Anda di halaman 1dari 9

PRESENTASI KASUS

Topik: Status Asmatikus


Tanggal (Kasus) : 31 Agustus 2016
Peserta : dr. Meiny Nastridha Pendamping : dr. Hendry Suryono
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi : Laki-laki, 51 tahun, Status Asmatikus
Tujuan : Diagnosis
BahanBahasan : Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas Diskusi Presentasi dan diskusi Email Pos
Data Nama : I Umur : 51 tahun Pekerjaan : Wiraswasta No. Reg:
Pasien : Alamat : Karang Raja, Prabumulih Timur Agama : Islam 1604617
Suku Bangsa : Indonesia
Nama RS: RS Pertamina Prabumulih
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis / GambaranKlinis: Status Asmatikus
2. Riwayat Pengobatan : Pasien sering menggunakan obat sesak (salbutamol) sebelumnya
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit : Riwayat asma sejak tahun 1997
4. Riwayat Keluarga : Di keluarga tidak ada yang mengalami gejala serupa.
5. Riwayat Pekerjaan : Wiraswasta
DaftarPustaka:
a. American Lung Association. 2012. Learning More About Asthma.
b. GINA committee. 2011. Global Initiative for Asthma : Global Strategy for Asthma
Management and Prevention.
c. National heart lung and blood institute. 2012. Asthma.
d. Solomon, William R. 2005. Asma Bronkial. Dalam: Price, Sylvia A. dan Lorraine M.
Wilson. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit ; 177-188. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Hasil Pembelajaran
1. Definisi asma
2. Faktor resiko asma

1
2

3. Patogenesis asma
4. Penegakan diagnosis asma
5. Tatalaksana asma
3

1. Subjektif

Autoanamnesis
Keluhan Utama : Sesak nafas
Riwayat Penyakit Sekarang:
Os datang dengan keluhan sesak sejak ± 1 minggu yang lalu. Sesak hilang timbul.
Sesak terutama saat malam dan pagi hari dan berkurang setelah os minum obat
salbutamol. Sesak dipengaruhi aktivitas (-), sesak dipengaruhi posisi (-). Sesak disertai
mengi (+). Demam (-), batuk (-), pilek (-), mual (-), muntah (-), BAK dan BAB tidak
adak kelainan.
Sejak ± 2 hari SMRS sesak semakin bertambah berat, sesak terus menerus. Sesak
disertai mengi (+). Sesak tidak mereda walaupun os sudah minum obat sesak
(salbutamol). Batuk (+) berdahak, pilek (-), demam (-), mual (-), muntah (-). BAK dan
BAB tidak ada kelainan. Os lalu berobat ke RS Pertamina Prabumulih. Os dinebulisasi
ventolin namun tidak ada perbaikan.

Riwayat Penyakit Dahulu


 Riwayat asma sebelumnya (+) sejak tahun 1997
 Riwayat hipertensi disangkal.
 Riwayat DM disangkal.
 Riwayat penyakit ginjal disangkal
 Riwayat penyakit jantung disangkal
 Riwayat alergi obat disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


 Riwayat keluhan yang sama disangkal
 Riwayat hipertensi disangkal.
 Riwayat DM disangkal.

2. Objektif
 Survei Primer
o Airway : Clear
o Breathing : RR 32x/menit, cepat dan dangkal
4

o Circulation : TD 130/ 80mmHg, nadi 92 x/menit.


o Disability :GCS (E4M6V5) = 15
o Exposure / Environment : T = 36,5 oC.

Status Generalis
Kesadaran umum :Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan darah : 130 / 80 mmHg
Nadi : 92 kali/ menit, isi dan tegangan cukup
Pernapasan : 32 kali/ menit
Suhu axilla : 36,5 C

Keadaan Spesifik:
Kepala : Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-), RC (+/+) ø 3mm/3mm,
sianosis (-)
Thorax :
Cor : BJ I-II (N), murmur (-), gallop (-)
Pulmo : Inspeksi : Statis dinamis simetris
Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi: Vesikuler (+) meningkat, Rhonki basah halus nyaring di
kedua lapang paru (+/+), Wheezing inspirasi dan
ekspirasi (+/+)
Abdomen
Inspeksi : Datar
Palpasi : Lemas, hepar dan lien tidak teraba
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 3” , edema pretibial (-)

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Darah Rutin:
5

- Hemoglobin : 14,3 gr/dl


- Hematokrit : 44,7 %
- Leukosit : 8.420 /mm3
- Trombosit : 335.000 /mm3
- MCV : 84
- MCH : 26,9
- MCHC : 32
- Hitung jenis sel :
Basofil : 0,4
Eosinofil : 5
Neutrofil Batang : 48
Limfosit : 40,1
Monosit : 6,5

3. Assessment
Diagnosis : Status Asmatikus

Definisi
Asma adalah suatu keadaan klinik yang ditandai terjadinya penyempitan bronkus berulang
namun reversibel, di antara episode penyempitan bronkus tersebut terdapat keadaan ventilasi
yang lebih normal.
Liu dkk (2007) mendefinisikan asma sebagai penyakit inflamasi paru kronis yang
menyebabkan penyempitan saluran nafas. Inflamasi kronis ini meningkatkan responsivitas
saluran nafas terhadap berbagai paparan faktor pencetus.
Status asmatikus adalah serangan asma akut yang sangat parah, berkepanjangan, dan
tidak merespon terapi biasa secara memadai. Kondisi ini bisa diikuti hipoksia, sianosis, dan
sinkop yang bisa berakhir fatal.

Faktor Risiko
a. Faktor Genetik
Suatu penelitian telah mengidentifikasi beberapa region kromosom yang berkaitan
dengan asma, misalnya lengan panjang kromosom 5q mengatur kadar serum IgE,
peningkatan kadar serum IgE cenderung mengakibatkan hiperresponsivitas jalan
6

nafas.
b. Jenis kelamin
Jenis kelamin pria merupakan faktor risiko asma pada anak. Prevalensi asma hampir
dua kali lebih banyak pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan, akan tetapi
semakin anak bertambah besar, kejadian asma antara anak laki-laki dan perempuan
hampir sama.
c. Riwayat atopi
Serangan asma akan terjadi dua kali lipat lebih banyak jika pasien pernah mengalami
hay fever, rinitis alergi, atau eksema.
d. Obesitas
Asma sering terjadi pada subjek obesitas dengan BMI > 30 dan penanganannya pun
lebih sulit.
e. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan seperti alergen, asap rokok, polusi udara, bahan iritan, pengaruh
cuaca, bahan tempat tidur juga dapat mencetuskan asma.

Patogenesis
Hal yang mendasari semua bentuk asma adalah respons bronkus berlebihan terhadap
berbagai rangsangan atau disebut juga hiperresponsivitas jalan nafas. Perubahan jaringan
pada asma terdiri dari spasme otot polos, edema mukosa, infiltrasi sel-sel radang yang
menetap dan hipersekresi mukus kental. Baik jalan nafas besar (>2 mm) maupun kecil (<2
mm) dapat terlibat pada berbagai tingkat. Hiperresponsivitas jalan nafas ini dibuktikan
dengan peningkatan sensitivitas bronkus terhadap zat bronkokonstriktif, seperti histamin
atau metakolin (suatu agonis kolinergik). Peradangan persisten di bronkus yang ditandai
adanya sel radang (terutama eosinofil, limfosit, dan sel mast) dan kerusakan sel epitel
bronkus merupakan gambaran tetap pada asma bronkialis.
7

Diagnosis

Batuk dan/ mengi


Anamnesis riwayat penyakit
Pemeriksaan fisik
Uji tuberkulin

Patut diduga asma Tidak jelas asma:


- episodik - timbul masa neonatus
- nokturnal/morning dip - gagal tumbuh
- musiman - infeksi kronik
- pasca aktivitas fisik - muntah/tersedak
- riwayat atopi penderita/keluarga - kelainan fokal paru
- kelainan sistem kardiovaskular

Jika memungkinkan, periksa peak


flow meter atau spirometer untuk Pertimbangkan pemeriksaan:
menilai: - foto Rontgen toraks & sinus
reversibilitas (> 15%) - uji faal paru
variabilitas (> 15%) - respons terhadap bronkodilator
hiperreaktivitas (>20%) - uji provokasi bronkus
- uji imunologis
- pemeriksaan motilitas silia
Berikan bronkodilator - pemeriksaan refluks GE

Diagnosis kerja: Asma


Tidak mendukung mendukung
diagnosis lain diagnosis lain
Tentukan derajat & pencetusnya
Bila asma sedang/berat: foto Rontgen
Diagnosis dan pengobatan
sesuai diagnosis kerja
Berikan obat antiasma:
tidak berhasil nilai ulang diagnosis
dan ketaatan berobat Pertimbangkan asma Bukan asma
sebagai penyakit penyerta
8

Tatalaksana

Nilai Derajat Serangan

Tata laksana awal:


* nebulisasi β-agonis 1- 2x, selang 20 menit
* nebulisasi kedua + antikolinergik
* jika serangan berat, nebulisasi β-agonis (+antikolinergik)

Serangan Ringan Serangan Sedang Serangan Berat


(nebulisasi 1x, respons baik) (nebulisasi 2-3x, respons (nebulisasi 3x, respons buruk)
-observasi 1-2 jam parsial) -sejak awal beri O2 saat/ di
 -jika efek bertahan, boleh -berikan oksigen luar nebulisasi
pulang -nilai kembali derajat -pasang jalur parenteral
-jika gejala timbul lagi serangan, jika sesuai dengan -nilai ulang gejala klinis, jika
perlakukan sebagai serangan serangan sedang, observasi sesuai dengan serangan
sedang di ruang rawat sehari berat, rawat di r. rawat inap
-berikan steroid oral -foto rontgen thorax

Boleh Pulang Ruang Rawat Sehari Ruang Rawat Inap


-Bekali dengan obat β-agonis -Oksigen diteruskan -Oksigen diteruskan
(hirupan/oral) -Berikan steroid oral -Atasi dehidrasi dan asidosis
-Jika sudah ada obat -Nebulisasi tiap 2 jam jika ada
pengendali, teruskan -Bila dalam 12 jam -steroid IV tiap 6 – 8 jam
-Jika infeksi virus sebagai perbaikan klinis stabil, boleh -Nebulisasi tiap 1 – 2 jam
pencetus, dapat diberi pulang, tetapi jika -Aminofilin IV awal,
steroid oral belum membaik, alih rawat lanjutkan rumatan
-Dalam 24-48 jam, kontrol ke R. Rawat Inap (dirujuk) -Jika membaik dlm 4 – 6 x
rawat jalan untuk evaluasi nebulisasi, interval jadi 4 – 6
jam
-Jika dalam 24 jam
perbaikan klinis stabil, boleh
Catatan: pulang
1. Jika menurut penilaian serangan berat, nebulisasi cukup 1x -Jika dengan steroid dan
langsung dengan β agonis + antikolinergik aminofilin parenteral tidak
2. Jika tidak tersedia, nebulisasi dapat diganti dengan adrenalin membaik, bahkan timbul
subkutan 0,01ml/kgBB/kali, maks 0,3ml/kali ancaman henti napas, alih
3. Untuk serangan sedang dan terutama berat, oksigen 2 – rawat ke R. Rawat Intensif
4L/menit diberikan sejak awal, termasuk pada saat nebulisasi
9

4. Plan

Diagnosis : Status Asmatikus


Tatalaksana
1. Non Farmakologi:
1. Edukasi  Menghindari faktor pencetus
2. EKG
3. Rontgen Thorax PA
2. Farmakologi:
1. IVFD Ringer Laktat + 2 ampul aminofilin gtt XX x/m (makro)
2. Nebulisasi Ventolin
3. Inj. Dexamethason 2 x 1 amp (iv)
4. Ambroxol syr 3x1 c (po)