Anda di halaman 1dari 11

Pengaruh Mekanisme Kontraski dan Relaksasi pada Kerja Otot

Tristi Lukita Wening

102012151 / A3

Fakultas Kedokteran

Universitas Kristen Krida Wacana

Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510. Telephone : (021) 5694-2061, fax : (021) 563-1731

Pendahuluan

Bergerak merupakan salah satu ciri makhluk hidup. Sebagai makhluk hidup, manusia
dapat bergerak oleh karena adanya suatu jaringan yang disebut jaringan otot. Otot merupakan
alat gerak aktif pada manusia karena otot dapat melakukan gerakan memendek (kontraksi)
dan melemas (relaksasi). Dalam melakukan gerakan, otot tentu saja memerlukan energy agar
dapat melakukannya, energy tersebut merupakan Adenosin Tri Posphat (ATP) yang dapat
diperoleh dari metabolism otot baik secara aerob maupun anaerob. Otot juga merupakan
jaringan yang berperan penting dalam melakukan aktivitas sehari-hari pada manusia. Secara
anatomi, otot diklasifikasikan menjadi tiga jenis otot yaitu otot rangka, otot polos dan otot
jantung. Jika manusia tidak memiliki otot, tidak dapat bergeraklah manusia itu. Namun otot
juga memiliki keterbatasan dalam bekerja dan tidak bisa dipaksa untuk melakukan kegiatan
terus menerus.

Istilah yang Tidak Diketahui


Myastnemia gravis : adalah penyakit autoimun yang disebabkan oleh rusaknya aktivitas
antibodi terhadap reseptor asetilkolin dari neuromuscular junction.1

1
Pembahasan
Jenis-jenis Otot

Secara mikroskopis, otot memiliki jaringan yang dibedakan menjadi beberapa jenis.
Tiga jenis jaringan otot dapat dibedakan berdasarkan bentuk dan fungsi masing-masing. Otot
rangka terbentuk dari sekumpulan sel yang panjang, silinder, dan multinukleus yang terlihat
adanya seran lintang. Kontraksinya cepat, bertenaga, dan biasanya dibawah kesadaran. Hal
ini disebabkan dari interaksi filamen tipis aktin dan filamen tebal miosin dimana konfigurasi
molekulnya membiarkan mereka menyelip satu sama lain. Kekuatan menyelip itu dihasilkan
dari interaksi yang lemah di dalam jembatan antara aktin dan miosin.Otot polos terdapat pada
saluran pencernaan, saluran perkemihan, dan pembuluh darah. Otot ini dipersarafi oleh sistem
saraf otonom dan kontraksinya tidak di bawah control keinginan. Otot jantung juga memiliki
seran lintang dan berbentuk memanjang, bercabang dan terbentang paralel satu sama lain. Di
batas antar serat disebut diskus interkalaris, struktur ini ditemukan hanya di otot jantung.
Kontraksi dari otot jantung tidak disadari, kuat, dan berirama. Otot jantung terdiri dari sel
fusiform yang tidak menunjukkan garis melintang. Proses kontraksinya lambat dan tidak
disadari.1

Gambar 1. Otot Rangka.1 Gambar 2. Otot Jantung.1

Gambar 3. Otot Polos.1

2
Otot Rangka

Otot rangka dihubungkan ke tulang melalui tendon. Tendon mengerakkan tulang


dengan kontraksi otot rangka, yang dikontrol oleh neuron motorik bawah dari medula
spinalis. Satu neuron motorik dapat mempersarafi beberapa serabut otot. Neuron motorik dan
seluruh serabut otot yang dipersarafinya disebut unit motorik. Secara umum, otot yang
memiliki kontrol halus hanya memiliki sedikit serabut otot yang dipersarafi oleh neuron
motorik tunggal. Otot yang tidak memerlukan kontrol halus (yaitu otot yang menunjang
punggung) terdiri atas banyak serabut otot per neuron motorik.2

Sel otot rangka adalah sel yang sangat berdiferensiasi yang tumbuh selama
embriogenesis dan setelah itu dalam kehidupan di bawah kontrol faktor pertumbuhan,
hormon dan stimulus fisik. Selama embriogenesis, sel otot rangka mengalami hiperplasia
(peningkatan jumlah sel) dan hipertrofi (peningkatan ukuran sel). Setelah embriogenesis, sel
otot rangka terus mengalami hipertrofi sebagai respons terhadap stimulus tertentu, termasuk
olahraga, namun tidak lagi mengalami hiperplasia. Miostatin protein, yang juga dikenal
sebagai “faktor pertumbuhan dan diferensiasi-8”, diidentifikasi memiliki peran penting dalam
pengaturan pertumbuhan otot rangka sebelum dan sesudah kelahiran, dengan membatasi
pertumbuhan dan reproduksi serabut sel otot. 2

Gambar 4. Otot lengan bawah.3

3
Otot Lengan Bawah

Di bagian depan terdapat fleksor pergelangan tangan, fleksor umum jari, fleksor
panjang ibu jari , dan otot pronator pergelangan tangan. Fleksor umum jari membagi empat
tendon, yang membentang menyilang telapak tangan dan ke atas ujung falang masing-masing
jari, tempat mereka diinsersi. Pada bagian belakang terdapat ekstensor pergelangan tangan,
ekstensor umum jari-jari, ekstensor ibu jari dan jari pertama, dan suponator pergelangan
tangan. Tendon otot yang menyilang pergelangan tangan. Tendon otot yang menyilang
pergelangan tangan diikat ke bawah oleh retinakulum fleksor tepat di atas sendi pergelangan.
Dengan cara yang sama, tendon diikat ke bawah pada jari-jari untuk mempertahankan dekat
dengan tulang.4

Otot tangan

Tangan terdiri dari otot yang sangat halus,yang membuatnya cenderung kaku dan
mempengaruhi fungsinya dalam menggenggam dan mengangkut. Oleh karena itu, banyak
otot yang menggerakannya berada di lengan bawah. Tangan hanya mengandung flekssor
pendek ibu jari. Yang terakhir ini disebut otot interseroseus dan banyak berkembang baik
pada dasar ibu jari dan sedikit meluas ke dasar jari kelingking otot membentuk dan hipotenar
eminem dan memberi kekuatan untuk menggenggam. Di sini adduksi ibu jari sangatlah
penting. 4

Ekstrimitas Atas

Tulang-Tulang ekstrimitaa atas yang membentuk gelang atas yaitu : Skapula,


Klavikula, Humerus,Radius, Ulna. Dan yang membentuk lengan bawah 8 tulang karpal, 5
tulang metacarpal, 14 falanges. Radius merupakan tulang bagian luar pada lengan bawah.
Ujung atasnya lebih kecil dan mempunyai kepala terbentuk piring dengan cekungan pada
permukaan atasnya untuk berartikulasi dengan kapitulum humerus. Kepala radius juga
berartikulasi dengan ulna.4

Ulna terletak pada sisi dalam dari lengan bawah. Ujung atasnya terbentuk seperti
kait dan memiliki dua penonjolan besar. Olekranon merupakan tempat insersi tendon otot
triseps.4

4
Tulang-tulang karpalia terdiri dari 8 tulang yang tersusun dalam 2 baris (masing-masing
terdiri atas 4 tulang). Tulang barisan proksimal dari sisi ibu jari dalam posisi anatomis terdiri
dari tulang navikular, lunatum, triagular, pisiform. Barisan tulang karpal distal terdiri dari
trapezium, trapezoid, kapitatum, hamatum. Tangan tersusun dari lima metakarpal, semua
tulang metakarpal sangat serupa. Kecuali untuk ukuran panjang pertama pada ibu jari. Setiap
tulang metakarpal memiliki sebuah dasar proksimal yang berartikulasi dengan barisan distal
tulang karpal pergelangan tangan. Sebuah batang, dan sebuah kepala terpilin yang
berartikulasi dengan sebuah tulang falang, atau tulang jari. Kepala yulang metakarpal
membentuk buku jari yang menonjol pada tangan.4

Tulang- tulang jari disebut phalanges, tulang tunggalnya lebih sering disebut falang.
Setiap jsri memiliki tiga tulang yaitu tulang falang proksimal, medial dan falang distal. Inu
jari memiliki tulang falang proksimal dan medial.4

Kontraksi Otot

Otot merupakan transduser biokimia utama yang mengubah energi potensial


(kimiawi) menjadi energi kinetik (mekanis). Otot merupakan jaringan tunggal terbesar di
tubuh manusia, membentuk sekitar 25% massa tubuh saat lahir, lebih dari 40% pada orang
dewasa muda, dan kurang dari 30% massa tubuh pada usia lanjut. 5

Bila miofibril diperiksa di bawah mikroskop elektron, tampak bahwa masing-masing


miofibril terdiri atas 2 jenis filamen longitudinal yaitu filamen tebal dan filamen tipis.
Filamen tebal terbatas di pita A mengandung terutama protein miosin. Filamen tipis terletak
di pita I dan memanjang ke dalam pita A tetapi tidak sampai ke dalam zona H. Filamen tipis
mengandung protein aktin, tropomiosin, dan troponin. Bagian miofibril yang terletak atara
dua lempeng Z yang berurutan disebut sarkomer. 5,6

Hubungan bersebelahan antara filamen miosin dan aktin sulit dipertahankan. Hal ini
dipertahankan oleh molekul protein berfilamen yang disebut titin. Molekul titin yang elastis
ini berfungsi sebagai kerangka kerja yang menahan filamen miosin dan aktin agar tetap
berada di tempat sehingga perangkat kontraksi sarkomer akan bekerja. 5

5
Secara umum mekanisme kontraksi otot dimulai dan berakhir dengan tahap-tahap sebagai
berikut. 5,6

1. Suatu potensial aksi berjalan di sepanjang sebuah saraf motorik sampai ke ujungnya
pada serabut otot. Tibanya impuls saraf pada pertautan neuromuskular mengakibatkan
dilepaskannya substansi neurotransmitter berupa asetilkolin dalam jumlah sedikit di
setiap ujung saraf.
2. Asetilkolin bekerja pada area setempat pada membran serabut otot untuk membuka
banyak kanal “bergerbang asetilkolin” melalui molekul-molekul protein yang
terapung pada membran.
3. Perubahan permeabilitas membran yang mengelilingi serabut otot mengakibatkan
terbukanya kanal bergerbang asetilkolin sehing memungkinkan sejumlah besar ion
natrium untuk berdifusi ke bagian dalam membran serabut otot. Peristiwa ini akan
menimbulkan potensial aksi pada membran.
4. Potensial aksi akan berjalan di sepanjang membran serabut otot dengan cara yang
sama seperti potensial aksi berjalan di sepanjang membran serabut saraf sehingga
menimbulkan depolarisasi membran otot. Potensial aksi pada akhirnya menyebabkan
lepasnya sejumlah besar ion kalsium yang tersimpan di dalam retikulum sarkoplasma.
5. Ion-ion kalsium menimbulkan kekuatan menarik antara filamen aktin dan miosin
sehingga kedua filamen bergeser satu sama lain menghasilkan proses kontraksi.
Setelah kurang dari satu detik, ion kalsium dipompa kembali ke dalam retikulum
sarkoplasma dan ion-ion ini tetap tersimpan hingga potensial aksi otot yang baru
datang lagi. Pelepasan ion kalsium dari miofibril menyebabkan otot berhenti
berkontraksi.

Pada keadaan istirahat, kepala miosin dihambat untuk berikatan dengan molekul aktin
karena adanya dua protein lain pada filamen tipis yaitu tropomiosin dan troponin. Tanpa
adanya miosin yang berikatan dengan aktin, energi dari ATP pada kepala miosin tidak dapat
dilepaskan dan jembatan silang tidak dapat berayun sehingga otot tidak dapat berkontraksi.4,5

Bila sebuah potensial aksi berjalan di sepanjang membran serabut otot, terjadi pelepasan
ion kalsium dalam jumlah besar yang dengan cepat mengelilingi miofibril. Ion-ion kalsium
kemudian akan mengaktifkan kekuatan di antara filamen aktin dan miosin sehingga mulai
terjadi kontraksi. Setiap 4 ion kalsium dapat berikatan kuat dengan troponin C. Kompleks
torponin ini akan mengalami perubahan bentuk yang menarik molekul tropomiosin dan

6
memindahkannya lebih dalam ke lekukan antara dua untai aktin. Akibatnya sisi aktif aktin
terbuka dan dapat menarik jembatan silang miosin sehingga terjadi kontraksi. Energi juga
diperlukan untuk berlangsungnya proses kontraksi. Energi ini berasal dari ikatan berenergi
tinggi dari molekul ATP yang berada di kepala miosin, ATP hanya dapat teraktivasi dan
dipecah menjadi ADP dan energi ketika terjadi ikatan antara aktin dan miosin.5

Untuk memenuhi kebutuhan ATP tersebut, serat-serat otot memiliki jalur-jalur alternatif
untuk membetuk ATP. Terdapat 3 langkah berbeda pada proses kontraksi-relaksasi
memerlukan ATP.5

1. Penguraian ATP oleh ATPase miosin menghasilkan energi bagi jembatan silang untuk
melakukan gerakan mengayun yang kuat.
2. Pengikatan molekul ATP segar ke miosin memungkinkan terlepasnya jembatan silang
dari filamen aktin pada akhir gerakan mengayun sehingga siklus dapat diulang. ATP
kemudian diurakan untuk menghasilkan energi bagi ayunan jembatan silang
berikutnya.
3. Transportasi aktif ion-ion kalsium ke retikulum sarkoplasma selama relaksasi
bergantung pada energi yang berasal dari penguraian ATP.

ATP merupakan satu-satunya sumber energi yang dapat secara langsung digunakan untuk
aktivitas-aktivitas tersebut, ATP harus terus menerus diberikan agar aktivitas kontraktil dapat
berlanjut. ATP tersebut bersumber dari pemindahan fosfat berenergi tinggi dari kreatin fosfat
ke ADP, fosforilasi oksidatif (meliputi siklus asam sitrat dan sistem transportasi elektron),
dan glikolisis. 5,6

Otot rangka mengandung banyak glikogen yang terdapat dalam granul dekat dengan pita
I. Pembebasan glukosa dari glikogen bergantung pada glikogen fosforilase otot spesifik.
Glukosa selanjutnya akan mengalami proses glikolisis dilanjutkan ke tahap fosforilasi
oksidatif ketika pasokan oksigen dalam keadaan mencukupi. Selain itu dapat juga digunakan
asam lemak yang berasal dari triasilgliserol jaringan adiposa untuk metabolisme aerob di otot
ketika berada dalam masa relaksasi.5

7
Gambar 5. Siklus ATP untuk Mekanisme Kerja Otot 6

Relaksasi Otot

Apabila berlangsung normal, kontraksi otot akan selalu diikuti dengan relaksasi, yaitu
proses pemulihan sel otot ke keadaan istirahat. Relaksasi otot akan segera terjadi apabila
pemberian rangsangan atau penjalaran impuls ke sel otot dihentikan. Mekanisme relaksasi
pada sel otot mirip dengan proses repolariasi pada sel saraf.7
Secara sederhana, peristiwa relaksasi otot akan terjadi apabila ATP pada kepala
miosin telah habis sehingga miosin tidak lagi dapat berikatan dengan aktin. Relaksasi otot
diawali dengan pengaktifan pompa kalsium yang akan membuat jumlah kalsium turun karena
ion kalsium kembali ke dalam plasma. Dengan kembalinya ion kalsium, maka ia tidak lagi
berikatan dengan troponin dan tropomiosin. Hal ini menyebabkan aktin dan miosin kembali
berpisah, otot kembali memanjang, terjadilah relaksasi.7

8
Energi Untuk Kontraksi Otot

Tri Posphat (ATP) merupakan sumber energy utama untuk kontraksi otot. ATP
berasal dari oksidasi karbohidrat dan lemak. Kontraksi otot merupakan interaksi antara aktin
dan myosin yang memerlukan ATP. ATP akan diurai menjadi ADP.

ATP  ADP + P + energy

ADP AMP +P + energy

Bila energy habis (dalam keadaan ADP AMP +P + energy), otot tidak dapat
berkontraksi lagi. Fase ini disebut fase anaerob. ATP harus dibentuk kembali agar otot dapat
bergerak.

Fosfokreatin merupakan persenyawaan fosfat berenergi tinggi yang terdapat dalam


konsentrasi tinggi pada otot. Fosfokreatin tidak dipakai langsung sebagai sumber energy,
tetapi fosfokreatin dapat memberikan energinya kepada ADP

Fosfokreatin + ADP  Kreatin + ATP

Pada otot lurik jumlah fosfokreatin lebih dari lima kali jumlah ATP. Pemecahan ATP
dan fosfokreatin untuk menghasilkan energy tidak memerlukan oksigen bebas. Oleh sebab
itu, fase kontraksi otot sering disebut fase anaerob.

Pembentukan kembali ATP

Dalam otot tersimpan glikogen (gula otot). Glikogen akan dilarutkan menjadi
laktasidogen. Laktasidogen kemudian diuraikan menjadi glukosa dan asam laktat. Oleh
peristiwa respirasi dengan O2, glukosa akan dioksidasi menghasilkan energy dan melepaskan
CO2 dan H2O. Proses ini semuanya terjadi pada saat otot mengalami relaksasi. Karena pada
relaksasi diperlukan oksigen untuk mengoksidasi glukosa dan atau asam laktat maka fase
relaksasi disebut juga fase aerob.

Produksi Energi (Mekanisme Kerja Enzim Otot)


Sel otot rangka telah sangat disesuaikan untuk melaksanakan kerja mekanik yang
tidak terus-menerus melalui pelepasan energi kimia dan harus memiliki cadangan energi
untuk dapat mengatasi ledakan aktivitas. Energi yang paling siap pakai disimpan dalam
bentuk ATP dan fosfokreatin, yang keduanya merupakan senyawa fosfat yang kaya energi.
Energi kimiawi juga terdapat dalam gudang glikogen, yang membentuk kurang lebih 0,5-1 %

9
dari berat otot. Jaringan otot memperoleh energi yang ditimbun dalam bentuk ATP dan
fosfokreatin yang dihasilkan dari perombakan asam lemak dan glukosa.
Pada otot yang beristirahat selama pemulihan sehabis berkontraksi, substrat utama
ialah asam lemak. Asam lemak dipecah menjadi asetat oleh enzim βoksidasi, yang terletak
dalam matriks mitokondria. Asetat kemudian dioksidasi lebih lanjut lagi oleh siklus asam
sitrat, dengan energi yang dihasilkan disimpan dalam bentuk ATP. Asam lemak merupakan
sumber energi utama dalam otot rangka pada atlet lomba ketahanan, seperti pelari jarak jauh.
Bila otot rangka diberi latihan jangka-pendek (sprint), otot rangka dengan cepat
memetabolisme glukosa (terutama berasal dari cadangan glikogen otot) menjadi laktat,
menyebabkan terjadinya hutang oksigen yang akan diganti selama masa pemulihan. Laktat
yang dibentuk selama latihan ini yang menyebabkan kejang dan nyeri pada otot rangka.5

Potensial Aksi

Potensial aksi adalah perubahan yang cepat pada potensial membrane suatu neuron
atau sel otot. Potensial aksi terjadi apabila depolarisasi cukup besar untuk menyebabkan
membukanya gerbang (pintu) natrium peka-voltase pada sel yang terdapat disepanjang
membrane. Setelah pintu tersebut terbuka, ion natrium menyerbu ke dalam sel. Masuknya ion
natrium secara cepat menyebabkan ion di dalam sel dengan cepat menjadai lebih positif, yang
mencapai sekitar 30mV di sel saraf. Ketika sel menjadi lebih positif, pintu Natrium mulai
menutup dengan cepat. Pada saat ini, pintu kalium, yang juga dipengaruhi oleh potensial
membrane, terbuka, yang memungkinkan ion kalium menyerbu keluar sel. Keluarnya ion
kalium menyebabkan sel kembali bermuatan negative di bagian dalamnya. Pada sel otot,
potensial aksi juga membuka pintu kalsium.8

Potensial aksi adalah keadaan aktif dan sementara pada depolarasi sel yang dramatis,
potensial aksi berbeda dari potensial berjenjang karena beramplitudo atau durasinya tidak
bervariasi. Sebagai gantinya potensial aksi dianggap “all or none” (tuntas atau tidak sama
sekali); apabila listrik atau kimia, atau EPSP, sukup besar untuk membuka saluran natrium
dependen voltase guna mendepolarisasi membrane dengan cukup, potensial aksi terjadi.
Apabila stimulus tersebut tidak tidak cukup untuk menyebabkan depolarisasi dengan tingkat
tertentu, potensial aksi akan terjadi. Tingkat depolarisasi saat neuron mencetuskan potensial
aksi disebut potensial ambang (threshold potention). Pada otot, atau EPP diperlukan untuk
menyebabkan sel otot mencapai ambang dan berkontraksi. Pada saraf, banyak EPSP
diperlukan untuk menyebabkan saraf mencapai ambang.8

10
Kesimpulan

Pada peremupuan yang mengalami lemas dan tidak bisa mengangkat barang ini
diduga mengalami myastnemia gravis yang terdapat gangguan reseptor asetilkolin yang
berguna untuk mengikat kalsium sehingga bisa berikatan dengan aktin dan miosin yang
menghasilkan ATP, ketika ATP berkurang terjadi peningkatan kerja otot yang lebih sehingga
menimbulkan glikolisis anaerob yang menghasilkan asam laktat, sedangkan asam laktat
membuat kelelahan otot.

Daftar Pustaka

1. Mescher AL. Junqueira’s basic histology. Twelfth Edition. United States: McGraw-
Hill Companies; 2010.
2. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Edisi ke-3. Jakarta: EGC; 2009.
3. Cristadoss P. Myasthenia Gravis : Disease Mechanism and Immunointervention. New
Delhi: Kluwer Academic Publisher ; 2000
4. Health Line Info.
Tennis elbow : diagnosis, causes, symptoms, and treatment. 16 december 2012.
diunduh dari http://healthlineinfo.com/tennis-elbow-diagnosis-causes-symptoms-and-
treatment.html 21 maret 2013
5. Roger W. Fisiologi dan Anatomy. jakarta : buku kedokteran EGC ; 2002. hlm 216-
218
6. Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia harper. Edisi ke-27. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.h.582-99.
7. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke-11. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2006.h.74-747.
8. Thomson H. Oklusi. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.h.56

11