Anda di halaman 1dari 38

BAB I

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. K
Usia : 23 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Anak ke : 1 dari 4 bersaudara
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Suku : Bengkulu
Status : Belum Menikah
Pekerjaan : Mahasiswi
Alamat : xxxxxxxxxxxxxx
No RM : xxxxxxxxxxxxxxxxx
Masuk Poli : 3 Februari 2016 pukul 10.00 WIB
Tanggal Pemeriksaan : 7 Februari 2016 pukul 10.30 WIB

B. RIWAYAT PSIKIATRI
(Autoanamnesis)
1. Keluhan Utama
Pasien melakukan percobaan bunuh diri sejak 1 minggu yang lalu.

2. Riwayat Gangguan Sekarang


Sejak 1 minggu yang lalu pasien mencoba bunuh diri dengan cara minum obat “xxxxxxxxxx”
sebanyak 7 butir, antimo 2 butir, lotion anti nyamuk 2 bungkus, wipol pembersih WC, dan minum
pembersih kewanitaan. Pasien mengaku melakukan hal ini karena ingin mencari perhatian orang-
orang di sekitarnya. Pasien baru putus dengan pacarnya karena pacarnya selingkuh dengan teman
sekerjanya sehari sebelum tindakan bunuh diri tersebut.pasien merasa tidak ada lagi orang yang
menyayanginya sehingga pasien berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Ini adalah pacar keempat.
Pasien merasa putus asa dan tidak ada lagi semangat menjalani hidup. Pasien tidak berminat
melakukan kegiatan sehari-hari dan pasien merasa mudah lelah. Pasien mengeluh susah tidur, nafsu
makan berkurang, pasien merasa pesimis, kosentrasi berkurang dan pasien merasa marah terhadap
diri sendiri dan merasa bersalah. Pasien menyangkal mendengar suara bisikan yang menyuruhnya
melakukan bunuh diri. Pasien juga menyangkal melihat bayangan atau sosok orang yang tidak nyata.
Pasien merasa orang tuanya tidak peduli dengannya dan hanya memikirkan adik tirinya. Pasien
membiayai hidupnya sendiri dan tidak mau meminta bantuan orang tuanya. Pasien sering menangis
sendiri bila memikirkan kisah hidupnya yang ia rasa sangat menyedihkan. Pasien tidak merasa orang-
orang di sekitarnya mengejek atau membicarakannya. Pasien merasa orang-orang tidak ada yang
peduli dengannya.
3 minggu yang lalu pasien merasakan hal yang berbeda dari 2 minggu ini, pasien merasa gembira
berlebih. Bila sedang senang pasien sering menghamburkan uangnya dengan cara mentraktir teman-
temannya dan belanja banyak barang. Pasien susah memilih barang yang ia sukai karena bila ia
melihat banyak barang yang ida suka, dia membelinya semua tanpa memikirkan keuangan. Pasien
sangat percaya diri, berbicara terus menerus dan merasa tidak capek, selalu ingin beraktivitas baik
bekerja maupun sekedar jalan-jalan. Pasien merasa waktu tidurnya berkurang dan tidak bisa tidur
lagi bila sudah tidur 3-4 jam saja.
Saat pasien sedang merasa sedih tiba-tiba pasien menjadi pendiam, tidak semangat melakukan
apapun, pasien merasa dirinya orang yang paling tidak beruntung, tidak percaya diri, merasa mudah
lelah. Dan hal ini bisa saling berubah dengan selang waktu 1 minggu, terjkadang 1 hari bahkan
pernah dalam 1 hari pasien bisa merasakan 2 periode yaitu senang berlebihan, setelahnya sedih
yang mendalam.

3. Riwayat Gangguan Sebelumnya


a. Riwayat Gangguan Psikiatri
Sejak 3 tahun yang lalu, pasien juga pernah mencoba bunuh diri dengan mengiris lengan kiri bawah
bagian denpan dengan pisau tumpul, panjang irisan sekitar 6 cm. pasien melakukan hal tersebut
karena putus dengan pacarnya (pacar pertama). Pasien putus karena pacarnya merasa pasien
semakin lama semakin kasar dengan dia sehingga pacarnya tidak tahan. Saat dia tahu pacarnya
memutusinya karena pacarnya telah menemukan wanita yang lebih lembut darinya, pasien semakin
stress dan mencoba mengakhiri hidupnya. Pasien mengaku melakukan hal tersebut karena ingin
mencari perhatian orang-orang di sekitarnya. Pasien sempat dilarikan ke rumah sakit dan dilakukan
operasi untuk penjahitan lukanya.
Sejak 4 tahun lalu, pasien pernah minum racun baygon yang telah dilarutkan dengan air. Hal ini
dilakukan karena pasien bertengkar dengan pacarnya. Pasien melakukan hal ini agar mendapat
perhatian dan membuat heboh. Awalnya pasien ingin agar semuaorang yang menyayanginya tahu
bahwa dia kesepian dan butuh kasih sayang.

b. Riwayat Gangguan Medik


• Pasien tidak ada riwayat gangguan medis, dan pasien pernah dirawat di rumah sakit karena
mengiris lengannya.
• Riwayat mengalami kejang demam (-), kejang tanpa demam (-), penyakit malaria (-), thypoid (-),
trauma kepala (-)

c. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif / Alkohol


Riwayat mengkonsumsi alkohol dan rokok (+) bila pasien merasa sedih dan bila sedang berkumpul
dengan temannya, pasien merokok paling banyak 1 batang, hanya untuk menghilangkan jenuh dan
kesedihannya. Pasien pernah menghirup ganja 1 kali karena diberikan oleh pacarnya dan pasien
mengaku setelah itu tidak mengalami kecanduan dan pasien saat itu tidak tahu bila itu sejenis ganja.

4. Riwayat Kehidupan Pribadi


a. Riwayat pranatal
Pasien merupakan anak yang diharapkan, ibu pasien rajin kontrol ke bidan. Saat usia 3 bulan dalam
kandungan, ayah pasien meninggal dunia.
b. Riwayat perinatal
Pasien lahir cukup bulan, spontan, di rumah, ditolong bidan, berat lahir sekitar 3 kg. Pasien tidak
tahu apakah pasien diimunisasi dan langsung menangis pada saat dilahirkan.
c. Riwayat masa kanak-kanak awal (0-3 tahun)
Pasien tumbuh dan berkembang seperti anak normal, mendapat imunisasi sesuai jadwal posyandu.
Saat pasien usia 3 tahun, ibu pasien menikah lagi dengan seorang perjaka.
d. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa kanak-kanak normal dan sama seperti anak-anak
lainnya. Saat pasien usia 4 tahun, ibu pasien pindah ke Jakarta bersama suaminya. Pasien diasuh
oleh neneknya. Pasien mengaku telah tampak karakternya yang kasar saat masih kecil. Pasien sering
memukul dan bicara kasar kepada nenek dan keluarganya yang lain. Pasien menempuh pendidikan
TK, dan selama sekolah pasien mampu belajar dengan baik dan bermain bersama teman-temannya.
Pasien merupakan anak yang mudah bergaul. Ibu pasien kembali lagi ke Bengkulu saat pasien kelas 2
SD.
e. Riwayat Masa Remaja
Pasien tumbuh menjadi remaja yang normal dan dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. Pasien
sering bermasalah dengan ayah tirinya tetapi pasien tidak ingin menceritakan apa masalahnya.
Pasien merasa ayah tirinya sangat cuek dan tidak pernah memedulikannya. Pasien merasa kedua
orang tuanya lebih sayang dengan adik tirinya. Di sekolah pasien bisa mengikuti pelajaran dengan
baik dan tidak terganggu dengan masalahnya di rumah karena pasien mempunyai banyak teman.
f. Riwayat Masa Dewasa
Setelah tamat SMA, pasien bekerja di salah satu pusat perbelanjaan. Pasien membiayai
kebutuhannya sendiri. Pasien tidak ingin menjadi beban orang tuanya. Pasien memulai belajar di
perguruan tinggi saat usia pasien 21 tahun. Pasien membayar uang kuliah sendiri. Pasien kuliah
sambil bekerja. Pasien tidak lagi tinggal bersama orang tuanya. Pasien menyewa kosan di dekat
kampusnya. Pasien tinggal bersama teman kerjanya. Pasien memiliki banyak teman dan sering
menghamburkan uangnya dengan cara mentraktir teman-temannya.
g. Riwayat pendidikan
Pasien sekarang masih sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. Dari SD sampai SMA pasien
bisa mengikuti pelajaran dengan baik, prestasi pasien di sekolah biasa-biasa saja.
h. Riwayat pernikahan
Pasien belum menikah
i. Riwayat kehidupan beragama
Pasien beragama Islam dan tidak rajin beribadah
j. Riwayat Psikoseksual
Pasien pernah berhubungan seks dengan pacarnya yang keempat

k. Riwayat pelanggaran hukum


Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum dan terlibat dalam masalah hukum.
l. Aktivitas sosial
Pasien saat ini masih berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Hanya saja pasien sekarang jadi lebih
pendiam dan lebih suka berada di dalam rumah.

5. Riwayat Keluarga
Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa dengan pasien. Pasien merupakan anak pertama
dari 4 bersaudara. 3 orang adik pasien adalah saudara tiri dari ayah yang berbeda. Hubungan pasien
dengan keluarga inti seperti ibu, ayah dan keluarga besarnya tidak harmonis.

Genogram

Keterangan :
 Pasien

 Laki- laki

 Perempuan

 Menikah

 Tinggal satu rumah

 Meninggal

6. Situasi Kehidupan Sekarang


Pasien sekarang tinggal di kosan putra putri bersama seorang teman kerjanya. Pasien tinggal di
lingkungan yang padat penduduk. Pasien masih sering memikirkan masalahnya bersama mantan
pacarnya dan mengaku masih berhubungan lewat sms dengan mantan pacarnya. Pasien
menghilangkan rasa sedihnya saat ini dengan membelanjakan semua uangnya padahal uang itu
untuk membayar kuliahnya dan pasien sekarang terancam di drop out dari kampusnya.
Pasien tidak menceritakan masalahnya ini dengan ibu dan keluarganya yang lain, yang tahu hanya
teman-temannya. Pasien tidak ingin keluarganya tahu kalau dia sedang ada masalah dan berobat ke
RS Khusus Jiwa. Pasien tetap berusaha untu berobat ke psikiater dan rutin minum obat agar dia bisa
sembuh dari gangguan jiwanya sekarang.

7. Persepsi Pasien Terhadap Dirinya dan Lingkungannya


Pasien sangat terpukul dengan peristiwa yang menimpa dirinya dan sangat sedih dengan seluruh
kejadian dalam hidupnya. Pasien merasa takut untuk pacaran lagi. Pasien merasa keluarganya tidak
memberikan dukungan dan kasih sayang terhadapnya. Pasien hanya merasa memiliki teman-teman
yang peduli dengannya.

C. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


Pemeriksaan dilakukan di kosan pasien pada tanggal 7 Februari 2016, hasil pemeriksaan ini
menggambarkan situasi keadaan pasien saat home visit.
1. Deskripsi Umum
a. Penampilan
Perempuan berusia 23 tahun, paras sesuai umur dengan postur tubuh yang atletikus, kesan gizi
pasien cukup. Pasien memakai Pasien menggunakan dress pendek tidak berlengan warna hitam.
Penampilan rapi dan tubuh bersih terawat. Kuku pasien pendek, tidak menggunakan kutex. Pasien
tampak lebih santai dan tenang saat didatangi Home visite.
b. Kesadaran
Kompos mentis, secara kualitas tidak berubah
c. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Keadaan pasien tenang. Pasien tidak memperlihatkan gerak-gerik yang tidak bertujuan, gerak
berulang, maupun gerakan abnormal/involunter.
d. Pembicaraan
• Kuantitas: Pasien dapat menjawab pertanyaan dan dapat mengungkapkan isi hatinya dengan jelas.
• Kualitas: pasien dapat menjawab pertanyaan jika ditanya dan menjawab pertanyaan dengan
spontan, Pasien sering bercerita dengan spontan mengenai keadaan dirinya saat ini dan cerita
hidupnya. Intonasi berbicara pasien cukup jelas. Pembicaraan dapat dimengerti.
e. Tidak ada hendaya berbahasa
f. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien kooperatif, kontak mata adekuat. Pasien selalu menjawab pertanyaan dengan melihat ke
arah pemeriksa. Pasien dapat menjawab pertanyaan dengan baik.

2. Keadaan Afektif
a. Mood : Eutimia
b. Afek : Luas
c. Keserasian : Serasi

3. Gangguan Persepsi
Halusinasi, ilusi, derealisasi dan personalisasi disangkal.

4. Proses Pikir
a. Bentuk pikir: Realistik
b. Arus pikir
• Produktivitas : pasien dapat menjawab spontan saat diajukan pertanyaan,
• Kontinuitas : Koheren, mampu memberikan jawaban sesuai pertanyaan
• Hendaya berbahasa : Tidak terdapat hendaya berbahasa
c. Isi pikiran: Preokupasi (isi pikiran pasien terfokus pada masalah pada pasien)

5. Fungsi Intelektual / Kognitif


a. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
• Taraf pendidikan
Pasien masih berstatus mahasiswa di Universitas Dehasen Bengkulu, jurusan komunikasi.
• Pengetahuan Umum
Baik, pasien dapat menjawab dengan tepat siapa gubernur saat ini dan prioritas dari ilmu
komunikasi.
b. Daya konsentrasi dan perhatian
Konsentrasi pasien baik, pasien dapat mengurangkan angka 100 dikurang 7, dan 100 dikali 61.
Perhatian pasien baik, pasien bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan sistematis
dan jelas. Pasien juga sering mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan masalah
gangguannya dan solusi masalahnya.
c. Orientasi
• Waktu : Baik, pasien mengetahui saat wawancara saat pagi
hari
• Tempat : Baik, pasien mengetahui dia sedang berada
di kosannya.
• Orang : Baik, pasien mengetahui nama ibunya, dan
mengetahui sedang diwawancara oleh siapa.
d. Daya Ingat
• Daya ingat jangka panjang
Baik, pasien mengingat cerita masa kecilnya dan menceritakan dengan lengkap.
• Daya ingat jangka menengah
Baik, pasien dapat mengingat kapan terakhir kali ke luar kota untuk memenuhi tugasnya bekerja (± 6
bulan yang lalu).
• Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien dapat mengingat makan kemaren dengan lauk apa.
• Daya ingat segera
Baik, pasien dapat mengingat nama pemeriksa.
• Akibat hendaya daya ingat pasien
Tidak terdapat hendaya daya ingat pada pasien saat ini.
e. Kemampuan baca tulis: baik
f. Kemampuan visuospatial: baik
g. Berpikir abstrak: baik, pasien dapat menjelaskan persamaan apel dan jeruk
h. Kemampuan menolong diri sendiri : baik, pasien dapat melakukan perawatan diri sehari- hari
secara mandiri seperti mandi, makan dan minum, membersihkan kosan.
6. Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls pasien baik, selama wawancara pasien dapat mengendalikan emosi dengan
baik dan tampak selama pemeriksaan dilakukan pasien tenang.

7. Tilikan
Tilikan derajat V, pasien menyadari bahwa dirinya sedang mengalami gangguan karena masalah yang
dihadapinya dan sadar bahwa pasien membutuhkan pertolongan medis. Tetapi di masa depan
pasien belum bisa belajar dari pengalamannya.

8. Taraf Dapat Dipercaya


Kemampuan pasien untuk dapat dipercaya cukup akurat, pasien berkata dengan jujur mengenai
peristiwa yang terjadi, dan di cross check juga dengan temannya yang tinggal satu kosan.

D. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis
a. KU : Tampak Sehat
b. Sensorium : CM (GCS: E4 V5 M6)
a. Vital Sign
• TD : 120/80 mmHg
• Nadi : 86 x/menit
• RR : 20 x/menit
• Suhu : 36,7 oC

2. Status Internus
Kepala Normocephali, rambut tidak mudah dicabut, pertumbuhan rambut merata, dan warna
rambut hitam
Mata Sklera ikterik -/-, conjungtiva palpbera anemis -/-, edema palpebra -/-
Hidung deformitas (-), tidak ada sekret.
Telinga deformitas (-), liang lapang, pengeluaran sekret (-).
Mulut bibir tidak sianosis, lidah kotor (-), papil lidah tersebar merata, mukosa lidah merah
Leher Dalam batas normal
Thorax Tidak terdapat scar, simetris kiri dan kanan
Paru I Pernapasan Statis-Dinamis kiri = kanan.
P Stem fremitus kiri sama dengan kanan
P Sonor di semua lapangan paru
A Vesikuler normal, wheezing (-/-), rhonki (-/-)
Jantung I iktus kordis tidak terlihat
P Iktus kordis teraba di linea midklavikula sinistra SIC V
P Batas jantung dalam batas normal
A Bunyi jantung normal
Abdomen I Datar, tampak benjolan (-)
A Bising usus (+)
P Timpani (+) di seluruh regio abdomen
P Nyeri tekan (-)
Ektremitas Pitting edema (-/-), akral teraba hangat.

3. Status Neurologis
a. Saraf kranial : dalam batas normal
b. Saraf motorik : dalam batas normal
c. Sensibilitas : dalam batas normal
d. Susunan saraf vegetatif : dalam batas normal
e. Fungsi luhur : dalam batas normal

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LANJUT


Belum diperlukan pemeriksaan penunjang pada pasien saat ini

F. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


1. Wanita berusia 23 tahun, belum menikah.
2. Penampilan bersih dan rapi, perawatan diri baik
3. Pasien mempunyai keluhan tidak semangat hidup dan mencoba bunuh diri karena putus dengan
pacarnya dan ingin mencari perhatian orang-orang di sekitarnya.
4. Pasien juga merasa orang tuanya tidak peduli dengannya.
5. Pasien sering menangis bila ingat kisah hidupnya, pasien merasa kesepian dan tidak mau
melakukan aktivitas seperti kuliah dan ke kampus.
6. Pasien kooperatif, kontak mata adekuat, pembicaraan pasien koheren. Mood pasien eutimia
dengan afek luas.
7. Terdapat bentuk pikir realistik, arus pikir koheren, & isi pikir: preokupasi (isi pikiran pasien
terfokus pada masalahnya).

G. FORMULASI DIAGNOSIS
• Aksis 1
Pada PTSD, pasien harus mengalami suatu stress emosional yang besar yang bersifat traumatik.
PTSD terdiri dari pengalaman kembali trauma melalui mimpi dan pikiran yang membangunkan
(wakin through), penghindaran yang persisten oleh penderita terhadap trauma dan penumpulan
responsivitas pada penderita tersebut, kesadaran berlebihan (hyperarousal) yang persisten. Pada
pasien ini mengalami trauma percintaan dengan mantan-mantan pacarnya dan memiliki gejala-
gejala PTSD.
Pasien melakukan bunuh diri berhubungan dengan tingkat depresinya. Bunuh diri biasanya dilakukan
saat onset depresi berlangsung atau di akhir episode depresif. Sesuai dengan gejala depresi pada
pasien yaitu afek depresi, kehilangan minat dan kegembiraan, mudah lelah dan menurunnya
aktivitas, konsentrasi berkurang, perasaan tidak berguna, pesimistis, gagasan bunuh diri, tidur
terganggu dan nafsu makan berkurang.
Tidak ada riwayat cedera kepala selama trauma. Tidak ada riwayat epilepsi, gangguan penggunaan
alkohol, dan gangguan berhubungan zat lainnya.
• Aksis II
Pada pasien ini didapatkan perilaku yang tidak stabil dari mood dan afek, adanya percobaan bunuh
diri dan pernah melakukan mutilasi diri, perasaan kosong dan bosan. Sehingga pasien ini mengalami
gangguan kepribadian borderline.
• Aksis III
Pada anamnesis dan pemeriksaan fisik tidak didapatkan kelainan berarti aksis III tidak ada diagnostik.
• Aksis IV
Pasien memiliki masalah dengan ayah tirinya, pasien merasa orang tuanya tidak peduli dengannya.
pasien juga memiliki masalah dengan pacarnya. Sehingga diagnosis aksis IV pada pasien ini mengenai
primary support group (keluarga) dan psikoseksual.
• Aksis V
Pasien ini telah membahayakan dirinya sendiri dengan cara percobaan bunuh diri yang berulang,
disabilitas pada beberapa fungsi pekerjaan. Sehingga didapatkan GAF scale 20-11.

H. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
1. Aksis I
F.43.1 Gangguan stress pasca trauma
F.31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik
Percobaan bunuh diri
2. Aksis II
F60.31 Gangguan kepribadian borderline
3. Aksis III
Tidak ada diagnosis
4. Aksis IV
Family support group (keluarga) dan psikoseksual
5. Aksis V
GAF scale 20-11

I. PROGNOSIS
1. Faktor yang memberikan pengaruh baik:
a. Adanya faktor presipitasi yaitu putus dengan pacar
b. Pasien mau minum obat
c. Tidak ada masalah kesehatan medis
d. Teman-teman pasien peduli dan mendukung pasien

2. Faktor yang memberikan pengaruh buruk:


a. Usia muda
b. Belum menikah
c. Terdapat komorbiditas dengan gangguan psikiatri lainnya
d. Gejala depresi yang menonjol
e. Pemikiran bunuh diri
Prognosis pasien secara menyeluruh adalah dubia ad malam. Sehingga kesimpulan prognosis pada
pasien berdasarkan wawancara diatas, sebagai berikut :
 Quo Ad Vitam : dubia ad malam
 Quo Ad Functionam : dubia ad malam
 Quo Ad Sanationam : dubia ad malam

J. Terapi
1. Psikofarmaka
- Fluxetine 2 x 20 mg

2. Psikoterapi & Edukasi


a. Terapi paparan (exposure therapy). Pasien dihadapkan pada keadaan traumatis secara perlahan-
lahan dan bergradasi untuk mencapai desensitisasi.
b. Manajemen stress (anxiety management). Mengajari pasien cara menangani stress termasuk
teknik relaksasi dan pendekatan kognitif untuk mengatasi masalah.
 relaxation training
 breathing retraining
 positive thinking dan self-talk
 asser-tiveness training
 thought stopping
 cognitive therapy
c. Pendidikan dan supportive konseling
d. Modifikasi pola hidup seperti diet yang sehat, menghindari konsumsi kafein, alkohol, rokok dan
obat-obatan lainnya, perlunya olahraga yang teratur, dan lain-lain.

BAB I
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. F
Usia : 5 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Anak ke : 1 dari 1 bersaudara
Agama : Isla
Pendidikan : PAUD
Suku : Jawa
Status : Belum Menikah
Pekerjaan : Pelajar
Alama : JL. xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Kota Bengkulu
No RM : xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Tanggal Pemeriksaan : 19/12/2015 pukul 16.00 WIB

B. IDENTITAS ORANG TUA


Nama Ayah : Tn. G
Umur : 28 Tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : TKI
Nama Ibu : Ny. Y
Umur : 25 Tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga

C. RIWAYAT PSIKIATRI
(Alloanamnesis)
1. Keluhan Utama
Pasien menjadi pendiam dan mudah ketakutan sejak ± 1 bulan SMRS

2. Riwayat Gangguan Sekarang


Diperoleh dari Ibu pasien, Ny. Y, berusia 25 tahun, seorang ibu rumah tangga yang tinggal
serumah dengan pasien. Ny. Y mengatakan bahwa sejak ± 1 bulan SMRS pasien menjadi
pendiam dan mudah ketakutan. Pasien sebelumnya adalah anak yang periang dan mudah
bergaul mengalami perubahan setelah pasien mengalami peristiwa perkosaan yang dilakukan
oleh tetangganya sendiri. Peristiwa tersebut diketahui oleh Ny. Y dari cerita pasien sendiri,
pasien bercerita kepada ibunya bahwa tetangganya (anak laki-laki umur 12 tahun)
memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan pasien. Sejak kejadian itu, pasien juga
menjadi pemurung dan malas pergi ke sekolah (PAUD), sehingga ibu pasien harus
menunggui pasien disana agar pasien mau bersekolah. Di sekolah pasien sering mengadu
kepada ibunya bahwa teman-teman laki-laki di sekolahnya jahat hanya karena mereka
mendekati dan memegang tangan pasien. Pasien masih dapat berinteraksi dan bermain
dengan teman-teman perempuan, namun tiba-tiba menceritakan kembali peristiwa perkosaan
tersebut kepada ibunya yang menungguinya seolah-olah kejadian itu baru saja terjadi. Pasien
tidak pernah lagi bermain ke rumah tetangganya tersebut. Pasien juga menjadi susah makan
dan sering terbangun karena mimpi buruk. Saat bangun di pagi hari pasien selalu
menceritakan kembali peristiwa perkosaan itu.

3. Riwayat Gangguan Sebelumnya


a. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien belum pernah ada gangguan psikiatri sebelumnya, pasien belum pernah berobat ke
rumah sakit jiwa maupun ke psikiater.
b. Riwayat Gangguan Medik
• Pasien tidak ada riwayat gangguan medis, dan pasien belum pernah dirawat di rumah sakit
sebelumnya.
• Riwayat mengalami kejang demam (-), kejang tanpa demam (-), penyakit malaria (-),
thypoid (-), trauma kepala (-)
c. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif / Alkohol
Riwayat mengkonsumsi alkohol, rokok, dan narkoba tidak ada.
4. Riwayat Kehidupan Pribadi
a. Riwayat pranatal
Periksa kehamilan An.F rutin setiap bulan ke bidan, penyakit selama kehamilan disangkal,
tidak ada minum obat-obatan dan jamu.
b. Riwayat perinatal
Pasien lahir cukup bulan, spontan, di rumah, ditolong bidan, berat lahir 3,2 kg, lahir langsung
menangis, dan mendapat suntikan vit. K dan imunisasi.
c. Riwayat masa kanak-kanak awal (0-3 tahun)
Pasien tumbuh dan berkembang seperti anak normal, mendapat imunisasi sesuai jadwal
posyandu.
d. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa ini normal dan sama seperti anak-anak lainnya.
Pasien menempuh pendidikan PAUD, dan selama sekolah pasien mampu belajar dengan baik
dan bermain bersama teman-temannya. Pasien merupakan anak yang periang dan mudah
bergaul.
e. Riwayat pendidikan
Pasien baru masuk PAUD selama ± 1 tahun.
f. Riwayat pernikahan
Pasien belum menikah
g. Riwayat kehidupan beragama
Pasien beragama Islam dan rajin beribadah
h. Riwayat Psikoseksual
Pasien mengalami perkosaan oleh tetangganya ± 1 minggu yang lalu
i. Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum dan terlibat dalam masalah hukum.
j. Aktivitas sosial
Pasien saat ini masih berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Hanya saja pasien sekarang jadi
lebih pendiam dan lebih suka berada di dalam rumah.

5. Riwayat Keluarga
Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa dengan pasien. Pasien merupakan anak
tunggal. Hubungan pasien dengan keluarga inti seperti ibu, ayah dan keluarga besarnya baik.

Genogram

Keterangan :

 Pasien

 Laki- laki

 Perempuan

 Menikah

 Tinggal dirumah

6. Situasi Kehidupan Sekarang


Pasien sekarang tinggal dirumah bersama ibunya. Keseharian pasien lebih banyak di rumah.
Pasien belajar di PAUD sejak ± 1 tahun terakhir. Pasien lebih suka di rumah dan malas pergi
ke PAUD sejak kejadian perkosaan itu. Lingkungan tempat tinggal terkesan cukup baik.
Pasien tinggal di daerah yang cukup padat penduduk dan berdekatan dengan tetangga.
Hubungan pasien dengan keluarga dan tetangga dikenal cukup baik, namun paien tidak
pernah lagi berinteraksi dengan tetangga yang mempekosanya dan keluarganya.
Dalam biaya pengobatan pasien dengan biaya umum. Keluarga pasien cukup terbuka dan
mendukung kesembuhan pasien dengan bekerjasama dengan dokter/psikolog dalam terapi
hingga kontrol untuk menilai perkembangan pasien.

7. Persepsi Pasien Terhadap Dirinya dan Lingkungannya


Pasien tidak menyadari saat ini sedang mengalami masalah. Pasien menyadari bahwa
kejadian perkosaan itu membuat ibunya bersedih dan ikut sedih karenanya.

D. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


Pemeriksaan dilakukan di rumah pasien pada tanggal 19 Desember 2015, hasil pemeriksaan
ini menggambarkan situasi keadaan pasien saat home visit.
1. Deskripsi Umum
a. Penampilan
Perempuan berusia 5 tahun, paras sesuai umur dengan postur tubuh yang atletikus, kesan gizi
pasien cukup. Pasien memakai baju kaos lengan panjang berwarna merah dengan jilbab
berwarna merah, celana kaos panjang warna merah. Kuku pasien pendek, tidak menggunakan
kutex, sesuai umurnya. Pasien tampak ceria dan tenang saat didatangi Home visite.
b. Kesadaran
Kompos mentis, secara kualitas tidak berubah
c. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Keadaan pasien tenang. Pasien tidak memperlihatkan gerak-gerik yang tidak bertujuan, gerak
berulang, maupun gerakan abnormal/involunter.
d. Pembicaraan
• Kuantitas : Pasien dapat menjawab pertanyaan dan dapat mengungkapkan isi hatinya
dengan jelas.
• Kualitas : pasien dapat menjawab pertanyaan jika ditanya dan menjawab pertanyaan dengan
spontan, Pasien sering bercerita dengan spontan mengenai keadaan dirinya saat ini sesuai
usianya. Intonasi berbicara pasien cukup jelas. Pembicaraan dapat dimengerti.
e. Tidak ada hendaya berbahasa.
f. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien kooperatif, kontak mata adekuat. Pasien selalu menjawab pertanyaan dengan melihat
kearah pemeriksa. Pasien dapat menjawab pertanyaan dengan cukup baik.

2. Keadaan Afektif
a. Mood : Eutimia
b. Afek : Luas
c. Keserasian : Serasi

3. Gangguan Persepsi
Tidak ada

4. Proses Pikir
a. Bentuk pikir : Realistik
b. Arus pikir
• Produktivitas : pasien dapat menjawab spontan saat diajukan pertanyaan,
• Kontinuitas : Koheren, mampu memberikan jawaban sesuai pertanyaan
• Hendaya berbahasa : Tidak terdapat hendaya berbahasa
c. Isi pikiran : preokupasi ( isi pikiran pasien terfokus pada masalah pada pasien)

5. Fungsi Intelektual / Kognitif


a. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
• Taraf pendidikan
Pasien masih mungikuti PAUD
• Pengetahuan Umum
Baik, pasien dapat menjawab dengan tepat siapa presiden Indonesia dan Ibukota negara
Republik Indonesia.
b. Daya konsentrasi dan perhatian
Konsentrasi pasien baik, pasien dapat mengurangkan angka 10 dikurang 1, dan
menambahkan 1 dengan 2
Perhatian pasien Baik, pasien bisa mengeja kata AYAH dan bisa menyebutkan benda-benda
yang berawalan huruf A.
c. Orientasi
• Waktu : Baik, pasien mengetahui saat wawancara saat sore
hari
• Tempat : Baik, pasien mengetahui dia sedang berada
dirumahnya
• Orang : Baik, pasien mengetahui nama ibunya, dan
mengetahui sedang diwawancara oleh siapa.
d. Daya Ingat
• Daya ingat jangka menengah
Baik, pasien dapat mengingat kapan terakhir kali bertemu dengan ayahnya (± 1 tahun yang
lalu)
• Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien dapat mengingat makan apa tadi pagi
• Daya ingat segera
Baik, pasien dapat mengingat nama pemeriksa dan dapat mengulang tiga kata yang
disebutkan oleh pemeriksa
• Akibat hendaya daya ingat pasien
Tidak terdapat hendaya daya ingat pada pasien saat ini.
e. Kemampuan baca tulis: baik
f. Kemampuan visuospatial: baik
g. Berpikir abstrak: baik, pasien dapat menjelaskan persamaan apel dan pir
h. Kemampuan menolong diri sendiri : baik, pasien dapat melakukan perawatan diri sehari-
hari secara mandiri seperti mandi, makan dan minum.

6. Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls pasien baik, selama wawancara pasien dapat mengendalikan emosi
dengan baik dan tampak selama pemeriksaan dilakukan pasien tenang.

7. Tilikan
Tilikan derajat 1, pasien tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami masalah.

8. Taraf Dapat Dipercaya


Kemampuan pasien untuk dapat dipercaya cukup akurat, pasien berkata dengan jujur
mengenai peristiwa yang terjadi, dan di cross check juga dengan keterangan dari ibu pasien
yang menceritakan kejadian yang serupa.

E. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis
a. KU : Tampak Sehat
b. Sensorium : CM (GCS: E4 V5 M6)
a. Vital Sign
• Nadi : 92 x/menit
• RR : 26 x/menit
• Suhu : 36,8 oC

2. Status Internus
Kepala Normocephali, rambut tidak mudah dicabut, pertumbuhan rambut merata, dan warna
rambut hitam
Mata Sklera ikterik -/-, conjungtiva palpbera anemis -/-, edema palpebra -/-
Hidung deformitas (-), tidak ada sekret.
Telinga deformitas (-), liang lapang, pengeluaran sekret (-).
Mulut bibir tidak sianosis, lidah kotor (-), papil lidah tersebar merata, mukosa lidah merah
Leher Dalam batas normal
Thorax Tidak terdapat scar, simetris kiri dan kanan
Paru I Pernapasan Statis-Dinamis kiri = kanan.
P Tidak dilakukan
P Dalam batas normal
A Dalam batas normal
Jantung I iktus kordis tidak terlihat
P Tidak dilakukan
P Tidak dilakukan
A Bunyi jantung normal
Abdomen I Datar, tampak benjolan (-)
A Bising usus (+)
P Timpani (+) di seluruh regio abdomen
P Nyeri tekan di reg. epigastrium
Ektremitas Pitting edema (-/-) pada ekstrimitas, akral teraba hangat.

3. Status Neurologis
a. Saraf kranial : dalam batas normal
b. Saraf motorik : dalam batas normal
c. Sensibilitas : dalam batas normal
d. Susunan saraf vegetatif : dalam batas normal
e. Fungsi luhur : dalam batas normal

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LANJUT


Belum diperlukan pemeriksaan penunjang pada pasien saat ini

G. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


1. Wanita berusia 5 tahun, belum menikah.
2. Penampilan bersih dan rapi, perawatan diri baik
3. Pasien mempunyai keluhan perubahan perilaku, menjadi pendiam dan mudah ketakutan,
sejak kejadian perkosaan yang dilakukan oleh tetangganya.
4. Pasien jadi cenderung malas mengikuti PAUD karena pasien menganggap temen-teman
laki-laki yang ada disana jahat.
5. Pasien mengalami penurunan nafsu makan, gangguan tidur dan selalu teringat akan
kejadian perkosaan tersebut seolah-olah baru saja terjadi.
6. Pasien menyadari ibunya merasa sedih atas kejadian yang menimpanya dan merasa sedih
karenanya.
7. Pasien kooperatif, kontak mata adekuat, pembicaraan pasien koheren. Mood pasien
eutimia dengan afek luas.
8. Terdapat bentuk pikir realistik, arus pikir koheren, & isi pikir : preokupasi (isi pikiran
pasien terfokus pada masalah kejadian perkosaan).

H. FORMULASI DIAGNOSIS
Pada PTSD, pasien harus mengalami suatu stress emosional yang besar yang bersifat
traumatik bagi setiap orang. Peristiwa trauma tersebut termasuk trauma peperangan, bencana
alam, penyerangan, pemerkosaan, dan kecelakaan yang serius. PTSD terdiri dari pengalaman
kembali trauma melalui mimpi dan pikiran yang membangunkan (wakin through),
penghindaran yang persisten oleh penderita terhadap trauma dan penumpulan responsivitas
pada penderita tersebut, kesadaran berlebihan (hyperarousal) yang persisten. Pada pasien ini
mengalami trauma berupa perkosaan yang dilakukan oleh tetangganya dan memiliki gejala-
gejala PTSD.
Gangguan stress akut dengan PTSD pada dasarnya sama, baik dari segi gejala-gejala, etiologi
yang berupa stressor. Menurut DSM-IV perbedaan antara gangguan stress akut dengan PTSD
adalah lamanya gejala berlangsung yaitu pada gangguan stress akut berlangsung 2 hari
hingga 1 bulan sedangkan pada PTSD berlangsung lebih dari 1 bulan. Keluhan yang
dirasakan pasien sudah terjadi ± 1 bulan.
Tidak ada riwayat cedera kepala selama trauma. Tidak ada riwayat epilepsi, gangguan
penggunaan alkohol, dan gangguan berhubungan zat lainnya.

I. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
1. Aksis I
F.62 PTSD
2. Aksis II
Tidak ada diagnosis
3. Aksis III
Tidak ada diagnosis
4. Aksis IV
Tidak ada diagnosis
5. Aksis V
GAF scale 60 – 51

J. PROGNOSIS
1. Faktor yang memberikan pengaruh baik:
Indikator psikososial: Ibu pasien selalu memberikan dukungan kepada anaknya & tidak
pernah memarahi anaknya. Pasien masih mengikuti PAUD dengan ditunggui oleh ibunya.
a. Tidak ada komorbiditas dengan gangguan psikiatri lainnya.
b. Kepribadian premorbid à menunjukan kepribadian yg baik di lingkungannya dan interaksi
sosialnyabaik

2. Faktor yang memberikan pengaruh buruk:


a. Pasien menyadari kesedihan yang dirasakan ibunya atas kejadian yang menimpanya.
b. Tidak ada anggota keluarga lain yang tinggal bersama yang dapat membantu selain ibunya.
c. Pelaku masih tinggal di sekitar rumah pasien sehingga kemungkinannya untuk bertemu
cukup besar.
Prognosis pasien secara menyeluruh adalah dubia ad bonam. Sehingga kesimpulan prognosis
pada pasien berdasarkan wawancara diatas, sebagai berikut :
 Quo Ad Vitam : dubia ad bonam
 Quo Ad Functionam : dubia ad malam
 Quo Ad Sanationam : dubia ad bonam

K. Terapi
1. Psikofarmaka
-
2. Psikoterapi & Edukasi
a. Terapi paparan (exposure therapy). Pasien dihadapkan pada keadaan traumatis secara
perlahan-lahan dan bergradasi untuk mencapai desensitisasi.
b. Manajemen stress (anxiety management). Mengajari pasien cara menangani stress
termasuk teknik relaksasi dan pendekatan kognitif untuk mengatasi masalah.
 relaxation training
 breathing retraining
 positive thinking dan self-talk
 asser-tiveness training
 thought stopping
 cognitive therapy
c. Terapi bermain (play therapy).
d. Pendidikan dan supportive konseling
e. Modifikasi pola hidup seperti diet yang sehat, menghindari konsumsi kafein, alkohol,
rokok dan obat-obatan lainnya, perlunya olahraga yang teratur, dll

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder adalah Gangguan kejiwaan pada seseorang yang
dialami dan berkembang setelah pengalaman traumatik, atau menyaksikan suatu kejadian
yang mengancam jiwa, mencederai luka, atau ancaman terhadap integritas dari tubuh,
biasanya diiringi dengan ketidakmampuan seseorang untuk beradaptasi. Pengertian lain dari
PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) adalah kecemasan patologis yang umumnya terjadi
setelah seseorang mengalami atau menyaksikan trauma berat yang mengancam secara fisik
dan jiwa orang tersebut. Pengalaman traumatik ini dapat berupa:
1. Trauma yang disebabkan oleh bencana seperti bencana alam (gempa bumi, banjir, topan),
kecelakan, kebakaran, menyaksikan kecelakaan atau bunuh diri, kematian anggota keluarga
atau sahabat secara mendadak.
2. Trauma yang disebabkan individu menjadi korban dari interpersonal attack seperti: korban
dari penyimpangan atau pelecehan seksual, penyerangan atau penyiksaan fisik, peristiwa
kriminal (perampokan dengan kekerasan), penculikan, menyaksikan perisiwa penembakan
atau tertembak oleh orang lain.
3. Trauma yang terjadi akibat perang atau konflik bersenjata seperti: tentara yang mengalami
kondisi perang, warga sipil yang menjadi korban perang atau yang diserang, korban terorisme
atau pengeboman, korban penyiksaan (tawanan perang), sandera, orang yang menyaksikan
atau mengalami kekerasan.
4. Trauma yang disebabkan oleh penyakit berat yang diderita individu seperti kanker,
rheumatoid arthritis, jantung, diabetes, renal failure, multiple sclerosis, AIDS dan penyakit
lain yang mengancam jiwa penderitanya.

B. EPIDEMIOLOGI
Pada Studi community-based yang dilakukan di AS mendokumentasikan prevalensi seumur
hidup pada PTSD sekitar 8% dari populasi orang dewasa. Menurut National Comorbidity
Survey Replication gambaran ini sekitar 6,8 %. Kejadian PTSD muncul paling tinggi
terutama pada orang yang mengalami trauma (muncul pada 1/3 hingga ¾ dari mereka yang
mengalami pemerkosaan, perang, penculikan, pengasingan dengan alasan politik, dan
genosida.
Studi epidemiologi menunjukkan PTSD seringkali kronik, dengan jumlah orang yang secara
signifikan bergejala beberapa tahun setelah kejadian awal. Untuk menegaskan pandangan ini,
data epidemiologis menunjukkan frekuensi. Sebagai contohnya,studi dari the National
Vietnam Veterans Readjustment menemukkan prefalensi seumur hidup, 30,9% hingga 15,2
% pada pria dan 26,9% hingga 8,5% pada perempuan. Pada populasi korban perkosaan,
illpatrick dan colleagues menemukan prevalensi seumur hidup 75,8% dan prevalensi 39,4%.
Pada studi oleh Pynoos and associates pada anak-anak menunjukkan tingkat prevalensi
58,4% pada anak-anak yang mendapat serangan sniper di AS dan 70,2% pada mereka yang
terkena gempa bumi di Armenia. Kessler and colleagues mendokumentasikan 1/3 dari
mereka yang terdiagnosis PTSD gagal sembuh setelah beberapa tahun.
Epidemiologi dari PTSD berdasarkan studi Community-based epidemiological menunjukkan
70% dari individu yang mengalami trauma, yang dipengaruhi oleh kejadian traumatik, faktor
predisposisi dan faktor lingkungan peritraumatik dalam memahami etiologi dari PTSD,
terutama pada gangguan interaksi dari 3 grup faktor. Perkembangan dari PTSD berhubungan
dengan kejadian yang dialami pasien, yang secara konsisten memiliki keterkaitan erat dengan
stress yang dialami dan resiko perkembangan PTSD. Keterkaitan ini terdapat pada populasi
orang yang mengalami trauma.

C. FAKTOR RESIKO PTSD


1. Jenis kelamin perempuan, 2 hingga 4 kali lipat dibandingkan pada laki-laki meskipun laki-
laki lebih cenderung mengalami kejadian traumatik.
2. Gangguan jiwa sebelumnya (preexisting anxiety disorder atau preexisting major
depression) beresiko 2 kali lipat dibandingkan mereka yang tidak mengalami gangguan jiwa.
3. Adanya gangguan psikiatrik sebelum trauma baik pada individu yang bersangkutaan
maupun keluarganya.
4. Adanya trauma masa kanak, seperti kekerasan fisik maupun seksual.
5. Ciri kepribadian ambang, paranoid, dependent, atau antisosial.
6. Mempunyai karakter yang bersifat introvert atau isolasi sosial; adanya problem
menyesuaikan diri.
7. Adanya kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi secara bermakna.
8. Terpapar oleh kejadian-kejadian dalam kehidupan yang luar biasa sebelumnya baik tunggal
maupun ganda dan dirasakan secara subjektif oleh suatu kondisi atau peristiwa yang
menimbulkan penderitaan bagi dirinya.

D. ETIOLOGI
Respon kognitif dan afektif juga penting dalam menentukkan PTSD yang dikembangkan.
Kejadian traumatik didefinisikan dengan kejadian yang melibatkan pengalaman atau
menyaksikan kejadian nyata yang mengancam jiwa, cedera berat, atau mengatahui kematian
yang mengenaskan yang melibatkan ketakutan yang mendalam, ketidakberdayaan, atau
kejadian mengerikan.
1. Psikodinamika
Ego klien telah mengalami trauma berat, sering dirasakan sebagai ancaman terhadap
integritas fisik atau konsep diri. Hal ini menyebabkan ansietas berat yang tidak dapat
dikendalikan oleh ego dan dimanifestasikan dalam bentuk perilaku simtomatik. Karena ego
menjadi rentan, superego dapat menghukum dan menyebabkan individu merasa bersalah
terhadap kejadian traumatik tersebut. dapat menjadi dominan, menyebabkan perilaku
impulsif tidak terkendali.

2. Faktor Biologi
Pasien dengan PTSD kronis mengalami peningkatan norepinephrine di sirkulasi dan
peningkatan reaktifitas alpha-2-adrenergic receptors. Perubahan ini dihipotesiskan sesuai
gejala somatik yang muncul pada individu dengan PTSD. Studi neuroanatomi mengaitkan
perubahan pada amygdala dan hippocampus pada pasien dengan PTSD, MRI fungsional dan
positron-emmision tomography yang menunjukkan peningkatan pada aktifitas amygdala dan
anterior paralimbic region ke stimulus yang berhubungan dengan trauma. Maka, sebagai
respon yang beerhubungan dengan trauma, terjadi penurunan reaktifitas dari anterior
cingulate dan orbitofontal areas. Perubahan biologis ini menunjukkan gejala neuroanatomical
substrate untuk gejala yang termasuk karakteristik dari PTSD (intrusive recollections dan
gangguan kognitif lainnya). Bagaimanapun tidak diketahui perubahan sebelumnya sebagai
hasil terpaparnya trauma atau karena menderita PTSD.

3. Sympathetic Nervous System Alterations.


Terdapat assosiasi positif antar diagnosis PTSD dan akitivitas cardiovascular, terutama
individu yang telah didiagnosis PTSD dengan nadi yang tinggi pada saat istirahat yang
berkaitan dengan individu yang terpapar trauma tanpa diagnosis PTSD dan kontrol yang tidak
terpapar trauma, hal ini menunjukkan studi dengan sampel PSTD kronis terdapat peningkatan
urin cathecolamine 24 jam, selain itu terdapat peningkatan aktivitas simpatis. Terdapat
demonstrasi berulang terhadap peninggian sympathetic arousal pada pasien dengan PTSD
yang direkonstruksi ulang saat trauma.
Meskipun kondisi ini dapat dijelaskan dengan keterkaitan trauma dengan respon fisiologis
yang meningkat pada pasien dengan PTSD, namun tidak menjelaskan individu yang
mengalami seseorang individu dapat mengalami perkembangan PTSD, sementara individu
yang lain tidak. Dapat dihipotesiskan terdapat perbedaan suskeptibilitas untuk membentuk
PTSD pada masing-masing variasi individu dibandingkan dengan individu lain, maka
individu yang mengalami kejadian traumatik lebih sering mengalami PTSD.
Terdapat disfungsi otak pada individu dengan PTSD, dimana terdapat pembangkitan
potensial yang abnormal. Pada ERP dapat menggagaskan pasien dengan PTSD mengalami
penghambatan kortikal pada stimulus dengan intensitas tinggi, gangguan pada memori dan
konsentrasi, defisit auditorik dan peningkatan perhatian pada stimulus yang berkaitan dengan
trauma. Bagaimanapun perlu dilakukan studi lanjutan pada PSTD.
Respon psychophsiological pada pemaparan trauma yang akut dapat memprediksi
perkembangan PTSD, individu yang selamat setelah kejadian traumatik mengalami
peningkatan nadi selama 1 minggu.

4. Sympathetic Nervous System Alterations.


Pada individu yang mengalami PTSD terjadi upaya untuk mempertahankan homeostasis,
terjadi perubahan endogen, stress-responsive neurohormon, seperti cortisol, epinephrine,
norepinephrine, vasopressin, oxytocin, pada stress awal terjadi perubahan The hypothalamic-
pituitary-adrenal yaitu hypothalamic dan extrahypothalamic corticotropin-releasing hormon,
monoaminergic, dan gamma-amniobutyric acid/ benzodiazepine systems, stress juga
menunjukkan perubahan struktural dan fungsional pada otak seperti depresi, dari data terlihat
kelainan terutama pada The hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis secara ekstensif
dipelajari dalam sistem neuroendokrin pada pasien dengan PTSD. Penemuan penting yaitu:
berkurangnya ekskresi cortisol urin 24 jam, supersuppresion pada cortisol setelah pemberian
low-dose dexamethasone, menumpulnya respon corticotropin pada corticotropin releasing-
hormone dan peningkatan reseptor glukokortikoid, hal ini menunjukkan PTSD kronis diikuti
oleh supersuppresion pada emergency HPA response pada stress akut. Hal ini dapat terjadi
karena proteksi diri individu pada toksisitas tingginya corticosteroid yang muncul pada
pemaparan berulang stress yang mengingatkannya terhadap trauma. Selain itu perubahan
aksis HPA terhadap perubahan reseptor glukokortikoid berkaitan dengan beratnya gejala
PTSD, tetapi tidak dengan less specific anxiety dan depressive symptoms, pada penelitian
dengan sampel veteran AS perang vietnam yang bertarung langsung yang mengalami PTSD
memiliki cortisol yang lebih rendah dibandingkan veteran AS perang Vietnam yang tidak
bertarung langsung yang mengalami PTSD.
Jadi faktor neuroendokrin pada PTSD menunjukkan abnormalitas yang spesifik,
dibandingkan gangguan jiwa lainnya, pada pasien dengan PTSD menunjukkan negative
feedback inhibiton dengan berlebihannya respon cortisol terhadap dexamethasone, disertai
peningkatan reseptor glukokortikoid dan cortisol basal, penemuan ini kontras terhadap pasien
dengan depresi mayor yaitu wanita dengan childhood abuse dengan didiagnosis current major
depression menunjukkan 6 kali lipat respon adrenocorticotropic hormone terhadap stress
terjadi penumpulan respon cortisol terhadap dexamethasone disertai pengurangan jumlah
reseptor glukokortikoid dan cortisol basal pada studi biologi longitudinal terdapat penurunan
kortisol 15 μg/dL hingga ke 30 μg/dL, selain itu efek ini juga dipengaruhi fight-or-flight
reactions.

5. Sleep Studies
Pada studi didapatkan dua kriteria jelas yang berhubungan dengan keluhan tidur pada
individu dengan PTSD:nightmare dengan kejadian traumatik, kegagalan untuk memulai dan
mempertahankan tidur, data selanjutnya menggagaskan kesulitan tidur pada individu dengan
PTSD dengan aktivitas motorik yang berlebih dan awakening with somatic anxiety
symptoms. Terdapat juga komplain pada penggunaan polysomnography pada studi, terutama
pada pasien dengan waktu tidur yang kurang atau efisiensi, dan peningkatan kesadaran pada
pasien PTSD. Terdapat juga dokumentasi pada pasien dengan PTSD dengan gangguan nafas
akibat tidur. PTSD juga dikaitkan dengan REM yang terfragmentasi.

6. Faktor Struktural dan Fungsional Pada Otak


Pada pemeriksaan MRI bila ditemukan white matter lesion dan penurunan volume
hippocampal, abnormalitas ini menunjukkan kerentanan pretrauma untuk berkembang
menjadi PTSD bila mendapat pengalaman traumatik, pada PET scan bila terlihat peningkatan
aktivitas metabolik hanya di bagian hemisfer kanan saja, yang secara spesifik, pada area
emosi yaitu: amygdala, insula, dan lobus temporal medial, selama pemaparan kejadian
traumatik terjadi juga penurunan aktivasi area frontal inferior-Broca, yang mempengaruhi
motor speech, dapat pula ditemukan aktivasi pada cingulate cortex pada respon trauma
related stimuli, pada individu PTSD. Pada proyeksi amygdala ke reticularis pontis caudalis
mempengaruhi respon terkejut, rasa takut, bahaya dan ancaman, amygdala diaktivasi dengan
respon ekspresi wajah terhadap rasa takut, dibandingkan dengan neutral, gembira, atau
ekspresi wajah lain, peranan hippocampus pada PTSD menunjukkan fungsi declarative
memory, context dependent memory, terjadi penurunan volume hippocampus pada pasien
PTSD dan depresi, diperkirakan karena pengalaman negative, emosi ekstrim dan reaksi
biologi yang mengingatkan mereka pada trauma, sehingga individu yang mengalami
kerusakan hippocamus, cenderung menunjukkan perubahan perilaku yang tidak sesuai
konteks. Pada individu dengan PTSD terjadi penurunan kemampuan aktivasi Anterior
Cingulate Cortex sehingga terjadi penurunan kemampuan mengerjakan tugas kognitif dan
penguasaan emosi, pada inidividu dengan PTSD dapat terjadi penurunan aliran darah ke otak
sehingga terjadi perubahan struktur pada left inferior prefrontal cortex atau Broca area dan
dorsolateral prefreontal cortex, juga terjadi penurunan akitvasi thalamus, medial frontal gyrus
(Brodmann’s area), berbeda pada perempuan dengan childabuse menunjukkan peningkatan
aliran darah pada anterior prefrontal cortex, pada pasien dengan PTSD terjadi penurunan
aktivasi pada dorsolateral frontal cortex sehingga pasien dengan PTSD kembali mengingat
trauma dengan kesadaran yang terbatas, sehingga hanya mengingat sebagian unsur trauma,
selain itu ditemukan juga hemispheric lateralization pada pasien dengan PTSD yang terpapar
memori negatif, pada bagian hemisfer kanan mengembangkan terlebih dahulu dibandingkan
hemisfer kiri, yang melibatkan ekspresi emosi nonverbal yaitu intonasi, ekspresi wajah,
komunikasi visual atau spasial, dengan kata lain hemisfer kanan khusus mempengaruhi
emosi, yang berlawanan dengan hemisfer kiri yang memediasi komunikasi verbal dan
mengorganisasi penyelesaian masalah, pada (gambar 1.) dapat dilihat peranan
neurotransmitter pada respon fight or flight pada pengaktifan HPA terjadi peningkatan
cortisol, tingginya tingkat cortisol diasosiasikan dengan kerusakan hippocampus dan
mengubah fungsi hippocampus yang berperan dalam gejala PTSD. Pada (gambar 2.) dapat
dilihat peranan serotonin pada respon fight or flight melalui komunikasi secara langsung
dengan limbik dan struktur kortikal terjadi peningkatan cortisol, tingginya tingkat cortisol
diasosiasikan dengan kerusakan hippocampus dan mengubah fungsi hippocampus yang
berperan dalam gejala PTSD, kejadian trauma dapat menyebabkan otak gagal memproses
informasi, memori episodik menetap di sistem limbik, yang menghasilkan gambaran kejadian
traumatik.

Gambar 1. Sirkuit dari noradrenergic pada respon trauma, respon akut: “fight or flight”, rasa
takut, konsolidasi memori, gejala ASD/ PTSD: hypervigilience, arousal, fear, startle,
flashback, intrusive recollections.

Locus coeruleus: pigmented area pada regio rostrolateral pontine dari fourth ventricle floor
dan memanjang hingga mesencephalon pada lateral portion dari periaqueductal gray
substance; cell dari nukleus yang mengandung melanin.

Gambar 2. Jalur serotonergic pada traumatic stress response. Respon akut: “fight or flight”,
kemarahan, melemahkan rasa takut, ASD/ PTSD; yang berkaitan dengan gejala
aggression/violence, anger, impulsivity, anxiety, depression.

7. Dinamika Keluarga
Tipe pendidikan formal, kehidupan keluarga, dan gaya hidup merupakan perkiraan yang
signifikan terjadinya PTSD. Keberhasilan dalam pendidikan yang di bawah rata-rata, perilaku
orang tua yang negatif, dan kemiskinan orang tua merupakan prediktor perkembangan PTSD.

8. Faktor Psychological
Bila terjadi kegagalan dalam adaptasi 3 fase stress dapat menyebabkan PTSD, 3 fase stress
itu antara lain: (1) Fase Initial yaitu fase dengan realisasi kejadian yang menyakitkan yang
meenyebabkan kemarahan, kesedihan, dan penyesalan, (2) Fase Denial yaitu fase dengan
karakterisitik defense againt intrusion of memories pada kejadian traumatik, dimana pasien
menunjukkan kegagalan memori pada kejadian, yang mengingatkan mereka pada kejadian
traumatik, dan menggunakan fantasi mereka untuk melawan persepsi yang realistis pada
kejadian, (3) Fase Intrusive yaitu fase dengan karakteristik hypervigilance, terkejut yang
berlebihan, tidur, gangguan mimpi, intrusive dan repetitive trauma-related thoughts, dan
kebingungan.

9. Model Perilaku
Teori kondisi dapat membantu dalam menjelaskan proses dengan stimulus yang berkaitan
dengan kejadian traumatik dengan respon emosi pada individu yang mengalami PTSD.
Kondisi-kondisi penyerta yang terjadi saat kejadian traumatik selain kejadian traumatik itu
sendiri dapat direspon pasien sebagai kejadia traumatik, dengan respon pasien berupa takut,
ketidakberdayaan dengan respon emosi yang kuat, sebagai contoh, perempuan yang
diperkosa (unconditioned stimulus) di lorong gelap (conditioned stimulus) oleh laki-laki
(conditioned stimulus) memiliki respon rasa takut pada conditioned stimulus dan
unconditioned stimulus, dapat merasa ketakutan ketika berada di lorong gelap atau diikuti
seorang laki-laki. Perilaku menghindar dapat berkembang dengan anxietas yang berkaitan
dengan conditioned stimulus. Sebagai contoh perempuan yang diperkosa takut keluar ketika
gelap atau diikuti laki-laki. Terapi perilaku dapat menggunakan prinsip pemaparan yang
memerlukan konfrontasi pada situasi yang ditakuti dan dapat mengurangi anxietas.

10. Proses Kognitif dan Informasi


Pemaparan terhadap kejadian traumatik yang berat atau tidak dapat diprediksi,
mengakibatkan kegagalan proses dan asimilasi dengan pengalaman yang cukup untuk secara
efektif menerima akibatnya, selain itu bila periode traumatiknya berkepanjangan, kesulitan
dan asimilasi yang tidak lengkap dapat terjadi. Pengalaman dipertahankan pada memori aktif,
mengakibatkan seseorang dengan kesadaran saat siang atau malam. Pada pengalaman yang
menyakitkan terjadi penghindaraan untuk mengingat kejadian traumatik.
Rasa takut dapat dijelaskan dengan struktur kognitif dengan tiga unsur: stimulus, respon dan
arti. Untuk mengurangi rasa takut, memori terhadap rasa takut harus diaktifkan kemudian
informasi baru diberikan untuk merubah struktur rasa takut. Intervensi kognitif dapat
digunakan untuk mengenali dan merubah maladaptive cognitions dan menggantikan
interpretasi dari bahaya dengan interpretasi yang realistis dan aman, dengan harapan pasien
dapat mengintegrasikan informasi baru pada struktur rasa takut, mengakibatkan pemikiran
realistis terhadap derajat bahaya.

11. Faktor Genetic-Familial


Dari literatur yang ada, dibuat berdasarkan pertarungan langsung pada veteran AS laki-laki,
dengan survey populasi umum dan pemerkosaan traumatik yang berkaitan dengan PTSD,
didapatkan hasil berdasarkan genetik dengan kluster tiga gejala (intrusive, avoidant, dan
gejala hyperarousal) pada pemeriksaan terhadap pengaruh genetik dan lingkungan pada
pertarungan langsung, post traumatic stress disorder, dan penggunaan alkohol pada kembar
identik laki-laki, menemukan bahwa penggunaan alkohol berkaitan dengan gen yang
mempengaruhi kerentanan terhadap pertarungan langsung yang juga mempengaruhi
kerentanan terhadap gejala PTSD dan konsumsi alkohol. Merupakan catatan penting, untuk
mengetahui faktor lingkungan yang unik pada kembar tidak lebih penting dari pengaruh
genetik terhadap pertarungan langsung dan gejala PTSD, dimana pengaruh lingkungan
terlihat setara dengan pengaruh genetik terhadap konsumsi alkohol, secara keseluruhan
kejadian ini menggagaskan pada riwayat psychiatric, baik personal maupun pada anggota
keluarga, meningkat dengan terpaparnya trauma dan perkembangan PTSD setelah terpapar,
dengan kata lain orang tuan dengan PTSD berkaitan dengan rendahnya kadar cortisol pada
anak-anakya, yang menunjukkan kerentanan yang berkaitan dengan gejala akut atau kronik
dari PTSD. 6, 7, 8, 9, 10, 11
12. Faktor Lainnya
Meskipun penelitian sistematis telah dilakukan, individu yang mengalami trauma berulang
dan berkelanjutan, terutama yang berasal dari interpersonal, lebih mungkin mengalami
PTSD. Trauma yang melibatkan berkurangnya community atau support structures. Karena
social support memiliki efek buffering, berkurangya support dapat menjadi faktor kerentanan.
Perempuan memiliki resiko PTSD yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Pada umumnya individu yang mempunyai karakter extrovert atau lebih berpikir positif lebih
jarang mengalami masalah psikologis seperti ini. Karakteristik dari peristiwa traumtik yang
dialami juga akan mempengaruhi jenis reaksi psikologis yang bakan terjadi, seperti :
• Durasi dan intensitas dari stressor yang dialami
• Derajatnya dalam kaitan dengan ancaman terhadap kehidupan seseorang
• Berat ringannya kehilangan yang dialami (baik material maupun personal)
• Perilaku korban yang selamat pada waktu menghadapi peristiwa traumatik tersebut,
misalnya apakah ia juga menyelamatkan orang lain pada saat kejadiaan itu atau dia hanya
menyelamatkan dirinya sendiri.
Setelah mengalami peristiwa traumatik, maka sistem keyakinan dan latar belakang budaya
yang dianut oleh individu yang bersangkutan, serta dukungan sosial dari lingkungan
sekelilingnya akan memegang peranan yang penting bagi individu untuk menyesuaikan
dirinya kembali.

E. Tanda dan Gejala


Ada tiga kelompok dari gejala yang diperlukan untuk mendiagnosis suatu PTSD, yaitu:
1. Gejala re-experience
• Selalu teringat akan peristiwa yang menyedihkan yang telah dialami
• Flashback (merasa seolah-olah peristiwa yang menyedihkan terulang kembali)
• Nightmares (mimpi buruk tentang kejadian-kejadian yang membuatnya sedih)
• Reaksi emosional dan fisik yang berlebihan karena dipicu oleh kenangan akan peristiwa
yang menyedihkan.

2. Gejala avoidance
• Menghindari aktivitas, tempat, berpikir, merasakan, atau percakapan yang berhubungan
dengan trauma.
• Kehilangan minat terhadap semua hal
• Perasaan terasing dari orang lain
• Emosi yang dangkal.

3. Gejala hyperaurosal,
• Susah tidur
• Mudah marah/tidak dapat mengendalikan marah
• Susah berkonsentrasi
• Kewaspadaan yang berlebih
• Respon yang berlebihan atas segala sesuatu
Sedikitnya 1 gejala re-experience, 3 gejala avoidance dan 3 gejala hyperaurosal harus ada
selama paling sedikit 1 bulan dan harus disebabkan oleh distress yang signifikan atau
kekurangan fungsional untuk mendiagnosis suatu PTSD. PTSD menjadi kronik jika terjadi
lebih dari 3 bulan.

F. DIAGNOSIS
Berikut adalah kriteria diagnostik untuk Gangguan Stres Pascatraumatik menurut DSM-IV:
A. Orang telah terpapar dengan suatu kejadian traumatik dimana kedua dari berikut ini
terdapat:
1) Orang mengalami, menyaksikan, atau dihadapkan dengan suatu kejadian atau kejadian-
kejadian yang berupa ancaman kematian atau kematian yang sesungguhnya atau cedera yang
serius, atau ancaman kepada integritas fisik diri sendiri atau orang lain.
2) Respon orang tersebut berupa takut yang kuat, rasa tidak berdaya, atau horror. Catatan:
pada anak-anak hal ini dapat diekspresikan dengan perilaku yang kacau atau teragitasi.
B. Kejadian traumatik secara menetap dialami kembali dalam satu (atau lebih) cara berikut:
1) Rekoleksi yang menderitakan, rekuren, dan mengganggu tentang kejadian, termasuk
bayangan, pikiran, atau persepsi. Catatan: pada anaka kecil, dapat menunjukkan permainan
berulang dengan tema atau aspek trauma.
2) Mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian. Catatan: pada anak-anak, mungkin
terdapat mimpi menakutkan tanpa isi yang dapat dikenali.
3) Berkelakuan atau merasa seakan-akan kejadian traumatik terjadi kembali (termasuk
perasaan penghidupan kembali pengalaman, ilusi, halusinasi, dan episode kilas balik
disosiatif, termasuk yang terjadi selama terbangun atau saat terintoksikasi). Catatan: pada
anak kecil, dapat terjadi penghidupan kembali yang spesifik dengan trauma.
4) Penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang
menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian traumatik.
5) Reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang
menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian traumatik.
C. Penghindaran stimulus yang persisten yang berhubungan dengan trauma dan kaku karena
responsivitas umum (tidak ditemukan sebelum trauma), seperti yang ditujukan oleh tiga (atau
lebih) berikut ini:
1) Usaha untuk menghindari pikiran, perasaan, atau percakapan yang berhubungan dengan
trauma.
2) Usaha untuk menghindari aktivitas, tempat, atau orang yang menyadarkan rekoleksi
dengan trauma.
3) Tidak mampu untuk mengingat aspek penting dari trauma.
4) Hilangnya minat atau peran serta yang jelas dalam aktivitas yang bermakna.
5) Perasaan terlepas atau asing dari orang lain.
6) Rentang afek yang terbatas (misalnya, tidak mampu untuk memiliki perasaan cinta)
7) Perasaan bahwa masa depan menjadi pendek (misalnya, tidak berharap memiliki karir,
menikah, anak-anak, atau panjang kehidupan normal)
D. Gejala menetap adanya peningkatan kesadaran (tidak ditemukan sebelum trauma), seperti
yang ditunjukkan oleh dua (atau lebih) berikut:
1) Kesulitan untuk tidur atau tetap tertidur.
2) Iritabilitas atau ledakan kemarahan.
3) Sulit berkonsentrasi.
4) Kewaspadaan berlebihan.
5) Respon kejut yang berlebihan.
E. Lama gangguan (gejala dalam kriteria A, B, C, dan D) adalah lebih dari satu bulan.
F. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi social, pekerjaan, atau fungsi penting lain.5
Sementara itu kriteria diagnostik untuk gangguan stres pascatraumatik menurut PPDGJ III (F
43.1) adalah sebagai berikut:
1. Diagnosis baru ditegakkan bilamana gangguan ini timbul dalam kurun waktu 6 bulan
setelah kejadian traumatik berat (masa laten yang berkisar antara beberapa minggu sampai
beberapa bulan, jarang sampai melampaui 6 bulan).
Kemungkinan diagnosis masih dapat ditegakkan apabila tertundanya waktu mulai saat
kejadian dan onset gangguan melebihi waktu 6 bulan, asal saja manifestasi klinisnya adalah
khas dan tidak didapat alternatif kategori gangguan lainnya.
2. Sebagai bukti tambahan selain trauma, harus didapatkan bayang-bayang atau mimpi-mimpi
dari kejadian traumatik tersebut secara berulang-ulang kembali (flashbacks).
3. Gangguan otonomik, gangguan afek dan kelainan tingkah laku semuanya dapat mewarnai
diagnosis tetapi tidak khas.
4. Suatu “sequelae” menahun yang terjadi lambat setelah stres yang luar biasa, misalnya saja
beberapa puluh tahun setelah trauma, diklasifikasikan dalam kategori F62.0 (perubahan
kepribadian yang berlangsung lama setelah mengalami katastrofa).6

G. Diagnosis Banding
Pertimbangan utama dalam diagnosis banding gangguan stress pascatraumatik adalah
kemungkinan bahwa pasien juga mengalami cedera kepala selama trauma. Pertimbangan
organik lainnya yang dapat menyebabkan atau mengeksaserbasi gejala adalah epilepsi,
gangguan penggunaan alkohol, dan gangguan berhubungan zat lainnya. Intoksikasi akut atau
putus dari suatu zat mungkin juga menunjukkan gambaran klinis yang sulit dibedakan dari
gangguan stres pascatraumatik sampai efek zat menghilang.
Pada umumnya, gangguan stres pascatraumatik dapat dibedakan dari gangguan mental lain
dengan mewancarai pasien tentang peristiwa traumatik sebelumnya dan melalui sifat gejala
sekarang ini. Gangguan stress akut, gangguan kepribadian ambang, gangguan disosiatif,
gangguna buatan, gangguan panik dan berpura-pura juga harus dipertimbangkan. Gangguan
kepribadian ambang mungkin sulit dibedakan dengan gangguan stress pascatraumatik. Dua
gangguan tersebut dapat terjadi bersama-sama atau bahkan saling berhubungan sebab akibat.
Pasien dengan gangguan disosiatif biasanya tidak memiliki derajat perilaku menghindar,
kesadaran berlebih (hiperaurosal) otonomik, atau riwayat trauma yang dilaporkan oleh pasien
gangguan stress pascatraumatik. Sebagian karena publisitas yang telah diterima gangguan
stress pascatraumatik dalam berita popular, klinisi harus juga mempertimbangkan
kemungkinan suatu gangguan buatan dan berpura-pura.

H. Tatalaksana
Ada beberapa psikoterapi yang dapat digunakan. Yang pertama adalah terapi paparan
(exposure therapy). Pasien dihadapkan pada keadaan traumatis secara perlahan-lahan dan
bergradasi untuk mencapai desensitisasi. Terapi dapat berjalan dengan cara: exposure in the
imagination, yaitu bertanya pada penderita untuk mengulang cerita secara detail sampai tidak
mengalami hambatan menceritakan; atau exposure in reality, yaitu membantu menghadapi
situasi yang sekarang aman tetapi ingin dihindari karena menyebabkan ketakutan yang sangat
kuat (misal: kembali ke rumah setelah terjadi perampokan di rumah). Ketakutan bertambah
kuat jika kita berusaha mengingat situasi tersebut dibanding berusaha melupakannya.
Pengulangan situasi disertai penyadaran yang berulang akan membantu menyadari situasi
lampau yang menakutkan tidak lagi berbahaya dan dapat diatasi.
Yang kedua manajemen stress (anxiety management). Tipe yang kedua ini adalah mengajari
pasien cara menangani stress termasuk teknik relaksasi dan pendekatan kognitif untuk
mengatasi masalah. Terapis akan mengajarkan beberapa ketrampilan untuk membantu
mengatasi gejala PTSD dengan lebih baik melalui: 1) relaxation training, yaitu belajar
mengontrol ketakutan dan kecemasan secara sistematis dan merelaksasikan kelompok otot -
otot utama, 2) breathing retraining, yaitu belajar bernafas dengan perut secara perlahan -
lahan, santai dan menghindari bernafas dengan tergesa -gesa yang menimbulkan perasaan
tidak nyaman, bahkan reaksi fisik yang tidak baik seperti jantung berdebar dan sakit kepala,
3) positive thinking dan self-talk, yaitu belajar untuk menghilang-kan pikiran negatif dan
mengganti dengan pikiran positif ketika menghadapi hal-hal yang membuat stress (stresor),
4) asser-tiveness training, yaitu belajar bagaimana mengekspresikan harapan, opini dan emosi
tanpa menyalahkan atau menyakiti orang lain, 5) thought stopping, yaitu belajar bagaimana
mengalihkan pikiran ketika kita sedang memikirkan hal-hal yang membuat kita stress. Dalam
cognitive therapy, terapis membantu untuk merubah kepercayaan yang tidak rasional yang
mengganggu emosi dan mengganggu kegiatan-kegiatan kita. Misalnya seorang korban
kejahatan mungkin menyalahkan diri sendiri karena tidak hati -hati. Tujuan kognitif terapi
adalah mengidentifikasi pikiran-pikiran yang tidak rasional, mengumpulkan bukti bahwa
pikiran tersebut tidak rasional untuk melawan pikiran tersebut yang kemudian mengadopsi
pikiran yang lebih realistik untuk membantu mencapai emosi yang lebih seimbang.
Di samping itu, didapatkan pula terapi bermain (play therapy) mungkin berguna pada
penyembuhan anak dengan PTSD. Terapi bermain dipakai untuk menerapi anak dengan
PTSD. Terapis memakai permainan untuk memulai topik yang tidak dapat dimulai secara
langsung. Hal ini dapat membantu anak lebih merasa nyaman dalam berproses dengan
pengalaman traumatiknya.
Selain itu, didapatkan pula support group therapy dan terapi bicara. Dalam support group
therapy seluruh peserta merupakan penderita PTSD yang mempunyai pengalaman serupa
(misalnya korban bencana tsunami, korban gempa bumi) dimana dalam proses terapi mereka
saling menceritakan tentang pengalaman traumatis mereka, kemdian mereka saling memberi
penguatan satu sama lain. Sementara itu dalam terapi bicara memperlihatkan bahwa dalam
sejumlah studi penelitian dapat membuktikan bahwa terapi saling berbagi cerita mengenai
trauma, mampu memperbaiki kondisi jiwa penderita. Dengan berbagi, bisa memperingan
beban pikiran dan ke -jiwaan yang dipendam. Bertukar cerita membuat merasa senasib,
bahkan merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Kondisi ini memicu seseorang untuk
bangkit dari trauma yang diderita dan melawan kecemasan.
Pendidikan dan supportive konseling juga merupakan upaya lain untuk mengobati PTSD.
Konselor ahli mempertimbangkan pentingnya penderita PTSD (dan keluarganya) untuk
mempelajari gejala PTSD dan bermacam terapi dan pengobatan yang cocok untuk PTSD.
Walaupun seseorang mempunyai gejala PTSD dalam waktu lama, langkah pertama yang
pada akhirnya dapat ditempuh adalah mengenali gejala dan permasalahannya sehingga dia
mengerti apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.
Di lain pihak, sampai saat ini masih didapatkan pula beberapa tipe psikoterapi yang lain.
Misalnya, eye movement desensitization reprocessing (EMDR), hypnotherapy dan
psikodinamik psikoterapi, yang seringkali digunakan untuk terapi PTSD dan kadang sangat
membantu bagi sebagian penderita.
Data menunjukkan bahwa manajemen stress lebih cepat mengatasi PTSD namun hasil dari
terapi paparan berlangsung lebih lama. Dalam beberapa kasus, katarsis dapat berguna, namun
hal ini dapat menjadi sangat tidak nyaman bagi pasien. Selain terapi individu, terapi
kelompok dan terapi keluarga juga efektif pada kasus PTSD. Terapi kelompok sangat baik
untuk pasien sehingga mereka dapat membagi pengalaman mereka satu sama lain. Terapi
keluarga penting terutama untuk mempertahankan pernikahan saat gejala sedang timbul. Bila
gejala menjadi sangat parah dapat pula dipertimbangkan untuk melakukan rawat inap.
Medikasi yang terbukti bermanfaat untuk mengatasi kasus ini adalah pemberian antidepresan
golongan SSRI (penghambat selektif ambilan serotonin) seperti Fluoxetin 10-60 mg/hr,
Sertralin 50-200mg/hr atau Fluvoxamine 50-300mg/hr. Antidepresan lain yang juga dapat
digunakan adalah Amiltriptilin 50-300mg/hr dan juga imipramin 50-300mg/hr.
Berdasarkan rekomendasi dari The Expert Consensus Panels for PTSD, tatalaksana gangguan
stress pascatraumatik sebaiknya mempertimbangkan beberapa aspek di bawah ini:
1. Gangguan stress pascatraumatik merupakan suatu gangguan yang kronik dan berulang
serta sering berkormobiditas dengan gangguan-gangguan jiwa serius lainnya.
2. Antidepresan golongan penghambat selektif dari ambilan serotonin/SSRI merupakan obat
pilihan pertama untuk kasus ini.
3. Terapi yang efektif harus dilanjutkan paling sedikit 12 bulan.
4. Exposure therapy (terapi pemaparan) merupakan terapi dengan pendekatan psikososial
terbaik yang dianjurkan dan sebaiknya dilanjutkan selama 6 bulan.
Penatalaksaan pada psychology pada pasien dengan PTSD dikategorikan menjadi lima jenis
yaitu:
1. Psychodynamic Approaches
Pada terapi ini dilakukan melalui pendekatan 3 fase stress bila terjadi kegagalan dalam
adaptasi 3 fase ini akan menyebabkan PTSD, sehingga terapi ini bertujuan agar pasien dapat
beradaptasi melalui reinterpretasi dari kejadian traumatik, mengubah atribut kerusakan dan
mengembangkan intrepretasi yang realistis.
2. Cognitive-behavioral Approaches
Terapi ini diadaptasi dari teknik penatalaksaan untuk gangguan anxiety lain, pada learning
theory model mengemukakan incorporate classical dan operant conditioning untuk
menjelaskan perkembangan dan menetapnya gejala PTSD. Teori Kognitif diajukan untuk
menambahkan learning theory untuk menjelaskan kenapa perceived threat lebih kuat dalam
memicu gejala PTSD, sehingga inti dari penatalaksaan ini adalah repetitive exposure to
trauma-relevant fear stimuli unuk mengurangi anxiety, terapi ini menekankan pada intensive
exposure namun tidak diikuti pengaturan pada fear-antagonistic state, penatalaksaan ini
dilakukan pada in vivo kembali ke lokasi kejadian traumatik, atau berimajinasi, sehingga
anxiety teratasi dan hilang potensinya.
3. Flooding Techniques
Pada penatalaksanaan ini dilakukan exposure, desensitization atau teknik exposure terarah,
terapi ini dapat mengatasi gejala intrusive dan hyperarousal, kelemahan terapi ini adalah tidak
dapat menatalaksana avoidance symptom, dan dapat memperberat gejalanya.
4. Training in Coping Skills
Pada penatalaksaan ini dilakukan untuk meningkatkan self-control symptom dan
meningkatkan adaptive respone pada anxiety, yang terbagi menjadi 2 fase yaitu: fase edukasi
dan fase coping skill, fase edukasi, memberikan pemahaman yang rasional untuk menjaga
kepercayaan diri, sedangkan pada fase coping skill, diajarkan cara melakukan relaksasi diri,
untuk menghambat negative rumination dan mempertahankan rasa percaya diri,
penatalaksaan ini efektif mengurangi reexperiencing, intrusive, dan avoidance symptom pada
korban pemerkosaan.
5. Eye Movement Desensitization Reprocessing (EMDR)
Pada terapi ini dilakukan exposure pada kejadian traumatik dengan mata terbuka, selama
verbalisasi kognisi dan emosi yang berkaitan dengan trauma, diikuti dengan visual saccadic
eye movements agar menghasilkan fear-antagonistic state sehingga menghasilkan relaksasi
dan systemic desensitization.

I. Prognosis
Prognosis yang baik diramalkan oleh onset gejala yang cepat, durasi gejala yang singkat
(kurang dari enam bulan), dukungan sosial yang kuat, dan tidak adanya gangguan psikiatrik,
medis, atau berhubungan zat lainnya.
Pada umumnya, orang yang sangat muda atau sangat tua memiliki lebih banyak kesulitan
dengan peristiwa traumatik dibandingkan mereka yang dalam usia paruh baya. Kemungkinan,
anak-anak belum memiliki mekanisme mengatasi kerugian fisik dan emosional akibat
trauma. Demikian juga dengan orang lanjut usia, jika dibandingkan dengan orang dewasa
yang lebih muda, kemungkinan memiliki mekanisme mengatasi yang lebih kaku dan kurang
mampu melakukan pendekatan fleksibel untuk mengatasi efek trauma. Kecacatan psikiatrik
yang ada sebelumnya, apakah suatu gangguan kepribadian atau suatu kondisi yang lebih
serius, juga meningkatkan efek stresor tertentu. Tersedianya dukungan sosial juga
mempengaruhi perkembangan, keparahan, dan durasi gangguan stres pascatraumatik. Pada
umumnya, pasien yang memiliki jaringan dukungan sosial yang baik, kemungkinan tidak
menderita gangguan atau tidak mengalami gangguan dalam bentuk yang parahnya.

BAB III
PEMBAHASAN

Dari hasil pemeriksaan pada A. F ditemukan gejala PTSD dialami sejak ± 1 bulan yang lalu.
Gejala muncul setiap hari secara bervariasi. Gejala-gejala berupa. Keluhannya ini dirasakan
setelah kejadian pemerkosaan yang dilakukan oleh tetangganya ± 1 minggu yang lalu, maka
dapat digolongkan sebagai PTSD.
Pada pasien ini, mengalami perubahan perilaku menjadi lebih pendiam dan mudah ketakutan,
namun pasien masih dapat berinteraksi dan bermain dengan teman-teman yang perempuan
dan masih mengikuti PAUD walaupun harus ditunggui oleh ibunya.
Sehingga diagnosis F62 PTSD pada pasien wanita, An. F usia 5 tahun ditegakkan
berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan psikiatri.
Pada pasien ini tidak diberikan psikofarmaka karena usia pasien masih kecil, gejala yang
ditunjukkan tidak terlalu berat dan masih harus dilakukan observasi perkembangan keadaan
pasien.
Selain terapi psikofarmaka, pasien dengan PTSD dapat juga dilakukan psikoterapi. Terapi
paparan (exposure therapy). Pasien dihadapkan pada keadaan traumatis secara perlahan-lahan
dan bergradasi untuk mencapai desensitisasi.
Manajemen stress (anxiety management). Mengajari pasien cara menangani stress termasuk
teknik relaksasi dan pendekatan kognitif untuk mengatasi masalah, antara lain:
1. relaxation training
2. breathing retraining
3. positive thinking dan self-talk
4. asser-tiveness training
5. thought stopping
6. cognitive therapy
Selain itu, dapat juga dilakukan terapi bermain (play therapy), pendidikan dan supportive
konseling, modifikasi pola hidup seperti diet yang sehat, menghindari konsumsi kafein,
alkohol, rokok dan obat-obatan lainnya, perlunya olahraga yang teratur untuk mengatasi
pasien PTSD ini.

BAB IV
LAPORAN HOME VISIT
A. RIWAYAT GANGGUAN SEKARANG
Sejak ± 1 bulan SMRS pasien menjadi pendiam dan mudah ketakutan. Pasien sebelumnya
adalah anak yang periang dan mudah bergaul mengalami perubahan setelah pasien
mengalami peristiwa perkosaan yang dilakukan oleh tetangganya sendiri. Peristiwa tersebut
diketahui oleh Ny. Y dari cerita pasien sendiri, pasien bercerita kepada ibunya bahwa
tetangganya (anak laki-laki umur 12 tahun) memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan
pasien. Sejak kejadian itu, pasien juga menjadi pemurung dan malas pergi ke sekolah
(PAUD), sehingga ibu pasien harus menunggui pasien disana agar pasien mau bersekolah. Di
sekolah pasien sering mengadu kepada ibunya bahwa teman-teman laki-laki di sekolahnya
jahat hanya karena mereka mendekati dan memegang tangan pasien. Pasien masih dapat
berinteraksi dan bermain dengan teman-teman perempuan, namun tiba-tiba menceritakan
kembali peristiwa perkosaan tersebut kepada ibunya yang menungguinya seolah-olah
kejadian itu baru saja terjadi. Pasien tidak pernah lagi bermain ke rumah tetangganya
tersebut. Pasien juga menjadi susah makan dan sering terbangun karena mimpi buruk. Saat
bangun di pagi hari pasien selalu menceritakan kembali peristiwa perkosaan itu.

B. IDENTIFIKASI KELUARGA PASIEN


Keluarga pasien merupakan keluarga inti yang harmonis, dimana ayah dan ibu pasien sangat
menyayangi pasien. Ayah pasien sehari-hari bekerja sebagai TKI yang bekerja di Malaysia
sejak ± setahun terakhir. Pasien hanya tinggal berdua dengan ibunya yang berperan sebagai
ibu rumah tangga.

C. KEADAAN SOSIAL EKONOMI


Keadaaan sosial ekonomi pasien cukup, pasien tinggal di rumah bersama ibunya. Rumah
pasien merupakan rumah milik sendiri, keadaan rumah bersih dan rapi, luas rumah kira-kira
10x20 m2, rumah berada di lingkungan yang baik. Pasien mengenal tetangga di sekitar
rumah, hubungan pasien dengan tetangga baik, kecuali dengan pelaku dan keluarganya.

D. SIKAP ANGGOTA KELUARGA TERHADAP PASIEN


Ibu pasien mengetahui bahwa pasien membutuhkan terapi di RSJ untuk mengatasi
traumanya. Ibu pasien sangat mendukung kesembuhan pasien, dan akan membantu pasien
untuk menghilangkan traumanya. Ayah pasien tidak mengetahui kejadian yang menimpa
putrinya.

E. EDUKASI KEPADA KELUARGA


- Diberikan informasi mengenai penyakit yang dialami pasien sehingga keluarga dapat
membantu dalam proses penyembuhan pasien.
- Menyarankan kepada keluarga untuk pentingnya dukungan kepada pasien, jangan
membatasi aktivitas pasien secara wajar, ajak pasien bergembira, mengajarkan pasien
bagaimana cara mengatasi masalahnya dengan benar, jangan menghindarinya.
DAFTAR PUSTAKA

David A. Buku saku psikiatri PPDGJ III. edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2004

Elvira, Sylvia D, Hadisukanto G. Gangguan Stres Pasca Trauma Dalam: Elvira, Sylvia D,
Hadisukanto G. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia;2010 h: 254-264

Hibbert A, Godwin A, dan Dear F. Rujukan cepat psikiatri. Jakarta: Cendika. EGC; 2009

Katzung, B.G. 2002. Penyalahgunaan Obat dalam: Farmakologi Dasar dan Klinik. Buku 2,
ed.VIII. Jakarta: Salemba Medika.

Kaplan, H.I, Sadock BJ. 2010. Kaplan dan Sadock Sinopsis Psikiatri. Ed: Wiguna, I Made.
Tangerang: Bina Rupa Aksara Publisher

Kay J dan Tasman A. Anxiety Disorders: Traumatic Stress Disorders. Dalam: Kay J dan
Tasman A Essentials of Psychiatry. Tottenham: John Wiley & Sons; 2009 h: 627-638.

Maramis, Willy F. 2004. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press:
Surabaya.

Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa / PPDGJ-III. Jakarta: PT Nuh Jaya; 2001.

Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis obat Psikotropika ed. Ketiga. Jakarta : Bagian
ilmu kedokteran Jiwa FK-UNIKA Atmajaya; 2010

Merdalis Nurlivia
Posts : 3
Reputation : 0
Join date : 2016-01-09

Tinjauan ACUTE STRESS DISORDER dengan contoh kasus

BAB I

PENDAHULUAN
Reaksi stres akut (juga disebut gangguan stres akut, shock psikologis, mental

shock, atau sekedar, shock) adalah sebuah kondisi psikologis yang timbul sebagai tanggapan

terhadap peristiwa yang mengerikan.

"Respons stres akut" pertama kali dideskripsikan oleh Walter Cannon pada tahun 1920 sebagai

sebuah teori bahwa hewan-hewan bereaksi terhadap ancaman dengan pembuangan umum dari

sistem saraf simpatik. Respons ini kemudian dikenal sebagai tahap pertama dari sindrom

adaptasi umum yang mengatur tanggapan stres di antara vertebrata dan organisme lain.

Gangguan stres akut ditandai dengan perkembangan kecemasan yang parah, disosiatif, dan

gejala lain yang terjadi dalam waktu satu bulan setelah terkena stresor traumatis yang ekstrem

(misalnya, menyaksikan kematian atau kecelakaan serius).

Sebagai tanggapan terhadap peristiwa traumatik, individu mengembangkan gejala disosiatif.

Individu dengan gangguan stres akut mempunyai penurunan respon emosional, seringkali sulit

atau tidak mungkin untuk mengalami kenikmatan dalam kegiatan-kegiatan menyenangkan

sebelumnya, dan sering merasa bersalah karena mengejar tugas-tugas kehidupan biasa.

Seseorang dengan gangguan stress akut dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, merasa

terlepas dari tubuh mereka, pengalaman dunia sebagai tidak nyata atau mimpi, atau mengalami

kenaikan kesulitan mengingat detail spesifik dari peristiwa traumatik (amnesia disosiatif).

BAB II

LAPORAN KASUS

Ny. Aria, 26 tahun. Karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta, dibawa oleh kepala unit

kerjanya ke UGD RS Trisakti setelah ditemukan berguling-guling di lantai tempat kerjanya


sambil berulang-ulang berteriak ketakutan : “Lepaskan saya, lepaskan saya, tinggalkan saya

sendiri”, seperti orang kesurupan.

Ny. Aria adalah seorang karyawan yang rajin dan baik. Selama ini tidak ada masalah sama

sekali dalam pekerjaannya sampai terjadi peristiwa yang sangat mengejutkan 2 minggu yang

lalu saat Ny. Aria mendapat giliran tugas kerja malam hari. Ketika ia menuju ke tempat

kerjanya, di tempat pemberhentian bus yang waktu itu tampak sepi, tiba-tiba ada 2 orang pria

bertubuh besar yang sengaja mendorongnya hingga ia terjatuh. Kedua pria itu dengan garang

mengancam akan mencekik lehernya hingga patah bila ia berani berteriak. Kemudian kedua

pria tadi berusaha hendak memperkosa Ny. Aria. Beruntung mendadak terdengar ada orang

yang sedang mendekat, dengan serta merta kedua pria tadi lalu lari meninggalkan Ny. Aria

tergeletak di lantai seorang diri. Peristiwa itu membuat Ny. Aria sangat terkejut, namun tidak

ada luka yang berarti di tubuhnya. Setelah peristiwa itu, Ny. Aria tampak murung, namun ia

tetap menjalankan tugas pekerjaannya dan berusaha melupakan peristiwa itu. Ia menolak

anjuran keluarga dan teman-temannya untuk menceritakan kejadian yang ia alami. Ia terlihat

menarik diri dari pergaulan sosial, berdiam diri saja di rumah, hanya keluar bila hendak bekerja.

Seminggu setelah kejadian, ia mulai sering mimpi buruk tentang peristiwa itu dan terbangun

dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Teman-teman kerjanya memperhatikan perubahan

pada dirinya, ia menjadi sering gelisah dan mudah terkejut.

Ia juga menghindari transportasi umum dan menolak menonton acara tv apapun, takut kalau-

kalau melihat sesuatu yang dapat membangkitkan ingatannya terhadap peristiwa perkosaan itu

yang telah diusahakan dengan kuat untuk dilupakan. Ny. Aria akhirnya dibawa berobat ke

UGD RS Trisakti ketika suatu malam supervisornya melihat ia tergeletak berguling-guling di

lantai sambil berteriak-teriak: “Lepaskan saya, lepaskan saya, tinggalkan saya sendiri….”

seperti orang kesurupan. Kepada dokter, Ny. Aria menyatakan bahwa dalam pikirannya sering
muncul kembali peristiwa pemerkosaan itu dan ia juga sering mendengar suara kedua pria yang

ingin membunuhnya.

Ny. Aria sudah bekerja di kantornya selama lebih dari 5 tahun. Dari pernikahannya, ny. Aria

belum mendapat anak. Dua tahun yang lalu, ia cerai dari suaminya, sejak itu ia tinggal lagi

bersama orang tua dan saudara-saudaranya. Ny. Aria adalah anak pertama dari 3 bersaudara,

semuanya perempuan. Walaupun hanya tamat SMA, prestasi di sekolah cukup baik. Ny. Aria

tidak pernah tinggal kelas. Teman-temannya banyak dan hingga sekarang masih sering

kumpul-kumpul. Teman-temannya menilai Ny. Aria sebagai orang yang ramah dan mudah

bergaul, serta menyenangkan. Dari pemeriksaan fisik dan laboratorium, tidak ditemukan

kelainan.

Identitas pasien:

Nama : Ny. Aria

Umur : 26 tahun

Jenis kelamin : perempuan

Alamat : Jl. X

Pekerjaan : Karyawan swasta

Status perkawinan : bercerai 2 tahun yang lalu

Riwayat Psikiatrik :
1. Keluhan utama: berguling-guling di lantai tempat kerjanya sambil berulang-ulang

berteriak ketakutan : “Lepaskan saya, lepaskan saya, tinggalkan saya sendiri”, seperti

orang kesurupan.

2. Riwayat gangguan sekarang:

◦ Sering mengalami mimpi buruk mengenai peristiwa percobaan pemerkosaan

yang pernah dialaminya.

◦ Sering gelisah dan mudah terkejut.

◦ Berdiam diri saja di rumah, hanya keluar bila hendak bekerja.

◦ Menghindari transportasi umum dan menolak menonton acara tv apapun.

3. Riwayat gangguan dahulu:

◦ Mengalami peristiwa percobaan pemerkosaan dua minggu yang lalu

4. Kondisi medik umum: -

5. Riwayat medikasi: -

6. Riwayat kehidupan pribadi:

◦ Bercerai dengan suaminya 2 tahun yang lalu dan sejak itu ia tinggal lagi bersama

orang tua dan saudara-saudaranya.

7. Riwayat keluarga:

◦ Anak pertama dari 3 bersaudara, semuanya perempuan.

8. Riwayat sosial/ekonomi:
◦ Menarik diri dari pergaulan sosial, berdiam diri saja di

rumah, dan hanya keluar bila hendak bekerja.

Pemeriksaan Status Mental:

I. Gambaran Umum:

A. Penampilan: tampak murung

B. Kesadaran:

◦ Biologis : compos mentis

◦ Psikologis dan sosial : terganggu

C. Perilaku dan aktifitas psikomotor: gelisah, mudah terkejut.

D. Sikap terhadap pemeriksa: terdapat kontak mata, kooperatif, dapat menceritakan

masalahnya.

II. Alam perasaan:

A. Mood: gejala mood hipothym, terdapatnya episode depresi, dapat dilihat dari

hilangnya minat terhadap pergaulan sosial, mimpi buruk berulang yang

menyebabkan gangguan tidur, gangguan psikomotor berupa sering gelisah dan

mudah terkejut.

B. Afek: ekspresi afektif tampak murung.

III. Fungsi intelektual:


- Taraf pendidikan : SMA

- Orientasi : -

- Daya Ingat : -

- Konsentrasi : -

- Pikiran Abstrak : -

- Bakat Kreatif : -

IV. Gangguan persepsi:

- Halusinasi visual: dalam pikirannya sering muncul kembali peristiwa

pemerkosaan itu.

- Halusinasi auditorik: sering mendengar suara kedua pria yang ingin

membunuhnya.

V. Proses pikir:

A. Arus pikir: -

B. Isi pikir: -

VI. Pengendalian impuls: ditemukan berguling-guling di lantai kantornya sambil

berteriak-teriak.

VII. Daya nilai:

- Daya nilai realitas: halusinasi

- Daya nilai sosial: menarik diri


- Uji daya nilai:-

VIII. Tilikan: derajat 1

IX. Taraf kepercayaan: kebenaran informasi yang diberikan pasien dapat dipercaya.

Pemeriksaan fisik:

- Tidak ditemukan kelainan

Pemeriksaan penunjang:

◦ Pemeriksaan laboratorium: Tidak ditemukan kelainan.

Diagnosis Multiaksial:

-Aksis I : gangguan terkait stress ( gangguan stress akut).

-Aksis II : Tidak ada gangguan kepribadian

Tidak ada retardasi mental .

-Aksis III : Tidak ada

-Aksis IV : Masalah berkaitan dengan interaksi hukum/criminal.

Dalam kasus ini terdapat percobaan pemerkosaan.

-Aksis V : GAF-70

Terdapat gejala ringan dan menetap.

Daftar Masalah yang ditemukan:


1. Problem Organobiologik: Tidak ada.

2. Problem Psikologis:

- Tampak murung, sering gelisah, dan mudah terkejut

- Mimpi buruk

-Halusinasi dan gangguan tingkah laku (berteriak-teriak dan berguling-guling)

- Pikirannya sering muncul kembali peristiwa pemerkosaan (flashback)

- Sering mendengar suara kedua pria yang ingin membunuhnya

3. Problem Sosiokultural:

- Berdiam diri di rumah

- Menolak menonton televisi

- Menarik diri dari pergaulan social

- Menghindari transportasi umum

Tindakan-tindakan yang perlu dilakukan:

o Pasien dibawa ke rumah sakit karena berteriak-teriak ketakutan dan berguling-guling

di lantai tempat kerjanya sehingga untuk menenangkan diberikan antipsikotik yaitu

gologan phenotiazide yaitu clorpromazin.


o Setelah pasien tenang, dilakukan anamnesis untuk mengetahui lebih jauh tentang apa

yang sedang dialami oleh pasien. Anamnesis yang dapat dilakukan secara

autoanamnesis atau alloanamnesis.

Prognosis:

Ad Vitam : Bonam

Ad Fungsionam : Dubia ad Bonam

Ad Sanasionam : Dubia ad Bonam

( Sering kambuh jika ada stressor kembali)