Anda di halaman 1dari 31

Masa Kejayaan Islam

Yang Dinantikan Kembali

Oleh:

Aditya Prasetya
Kelas : XI IPS 3

SMA NEGERI 3 PURWAKARTA


TAHUN PELAJARAN 2017/2018
Halaman Pengesahan

Tema : Masa Kejayaan Islam Yang Dinantikan


Kembali Pada Masa Klasik, Pertengahan, Modern

NISN : 167.X.7.280
Kata Pengantar

Pertama-tama saya panjatkan puji syukur kehadirat ALLAH SWT, karena dengan
rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menulis makalah ini sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan tanpa ada hambatan yang berarti. Shalawat serta salamnya semoga tercurahkan
kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarganya dan para sahabatnya, dan juga kepada
kita semua selaku umatnya yang insya Allah selalu mengikuti ajaran sunahnya.

Makalah ini merupakan salah satu persyaratan untuk memenuhi salah satu tugas mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK Negeri 1 Mojokerto.

Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, dan
jauh dari sempurna, itu di karenakan keterbatasan yang kami miliki, karena kami masih
tahap belajar. Oleh sebab itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
pembaca agar makalah ini dapat menjadi lebih baik lagi. Semoga makalah ini bermanfaat
bagi pembaca sekalian.
Daftar Isi

Kata Pengantar .......................................................................................................

Daftar Isi ................................................................................................................

Bab I Pendahuluan .................................................................................................

1. Latar Belakang ..................................................................................................

2. Rumusan Masalah ..............................................................................................

3. Tujuan Penulisan................................................................................................

Bab II Pembahasan ................................................................................................

A. Periodesasi Sejarah Islam .................................................................................


1. Periodisasi Sejarah Islam Menurut Nourouzzaman Shiddiqie .........................
2. Periodisasi Sejarah Islam Menurut Ahmad Al-Usairy .....................................
3. Periodisasi sejarah Islam Menurut Prof. Dr. Harun Nasution..........................

B. Masa Kejayaan Islam .......................................................................................


1. Penyebab ..........................................................................................................
2. Filsafat ..............................................................................................................
3. Sains .................................................................................................................
4. Kedokteran .......................................................................................................
5. Perdagangan .....................................................................................................

C. Tokoh-tokoh Pada Masa Kejayaan Islam ........................................................


1. Ibnu Rusyd .......................................................................................................
2. Al-Ghazali ........................................................................................................
3. Al Kindi ...........................................................................................................
4. Al Farabi ..........................................................................................................
5. Ibnu Sina ..........................................................................................................

Bab III Penutup ................................................................................................

1. Kesimpulan.......................................................................................................

Daftar Pustaka ..................................................................................................


Bab I
Pendahuluan
1. Latar Belakang
Seperti perabadan lain, Islam juga mengalami beberapa periode dalam sejarah. Ada satu
periode dimana Islam bisa menunjukan eksistensinya di Eropa bahkan dunia. Periode tersebut
terjadi pada saat para filsuf, ilmuwan, dan insinyur muslim bisa memberikan banyak
konstribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan. Mereka melakukannya baik
dengan menjaga tradisi yang telah ada maupun dengan menciptakan penemuan-penemuannya
sendiri.
Sebaliknya, bangsa Eropa waktu itu justru sedang berada di zaman kegelapan (dark
ages), dimana dominasi gereja sangatlah besar sehingga setiap kebenaran (ilmu pengetahuan)
harus sesuai dengan paham gereja. Apabila ada yang menyampaikan sesuatu yang
bertentangan dengan gereja, maka akan mendapatkan hukuman bahkan sampai dibunuh. Hal
tersebut menyebabkan terisolasinya ilmu pengetahuan dari manusia. Padahal sekitar tahun
300 SM, peradaban Eropa sudah dibangun sedemikian rupa oleh bangsa Yunani dan Romawi.
Ilmuan-ilmuan Yunani mengembangkan filsafat, sementara orangRomawi mengembangkan
birokrat.
Sebaliknya, bangsa Eropa waktu itu justru sedang berada di zaman kegelapan (dark
ages), dimana dominasi gereja sangatlah besar sehingga setiap kebenaran (ilmu pengetahuan)
harus sesuai dengan paham gereja. Apabila ada yang menyampaikan sesuatu yang
bertentangan dengan gereja, maka akan mendapatkan hukuman bahkan sampai dibunuh. Hal
tersebut menyebabkan terisolasinya ilmu pengetahuan dari manusia. Padahal sekitar tahun
300 SM, peradaban Eropa sudah dibangun sedemikian rupa oleh bangsa Yunani dan Romawi.
Ilmuan-ilmuan Yunani mengembangkan filsafat, sementara orangRomawi mengembangkan
birokrat.
Ketika Eropa sedang berada dalam masa kegelapan, masyarakat Islam justru mengalami
kemajuan dalam bidang filsafat, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Mereka mengambil ilmu-
ilmu yang ada di Yunani dan Romawi kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab. Selain
itu, perkembangan Islam juga dihubungkan dengan letak geografis. Sebelum Islam datang,
kota Mekah merupakan pusat perdagangan di Jazirah Arab, Nabi Muhammad SAW sendiri
juga berasal dari golongan pedagang. Tradisi Ziarah Mekah membuat kota itu menjadi pusat
pertukaran gagasan dan barang. Pengaruh yang dipegang oleh para pedagang muslim dalam
jalur perdagangan Afrika-Arab dan Asia-Arab sangat besar dan penting. Hal tersebut
membuat peradaban Islam tumbuh, berkembang dan meluas dengan berdasarkan
perekonomian dagangnya.

2. Rumusan Masalah
a. Periodesasi Sejarah Islam
b. Masa Kejayaan Islam
c. Tokoh-tokoh Pada Masa Kejayaan Islam

3. Tujuan Penulisan
Makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas Pendidikan Agama Islam (PAI). Adapun tujuan
dari pembahasan makalah ini yaitu: Untuk mengingat kembali tentang bagaimana masa
kejayaan Islam, untuk mengetahui bagaimana masa kejayaan Islam, dan mengetahui
sederetan tokoh-tokoh masa kejayaan Islam.
Bab II

Pembahasan

A. Periodesasi Sejarah Islam


1. Periodisasi Sejarah Islam Menurut Nourouzzaman Shiddiqie
Menurut Nourouzzaman Shiddiqie, periodisasi sejarah islam dapat disusun sebagai berikut:
a. Periode Klasik ( 600-1258 )
Periode ini sejak kelahiran Nabi Muhammad sampai di dudukinya baghdad oleh Hulagu
Khan. Yang menjadi ciri periode ini adalah dengan mengabaikan adanya dinasti-dinasti yang
tumbuh dan tenggelam di masa Dinasti Abbasiyah, kepala negara ( khalifah ) tetap di jabat
oleh seseorang dan di angggab pimpinan tertinggi negara wlaupun hanya sekedar simbol.

b. Periode Pertengahan (dari jatuhnya Baghdad sampai ke penghujung abad ke -


17)
Ciri periode ini adalah tanpa menghilangkan kenyataan adanya Dinasti Umayyah di
Andalusia, wilayah islam lainya telah terpecah berada di bawah 3 kekuasaan yang saling
bermusuhan. Kekuasaan Dinasti Usmaniyah di Andalusia, kekuasaan Dinastu Mamluk di
mesir, dan Dinasti Ilkhan dari Mongol di Persia.

c. Periode modern ( mulai abad ke-18 )

Ciri periode ini ialah seluruh wilayah kekuasaan Islam berada di bawah cengkraman
penjajahan Barat, sampai kemudian setelah Perang Dunia Kedua kembali memperoleh
kemerdekaannya.

Jadi, menurut Nourouzzaman Shiddiqie periodesasi sejarah islam dibagi dalam 3 periode
yaitu periode kliasik, pertengahan dan modern.

2. Periodisasi Sejarah Islam Menurut Ahmad Al-Usairy


Menurut Ahmad Al-Usairy, dalam At-Tarikh Al-Islami, menyebutkan periodisasi islam secara
lengkap di bagi dalam periode-periode sebagai berikut:
a. Periode Sejarah Klasik ( Masa Nabi Adam-Sebelum Diutusnya Nabi
Muhammad )
Periode ini merupakan fase sejarah sejak Nabi Adam dilanjutkan dengan masa-masa para
nabi hingga sebelum diutusnya Rasulullah.

b. Periode Sejarah Rasulullah ( 570-632 M )


Di dalamya diungkapkan tentang berdirinya negara islam yang dipimpin langsung
oleh Rasulullah, yang menjadikan Madinah Al-Munawaroh sebagai pusat awal
ssemua aktivitas negara yang kemudian meliputi semua Jazirah Arabia.

c. Periode Sejarah Khufaur Rasyidin ( 632-661 M )


Periode ini di mulai sejak tahun 11 H hingga 41 H. Pada masa itu terjadi penaklukan-
penaklukan Islam di Persia, Syam ( Syiria ) , Mesir, dan lain-lain.

d. Periode Pemerintahan Bani Umayyah ( 661-749 M )


Pada masa ini pemerintahan islam mengalami perluasan islam yang demikian signifikan.
Hanya ada satu khalifah dalam pemerintahannya. Sayangnya, komitmen kepada syariah
Islam mengalami sedikit kemorosotan daripada periode sebelumnya.

e. Periode Pemerintahan Bani Abbasiyah ( 749-1258 M )


Periode ini memiliki karakter khusus yang ditandai dengan kemunculan beberapa
pemerintahan dan kerajaan yang independen, dimana sebagian besar telah berkontribusi
yang besar terhadap islam. Kerajaan tersebut yaitu:
1. Dinasti Idrisiyah (788-974 M)
Dinasti ini didirikan oleh salah seorang penganut syi'ah, yaitu Idris bin Abdullah pada
tahun 172 H / 789 M. Dinasti ini merupakan Dinasti Syi'ah pertama yang tercatat
dalam sejarah berusaha memasukan syi'ah ke daerah Maroko dalam bentuk yang
sangat halus.
2. Dinasti Aqlabiah ( 800-811 M)
Dinasti ini muncul di akhir pemerintahan Raja Haru Al-Rasyid. Pengangkatan
Ibrahim bin Aqlab sebagai Gubernur turun temurun (800), yang kemudian menjadi
Dinasti Aqlabiah, di Afrika Utara (Magribi).
Masa ini juga di tandai dengan terjadinya gerakan kebatinan, pemerintahan syiah serta
perang salib.

f. Periode Pemerintahan Mamluk ( 1250-1517 M )


Goresan sejarah paling penting pada masa ini yaitu berhasil di bendungnya gelombang
penyerbuan pasukan Mongolia ke beberapa belahan negeri Islam. Juga telah berhasil
eksstensi kaum Salibis dari negara Islam. Pada masa ini kaum muslimin semakin jauh
dari agamanya.

g. Periode Pemerintahan Usmani ( 1517-1923 M )


Pada awal pemerintahan ini telah berhasil melakukan ekspansi wilayah Islam terutama
di Eropa Timur. Pemerintahan ini juga telah melebarkan kekuasaannya ke kawasan
timur wilayah Islam. Goresan sejarah yang paling agung yamg berhasil dilakukan oleh
pemerintahan Usmani adalah ditaklukannya Konstatinopel. Namun pada akhirnya
pemerintahan Turki berhasil menaburkan benih pemikiran nasionalis sehingga
pemikiran ini menjadi pemicu hancurnya pemerintahan Islam serta kaum muslimin
menjadi negeri-negeri kecil yang lemah dan terbelakang serta jauh dari agama
mereka.

h. Periode Dunia Islam Kontemporer (1922-2000 M)


Periodeini dimulai sejak tahun 1342-1420 H/1922-2000 M. Periode ini merupakan
masa sejarah umat islam sejak berakhirnya Dinasti Turki Usmani hingga perjalanan
umat Islam pada masa sekarang.

3. Periodisasi sejarah Islam Menurut Prof. Dr. Harun Nasution


Menurut Prof.Dr.Harun Nasution,Sejarah Islam dapat dibagi kedalam tiga periode, yaitu
periode klasik, periode pertengahan, dan periode modern.

A. Periode Klasik (650-1250 M)


Periode klasik ini dapat pula dibagi kedalam dua masa, masa kemajuan Islam I dan masa
disintegrasi.
1. Masa Kemajuan Islam I (650-1000 M)
Masa ini merupakn masa ekspansi, integrasi, dan keemasan Islam. dalam hal ekspansi,
sebelum Nabi Muhammad wafat ditahun 632 M. Seluruh semenanjung Arabia telah tunduk
kebawah kekuasaan islam. Ekspansi daerah-daerah diluar Arabia dimulai dizaman khalifah
pertama, Abu Bakar Ash-Shiddiq.
a. Khulafaur Rasyidin
Abu Bakar menjadi khalifah ditahun 632 M, tetapi dua tahun kemudian meninggal dunia.
Masanya yang singkat itu banyak dipergunakn untuk menyelesaikan perang riddah.Yang
ditimbulkan suku-suku Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada Madina.
Setelah perang dalam negeri tersebut, barulah Abu Bakar mulai mengirim kekuatan-
kekutan keluar Arabia. Khalid bin Walid dikiri ke Irak dan dapat menguasai Al-Hirah ditahun
634 M. Untuk memperkuat tentara ini, Khalid bin Walid kemudian akan diperintahkan agar
meninggalkan Irak, dan melampui gurun pasir yang jarang dilalui, delapan belas hari
kemudian sampailah di Suria.
Usaha-usaha yang dimulai Abu Bakar ini dilanjutkan oleh Khalifah kedua, Umar bin
Khattab (634-644 M). Dizamannyalah gelombang ekspansi pertama terjadi, kota Damaskus
jatuh ditahun 635 M dan pada tahun 636 M, setelah tentara Bizantiun klah di pertempuran
Yarmuk, daerah Syiriah jatuh kebawah kekuasaan Islam.
Dengan adanya gelombang ekspansi pertama ini, kekuasaan Islam dibawah Khalifah Umar
telah meliputi selain semenanjung Arabia, juga Palestina, Syiria, Irak, Persia, dan Mesir.
Pada zaman Utsman bin Affan (644-656 M) Tripoli, Cirpus, dan beberapa daerah lain
dikuasai, tetapi gelombang ekspansi pertama berhenti sampai disini. Dikalangan umat Islam
mulai terjadi perpevahan dan dalam kekacauan ynag timbul Utsman terbunuh.
Sebagai pengganti Utsman, Ali bin abi Thalibmenjadi khalifah kempat (656-661 M) tetapi
mendapat tantangan dari pihak pendukung Utsman, terutama Muawiyah, gubernur
Damaskus,dari golongan Talhah dan Zubair di Mekkah dan dari kaum Khawarij. Ali
sebgaimana Utsman, terbunuh dan Muawiyah menjadi khalifah kelima yang selanjutnya
membentuk Dinasti Bani Umayah.

b. Bani Umayyah
Setelah pergantian kekuasaan dari Ali bin Abi Thalib ke Muawiyah, terjadi perombakan
system kekuasaan dan pemerintahan. Sistem kekhalifahan pada masa ini mengalami
perubahan baru, yaitu system monarki (kerajaan). Suksesi kepemimpinan seperti ini terjadi
ketika Mu’awiyah memerintahkan untuk mewariskan jabatan kekhalifahan kepada anaknya,
Yazid ibn Mu’awiyah. Maka dari sinilah awal mula system kekhalifahan berlaku.
Penyebutan Bani / Daulah Umayyah disandarkan pada nama Umayyah ibn Abdi Syams
ibn Abdi Manaf, salah satu pemimpin suku Quraisy pada zaman jahiliyah.
Muawiyah bin Abu Sufyan, adalah tokoh penting dalam Bani Umayyah, beliau terkenal
dengan alim dan santun, juga termasuk salah satu sahabat nabi yang sering menemani
Rasulullah.
Muawiyah ibn Abu Sufyan ibn Harba dalah pendiri bani Umayyah dan sekaligus khalifah
pertama. Dia juga termasuk orang yang pertama kali dalam sejarah kekhalifahan
memindahkan ibukota kekuasaan Islam dari Kuffah ke Damaskus.
Di zaman Muawiyah, Uqbah bin Nafi’ menguasia tunis dan Isalm. disana ia mendirikan
kota Kairawan yang kemudian menjadi salah satu pusat kebuadayaan Islam. Ekspansi ke
timur diteruskan sizam Abdul Al-Malik dibawah pimpinan Al-Hajaj bin Yusuf. Ekspansi ke
Barat terjadi dizaman Al-Walid. Pulau-pulau yang terdapat dilaut tengah, Malorca, Corsica,
Sardinia, Crete, Rhodes. Cyprus dan sebagian dariSichilia jatuh ketangan Islam. Daerah-
daerah yang dikuasai Islam dizaman Ekspansi ini adalah, Spanyol, Afrika Utara, Syiria,
Plaestina, Semenanjung Arabia, Irak, sebagian dari Asia kecil, Persia, Afganistan, daerah
yang sekarang disebut Pakistan, Turkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia tengah.
Ekspansi yang dilakukan Bani Umayah inilah yang membuat Islam menjadi negara besar
dizaman itu. Perubahan bahasa administrasi dari bahasa Yunani dan bahasa Pahlawi ke
Bahasa Arab dimulai oleh Abd. Abdullah Al-Malik. Perhatian kepada Syair arab jahiliah
timbul kembali dan penyair arab baru mulai bermunculan. Abd. Abdullah Al-Malik. Juga
mengubah mata uang yang dipakai didaerah-daerah yang dikuasai Islam.
Kekuasaan dan kejayaan Dinasti ini mencapai puncaknya dizaman Al-Walid I, sesudah itu
ditumbangkan oleh Bani Abassiyah.
Pernyataan di atas cukup mewakili sosok Muawiyah ibn Abi Sufyan. Ia cerdas dan cerdik.
Ia seorang politisi ulung dan seorang negarawan yang mampu membangun peradaban besar
melalui politik kekuasaannya. Ia pendiri sebuah dinasti besar yang mampu bertahan selama
hamper satu abad. Dialah pendiri Dinasti Umayyah, seorang pemimpin yang paling
berpengaruh pada abad ke 7 H.

c. Bani Abbasiyah
Berdirinya Dinasti Abbasiyah didirikan atas dua strategi, yaitu: Pertama, dengan sistem
mencari pendukung dan penyebaran ide secara rahasia, ini sudah berlagsung sejak akhir abad
pertengahan hijriah yang dipusat di Al-Hamimah. Kedua, dengan terang-terangan dan
himbauan di forum-forum resmi untuk mendirikan dinasti Abbasiyah berlanjut dengan
peperangan melawan dinasti Umayyah.
Sistem pemerintahan dinasti Abbasiyah meniru cara Umayyah dasar pemerintahan
Abbasiyah diletakkan oleh khalifah kedua, Abu Ja’far Al-Mansur. Sistem politik Abbasiyah
yang dijalankan antara lain: para khalifah tetap dari turunan Arab murni, kota Baghdad
sebagai ibu kota negara yang menjadi pusat kegiatan politik, ilmu pengetahuan dipandang
sebagai sesuatu yang sangat penting, kebebasan berfikir sebagai HAM diakui penuh, dan para
menteri turunan Persia diberi hak penuh dalam menjalankan pemerintahannya
Pendiri Dinasti Abbasiyah adalah Abu Al Abbasiyah tetapi pembangunnya adalah Al
Mansyur. Sebagai khalifah baru musuh-musuh ingin menjatuhkannya sebelum ia bertambah
kuat. Dalam usaha mempertahankan kekuasaan Bani Abbasiyah, Al-Mansur menggunakan
kekerasan.
Al Mansyur merasa tidak aman berada di tengah bangsa Arab dan kemudian mendirikan
ibu kota baru sebagai pengganti Damaskus, Baghdad didirikan di dekat bekas ibu kota Persia.
Al Mahdi menggantikan Al Mansyur sebagai khalifah, dan di masa pemerintahan,
perekonomiannya mulai meningkat. Pada zaman Harun Ar-Rasyid hidup mewah telah
memasuki kehidupan masyarakat. Kekayaan yang banyak juga dipergunakan untuk keperluan
sosial. Hanya Ar Rasyid adalah Raja Besar di zaman it.
Anaknya Al-Makmun meningkatkan perhatian pada ilmu pengetahuan. Khalifah Al-
Mu’tasim sebagai anak dari ibu yang berasal dari Turki. Dengan demikian, pengaruh turki
mulai masuk ke pusat pemerintahan Bani Abbasiyah. Tentara pengawal Turki ini kemudian
menjadi sangat berkuasa di istana dan khalifah pada akhirnya hanya sebagai boneka.
Alwatsiq kemudian melepaskan diri dari pengaruh Turki, mendirikan ibu kota Samarra
dan pindah dari baghdad. Tetap justru tambah mudah di kuasai pengawal Turki. Al-
Mutawakkil merupakan khalifah besar terakhir di dari Dinasti Abbasiyah. Khalifah yang
paling terakhir adalah Al-Mu’tashim Billah. Pada masa ini baghdad dihancurkan oleh hulagu
dari Mongol.

2. Masa Disintegrasi ( 1000-1250 M )


Disintegrasi dalam bidang politik telah mulai pada akhir zaman Bani Umayyah, tetapi
memuncak pada di zaman Bani Abbasiyah. Disentegrasi pada bidang politik membawa pada
disintegrasi dalam bidang kebudayaan,bahkan juga dalam bidang agama. Perpecahan di
kalangan umat islam menjadi besar.
B. Periode Perkembangan ( 1250-1800 M )
Periode ini dapat pula di bagi kedalam dua masa yaitu :
1. Masa Kemunduran I ( 1250-1500 M )
Pada zaman ini jenghiz khan dan keturunannya datang menghancurkan dunia islam.
Jenghiz Khan berasal dari Mongolia setelah menduduki Peking di tahun 2121 M, ia
mengalihkan serangan-serangannya kearah Barat. Satu demi satu kerajaan-kerajaan Islam
jatuh ketangannya.
Serangan ke Baghdad dilakukan oleh cucunya Hulagu Khan. Terlebih dahulu ia
mengalahkan Khurasan di Persia dan kemudian menghancurkan Hasysyasyin di Alamut.
Khalifah dn keluarga serta sebagian penduduk dibunuh. Sebagian besar penduduk dibunuh.
Beberapa dari anggota keluarga Bani Abasiyah dapat melarikan dan diantaranya ada yang
menetap di Mesir.
Dari sini Hulagu menerusknan serangannya ke Syiria dan dari Syiria ia ingin memasuki
Mesir. Akan tetapi, di Ain Jalut ( Goliath) ia dapat dikalahkn oleh Baybars, Jenderal mamluk
dari Mesir, ditahun 1260 M.
Baghdad dan daerah yang ditaklukan Hulagu selanjutmya diperintah oleh Dinasti Ilkhan.
Ikhlan adalah gelar yang diberikan kepada Hulagu. Daerah yang dikuasai dinasti ini dalah
daerah yang terletak antara asia kecil di Barat dan di India di Timur. Dinasti Ikhln berumur
100 tahun. Hulagu bukanlah beragama Islam dan anaknya Abaga 91265-1281 M) masuk
Kristen. Diantara keturunannya ynag pertama masuk Islam yaitu cucunya Tagudar dengan
nama Ahmad, tetapi mendapat tantangan dari para Jendralnya.
Ghasan Mahmud (1295-1305 M) juga masuk Islam dan demikian juga Uljaytu Khuda
Banda (1305-1316 M). Uljaya pada mulanya beragama Kristen, ia adalah Raja Mongol besar
yang terakhir. Kerajaan yang dibentuk Hulagu akhirnya menjadi beberapa kerajaan kecil,
diantaranya Kerajaan Jaylar (1336-1411 M) dengan Baghdad sebagi ibu kota, kerajaan
Salghari (1148-1282 M) di Paris, dengan kerajaan Muzaffari (1313-1393 M) juga di Paris.
Timur Lenk, seorang yang berasal dari keturunan Jeng Hizkan dapat menguasai
samarkand pada tahun 1369 M. Dari samarkand ia mengadakan serangan-serangan ke sebelah
barat dan dapat menguasai daerah yang terletak diantara Delhi dan laut Marmara. Keganasan
Timur Lenk digambarkan oleh pembunuhan massal yang dilakukannya dikota-kota yang
tidak mau menyerah tetapi justru melawan kedatangannya dikota yang telah ditundukannya.
Di Mesir khilafah Fatimiyah digantikan oleh Dinasti Salahudin al-ayubi. Dengan
kedatangnnya Mesir kembali kealiran Sunni. Di India persainagn dan kekuasaan juga selalu
terjadi sehingga India senangtiasa menghadapi perubahan penguasa. Di Spayol terjadi
peperangan diantara dinasti-dinasti islam disana diantara raja-raja Kristen.
Pada masa ini desentralisasi dan disintegrasi bertambah meningkat. Perbedaan antara
Sunni dan syi’ah, demikian juga antara Arab dan Persia bertambah tampak. Dunia Islam pada
zaman ini terbagi dua, yaitu : Bagian Arab yang terdiri dari Arabia, Irak, suria, Palestina,
Mesir dan Afrika Utara, dengan Mesir sebagai pusat, dan bagian Persia yang terdiri atas
Balkan, asia keil, asia Tengah dengan Iran sebagai Pusat.Dizaman ini pula hancurnya
Khulafah secara formal bagian yang merupakan pusat dunia islam jatuh ketangan bukan islam
untuk beberapa waktu dan terlebih dari itu islam lenyap dari Spanyol. Perbedaan antara kaum
Sunni dan kaum Syiah menjadi memunck demikian pula antara Arab dan Persia. Disamping
itu, pengaruh tarekat-tarekat bertambah mendalam dan bertambah meluas didunia islam.
Pendapat yang ditimbulkan dizaman disintegrasi itu bahwa pintu ijtihad telah tertutup
diterima secara umum dizaman ini.

2. Masa Tiga Kerajaan besar ( 1500-1800 )


Masa ini pula dibagi dua fase yaitu :
a. Fase Kemajuan ( 1500-1700 )
Fase ini merupakan kemajuan Islam II.tiga kerajaan besar yang di maksud adalah kerajaan
Usmani di Turki, kerajaan Syafawi di persia, dan kerajaan Mughal di India.
Sultan Muhammad Al-Fatih ( 1451-1481 M ) dari kerajaan Usmani mengalahkan
kerajaaan Bizantium dengan menduduki Istambul di tahun 1453 M. Dengan demikian
Ekspansi ke arah barat berjalan lebih lancar. Akan tetapi, di zaman sultan salim 1 (1512-1520
M ) perhatian ke barat d alihkan ke timur. Persia mulai di serang dan dalam peperangan Syah
Ismail di kalahkan. Stelah menguasai syiria, sultan Shalim merebut Mesir dari tangan Dinasti
Mamluk. Kairo jatuh pada tahun 1517 M. Kemajuan-kemajuan lain di buat oleh sultan
Sulaiman Al-Qanuni tahun 1520-1566 M. Sultan sulaiman adalah sultan usmani yang
terbesar. Di zamannya Irak, Belgrado, Pulau Rodes, Tunis, Bedapest, dan Yaman dapat di
kuasai.Di masa kejayaannya, daerah kekuasaan kerajaan Usmani mencakup asia kecil.
Gedung-gedung yang di tinggalkan periode ini antara lain Taj Mahal di Agra, benteng
merah, masjid-masjid, istana-istana dan gedung-gedung pemerintahan di Delhi. Pada zaman
ini, perhatian pada ilmu pengetahuan kurang sekali. Dia mengalami kemorosotan. Dengan
timbulnya Turki dan India sebagai kerajaan besar, di samping bahasa Arab dan Persia, bahasa
Turki dan bahasa Urdu juga mulai muncul sebagai bahasa penting dalam Islam. Bahasa Arab
di jadikan sebagai bahasa persatuan mengalami penurunan.
Kemajuan dalam bidang politik dan jauh lebih kecil dari kemajuan islam I. Disamping itu
Barat mulai bangkit akan tetapi kekuatan Eropa masih lemah jika dibandingkan dengan
kekuasaan Islam.

b. Fase Kemunduran II (1700-1800 M)


Sesudah Sulaiman Qanuni, kerajaan Usmani tidak lagi mempunyai Sultan-sultan yang
kuat. Kerajaan ini memulai memasuki fase kemundurannya pada abad 17. Didalam negeri
timbul pemberontakan, seperti di Syria dan di Lebanon. Disamping itu, terjadi pula
peperangan-peperangan dengan negara tetangga, seperti Venifia, dan dengan Syah Abassiyah
dari Persia, dalam peperangan itu kerajaan Usmani mengalami kekalahan dan daerahnya di
Eropa mulai diperkecil sedikit demi sedikit. Kerajaan Syafawi di Persia mendapat serangan
dari Raja Afgan yang menganut paham Sunni. Di India terjadi pemberontakan-
pemberontakan di Negara Hindu yang merupakan mayoritas penduduk India sementara itu
Inggris telah pula turut memainkan peranan dalam politik india dan menguasai India. Pada
masa ini kekuatan militer, politik, perdagangan, dan ekonomi umat islam semakin menurun.
Akhirnya tahun 1798 M. Napoleon menduduki Mesir sebagai salah satu pusat Islam
terpenting.

C. Periode Modern (1800-Sekarang)


Periode ini merupakan zaman kebangkitan Islam. Ekspedisi Napoleon di Mesir
berakhir tahun 1801 M, membuka mata dunia Islam, terutama Turki dan Mesir, akan
kemunduran dan kelemahan umat Islam di samping kemajuan dan kekuatan barat. Raja dan
pemuka Islam mulai berpikir untuk mengembalikan keseimbangan kekuatan Islam.
Kontak Islam dengan barat sekarang sangat berlainan dengan ketika periode klasik.
Pada periode klasik, Islam tampak gemilang dan Barat tampak kegelapan. Tetapi sekarang
Islam tampak kegelapan dan Barat tampak gemilang. Dengan demikian, timbullah apa yang
disebut pemikiran atau aliran pembaruan atau modernisasi Islam.

B. Masa Kejayaan Islam


Masa Kejayaan Islam (750 M-1258 M) adalah masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan
insinyur di Dunia Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi
dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan
penemuan dan inovasi mereka sendiri.
1. Penyebab
Banyak dari perkembangan dan pembelajaran ini dapat dihubungan dengan geografi.
Bahkan sebelum kehadiran Islam, kota Mekah merupakan pusat perdagangan di Jazirah
Arab dan Nabi Muhammad SAW sendiri merupakan seorang pedagang. Tradisi ziarah ke
Mekah menjadi pusat pertukaran gaagasan dan barang. Pengaruh yang dipegang oleh
para pedagang Muslim atas jalur perdagangan Afrika-Arab dan Arab-Asia sangat besar
sekali. Akibatnya, peradaban Islam tumbuh, berkembang, dan meluas dengan
berdasarkan pada ekonomi dagangnya, berkebalikan dengan orang-orang Kristen, India,
dan Cina yang membangun masyarakat dengan berdasarkan kebangsawanan kepemilikan
tanah pertanian. Pedagang membawa barang dagangan dan menyebarkan agama mereka
ke Cina (berujung pada banyaknya penduduk Islam di Cina dengan perkiraan jumlah
sekitar 37 juta orang, yang terutama merupakan etnis Uyghur Turk yang wilayahnya
dikuasai oleh Cina), India, Asia tenggara, dan kerajaan-kerajaan di Afrika barat. Ketika
para pedagang itu kembali ke Timur Tengah, mereka membawa serta penemuan-
penemuan dan ilmu pengetahuan baru dari tempat-tempat tersebut.

2. Filsafat
Hanya dalam bidang filsafat, para ilmuwan Islam relatif dibatasi dalam menerapkan
gagasan-gagasan nonortodoks mereka. Meskipun demikian, Ibnu Rushd dan polimat
Persia Ibnu Sina membberikan kontribusi penting dalam melanjutkan karya-karya
Aristoteles, yang gagasan-gagasannya mendominasi pemikiran nonkeagamaan dunia
Islam dan Kristen. Mereka juga mengadopsi gagasan-gagasan dari Cina dan India, yang
dengan demikian menambah pengetahuan mereka yang sudah ada sebelumnya. Ibnu Sina
dan para pemikir spekulatif lainnya seperti al-Kindi dan al-Farabi menggabungkan
Aristotelianisme dan Neoplatonisme dengan gagasan-gagasan lainnya yang
diperkenalkan melalui Islam.
Literatur filsafat Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan bahasa Ladino, yang
ikut membantu perkembangan filsafat Eropa modern. Sosiolog-sejarawan Ibnu Khaldun,
warga Kartago Konstantinus orang Afrika yang menerjemahkan naskah-naskah
kedokteran Yunani dan kumpulan teknik matematika Al-Khwarzimi adalah tokoh-tokoh
penting pada Zaman Kejayaan Islam. Pada masa ini juga terjadi perkembangan filsuf
non-Muslim. Filsuf Yahudi Moses Maimonides yang tinggal di Andalusia adalah salah
satu contohnya.
3. Sains
Banyak ilmuwan penting Islam yang hidup dan berkegiatan selama Zaman Kejayaan
Islam. Di antara pencapaian para ilmuwan pada periode ini antara lain perkembangan
trigonometri ke dalam bentuk modernnya (sangat menyederhanakan penggunaan
praktiknya untuk memperhitungkan fase bulan), kemajuan pada bidang optik pada
Cammera Obscura 200 tahun sebelum Leonardo Da Vinci, memberi komentar pada
Euklides dan Ptolomeus perihal penembusan dan perjalanan sinar,[1] dan kemajuan pada
bidang astronomi.

4. Kedokteran
Kedokteran adalah bagian penting dari kebudayaan Islam Abad Pertengahan. Sebagai
tanggapan atas keadaan pada waktu dan tempat mereka, para dokter Islam mengembangkan
literature medis yang kompleks dan banyak yang meneliti dan menyintesa teori dan praktik
kedokteran.
Kedokteran Islam dibangun dari tradisi, terutama pengetahuan teoretis dan praktis yang
telah berkembang sebelumnya di Yunani, Romawi, dan Persia. Bagi para ilmuwan Islam,
Galen dan Hippokrates adalah orang-orang yang unggul, disusul oleh para ilmuwan Hellenik
di Iskandariyah. Para ilmuwan Islam menerjemahkan banyak sekali tulisan-tulisan Yunani ke
bahasa Arab dan kemudian menghasilkan pengetahuan kedokteran baru dari naskah-naskah
tersebut. Untuk menjadikan tradisi Yunani lebih mudah diakses, dipahami, dan diajarkan,
para ilmuwan islam mengusulkan dan menjadikan lebih sistematis pengetahuan kedokteran
Yunani-Romawi yang luas dan kadang inkonsisten dengan cara menulis ensikolpedia dan
ikhtisar.
Pembelajaran Yunani dan Latin dipandang sangat jelek di Eropa Kristen Abad
Pertengahan Awal, dan baru pada abad ke-12, setelah adanya penerjemahan dari bahasa Arab
membuat Eropa Abad Pertengahan kembali mempelajari kedokteran Hellenik, termasuk
karya-karya Galen dan Hippokrates. Jauh sebelum itu, bangsa Eropa telah banyak belajar
dengan umat Islam dalam hal kedokteran. Di Sisilia, sebuah sekolah kedokteran dengan
dokter-dokter Muslim sebagai pengajarnya, menjadi sumber ilmu kedokteran di Eropa.[2]
Dengan memberikan pengaruh yang setara atau mungkin lebih besar di Eropa Barat adalah
Kanon Kedokteran karya Ibnu Sina, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan
dibuat manuskrip lalu dicetak dan disebarkan ke seluruh Eropa. Selama abad kelima belas
dan keenam belas saja, karya tersebut diterbitkan lebih dari lima kali. Sejarah mencatat, ada
sekitar 300 buku kedokteran yang diterjemahkan bangsa Eropa.
Di dunia Islam Abad Pertengahan, rumah sakit mulai dibangun di semua kota besar,
misalnya di Kairo, rumah sakit Qalawun memiliki staf pegawai yang terdiri dari dokter,
apoteker, dan suster. Orang juga dapat mengakses apotek, dan fasilitas penelitian yang
menghasilkan kemajuan pada pemahaman mengenai penyakit menular, dan penelitian
mengenai mata serta mekanisme kerja mata.

5. Perdagangan
Selain di sungai Nil, Tigris dan Efrat, sungai-sungai yang dapat dilalui tidaklah banyak, jadi
perjalanan lewat laut menjadi sangat penting. Ilmu navigasi amat sangat berkembang,
menghasilkan penggunaan sekstan dasar (dikenal sebagai kamal). Ketika digabungankna
dengan peta terinci pada periode ini, para pelaut berhasil berlayar menjelajahi samudara dan
tak lagi perlu bersusah payah melalui gurun pasir. Para pelaut muslim juga berhasil
menciptakan kapal dagang besar bertiang tiga ke Laut Tengah. Nama karavel kemungkinan
berasal dari perahu terawal Arab yang dikenal sebagai qārib.[3] Sebuah kanal buatan yang
menghubungkan sungai Nil dengan Terusan Suez dibangun, menghubungkan Laut Merah
dengan Laut Tengah meskipun itu sering berlumpur.

C. Tokoh-tokoh Pada Masa Kejayaan Islam


1. Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd (Ibnu Rushdi, Ibnu Rusyid) dalam bahasa Arab ‫ ابن رشد‬dan dalam bahasa Latin
Averroes, adalah seorang filsuf dari Spanyol (Andalusia).
a. Ikhtisar
Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah
(1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya.
Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta.
Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu
Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja'far Harun dan Ibnu Baja.
Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan
ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai "Kadi"
(hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan
komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang memengaruhi filsafat Kristen pada abad
pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi
Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.
b. Pemikiran Ibnu Rusyd
Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk
karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan
ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya
aslinya sudah tidak ada. Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti
yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan; dan filsafat Ibnu Rusyd tentang
akidah dan sikap keberagamaannya.
c. Karya
1. Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih)
2. Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran)

2. Al-Ghazali
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir di
Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53
tahun) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di
dunia Barat abad Pertengahan. Ia berkuniah Abu Hamid karena salah seorang anaknya
bernama Hamid. Gelar dia al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan ayahnya yang bekerja
sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus,
Khurasan, Persia (Iran). Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa dia bermazhab
Syafi'i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi
yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang
ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan
bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jawatan sebagai Naib
Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali
meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111
Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.

a. Sifat Pribadi
Imam al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak berhujjah. Ia digelar Hujjatul
Islam karena kemampuannya tersebut. Ia sangat dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk
dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Ia berjaya menguasai pelbagai
bidang ilmu pengetahuan. Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ia juga
sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengembara serta
meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan. Sebelum dia memulai
pengembaraan, dia telah mempelajari karya ahli sufi ternama seperti al-Junaid Sabili dan
Bayazid Busthami. Imam al-Ghazali telah mengembara selama 10 tahun. Ia telah
mengunjungi tempat-tempat suci di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah,
Jerusalem, dan Mesir. Ia terkenal sebagai ahli filsafat Islam yang telah mengharumkan
nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi. Sejak kecil lagi
dia telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan dia benci kepada sifat
riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lain. Ia sangat kuat beribadat,
wara', zuhud, dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan, kemegahan dan mencari
sesuatu untuk mendapat ridha Allah SWT.
b. Pendidikan
Pada tingkat dasar, dia mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena
kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan dia
menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang mendalam
terhadap ilmu, dia mula mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fiqih,filsafat,
dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab hingga mahir dalam bidang yang
dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut. Selepas itu, dia melanjutkan pelajarannya dengan
Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih, Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam
Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, dia telah
dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiyah (sebuah universitas yang didirikan
oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijrah. Kemudian dia dilantik pula
sebagai Naib Kanselor di sana. Ia telah mengembara ke beberapa tempat seperti
Mekkah,Madinah,Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana
untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, dia menulis kitab
Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran
manusia dalam semua masalah.
3. Al Kindi

Abu Yūsuf Yaʻqūb ibn ʼIsḥāq aṣ-Ṣabbāḥ al-Kindī (Arab: ‫الصبّاح إسحاق بن يعقوب يوسف أبو‬
‫الكندي‬, Latin: Alkindus) (lahir: 801 - wafat: 873), dikenal sebagai filsuf pertama yang lahir
dari kalangan Islam. Semasa hidupnya, selain bisa berbahasa Arab, ia mahir berbahasa
Yunani. Banyak karya-karya para filsuf Yunani diterjemahkannya dalam bahasa Arab;
antara lain karya Aristoteles dan Plotinos. Sayangnya ada sebuah karya Plotinus yang
diterjemahkannya sebagai karangan Aristoteles yang berjudul Teologi menurut Aristoteles,
yang di kemudian hari menimbulkan sedikit kebingungan.

Ia adalah filsuf berbangsa Arab dan dipandang sebagai filsuf Muslim pertama. Secara
etnis, al-Kindi lahir dari keluarga berdarah Arab yang berasal dari suku Kindah, salah satu
suku besar daerah Jazirah Arab Selatan. Salah satu kelebihan al-Kindi adalah
menghadirkan filsafat Yunani kepada kaum Muslimin setelah terlebih dahulu
mengislamkan pikiran-pikiran asing tersebut.

Al Kindi telah menulis banyak karya dalam pelbagai disiplin ilmu, dari metafisika, etika,
logika dan psikologi, hingga ilmu pengobatan, farmakologi, matematika, astrologi dan
optik, juga meliputi topik praktis seperti parfum, pedang, zoologi, kaca, meteorologi dan
gempa bumi.

Di antaranya ia sangat menghargai matematika. Hal ini disebabkan karena matematika,


bagi al-Kindi, adalah mukaddimah bagi siapa saja yang ingin mempelajari filsafat.
Mukaddimah ini begitu penting sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk mencapai
keahlian dalam filsafat tanpa terlebih dulu menguasai matematika. Matematika di sini
meliputi ilmu tentang bilangan, harmoni, geometri dan astronomi.

Yang paling utama dari seluruh cakupan matematika di sini adalah ilmu bilangan atau
aritmetika karena jika bilangan tidak ada, maka tidak akan ada sesuatu apapun.

Al-Kindi membagi daya jiwa menjadi tiga: daya bernafsu (appetitive), daya pemarah
(irascible), dan daya berpikir (cognitive atau rational). Sebagaimana Plato, ia
membandingkan ketiga kekuatan jiwa ini dengan mengibaratkan daya berpikir sebagai sais
kereta dan dua kekuatan lainnya (pemarah dan nafsu) sebagai dua ekor kuda yang menarik
kereta tersebut. Jika akal budi dapat berkembang dengan baik, maka dua daya jiwa lainnya
dapat dikendalikan dengan baik pula. Orang yang hidupnya dikendalikan oleh dorongan-
dorongan nafsu birahi dan amarah diibaratkan al-Kindi seperti anjing dan babi, sedang
bagi mereka yang menjadikan akal budi sebagai tuannya, mereka diibaratkan sebagai raja.

Menurut al-Kindi, fungsi filsafat sesungguhnya bukan untuk menggugat kebenaran wahyu
atau untuk menuntut keunggulan yang lancang atau menuntut persamaan dengan wahyu.
Filsafat haruslah sama sekali tidak mengajukan tuntutan sebagai jalan tertinggi menuju
kebenaran dan mau merendahkan dirinya sebagai penunjang bagi wahyu.

Ia mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang segala sesuatu sejauh jangkauan


pengetahuan manusia. Karena itu, al-Kindi dengan tegas mengatakan bahwa filsafat
memiliki keterbatasan dan bahwa ia tidak dapat mengatasi problem semisal mukjizat,
surga, neraka, dan kehidupan akhirat. Dalam semangat ini pula, al-Kindi mempertahankan
penciptaan dunia ex nihilio, kebangkitan jasmani, mukjizat, keabsahan wahyu, dan
kelahiran dan kehancuran dunia oleh Tuhan.

Al-Kindi mengumpulkan berbagai karya filsafat secara ensiklopedis, yang kemudian


diselesaikan oleh Ibnu Sina (Avicenna) seabad kemudian. Ia juga tokoh pertama yang
berhadapan dengan berbagai aksi kejam dan penyiksaan yang dilancarkan oleh para
bangsawan religius-ortodoks terhadap berbagai pemikiran yang dianggap bid'ah, dan
dalam keadaan yang sedemikian tragis (terhadap para pemikir besar Islam), al Kindi dapat
membebaskan diri dari upaya kejam para bangsawan religius-ortodoks itu.

4. Al Farabi

Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi' (870-950, Bangsa Turk: Farabi, Bahasa
Persia: ‫ ) فارابی محمد‬singkat Al-Farabi adalah ilmuwan dan filsuf Islam berasal dari Farab,
Kazakhstan.[1] Ia juga dikenal dengan nama Abū Nasir al-Fārābi (dalam beberapa sumber
ia dikenal sebagai Abu Nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Uzalah Al-
Farabi, juga dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir.
Kemungkinan lain, Farabi adalah seorang Syi’ah Imamiyah[2] (Syiah Imamiyah adalah
salah satu aliran dalam islam di mana yang menjadi dasar aqidah mereka adalah soal
Imam) yang berasal dari Turki.

a. Kehidupan dan pembelajaran


Al-Farabi berpakaian rapi sejak kecil. Ayahnya seorang opsir tentara Turki keturunan
Persia, sedangkan ibunya berdarah Turki asli. Sejak dini ia digambarkan memiliki
kecerdasan istimewa dan bakat besar untuk menguasai hampir setiap subyek yang
dipelajari. Pada masa awal pendidikannya ini, al-Farabi belajar al-Qur’an, tata bahasa,
kesusasteraan, ilmu-ilmu agama (fiqh, tafsir dan ilmu hadits) dan aritmetika dasar.Al-
Farabi muda belajar ilmu-ilmu islam dan musik di Bukhara, dan tinggal di Kazakhstan
sampai umur 50. Ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu di sana selama 20
tahun.Setelah kurang lebih 10 tahun tinggal di Baghdad, yaitu kira-kira pada tahun 920 M,
al Farabi kemudian mengembara di kota Harran yang terletak di utara Syria, di mana saat
itu Harran merupakan pusat kebudayaan Yunani di Asia kecil. Ia kemudian belajar filsafat
dari Filsuf Kristen terkenal yang bernama Yuhana bin Jilad.Tahun 940M, al Farabi
melajutkan pengembaraannya ke Damaskus dan bertemu dengan Sayf al Dawla al
Hamdanid, Kepala daerah (distrik) Aleppo, yang dikenal sebagai simpatisan para Imam
Syi’ah. Kemudian al-Farabi wafat di kota Damaskus pada usia 80 tahun (Rajab 339 H/
Desember 950 M) pada masa pemerintahan Khalifah Al Muthi’ (masih dinasti
Abbasiyyah).Al-Farabi adalah seorang komentator filsafat Yunani yang ulung di dunia
Islam. Meskipun kemungkinan besar ia tidak bisa berbahasa Yunani, ia mengenal para
filsuf Yunani; Plato, Aristoteles dan Plotinus dengan baik. Kontribusinya terletak di
berbagai bidang seperti matematika, filosofi, pengobatan, bahkan musik. Al-Farabi telah
menulis berbagai buku tentang sosiologi dan sebuah buku penting dalam bidang musik,
Kitab al-Musiqaa. Selain itu, ia juga dapat memainkan dan telah menciptakan bebagai alat
musik. Al-Farabi dikenal dengan sebutan "guru kedua" setelah Aristoteles, karena
kemampuannya dalam memahami Aristoteles yang dikenal sebagai guru pertama dalam
ilmu filsafat. Dia adalah filsuf Islam pertama yang berupaya menghadapkan,
mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan
Islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu.
Al-Farabi hidup pada daerah otonomi di bawah pemerintahan Sayf al Dawla dan di zaman
pemerintahan dinasti Abbasiyyah, yang berbentuk Monarki yang dipimpin oleh seorang
Khalifah. Ia lahir dimasa kepemimpinan Khalifah Mu’tamid (869-892 M) dan meninggal
pada masa pemerintahan Khalifah Al-Muthi’ (946-974 M) di mana periode tersebut
dianggap sebagai periode yang paling kacau karena ketiadaan kestabilan politik. Dalam
kondisi demikian, al-Farabi berkenalan dengan pemikiran-pemikiran dari para ahli Filsafat
Yunani seperti Plato dan Aristoteles dan mencoba mengkombinasikan ide atau pemikiran-
pemikiran Yunani Kuno dengan pemikiran Islam untuk menciptakan sebuah negara
pemerintahan yang ideal (Negara Utama).

b. Buah Pemikiran
1. Karya
Selama hidupnya al Farabi banyak berkarya. Jika ditinjau dari Ilmu Pengetahuan, karya-
karya al- Farabi dapat ditinjau menjdi 6 bagian
2. Logika
a. Ilmu-ilmu Matematika
b. Ilmu Alam
c. Teologi
d. Ilmu Politik dan kenegaraan
e. Bunga rampai (Kutub Munawwa’ah).

Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama)
yang membahas tetang pencapaian kebahagian melalui kehidupan politik dan hubungan
antara rejim yang paling baik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah islam.
Filsafat politik Al-Farabi, khususnya gagasannya mengenai penguasa kota utama
mencerminkan rasionalisasi ajaran Imamah dalam Syi'ah.

3. Pemikiran tentang Asal-usul Negara dan Warga Negara


Menurut Al-Farabi manusia merupakan warga negara yang merupakan salah satu syarat
terbentuknya Negara. Oleh karena manusia tidak dapat hidup sendiri dan selalu
membutuhkan bantuan orang lain, maka manusia menjalin hubungan-hubungan (asosiasi).
Kemudian, dalam proses yang panjang, pada akhirnya terbentuklah suatu Negara. Menurut
Al-Farabi, negara atau kota merupakan suatu kesatuan masyarakat yang paling mandiri
dan paling mampu memenuhi kebutuhan hidup antara lain: sandang, pangan, papan, dan
keamanan, serta mampu mengatur ketertiban masyarakat, sehingga pencapaian
kesempurnaan bagi masyarakat menjadi mudah. Negara yang warganya sudah mandiri dan
bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang nyata , menurut al-Farabi, adalah Negara
Utama.
Menurutnya, warga negara merupakan unsur yang paling pokok dalam suatu Negara. yang
diikuti dengan segala prinsip-prinsipnyaprinsip-prinsipnya (mabadi) yang berarti dasar,
titik awal, prinsip, ideologi, dan konsep dasar.
Keberadaan warga negara sangat penting karena warga negaralah yang menentukan sifat,
corak serta jenis Negara. Menurut Al-Farabi perkembangan dan/atau kualitas negara
ditentukan oleh warga negaranya. Mereka juga berhak memilih seorang pemimpin negara,
yaitu seorang yang paling unggul dan paling sempurna di antara mereka.
Negara Utama dianalogikan seperti tubuh manusia yang sehat dan utama, karena secara
alami, pengaturan organ-organ dalam tubuh manusia bersifat hierarkis dan sempurna. Ada
tiga klasifikasi utama:
Pertama, jantung. Jantung merupakan organ pokok karena jantung adalah organ pengatur
yang tidak diatur oleh organ lainnya.
Kedua, otak. Bagian peringkat kedua ini, selain bertugas melayani bagian peringkat
pertama, juga mengatur organ-ogan bagian di bawahnya, yakni organ peringkat ketiga,
seperti : hati, limpa, dan organ-organ reproduksi.
Organ bagian ketiga. Organ terbawah ini hanya bertugas mendukung dan melayani organ
dari bagian atasnya.

Al-Farabi membagi negara ke dalam lima bentuk, yaitu:

a. Negara Utama (Al-Madinah Al-Fadilah): negara yang dipimpin oleh para nabi dan
dilanjutkan oleh para filsuf; penduduknya merasakan kebahagiaan.
b. Negara Orang-orang Bodoh (Al-Madinah Al-Jahilah): negara yang penduduknya tidak
mengenal kebahagiaan.
c. Negara Orang-orang Fasik: negara yang penduduknya mengenal kebahagiaan, tetapi
tingkah laku mereka sama dengan penduduk negara orang-orang bodoh.
d. Negara yang Berubah-ubah (Al-Madinah Al-Mutabaddilah): pada awalnya penduduk
negara ini memiliki pemikiran dan pendapat seperti penduduk negara utama, namun
kemudian mengalami kerusakan.
e. Negara Sesat (Al-Madinah Ad-dallah): negara yang dipimpin oleh orang yang
menganggap dirinya mendapat wahyu dan kemudian ia menipu orang banyak dengan
ucapan dan perbuatannya.
4. Pemikirannya Tentang Pemimpin
Dengan prinsip yang sama, seorang pemimpin negara merupakan bagian yang paling
penting dan paling sempurna di dalam suatu negara. Menurut Al Farabi, pemimpin adalah
seorang yang disebutnya sebagai filsuf yang berkarakter Nabi yakni orang yang
mempunyai kemampuan fisik dan jiwa (rasionalitas dan spiritualitas).
Disebutkan adanya pemimpin generasi pertama (the first one – dengan segala
kesempurnaannya (Imam) Selanjutnya al-Farabi mengingatkan bahwa walaupun kualitas
lainnya sudah terpenuhi , namun kalau kualitas seorang filsufnya tidak terpenuhi atau tidak
ambil bagian dalam suatu pemerintahan, maka Negara Utama tersebut bagai “kerajaan
tanpa seorang Raja”. Oleh karena itu, Negara dapat berada diambang kehancuran. dan
karena sangat sulit untuk ditemukan (keberadaannya) maka generasi kedua atau generasi
selanjutnya sudah cukup, yang disebut sebagai (Ra’is) atau pemimpin golongan kedua.

5. Ibnu Sina

Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf,
ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang Iran). Ia juga seorang penulis yang
produktif di mana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi
banyak orang, dia adalah "Bapak Pengobatan Modern" dan masih banyak lagi sebutan
baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran.
Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan Referensi di bidang
kedokteran selama berabad-abad. Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin
‘Abdullāh bin Sīnā (Persia ‫ سينا ابوعلى‬Abu Ali Sina atau dalam tulisan arab : ‫بن الحسين علي أبو‬
‫)سينا بن هللا عبد‬. Ibnu Sina lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang
wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamada n,
Persia (Iran).Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar.
Banyak di antaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak
orang sebagai "bapak kedokteran modern." George Sarton menyebut Ibnu Sina "ilmuwan
paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat,
dan waktu". Karyanya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of
Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).

a. Latar Belakang
Ibnu Sina merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dokter dan penulis aktif yang
lahir di zaman keemasan Peradaban Islam. Pada zaman tersebut ilmuwan-ilmuwan
muslim banyak menerjemahkan teks ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia dan India.
Teks Yunani dari zaman Plato, sesudahnya hingga zaman Aristoteles secara intensif
banyak diterjemahkan dan dikembangkan lebih maju oleh para ilmuwan Islam.
Pengembangan ini terutama dilakukan oleh perguruan yang didirikan oleh Al-Kindi.
Pengembangan ilmu pengetahuan pada masa ini meliputi matematika, astronomi,
Aljabar, Trigonometri, dan ilmu pengobatan. Pada zaman Dinasti Samayid dibagian
timur Persian wilayah Khurasan dan Dinasti Buyid dibagian barat Iran dan Persian
memberi suasana yang mendukung bagi perkembangan keilmuan dan budaya. Di
zaman Dinasti Samaniyah, Bukhara dan Baghdad menjadi pusat budaya dan ilmu
pengetahun dunia Islam. Ilmu ilmu lain seperti studi tentang Al-Quran dan Hadist
berkembang dengan perkembangan dengan suasana perkembangan ilmiah. Ilmu lainya
seperti ilmu filsafat, Ilmu Fikih, Ilmu Kalam sangat berkembang dengan pesat. Pada
masa itu Al-Razi dan Al-Farabi menyumbangkan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu
pengobatan dan filsafat. Pada masa itu Ibnu Sina memiliki akses untuk belajar di
perpustakaan besar di wilayah Balkh, Khwarezmia, Gorgan, Kota Ray, Kota Isfahan
dan Hamedan. Selain fasilitas perpustakaan besar yang memiliki banyak koleksi buku,
pada masa itu hidup pula beberapa ilmuwan muslim seperti Abu Raihan Al-Biruni
seorang astronom terkenal, Aruzi Samarqandi, Abu Nashr Mansur seorang
matematikawan terkenal dan sangat teliti, Abu al-Khayr Khammar seorang fisikawan
dan ilmuwan terkenal lainya.

b. Karya Ibnu Sina


Jumlah karya yang ditulis Ibnu Sina (diperkirakan antara 100 sampai 250 buah
judul). Kualitas karyanya yang bergitu luar biasa dan keterlibatannya dalam praktik
kedokteran, mengajar, dan politik, menunjukkan tingkat kemampuan yang luar biasa.
Beberapa Karyanya yang sangat terkenal di antara lain :
1. Qanun fi Thib (Canon of Medicine) (Terjemahan bebas : Aturan Pengobatan)
2. Asy Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan)
3. An Najat
4. Mantiq Al Masyriqin (Logika Timur)

Selain karya filsafatnya tersebut, Ibnu Sina meninggalkan sejumlah esai dan syair.
Beberapa esainya yang terkenal adalah :

1. Hayy ibn Yaqzhan


2. Risalah Ath-Thair
3. Risalah fi Sirr Al-Qadar
4. Risalah fi Al- 'Isyq
5. Tahshil As-Sa'adah

Dan beberapa Puisi terpentingnya yaitu :

1. Al-Urjuzah fi Ath-Thibb
2. Al-Qasidah Al-Muzdawiyyah
3. Al-Qasidah Al- 'Ainiyyah

Bab III
Penutup

1. Kesimpulan
Selama 500 tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan, dan
peradabannya yang tinggi. Periode tersebut terjadi pada saat para filsuf, ilmuwan, dan insinyur
muslim bisa memberikan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan
kebudayaan. Mereka melakukannya baik dengan menjaga tradisi yang telah ada maupun
dengan menciptakan penemuan-penemuan sendiri.
Sekitar 750 M sampai sekarang adalah masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan insinyur di
Dunia Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan
kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan
penemuan dan inovasi mereka sendiri. Banyak dari perkembangan dan pembelajaran ini dapat
dihubungkan dengan geografi. Bahkan sebelum kehadiran Islam, kota Makkah merupakan
pusat perdagangan di Jazirah Arab dan Muhammad sendiri merupakan seorang pedagang.
Banyak sekali tokoh Islam yang memiliki keahlian dalam berbagai bidang ilmu yaitu:
Ibnu Rusyid, Al-Ghazali, Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina.
Daftar Pustaka

Buku PAI Kelas XI Untuk SMA/MA/SMK/MAK, K. 2013

http://id.wikipedia.org

http://www.google.com