Anda di halaman 1dari 25

TUGAS KELOMPOK 2

INSTRUMEN SPEKTROSKOPI
Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)

Disusun Oleh:
RIZAL SUHARDIMAN F1C1 15 098
SAMUEL MANGRURA F1C1 15 068
DITA MARTARINI F1C1 15 018
WD. SITTI KHUZAIMAH F1C1 15 080
RATNA EKA SARI NOVIANTY F1C1 15 054
JASRIATI F1C1 15 028

UNIVERSITAS HALU OLEO


KENDARI
2017
Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)
KELOMPOK 2 Page 1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Instrumen Spektroskopi dengan materi
Spektrometri Serapan Atom (SSA). Tugas ini ini dapat diselesaikan dengan
baik karena bantuan dari berbagai pihak serta squard Kelompok 2. Oleh karena itu,
dengan segala kerendahan hati Kemlompok 2 menyampaikan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada teman-teman Kimia 2015 kelas B serta
bapak La Ode Kadidae, S. Si., M. Si., Ph. D. selaku Dosen Penanggung jawab MK
Instrumen Spektroskopi yang telah banyak mengorbankan waktu dan pikiran dalam
memberikan pengetahuan kepada kami.

Kendari, 22 Oktober 2017


Penyusun

Kelompok II

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 2
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ……………………………………………………... i


KATA PENGANTAR ………………………………………………………. ii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………... iii
BAB I. PENDAHULUAN ………………………………………………….. 1
A. Latar Belakang ………………………………………………………. 1
B. Rumusan Masalah …………………………………………………… 3
C. Tujuan ……………………………………………………………….. 3
D. Manfaat ……………………………………………………………… 4
BAB II. PEMBAHASAN …………………………………………………… 5
BAB III. PENUTUP ………………………………………………………… 20
A. Kesimpulan …………………………………………………………... 20
B. Saran ………………………………………………………………… 20
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….. 21

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Spektrometri merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang

pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang dihasilkan atau yang diserap

oleh spesi atom atau molekul analit. Salah satu bagian dari spektrometri ialah

Spektrometri Serapan Atom (SSA), meru pakan metode analisis unsur secara

kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang

gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas (Skoog et al., 2000).

Sejarah SSA berkaitan erat dengan observasi sinar matahari. Pada tahun 1802

Wollaston menemukan garis hitam pada spektrum cahaya matahari yang

kemudian diselidiki lebih lanjut oleh Fraunhofer pada tahun 1820. Brewster

mengemukakan pandangan bahwa garis Fraunhofer ini akibatkan oleh proses

absorpsi pada atmoser matahari. Prinsip absorpsi ini kemudian mendasari

Kirchhoff dan Bunsen untuk melakukan penelitian yang sistematis

mengenai spektrum dari logam alkali dan alkali tanah. Kemudian Planck

mengemukakan hukum kuantum dari absorpsi dan emisi suatu cahaya. Menurutnya,

suatu atom hanya akan menyerap cahaya dengan panjang gelombang tertentu

(frekwensi), atau dengan kata lain ia hanya akan mengambil dan melepas suatu

jumlah energi tertentu, (E = hv = hc/λ). Kelahiran SSA sendiri pada tahun 1955,

ketika publikasi yang ditulis oleh Walsh dan Alkemade & Milatz muncul. Dalam

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 4
publikasi ini SSA direkomendasikan sebagai metode analisis yang dapat

diaplikasikan secara umum (Weltz,1976).

Pengembangan metode Spektrometri Serapan Atom (AAS) baru dimulai sejak

tahun1955, yaitu ketika seorang ilmuwan Australia, Walsh (1955) melaporkan hasil

penelitiannya tentang penggunaan “hollow cathode lamp” sebagai sumber radiasi

yang dapat menghasilkan radiasi panjang gelombang karakteristik yang sangat

sesuaidengan AAS. Pada tahun yang sama Alkemadedan Milatz (1955) melaporkan

bahwa beberapa jenis nyala dapat digunakan sebagai sarana untuk atomisasi sejumlah

unsur. Oleh karena itu, para ilmuwan tersebut dapat dianggap sebagai “Bapak AAS “.

Metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) pertama kali dikembangkan

oleh Walsh Alkamede, dan Metals (1995). SSA ditujukan untuk mengetahui unsur

logam renik di dalam sampel yang dianalisis. Spektrofotometri Serapan Atom

didasarkan pada penyerapan energy sinar oleh atom-atom netral dalam keadaan gas,

untuk itu diperlukan kalor / panas. Alat ini umumnya digunakan untuk analisis logam

sedangkan untuk non logam jarang sekali, mengingat unsur non logam dapat

terionisasi dengan adanya kalor, sehingga setelah dipanaskan akan sukar didapat

unsur yang terionisasi. Metod e ini larutan sampel diubah menjadi bentuk

aerosol didalam bagian pengkabutan (nebulizer) pada alat AAS selanjutnya diubah ke

dalam bentuk atom-atomnya berupa garis didalam nyala.

Spektrofotometer serapan atom (SSA) sebetulnya adalah metode umum untuk

menentukan kadar unsur logam konsentrasi renik. Keadaan bentuk contoh aslinya

tidak pentingasalkan contoh larut dalam air atau dalam larutan bukan air. Metode
Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)
KELOMPOK 2 Page 5
SSA spesifikasinya tinggi yaitu unsur-unsur dapat ditentukan meskipun dalam

campuran. Pemisahan, yang penting untuk hampir-hampir semua analisis basah,

boleh dikatakan tidak diperlukan, menjadikan SSA sederhana dan menarik.

Kenyataan ini, ditambah dengan kemudahan menangani SSA modern, menjadikan

analisis rutin dapat dilakukan cepat dan ekonomis oleh tenaga laboratorium yang

belum terampil.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini, yaitu:

1. Bagaimanakah teori dasar serta prinsip kerja Spektrometri Serapan Atom (SSA)?

2. Bagaimanakah penggunaan / penerapan Spektrometri Serapan Atom(SSA) dalam

proses analisis kimia?

3. Apa sajakah gangguan-gangguan yang biasa terjadi pada Spektrometri Serapan

Atom (SSA)?

C. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini, adalah:

1. Untuk mengetahui teori dasar serta prinsip kerja Spektrometri Serapan Atom

(SSA).

2. Untuk mengetahui cara penggunaan / penerapan Spektrometri Serapan Atom(SSA)

dalam proses analisis kimia.

3. Untuk mengetahui apa sajakah gangguan-gangguan yang biasa terjadi pada

Spektrometri Serapan Atom (SSA).

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 6
D. Manfaat

Manfaat dari penulisan makalah ini, adalah:

1. Dapat mengetahui teori dasar serta prinsip kerja Spektrometri Serapan Atom

(SSA).

2. Dapat mengetahui cara penggunaan / penerapan Spektrometri Serapan Atom(SSA)

dalam proses analisis kimia.

3. Dapat mengetahui apa sajakah gangguan-gangguan yang biasa terjadi pada

Spektrometri Serapan Atom (SSA).

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 7
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Spektroskopi Serapan Atom (SSA)

Sejarah singkat tentang serapan

atom pertama kali diamati oleh

Frounhofer, yang pada saat itu

menelaah garis-garis hitam pada

spetrum matahari. Sedangkan yang

mememfaatkan prinsip serapan atom

pada bidang analisis adalah seorang Australia bernama Alan Walsh di tahun 1995.

Sebelum ahli kimia banyak tergantung pada cara-cara spektrofotometrik atau metode

analis spektrografik. Beberapa cara ini yang sulit dan memakan waktu, kemudian

segera digantikan dengan Spektrometri Serapan Atom atau Atomic Absorption

Spectrofotometry (ASS).

Spektrometri Serapan Atom (SSA) adalah suatu alat yang digunakan pada

metode analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan metaloid yang

pengukurannya berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombang tertentu

oleh atom logam dalam keadaan bebas (Skoog et. al., 2000). Metode ini sangat tepat

untuk analisis zat pada konsentrasi rendah. Teknik ini mempunyai beberapa kelebihan

di bandingkan metode spektroskopi emisi konvensional. Memang selain dengan

metode serapan atom,unsur-unsur dengan energi eksitasi dapat juga dianalisis dengan

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 8
fotometri nyala, tetapi untuk unsur-unsur dengan energi eksitasi tinggi hanya dapat

dilakukan dengan fotometri nyala. Untuk analisis dengan garis spectrum resonansi

antara 400-800 nm, fotometri nyala sangat berguna sedangkan antara 200-300 nm

metode ASS lebih baik daripada fotometri nyala. Untuk analisis kualitatif,metode

fotometri nyala lebih disukai dari ASS, karena ASS memerlukan lampu katoda

spesifik (hallow cathode). Kemonokromatisan dalam ASS merupakan sarat utama.

Dari segi biaya AAS lebih mahal dari fotometri nyala berfilter. Dapat dikatakan

bahwa metode fotometri nyala dan AAS merupakan komplomenter satu sama

lainnya.

Komponen-komponen lainnya dari sebuah spektrofotometer serapan atom

adalah konvensional sifatnya. Monokromatornya dapat tak semahal monokromator

spektrofotometer biasa yang sepadan kualitasnya, karena kurang dituntut. Satu-

satunya tuntutan adalah bahwa monokromator itu melewatkan garis resonan yang

dipilih, tanpa dibarengi garis-garis lain dalam spektrum sumber cahaya yang timbul

dari katode logam atau gas lambannya.

Metode AAS berprinsip pada absorpsi cahaya oleh atom. Atom-atom

menyerap cahaya tersebut pada panjang gelaombang tertentu, tergantung pada sifat

unsurnya. Misalkan Natrium menyerap pada 589 nm, uranium pada 358,5 nm

sedangkan kalium pada 766,5 nm. Cahaya pada gelombang ini mempunyai cukup

energi untuk mengubah tingkat elektronik suatu atom. Dengan absorpsi energi, berarti

memperoleh lebih banyak energi, suatu atom pada keadaan dasar dinaikkan tingkat

energinya ke tingkat eksitasi. Tingkat-tingkat eksitasinya pun bermacammacam.


Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)
KELOMPOK 2 Page 9
Misalnya unsur Na dengan nomor atom 11 mempunyai konfigurasi elektron 1s2 2s2

2p6 3s1, tingkat dasar untuk elektron valensi 3s, artinya tidak memiliki kelebihan

energi. Elektron ini dapat tereksitasi ketingkat 3p dengan energi 2,2 eV ataupun

ketingkat 4p dengan energi 3,6 eV, masing-masing sesuai dengan panjang gelombang

sebesar 589 nm dan 330 nm. Kita dapat memilih diantara panjang gelombang ini

yang menghasilkan garis spektrum yang tajam dan dengan intensitas maksimum,

yang dikenal dengan garis resonansi. Garis-garis lain yang bukan garis resonansi

dapat berupa spektrum yang berasosiasi dengan tingkat energi molekul, biasanya

berupa pita-pita lebar ataupun garis tidak berasal dari eksitasi tingkat dasar yang

disebabkan proses atomisasinya.

Apabila cahaya dengan panjang gelombang tertentu dilewatkan pada suatu sel

yang mengandung atom-atom bebas yang bersangkutan maka sebagian cahaya

tersebut akan diserap dan intensitas penyerapan akan berbanding lurus dengan

banyaknya atom bebas logam yang barada pada sel. Hubungan antara absorbansi

dengan konsentrasi diturunkan dari:

Hukum Lambert: bila suatu sumber sinar monokrokatik melewati medium

transparan, maka intensitas sinar yang diteruskan berkurang

dengan bertambahnya ketebalan medium yang mengabsorbsi.

Hukum Beer : intensitas sinar yang diteruskan berkurang secara eksponensial

dengan bertambahnya konsentrasi spesi yang menyerap sinar

tersebut.

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 10
B. Prinsip Kerja Spektrometri Serapan Atom (SSA)

Penyerapan energi radiasi oleh atom-atom netral pada keadaan dasar, dengan

panjang gelombang tertenru yang menyebabkan tereksitasinya dalam berbagai tingkat

energi. Keadaan eksitasi ini tidak stabil dan akan kembali ke tingkat dasar dengan

melepaskan sebagian atau seluruh energi eksitasinya dalam bentuk radiasi.

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 11
Energi yang diemisiskan dapat berupa energi cahaya dengan panjang

gelombang yang berhubungan langsung dengan transisi elektronik yang terjadi.

Setiap unsur mempunyai struktur elektronik yang khas, maka panjang gelombang

yang diemisikan pun merupakan sifat khas dari suatu unsur. Jika cahaya dengan

panjang gelombang tertentu yang sesuai mengenai suatu atom yang berada dalam

keadaan dasar, maka atom dapat menyerap energi cahaya tersebut untuk berpindah ke

keadaan tereksitasi. Proses ini disebut serapan atom dan menjadi dasar untuk

spektrometri serapan atom.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Metode AAS berprinsip pada absorpsi

cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelaombang

tertentu, tergantung pada sifat unsurnya Spektrometri Serapan Atom (SSA) meliputi

adsorpsi sinar oleh atom-atom netral unsur logam yang masih berada dalam keadaan

dasarnya (Gorund state). Sinar yang diserap biasanya ialah sinar ultra violet dan sinar

tampak. Prinsip Spektromeri Serapan Atom (SSA) pada dasarnya sama seperti prinsip

absorpsi sinar oleh molekul atau ion senyawa dalam larutan.

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 12
Hukum absorpsi sinar (Lambert-Beer) yang berlaku pada spektrofotometer

absorpsi sinar ultra violet, sinar tampak maupun infra merah, juga berlaku pada

Spektrometri Serapan Atom (SSA). Perbedaan analisis Spektrometri Serapan Atom

(SSA) dengan spektrofotometri molekul adalah peralatan dan bentuk spektrum

absorpsinya.

C. Komponen Spektromeri Serapan Atom (SSA)

Setiap alat SSA terdiri atas tiga komponen yaitu Unit atomisasi (atomisasi

dengan nyala dan tanpa nyala), Sumber radiasi dan Sistem pengukur fotometri.

1. Sistem Atomisasi Nyala

Setiap alat spektrometri atom akan mencakup dua komponen utama sistem

introduksi sampel dan sumber (source) atomisasi. Untuk kebanyakan instrumen

sumber atomisasi ini adalah nyala dan sampel di introduksikan dalarn bentuk larutan.

Sampel masuk ke nyala dalam bentuk aerosol. Aerosol biasanya dihasilkan oleh

Nebulizer (pengabut) yang dihubungkan ke nyala oleh ruang penyemprot (chamber

spray).

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 13
Ada banyak variasi nyala yang telah diapakai bertahun-tahun untuk

spektrometri atom. Namun demikian. yang saat ini menonjol dan dipakai secara luas

untuk pengukuran analitik adalah udara-asetilen dan nitrous oksida- asetilen. Dengan

kedua jenis nyala ini, kondisi analisis yang sesuai untuk kebanyakan analit (unsur

yang dianalisis) dapat ditentukan dengan menggunakan metode-metode emisi,

absorbsi dan juga fluoresensi.

Nyala udara-asetilen

Biasanya menjadi pilihan untuk analisis menggunakan AAS, temperarur nyala-

nya yang lebih rendah mendorong terbentuknya atom netral dan dengan nyala yang kaya

bahan bakar pembentukan oksida dari banyak unsur dapat diminimalkan.

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 14
Nitrous oksida-asetilen

Dianjurkan dipakai untuk penentuan unsur-unsur yang mudah membentuk oksida

dan sulit terurai. Hal ini disebabkan temperatur nyala yang dihasilkan relative tinggi.

Unsur-unsur tersebut adalah: Al, B, Mo, Si, So, Ti, V danW.

Proses atomisasi adalah proses pengubahan sample dalam bentuk larutan menjadi

spesies atom dalam nyala. Proses atomisasi ini akan berpengaruh terhadap hubungan

antara konsentrasi atom analit dalam larutan dan sinyal yang diperoleh pada detektor dan

dengan demikian sangat berpengaruh terhadap sensitivitas analisis.

2. Sistem Atomisasi Dengan Elektrothermal (Tungku)

Sistem nyala api ini lebih dikenal dengan nama

GFAAS. GFAAS dapat mengatasi kelemahan dari sistem

nyala seperti, sensitivitas, jumlah sampel dan penyiapan

sampel. Ada tiga tahap atomisasi dengan tungku yaitu:

Tahap pengeringan atau penguapan larutan

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 15
Tahap pengabuan atau penghilangan senyawa-senyawa organik dan

Tahap atomisasi

Unsur-unsur yang dapat dianalsis dengan menggunakan GFAAS adalah sama

dengan unsur-unsur yang dapat dianalisis dengan sistem nyala. Beberapa unsur yang

sama sekali tidak dapat dianalisis dengan GFAAS adalah tungsten, Hf, Nd, Ho, La,

Lu, Os, Br, Re, Sc, Ta, U, W, Y dan Zr, hal ini disebabkan karena unsur tersebut

dapat bereaksi dengan graphit.

3. Sistem Atomisasi dengan Pembentukan Senyawa Hidrida

Atomisasi dengan pembentukan senyawa hidrida

dilakukan untuk unsur As, Se, Sb yang mudah terurai

apabila dipanaskan pada suhu lebih dari 800ºC sehingga

atomisasi dilakukan dengan membentuk senyawa hibrida

berbentuk gas atau yang lebih terurai menjadi atom-

atomnya melalui reaksi reduksi oleh SnCl2 atau NaBH4,

contohnya merkuri (Hg).

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 16
D. Instrumen AAS

a. Sumber Radiasi
Lampu HCL (Hollow Chatode Lamp), lampu ini merupakan sumber radiasi

dengan spektra yang tajam dan mengemisikan gelombang monokromatis. Lampu ini

terdiri dari katoda cekung yang silindris yang terbuat dari unsur yang akan ditentukan

atau campurannya (alloy) dan anoda yang terbuat dari tungsten. Elektroda-elektroda

ini berada dalam tabung gelas dengan jendela quartz karena panjang gelombang

emisinya sering berada pada daerah ultraviolet. Tabung gelas tersebut dibuat

bertekanan rendah dan diisi dengan gas inert Ar atau Ne. Beda voltase yang cukup

tinggi dikenakan pada kedua elektroda tersebut sehingga atom gas pada anoda

terionisasi. Ion positif ini dipercepat kearah katoda dan ketika menabrak katoda

menyebabkan beberapa logam pada katoda terpental dan berubah menjadi uap, Atom

yang teruapkan ini, karena tabrakan dengan ion gas yang berenergi tinggi, tereksitasi

ke tingkat energi elektron yang lebih tinggi; ketika kembali ke keadaan dasar atom-

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 17
¬atom tersebut memancarkan sinar dengan λ yang karakteristik untuk unsur katoda

tersebut. Berkas sinar yang diemisikan bergerak melalui nyala dan berkas dengan λ

tertentu yang dipilih dengan monokromator akan diserap oleh uap atom yang ada

dalam nyala yang berasal dari sampel. Sinar yang diabsorpsi paling kuat biasanya

adalah sinar yang berasal dart transisi elektron ke tingkat eksitasi terendah. Sinar ini

disebut garis resonansi.

Sumber radiasi lain yang sering digunakan adalah "Electrodless Discharge

Lamp". Lampu ini mempunyai prinsip kerja hampir sama dengan HCL, tetapi

mempunyai output radiasi lebih tinggi dan biasanya digunakan untuk analisis unsur-

unsur As dan Se, karena lampu HCL untuk unsur-unsur ini mempunyai sinyal yang

lemah dan tidak stabil.

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 18
b. Copper
Merupakan modulasi mekanik dengan tujuan mengubah sinar dari sumber

sinar menjadi berselang-seling. Isyarat selang-seling oleh detector diubah menjadi

isarat bolak-balik, yang oleh amplifier akan digandakan. Sedang emisi kontinyu

bersifat searah dan tidak digandakan oleh amplifier.

c. Alat pembakar (proses atomisasi)

Tujuan sistem pembakaran-pengabut adalah untuk mengubah larutan uji

menjadi atom-atom dalam bentuk gas. Fungsi pengabut adalah menghasilkan kabut

atau aerosol larutan uji. Larutan yang akan dikabutkan ditarik ke dalam pipa kapiler

oleh aksi semprotan udara ditiupkan melalui ujung kapiler, diperlukan aliran gas

bertekanan tinggi untuk menghasilkan aerosol yang halus.

d. Nyala dan profit nyala


Nyala digunakan untuk mengubah sampel yang berupa padatan atau cairan

menjadi bentuk uap atomnya, dan juga berfungsi untuk atomisasi. Untuk spektrokopi

nyala suatu persyaratan yang penting adalah bahwa nyala yang dipakai hendaknya

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 19
menghasilkan temperatur lebih dari 2000oK. Konsentrasi tereksitasi, dipengaruhi oleh

komposisi nyala.

Komposisi nyala asitelin-udara sangat baik digunakan untuk lebih dari tiga

puluh unsur sedangkan komosisi nyala propane-udara disukai untuk logam yang

mudah menjadi uap atomic. Untuk logam seperti Alumunium (Al) dan titranium (Ti)

yang membentuk oksida refrakori temperatur tinggi dari nyala asitelin-NO sangat

perlu, dan sensitivitas dijumpai bila nyala kaya akan asitilen.

e. Monokromator
Dalam Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) fungsi monokromator

adalah untuk memisahkan garis resornansi dari semua garis yang tak diserap yang

dipancarkan oleh sumber radiasi. Dalam kebanyakan instrument komersial digunakan

kisi difraksi karena sebaran yang dilakukan oleh kisi seragam daripada yang

dilakukan oleh prisma dan akibatnya instrument kisi dapat memelihara daya pisah

yang lebih tinggi sepanjang jangka gelombang yang lebih besar.

f. Detektor

Detektor pada Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) berfungsi

mengubah intensitas radiasi yang datang menjadi arus listrik. Pada Atomic

Absorption Spectrophotometry (AAS) yang umum dipakai sebagai detektor adalah

tabung penggandaan foton (PMT=Photo Multiplier Tube Detector).

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 20
g. Read out

Read out merupakan sistem pencatatan hasil. Hasil pembacaan dapat berupa

angka atau kurva dari suatu recorder yang menggambarkan absorbansi atau intensitas

emisi.

E. Data Hasil Analisis dengan AAS

Hasil Percobaan

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 21
F. Gangguan dalam Analisis dengan AAS

Gangguan kimia

Gangguan kimia terjadi apabila unsur yang dianalisis mengalami reaksi kimia

dengan anion atau ketion tertentu dengan senyawa yang refraktori, sehingga tidak

semua analit dapat teratomisasi. Untuk mengatasi gangguan ini dapat dilakukan

dengan dua cara yaitu: 1) penggunaan suhu nyala yang lebih tinggi, 2) penambahan

zat kimia lain yang dapat melepaskan kation atau anion pengganggu dari ikatannya

dengan analit. Zat kimia lain yang ditambahkan disebut zat pembebas (Releasing

Agent) atau zat pelindung (Protective Agent).

Gangguan Matrik

Gangguan ini terjadi bila sampel mengandung banyak garam ayau asam, atau

bila pelarut yang digunakan tidak menggunakan pelarut zat standar, atau bila suhu

nyala untuk larutan sampel dan standar berbeda. Gangguan ini dalam analisis

kualitatif tidak terlalu bermasalah, tetapi sangat mengganggu dalam analisis

kuantitatif. Untuk mengatasi gangguan ini dalam analisis kuantitatif dapat digunakan

cara analisis penambahan satandar (Standar Adisi).

Gangguan Ionisasi

Gangguan ionisasi terjadi bila suhu nyala api cukup tinggi sehingga mampu

melepaskan elektron dari atom netral dan membentuk ion positif. Pembentukan ion

ini mengurangi jumlah atom netral, sehingga isyarat absorpsi akan berkurang juga.

Untuk mengatasi masalah ini dapat dilakukan dengan penambahan larutan unsur yang

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 22
mudah diionkan atau atom yang lebih elektropositif dari atom yang dianalisis,

misalnya Cs, Rb, K dan Na. Penambahan ini dapat mencapai 100-2000 ppm.

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 23
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pejelasan-penjelasan terdahulu maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

Spektrometri Serapan Atom didasarkan pada besarnya energi yang diserap oleh atom-

atom netral dalam keadaan gas. Agar intensitas awal sinar (Po) dan sinar yang

diteruskan (P) dapat diukur, maka energi sinar pengeksitasi harus sesuai dengan

energi eksitasi atom penyerap dan energi penyerap ini diperoleh melalui sinar lampu

katoda berongga. Lampu katoda berongga ada yang bersifat single element, dan ada

yang bersifat multi element. Salah satu alat yang sangat berperan penting dalam SSA

adalah Copper yang berfungsi untuk membuat sinar yang datang dari sumber sinar

berselang-seling sehingga sinar yang dipancarkan juga akan berselang-seling. SSA

memiliki keakuratan yang tinggi pada analisis kualitatif. Beberapa jenis gangguan

dengan cara SSA pada analisis kuantitatif, yakni gangguan kimia, gangguan matrik,

gangguan ionisasi dan gangguan beck ground. Untuk mengatasi gangguan kimia

maupun gangguan matrik dapat dilakukan dengan penambahan zat pembebas atau zat

pelindung.

B. Saran

Hendaknya semua pihak lebih ditingkatkan lagi rasa kepedulian terhadap

teknologi sains agar kedepan kita dapat mewujudkan masyarakat yang berjiwa

teknologi.

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 24
DAFTAR PUSTAKA

Anisa. 2011. Analisis Lengkap Asam Askorbat sebagai Bahan Baku Suplemen

Makanan di PT Bayer Indonesia Cabang Cimanggis.Institut pertanian Bogor.

Contado, Catia & Antonella Pagnoni. 2012. A new strategy for pressed powder eye

shadowanalysis: Allergenic metal ion content and particle size distribution.

Science of the Total Environment. 483: 173–179.

Gandjar, IG dan Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar.

Yogyakarta.

Hendayana, dkk, 1994, Kimia Analitik Instrumen, IKIP Semarang.

Lewen, N. 2011. The Use Of Atomic Spectroscopy In The Pharmaceutical Industry

For Thedetermination Of Trace Elements In Pharmaceuticals. Journal of

Pharmaceutical and Biomedical Analysis. 55: 653–661.

Setiyowati. 2009. Validasi dan Pengembangan Penetapan Kadar Tablet Besi Sulfat

dengan Spektrofotometri Visibel dan Serimetri sebagai Pembanding. Fakultas

Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.

Skoog, Holler, Nieman. 1998. Principles of Instrumental Analysis, 5th ed. Saunders

CollegePublishing. USA.

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)


KELOMPOK 2 Page 25