Anda di halaman 1dari 11

TUGAS

HUKUM HAK ASASI MANUSIA

PERLINDUNGAN HAM TERHADAP TKI

DISUSUN OLEH:
SINTYA FARIDAH 2015174201056
ANA MAULINA 2015174201048
GEDE BHAGAWINTARA BUANA 2015174201008
DEDY SUPARMAN 2015174201024
AKHMAD KHALIL 2015174201021
FATIMAH ADHIYANTINI 2015174201066
LALU IWAN MASTURIANI 2015174201076
RIAN PURNAMA 2015174201031
KADEK RINA DWI ASTUTI 2015174201023
DWI MAULANA KURNIA 2015174201041
IDA B. NYOMAN WERDINATA 2015174201062
K. G. PUJA ARTANA 2015174201073
TAUFAN AJI SABDA ALAM 2015174201053
GUSWAN MULYA PUTRA 2016174201103
I GUSTI MADE DWI YULIARTHA 2015174201080
JULIADI WIREBASMIN 2016274201080
I K. AGUS WIDIARTA 2016274201035

FAKULTAS ILMU HUKUM

UNIVERSITAS 45 MATARAM
PERLINDUNGAN HAM TERHADAP TKI

PERLINDUNGAN HAM TERHADAP TKI

Banyaknya TKI yang mencari penghidupan di luar negeri rupanya juga menjadikan

para TKI tersebut sering mengalami perbuatan hukum, mulai dari yang melakukan

pelanggaran hukum, tuduhan pelanggaran hukum, sampai kepada yang hak-hak hukumnya

dilanggar oleh majikannya di luar negeri. Permasalahan hukum yang dihadapi TKI di luar

negeri dilatari oleh berbagai macam faktor, namun secara umum faktor itu disebabkan oleh

dua latar belakang, yang pertama faktor permasalahan yang dibawa dari dalam negeri

(Indonesia), dan yang kedua faktor yang muncul setelah bekerja di luar negeri. Faktor yang

pertama bisa berupa dokumen keimigrasian dan syarat-syarat jadi TKI yang tidak dilengkapi

sewaktu mau berangkat jadi TKI, dan Faktor yang kedua merupakan permasalahan hukum

antara TKI dengan majikannya atau antara TKI dengan penduduk di negara tempat ia bekerja,

misalnya penganiayaan oleh majikan, hak-hak TKI yang dilanggar, maupun perbuatan pidana

yang dilakukan oleh TKI itu sendiri di negera tempatnya bekerja.

Selama berada di luar negeri, bahkan ketika masih berada di dalam penampungan

menunggu keberangkatan ke luar negeri, ada kalanya sebagian dari TKI menghadapi masalah

yang merugikan TKI tersebut. Permasalahan TKI yang bersumber di dalam negeri

sangatterkait dengan pelaksanaan regulasi, mulai soal rekrutmen TKI di bawah umur,

dokumen diri palsu, pendidikan yang rendah dan hal teknis lainnya.

Kekacauan pengiriman TKI merupakan kesalahan banyak pihak, sebagian oknum

aparat Pemerintah RI yang mempraktikkan KKN di bidang pengiriman TKI, sebagian oknum

PJTKI yang kurang bertanggung jawab atas kesejahteraan dan keselamatan TKI dan lebih

mementingkan keuntungan. Di lain pihak, oknum-oknum di Malaysia ada yang melindungi


dalam perekrutan TKI ilegal. Alasannya, gaji TKI ilegal lebih murah, mudah ditakut-takuti

dan diperas. Bila ada TKI yang tidak tunduk, akan dilaporkan kepada polisi negara setempat.

Berdasarkan analisis penulis dari berbagai berita yang dimuat di media massa, ada

dua negara dimana TKI sering mengalami permasalahan hukum yaitu di Saudi Arabia dan di

Malaysia. Permasalahan hukum yang dihadapi oleh para TKI tersebut mulai dari

permasalahan dokumen keimigrasian (TKI ilegal), hak-hak TKI yang dilanggar oleh majikan

sampai kepada tuduhan perbuatan pidana terhadap TKI. Sudah banyak TKI yang dituntut ke

sidang pengadilan oleh pihak yang berwajib di negara TKI tersebut bekerja bahkan tidak

jarang ada yang sampai dituntut dengan hukuman pancung.

Kesewenang-wenangan dari majikan juga sering dialami oleh para TKI seperti

penganiayaan, pemerkosaan bahkan sampai kepada pembunuhan. Aparat negara tempat TKI

bekerja juga sering berbuat sewenang-wenang terhadap para TKI, baru-baru ini kita dengar

adanya tiga orang TKI yang ditembak mati oleh aparat Kepolisan Diraja Malaysia tanpa ada

proses hukum terlebih dahulu ke sidang pengadilan, bahkan ironisnya diduga telah terjadi

pengambilan beberapa bahagian organ tubuh dari korban penembakan tersebut. hal-hal

seperti inilah sedikit contoh kasus yang dialami oleh para TKI di Luar Negeri.

Pemerintah Negara Indonesia sebagai penyelenggara pemerintahan sesungguhnya

memilki kewajiban untuk melindungi warga negaranya sebagaimana diamanhkan oleh UUD

1945 dan Peraturan Perundang-Undangan dibawahnya. Berikut ini akan di uraikan

bagaimana ketentuan perlindungan hukum dari negara terhadap TKI yang bekerja di luar

negeri.

Mengesampingkan berbagai kasus mengenai penganiayaan atas TKI yang sudah terjadi.
Di Indonesia telah disusun dalam bentuk undang-undang yang memuat regulasi penempatan
TKI. Sudah terdapat ketentuan yang jelas, meskipun fakta dilapangan masih terdapat
berbagai pelanggaran. Adapun dilakukannya penempatan TKI keluar negeri merupakan
upaya dalam menanggulangi minimnya lapangan kerja di Indonesia. Tujuan dari program
tersebut adalah :

1. Upaya penanggulangan masalah pengangguran.


2. Melakukan pembinaan, perlindungan dan memberikan berbagai kemudahan kepada
TKI dan Perusahaan Jasa Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI).
3. Peningkatan kesejahteraan keluarganya melalui gaji yang diterima atau remitansi.
4. Meningkatkan keterampilan TKI karena mempunyai pengalaman kerja di luar negeri.
5. Bagi Negara, manfaat yang diterima adalah berupa peningkatan penerimaan devisa,
karena para TKI yang bekerja tentu memperoleh imbalan dalam bentuk valuta asing.

Namun dibalik tujuan dan manfaat yang didapatkan penempatan TKI ke luar negeri juga
mempunyai efek negatif. Dengan adanya kasus kekerasan fisik/psikis yang menimpa TKI
baik sebelum, selama bekerja, maupun pada saat pulang ke daerah asal. Munculnya
kepermukaan banyak masalah TKI yang bekerja di luar negeri semakin menambah beban
persoalan ketenagakerjaan di Indonesia. Ketidakadilan dalam perlakuan pengiriman tenaga
kerja oleh Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PPJTKI), penempatan yang
tidak sesuai standar gaji yang rendah karena tidak sesuai kontrak kerja yang disepakati,
kekerasan oleh pengguna tenaga kerja, pelecehan seksual, tenaga kerja yang illegal (illegal
worker).

Ada beberapa penyebab terjadinya ketidakamanan yang diderita oleh para TKI, khususnya
para Pembantu Rumah Tangga (PRT), yaitu:

 Tingkat pendidikan TKI di luar negeri untuk sektor PRT yang rendah

Kondisi ini kurang memberikan daya tawar (bargaining position) yang tinggi terhadap
majikan di luar negeri yang akan mempekerjakannya. Keterbatasan pengetahuan tersebut
meliputi tata kerja dan budaya masyarakat setempat.

Tingkat pendidikan juga berpengaruh terhadap penguasaan bahasa, akses informasi teknologi
dan budaya tempat TKI bekerja. Sebagai TKI, bukan hanya bermodal skill atau keahlian
teknis semata tetapi juga pemahaman terhadap budaya masyarakat tempat mereka bekerja.
Karena kualitas tenaga kerja dan pendidikan selalu memiliki keterkaitan. Sinergisme tersebut
bagi TKI, khususnya yang bekerja di luar negeri masih kurang. Hal ini terbukti dari hasil
survey yang dilakukan oleh The Political and Economic Risk Consultancy yang
memosisikan kualitas pendidikan Indonesia berada pada peringkat ke-12 setelah Vietnam
dengan skor 6.56.

 Perilaku pengguna tenaga kerja yang kurang menghargai dan menghormati hak-hak
pekerjanya

Karakter keluarga atau majikan yang keras acapkali menjadi sebab terjadinya kasus
kekerasan. Hal ini terjadi karena perbedaan budaya, ritme atau suasana kerja yang ada di
negara tempat TKI bekerja. Posisi TKI yang sangat lemah, tidak memiliki keahlian yang
memadai, sehingga mereka hanya bekerja dan dibayar.

 Regulasi atau peraturan pemerintah yang kurang berpihak pada TKI di luar negeri,
khususnya sektor PRT

Hukum yang berlaku di daerah tujuan penenmpatan TKI yang kurang memberikan
perlindungan. Hal ini sudah jelas terlihat dengan maraknya kasus penganiayaan yang terjadi
terutama pada PRT. Ketika terjadi masalah para TKI harus mengadu dulu pada duta besar
negara Indonesia atau ketika sudah disorot oleh media baru ada respon untuk melindungi hak
mereka.

Hal yang selama ini dipertanyakan mengenai perjanjian tertulis antara Indonesia dengan
negara tujuan karena banyaknya kasus penganiayaan yang masih terjadi. Hal tersebut ternyata
telah diatur dalam Pasal 27 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 mengatur tentang
penempatan TKI di luar negeri hanya dapat dilakukan ke negara tujuan yang pemerintahnya
telah membuat perjanjian tertulis dengan Pemerintah Republik Indonesia atau ke negara
tujuan yang mempunyai peraturan perundang-undangan yang melindungi tenaga kerja asing..

Padahal di dalam pasal 80 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 dinyatakan bahwa


Perlindungan selama masa penempatan TKI di luar negeri dilaksanakan antara lain:

 Pemberian bantuan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di


negara tujuan serta hukum dan kebiasaan internasional;
 Pembelaan atas pemenuhan hak-hak sesuai dengan perjanjian kerja dan/atau peraturan
perundang-undangan di negara TKI ditempatkan.
Mengenai hak-hak para buruh migran Pasal 8 Undang-undang nomor 39 tahun 2004
menyatakan bahwa setiap calon TKW/TKI mempunyai hak dan kesempatan yang sama
untuk:

1. bekerja di luar negeri;


2. memperoleh informasi yang benar mengenai pasar kerja luar negeri dan prosedur
penempatan TKI di luar negeri;
3. memperoleh pelayanan dan perlakuan yang sama dalam penempatan di luar negeri;
4. memperoleh kebebasan menganut agama dan keyakinannya serta kesempatan untuk
menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan yang dianutnya;
5. memperoleh upah sesuai dengan standar upah yang berlaku di negara tujuan;
6. memperoleh hak, kesempatan, dan perlakuan yang sama yang diperoleh tenaga kerja
asing lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan di negara tujuan;
7. memperoleh jaminan perlindungan hukum sesuai dengan peraturan perundang-
undangan atas tindakan yang dapat merendahkan harkat dan martabatnya serta
pelanggaran atas hak-hak yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan selama penempatan di luar negeri;
8. memperoleh jaminan perlindungan keselamatan dan keamanan kepulangan TKI ke
tempat asal;

Untuk lebih memperketat pengawasan pemerintah maka ada beberapa larangan yang
tercantum dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004, yaitu:

1. Orang perseorangan dilarang menempatkan warga negara Indonesia untuk bekerja di


luar negeri. (Penjelasan Pasal 4)
2. Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang mengalihkan atau memindahtangankan
SIPPTKI kepada pihak lain. (penjelasan Pasal 19)
3. Setiap orang dilarang menempatkan calon TKI/TKI pada jabatan dan tempat
pekerjaan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan norma kesusilaan
serta peraturan perundang-undangan, baik di Indonesia maupun di negara tujuan atau
di negara tujuan yang telah dinyatakan tertutup sebagaimana dimaksud dalam Pasal
27. (Pasal 30)
4. Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang mengalihkan atau memindahtangankan
SIP kepada pihak lain untuk melakukan perekrutan calon TKI. (Pasal 33)
5. Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang menempatkan calon TKI yang tidak lulus
dalam uji kompetensi kerja. (Pasal 45)
6. Calon TKI yang sedang mengikuti pendidikan dan pelatihan dilarang untuk
dipekerjakan. (pasal 46)
7. Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang menempatkan calon TKI yang tidak
memenuhi syarat kesehatan dan psikologi. (Pasal 50)
8. Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang menempatkan calon TKI yang tidak
memiliki KTKLN. (Pasal 64)
9. Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang menempatkan TKI yang tidak sesuai
dengan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan perjanjian kerja yang
disepakati dan ditandatangani TKI yang bersangkutan. (Pasal 72)
10. Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang menempatkan TKI yang tidak sesuai
dengan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan perjanjian kerja yang
disepakati dan ditandatangani TKI yang bersangkutan. (Penjelasan Pasal 72)

Selain itu ada beberapa ketentuan pidana terhadap pelanggaran Undang-Undang Nomor 39
Tahun 2004, yaitu:

Pasal 102

(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10
(sepuluh) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah), setiap orang yang:

 menempatkan warga negara Indonesia untuk bekerja di luar negeri (Pasal 4)


 menempatkan TKI tanpa izin (Pasal 12)
 menempatkan calon TKI pada jabatan atau tempat pekerjaan yang bertentangan
dengan nilai-nilai kemanusiaan dan norma kesusilaan (Pasal 30)

(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindak pidana kejahatan.

Pasal 103

(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima)
tahun dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling
banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah), setiap orang yang:

 mengalihkan atau memindahtangankan SIPPTKI (Pasal 19)


 mengalihkan atau memindahtangankan SIP kepada pihak lain (Pasal 33)
 melakukan perekrutan calon TKI yang tidak memenuhi persyaratan (Pasal 35)
 menempatkan TKI yang tidak lulus dalam uji kompetensi kerja (Pasal 45)
 menempatkan TKI yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan, psikologi (Pasal 50)
 menempatkan calon TKW/TKI yang tidak memiliki dokumen (Pasal 51)
 menempatkan TKI di luar negeri tanpa perlindungan program asuransi (Pasal 68)
 memperlakukan calon TKI secara tidak wajar dan tidak manusiawi selama masa di
penampungan (Pasal 70 ayat (3)

(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindak pidana kejahatan.

Pasal 104

(1) Dipidana dengan pidana kurungan paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 1 (satu)
tahun dan/atau denda paling sedikit Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah), setiap orang yang:

 menempatkan TKI tidak melalui Mitra Usaha (Pasal 24)


 menempatkan TKI di luar negeri untuk kepentingan perusahaan sendiri tanpa izin
tertulis dari Menteri (Pasal 26 ayat (1))
 mempekerjakan calon TKI yang sedang mengikuti pendidikan, pelatihan (Pasal 46)
 menempatkan TKI di luar negeri yang tidak memiliki KTKLN (Pasal 64)
 tidak memberangkatkan TKI ke luar negeri yang telah memenuhi persyaratan
kelengkapan dokumen (Pasal 67)

(2) Tindak pidana pada ayat (1) merupakan tindak pidana pelanggaran.

Namun dibalik semua regulasi yang ada, meski sudah diberikan sarana hukum tetapi
tetapdalam penegakannya tidak berjalan sebagimana mestinya. Sesuai Teori Laurent
Friedman, bahwa hukum tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya karena :

1. Persoalan Substansi, aturan yang belum jelas.


2. Struktur, aturan sudah baik tetapi penegakannya tidak karena masalah pada aparat
hukumnya.
3. Kultur, budaya dari masyarakat yang tidak sama, tidak hanya dari salah satu pihak.
Akhir-akhir ini maraknya kasus yang bermunculan yang menimbulkan gejolak hingga ke
Istana Negara. Dari segi formal dan persoalan di negara tempat TKI tinggal, adalah tugas
hukum kedutaan dan Kementrian Tenaga Kerja Dan Perempuan. Tetapi kenapa tidak terlihat
sama sekali pergerakannya dalam mengani masalah ini. Harusnya mereka memberikan
advokasi terdahap para TKI. Tidak terekspose sama sekali peran kedutaan dan Kementerian
Tenaga Kerja dan Perempuan menangani masalah tersebut. Hinga Pak Presiden usul memberi
telepon genggam/seluler atau yang sering disebut Handphone (HP) ke setiap TKI yang
berangkat, dengan tujuan agar mereka dapat cepat melapor apabila sesuatu tidak dikehendaki
terjadi pada diri mereka. Apakah tidak dipikirkan apabila HP itu disita oleh majikan. Bahkan
ada anekdot yang menyatakan “mari kita berdoa agar majikan dari TKI tidak terbawa emosi
kemarahan yang mendalam dengan merampas HP itu dan melemparnya kembali ke kepala
TKI.” Selain solusi dari orang nomor satu di Indonesia tersebut terdapat solusi-solusi lain,
yang diantaranya :

1. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengatakan bahwa TKI yang akan berangkat
harus benar-benar memiliki ketahanan yang baik. Kalau tidak, maka jangan
berangkat. (Go Show di RCTI, 20 Nov 2010).
2. Ketua DPR RI mematok syarat supaya TKI tersebut dibekali Surat-surat Legalitas dan
Surat-surat sertifikasi keahlian mereka. (Go Show di RCTI, 20 Nov 2010). Bisa
disurvey, berapa jumlah TKI teraniyaya yang lulusan S1.

Dengan permasalahan yang dihadapi saat ini apakah solusi tersebut bisa menjawabnya.
Apabila memang HP tersebut tidak disita dan tetap bisa dipergunakan oleh TKI diluar negeri.
Dengan perlindungan hukum dan asuransi sejak berangkat dari Indonesia. Ketika menjalani
kontrak kerja yang bertahun-tahun, banyak TKI yang ternyata setelah pulang ke negeri
pertiwi ini dengan tangan hampa bahkan sudah tidak bernyawa. Kita benar-benar harus
mencari solusi yang lebih efektif, efisien dan tentu relevan dengan kondisi yang ada.

Mengenai solusi untuk memperketat filter atau bahkan lebih ekstrim distop dalam pengurusan
buruh migran pada para penerima jasa TKI. Mengingat kondisi lapangan yang tidak
mencukup dinegeri ini, bukanalah solusi yang tepat. Berbicara tentang fakta, nilai
kemampuan sesorang itu lebih berharga di luar negeri daripada dalam negeri. Daripada
memperketat filter, apakah tidak lebih baik apabila lapangan pekerjaan di Indonesia saja yang
diperbanyak. Tentu akan mengurangi TKI, dengan kata lain mengurangi korban insan
pribumi yang akan dianiaya dan disiksa dinegeri orang. Karena meski manusia takut dan
percaya adanya Tuhan, itu tidak menjamin. Faktanya TKI kebanyakan yang mendapat
perlakuan kurang baik dari majikannya bekerja notabene di negara dengan hukum agama
terkuat. Dengan ketidaksempurnaan dalam “maintains” TKI perlu diperhatikan kasus di
Hongkong relatif lebih kecil angka penganiayaan pada TKI. Jawabnya karena di Hongkong
ada penerapan aturan yang disiplin atas perbuatan yang menyalahi hukum.

Tetapi tidak pantas dan tidak bijak jika hanya mengkritik pemerintah atas berbagai masalah
yang ada. Tentu peran aktif setiap warga negara untuk sama bergandengan tangan menangani
masalah akan membuat beban semakin ringan. Banyak hal yang harus dibenahi, karena
sebenarnya tidak ada yang bisa disalahkan. Baik para TKI maupun pemerintah, TKI memang
menjadi korban tetapi mereka juga tidak mau disiksa apalagi dianiaya. TKI hanya ingin hidup
layak dengan mencari sesuap nasi hingga ke negeri orang. Pemerintah juga dalam hal ini
sudah berusaha semampunya dan mereka juga tentu tidak kurang berusaha. Usaha yang
sudah dilakukan hanya belum menunjukkan hasil yang maksimal.

Usaha dalam membenahi sebuah sistem perlu dilakukan namun sistem dibuat oleh manusia
juga yang hakikatnya demi mendisiplinkan. Bertujuan membuat semua berjalan pada
koridornya (on the track). Untuk saat ini fokus kepedulian dan konsentrasi pada
penyelewengan sistem belum berimbang. Dibutuhkan seperangkat sarna hukum yang jelas
sebagai proteksi pengiriman TKW/TKI. Di situ harus ada tata aturan PJTKI dan tata aturan
TKI supaya jelas. Cenderung aturan yang ada sasat ini hanya dibuat oleh PJTKI saja. Dalam
mengurus segala dokumen sering dihadapkan pada administrasi yang berbelit-belit. Mengenai
aturan agar lebih melindungi TKI, pada intinya hukum di negara manapun akan sama. Semua
akan berpihak kepada yang lemah dan yang benar. Semua hukum agama adalah sama.
Mereka akan berpihak pada penerapan kasih. Sekarang, dengan rendah hati dibutuhkan
pengakuan bahwa kita memang salah. Tidak memiliki kemampuan untuk melindungi sesama
warga kita yang telah memeras darahnya di negeri orang. Mengakui kelemahan kita karena
fokus kita sangat kecil dalam mengurangi penerapan kekerasan pada TKI. Evaluasi dan
bertindak tegas supaya setiap nyawa dari Pahlawan Devisa Indonesia, menjadi berharga di
mata siapa saja dan di mana saja. Karena bila masalah ini masih saja berlarut-larut, TKI tidak
lagi layak disebut sebagai pahlawan devisa tetapi tumbal devisa.

SARAN : Untuk pemerintah


Masalah utama TKI adalah mengenai perlindungan hukum, oleh karena itu sudah
sepantasnya pemerintah meningkatkan perlindungan hukumnya kepada para TKI yang
tertimpa masalah hukum di Luar Negeri. Pejabat-pejabat yang menangani permasalahan
hukum TKI di Luar Negeri mestinmya diisi oleh orang-orang yang berkompeten, yang pintar
melobi, serta paham akan hukum-hukum yang berlaku di Indonesia serta di luar negeri.
Untuk masayarakat
Tetapi tidak pantas dan tidak bijak jika hanya mengkritik pemerintah atas berbagai masalah
yang ada. Tentu peran aktif setiap warga negara untuk sama bergandengan tangan menangani
masalah akan membuat beban semakin ringan