Anda di halaman 1dari 24

Perlindungan pada Kelompok Rentan saat

Bencana pada Perempuan khususnya Perempuan


Hamil & Menyusui

OLEH

KELOMPOK 2

Agus Ruscianto

Asep Wira

Julaiha

Suneni

Oktavia Mimin Suminar

Sumiasih

Herman

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
CIREBON 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
dengan judul "Perlindungan pada Kelompok Rentan saat Bencana pada Perempuan
khususnya Perempuan Hamil & Menyusui" pada mata kuliah Keperawatan Bencana
pada waktu yang telah ditentukan.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan motivasi berbagai
pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada
rekan-rekan yang telah membantu.
Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan karena
keterbatasan kemampuan penulis. Untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik
yang bersifat konstruktif sehingga kami dapat menyempurnakan makalah ini.

Cirebon, 28 November 2017

Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berbagai bencana telah menimbulkan korban dalam jumlah yang besar.
Banyak korban yang selamat menderita sakit dan cacat. Rumah, tempat kerja,
ternak, dan peralatan menjadi rusak atau hancur. Korban juga mengalami dampak
psikologis akibat bencana, misalnya - ketakutan, kecemasan akut, perasaan mati
rasa secara emosional, dan kesedihan yang mendalam. Bagi sebagian orang,
dampak ini memudar dengan berjalannya waktu. Tapi untuk banyak orang lain,
bencana memberikan dampak psikologis jangka panjang, baik yang terlihat jelas
misalnya depresi , psikosomatis (keluhan fisik yang diakibatkan oleh masalah
psikis) ataupun yang tidak langsung : konflik, hingga perceraian.
Beberapa gejala gangguan psikologis merupakan respons langsung
terhadap kejadian traumatik dari bencana. Namun gejala-gejala yang lain juga
akan menyusul, ini adalah dampak tidak langsung dan bersifat jangka panjang
yang dapat mengancam berbagai golongan terutama kelompok yang rentan yaitu
anak-anak, remaja, wanita dan lansia.
Dalam banyak kasus, jika tidak ada intervensi yang dirancang dengan
baik, banyak korban bencana akan mengalami depresi parah, gangguan
kecemasan, gangguan stress pasca-trauma, dan gangguan emosi lainnya. Bahkan
lebih dari dampak fisik dari bencana, dampak psikologis dapat menyebabkan
penderitaan lebih panjang, mereka akan kehilangan semangat hidup, kemampuan
social dan merusak nilai-nilai luhur yang mereka miliki.
Menurut Departeman Hukum dan Hak Asasi Manusia, kelompok rentan
adalah semua orang yang menghadapi hambatan atau keterbatasan dalam
menikmati standar kehidupan yang layak bagi kemanusiaan dan berlaku umum
bagi suatu masyarakat yang berperadaban. Jadi kelompok rentan dapat
didefinisikan sebagai kelompok yang harus mendapatkan perlindungan dari
pemerintah karena kondisi sosial yang sedang mereka hadapi. Konteks kerentanan
merujuk kepada situasi rentan yang setiap saat dapat mempengaruhi atau
membawa perubahan besar dalam penghidupan masyarakat. Setiap orang yang
termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak memperoleh perlakuan dan
perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya. Kelompok masyarakat
yang rentan adalah orang lanjut usia, anak-anak, perempuan, dan penyandang
cacat. Dalam konteks ini, kita akan membicarakan lebih rinci mengenai perawatan
kelompok rentan pra, saat dan pasca terjadinya bencana dalam makalah kami yang
berjudul ‘Perawatan Pada Kelompok Rentan’.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan kelompok rentan?
1.2.2 Bagaimanakah mengidentifikasi masalah pada kelompok rentan?
1.2.3 Apa sajakah tindakan yang sesuai dengan kelompok rentan?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui yang dimaksud dengan kelompok rentan
1.3.2 Untuk mengetahui cara mengidentifikasi masalah pada kelompok rentan
1.3.3 Untuk mengetahui tindakan yang sesuai dengan kelompok rentan

1.4 Manfaat
Manfaat Penulisan makalah ini, untuk membantu para pembaca baik itu
masyarakat maupun tenaga kesehatan agar lebih memahami perawatan pada
kelompok rentan karena hal tersebut sangat penting dalam kehidupan sehari-
hari sebagai dan dalam mitigasi bencana
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kelompok Rentan


Menurut UU No 24/2007, pasal 55, ayat 2 Kelompok rentan dalam situasi
bencana adalah individu atau kelompok yang terdampak lebih berat diakibatkan
adanya kekurangan dan kelemahan yang dimilikinya yang pada saat bencana
terjadi menjadi beresiko lebih besar, meliputi: bayi, balita, dan anak-anak; ibu
yang sedang mengandung / menyusui; penyandang cacat (disabilitas); dan orang
lanjut usia
Pada dasarnya pengertian mengenai kelompok rentan tidak dijelaskan secara
rinci. Hanya saja dalam UU Nomor 39 Tahun 1999 pasal 5 ayat 3 dijelaskan
bahwa setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak
memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya.
Kelompok masyarakat yang rentan adalah orang lanjut usia, anak-anak, fakir
miskin, wanita hamil, dan penyandang cacat. Sedangkan menurut Human Rights
Reference yang dikutip oleh Iskandar Husein disebutkan bahwa yang tergolong ke
dalam
Kelompok Rentan adalah:
1) Refugees (pengungsi)
2) Internally Displaced Persons (IDPs) adalah orang-orang yang terlantar/
pengungsi
3) National Minorities (kelompok minoritas)
4) Migrant Workers (pekerja migrant)
5) Indigenous Peoples (orang pribumi/ penduduk asli dari tempat
pemukimannya)
6) Children (anak)
7) Women (Perempuan)

Menurut Departeman Hukum dan Hak Asasi Manusia, kelompok rentan


adalah semua orang yang menghadapi hambatan atau keterbatasan dalam
menikmati standar kehidupan yang layak bagi kemanusiaan dan berlaku umum
bagi suatu masyarakat yang berperadaban. Jadi kelompok rentan dapat
didefinisikan sebagai kelompok yang harus mendapatkan perlindungan dari
pemerintah karena kondisi sosial yang sedang mereka hadapi.
Kamus Besar Bahasa Indonesia merumuskan pengertian rentan sebagai : (1)
mudah terkena penyakit dan, (2) peka, mudah merasa. Kelompok yang lemah ini
lazimnya tidak sanggup menolong diri sendiri, sehingga memerlukan bantuan
orang lain. Selain itu, kelompok rentan juga diartikan sebagai kelompok yang
mudah dipengaruhi. Pengertian kedua merupakan konsekuensi logis dari
pengertian yang pertama, karena sebagai kelompok lemah sehingga mudah
dipengaruhi.

2.2 Identifikasi Kelompok Beresiko


Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
mengartikan bencana sebagai suatu peristiwa luar biasa yang mengganggu dan
mengancam kehidupan dan penghidupan yang dapat disebabkan oleh alam
ataupun manusia, ataupun keduanya. Untuk menurunkan dampak yang
ditimbulkan akibat bencana, dibutuhkan dukungan berbagai pihak termasuk
keterlibatan perawat yang merupakan petugas kesehatan yang jumlahnya
terbanyak di dunia dan salah satu petugas kesehatan yang berada di lini terdepan
saat bencana terjadi (Powers & Daily, 2010) Peran perawat dapat dimulai sejak
tahap mitigasi (pencegahan), tanggap darurat bencana dalam fase prehospital dan
hospital, hingga tahap recovery.
Terdapat individu atau kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat yang
lebih rentan terhadap efek lanjut dari kejadian bencana yang memerlukan
perhatian dan penanganan khusus untuk mencegah kondisi yang lebih buruk pasca
bencana. Kelompok-kelompok ini diantaranya: anak-anak, perempuan, terutama
ibu hamil dan menyusui, lansia, individu-individu yang menderita penyakit kronis
dan kecacatan. Identifikasi dan pemetaan kelompok beresiko melalui
pengumpulan informasi dan data demografi akan mempermudah perencanaan
tindakan kesiap-siagaan dalam menghadapi kejadian bencana di masyarakat
(Morrow, 1999; Powers & Daily, 2010; World Health Organization (WHO) &
International Council of Nursing (ICN), 2009).

2.2.1 Bayi dan Anak-anak


Bayi dan anak-anak sering menjadi korban dalam semua tipe bencana
karena ketidakmampuan mereka melarikan diri dari daerah bahaya. Ketika
Pakistan diguncang gempa Oktober 2005, sekitar 16.000 anak meninggal karena
gedung sekolah mereka runtuh. Tanah longsor yang erjadi di Leyte, Filipina,
beberapa tahun lalu mengubur lebih dari 200 anak sekolah yang tengah belajar di
dalam kelas (Indriyani 2014). Diperkirakan sekitar 70% dari semua kematian
akibat bencana adalah anak-anak baik itu pada bencana alam maupun bencana
yang disebabkan oleh manusia (Powers & Daily, 2010).
Selain menjadi korban, anak-anak juga rentan terpisah dari orang tua atau
wali mereka saat bencana terjadi. Diperkirakan sekitar 35.000 anak-anak
Indonesia kehilangan satu atau dua orang tua mereka saat kejadian tsunami 2004.
Terdapat juga laporan adanya perdagangan anak (Child-Trafficking) yang dialami
oleh anak-anak yang kehilangan orang tua/wali (Powers & Daily, 2010)
Pasca bencana, anak-anak berisiko mengalami masalah-masalah kesehatan
jangka pendek dan jangka panjang baik fisik dan psikologis karena malnutrisi,
penyakit-penyakit infeksi, kurangnya skill bertahan hidup dan komunikasi,
ketidakmampuan melindungi diri sendiri, kurangnya kekuatan fisik, imunitas dan
kemampuan koping. Kondisi tersebut dapat mengancam nyawa jika tidak
diidentifikasi dan ditangani dengan segera oleh petugas kesehatan (Powers &
Daily, 2010; Veenema, 2007).

2.2.2 Perempuan
Diskriminasi terhadap perempuan dalam kondisi bencana telah menjadi isu
vital yang memerlukan perhatian dan penanganan khusus. Oleh karena itu,
intervensi-intervensi kemanusiaan dalam penanganan bencana yang
memperhatikan standar internasional perlindungan hak asasi manusia perlu
direncanakan dalam semua stase penanganan bencana (Klynman, Kouppari, &
Mukhier, 2007).
Studi kasus bencana alam yang dilakukan di Bangladesh mendapati bahwa
pola kematian akibat bencana dipengaruhi oleh relasi gender yang ada, meski
tidak terlalu konsisten. Pola ini menempatkan perempuan, terlebih lagi yang
hamil, menyusui, dan lansia lebih berisiko karena keterbatasan mobilitas secara
fisik dalam situasi darurat (Enarson, 2000; Indriyani, 2014; Klynman et al, 2007).
Laporan PBB pada tahun 2001 yang berjudul "Women, Disaster Reduction,
and Sustainable Development" menyebutkan bahwa perempuan menerima
dampak bencana yang lebih berat. Dari 120 ribu orang yang meninggal karena
badai siklon di Bangladesh tahun 1991, korban dari kaum perempuan menempati
jumlah terbesar. Hal ini disebabkan karena norma kultural membatasi akses
mereka terhadap peringatan bahaya dan akses ke tempat perlindungan (Fatimah,
2009 dikutip dalam Indriyani, 2014).

2.3 Tindakan Yang Sesuai Untuk Kelompok Rentan


Untuk mengurangi dampak bencana pada individu dari kelompok-kelompok
rentan diatas, petugas-petugas yang terlibat dalam perencanaan dan penanganan
bencana perlu (Morrow, 1999 & Daily, 2010)
a. Mempersiapkan peralatan-peralatan kesehatan sesuai dengan kebutuhan
kelompok-keompok rentan tersebut, contohnya ventilisator untuk anak,
alat bantu untuk individu yang cacat, alat-alat bantuan persalinan, dll.
b. Melakukan pemetaan kelompok-kelompok rentan
c. Merencanakan intervensi-intervensi untuk mengatasi hambatan informasi
dan komunikasi
d. Menyediakan transportasi dan rumah penampungan yang dapat diakses
e. Menyediakan pusat bencana yang dapat diakses
Adapun tindakan-tindakan spesifik untuk kelompok rentan akan diuraikan pada
pembahasan berikut (Enarson, 2000; Federal Emergency Management Agency
(FEMA), 2010; Klynman et al., 2007; Powers & Daily, 2010; Veenema 2007):
2.3.1 Tindakan yang sesuai untuk kelompok berisiko pada bayi dan anak
Pra bencana
a. Mensosialisasikan dan melibatkan anak-anak dalam latihan
kesiagsiagaan bencana misalnya dalam simulasi bencana kebakaran
atau gempa bumi
b. Mempersiapkan fasilitas kesehatan yang khusus untuk bayi dan anak
pada saat bencana
c. Perlunya diadakan pelatihan-pelatihan penanganan bencana bagi
petugas kesehatan khusus untuk menangani kelompok-kelompok
berisiko
Saat bencana
a. Mengintegrasikan pertimbanan pediatric dalam sistem triase standar
yang digunakan saat bencana
b. Lakukan pertolongan kegawatdaruratan kepada bayi dan anak sesuai
dengan tingkat kegawatan dan kebutuhannya dengan
mempertimbangkan aspek tumbuh kembangnya, misalnya
menggunakan alat dan bahan khusus untuk anak dan tidak disamakan
dengan orang dewasa
c. Selama proses evakuasi, transportasi, sheltering dan dalam pemberian
pelayanan fasilitas kesehatan, hindari memisahkan anak dari orang tua,
keluarga atau wali mereka
Pasca bencana
a. Usahakan kegiatan rutin sehari-hari dapat dilakukan sesegera mungkin
contohnya waktu makan dan personal hygiene teratur, tidur, bermain
dan sekolah
b. Monitor status nutrisi anak dengan pengukuran antropometri
c. Dukung dan berikan semangat kepada orang tua
d. Dukung ibu-ibu menyusui dengan dukungan adekuat, cairan dan
emosional
e. Minta bantuan dari ahli kesehatan anak yang mungkin ada di lokasi
evakuasi sebagai voluntir untuk mencegah,
mengidentifikasi,mengurangi resiko kejadian depresi pada anak pasca
bencana.
f. Identifikasi anak yang kehilangan orang tua dan sediakan penjaga yang
terpercaya serta lingkunganyang aman untuk mereka
2.3.2 Tindakan yang sesuai untuk kelompok beriiko pada ibu hamil dan
menyusui
Dalam memberikan pelayanan keperawatan pada berbagai macam kondisi
kita harus cepat dan bertindak tepat di tempat bencana, petugas harus ingat
bahwa dalam merawat ibu hamil adalah sama halnya dengan menolong
janinnya sehingga meningkatkab kondisi fisik dan mental wanita hamil
dapat melindungi dua kehidupan, ibu hamil dan janinnya.
Perubahan fisiologis pada ibu hamil, seperti peningkatan sirkulasi darah,
peningkatan kebutuhan oksigen, dan lain-lain sehingga lebih rentan saat
bencana dan setelah bencana (Farida, Ida. 2013).
Menurut Ida Farida (2013) hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
penanggulangan ibu hamil
a. Meningkatkan kebutuhan oksigen
Penyebab kematian janin adalah kematian ibu. Tubuh ibu hamil yang
mengalami keadaan bahaya secara fisik berfungsi untuk membantu
menyelamatkan nyawanya sendiri daripada nyawa si janin dengan
mengurangi volume perdarahan pada uterus.
b. Persiapan melahirkan yang aman
Dalam situasi bencana, petugas harus mendapatkan informasi yang jelas
dan terpercaya dalam menentukan tempat melahirkan adalah
keamanannya. Hal yang perlu dipersiapkan adalah air bersih, alat-alat
yang bersih dan steril dan obat-obatan, yang perlu diperhatikan adalah
evakuasi ibu ke tempat perawatan selanjutnya yang lebih memadai.
Pra bencana
a. Melibatkan perempuan dalam penyusunan perencanaan penanganan
bencana
b. Mengidentifikasi ibu hamil dan ibu menyusui sebagai kelompok rentan
c. Membuat disaster plans dirumah yang disosialisasikan kepada seluruh
anggota keluarga
d. Melibatkan petugas-petugas kesehatan reproduktif dalam mitigasi
bencana
Saat bencana
a. Melakukan usaha/bantuan penyelamatan yang tidak meningkatkan
risiko kerentanan bumil dan busui, misalnya:
1) Meminimalkan guncangan pada saat melakukan mobilisasi dan
transportasi karena dapat merangsang kontraksi pada ibu hamil
2) Tidak memisahkan bayi dan ibunya saat proses evakuasi
b. Petugas bencana harus memiliki kapasitas untuk menolong korban
bumil dan busui
Pasca bencana
a. Dukung ibu-ibu menyusui dengan dukungan nutrisi adekuat, cairan
dan emosional
b. Melibatkan petugas-petugas kesehatan reproduktif di rumah
penampungan korban bencana untuk menyediakan jasa konseling dan
pemeriksaan kesehatan untuk ibu hamil dan menyusui.
c. Melibatkan petugaspetugas konseling untuk mencegah,
mengidentifikasi, mengurangi risiko kejadian depesi pasca bencana
1) Kebutuhan kesehatan
Kebutuhan kesehatan umum – seperti perlengkapan medis (obat-
obatan, perban, dll), tenaga medis, pos kesehatan dan perawatan
kejiwaan
2) Tempat ibadah sementara
3) Keamanan wilayah
4) Kebutuhan air
5) Kebutuhan sarana dan prasarana
Kebutuhan saranan dan prasarana yang mendesak – seperti air
bersih, MCK untuk umum, jalan ke lokasi bencana, alat
komunikasi dalam masyarakat dan pihak luar, penerangan/listrik,
sekolah sementara, alat angkut/transport, gudang penyimpanan
persediaan, tempat pemukiman sementara, pos kesehatan alat dan
bahan-bahan.
Keperawatan bagi pasien diabetes:
1) Mengkonfirmasi apakan pasien yang bersangkutan harus minum
obat untuk menurunkan kandungan gula darah (contoh: insulin, dll)
atau tidak, dan identifikasi obat apa yang dimiliki pasien tersebut.
2) Mengkonfirmasi apakah pasein memiliki penyakit luka fisik atau
infeksi, dan jika ada, perlu pengamatan dan perawatan pada gejala
infeksi (untuk mencegah komplikasi kedua dari penyakit diabetes)
3) Memahami situasi manajemen diri (self-management) melalui
kartu penyakit diabetes (catatan pribadi)
4) Memberikan instruksi tertentu mengenai konsumsi obat, makanan
yang tepat, dan memberikan pedoman mengenai manajemen
makanan
5) Mengatur olahraga dan relaksasi yang tepat
Keperawatan bagi pasien gangguan pernapasan kronis:
1) Konfirmasikan volume oksigen yang tepat dan mendukung untuk
pemakaian tabung oksigen untuk berjalan yang dimilikinya dengan
aman
2) Menghindari narcosis CO2 dengan menaikkan konsentrasi oksigen
karena takut peningkatan dysphemia
3) Mengatur pemasokan tabung oksigen (ventilator) dan transportasi
jika pasien tersebut tidak bisa membawa sendiri.
4) Membantu untuk manajemen obat dan olahraga yang tepat
5) Mencocokkan lingkungan yang tepat (contoh: suhu udara
panas/dingin, dan debu)
2.4 Sumber Daya yang Tersedia Dilingkungan untuk Kebutuhan Kelompok
Beresiko.

Untuk mengurangi dampak yang lebih berat akibat bencana terhadap kelompok –
kelompok beresiko saat bencana baik itu dampak jangka pendek maupun jangka
panjang, maka petugas kesehatan yang terlibat dalam penanganan encana perlu
mengidentifikasikan sumber daya apa saja yang tersedia di lngkungan yang dapat
digunakan saat bencana terjadi, diantaranya (Enarson, 2000; Federal Emergency
Management Agency (FEMA), 2010; Powers & Daily, 2010; Veenema, 2007 ) :

a. Terbentuknya desa siaga dan organisasi kemasyarakatan yang terus


mensosialisasikan kesiapsiagaan terhadap bencana terutama untuk area
yang rentan terhadap kejadian bencana.
b. Kesiapan rumah sakir atau fasilitas kesehatan menerima korban bencana
dari kelompok berisiko baik itu dari segi fasilitas maupun ketenagaan
seperti : beberapa jumlah incubator untuk bayi baru lahir, tempat tidur
untuk pasien anak, ventilator anak, fasilitas persalinan, fasilitas perawatan
pasien dengan penyakit kronis, dsb
c. Adanya symbol – symbol atau bahasa yang bisa dimengerti oleh individu-
individu dengan kecacatan tentang peringatan bencana, jalur evakuasi,
lokasi pengungsian dll.
d. Adanya system support berpa konseling dari ahli-ahli voluntir yang khusus
menangani kelompok beresiko untuk mencegah dan mengidentifikasi dini
kondisi depresi pasca bencana pada kelompok tersebut sehingga intervensi
yang sesuai dapat diberikan untuk merawat mereka.
e. Adanya agensi-agensi baik itu dari pemerintah maupun non pemerintah
(NGO) yang membantu korban bencana terutama kelompok-kelompok
beresiko seperti : agensi perlindungan anak dan perempuan, agency
pelacakan keluarga korban bencana ( tracking centre), dll.
Adanya website atau homepage bencana dan publikasi penelitian yang berisi
informasi – informasi tentang bagaimana perencanaan legawatdaruratan dan
bencana pada kelompok-kelompok dengan kebutuhan khusus dan beresiko.

2.5 Lingkungan yang Sesuai dengan Kebutuhan Kelompok Beresiko


Setelah kejadian bencana , adalah penting sesegera mungkin untuk menciptakan
lingkungan yang kondusif yang memungkinkan kelompok berisiko untuk
berfungsi secara mandiri sebagaimana sebelum kejadian bencana, diantaranya
(Enarson, 2000; Federal Emergency Management Agency (FEMA), 2010;
Indriyani, 2014; Klynman et al., 2007; Powers & Daily, 2010; Veenema, 2007) :

a. Menciptakan kondisi/ lingkungan yang memungkinkan ibu menyusui


untuk terus memberikan ASI kepada anaknya dengan cara memberikan
dukungan moril, menyediakan konsultasi laktasi dan pencegahan depresi.
b. Membantu anak kembali melakukan aktivitas-aktivitas regular
sebagaimana sebelum kejadian bencana seperti : penjagaan kebersihan
diri, belajar/ sekolah, dan bermain.
c. Melibatkan lansia dalam aktivitas-aktivitas social dan program lintas
generasi misalnya dengan remaja dan anak-anak untuk mengurangi resiko
isolasi social dan depresi.
d. Menyediakan informasi dan lingkungan yang kondusif untuk individu
dengan keterbatasan fisik, misalnya area evakuasi yang dapat diakses oleh
mereka.
e. Adanya fasilitas-fasilitas perawatan untuk korban bencana dengan
penyakit kronis dan infeksi.

A. DAMPAK BENCANA PADA IBU HAMIL DAN BAYI

Kejadian bencana akan berdampak terhadap stabilitas tatanan


masyarakat.Kelompok masyarakat rentan (vulnerability) harus mendapatkan prioritas.
Salah satu kelompok rentan dalam masyarakat yang harus mendapatkan prioritas
pada saat bencana adalah ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi.Penelitian di beberapa
negara yang pernah mengalamibencana, menunjukan adanya perubahan pada
kelompok ini selama kejadian bencana. Bencana bom World Trade Center (September,
2000) berdampak terhadap kejadian BBLR (berat bayi lahir rendah) pada ibu-ibu
melahirkan di New York.

Di bawah ini akan dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan dampak
bencana

pada ibu hamil, melahirkan dan bayi. Dampak bencana yang sering terjadi adalah
abortus dan lahirprematur disebabkan oleh ibu mudah mengalami stres, baik karena
perubahan hormon maupun karena tekanan lingkungan/stres di sekitarnya. Efek dari
stres ini diteliti dengan melakukan riset terhadap ibu hamildi antara korban gempa
bumi. Penelitian mengambil tempat di Cili selama tahun 2005, di saat gempa bumi
Tarapaca sedang mengguncang daerah tersebut. Penelitian sebelumnya telah
mengamati efek stres pada wanita hamil, namun yang berikut ini memfokuskan
pada dampak stres pada waktu kelahiran bayi serta dampaknya pada kelahiran bayi
perempuan atau laki-laki. Hasilnya, ibu hamil yang tinggal di area pusat gempa, dan
mengalami gempa bumi terburuk pada masa kehamilan dua dan tiga bulan, memiliki
risiko melahirkan prematur yang lebih besar dari kelompok lainnya. Pada ibu hamil
yang terekspos bencana alam di bulan ketiga kehamilan, peluang ini meningkat
hingga 3,4%. Tidak hanya itu, stres juga menjadi salah satu faktor yang
menyebabkan keguguran.

Selain itu, saat bencana ibu hamil bisa saja mengalami benturan dan luka
yang

mengakibatkan perdarahan atau pelepasan dini pada plasenta dan rupture uteri.
Keadaan ini dapat mengakibatkan gawat janin dan mengancam kehidupan ibu dan
janin. Itulah sebabnya ibu hamil dan melahirkan perlu diprioritaskan dalam
penanggulangan bencana alasannya karenadi situ ada dua kehidupan.

B. KEPERAWATAN BENCANA PADA IBU HAMIL DAN BAYI SAAT


BENCANA

Ibu hamil dan melahirkan perlu diprioritaskan dalam penanggulangan bencana


alasannya karena ada dua kehidupan dan adanya perubahan fisiologis. Perawat harus
ingat bahwa dalam merawat ibu hamil adalah sama halnya dengan menolong
janinnya. Sehingga, meningkatkan kondisi fisik dan mental wanita hamil dapat
melindungi dua kehidupan.

1. Pengkajian

Pengkajian kesehatan yang harus dilakukan pada ibu hamil dan bayi atau janin
saat terjadi bencana, meliputi:

a. Ibu Hamil

Ibu hamil harus dikajiberat badan, pembengkakan kaki, dan darah. Berat badan
diukur dengan timbangan badan. Hasil pengukuran saat ini dibandingkan dengan
pengukuran sebelumnya untuk mengkaji peningkatan berat badan yang dihubungkan
dengan ada atau tidak adanya oedema. Kalau tidak ada timbangan, mengamati
oedema harus selalu dicek dengan menekan daerah tibia. Ibu hamil yang mengalami
oedema juga sulit menggenggam tangannya, atau menapakkan kakinya ke dalam
sepatu karena adanya oedema di tangan, lutut dan telapak kaki harus diperiksa. Selain
itu, sindrom hipertensi karena kehamilan juga harus dikaji dengan persepsi perabaan
oleh petugas penyelamatan dengan melihat gejala- gejala yang dirasakan oleh ibu
hamil yaitu seperti sakit kepala dan nadi meningkat, apabila tensimeter tidak tersedia.
Anemia dapat dikaji dengan melihat warna pembuluh darah kapiler ibu hamil. Pada
kasus warna konjungtiva atau kuku pucat, dapat diperkirakan merupakan tanda
anemia.

Pengkajian pada ibu hamil harus juga mengkaji janin dalam kandungannya.
Kondisi kesehatan janin dikaji dengan mengukur gerakan dan denyut jantungnya.
Denyut jantung janin dideteksi dengan menggunakan Laennec, alat yang ditunjukkan
di bawah ini.

Gambar
6.1.
Laennec

Apabila Laennec tidak tersedia maka dapat digunakan kertas silinder


sebagai pengganti Laennec. Setelah mengetahui posisi punggung janin maka
denyut jantung janin dapat didengar dengan cara mendekatkan telinga
menggunakan Laennec pada perut ibu.

Gambar 6.2 Mengecek denyut jantung janin dengan


Laennec
Pertumbuhan janin juga perlu dikaji.Masa kehamilan dapat diperkirakan
melalui hari terakhir menstruasi. Jika hari terakhir menstruasi tidak diketahui maka
usia kehamilan dapat ditentukan melalui ukuran uterus, seperti terlihat pada gambar
dibawah ini.

Gambar 6.3 Pemeriksaan


tinggi uterus

Tinggi fundus uterus dapat diukur denganmenggunakan jari. Mengenali ukuran


jari membantu dalam mengukur tinggi uterus.Pertumbuhan uterus mengikuti masa
kehamilan dalam hitungan minggu seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 6.1. Pertumbuhan tinggi uterus pada masa kehamilan

Minggu ke-11 (bulan ke-3)


tidak terukur Minggu ke-27(
bulan ke-7) 21~24cm
Minggu ke-15 (bulan ke-4)
12cm Minggu ke-31( bulan ke-
8) 24~28cm Minggu ke-19
(bulan ke-5) 15cm Minggu
ke-35( bulan ke-9) 27~
31cm Minggu ke-23 (bulan ke-
6) 18~21cm Minggu ke-
39(bulan ke-10) 32~35cm

(pada pusar)(di bawah


tulang rusuk)

b. Bayi

Suhu tubuh pada bayi baru lahir belum stabil. Suhu tubuh bayi perlu dikaji
karena permukaan tubuh bayi lebih besar dari pada tubuh orang dewasa sehingga
suhu tubuhnya mudah turun.Pakaian bayi juga harus tertutup dan hangat agar
mengurangi perpindahan suhu yang ekstrim. Kebutuhan cairan juga perlu dikaji
dengan seksama karena bisa saja bayi terpisah dari ibunya sehingga menyusui ASI
terputus. Bayi yang kehilangan atau terpisah dari ibunya karena ibu sakit atau
meninggal bisa dicarikan donor ASI dengan syarat keluarga menyetujui pemberian ASI
donor, identitas donor ASI maupun bayi penerima tercatat, ibu susu dinyatakan sehat
oleh tenaga kesehatan serta ASI donor tidak diperjualbelikan

2. Masalah kesehatan yang bisa terjadi pada ibu hamil, janin dan bayi,
serta penanganannya.

a. Tekanan darah rendah

Wanita hamil dapat mengalami tekanan darah rendah karena tidur dengan posisi
supinasi dalam waktu lama (Gambar 6.4). Keadaan ini disebut Sindrom Hipotensi
Supinasi, karena vena cava inferior tertekan oleh uterus dan volume darah yang
kembali ke jantung menjadi menurun sehingga denyut jantung janin menjadi
menurun. Dalam hal ini, tekanan darah rendah dapat diperbaiki dengan mengubah
posisi tubuh ibu menghadap ke sebelah kiri sehingga vena cava superior dapat
bebas dari tekanan uterus. Ketika wanita hamil dipindahkan ke tempat lain, maka
posisi tubuhnya juga menghadap ke sebelah kiri

b. Janin kurang Oksigen

Penyebab kematian janin adalah kematian ibu. Tubuh ibu hamil yang
mengalami keadaan bahaya secara fisik berfungsi untuk membantu menyelamatkan
nyawanya sendiri daripada nyawa janin dengan mengurangi volume
perdarahan pada uterus. Untuk pemberian Oksigen secukupnya kepada janin
harus memperhatikan bahwa pemberian Oksigen ini tidak hanya cukup untuk tubuh
ibu tetapi juga cukup untuk janin.
c. Hipotermi

Suhu tubuh pada bayi baru lahir belum stabil,karena permukaan tubuh
bayi lebih besar dari pada tubuh orang dewasa sehingga suhu tubuhnya mudah
turun.Cairan amnion dan darah harus segera dilap supaya bayi tetap hangat.
Perhatikan suhu lingkungan dan pemakaian baju dan selimut bayi. Harus sering
mengganti pakaian bayi karena bayi cepat berkeringat. Persediaan air yang cukup
karena bayi mudah mengalami dehidrasi, perlu diberikan ASI sedini mungkin dan
selama bayi mau.

d. Menyusui
idak efektif

Ibu yang menyusui anaknya harus diberikan dukungan dan bantuan praktis
untuk meneruskan menyusui, mereka tidak boleh sembarangan diberikan bantuan
susu formula dan susu bubuk. Ibu yang tidak bisa menyusui, misalnya ibu yang
mengalami gangguan kesehatan karena bencana, seperti mengalami luka atau
perdarahanharus didukung untuk mencari ASI pengganti untuk bayinya. Jika ada
bayi yang berumur lebih dari 6 bulan tidak bisa disusui, bayi tersebut harus
diberikan susu formula dan perlengkapan untuk menyiapkan susu tersebut
dibawah pengawasan yang ketat dan kondisi kesehatan bayi harus tetap
dimonitor. Botol bayi sebaiknya tidak digunakan karena risiko terkontaminasi,
kesulitan untuk membersihkan botol, gunakan sendok atau cangkir untuk
memberikan susu kepada bayi.

C. KEPERAWATAN BENCANA PADA IBU HAMIL DAN BAYI SETELAH


BENCANA

Setelah masa bencana, ibu dan bayi menjalani kehidupan yang baru.
Pengalaman menghadapi bencana menjadi pelajaran untuk ibu untuk memperbaiki
hidupnya. Ibu yang masih dapat dipertahankan kehamilannya dipantau terus
kondisi ibu dan janinnya agar dapat melahirkan dengan selamat pada waktunya.
Bagi ibu yang sudah melahirkan, fungsi dan tugas ibu merawat bayi harus tetap
dijalankan, baik di tempat pengungsian atau pun di lingkungan keluarga terdekat.

Tujuan keperawatan bencana pada fase setelah bencana adalah untuk


membantu ibu menjalani tugas ibu seperti uraian dibawah ini.
1. Pemberian ASI (Air Susu Ibu)

Pemberian ASI eksklusif bagi bayi yang berusia 0-6 bulan dan tetap menyusui
hingga 2 tahun pada kondisi darurat.Pemberian susu formula hanya dapat diberikan
jika ibu bayi meninggal, tidak adanya ibu susuan atau donor ASI. Selain itu,
pemberian susu formula harus dengan indikasi khusus yang dikeluarkan dokter dan
tenaga kesehatan terampil. Seperti halnya obat, susu formula tidak bisa diberikan
sembarangan, harus diresepkan oleh dokter. Pendistribusian susu formula dalam
situasi bencana pun harus dengan persetujuan dinas kesehatan setempat. Bukan
berarti ketika terjadi bencana, kita bebas mendonasikan susu formula maupun susu
bubuk, UHT yang bisa menggantikan pemberian ASI hingga berusia 2 tahun.

2. Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) Berkualitas

Intervensi terbaik untuk menyelamatkan hidup bayi dan anak. ASI dan MPASI
berkualitas bukan hanya sebagai pemenuhan kebutuhan tubuh bayi dan anak, akan
tetapi merupakan “life saving” untuk keberlangsungan hidup jangka pendek maupun
jangka panjang. Tetaplah menyusui hingga 2 tahun. Adapun syarat MPASI
berkualitas adalah sebagai berikut:

a. MPASI disediakan berdasarkan bahan lokal dengan menggunakan peralatan


makan

yang higienis.

b. MPASI harus yang mudah dimakan, dicerna dan dengan penyiapan yang
higienis. c. Pemberian MPASI disesuaikan dengan umur dan kebutuhan gizi
bayi.

d. MPASI harus mengandung kalori dan mikronutrien yang cukup (energi,


protein, vitamin dan mineral yang cukup terutama Fe, vitamin A dan vitamin C).

e. MPASI pabrikan hanya alternatifdarurat. Penggunaannya setidaknya tidak lebih


dari 5 hari pasca bencana.

Gambar 6.7. Makanan Pendamping ASI

3. Makanan siap saji untuk Ibu menyusui pada 5 hari pertama pasca bencana
Dengan memberikan makanan yang baik bagi Ibu, sama artinya dengan
menjamin pemberian ASI kepada bayi dan anak. Ketersediaan ASI yang mencukupi
dan melimpah pada dasarnya tidak terpengaruh oleh makanan dan minuman secara
langsung, namun paparan makanan dan minuman yang menunjang akan
menentramkan ibu dalam menyusui dan menghilangkan kekhawatiran mereka.Hal
inilah yang mempengaruhi pemberian ASI pada kondisi bencana.

D. KEPERAWATAN BENCANA PADA IBU HAMIL DAN BAYI SEBELUM


BENCANA

Melihat dampak bencana yang dapat terjadi, ibu hamil dan bayi perlu dibekali
pengetahuan dan ketrampilan menghadapi bencana. Beberapa hal yang dapat
dilakukan antara lain:

1. Membekali ibu hamil pengetahuan mengenai umur kehamilan, gambaran


proses

kelahiran, ASI eksklusif dan MPASI

2. Melibatkan ibu hamil dalam kegiatan kesiapsiagaan bencana, misalnya dalam


simulasi bencana.

3. Menyiapkan tenaga kesehatan dan relawan yang trampil menangani


kegawat daruratan pada ibu hamil dan bayi melalui pelatihan atau workshop.

4. Menyiapkan stok obat khusus untuk ibu hamil dalam logistik bencana seperti
tablet Fe dan obat hormonal untuk menstimulasi produksi ASI.
BAB 3
PENUTUP

3.1 Simpulan
Kelompok rentan adalah semua orang yang menghadapi hambatan atau
keterbatasan dalam menikmati standar kehidupan yang layak bagi
kemanusiaan dan berlaku umum bagi suatu masyarakat yang berperadaban.
Jadi kelompok rentan dapat didefinisikan sebagai kelompok yang harus
mendapatkan perlindungan dari pemerintah karena kondisi sosial yang sedang
mereka hadapi. Kelompok masyarakat yang rentan adalah orang lanjut usia,
anak-anak, perempuan, dan penyandang cacat. Untuk mengurangi dampak
bencana pada individu dari kelompok-kelompok rentan diatas, petugas-
petugas yang terlibat dalam perencanaan dan penanganan bencana perlu
Mempersiapkan peralatan-peralatan kesehatan sesuai dengan kebutuhan
kelompok-keompok rentan tersebut, contohnya ventilisator untuk anak, alat
bantu untuk individu yang cacat, alat-alat bantuan persalinan, dll, melakukan
pemetaan kelompok-kelompok rentan, merencanakan intervensi-intervensi
untuk mengatasi hambatan informasi dan komunikasi, menyediakan
transportasi dan rumah penampungan yang dapat diakses, menyediakan pusat
bencana yang dapat diakses.

3.2 Saran
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyarankan kepada para
pembaca agar memahami secara mendalam materi yang telah dipaparkan
dalam makalah ini, karena dalam kehidupan sehari-hari hal tersebut sangat
bermanfaat untuk meningkatkan taraf hidup kelompok rentan.
Daftar Pustaka

Enarson, E. (2000). Infocus Programme on Crisis Response and Reconstruction


Working paper I : Gender and Natural Disaster. Geneva: Recovery and
Reconstruction Department.

Farida, Ida. 2013. Manajemen Penanggulangan Bencana Kegiatan Belajar I:


Keperawatan Bencana pada Ibu dan Bayi. Jakarta: Badan Pengembangan
dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia, Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Tenaga Kesehatan.
Farida, Ida. 2013. Manajemen Penanggulangan Bencana Kegiatan Belajar II:
Keperawatan Bencana pada Anak. Jakarta: Badan Pengembangan dan
Pemberdayaan Sumber Daya Manusia, Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Tenaga Kesehatan.
Farida, Ida. 2013. Manajemen Penanggulangan Bencana Kegiatan Belajar IV:
Keperawatan Bencana pada Penyakit Kronik. Jakarta: Badan Pengembangan
dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia, Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Tenaga Kesehatan.
Farida, Ida. 2013. Manajemen Penanggulangan Bencana Kegiatan Belajar V:
Keperawatan Bencana pada Penyandang Cacat. Jakarta: Badan
Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia, Pusat
Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan.
Indriyani, S. 2014. Bias Gender dalam Penanganan Bencana. Diakses di http:
Iskandar Husein, Perlindungan Terhadap Kelompok Rentan (Wanita, Anak,
Minoritas, Suku Terasing, dll) Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia,
Makalah Disajikan dalam Seminar Pembangunan Hukum Nasional ke VIII
Tahun 2003, Denpasar, Bali, 14 - 18 Juli 2003
Kamus Besar Bahasa lndonesia, edisi ketiga, 2001, hlm. 948.
Klynman, Y., Kouppari, N., & Mukhier, M., (Eds.). 2007. World Disaster Report
2007: Focus on Discrimination. Geneva, Switzerland: International
Federation of Red Cross and Red Crescent Societies.
Morrow, B. H. (1999). Identifying and mapping community vulnerability.
Disasters, 23(1), 1-18.
Powers, R., & Daily, E., (Eds.). 2010. International Disaster Nursing. Cambridge,
UK: The World Association for Disaster and Emergency Medicine &
Cambridge University Press.
Undang-Undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi
Manusia, hal. 21.
Veenema, T.G. 2007. Disaster Nursing and Emergency Preparedness for
Chemical, Biological, and Radiological Terorism and Other Hazards (2nd
ed.). New York, NY: Springer Publishing Company, LLC.
World Health Organization (WHO) & International Council of Nursing (ICN).
2009. ICN Framework of Disaster Nursing Competencies. Geneva,
Switzerland: ICN.