Anda di halaman 1dari 15

CASE BASED DISCUSSION

SEROTINUS
Diajukan untuk memenuhi dan melengkapi Persyaratan Program Pendidikan

Profesi Dokter Bagian Ilmu Kandungan dan Kebidanan

Disusun oleh :

Nadya Noor Firdhausa

012116462

Penguji :

dr. Gunawan K., Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2015
SEROTINUS

I. Definisi
Kehamilan lewat bulan (serotinus) ialah kehamilan yang berlangsung
lebih dari perkiraan hari taksiran persalinan yang dihitung dari hari pertama haid
terakhir (HPHT), dimana usia kehamilannya telah melebihi atau sama dengan 42
minggu (> 294 hari).
II. Insidensi
Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10 %, bervariasi antara 3,5 – 14
%. Data statistic menunjukkan, angka kematian dalam kehamilan lewat waktu
lebih tinggi daripada kehamilan cukup bulan, dimana angka kematian kehamilan
lewat waktu mencapai 5 – 7 %. Variasi insiden postterm berkisar antara 2 – 31,37
%.
III. Etiologi

Penyebab pasti dari kehamilan postterm sampai saat ini masih belum diketahui
dengan pasti. Teori-teori yang pernah diajukan untuk menerangkan penyebab
terjadinya kehamilan postterm antara lain:

1. Teori progesteron. Berdasarkan teori ini, diduga bahwa terjadinya kehamilan


postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesteron melewati
waktu yang semestinya.
2. Teori oksitosin. Rendahnya pelepasan oksitosin dari neurohipofisis wanita
hamil pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu fakor penyebab
terjadinya kehamilan postterm.
3. Teori kortisol/ACTH janin. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta
sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi estrogen.
Proses ini selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi
prostaglandin. Pada kasus-kasus kehamilan dengan cacat bawaan janin seperti
anensefalus atau hipoplasia adrenal, tidak adanya kelenjar hipofisis janin akan
menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan
berlangsung lewat bulan.
4. Teori syaraf uterus. Berdasarkan teori ini, diduga kehamilan postterm terjadi
pada keadaan tidak terdapatnya tekanan pada ganglion servikalis, seperti pada
kelainan letak, tali pusat pendek, dan masih tingginya bagian terbawah janin.

Teori heriditer. Pengaruh herediter terhadap insidensi kehamilan postterm.


seorang ibu yang pernah mengami kehamilan postterm akan memiliki risiko lebih
tinggi untuk mengalami kehamilan postterm pada kehamilan berikutnya. Hasil
penelitian ini memunculkan kemungkinan bahwa kehamilan postterm juga
dipengaruhi oleh faktor genetik (Sarwono, 2010).

IV. Resiko
1. Resiko kehamilan lewat waktu
antara lain adalah gangguan Perubahan pada Plasenta
a. Penimbunan kalsium. Pada kehamilan postterm terjadi peningkatan
penimbunan kalsium pada plasenta. Timbunan kalsium plasenta meningkat
sesuai dengan progresivitas degenerasi plasenta.
b. Selaput vaskuloinsisial menjadi tambah tebal dan jumlahnya berkurang,
keadaan ini dapat menurunkan mekanisme transpor plasenta
c. Terjadi proses degenerasi jaringan plasenta seperti edema, timbunan fibrinoid,
fibrosis, trombosis intervili dan infark vili
d. Perubahan biokimia. Adanya insufisiensi plasenta menyebabkan protein
plaseta dan kadar DNA di bawah normal, sedangkan konsentrasi RNA
meningkat. Transpor kalsium tidak terganggu, aliran natrium, kalium dan
glukosa menurun. Pengangkutan bahan dengan ebrat molekul tinggi seperti
asam amino, lemak dan gama globulun biasanya mengalami gangguan
sehingga dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin intrauterin.
2. Pengaruh pada Janin
a. Berat janin. Bila terjadi perubahan anatomik yang besar pada plasenta, maka
terjadi penurunan berat janin.
b. Sindroma postmaturitas
c. Gawat janin atau kematian perinatal, disebabkan oleh makrosomia,
insufisiensi plasenta.

Tanda postterm dibagi dalam 3 stadium


a. Stadium 1 : Kulit kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit
kering, rapuh, dan mudah mengelupas.
b. Stadium 2 : Gejala di atas disertai pewarnaan mekonium pada kulit.
c. Stadium 3 : Pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit, dan tali pusat.

3. Pengaruh pada Ibu

Morbiditas/ mortalitas ibu dapat meningkat akibat dari makrosomia janin dan
tulang tengkorak menjadi lebih keras yang menyebabkan terjadi distosis persalinan,
incoordinate uterine action, partus lama (Sarwono, 2010).

V. Diagnosis
Diagnosis kehamilan lewat waktu biasanya dari pehitungan rumus
naegele setelah mempertimbangkan siklus haid dan keadaan klinis. Bila ada
keraguan, maka pengukuran, maka pengukuran tinggi fundus uterus serial dengan
sentimeter akan memberikan informasi mengenai usia gestasi lebih tepat. Keadaan
klinis yang mungkin ditemukan ialah air ketuban yang berkuarang dan gerakan
janin yang jarang.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mendiagnosis
kehamilan lewat waktu, antara lain :
1. HPHT jelas
2. Dirasakan gerakan janin pada umur kehamilan 16 – 18 minggu.
3. Terdengar denyut jantung janin (normal 10 – 12 minggu dengan Doppler, dan
19 – 20 minggu dengan fetoskop).
4. Umur kehamilan yang sudah ditetapkan dengan USG pada umur kehamilan
kurang dari atau sama dengan 20 minggu.
5. Tes kehamilan (urin) sudah positif dalam 6 minggu pertama telat haid.
Tanda kehamilan lewat waktu yang dijumpai pada bayi dibagi atas tiga
stadium :
1. Stadium I, Kulit ketuban menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan
maserasi berupa kulit kering, rapuh, dan mudah mengelupas.
2. Stadium II, Gejala stadium I disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada
kulit.
3. Stadium III, Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit, dan tali pusat.
Yang paling penting dalam menangani kehamilan lewat waktu ialah
menentukn keadaan janin, karena setiap keterlambatan akan menimbulkan resiko
kegawatan. Penetuan keadaan janin dapat dilakukan :
1. Tes tanpa tekanan (non stress test). Bila memperoleh hasil non reaktif maka
dilanjutkan dngan tes tekanan oksitosin. Bila diperoleh hasil reaktif maka nilai
spesifitas 98,8 % menunjukkan kemungkinan besar janin baik. Bila ditemukan
hasil tes tekanan yang positif, meskipun sensitifitas relative rendah tetapi telah
dibuktikan berhubungan dengan keadaan postmatur.
2. Gerakan janin. Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif (normal rata-
rata 7 kali/20 menit), atau secara objektif dengan tokografi (normal rata-rata
10 kali/20 menit), dapat juga ditentukan dengan USG. Penilaian banyaknya air
ketuban secara kualitatif dengan USG (Normal > 1 cm/bidang) memberikan
gambaran banyaknya air ketuban, bila ternyata oligohidramnion maka
kemungkinan telah terjadi kehamilan lewat waktu.
3. Amnioskopi. Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin
keadaan janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung
mekonium akan mengalami resiko 33 % asfiksia.
VI. Penatalaksanaan
Keadaan yang mendukung bahwa janin masih baik memungkinkan
untuk mengambil keputusan :
a. Menunda 1 minggu dengan menilai gerakan janin dan test tanpa tekanan 3 hari
lagi
b. Melakukan induksi partus
Prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah merenanakan
pengakhiran kehamilan. Cara pengakhiran kehamilan tergantung dari hasil
pemeriksaan kesejahteraan janin dan penilaian bishop’s score.

Ada beberapa cara untuk pengakhiran kehamilan antara lain :


1. Induksi partus dengan medicinal : infuse oksitosin, prostaglandin
2. Induksi dengan operatif : amniotomi, melepas kulit ketuban dari dinding
uterus, lain-lain : bougie Krause, kateter foley dan batang laminaria
3. Bedah seksio sesaria
Dalam mengakhiri kehamilan dengan induksi oksitosin, pasien harus
memenuhi beberapa syarat, antara lain kehamilan aterm, ada kemunduran his,
ukuran panggul normal, tidak ada disporporsi sefalopelvik, janin presentasi
kepala, serviks sudah matang (porsio teraba lunak, mulai mendatar, dan mulai
membuka). Selain itu, pengukuran bischop’s score juga harus dilakukan
sebelumnya.

Tabel pengukuran bischop’s score dapat dilihat di bawah ini :

Skor 0 1 2 3
Pendataran serviks 0 – 30 % 40 – 50 % 60 – 70 % 80 %
Pembukaan 0 1–2 3–4 5–6
serviks
Penurunan kepala -3 -2 -1,0 +1 +2
dari hodge III
Konsistensi Keras Sedang Lunak
serviks
Posisi serviks Posterior Searah jalan Anterior
sumbu lahir
Bila nilai > 8, maka induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil

Bila nilai > 5, dapat dilakukan drip oksitosin

Bila nilai < 5, dapat dilakukan pematangan serviks terlebih dahulu, kemudian
lakukan pengukuran PS lagi.

VII. Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan yang teratur,


minimal 4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum 12 minggu), 1 kali
pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28 minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di
atas 28 minggu). Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan
sekali sampai usia 7 bula, 2 minggu sekali pada kehamilan 7 – 8 bulan dan eminggu sekali
pada bulan terakhir. Hal ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia
kehamilan, dan menegah terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2015

A. IDENTITAS
 Nama Pasien : Ny. R
 Umur : 26 tahun
 Jenis kelamin : Perempuan
 No. CM : 01-251-401
 Agama : Islam
 Pekerjaan : Swasta
 Alamat : Jl. Bayu Prasetya Raya Blok A/D-14 RT 01 Bangetayu
 Pendidikan terakhir : D3
 Status penikahan : Kawin
 Nama suami : Tn. M
 Tanggal Masuk : 18 Juni 2015
 Ruang : VK

B. ANAMNESA
Keluhan utama :
Pasien mengeluh perut kenceng-kenceng jarang sejak jam 04.30 tanggal 18
Juni 2015
Riwayat penyakit sekarang :
Pasien G1P0A0 usia 26 tahun gravida 42 minggu datang ke Poli Obsgyn
dengan keluhan perut kenceng-kenceng masih jarang tanggal 18 Juni 2015, tidak
terdapat pengeluaran lendir dan darah dari jalan lahir
Riwayat Obstetri :
G1P0A0, Gravida 42 minggu
HPHT : 25 - 8 -2014
HPL : 1 – 6 - 2015
Riwayat Penyakit dahulu:
1.Hipertensi : disangkal
2. Asma : disangkal
3.DM : disangkal
4.Penyakit jantung : disangkal
5.TBC : disangkal
6.Kejang : disangkal
7. Operasi : disangkal
Riwayat penyakit keluarga :
1.Hipertensi : disangkal
2 Asma : disangkal
3.DM : disangkal
4.Penyakit jantung : disangkal
5.Gemelli : disangkal
Riwayat menstruasi :
1.Menarche : umur 12 tahun
2.Siklus : 26-27 hari , teratur
3.Lama : 6 hari
4.Dismenore : tidak
Riwayat ANC :
4x ke bidan dan 3x ke dokter kandungan, tidak ada pesan-pesan khusus.
Riwayat KB : IUD 3 th, Suntik 3 bulan
Riwayat pernikahan :
Pernikahan ke-1 , usia pernikahan: 6 tahun
Riwayat sosial ekonomi :
Pasien berkerja sebagai pegawai swasta, suami berkerja sebagai pegawai
swasta. Biaya mondok menggunakan asuransi BPJS.
Riwayat Gizi:
Selama kehamilan pasien tidak ada gangguan nafsu makan. Pasien makan
teratur 3 kali sehari.

C. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status present
 Keadaan umum : Baik
 Kesadaran : Composmentis
 Vital sign :
o Tensi : 120/80 mmhg
o Nadi : 84 x/menit
o Suhu : 36,5o C
o RR : 24 x/menit
o BB : 70 kg
o TB : 150 cm
Status internus
o Kepala : Mesocephale, simetris.
o Rambut : bersih, tidak mudah rontok
o Mata : conjungtiva anemi (-/-), sclera ikterik (-/-), penglihatan:
visus OD/OS 6/6
o Hidung : Discharge (-), septum deviasi (-), nafas cuping hidung(-)
o Telinga : Discharge (-)
o Mulut : Bibir sianosis (-) ,kering (-), gusi berdarah (-)
o Tenggorokan : faring hiperemis (-), pembesaran tonsil (-)
o Leher : Pembesaran tyroid (-), pembesaran limfe (-), chloasma
gravidarum (-)
o Kulit : turgor baik, ptekiae (-)
o Mamae : simetris, hiperpigmentasi aerola mamae, papilla mamae
menonjol, kolostum (-)
1. Paru
 Inspeksi : pergerakan kedua hemithorax simetris
 Palpasi : stemfremitus dextra sinistra sama
 Perkusi : sonor pada seluruh lapang paru
 Auskultasi : suara tambahan paru (-)

2. Jantung
 Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
 Palpasi : ictus cordis tidak teraba
 Perkusi : batas jantung dalam batas normal
 Auskultasi : suara tambahan (-)
3. Abdomen
 Inspeksi : perut tampak membesar, striae gravidarum (-), linea nigra(+),
bekas operasi (-)
 Auskultasi : bising usus (+)
 Palpasi : nyeri tekan (-), teraba bagian janin:
o Leopold 1 : TFU 2 jari di bawah proc. Xiphoideus. Bagian
fundus teraba bulat besar lunak, bokong
o Leopold 2 :
kanan : teraba bagian-bagian kecil janin (ekstremitas)
kiri : tahanan memanjang, puki
o Leopold 3 : bulat besar keras, kepala
o Leopold 4 : belum masuk PAP
 HIS : jarang
 TFU : 32 cm
 TBJ : (32-12)x155= 3100 gram
 DJJ :12-11-12
 Punctum maximum: Puki
4. PF Anogenitalia
 Inspeksi : lendir (-) darah (-) air ketuban (-) luka parut (-)
varices (-) oedem vagina (-)
Anus: hemoroid (-)
 Interna/ Vagina toucher :
 Vulva : tenang
 Portio : tebal, keras
 Penipisan : 20%
 Pembukaan : -
 Kulit ketuban : (+)
 Sarung tangan : lendir (+), darah (-)
o Ekstremitas
Superior Inferior
Oedem -/- -/-
Varices -/- -/-
Reflek fisiologis +/+ +/+

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium Darah
Hematologi (18 Juni 2015)
1. Hb : 11,5 gr/dl
2. Hematokrit : 35,5 %
3. Leukosit : 11.000 /uL
4. Trombosit : 365.000
5. Gol.Darah/RH : B/positif
6. APTT : 25,1 detik
7. PT : 10,6 detik

Urine
1. Warna : Kuning
2. Kejernihan : Jernih
3. Protein : Negatif
4. Reduksi : Negatif
5. Bilirubin : Negatif
6. Reaksi/pH : 6,5
7. Urobilinogen : 0,2 mg/dl
8. Benda keton : Negatif
9. Nitrit : Negatif
10. Berat Jenis :1,015
11. Blood : Negatif
12. Leukosit : Negatif
13. Mikroskopis
a) Epitel Sel : 25-27/LPK
b) Eritrosit : 0-1/LPB
c) Leukosit : 1-3/LPB
d) Silinder : Negatif
e) Parasit : Negatif
f) Bakteri : Positif 1
g) Jamur : Positif
h) Kristal : Negatif
i) Benang mukus : Positif
Kimia
GDS : 72 mg/dl
Imunoserologi
HbsAg kualitatif : Non reaktif

1. RESUME
Pasien 26 tahun G1P0A0 hamil 42 minggu datang dengan perut kenceng-kenceng yang
masih jarang, belum keluar lendir darah dari jalan lahir

Status Obstetri :

HPHT : 25 - 8 -2014
HPL : 1 – 6 - 2015
Umur kehamilan 42 minggu
Abdomen
 Inspeksi : perut tampak membesar, striae gravidarum (-), linea nigra(+),
bekas operasi (-)
 Auskultasi : bising usus (+)
 Palpasi : nyeri tekan (-), teraba bagian janin:
o Leopold 1 : bokong
o Leopold 2 : puki dan ekstremitas
o Leopold 3 : kepala
o Leopold 4 :belum masuk PAP
 HIS : jarang
 TFU : 32 cm
 TBJ : 3100 gram
 DJJ :12-11-12

PF Anogenitalia
 Inspeksi : lendir (+) darah (-) air ketuban (-) luka parut (-)
varices (-) oedem vagina (-)
Anus: hemoroid (-)
Vagina toucher :
 Vulva : tenang
 Portio : tebal, kaku
 Penipisan : 20%
 Pembukaan : -
 Kulit ketuban : (+)
 Sarung tangan : lendir (+), darah (-)
Bishop Pelvic Score

Pendataran serviks 20%

Pembukaan serviks 0

Penurunan kepala -3

Konsistensi serviks Keras

Posisi serviks sumbu Posterior

2. DIAGNOSA
Pasien G1P0A0 usia 26 tahun hamil 42 minggu, janin tunggal, hidup intra uterin, letak
bujur punggung kiri, letak kepala, belum inpartu dengan serotinus

3. SIKAP
1. Pasien di rawat inap
2. Pengawasan : KU, Vital sign, PPV, His, DJJ
3. Pro Induksi
4. Tindakan SC
5. Terapi Medikamentosa

4. PROGNOSIS
Kehamilan : dubia ad bonam
Persalinan : dubia ad bonam

5. EDUKASI
1. Memberitahu kepada pasien dan keluarga resiko kehamilan lewat bulan.
2. Memberitahu akan dilakukan Induksi misoprostol (Gastrul) 1/8tab pervaginam
dan dievaluasi.
3. Memberitahu akan dilakukannya terminasi kehamilan secara sectio cesaria bila
induksi Oksitosin Drip gagal.

Follow Up
18-06-2015 S : kenceng-kenceng jarang Pro Induksi
13.00 O: TD : 120/80
N : 86x/menit
RR : 20x/menit
S : 36,50C
BB : 70 kg
TB : 150
His : -
DJJ : 12-12-11
PPV : -
VT ϴ blm ada pembukaan
19-06-2015 S: kenceng (-), pasien minta SC Pro SC
05.00 O : TD : 110/80 Inf. RL 20 tpm
N : 92x/menit Premedikasi Zibac 1 gr
RR : 22x/menit Pasang DC
S : 36,50C
His : -
DJJ : 12-12-11
PPV : -
VT ϴ blm ada pembukaan
Blood slim (-)

20-06-2015 S : nyeri post SC Inf.RL + oksitosin 20 tpm


09.00 O : TD : 152/90 Zibac 2x1 gram
N : 89x/menit Remopain 2x1 ampul
RR : 24x/menit Induxsin 1 A/ Hr
S : 36,50C Pospargin 1 A
Cytotec 3 tab/rectal
21-06-2015 S : mual Inj. Ondancetron 4mg
O : TD : 140/90 Durogesic stop
N : 76x/menit Kaltrofen supp 3x1
RR : 20x/menit
S : 36,30C
22-06-2015 S : sakit kepala
O :TD : 112/73 Mefinal 3x1
N : 80x/menit Droxal 2x1
RR : 20x/menit Zegavit 2x1
S : 36,80C
23-06-2015 S :- Pulang
O : TD : 118/87 Kontrol rutin
N : 72x/menit
RR : 20x/menit
S : 360C
Daftar Pustaka

Mochtar, A B dan Krisnanto, H. 2004. Kehamilan Lewat Bulan. [penyunt.] R. Hariadi. Ilmu
Kedokteran Fetomaternal. Edisi 1. Surabaya : Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI,
2004, Bab VI, Bagian 58, hal. 384-391.

Prawirohardjo S., 2010, Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono P.