Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH METODE PENELITIAN HUKUM

OLEH :

I GEDE KUSUMA JAYA (016.3.0053)

FAKULTAS HUKUM, JURUSAN ILMU HUKUM


UNVERSITAS PANJI SAKTI
TAHUN AJARAN 2017/2018
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Masalah
2.2 Identifikasi Masalah
2.3 Batasan Masalah
2.4 Persoalan Pokok
2.5 Merumuskan Masalah
2.6 Bagaimana Metode Penelitian Hukum
2.7 Sumber Data/Bahan Hukum
2.8 Teknik Analisis Data

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi di era globalisasi ini memacu kita untuk selalu
meningkatkan kualitas dan sumber daya manusianya hal ini sangat penting untuk kelangsungan
kehidupan berbangsa dan bernegara.tiap manusia bersaing untuk mengembangkan potensi yang
dimilikinya namun dalam jengjang untuk merai potensi tersebut terkadang kita dihadapkan dengan
berbagai masalah yang kita sendiri tidak menyadari adanya masalah tersebut perlu kita ketahui
bahwa“Masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan,masalah kadang kala hanya terlintas
apa yang ada dalam fikiran kita dan itu kita anggap sebagai masalah serius yang perlu dan harus
dipecahkan tapi terkadang kita tidak memikirkan bagaimana metodologi pemecahannya.hal yang
seperti ini yang memancing kita untuk melakukan yang namanya penelitian dengan mencari fakta –
fakta dan bukti – bukti yang jelas dan teraarah sehingga alat dan instrument pengumpilan data sesuai
dengan penggunaan metode kita perlu mencurahkan lebih banyak waktu untuk menentukan masalah
penelitia tersebut baik dari mengidentifikasi ,pembatasan sampai pada perumusan masalah yang
memiliki tujuan dan manfaat

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa Pengertian Masalah?
2. Apa Identifikasi masalah?
3. Bagaimana Batasan?
4. Bagaimana Persoalan pokok?
5. Bagaimana Merumuskan masalah?
6. Bagaimana Metode Penelitian Hukum?
7. Sumber Data/ Bahan Hukum
8. Teknik Analisis Data
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Masalah


Menurut Huber, bahwa suatu masalah aka nada jika terdapat perbedaan antara situasi yang nyata
dengan situasi yang diinginkan. Dalam hal ini, ada dua jenis perbedaan yaitu perbedaan yang
sesungguhnya dan perbedaan yang dipersepsikan.
Menurut Ronny Hanitijo Soemitro, permasalahan adalah pernyataan yang menunjukkan adanya jarak
antara harapan dengan kenyataan, antara rencana dengan pelaksanaan, antara das sollen dan das
sain.sebagai contoh adalah ketidaksesuaian antara tingkah laku dengan norma yang berlaku. Wujud dari
jarak antara das sollen dan das sain seringkali berupa ketimpangan, ketidak sinambungan, kesenjangan,
kelangkaan, kekurangan, kemacetan, ketidaktahuan dan hal-hal semacam itu.
Suatu maslah yang dianggap baik untuk diangkat dalam suatu penelitian adalah masalah yang memiliki
nilai, yaitu nilai penelitihan, meliliki fisibilitas dan sesuai dengan kualifikasi peneliti.
M. Burhan Bungin memberikan penjelasan mengenai pertimbangan memilih masalah. Menurutnya,
dalam penelitian kualitatif sama dengan penelitian kuantitatif dimana peneliti meneliti beberapa
pertimbangan penentuan suatu topik dan masalah penelitian tertentu yang dapat diangkat menjadi
masalah penelitian. Dalam hal ini, ada dua pertimbangan bagi peneliti dalam memutuskan suatu
masalah untuk dijadikan masalah yang akan diteliti yaitupertimbangan objektif dan subjektif. Peneliti
harus menjawab dengan seksama terhadap kedua pertimbangan ini agar dapat menghasilkan kualitas
masalah yang layak diteliti.[1]

2.2 Identifikasi masalah


Identifikasi masalah berarti mengenali masalah yaitu dengan cara mendaftar faktor – faktor yang
berupa permasalahan.mengidentifikasi masalah – masalah penelitian bukan sekedar mendaftar jumlah
masalah tetapi juga kegiatan ini lebih daripada itu karena masalah yang telah dipilih hendaknya
memiliki nilai yang sangat penting atau signifikansi untuk dipecahkan.
Identifikasi masalah adalah salah satu proses penelitan yang boleh dikatakan paling penting diantara
proses lain. Masalah penelitian akan menentukan kualitas dari penelitian, bahkan juga menentukan
apakah sebuah kegiatan bisa disebut penelitian atau tidak. Masalah penelitian secara umum bisa kita
temukan lewat studi literatur atau lewat pengamatan lapangan. Beberapa hal yang dijadikan sebagai
sumber masalah adalah :
1. Bacaan.
Bacaan yang berasal dari jurnal-jurnal penelitian yang berasal dari laporan hasil-hasil penelitian
yang dapat dijadikan sumber masalah, karena laporan penelitian yang baik tentunya mencantumkan
rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut, yang berkaitan dengan penelitian tersebut. Suatu
penelitian sering tidak mampu memecahkan semua masalah yang ada, karena keterbatasan
penelitian. Hal ini menuntut adanya penelitian lebih lanjut dengan mengangkat masalah-masalah
yang belum terjawab.
Selain jurnal penelitian, bacaan lain yang bersifat umum juga dapat dijadikan sumber masalah
misalnya buku-buku bacaan terutama buku bacaan yang mendeskripsikan gejala-gejala dalam suatu
kehidupan yang menyangkut dimensi sains dan teknologi atau bacaan yang berupa tulisan yang
dimuat dimedia cetak
2. Pertemuan Ilmiah.
Masalah dapat diperoleh melalui pertemuan-pertemuan ilmiah, seperti seminar, diskusi. Lokakarya,
konfrensi dan sebagainya. Dengan pertemuan ilmiah dapat muncul berbagai permasalahan yang
memerlukan jawaban melalui penelitian.
3. Observasi(Pengamatan).
Pengamatan yang dilakukan seseorang tentang sesuatu yang direncanakan ataupun yang tidak
direncanakan, baik secara sepintas ataupun dalam jangka waktu yang cukup lama, dapat melahirkan
suatu masalah. Contoh : Seorang pendidik menemukan masalah dengan melihat (mengamati) sikap
dan perilaku siswanya dalam proses belajar mengajar
4. Wawancara dan Angket
Melalui wawancara kepada masyarakat mengenai sesuatu kondisi aktual di lapangan dapat
menemukan masalah apa yang sekarang dihadapi masyarakat tertentu. Demikian juga dengan
menyebarkan angket kepada masyarakat akan dapat menemukan apa sebenarnya masalah yang
dirasakan masyarakat tersebut. Kegiatan ini dilakukan biasanya sebagai studi awal untuk
mengadakan penjajakan tentang permasalahan yang ada di lapangan dan juga untuk menyakinkan
adanya permasalahan-permasalahan di masyarakat

faktor diatas dapat saling mempengaruhi dalam melahirkan suatu masalah penelitian, dapat juga berdiri
sendiri dalam mencetuskan suatu masalah. Jadi untuk mengindentifikasi masalah dapat melalui
sumber-sumber masalah di atas. Sumber-sumber masalah tersebut dapat saling berinteraksi dalam
menentukan masalah penelitian, dapat juga melalui salah satu sumbersaja. Setelah masalah
diindentifikasi, selanjutnya perlu dipilih dan ditentukan masalah yang akan diangkat dalam suatu
penelitian.
Identifikasi masalah sebenarnya dilakukan untuk menemukan ruang lingkup masalah tertentu dalam
ruang lingkup masalah tersebut misalnya ditentukan bahwa masalah tersebut dalam bidang
pendidikan,kemudian dipilih sala satu masalah sesuai dengan kemampuan peneliti baik dari segi
pelaksanaan ataupun kurikulumnya.

2.3 Pembatasan masalah


Pembatasan masalah berkaitan dengan pemilihan masalah dari berbagai masalah yang telah
diidentifikasikan .Dengan demikian masalah akan dibatasi menjadi lebih khusus ,lebih sederhana dan
gejalanya akan lebih muda kita amati karna dengan pembatasan masalah maka seorang peneliti akan
lebih focus dan terarah sehingga tau kemana akan melangkah selanjutnya dan apa tindakan
selanjutnya .
Batasan masalah adalah ruang lingkup masalah atau membatasi ruang lingkup masalah yang terlalu
luas / lebar sehingga penelitian lebih bisa fokus untuk dilakukan. Hal ini dilakukan agar pembahasan
tidak terlalu luas kepada aspek-aspek yang jauh dari relevan sehingga penelitian bisa lebih fokus untuk
dilakukan. Dari sekian banyak masalah tersebut dipilihlah satu atau dua masalah yang akan
dipermasalahkan, tentu yang akan diteliti (lazim disebut dengan batasan masalah). Batasan masalah
jadinya berati pemilihan satu atau dua masalah dari beberapa masalah yang sudah teridentifikasi.
Batasan masalah itu dalam arti lain sebenarnya menegaskan atau memperjelas yang menjadi masalah.
Dengan kata lain, merumuskan pengertian dan menegaskannya dengan dukungan data-data hasil
penelitian pendahuluan seperti apa “sosok” masalah tersebut. Misal, jika yang dipilih mengenai
“prestasi kerja karyawan yang rendah” dipaparkanlah (dideskripsikanlah) “kerendahan” prestasi kerja
itu seperti apa (misalnya kehadiran kerja seberapa rendah, keseriusan kerja seberapa rendah, kuantitas
hasil kerja seberapa rendah, kualitas kerja seberapa rendah).
Dapat pula batasan masalah itu dalam arti batasan pengertian masalah, yaitu menegaskan secara
operasional (definisi operasional) masalah tersebut yang akan memudahkan untuk melakukan
penelitian (pengumpulan data) tentangnya. Misal, dalam contoh di atas, prestasi kerja mengandung
aspek kehadiran kerja (ketepatan waktu kerja), keseriusan atau kesungguhan kerja (benar-benar
melakukan kegiatan kerja ataukah malas-malasan dan buang-buang waktu, banyak menganggur),
kuantitas hasil kerja (banyaknya karya yang dihasilkan berbanding waktu yang tersedia), dan kualitas
hasil kerja (kerapihan, kecermatan dsb dari hasil karya).
Pilihan makna yang mana yang akan diikuti sebenarnya tidak masalah. Idealnya:
1. membatasi (memilih satu atau dua) masalah yang akan diteliti (pilih satu atau dua dari yang
sudah diidentifikasi).
2. menegaskan pengertiannya.
3. memaparkan data-data yang memberikan gambaran lebih rinci.

2.4 Persoaalan Pokok dalam Perumusan Masalah


Pemecahan masalah dapat dilakukan melalui dua tindakan, yaitu mungkin mengubah situasi nyata atau
mengubah situasi yang diinginkan. Mengubah situasi nyata dalam banyak hal ialah meningkatkan
kemampuan pengelolaan atau pelaksanaan agar mendekati situasi yang diinginkan. Alternatif tindakan
yang lain adalah dengan mengubah situasi yang diinginkan atau mengubah kriteria. Pilihan tindakan ini
tidaklah muda dilakukan karena membawa implikasi perubahan kebijakan yang mendasar. Ininilah
merupakan definisi sederhana dari penelitian kebijakan dengan menggunakan pemecahan masalah.
Dengan pendekatan ini diyakini bahwa perumusan masalah yang tepat dianggap sebagai langkah
menentukan dalam analisis kebijakan.
2.5 Perumusan Masalah
Tidak ada acara yang baku dalam merumuskan suatu masalah penelitian. Namun, terdapat karakteristik
permasalahan yang dapat dipelajari agar rumusan masalah tersebut menjadi lebih berdaya guna.
Karakteristik permasalahan tersebut adalah:
1. Masalah yang dirumuskan harus mampu menggambarkan penguraian tentang gejala yang
dimilikinya sebagai dan bagaimana kaitannya antara gejala satu dengan gejala lainnya. Dalam
tingkatan yang lebih empiris, informasi yang menggambarkan masing-masing gejala dapat
dijadikan bahan untuk merumuskan masalah yang lebih umum. Rumusan masalah yang sebenarnya
harus merupakan penyimpulan dari keterkaitan antara gejala-gejala yang dimaksudkan.
2. Masalah harus dirumuskan secara jelas dan tidak berarti dua. Artinya tidak ada maksud lain
yang terkandung selain bunyi masalahnya. Rumusan masalah harus dapat menerangkan dirinya
sendiri sehingga tidak diperlukan keterangan lain untuk menjelaskannya. Maslah yang baik selalu
dilingkupi dengan rumusan yang utuh antara unsur sebab dan unsur akibat sehingga dapat
menantang pemikiran lebih jauh.
3. Maslah yang baik hendaknya dapat memancing pembuktian secara empiris. Suatu masalah
tidakhanya menggambarkan hubungan antara gejala tetapi juga gejala-gejala tersebut dapat diukur
dan dinyataka dalam angka yang mampu menunjukkan keadaan makro dan bukan bersifat kasus.
2.6 Metode Penelitian
Dalam melakukan suatu penelitian hukum tidak dapat terlepas dengan penggunaan metode penelitian.
Karena setiap penelitian apa saja pastilah menggunakan metode untuk menganalisa permasalahan yang
diangkat. Menurut Soerjono Soekanto, penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan
pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa
gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisanya. Kecuali itu, maka juga diadakan pemeriksaan
mendalam terhadap fakta hukum tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas
permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan. Dalam metodologi penelitian hukum
atau metode penelitian hukum terdapat beberapa kategori yakni:
1. Berdasarkan fokus kajiannya
Metodologi penelitian hukum berdasarkan fokus kajiannya terbagi menjadi tiga bagian yakni:

Metode penelitian normatif

Mengenai istilah penelitian hukum normatif, tidak terdapat keseragaman diantara para ahli hukum.
Diantara pendapat beberapa ahli hukum, yakni Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, menyebutkan
dengan istilah metode penelitian hukum normatif atau metode penelitian hukum kepustakaan.
Soetandyo Wignjosoebroto, menyebutkan dengan istilah metode penelitian hukum doctrinal. Sunaryati
Hartono, menyebutkan dengan istilah metode penelitian hukum normative dan Ronny Hanitjo Soemitro
(Almarhum), menyebutkan dengan istilah metode penelitian hukum yang normatif atau metode
penelitian hukum yang doctrinal.
Metode penelitian hukum jenis ini juga biasa disebut sebagai penelitian hukum doktriner atau
penelitian perpustakaan. Dinamakan penelitian hukum doktriner dikarenakan penelitian ini hanya
ditujukan pada peraturan-peraturan tertulis sehingga penelitian ini sangat erat hubungannya pada pada
perpustakaan karena akan membutuhkan data-data yang bersifat sekunder pada perpustakaan. Hal ini
disebabkan pada penelitian normatif fokus pada studi kepustakaan dengan menggunakan berbagai
sumber data sekunder seperti pasal-pasal perundangan, berbagai teori hukum, hasil karya ilmiah para
sarjana.
Dalam penelitian hukum normatif hukum yang tertulis dikaji dari berbagai aspek seperti aspek teori,
filosofi, perbandingan, struktur/ komposisi, konsistensi, penjelasan umum dan penjelasan pada tiap
pasal, formalitas dan kekuatan mengikat suatu undang-undang serta bahasa yang digunakan adalah
bahasa hukum. Sehingga dapat kita simpulkan pada penelitian hukum normatif mempunyai cakupan
yang luas.
Penelitian Hukum Normatif (yuridis normatif) adalah metode penelitian hukum yang dilakukan dengan
meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka. Penelitian ini dilakukan untuk
mengidentifikasi konsep dan asas-asas serta prinsip-prinsip yang digunakan untuk mengatur perbankan
, khususnya sistem pembiayaan murabahah. Metode berpikir yang digunakan adalah metode berpikir
deduktif (cara berpikir dalam penarikan kesimpulan yang ditarik dari sesuatu yang sifatnya umum yang
sudah dibuktikan bahwa dia benar dan kesimpulan itu ditujukan untuk sesuatu yang sifatnya khusus).
Dalam kaitannya dengan penelitian normatif di sini akan digunakan beberapa pendekatan, yaitu :
1. Pendekatan perundang-undangan (statute approach)
Pendekatan perundang-undangan (statute approach) adalah suatu pendekatan yang
dilakukan terhadap berbagai aturan hukum yang berkaitan dengan pembiayaan.
2. Pendekatan Konsep (conceptual approach)
Pendekatan konsep (conceptual approach) digunakan untuk memahami konsep-konsep
tentang : pembiayaan murabahah, akad (perjanjian). Dengan didapatkan konsep yang jelas
maka diharapkan penormaan dalam aturan hukum kedepan tidak lagi terjadi pemahaman
yang kabur dan ambigu

Metode penelitian normatif-empiris

Metode penelitian hukum normatif empiris ini pada dasarnya merupakan penggabungan antara
pendekatan hukum normatif dengan adanya penambahan berbagai unsur empiris. Metode penelitian
normatif-empiris mengenai implementasi ketentuan hukum normatif (undang-undang) dalam aksinya
pada setiap peristiwa hukum tertentu yang terjadi dalam suatu masyarakat. Dalam penelitian jenis ini
terdapat tiga kategori yakni:
1. Non judicial Case Study, merupakan pendekatan studi kasus hukum yang tanpa konflik sehingga
tidak ada campur tangan dengan pengadilan.
2. Judicial Case Study, pendekatan judicial case study ini merupakan pendekatan studi kasus hukum
karena konflik sehingga akan melibatkan campur tangan dengan pengadilan untuk memberikan
keputusan penyelesaian (yurisprudensi).
3. Live Case Study, pendekatan live case study merupakan pendekatan pada suatu peristiwa hukum
yang prosesnya masih berlangsung atau belum berakhir.

Metode penelitian empiris


Metode penelitian hukum empiris adalah suatu metode penelitian hukum yang berfungsi untuk melihat
hukum dalam artian nyata dan meneliti bagaimana bekerjanya hukum di lingkungan masyarakat.
Dikarenakan dalam penelitian ini meneliti orang dalam hubungan hidup di masyarakat maka metode
penelitian hukum empiris dapat dikatakan sebagai penelitian hukum sosiologis. Dapat dikatakan bahwa
penelitian hukum yang diambil dari fakta-fakta yang ada di dalam suatu masyarakat, badan hukum atau
badan pemerintah.
Penelitian Hukum Sosiologis atau empiris adalah metode penelitian yang dilakukan untuk
mendapatkan data primer dan menemukan kebenaran dengan menggunakan metode berpikir induktif
dan kriterium kebenaran koresponden serta fakta yang digunakan untuk melakukan proses induksi dan
pengujian kebenaran secara koresponden adalah fakta yang mutakhir . Cara kerja dari metode yuridis
sosiologis dalam penelitian tesis ini, yaitu dari hasil pengumpulan dan penemuan data serta informasi
melalui studi kepustakaan terhadap asumsi atau anggapan dasar yang dipergunakan dalam menjawab
permasalahan pada penelitian tesis ini, kemudian dilakukan pengujian secara induktif–verifikatif pada
fakta mutakhir yang terdapat di dalam masyarakat. Dengan demikian kebenaran dalam suatu penelitian
telah dinyatakan reliable tanpa harus melalui proses rasionalisasi.

2.7 Sumber Data/ Bahan Hukum


Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, adalah data sekunder (secondary data) dan data
primer (primary data). Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari penelitian kepustakaan
dan dokumen, yang merupakan hasil penelitian dan pengolahan orang lain, yang sudah tersedia dalam
bentuk buku-buku atau dokumen yang biasanya disediakan di perpustakaan, atau milik pribadi.
Sedangkan yang dimaksud dengan data primer ialah data yang diperoleh langsung dari masyarakat.

2.8 Teknik Analisis Data


Data yang diperoleh baik dari studi kepustakaan maupun dari penelitian lapangan akan dianalisis secara
deskriptif kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif yaitu metode analisis data yang mengelompokkan dan
menyeleksi data yang diperoleh dari penelitian lapangan menurut kualitas dan kebenarannya, kemudian
dihubungkan dengan teori-teori, asas-asas, dan kaidah-kaidah okum yang diperoleh dari studi
kepustakaan sehingga diperoleh jawaban atas permasalahan yang dirumuskan.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam pembuatan suatu penelitian diperlukan pengidentifikasian masalah terlebih dahulu yaitu
pencarian dan pencatatan masalah kemudian setelah itu barulah diadakan pembatasan masalah yaitu
pemilihan masalah dari berbagai masalah yang ada agar pembahasan lebih focus dilakukan setelah
memperoleh batasan masalah barulah mulai perumusan masalah,masalah yang dirumuskan harus
jelas karena dengan perumusan yang jelas diharapkan dapat mengetahui variabel apa yang akan diukur
untuk mencapai tujuan penelitian. Sehingga hasil yang kita peroleh bisa membawa manfaat baik bagi
peneliti ataupun bagi masyarakat.
• Metode Penelitian
Metode yang akan dipergunakan
Tipe penelitian yang dilakukan
Metode populasi dan sampling
• Sumber Data/ Bahan Hukum
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, adalah data sekunder (secondary data) dan data
primer (primary data). Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari penelitian kepustakaan
dan dokumen, yang merupakan hasil penelitian dan pengolahan orang lain, yang sudah tersedia dalam
bentuk buku-buku atau dokumen yang biasanya disediakan di perpustakaan, atau milik pribadi.

Anda mungkin juga menyukai