan pembimbing.

c. Persiapan materi berupa pengumpulan studi literatur serta aspek-

aspek pendukung lainnya.

2. Tahapan Studi Literatur

Tahap ini dilakukan studi mengenai buku-buku teks, jurnal dan

laporan-laporan yang relevan mengenai kegiatan pemboran dan

peledakan serta formula perancangan untuk desain geometri pemboran

tambang bawah. Kegiatan ini berlangsung hingga kegiatan penelitian

berakhir.

a. Tahapan Observasi Lapangan

Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahapan observasi ini

adalah sebagai berikut:

1) Orientasi Lapangan

Kegiatan orientasi lapangan bertujuan untuk mengetahui kondisi

lapangan secara langsung. Tahap ini juga bertujuan untuk


mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada di lapangan

sehingga didapatkan gambaran jalur pemetaan dan pengambilan

data yang akan dilakukan.

2) Pengambilan Data Lapangan

Tahap ini bertujuan untuk mengumpulkan data-data yang

dibutuhkan dalam penelitian. Adapun data tersebut adalah:

a) Data primer yang diperoleh dari pengamatan langsung di

lapangan. Data primer tersebut diantaranya adalah data

pemetaan diskontinutas dengan metode scaline mapping,

data orientasi dan geometri lereng, data pengujian sifat fisik

dan sifat mekanik batuan, dan data karakteristik massa

batuan serta data kondisi morfologi dan hidrologi sekitar

daerah penelitian.

b) Data sekunder yang terdiri dari data peta geologi, peta

lokasi penelitian, data pemboran geoteknik, data curah

hujan, data level muka air tanah, data longsoran terdahulu.

3) Tahapan Pengolahan Data

Analisis kestabilan lereng dilakukan dengan metode rock

mass rating (RMR) dan slope mass rating (SMR) Bieniawski.

Selain itu analisis kinematik untuk mengetahui tipe potensi

longsor dilakukan dengan software Dips v.5 (Rocscience).

4) Tahapan Evaluasi
Pada tahap ini dilakukan evaluasi hasil analisis data untuk

mendapatkan rekomendasi stabilisasi lereng yang bisa dilakukan

terhadap lereng-lereng yang tidak stabil.

5) Tahapan Penyusunan Laporan

Tahap ini dilakukan penyusunan draft laporan dari

keseluruhan hasil kegiatan penelitian yang dilakukan. Draft tersebut

dibuat sesuai dengan format dan kaidah penulisan yang telah

ditetapkan oleh Program Studi S1 Teknik Pertambangan, Fakultas

Teknik, Universitas Negeri Padang.

6) Seminar dan Penyerahan Laporan

Hasil akhir dari penelitian ini akan dipresentasikan dalam

seminar Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Negeri

Padang, setelah melalui penyempurnaan berdasarkan masukan-

masukan yang diperoleh dari para dosen penguji. Draft Tugas Akhir

kemudian diserahkan ke Ketua Program Studi Teknik

Pertambangan Universitas Negeri Padang.

H. Tempat Penelitian

Tempat penelitian tugas akhir ini diusulkan di PT J Resources

Bolaang Mongondow Site Bakan, Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolaang

Mongondow Sulawesi Utara.

I. Waktu Pelaksanaan

Penelitian tugas akhir ini direncanakan akan dilaksanakan pada

tanggal 15 Mei - 15 Juli 2017.


DAFTAR PUSTAKA

Arif Irwandi. 2016. Geoteknik Tambang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Aris Endartiyanto. 2007. Analisis Kestabilan Lereng dengan Menggunakan


Metode kinematik dan Klasifikasi Massa Batuan;Studi Kasus di
Area Penambangan Andesit, Desa Jelekong, kecamatan Bale
Endah,Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Bandung: ITB

Varnes. 1978. Landslide Type and Process. USA: USGS.

Vert Hoek and John Bray. 1981. Rock Slope Engineering (Third Edition).
Lampiran A
Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian

Minggu Ke
Kegiatan I II III IV V VI VII VIII
Studi Pustaka dan Orientasi Lapangan
Pengumpulan Data
Pengolahan Data
Penyusunan Laporan
Presentasi Laporan
Lampiran B

Rencana Daftar Isi

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Perumusan Masalah
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
D. Pembatasan Masalah
BAB II DASAR TEORI
A. Deskripsi Perusahaan
1. Lokasi dan Kesampaian Daerah
2. Keadaan Iklim dan Curah Hujan
3. Keadaan Topografi dan Geologi
4. Kegiatan Penambangan
B. Teori Dasar
4. Analisis Kestabilan Lereng Batuan
5. Klasifikasi Massa Batuan untuk Evaluasi Kestabilan Lereng
a.Klasifikasi Sistem RMR (Geomechanics Classification System)
b. Klasifikasi Slope Mass Rating (SMR)
3. Analsis Kinematik untuk Evaluasi Kestabilan Lereng Batuan
a. Analisis Kinematik dari Keruntuhan Geser Planar (Plane
Failure)
b. Analisis Kinematik dari Keruntuhan Baji (Wedge Failure)
c. Analisis Kinematik dari Keruntuhan Jungkiran (Toppling
Failure)
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
B. Instrumen Penelitian
C. T e k n i k P e n g a m b i l a n D a t a
D. Teknik Pengolahan Data
E. Waktu dan Jadwal Kegiatan
BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Kinematik
1. Data Diskontinuitas
a. Lokasi Pengambilan Data
b. Data Diskontinuitas Hasil Pengukuran Lapangan
c. Intepretasi Set Diskontinuitas Utama
2. Pengujian Laboratorium
a. Pengamatan Petrografi
b. Pengujian Sifat Fisik
c. Pengujian Sifat Mekanik
3. Perhitungan Sudut Geser Dalam Efektif
a. Joint Roughness Coefficient (JRC)
b. Joint Wall Compressive Strength (JCS)
c. Kohesi dan Sudut Geser Dalam untuk Masing-Masing Set
Diskontinuitas
4. Analisis Kinematik
B. Analisis Kestabilan Lereng Batuan
1. Klasifikasi Massa Batuan dengan Sistem Rock Mass Rating
a. Kuat Tekan Uniaksial Andesit
b. Rock Quality Designation (RQD)
c. Spasi Diskontinuitas
d. Kondisi Diskontinuitas
e. Kondisi Airtanah
2. Analisis Kestabilan Lereng Berdasarkan Slope Mass Rating
3. Kajian Desain Perkuatan Lereng
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Curriculum Vitae

Nama : Osmaini Sutra Haryati


Tempat dan Tanggal Lahir : Solok Selatan, 13 Mei 1995
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Kewarganegaraan : Warga Negara Indonesia
Status Perkawinan : Belum Menikah
Kesehatan : Sempurna (Tidak Mengidap
Penyakit Khusus)
Alamat Asal : Sarik Taba, Nagari Lubuk Gadang,
Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan
Alamat Sekarang : Komplek Parupuk Raya Nomor 16A, Koto Tangah,
Padang
Nomor Handphone : 085365342424
E-mail : osmainisutra@gmail.com
Hobi : Travelling dan Fotografi

RIWAYAT PENDIDIKAN FORMAL


Sekolah Tempat Tahun
Perguruan Tinggi Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas 2013-sekarang
Teknik Universitas Negeri Padang
SMA SMAN 3 SOLOK SELATAN 2010-2013
SMP SMPN 12 SOLOK SELATAN 2007-2010
SD SDN 01 LUBUK GADANG 2001-2007

PENGALAMAN ORGANISASI
Deskripsi Tahun
Dewan Pengawas Organisasi (DPO) Himpunan Mahasiswa 2016-Sekarang
Teknik Pertambangan (HMTP) FT UNP
Koordinator Internal Section of Publication and Relation 2015-2016
Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan (HMTP) FT UNP
Anggota Biasa UKKPK (Unit Kegiatan Komunikasi dan 2015-2016
penyiaran Kampus ) UNP
Biro Departemen Pengelolaan Sumber Daya Manusia Badan 2014-2015
Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Padang
Anggota Muda (Unit Kegiatan Komunikasi dan penyiaran 2014-2015
Kampus ) UKKPK UNP
Pengurus Departemen Hubungan Masyarakat (Humas) Ikatan 2013-2015
Mahasiswa Solok Selatan
Pengurus divisi Publication And Communication Himpunan 2013-2014
Mahasiswa Teknik Pertambangan (HMTP) FT UNP

PENGHARGAAN DAN PRESTASI


Deskripsi Tempat Tahun
Peserta Youth Mining Camp Universitas Pembangunan Nasional 2016
Competition Veteran Yogyakarta
Juara Umum II Sumatera Universitas Sriwijaya, Palembang 2015
Student Mining Competition Sumatera Selatan
Peserta International Student Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi 2015
Paper Contest 2015 Geoweek Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
UGM
Juara I Identifikasi Mineral, Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas 2015
Mining Exhibition Teknik Universitas Negeri Padang
Juara Umum I Mining Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas 2015
Exhibition Teknik Universitas Negeri Padang
15 Besar Lomba News Genta Andalas, Universitas Andalas, 2014
Presenter Se-Sumatra Barat Padang

PENGALAMAN SEMINAR DAN KURSUS

Deskripsi Tempat Tahun


Peserta Seminar Nasional Peranan Universitas Negeri Padang 2013
Pendidikan Karakter dalam
Menciptakan Integritas Bangsa
Peserta Seminar Nasional Universitas Negeri Padang 2014
Perbandingan Antara Hakikat Islam
denganPendidkan Konvensional
Panitia Seminar Nasional Be A Creative Universitas Negeri Padang 2014
Generation Through Writing
Peserta Seminar Nasional Revisi Universitas Negeri Padang 2015
Undang-Undang Minerba No. 4 Tahun
2009 Terhadap Undang-Undang No. 23
Tahun 2014 Demi Masa Depan
Pertambangan Indonesia
Moderator Seminar Nasional Masa Universitas Negeri Padang 2016
Depan Geomekanika
Peserta Seminar Nasional Bulan K3 PT Sago Prima Pratama 2017
2017 (J Resources), Kalimantan
Utara

PENGALAMAN LAPANGAN

Deskripsi Tempat Tahun


Kerja Praktek Mahasiswa PT Sago Prima Pratama (J Resources), 2017
Seruyung, Kalimantan Utara
Peserta Kuliah Lapangan PT Dahana Persero Tbk, Jawa Barat 2016
Peserta Kuliah Lapangan PT Bukit Asam Persero Tbk, Tanjung 2016
Enim, Sumatera Selatan
Peserta Studi Geoteknik PT Ansar Terang Crushindo, Pangkalan, 2016
Lapangan Sumatera Barat
Peserta Studi Geologi Singkarak, Sumatera Barat 2015
Lapangan
Peserta Kuliah Lapangan PT Allied Indo Coal, Sawahlunto, 2015
Sumatera Barat
Peserta Kuliah Lapangan PT. Semen Padang 2015
Teknik Peledakan
Peserta Studi Pengeboran PT Bukit Asam Unit Penambangan 2015
dan Peledakan Tambang Ombilin, Sumatera Barat
Bawah Tanah
Peserta Kuliah Lapangan Pertamina EP Pangkalan Susu, Sumatera 2014
Utara
Peserta Kuliah Lapangan PT Innalum, Asahan, Sumatera Utara 2014
Peserta Kuliah Lapangan PT Aman Toebillah Putra (ATP), Lahat, 2014
Batubara Sumatera Selatan

KEMAMPUAN BAHASA ASING


Bahasa Inggris Membaca Baik
Menulis Baik
Mendengar Baik
KOMPUTERISASI

Terbiasa bekerja dengan Microsoft Office (Word, Excel, Power Point)


Dapat Mengoperasikan Software Minescape 4.1.1 8
Dapat Mengoperasikan Software Dips v.5 Rocscience
Mampu bekerja dengan Sistem Operasi Windows XP , Windows 7, dan Windows 8

Padang, 14 Maret 2017

Osmaini Sutra Haryati


Fotokopi Kartu Tanda Penduduk
Fotokopi Kartu Tanda Mahasiswa
Historis Nilai https://portal.unp.ac.id/historis/his/20170313020747000000.html

UNIVERSITAS NEGERI PADANG


NILAI HISTORIS
TM/NIM/Nama : 2013/1302670/Osmaini Sutra Haryat
Prog. Studi : Teknik Pertambangan (S1)
Status Masuk : BIDIKMISI
Dosen PA : Drs. Raimon Kopa, MT

Dosen Dosen
No Sek si Kode Matakuliah SKS Nilai Bobot Mutu
1 2
Semester : J uli - Desember 2013
1 59130 TMB101 Kalkulus 1 3 B 3.0 9.0 5164
2 59077 TMB103 Fisika Dasar 1 3 B+ 3.3 9.9 5126
3 59070 TMB105 Kimia Dasar 1 3 B 3.0 9.0 3444
4 59109 TMB107 Pengantar Teknologi Mineral 3 A- 3.6 10.8 5158
5 49756 UNP004 Bahasa Indonesia 2 A 4.0 8.0 2131
6 47706 UNP028 Ilmu Sosial dan Budaya Dasar 2 A 4.0 8.0 4437
7 47209 UNP030 Pendidikan Agama 3 A 4.0 12.0 4512 4536
IP Semester :
Total 19 66.7
3.51
Semester : Ja nuari - Juni 2014
1 80314 TMB102 Kalkulus 2 3 A- 3.6 10.8 5137
2 80312 TMB104 Fisika Dasar 2 3 C+ 2.3 6.9 5126
3 80316 TMB106 Kimia Dasar 2 3 B+ 3.3 9.9 3437 3444
4 81221 TMB112 Mekanika Teknik 3 A 4.0 12.0 5128
5 80319 TMB269 Gambar Teknik Pertambangan 2 A- 3.6 7.2 5140
6 68989 UNP005 Bahasa Inggris 2 A- 3.6 7.2 2232
7 68911 UNP029 Ilmu Kealaman Dasar 2 B+ 3.3 6.6 3410
8 68835 UNP042 Pancasila 2 A 4.0 8.0 1652
IP Semester :
Total 20 68.6
3.43
Semester : J uli - Desember 2014
1 100353 TMB111 Geologi Fisik 3 A- 3.6 10.8 5154
2 100342 TMB140 Bahan Galian Industri 2 A 4.0 8.0 5161
Peralatan Tambang dan Penanganan
3 103604 TMB141 2 A- 3.6 7.2 5124
Material

4 100365 TMB310 Matrik dan Ruang Vektor 2 A 4.0 8.0 5159

5 100339 TMB311 Kristalografi dan Mineralogi 3 A- 3.6 10.8 5150

6 100367 TMB312 Statistika Dasar 2 A- 3.6 7.2 5159

7 100341 TMB316 Teknik dan Mesin Fluida 2 A 4.0 8.0 5136

8 100324 TMB317 Genesa Bahan Galian 3 A- 3.6 10.8 5137

9 68701 UNP003 Pendidikan Kewarganegaraan 2 A- 3.6 7.2 4121

IP Semester :
Total 21 78
3.71
Semester : Januari - Juni 2015
1 201421370015 TMB110 Survey dan Pemetaan 3 A 4.0 12.0 5136
2 201421370030 TMB114 Mekanika Tanah 3 B 3.0 9.0 5159
3 201421370019 TMB116 Petrologi 3 A 4.0 12.0 5161
4 201421370021 TMB122 Mekanika Batuan 3 A 4.0 12.0 5139
5 201421370024 TMB215 Geologi Struktur 3 B+ 3.3 9.9 5154
6 201421370026 TMB314 Metode Numerik 2 B 3.0 6.0 5159
7 201421370027 TMB372 Hidrogeologi dan Penyaliran Tambang 3 A 4.0 12.0 5143 5140

1 dari 4 13/03/2017 14:23


Historis Nilai https://portal.unp.ac.id/historis/his/20170313020747000000.html

IP Semester :
Total 20 72.9
3.65
Semester : Juli - Desember 2015
1 201511370020 TMB118 Ilmu Ukur Tambang 3 A- 3.6 10.8 5124

2 dari 4 13/03/2017 14:23


Historis Nilai https://portal.unp.ac.id/historis/his/20170313020747000000.html

UNIVERSITAS NEGERI PADANG


NILAI HISTORIS

TM/NIM/Nama : 2013/1302670/Osmaini Sutra Haryat


Prog. Studi : Teknik Pertambangan (S1)
Status Masuk : BIDIKMISI
Dosen PA : Drs. Raimon Kopa, MT

Dosen Dosen
No Sek si Kode Matakuliah SKS Nilai Bobot Mutu
1 2
2 2015113 70022 TMB123 Analisis Investasi Tambang 2 A- 3.6 7.2 5140
3 2015113 70024 TMB133 Metode Perhitungan Cadangan 2 A- 3.6 7.2 5158
4 2015113 70008 TMB137 Teknik Pengoboran dan Penggalian 3 C 2.0 6.0 0278
5 2015113 70026 TMB263 Pengolahan Bahan Galian 3 B- 2.6 7.8 5153
Undang Undang dan Keselamatan Kerja
6 2015113 70028 TMB318 2 A 4.0 8.0 0278
Pertambangan
7 2015113 70031 TMB319 Batubara 3 A- 3.6 10.8 5154
8 2015113 70032 TMB323 Komunikasi Ilmiah 2 A 4.0 8.0 5139
9 2015113 70033 TMB335 Bahan Peledak dan Teknik Peledakan 3 A 4.0 12.0 5128
IP Semester :
Total 23 77.8
3.38
Semester : Ja nuari - Juni 2016
1 2015213 70025 TMB108 Lingkungan Tambang 2 B+ 3.3 6.6 5126
2 2015213 70028 TMB120 Geoteknik Tambang 3 A 4.0 12.0 0278
3 2015213 70029 TMB125 Penelitian Operasional Tambang 2 C+ 2.3 4.6 5153
4 2015213 70031 TMB130 Manajemen Tambang 2 A 4.0 8.0 5140
5 2015213 70040 TMB132 Teknik Eksplorasi 2 A- 3.6 7.2 5159
6 2015213 70051 TMB257 Tambang Terbuka 3 A 4.0 12.0 5124
7 2015213 70073 TMB260 Teknik Terowongan 2 B 3.0 6.0 5128
8 2015213 70036 TMB321 Geostatistik dan Permodelan Sumberdaya 3 D 1.0 3.0 5164
9 2015213 70037 TMB336 Tambang Bawah Tanah 3 A 4.0 12.0 5139
10 2015213 70088 TMB377 Geolistrik 2 D 1.0 2.0 5164
IP Semester :
Total 24 73.4
3.06
Semester : J uli - Desember 2016
1 2016113 70043 TMB234 Ventilasi Tambang 3 A- 3.6 10.8 5139
2 2016113 70045 TMB247 Kewirausahaan 2 A- 3.6 7.2 5140
3 2016113 70087 TMB328 Eksplorasi dan Evaluasi Panas Bumi 2 A 4.0 8.0 5161
4 2016113 70049 TMB330 Perencanaan Tambang 3 C 2.0 6.0 5158
5 2016113 70051 TMB337 Teknik Pengeboran & Penggalian 3 B+ 3.3 9.9 5124 5153
6 2016113 70055 TMB370 Komputasi dan Simulasi Tambang 3 A- 3.6 10.8 5164
7 2016113 70057 TMB376 Teknik Penyanggaan 2 B 3.0 6.0 5128
IP Semester :
Total 18 58.7
3.26
Semester : Januari - Juni 2017
1 201621370053 TMB334 Tugas Akhir 5 0.0 0.0 5128
2 201621370062 TMB369 Kerja Praktek 4 0.0 0.0
IP Semester :
Total 0 0
0.00

Total Mutu : 496.1 Padang, 13-03-2017


Total SKS : 145 Kabag. Akademik,

3 dari 4 13/03/2017 14:23


Historis Nilai https://portal.unp.ac.id/historis/his/20170313020747000000.html

IP Komulatif : 3.42

Yonrafdi, SE., M.Si.


NIP. 196112011983031019

4 dari 4 13/03/2017 14:23