Anda di halaman 1dari 653

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Bab I

Systems of Units

1.1.

Consistent System Unit

Suatu satuan (unit) yang digunakan disebut konsisten apabila tidak ada factor konversi yang diperlukan. Sebagai contoh, momen dengan satuan foot-pounds tidak dapat ditentukan langsung dari momen lengannya yang bersatuan inches.

Dalam ilustrasi ini, konversi faktor 1/12 feet/inch diperlukan, maka satuan tersebut dapat disebut tidak konsisten (inconsistent).

1.2.

Klasifikasi System Unit

1.2.1.

English System

a. The Absolute English System Para insyinyur terbiasa dalam menggunakan pounds sebagai satuan massa. Contohnya, densitas biasanya diberikan dalam pounds per cubic foot (lb/cuft). Bisa juga disingkat pcf, yang juga memberikan kenyataan bahwa satuan sebenarnya adalah pound dari massa per cubic foot. Dalam sistem ini, satuan gaya disebut poundal (1poundal=0.03108 lbf), tetapi mulai jarang digunakan. Meskipun begitu sistem ini tetap ada, eksistensi ini berhubungan dengan masih diperlukannya suatu sistem satuan yang konsisten.

b.

The English Engineering System Banyak masalah dalam termodinamika

dan aliran fluida memiliki kombinasi variabel yang mengandung poundmass dan pound-force. Sebagai contoh, dalam the steady-flow energy equation (SFEE) mencampur term entalphy dalam BTU/lbm dengan term tekanan lbf/ft 2 . Pada sistem ini, kerja dan energi biasanya diukur dalam ft-lbf (sistem mekanikal) atau dalam British Thermal Units,BTU (1 BTU=778.26 ft-lbf).

1.2.2.

International System

a. The CGS System

Sistem cgs telah banyak digunakan oleh para ahli kimia dan fisika. Sistem ini dinamakan dari tiga satuan utama yang digunakan untuk membangun variabel- variabel turunannya. Centimeter, gram, dan second(detik) merupakan dasar dari sistem ini. Unit dasar satuan volume di dalam sistem ini adalah cubic centimeter (cc). Satuan milliliters (ml) juga digunakan dalam sistem cgs ini.

b. The MKS System

Sistem ini cocok digunakan ketika variabel yang digunakan memiliki harga yang lebih besar daripada yang biasa diakomodasikan oleh sistem cgs. Sistem ini menggunakan meter, kilogram, dan second (detik) sebagai satuan utamanya.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

c. The SI System

Baik sistem cgs dan mks disebut sistem metrik. Meskipun sistem metric mampu menangani masalah, keanekaragaman satuan yang ada untuk masing-masing variabel kadang membingungkan. Sistem SI (International System Units) dibakukan pada tahun 1960 oleh General Conference of Weights and Measures. Sistem SI memiliki ciri - ciri sebagai berikut :

1. Hanya ada satu unit untuk setiap variabel

2. Sistem konsisten

3. Skala satuan dilakukan dalam pengalian 1000

4. Singkatan, awalan dan simbol diperlakukan ketat

Tabel 1 Awalan Dalam SI

diperlakukan ketat    Tabel 1 Awalan Dalam SI Tiga tipe satuan yang digunakan: 1.

Tiga tipe satuan yang digunakan:

1. Satuan Dasar (base units) - (Tabel 2).

2. Satuan Pelengkap - (Tabel 3).

3. Satuan Turunan - (Tabel 4).

Tabel 2 Satuan Dasar SI

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009    Tabel 3 Pelengkap SI

Tabel 3 Pelengkap SI

R.S., ITB 2009    Tabel 3 Pelengkap SI    Tabel 4 Satuan

Tabel 4 Satuan Turunan SI Dengan Nama Khusus

SI    Tabel 4 Satuan Turunan SI Dengan Nama Khusus    Tabel

Tabel 5 Satuan Turunan SI

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 4 System of Units

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 6. Satuan Selain SI yang Dapat Diterima

Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009    Tabel 6. Satuan Selain SI yang

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 7 Faktor Konversi Terhadap Satuan SI

by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009    Tabel 7 Faktor Konversi Terhadap

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 7 (lanjutan) Faktor Konversi Terhadap Satuan SI

Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009    Tabel 7 (lanjutan) Faktor Konversi Terhadap Satuan SI

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 8 Consistent Electric/Magnetic Units

by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009    Tabel 8 Consistent Electric/Magnetic Units

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

1.3.

Conversion of Units

1.3.1.

Satuan SI

"SI" adalah singkatan dari Le Systeme International d’Unites atau Sistem Satuan Internasional. SI tidak identik dengan sistem satuan metrik sebelumnya (cgs, mks, atau mksA) tapi berhubungan erat dan merupakan perbaikan dari sistem-sistem tersebut. SI adalah suatu bentuk sistem metrik yang dianggap cocok untuk semua aplikasi. Simbol pe ngukuran SI adalah identik dalam semua bahasa. Aturan penulisan, ejaan dan sebutan adalah penting untuk menghindari kesalahan dalam pekerjaan numerik dan membuat sistem ini lebih mudah digunakan dan dipahami di seluruh dunia.

SI didasarkan pada tujuh "satuan dasar" yang berdasarkan konvensi dianggap tidak bergantung pada dimensi lain. Ke-tujuh satuan dasar ini adalah meter untuk panjang, kilogram untuk massa, detik untuk waktu , ampere untuk arus listrik, kelvin untuk temperatur termodinamika, mole untuk jumlah senyawa, dan candela untuk intensitas cahaya. Disamping itu ada dua "satuan tambahan" yaitu radian untuk sudut bidang dan steradian untuk sudut solid.

1.3.2. Aturan Konversi dan Pembuatan

a. Angka signifikan setiap angka (dijit) yang diperlukan untuk menyatakan harga atau kuantitas tertentu disebut bersifat signifikan. Contoh, suatu jarak yang diukur sampai satuan terkecil 1 m dinyatakan sebagai 157 m; kuantitas ini mempunyai tiga angka signifikan. Jika pengukuran dilakukan sampai satuan terkecil 0.1 m, jarak tersebut mungkin terukur sebagai 157,4 m; yaitu mempunyai empat angka signifikan. Di kedua hal tersebut angka yang paling kanan ditentukan dengan mengukur harga dijit tambahan dan kemudian membulatkannya sampai derajat akurasi yang diinginkan. Jadi 157,4 dibulatkan ke 157; dan dalam hal yang kedua, pengukuran mungkin menyatakan 157,36 tapi dibulatkan ke 157.4.

b. Konversi Untuk mengkonversikan satuan suatu kuantitas dari non-satuan SI ke satuan SI dan sebaliknya diperlukan faktor konversi. Konversi suatu satuan kuantitas harus dilakukan dengan memperhatikan hubungan antara akurasi data dan jumlah dijit faktor konversi. Dalam hal ini jumlah dijit signifikan tidak mengurangi atau menambah akurasi data. Prosedur konversi yang benar dilakukan dengan mengalikan suatu kuantitas dengan faktor konversi dan kemudian membulatkan ke jumlah dijit signifikan tertentu sehingga presisinya dianggap cocok. Contoh, untuk mengkonversi 11.4 ft ke meter; 11.4 x 0.3048 = 3.47472, yang dibulatkan menjadi 3.47 m.

c. Akurasi dan Pembulatan Jangan membulatkan baik faktor konversi atau kuantitas yang akan dikonversi sebelum melakukan perkalian. Hal ini akan mengurangi akurasi. Pembulatan hanya dilakukan terhadap kuantitas setelah dikonversi sampai jumlah digit signifikan menurut presisi yang diinginkan. Dengan demikian, sangatlah penting untuk menentukan presisi yang diinginkan sebelum dilakukan konversi. Secara umum, presisi ini harus memperhatikan jumlah dijit kuantitas awal walaupun hal ini belum tentu

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

merupakan indikator yang dapat dipercaya. Contoh, 1.1875 mungkin merupakan pendekatan yang sa ngat akurat untuk 1 3/16 dan akan lebih baik bila dinyatakan dengan 1.19. Di sisi lain, suatu nilai 2 dapat berarti "kurang lebih 2" atau harga yang sangat akurat sehingga akan lebih baik jika dinyatakan dengan 2.000. Sebagai patokan dasar perkiraan presisi yang diinginkan tidak lebih kecil dari akurasi pengukuran tapi sebaiknya lebih kecil dari sepersepuluh toleransi (jika ada). Dengan demikian, harga konversi dibulatkan sampai jumlah minimum digit signifikan tertentu sehingga tetap mempunyai akurasi yang diinginkan.

d. Pentingnya angka nol dapat digunakan untuk memajukan suatu harga tertentu seperti halnya angka-angka lain atau untuk menunjukkan besarnya suatu angka. Contoh, populasi suatu negara tahun 1997, dibulatkan ke ribuan, dinyatakan sebagai 205.185.000. Ke-enam dijit paling kiri dari angka tersebut adalah signifikan, masing-masing "mengukur" suatu harga. Ke-tiga dijit paling kanan adalah nol yang hanya menunjukkan besar angka yang dibulatkan ke ribuan. Berikut ini adalah contoh harga-harga yang berbeda besarnya, tapi masing-masing mempunyai hanya satu digit angka signifikan

1.000

100

10

0,01

0,001

0,0001

1.3.3. Faktor Konversi

Suatu tabel faktor konversi biasanya terdiri dari tiga unsur: (1) sistem satuan yang akan dikonversikan, (2) sistem satuan yang diinginkan, dan (3) faktor pengali (faktor konversi). Secara umum tabel seperti ini menunjukkan 2 hal :

1. Untuk menyatakan definisi dari satuan ukuran dalam pengali numerik. Faktor pengali ini bisa eksak atau tidak eksak. Faktor pengali tidak eksak bisa merupakan hasil pengukuran atau sebagai pendekatan. Dengan demikian angka faktor pengali tidak eksak merupakan pembulatan.

2. Untuk memberikan faktor pengali untuk mengkonversi suatu satuan ukuran ke satuan lain.

Tabel faktor konversi yang ada sekarang biasanya sudah disesuaikan dengan kebutuhan pembacaan oleh komputer dan transmisi data. Faktor konversinya sendiri ditulis sebagai suatu bilangan yang sama dengan atau lebih besar dari satu dan lebih kecil dari 10 dengan maksimum enam desimal (yaitu maksimum tujuh total dijit). Jika faktor konversi lebih kecil dari satu dan atau lebih besar dari 10 maka digunakan lambang eksponen E.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Contoh :

a. 3.523 907 E - 02 adalah sama dengan

3.523

907 x 10 -2 atau

0.035

239 07

b. 3.386 389 E + 03 adalah sama dengan

3.386

389 x 10 3 atau

3.386

389

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 9. Conversional Factors Length (l)

by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009    Tabel 9. Conversional Factors Length

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 10 Conversional Factors Area (l2)

by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009    Tabel 10 Conversional Factors Area

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 11 Conversional Factors Volume (l3)

by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009    Tabel 11 Conversional Factors Volume

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 12 Conversional Factors Flow Rate (l3.t-1)

Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009    Tabel 12 Conversional Factors Flow Rate (l3.t-1)

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 13 Conversion Factors Velocity (l.t-1)

Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009    Tabel 13 Conversion Factors Velocity (l.t-1)

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 14 Weight (m.l.t-2) and Mass (m)

by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009    Tabel 14 Weight (m.l.t-2) and

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 15 Conversional Factors Density, or Mass per Unit of Volume (m.l-3)

ITB 2009    Tabel 15 Conversional Factors Density, or Mass per Unit of Volume

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 16 Conversional Factors Force (m.l.t-2)

Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009    Tabel 16 Conversional Factors Force (m.l.t-2)

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 17 Conversion Factors Pressure (m.l-1.t-2)

Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009    Tabel 17 Conversion Factors Pressure (m.l-1.t-2) 20

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 18 Conversional Factors Power (m.l2.t-3)

Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009    Tabel 18 Conversional Factors Power (m.l2.t-3)

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

DAFTAR PUSTAKA

1. Bradley H.B., "Petroleum Engineering Handbook", Third Printing, Society of Petroleum Engineers, Richardson TX, 1987.

2. Langenkamp R.D., "Handbook of Oil Industry Terms and Phrases", Second Edition, The Petroleum Publishing Company, Tulsa, 1977.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

DAFTAR PARAMETER DAN SATUAN

Tidak ada

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Bab II Persiapan Tempat dan Lokasi Pemboran

2.1. Pendahuluan Operasi pemboran merupakan suatu kegiatan yang terdiri dari beberapa tahapan kegiatan. Sebelum operasi pemboran dapat dilaksanakan, pertama-tama yang perlu dilakukan adalah apa yang disebut dengan tahap persiapan. Tahap persiapan ini pun terdiri dari beberapa tahapan mulai dari persiapan tempat, pengiriman peralatan pada lokasi, penunjukan pekerja sampai pada persiapan akhir. Bila seandainya tempat untuk lokasi pemboran yang diperkirakan ada cadangan minyak atau gas yang cukup potensial dan tempat tersebut masih merupakan suatu tempat yang dianggap liar maka dengan sendirinya kita perlu membuat tempat tersebut menjadi tempat yang memungkinkan terlaksananya operasi pemboran. Pada operasi pemboran ini, peralatan yang dipakai terbagi menjadi beberapa sistem. Pembagian sistem-sistem yang umum dilakukan dalam industri perminyakan adalah sebagai berikut :

1. Sistem pengangkatan (Hoisting System)

2. Sistem pemutar (Rotating System)

3. Sistem sirkulasi (Circulating System)

4. Sistem daya (Power System)

5. Sistem pencegah sembur liar (BOP System)

Sistem-sistem di atas mempunyai hubungan yang erat antara satu sistem dengan sistem lainnya. Jadi dapat dimengerti bahwa antar sistem-sistem tersebut bekerja pada saat bersamaan.Operasi pemboran (drilling operation) adalah suatu kegiatan yang merupakan bagian yang terintegrasi dengan kegiatan-kegiatan lain dalam industri perminyakan. Pada masa sekarang ini, operasi pemboran dilaksanakan orang baik di darat (onshore) maupun di lepas pantai (offshore). Peralatan yang digunakan untuk operasi kedua tempat tersebut pada dasarnya adalah sama yang berbeda hanyalah tempat untuk menempatkan menara (rig) beserta perlengkapannya. Untuk pemboran di darat, kebutuhan tempat biasanya tidak merupakan masalah, berbeda dengan pemboran di lepas pantai yang harus memperhitungkan luas dari anjungan yang dipakai serta mempergunakan tempat seefisien mungkin karena luasnya yang sangat terbatas. Pemboran yang dilakukan dewasa ini umumnya pemboran dengan prinsip rotary

drilling. Pada rotary drilling, pembuatan lubang dilaksanakan dengan memutar bit disertai pemberian beban pada bit oleh beratnya drill collar. Bit ini diputar dari rotary table melalui drill string yang merupakan rangkaian dari drill pipe dan drill collar. Pada pelaksanaannya, sebelum operasi pemboran dapat dilaksanakan perlu dilakukan dahulu beberapa kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan persiapan-persiapan. Tahap persiapan ini meliputi :

1. Persiapan tempat

2. Pengiriman peralatan pada lokasi

3. Penunjukan pekerja

4. Persiapan rig dan pendiriannya

5. Peralatan penunjang dan pemasangannya

6. Persiapan akhir

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

2.2. Persiapan Tempat Jika tempat pemboran minyak ditentukan pada tempat yang masih liar (wild area), misalnya saja pada suatu hutan yang tidak terdapat sarana transportasinya, sedangkan ditempat itu diperkirakan terdapat cadangan minyak yang potensial maka dengan sendirinya kita harus membuat tempat yang liar menjadi tempat yang memungkinkan terlaksananya operasi pemboran. Untuk melakukan operasi pemboran di darat hal yang paling penting diperhatikan adalah persiapan tempat untuk ke lokasi pemboran. Pada persiapan tempat ini meliputi beberapa tahapan, tahapan tersebut antara lain :

a. Pembuatan sarana transportasi Kebutuhan yang pertama membuat jalan tembusan menuju lokasi yang telah ditentukan tentu akan memerlukan peralatan, bahan dan personal. Hal ini tidak lepas dari persiapan yang perlu dilaksanakan sebelum tahap selanjutnya dapat dilaksanakan. Selanjutnya menentukan letak geografis dari tempat tersebut, hal ini dilakukan untuk keperluan selanjutnya. Untuk daerah berpaya atau daerah kutub pada pembuatan sarana transportasi perlu dibuat jalan khusus yaitu landasannya terbuat dari balok atau kayu (Gambar 2.1).

b. Pembuatan kolam cadangan (mud pit) Setelah pembuatan jalan tembus selesai, lokasi pemboran telah terbuka dari segala jenis tumbuhan/pepohonan dimana kebutuhan ruang terbuka untuk bangunan kompleks dari rotary drilling telah terpenuhi. Penyelesaian operasi perataan dan pemadatan tanah telah selesai, buldozer mulai membuat lubang/kolam berbentuk bujur sangkar tidak jauh dari lokasi pemboran yang sebenarnya. Kolam ini disebut kolam cadangan atau mud pit, sebelum kolam ini dapat digunakan untuk menampung kelebihan lumpur pemboran yang keluar dari lubang sumur selama operasi pemboran berlangsung maka terlebih dahulu perlu dilapisi dulu dengan lembaran-lembaran plastik (Gambar 2.2).

dilapisi dulu dengan lembaran-lembaran plastik (Gambar 2.2). Gambar 2.1. Pembuatan sarana transportasi 26 System of

Gambar 2.1. Pembuatan sarana transportasi

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 2.2. Pembuatan kolam cadangan (mud pit)

Gambar 2.2. Pembuatan kolam cadangan (mud pit)

c. Persiapan lubang sumur Tahap berikutnya mempersiapkan pembuatan kolam lain yang bentuknya sama dengan mud pit tetapi ukurannya lebih kecil dari mud pit tadi, kolam ini biasanya

disebut "cellar". Cellar ini nantinya akan berada tepat di bawah lantai rig setelah

di atasnya dipasang substructure.Setelah pembuatan cellar selesai kemudian

membuat lubang utama (lubang sumur), diusahakan pembuatan lubang sumur

ini

dilakukan di tengah-tengah cellar. Lubang sumur dengan diameter yang besar

ini

disebut "conductor hole" (lihat Gambar 2.3).

ini disebut "conductor hole" (lihat Gambar 2.3). Gambar 2.3. Conductor Hole d. Memasang conductor pipe

Gambar 2.3. Conductor Hole

d. Memasang conductor pipe Setelah conductor hole disiapkan kira-kira mencapai kedalaman 20 sampai 100 ft kemudian lubang tersebut dipasang pipa dan biasanya pipa ini disebut "conductor pipe" (Gambar 2.4). Pemasangan pipa ini dilakukan untuk menghindari terjadinya gerowong- gerowong dan kerusakan-kerusakan lainnya dari lubang sumur selama dilaksanakan pemboran untuk bagian surface hole. Pada umumnya area untuk surface hole keadaannya masih lunak sehingga operasi pemboran belum dibutuhkan. Pemasangan pipa ke dalam tanah biasanya menggunakan mesin

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

pemancang, pada saat yang sama dibuat lagi lubang yang ukurannya lebih kecil dari conductor hole. Lubang kecil ini disebut "rat hole", rat hole ini nantinya digunakan untuk menyimpan kelly selama operasi pemboran berlangsung.

untuk menyimpan kelly selama operasi pemboran berlangsung. Gambar 2.4. Conductor Pipe e. Persiapan sumber air. Pada

Gambar 2.4. Conductor Pipe

e. Persiapan sumber air. Pada suatu saat pembuatan jalan tembus telah selesai, lokasi pemboran telah siap dan rata, cellar telah disiapkan juga rat hole dan surface hole telah dibuat dan conductor pipe telah dipasang, maka persiapan selanjutnya yang perlu dilakukan pada tahap persiapan tempat ini ialah mempersiapkan sumber air yang nantinya diperlukan selama operasi pemboran berlangsung dan juga untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari para personal pemboran. Pemboran sumber air mungkin dapat dilakukan, tetapi untuk beberapa lokasi pemboran sumber air di permukaan sudah tersedia dalam jumlah yang cukup. Setelah sumber air disiapkan selanjutnya pemasangan saluran-saluran air dan pompa, biasanya persediaan akan air ini disimpan dalam suatu tangki yang besar terletak tidak jauh dari lokasi pemboran. Jika sumber air di permukaan dan pemboran sumber air tidak mencukupi atau sama sekali tidak tersedia maka kebutuhan akan air ini bisa dipenuhi dengan jalan pengiriman air dengan truk yang dilengkapi tangki air (lihat Gambar 2.5).

air dengan truk yang dilengkapi tangki air (lihat Gambar 2.5). Gambar 2.5. Persiapan sumber air 28

Gambar 2.5. Persiapan sumber air

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

2.3. Pengiriman Peralatan Dengan selesainya tahap persiapan tempat seperti diterangkan di atas dan semua komponen rig telah disiapkan untuk dikirim ke lokasi pemboran, selanjutnya kita memikirkan tentang pengiriman komponen rig tersebut ke lokasi pemboran apakah melalui darat, air atau udara. Pengiriman peralatan ini bisa melalui darat, air atau udara tegantung dari lokasi pemborannya, untuk lebih jelasnya akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Melalui darat Pengiriman peralatan melalui darat biasanya dilakukan dengan menggunakan truk yang biasa disebut "flat bed truk". Untuk daerah tertentu misalnya pada daerah padang pasir pengiriman peralatan (rig) dapat dilakukan dengan cara "skidding". Skiding ini ialah penarikan rig secara utuh ditempatkan pada pelat baja yang datar yang di bawahnya dilengkapi dengan roda yang terbuat dari besi, kemudian rig ini ditarik dengan buldozer. Cara ini dapat dilakukan bila keadaan daerahnya relatif datar dan untuk jarak yang jauh cara ini akan lebih efisien dan ekonomis (Gambar 2.6).

b. Melalui air Bila lokasi pemboran berada di daerah berpaya atau daerah yang dapat didekati dengan sarana air pengiriman rig dapat dilakukan dengan kapal khusus. Jika rig telah digunakan di daerah berpaya, biasanya rig dipasang secara utuh pada "Barge" (sejenis kapal) kemudian kapal ini ditarik dengan kapal penarik (towing ship) (lihat Gambar 2.7).

dengan kapal penarik (towing ship) (lihat Gambar 2.7). Gambar 2.6. Pengiriman Peralatan melalui Jalan Darat System

Gambar 2.6. Pengiriman Peralatan melalui Jalan Darat

kapal penarik (towing ship) (lihat Gambar 2.7). Gambar 2.6. Pengiriman Peralatan melalui Jalan Darat System of

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Gambar 2.7. Pengiriman Peralatan melalui Air

c. Melalui Udara Suatu saat apabila pengiriman melalui darat dan air tidak praktis, atau dimana kondisi geografisnya tidak memungkinkan untuk dilakukan pengiriman melalui darat atau air maka rig dan peralatan-peralatan lainnya dapat dikirim melalui udara. Pada suatu daerah yang mempunyai tempat yang cukup luas sehingga memungkinkan dibuat suatu landasan kapal terbang maka pengiriman peralatan dilaksanakan dengan kapal terbang, tetapi apabila lokasi pemborannya tidak memungkinkan untuk dibuat suatu lapangan terbang maka pengiriman peralatan dilaksanakan dengan helikopter (lihat Gambar 2.8).

peralatan dilaksanakan dengan helikopter (lihat Gambar 2.8). Gambar 2.8. Pengiriman Peralatan melalui Udara 2.4.

Gambar 2.8. Pengiriman Peralatan melalui Udara

2.4. Penunjukan Pekerja Dalam melaksanakan suatu operasi pemboran, kebutuhan terhadap personal yang berpengalaman dan mempunyai kemampuan adalah hal yang mutlak dipenuhi. Personal-personal tersebut terdiri dari personal pemboran dan personal dari "service company". Berikut ini adalah personal-personal tersebut (Gambar 2.9 dan Gambar 2.10) dengan tugasnya masing-masing :

a) Company man, wakil dari perusahaan yang ada berada di tempat operasi pemboran. Company man ini yang memutuskan segala kebijaksanaan perusahaan selama operasi pemboran berlangsung.

b) Tool pusher, wakil dari kontraktor yang mahir dalam melaksanakan operasi pemboran serta menguasai perlengkapan anjungan dan permesinan.

c) Driller, bertugas untuk mengawasi operasi pemboran dari meja pengontrol yang ditempatkan dekat drawwork. Pengontrol ini menolong driller untuk mengoperasikan perlengkapan yang digunakan serta memonitor operasi pemboran yang sedang berlangsung.

d) Derickman, tugasnya adalah membantu driller selama operasi pemboran berlangsung.

e) Rotary helper, sedikitnya harus terdiri dari dua atau tiga orang. Mereka yang bertanggung jawab untuk menangani dan menjaga perlengkapan dan alat-alat yang digunakan dalam operasi pemboran.

f) Motor man, yaitu orang yang bertanggung jawab pada prime mover agar kebutuhan daya untuk setiap sistem terpenuhi.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

g) Rig mechanic, bertugas memeriksa, memelihara, dan memperbaiki peralatan mekanik pada rig.

h) Rig electrician, bertanggung jawab pada pemeriksaan dan pemeliharaan pada generator listrik serta sistem pendistribusian.

i) Mud engineer, bertugas memeriksa sifat-sifat fluida pemboran serta menentukan jenis fluida pemboran yang sesuai untuk digunakan.

j) Mud logger, bertugas untuk menilai suatu formasi yang telah dicapai dengan melakukan pemeriksaan terhadap serpih pemboran.

k) Casing and cementing crew, bertugas merencanakan mengoperasikan, dan memelihara peralatan-peralatan khusus yang digunakan selama operasi pemasangan casing dan cementing.

digunakan selama operasi pemasangan casing dan cementing. Gambar 2.9. Personal Pemboran dan Personal Service Company

Gambar 2.9. Personal Pemboran dan Personal Service Company

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 2.10. Personal Pemboran dan Personal Service

Gambar 2.10. Personal Pemboran dan Personal Service Company

2.5. Mendirikan Derrick Kedatangan rig di lokasi pemboran biasanya berupa bagian-bagian (modul- modul), kontraktor pemboran dan personal-personalnya dengan menggunakan mesin-mesin derek yang berat dengan segera memulai pemasangan dan pendirian menara bor atau rig. Tahap ini disebut "rigging up" dan umumnya terdiri dari beberapa tahap. Tahap pertama mulai memasang substructure langsung setelah pembuatan cellar selesai. Pada saat pemasangan substructure telah siap dan landasan dari rig telah dipasang, prime mover dan draw work telah dipasang pada posisinya kemudian dicoba untuk segera dapat dijalankan dan digunakan. Pada dasarnya pemasangan menara (rig) dilakukan dengan mesin derek langsung dari flat bed truck dan dipasang pada lantai rig. Tahap selanjutnya melaksanakan pemasangan over head tools pada posisinya, setelah pemasangan drilling line selesai salah satu ujung dari drilling line disambungkan pada draw work. Dengan selesainya tahap ini dapat digunakan membantu pendirian derrick pada posisi berdiri/tegak. Tahap ini biasanya memerlukan waktu satu atau beberapa hari tergantung dari ukuran dan type rig, cuaca, kecakapan personal-personalnya dan variabel-variabel lainnya. Gambar 2.11 sampai Gambar 2.14 adalah Gambar tentang cara pendirian rig.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 2.11. Perangkaian Substructure Gambar 2.12. Dasar

Gambar 2.11. Perangkaian Substructure

R.S., ITB 2009 Gambar 2.11. Perangkaian Substructure Gambar 2.12. Dasar dari Mast Diangkat ke Rig Floor

Gambar 2.12. Dasar dari Mast Diangkat ke Rig Floor

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 2.13. Penegakkan Mast Gambar 2.14. Pendirian

Gambar 2.13. Penegakkan Mast

Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 2.13. Penegakkan Mast Gambar 2.14. Pendirian Derrick Selesai 2.6. Peralatan

Gambar 2.14. Pendirian Derrick Selesai

2.6. Peralatan Penunjang dan Pemasangannya Dengan selesainya pendirian derick, tahap berikutnya mulai memasang peralatan-peralatan penunjang. Peralatan ini biasanya dikirim dengan truk, tetapi untuk beberapa komponen yang besar seperti mud pump biasanya dikirim dengan truk yang dilengkapi dengan mesin derek atau dengan menggunakan flat bed truk. Dengan menggunakan truk yang dilengkapi dengan mesin derek ini akan memudahkan dalam menurunkan dan pemasangan kembali pada lokasi yang baru (Gambar 2.15).

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 2.15. Komponen Penunjang Mulai Berdatangan Mud

Gambar 2.15. Komponen Penunjang Mulai Berdatangan

Mud pits, storage tank dan bulk storage mulai datang selanjutnya ditempatkan pada tempatnya dan mulai dirancang, juga power sistem dan BOP sudah mulai disiapkan (Gambar 2.16).

power sistem dan BOP sudah mulai disiapkan (Gambar 2.16). Gambar 2.16. Peralatan Mulai Dipindahkan ke Posisinya

Gambar 2.16. Peralatan Mulai Dipindahkan ke Posisinya

Dengan telah siapnya peralatan penunjang personal-personal pemboran dengan tugasnya yang berbeda- beda mulai menyambung bagian-bagian dari beberapa peralatan yang nantinya akan merupakan suatu sistem dari rotary drilling yang telah siap untuk dioperasikan. Truk yang membawa bahan-bahan untuk lumpur pemboran mulai datang dan bahan tersebut ditempatkan pada bulk storage dekat

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

mud house, selain itu peralatan-peralatan lainnya seperti drill pipe, drill collar dan tool-tool khusus mulai datang (Gambar 2.17).

collar dan tool-tool khusus mulai datang (Gambar 2.17). Gambar 2.17. Peralatan Dirangkai Dan Dihubungkan Pada

Gambar 2.17. Peralatan Dirangkai Dan Dihubungkan

Pada dasarnya persiapan tahap "rigging up" hampir dapat dikatakan mendekati penyelesaian, lokasi pemboran tadi telah berubah menjadi suatu kompleks rotary drilling yang modern (Gambar 2.18).

menjadi suatu kompleks rotary drilling yang modern (Gambar 2.18). Gambar 2.18. Penyelesaian Akhir 36 System of

Gambar 2.18. Penyelesaian Akhir

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

2.7. Persiapan Akhir Pengecekan tiap-tiap sistem perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum operasi pemboran yang sesungguhnya dapat dilaksanakan, hal ini dilakukan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan selama berlangsungnya operasi pemboran seperti pada power system misalnya apakah daya dari sistem tersebut dapat memenuhi kebutuhan daya yang diperlukan untuk menjalankan keseluruhan sistem dari rotary drilling, sebab dalam hal ini antara satu sistem dengan sistem lainnya saling berhubungan erat. Jadi bila salah satu sistem tidak berfungsi maka keseluruhan sistem rotary drilling juga tidak dapat untuk dioperasikan.

Tahap persiapan akhir

a. Persiapan lumpur pemboran Pertama-tama personal dari pemboran mempersiapkan fluida pemboran untuk Sistem Sirkulasi. Umumnya pada saat pemboran untuk surface hole baru dimulai dan selama pemboran pertama berlangsung, tekanan formasi pada kedalaman ini tidak akan menimbulkan efek terhadap lubang sumur dan memungkinkan terjadinya blowout kecil sekali. Pada saat laju penembusan mulai bertambah dan tekanan formasi di bawah permukaan mulai naik, personal pemboran mulai mempersiapkan lumpur pemboran dengan rekomendasi dari engineer. Para personel ini berada di bawah petunjuk dari derrickman, dimana derrickman yang bertanggung jawab pada pemeliharaan lumpur pemboran dan juga bila suatu saat diperlukan perubahan komposisi dari lumpur pemboran yang tergantung dari kondisi di bawah permukaan.Setelah lumpur pemboran disiapkan dan dimulai disirkulasikan, para personal pemboran ini secara aktif harus tetap memeriksa peralatan-peralatan sirkulasi, juga harus dicek secara pasti bahwa pompa lumpur dapat berfungsi dengan baik. Selain itu perlu dicek pula stand pipe, rotary hose dan saluran-saluran lainnya apakah telah tersambung dengan baik, apabila semua yang dicek telah berfungsi dengan baik maka Sistem Sirkulasi ini dapat segera beroperasi.

b. Pengecekan tiap-tiap sistem Persiapan akhir untuk mulai pemboran kini sudah hampir mendekati penyelesaian, persiapan akhir ini termasuk pengecekan untuk kedua kalinya dari tiap-tiap sistem yang ada pada sistem rotary drilling. Adapun pengecekan sistem- sistem tersebut, meliputi :

a. Circulating system, peralatan-peralatan pada sistem sirkulasi harus dicek ulang untuk terakhir kalinya untuk memastikan bahwa semua komponen dapat berfungsi dengan baik.

b. Hoisting system, semua komponen dari hoisting system harus dicek kembali untuk memastikan bahwa semua komponennya dapat berfungsi semestinya, misalnya : draw work dan semua over head tools dapat dioperasikan, juga harus dicek pula apakah dead line telah terpasang dengan kuat.

c. Rotating system, pada system rotary ini harus dicek untuk memastikan rotary table dapat dioperasikan, perlengkapan-perlengkapan dari rotary system telah berada di tempat dan dalam keadaan baik (siap pakai). Bit untuk pemboran telah disiapkan di lantai rig dan drill collar pertama sudah mulai dibawa ke cat walk.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

d. Power system , power system perlu dicek juga untuk memastikan prime mover, motor-motor cadangan atau pembantu dan mesin-mesin dapat dioperasikan dengan baik. Selain itu dicek pula kabel-kabel dan sistem pendistribusiannya apakah telah tersambung dengan baik.

e. BOP system, akhirnya sebelum operasi pemboran dapat dimulai kita perlu sekali mengecek sistem BOP ini, dimana bila perlu pengecekan sistem ini bisa dilakukan dua kali untuk memastikan bahwa BOP stack, accumulator dan peralatan-peralatan pelengkapnya dapat dioperasikan segera apabila diperlukan.

Tahap persiapan menjelang operasi pemboran sekarang telah komplit, komplek pemboran dengan system rotary drilling telah siap untuk dioperasikan dan siap untuk mengebor sumur minyak atau gas, pemboran pertama ini biasanya disebut dengan istilah membuat lubang. Akhirnya pemboran lubang utama telah dimulai dan proses pemboran dapat dikatakan mulai berlangsung.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

DAFTAR PUSTAKA

1. Alliquander, "Das Moderne Rotarybohren", VEB Deutscher Verlag Fuer Grundstoffindustrie,Clausthal-Zellerfeld, Germany, 1986

2. Mian M.A., "Petroleum Engineering Handbook for Practicing Engineer", Vol.1, Penn Well Publishing Company, Tulsa-Oklahoma, 1992.

3. Rabia. H., "Oilwell Drilling Engineering: Principles & Practices", Graham & Trotman, Oxford, UK, 1985.

4. Azar J.J., "Drilling in Petroleum Engineering", Magcobar Drilling Fluid Manual.

5. nn., "Drilling", SPE Reprint Series no. 6a., SPE of AIME, Dallas-Texas, 1973.

6. Bourgoyne A.T. et.al., "Applied Drilling Engineering", First Printing Society of Petroleum Engineers, Richardson TX, 1986.

7. Moore P.L., "Drilling Practices Manual", Penn Well Publishing Company, Second Edition, Tulsa-Oklahoma, 1986.

8. Gorman, "The Petroleum Industry : Drilling Equipment and Operations", Third Edition, Smith International Inc. Dallas - Texas, 1982.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Bab III Peralatan Pemboran

3.1. Pendahuluan Pada operasi pemboran, biasanya peralatan yang dipakai dibagi ke dalam beberapa sistem. Pembagian sistem-sistem yang umum dilakukan oleh orang- orang di industri perminyakan adalah sebagai berikut:

a. Sistem pengangkat (Hoisting System)

b. Sistem pemutar (Rotating System)

c. Sistem sirkulasi (Circulating System)

d. Sistem daya (Power System)

e. Sistem pencegah sembur liar (BOP System)

Sistem-sistem di atas mempunyai hubungan yang erat antara yang satu dengan lainnya. Sistem-sistem tersebut saling tergantung satu dengan lainnya.

3.2. Sistem Pengangkat (Hoisting System) Fungsi dari hoisting system adalah untuk menyediakan fasilitas dalam mengangkat, menahan dan menurunkan drillstring, casing string dan perlengkapan bawah permukaan lainnya dari dalam sumur atau ke luar sumur. Komponen-komponen utama dari hoisting system (lihat Gambar 3.1) adalah :

1. Derrick dan substructure 2. Block dan tackle 3. Drawwork

1. Derrick dan substructure 2. Block dan tackle 3. Drawwork Gambar 3.1. Hoisting System Components Dua

Gambar 3.1. Hoisting System Components

Dua jenis kegiatan rutin yang sering menggunakan peralatan hoisting system pada saat operasi pemboran adalah:

1. Menyambung rangkaian string (making connection). Melaksanakan penyambungan berhubungan dengan proses penambahan sambungan baru pada drillpipe untuk penembusan yang makin dalam. Proses ini dapat dilihat pada (Gambar 3.2).

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.2. Making Connection 2. Mencabut dan

Gambar 3.2. Making Connection

2. Mencabut dan menurunkan rangkaian string (tripping out dan tripping in). Kegiatan ini meliputi proses pencabutan drillstring dari lubang bor untuk mengganti kombinasi peralatan yang digunakan dibawah permukaan (Bottom Hole Assembly) dan kemudian menurunkan rangkaian string kembali ke dalam sumur pemboran. Kegiatan ini biasanya dilakukan untuk mengganti bit yang sudah mulai tumpul. Proses ini dapat dilihat pada (Gambar 3.3).

mulai tumpul. Proses ini dapat dilihat pada (Gambar 3.3). Gambar 3.3. Making Trip 3.2.1. Derrick atau

Gambar 3.3. Making Trip

3.2.1. Derrick atau Portable Mast dan Substruktur Fungsi dari derrick adalah menyediakan ruang ketinggian vertikal yang diperlukan untuk mencabut pipa dari atau menurunkan ke sumur. Semakin tinggi derrick, semakin panjang rangkaian pipa yang dapat ditangani, sehingga semakin cepat pipa yang panjang dapat dimasukkan atau dikeluarkan dari lubang bor. Panjang pipa yang umum digunakan adalah berkisar antara 27 dan 30 ft. Kemampuan derrick untuk menangani panjang rangkaian pipa sering disebut dengan stand, yang tersusun dari dua, tiga atau empat sambungan drillpipe, yang sering disebut juga dengan kemampuan menarik doubles, thribbles atau fourbles. Dalam penambahan ketinggian, kemampuan derrick ditentukan berdasarkan kemampuan menahan beban kompresif dan beban angin. Beban angin yang diijinkan ditentukan dari rangkaian drillstring di lubang bor dan rangkaian drillstring yang disandarkan pada salah satu sisi derrick. Bila drillstring disandarkan pada

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

salah satu sisi dari derrick, momen penggulingan (overturning moment) harus dikenakan pada titik tersebut. Beban angin harus dihitung dengan asumsi beban angin searah dengan momen penggulingan. Anchored guy wires ditarik dari masing- masing kaki derrick untuk meningkatkan ketahanan rig dari beban rig. API mengembangkan klasifikasi ukuran untuk derrick (Gambar 3.4), sedangkan spesifikasinya diringkas dalam Tabel 3.1. Data dalam Tabel 3.1 juga dapat digunakan untuk menghitung beban angin pada derrick.

dapat digunakan untuk menghitung beban angin pada derrick. Gambar 3.4 Klasifikasi Ukuran Derrick Tabel-3.1. Dimensi

Gambar 3.4 Klasifikasi Ukuran Derrick

Tabel-3.1. Dimensi Ukuran Derrick

Derrick

Height (A)

Normal Base

Pipe

Total

 

Pipe

Wing Load

Size

Square (B)

Size

Length,

Weight

Area

No10

ft

in

ft

in

(in)

Ft

Lb/ft

ft

10

80

0

20

0

2

7/8

9.200

1

6.5

264

11

87

0

20

0

2

7/8

9.200

1

6.5

264

12

94

0

24

0

2

7/8

9.200

1

6.5

264

16

122

0

24

0

4

½

4.500

2

18.5

353

18

136

0

26

0

4

½

10.800

3

18.5

510

18A

136

0

30

0

 

5

8.900

4

22.5

510

19

146

0

30

0

 

5

5.000

5

22.5

558

20

147

0

30

0

 

5

5.000

5

22.5

558

25

189

0

37

6

 

5

20.000

6

22.5

810

Dimensi-dimensi umum ukuran-ukuran derricks (Courtesy API Oppsit Drilling Engineering)

1. 132 stands 12 stands x 11 stands)

 

2. 48 stands (6 stands x 8 stands)

 

3. 110 stands (10 stands x 11 stands)

 

4. 90 stands (9 stands x 10 stands)

 

5. 160 stands

 

6. 148 stands

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Derrick dan substruktur harus mampu menahan beban yang diberikan oleh berat pipa pada block ditambah sebagian dari drilpipe yang disandarkan pada derrick. Bila rangkaian casing yang berat dipasang, maka beberapa drillpipe kemungkinan perlu untuk disingkirkan agar kapasitas pembebanan pada derrick sesuai dengan kemampuannya. Total kekuatan pada derrick tidak dibagi secara merata pada tiap kaki dari empat kaki derrick yang ada (lihat Gambar 3.5). Tegangan fast line dibagikan merata antara kaki-kaki C dan D karena drawwork diletakkan antara kaki-kaki tersebut. Tegangan dead line sering memakai 1 kaki karena dead line anchor dekat salah satu kaki.

1 kaki karena dead line anchor dekat salah satu kaki. Gambar 3.5. Distribusi Kekuatan pada Kaki-kaki

Gambar 3.5. Distribusi Kekuatan pada Kaki-kaki Rig

3.2.1.1. Rig Floor Fungsinya menyediakan ruang kerja di bawah lantai rig untuk pressure control valve yang disebut juga blowout preventers, lantai rig biasanya lebih tinggi dari permukaan tanah dengan menempatkan substructure. Substructure harus dapat menopang beban rig dan beban dari semua peralatan yang ada di atas lantai rig. API Bull. D10 menyarankan kekuatan substructure dalam menyokong beban tergantung pada :

1. Beban pipa maksimum yang dapat diturunkan dan ditarik oleh rig.

2. Berat maksimum pipa yang dapat digantung pada rotary table (terlepas dari beban penurunan dan penarikan pipa)

3. Beban sudut (corner load), maksimum beban yang dapat didukung oleh

masing-masing sudut dari substructure. Secara umum desain dari ketinggian substructure ditentukan dari ketinggian blowout preventer dan kondisi tanah di daerah tersebut.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.6. Rig Floor Istilah-istilah di Rig

Gambar 3.6. Rig Floor

Istilah-istilah di Rig Floor:

1. Rotary Table: Peralatan yang berfungsi untuk memutar dan menggantung drill string (drill pipe, drill collar dsb) yang memutar bit di dasar sumur.

2. Rotary Drive: Peralatan yang berfungsi untuk meneruskan daya dari drawworks ke rotary table

3. Drawwork: mekanisme hoisting system pada rotary drilling rig

4. Driller console (Gambar 3.7): Panel Pusat instrumentasi dari rotary drilling rig. Panel ini digunakan untuk mengontrol proses yang terjadi dalam setiap sub-bagian-bagian utama. Meteran-meteran pada panel biasanya memberikan informasi tentang:

a. Mud Pump

b. Pump Pressure

c. Rotary Torque

d. Rotary Speed

e.Tong Torque

f. Weight Indicator

c. Rotary Torque d. Rotary Speed e.Tong Torque f. Weight Indicator Gambar 3.7. Driller Console 44

Gambar 3.7. Driller Console

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

5. Drillpipe tong: Peralatan berupa kunci besar yang dipakai untuk memutar bagian-bagian drill pipe, drill colar, casing dsb dan untuk menyambung dan melepas bagian-bagian drill string.

dan untuk menyambung dan melepas bagian-bagian drill string. Gambar 3.8. Drillpipe Tong 6. Mouse hole: Lubang

Gambar 3.8. Drillpipe Tong

6. Mouse hole: Lubang berselubung di samping rotary table di lantai rig untuk meletakan drill pipe, untuk disambungkan ke kelly dan drill steam.

7. Rat hole: Lubang berselubung di samping derick atau mast di rig floor untuk meletakkan kelly pada saat triping in maupun triping out.

8. Dog House: Ruangan kecil yang digunakan sebagai pos driller dan untuk menyipan alat-alat kecil lainnya.

9. Pipe Ramp (V ramp) : Lereng miring disisi atas substructure dimana pipa diletakkan sebelum diangkat ke rig floor

10. Catwalk: Jembatan di antara pipe rack di dasar pipe ram di samping rig dimana pipa diletakkan sebelum ke pipe ram.

11. Hydraulic Cat Head: Peralatan yang digunakan untuk menyambung atau melepas sambungan bila drill pipe atau drill collar akan ditambahkan atau dikurangkan dari drill steam sewaktu proses triping.

3.2.1.2. Rig Rig merupakan gabungan dari derrick dan substructure. Secara garis besarnya, rig dapat dikatagorikan menjadi tipe rig dengan kedudukan yang tetap (fixed) dan tipe rig yang dapat bergerak (moveable). Kategori dari rig ditunjukkan oleh Gambar 3.9.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.9. Klasifikasi Rig 3.2.1.2.1. Cable tool

Gambar 3.9. Klasifikasi Rig

3.2.1.2.1. Cable tool rig Rig ini merupakan jenis rig yang pertama kali digunakan dalam sejarah pengeboran minyak bumi. Cable tool rig pernah digunakan untuk mengebor sekitar 20 % dari sumur di Amerika Tengah sampai dengan tahun 1961. Sekarang cable tool rig sudah jarang digunakan.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.10. Cable Tool Rig Pengeboran dengan

Gambar 3.10. Cable Tool Rig

Pengeboran dengan menggunakan cable tool rig dilakukan dengan menggunakan special bit, seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.11. Komponen utama cable tool drilling terdiri atas drillstring, bit, drilstem jar dan rope socket, yang digantung pada line atau kabel pemboran. Dalam pemboran ini tidak ada sirkulasi lumpur, karena cutting diangkat dengan menggunakan bailer setelah bitnya dinaikkan.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.11. Bit Untuk Cable Tool Rig

Gambar 3.11. Bit Untuk Cable Tool Rig

Cable tool rig memiliki batasan sampai ke kedalaman 5000 ft. Sekarang ini penggunaannya sudah sangat jarang, terkecuali untuk sumur-sumur completion dan pengeboran dangkal seperti pengeboran air.

3.2.1.2.2. Land rig Yang termasuk land rig antara lain standard rig, truck yang dilengkapi dengan derrick, atau komponen rig.

3.2.1.2.3. Standard derrick Tipe rotary rig yang dahulu sering digunakan adalah standard derrick. Standard derrick dipasang pada kedudukan rig (cellar) sebelum pengeboran, dan kemudian dapat dibongkar dan dipindahkan ke lokasi pemboran berikutnya. Rig standar juga dapat digunakan dalam kegiatan work over. Berbeda dengan cable tool rig, standard derrick dapat didesain kekuatan dan ketinggiannya sesuai dengan yang diperlukan operasi pemboran. Ketinggian derrick diperlukan dalam pemasangan joint-joint casing ataupun pipa-pipa panjang yang terdiri atas 2, 3, atau 4 joint drill pipe.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.12. Standard Derrick 3.2.1.2.4. Portable rig

Gambar 3.12. Standard Derrick

3.2.1.2.4. Portable rig Rig jenis ini biasanya dipasangkan pada satu unit truck khusus seperti yang ditunjukan pada Gambar 3.13. Spesifikasi dari rig portable ini diberikan pada standard API 4 D. Perhitungan pengaruh angin dan kapasitas beban maksimumnya sama seperti perhitungan bagi standard rig.

beban maksimumnya sama seperti perhitungan bagi standard rig. Gambar 3.13. Portable Truck Mounted Rig System of

Gambar 3.13. Portable Truck Mounted Rig

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Portable rig memiliki beberapa keuntungan, seperti :

Mudah menaikkan dan menurunkan rig

Biaya operasional yang lebih murah Rig jenis ini biasanya digunakan dalam operasi work over. Apabila digunakan dalam pemboran, rig ini dapat mengebor sampai kedalaman 10,000 ft , dan dapat digunakan selama 8, 12, atau 24 jam /hari.

3.2.1.2.5. Conventional rig

Rig ini memiliki komponen-komponen yang besar sehingga tidak dapat

dibawa dalam satu truck

sampai 35,000 ft serta dapat dioperasikan selama 24 jam/hari (lihat Gambar

3.14).

Conventional rig memiliki variasi kedalaman 6,000

3.14). Conventional rig memiliki variasi kedalaman 6,000 Gambar 3.14. Rig Pemboran Konvensional 6 ) Rig ini

Gambar 3.14. Rig Pemboran Konvensional 6)

Rig ini mampu mengangkat sampai 3 jont pipa atau satu stand. Spesifikasi rig ini ditunjukkan dalam (Tabel 3.2). Spesifikasi rig biasanya dilengkapi dengan skema susunan dari rig, juga cara dan bagaimana melengkapi rig sebagaimana mestinya, sedangkan posisi rig dapat dipersiapkan seperti pada (Gambar 3.15).

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 3.2. Spesifikasi Rig Konvensional

Drawworks

 
 

Continental-Emsco C-1 type III, 1,500 hp

Grooved for 1 3/8” drill line

Baylor 6032 dynamatic brake

Derrict

 

Ideco Fullview

143 ft high

750.000 lb static hook load

Substructure

 
 

Modified Ideco

 

21 ft high

700.000-lb casing capacity simultaneous with 400.000 lb setback capacity

Power Source

 
 

3

Caterpillar D398-TA (diesel)

 

2,592 hp

Pumps

 

1 National 10P-130, 1,300 hp

1 Gardner-Denver KXG, 1,000 hp

1 High volume-low pressure mud mixing system

Drillstring

 
 

Drillpipe – 4 ½ ” OD various weights and grades

High tensile strength drillpipe available

Standard size collars available through 9 in

Preventers (H 2 S Trim)

 

1 13 5/8-in. GL 5000 Hydril, annular

2 13 5/8 in type V 5000 Hydril, single gate

Koomey closing unit, 120-gal capacity, air and electric, 6-station accumulator with remote control

1

1

Lynn International choke and kill manifold, 4 in. x 2 in. x 5000 psi W.P

Other Equipment

 
 

Crown block Ideco seven 52-in. sheaves, 400-ton capacity

Traveling block Continental-Emsco RA526, 6-55-in. sheaves, 400-ton capacity

Hook Byron Jackson 4300

Bunk house 12 ft x 50 ft,wheeled, air conditioned

Crown-O-Matic

Desander Swaco, six 6-in. cones, 1,200 gpm

Desilter degasser, twelve 4-in.cones

Drillpipe spinning wrench Varco

Drilling Recorder

Kelly spinner Fastway

Light plants two Caterpillar 135 kw, 110/220 v AC

Lights Rig-A-Lite, vaporproof

Mud tanks 3 tanks system with mud agitators

Radio Motorola, 100 watt, FM

Raotary table Continental-Emsco, 27 ½ in.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Shale shaker – Brandt dual standard Swivel – National type R
Shale shaker – Brandt dual standard Swivel – National type R

Shale shaker Brandt dual standard

Swivel National type R

– Brandt dual standard Swivel – National type R Gambar 3.15. Skema Posisi Rig 3.2.1.2.6. Marine

Gambar 3.15. Skema Posisi Rig

3.2.1.2.6. Marine rig Rig pemboran yang digunakan di offshore disebut marine rig. Rig-rig marine dapat dikatagorikan sebagai berikut:

a. Barge Pengeboran dengan menggunakan barge terbatas untuk kedalaman air 8 - 20 ft (lihat Gambar 3.16). Barge ditarik ke lokasi dan dipancangkan pada dasar air. Setelah pengeboran selesai rig dapat dipindahkan ke lokasi berikutnya. Barge pada umumnya dirancang selengkap mungkin, yang terdiri atas rig pengeboran, tempat tidur untuk pekerja dengan fasilitas sebaik mungkin. Selain itu terdapat kapal-kapal untuk mengangkut pekerja dari dan ke pelabuhan terdekat dan untuk emergency pekerjanya. Barge tidak dapat digunakan bila tinggi gelombang lebih dari 5 ft.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.16. Drilling Barge b. Jack Up

Gambar 3.16. Drilling Barge

b. Jack Up Rig jackup memungkinkan pemakaian yang luas di laut untuk pemboran eksplorasi. Secara prinsip komponen-komponennya sama seperti unit tipe barge, dan mempunyai 3 sampai 5 kaki-kaki yang menunjang vessel. Rig ini memiliki kapal yang stand by untuk maksud keamanan (lihat Gambar 3.17). Keistimewaan dari jackup ini adalah kaki-kakinya yang bisa dinaikturunkan . Setiap kaki bisa ditanamkan atau ditambatkan ke suatu tempat yang bisa menunjang pada dasar laut (lihat Gambar 3.18). Rig ini dirancang untuk kedalaman minimum air 13 - 25 ft dan maksimum pada kondisi khusus, yaitu antara 250 - 350 ft. Maksimum kedalaman operasi ditentukan oleh kondisi cuaca, misalnya suatu jackup yang didesain untuk kedalaman operasi maksimum 300 ft, mempunyai batasan operasi antara 203 - 210 ft. Rig-rig jackup dipisahkan berupa slot atau cantilever rig tergantung pada pemakaian dan persyaratan yang diperlukan cantilever (lihat Gambar 3.19). Jembatan-jembatan rig dapat diletakan jauh atau dekat de ngan sumur, sedangkan menara ditempatkan pada tiang cantilever (lihat Gambar 3.20), sehingga barge dapat bergerak dengan bebas dan bisa ditempatkan di luar lokasi sumur.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.17. Jack Up Rig Gambar 3.18.

Gambar 3.17. Jack Up Rig

Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.17. Jack Up Rig Gambar 3.18. Bantalan Penunjang Jack Up

Gambar 3.18. Bantalan Penunjang Jack Up Rig

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.19. Slot Type Jackup Rig System

Gambar 3.19. Slot Type Jackup Rig

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.20. Menara Rig c. Platform rigs

Gambar 3.20. Menara Rig

c. Platform rigs Platform rigs adalah platform yang digunakan untuk mengebor beberapa lubang sumur. Beberapa sumur yang dibor secara miring dari satu platform menuju reservoir yang produktif akan lebih banyak mengurangi biaya dibandingkan dengan satu sumur vertikal dalam satu sumur. Gambar dari platform rigs dapat dilihat pada (Gambar 3.21).

Gambar dari platform rigs dapat dilihat pada (Gambar 3.21). Gambar 3.21. Rig Flatform d. Drill ship

Gambar 3.21. Rig Flatform

d. Drill ship Dalam usaha pengeboran dalam laut yang terlalu dalam, penggunaan rig yang ditunjang dari dasar tidak bisa dilakukan. Karena itu kemudian dilakukan pengeboran dengan menggunakan drill ship atau kapal

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

pengeboran. Rig ini tidak dibatasi oleh kedalaman air dalam pengoperasiannya. Ada dua tipe drilling ship yang memiliki perbedaan karakteristik, dan harus diperhatikan dalam pemilihan rig tersebut. Drillship yang memakai tipe vessel kapal sebagai struktur utama untuk penunjang rig (lihat Gambar 3.22).

struktur utama untuk penunjang rig (lihat Gambar 3.22). Gambar 3.22. Drillship Kini telah dikembangkan vessel baru

Gambar 3.22. Drillship

Kini telah dikembangkan vessel baru untuk pengeboran yang dapat digerakan sendiri, atau diperlukan kapal laut untuk transportasinya.

e. Semi submersible Unit pemboran semisubmersible (lihat Gambar 3.23.) merupakan vessel yang dirancang khusus untuk dipakai hanya dalam operasi perminyakan, yang memiliki kesetimbangan maksimum agar rig tetap stabil dan lebih mampu mengatasi gelombang yang besar dibandingkan dengan kapal- kapal vessel biasa.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.23. Rig Semisubmersible 3.2.2. Block dan

Gambar 3.23. Rig Semisubmersible

3.2.2. Block dan Tackle Block dan tackle terdiri dari:

1. Crown block: katrol-katrol yang diam terletak di atas mast atau derick.

2. Traveling block: katrol-katrol yang bergerak tempat melilitkan drilling line. Hal ini memungkinkan traveling block bergerak naik dan turun sambil tergantung di bawah crown block dan di atas rig floor (Gambar 3.24).

di bawah crown block dan di atas rig floor (Gambar 3.24). Gambar 3.24. Traveling Block 3.

Gambar 3.24. Traveling Block

3. Drilling line: Tali kawat baja yang berfungsi menghubungkan semua komponen dalam hoisting system. Tali ini dililitkan secara bergantian melalui katrol pada crown block dan traveling block kemudian digulung pada rotating drawwork

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

drum (Gambar 3.25).Drilling line menghubungkan drawwork dan dead line anchor.

line menghubungkan drawwork dan dead line anchor. Gambar 3.25. Drilling Line Salah satu jenis dari drilling

Gambar 3.25. Drilling Line

Salah satu jenis dari drilling line adalah wire rope. Wire rope dibuat dari carbon steel yang didinginkan dengan cepat dan mempunyai variasi ukuran dan kekuatan (lihat Tabel 3.3) API mengklasifikasikan ukuran wire rope sebagai berikut :

Extra Improved Plow Steel (EIPS)

Improved Plow Steel (IPS)

Plow Steel (PS)

Mild Plow Steel (MPS)

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 3.3. Jenis-Jenis Ukuran dan Konstruksi Wire Rope

Service and

 

Wire

Diameter

WireRope Description (Regular

Well Depth

Rope

(mm)

 

lay)

In

 

Rod and tubing pull lines

 

Shallow

½ - ¾ inci

(13 to 19)

x 25 FW or 6 x 26 WS or 6 x 31 WS or 18 x 7 or 19 x 7 PF, LL, IPS or EIPS, IWRC

6

Intermediate

¾ - 7/8

(19, 22)

inci

Deep

7/8 1 1/8 inci

(22 to 29)

 

Rod Hanger

1/4

(6.5)

6

x 19, PF, RL, IPS, FC

lines

Sand lines

Shallow

¼ , ½ inci

(6.5 to

 

13)

6

x 7 Bright or Galv, PF, RL, PS or

Intermediate

½

, 8/16

(13, 14.5)

IPS, FC

Deep

8/16 , 3/8

14.5, 16

Drilling lines-cable tool (drilling and cleanout)

 

Shallow

5/8 , ¾

(16.19)

 

Intermediate

¾

, 7/8

(19. 22)

x 21 FW, PF or NPF, RL or LL, PS or IPS, FC

6

Deep

7/8 , 1

(22.26)

Casing lines-cable tool

 

Shallow

3/4 , 7/8

(19.22)

 

Intermediate

7/8 , 1

(22.26)

6

x 25 FW, PF, RL, IPS, FC or

Deep

1

, 1 1/8

(26.29)

IWRC

 

x 25 FW, PF, RL, IPS, or EIPS, IWRC

6

Drilling lines-coring and slim-hole rotary rigs

 

Shallow

7/8 , 1

(22.26)

6

x 25 FW, PF, RL, IPS, or

Intermediate

1

, 1 1/8

(26.29)

EIPS,IWRC

 

x 19 S or 6 x 26 WS, PF, RL, IPS or EIPS, IWRC

6

Drilling lines-large rotary rigs

 

Shallow

1

, 1 1/8

(26.29)

 

Intermediate

1

1/8 , 1

(29.32)

6

x 19 S or 6 x 21 S or 6 x 25 FW,

¼

PF, RL, IPS or EIPS, IWRC

Deep

¼, 1 ¾ inci

1

(32.45)

Winch lines-

5/8 - 7/8 inci

(16 to 22)

6

x 26 WS or 6 x

31 WS, PF, RL,

heavy duty

IPS or EIPS, IWRC

 

7/8 1 1/8 inci

22 to 29)

x 36 WS, PF, RL, IPS or EIPS, IWRC

6

Horsehead pumping-unit lines

 

Shallow

½

- 1 1/8

(13 to 29)

x 19 class or 6 x 37 class or 19 x 7, PF, IPS, FC or IWRC

6

inci

Intermediate

5/8 1 1/8 inci

(16 to 29)

6

x 19 class or 6 x 37 class, PF,

IPS, FC or IWRC

Offshore

7/8 2 ¾

(22 to 70)

6

x 19 class, bright or galv., PF, RL,

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

anchorager

onci

 

IPS or EIPS, IWRC

Lines

3/8 4 ¾ inci

1

(35 to

122)

x 37 class, bright or galv., PF, RL, IPS or EIPS, IWRC

6

 

¾ - 4 ¾ inci

3

(96 to

122)

x 61 class, bright or galv., PF, RL, IPS or EIPS, IWRC

6

Mast raising

1

3/8 and

(thru 35)

x 19 class PF, RL, IPS or EIPS, IWRC

6

lines

smaller

 

1

½ and

(38 and

x 37 class PF, RL, IPS or EIPS, IWRC

6

larger

up)

Guideline

¾

(19)

x 25 FW, PF, RL, IPS or EIPS, IWRC

6

tensioner line

Riser

1

½ , 2

(38,51)

Wire Rope description (lang lay)

tensioner

6

x 36 WS or 6 x 41 WS or 6 x 41

lines

FW or 6 x 49 FW, S, PF, RL, IPS or EIPS, IWRC

Abbreviation:

WS

: Warrington Seale

S

: Seale

FW : Filler wire

PS

: Plow steel

IPS

: Omproved plow steel

EIPS: Extra improved plow steel

PF : Preformed NPF : Nonpreformed RL : Right lay

LL

FC : Fiber core IWRC : Independent wire rope core

: Left lay

Pada umumnya EIPS dan IPS yang mempunyai kekuatan tinggi digunakan saat ini untuk drilling line. Elemen utama dari wire rope adalah kawat-kawat tunggal. Lembaran-lembaran kawat diuntai di sekeliling inti dari wire rope. Inti dapat dibuat dari tali fiber, plastik, baja, atau kawat tunggal. Wire rope umumnya dibagi dari bentuk inti dan jumlah dari simpul yang membungkus di sekitar inti, sedang simpul terdiri dari beberapa kawat tunggal. (Gambar 3.26) Arah dari tali dapat dibagi berdasarkan simpul yang melingkari inti dan kemiringan dari kawat simpul-simpul tersebut (lGambar 3.27). Simpul-simpul arahnya dapat ke kanan atau ke kiri. Kawat-kawat bebas arahnya dapat regular maupun lang. Panjang dari lang biasanya 7,25 - 8 kali diameter nominal.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.26. Jenis Konstruksi Wire Rope Gambar

Gambar 3.26. Jenis Konstruksi Wire Rope

R.S., ITB 2009 Gambar 3.26. Jenis Konstruksi Wire Rope Gambar 3.27. Arah Simpul dari Wire Rope

Gambar 3.27. Arah Simpul dari Wire Rope

Kekuatan nominal dari tali tergantung dari material yang digunakan untuk membuat tali tersebut, jumlah dari simpul-simpul dan kawat-kawat, ukuran dari tali. API memberikan Tabel-Tabel untuk kekuatan pecah dari bermacam- macam tali kawat (lihat Tabel 3.4)

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Tabel 3.4. Kekuatan dari beberapa Jenis
Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB
2009
Tabel 3.4. Kekuatan dari beberapa Jenis Wire Rope
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Nominal
Approx
Normal Strenth
Diameter
Mass
Improved Plow Steel
Extra Improved Plow Steel
in
mm
Lb/f
Kg/
lb
kN
Metric
lb
kN
Metric
t
m
Tonn
Tonnes
es
½
13
0.46
0.68
23.000
102
10.4
26.600
118
12.1
9/1
14.5
0.59
0.88
29.000
129
13.2
33.600
149
15.2
6
5/8
16
0.72
1.07
35.800
159
16.2
41.200
183
18.7
¾
19
1.04
1.55
51.200
228
23.2
58.800
262
26.7
7/8
22
1.42
2.11
69.200
308
31.4
79.600
354
36.1
1
26
1.85
2.75
89.800
399
40.7
103.400
460
46.9
1
29
2.34
3.48
113.000
503
51.3
130.000
578
59.0
1/8
1
¼
32
2.89
4.30
138.800
617
63.0
159.800
711
72.5
1
35
3.50
5.21
167.000
743
75.7
192.000
854
87.1
3/8
1
½
38
4.16
6.19
197.800
880
89.7
228.000
1010
103
1
42
4.88
7.26
230.000
1020
104
264.000
1170
120
5/8
1
¾
45
5.67
8.44
266.000
1180
121
306.000
1360
139
1
48
6.50
9.67
304.000
1350
138
348.000
1550
158
7/8
2
51
7.39
11.0
344.000
1530
156
396.000
1760
180
2
54
8.35
12.4
384.000
1710
174
442.000
1970
200
1/8
2
¼
57
9.36
13.9
430.000
1910
195
494.000
2200
224
2
61
10.4
15.5
478.000
2130
217
548.000
2440
249
3/8
2
½
64
11.6
17.3
524.000
2330
238
604.000
2880
274
2
67
12.8
19.0
576.000
2560
261
662.000
2940
300
5/8
2
¾
70
14.0
20.8
628.000
2790
285
722.000
3210
327
2
74
15.3
22.8
682.000
3030
309
784.000
3490
356
7/8
3
77
16.6
24.7
740.000
3290
336
850.000
3780
386
3
80
18.0
26.8
798.000
3550
362
916.000
4070
415
1/8
3
¼
83
19.5
29.0
858.000
3820
389
984.000
4380
446
3
86
21.0
31.3
918.000
4080
416
1.058.00
4710
480
3/8
0
3
½
90
22.7
33.8
982.000
4370
445
1.128.00
5020
512
0

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

3 ¾

96

26.0

38.7

1.114.0

4960

505

1.282.00

5700

582

00

0

4

103

29.6

44.0

1.254.0

5580

569

1.440.00

6410

653

00

0

Sebagai contoh, kekuatan nominal dari kawat ukuran 1 3/8 ", 6 x 37 untuk jenis 1 WRC adalah 192.000 lb.

4. Hook: Peralatan berbentuk kait yang besar yang terletak di bawah traveling block untuk menggantungkan swipel dan drill steam selama proses pemboran berlangsung.

5. Elevator: Suatu penjepit yang sangat kuat yang memegang drill pipe dan drill collar bagian demi bagian sehingga dapat dimasukkan dan dikeluarkan dari dan ke dalam lubang bor(Gambar 1-28 & 1-29). Elevator ini digantung oleh

elevator link yang diikatkan pada bagian pinggir dari traveling block atau hook. Ada dua tipe dasar dari elevator yaitu :

: digunakan untuk memegang drill pipe.

Bottle - neck

Collar lift

: digunakan untuk memegang drill collar.

 Bottle - neck  Collar lift : digunakan untuk memegang drill collar. Gambar 3.28. Elevator

Gambar 3.28. Elevator

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.29. Posisi Elevator Rangkaian dan susunan

Gambar 3.29. Posisi Elevator

Rangkaian dan susunan dari block dan tackle seperti terlihat pada (Gambar 3.30). Fungsi utama dari block dan tackle adalah memberikan keuntungan mekanik, sehingga mempermudah penanganan beban-beban berat.

mekanik, sehingga mempermudah penanganan beban-beban berat. Gambar 3.30. Rangkaian Block dan Tackle 3.2.3. Drawwork

Gambar 3.30. Rangkaian Block dan Tackle

3.2.3. Drawwork

Drawwork adalah suatu peralatan mekanik yang merupakan otak dari derrick. Fungsi dari drawwork yaitu :

1. Merupakan pusat pengontrol bagi driller yang menjalankan operasi pemboran.

2. Merupakan rumah dari gulungan drilling line.

3. Meneruskan daya dari prime mover ke drill string ke rotary drive sprocket, ke catheads. Drawwork menyediakan daya untuk mengangkat dan menurunkan beban yang

berat. Bagian utama dari drawwork adalah (lihat Gambar 3.31):

1. Drum: Peralatan yang berfungsi untuk menggulung atau mengulur drilling line.

2. Brake, Terdiri dari:

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Main mechanical brake, suatu peralatan yang paling penting dari hoisting system. Alat ini mempunyai kemampuan untuk membuat seluruh beban kerja betul-betul berhenti, seperti pada saat tripping ataupun menurunkan casing. Bila beban berat diturunkan, maka main brake secara hidrolik atau elektrik akan membantu meredam sejumlah besar energi yang timbul akibat massa yang dimiliki oleh travelling block, hook, drill pipe, drill collar atau casing.

Auxiliary Brake, suatu peralatan hidrolis yang membantu meringankan tugas mechanical brake. Alat ini tidak dapat memberhentikan proses pemboran seluruhnya.

3. Transmisi

4. Cat head:

Merupakan sub-bagian dari drawwork yang terdiri dari

a. Drum atau make-up cat head

b. Break out cat head.

Cat head digunakan untuk menyambung dan melepas sambungan walaupun demikian tugas yang lebih umum adalah untuk mengangkat peralatan yang ringan dengan catline. Pada rig moderen fungsi cat head digantikan oleh

automatic cat head dan air-powered hoist (Gambar 3.32).

oleh automatic cat head dan air-powered hoist (Gambar 3.32). Gambar 3.31. Drawworks dan Braking System 66

Gambar 3.31. Drawworks dan Braking System

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.32. Cathead 3.3. Sistem Sirkulasi (Circulating

Gambar 3.32. Cathead

3.3. Sistem Sirkulasi (Circulating System) Fungsi utama dari sistem sirkulasi adalah mengangkat serpihan cutting dari dasar sumur kepermukaan. Skema dari sistem sirkulasi dapat dilihat pada (Gambar 3.33). Fluida pemboran umumnya berupa suspensi dari clay dan material lainya dalam air yang sering disebut dengan lumpur pemboran.

material lainya dalam air yang sering disebut dengan lumpur pemboran. Gambar 3.33. Circulating System System of

Gambar 3.33. Circulating System

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Aliran dari fluida pemboran melewati :

1. Dari steel tanks ke mud pump

2. Dari mud pump ke high-pressure surface connection dan ke drillstring

3. Dari drillstring ke bit

4. Dari nozzle bit ke atas ke annulus lubang dengan drillstring sampai ke permukaan

5. Masuk ke contaminant-removal equipment dan kembali ke suction tank

Peralatan utama dari circulating system adalah :

1. Mud pumps: Berfungsi untuk memompa fluida pemboran dengan tekanan tinggi. Ada dua macam mud pump yaitu : Duplex dan triplex. Perbedaan utamanya adalah dalam jumlah torak dan cara kerjanya (Gambar 3.34).

adalah dalam jumlah torak dan cara kerjanya (Gambar 3.34). Gambar 3.34. Mud Pump 2. Mud pits:

Gambar 3.34. Mud Pump

2. Mud pits: Suatu kolam tempat lumpur sebelum disirkulasikan.Sistem pit dan susunan dari peralatan yang menangani lumpur di atas pit dirancang atas pertimbangan drilling engineer.Biasanya rig mempunyai dua atau tiga pit dengan ukuran lebar 8 - 12 ft, panjang 20 - 40 ft dan tinggi 6 - 12 ft. Volumenya berkisar antara 200 - 600 bbl.Pada operasi-operasi di offshore dapat ditambahkan 1 - 3 pit untuk penyimpanan kelebihan lumpur dan untuk lumpur yang mempunyai densitas tinggi.Salah satu bentuk susunan dari pit tanpa variasi dari macam- macam peralatan pengontrol solid ditunjukkan pada Gambar 3.35.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.35. Sistem Pit Pit pertama dilengkapi

Gambar 3.35. Sistem Pit

Pit pertama dilengkapi peralatan pengontrol solid. Dahulu pit kedua dipakai untuk tempat mengendapkan solid, walaupun ada perhitungan-perhitungan yang menunjukkan bahwa kebanyakan solid dalam lumpur tidak akan mengendap mengingat waktu yang dibutuhkan untuk mengalirkan lumpur relatif singkat. Kini pit kedua dilengkai beberapa peralatan pengontrol solid bila pit yang tersedia sejajar. Pada pit terakhir dilengkapi oleh pipa-pipa isap dan slugging pit untuk persiapan lumpur berat yang digunakan sebelum tripping dan pipa-pipa untuk memasukkan chemical treatment. Pit-pit mempunyai sistem pengaduk yang memutar lumpur untuk mengurangi barite atau mengendapkan solid. Umumnya ada dua jenis pengaduk yaitu :

i. Perputaran kipas yang ditenggelamkan dan digerakkan masing-masing oleh motor listrik.

ii. Pompa centrifugal dengan gerakan jet dan lumpur yang ditembakkan untuk memecah viskositas yang tinggi dari lumpur di dalam lumpur. (lihat Gambar

3.36)

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.36. Pengaduk Lumpur di Pit 3.

Gambar 3.36. Pengaduk Lumpur di Pit

3. Mud mixing equipment: Suatu peralatan yang berfungsi untuk mencampurkan bahan-bahan atau material pada lumpur dengan menggunakan mixing hopper. Mixing Hopper : Peralatan berbentuk corong yang dipakai untuk menambahkan bahan-bahan padat ke dalam fluida pemboran pada saat treatment di dalam mud pit (Gambar 3.37).

pemboran pada saat treatment di dalam mud pit (Gambar 3.37). Gambar 3.37. Mixing Hopper 4. Contaminant

Gambar 3.37. Mixing Hopper

4. Contaminant removal : Suatu perlatan yang berfungsi untuk membersihkan fluida pemboran yang keluar dari lubang sumur setelah disirkulasikan, terdiri dari (Gambar 3.38):

a. Mud gas Separator, berfungsi untuk memisahkan gas-gas dari fluida pemboran

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

b. Shale shaker, berfungsi untuk memisahkan cutting berukuran besar dari fluida pemboran.

c. Degasser, berfungsi untuk memisahkan gas-gas dari fluida pemboran secara terus menerus.

d. Desander, berfungsi untuk memisahkan pasir dari fluida pemboran

e. Desilter, berfungsi untuk memisahkan partikel-partikel yang ukurannya lebih kecil dari pasir.

partikel-partikel yang ukurannya lebih kecil dari pasir. Gambar 3.38. Drilling Fluid Conditioning Area 3.4. Rotating

Gambar 3.38. Drilling Fluid Conditioning Area

3.4. Rotating System Rotary system termasuk semua peralatan yang digunakan untuk mentransmisikan putaran meja putar ke bit. Diagram dan rangkaian dari rotating system dapat dilihat pada (Gambar 3.39).

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.39. Rotating System Bagian utama dari

Gambar 3.39. Rotating System

Bagian utama dari rotary sistem adalah:

a. Swivel :

Swivel seperti terlihat pada (Gambar 3.40) berfungsi sebagai penahan beban drillstring dan bagian statis yang memberikan drillstring berputar. Swivel merupakan titik penghubung antara circulating system dan rotating system. Disamping itu juga sebagai penutup fluida dan menahan putaran selama diberikan tekanan.

system. Disamping itu juga sebagai penutup fluida dan menahan putaran selama diberikan tekanan. 72 System of

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.40. Basic Swivel Parts b. Kelly

Gambar 3.40. Basic Swivel Parts

b. Kelly :

Kelly adalah rangkaian pipa yang pertama di bawah swivel. Bentuk potongan dari kelly dapat berupa segi empat atau persegi enam sehingga akan mempermudah rotary table untuk memutar rangkain di bawahnya. Torsi ditransmisikan ke kelly melalui kelly bushing, yang terletak di dalam master bushing dari rotary table. Kelly harus dipertahankan tetap setegak lurus mungkin (Gambar 3.41).

rotary table. Kelly harus dipertahankan tetap setegak lurus mungkin (Gambar 3.41). Gambar 3.41. Kelly System of

Gambar 3.41. Kelly

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 3.5. Dimensi Kelly

   
     
 

Siz

Conectio

L

LD

DU

DFI

LU

DL

DF2

LL

 

d

 

DC

DE

Rc

R

 

e

 

n

   
 

Up

Lo

per

we

LH

r

bo

LH

x

bo

x

2

½

4

2

2

25

5

5

16

3

3

1/4

20

1

1/4

3

9/32

2

5/1

3

 

½

3/8

8

3/4

19/64

3/8

     

1/2

6

Re

IF

g

2

½

4

2

4

37

5

5

16

3

3

1/4

20

1

1/4

3

9/32

2

5/1

3

 

½

3/8

0

3/4

19/64

3/8

     

1/2

6

Re

IF

g

3

½

4

3

4

37

5

5

16

4

 

4

20

2

¼

 

4

3

1/2

3

 

½

½

0

3/4

19/64

3/4

31/64

 

17/32

1/2

Re

FH

g

3

½

4

3

4

37

5

5

16

4

 

4

20

2

¼

 

4

3

1/2

3

 

½

½

0

3/4

19/64

3/4

31/64

 

17/32

1/2

Re

IF

g

3

½

6

3

4

37

7

7

16

4

 

4

20

2

¼

 

4

3

1/2

3

 

5/8

½

0

3/4

21/64

3/4

31/64

 

17/32

1/2

Re

FH

g

4

¼

4

4

4

37

5

5

16

6

 

5

20

2

¾

5

9/16

4

1/2

2

 

½

½

0

3/4

19/64

17/32

   

1/4

Re

FH

g

4

¼

4

4

4

37

5

5

16

6

 

5

20

2

¾

5

9/16

4

1/2

2

 

½

½

0

3/4

19/64

1/8

17/32

   

1/4

Re

IF

g

4

¼

6

4

4

37

7

7

 

6

 

5

20

2

¾

5

9/16

4

1/2

3

 

5/8

½

0

3/4

21/64

17/32

   

1/4

Re

FH

g

 

5

6

5

4

37

7

7

16

7

 

6

20

3

¼

 

6

5

5/8

3

1/4

5/8

½

0

3/4

21/64

23/32

 

29/32

1/4

Re

FH

g

 

6

6

6

4

37

7

7

16

8

 

7

20

3

½

7 7/8

6

3/4

2

74

 

5/8

5/8

0

 

3/4

21/64

   

21/64

       

System of Units

 

Re

Re

g

g

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Kelly mempunyai ukuran standard yaitu panjang 40 ft dengan bagian penggeraknya 37 ft. Namun ada pula kelly dengan panjang 54 ft. Ukuran dari kelly dapat dilihat pada Tabel 3.5.

c. Rotary drive:

Peralatan yang berfungsi meneruskan daya dari drawworks ke rotary table

d. Rotary table:

Peralatan yang berfungsi untuk memutar dan dipakai untuk menggantung drill string (drill pipe, drill collar dsb) yang memutar bit di dasar sumur (Gambar 3.42, 3.43).Kelly bushing dan rotary bushing berfungsi untuk memutar kelly (lihat Gambar 3.44). Rotary bushing digerakan oleh prime mover lewat tenaga gabungan atau motor elektrik sedangkan kelly bushing didudukan di dalam rotary bushing dan ditahan oleh empat penjepit. Diameter dari kelly bushing berbentuk empat persegi atau hexagonal yang sesuai dengan kelly.

bushing berbentuk empat persegi atau hexagonal yang sesuai dengan kelly. Gambar 3.42. Rotary Bushing System of

Gambar 3.42. Rotary Bushing

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.43. Rotary Table Gambar 3.44. Rotary

Gambar 3.43. Rotary Table

Rudi Rubiandini R.S., ITB 2009 Gambar 3.43. Rotary Table Gambar 3.44. Rotary Accessories e. Drillpipe :

Gambar 3.44. Rotary Accessories

e. Drillpipe :

Pipa baja yang digantung di bawah kelly. Drill pipe di pasang pada bagian atas dan tengan drill stem.Porsi utama dari drillstring terdiri dari drillpipe. Drillpipe yang umum digunakan adalah type hot-rolled, pierced dan seamless tubing. API telah mengembangkan spesifikasi drillpipe yang didasarkan atas diameter luar, berat per foot, grade material dan range panjang. Dimensi dan kekuatan drillpipe dibedakan atas grade D,E,G dan S-135 seperti terlihat pada Tab.3.6. Drillpipe yang dipasarkan berdasarkan standard API mempunyai range dan panjang, seperti terlihat pada Tabel 3.6:

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 3.6. Ukuran Drill Pipe

Range

Length (ft)

1

18

sampai 22

2

27

sampai 30

3

38

sampai 45

Range 2 yang paling sering digunakan. Karena setiap pipa mempunyai panjang yang khusus, maka type yang digunakan harus sama untuk semua rangkaian sehingga memudahkan dalam menentukan total depth pada saat pemboran (Gambar 3.45).

menentukan total depth pada saat pemboran (Gambar 3.45). Gambar 3.45. Drill Pipe Beberapa ukuran dan berat

Gambar 3.45. Drill Pipe

Beberapa ukuran dan berat drill pipe dapat dilihat pada Tabel 3.7.

Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2009

Tabel 3.7. Dimensi Drill Pipe

Size OD,

Nominal

Plain End

Wall

ID

Section Area Body of Pipe ** In2 A

 

in

Weight

Weight *,

Thickness,

in

 

Threads &

lb/ft

in

Coupling,

lb/ft

 

2

3/8

+ 4.85

4.43

0.190

1.995

1.3042

 

6.65

6.26

0.280

1.815

1.8429

2

7/8

+6.85

6.16

0.217

2.441

1.8120

 

10.40

9.72

0.362

2.151

2.8579

3

½

9.50

8.81

0.254

2.992

2.5902

 

13.30

12.31

0.368

2.764

3.6209

 

15.50

14.63

0.449

2.602

4.3037

 

4

+11.85

10.46

0.262

3.476

3.0767

 

14.00

12.93

0.330

3.340

3.8048

 

+15.701

14.69

0.380

3.240

4.3216

4

½

13.75

12.24

0.271

3.958

3.6004

 

16.60

14.98

0.337

3.826

4.4074

 

20.00

18.69

0.430

3.640

5.4981

 

5

+16.25

14.87

0.296

4.408

4.3743

 

19.50

17.93

0.362

4.276

5.2746

 

25.60

24.03

0.500

4.000

7.0686

5 1/2

+19.20

16.87

0.304