Anda di halaman 1dari 23

Yanuar Gustiyana (142030063)

Bab VI

Penghormatan dan Pelaksanaan Atas Perjanjian Internasional

Suatu perjanjian internasional yang sudah memenuhi syarat


untuk mulai berlaku sebagaimana ditentukan di dalam perjanjian itu
sendiri, selanjutnya harus dihormati dan dilaksanakan oleh para pihak
yang terikat, sesuai dengai isi dan jiwa serta semangat dari perjanjian
itu sendiri demi tercapainya maksud dan tujuan. Dalam
pelaksanaannya, kemungkinan bisa lancer sebab sangat sedikit
menghadapi masalah., sehingga maksud dan tujuannya dengan
mudah dicapai. Akan tetapi, tidak jarang timbul masalah yang
mengarah pada terjadinya sengketa antar pihak. Oleh karena itu, demi
menghindari atau mencegah timbulnya sengketa, maka seyogyanya
dipahami tentang asas – asas dari hukum perjanjian internasional,
untuk dijadikan sebagai landasan dalam pelaksanaannya. Asas –
asas tersebut antara lain :

Asas free consent, sudah muncul ketika para pihak


merundingkan dan meyepakati ratifikasi naskah perjanjian.
Keseluruhan proses ini harus dilandasi oleh kebebasan para pihak
menyatakan apa yang merupakan kehendaknya.

Asas itikad baik (good faith), asas ini sudah harus diperhatikan
mulai dari saat paling awalnya, yakni dari pendekatan informal dan
dilanjutkan dengan langkah formal berupa perundingan, penerimaan,
pengotentikan, pengikatan diri, perberlakuan, pelaksanaanya, sampai
dengan paling akhir, yakni berakhirnya suatu perjanjian internasional
dengan segala masalah hukum yang ditinggalkannya.

Asas pacta sunt servanda, asas ini tentulah berkaitan erat


dengan asas itikad baik sebagaimana ditegaskan di dalam pasal 26,
sebab sejauh mana para pihak akan menaati isi perjanjian akan

Page 1 of 23
terlihat dalam praktek pelaksanaanya yang tentu saja harus
didasarkan atas itikad baik dari para pihak yang bersangkutan. Disini
tampak bahwa asas ini berhubungan erat dengan asas itikad baik,
yakni, kewajiban para pihak untuk menaati dan melaksanakan
ketentuan perjanjian haruslah dijiwai oleh asas itikad baik. Keduanya
seperti tidak terpisahkan. Pelaksanaan suatu perjanjian yang tidak
dijiwai dengan itikad baik dari para pihak, sangat boleh jadi tidak akan
mengantarkan mereka kea rah maksud dan tujuan yang hendak
dicapai oleh perjanjian itu.

Selanjutnya, asas pacta tertiis nec nocent nec prosunt yang


mengandung makna, bahwa suatu perjanjian internasional hanya
memberikan hak dan membebani kewajiban terhadap para pihak yang
terikat pada perjanjian itu, atau dengan kata lain, suatu perjanjian
internasional tidak memberikan hak maupun membebani kewajiban
kepada pihak ketiga, kecuali jika pihak itu menyetujuinya. Asas ini
dapat ditemukan dalam pasal 34 konvensi yang menyatakan: “A treaty
does not create either obligations or rights for a third State witout its
concent”.

Asas non – retreoactive menyatakan bahwa suatu kaidah


hukum pada umumnya tidak berlaku surut. Dalam hal ini suatu
perjanjian internasional pun pada dasrnya tidak berlaku surut. Hal ini
secara nyata ditegaskan dalam pasal 28.dari rumusan itu, tampak
bahwa asas tidak berlaku surut (non – retroactive) ini tidaklah bersifat
absolut. Tegasnya, suatu perjanjian internasional masih
dimungkinkan untuk diberlakukan surut jika maksud yang sebaliknya
tampak atau tersimpulkan dari perjanjian itu sendiri, atau secara tegas
dinyatakan demikian.

Di samping itu, asas – asas hukum umum dan asas hukum


internasional pada umunya juga harus diperhatikan baik dalam
pembuatan, lebih – lebih lagi dalam rangka penghormatan dan
pelaksanaan suatu perjanjian internasional, sebab perjanjian

Page 2 of 23
internasional itu sendiri adalah merupakan bagian daru hukum
internasional dan juga sebagai bagian dari hukum pada umumnya.

Ruang Lingkup Teritorial Berlakunya suatu Perjanjian


Internasional

Seuatu Negara yang sudah meratifikasi dan terikat pada suatu


perjanjian internasional, lebih – lebih jika perjanjian internasional itu
sudah mulai berlaku bahkan juga sudah dilaksanakan pada asas atau
tataran internasional, pada tataran internasional atau domestic,
perjanjian itu akan masuk ke dalam dan menjadi bagian dari hukum
nasional Negara – Negara yang sudah meratifikasinya atau
menyatakan persetujuannya untuk terikat sesuai dengan prosedur
yang tentukan di dalam hukum atau peraturan peundang – undangan
nasionalnya masing – masing.

Pada dasarnya yang dimaksud dengan wilayah Negara adalah


sebagaimana lazimnya pengertian wilayah menurut hukum
internasional yang secara lengkap meliputi wilayah daratan termasuk
tanah di bawah daratan, wilayah perairan termasuk dasar laut dan
tanah di bawah wilayah perairan atau laut, dan wilayah ruang udara,
dengan batas – batsnya sesuai dengan hukum internasional serta
diakui oleh masyarakat internasional. Perjanjian internasional yang
menegaskan secara eksplisit tentang ruang lingkup territorial
berlakunya suatu perjanjian internasional.

Pengutamaan Perjanjian Internasional atas Hukum Nasional

Suatu Negara yang telah meratifikasi suatu perjanjian


internasional dan juga telah mengundakan ke dalam hukum
nasionalnya, serta dalam beberapa hal juga telah menjabarkan atau
mentransformasikan ke dalam hukum nasionalnya sendiri, dalam
pelaksanaannya di dalam wilayahnya, juga akan berhadapan dengan
hukum atau peraturan perundang – undangan nasionalnya yang lain.
Dalam hal ini ada beberapa kemungkinan yang akan dihadapi, yakni:

Page 3 of 23
Pertama, substansi maupun isi dan jiwa dari perjanjian itu
sendiri selaras dengan hukum atau peraturan perundang – undangan
nasionalnya.

Kedua, ternyata belakangan baru diketahui (walaupun sebelum


Negara itu meratifikasi sudah dilakukan pengkajian yang mendalam
atas substansinya), yakni setelah perjanjian itu diterapkan oleh
Negara yang bersangkutan, beberapa isi atau ketentuannya ternyata
bertentangan dengan hukum atau perundang – undangan
nasionalnya.

Perjanjian internasional dan pihak ketiga

Sesuai dengan asas pacta tertiis nec nocent nec prosunt, suatu
perjanjian internasional hanyalah memberikan hak dan membebani
kewajiban kepada pihak – pihak yang terikat pada perjanjian tersebut.
Pihak lain atau pihak ketiga yang tidak ada sangkut pautnya dengan
perjanjian itu tentulah tidak berhak menerima hak maupun tidak
memikul kewajiban apapun dari perjanjian itu.

Secara kategori, ada tiga macam pembebanan kewajiban dan


atau pemberian hak yang bersumber dari suatu perjanjian kepada
pihak ketiga, yakni : pertama, pembebanan kewajiban atau pemberian
hak yang sifatnya timbal balik, artinya, hak yang diberikan disertai
dengan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pihak ketiga yang
bersangkutan; kedua, hanya pemberian hak saja tanpa disertai
denganpembebanan atau pelaksanaan kewajiban; ketiga, hanya
berupa pembebanan kewajiban tanpa diimbangi dengan pemberian
hak.

Penarikan Kembali Kewajiban ataupun Hak yang Diberikan


Kepada Negara Ketiga

Page 4 of 23
Penarikan kembali ataupun pengubahan atas kewajiban yang
dibebankan ataupun atas hak yang diberikan kepada pihak ketiga,
secara tegas diperkenankan tetapi hal itu hanya bisa dilakukan
asalkan ada persetujuan dari Negara – Negara peserta dalam
perjanjian pada suatu pihak dan Negara ketiga yang dibebani
kewajiban pada lain pihak. Sudah tentu ada pengecualiannya, yakni,
jika mereka (para pihak) telah mencapai kesepakatan yang lain atau
yang sebaliknya. Oleh karena seperti telah dikemukakan di atas,
bahwa kewajiban adalah suatu beban, dan penarikan kembali ataupun
pengubahan atas kewajiban itu dapat meringankan beban pihak
ketiga yang bersangkutan, maka hal ini dapat dibenarkan.

Pasal 103 Piagam PBB dalam hubungannya dengan Tidak


Berlaku Surutnya suatu Perjanjian Internasional

Para sarjana hukum internasional dalam pembahasan tentang


tidak berlaku surutnya suatu perjanjian suatu perjanjian internasional
sudah umum menghubungkannya dengan pasal 103 piagam PBB
yang selengkapnya menegaskan sebagai berikut:

“dalam hal adanya konflik atau pertentangan antara kewajiban-


kewajiban dari Negara-negara anggota berdasarkan piagam ini dan
kewajiban –kewajiban mereka yang berdasrkan atas perjanjian-
perjanjian internasional yang lainnya, kewajiban-kewajiban yang
berdasarkan atas piagam inilah yang harus diutamakan).

Tampaknya, ketentuan pasal 103 ini pun tidak terlepas dari kedua hal
ini :

Pertama, dilihat dari bentuk hukumnya, piagam PBB ini


sebagaimana istilah piagam dalam bahasa Indonesia sama artinya
dengan istilah charter dalam inggris, yang dalam hukum internasional
merupakan salah satu macam atau jenis dari perjanjian internasional.
Charter ini pun tunduk pada prinsip atau kaidah hukum perjanjian
internasional itu sendiri. Sebagai suatu perjanjian internasional

Page 5 of 23
tentulah tidak boleh diberlakukan surut, kecuali berdasarkan salah
satu dari dua alasan seperti telah dikemukakan di atas.

Kedua, dilihat dari segi substansi hukumnya, piagam PBB ini


mengandung kaidah-kaidah hukum yang tergolong cogens dan
prinsip-prinsip hukum umum.

Ketiga, dalam pasal 103 piagam ini tidak ditentukan, kewajiban-


kewajiban yang terdapat dalam perjanjian internasional.

Keempat, oleh karena jus cogens sebagaimana dimaksudkan


di dalam pasal 53 konvensi adalah suatu kaidah hukum yang diterima
dan diakui oleh masyarakat Negara-negara secara keseluruhan yang
sama sekali tidak boleh dikesampingkan, dan yang hanya dapat
diubah oleh kaidah hukum internasional umum yang muncul
belakangan yang memiliki karakter yang sama, maka dalam hal ini
kewajiban-kewajiban yang terdapat dalam perjanjian yang mungkin
bertentangan dengan jus cogens tersebut.

Oleh karena itu adalah wajar, jika terjadi pertentangan dengan


kaidah hukum yang tergolong jus cogens ataupun tidak sesuai dengan
prinsip hukum umum, maka yang harus diutamakan adalah kaidah
hukum yang tergolong jus cogens ataupun prinsip-prinsip hukum
umum tersebut, baik perjanjian internasional itu ada sebelum ataupun
sesudahnya.

BAB VII

Penafsiran Atas Perjanjian Internasional

Page 6 of 23
Penafsiran atas suatu peraturan hukum memegang peranan
penting dalam ilmu hukum, oleh karena melalui penafsiran inilah
makna yang terkadung di dalamnya maupun maksud dan tujuannya
akan dapat diketahui. Menafsirkan atau menginterpretasikan suatu
peraturan hukum pada hakekatnya adalah usaha untuk memperjelas
substansi peraturan hukum itu sendiri, dalam rangka menemukan
makna ataupun maksud dan tujuannya. Selanjutnya hasil penafsiran
itu dapat digunakan untuk tujuan teoritis-ilmiah, seperti
pengembangan ilmu atau teori hukum itu sendiri, maupun digunakan
untuk tujuan praktis, misalnya diterapkan terhadap suatu kasus atau
perkara yang sedang dihadapi.

Mengapa Suatu Peraturan hukum Perlu Ditafsirkan

Suatu peraturan hukum, terutama peraturan hukum yang


berbentuk tertulis, apa yang tertulis atau tersurat berupa teks atau
naskah itu, tidak selamanya mencerminkan apa yang tersirat di
dalamnya. Hukum tertulis pada umunya adalah merupakan abstraksi
dari pelbagai macam fakta, perilaku anggota masyarakat, ataupun
keadaanyang sejenis. Hukum tertulis sebagai abstraksinya
diusahakan untuk mampu menjangkau semua fakta, perilaku, ataupun
keadaan yang sejenis yang ada atau terjadi pada waktu itu ataupun
diperkirakan akan terjadi pada masa-masa yang akan datang.

Jadi, penafsiran atas peraturan hukum itu sendiri pada


hakekatnya adalah usaha untuk menemukan maknanya yang tepat
sehingga diharapkan penerapannya dapat dilakukan secara tepat
sehingga tujuannya yang tepat akan dapat diwujudkan.

Penafsiran atas Perjanjian Internasional

Hal penting yang patut dicatat dari suatu perjanjian


internasional adalah, sebagaimana perikatan atau perjanjian pada

Page 7 of 23
umumnya, apa yang diformulasikan (yang dapat dilihatdan dibaca)
dalam bentuk teks atau naskah perjanjian adalah merupakan
penuangan atas maksud dan tujuan dari para pihak. Jadi naskah
perjanjian itulah yang pertama harus dipegang sebagai langkah awal
dalam melakukan penafsiran, sebab di dalamnya terkandung maksud
dan tujuan dari para pihak yang juga merupakan maksud dan tujuan
yang hendak dicapai oleh perjanjian itu sendiri.

Dalam doktrin, muncul tiga aliran besar dalam penafsiran atas


suatu perjanjian internasional, yakni aliran yang menekankan pada
naskah perjanjian (textual school), aliran yang menekankan pada
maksud dari pihak (intention of the parties school), dan aliran yang
menekankan pada maksud dan tujuan dari perjanjian (teological
school).

Menurut aliran yang kedua, meskipun sudah ada naskah


perjanjiannya, tetapi dari naskah itu tidak sepenuhnya dapat diketahui
maksud para pihak, sebab bahasa yang tercantum dalam naskah itu
tidak sepenuhnya representative sebagai sarana menuangkan
maksud dari para pihak.

Sedangkan aliran yang ketiga, menitik beratkan pada tujuan


perjanjian. Karena pengaruh dari pelbagai factor, apa yang menjadi
tujuannya belum tentu sama seperti ketika dalam proses perundingan
ataupun seperti yang tertuang dalam naskah perjanjian.. tujuan itu
harus dilihat dalam konteks kekinian maupun yang akan datang,
bukan dalam konteks yang sudah lampau.

BAB VIII

Amandemen dan Modifikasi atas Perjanjian Internasional

Page 8 of 23
Suatu perjanjian internasional yang sudah mulai berlaku dan
bahkan sudah dilaksanakan, mugkin dalam beberapa hal sudah tidak
sesuai lagi, dan oleh karena itu perlu diubah. Kadang-kadang
kebutuhan untuk mengubah beberapa ketentuan suatu perjanjian
internasional sudah dirasakan dan dipandang perlu untuk dilakukan,
sebelum perjanjian itu mulai berlaku, tegasnya ketika telah dibuka
kesempatan untuk meratifikasinya hingga terpenuhinya persyaratan
mulai berlakunya. Namun karena waktu itu perjanjian itu belum mulai
berlaku, jadi belum ada pihak-pihak yang secara yuridis formal terikat,
maka perjanjian itu belum bisa diubah. Pengubahan itu baru bisa
dilakukan, pada saat mulai berlakunya itulah baru mulai terbuka
kesempatan untuk mengubahnya.

Sudah tentu adalah para pihak yang terikat yang dapat


mengubahnya, sebab merekalah yang paling berkepentingan.
Tentang bagaimana cara mengubahnya haruslah dengan mengikuti
prosedur tertentu. Prosedur biasanya ditentukan tersendiri di dalam
salah satu atau beberapa ketentuan perjanjian itu. Sebaliknya jika
perjanjian itu tidak mengaturnya tersendiri, maka prosedur yang dapat
ditempuh adalah prosedur yang mereka sepakati dalam rangka untuk
melakukan pengubahan tersebut.

Amandemen atas Perjanjian Internasional

Amandemen atas perjanjian internasional dapat diartikan


sebagai tindakan formal untuk mengubah ketentuan suatu perjanjian
internasional yang menangkut kepentingan semua pihak. Siapakah
yang dimaksud dengan semua pihak itu? Dalam perjanjian-perjanjian
bilateral ataupun multilateral terbatas atau tertutup, ataupun perjanjian
multilateral yang terbuka tetapi hanya dalam ruang lingkup yang
terbatas, maka para pihak itu adalah Negara-negara yang terikat
dalam perjanjian tersebut. Negara-negara itulah yang berkepentingan
untuk mengubah atau mengamandemen ketentuan perjanjian itu.

Page 9 of 23
Amandemen atas Perjanjian Internasional menurut Konvensi
Wina 1969

Dalam konvensi Wina 1969, tentang amandemen atas


perjanjian internasional, diatur dalam pasal 39 dan 40. Pasal 39
mengatur tentang ketetntuan umum berkenaan dengan amandemen,
sedangkan pasal 40 khusus tentang amandemen atas perjanjian
internasional multilateral. Menurut pasal 39, suatu perjanjian
internasional dapat diamandemen berdasarkan persetujuan semua
pihak yang terikat pada perjanjian tersebut. Sedangkan mengenai
prosedur atau tata cara untuk melakukan amandemen, jika perjanjian
itu tidak mengatur tersendiri, atau para pihak tidak menentukan cara
tersendiri, dapat ditempuh prosedur atau tata cara seperti diatur dalam
bagian II dari konvensi wina 1969. Bagian II dari konvensi wina
mengatur tentang tata cara atau prosedur pembuatan perjanjian
internasional yang dimulai dari tahap perundingan, pengadopsian
naskah perjanjian, pengotentikan naskah perjanjian, persetujuan
untuk terikat pada perjanjian, dan mulai berlakunya perjanjian.

Bentuk Hukum dari Perjanjian Internasional Hasil Amandemen

Jika telah disepakati naskah atau ketentuan perjanjian hasil


amandemen, maka masalah yang perlu ditegaskan lebih dahulu
adalah, dalam bentuk apakah naskah perjanjian hasil amandemen itu
harus ditetapkan. Apakah dalam bentuk perjanjian internasional yang
sama seperti perjanjian yang lama, misalnya jika perjanjian itu
berbentuk sebuah konvensi atau traktat, ataukah dalam bentuk lain,
seperti protocol, persetujuan, dalam teori maupun prakteknya, tidak
ada pengaturan yang pasti tentang bentuk hukumnya.

Persyaratan atas Ketentuan Perjanjian Internasional Hasil


Amandemen

Page 10 of 23
Bahwa semakin sering suatu perjanjian internasional
diamandemen, maka semakin besar pula kemungkinan terbaginya
Negara-negara yang terikat pada perjanjian tersebut. Hal ini terjadi,
karena Negara-negara memiliki kebebasan penuh sebagai
manifestasi dari kedaulatannya, untuk memilih dan menentukan
sendiri kepada ketentuan yang manakah Negara itu hendak
mengikatkan diri. Sebagian Negara ada yang masih tetap bertahan
untuk terikat pada perjanjian yang lama, sebagian lagi ada yang terikat
pada perjanjian hasil amandemen pertama, sebagian lagi pada hasil
amandemen kedua, ketiga, dan demikian seterusnya.

BAB IX

Page 11 of 23
Hubungan Antara Perjanjian Internasional Yang Duluan dan
Belakangan

Dalam hukum perjanjian internasional, jika kemudian muncul


perjanjian baru yang berkenaan dengan obyek yang sama ataupun
serupa dengan perjanjian lama, maka timbul pertanyaan,
bagaimanakah hubungan atar keduanya? Pertanyaan ini tidaklah
begitu mudah, sama tidak mudahnya dengan menjawab pertanyaan,
apakah yang dimaksud dengan perjanjian internasional lama dan
baru? Hal ini terutama bersumber dari adanya hak dan kebebasan
Negara-negara (berdasarkan kedaulatannya) untuk membuat
perjanjian internasional yang materinya sama atau hampir sama
dengan perjanjian sebelumnya, baik dengan semua Negara peserta
lainnya, ataupun dengan beberapa Negara saja. Dalam hal ini tidaklah
dengan sendirinya perjanjian yang baru menggantikan perjanjian yang
lama.

Di dalam system hukum atau peraturan perundang-undangan


nasional, persoalan semacam ini sudah tertata sedemikian rapi, baik
secara vertical ataupun horizontal, sejalan dengan kehidupan
ketatanegaraan dari Negara itu sendiri. Dalam system ketatanegaraan
Negara-negara yang sudah tertata dengan rapi, dari pemerintah pusat
sampai daerah (dalam sistem Negara kesatuan) atau dari pemerintah
federal sampai ke pemerintah Negara bagian (dalam sistem Negara
federasi) hingga pada rakyat, system hukumnya pun secara umum
juga demikian.

Beberapa Model Hubungan antara perjanjian Internasional yang


Duluan dan Belakangan

Di bawah ini diketengahkan beberapa model hubungan antar


perjanjian internasional yang duluan dan belakangan, yang secara
umum juga akan memperlihatkan pelbagai permasalahnnya.

Page 12 of 23
Model pertama: Semua Negara peserta pada suatu perjanjian
internasional (yang duluan) mengenai suatu masalah tertentu,
membuat perjanjian internasional baru (yang belakangan) yang juga
mengenai masalah yang sama dan di dalam salah satu pasalnya
ditegaskan , bahwa dengan mulai berlakunya perjanjian yang
belakangan, perjanjian yang duluan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Model kedua: Semua Negara peserta pada suatu perjanjian


internasional mengenai suatu masalah tertentu (perjanjian yang
duluan), membuat perjanjian internasional batu (yang belakangan)
yang mengatur masalah yang sama, tetapi dalam perjanjian yang
belakangan itu sama sekali tidak ditegaskan bahwa dengan mulai
berlakunya perjanjian yang belakangan maka perjanjian yang duluan
tidak berlaku lagi. Kedua perjanjian itu tampak dibiarkan berlaku pada
waktu yang bersamaan dan sama-sama mengatur obyek yang satu
itu.

Model ketiga: Beberapa Negara peserta (tidak semaunya)


pada perjanjian multilateral lama (yang duluan), membuat perjanjian
baru (belakangan) yang mengatur masalah yang sama seperti pada
perjanjian yang duluan dan substansi perjanjian itu memang
memungkinkan demikian, tanpa menegaskan hubungan antar
keduanya.

Model keempat: Sejumlah Negara yang terikat pada suatu


perjanjian internasional lama membuat perjanjian internasional baru
mengenai masalah yang sama seperti yang diatur dalam perjanjian
yang duluan, tetapi dengan Negara-negara lain yang tidak terikat pada
perjanjian internasional yang duluan.

Model kelima: Sebagian besar Negara-negara di dunia ini


membuat suatu perjanjian internasional multilateral umum dan
terbuka, serta perjanjian itu telah berlaku sebagai hukum internasional
positif. Namun karena pelbagai sebab, perjanjian itu dipandang sudah

Page 13 of 23
tidak sesuai lagi, serta jumlah Negara-negara di dunia ini juga
bertambah banyak.

Model keenam: Beberapa Negara yang sudah terikat pada


suatu perjanjian internasional multilateral terbuka (duluan), kemudian
perjanjian baru yang secara khusus diberlakukan antara mereka
sendiri yang mengatur masalah yang sudah diatur dalam perjanjian
multilateral terbuka itu.

Model ketujuh: Sejumlah besar Negara-negara di dunia


membuat dan telah menjadi peserta dari perjanjian multilateral umum
dan terbuka mengenai suatu masalah tertentu. Kemudian sejumlah
besar Negara yang belum atau tidak terikat pada perjanjian yang
duluan itu, ditambah dengan sebagian dari Negara-negara yang
sudah terikat pada perjanjian tersebut, membuat perjanjian
internasional multilateral umum dan terbuka mengenai masalah yang
sama, sehingga ada dua perjanjian internasional umum dan terbuka
yang berkenaan dengan masalah yang sama.

BAB X

Page 14 of 23
Penundaan Atas Pelaksanaan Suatu Perjanjian Internasional

Pada sisi lain, suatu perjanjian internasional yang sudah


berlaku, bahkan sudah diterapkan dengan segala akibat hukumnya,
ada kemungkinan dipersoalkan keabsahannya, atau ditunda
penerapannya, bahkan diakhiri berlakunya, dengan alasannya
masing-masing yang kadang-kadang antara alasan-alasan untuk
keabsahannya, penundaan, maupun pengakhirannya, ada yang sama
antara satu dengan lainnya, da nada yang berbeda. Kalau berbicara
tentang alasan, tentu saja akan dapat dikemukakan beraneka macam
alasan, dari yang paling ringan dan subyektif hingga yang paling berat
dan obyektif.

Konvensi Wina 1969 mengatur tentang ketiga hal ini (ketidak-


absahan, pengakhiran, dan penundaan suatu perjanjian internasional)
dalam bagian V yang terdiri dari 4 seksi dan keempat seksi ini meliputi
31 pasal, yakni, pasal 42-72. Seksi 1 tentang ketentuan umum yang
terdiri dari 4 pasal, yakni pasal 42, 43, 44, dan 45. Seksi 2 tentang
ketidak-absahan suatu perjanjian internasional yang terdiri dari 8
pasal, yakni, pasal 46, 47, 48, 49, 50, 51, 52, dan 53. Seksi 3 tentang
pengakhiran dan penundaan pelaksanaan suatu perjanjian
internasional yang terdiri dari 11 pasal, yakni, pasal 54, 55, 56, 57, 58,
59, 60, 61, 62, 63, dan 64. Yang terakhir seksi 4 tentang prosedur
yang terdiri dari 8 pasal yakni pasal 65-72.

Penundaan atas Pelaksanaan suatu Perjanjian Internasional pada


Umunya

Berbicara tentang penundaan atas pelaksanaan suatu


perjanjian internasional, terdapat pelbagai masalah yang dapat
dikedepankan untuk selanjutnya dibahas satu per satu secara rinci
dan mendalam.

Kapankah suatu perjanjian internasional dapat ditunda


pelaksanaanya? Ada dua kemungkinan mengenai kapan dan dapat

Page 15 of 23
dilakukan penundaan atas pelaksanaan suatu perjanjian
internasional. Pertama, suatu perjanjian internasional yang belum
dilaksanakan meskipun sudah dapat dipastikan (akan) terpenuhi
syarat untuk mulai berlakunya. Kedua, suatu perjanjian internasional
yang sudah berlaku dan dilaksanakan bahkan sudah menimbulkan
akibat-akibat hukum terhadap para pihak, juga karena salah satu dan
lain hal, kemudian ditunda pelaksanaannya baik untuk jangka waktu
tertentu ataupun suatu jangka waktu yang tidak ditentukan.

Penundaan atas pelaksanaan suatu perjanjian internasional atas


dasar kesepakatan semua, sebagian, atau beberapa pihak
tertentu saja

Sudah tentu para pihak yang terikat pada perjanjian itu


sendirilah yang dapat menunda pelaksanaan perjanjian internasional
tersebut. Sedangkan pihak ketiga tentu tidak dapat menundanya,
sebab pihak ketiga, sesuai dengan nama dan posisinya, berada diluar
dari perjanjian, meskipun kadang-kadang ada pula kepentingannya
atas perjanjian itu, misalnya karena dengan adanya perjanjian itu
pihak ketiga tersebut diuntungkan ataupun dirugikan. Jadi, pada
akhirnya, memang para pihak yang terikat pada perjanjian
internasional itu sendirilah yang memutuskan apakah akan dilakukan
penundaan atas pelaksanaannya atau tidak. Jika pihak ketiga
melakukan tekanan ataupun paksaan terhadap para pihak dan
penundaan ternyata dilakukan di bawah tekanan, maka penundaan itu
tidak sah.

Kapankah suatu perjanjian internasional dapat ditunda


pelaksanaannya?

Ada dua kemungkinan, pertama,suatu perjanjian internasional


yang belum dilaksanakan meskipun sudah dapat dipastikan akan
terpenuhi syarat untuk mulai berlakunya. Kedua, suatu perjanjian
internasional yang sudah berlakudan dilaksanakan bahkan sudah

Page 16 of 23
menimbulkan akibat-akibat hukum terhadap para pihak, juga karena
satu dan lain hal, kemudian ditunda pelaksanannya baik untuk suatu
jangka waktu tertentu ataupun suatu jangka waktu yang tidak
ditentukan.

Alasan penundaan atas pelaksanaan suatu perjanjian


internasional

Sudah tentu dapat dikemukakan berbagai macam hal alasan


atau factor penyebab untuk menunda pelaksanaan suatu perjanjian
internasional. Factor penyebab ini boleh jadi secara obyektif dapat
diterima oleh para pihak sehingga mereka sepakat untuk menunda
pelaksanaannya. Kadang factor penyebabini dapat berupa tindakan
sepihak oleh salah satu pihak, dan pihak yang lainnya secara sepihak
membalasnya dengan cara tidak mau melaksanakan perjanjian itu.
Biasanya jika terjadi hal seperti ini, penundaan itu dilakukan secara
sepihak oleh pihak yang satu dan karena tidak mungkin
melaksanakan perjanjian hanya oleh pihak yang lain saja, maka pihak
yang belakangan ini terpaksa mengikuti pihak yang melakukan
penundaan secara sepihak itu.

BAB XI

Ketidakabsahan suatu Perjanjian Internasional

Page 17 of 23
Suatu perjanjian internasional yang sudah mempunyai
kekuatan mengikat sebagai hukum internasional positif, bahkan yang
sudah beberapa lama diterapkan dengan segala konsekuensi hukum
yang ditimbulkannya karena para pihak sudah melakukan kewajiban
maupun menikmati haknya, pada suatu waktu dapat dipertanyakan
keabsahannya.

Pihak yang dapat mengajukan klaim bahwa suatu perjanjian


internasional tidak sah adalah pihak atau pihak-pihak atau Negara-
negara pesertanya, khususnya Negara-negara peserta yang merasa
dirugikan oleh perjanjian itu,. Perlu ditegaskan disini, bahwa dalam
beberapa kasus pihak yang bersangkutan dapat mengajukan klaim,
jadi tidak merupakan keharusan.

Secara garis besar ada dua alasan mengapa ketidak absahan


suatu perjanjian internasional dikemukakan belakangan, yakni setelah
mulai berlaku atau diterapkan, bukan pada waktu merumuskan
ataupun pada waktu mengikatkan diri pada perjanjian itu.

Pertama, karena pihak yang mengkalim suatu perjanjian


internasional tidak sah, baru belakangan dapat mengetahui penyebab
dari ketidak-sahannya.

Kedua, meskipun alasan itu sudah diketahui ketika proses


pembuatannya atau sebelum perjanjian mulai berlaku, tetapi pada
waktu itu tidak dapat dikemukakan, disebabkan karena situasi dan
kondisinya yang tidak memungkinkan. Setelah perjanjian mulai
berlaku serta situasi dan kondisi memungkinkannya, barulah alasan
untuk menyatakan perjanjian itu tidak sah dapata dikemukakan.

Ketidakabsahan suatu perjanjian internasional menurut konvensi


wina 1969

Page 18 of 23
Menurut pasal 42 ayat 1, keabsahan itu dibedakan atas dua
macam, yakni keabsahan atas perjanjian internasional itu sendiri, dan,
keabsahan atas persetujuan suatu Negara untuk terikat pada
perjanjian. Secara teoritis, keduanya dapat dibedakan sebagai berikut:

Pertama, yang dipersoalkan adalah keabsahan perjanjian


internasional itu sendiri yang disebabkan karena hal-hal yang terletak
di luar diri masing-masing Negara atau sebagai hasil interaksi Negara-
negara ataupun wakil dari Negara yang melakukan perundingan yang
mengakibatkan kerugian dari salah satu atau lebih Negara pesertanya
dank arena itu Negara atau Negara-negara yang bersangkutan dapat
mempersoalkan keabsahan perjanjian itu.

Kedua, masalahnya terletak pada persetujuan suatu Negara


untuk terikat pada suatu perjanjian internasional (consent to be bound
by a treaty). Tegasnya, persetujuannya untuk terikat dipandang tidak
sah oleh Negara itu sendiri.

Alasan-alasan untuk menyatakan suatu perjanjian internasional


tidak sah

- Alasan berdasrkan hukum atau peraturan perundang-


undangan nasional.
- Kesalahan (error) atas fakta atau situasinya.
- Kecurangan (fraud) dari Negara mitra berundingnya.
- Kecurangan (corruption) dari wakil suatu Negara.
- Paksaan (coercion) yang dilakukan oleh wakil dari suatu
Negara.
- Ancaman atau penggunaan kekerasan oleh suatu Negara yang
merupakan pelanggaran atas prinsip-prinsip hukum
internasional yang terdapat dalam piagam PBB.
- Perjanjian internasional yang bertentangan dengan jus cogens

Akibat hukum dari tidak sahnya suatu perjanjian internasional

Page 19 of 23
Secara garis besar, ketidaksahan suatu perjanjian internasional
ada yang sifatnya fakultatif atau relatif da nada yang absolut. Suatu
perjanjian internasional yang ketidakabsahannya bersifat fakultatif
atau relatif, penentuannya terserah sepenuhnya kepada Negara yang
merasa dirugikan, apakah akan menggunakan haknya ataukah tidak
untuk menyatakan bahwa perjanjian itu tidak sah. Apabila Negara
tersebut menggunakan haknya untuk menyatakan perjanjian itu tidak
sah, dengan alasan yang dipandangnya cukup kuat, dan ternyata
memang dapat diterima, maka perjanjian itu menjadi tidak sah.
Sebaliknya, meskipun ada alasan kuat untuk mengklaimnya sebagai
tidak sah, jika Negara itu tetap terus bersedia menerima dan
menaatinya, maka perjanjian itu masih bisa terus berlaku secara sah.

BAB XII

Pengakhiran Atas Eksistensi Suatu Perjanjian Internasional

Page 20 of 23
Pada akhirnya suatu perjanjian internasional harus diakhiri,
atau terpaksa diakhiri eksistensinya. Seperti halnya penundaan dan
ketidakabsahan suatu perjanjian internasional, pengakhiran atas
eksistensi suatu perjanjian internasional juga ada penyebabnya, yang
dalam beberapa hal sama seperti persoalan penundaan maupun
ketidakabsahannya. Itulah sebabnya di dalam konvensi wina1969,
ketiganya diatur di dalam satu bagian, yakni part V.

Alasan untuk mengakhir eksistensi suatu perjanjian


internasional

Dalam praktek kehidupan masyarakat internasional, terdapat


beberapa alasan untuk mengakhiri eksistensi suatu perjanjian
internasional. Misalnya, untuk perjanjian yang jangka waktu
berlakunya sudah ditentukan secara pasti di dalam salah satu
pasalnya, misalnya berlaku untuk jangka waktu lima tahun, sepuluh
tahun, maka perjanjian itu akan berakhir setelah terpenuhinya jangka
waktu tersebut.

Bahkan dalam beberapa hal, ada factor eksternal maupun


internal yang cukup kuat untuk mengakhiri berlakunya suatu
perjanjian, misalnya karena terjadi peristiwa, seperti obyeknya dibom
oleh pihak ketiga sampai hancur lebur dan tidak layak lagi untuk
dibangun kembali, sehingga secara absolut perjanjian itu sudah tidak
dapat dilaksanakan lagi. Demikian juga karena konflik, seperti perang
yang berkepanjangan antara Negara-negara yang terikat pada
perjanjian sehingga berpengaruh besar terhadap pelaksanaan dan
eksistensi perjanjian itu sendiri.

Berakhirnya suatu perjanjian internasional tidak mengakhiri


kewajiban yang berdasrkan atas hukum internasional umum

Page 21 of 23
Semenjak berakhirnya eksistensi maupun masa berlaku suatu
perjanjian internasional, maka semenjak itu pula perjanjian itu tidak
lagi memberikan hak maupun membebani kewajiban kepada para
pihak, karena memang sudah tidak lagi merupakan hukum
internasional positif. Akan tetapi perjanjian-perjanjian internasional
jenis tertentu, yakni, perjanjian yang substansinya merupakan
formulasi dari kaidah hukum kebiasaan internasional, hak ataupun
kewajiban yang semula berasal dari hukum kebiasaan internasional
masih tetap berlaku. Tegasnya, salah satu atau beberapa
ketentuannya merupakan perumusan kembali atau pengkodifisian
atas kaidah hukum yang sebelum berlakunya perjanjian itu sudah
merupakan kaidah hukum kebiasaan internasional.

Pengakhiran atas eksistensi perjanjian internasional menurut


konvensi wina 1969

- Dibuat perjanjian internasional baru.


- Pelanggaran oleh salah satu pihak.
- Ketidakmungkinan untuk melaksanakannya.
- Terjadinya perubahan keadaan yang fundamental.
- Putusnya hubungan diplomatic dan atau konsuler.
- Betentangan dengan jus cogens.
- Pecahnya perang antara pihak.
- Penarikan diri Negara-negara pesertanya.

Konsekuensi hukum dari berakhirnya eksistensi suatu perjanjian


internasional

Page 22 of 23
Tentang konsekuensi hukum dari pengakhiran suatu perjanjian
internasional diatur dalam pasal 70 ayat 1 dan 2 konvensi. Menurut
ayat 1, ada tiga kemungkinannya, yakni, perjanjian itu mengatur
tersendiri di dalam salah satu pasal atau ketentuannya; jika
pengaturan itu tidak ada, kemungkinan kedua adalah pihak mencapai
kesepakatan tersendiri, dan kemungkinan yang ketiga adalah jika
keduanya tidak ada, maka para pihak dapat mengikuti ketentuan
seperti ditentukan dalam pasal 70 ayat 1 ini. Jika suatu perjanjian
internasional mengatur tersendiri di dalam salah satu pasal atau
ketentuannya tentang konsekuensi (hukum) dari berakhirnya
eksistensi perjanjian, maka para pihak cukup menerapkan ketentuan
itu saja.

Jika kemungkinan pertama dan kedua itu tidak ada, maka


menurut ayat 1, jika pengakhiran atas eksistensi perjanjian
internasional itu berdasarkan atas alasan-alasan seperti ditentukan
dalam konvensi, maka pengakhiran perjanjian itu akan : (a)
membebaskan para pihak dari kewajiban-kewajiban yang bersumber
dari perjanjian tersebut; (b) tidak mengganggu hak, kewajiban ataupun
situasi hukum dari para pihak yang lahir dari pelaksanaan perjanjian
selama perjanjian itu masih berlaku atau sebelum berakhirnya
eksistensi perjanjian tersebut.

Page 23 of 23

Beri Nilai