Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Pneumonia adalah proses inflamatori parenkim paru yang umumnya disebabkan
oleh agen infeksius. Pneumonia adalah penyakit infeksius yang sering menyebabkan
kematian di dunia. Penyakit ini seringkali menyerang laki-laki daripada perempuan.
Dengan pria menduduki peringkat ke empat dan wanita menduduki peringkat ke lima.
Dari banyaknya kasus gangguan pernafasan akibat infeksius diantaranya
pneumonia, maka seorang perawat dituntut untuk mampu mengenali tanda kegawatan
dan mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat untuk penderita pneumonia.

1.2 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah, kemudian selain dari itu tujuan lainnya untuk
mengembangkan pengetahuan tentang asuhan keperawatan dari Pneumonia.

1.3 Metode Penulisan


Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode deskriptif yang
memberikan penjelasan tentang materi ini dengan cara mengumpulkan data,
menganalisa dan menarik kesimpulan. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan
cara membaca dan memahami materi dari buku dan sumber lain yang berhubungan
dengan materi tersebut .

1.4 Sistematika penulisan


Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari Bab I pendahuluan yang terdiri dari
latar belakang, ujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II tinjauan teoritis yang terdiri dari Definisi, Etiologi, Patofisiologi, Manifestasi
Klinis, Komplikasi, Pemeriksaan Penunjang, dan Penatalaksanaan
Bab III tinjauan kasus yang terdiri dari pengkajian, analisa data, diagnosa
keperawatan, dan rencana keperawatan.
Bab IV penutup yang terjad dari kesimpulan dan saran.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
1. Definisi
Pneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru
yang umumnya disebabkan oleh agent infeksi.
Pneumonia dikelompokkan berdasarkan agen penyebabnya, yaitu:
1.Pneumonia bacterial, pneumonia yang disebabkan oleh streptococcus
pneumonia adalah pneumonia bacterial yang paling umum dan paling prevalen
selama musim dingin dan musim semi ketika infeksi traktus respiratorius atas
paling sering terjadi. Kondisi ini dapat terjadi sebagai bentuk bronchopneumonia
atau lobaris pada pasien segala kelompok usia dan dapat menyertai penyakit
pernafasan yang baru saja dialami.
2.Pneumonia atipikal, pneumonia yang berkaitan dengan mikoplasma, fungus,
klamidia, demam-Q, penyakit legionnaires, pneumocystis carinii, dan virus
termasuk ke dalam syndrome pneumonia atipikal.

2. Etiologi
Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti:
1. Bakteri: stapilokokus, streplokokus, aeruginosa, eneterobacter
2. Virus: virus influenza, adenovirus
3. Micoplasma pneumonia
4. Jamur: candida albicans
5. Aspirasi: lambung
3. Patofisiologi
Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Ada
beberapa mekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi.
Partikel infeksius difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh
mukus dan epitel bersilia di saluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai
paru-paru, partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan
juga dengan mekanisme imun sistemik, dan humoral. Bayi pada bulan-bulan
pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif
yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organisme-organisme infeksius
lainnya. Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak
mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital,
defisiensi imun didapat atau kongenital, atau kelainan neurologis yang
memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus
atau epitel saluran napas. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut,
partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan
anatomis dan fisiologis yang normal. Ini paling sering terjadi akibat virus pada
saluran napas bagian atas. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas
bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus.
Kemungkinan lain, kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme
pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran
napas bagian bawah. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan
normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari
satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. Kadang-kadang
pneumonia bakterialis dan virus ( contoh: varisella, campak, rubella, CMV, virus
Epstein-Barr, virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen
baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata.
Setelah mencapai parenkim paru, bakteri menyebabkan respons inflamasi akut
yang meliputi eksudasi cairan, deposit fibrin, dan infiltrasi leukosit
polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. Cairan eksudatif di
alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. Virus,
mikoplasma, dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat
mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial. Hal ini menyebabkan
lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas, seperti yang terjadi pada
bronkiolitis.

4. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari penderita pneumonia antara lain:
1.Secara khas diawali dengan awitan menggigil, demam yang timbul dengan
cepat (39,5 ºC sampai 40,5 ºC).
2.Nyeri dada yang ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk.
3.Takipnea (25 – 45 kali/menit) disertai dengan pernafasan mendengur,
pernafasan cuping hidung,
4.Nadi cepat dan bersambung
5.Bibir dan kuku sianosis
6.Sesak nafas

5. Komplikasi
1.Efusi pleura
2.Hipoksemia
3.Pneumonia kronik
4.Bronkaltasis
5.Atelektasis (pengembangan paru yang tidak sempurna/bagian paru-paru yang
diserang tidak mengandung udara dan kolaps).
6.Komplikasi sistemik (meningitis)

6. Pemeriksaan Penunjang
1.Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar, bronchial);
dapat juga menyatakan abses)
2.Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi
semua organisme yang ada.
3.Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme
khusus.
4.Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru, menetapkan luas berat
penyakit dan membantu diagnosis keadaan.
5.Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis
6.Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi
7.Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing
7. Penatalaksanaan
Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena
hal itu perlu waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya:
1.Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus.
2.Amantadine, rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus
3.Eritromisin, tetrasiklin, derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia
mikroplasma.
4.Menganjurkan untuk tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda
5.Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia.
6.Bila terjadi gagal nafas, diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup.
BAB III
TINJAUAN KASUS

1. Pengkajian
a. Anamnesa
1.Kaji identitas diri klien atau biodata klien meliputi Nama, umur, jenis
kelamin, status perkawinan, agama, suku, pendidikan, pekerjaan, alamat,
dan diagnosis medis.
2.Kaji iedentitas penanggung jawab klien meliputi Nama, umur,
pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien, dan alamat.
3.Kaji riwayat penyakit meliputi
a. Riwayat penyakit sebelumnya:
Kaji apakah klien pernah mengalami penyakit sebelumnya
yang memacu kepada penyakit pneumonia dan kapan
terjadinya.
b.Riwayat penyakit sekarang:
Kaji riwayat penyakit sekarang dengan mengembangkan
PQRST.
c.Riwayat kesehatan keluarga:
Apakah di dalam keluarga pernah mengalami penyakit yang
sama.
d.Pola ADL(Activity Day Living):
Kaji Pola pemenuhan nutrisi, Pola BAB dan BAK, pola
istirahat tidur, pola personal hygiene.
e.Riwayat psikososial:
Kaji tingkat kecemasan klien, ekspresi wajah klien dan
perilaku klien. Dan kaji hubungan social antara klien dengan
lingkungan sosialnya.
b.Data dasar penkajian pasien
1.Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.
2.Sirkulasi
Gejala : riwayat adanya
Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat

3.Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes
mellitus
Tanda : Distensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk,
penampilan Kakeksia (malnutrisi)
4.Neurosensori
Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)
Tanda : perusakan mental (bingung)
5. Nyeri/kenyamanan
Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia,
artralgia.
Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit
untuk membatasi gerakan)
6.Pernafasan
Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas),
dispnea.
Tanda :
a.sputum: merah muda, berkarat
b.perpusi: pekak datar area yang konsolidasi
c.premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan
konsolidasi
d. Bunyi nafas menurun
e.Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku
7.Keamanan
Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS, penggunaan
steroid, demam.
Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar
8.Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol
kronis
Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 – 8 hari
Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas
pemeliharaan rumah

2. Diagnosa keperawatan
1.Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea
bronchial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
2.Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa
oksigen darah.
3.Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan
ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun),
penyakit kronis, malnutrisi.
4.Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen.
5.Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, batuk menetap.
6.Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi.
7.Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan cairan berlebihan, penurunan masukan oral.

3. Perencanaan keperawatan
1.Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi
trachea bronchial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
Tujuan: Jalan nafas efektif dengan kriteria:
a.Batuk efektif
b.Nafas normal
c.Bunyi nafas bersih
d.Sianosis

Intervensi:
a.Kaji frekuensi/kedalaman pernafasan dan gerakan dada
b.Auskultasi area paru, catat area penurunan 1 kali ada aliran udara dan bunyi
nafas
c.Biarkan teknik batuk efektif
d.Penghisapan sesuai indikasi
e.Berikan cairan sedikitnya
f.Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi: mukolitik, eks.
Rasional:
a.Takipnea, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi
karena ketidaknyamanan.
b.Penurunan aliran darah terjadi pada area konsolidasi dengan cairan.
c.Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami untuk
mempertahankan jalan nafas paten.
d.Merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas suara mekanik pada faktor
yang tidak mampu melakukan karena batuk efektif atau penurunan tingkat
kesadaran.
e.Cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan secret
f.Alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret, analgetik
diberikan untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi
harus digunakan secara hati-hati, karena dapat menurunkan upaya
batuk/menekan pernafasan.

2.Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pembawa


oksigen darah,
Tujuan:
Gangguan pertukaran gas teratasi dengan:
a.Tidak Sianosis
b.Nafas normal
c.Tidak Sesak
d.Tidak Hipoksia
e.tidak gelisah
Intervensi:
a.Kaji frekuensi/kedalaman dan kemudahan bernafas
b.Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku. Catat adanya sianosis
perifer (kuku) atau sianosis sentral.
c.Kaji status mental.
d.Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk
efektif.
e.kolaborasi dalam pemberian terapi oksigen dengan benar misal dengan nasal
plong master, master venturi.
Rasional:
a.manifestasi distress pernafasan tergantung pada indikasi derajat keterlibatan
paru dan status kesehatan umum.
b.sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi respon tubuh terhadap
demam/menggigil namun sianosis pada daun telinga, membran mukosa dan kulit
sekitar mulut menunjukkan hipoksemia sistemik.
c.gelisah mudah terangsang, bingung dan somnolen dapat menunjukkan
hipoksia atau penurunan oksigen serebral.
d.tindakan ini meningkat inspirasi maksimal, meningkat pengeluaran secret
untuk memperbaiki ventilasi tak efektif.
e.mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg. O2 diberikan dengan metode yang
memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pe.

3.Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan


ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan
imun), penyakit kronis, malnutrisi.
Tujuan:
Infeksi tidak terjadi dengan kriteria:
a)waktu perbaikan infeksi/kesembuhan cepat tanpa
b)penularan penyakit ke orang lain tidak ada
Intervensi:
a.Pantau tanda vital dengan ketat khususnya selama awal terapi
b.Tunjukkan teknik mencuci tangan yang baik
c.Batasi pengunjung sesuai indikasi.
d.Potong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang. Tingkatkan
masukan nutrisi adekuat.
e.Kolaborasi dalam pemberian antimikrobial sesuai indikasi dengan hasil kultur
sputum/darah misal penicillin, eritromisin, tetrasiklin, amikalin, sepalosporin,
amantadin.
Rasional:
a.selama awal periode ini, potensial untuk fatal dapat terjadi.
b.efektif berarti menurun penyebaran/perubahan infeksi.
c.menurunkan penularan terhadap patogen infeksi lain
d.memudahkan proses penyembuhan dan meningkatkan tekanan alamiah
e.Obat digunakan untuk membunuh kebanyakan microbial pulmonia.
4.Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen
Tujuan:
Intoleransi aktivitas teratasi dengan:
a) Nafas normal
b)tidakSianosis
c) Irama jantung normal
Intervensi:
a.Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas
b.Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai
indikasi.
c.Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur.
d.Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan
Rasional:
a.merupakan kemampuan, kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan interan.
b.menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.
c.pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi.
d.meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan
oksigen.
5.Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim varul, batuk menetap
Tujuan: Nyeri dapat teratasi dengan:
a)Nyeri dada (-)
b)Sakit kepala (-)
c)Gelisah (-)
Intervensi:
a.Tentukan karakteristik nyeri, misal kejan, konstan ditusuk.
b.Pantau tanda vital
c.Berikan tindakan nyaman pijatan punggung, perubahan posisi, musik tenang /
berbincangan.
d.Aturkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk.
e.Kolaborasi dalam pemberian analgesik dan antitusik sesuai indikasi
Rasional:
a.nyeri dada biasanya ada dalam seberapa derajat pada pneumonia, juga dapat
timbul karena pneumonia seperti perikarditis dan endokarditis.
b.Perubahan FC jantung/TD menu bawa Pc mengalami nyeri, khusus bila alasan
lain tanda perubahan tanda vital telah terlihat.
c.tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat
menghilangkan
ketidaknyamanan dan memperbesar efek derajat analgesik.
d.alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkat
keefektifan upaya batuk.
e.obat dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif atau menurunkan
mukosa berlebihan meningkat kenyamanan istirahat umum.

6.Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder
terhadap demam dan proses inflamasi
Tujuan:
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat diatasi dengan:
a)Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan
b)Pasien mempertahankan meningkat BB
Intervensi:
a.identifikasi faktor yang menimbulkan mual/muntah, misalnya: sputum, banyak
nyeri.
b.Jadwalkan atau pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan
c.Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggang)
makanan yang menarik oleh pasien.
d.Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar.
Rasional:

a.pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah

b.menurun efek manual yang berhubungan dengan penyakit ini


c.tindakan ini dapat meningkat masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat
untuk kembali.
d.adanya kondisi kronis keterbatasan ruangan dapat menimbulkan malnutrisi,
rendahnya tahanan terhadap inflamasi/lambatnya respon terhadap terapi.

7.Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan


dengan kehilangan cairan berlebihan, demam, berkeringat banyak,
nafas mulut, penurunan masukan oral.
Tujuan: Kekurangan volume cairan tidak terjadi dengan kriteria: Pasien
menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang
tepat misalnya membran mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil.
Intervensi:
a.Kaji perubahan tanda vital contoh peningkatan suhu demam memanjang,
takikardia.
b.Kaji turgor kulit, kelembapan membran mukosa (bibir, lidah)
c.Catat laporan mual/muntah
d.Pantau masukan dan keluaran catat warna, karakter urine. Hitung
keseimbangan cairan. Ukur berat badan sesuai indikasi.
e.Tekankan cairan sedikit 2400 mL/hari atau sesuai kondisi individual
f.Kolaborasi dalam pemberian obat indikasi misalnya antipiretik, antimitik.
g.Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan
Rasional:
a.peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkat laju metabolik dan
kehilangan cairan untuk evaporasi.
b.indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membran mukosa
mulut mungkin kering karena nafas mulut dan O2 tambahan.
c.adanya gejala ini menurunkan masukan oral
d.memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan keseluruhan
penggantian.
e.pemenuhan kebutuhan dasar cairan menurunkan resiko dehidrasi.
f.berguna menurunkan kehilangan cairan
g.pada adanya penurunan masukan banyak kehilangan
penggunaan dapat memperbaiki/mencegah kekurangan
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pneumonia adalah penyakit infeksius pada saluran pernafasan terutama pada
parenkim paru. Penyakit ini sering disebabkan oleh streptococcus pneumonia. Di dunia
penyakit ini menduduki peringkat ke empat sebagai kategori penyakit yang dapat
menyebabkan kematian.
Tepatnya penanganan dan pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan
pneumonia sangat menentukan untuk kelangsungan hidup klien mengingat masalah
yang komplit yang dapat menimbulkan kematian.

4.2 Saran
Saran dari penulis, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca
khususnya ahli kesehatan sehingga pada akhirnya pengobatan pada klien dengan
penyakit pneumonia ini bisa lebih baik lagi dan perawat juga harus memiliki
keterampilan dan pengetahuan konsep dasar perjalanan penyakit pneumonia yang baik
agar dapat menentukan diagnosa yang tepat bagi klien yang mengalami pneumonia.
Selain itu, kepada pembaca juga mudah-mudahan dengan makalah ini bisa
menambah pengetahuan tentang penyakit pneumonia ini sehingga kita dapat terhindar
dari penyakit ini.